Kategori
Perjuangan

Bisnis Narkoba, Kejahatan Negara, dan Kebusukan Aktivisme

“Tidak sulit untuk melihat bahwa zaman kita adalah masa kelahiran, dan masa transisi. Semangat manusia telah putus dengan tatanan lama yang sampai saat ini berlaku, dan dengan cara berpikir lama, dan berada dalam pikiran untuk membiarkan semuanya tenggelam ke dalam kedalaman masa lalu dan memulai transformasinya sendiri. Memang tidak pernah berhenti, tapi terus mengikuti arus kemajuan. Namun hal ini sama halnya dengan kelahiran seorang anak; setelah periode nutrisi yang lama dalam keheningan, kesinambungan pertumbuhan bertahap dalam ukuran, perubahan kuantitatif, tiba-tiba terputus oleh tarikan nafas pertama—ada jeda dalam proses tersebut, perubahan kualitatif dan anak terlahir. Dengan cara yang sama, semangat zaman, yang tumbuh perlahan dan diam-diam matang untuk mengambil bentuk baru. Menghancurkan satu-demi-satu bagian dari struktur dunia sebelumnya. Bahwa ia terhuyung-huyung hingga tumbang hanya ditunjukkan oleh gejala-gejala di sana-sini. Kesembronoan dan lagi-lagi rasa bosan, yang menyebar dalam tatanan yang sudah mapan, firasat yang tidak jelas akan sesuatu yang tidak diketahui—semua ini menandakan bahwa ada sesuatu yang lain yang sedang mendekat. Keruntuhan bertahap ini, yang tidak mengubah tampilan umum dan aspek keseluruhan, disela oleh matahari terbit, yang, dalam sekejap dan dalam satu pukulan, memperlihatkan struktur dan bentuk dunia baru.” (GWF Hegel; The Phenomenology of Spirit)

Dalam “Manifesto Komunis”, Marx dan Engels menulis: ‘kaum borjuis telah memberikan karakter yang kosmopolitan pada produksi dan konsumsi di setiap negara melalui eksploitasi pasar dunia.’ Penciptaan pasar dunia merupakan metode kapitalisme untuk melaksanakan pembagian kerja di skala dunia, dengan mengekspor kapital untuk menundukan negeri-negeri kapitalis terbelakang di bawah pengaruh negeri-negeri imperialis maju, yang berujung meluasnya perampasan bahan mentah dan memperdalam penghisapan nilai-lebih dengan mengumpulkan sebanyak mungkin pasokan tenaga kerja berupah murah dengan cara yang paling brutal. Kekuatan pendorong dari setiap masyarakat yang ada adalah pengembangan terhadap alat-alat produksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Namun sistem kapitalisme justru mengembangkan teknik, industri, pertanian, dan ilmu-pengetahuan untuk mendulang keuntungan segelintir pemilik properti. Eksploitasi nilai-lebih tampil sebagai motor penggerak kapitalisme. Setiap penemuan sains dan teknologi tidak pernah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan umat manusia melainkan digunakan memupuk laba semata. Di ranah produksi, pengenalan mesin bukanlah ditujukan untuk meringankan beban pekerja tapi meningkatkan produktivitas kerja dan memperkeras perbudakan kerja-upahan. Dengan penggunaan mesin untuk menambah efisiensi, kelas borjuis mendorong penggabungan fungsi berbagai alat dan proses dalam sebuah industri tertentu ke satu tubuh, mengatomisasi tugas pekerja, menggantikan posisi tenaga kerja terampil dengan tenaga kerja tidak-terampil yang homogen, hingga mengintesifkan perlombaan antara pekerja dengan mesin dan antara sesama pekerja, yang pada gilirannya memberikan tekanan terhadap upah, mempermudah pemutusan hubungan kerja, dan membengkakkan pengangguran di mana-mana.

Sifat anarkis kapitalisme, yang beroperasi secara membabi-buta di atas kepemilikan pribadi terhadap alat produksi yang berontradiksi dengan aktivitas produksi dan pertukaran komoditas yang luar biasa tersosialisasi, bukan saja telah memicu persaingan ‘anjing-makan-anjing’ tapi lebih jauh mengarah pada monopoli raksasa yang meremukkan batas-batas sempit negara-bangsa. Kontradiksi inheren inilah yang membelenggu pengembangan ilmu-pengetahuan, teknologi, pertanian, dan industri; di mana kemampuan sistem untuk berproduksi jauh melampui kemampuan kaum produsen untuk membeli apa-yang-diproduksi, dan oleh karenanya, menjerumuskan masyarakat dalam keadaan over-produksi dan barbarisme. Kemunculan globalisasi atau pedagangan dunia mengekspresikan bahwa kekuatan produksi umat manusia berlawanan secara antagonis dengan kepemilikan pribadi dan negara-bangsa. Pengembangan kekuatan produksi seharusnya menjadi proses penguasaan manusia atas kekuatan buta yang ada di alam, masyarakat, dan dalam diri manusia sendiri. Namun di bawah kapitalisme setiap laki-laki dan perempuan diseret untuk mengabdi pada irasionalitas sistem produksi yang keji ini. Dan eksploitasi terhadap pasar dunia telah menyebarkan kontradiksi kapitalisme yang begitu rupa. Di bidang ekonomi, penghisapan nilai-lebih meningkatkan mengambil bentuk krisis over-produksi yang luar biasa meraksasa. Di bidang hubungan antar-kelas, penghisapan nilai-lebih meledakkan protes, pemogokan, dan perjuangan revolusioner massa. Di bidang hubungan antar-negara, penghisapan nilai-lebih bukan saja berarti perang tarif, perang dagang, atau blokade, tetapi lebih jauh pengerahan militer untuk perebutan wilayah pengaruh dan penciptaan koloni. Digelayuti beragam ketidakstabilan inilah perdagangan dunia berjalan gontai. Pertumbuhannya terpelanting jatuh. Tahun 2023 kemarin, Organisasi Perdagangan Dunia memberitahukan kalau pertumbuhan pasar dunia tidak mampu menembus angka 1 persen. Investasi yang dulu menjadi mekanisme ampuh dalam melancarkan akumulasi kini sudah tidak berdaya memperbaiki pertumbuhan. Sebab kaum kapitalis saat ini berlomba-lomba menarik investasinya dari sektor-sektor industri, pertanian, sains dan teknologi yang produktif demi berinvestasi dalam sektor-sektor jasa keuangan dan properti yang non-produktif. Di sisi mereka rezim-rezim yang dulunya menjadi corong neoliberalisme kini beralih memeluk nasionalisme ekonomi dengan kecenderungan proteksionis, penghematan, devaluasi kompetitif, dan lain-lain.

Dalam kemerosotan pasar dunia ini pertukaran barang dan jasa mengalami pergeseran gila. Negara-negara yang sebelumnya lebih banyak mengawal jual-beli komoditas secara legal mulai menggandrungi perdagangan gelap kapitalisme. Gerombolan pemilik modal bahkan mendekati bisnis gelap sebagai sektor tambahan yang paling menggiurkan untuk investasi kapitalnya. Perdagangan narkoba adalah salah satu sektor ilegalnya; di mana pertukarannya berlangsung terselubung, tidak gampang ditundukkan oleh pembatasan apapun, termasuk nasionalisme ekonomi dari pemerintahan borjuis saingan di negara manapun. Serupa perdagangan senjata ilegal dan prostitusi, bisnis narkoba begitu menjanjikan cepengan instan yang tak-terhitung dalam PDB. Di bawah kapitalisme, obat-obatan medis tidaklah diperlakukan sebagai pencapaian ilmiah dalam sains dan teknologi yang ditujukan untuk meningkatkan taraf kehidupan umat manusia; karena obat-obatan medis direduksi menjadi komoditas yang diikat dengan relasi kepemilikan pribadi berupa hak paten yang ditujukan untuk memonopoli pasar dan mengeruk laba yang sebesar-besarnya untuk kepentingan individu. Perusahaan-perusahaan farmasi besar memiliki catatan buruk dalam urusan penelitian dan pengembangan industri mereka; di mana pembuatan obat-obatannya tidak dirancang  untuk penyembuhan penyakit tapi menjerat setiap pasiennya untuk terus meminumnya seumur hidup. Inilah motif di balik fokus pengadaan obat anti-retroviral baru di seluruh dunia. Penciptaan obat ini bertujuan membuat segenap penggunanya menjadi pesakitan yang ketergantungan untuk terus membeli obat itu. Dan untuk melipatgandakan realisasi keuntungannya seabrek eksekutif perusahaan farmasi multinasional terlibat serangkaian bisnis obat-obatan yang dapat disalahgunakan sebagai narkoba. Inilah yang terungkap dalam aktivitas industri Perdue Pharma, Teva Phama, dan Mallinckrodt—kesemua perusahaan imperialis yang berbasis di Amerika Serikat dan Israel ini tercatat menggencarkan penelitian, pengembangan, hingga penyelundupan narkoba ke berbagai negeri. Di Meksiko, skandal narkoba yang melibatkan imperialis AS, pejabat pemerintahan borjuis, dan kartel lintas benua terungkap dalam Kasus Cienfuegos. Jenderal Salvador Cienfuegos dikenal di pasar bawah tanah sebagai El Padrino (The Godfather), yang bersekongkol dengan kartel H-2 dalam tindakan pencucian uang melalui perdagangan heroin, metamfetamin, ganja dan kokain. Dikomando oleh Cienfuegos, berkompi-kompi tentara reguler dikerahkan untuk memberikan bantuan logistik dalam operasi penyelundupan narkoba yang melintasi AS dan Meksiko. Lebih jauh, dipimpin Cienfuegos para serdadu diterjunkan untuk memerangi gembong-gembong kriminal yang menjadi pesaing kartel H-2. Pelayanan keamanan dari badan khusus orang-orang bersenjata di pasar gelap kapitalisme didukung oleh Presiden Meksiko Felipe Calderon dengan meluncurkan kampanye ‘Perang Melawan Narkoba’ atas persetujuan Kedutaan Besar AS.

Di zaman imperialisme, krisis kapitalisme di skala internasional ini, narkoba hadir sebagai obat penenang yang sangat laku di tengah penderitaan hidup kelas pekerja dan kaum muda di berbagai negeri. Di tangan kelas penguasa, narkoba disebarkan untuk menenangkan berjuta-juta laki-laki dan perempuan yang hidup sengsara di tengah dunia yang terkoyak oleh kontradiksi mendasar kapitalisme—sistem produksi yang tersosialisasi dan ekspropriasi secara individu; kebutuhan masyarakat yang harus terpenuhi dan kepentingan pribadi untuk mendulang laba. Di dunia ini 1 persen orang terkaya menguasai separuh kekayaan umat manusia, dengan total gabungan harta-benda mereka lebih banyak daripada 95 persen penduduk termiskin dunia, dan 476 miliarder ini memiliki kekayaan pribadi yang lebih besar daripada total pendapatan setengah dari populasi dunia yang setiap tahunnya 35 juta penduduk miskin ini ditemukan mati kelaparan sebagai pekerja berupah murah atau penganggur muntahan industri. Sistem sosio-ekonomi yang eksploitatif ini sangat menindas, penuh rasionalitas dan tidak-manuawi. Sistem ini telah merampas masa depan seluruh generasi, menenggelamkan kehidupan kaum buruh dan muda dalam perasaan ketidakamanan dan kecemasan yang luar biasa. Di Italia dan Prancis masing-masing 62 dan 64 persen pekerja merasa cemas dan tidak-aman dalam bekerja. Di Afrika Selatan, pengangguran pemuda dengan kelompok umur 15-24 dan 23-34 tahun telah mencapai masing-masing 63 dan 41 persen. Dan selama satu dekade terakhir, setiap tahunnya ditemukan 720 ribu kasus bunuh diri di samping ribuan kasus percobaan bunuh diri. Sepanjang 2020-24, kasus bunuh diri di Indonesia saja telah meningkat 60 persen: dari 640 menjadi 1.023 kasus. Tahun 2024, tingkat stres global kian memburuk. Lebih dari 284 juta orang menderita gangguan kecemasan yang begitu rupa. Dalam laporan Gallup Global Emotional, ditemukan 41 persen pekerja yang mengalami stress tinggi. Dan menurut survei Naluri di tujuh negara di Asia, termasuk Indonesia—dari 28.000 buruh dan muda, ditemukan 56 persen laki-laki dan perempuan berisiko tinggi mengalami penyakit mental; di mana responden dengan risiko gangguan mental tertinggi berada di Gen-Z (66 persen), diikuti oleh Gen-M (48 persen) dan Gen-X (28 persen).

Menghadapi beban kerja yang meningkat, dengan upah yang sedikit, ditambah inflasi yang meroket, maka serangan-serangan terhadap standar hidup semakin parah dan mencabik-cabik setiap rumah tangga kelas menengah dan proletar. Keterbatasan pemenuhan kebutuhan hidup menjadi faktor utama yang meningkatkan stres dan menenggelamkan dalam kubangan depresi yang akut. Pada gilirannya keadaan ini bukan saja memicu orang-orang untuk bunuh-diri, tetapi juga melarikan-diri dengan memasuki aktivitas jual-beli dan konsumsi narkoba. Di Indonesia, tatkala lonjakan kemiskinan sudah melebihi 25 juta penduduk dan tingkat pengangguran terbuka saja hampir mencapai 8 juta jiwa, sekitar 3,5 juta populasi yang mengalami stres dan depresi luar biasa telah menjadi pemakai narkoba: ganja, sabu-sabu, dan ekstasi didekati sebagai pelarian bukan saja dari pekerjaan yang menjemukkan tapi juga dari pengangguran dan kemiskinan yang mengerikan. Meradangnya peredaran narkoba di Kabupaten Bima merupakan potongan kecil dari keseluruhan fenomena yang menunjukkan bagaimana laki-laki dan perempuan terseret menjadi pengguna dan kurir narkoba secara memilukan. Di Desa Tambe Kecamatan Bolo dan Desa Tente Kecamatan Woha; bisnis narkoba berkembang-biak dengan mempekerjakan orang-orang kecil dari keluarga tani miskin dan buruh-tani sebagai kurirnya—yang kebanyakan di antara mereka merupakan sosok gadis-gadis dan ibu-ibu—yang menemukan banyak pelanggan di jajaran pelajar sekolahan, pemuda yang tidak berkecukupan melanjutkan studinya, hingga orang-orang yang mengais nasi dengan merangkak dalam kubangan lumpur dan debu. Di Ragi dan Teke, Palibelo; beberapa kurir narkoba adalah mahasiswa yang mengumpulkan tambahan ongkos kuliah dan sarjana muda yang kesulitan mendapatkan pekerjaan untuk mempertahankan hidupnya. Dan dari keterangan kawan-kawan muda yang kami terima—mereka yang pernah menjadi pemakai atau kurir narkoba dari kartel-kartel lokal tertentu—menerangkan bahwa jual-beli narkoba yang mereka lakukan bukan saja mendapat dukungan dari pejabat-pejabat tinggi kepolisian tapi juga anggota parlemen dari partai-partai borjuis seperti PAN dan Golkar. Di skala nasional, para birokrat pemerintahan borjuis juga telah lama terkuak dalam skandal serupa: Kepala BIN Djoko Susilo, Komjen Polri Budi Gunawan, Irjen Polri Sutarman, dan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo—terekam sebagai pelindung aktivitas penyelundupan narkoba dari berbagai kartel yang ada.

Ekspansi perdagangan dunia pada negeri-negeri berkembang berlangsung kasar dan sangat tidak-manusiawi. Di zaman krisis kapitalisme, tatkala pertumbuhan perekomian global menurun drastis dan tingkat keuntungan merangsek jatuh, kaum kapitalis memaksakan perluasan pasar dengan terus meruncingkan pisau eksploitasinya. Di Amerika Selatan: pekerja migran dipekerjapaksakan di perkebunan kokain dan ganja. Di Afrika Barat: anak-anak dan ibu-ibu, perempuan dan laki-laki miskin diperbudak di industri ganja. Di Asia Tenggara: buruh-buruh muda ditawan bekerja di pabrik metamfetamin. Di atas proses produksi yang berlumur darah dan nanah inilah komoditas narkoba dipertukarkan untuk menjerat seluruh generasi Dunia Ketiga. Dan kekuatan imperialis, beserta gerombolan borjuis nasional yang terikat seribu-benang di ekornya, menyaksikan jalannya penghisapan dan penindasan yang begitu destruktif ini dengan meneruskan sandiwara dan kebrutalannya. Secara Internasional, AS tetaplah menjadi negara imperialis utama yang menyerukan ‘Perang Melawan Narkoba’. Di belakangnya terdapat setumpuk rezim borjuis yang mengikuti dan mendapat persetujuan darinya. Indonesia merupakan salah satunya. Sejak 1991, Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Imperialis PBB tentang Perang Melawan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika. Sampai sekarang kampanye anti-narkoba dikumandangkan oleh setiap borjuasi nasional yang berkuasa. Di tangan mereka, segala upaya memberantas narkoba selalu mengerahkan negara dan setiap pemberantasan yang dilakukan tidak pernah ditujukan untuk mengatasi kejahatan tapi semata melayani kepentingan kelas borjuis secara keseluruhannya: mempertahankan kepemilikan pribadi, mengintensifikasi pembagian kerja, dan meningkatkan eksploitasi nilai-lebih. Penggunaan badan khusus orang-orang bersenjata, yang dimahkotai dengan hukum, peradilan dan penjara dalam memerangi narkoba itu berarti meluncurkan kekerasan reaksioner kepada massa. Selama 2014-22, jumlah tersangka kasus narkoba yang dipenjara di bawah Rezim Jokowi menembus 100 ribu jiwa. Bagian terbesar yang ditangkap secara brutal dan dibui begitu lama adalah kurir dan pengguna yang berasal dari lapisan kelas pekerja dan kaum muda menengah ke bawah. Sementara bos-bos kartel dan petinggi-petinggi birokrasi yang meraup keuntungan besar hampir tidak tersentuh sama sekali.

Tahun ini Rezim Prabowo melanjutkan ‘Perang Melawan Narkoba’ dengan mendapat kucuran anggaran Rp 1,536 triliun dari parlemen dan difokuskan untuk menguatkan kapasitas intelijen, kolaborasi institusi demokrasi borjuis dan lembaga-lembaga internasional imperialis, penegakan hukum beserta infrastruktur dan personil kekerasaannya. Peperangan anti-narkoba yang diluncurkan kaum kapitalis dan imperialis mengandung reaksi yang berbahaya. Semua kepura-puraan luhur tentang supremasi hukum dan demokrasi adalah dusta. Semuanya tidaklah ditujukan untuk mengatasi akar permasalahan narkoba tapi memperkuat badan-badan khusus orang-orang bersenjata untuk memerangi kaum buruh dan muda. Pada 2024, sebanyak 365 orang ditetapkan sebagai tersangka. Polisi dan tentara memburu dan menangkap mereka di mana.mana. Penggerebekan berlangsung dengan pengepungan yang mencekam dan cenderung membabi-buta. Setiap percobaan melarikan diri mendapat perlakuan keji dan mebahayakan jiwa. Negara hadir dengan kekuatan eksplosif yang menjalankan fungsi represif, hegemoni, dan akumulasi. Di zaman krisis dunia kapitalisme, pasar diperluas dan diperdalam dengan pemaksaan-pemaksaan yang berlumuran darah dan nanah. Di Dunia Ketiga, hakikat negara sebagai alat kekerasan di tangan kelas penguasanya mengambil karakter yang benar-benar sadis: badan khusus orang-orang bersenjata dioperasikan sebagai institusi pembunuhan dan pembodohan dalam arti yang paling eksplisit. Keseluruhan pemerintahan borjuasi Ketiga sangatlah konservatif dan parasitis. Ini merupakan konsekuensi dari dominasi imperialis. Inilah mengapa setiap rezim borjuis nasional di negeri berkembang menenggelamkan rakyatnya dalam kubangan kesengsaraan, ketidakamanan, dan penghancuran yang luar biasa. Setiap tahunnya angka kebrutalan militer meraksasa. Di Indonesia saja, dalam setahun terakhir polisi telah mencatatkan 465 kasus kekerasan yang menyebabkan 754 korban luka dan 38 terkapar mati. Dalam persoalan kebangsaan West Papua, angka kebrutalan TNI-Polri terlampau tinggi dan sudah tak-terhitung lagi. Hampir seabad lamanya wilayah Papua disulap menjadi daerah darurat perang hanya untuk memaksakan perluasan dan pendalaman eksploitasi pasar dunia. Tanah mutiara hitam yang berada di bawah kolong langit cendrawasih ini mengandung pasokan bahan mentah dan tenaga kerja murah yang begitu berlimpah. Inilah yang dikejar oleh kekuatan kapitalis monopoli dan konglomerasi imperialis AS, Inggris, dan Prancis dengan mengangkat borjuis nasional Indonesia untuk menjajah, merampok dan menundukkan bumi Papua menggunakan segala kebuasan tangan besi dari badan khusus orang-orang bersenjatanya.

Di atas fakta keterbelakangan kapital, negara Ketiga menjadi instrumen yang teramat korup di tangan kelas penguasanya. Keterlibatan gerombolan birokrat parlemen dan militer dalam berkolusi melalui serangkaian operasi perang di balik penyelundupan narkoba dan perlindungan terhadap kartel yang disukainya—dan jika ingin ditambahkan dengan yang lebih mengerikan lagi: kolonialisme Indonesia di tanah Papua—membuktikan itu. Kaum borjuasi Indonesia lemah dan tunduk kepada kaum borjuis kuat di negeri-negeri imperialis yang mengikat kaki dan tangannya. Kaum borjuasi imperialis menjerat leher borjuasi nasional agar tetap berada di bawah sepatu bot mereka dengan memperlakukan negara borjuis tergantung sebagai pelayan yang menyediakan tentara bayaran untuk memperuncing pisau eksploitasi pasar dunia. Ini mengharuskan badan orang-orang bersenjata dari setiap negara berkembang berdiri menginjak-injak massa di tengah pengangguran, kemiskinan, kesenjangan, korupsi dan dekomposisi Dunia Ketiga. Di negeri tergantung ini ‘Perang Melawan Narkoba’ yang mereka luncurkan hanyalah sandiwara dan pembodohan, yang menyuburkan kebrutalan dan kolusi tapi ditutupi dengan selubung institusi-institusi demokrasi borjuis yang begitu konservatif dan terbirokratisasi. Segala upaya memerangi kejahatan dengan tujuan memberi hukuman denda dan lebih-lebih pemenjaraan kepada orang-orang yang dituduh berbuat jahat adalah bisnis yang menggiurkan bagi kelas borjuasi dan birokrasi negaranya. Setiap pasal pidana disuguhkan serupa menu makanan: terdapat banyak pilihan masa tahanan dan pembebasan asalkan setiap terpidana mampu membayarnya. Setiap penjara borjuis bukan sekadar menjadi alat penindasan yang paling mendehumanisasi tapi juga arena eksploitasi yang terselubung sekali. Di penjara, laki-laki dan perempuan gampang sekali dipekerjapaksakan atau diberi upah yang teramat-sangat rendah. Mereka juga menjadi sangat rentan disiksa dalam pekerjaan apa saja untuk penghisapan nilai-lebih yang menggila. Bidang-bidang kerjanya meliputi: industri tekstil, pertanian, perkebunan, peternakan, menyulam kerajinan tangan, mendirikan bangunan, membuat makanan, pengecatan, hingga laundry. Di negeri kapitalis terbelakang ini bayarannya berkisar dari 2.500-20.000 rupiah per hari. Di seluruh dunia, pemenjaraan sudah menjadi alternatif dari negara-negara imperialis dan kapitalis dalam mengurangi beban subsidi hingga mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan yang merajalela. Dan segmen populasi yang banyak dibui bukan saja orang-orang yang menjadi tunawisma tapi juga orang-orang miskin dan stres yang terdorong menjadi kurir atau pengguna narkoba.

Di Dunia Ketiga, dorongan penghisapan nilai-lebih yang tersembunyi di balik bisnis kejahatan itu menebar wabah kekerasan yang memperkeruh kebisingan kota dan memperdalam kenaifan desa. Ini mempertegang kontradiksi antara desa dan kota, antara pertanian dan industri. Di kota: rakyat pekerja yang terjerat narkoba diburu, diisolasi, dan diatomisasi secara picik. Stigma dan kriminalisasi memasang rintangan besar untuk kaum buruh dan muda berorganisasi dan mendapatkan pendidikan politik. Di desa: rakyat pekerja yang terjerat narkoba dikejar dan dibanduli prasangka-prasangka yang keji dan lebih jauh dijebak dalam konflik dan peperangan dengan sesama kaum tani dan muda sendiri. Dalam keadaan ketertinggalan, pengaruh ‘Perang Melawan Narkoba’ yang dikobarkan melalui operasi-operasi militer secara tertutup dan terbuka, menegangkan hubungan antara pekerja tradisional dan pekerja modern, dan pada gilirannya menghambat perkembangan ilmu-pengetahuan dan teknik, yang mengalir dari kota ke desa, dari industri ke pertanian. Skenario konflik dan peperangan horizontal di seputar jalur peredaran narkoba—baik di desa maupun di kota—menunjukkan bagaimana kelas penguasa di negeri terbelakang bukan sekadar memaksakan ekspansi pasar gelap dengan berbagai pengalihan dan pembersihan yang brutal, tetapi juga merintangi kemajuan-kemajuan tenaga produktif secara barbar. Inilah yang sedang berlangsung di Indonesia dalam serangkaian bisnis kejahatan kelas penguasa, termasuk dalam perdagangan narkoba yang mengular dari kota-kota besar hingga pelosok-pelosok desa pedalaman yang kumuh. Dalam ketertinggalan perkembangan tenaga produktif, obat-obatan yang merupakan hasil daya kreatif manusia tersampaikan sebagai zat berbahaya. Ini seperti kecanggihan persenjataan modern; ketika negara menggunakannya untuk memerangi bangsa kecil dan merampas petak-petak kecil tanah petani, maka segala persenjataan canggihnya akan dilihat sebagai peralatan pemusnah semata. Di bawah kekuasaan borjuasi, yang selalu kesetanan mengejar laba, semua penemuan sains dan teknologi dipromosikan sebagai alat-alat destruktif yang membahayakan kelangsungan hidup umat manusia.

Pertahanan relasi kepemilikan pribadi dan negara-bangsa borjuis telah menjadi penghalang besar untuk kemajuan umat manusia. Bukan obat-obatan (juga senjata modern) yang mengancam menghancurkan seluruh generasi buruh dan muda, tetapi kepentingan borjuasi yang tersembunyi di balik sistem produksi dan pertukaran komoditas yang ada. Obat-obatan yang disalahgunakan sebagai narkoba sendiri adalah hasil dari daya kreatif umat manusia yang menjadi penemuan di bidang sains dan teknologi dan dapat meningkatkan tarah kehidupan rakyat pekerja. Namun penyalahgunaan obat-obatan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dan tidak-berakar dari penemuan ini. Seperti bermacam-macam kasus kriminalitas yang meledak dalam masyarakat kapitalis, penyalahgunaan obat-obatan merupakan tindakan destruktif sebagai akibat dari keterasingan dan keputusaan yang dipicu oleh masalah-masalah pengangguran dan kemiskinan, ketimpangan dan penderitaan yang luar biasa; di mana kesemuanya mengakar dalam hubungan kepemilikan pribadi dan tumbuh dalam sangkar negara-bangsa. Hak milik pribadi dan birokrasi negara adalah bencana kemanusiaan yang sesungguhnya. Satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan narkoba bukan dengan ‘Perang Melawan Narkoba’ tapi memperjuangkan penghapusan kepemilikan pribadi melalui aksi-aksi revolusioner yang akan menciptakan organ-organ kekuasaan baru—yang tidak sedikitpun bertanggung-jawab kepada kartel narkoba, kaum kapitalis dan imperialis—dan akan bergerak menghancurkan benteng pertahanan terakhir kelas pemilik properti: negara dan demokrasi borjuis. Mengatakan berjuang untuk mengakhiri persoalan narkoba tapi mengabaikan signifikansi penghapusan kepemilikan pribadi dan negara-bangsa adalah sepenuhnya keliru. Dan mereka yang mangayunkan gerakan dengan mempertontonkan keberanian dan memekikkan protes dengan penuh kemarahan tapi menyampaikan gagasan perlunya mendukung penegakan hukum dan seluruh institusi demokrasi borjuis untuk berperang melawan narkoba sesungguhnya sedang meracuni hati dan pikiran massa. Pemimpin-pemimpin macam ini sama sekali tidak bisa dipercaya—mereka adalah pengkhianat yang lincah bermain dua kaki dan bermuka ganda: di hadapan publik, mereka menetehkan air mata dan berjanji akan dengan tulus dan tanpa pandang bulu untuk memperjuangkan kepentingan massa; di balik layar, mereka duduk sopan menyantap hidangan dan beroleh bingkisan di bilik-bilik pertemuan dengan kelas penguasa. Dalam gerakan buruh kita melihatnya pada kepemimpinan reformis; dalam gerakan pelajar dan mahasiswa kita menyaksikannya pada kepemimpinan liberal—kedua-duanya mengkhianati massa.

Di seluruh dunia kapitalis yang ada, ketika kaum reformis dan liberal borjuis-kecil ini berusaha memimpin gerakan massa; mereka akan memandunya menuju ‘koeksistensi damai’ dengan negara dan demokrasi borjuasi. Inilah tendensi kolaborasi-kelas yang membuat mereka dicercah sebagai pemimpin oportunis dalam gerakan massa. Dan jika mereka memimpin perjuangan untuk mengatasi persoalan narkoba, mereka secara pasti menunjukkan kecenderungan untuk mendukung badan khusus orang-orang bersenjata dan menutup mata terhadap kekerasan dan korupsi birokrasi. Di Indonesia, aktivitas politik Badai NTB sebagai Ketum SEMMI menggambarkan karakter umum dari kepemimpinan liberal borjuis-kecil di mana-mana. Namun dalam keterbelakangan perkembangan historis di negeri ini, lebih-lebih ketertinggalan perkembangan kekuatan produktif di Bima dan Dompu, oportunisme politik pemimpin liberal ini menunjukkan karakter yang sangat buruk dan kasar. Keseluruhan pemikiran politiknya mengabaikan pendekatan ilmiah dan sistematis, yang disembunyikan di balik tembok tebal dari retorika yang berbelit-belit dan sengaja dibuat ambivalen. Hasilnya adalah pandangan dunia yang teramat dangkal dan reaksioner; di mana semua premis dapat menjadi valid dan penyimpulan compang-camping dapat menjadi bukti yang cukup untuk membenarkan pemikiran vulgar. Menganggap mengetahui sesuatu tidaklah serta-merta mengarah pada bentuk pengetahuan yang lebih tinggi atau mampu untuk memahami sampai ke akarnya. Ini berlaku dalam masalah penyalahgunaan narkoba dan perjuangan untuk mengakhirinya. Pemahaman terhadapnya tidak cukup dengan melihat dan mendengar semata. Heraclitus pernah berkata: ‘mata dan telinga adalah saksi yang buruk bagi manusia dengan jiwa barbar.’ Apa-yang-diperlukan untuk mencapai pengetahuan sejati, kata Hegel, adalah ‘membuang segala prasangka dan memulai perjalanan yang panjang dan melelahkan untuk mendalami dan meresapi pokok bahasan yang ada; bergantung pada proses ini untuk menemukan hukum-hukum yang mendasar yang mengatur alam, masyarakat manusia, dan pikiran sadar.’ Tanpa pemahaman teoretik yang memadai kepemimpinan politik menjadi buta dan gerakan menjadi sesat. Kepemimpinan macam ini takkan pernah mampu memajukan perjuangan massa seincipun, karena kehadirannya justru menjadi rem dalam menempuh perjuangan kelas revolusioner.

Praksis Kepemimpinan Badai merupakan salah satu mata-rantai dari rantai politik borjuis-kecil yang membanduli gerakan buruh dan muda dalam perjuangan untuk menggulingkan kapitalisme secara revolusioner. Dalam setumpuk siaran video dan ketikan status di akun media sosialnya, Badai NTB menyembulkan pernyataan yang disesaki ambiguitas paling liar. Perspektifnya dibangun berdasarkan relativisme dan subyektivisme postmodern, yang menyangkal realitas obyektif secara keseluruhan dan membela aspek-aspek moralitas borjuis yang paling merosot—individualisme dan nihilisme. Postmodernisme merupakan aliran filsafat terbobrok yang muncul di zaman krisis terdalam kapitalisme. Pemikiran postmodernis menolak perjuangan revolusioner untuk transformasi fundamental masyarakat. Inilah yang menempatkannya menjadi musuh bebuyutan Marxisme—sebuah filsafat yang menyediakan metode berpikir, landasan perspektif, tradisi perjuangan, dan panduan aksi untuk revolusi proletariat. Kaum Marxis memandang bahwa para pemeluk postmodernis, baik yang memeluknya secara sengaja atau tidak-sengaja, akan mereproduksi pemikiran yang samar-samar mendukung eksploitasi dan opresi yang menggelegak dalam masyarakat kapitalis yang sedang sekarat. Pernyataan-pernyataan yang ditebar Badai mengalir dari aliran filsafat yang bobrok itu. Namun kebusukan filosofisnya ditutupi onggokan kata-kata dan parodi keberanian aktivisme yang menggebu-gebu. Dan ketika tabir retorikanya ditelanjangi maka yang terpampang hanyalah ketidakjujuran intelektual dan kepengecutan moral yang disajikan dengan arogansi dan kepura-puraan tidak tahu malu. Posisi politik yang berlandaskan postmodernisme sangat sesuai dengan tujuan para ahli strategi kelas penguasa: memecah-belah dan menggagalkan solidaritas-kelas sekaligus menyudutkan pemikiran rasional dan progresif pada umumnya dan Marxisme khususnya. Dalam Jurnal Dialektika I (Melawan Postmodernisme), Front Muda Revolusioner (Perhimpunan Sosialis Revolusioner, Seksi Indonesia dari Revolutionary Communist International) menerangkannya:

“Pada masa sekarang, senjata paling menonjol kaum borjuis dalam melawan Marxisme adalah postmodernisme, yang merupakan bentuk paling kasar dari idealisme subyektif. Kehormatan untuk melawan arus, untuk memerangi ide-ide mistis dan irasional ini, jatuh kepada pelopor revolusioner kelas pekerja…. Salah satu prinsip utama postmodernisme adalah penolakan terhadap kemajuan dalam sejarah. Namun, bahkan pertimbangan yang paling sederhanapun menunjukkan adanya periode kemajuan besar, dan juga periode kemunduran yang nyata. Periode-periode ini tak pelak lagi tercermin dalam sejarah pemikiran secara umum, dan filsafat secara khusus…. Zaman kita sendiri adalah periode kemunduran. Sistem kapitalis menunjukkan gejala-gejala yang jelas dari kemerosotan terminal. Di sini kita dihadapkan pada sebuah paradoks. Di satu sisi, kemajuan ilmu-pengetahuan telah membawa pengetahuan manusia ke tingkat yang sangat tinggi. Satu-per-satu, alam dipaksa untuk mengungkapkan rahasia-rahasianya. Misteri-misteri lama yang coba dijelaskan dengan agama dan hal-hal gaib, telah dianalisis dan dipahami. Namun, terlepas dari semua kemajuan ini, filsafat telah mencapai jalan buntu total. Tidak ada lagi yang menarik yang bisa dikatakan oleh filsafat. Sertifikat kematiannya telah dibubuhkan oleh postmodernisme, yang sama sekali tidak layak disebut filsafat.”

“Dewasa ini, kaum idealis subyektif terpaksa bertahan di barisan belakang yang putus-asa, yang berarti pembubaran total filsafat, mereduksinya sepenuhnya menjadi semantik (studi tentang makna kata-kata). Kaum postmodernis menganugerahi bahasa dengan kekuatan luar biasa. Mereka berpendapat bahwa jika kita mengubah kata-kata yang kita gunakan dalam bahasa sehari-hari, dengan berhati-hati untuk menghindari menyinggung perasaan dengan menggunakan istilah-istilah yang ‘menindas’, maka kita akan menhapus penindasan itu sendiri. Namun, penindasan nyata yang diderita setiap hari oleh jutaan pekerja, petani, perempuan, dan orang miskin tidak disebabkan oleh penyalahgunaan bahasa, tetapi oleh kondisi konkret masyarakat yang terbagi menjadi kaya dan miskin, pengeksploitasi dan tereksploitasi. Anda tidak dapat mengubah hakikat sesuatu dengan mengubah namanya…. Obsesi atas kata-kata ini hanyalah refleksi dari cara hidup kaum intelektual borjuis-kecil yang merenungkan hidup dari kenyamanan ruang seminar universitas. Cara hidup ini jauh dari dunia nyata mayoritas manusia. Tukang kayu membuat meja dan kursi. Tukang tembikar membuat piring dan mangkuk. Petani membuat kentang dan kubis. Namun, kaum intelektual hanya membuat kata-kata—banyak sekali kata-kata. Kata-kata ini dibaca oleh kaum intelektual lain, yang membuat kata-kata lain untuk dibaca oleh kaum intelektual lainnya. Begitu seterusnya, dan seterusnya ‘tanpa henti’. Biasanya, ini merupakan kegiatan pengisi waktu-luang yang tidak berbahaya, yang bertujuan untuk mengisi kekosongan eksistensi para pendeta di dunia akademis, memberi mereka tujuan hidup, yang, bagaimanapun, tetap menjadi misteri bagi umat manusia lainnya yang menderita. Namun, keadaan berubah secara subtansial ketika beberapa kata-kata misterius ini keluar dari lingkungan universitas dan memengaruhi pemikiran manusia biasa dengan cara yang sangat negatif. Sudah cukup buruk bahwa banyak mahasiswa yang lulus dari bangkuk kuliah menjadi lebih bodoh dan bingung daripada saat mereka memulai kuliah. Namun, ketika kebodohan dan kebingungan yang sama mulai menjangkiti masyarakat dan politik, hal itu tidak lagi menjadi lelucon, tetapi menjadi masalah yang sangat serius.”

Dalam gerakan pemberantasan narkoba yang dipimpin oleh Badai NTB, kebodohan dan kebingungan politik itulah yang diberondong ke arah massa. Kepemimpinan Badai menyeret keluar kemerosotan filsafat kaum intelektual borjuis-kecil dari bilik-bilik universitas menuju sektor-sektor kehidupan manusia-manusia biasa. Melalui seabrek alat publisitas yang ada, orang-orang yang selama ini tumbuh di tengah ketertinggalan Bima dan Dompu, bukan diperkenalkan dengan pemikiran rasional dan menggugah tapi dicekoki kedangkalan dan kesesatan postmodernisme. Salah satu deretan kalimat bodoh dari tumpukan sampah narasinya Badai berbunyi: ‘masyarakat jika dididik dengan kejujuran maka mereka akan menciptakan revolusi atas nasib mereka sendiri.’ Keangkuhan semantik ini mengandung kebohongan dan pembodohan yang paling tidak bisa diterima oleh lapisan paling maju dan sadar-kelas dari kaum buruh dan muda yang mendedikasikan hidupnya untuk perubahan mendasar dalam masyarakat yang keji dan hina ini. Permainan kata-kata Badai tentang keperluan mendidik orang-orang untuk revolusi sesungguhnya sedang menipu mereka mengenai revolusi. Sebuah revolusi yang dapat mengubah nasib kaum terhisap dan tertindas dalam masyarakat kapitalis ini tidak mungkin dipandu dengan ide-ide moralisme-idealisme. Pembicaraan akan revolusi yang menekankan pada kejujuran sebenarnya merupakan tipu-daya semata. Satu-satunya revolusi yang akan membawa kemajuan bagi umat manusia di zaman krisis dunia kapitalisme adalah revolusi proletariat—revolusi sosialisme dunia. Revolusi ini menuntut kondisi tertentu sebagai syarat obyektif dan subyektifnya. Kini kondisi obyektif untuk revolusi telah terlihat di setiap negeri dan di skala dunia ini sudah matang dan sedang membusuk; di mana perkembangan kekuatan produktif—industri, pertanian, teknik dan ilmu-pengetahuan—dihancurkan dan sudah tidak dapat lagi bergerak maju di bawah kapitalisme: kontradiksi mendasar dalam hubungan-hubungan kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara-bangsa menjadi penyebab utama dari ledakan pengangguran dan kemiskinan umum, ketimpangan dan kekorupan yang menjijikan, peperangan dan pembantaian yang mengerikan, kerusakan ekosistem dan iklim, kelaparan, pelacuran, penyalahgunaan obat-obatan, hingga beragam kejahatan yang paling tidak masuk akal. Namun kondisi sosio-ekonomi yang obyektif ini saja tidak cukup. Di sampingnya, diperlukan kondisi subyektif: keterorganisasian kelas proletar dan pelopornya dalam perjuangan revolusioner untuk revolusi sosialis. Ini berarti pembangunan kepemimpinan tempur proletariat, yang berpedoman pada teori yang paling maju untuk mempersenjatai kelas terhisap dan tertindas secara politis dan teoritis, dalam pengorganisasian kediktatoran proletariat untuk menggulingkan kapitalisme—menghancurkan negara dan mengekspropriasi kepemilikan borjuasi. Faktor subyektif inilah yang belum terpenuhi hari ini. Dan untuk memenuhinya maka pembangunan partai revolusioner menjadi tugas strategis yang tidak bisa ditunda lagi. Tanpa kepemimpinan partai revolusioner maka kemenangan revolusi yang diperlukan untuk mengakhiri krisis masyarakat kapitalis menjadi tak-terpikirkan sama sekali. Dalam “Membela Revolusi Oktober”, Trotsky menjelaskan begini:

“Revolusi berarti perubahan tatanan sosial. Revolusi mengalihkan kekuasaan ke tangan satu kelas yag telah kehabisan tenaga ke tangan kelas lain yang sedang bangkit. Pemberontakan adalah momen paling tajam dan kritis dalam perebutan kekuasaan antara dua kelas. Pemberontakan dapat menghasilkan kemenangan revolusi yang sesungguhnya dan pembentukan tatanan baru hanya jika didasarkan pada kelas revolusioner yang mampu menggalang dukungan mayoritas rakyat. Berbeda dengan proses alam, revolusi dilakukan oleh manusia dan melalui manusia. Namun, dalam proses revolusi, manusia juga bertindak di bawah pengaruh kondisi sosial yang tidak mereka pilih secara bebas, tetapi diturunkan dari masa lalu dan secara imperatif menunjukkan jalan yang harus mereka tempuh. Karena alasan ini, dan hanya karena alasan ini, revolusi mengikuti hukum-hukum tertentu. Namun kesadaran manusia tidak hanya secara pasif merefleksikan kondisi obyektifnya. Ia terbiasa bereaksi secara aktif terhadapnya. Pada saat-saat tertentu reaksi ini mengambil karakter massa yang tegang dan penuh gairah. Batas-batas kepemilikan dan kekuasaan dirobohkan. Intervensi aktif massa dalam peristiwa-peristiwa sejarah sebenarnya merupakan elemen yang paling penting dari sebuah revolusi. Namun, aktivitas yang paling dahsyat sekalipun bisa tetap berada dalam tahap kekejaman atau pemberontakan tanpa mencapai puncak revolusi. Pemberontakan massa harus mengarah pada penggulingan dominasi satu kelas dan pembentukan dominasi kelas lainnya. Hanya dengan cara inilah kita bisa melakukan revolusi secara menyeluruh. Pemberontakan massa bukanlah aktivitas yang terisolasi, yang bisa diimprovisasi kapan saja sesuai keinginan. Pemberontakan massa adalah elemen yang dikondisikan secara obyektif dalam perkembangan revolusi, sebagaimana revolusi merupakan proses yang dikondisikan secara obyektif dalam pembangunan masyarakat. Namun, jika kondisi yang diperlukan untuk pemberontakan itu ada, seseorang tidak boleh hanya menunggu secara pasif, dengan mulut menganga: seperti yang dikatakan Shahakespeare: ‘ada pasang surut dalam urusan manusia yang, jika terjadi banjir, akan membawa pada keberuntungan.’ Untuk menghapus tatanan sosial yang telah ketinggalan zaman, kelas revolusioner harus memahami bahwa waktunya telah tiba, dan menetapkan tugas untuk merebut kekuasaan. Di sini terbukalah medan aksi revolusioner yang sadar, di mana pandangan ke depan dan perhitungan dipadukan dengan tekad dan keberanian. Dengan kata lain: di sini terbuka medan aksi bagi Partai [Revolusioner]. Partai Revolusioner menyatukan bunga-bunga kelas revolusioner dalam dirinya. Tanpa partai yang mampu mengorientasikan dirinya pada lingkungannya, mengevaluasi kemajuan dan ritme peristiwa, dan sejak dini mendapatkan kepercayaan massa, kemenangan revolusi proletar tidak mungkin teradi. Inilah hubungan timbal-balik antara faktor obyektif dan subyektif dalam pemberontakan dan revolusi.”

Kaum Marxis menerangkan revolusi sebagai pemberontakan yang harus sampai pada perebutan kekuasaan oleh kelas pekerja. Ini merupakan momen transisi untuk memulai pembangunan dunia baru di mana umat manusia melompat dari alam kebutuhan menuju alam kebebasan yang sejati. Ini hanya bisa diwujudkan dengan penciptaan tatanan dunia sosialis yang harmonis, berdasarkan rencana produksi yang rasional dan demokratis di bawah kontrol pekerja. Ini bukan saja berarti memerangi tikus-tikus dari masyarakat kapitalis tapi juga menghancurkan selokan tempat tikus-tikus itu beranak-pinak: kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi yang dipertahankan dengan birokrasi borjuasi. Di bawah kekuasaan buruh, alat-alat produksi akan dikuasai secara bersama-sama oleh komite-komite aksi yang berdiri di mana rakyat pekerja dan keluarganya berada. Dan dengan perencanaan ekonominya, kaum buruh yang terorganisir sebagai penguasa kolektif berkeharusan meningkatkan kekayaan material untuk memenuhi kebutuhan massa dengan sepenuh-penuhnya. Berjuang mengakhiri pengangguran, kemiskinan, dan kelaparan yang mendatangkan keputusasaan, dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas dan seluas mungkin dengan gaji yang layak, pendidikan gratis dan ilmiah sejak masa kanak-kanak sampai mati, perawatan kesehatan gratis dan berkualitas, perumahan yang terjangkau bagi semua, dan akses makanan yang sehat dan bergizi bagi semua. Inilah langkah pertama dalam penciptaan bentuk masyarakat yang lebih tinggi di mana laki-laki dan perempuan akan berhubungan atas kehendak mereka sendiri; sebagai manusia yang benar-benar bebas dan setara. Hanya dalam masyarakat sosialislah obat-obatan yang disalahgunakan sebagai narkoba dan persenjataan modern yang digunakan sebagai senjata pemusnah dapat dialihfungsikan berdasarkan kepentingan kolektif untuk membuka kemungkinan akan penemuan-penemuan baru yang dapat memajukan kehidupan umat manusia. Hanya dengan menempuh perjuangan revolusioner inilah kaum terhisap dan tertindas, kaum buruh dan muda di mana-mana dapat mengakhiri kejahatan terbesar dalam masyarakat kapitalis hari-hari ini: perampasan kekayaan material yang diciptakan kelas proletar oleh kelas borjuis, dengan menggunakan hukum, polisi, tentara, pengadilan, sistem penjara, parlemen dan partai politiknya, beserta segala institusi demokrasi yang terbirokratisasinya.

Posisi Marxisme di bidang filsafat adalah memfasilitasi kerja-kerja untuk transformasi sosial fundamental ini dengan memerangi gagasan-gagasan kelas-asing dan memberikan penjelasan rasional mengenai manifestasi-manifestasi paling penting di zaman ini untuk membuka jalan bagi dunia sosialisme. Dan atas kesadaran inilah kami berkewajiban memberikan pukulan terhadap ide-ide reaksioner yang ditebar Badai NTB. Bahwa revolusi atau perebutan kekuasaan untuk transformasi masyarakat secara mendasar itu sama sekali tak-terpikirkan jika diperjuangkan dengan pendidikan moral dan idealisme subyektif borjuis-kecil. Keseluruhan pemikiran pemimpin liberal borjuis-kecil ini berisi kegilaan infantilisme yang sangat beracun: mengandung radikalisme terminologi dari tendensi aktivisme postmodernis yang sangat kacau dan siap-sedia membawa perjuangan massa ke jalan buntu yang menguras sumber-daya. Setiap laki-laki dan perempuan yang meneguk mentah-mentah kata-katanya akan tergerus melakukan sesuatu yang tidak perlu. Seperti yang dilakukan gadis-gadis, ibu-ibu dan pak tani di Bima-Dompu: galang dana keliling buat Badai, membuat video dukungan bersama untuk Badai, dan menyebarkan konten-konten yang dipenuhi prasangkanya Badai. Badai sendiri adalah pemimpin yang diciptakan oleh kemunduran perjuangan massa, produk dari seluruh periode krisis masyarakat saat ini, dan mempersonifikasikan keberanian irasional dan pencarian perlindungan putus-asa dari lapisan borjuis-kecil yang terbelakang di tengah ketertinggalan Bima dan Dompu. Dan kepemimpinannya melenggang sebagai bencana yang merintangi kemajuan kesadaran massa dengan tindakan-tindakan yang melelahkan dan mendemoralisasi. Ini menunjukkan kalau Badai bukan sedang memimpin massa menuju revolusi tapi destruksi—reaksi dan kontra-revolusi. Perhatikan saja: status facebook Badai tentang revolusi diterbitkan tatkala dirinya bersembunyi dari intimidasi polisi korup dan bandar narkoba tak-bersahabat di Asrama Kopasus Cijantung Jakarta Timur. Tidak ada pemimpin yang benar-benar berjuang untuk perubahan mendasar dalam masyarakat kapitalis dengan mencari perlindungan di sarang militer borjuis. Mereka yang mencari keamanan-diri di bawah institusi birokrasi dan kekerasan demokrasi borjuis sesungguhnya adalah musuh dari seluruh rakyat miskin yang terhisap dan tertindas. Pada akhirnya setumpuk retorika aktivistik-narsistik Badai tertangkap basah sebagai radikalisme terminologi postmodernis yang sangat dangkal dan kasar. Dari rawa-rawa kebigotan dan filistinisme ini terungkap penolakan ekstrem terhadap perjuangan kelas revolusioner, yang terekspresikan melalui kegirangan akan ‘perbuatan-perbuatan kecil’; semacam argumen-argumen picik dengan ‘kata-kata’ yang heroik di tumpukan kertas ‘narasi’ yang pesolek. Dan sudah pasti menjadi kewajiban angkatan-angkatan politik yang paling maju dan sadar-kelas untuk melawan pembodohan yang keji ini dengan mengorganisir-diri dalam perjuangan kelas revolusioner. Ini berarti bergabung dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner untuk revolusi sosialis. Bergabunglah bersama kami untuk membangun Bolshevisme; untuk mempersiapkan kader-kader revolusioner yang mengabdikan sepenuh hidupnya untuk membangun partai revolusioner yang akan memandu perjuangan massa revolusioner menuju kemenangan revolusi proletariat di masa depan kelak.

“Setiap kejatuhan juga mengandung benih-benih kebangkitan, begitupun sebaliknya–seperti halnya kehidupan dan kematian yang merupakan kesatuan dialektis dari rantai perkembangan masyarakat manusia dan sejarah. Dalam proses ini aspek-aspek aksidental dan non-esensial dari masa lalu akan dibuang dan hakikat sejatinya dipertahankan dan di bawah oleh mereka yang hidup hari ini ke masa depan yang jauh. Perjuangan hidup, perjuangan untuk maju dan sampai pada kehidupan baru, adalah proses perkembangan yang tidak berjalan lurus karena terdapat gelombang pasang dan surut yang saling-merasuki. Dan orang-orang yang akan tumbuh seperti bunga-bunga yang bermekaran dengan indah di musim semi dan membuka jalan bagi kehidupan baru dengan berjatuhan secara teguh di musim gugur, adalah mereka yang tidak pernah berhenti memperbaharui dirinya untuk menjadi lebih sadar dan yakin akan perubahan; adalah mereka yang tidak pernah menyerah menghadapi setiap peristiwa dengan menyelam sampai ke inti-rasionalnya untuk beroleh kemajuan yang cemerlang.”

– Kaum Bolshevik

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

One reply on “Bisnis Narkoba, Kejahatan Negara, dan Kebusukan Aktivisme”

Tinggalkan Balasan ke Netty Batalkan balasan

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai