“Sesungguhnya, apa yang dapat memberi para pekerja keberanian dan keyakinan yang lebih besar pada kekuatan mereka sendiri selain pemogokan massal yang mereka putuskan sendiri? Apa yang dapat memberi lebih banyak keberanian kepada para budak abadi pabrik dan gudang selain pengerahan pasukan mereka sendiri? Dengan demikian, gagasan perayaan kaum proletar dengan cepat diterima dan … menyebar ke setiap negeri hingga akhirnya menaklukkan seluruh dunia proletar.” (Rosa Luxemburg)
Semua laki-laki dan perempuan yang bekerja siang dan malam, yang sebagian besar waktu kita gunakan untuk menjual kemampuan kerja dengan menjadi budak-upahan, May Day adalah hari bersejarah bagi kelas kita–kaum buruh di seluruh dunia. Ini bukanlah momen untuk meratapi penderitaan kita atau mengelus dada atas kemiskinan kita. Hari Buruh Internasional bukanlah sebatas hari peringatan tapi juga hari pembelajaran untuk merangkum pengalaman perjuangan kelas kita.
Sejarah bagi lapisan terluas dari kelas kita tidaklah kaya. Apa yang dikenali sebagai Hari Buruh terdiri dari kemelaratan, ketidaktahuan, dan kekasaran yang beranak-pinak dan menjadi alasan bagi banyak orang untuk mengacuhkannya. Tanggal 1 Mei di kalender didekati sebagai ‘tanggal merah’ yang biasa–bisa untuk berlibur semata atau masuk kerja dengan menerima tetesan bayaran HLN yang tidak merata. Gembol-gembol bos yang mengupah kita tidak akan pernah rugi kalau kita diliburkan sehari-duahari atau diberi bayaran dua kali lipat dalam satu hari kerja, asalkan kita tetap mengabaikan arti May Day yang sesungguhnya.
Kita memang tidak punya cukup waktu-luang untuk berdiskusi, menulis dan membaca. Lapisan luas kelas kita terlampau terhimpit untuk belajar dari buku-buku. 24 jam dalam sehari di mana 9-12 bahkan lebih, kita habiskan waktu menjadi budak-upahan, mengais sisa-sisa roti di tempat yang merupakan sarang segala macam penyakit dan kecelakaan, dengan mencurahkan keringat dan darah yang menjadi satu-satunya sumber kekayaan yang bertumpuk-tumpuk bagi para majikan. Jam kerja yang panjang dengan beban kerja yang meningkat, ditambah serangan terhadap standar hidup yang tajam, memainkan peran yang luar biasa dalam melemahkan kita–mulai dari merusak bagian-bagian tertentu dari daging dan tulang kita, sampai mengacaukan sistem saraf pusat kita sehingga kesulitan meneguk mata air budaya.
Namun, May Day yang diperingati setiap 1 Mei tidak mengajari kita untuk menangisi atau membiarkan keadaan. Tak mungkin selamanya perbudakan-upahan dapat ditoleransi. Semakin dalam penghisapan kapitalisme di mana para pemilik modal terus memperpanjang hari kerja dan memangkas upah, sampai pada sebuah titik tertentu, penghisapan mereka akan meledakan ketidakpuasan dan kemerahan kaum buruh.
Perjuangan May Day berangkat dari kondisi kelas pekerja di abad ke-19, yang menghadapi kegetiran bekerja rata-rata 18-20 jam sehari. Laki-laki dan perempuan tereksploitasi, yang dianggap tidak berdaya, tidak sanggup menuntut, tidak tahu cara melawan dan memperjuangkan hak-haknya secara terhormat, dalam sejarah May Day, menunjukan dirinya sebagai kelas yang bangkit, yang mampu mengorganisir diri dalam sebuah gerakan kolektif untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup.
Pada 1884, kaum buruh di Amerika Serikat bangkit dengan tuntutan utama 8 jam kerja dalam sehari. Ini merupakan perjuangan buruh untuk keselamatan dan kesejahteraan hidupnya, namun, bagi kelas yang bermilik dan berkuasa, yang hidup dari kerja keras para budaknya, perjuangan buruh harus dibungkam. Kepentingan kelas proletar dan kelas kapitalis bukan saja berbeda tapi tidak dapat terdamaikan. Buruh tidak berkepentingan untuk menghakmiliki pabrik atau gudang secara pribadi, menguasai alat produksi kekayaan material dalam masyarakat atas nama individu. Kelas kapitalis berkepentingan untuk merenggut segala sarana penghidupan, dan oleh karenanya, seluruh hasil kerja kolektif atas nama masing-masing individu di antara mereka. Moral mereka tidak akan pernah cocok dengan moral kita, karena cara hidup kita sepenuhnya berbeda dengan cara hidup mereka. Kita makan, berpakaian, berperumahan dengan membakar jari dan memeras keringat kita; mereka hidup dari setiap cairan yang mengalir dari tubuh material dan seluruh kemanusiaan kita, bahkan dengan meminum nanah dan darah hati kita sampai tetes terakhirnya.
Dan ketika kaum kita, yang menuntut 8 jam kerja itu sampai di hadapan mereka, negara–badan khusus orang-orang bersenjata yang berwujud polisi, tentara, penjara, hukum, dan segala alat kekerasan di tangan kelas penguasa–menghadapi gerakan buruh dengan kekerasan politik reaksioner: pembubaran paksa, penangkapan, bahkan pembunuhan. Namun, kondisi yang menciptakan gerakan buruh tidak hilang. Pembungkaman hanya bersifat sementara dan menunjukan karakter yang sesungguhnya dari negara di tangan kelas borjuis. Negara dalam masyarakat kapitalis merupakan alat kekerasan utama dari benggol-benggol majikan dan konglomerat untuk memaksakan kepentingan mereka terhadap kaum buruh.
Tanggal 1 Mei 1886, 80.000 buruh di Amerika Serikat kembali meluncurkan gerakan untuk menuntut 8 jam kerja. Mobilisasi massa yang membuka jalan bagi aksi-aksi protes berhari-hari berkembang menjadi pemogokan umum yang menutup 70.000 pabrik. Mogok ekonomi berubah menjadi mogok politik. Tepat 4 Mei, kelas penguasa yang ketakutan kalau mogok ini dapat menjungkirbalikan kekuasaannya mengirim jutaan anjing-anjing penjaganya untuk membrondongi peluru ke barisan massa. Ratusan buruh tewas dibantai.
Kelas yang bermilik dan berkuasa, gerombolan bos dan pemerintah borjuasi yang ada, tidak menginginkan hari kerja delapan jam yang mereka anggap sebagai kebodohan dan kekurangajaran. Mereka hanya ingin lebih banyak dan semakin banyak lagi keuntungan dengan menghisap daya-kerja kita, para budak-upahan. Maka dengan berbagai cara, mereka merintangi gerakan buruh untuk delapan jam kerja, yang berarti memerangi upah yang layak dan segala jaminan kesejahteraan bagi kelas pekerja.
Meski pawai dan demonstrasi publik dilarang dengan pengerahan polisi dan tentara, dicegah oleh kaum kapitalis mulai dari pintu keluar pabrik dan gudang untuk meninggalkan barak kerja-upahan yang ada. Tetapi semua bentuk pembungkaman tidak dapat melenyapkan gelombang perjuangan buruh. Semua upaya dan usaha untuk menghentikan gerak maju kita adalah sia-sia. Peristiwa yang ditulis dengan besi dan darah ini meninggalkan goresan yang mendalam bagi klas buruh dunia. Di Australia tahun 1856, para pekerja menyelenggarakan mogok kerja total bersamaan dengan pertemuan dan demonstrasi untuk dukungan dan solidaritas terhadap gerakan buruh Amerika untuk delapan jam kerja. Pada 4 Juli 1889, di hari peringatan 100 tahun jatuhnya Bastille atau Revolusi Prancis, semua buruh dari berbagai negeri berkumpul dalam Kongres Sosialis Internasional. Di Kongres Paris inilah tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional dan sebuah resolusi perjuangan buruh internasional terbit:
“Kongres memutuskan untuk mengorganisir sebuah demonstrasi internasional yang besar, sehingga di semua negara dan di semua kota pada satu hari yang telah ditentukan itu rakyat pekerja akan menuntut pihak berwenang negara hukum untuk mengurangi hari kerja menjadi delapan jam, serta melakukan keputusan-keputusan yang lain dari Kongres Paris. Sejak demonstrasi serupa telah diputuskan untuk 1 Mei 1890 oleh Federasi Kaum Buruh Amerika di konvensi di St Louis, Desember 1888, saat ini diterima untuk demonstrasi internasional. Para pekerja dari berbagai negeri harus mengorganisir demonstrasi ini sesuai dengan kondisi yang berlaku di setiap negeri.”
Gerakan untuk hari kerja delapan jam, perlawanan terhadap militerisme, dan solidaritas internasional pekerja–inilah tiga slogan mendasar yang mengalir dari perjuangan kelas kita sendiri, yang kita warisi dari para pendahulu kita.
Saat ini pekerja di seluruh dunia sedang menghadapi serangan tajam dari lembah krisis kapitalisme yang luar biasa dalam. Kelas yang bermilik dan berkuasa merenggut kembali 8 jam kerja dengan berbagai taktik dan kebijakan brutal. Di setiap negeri, jam kerja telah merangsek di antara 9-12 dan bahkan lebih panjang lagi. Di Indonesia, perusahaan J&T memberlakukan 12 jam kerja dan SPX Express 9 jam kerja. Yang terkahir, menyatakan kalau mereka mempekerjakan buruhnya delapan jam karena yang satu jamnya digunakan untuk istrahat. Dengan logika formal yang sederhana, PT Shopee International Indonesia–dan perusahaan-perusahaan vendor outsorcing di sekitar kemaluannya–menipu dan merampok daya-kerja kaum buruh.
Dalam satu hari kerja, jika seorang buruh telah bekerja delapan jam, maka untuk apa sampai diwajibkan menunggu satu jam lagi untuk bisa meninggalkan pekerjaannya? Jika itu untuk beristrahat, bila seseorang mendapat plot istrahat di satu jam terakhir, setelah bekerja 8 jam penuh, mengapa tidak diizinkan pulang untuk mengistrahatkan dirinya dengan sebaik-baiknya? Semua ini menunjukkan kalau buruh SPX bukan bekerja delapan jam sehari. Pada kenyataannya, didasarkan atas tekanan sentralisasi dan intensifikasi produksi, semua pekerja dituntut untuk menambah produktivitas, sehingga lebih banyak buruh yang beristrahat kurang dari satu jam dan bahkan ada pula di antara buruh yang sampai tidak diplot beristrahat sama sekali.
Di zaman kita, oleh karena situasi obyektifnya yang serupa, bahkan dengan bentuk-bentuk eksploitasi dan opresi kapitalisme yang bertambah keji–semua slogan yang mengalir dari perjuangan buruh Amerika, Australia, dan Prancis dapat kita bangkitkan kembali. Hari-hari ini, gerakan May Day telah menanamkan dalam benak kaum buruh bahwa kita, para budak-upahan yang sepanjang waktu merangkak dalam lumpur dan debu, tidak sendiri. Api semangat dan tekad baja dalam peristiwa 1 Mei terdahulu, setiap capaiannnya, kemenangan bahkan kekalahannya, membuka mata kita kalau jutaan buruh di seluruh penjuru dunia telah tersatukan menjadi sebuah kelas, memotong prasangka ras, suku, etnis kebangsaan, warna kulit, kasta, dan agama. Kaum buruh dari berbagai negeri bersatu, melakukan perlawanan terhadap kekuasaan para bos yang telah mencekik kehidupan kita.
Tatanan dunia kapitalisme gelap dan buas ini, yang bertumpu pada kepemilikan pribadi terhadap alat produksi dan membiarkan jutaan kaum pekerja menderita sakit, lapar, dan miskin, telah memotong-motong kaum kita dengan menaruh jutaan kepala di tiang gantungan yang suram dan jutaan tubuh di ruang bawah tanah yang dingin. Sekarang sistem ini sedang dalam krisis terdalamnya, yang ditandai dengan kemiskinan dan pengangguran yang telah menjadi umum dan perang-perang asing yang semakin meradang. Sekarang, peran kelas yang paling maju, kelas yang berhari depan dan benar-benar mampu membangkitkan massa untuk melakukan revolusi, ada di pundak dan lengan kita. Peran untuk merubah masyarakat secara mendasar ini hanya bisa diemban oleh kaum buruh. Inilah tugas sejarah yang harus kita penuh melalui pemberontakan besar yang harus dimulai dari pemogokan-pemogokan di setiap tempat kerja yang ada.
Sebuah aksi mogok yang militan, berani dan berkeras kepala–inilah yang ditakuti oleh kelas borjuis, dibenci oleh berandalan reformis dan tidak dapat dimengerti oleh gerombolan sentris. Pemogokan kita adalah salah satu cara paling efektif untuk mengatasi apatisme, pesimisme, dan perpecahan di antara kelas proletariat kita sendiri. Pemogokan kita akan menarik rakyat pekerja ke dalam tindakan revolusioner yang paling luas, serentak, dan terkoordinasi. Pada May Day 2026 ini kelas proletar harus menarik massa kaum buruh dan seluruh kaum tertindas, yang dirampas hak-hak dasarnya dan diseret ke jurang keputusasaan, ke dalam aksi-aksi revolusioner mogok. Kelas proletar mengajari mereka perjuangan revolusioner, melatih mereka untuk aksi revolusioner, dan menjelaskan kepada mereka di mana menemukan jalan keluar dan bagaimana mencapai keselamatan. Kelas proletar mengajari mereka bukan sekadar menggunakan kata-kata, tetapi juga melalui perbuatan, dengan teladan, dan teladan itu diberikan bukan oleh avonturisme dan aktivisme dari benggol-benggol pahlawan tunggal, melainkan oleh aksi-aksi revolusioner massa yang menggabungkan tuntutan politik dan ekonomi.
Lapisan yang paling maju dan sadar-kelas dalam kaum buruh dan dalam perjuangan buruh harus berbicara tentang revolusi proletariat sebagai satu-satunya jalan keluar dari krisis dunia kapitalisme ini. Untuk mewujudkan delapan jam kerja dan upah yang layak, kesejahteraan ekonomi dan demokrasi politik bagi para pekerja, peringatan May Day yang akan tiba harus digunakan untuk agitasi, propaganda, dan organisasi dengan pemogokan dan mobilisasi yang harus dimulai dari pabrik-pabrik dan gudang-gudang, dan seluruh tempat kerja yang ada. Rakyat pekerja harus diperlihatkan dan diperdengarkan dengan seruan revolusi kita, untuk menyentuh hati dan nurani semua lapisan masyarakat yang terhisap dan tertindas.
Aksi Hari Buruh tahun ini harus menunjukkan bahwa proletariat Indonesia dengan teguh mengikuti jalan revolusioner proletariat internasional, yang berjuang untuk pembangunan kepemimpinan dan kekuasaan revolusioner proletariat untuk transformasi sosialis, yang selain itu tidak ada jalan keluar bagi dunia kapitalisme yang sedang runtuh dan negeri kita yang sedang tercekik dan membusuk.
Medan Perjuangan Kelas, April 2026
Kelompok Pembebasan Buruh Berbah
