“Dalam bentuknya yang kurang-lebih murni, pemikiran ‘metafisik’ mungkin hanya ada pada orang-orang biadab. Di kalangan masyarakat beradab, eklektisisme masih berkuasa. Hukum ‘evolusi’, ‘kemajuan’, secara menyeluruh diakui, namun terlepas dari hukum-hukum tersebut, ada beberapa kategori absolut yang diterima—dalam bidang ekonomi (kepemilikan pribadi), dalam bidang politik (demokrasi, patriotisme), dalam bidang moral (keharusan kategoris)…. Dialektika adalah logika pembangunan [keseluruhan]. Ia mengkaji dunia—tanpa terkecuali—bukan sebagai hasil penciptaan, permulaan yang tiba-tiba, realisasi suatu rencana, namun sebagai hasil gerak, transformasi. Segala sesuatu yang ‘menjadi’ sebagaimana adanya akibat perkembangan yang sesuai hukum…. Dalam pengertian mendasar dan paling umum, pandangan dialektis mengenai alam dan kemanusiaan sama dengan apa yang disebut sebagai pandangan ‘evolusi’ mengenai alam, yakni pandangan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial masa kini, sepanjang keduanya layak menerima sebutan tersebut….”
“Kita selanjutnya akan melihat bahwa ‘evolusi’ sebagai rumusan umum tentang asal-usul dunia dan masyarakat lebih tidak-berbentuk, kurang-konkret, dan kurang-isi, dibandingkan dengan konsepsi dialektis (atau perkembangan), yang karenanya merupakan sudut pandang yang cocok, pasti akan mengarah pada materialisme: dunia organik muncul dari dunia anorganik, kesadaran adalah kapasitas organisme hidup yang bergantung pada organ-organ yang berasal dari evolusi. Dengan kata lain, ‘jiwa evolusi’ (dialektika) pada analisa terakhir mengarah pada materi. Sudut pandang perkembangan yang dibawa ke kesimpulan logis tidak memberikan ruang bagi idealisme atau dualisme, atau bagi spesies eklektisisme lainnya. Dengan demikian, ‘dialektika materialis’ (atau ‘materialisme dialektis’) bukanlah suatu kombinasi sewenang-wenang dari dua istilah yang berdiri sendiri, namun merupakan satu kesatuan dari hal-hal berlawanan—sebuah rumusan singkat untuk suatu pandangan dunia yang utuh dan tak-terpisahkan, yang secara ekslusif bersandar pada keseluruhan perkembangan pemikiran ilmiah di semua bagiannya, dan hanya berfungsi sebagai pendukung ilmiah bagi praksis manusia.”
– Buku Catatan Trotsky: Kutipan tentang Lenin, Dialektika, dan Evolusionisme
Dalam Teori Pengetahuan Maois, universalitas kontradiksi diartikan dengan kontradiksi yang terdapat dalam ‘proses perkembangan segala sesuatu dari awal hingga akhir’. Sementara kami telah menerangkan: ‘alam semesta yang tersusun dari materi “yang satu dan tunggal selamanya”, dengan kontradiksinya terus-menerus berkembang dari tingkatan yang lebih rendah ke tingkatan yang lebih tinggi, yang setiap gerakan dan perubahannya merupakan mata-rantai dari rantai perkembangan materi yang tiada mengenal awal dan akhir—segala sesuatunya selalu berada dalam interaksi timbal-balik; segala sesuatunya merupakan akibat dan sebab’. Dunia material yang kita tinggali ialah kesatuan dari hal-hal berlawanan dan saling-merasuki secara organis. Semua benda dan fenomena yang ada di alam selalu bergerak, berubah, hingga menjadi kebalikannya. Semuanya berada dalam pergerakan dan perubahan terus-menerus; semuanya hadir dan lenyap, terbentuk dan hancur, hidup dan mati sebagai kesatuan dialektis. Sebagaimana seseorang terlahir lalu tiada: melalui masa kanak-kanak, dewasa, menua dan mati. Proses kehidupan sekaligus merupakan proses kematian, namun kematian bukanlah akhir kemanusiaan; seperti kelahiran bukanlah awal kehidupan. Gerak, ruang dan waktu hanyalah cara keberadaan materi yang tidak berawal dan berakhir. Mao Zedong keliru ketika menyampaikan bahwa materialisme dialektis melihat universalitas kontradiksi memiliki ‘awal dan akhir’. Mao tidak memperhatikan apa yang diterangkan Lenin di “On the Question of Dialectics”: ‘menurut Marx, dialektika masyarakat borjuis hanyalah kasus dialektika tertentu’. Jadi, ‘metode eksposisi’ yang dijelaskan Lenin ‘dengan menunjukkan perkembangan (baik pertumbuhan maupun pergerakan) kontradiksi-kontradiksi ini dan masyarakat ini dalam jumlah bagian-bagiannya, dari awal hingga akhir’, tidak bisa divulgarisasi dengan mengukuhkan kalau metode itu berlaku dalam semua periode perkembangan material, alam, sejarah, masyarakat dan pemikiran manusia. Di “In Defence of Marxism”, Trotsky mengingatkan: ‘dialektika bukanlah kunci utama yang ajaib untuk semua pertanyaan. Itu tidak menggantikan analisa ilmiah yang konkret. Namun ia mengarahkan analisis ini ke jalan yang benar, mengamankannya dari pengembaraan subyektivisme dan skolastik’.
Mao Zedong memperlakukan cara pemaparan Marx tentang komoditas—yang menerangkan hubungan-hubungan yang paling sering dan bagian-bagian sederhana dalam masyarakat borjuis—sebagai metode analisa yang dapat dipakai dalam menjelaskan perkembangan material secara umum. Mao mengadopsi pendekatan Marxis terhadap hubungan masyarakat barang-dagangan secara sepihak dan menyusun kesimpulan vulgar. Ketika membaca ‘Catatan Lenin’ dan menemukan penjelasan mengenai gerak-diri yang diterangkan dengan mengutip “Capital” Marx; Mao tidak menggarisbawahi bahwa metode eksposisi Marxis itu menggunakan prinsip-prinsip dialektis tentang ‘individu dan universal’, ‘bagian dan keseluruhan’, ‘kebetulan dan kebutuhan’. Suatu hukum ini, yang merupakan keharusan atau ‘kebutuhan’, muncul dari aktivitas yang bersifat kecelakaan atau ‘kebetulan’, yakni pengembangan teknik produksi yang berlangsung di alam bawah sadar atau setengah-sadar, reguler dan sederhana dari banyak ‘individu’ berkembang sebagai praktik sosio-ekonomi yang ‘universal’, dan tidak sekadar berdampak pada diri mereka sendiri dalam perkembangan ‘bagian’ historis atau negerinya tersendiri tapi lebih jauh meliputi pembangunan sosio-ekonomi secara ‘keseluruhan’. Kegagalan memahami ini menyeret pandangan Mao menjadi sempit: tidak dapat melihat apapun selain serangkaian individu yang teratomisasi dengan aktivitas yang terpisah-pisah. Mao pikir Marx menemukan relasi komoditas dengan memusatkan pada yang individu, pada pemecahan dan penjumlahan dari bagian-bagian, dan bukan pada hubungan-hubungannya dengan yang universal. “Capital” mengungkapkan bahwa dalam masyarakat kapitalis, ikatan utama manusia adalah pertukaran komoditas; setiap produk kerja yang masuk ke dalam proses jual-beli mengubah dirinya menjadi barang-dagangan. Inilah hubungan-hubungan sosial obyektif yang terbentuk di atas aktivitas produksi yang melibatkan setiap orang: pekerja menjual kemampuan kerjanya, petani membawa hasil buminya, pedagang menjajakan beraneka dagangannya, bankir memberikan pinjaman uang, industrialis membangun pabrik, spekulan memperjual-belikan saham dan obligasi—masing-masing bagian memiliki pertimbangan sendiri, rencana sendiri, dan perhatian sendiri, namun secara keseluruhan semua aktivitas individu membentuk sistem perekonomian tertentu; yakni, kapitalisme.
Di “On Contradiction”, Mao Zedong tidak melihat kontradiksi, gerak dan perubahan material dalam totalitasnnya, dan oleh karena itu, mengabaikan apa yang diajarkan oleh Engels untuk ‘menemukan hukum’ dialektika yang ada di alam dan secara arbitrer menggantikannya dengan ‘membangun hukum’ dialektika yang subyektif; menciptakan hukum dialektika dengan menekankan konsep tahapan-tahapan yang seolah tahap-tahap dalam pembangunan itu bersifat mutlak dan harus didekati secara khusus sebagai bagian-bagian yang terpisah dengan pembangunan keseluruhannya. Pendekatan ini asing bagi Marxisme. Materialisme dialektis berangkat dari proposisi bahwa dunia material yang obyektif ada secara independen dari subyek yang memikirkannya, namun subyek dan obyek terhubung sebagai kesatuan dialektis dalam perkembangan alam, sejarah, masyarakat dan pemikiran manusia secara menyeluruh. Marxisme menerima keselarasan antara subyek-obyek sebagai suatu kesatuan bukan dalam identitasnya tapi keterhubungannya. Alam semesta bukanlah dunia fenomena yang terisolasi dan terpaku dalam ruang dan waktu, melainkan keseluruhan yang saling-berhubungan secara kontradiktif dan terus-menerus berubah dari bentuk-keberadaan yang lebih rendah menuju bentuk-keberadaan yang lebih tinggi. Inilah hukum pembangunan yang berlaku untuk setiap benda-benda dan peristiwa. Beberapa obyek atau fenomena memang dapat dikurung dalam klasifikasi yang logis—logika formal dari para penganut sistematika bekerja dengan cara ini—sehingga dapat dipisah-pisah menjadi hal-hal tersendiri yang bisa di sana dan di sini, harus begini dan begitu—namun dalam hubungan timbal-baliknya, bentuk-bentuk transisi akan menghancurkan batas-batas klasifikasi yang relatif ini. Di “In Defence of Hegel”, Hamid Alizadeh menjelaskan bahwa bentuk-bentuk perkembangan itu bukanlah aspek yang permanen dan dapat dipisahkan menjadi tahap-tahap yang terisolasi, karena bentuk atau tahapan merupakan bagian dari keseluruhan dan hubungan antara bagian dengan keseluruhan adalah kesatuan yang organis. Alizadeh menegaskan ini dengan mengutip pemikiran Hegel dalam “The Phenomenology of Spirit”:
”Semakin pikiran orang awam menganggap pertentangan antara yang benar dan yang salah harus diperbaiki, semakin terbiasa mereka mengharapkan persetujuan atau kontradiksi dengan sistem filsafat tertentu, dan melihat alasan untuk yang satu atau yang lain dalam pernyataan penjelasan apapun mengenai hal itu. Ia tidak menganggap keragaman sistem filosofis sebagai evolusi kebenaran yang progresif; sebaliknya, ia hanya melihat kontradiksi dalam keragaman tersebut. Kuncupnya menghilang ketika bunganya mekar, dan kita dapat mengatakan bahwa kuncup tersebut dibantah oleh kuncupnya tersebut; sama halnya ketika buah muncul, mekarnya bunga dapat dijelaskan sebagai wujud palsu dari keberadaan tanaman, karena buah muncul sebagai sifat aslinya menggantikan mekarnya bunga. Tahapan-tahapan ini tidak sekedar dibedakan; mereka saling-menggantikan karena tidak cocok satu sama lain. Namun aktivitasnya yang tak henti-hentinya dari sifat bawaan mereka pada saat yang sama menjadikan mereka momen-momen kesatuan organik, di mana mereka tidak hanya tidak bertentangan satu sama lain, tetapi di mana yang satu sama pentingnya dengan yang lain; dan kebutuhan yang sama atas semua momen ini merupakan satu-satunya hal dan dengan demikian merupakan kehidupan keseluruhan. Namun kontradiksi antar-sistem filosofis tidak bisa dipahami dengan cara ini; di sisi lain, pikiran yang [berusaha] memahami kontradiksi biasanya tidak tahu bagaimana meredakannya atau menjaganya agar tetap bebas dari keberatsebelahannya, dan mengenali dalam apa yang tampaknya berkontradiksi dan secara inheren antagonistik, kehadiran momen-momen yang saling-memerlukan.”
Namun dengan melebih-lebihkan metode eksposisi Marxis, Mao Zedong secara tak-terelakkan jatuh dalam tinjauan yang berat-sebelah. Penekanan pada yang individu, khusus, bagian atau tahapan membuat pandangan Maois terhadap kontradiksi menjadi abstrak. Di “On Contradiction”, Mao menjelaskan kontradiksi secara menyimpang dari Marxisme; menempatkan apa-yang-dimaksudnya dengan gerak-diri atau kontradiksi internal sebagai penyebab primer dan memperlakukan hubungan-hubungan kontradiksinya yang meluas sebagai penyebab sekunder. Mao menerangkan kontradiksi internal atau gerak-diri bukan dalam hubungan timbal-balik, pergerakan, dan perubahan yang terus-menerus antara subyek-obyek, individu-universal, khusus-umum, melainkan dalam hubungan-hubungan sempit dari apa-yang-disebutnya sebagai kekhususan kontradiksi dengan kontradiksi pokok dan non-pokoknya, hingga segala aspek primer dan sekundernya. Pandangan ini mengabaikan kalau gerak-diri atau kontradiksi internal merupakan cara keberadaan materi sebagai kesatuan organik—yang keberadaanya berkait-kelindan dan saling-mengondisikan—di dunia material yang terus berubah tetapi ‘tetap satu dan tunggal selamanya’. Maoisme (Stalinisme) memperlakukan kontradiksi, gerakan dan perubahan yang berada di luar dari benda-benda dan fenomena-fenomena yang-sedang-diselidikinya sebagai ‘sebab-sebab eksternal [sekunder, umum]’, tanpa memperhatikan bahwa dalam pembangunan keseluruhan itu hubungan-hubungan timbal-balik dengan sebab-sebab eksternal dapat membawa pengaruh besar terhadap apa-yang-disebutnya dengan ‘sebab-sebab internal [primer, khusus]’ di bagian-bagian yang ada. Di zaman imperialis, negeri-negeri yang memiliki tahapan perkembangan historis yang berbeda-beda mengalami keterhubungan yang akut; di mana modal finansial, komersial, dan industri dari negeri-negeri maju menyerbu negeri-negeri terbelakang dari luar dan menghancurkan corak produksi tradisional atau bentuk ekonomi primitif yang tersisa hingga memaksa bangsa-bangsa terbelakang tunduk pada sistem perekonomian kapitalisme yang mendunia dan mengejar ketertinggalan pertumbuhan tenaga produktifnya.
Disproporsi pembangunan sejarah membawa keuntungan luar biasa bagi negeri-negeri maju, yang dengan tingkatan perkembangan historis yang lebih tinggi terus mendominasi dan mengorbankan negeri-negeri terbelakang sebagai negeri koloni dan semi-koloninya. Melalui hubungan inilah negeri yang perkembangan tenaga produktifnya tertinggal didorong untuk mengejar ketertinggalannya oleh ekspor kapital yang merasuki negerinya. Sementara kelas kapitalis di negeri induk yang mengeksporkan modalnya mendapat kemanfaatan besar dengan mengeskploitasi negeri jajahannya dan menggunakannya untuk mengintensifkan kerja-upahan dan pembagian kerja terhadap proletariat di dalam negerinya. Lewat “Marxisme di Zaman Kita”, Trotsky menjelaskan bahwa eksploitasi itu secara umum termanifestasi melalui kebangkrutan demokrasi borjuis-imperialis yang mendasari dirinya pada perampasan wilayah jajahan untuk mempertajam perbudakan-upahan: di mana ‘selain menghancurkan demokrasi di negara-negara yang sudah lama bermodal, imperialisme juga menghambat kebangkitan demokrasi di negara-negara terbelakang. Fakta bahwa di era baru ini tidak ada satupun negeri koloni atau semi-koloni yang berhasil menyelesaikan revolusi demokrasinya—terutama di bidang hubungan-hubungan agraria—sepenuhnya disebabkan oleh imperialisme, yang telah menjadi penghambat utama kemajuan ekonomi dan politik. Dengan menjarah kekayaan alam negara-negara terbelakang dan dengan sengaja menghambat perkembangan industri independen mereka, para penguasa monopoli dan pemerintah mereka secara bersamaan memberikan dukungan finansial, politik, dan militer kepada kelompok pengeksploitasi pribumi yang paling reaksioner, parasit, dan semi-feodal. Barbarisme agraria yang dilestarikan secara artifisial saat ini merupakan wabah paling mengerikan dalam perekonomian dunia kontemporer. Perjuangan bangsa tertindas untuk kemerdekaan mereka, melewati tahapan-tahapan di antaranya, mengubah kebutuhan mereka menjadi perjuangan melawan imperialisme, dan oleh karenanya menyelaraskan diri dengan perjuangan proletariat di negeri-negeri induknya. Pemberontakan dan perang kolonial pada gilirannya mengguncang fondasi dunai kapitalisme lebih dari [periode-periode] sebelumnya’. Di zaman imperialis, perjuangan pembebasan nasional di negeri terbelakang merupakan gerakan yang terhubung dengan perjuangan kelas buruh di negeri maju. Keterkaitan demikian merupakan cara keberadaan material dari tenaga-tenaga produktif di setiap negeri yang secara dialektis terhubung sebagai kesatuan organis dalam pembangunan keseluruhannya. Di “On Contradiction”, Mao Zedong memang menguraikan bagaimana kedua kutub yang berlawanan dapat saling-berhubungan dan berubah menjadi satu sama lainnya. Namun keterhubungan dan perubahan tersebut dinyatakan bukan dalam hubungan-hubungan timbal-balik antara individu dan universal, khusus dan umum—bangsa dan kelas, nasional dan internasional—tetapi sebatas pada keterkaitan-keterkaitan dalam kekhusuan kontradiksi; yakni, kontradiksi dalam perkembangan historis di satu negeri semata, yang meliputi kontradiksi pokok dan kontradiksi non-pokok dengan aspek-aspek primer dan sekundernya. Inilah yang dijelaskan Mao sebagai ‘kontradiksi internal’ atau ‘gerak-diri’ yang di masing-masing negeri melewati tahapan perkembangan tersendiri-sendiri dan menjadi penentu dalam ‘seluruh proses perkembangan’ sosial di negeri-negeri itu:
“…pembangunan sosial terutama disebabkan bukan oleh sebab-sebab eksternal, melainkan sebab-sebab internal. Negara-negara dengan kondisi geografi dan iklim yang hampir sama menunjukkan keragaman dan ketidakmerataan yang besar dalam perkembangannya. Selain itu, perubahan sosial yang besar mungkin terjadi di satu negara meskipun geografi dan iklimnya tidak berubah. Rusia yang imperialis berubah menjadi Uni Soviet yang sosialis, dan Jepang yang feodal … berubah menjadi Jepang imperialis, meskipun tidak ada perubahan yang terjadi pada geografi dan iklim kedua negara. Sudah lama didominasi oleh feodalisme, Tiongkok telah mengalami perubahan dalam seratus tahun terakhir, dan kini berubah ke arah Tiongkok yang baru … namun tidak ada perubahan yang terjadi pada geografi dan iklimnya. Perubahan memang terjadi pada geografi dan iklim bumi secara keseluruhan dan di setiap bagiannya, namun perubahan tersebut tidak berarti jika dibandingkan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat … Menurut dialektika materialis, perubahan-perubahan dalam alam terutama disebabkan oleh berkembangnya kontradiksi-kontradiksi internal dalam alam. Perubahan-perubahan dalam masyarakat terutama disebabkan oleh berkembangnya kontradiksi internal dalam masyarakat, yaitu kontradiksi-kontradiksi antara tenaga-tenaga produksi dan hubungan-hubungan produksi, kontradiksi antar-kelas dan kontradiksi antara yang lama dan yang baru.”
“Kontradiksi yang berbeda secara kualitatif hanya bisa diselesaikan dengan metode yang berbeda secara kualitatif. Misalnya saja, kontradiksi antara proletariat dan borjuasi diselesaikan dengan metode revolusi sosialis; kontradiksi antara massa besar rakyat dan sistem feodal diselesaikan dengan metode revolusi demokratis; kontradiksi antara koloni dan imperialisme diselesaikan dengan metode perang revolusioner nasional; kontradiksi antara kelas pekerja dan kelas tani dalam masyarakat sosialis diselesaikan dengan kolektivisasi dan mekanisasi di bidang pertanian; kontradiksi dalam Partai Komunis diselesaikan dengan metode kritik-otokritik; kontradiksi antara masyarakat dan alam diselesaikan dengan metode pengembangan tenaga produktif. Proses berubah, proses lama dan kontradiksi lama lenyap, proses baru dan kontradiksi baru muncul, dan metode penyelesaian kontradiksi juga berbeda-beda. Di Rusia terdapat perbedaan mendasar antara kontradiksi yang diselesaikan Revolusi Februari [tahap pertama: revolusi borjuis-demokratik] dan kontradiksi yang diselesaikan melalui Revolusi Oktober [tahap kedua: revolusi proletar-sosialis], serta antara metode yang digunakan untuk menyelesaikannya. Prinsip penggunaan metode yang berbeda untuk menyelesaikan kontradiksi yang berbeda adalah prinsip yang harus dipatuhi dengan ketat oleh kaum Marxis-Leninis [Stalinis, Maois, Aiditis, dan sebagainya]. Kaum dogmatis tidak menjalankan prinsip ini, mereka tidak memahami bahwa kondisi berbeda-beda pada berbagai jenis revolusi sehingga tidak memahami bahwa metode yang berbeda-beda harus digunakan untuk menyelesaikan kontradiksi yang berbeda; sebaliknya, mereka selalu mengadopsi apa yang mereka anggap sebagai formula yang tidak dapat diubah dan menerapkannya secara sewenang-wenang di manapun, yang hanya akan menyebabkan kemunduran pada revolusi atau mengacaukan apa yang pada awalnya telah dilakukan dengan baik. Untuk mengungkapkan kekhususan kontradiksi-kontradiksi dalam setiap proses perkembangan suatu hal, baik secara totalitas maupun keterkaitannya, yaitu untuk mengungkapkan hakikat proses itu, perlu diungkapkan kekhususan kedua aspek tersebut…. Ada banyak kontradiksi dalam perkembangan suatu hal besar. Misalnya, dalam perjalanan revolusi borjuis-demokratik Tiongkok, yang kondisinya sangat kompleks, terdapat kontradiksi antara semua kelas tertindas dalam masyarakat Tiongkok dan imperialisme, kontradiksi antara massa besar rakyat dan feodalisme, kontradiksi antara proletariat dan borjuasi, kontradiksi antara kaum tani borjuis-kecil perkotaan di satu sisi dan borjuasi di sisi lain, kontradiksi antara berbagai kelompok penguasa yang reaksioner, dan seterusnya … Kita yang terlibat dalam Revolusi Tiongkok tidak hanya harus memahami kekhususan kontradiksi-kontradiksi ini dalam totalitasnya, yaitu dalam keterkaitannya, namun juga harus mempelajari dua aspek dari masing-masing kontradiksi sebagai satu-satunya cara untuk memahami keseluruhannya…. Kontradiksi mendasar dari seluruh proses perkembangan sesuatu dan hakikat proses yang ditentukan oleh kontradiksi mendasar ini yang tidak akan hilang sampai proses tersebut selesai; namun dalam proses yang panjang biasanya kondisinya berbeda-beda pada setiap tahapannya….”
“Dalam mempelajari kekhususan kontradiksi-kontradiksi pada setiap tahapan dalam proses perkembangan suatu hal, kita tidak hanya harus mengamati keterkaitannya atau totalitasnya, kita juga harus mengkaji dua aspek dari setiap kontradiksi. Misalnya saja [Parta Borjuis] Kuomintang dan Partai Komunis [Tiongkok]. Ambil satu aspek, Kuomintang. Pada periode front persatuan pertama, Kuomintang melaksanakan Tiga Kebijakan Besar Sun Yat-sen yaitu aliansi dengan Rusia, kerjasama dengan Partai Komunis, dan memberikan bantuan kepada kaum tani dan buruh; oleh karena itu ‘revolusioner’ dan penuh semangat, merupakan aliansi berbagai kelas untuk revolusi demokratik. Namun setelah tahun 1927, Kuomintang berubah menjadi kebalikannya dan menjadi blok reaksioner tuan-tanah dan borjuasi besar. Setelah Insiden Sian pada bulan Desember 1936, mereka memulai perubahan lain ke arah mengakhiri perang saudara dan bekerjasama dengan Partai Komunis untuk bersama-sama menentang imperialisme Jepang. Itulah ciri-ciri khusus Kuomintang dalam tiga tahap tersebut. Tentu saja, ciri-ciri ini muncul karena berbagai sebab. Sekarang ambil aspek lainnya, Partai Komunis Tiongkok. Pada periode front persatuan pertama, PKT masih dalam masa pertumbuhan; mereka dengan berani memimpin revolusi tahun 1924-27 namun memperlihatkan ketidakdewasaan mereka dalam memahami karakter, tugas-tugas dan metode-metode revolusi, dan akibatnya menjadi mungkin bagi Chen Tu-hsiuisme [materialisme metafisik], yang muncul pada bagian akhir revolusi ini, untuk menegaskan diri dan membawa kekalahan revolusi. Setelah tahun 1927, Partai Komunis dengan berani memimpin Perang [Gerilya] Revolusi Agraria dan membentuk tentara revolusioner dan wilayah basis revolusioner; namun, mereka melakukan kesalahan petualang yang menimbulkan kerugian sangat besar baik bagi tentara maupun daerah pangkalan. Sejak tahun 1935, Partai telah memperbaiki kesalahan ini dan memimpin front persatuan baru untuk melawan Jepang…. Hal yang lebih mendasar lagi dalam mempelajari ciri-ciri khusus dari kedua partai tersebut adalah pengujian basis kelas dari kedua partai tersebut dan kontradiksi-kontradiksi yang diakibatkannya yang muncul antara masing-masing partai dan kekuatan-kekuatan lain pada periode yang berbeda. Misalnya, pada periode kerjasama pertamanya dengan Partai Komunis, Kuomintang bertentangan dengan imperialisme asing dan karenanya anti-imperialis; di sisi lain, hal ini bertentangan dengan sebagian besar rakyat dalam negeri—meskipun dalam kata-kata hal ini menjanjikan banyak keuntungan bagi rakyat pekerja, pada kenyataannya hal itu memberi mereka sedikit atau tidak sama sekali. Pada periode ketika mereka melancarkan perang anti-Komunis, Kuomintang bekerjasama dengan imperialisme dan feodalisme melawan massa-rakyat dan menghapus semua keuntungan yang telah mereka peroleh dalam revolusi, dan dengan demikian memperkuat kontradiksi di antara mereka. Dalam periode perang anti-Jepang saat ini, Kuomintang bertentangan dengan imperialisme Jepang dan menginginkan kerjasama dengan Partai Komunis, tanpa mengendurkan perjuangannya melawan Partai Komunis dan rakyat atau penindasannya terhadap mereka. Sedangkan Partai Komunis selalu, di setiap periode, berdiri bersama massa rakyat melawan imperialisme dan feodalisme, namun di masa perang anti-Jepang saat ini, Partai Komunis telah mengambil kebijakan moderat terhadap Kuomintang dan kekuatan feodal dalam negeri karena mereka telah memaksa diri untuk melawan Jepang….”
Doktrin Maois memberikan penekanan yang berlebihan terhadap yang khusus dan sebagai akibatnya adalah memistifikasi apa yang didekatinya sebagai kontradiksi. Di tangan Mao, kontradiksi menjadi kabur dan sukar dipahami. Kontradiksi yang ada dalam setiap benda dan fenomena didekati sebagai sesuatu yang tidak memiliki kesatuan mendasar, yang dikuasai oleh pemisahan dan atomisasi yang semakin mendalam dan tanpa-henti: kontradiksi dibedakan menjadi keumuman kontradiksi dan kekhususan kontradiksi, yang dalam kekhususan kontradiksinya dipisahkan menjadi kontradiksi pokok dan kontradiksi non-pokok dengan aspek-aspek yang diperkecil-kecil menjadi yang primer dan sekunder secara terus-menerus. Pendekatan ini tidaklah memandang dunia material dalam pembangunan keseluruhan; sebagai kesatuan dari hal-hal yang berlawanan dan saling-merasuki dengan perkembangan materi dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi secara dialektis. Tetapi sekadar melihat dunia material sebagai hal-hal yang berkontradiksi dan berinterpenetrasi dalam tahapan-tahapan perkembangan yang terpisah-pisah dan tak-terhubungkan dalam sebuah kesatuan yang organis. Penekanan pada ‘perbedaan kualitatif’ itulah yang dinyatakan Mao sebagai cara ‘untuk memahami hukum evolusi dalam berbagai hal secara konkret. Namun metode tersebut sangatlah asing bagi Marxisme. Materialisme dialektis tidaklah menerangkan pembangunan yang ada di alam dengan menekankan pada gerak dan perubahan yang mengikuti hukum evolusi bertahap dan lancar, tetapi berdasarkan hukum dialektika yang menerangkan proses evolusi dengan mempertimbangkan adanya ledakan bencana, lompatan perang dan revolusi. Kaum Marxis mengakui semua perubahan mempunyai unsur kuantitatif, tetapi ketika mencapai titik tertentu maka akan terakumulasi menjadi lompatan-lompatan maju secara kualitatif. Dalam proses ini pendekatan Marxis bekerja untuk mengungkap kontradiksi dan menarik perbedaan yang jelas antara penampakan dan hakikat sesuatu. Ini hanya bisa dilakukan dengan penerapan dialektika yang tidak sebatas memilah fenomena yang jumlahnya tak-terhingga, tetapi lebih jauh menyingkap keterkaitan dan relasi keseluruhannya. Namun metode Maois justru menghadirkan konsep ‘perbedaan’ yang berlebihan dengan menciptakan dunia yang ‘teratomisasi’ sedemikian sempit; di mana ‘ketidaksesuaian’ memutuskan ‘keterhubungan’ dan ‘bagian’ menyingkirkan ‘keseluruhan’. Inilah dunia material tanpa kesatuan dan pertentangan mendasar. Inti pendekatannya mengangkat subyektivisme dan eklektisisme menjadi prinsip, sehingga mengabaikan pendekatan dialektika materialis yang ilmiah dan sistematis. Hasilnya adalah pandangan dunia yang reduksionis-relativistik: segala sesuatu bisa disalahkan dan dibenarkan berdasarkan pendekatan subyektif untuk memberi bukti yang kasar mengenai kesalahan dan kebenaran apapun.
Ide-ide subyektivisme dan eklektisisme takkan pernah mampu mengungkap proses-proses material tersembunyi, hubungan-hubungan menentukan dari benda-benda dan peristiwa, pergerakan dan perubahan yang terus-menerus dan konkret. Hegel pernah berucap: ‘seperti halnya ada keluasan yang merupakan kekosongan, maka ada kedalaman yang juga kosong’. Maoisme (Stalinisme) adalah ‘kedalaman yang kosong’. Di “On Contradiction”, Mao Zedong telah menyampaikan sudut pandang yang menerangkan kontradiksi secara absurd: tanpa adanya kesatuan dan pertentangan yang mendasar. Meskipun doktrin Maois menjelaskan bahwa kontradiksi pokok merupakan kontradiksi yang menentukan dan mendasari segala gerak dan perubahan yang ada, tetapi pandangan itu terbukti keliru dan destruktif. Perspektif Maois menguraikan bagaimana proses Revolusi Tiongkok berlangsung secara bertahap, di mana pertentangan antara massa-rakyat dengan feodalisme dan imperialisme dipandang sebagai ‘kontradiksi pokok’, yang dalam tahap-tahap perkembangannya mendorong persatuan dan perpecahan antara Partai Komunis dan Partai Kuomintang secara bersyarat. Sudut pandang ini menyatakan bahwa ‘kontradiksi pokok’ itu sangat penting dan harus diatasi terlebih dahulu, dan oleh karenanya, menafikkan kontradiksi inheren dalam masyarakat kapitalis—ketidaksesuaian tingkat perkembangan tenaga produktif dan hubungan produksi, yang pada bidang ekonomi dan politik terekspresikan melalui antagonisme antara proletar dan borjuis. Demikianlah hal-hal yang diakui Marx, Engels, Lenin (dan Trotsky) sebagai kontradiksi internal dari sistem produksi kapitalisme ini diabaikan secara arbitrer. Mao tidak mengakui kalau perjuangan atas nilai-lebih yang diciptakan oleh buruh dan diambil-alih oleh kapitalis akan mengarah pada pertentangan kelas yang tajam dan menjadi dasar penggulingan kapitalisme dan penyelesaian kontradiksi melalui penghapusan kelas. Lebih jauh, Mao memberitahukan bahwa kontradiksi pokok merupakan kontradiksi internal atau gerak-diri yang menjadi dasar perkembangan dan perubahan material di negerinya. Mao menyampaikan seolah kontradiksi pokok—dengan segala aspek-aspek kontradiksinya—berkembang melalui proses seperti yang diterangkan Lenin; di mana ‘hal-hal yang berlawanan ini bukan sebagai sesuatu yang mati, kaku, tetapi hidup, bersyarat, bergerak, ditransformasikan menjadi satu sama lain’ dan ‘kesatuan (kebetulan, identitas, tindakan setara) dari hal-hal berlawanan bersifat kondisional, sementara, relatif. Perjuangan dua hal yang saling-bertentangan adalah mutlak, sebagaimana perkembangan gerak adalah mutlak’. Tetapi pada kenyataannya, Mao mengadopsi metode Marxis secara vulgar: tidak digunakan untuk menjelaskan pertentangan yang tak-terdamaikan antara kepentingan kelas proletar dan kepentingan kelas borjuis, melainkan dipakai demi mengesahkan kebijakan kolaborasi kelas antara kepemimpinan proletariat dan kepemimpinan borjuasi—PKT dan Kuomintang. Pada sebuah diskusi kami untuk mengklarifikasi “On Contradiction”, Ted Sprague memaparkan penyimpangan yang dilakukan Mao terhadap ‘Catatan Lenin’:
“’On Contradiction’adalah karya ‘filsafat’ yang paling vulgar dan karikatur. Pertama, mengenai penyebab internal dan eksternal. Mao membuat kedua hal ini terpisahkan. Penyebab internal diletakkan di atas (primer), dan penyebab internal itu sekunder. Dia katakan bahwa Marxisme berurusan dengan penyebab internal, dan Materialisme vulgar (idealisme, metafisik) hanya berurusan dengan penyebab eksternal. Dia gunakan contoh yang buruk, bahwa penyebab eksternal adalah geografi dan iklim misalnya. Dan lalu dengan contoh karikatur ini, dia ‘tunjukkan’ bagaimana faktor eksternal ini tidak menentukan bentuk ekonomi bangsa tertentu. Tetapi Marxisme menekankan kesalingterhubungan antar hal-ihwal, sehingga penyebab eksternal juga menjadi kekuatan yang mengubah hal-ihwal. Dan, penyebab eksternal tidak hanya geografi dan iklim. Gagasan Mao ini, yang menarik garis pembatas artifisial antara penyebab internal dan eksternal, adalah bagian dari vulgarisasi Marxisme yang dilakukan oleh kaum Stalinis untuk membenarkan ‘Sosialisme di Satu Negeri’, bahwa tiap-tiap negeri bisa membangun sosialisme di satu negeri, bahwa pasar dunia kapitalis tidak akan mempengaruhi perkembangan Uni Soviet [atau Tiongkok]. Padahal justru dalam kapitalisme, pasar dunia (kekuatan eksternal) merupakan faktor penting yang menentukan. Kepicikan nasional, yang melebih-lebihkan faktor internal ini, adalah basis dari Stalinisme (dan Maoisme, yang hanya kelanjutannya). Inilah yang menjadi dasar bagi perpecahan Sino-Soviet. Mao dan PKT percaya bahwa mereka bisa membangun sosialisme di satu negeri Cina, karena menurutnya yang penting adalah kekuatan internal.”
“Kalau kita berbicara dua kutub yang berlawanan dan saling-merasuki, maka kita seharusnya melihat bagaimana kekuatan internal dan eksternal saling-berkait kelindan dan saling-mengondisikan. Tetapi tidak demikian bagi Mao (dan Stalin), mereka menarik garis pembatas artifisial, dan membuat apa yang Mao sebut sebab internal (yang dia sebut sebagai kontradiksi internal) sebagai hal utama. Lalu tentunya, kata ‘kontradiksi’ itu sendiri yang dibuatnya menjadi kata yang begitu umum sehingga kehilangan semua maknanya. Untuk membenarkan teori dua-tahap [tahap pertama, revolusi borjuis-demokratik; tahap kedua, revolusi proletar-sosialis, Mao membangun ‘filsafat’ kontradiksi, yang dia sebut ada kontradiksi universal [keumuman kontradiksi], ada kontradiksi partikular [kekhususan kontradiksi]. Setiap kontradiksi partikular ada solusi partikularnya. Tampaknya masuk di akal bukan? Tetapi yang dia coba benarkan adalah kebijakan mendukung borjuasi nasional dalam revolusi nasional Cina, dan bagaimana dia lalu mengatakan kontradiksi pokoknya adalah antara massa luas melawan imperialisme dan feodalisme. Pertentangan antara proletariat dan borjuasi adalah kontradiksi sekunder. Ini untuk membenarkan kolaborasi mereka dengan Koumintang, entah pada 1924-27, dan lalu kembali lagi sejak 1935. Tetapi tidak diperiksa sama sekali oleh Mao (dan Stalin), bagaimana justru borjuasi nasional sudah terikat erat dengan imperialisme dan feodalisme. Tetapi ini semua dibenarkan dengan teori ‘kontradiksi partikular’ dan ‘kontradiksi pokok’. Jadi intinya, apa yang ingin disampaikan “On Contradiction” adalah: perjuangan melawan imperialisme dan feodalisme adalah kontradiksi pokok, dan perjuangan melawan kapitalisme bukanlah kontradiksi pokok. Pertama, bersatu bersama dengan borjuasi progresif, selesaikan kontradiksi pokok. Mengenai masalah ‘kesatuan’, ini kembali digunakan lagi oleh Mao secara sembarangan dan arbitrer. Dalam dialektika, kita mengenal ‘unity of the opposites’, tetapi bukan lalu secara kaku diterapkan bahwa kelas yang bertentangan bisa bersatu. Ini seperti menjiplak konsep saja secara sembarangan. Tidak pernah dalam cara apapun Marx, Engels, Lenin [dan Trotsky] mengartikan ‘unity of the opposites’ sebagai kolaborasi kelas. Kita tidak akan pernah menemukan ini dalam tulisan mereka sekalipun.”
Di “On Contradiction”, Mao Zedong memberitahukan bahwa antagonisme yang terkandung dalam kontradiksi antara proletariat dan borjuasi merupakan sesuatu yang relatif. Antagonisme dinyatakan tak-terkandung dalam setiap tahapan perkembangan historis, karena antagonisme hanya terdapat pada tahapan tertentu dari perkembangan masyarakat kelas. Mao menulis: ‘dalam sejarah manusia, antagonisme antar-kelas muncul sebagai manifestasi khusus dari perjuangan pihak-pihak yang berlawanan. Perhatikan kontradiksi antara kelas penghisap dan kelas tereksploitasi. Kelas-kelas yang saling-bertentangan tersebut hidup berdampingan dalam waktu yang lama dalam masyarakat yang sama, baik itu masyarakat budak, masyarakat feodal, atau masyarakat kapitalis, dan mereka saling-bertikai; namun baru setelah kontradiksi antara kedua kelas tersebut berkembang sampai pada tahap tertentu, kontradiksi tersebut mengambil bentuk antagonisme terbuka dan berkembang menjadi revolusi’. Pandangan disampaikannya dengan memberi penafsiran vulgar terhadap pemikiran Lenin dalam “Critical Notes on Bukharin’s Economics of the Transition Period”. Mao berucap: ‘Lenin berkata, “Antagonisme dan kontradiksi sama sekali tidak satu dan sama. Di bawah sosialisme, yang pertama akan hilang, yang kedua tetap ada.” Artinya, antagonisme adalah satu bentuk, namun bukan satu-satunya bentuk, perjuangan pihak-pihak yang berlawanan; rumusan antagonisme tidak bisa sembarangan diterapkan di mana-mana’. Maoisme (Stalinisme) membedah persoalan antagonisme—yang inheren dalam totalitas keberadaan (kontradiksi) masyarakat berkelas—sebagai bagian tersendiri, yang terbentuk melalui proses-tahapan, dan tidak berada dalam keseluruhan perkembangannya: ‘kontradiksi dan perjuangan bersifat universal dan mutlak, tetapi cara penyelesaian kontradiksi, yaitu bentuk-bentuk perjuangan, berbeda-beda menurut perbedaan sifat kontradiksi tersebut. Beberapa kontradiksi dicirikan oleh antagonisme terbuka, sementara yang lainnya tidak. Sesuai dengan perkembangan konkretnya, kontradiksi-kontradiksi yang semula bersifat non-antagonistik berkembang menjadi kontradiksi-kontradiksi antagonistik, sedangkan kontradiksi-kontradiksi yang semula bersifat antagonistik menjadi kontradiksi-kontradiksi non-antagonistik’. Inilah yang menjadi alasan Mao untuk mengarahkan PKT berkolaborasi-kelas dengan Kuomintang. Mao melihat masyarakatnya sebagai masyarakat setengah-feodal dan setengah-jajahan, bukan masyarakat kapitalis; oleh karenanya, kontradiksi proletariat dan borjuasi belumlah hadir secara antagonistik. Teori Kontradiksi Maois tidak mengakui berlakunya ‘hukum perkembangan sejarah yang tak-berimbang dan tergabungkan’ dalam pembangunan keseluruhan, sehingga antagonisme kelas ditinjaunya secara abstrak. Mao sesungguhnya gagal melihat apa-yang-disebutnya ‘perkembangan konkret’—ini dikarenakan pandangannya yang sepihak terhadap realitas material yang obyektif. Tinjauan terhadap perkembangan yang konkret tidak sekadar berlandaskan materialisme filosofis tapi sekaligus metode dialektis yang menekankan pada prinsip-prinsip relasi timbal-balik bagian-keseluruhan, individu-universal, kebetulan-kebutuhan, subyek-obyek. Dalam “The Marxist Theory of the State“, Ted Grant menerangkan perkembangan masyarakat kapitalis dalam perspektif materialisme historis yang memperhatikan prinsip dialektika tersebut:
“Cikal-bakal cara produksi kapitalis, yang dimulai pada masa feodalisme melalui perkembangan komoditas, terletak pada fungsi pengrajin dan pedagang independen. Ketika mencapai tahap tertentu, relasi kapitalis muncul dan hidup berdampingan dengan suprastruktur feodal. Yang terakhir ini hancur berkeping-keping oleh revolusi dan kemungkinan-kemungkinan terpendam dalam produksi kapitalis kemudian memiliki kemungkinan yang bebas untuk membuahkan hasil tanpa terhambat oleh pembatasan-pembatasan feodal. Esensi revolusi (baik kapitalis maupun proletar) terdiri dari fakta bahwa hubungan-hubungan lama dan bentuk-bentuk lama tidak sesuai dengan cara produksi baru yang telah matang dalam rahim masyarakat lama. Untuk membebaskan diri dari pembatasan-pembatasan ini, tenaga-tenaga produktif harus diorganisasi ulang dengan basis yang berbeda. Keseluruhan sejarah umat manusia terdiri dari penyelesaian antagonisme ini melalui berbagai tahap dalam masyarakat yang berbeda. Formasi sosio-ekonomi tidak pernah muncul dalam bentuk yang murni secara kimiawi. Dalam suatu bentuk masyarakat tertentu, unsur-unsur formasi dan hubungan sosial sebelumnya dapat hidup berdampingan secara tidak nyaman dengan bentuk-bentuk baru. Terlebih lagi, situasi ini mungkin berlangsung selama beberapa waktu. Revolusi borjuis tidak serta-merta menghancurkan feodalisme dalam satu pukulan. Unsur-unsur feodal yang kuat masih tetap ada, dan sampai hari ini sisa-sisa feodalisme masih ada bahkan di negara-negara kapitalis yang paling maju—kaum tani, aristokrat, House of Lords di Inggris, monarki, dan sebagainya. Namun kontradiksi serupa juga terjadi pada masa feodalisme. Pada Abad Pertengahan, dalam kerangka cara produksi feodal, unsur-unsur kapitalisme mulai berkembang di kota-kota. Unsur-unsur kapitalis ini memainkan peran penting (perdagangan, riba, dan lain-lain) dan akhirnya menggulingkan tatanan feodal. Namun hal itu tidak mengubah hukum fundamental atau hukum gerak masyarakat feodal. Pengamatan serupa dapat dilakukan mengenai perbudakan, atau bentuk masyarakat lainnya. ‘Marxisme mengalisis formasi sosial secara konkret, dengan segala ciri kontradiktifnya, dan bukan sebagai norma ideal’.”
Namun Mao Zedong mengalisis formasi sosial secara berat-sebelah, dan oleh karenanya, tidak-konkret. Dalam memandang perkembangan historis di Tiongkok, Mao menjelaskannya sebagai negeri yang hubungan-hubungan sosialnya bersifat setengah-jajahan dan setengah-feodal. Kesimpulan ini mengalir dari sudut pandang pembangunan bagian, bukan pembangunan keseluruhan yang memperhatikan bagaimana aktivitas produksi dan pertukaran komoditas telah berlangsung di skala dunia dengan relasi barang-dagangan yang menjadi dominan dalam hubungan-hubungan sosial umat manusia. Maoisme (Stalinisme) menekankan kalau perkembangan tenaga produktif di satu negeri tidaklah ditentukan oleh hubungan timbal-baliknya dengan negeri-negeri lainnya; padahal di zaman imperialis (tahap tertinggi perkembangan kapitalisme), perekonomian nasional dari semua bangsa telah disatukan secara dialektis menjadi sistem perdagangan dunia, dengan aktivitas-aktivitas ekspor-kapital finansial ke negara-negara terbelakang sebagai fitur utama yang menumbuhkan monopoli dan konglomerasi dari negera-negara maju, yang pada gilirannya mempengaruhi perkembangan historis di negeri terbelakang dengan perlakuan-perlakuan eksploitatif dan opresif sebagai koloni dan semi-koloni dari negeri maju. Perlakuan ini membawa pada penundukan dan penghancuran negeri terbelakang oleh negeri maju, sehingga menggabungkan secara organis negeri-negeri dengan tahapan perkembangan historis yang berbeda ke dalam sistem yang mendominasi: kapitalisme dunia (imperialisme). Pada “Critique of the Gotha Programme”, Karl Marx memerangi tendensi borjuis-kecil dalam partai buruh dengan memberikan klarifikasinya terhadap semua pemimpin proletariat yang melihat perkembangan sejarah secara mekanis, sempit dan kaku. Bahwa umat manusia secara totalitas telah disatukan dalam pembangunan kapitalisme, yang dibawa ke kesimpulan rasionalnya akan menciptakan kelas proletar internasional yang membunyikan lonceng kematian dan berjuang mengubur sistem yang menciptakannya. Inilah pernyataan Marx dalam kritiknya terhadap Program Gotha:
“’Masyarakat saat ini’ adalah masyarakat kapitalis, yang ada di semua negara beradab, kurang-lebih bebas dari campuran Abad Pertengahan, kurang-lebih dimodifikasi oleh perkembangan sejarah tertentu dari masing-masing negara, kurang-lebih maju. Di sisi lain, ‘masyarakat saat ini’ berubah sesuai dengan batas negaranya. Hal ini berbeda di Kekaisaran Prusso-Jerman dengan di Swiss, dan berbeda di Inggris dengan di Amerika Serikat. Oleh karena itu, ‘masyarakat saat ini’ hanyalah sebuah fiksi. [Dengan kata lain: perbedaan-perbedaan historis yang ada bersifat relatif.] Namun demikian, masyarakat-masyarakat yang berbeda di negara-negara beradab yang berbeda, meskipun bentuknya beraneka ragam, semuanya mempunyai satu kesamaan: bahwa mereka berbasiskan masyarakat borjuis modern, hanya satu yang kurang-lebih berkembang secara kapitalis. Dalam pengertian ini, kita dapat berbicara tentang ‘masyarakat saat ini’ yang kontras dengan masa depan [masyarakat komunis], yang akarnya saat ini, yaitu masyarakat borjuis, akan hancur…. Di antara masyarakat kapitalis dan komunis terdapat periode transformasi revolusioner dari kapitalisme ke komunisme [yakni: sosialisme—tingkatan paling rendah dari masyarakat komunis]. Sejalan dengan ini juga merupakan masa transisi politik di mana negara tidak lain hanyalah ‘kediktatoran revolusioner proletariat’. Sekarang program tersebut tidak membahas hal ini atau keadaan masyarakat komunis di masa depan. Tuntutan-tuntutan politiknya tidak mengandung apa-apa selain rangkaian demokrasi lama yang akrab bagi semua orang: hak pilih universal, legislasi langsung, hak-hak rakyat, milisi rakyat, dan lain-lain. Tuntutan-tuntutan tersebut hanyalah gema dari Partai Rakyat borjuis, Liga Perdamaian dan Kebebasan. Itu semua adalah tuntutan-tuntutan yang sepanjang tidak dilebih-lebihkan dalam penyajian yang fantastik, sudah terealisasi [dalam bentuk kediktatoran borjuis: demokrasi dan negara borjuis].”
Kontradiksi inheren yang bersifat antagonis dalam keseluruhan perkembangan kapitalisme akan membawa sistem ini pada kehancurannya. Lewat “Dialektika Alam”, Engels menerangkan apa itu antagonisme dalam totalitas keberadaan masyarakat borjuis—ini mengenai pemisahan kepemilikan alat-alat produksi; yang di satu sisi, terkonsentrasi di tangan kaum kapitalis dan dihak-miliki secara pribadi; dan di sisi lain, kaum produsen yang tidak mempunyai apa-apa selain kemampuan kerjanya yang dijual untuk bertahan hidup, dan oleh karenanya, terlibat dalam aktivitas produksi kerja-upahan secara kolektif. Dalam perkembangannya, Engels menegaskan: ‘kontradiksi antara produksi sosial dan kepemilikan pribadi menjadi nyata dalam bentuk antagonisme antara proletariat dan borjuasi’. Mengenai masyarakat kapitalis, Rob Sewell pada “Introduction to The ABC of Materialist Dialectics” menulis: ‘antagonisme kelas antara pihak yang mengeksploitasi dan tereksploitasi merupakan aspek yang fundamental. Satu tidak bisa ada tanpa yang lainnya. Kontradiksi inilah yang menjadi pendorong perubahan. Namun kontradiksi-kontradiksi ini tidak bersifat statis, karena sedang dalam proses penyelesaiannya. Penggulingan masyarakat kelas akan berujung pada penghapusan kelas itu sendiri. Kontradiksi-kontradiksi baru pasti akan terungkap, namun karakternya akan berbeda secara fundamental, pada tingkat baru yang lebih tinggi’. Hanya dalam sudut pandang materialisme historis seperti inilah pernyataan Lenin tentang perbedaan antagonisme dan kontradiksi dapat dipahami, karena ‘Catatan Lenin’ berbicara tentang penghancuran masyarakat lama (kapitalisme) di tengah perang imperialis, oleh ledakan revolusi sosialis, di bawah kepemimpinan revolusioner dan kediktatoran proletariat yang ditegakkan untuk membangun masyarakat baru (sosialisme). Dalam “Excerpts on Lenin, Dialectics, and Evolutionism”, Trotsky menerangkan: pemikiran Lenin beroperasi dengan kelas-kelas yang hidup sebagai faktor dasar masyarakat dan dengan demikian mengungkap “seluruh” kekuatannya pada periode ketika massa raksasa mulai muncul, yaitu pada periode pergolakan besar, peperangan, dan revolusi. Dialektika Leninis adalah dialektika berskala besar’. Dialektika Bolshevik-Leninis secara prinsipil menentang sudut pandang dialektika yang dioperasikan Maoisme (Stalinisme). Di “On Contradiction”, Mao Zedong merevisi Marxisme dengan mengebiri dialektika dalam ruang lingkup yang dibagi-bagi menjadi serpihan-sepihan kontradiksi yang khusus, tersekap dalam tahap-tahap perkembangan sejarah yang absolut, dan ditujukan untuk melayani kepentingan borjuis dengan mengukuhkan perspektif sosialisme di satu negeri, strategi revolusi dua-tahap dan kebijakan kediktatoran demokratis buruh dan tani (kolaborasi-kelas). Secara keseluruhan teori kontradiksi atau dialektika yang disuguhkan Mao lebih dekat dengan Mensevisme (Martov) ketimbang Bolshevisme (Lenin). Dialektika Leninis merupakan metode yang berani membela kepentingan proletar di hadapan rongrongan politik borjuis dan tendensi borjuis-kecil, dengan mempertahankan prinsip penghapusan kepemilikan pribadi dan internasionalisme; dialektika Martovis adalah metode yang bersetengah-hati untuk menempuh perjuangan revolusioner, menanggalkan independesi proletar, dan melayani kepentingan nasional borjuasi. Kita dapat mencermatinya dalam ‘Catatan Filsafat Trotsky’:
“Jika seluruh pemikiran masa kini ditembus oleh unsur-unsur dialektika, maka hal ini bahkan lebih lebih benar lagi dalam pemikiran politik kaum Manshevik, yang telah melalui aliran Marxisme dan peristiwa-peristiwa revolusioner. Tapi dialektika berbeda. [Julius] Martov dengan sangat halus, dalam banyak kasus, dengan keahlian yang tinggi menguasai dialektika. Namun ini merupakan dialektika yang mirip dengan pemikirannya mengenai fenomena di lingkungan kaum intelektual yang terkait dengan intelektual [borjuis-kecil] di lapisan atas gerakan buruh. Martov kadang-kadang dengan sangat cerdas menganalisis pengelompokan kembali di bidang politik parlementer, perubahan dalam kecenderungan pers, manuver lingkaran penguasa—sejauh ini terbatas pada politik yang sedang berlangusung, tahap persiapan untuk peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan, atau kondisi damai ketika hanya para pemimpin, deputi, jurnalis, dan menteri-menteri Eropa sebelum perang berlangsung di arena politik, ketika para antagonis utama tidak berubah. Dalam batas-batas ini Martov berenang seperti ikan di air. Dialektikanya adalah dialektika proses turunan dan skala terbatas, perubahan episodik [tahapan]. Melampaui batasan-batasan [artifisial] ini dia tidak berani…. Meskipun hukum dasar mekanika berlaku untuk semua aktivitas produktif manusia, pada kenyataannya terdapat mekanisme pembuat jam dan mekanisme Dnieprostroi (bendungan pembangkit listrik tenaga air). Pemikiran Martov adalah pemikiran seorang pembuat jam dalam politik. Pemikiran Lenin berhasil pada skala Dnieprostroi. Apakah ini berbedaan urutan kuantitatif? Kuantitas di sini berali ke kualitas. Namun perbandingan dengan pembuat jam memiliki arti yang sangat kondisional. Mekanisme jam tangan akan tetap hidup (selama tidak rusak), dan jarum jam dapat menunjukkan jam dengan tepat, meskipun pembuat jam tidak mengetahui hukum gerak bumi pada porosnya. Namun politik dalam skala-kecil (pengelompokan internal dalam partai, permainan parlemen, dan lain-lain) tetap mempertahankan independensinya sementara faktor-faktor (yang relatif) besar, yaitu kelas, tida berubah. Oleh karena itu, dialektika Martov menghasilkan kesalahan-kesalahan yang lebih tragis dalam persoalan-persoalan berskala-kecil, semakin dekat pendekatan konflik-konflik kelas yang bergejolak, dan semakin besarnya gangguan dalam kehiupan masyarakat. Dan karena seluruh zaman kita sejak tahun-tahun pertama abad ke-20 menjadi salah satu gangguan sejarah yang semakin besar, pemikiran Martov semakin menunjukkan kelemahannya, mengubah dialektika sekadar menjadi kedok ketidakpastian internal, dan jatuh di bawah pengaruh kaum empiris vulgar….”
Sudut pandang pembuat jam melihat hubungan antara subyek dan obyek secara ‘sederhana, statis, dan unilateral’. Ini adalah pandangan subyektif yang memandang dunia seperti jarum jam, yang gerakan dan perubahannya tidak bersumber dari kontradiksi di dalam dirinya melainkan dorongan ‘pencipta, Tuhan, Yang Maha Kuasa’ di luar dirinya, hingga relasi timbal-balik subyek-obyek dinyatakan dalam hubungan yang pasif dan sepihak. Maoisme (Stalinisme) memang tidak menunjukkan kecenderungan tersebut secara eksplisit. Teori-teori Maois, jika dibaca secara sekilas dan dangkal—yakni: tanpa pendekatan dialektis, yang berusaha menghubungkannya atau memperhatikan kesesuaiannya dengan dunia obyektif, praktik sosial-kolektif, atau sejarah perjuangan kelas yang hidup—maka seseorang akan mengakuinya sebagai gagasan-gagasan filosofis yang ‘tepat’, ‘maju’, bahkan ‘revolusioner’. Namun ketika diuji melalui praktik-praktik perjuangan kelas yang konkret, dengan pengujian yang sesuai hukum-hukum dialektika yang berlaku dalam kehidupan umat manusia secara materialis-dialektis, maka ide-ide subyektif dan eklektis itu akan tersingkap sebagai kefilistinan borjuis-kecil yang reaksioner, destruktif, dan melemahkan perjuangan kelas proletar dalam pembangunan historis. Perhatikanlah penjelasan Mao Zedong dalam teorinya tentang “Kontradiksi”. Mao memecah kontradiksi internal menjadi tiga bagian: (1) kontradiksi dasar: kontradiksi yang paling umum dan menentukan dalam perkembangan kapitalisme—pertentangan antara kepentingan proletar dan borjuis, namun tidak-berlaku di negeri yang memiliki tahapan-tahapan perkembangan historis yang khusus; (2) kontradiksi pokok: kontradiksi yang terkandung dalam kekhususan kontradiksi dan menentukan perkembangan historis di negeri terbelakang: koloni dan semi-koloni (atau dalam perspektif Maois-Aiditis [Stalinis]: setengah-jajahan dan setengah-feodal)—seperti pertentangan antara massa-rakyat luas dengan kapital-besar imperialis dan sisa-sisa feodalis di Indonesia dan Tiongkok; dan (3) kontradiksi antagonis: kontradiksi yang tak-terdamaikan dan hanya muncul pada tahapan tertentu dalam pertentangan kelas penghisap dan terhisap (yang menurut doktrin Maoisme [Stalinisme]: pada tahap pertama, revolusi borjuis-demokratis—kelas proletar [partai proletar: PKT atau PKI] dapat bersekutu dengan borjuasi nasional [partai borjuis: Koumintang atau PNI-Soekarnois] dalam melawan borjuasi internasional untuk mewujudkan demokrasi nasional atau pembebasan nasional); pada tahap kedua, revolusi proletar-sosialis—kelas proletar harus berkonfrontasi secara antagonis dengan seluruh partai borjuis dan kaum kapitalis (borjuasi nasional dan internasional) demi membangun sosialisme.
Setelah tragedi pembantaian dan penghancuran gerakan massa revolusioner—dalam kubangan kekalahan dan kemunduran Revolusi Indonesia dan Revolusi Tiongkok—di bawah kekeliruan dan kelemahan Kepemimpinan Stalinis; teori-teori Stalinis—yang oleh ledakan peristiwa dibuktikan bersifat reaksioner—masih dipertahankan untuk memandu perjuangan kelas di berbagai negeri, terutama negeri-negeri Dunia Ketiga. Sudisman—yang pernah menjadi salah satu pimpinan utama PKI—misalnya, dalam pengamatannya tentang kekurangan-kekurangan teoretik Kepemimpinan PKI membuat catatan yang diberi judul: “Tegakkan PKI yang Marxis-Leninis untuk Memimpin Revolusi Demokrasi Rakyat Indonesia: Otokritik Politbiro CC-PKI”. Dokumen ini ditulis dengan berkiblatkan perspektif Maois tentang Demokrasi Baru; yang dirumuskan Mao Zedong dengan memvulgarisasi pandangan Lenin mengenai kebijakan Bolshevik ‘lama’: ‘Kediktatoran Revolusioner Buruh dan Tani’. Di “On New Democracy”, Mao—memandang kelas kapitalis yang berkepemilikan relatif kecil dan tidak menjadi bagian dari oligarki keuangan besar sebagai borjuasi nasional yang ‘progresif’ dan kaum tani serta intelektual borjuis-kecil sebagai kekuatan revolusioner yang ‘paling utama’ dalam masyarakat terbelakang (‘setengah-jajahan dan ‘setengah-feodal’); menggantikan taktik-revolusioner pemogokan umum dengan perang gerilya atau pemberontakan agraria; mensubordinasi perjuangan kelas internasional di bawah perjuangan demokrasi atau pembebasan nasional; memaksakan diberlakukannya tahap-borjuis (artifisial) sebagai syarat perkembangan tenaga produktif di negerinya; menyerukan pembentukan Pemerintahan Koalisi Buruh dan Tani (Kediktatoran Borjuis Demokratis); dan sebagainya—secara prinsipil, keseluruhan perspektifnya berlawanan dengan Marxisme, dan oleh karenanya, mengkhianati perjuangan revolusioner kaum buruh. Dalam “China: From Permanent Revolution to Counter-Revolution”, John Peter Roberts mengingatnya: ‘pada tanggal 1 Oktober 1949, Mao secara resmi memproklamirkan Republik Demokratik Rakyat Tiongkok. Pemerintahan baru ini merupakan koalisi Front Rakyat di mana kaum Stalinis bergandengan-tangan dengan kaum borjuasi nasional dan borjuis-kecil. Salah satu akibat yang harus dibayar Mao untuk menjamin kerjasama elemen-elemen ini adalah dengan meninggalkan elemen-elemen reformasi pertanahan yang lebih radikal di Tiongkok selatan’ dan ‘meskipun benar-benar berkomitmen [naïf] pada perekonomian di mana kaum borjuasi nasional mempunyai kebebasan dan tidak ada monopoli perdagangan luar negeri, bahkan lebih bertekad untuk menjadi tokoh terkemuka dalam Demokrasi Baru. Mao menyeimbangkan antara kaum borjuis dan kaum buruh dan tani selama periode Demokrasi Baru sambil memusatkan kekuasaan di tangannya, dan untuk mencapai hal ini ia menghancurkan semua tanda-tanda gerakan buruh yang independen’. Kenyataan inilah yang diabaikan Sudisman ketika mendasarkan otokritiknya terhadap kepemimpinan PKI dengan tetap berikiblat pada teori yang-sama-dengan yang pada momen kebenaran telah melumpuhkan partainya dan melemparkan organisasi-organisasi massa yang dipimpinnya ke mulut reaksi. Dalam “Akar Ideologi Kekalahan PKI”, Ted Sprague menerangkannya begini:
“Dokumen [Sudisman] ini secara tepat mengakui salah satu kesalahan utama kepemimpinan PKI, yang termasuk dia sendiri, yakni ‘menyerahkan nasib partai dan gerakan revolusioner pada kebijaksanaan Presiden Soekarno’. Ini benar, tetapi Sudisman masih memandang 100% benar kebijakan membentuk front persatuan dengan borjuasi nasional. Sudisma mengulang berkali-kali bahwa partai masih harus ‘senantiasa berusaha menarik borjuasi nasional ke pihak revolusi’. Dia membayangkan bahwa mungkin bagi proletariat untuk membentuk front persatuan dengan borjuasi nasional tanpa melemahkan kemandirian kelasnya. Apa yang dia tidak pahami adalah adalah supaya bisa ‘menarik borjuasi nasional sebagai sekutu tambahan dalam Revolusi Demokrasi Rakyat’ kaum proletariat dan partainya harus menundukkan perjuangan kelas di bawah kepentingan kelas borjuasi. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan. Satu-satunya solusi bagi problem-problem masyarakat Indonesia adalah perjuangan menuju kediktatoran proletariat di bawah panji kemandirian kelas, yang menarik di belakangnya kaum tani miskin. Kaum buruh harus diajarkan untuk tidak pernah mempercayai kaum borjuasi dan menjaga panji mereka terpisah dari musuh-musuh kelas mereka. Inilah pelajaran yang seharusnya ditarik oleh PKI, tetapi sayangnya Sudisman, sebagai satu-satunya anggota senior Politbiro yang selamat pada saat itu, bahkan tidak bisa melihat ini…. Dokumen ‘otokritik’ ini kemudian memetakan jalan baru untuk partai, dan jalan baru ini adalah bencana seperti jalan lama, dan tidak memiliki koneksi dengan realitas sama sekali. Sudisma menyerukan kepada anggot-anggota partai untuk memulai mengorganisir perjuangan tani bersenjata, sesuai dengan garis tentara tani Maois, dan memusatkan perhatian mereka untuk ‘mengubah desa-desa Indonesia yang terbelakang menjadi benteng-benteng revolusi yang besar dan terkonsolidasi baik secara militer, politik dan kebudayaan,’ atau zona-zona soviet. Dengan cara zig-zag seperti biasa, yang merupakan karakteristik semua Stalinis, setelah jari mereka terbakar oleh kebijakan oportunis ‘jalan damai menuju sosialisme’ kepemimpinan kini berayun ke arah sebaliknya dan mengadopsi kegilaan ultra-kiri ‘perjuangan tani bersenjata’. Ini tidak pernah menjadi kenyataan sama sekali. Organisasi-organisasi partai di daerah pedesaan telah hancur dan penduduk desa telah dimobilisasi oleh reaksi untuk memusuhi PKI. Justru di daerah pedesaan kita temui pembantaian dengan kekejaman luar biasa…. Generasi Marxis muda di Indonesia hari ini harus dididik dengan pelajaran dari kekalahan 1965, yakni pengkhianatan kebijakan kolaborasi-kelas yang terkandung dalam front persatuan dengan borjuasi, atau yang disebut ‘borjuasi progresif’, yang merenggut independensi-kelas dari kaum proletariat dan sepenuhnya melucutinya, membuat tidak siap memimpin kemenangan revolusi dan membuka jalan ke reaksi. Kebijakan kolaborasi-kelas ini datang dalam banyak bentuk dan sebutan: ‘front persatuan revolusioner dari semua kelas dan kelompok anti-imperialis dan anti-feodal’, ‘negara demokrasi rakyat’, ‘revolusi demokratik borjuis tipe-baru’, tetapi semua ini memiliki tujuan sama untuk melemahkan perjuangan kelas dan menundukkan kepentingan proletariat di bawah kepentingan borjuasi. Ini adalah pelajaran mahal yang dibayar oleh kelas buruh Indonesia, dan kita harus menghormati pengorbanan mereka—walaupun ini adalah pengorbanan yang sungguh tidak diperlukan, yang disebabkan oleh kepemimpinan yang berkhianat—dengan membaktikan waktu dan sumber daya yang serius untuk belajar dari pengalaman ini.”
Di seluruh dunia, pembelajaran berkait pengalaman perjuangan kelas terdahulu telah dimulai dan terus-menerus berlangsung begitu rupa. Kaum buruh dan muda hari-hari ini tidak saja belajar dari aktivitas-aktivitas praktis-ekonominya tetapi juga pendidikan-pendidikan politik yang diselenggarakan oleh kepemimpinan organisasi dan gerakan yang ada. Di forum-forum pembelajarannya, pengalaman-pengalaman dari masa lalu ditransmisikan kepada generasi-generasi baru dalam bentuk teori. Sosialisme Ilmiah atau Marxisme adalah bahan-ajar utamanya. Namun tanpa kepemimpinan revolusioner—yang melandasi dirinya pada teori yang paling maju, mendidik dan mempersiapkan calon-calon pemimpin proletariat di masa depan secara sabar, tekun dan teliti, dan memiliki pemahaman yang memadai untuk membela kebenaran teorinya dari pemalsuan dan kebohongan kelas penguasa berserta sekutunya—maka orang-orang harus bekerja-keras dalam menaklukan teori-teori Marxis. Marxisme adalah satu-satunya teori yang benar sebagai panduan untuk bertindak; mempersiapkan orang-orang dalam merubah dunia, menuju kehidupan baru yang tingkatannya lebih tinggi—hidup yang lebih produktif dan manusiawi, di mana kekayaan material dapat dinikmati secara totalitas oleh umat manusia untuk mengembangkan kemanusiaan dengan sepenuh-penuhnya. Tetapi panduan tersebut lagi-lagi menuntut usaha dan tekad yang keras untuk dapat mempertahankannya sebagai pemandu tindakan secara benar. Bahkan di tengah pengkhianatan reformisme dan Stalinisme dalam gerakan buruh, seseorang mesti melakukan studi dengan sangat serius dan berhati-hati supaya tidak memeluk teori-teori yang menjadi karikatur Marxisme. Di Indonesia, tendensi Stalinis dapat ditemui dalam keberadaan seabrek organisasi politik dan gerakan kiri yang ada. Front Mahasiswa Nasional (FMN, Aiditis), Sekolah Bersama (Sekber, Maois), Pusat Perjuangan Mahasiswa Nasional untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN, Neo-Stalinis), merupakan beberapa organisasi kaum muda yang menjadi pemeluknya. Teori yang berlumuran darah ini diadopsi dengan beragam pemutakhiran, yang tidak menyingkirkan apa-yang-merupakan kesalahan mendasarnya: pemahaman dialektika yang berat-sebelah, yang menjadi metode eksposisi dalam mengukuhkan perspektif sosialisme di satu negara, strategi revolusi dua-tahap, dan kebijakan kediktatoran demokratis buruh dan tani. Dalam pendidikan-pendidikan politik mereka, sudut pandang Marxis-Leninis (Stalinis, Maois, Aiditis, dan sebagainya) digunakan untuk mendidik anggota dan partisipannya. Pandangan tersebut diangkat dalam sebuah materi—yang pernah digunakan oleh salah satu organisasi itu—yang berjudul “Materialisme Dialektika dan Historis (MDH)”. Di dokumen ini terdapat pembahasan mengenai ‘Macam-Macam Kontradiksi’ yang menjelaskan kontradiksi internal seturut Teori Kontradiksi Maois. Tertulis di “On Contradiction”: ‘ada banyak kontradiksi dalam proses perkembangan suatu hal yang kompleks, dan satu di antara mereka pastilah merupakan kontradiksi pokok, yang keberadaan serta perkembangannya menentukan atau mempengaruhi keberadaan serta perkembangan kontradiksi-kontradiksi lain’. Sementara pada Materi Pendidikan Politik itu disampaikan:
“[1] Kontradiksi pokok adalah kontradiksi yang menjadi poros, yang memimpin dan menentukan adanya kontradiksi-kontradiksi yang lain yang tidak-pokok. Kontradiksi pokok itu di dalam pengurusan dan penyelesaiannya harus diutamakan…. [2] Kontradiksi dasar adalah kontradiksi yang kepentingannya sama sekali bertentangan antara satu sama lain dan tidak bisa dikompromikan. Kontradiksi dasar juga kontradiksi yang menentukan adanya [isi] sesuatu dan menentukan bentuk dari sesuatu itu. [3] Kontradiksi antagonis mempunyai dua pengertian yaitu antagonisme dalam artian wataknya dan antagonisme dalam artian bentuknya. Kontradiksi antagonis dalam artian wataknya atau kontradiksi berwatak antagonis adalah dalam kontradiksi yang kepentingannya sama sekali bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya dan tidak bisa dikompromikan dan mengandung saling-menghancurkan dengan unsur-unsur kekerasan dalam penyelesaiannya. Kontradiksi [antagonis] dalam artian bentuknya atau kontradiksi yang berbentuk antagonis adalah kontradiksi yang penyelesaiannya mengambil bentuk kekerasan, walau watak kontradiksinya sendiri tidak-antagonis. Ketiga macam kontradiksi itu mempunyai saling-hubungan, walau tidak tentu satu kontradiksi mengandung ketiga macam kontradiksi itu sekaligus. Artinya, kontradiksi pokok tidak tentu kontradiksi dasar dan juga tidak tentu kontradiksi berwatak antagonis. Tapi kontradiksi dasar salah satu tentu menduduki dan menjadi kontradiksi pokok. Kontradiksi dasar itu sendiri tidak tentu kontradiksi antagonis, baik dalam artian watak maupun antagonisme dalam artian bentuknya. Sedang kontradiksi yang antagonis dalam artian wataknya yang antagonis, tentu mengandung kontradiksi dasar. Dan kontradiksi yang berwatak antagonis itu tentu menduduki serta menjadi kontradiksi pokok.”
Sudut pandang kontradiksi macam ini begitu membingungkan dan abstrak. Pembagian kontradiksi inheren menjadi beragam kontradiksi, yang sewalaupun saling-terhubung, pada praktiknya melemahkan kekuatan kelas revolusioner dan mengaburkan arah pembangunan keseluruhan. Pertentangan antara proletariat dan borjuasi diakui sebagai kontradiksi yang mendasar tapi disampaikan ‘belum tentu’ mengandung antagonisme, sehingga dalam perkembangan historis bukan kontradiksi inilah yang dinyatakan sebagai penentunya melainkan kontradiksi pokok. Namun kontradiski dasar juga dikatakan dapat berubah menjadi kontradiksi pokok, tetapi kontradiksi pokok pula diterangkan ‘belum tentu’ adalah kontradiksi dasar dan mengandung antagonisme. Sementara kontradiksi yang berwatak antagonis dinyatakan dapat ‘mengandung’ kontradiksi dasar, dan oleh karena itu, ‘menjadi’ kontradiksi pokok yang mesti diatasi terlebih dahulu. Materialisme dialektis memang menjelaskan bahwa individu adalah universal dan universal adalah individu; di mana segala sesuatunya sama dengan dirinya sendiri sekaligus tidak-sama dengan dirinya; di mana sebab juga pada saat bersamaan merupakan akibat. Namun sudut pandang ini tidak dapat dilebih-lebihkan untuk menggunting-gunting kontradiksi inheren menjadi hal-hal terpisah dan menyambungkannya kembali, dengan menyelipkan ke dalam jahitannya apa-yang-dipopulerkan Mao Zedong sebagai ‘kontradiksi pokok’; yakni, (semacam) kontradiksi internal atau gerak-diri, yang merupakan kontradiksi yang mendasari dan menentukan proses pembangunan historis. Prinsip materialisme dialektis mengenai hubungan timbal-balik antara subyek dan obyek, individu dan universal, sebab dan akibat hanya dapat dipahami dalam proses perkembangan dari tingkat yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi, dengan berubahnya kuantitas ke kualitas dan begitupun sebaliknya, dengan negasi dari negasi; ini menyangkut penggulingan masyarakat lama—oleh kekuatan yang terlahir di rahim masyarakat lama—untuk membangun masyarakat baru; yakni, berkait dengan penggulingan kapitalisme—oleh revolusi sosialis yang didorong oleh perjuangan kelas revolusioner, pembangunan kepemimpinan revolusioner dan ditegakkannya kediktatoran proletariat—untuk membangun masyarakat tanpa kelas dari tingkatan terendahnya (sosialisme, negara buruh; negara yang melenyap) menuju tingkatan tertingginya (komunisme, masyarakat tanpa negara; terhapusnya kelas-kelas sosial dalam masyarakat). Dalam “Negara dan Revolusi”, Lenin menegaskan: ‘keseluruhan teori Marx adalah penerapan teori pembangunan—dalam bentuknya yang paling konsisten, lengkap, penuh pertimbangan dan jelas—pada kapitalisme modern’. Sedangkan keseluruhan teori Mao adalah penerapan teori pembangunan—dalam bentuknya yang sangat inkonsistensi, non-komprehensif, kurang-matang dan avonturis—pada kapitalisme modern; karena hanya mengakui relasi timbal-balik dalam pembangunan bagian semata, bukan dalam hubungannya dengan keseluruhannya; di mana perkembangan sejarah atau tenaga produktif di satu negeri didekati secara terpisah dengan perkembangan tenaga-tenaga produktif di negeri-negeri lainnya; oleh karenanya, penjelasannya mengenai kesatuan dari hal-hal yang berlawanan dan saling-merasuki menjadi sepihak dan abstrak. Yaitu, memperlakukan kontradiksi internal dalam pembangunan sejarah umat manusia sebagai hal-ihwal yang di setiap negeri tak-terhubungkan secara dialektis antara satu sama lainnya dan dapat berubah sebelum masyarakat lama digulingkan oleh kekuatan baru (kelas revolusioner proletar) yang tumbuh dalam rahimnya. Pada analisa terkahir, perspektif macam ini sesungguhnya menyangkal kontradiksi internal yang mendorong gerak dan perubahan sejarah—menolak pertentangan mendasar dan antagonisme antara tenaga produktif dan hubungan produksi yang telah usang; yang dalam masyarakat kapitalis itu adalah kerja sosial proletariat dan kepemilikan pribadi borjuasi. Penyangkalan tersebut misalnya, dapat ditemukan dalam “Materialisme Dialektika Historis” di Kurikulum Pendidikan Politik Dasar dari Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN)—materi ini merupakan warisan teoretik dari Partai Rakyat Demokratik (PRD):
“Seperti yang telah dikemukakan di atas, kontradiksi itu mengandung banyak segi, yang khusus dan umum, bertingkat-tingkat di mana dalam setiap tingkatan kontradiksinya juga mengalami peningkatan. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk mengetahui kunci di dalam memecahkan dan menyelesaikan kontradiksi ini. Kontradiksi yang menjadi kunci penyelesaian pada tingkat perkembangan itu disebut ‘kontradiksi pokok’, sedangkan kontradiksi-kontradiksi lainnya adalah ‘kontradiksi bukan pokok’. Jika kontradiksi pokok itu sudah diselesaikan maka penyelesaian terhadap kontradiksi bukan pokok atau kontradiksi-kontradiksi lainnya akan menjadi mudah diselesaikan. Konsekuensinya, kontradiksi pokok harus menjadi prioritas untuk ditangani, sedangkan kontradiksi bukan pokok penyelesaiannya bisa dinomorduakan atau ditunda. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia saat ini di dalamnya terdapat kontradiksi-kontradiksi seperti antara rakyat Indonesia dengan imperialisme dan feodalisme, antara kaum buruh dengan borjuasi nasional dan transisional, antara kaum buruh dan kaum tani, antara rakyat sipil dengan Dwifungsi ABRI/TNI, das sebagainya. Pertanyaan yang harus kita jawab lebih dahulu, kontradiksi mana yang menjadi kunci dalam menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang terkandung dalam masyarakat Indonesia itu? Jika kita simpulkan bahwa kontradiksi pokoknya adalah rakyat sipil dan Dwifungsi ABRI/TNI maka kontradiksi ini harus dipecahkan terlebih dahulu sehingga kontradiksi yang lain akan lebih mudah diselesaikan.”
Perspektif macam ini secara tak-terelakkan memperlakukan antagonisme dari kontradiksi yang mendasar antara proletariat dan borjuasi sebagai sesuatu yang absurd; karena dalam proses perkembangannya dapat berubah-ubah secara fleksibel berdasarkan penekanan pada kekhususan kontradiksi di satu negeri yang di dalamnya terdapat apa-yang-disebut sebagai ‘kontradiksi pokok’. Dalam perjuangan revolusioner massa tahun 1998, Partai Rakyat Demokratik menetapkan kalau kontradiksi pokok yang berlaku dalam perkembangan historis Indonesia adalah pertentangan antara massa-rakyat dan militerisme. Inilah yang menurutnya menjadi ‘kontradiksi internal’ atau ‘kontradiksi antagonis’ dalam perkembangan tenaga produktif di negerinya. Kepemimpinan PRD (Stalinis) memandang bahwa tenaga-tenaga produktif yang ada hanya bisa dimajukan dengan mengakhiri kontradiksi itu lebih dahulu. Mereka sama sekali mengabaikan kalau brutalitas polisi dan operasi-operasi militer yang menjamur di Rezim Orde Baru merupakan konsekuensi dari perkembangan kapitalisme di tahapan tertingginya: imperialisme. Dalam “The War and the International”, Trotsky telah lama menjelaskan itu: ‘melalui negara nasional, kapitalisme telah merevolusi seluruh sistem perekonomian dunia. Ia telah membagi seluruh bumi di antara oligarki negara-negera besar, yang di sekelilingnya mengelompokkan negera-negara induk, negara-negara kecil, yang hidup antara persaingan negara-negara besar. Perkembangan ekonomi dunia di masa depan berdasarkan basis kapitalistik berarti perjuangan tanpa henti untuk mendapatkan ladang-ladang eksploitasi kapitalis yang baru dan terus-menerus, yang harus diperoleh dari satu sumber yang sama, yaitu bumi. Persaingan ekonomi di bawah bendera militerisme disertai dengan perampokan dan pengrusakan yang melanggar prinsip dasar perekonomian manusia’. Walaupun pemimpin-pemimpin partai menyerukan perlawanan terhadap imperialis dengan menolak hutang luar negeri tetapi perjuangan ini tidaklah diberi karakter anti-kapitalisme yang menekankan pada prinsip Marxisme yang sejati: penghapusan kepemilikan pribadi dan internasionalisme kelas pekerja. Metode eksposisi materialisme dialektis yang berat-sebelah pada akhirnya menyeret PRD dan organisasi-organisasi massa yang dipimpinnya ke jalan buntu. Tanpa memperhatikan hubungan-hubungan timbal-balik antara perekonomian nasional dan perdagangan dunia, antara kapital-kecil dalam negeri dan kapital-besar luar negeri, antara perjuangan demokratik nasional dan perjuangan kelas internasional—singkatnya: antara tahap-tahap perkembangan historis yang berbeda di setiap negeri, namun tersatukan secara organis dalam pembangunan kapitalisme dunia secara keseluruhannya—maka pada momen kebenaran, Kepemimpinan PRD mengalami kebuntuan politik yang didasarkan atas kelemahan teoritik, sehingga menyeberang ke sisi reaksi dengan menunjukkan kecenderungan berkolaborasi-kelas bersama borjuasi nasional dalam upaya pendirian pemerintahan borjuis-demokratik yang berslogankan ‘Dewan Rakyat Independen’. Dalam “Melawan Imperialisme” Alan Woods dan Ted Grant menjelaskan:
“Ide tentang Dewan Konstituante yang demokratis ini telah dimunculkan oleh PRD dalam bentuk yang agak membingungkan dengan nama ‘Dewan Rakyat Independen’. Persoalan utama dalam hal ini adalah, cara membingungkan di mana mereka mereka mengemukakan slogan ini telah menyebabkan [kepemimpinan] mereka membuat blunder dalam momen-momen kunci. Para pemimpin oposisi borjuis membentuk organisasi koalisi yang namanya persis dengan ‘Dewan Rakyat’ yang dimaksudkan oleh PRD, hingga menyebabkan para aktivis PRD tak memiliki alternatif yang jelas terhadap posisi ‘oposisi’ yang diusung oleh para tokoh borjuis yang oportunis itu. Kurangnya kejelasan teori di kalangan para pemimpin PRD membuat mereka mengeluarkan surat berikut ini kepada para pemimpin oposisi borjuis selama berlangungnya demonstrasi-demonstrasi massa yang menyebabkan mundurnya Soeharto: ‘kepada Megawati Soekarnoputri pemimpin Partai Demokrasi Indonesia yang diturunkan secara paksa, Amien Rais ketua Muhammadiyah, Budiman Sudjatmiko ketua PRD yang dipenjarakan, Sri Bintang Pamungkas ketua PUDI yang dipenjarakan, dan lain-lainnya, sekaranglah waktunya bagi kalian menggantikan Soeharto. Hal ini harus dilakukan secepatnya karena Soeharto sudah tidak diinginkan lagi oleh rakyat untuk berkuasa lebih lama lagi dan iapun telah siap diturunkan. Pada praktiknya, apa arti dari semua ini? Para pemimpin PRD memohon kepada tokoh-tokoh oposisi borjuis untuk mengambil-alih kekuasaan. Akan tetapi, kejadian-demi-kejadian menunjukkan bahwa baik Amien Rais maupun Megawati tidak segera mengambil-alih kekuasaan, malah lebih suka menyerahkan ke tangan Habibie [yang merupakan perwakilan rezim lama]…. Situasi ini serupa dan paralel dengan Revolusi Februari di Rusia. Massa turun ke jalan dan mengalahkan rezim Tsaris yang dibenci dan kaum borjuis demokratik melompat ke dalam kereta dan membentuk Pemerintahan Sementara. Dalam setiap revolusi ini adalah perkembangan yang wajar. Kaum borjuis berusaha merampok buah kemenangan dari perjuangan massa, mengambil dengan licik dan penuh tipu-daya apa-yang-oleh rezim lama tak bisa dipertahankan dengan cara kekerasan [badan orang-orang bersenjata]….”
Apa-yang-disebut Maoisme (Stalinisme) dengan ‘kontradiksi pokok’ berusaha diatasi PRD untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi lainnya, namun peristiwa membuktikan bahwa tindakan yang dipandu oleh teori yang keliru pasti akan mengarah pada jalan buntu. Pada 1998, kaum buruh dan muda Indonesia telah menyaksikan bagaimana perjuangan massa revolusioner yang luar biasa dahsyat telah berhasil menggulingkan rezim bonapartis Soeharto, namun di titik kritis ini—di mana momen untuk tindakan yang menentukan telah tiba; pada saat lapisan-lapisan paling lembam dan apolitis teradikalisasi oleh peristiwa, dengan kesadaran yang mengejar ketertinggalannya dan aktivitas pengorganisasian diri yang meningkat, dan kemarahan dan daya-tempur raksasa di akar rumput yang semakin membara dan siap untuk melancarkan serangan penghabisan terhadap kaum borjuasi—tidak ada kepemimpinan revolusioner yang hadir untuk memajukan perjuangan massa, yang mengusungkan kebijakan kediktatoran proletariat; Kepemimpinan PRD (Stalinis) hanyalah bertindak sebagai rem bagi gelombang revolusioner dari bawah, yang kebingungan menghadapi belokan tajam sejarah, ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan tidak sanggup melayani kebutuhan historis yang sedang bangkit dengan menerapkan taktik yang memadai, dan kelemahan ini pada gilirannya merubah perimbangan kekuatan kelas dengan membalikkan pendulum politik untuk bergerak ke kanan, merehabilitasi sisa-sisa rezim lama dan mengaborsi revolusi menjadi reformasi, hingga mencabik-cabik partainya dengan krisis dan keretakan yang begitu rupa. Melalui kejadian-demi-kejadian inilah teori tentang kontradiksi pokok sepenuhnya dibuktikan keliru. Kontradiksi pokok takkan pernah bisa menggantikan signifikansi penyelesaian kontradiksi internal dalam perkembangan dunia kapitalisme: pertentangan antara kerja sosial dan kepemilikan pribadi, antara proletariat dan borjuasi. Namun di kalangan Marxis akademik hari ini, pemikiran tersebut dibenarkan secara lancung. Dalam “Materialisme Dialektika; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer”, Teori Kontradiksi Maois dibela oleh Martin Suryajaya dengan menyangkal prinsip hubungan timbal-balik yang berlaku dalam pembangunan keseluruhan. Pada “Materialisme Dialektis sebagai Metode”, Martin dengan lantang menyampaikan pandangan berat-sebelah yang berkedok materialisme dialektis. Inilah argumen ‘kritis’ seorang intelektual borjuis-kecil—yang dompetnya selalu tebal; kebutuhan sehari-harinya terpenuhi dengan baik; jauh dari kelaparan yang melilit perut dan kehausan yang mencekik leher; tidak pernah tersengat hawa panas-dingin ekstrem dan mandi keringat, lumpur, asap, dan minyak; terjaga dari kerawanan kecelakaan dan penyakit—yang dari bilik-keterpenuhan kerja-pikirnya, berbasiskan waktu-luang yang berlimpah, mengamati miliaran orang yang melakukan kerja-fisik yang berat, dan dengan ‘angkuh’ mengklaim karya intelektualnya sebagai pengembangan dari pemikiran Marx dan Engels, lalu menyodorkan istilah-istilah ‘mewah’ yang mengacaukan pemahaman akan ide-ide filosofis dan ilmiah Marxisme; mengaburkan kepentingan dan arah perjuangan kelas proletar yang revolusioner. Martin menulis:
“Esensi dari idealisme tidak pertama-tama terletak pada doktrin bahwa segala sesuatunya adalah ide, melainkan pada cara pandang bahwa identitas dan keberadaan suatu hal telah selalu mengandaikan hal-hal yang lain. Inilah yang disebut dalam tradisi filsafat sebagai ‘doktrin relasi internal’ yakni pengertian bahwa relasi bersifat konstitutif terhadap keberadaan atau identitas segala sesuatu. Karena relasi bersifat konstitutif, maka hakikat segala sesuatu adalah relatif terhadap hal yang lain. Contohnya: identitas kursi menyaratkan relasinya dengan yang-bukan kursi yang tanpanya kursi jadi tak terbedakan dari yang-bukan kursi sehingga di dalam kursi selalu terdapat non-kursi. Sekilas ini nampak sebagai suatu ajaran yang netral secara epistemologis. Namun, kesan ini keliru…. Perlu diingat bahwa saya tidak sepenuhnya menolak doktrin relasi internal … Apa yang saya lakukan dalam buku itu hanyalah menetapkan demarkasi bagi keberlakuan doktrin tersebut. Yang saya tolak adalah doktrin yang meyakini keberlakuan ‘universal’ relasi internal. Dengan kata lain, yang saya tolak adalah proposisi bahwa segala sesuatu dikonstitusikan oleh relasinya dengan yang lain. Versi doktrin inilah yang mengemuka dalam Hegel dan para filsuf pascastrukturalis. Pandangan ini saya tolak karena ‘mengaburkan distingsi antara epistemologi dan ontologi’. Kekaburan ini dapat kita saksikan dengan jelas kalau kita mengambil contoh konkret. Apabila segala sesuatu dikonstitusikan oleh relasinya dengan yang lain, maka konsekuensinya: tak ada manusia tanpa kenyataan, sebagaimana tak ada kenyataan tanpa manusia. Dalam anak kalimat kedua inilah terdapat bahaya idealisme dalam doktrin relasi internal yang universal. Kalau adanya kenyataan menyaratkan adanya manusia, maka ada/tidaknya kenyataan tergantung dari ada/tidaknya manusia. Relativisme ini jelas mesti ditolak. Persoalannya doktrin relasi internal macam inilah juga yang mengeram dalam dialektika Hegel. Sehingga setiap komentator Marxis yang tidak memilah secara ketat dialektika Marxian dari dialektika Hegelian niscaya terjatuh ke dalam relativisme yang sama. Akibatnya, dialektika Marxian dengan mudah direduksi menjadi sejenis sofisme, segala sesuatunya tergantung pada manusia. Ujung-ujungnya, kita tahu, adalah ‘voluntarisme’, atau pandangan yang meyakini bahwa segalanya adalah ekspresi dari kehendak subyektif (voluntas). Tak ada posisi yang lebih berlawanan terhadap materialisme historis ketimbang voluntarisme sebab voluntarisme meniscayakan negasi atas materialisme itu sendiri…. Menolak universalitas relasi internal berarti mengakui demarkasi antara obyektivitas dan subyektivitas, antara Natur dan Kultur—dengan kata lain, mengakui adanya relasi eksternal antara kesadaran dan dunia (kendati mengakui juga relasi internal yang historis antara kesadaran dan aspek dunia tertentu). Itu artinya kita mesti membuktikan realitas eksternal. Adanya kesadaran dengan sendirinya mengandaikan adanya dunia, tetapi adanya dunia tidak tergantung dari ada/tidaknya kesadaran. Demarkasi inilah yang coba saya buktikan menjelang akhir buku melalui meditasi ‘kontra-kartesian’: karena kita tidak dapat membayangkan keberadaan kesadaran tanpa keberadaan tubuh material yang menjadi ‘locus ontologicus’ kesadaran tersebut, maka keberadaan realitas material tidak menyaratkan keberadaan kesadaran. Realitas material itulah yang menjadi prakondisi atau panggung tempat drama kesadaran dimungkinkan atau sekaligus dibatasi. Sehingga berpikir dengan metode materialisme dialektis berarti berangkat dari pengakuan atas realitas material yang eksternal terhadap kesadaran’.”
Seperti yang telah dijelaskan dalam “Gerakan Mahasiswa dan Buruh (Bagian 4)”; pemikiran Martin Suryajaya begitu asing bagi Marxisme. Martin sama sekali tidak mengembangkan pemikiran Marx dan Engels, tetapi merevisinya menggunakan salinan-buruk atas kekeliruan metode eksposisi Maoisme (Stalinisme). Pertama-tama, ajaran paling menyeluruh tentang ‘relasi internal’ pertama kali ditemui dalam dialektika Hegel. Ini merupakan ‘inti-rasional’ dari pemikiran Hegelian yang diakui oleh Marx dan Engels sebagai ‘esensial’—metode dialektis. Inilah kebenaran yang diangkat oleh Marxisme dalam mempersenjatai materialisme filosofis; di mana dialektika yang telah dibebaskan dari cangkang idealisme filosofis menjadi ‘pisau analisa paling tajam’ untuk membedah realitas, memahami hukum-hukum material yang obyektif, dan melancarkan transformasi sosio-historis secara mendasar. Marx dan Engels tidak seperti Mao dan Martin; yang menyangkal hal-hal esensial dari ide-ide terdahulu, dan oleh karena itu, kegirangan dalam menciptakan ide-ide terbaru tanpa berangkat dari kebenaran-kebenaran historis yang lama. Pada bagian tulisan sebelumnya—kami telah menekankan, bahwa dalam perkembangan pengetahuan, kaum Marxis berpendirian: ‘setiap gagasan yang benar pada suatu saat dalam sejarah menjadi tidak memadai seiring berjalannya waktu dan harus diganti oleh sesuatu yang lebih benar. Atau, seperti yang dijelaskan Hegel, segala yang muncul sebagai sesuatu yang rasional akan ditakdirkan oleh kontradiksi-kontradiksi batinnya menjadi irasional dan lenyap pada tahap berikutnya. Namun filosofi lama tidak hilang begitu saja. Esensinya dipertahankan dalam aliran pemikiran baru yang muncul sebagai gantinya’. Inilah yang diwarisi Marxisme dari Hegelianisme: pandangan tentang dunia yang sebagai suatu kesatuan yang saling-terhubung dan terus-menerus berubah dari bentuk-keberadaan yang lebih rendah menuju bentuk-keberadaan yang lebih tinggi karena dorongan-dorongan kontradiksi internalnya. Dalam “Science of Logic”, Hegel berkata: ‘apa yang benar bukanlah ada atau tidak-ada, tetapi keberadaan itu—tidak berlalu melainkan telah berlalu—menjadi tidak-ada, dan tidak-ada menjadi ada. Tetapi juga benar bahwa mereka tidak dapat dibedakan satu sama lain, bahwa, sebaliknya, mereka tidak sama, bahwa mereka benar-benar berbeda, namun mereka tidak dapat dipisahkan dan tak-terpisahkan dan bahwa masing-masingnya segera lenyap dalam kebalikannya. Oleh karena itu, kebenarannya adalah gerakan lenyapnya yang satu ke dalam yang lain: menjadi’.
Namun Martin Suryajaya memperlakukan apa yang esensial dalam doktrin Hegelian sebagai non-esensial. Dia menjelaskan bahwa dengan menguniversalkan berlakunya relasi internal maka segala sesuatunya menjadi relatif. Ia memberitahukan: relativitas inilah yang ‘keliru’, dan oleh karenya, universalitas relasi internal harus ‘ditolak’. Martin menyatakan bagaimana kelirunya doktrin relasi internal dengan mencontohkan penerapannya kepada ‘kursi’; yang jika identitas kursi menyaratkan relasinya dengan non-kursi’, maka kursi tak-terpahami tanpa menekankan perbedaannya dengan yang-bukan-kursi. Dalam penyangkalan tersebut, Martin membangun argumennya bukan dengan metode dialektika—yang memadukan silogisme sedemikian rupa untuk memahami realitas yang berubah—tapi sepenuhnya menggunakan silogisme sederhana dari logika formal: menekankan pada ‘perbedaan’ atau ‘identitas’ di antara benda-benda, hingga menarik kesimpulan secara deduktif. Sehingga kursi dijelaskan bukan dalam geraknya tapi diamnya. Sementara fisika modern memberitahukan bahwa segala benda yang terlihat diam sesungguhnya mengandung gerakan yang dikenal dengan ‘energi potensial’. Gambaran tentang kursi yang tidak pernah berubah hanya ada dalam pikiran yang sempit dan abstrak, bukan pada kenyataan material yang kompleks dan hidup. Yang pertama merupakan kecenderungan skolastik dan mekanis, sedangkan yang kedua memperlakukan materi secara dialektis. Pendekatan materialisme dialektis terhadap kursi tidak bisa direduksi menjadi semata persoalan identitas atau perbedaan antara kursi dan non-kursi, tetapi harus menyingkap proses-proses tersembunyi dalam keberadaannya. Pada kenyataannya, setiap kursi yang diperiksa secara teliti akan ditemukan berlangsungnya aneka perubahan konstan: menyerap kelembapan dan debu-debu dari udara, mengalami ketergoresan dan keretakan oleh beban yang diletakkan di atasnya, ditemukan rayap dan organisme kecil lainnya yang menghinggapinya, kehilangan warnanya yang cerah, dan sebagainya. Di titik tertentu, akumulasi dari perubahan-perubahan kuantitatif itu akan menghadirkan perubahan kualitatif; yang membuat isi dan bentuk kursi menjadi runtuh dan apa-yang-semulanya rasional pada akhirnya menjadi irasional. Hanya dengan memperhatikan proses gerak dan perubahan inilah keberadaan yang ‘non-kursi’ di dalam ‘kursi’ menjadi terpikirkan. Tanpa penggunaan metode dialektika, pemaparan dan kesimpulan Martin mengenai kursi—dengan motif untuk membuktikan kekeliruan universalitas relasi internal—menjadi tidak-memadai dan dapat dipikirkan sebagai sebuah penipuan filosofis terhadap kelas proletar. Dalam “The ABC of Materialist Dialectics”, Trotsky menulis:
“Dialektika bukanlah fiksi atau mistisisme, tetapi suatu ilmu tentang bentuk-bentuk pemikiran kita sepanjang tidak terbatas pada persoalan-persoalan hidup sehari-hari tetapi berusaha untuk sampai pada pemahaman terhadap proses-proses yang lebih rumit dan berlarut-larut. Logika dialektika dan formal mempunyai hubungan yang mirip dengan matematika tingkat tinggi dan matematika tingkat rendah … Aksioma ‘A’ sama dengan ‘A’ nampaknya di satu sisi menjadi titik tolak seluruh pengetahuan kita, di sisi lain menjadi titik tolak segala kesalahan dalam pengetahuan kita. Penggunaan aksioma ‘A’ sama dengan ‘A’ dengan impunitas hanya mungkin dilakukan dalam batas-batas tertentu. Ketika perubahan kuantitatif pada ‘A’ dapat diabaikan untuk tugas yang ada, maka kita dapat berasumsi bahwa ‘A’ sama dengan ‘A’. Misalnya, cara pembeli dan penjual mempertimbangkan satu pon gula. Kami juga mempertimbangkan suhu matahari. Sampai saat ini kami juga mempertimbangkan daya beli dolar dengan cara yang sama. Namun perubahan kuantitatif di luar batas tertentu diubah menjadi kualitatif. Satu pon gula yang terkena pengaruh air atau minyak tanah tidak lagi menjadi satu pon gula. Satu dolar dalam pelukan seorang presiden tidak lagi menjadi satu dolar. Menentukan pada saat yang tepat titik kritis di mana kuantitas berubah menjadi kualitas adalah salah satu tugas paling penting dan sulit di semua bidang ilmu-pengetahuan termasuk sosiologi. Tetapi setiap pekerja tahu bahwa tidak mungkin membuat dua benda yang benar-benar sama. Dalam penjabaran bantalan-kuningan menjadi bantalan kerucut, diperbolehkan adanya devisiasi tertentu pada kerucut namun tidak boleh melampui batas tertentu (hal ini disebut toleransi [atau izin]). Dengan memperhatikan norma toleransi maka inti dianggap setara. (‘A’ sama dengan ‘A’.) Saat toleransi dilampaui, kuantitas beralih ke kualitas; dengan kata lain, bantalan kerucut menjadi inferior atau tidak berharga sama sekali. Pemikiran ilmiah kita hanyalah sebagian dari praktik umum kita termasuk teknik. Untuk konsep juga terdapat toleransi yang dibangun bukan melalui logika formal yang bersumber dari aksioma ‘A’ sama dengan ‘A’, melainkan logika dialektis yang bersumber dari aksioma segala sesuatu selalu berubah….”
“Pemikiran vulgar beroperasi dengan konsep-konsep seperti kapitalisme, moral, kebebasan, negara pekerja, dan lain-lain sebagai abstraksi tetap, dengan asumsi bahwa kapitalisme sama dengan kapitalisme, moral sama dengan moral, dan lain-lain. Pemikiran dialektis menganalisis segala sesuatu dengan fenomena dalam perubahannya yang terus-menerus, sambil menentukan, dalam kondisi material dalam perubahan-perubahan tersebut, batas kritis yang melampui batas yang mana ‘A’ tidak lagi menjadi ‘A’, maka negara pekerja tidak lagi menjadi negara pekerja. Kelemahan mendasar dari pemikiran vulgar terletak pada kenyataan bahwa ia ingin puas dengan jejak-jejak tak-bergerak dari suatu realitas yang terdiri dari gerak abadi. Pemikiran dialektis memberi konsep-konsep, melalui perkiraan yang lebih dekat, koreksi, konkretisasi, kekayaan konten dan fleksibilitas…. Pemikiran dialektis berkaitan dengan pemikiran vulgar seperti halnya gambar bergerak dikaitkan dengan foto diam. Film tersebut tidak melarang foto diam tapi menggabungkan serangkaian foto tersebut menurut hukum gerak . Dialektika tidak mengingkari silogisme, namun mengajarkan kita untuk memadukan silogisme sedemikian rupa sehingga mendekatkan pemahaman kita pada realitas yang selalu berubah. Hegel dalam logikanya menetapkan serangkaian hukum: perubahan kuantitas menjadi kualitas, perkembangan melalui kontradiksi, konflik isi dan bentuk, interupsi kontinuitas, perubahan kebetulan menjadi kebutuhan, dan sebagainya, yang sama pentingnya untuk pemikiran teoritis seperti dalam silogisme sederhana untuk tugas-tugas yang lebih mendasar. Hegel menulis sebelum Darwin dan sebelum Marx. Berkat dorongan kuat yang diberikan kepada pemikiran oleh Revolusi Perancis, Hegel mengantisipasi pergerakan ilmu-pengetahuan secara umum. Namun karena hanya sekadar antisipasi, walaupun dilakukan secara jenius, ia mendapat sifat idealis dari Hegel. Hegel beroperasi dengan bayangan ideologis sebagai realitas tertinggi. Marx [mempertahankan inti-rasional dan menyingkirkan unsur-unsur non-esensial dari pemikiran Hegel dengan] menunjukkan bahwa pergerakan bayangan ideologis ini tidak mencerminkan apapun kecuali pergerakan benda-benda material.”
Harus diakui bahwa dalam doktrin Hegelian memperlakukan kenyataan dan pengetahuan sebagai sesuatu yang identik. Namun dalam Marxisme, apa-yang-didekati Hegel dengan menekankan pada persoalan identitas diseret untuk melampaui kesimpulan rasionalnya; di mana keselarasan antara subyek dan obyek, epistemologi dan ontologi itu tidak diterima sebagai ‘indentitas’ melainkan ‘kesatuan dialektis’ dari hal-hal yang berlawanan dan saling-merasuki. Ketika kaum Marxis menyatakan ‘individu adalah universal dan universal adalah individu’, ‘dengan membangun keseluruhan berarti menguatkan bagian’, dan ‘kebutuhan muncul dari sesuatu yang kebetulan’—ini tidaklah menekankan pada ‘perbedaan’ tapi ‘hubungan-hubungan timbal-balik yang menentukan’: kontradiksi internal atau relasi internal antara subyek dan obyek. Mengenai keterkaitan antara subyek dan obyek inilah kaum Marxis hanya mengakui kesadaran sebagai cerminan yang tidak sempurna dari dunia obyektif, karena kognisi hanyalah bagian partikular dari realitas duniawi yang kompleks. Dalam “Excerpts on Lenin, Dialectics, and Evolutionism”, Trotsky menjelaskan bahwa kesadaran manusia cenderung membagi alam menjadi kategori-kategori atau konsep-konsep yang tetap dan kaku, sehingga masuk ke dalam kontradiksi dengan kenyataan yang terus bergerak dan berubah—namun dialektika mengatasi kontradiksi ini dengan membawa kesadaran manusia untuk lebih dekat dengan alam material: ‘dialektika kesadaran (kognisi) dengan demikian bukan merupakan cerminan [yang sempurna: identitas—sesuatu yang diam dan tak-berubah] dari dialektika alam, namun merupakan hasil interaksi yang hidup antara kesadaran dan alam dan—di samping itu—sebuah metode kognisi, yang muncul dari interaksi itu. Karena kognisi tidak identik dengan dunia (terlepas dari postulasi idealis Hegel), kognisi dialektis tidak identik dengan dialektika alam. Kesadaran adalah bagian yang cukup orisinil, memiliki kekhasan dan keteraturan yang sama sekali tidak ada kesamaannya dengan bagian alam lainnya. Oleh karena itu, dialektika subyektif harus menjadi bagian dari dialektika obyektif—dengan bentuk dan keteraturannya yang khusus’. Materialisme dialektis berdiri di atas premis: dunia obyektif ada secara independen dari kesadaran subyektif, namun keduanya merupakan kesatuan dialektis; karena subyek juga merupakan obyek, sejauh manusia—dalam praksis sosio-ekonominya—tunduk pada hukum dialektika yang sama dengan yang mengatur alam dan masyarakat.
Dalam “Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 6)”, kami telah menjelaskan bahwa kesatuan dialektis antara pengetahuan dan kenyataan, antara subyek dan obyek, tidak dapat diatasi melalui abstraksi teoritis tapi praktik-praktik manusia yang hidup. Kami menegaskannya dengan mengutip pernyataan Marx dalam “Tesis Kedua tentang Feuerbach”: ‘persoalan apakah kebenaran obyektif dapat dikaitkan dengan pemikiran manusia bukanlah pertanyaan teori tetapi pertanyaan praktis. Manusia harus membuktikan kebenaran itu—yaitu realitas dan daya, sifat duniawi dari pemikirannya. Perselisihan mengenai realitas dan non-realitas pemikiran yang terisolasi dari praktik adalah perkara yang murni skolastik’. Hanya melalui praktiklah manusia bukan hanya dapat berinteraksi dengan dunia material yang menentukan kesadaran sosialnya, tetapi juga secara signifikan mengambil peran-peran tertentu untuk mengubahnya sesuai hukum dialektika yang berlaku secara obyektif. Pada kenyataannya, orang-orang yang bekerja memanipulasi lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya akan terlibat dalam relasi sosio-ekonomi tertentu yang akan mempengaruhi perkembangan tenaga produktifnya. Demikianlah antitesis antara subyek dan obyek bukanlah merupakan sesuatu yang pasif dan tetap, melainkan dapat menjadi satu sama lainnya dalam gerak dan perubahan yang terus-menerus. Namun dalam “Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer”, Martin Suryajaya bersikeras untuk memutuskan pengaruh timbal-balik tersebut. Dengan berusaha‘menetapkan demarkasi’ terhadap ‘doktrin relasi internal’—hubungan-hubungan antara subyek dan obyek, bagian dan keseluruhan, individu dan universal, kebetulan dan kebutuhan—maka Martin sesungguhnya mengemukakan pandangan yang dualistik. Dia menolak ‘universalitas relasi internal’ atas pretensi menegaskan ‘distingsi’ antara wilayah ‘epistemologi’ dan ‘ontologi’. Ia secara artifisial meletakkan pembatas yang tegas di antara pengetahuan dan kenyataan. Ini merupakan penyimpangan yang luar biasa menjijikan terhadap materialisme dialektis. Dengan menyangkal keterhubungan internal antara pengetahuan dan kenyataan—ini berarti: pengakuan Martin ‘atas realitas material yang eksternal terhadap kesadaran’ bukan sekadar mengakui dunia material yang independen dari kognisi, tetapi juga secara diam-diam memaksakan keindependenan kognisi dari dunia material—sehingga membagi dunia material menjadi dua subtansi independen: materi dan kesadaran. Sementara premis Marxisme tentang realitas obyektif yang independen dari pikiran tidaklah mengabaikan keterhubungan di antara dua kutub yang berlawanan, tetapi menekankan kalau keberadaan materi tidaklah dikondisikan oleh kesadaran; karena kesadaran hanyalah bagian partikular dari perkembangan material secara keseluruhan. Marx berkata: ‘bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, melainkan sebaliknya; keberadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya’. Dalam “Excerpts on Lenin, Dialectics, and Evolutionism”, Trotsky menerangkan kesatuan obyek-subyek melalui hubungan antara kausalitas obyektif (determinisme) dan tujuan subyektif (teleologi):
“Orang-orang mengorientasikan diri mereka terhadap ide-ide dalam dua cara: (1) memperlakukannya sebagai bayangan yang sewenang-wenang dan tidak nyata, berdiri di luar dunia fakta dari kondisi materialnya, atau (2) sebagai ‘faktor’ maha kuasa yang mengatur realitas. Kedua pandangan itu salah. Ide merupakan sebuah fakta dalam rangkaian fakta lainnya. ‘Bagi Hegel, dialektika berdiri di atas kepalanya. Ia harus bangkit untuk mengungkap inti-rasional di balik selubung mistik.’ Kata-kata Marx dalam pendahuluan ‘Capital’ (1873) edisi kedua ini lebih dari seratus kali mengilhami akal kritis untuk menyempurnakannya. Namun pada hakikatnya operasi yang sama—untuk membalikkan sesuatu dari kepalanya dan menjadikannya berdiri di atas kakinya—telah diulangi di setiap bidang pemikiran manusia. Tuhan menciptakan manusia. Manusia menciptakan Tuhan. Bumi mengorbit mengelilingi matahari. Matahari mengorbit mengelilingi bumi…. Tolstoy tidak mau menerima bahwa ia hidup di bumi ini tanpa tujuan yang telah ditetapkan, seperti burung yang jatuh dari sarangnya. ‘Penting untuk menyadari bahwa Tuhan adalah tuan dan mengetahui apa yang Dia inginkan dari saya; tapi apa yang Dia inginkan dariku; tapi siapa Dia, dan bagaimana Dia hidup, aku tidak akan pernah tahu, karena aku tidak setara dengannya. Saya pelayannya, Dia tuannya (Tolstoy).’ Semua aliran subyektivisme dalam satu atau lain cara didasarkan pada kontradiksi antara sebab obyektif dan tujuan subyektif. Determinisme adalah filosofi kausalitas obyektif. Teleologi adalah filsafat tujuan subyektif. Upaya untuk membentuk oposisi bermusuhan di antara mereka atau menggabungkan mereka secara eklektik merupakan produk dari ketidaktahuan filosofis. Tujuannya adalah sebagian dari sebab. Teleologi adalah departemen khusus dari determinisme.”
Marxisme menerangkan bahwa adanya dunia obyektif yang independen dari pikiran subyektif itu tidaklah dapat dilebih-lebihkan dengan memasang garis pembatas yang kaku di antara kenyataan dan pengetahuan. Marxisme memang mengakui perbedaan kualitatif antara epistemologi dan ontologi, namun tidak menganjurkan pembedaan yang vulgar dan mekanistik macam demikian. Materialisme dialektis menetapkan relasi internal, kontradiksi internal, atau gerak-diri itu tidaklah sebatas bersifat epistemik dan politis melainkan pula ontologis—dalam artian yang luas dan organis. Orang-orang yang menyangkal universalitas relasi internal akan terseret pada tinjauan yang sesat, dan dalam hubungannya dengan Marxisme, akan membuat kegirangan menciptakan ide-ide baru yang tidak mendasari dirinya pada hal-hal esensial dari ide-ide sebelumnya—secara prinsipil tak-mengandung karakter sintetik (seperti Maoisme [Stalinisme] yang merevisi Marxisme dengan memperbaharui sudut pandang materialisme dialektis terhadap kontradiksi, dan oleh karena itu, membuang prinsip teoritis terkait penghapusan kepemilikan pribadi dan internasionalisme proletar, menyubordinasi perspektif sosialisme dunia [perjuangan kelas internasional] di bawah sosialisme di satu negeri [perjuangan pembebasan nasional], mengganti strategi revolusi sosialis dan kebijakan kediktatoran proletariat [negara buruh; negara yang melenyap] dengan revolusi dua-tahap dan kediktatoran demokratik buruh dan tani [negara buruh yang cacat, negara borjuis]—sehingga, pada gilirannya, mengarahkan partai proletar untuk berkolaborasi-kelas, membirokratisasi Komite Sentral, dan merehabilitasi kapitalisme). Kaum Marxis memandang bahwa pengembangan pengetahuan, yang berfungsi sebagai pendukung ilmiah bagi aktivitas manusia dan memajukan kemanusiaan, haruslah mengandung ide-ide yang bersifat duniawi dan mengarah ke konsep-konsep yang lebih maju, yang tidak menyediakan ruang untuk kecenderungan-kecenderungan eklektisisme, idealisme atau dualisme filosofis. Ini seperti yang diterangkan Trotsky dalam “Excerpts on Lenin, Dialectics, and Evolutionism”:
“Mengenali pemikiran dimulai dengan diferensiasi, seperti foto diam, dengan penetapan istilah-istilah—konsepsi—yang di dalamnya momen-momen terpisah dari suatu proses ditempatkan, namun dari situlah proses secara keseluruhan mencuat. Istilah-istilah-konsepsi ini, yang diciptakan melalui kesadaran pikiran, kemudian diubah menjadi belenggu-belenggunya. Dialektika menghilangkan belenggu-belenggu ini, mengungkapkan relativitas konsep-konsep yang tidak bergerak, peralihannya satu sama lain…. Secara historis, umat manusia membentuk ‘konsepsi’—elemen dasar pemikirannya—berdasarkan pengalaman, yang selalu tidak-lenkap, parsial, dan berat-sebelah. Ini mencakup dalam ‘konsep’ ciri-ciri proses yang hidup dan selalu berubah, yang penting dan signifikan pada saat tertentu. Pengalamannya di masa depan pada awalnya diperkaya (secara kuantitatif) dan kemudian melampaui konsep tertutup, yaitu, dalam praktiknya meniadakannya, sehingga memerlukan negasi teoritis. Namun negasi tersebut tidak berarti kembali ke ‘tabula-rasa’. Akal sudah memiliki: (a) konsep; (b) pengakuan akan ketidakwajarannya. Pengakuan ini sama saja dengan kebutuhan untuk membangun ‘sebuah konsep baru’, dan kemudian terungkap bahwa negasi tersebut tidak mutlak, bahwa ia hanya mempengaruhi ciri-ciri tertentu dari konsep pertama. Oleh karena itu, konsep baru harus mempunyai karakter sintetik: memasukkan ke dalamnya unsur-unsur konsep awal, yang mampu bertahan dalam ujian pengalaman ditambah unsur-unsur pengalaman baru, yang mengarah pada negasi konsep awal…. Kita selanjutnya akan melihat bahwa ‘evolusi’ sebagai rumusan umum tentang asal-usul dunia dan masyarakat lebih tidak-berbentuk, kurang-konkret, dan kurang-isi, dibandingkan dengan konsepsi dialektis (atau perkembangan), yang karenanya merupakan sudut pandang yang cocok, pasti akan mengarah pada materialisme: dunia organik muncul dari dunia anorganik, kesadaran adalah kapasitas organisme hidup yang bergantung pada organ-organ yang berasal dari evolusi. Dengan kata lain, ‘jiwa evolusi’ (dialektika) pada analisa terakhir mengarah pada materi. Sudut pandang perkembangan yang dibawa ke kesimpulan logis tidak memberikan ruang bagi idealisme atau dualisme, atau bagi spesies eklektisisme lainnya. Dengan demikian, ‘dialektika materialis’ (atau ‘materialisme dialektis’) bukanlah suatu kombinasi sewenang-wenang dari dua istilah yang berdiri sendiri, namun merupakan satu kesatuan dari hal-hal berlawanan—sebuah rumusan singkat untuk suatu pandangan dunia yang utuh dan tak-terpisahkan, yang secara ekslusif bersandar pada keseluruhan perkembangan pemikiran ilmiah di semua bagiannya, dan hanya berfungsi sebagai pendukung ilmiah bagi praksis manusia.”
Doktrin Hegelian mengenai relasi internal adalah pembelaan terhadap monisme: keyakinan bahwa gagasan dan realitas material yang tak-terputus satu sama lainnya dan membentuk sebuah dunia yang satu. Monisme Hegel merupakan idealisme absolut atau idealisme obyektif; di mana pemikiran ini tidaklah memisahkan dunia subyektif dan dunia obyektif, karena menetapkan hanya ada satu dunia—yakni: dunia ide, dengan hukum-hukum yang berlaku di alam dan pikiran manusia adalah dialektika, yang merefleksikan dirinya melalui realitas material. Hegel memberitahukan kalau hukum dasar yang mengatur dunia dan pemikiran tidaklah bergantung pada manusia, tetapi manusia mampu memahaminya dengan melakukan studi yang serius dan mendalam terhadap dunia obyektif, namun tempat penyelidikannya bukanlah di alam material tapi kesadaran yang terdiri dari gagasan dan konsep-konsep yang diabstraksi begitu rupa. Dialektika Hegelian meskipun berdiri di atas kepalanya, namun—dengan doktrin relasi internalnya—memperlakukan pengetahuan dan kenyataan bukan sebagai fenomena yang terputus, terisolasi dan terpaku dalam ruang dan waktu yang terpisah, melainkan terhubung, terus bergerak dan berubah secara keseluruhannya. Eksposisi ini memberikan pukulan telak terhadap idealisme subyektif, dualisme dan eklektisisme. Namun meskipun menggunakan metode yang maju, belenggu idealisme filosofis membawa Hegelianisme pada jalan buntu; di mana Hegel memberikan batasan bagi pembangunan sejarah umat manusia: (1) di bidang sosial: negara Jerman dan (2) di bidang filsafat: dialektika Hegel sendiri. Namun kesimpulan ini tidak dapat dilebih-lebihkan untuk menyangkal kebenaran dialektika yang berlaku secara obyektif dalam perkembangan sejarah dan pemikiran manusia. Dalam “In Defence of Hegel, Alizadeh menerangkannya:
“Bagaimana kita dapat menjelaskan mengapa dia menarik kesimpulan tersebut? Hegel adalah orang Kristen dan seorang borjuis-kecil di Jerman pada saat Jerman [menjadi negeri] terbelakang di antara negara-negara Eropa lainnya. Kehancuran akibat perang yang berlangsung selama 30 tahun telah menghambat pembangunan negara tersebut. Negara-negara seperti Perancis, Inggris, dan Belanda mengambil langkah maju yang besar berdasarkan revolusi borjuis. Namun Jerman tidak mengalami revolusi, dan masih dihantui oleh hubungan properti feodal. Jerman tertinggal jauh dalam hal teknologi, produksi, struktur kenegaraan dan hubungan properti. Namun, ide-ide bisa mengalir melintasi batas negara tanpa hambatan. Di bawah rangsangan perjuangan filosofis yang intens di Eropa pada Abad Pencerahan, kaum intelektual Jerman berkembang pesat dan menjadi lapisan masyarakat paling maju. Namun negara ini tidak dapat melepaskan diri dari belenggu provinsialisme feodal dan filistinisme borjuis-kecil yang mengelilinginya dari segala sisi. Itulah dasar material bagi ambiguitas gagasan Hegel, yang terus-menerus membawanya ke batas luar materialisme tanpa pernah sepenuhnya menyeberang. Yang tercermin dalam sisi idealis dan konservatif tulisan-tulisan Hegel, bukanlah semangat Absolut, melainkan posisi pribadi dan sosial Hegel sendiri. Bidangnya, filsafat, bagi Hegel, adalah motor penggerak sejarah dan filsafat pribadinyalah yang menandai puncak akhir dari proses ini. Lebih jauh lagi, Hegel mempunyai kelemahan karena mendahului perkembangan besar dalam ilmu-pengetahuan, seperti Biologi, Geologi dan Kimia, yang mengungkapkan dialektika yang berperan di semua tingkatan alam. Dalam arti tertentu, dialektika Hegel pada dasarnya adalah hipotesis yang brilian, namun demikian sebuah hipotesis, yang diselimuti oleh mistisisme, yang mencegahnya untuk diterapkan pada dunia material. Kelemahan mendasar ini menyebabkan disintegrasi aliran filsafat Hegel tidak lama setelah kematiannya.”
Namun di tangan Marx dan Engels, metode dialektis dengan doktrin relasi internalnya untuk pertama kalinya diselamatkan dengan mendasarkan dirinya pada materialisme filosofis; di mana penyelidikan atas hukum-hukum obyektif tidak lagi berada dalam kognisi melainkan alam material—yakni: benda-benda alam dengan segala peristiwa dalam kehidupan manusia yang konkret. Dalam “Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosphy”, Engels menyatakan: ‘jadi dialektika mereduksi diriya menjadi ilmu tentang hukum-hukum umum gerak, baik dunia luar maupun pimikiran manusia—dua perangkat hukum yang subtansinya tunggal, namun berbeda dalam ekspresinya sejauh pikiran manusia dapat menerapkannya secara sadar, selama berada di alam dan juga hingga saat ini sebagian besar dalam sejarah umat manusia, hukum-hukum ini muncul secara tidak sadar, dalam bentuk kebutuhan eksternal, di tengah serangkaian kejadian yang seolah-olah terjadi secara kebetulan. Dengan demikian dialektika konsep-konsep itu sendiri hanya menjadi refleks sadar dari gerak dialektika dunia nyata dan dengan demikian dialektika Hegel akhirnya terbalik; atau lebih tepatnya, kepalanya dipenggal di tempat ia berdiri, dan diletakkan di atas kakinya. Dan dialektika materialis ini, yang selama bertahun-tahun telah menjadi alat kerja terbaik, dan senjata paling tajam kita’. Namun Martin Suryajaya mengabaikan pernyataan tersebut. Martin meremehkan metode dialektika oleh karena doktrin relasi internalnya diangkat dari pemikiran Hegel yang berdiri di atas idealisme filosofis. Inilah mengapa meskipun bukunya secara megah dideklarasikan dengan judul “Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer”, tetapi tidaklah memberi porsi pembahasan yang memadai untuk pisau analisa yang paling tajam itu. Dalam “Materialisme Dialektis sebagai Metode”, Martin berkata: ‘memang dalam buku ‘Materialisme Dialektis’, saya lebih terfokus untuk menerangkan duduk perkara materialismenya, sementara penjelasan tentang dialektika justru kurang mendapat tempat. Hal ini sengaja saya lakukan karena diskursus tentang dialektika kerap kali mengarah pada negasi terselubung atas materialisme’. Sebagai konsekuensi dari kekurangan dialektika, maka pandangan “Materialisme Dialektis” yang disajikannya bukan saja mengalami kemiskinan dialektis tapi juga mengarah kepada pemikiran yang berat-sebelah. Demikianlah Martin memperlakukan ‘universalitas relasi internal’—yang melihat dunia secara monistik—sebagai prinsip yang reaksioner dan perlu ditolak.
Pada esensinya dialektika Hegelian mengandung pandangan dunia revolusioner tentang perubahan yang terus-menerus menuju tingkat perkembangan historis yang lebih tinggi bagi pembangunan kemanusiaan yang menyeluruh. Hegel menyatakan bahwa semua yang nyata adalah rasional, namun menggunakan dialektikanya maka semua yang nyata menjadi irasional. Marx dan Engels telah membuktikan kebenaran dialektis tersebut. Bahwa dialektika Hegelian atau doktrin relasi internal yang dibawa ke kesimpulan rasionalnya akan mendukung pandangan dunia materialis dan melancarkan perang tanpa ampun terhadap segala bentuk idealisme filosofis, aliran dualisme dan eklektisisme. Mengakui pengembangan inilah Plekhanov menulis: materialisme bangkit kembali dengan diperkaya oleh segala perolehan idealisme [Hegelian]. Yang paling penting dari perolehan ini adalah metode dialektis, pemeriksaan fenomena dalam perkembangannya, asal-usul dan kehancurannya. Jenius yang mewakili arah pemikiran baru ini adalah Karl Marx [dan Friedrich Engels]’. Tetapi Martin mengabaikan semua itu. Dalam “Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer”, kritik terhadap dialektika atau relasi internal sesungguhnya sangat berat-sebelah karena tidaklah mengacu pada inti-rasional pemikiran Hegel melainkan salinan-buruk dari Hegelianisme: postmodernisme. Namun Martin secara berlebihan mengasosiasikan dialektika Hegelian dengan keranjingan postmodernisme, dan oleh karena itu, kritik terhadap ide-ide pascamodern diklaimnya juga merupakan kritik terhadap Hegelianisme. Martin berkata: ‘inilah yang mengemuka secara umum dalam pemikiran pascamodern yang saya kritik dalam buku itu (mulai dari Deridda, Husserl, Heideger, Laclau, Holloway, Negri). Dan kita tahu ujungnya: relativisme, sofisme, dan sikap Romantik “bordjuis-ketjil” yang anti-pati terhadap sains. Inilah konteks yang melandasi sikap antagonistik terhadap doktrin relasi internal dalam buku itu’. Dengan kata lain: kritik terhadap dialektika atau relasi internal tidaklah berangkat dari realitas obyektif tapi ide-ide subyektif para pemikir postmodernis. Gerombolan profesor dan akademisi borjuis-kecil, yang keberadaan sosialnya memisahkan kerja-mental dan kerja-fisik, takkan pernah dapat memperlakukan dialektika dengan baik. Di tangan mereka, dialektika tidaklah dimanfaatkan sebagai pisau analisa yang tajam untuk membedah realitas di alam material dan menemukan hukum-hukum yang berlaku obyektif tapi mengurungnya dalam penjara wacana dan bahasa sehingga disulap menjadi metode diskursif yang mempertontonkan sirkus semantik dan parodi teks-teks akademis yang dingin dan sempit. Di “In Defence of Hegel”, Hamid Alezadeh mengungkapkan bahwa penyimpangan yang disengaja terhadap “Ilmu Logika” Hegelian telah berlangsung universitas-universitas di seluruh dunia; yakni, dengan ‘secara konsisten menerjemahkan kata-kata Jerman Denked dan Denkend (yang dalam bahasa Inggris berarti “berpikir”) sebagai Wacana dan Diskursif’. Alizadeh menegaskan: ‘ini adalah tindakan kejahatan yang mencoba menyelundupkan subyektivisme postmodernis ke dalam [ide-ide] Hegel’. Sementara Martin, yang berkeberadaan sosial sebagai intelektual borjuis-kecil, tenggelam dalam pemalsuan tersebut. Telah lama diakuinya meneguk ide-ide posmodernis. Walaupun kemudian dia mengklaim dirinya sudah menentang dan meninggalkan aliran lamanya, tetapi sesungguhnya ia tidaklah berhasil meninggalkannya sepenuhnya. Kritikan vulgar terhadap doktrin relasi internal atau dialektika Hegelian adalah buktinya. Bukti bahwa Martin masih mempertahankan prasangka postmodernismenya untuk menggabungkannya secara eklektis dengan Marxisme. Lewat “Materialisme Dialektis sebagai Metode”, Martin mengutarakan pengakuan yang begitu mencolok rupanya:
“Seperti kebanyakan pemuda dari generasi saya yang belajar filsafat, mulanya saya tenggelam dalam elan pascamodern. Saya menekuni dengan penuh semangat teks-teks para pemikir Perancis kontemporer seperti Derrida, Foucault, Deleuze dan akar tradisinya seperti Nietzsche dan Heidegger. Di antara mereka, pemikiran Derrida-lah yang awalnya begitu membekas pada saya. Saya belajar berpikir seperti Derrida, bertannya seperti Derrida, menempatkan tanda koma seperti Derrida, saya bahkan sempat menulis risalah sepanjang 250 halaman tentangnya pada masa itu. Sehingga sekitar semester 5 (tahun 2007) saya mendapatkan diri saya sudah siap untuk dicetak menjadi anggota baru dari deretan demagog posmo Indonesia yang siap berkempanye tentang pentingnya sikap kritis sekaligus liris, ironis sekaligus liberal, dan menunjukkan relevansi diskursus posmo di Indonesia untuk melawan fundamentalisme dan totalitarianisme. Pada titik itulah saya tahu bahwa saya dihadapkan pada sepasang pilihan: atau saya meneruskan langkah pemikiran saya di jalan posmo yang sudah mapan dan sudah menjadi ‘mainstream’ cara berpikir ‘inteligensia’ kritis kita serta mengulang-ulang ‘folklore’ kelas menengah tentang ketakmungkinan obyektivitas, kematian narasi besar, dan sebagainya, atau saya mempertanyakan kembali dasar-dasar pemikiran posmo itu dengan jalan mengkaji secara mendetail ‘sejarah pemikiran’ yang mensituasikan kelahirannya. Saya memilih pilihan kedua. Pada akhirnya saya putuskan bahwa saya mesti bikin perhitungan dengan ‘wahyu-wahyu’ pascamodern yang dipuja-sembah oleh kaum intelektual negeri ini. Dengan mengkaji sejarah pemikiran yang membidani lahirnya postmodernisme, saya menemukan posmo sejatinya hanyalah ‘varian kontemporer dari Hegelianisme abad ke-19’…. Bagi saya, dalam ranah filsafat, tugas historis kita jelas: kritik atas Hegelianisme kontemporer [postmodenisme, doktrin relasi internal atau esensi dialektika Hegel] dengan menghidupkan kembali kritik Marx atas kaum Hegelian Muda.”
Namun pernyataan itu pada kenyataannya bukanlah untuk membela doktrin Marxis dari idealisme, melainkan menumpulkannya dengan menyelundupkan prasangka-prasangka postmodernisme ke dalam Marxisme hingga menjauhkan dialektika dari materialisme. Ditarik ke kesimpulan rasionalnya maka seruan untuk melawan postmodernisme—atau yang oleh Martin diistilahkan secara trendi menjadi ‘Hegelianisme kontemporer’—sesungguhnya merupakan bentuk pelayanan terhadapnya. Ketika Martin memberitahukan bahwa ‘diskursus tentang dialektika kerap kali mengarah pada negasi terselubung atas materialisme’—secara dialektis, ini merupakan pengakuan bahwa metode dialektis setara dengan diskursus postmodernis, dan oleh karenanya, dia secara sengaja mengurangi porsi untuk dialektika dalam bukunya dengan pertimbangan apologis yang cenderung hipokrit dan filistin: ‘memilah dialektika Marxian dari dialektika Hegelian’. Di bilik-bilik keilmuan para sarjana borjuis-kecil, filsafat Hegelian dan Marxis dipertentangkan secara berlebih-lebihan; di mana idealisme yang mengotori dialektika Hegel, dan sudah dibersihkan oleh Marx dan Engels dengan mengembangkannya menjadi dialektika materialis, kembali ditabur dan dipupuk untuk mengaburkan metode dialektis. Marx dan Engels menemukan, mengembangkan, dan mewariskan materialisme dialektis bukan untuk dijadikan koleksi mewah bagi para profesor dan akademisi universitas. Materialisme dialektis adalah inti dari ajaran Marxis yang didedikasikan untuk perjuangan revolusioner kelas proletar. Dengan tingkat kecerdasan akademik yang setinggi apapun, kemegahan semantik yang sebombastis apapun, bahkan ketersediaan waktu-luang yang sebanyak apapun; Marxisme takkan bisa ditaklukan oleh spesies-spesies manusia yang keberadaan sosial dan kecenderungan politiknya memisahkan kerja-mental dari kerja-fisik. Marxisme hanya bisa dipahami secara memadai oleh kelas proletar (yang karena keberadaan sosialnya berkepentingan menggulingkan masyarakat kapitalis) dan para pelopornya (yang diangkat secara historis untuk memimpin perjuangan proletariat dalam melaksanakan transformasi sosialis). Di ruang-ruang kerja-mentalnya yang cenderung skolastik—para ideolog borjuis, sarjana-sarjana kacung dan klerikal sama sekali tuli dan mengabaikan pernyataan Marx dalam “Afterword to the Second German Edition of Capital”:
“[Sama] ketika saya sedang mengerjakan jilid pertama ‘Das Kapital’, Epigonoi [Bucher, Duhring, dan lain-lain] yang pemarah, arogan, dan biasa-biasa saja, yang sekarang bermulut besar di Jerman yang berbudaya, merasa senang untuk memperlakukan Hegel serupa seperti Musa Mandelssohn yang nekad pada masa Lessing memperlakukan Spinoza, misalnya, sebagai ‘anjing mati’. Oleh karena itu, saya secara terbuka mengakui diri saya sebagai murid dari pemikir perkasa itu, dan bahkan di sana-sini, dalam bab tentang teori nilai, saya terpesona dengan cara-cara berekspresi yang khas darinya. Mistifikasi yang dialami dialektika di tangan Hegel, sama sekali tidak menghalanginya untuk menjadi orang pertama yang menyajikan bentuk gerakan umumnya secara komprehensif dan sadar. Bagi Hegel, dialektika berdiri di atas kepalanya. Itu harus dibalikan lagi, jika Anda ingin menemukan inti-rasional di dalam cangkang mistik.”
Pernyataan ini bukanlah sebatas pengakuan Marx atas sisi revolusioner dalam Hegelianisme: dialektika. Melainkan pula peringatan bahwa pandangan yang menekankan dialektika sebagai proses penalaran adalah sudut pandang yang keliru. Penekanan dialektika sebagai diskursus atau wacana takkan pernah menyelamatkan dialektika dari terkaman idealisme dengan membawanya ke kesimpulan rasionalnya: materialisme. Engels telah menegaskan kalau gerak dialektis yang berada dalam pikiran manusia ‘hanya menjadi refleks sadar dari gerak dialektis dunia nyata’. Pada analisa terakhir: studi yang serius, berani, dan jujur terhadap fenomena-fenomena material dengan menggunakan metode dialektis akan mengarahkan seseorang kepada materialisme, dan bukan sebaliknya. Namun Martin tidak punya keberanian untuk melakukan itu. Keberadaan sosial sebagai pemikir borjuis-kecil membelenggunya. Setelah menyatakan ‘diskursus tentang dialektika’ adalah suatu masalah, Martin selanjutnya menolak untuk mengatasi permasalahan ini. Walaupun dia mengaku ‘mengkritik’ seabrek pemikiran postmodernis, namun upaya demikian tidaklah menyelamatkan dialektika dari penyimpangan-penyimpangan postmodernisme. Sebab, kritik-kritik yang berkonteks pada teks-teks postmodernis justru akan semakin menjauhkan dialektika dari realitas dan mencabik-cabik dialektika dalam penjara-penjara diskursif. Sebagai akibatnya, Martin mengembangkan pemikirannya bukan dengan berlandaskan Marxisme untuk ‘memerangi postmodernisme’ tapi sebaliknya: berdasarkan kecenderungan dualisme, subyektivisme, eklektisisme, dan absurditas postmodernis untuk ‘merevisi Marxisme’. Materialisme dialektis tidaklah mendasarkan pandangannya pada gagasan-gagasan yang abstrak tapi realitas yang konkret. Ini tentang benda-benda, fenomena perkembangan alam dan manusia yang hidup; ini menyangkut perjuangan untuk eksistensi dari mayoritas orang yang tak-bermilik dan menjual kemampuan kerjanya, terlibat dalam pembagian kerja yang menghasilkan komoditas untuk mereka beli kembali, menciptakan nilai lebih dari kerja-surplus yang tak-terbayarkan, dan melancarkan aktivitas produksi yang dianggap oleh filsuf borjuis dan borjuis-kecil sebagai pekerjaan hina, kasar, dan kotor; ini mengenai perjuangan tenaga produktif yang bertentangan dengan batas-batas sempit kepemilikan pribadi dan negara bangsa; ini adalah perjuangan proletariat melawan borjuasi di ranah ekonomi, politik dan ideologi, yang mengarah pada perang dan revolusi. Inilah perjuangan kelas yang nyata dan termanifestasikan di bidang teori. Dalam “Philosophy and Science”, Alan Woods menjelaskannya begitu rupa:
“Pekerja bekerja dengan peralatan dan bahan mentah yang disediakan oleh alam. Dengan bantuan benda-benda material ini, manusia mampu mengubah dunia dan mengendalikan lingkungannya. Dan dengan mengubah dunia di sekitar mereka, manusia juga mengubah diri mereka sendiri. Mereka perlahan mengangkat diri mereka melampui tingkat binatang dan menjadi manusia. Aktivitas manusia yang tiada henti inilah—kreativitas yang muncul dari kerja kolektif manusia—yang telah menjadikan kita seperti sekarang ini. Ini adalah dasar dari semua kemajuan kemanusiaan, budaya dan pengetahuan. Tukang batu bekerja dengan batu-bata, pelukis dengan cat, tukang besi dengan besi, dan tukang kayu dengan kayu. Namun kaum intelektual hanya berkerja dengan kata-kata. Merekalah yang memberinya nafkah sehari-hari, mengisi hidupnya dan memberinya pekerjaan dan kesenangan. Mereka meninggikan atau menjatuhkannya, memberinya reputasi, atau merenggutnya. Mereka bertindak sebagai jimat magis karena jimat dan mantra harus diucapkan dengan kata-kata…. Hal ini merupakan hasil dari perkembangan tenaga-tenaga produktif dan kondisi-kondisi material bagi perkembangan sosial manusia. Ketika alat produksi berkembang sampai tingkat tertentu, maka akan terjadi surplus. Pembagian kerja (yang sudah ada dalam masyarakat awal yang berbentuk embrionik) adalah dasar yang melahirkan kelas istimewa yang terbebas dari kebutuhan bekerja untuk menghasilkan makanan namun dapat mengabdikan diri pada kegiatan-kegiatan khusus. Dengan semakin berkembangnya kekuatan produktif masyarakat, terjadilah intensifikasi pembagia kerja sosial, yang tercermin dalam bangkitnya kasta dan kelas. Masyarakat terbagi menjadi penguasa dan terkuasasi, pengeksploitasi dan tereksploitasi. Pada titik ini kesadaran memperoleh kehidupannya sendiri yang mandiri. Ada jurang pemisah antara kerja-mental dan kerja-fisik. Pembagian masyarakat menjadi pemikir dan pelayan dimulai sejak saat itu, seperti yang ditunjukkan Aristoteles dalam buku ‘Metafisika’. Dari awal, lapisan-lapisan istimewa yang menikmati monopoli budaya telah menganggap remeh kerja-fisik.”
“Bagi kaum intelektual, satu-satunya realitas hanyalah kata-kata. Baginya, yang benar adalah pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah’. Gagasan—atau lebih tepat lagi, prasangka—kaum intelektual yang memberikan makna supranatural pada kata-kata, hanyalah cerminan dari kondisi nyata keberadaan kaum intelektual. Dalam postmodernisme, narasi adalah segalanya, dan kita hanya bisa mengetahui dunia melalui perkataan individu. Di sini bahasa tampil bukan sebagai fenomena yang menghubungkan manusia dengan dunia dan satu sama lain, melainkan sesuatu yang memisahkan dan mengucilkan. Ini adalah penghalang, yang di luarnya kita tidak dapat mengetahui apapun. Oleh karena itu, mistifikasi kata-kata yang dilakukan kaum intelektual bukanlah hal baru. Hal ini berakar pada pembagian antara kerja-mental dan kerja-fisik. Namun hal ini telah memperoleh eksperesi puncaknya dalam filsafat borjuis modern. Hal ini tidak mengherankan, mengingat fakta bahwa kesenjangan antara kaya dan miskin, berpunya dan tidak-berpunya, ‘terpelajar’ dan ‘bodoh’ saat ini lebih besar dibandingkan masa-masa sebelumnya dalam sejarah. Massa telah dirampas, tidak hanya secara fisik namun pula moral dan budaya. Bahasa sains sama sekali tidak dapat diakses oleh sebagian besar penduduk negeri yang terpelajar, apalagi bagi orang-orang yang tidak-berpendidikan. Dan situasinya bahkan lebih buruk lagi dengan filsafat, yang telah sepenuhnya terjebak dalam rawa-rawa obskurantisme terminologis…. Filsafat borjuis modern telah menjadi gersang dan kaku. Hal ini jauh dari kenyataan dan menunjukkan pengabaian total terhadap kehidupan orang-orang biasa [di lapisan bawah]…. Kaum intelektual borjuis-kecil (selama mereka tidak melanggar pendirian kelasya dan beralih ke pendirian kelas pekerja) cenderung mencerminkan ide-ide dan suasana hati kaum borjuis. Para akademisi yang hidup di dunia universitas yang dijernihkan menunjukkan ide-ide dan suasana hati ini—yang merupakan ekspresi terdistorsi dari hubungan nyata dalam masyarakat—sebuah bentuk abstrak dan ‘ideologis’ (yaitu, bentuk yang fantastis). Mereka kemudian mengembalikannya kepada kaum borjuasi, yang memanfaatkan ‘kebijaksanaan’ universitas ini dengan baik, menipu dan membingungkan mahasiswa dan membangun penghalang baru di antara angkatan muda dan Marxisme.”
Martin Suryajaya adalah salah seorang intelektual borjuis-kecil yang menyebarkan gagasan membingungkan dan membangun penghalang bagi angkatan muda untuk mempelajari Marxisme. Sudut pandang materialisme dialektis melihat dunia material sebagai sesuatu yang satu untuk selamanya, tetapi dengan cara keberadaan yang berkontradiksi yang memicu gerak dan perubahan yang terus-menerus dalam perkembangannya menuju keberadaan yang lebih tinggi. Namun dengan menetapkan demarkasi terhadap ‘keberlakuan doktrin relasi internal’, Martin mengacaukan pandangan dunia monisme ini dengan dualisme. Hubungan timbal-balik dari dua kutub yang berlawanan dan saling-merasuki tidak diterima sebagai hukum yang menentukan dalam pembangunan keseluruhan. Martin berargumen: ‘apabila segala sesuatu dikonstitusikan oleh relasinya dengan yang lain, maka konsekuensinya: tak ada manusia tanpa kenyataan, sebagaimana tak ada kenyataan tanpa manusia. Dalam anak kalimat kedua inilah terdapat bahaya idealisme dalam doktrin relasi internal yang universal. Kalau adanya kenyataan menyaratkan adanya manusia, maka ada/tidaknya kenyataan tergantung dari ada/tidaknya manusia. Relativisme ini jelas mesti ditolak’. Namun pernyataan yang menekankan pada identitas macam ini sangatlah tak-memadai dalam menjelaskan keterhubungan organis antara pengetahuan manusia (subyek) dan kenyataan material (obyek). Telah kami beritahukan: doktrin relasi internal atau kontradiksi internal tidak pernah menekankan pada ‘identitas’, melainkan ‘kesatuan dialektis’ dari materi yang satu namun bereksistensi sebagai hal-hal yang berlawanan dan saling-merasuki. Jadi, penarikan kesimpulan berdasarkan silogisme sederhana (logika formal) seperti itu takkan cukup untuk menyingkap hubungan timbal-balik yang tersembunyi dari hal-hal yang bergerak dan terus berubah menjadi satu sama lainnya. Silogisme macam ini membatasi dirinya dari proses perkembangan (dialektika) yang ada di alam yang konkret, karena mengabaikan fakta bagaimana manusia berhubungan dengan dunia materialnya. Dalam “Ideologi Jerman”, Marx telah memberitahukan cara untuk memahami keterhubungan kesadaran manusia dan dunianya. Bahwa pemahaman itu harus diperoleh ‘bukan berangkat dari apa yang manusia katakan’, melainkan ‘untuk sampai pada manusia dengan daging; berangkat dari manusia yang nyata dan aktif, dan atas dasar proses kehidupan konkret mereka menunjukkan perkembangan refleks ideologis dan gema dari proses kehidupan ini’. Sedangkan Martin justru mengangkat persoalan subyek dan obyek dalam momen atau keadaan diamnya, yang pada kenyataannya tidak ada yang seperti itu di alam material yang senantiasa bergerak dan berubah. Lewat “The ABC of Materialist Dialectics”, Trotsky menentang cara berpikir yang begitu:
“Bagaimana seharusnya kita memahami kata ‘momen’? Jika itu adalah interval waktu yang sangat kecil, maka satu pon gula selama ‘momen’ itu akan mengalami perubahan yang tak-terelakkan. Atau apakah momen tersebut murni matematis, yaitu waktu nol? Namun segala sesuatu ada pada waktunya; dan keberadaan itu sendiri merupakan proses transformasi yang tidak-terputus; oleh karena itu, waktu merupakan elemen mendasar dari keberadaan. Jadi aksioma ‘A’ sama dengan ‘A’ menandakan bahwa suatu benda sama dengan dirinya sendiri jika tidak berubah, yaitu jika tidak ada…. [Kami] menyebut dialektika [kami] materialis; karena akarnya tidak terletak pada surga atau pada kedalaman ‘kehendak bebas’ [kami], namun pada realitas obyektif, pada alam. Kesadaran tumbuh dari ketidaksadaran, psikologi dari fisiologi, dunia organik dari anorganik, tata surya dari nebula. Pada semua anak tangga ini, perubahan kuantitatif ditransformasikan menjadi perubahan kualitatif. Pemikiran kita, termasuk pemikiran dialektis, hanyalah salah satu bentuk ekspresi materi yang berubah. Dalam sistem ini tidak ada tempat bagi Tuhan, Iblis, jiwa abadi, maupun norma-norma hukum dan moral yang abadi. Dialektika pemikiran, yang tumbuh dari dialektika alam, akibatnya memiliki karakter yang materialis…. Semua ini, seperti yang kita lihat, tidak mengandung apapun yang ‘metafisik’ atau ‘skolastik’, seperti yang ditegaskan oleh ketidaktahuan yang sombong. Logika dialektis mengungkapkan hukum gerak dalam pemikiran ilmiah kontemporer. Perjuangan melawan dialektika materialis sebaliknya mengungkapkan masa lalu yang jauh, konservatisme kaum borjuis-kecil, kesombongan para rutinis universitas dan … secercah harapan akan kehidupan setelah kematian.”
Hubungan pengetahuan manusia dengan kenyataan materialnya seperti yang telah kami jelaskan berkali-kali: seseorang memperjuangkan eksistensinya dengan melakukan aktivitas sosio-ekonomi yang memungkinkannya terhubung dengan lingkungan dan sesamanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan oleh karenanya, memanipulasi lingkungannya yang pada gilirannya merubah dirinya sendiri dan menentukan kesadaran sosialnya. Dalam pembangunan material inilah subyek dan obyek terus-menerus berelasi timbal-balik—menjadi satu sama lainnya, sebagai kesatuan organis—dalam gerak dan perubahan menuju tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Tanpa premis-premis yang mendasarkan dirinya pada realitas obyektif dan bermetode dialektis—yakni: silogisme yang dipadukan sedemikian rupa (sesuai prinsip dialektika materialis), sehingga mengalami transmutasi seperti perubahan sel-sel dasar dalam berbagai jaringan suatu organisme—maka kata-kata Martin hanyalah mempertontonkan permainan tautologi murni yang menyatakan kegagalan pikiran statis: pemikiran yang dibuka dengan memecah dunia menjadi elemen-elemen yang tidak-bergerak dan ditutup dengan sebuah penyimpulan yang didapatkan atas perluasan proses-proses yang tidak-terbatas. Menggunakan logika diam itulah Martin memperlakukan subyek dan obyek sebagai sesuatu yang pada mulanya dipisah-pisah namun akhirnya dikait-kaitkan secara arbitrer. Inilah yang diterangkan Trotsky sebagai basis dari semua aliran subyektivisme (relativisme); yaitu, pemikiran yang mempertentangkan ‘sebab obyektif’ (determinisme) dan ‘tujuan subyektif’ (teleologi) menjadi oposisi yang bermusuhan dan menggabungkannya secara eklektik—ini adalah ‘produk ketidaktahuan filosofis’ mengenai subyek (manusia, tujuan) yang merupakan ‘departemen khusus’ dari obyek (kenyataan, sebab). Namun Martin tentuya tak-terima kalau pemikirannya dipandang sebagai produk ketidaktahuan filosofis. Martin soalnya kebacut terkenal dengan julukan filsuf atau pemikir akademis yang luar biasa pintar, mengajar di universitas, menulis di ‘IndoPROGRESS’, dan menghasilkan buku-buku yang harganya mahal. Dalam penyangkalannya terhadap doktrin relasi internal atau pandangan dunia monistik, Martin secara lantang menyampaikan gagasan gemilangnya: ‘menolak universalitas relasi internal berarti mengakui demarkasi antara obyektivitas dan subyektivitas, antara Natur dan Kultur—dengan kata lain, mengakui adanya relasi eksternal antara kesadaran dan dunia (kendati mengakui juga relasi internal yang historis antara kesadaran dan aspek dunia tertentu). Itu artinya kita mesti membuktikan realitas eksternal’.
Martin menolak universalitas relasi internal dengan menetapkan demarkasi antara subyek dan obyek, hingga menciptakan konsep ‘relasi eksternal’: hubungan-hubungan yang berada di luar pikiran manusia dan menjadi pembenaran untuk memasang garis-batas yang tegas antara kesadaran manusia dengan dunia materialnya. Konsep ini serupa dengan dualisme Kantian: memisahkan dunia fisik (obyek pemikiran yang bertempat di luar pikiran) dari manusia yang berpikir (subyek yang mempersepsikan sesuatu di dalam pikirannya). Imanuel Kant mengakui realitas material yang independen terhadap pikiran manusia, tetapi mendirikan pembatas yang mengacaukan realitas menjadi ‘sesuatu untuk kita’ dan ‘sesuatu dalam dirinya sendiri’. Konsepsi tersebut mempertentangkan subyek dan obyek sebagai antitesis yang kaku; di mana karena sudut pandang subyektifnya maka manusia takkan mungkin memahami realitas material yang obyektif, dan oleh karenanya, kebenaran obyektif tidak dapat diperoleh bahkan melalui penyelidikan ilmiah. Sementara untuk kepentingan praktis dalam menguji kebenaran pengetahuan manusia, Kant mengusulkan perlunya penggunaan kategori yang cenderung apriori: kuantitas, kualitas, distingsi, dan sebagainya—yang merupakan kategori-kategori yang tidak dapat dijelaskannya secara memadai tapi hadir begitu saja sebagai alat bantu dalam pikiran manusia. Dan karena manusia tidak mampu memperoleh pemahaman atas kebenaran obyektif, maka pengakuan terhadap dunia yang independen dari pikiran manusia bukanlah menjadi premis yang harus dipahami melainkan diyakini semata. Inilah kelemahan teoritis yang memberi tempat bagi fideisme: pandangan bahwa iman tidak bergantung pada akal dan iman lebih unggul dalam mencapai kebenaran tertentu. Kantianisme memperlakukan persepsi indrawi bukan sebagai penghubung antara subyek dan obyek tapi demarkasi yang memisahkan keduanya; yakni, dengan mengisolasi ‘penampakan’ (fenomena) dari ‘apa-yang-tampak’ (benda). Sementara menyangkut sudut pandang Martin, demarkasi macam itu ditemukan dalam kategorinya tentang relasi eksternal yang terpisah dari relasi internal; yang pemisahan tersebut membatasi jangkauan subyek yang berpikir terhadap obyek pemikirannya yang independen dari pikirannya, dan oleh karenanya, mengarah kepada pembagian realitas menjadi hal-hal yang dapat diketahui (sesuatu untuk kita: relasi internal) dan hal-hal yang tidak dapat diketahui (sesuatu dalam dirinya sendiri: relasi eksternal). Meskipun Martin menekankan ‘mesti membuktikan realitas eksternal’. Namun pernyataan ini bukanlah untuk memahami kebenaran obyektif, melainkan menunjukkan keberadaan realitas yang terbagi menjadi dua subtansi independen: materi dan kesadaran. Inilah yang dilakukan Martin ketika berusaha membuktikan relasi eksternal dengan menggunakan apa-yang-disebutnya ‘meditasi kontra-kartesian: karena kita tidak dapat membayangkan keberadaan kesadaran tanpa keberadaan tubuh material yang menjadi “locus ontologicus” kesadaran tersebut, maka keberadaan realitas material tidak menyaratkan keberadaan kesadaran’. Berdasarkan logika formal, pernyataan itu memberikan kesan rantai-logis yang cukup stabil. Namun seluruh kontruksinya akan runtuh jika dia mencoba menjelaskan bagaimana caranya mendapatkan kesadaran atau pengetahuan tersebut. Pada premis-premis Martin, proses kognisi hanya diandaikan dengan relasi-relasi yang berlangsung antara sistem saraf pusat dan indera dalam tubuh material tanpa menunjukkan bagaimana hubungan manusia dengan dunia obyektif di sekelilingnya. Demikianlah apa yang dijelaskannya sebagai realitas material itu hanyalah tubuh manusia dan dia menjelaskan proses kognisi sebatas dengan keberadaan tubuh material ini saja—pada akhirnya meditasi tersebut sangatlah tak-memadai, begitu mengada-ada dan membuat kacau: karena tanpa berlangsungnya relasi timbal-balik antara subyek-obyek, antara subyek yang berpikir (manusia) dengan dunia material sebagai obyek pemikirannya (alam), maka takkan ada pengetahuan atau kesadaran apapun. Dalam sebuah ‘Pengantar’ untuk “Materialisme dan Empiriokritisisme”, Alan Woods tidak sekadar memberi penjelasan mengenai proses kognisi tapi juga menentang gerombolan filsuf yang dengan sengaja menyebarkan kekeliruan dan kebohongan subyektifnya:
“Saat ini kita mengetahui bahwa kerja sel saraf bersifat listrik dan kimia. Di ujung setiap sel saraf terdapat wilayah khusus, terminal sinaptik, yang berisi sejumlah besar kantung membran kecil yang mengandung bahan kimia neurotransmitter. Bahan kimia ini mengirimkan impuls saraf dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya. Setelah impuls saraf listrik berjalan sepanjang neuron, impuls tersebut mencapai terminal dan merangsang pelepasan neutrotransmitter dari vesikelnya [ruang pada sel yang dikelilingi oleh membran selnya]. Neutrotransmitter berjalan melintasi sinaps (persimpangan antara neuron yang berdekatan) dan merangsang produksi muatan listrik, yang mendorong impuls saraf ke depan. Proses ini diulangi berkali-kali hingga otot digerakkan atau rileks atau kesan sensorik diketahui oleh otak. Peristiwa elektrokimia ini dapat dianggap sebagai ‘bahasa’ sistem saraf, yang dengannya informasi dikirimkan dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya. Penjelasan ilmiah ini mengakhiri pandangan mistik-idealis tentang pemikiran dan kesadaran sebagai sesuatu yang misterius dan tidak dapat dijelaskan, sebagai sesuatu yang terpisah dari fungsi normal alam dan fungsi tubuh lainnya. Hal ini, pada gilirannya, terbentuk dan berkembang melalui interaksi terus-menerus dengan lingkungan material melalui kerja sosial-kolektif. Evolusi telah mengembangkan berbagai cara bereaksi terhadap lingkungan fisik untuk menjamin kelangsungan hidup individu (makanan) dan spesies (reproduksi). Sama seperti kita memiliki beberapa gen yang sama bahkan dengan bakteri yang paling rendah sekalipun, kita juga memiliki karakteristik yang sama. Namun pada manusia, potensi sederhana ini telah berkembang menjadi sesuatu yang secara kualitatif berbeda dibandingkan pada hewan lain. Dapat dikatakan bahwa ada sesuatu yang ‘menyerupai’ kesadaran pada kucing, anjing, kuda dan mamalia tingkat tinggi lainnya. Tentu saja, eksperimen terhadap simpanse menunjukkan bahwa mereka mungkin memiliki sesuatu yang mirip dengan kesadaran diri [manusia]. Bahkan, dimungkinkan untuk mendemonstrasikan unsur-unsur kemiripan itu pada makhluk hidup tingkat rendah seperti burung atau bahkan semut. Namun semakin jauh kita dari manusia, hal-hal ini semakin tidak berhubungan dengan kesadaran diri. Di sini kita berurusan dengan bentuk kehidupan yang berakal, bukan kesadaran [seperti manusia]. Oleh karena itu, tidak mungkin menyamakan kesadaran manusia dengan kesadaran hewan lain. Fakta-fakta ilmiah ini diketahui oleh semua orang yang sedikit tertarik pada ilmu-pengetahuan modern dan hanya orang bodoh atau seseorang yang ingin mengabaikan fakta-fakta tersebut dan membela prasangka agama serta takhayul yang dapat menyangkal fakta-fakta tersebut. Di lihat dalam konteksnya yang sebenarnya, tidak ada yang mistis dalam pikiran manusia. Namun demikian, kebingungan telah menimbulkan masalah bagi para filsuf yang, dalam beberapa kasus dengan sengaja memutarbalikkan, salah menafsirkan, dan mengabaikan fakta dalam keinginan mereka untuk menjual gagasan keagamaan dan mistik.”
Martin Suryajaya mungkin bukanlah orang pandir yang menyangkal fakta-fakta tersebut, tetapi dirinya merupakan filsuf yang sudut pandangnya tidak menjelaskan proses kognisi secara obyektif; yakni, dalam keterhubungan manusia dan alam, dalam relasi hubungan timbal-balik atau relasi internalnya, atau dalam gerak dan perubahannya, hingga mencapai kesadaran atau pengetahuan tertentu terhadap realitas obyektif. Meditasi kontra-kartesian merintanginya untuk memberikan penjelasan tersebut. Meditasi ini hanya bertujuan memperlihatkan gaya analisa yang berbeda dengan Descartes. Maka metode itu dipromosikannya sebagai antitesis dari meditasi kartesian mengenai ‘aku berpikir, maka aku ada’. Descartes merupakan filsuf yang pertama kali memperkenalkan pengertian dualisme jauh sebelum Imanuel Kant. Dualisme Cartesian memperlakukan pikiran sebagai entitas yang sepenuhnya terpisah dari tubuh dan dunia materialnya secara menyeluruh, sehingga pembuktian atas kebenaran tidaklah berdasarkan pada relasi timbal-balik antara kesadaran dan materi tapi berdasarkan intuisi semata. Sementara Martin dengan metode yang dikembangkannya mempertentangkan relasi internal (epistemologi) dan relasi eksternal (ontologi) secara diametral, dan oleh karenanya, membuat keduanya terpisahkan satu sama lainnya. Argumen kontra-kartesian telah mengungkapkannya. Sekilas premisnya terdengar masuk akal atau logis, namun seseorang tidak dapat menerima premis macam itu tanpa mengacaukan hubungan dialektis antara subyek yang berpikir (aku) dan obyek pemikirannya (dunia). Argumentasi Martin membayangkan kesadaran dan tubuh materialnya sebagai ‘elemen-elemen yang tidak-bergerak’ dan mengambil kesimpulan yang sewenang-wenang dengan memperluas ‘proses-proses yang tidak-terbatas’. Manusia tidaklah sekadar berpikir dengan menggunakan otaknya tapi keseluruhan tubuhnya dan apa-yang-dipikirkannya bukanlah tentang tubuh fisiknya (alat-alat inderanya) tapi fenomena-fenomena material dalam hubungan-hubungan tubuh materialnya dengan lingkungan di sekelilingnya. Meditasi kontra-kartesian tidak pernah mempertimbangkan relasi-relasi dari hal-hal yang berlawanan dan saling merasuki ini. Martin justru menggambarkan proses berpikir sebagai perbuatan yang terisolasi. Sementara Marxisme memandang proses berpikir sebagai bagian dari keseluruhan pengalaman manusia yang terhubung satu sama lainnya melalui aktivitas inderawinya dalam proses interaksi permanen yang kompleks dengan dunia materialnya. Jadi, suguhan “Materialisme Dialektis” versi Martin sangatlah asing bagi Marxisme; karena metode berfilsafatnya sama sekali mengabaikan dialektika yang berprinsip monistik dan berkarakter revolusioner, dan sebagai gantinya, memakai metode lain yang mendesain ulang eksposisi dualistik dan reaksioner (meditasi kartesian) dengan mengubah atau menambah beberapa kata (meditasi kontra-kartesian).
Pada bahasan mengenai ‘Marxisme dan Dilema Relasi Internal’ di buku “Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer”, meditasi kontra-kartesian tidak sanggup menghasilkan kesimpulan yang memadai untuk memajukan kehidupan umat manusia. Dalam membuktikan keberadaan relasi eksternal yang terpisah dari relasi internal, Martin menggunakan logika formal untuk menjelaskan tentang ‘oksigen sebagai realitas eksternal’; oleh karena keberadaan oksigen tidak menyaratkan adanya manusia, maka oksigen adalah realitas eksternal yang terpisah dari kesadaran. Pemikiran ini sesungguhnya sangat membingungkan. Pertama-tama relasi internal (epistemologi) dibedakan secara kaku dari relasi eksternal (ontologi) dengan menegaskan bahwa keduanya harus diberi demarkasi. Tetapi selanjutnya: apa yang telah dipisahkan lalu digabungkan secara eklektik dengan menerangkan bahwa oksigen adalah obyek yang menjadi realitas eksternal yang mempengaruhi subyek yang berpikir. Martin berkata: ‘realitas material itulah yang menjadi prakondisi atau panggung tempat drama kesadaran dimungkinkan atau sekaligus dibatasi. Sehingga berpikir dengan metode materialisme dialektis berarti berangkat dari pengakuan atas realitas material yang eksternal terhadap kesadaran’. Namun kesimpulan macam ini begitu absurd. Pernyataan tersebut hanyalah mengakui keberadaan realitas material yang independen tanpa menekankan keterhubungannya dengan kesadaran secara dialektis, dan oleh karenanya, menggabungkan subyek-obyek dalam kombinasi yang sewenang-wenang; yakni, dalam premis-premis yang inkonsistensi tentang dunia obyektif yang bisa dan tidak-bisa dipahami. Dalam “Materialisme dan Empiriokritisisme”, Lenin menerangkan bahwa ‘realitas obyektif’ tidaklah membatasi subyek yang berpikir untuk memahami obyek pemikirannya, sehingga manusia selalu dapat memahami fenomena dan benda-benda yang sebelumnya tak-terpahami: ‘dunia obyektif itu ada dan melalui realitas obyektif itulah manusia memahami dan mengalami dunianya’. Namun dengan mengabaikan keterhubungan antara materi dan kesadaran; Martin takkan pernah mampu sampai pada kesimpulan seperti Lenin, tetapi justru mengarah kepada pemisahan kesadaran dari materi menjadi dua subtansi yang sama-sama independen. Ini menyesatkan! Meditasi kontra-kartesian sesungguhnya bukanlah berlandaskan sudut pandang materialisme yang secara konsisten mengakui keberadaan realitas obyektif yang independen dari pikiran manusia; karena dalam penarikan kesimpulan kontra-kartesian, premis-premisnya diformulasikan secara mekanik; di mana yang ditekankan bukanlah ‘hubungan’ (dialektis) antara subyek-obyek tapi ‘identitas’ (diam) di antara keduanya; yakni, dengan menyatakan kesadaran berada dalam tubuh material (yang merupakan bagian dari alam material), maka ‘secara logis’ keberadaan alam material (secara keseluruhannya) tidak bergantung pada kesadaran—ini sama sekali tidak menerangkan hubungan-hubungan kontradiksi antara bagian dan keseluruhan, tetapi sebatas menegaskan identitasnya saja. Oleh karenanya: meditasi Martin sebenarnya cenderung skolastik-dualistik (idealisme filosofis) ketimbang dialektik-monistik (materialisme filosofis). Pada gilirannya inilah yang membuat penjelasannya mengenai manusia dan oksigen menjadi absurd. Jika realitas material ‘oksigen’ itu secara absolut berada di luar kesadaran, lantas mengapa kognisi bisa membayangkan bahkan memahaminya? Dan ketika oksigen dapat dipikirkan, bukankah oksigen menjadi benda yang berada dalam relasi internal antara obyek pemikiran dan subyek yang memikirkannya? Ini artinya: tidak ada relasi eksternal atau hal-hal yang tidak dapat dipahami secara mutlak (sesuatu dalam dirinya sendiri), karena segala fenomena dapat dipahami oleh manusia melalui praktik sosial-kolektifnya. Di “In Defence of Hegel”, Alizadeh memberikan tamparan keras terhadap seabrek sudut pandang yang merecoki hubungan-hubungan antara pikiran dan benda:
“Faktanya, kritik terhadap gagasan ini merupakan salah satu pencapaian utama Hegel. Dia memberikan pukulan telak terhadap ide-ide Kant dan segala bentuk dualisme: ‘perceraian antara pikiran dan benda pada dasarnya merupakan karya Filsafat Kritis [filsafat Kant], dan bertentangan dengan keyakinan semua zaman sebelumnya, bahwa kesepakatan mereka adalah hal yang wajar. Pertentangan di antara keduanya adalah engsel yang menjadi sandaran filsafat modern. Sedangkan kepercayaan alamiah manusia memberikan kebohongan padanya. Dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan refleksi, tanpa secara khusus mengingatkan diri kita sendiri bahwa ini adalah proses untuk sampai pada kebenaran, dan kita berpikir tanpa ragu-ragu, dan dengan keyakinan teguh bahwa pikiran bertepatan dengan sesuatu. Dan keyakinan ini adalah yang paling penting. Hal ini menandai keadaan sakit saat kita melihatnya mengadopsi kredo putus asa bahwa pengetahuan kita hanya subyektif, dan bahwa untuk melampui hal subyektif ini kita tidak dapat melakukannya. Padahal, jika dipahami dengan benar, kebenaran itu obyektif, dan seharusnya mengatur keyakinan setiap orang, sehingga keyakinan seseorang dicap salah jika tidak sejalan dengan aturan ini….’ Jika pikiran tidak mampu memahami realitas sebagaimana adanya, dan jika tidak ada apapun yang kita alami yang dapat dibuktikan berada di luar representasi mental kita atau seperti yang kita alami, lalu bagaimana kita bisa yakin akan keberadaan sesuatu atau orang lain? Kant [dan Descartes, dan seterusnya] tidak menulis pikirannya sendiri, tetapi tentang pikiran dan pemikirannya secara umum. Namun tentu saja, jika hakikat realitas obyektif berada di luar jangkauan manusia, maka ia juga tidak akan pernah bisa memahami pikiran ini ‘dalam dirinya sendiri’. Yang lebih penting lagi, mengapa Kant [dan sebagainya] bersusah payah menulis dan berfilsafat ketika dia tidak yakin akan ada dunia di luar sana yang dapat memahami ide-idenya? Ini adalah kelemahan mendasar dari semua idealisme, yang tidak dapat menjelaskan bagaimana dunia gagasan terhubung dengan dunia material.”
Pada pembahasannya mengenai ‘Marxisme dan Dilema Relasi Internal’, Martin melihat hubungan subyek dan obyek bukan dalam gerak dan perubahannya tapi keadaan diam. Dia menempatkan oksigen dan manusia di ruang yang statis dan abstrak, bukan di alam material yang dinamis dan konkret. Ia tidak menjelaskan bagaimana oksigen yang dihasilkan dalam proses fotosintesis yang dilakukan oleh aneka organisme tumbuhan di hutan dan mikro-organisme fitoplankton di lautan, yang di mana keberadaan dari organisme-organisme penghasil oksigen ini berelasi timbal-balik dengan aktivitas sosio-ekonomi manusia; yakni, aktivitas-aktivitas sosial dari tubuh material yang setiap harinya menghirup oksigen dan membutuhkan makanan itu, berhubungan dengan alam material di sekelilingnya untuk memenuhi kebutuhan materialnya, dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh yang luar biasa bagi keberadaan tetumbuhan dan fitoplankton yang menghasilkan oksigen untuk manusia. Ini seperti ketika manusia merusak hutan dan lautan, maka berarti mengancam kehidupan organisme-organisme penghasil oksigen, dan sebaliknya: ketika manusia merawat hutan dan lautan, maka berarti menjaga kehidupan organisme-organisme yang menyediakan oksigen. Dan dengan penggunaan metode dialektis, hubungan-hubungan antara manusia dan alam takkan pernah berhenti sampai di situ. Hubungan manusia dan alam adalah ciri paling mendasar dari seluruh masyarakat. Penerapan materialisme dialektis dalam sejarah dikenal dengan materialisme historis. Marxisme melihat kerja sebagai praktik sosial-kolektif yang menjadi esensi kemanusiaan dan memediasi hubungan antara manusia dengan alam; karena hanya dengan kerjalah manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, hingga mengembangkan alat dan teknik untuk memajukan keberadaan sosio-ekonominya—yang setiap penemuan alat dan teknik baru selalu mengarah pada penciptaan kebutuhan baru, hubungan sosial baru, dan oleh karenanya, cara-cara hidup yang juga baru. Namun metode kontra-kartesian mengabaikan persoalan itu. Dengan metode yang tak-memadai, pemaparan manusia dan alam hanyalah mengarah pada ‘kesimpulan absolut tentang oksigen sebagai realitas eksternal’. Penyimpulan demikian sekilas terkesan materialis, namun secara mendalam merupakan materialisme yang kasar, mekanis, dan sepihak; karena mengabaikan dialektika atau universalitas relasi internal. Materialisme dialektis tidaklah sekadar menjelaskan keberadaan benda-benda alam, tetapi lebih jauh menguraikan bagaimana hubungan-hubungannya dengan manusia untuk mengungkap asal-usul masyarakat kelas, penyingkiran perempuan, hakikat negara, persoalan kebangsaan, masalah agraria, krisis, perang, revolusi, pelenyapan negara, hingga masa depan masyarakat tanpa kelas; yang pada seluruh proses perkembangan historis ini motor penggeraknya adalah perjuangan kelas, yakni perjuangan yang dikondisikan dalam relasi manusia dengan alam. Dalam “Marxist and Anarchist Theory”, Daniel Morley mengingatkan apa-yang-dilupakan atau diabaikan secara sengaja oleh Martin:
“Sebagai kaum Marxis dan [oleh karena itu] materialis [dan dialektis], kami memahami bahwa perjuangan kelas tidak muncul dengan sendirinya, namun dikondisikan oleh perjuangan yang lebih umum untuk eksistensi; ini adalah ekspresi perjuangan yang tidak dapat dihindari dengan alam, jika menggunakan ekspresi yang agak kasar. Karena sebelum kita diperbudak oleh sesama manusia [yakni: mereka dikenal sebagai kelas kapitalis, yang mengeksploitasi para pekerja upahan], kita berada di bawah kendali hukum alam yang sangat berkuasa. Ya, setiap orang dilahirkan ke dunia bebas, yaitu tidak dengan tindakan tertentu yang telah ditentukan oleh Tuhan [sebab eksternal yang tak-terpahami karena memang tidak-ada], namun pada saat yang sama setiap orang dilahirkan sebagai tawanan alam. Sebagaimana Marx berkata: ‘umat manusia adalah makhluk yang menderita dan terbatas’; kita merasakan ketergantungan kita pada alam setiap detik kita bernafas, setiap kali otot-otot tak-sadar di perut kita memaksa kita untuk mencari makan, setiap kali komposisi kita yang kecil membuat kita bergidik kedinginan. Jika kita tidak mempunyai kebutuhan material yang mendesak seperti itu, kita tidak perlu pergi ke kapitalis untuk meminta pekerjaan. Jadi sebelum kita dapat memahami kurangnya kebebasan dalam masyarakat kita, kita harus menyadari hukum sosial yang paling mendasar ini—kondisi material menentukan kesadaran.”
Martin hanya membaca pernyataan Marx tentangan ‘keberadaan sosial yang menentukan kesadaran manusia’, namun dalam bukunya secara keseluruhan dia sama sekali tidak memahami pernyataan itu. Ini bukanlah kebetulan atau kecelakaan, tetapi membuktikan kebenaran Marxisme. Bahwa dengan keberadaan sosial yang memisahkan kerja-mental dari kerja-fisik, maka kesadaran seorang pemikir yang luar biasa pintar dan memiliki waktu-luang berlimpah sekalipun takkan pernah mampu memahami dunia secara obyektif. Pemikiran Martin sebagai seorang intelektual borjuis-kecil, yang dengan berat-sebelahlah mengembangkan teori Marxis, menunjukkan ketidakmampuan tersebut. Dalam mengungkap relasi manusia dan alam, Martin bahkan tak sanggup memahami ‘fakta sederhana’ yang pernah disampaikan Engels dalam sebuah pidatonya di pemakaman Marx: ‘sama seperti Darwin yang menemukan hukum perkembangan alam organik, demikian pula Marx menemukan hukum perkembangan sejarah umat manusia: sebuah fakta sederhana, yang hingga saat ini tersembunyi oleh pertumbuhan ideologi yang berlebihan, bahwa manusia pertama-tama harus makan, minum, mempunyai tempat tinggal dan pakaian, sebelum ia dapat menekuni politik, ilmu-pengetahuan, seni, agama, dan sebagainya; oleh karena itu produksi sarana-sarana material yang ada, dan akibatnya tingkat perkembangan ekonomi yang dicapai oleh suatu masyarakat tertentu atau selama kurun waktu tertentu, merupakan landasan yang mendasari lembaga-lembaga negara, konsepsi hukum, seni, bahkan gagasan tentang agama, dari masyarakat yang bersangkutan telah berevolusi, dan oleh karenanya, hal-hal tersebut harus diterangkan, bukan sebaliknya, seperti yang terjadi sampai sekarang’. Namun Martin bukan sekadar tak-memahami fakta sederhana yang disampikan Engels tapi keseluruhan pidato tersebut. Kemiskinan dialektika, yang berangkat dari keberaaan sosialnya sebagai pemikir borjuis-kecil, membuatnya gagal mengembangkan perspektif materialisme dialektis yang diterapkan dalam sejarah. Jika ditinjau dari sudut pandang untuk mengkritik doktrin relasi internal atau dialektika Hegelian (yang Martin asosiasikan dengan ide-ide postmodern), maka kesimpulan tentang oksigen sebagai realitas eksternal yang absolut sangatlah sewenang-wenang. Dan dari sudut pandang kegunaannya bagi kemajuan kemanusiaan; gagasan Martin sama sekali tak-berguna untuk memajukan pengetahuan umat manusia satu milimeterpun.
Kaum buruh dan muda tidaklah membutuhkan teori absurd dan kesimpulan yang membingungkan. Oksigen bukanlah sesuatu yang tak dapat dipahami dan berada di luar relasi internal antara subyek dan obyek dalam proses perkembangannya. Oksigen, sebagai fenomena alam, ada secara independen dari pikiran manusia; oksigen adalah ‘benda dalam dirinya sendiri’. Namun oksigen, dalam hubungannya dengan subyek yang berpikir, adalah sesuatu yang bisa terpahami keobyektifannya. Dalam “Materialisme dan Empiriokritisisme”, Lenin mengakui bahwa terdapat banyak hal yang berada di luar pengetahuan (tidak diketahui) namun pada prinsipnya hal-hal tersebut dapat diketahui: ‘tentunya tidak ada perbedaan prinsip antara fenomena dan benda dalam dirinya sendiri, dan tidak ada perbedaan seperti itu. Satu-satunya perbedaan adalah apa yang diketahui dan belum diketahui’. Dan lewat sebuah “[Panduan Membaca] Materalisme dan Empiriokritisisme”, kamerad-kamerad International Marxist Tendency (IMT) menegaskan: ‘aktivitas obyektif itu terjadi terlepas apakah seseorang memahaminya atau tidak, namun seperti yang telah ditunjukkan oleh Marx [dan Lenin], kita dapat memahami keseluruhan hukum yang mengaturnya, atau bahkan setiap detail aktivitas ekonomi dalam suatu masyarakat tertentu’. Oleh karenanya: keindependenan oksigen dalam hubungannya dengan manusia tidaklah seperti yang dikaburkan oleh meditasi kontra-kartesian. Marxisme sepenuhnya berlawanan dengan tinjauan absurd yang dijejalkan Martin. Dalam mengatasi kontradiksi subyek dan obyek, kesadaran dan materi, epistemologi dan ontologi—materialisme dialektis berkali-kali menekankan pada ‘praktik’ perjuangan kelas yang hidup: eksperimen, industri, dan praksis revolusioner untuk mengakhiri benda dalam dirinya sendiri menjadi benda untuk manusia-manusia yang nyata, berdaging dan bertulang, bekerja, memikirkan sekaligus merasakan sesuatu, berkehendak dan berjuang menguasai alam, menaklukan kekuatan-kekuatan buta yang ada di dalamnya, dengan secara terorganisir dan sadar mengupayakan transformasi sosialis, demi memenuhi kebutuhan umat manusia sepenuh-penuhnya dan mengembangkan kemanusiaan di tingkatan yang lebih tinggi—masyarakat tanpa kelas: komunis.
Pada akhirnya: “Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer” gagal mengatasi kontradiksi antara subyek dan obyek secara memadai. Dan karena tidak mampu menyelesaikan masalah inilah maka pemikiran Martin menjadi seperti apa-yang-diistilahkan Lenin sebagai ‘kaldu eklektisisme yang miskin’. Dalam “Materialisme dan Empiriokritisisme”, Lenin mengasosiasikannya dengan sudut pandang yang mengakui konsepsi materialis tentang ketergantungan kesadaran pada materi, dalam kedok ‘rangkaian independen’, ‘koordinasi prinsipil’, dan lain-lain, seraya terus menegaskan bahwa semua yang benar-benar ada adalah pemikiran subyektif yang terlepas dari materi (subyektivisme). Lenin mengingkatkan: ‘di antara kita ada orang-orang yang ingin agar kita menganggap mereka sebagai kaum Marxis, namun mereka menyebarkan kepada massa suatu filsafat yang sangat dekat dengan fideisme’. Dengan menetapkan demarkasi yang secara kaku membagi universalitas relasi internal (keterhubungan dialektis antara epitemologi dan ontologi—alam dalam dirinya sendiri dan dapat dipahami oleh manusia) menjadi relasi internal (epitemologi—sesuatu untuk kita) dan relasi eksternal (ontologi—sesuatu untuk dirinya sendiri), maka sudut pandang Martin diam-diam membuka pintu belakang untuk idealisme; yakni dengan mengakui adanya realitas obyektif—atau apa-yang-disebutnya sebagai ‘realitas eksternal’—yang secara absolut tidak dapat dijangkau oleh kesadaran manusia, dan oleh karenanya, keberadaannya hanya bisa diyakini semata. Martin Suryajaya, oleh karena kemiskinan metode dialektisnya, tiada melihat apapun selain keberadaan subyek-obyek yang terpisah; penolakannya terhadap universalitas relasi internal atau dialektika menghalanginya untuk mengenali keterhubungan dari kedua kutub yang berlawanan dan saling-merasuki atau sifat saling-transformasi dari unsur-unsur yang bertentangan dalam pembangunan keseluruhannya. Namun dalam mendukung posisi filosofisnya (yang dikemukannya secara kontradiktif: tidak-menolak relasi internal sepenuhnya tapi hanya menolak universalitasnya), Martin secara eklektis mengadopsi perspektif Maoisme (Stalinisme) yang merupakan salinan-buruk dari Marxisme. Demikianlah dia memeluk teori kontradiksi pokok Mao Zedong yang diadopsi untuk membantunya menyangkal universalitas relasi internal atau kontradiksi internal. Lewat “Materialisme Dialektis sebagai Metode”, Martin menulis:
“Sebagaimana kita ketahui, teori kontradiksi pokok merupakan ajaran Mao. Teori ini berakar pada abstraksi atas esensi relasi internal dalam alam kenyataan material. Relasi internal merupakan sebab internal perubahan, suatu sebab inheren dalam hal yang akan berubah. Tetapi perubahan tidak akan terjadi apabila hanya terdapat sebab internalnya saja, diperlukan juga sebab eksternal berupa prakondisi lingkungan yang tertentu. Mao menulis dalam ‘On Contradiction’: ‘apakah dialektika materialis mengesampingkan sebab eksternal? Tidak sama sekali. Dialektika materialis mengakui bahwa sebab eksternal merupakan “prakondisi” perubahan dan sebab internal adalah “basis” perubahan, serta bahwa sebab eksternal menjadi operatif melalui sebab internal. Dalam temperatur yang sesuai sebutir telur dapat berubah menjadi ayam, tetapi temperatur tidak bisa mengubah batu menjadi ayam sebab masing-masing memiliki basis yang berbeda’. Terlihat dalam ilustrasi yang diberikan Mao, bahwa sebab internal atau relasi internal dalam benda ini dimengerti secara ‘materialis’. Dialektika idealis melihat secara formal bahwa dalam A terdapat semua non-A [apa-yang-ditekankannya adalah tentang ‘identitas’], sehingga konsekuensinya A bisa menjadi apa saja secara sepenuhnya kontinjen: batu bisa menjadi ayam dan air menjadi anggur, sebab dalam setiap hal telah termuat ‘segala negasi yang dapat dibayangkan secara logis’ [namun argumen ini, bila diarahkan pada meditasi kontra-kartesian, dapat menyingkapkan betapa inkonsistenannya pemikiran Martin sendiri atau betapa sewenang-wenangnya dia dalam memanfaatkan doktrin relasi internal]. Dialektika materialis, sebaliknya, mengakui relasi internal dalam benda-benda tetapi selalu mengaitkannya dengan ‘basis material’ yang menjadi syarat keberadaan benda-benda itu serta faktor-faktor eksternal [atau relasi eksternal yang secara mutlak berada di luar kesadaran manusia]. Relasi internal dalam idealisme ‘tidak mengenal hirarki prakondisi’ [dan hirarki prakondisi ini dalam pemikiran Mao dikenal dengan teori-tahapan, yang memandang ketidaksamaan tahap-tahap perkembangan historis di masing-masing negeri bersifat absolut, dan oleh karenanya, perkembangan historis di satu negeri tak-terhubung secara dialektis dengan perkembangan historis di negeri-negeri lainnya]…. Pengertian baru yang muncul dalam Mao adalah kenyataan tersusun oleh keberagaman kontradiksi di mana ‘terdapat satu kontradiksi utama yang mengondisikan keberadaan dan perkembangan kontradiksi-kontradiksi lain’ … Mao memberi contoh: dalam masyarakat kapitalis, kontradiksi antara kelas proletar dan kelas borjuis adalah kontradiksi pokok, sementara kontradiksi antara sisa-sisa kelas feodal dan borjuasi, antara proletar dan borjuis nasional, adalah kontradiksi tidak-pokok yang esensinya diregulasi oleh esensi kontradiksi pokok. Lebih lanjut, dalam setiap kontradiksi baik pokok maupun tidak-pokok terdapat dua aspek yang mengonkonstitusinya, yakni aspek primer dan aspek sekunder dari kontradiksi. Aspek primer kontradiksi adalah aspek yang mendominasi kontradiksi tersebut dan aspek sekunder sebaliknya….”
Dalam membenarkan penolakannya terhadap universalitas relasi internal, Martin Suryajaya mendasarkan dirinya pada Maoisme (Stalinisme). Mao Zedong menerangkan persoalan relasi internal dalam benda dan fenomena material dengan membagi kontradiksi menjadi keumuman dan kekhususan, yang dalam pengembangannya menciptakan teori mengenai kontradiksi pokok sebagai kontradiksi yang paling dasar dan menentukan. Di “On Contradiction”, pemikiran-pemikiran Marx dan Engels pertama-tama digunakan untuk memperkenalkan apa-yang-disebut kontradiksi internal dalam masyarakat kapitalis: pertentangan yang tak-terdamaikan antara borjuasi dan proletariat. Namun dengan pemisahan kaku antara kekhususan kontradiksi dari keumuman kontradiksi, Mao selanjutnya menyangkal ‘kontradiksi internal proletar dan borjuis’ dengan mengajukan teorinya mengenai kontradiksi pokok yang diterangkan sebagai sebab internal (gerak-diri, kontradiksi internal, atau relasi internal) yang berlaku di negeri-negeri yang memiliki tingkat perkembangan historis yang unik. Pada akhirnya: diberitahukanlah kalau kontradiksi antara proletariat dan borjuasi itu hanya berlaku dalam keuniversalan kontradiksinya saja, sementara dalam kekhususan kontradiksinya berbeda lagi—ini bergantung pada tahapan-tahapan perkembangan historis yang khusus di negeri-negeri tertentu; misalnya di Tiongkok, dengan kontradiksi pokoknya adalah menyangkut pertentangan antara massa-rakyat luas (termasuk modal pribumi—borjuis nasional: pemilik kapital kecil) dan imperialisme (atau modal asing—borjuis internasional: pemilik kapital besar). Dalam teori kontradiksi pokok, sebab-sebab dalam perkembangan historis dibagi menjadi dua sebab independen: sebab internal (khusus—berlaku untuk pembangunan bagian; yakni, perkembangan kapitalisme di satu negeri) dan sebab eksternal (umum—berlaku untuk pembangunan keseluruhan; yakni, perkembangan kapitalisme dunia). Inilah pemikiran yang dijadikan pedoman utamanya Martin. Berangkat dari Teori Kontradiksi Maois, Martin menetapkan demarkasi antara relasi internal (epistemologi, subyek yang berpikir: manusia) dan relasi eksternal (ontologi, obyek pemikiran: alam); yang menyatakan bahwa penolakan terhadap doktrin relasi internal hanyalah menolak keumuman kontradiksinya dan tetap mengakui kekhususan kontradiksinya. Inilah yang ditegaskannya dengan mengutip penjelasan Mao: ‘dialektika materialis mengakui bahwa sebab eksternal merupakan “prakondisi” perubahan dan sebab internal adalah “basis” perubahan, serta bahwa sebab eksternal menjadi operatif melalui sebab internal’. Dalam “Materialisme Dialektis sebagai Metode”, Martin menulis:
“Bagi Mao, dan ini yang krusial, tidak hanya aspek-aspeknya tetapi kontradiksi itu sendiri mengalami perubahan: apa yang tadinya kontradiksi tidak pokok kini dapat menjadi kontradiksi pokok, begitupun sebaliknya. Perhatikan pernyataan Mao ini dalam ‘On Contradiction’: ‘tenaga produktif, praktik dan basis ekonomi secara umum memegang peranan pokok dan menentukan—siapapun yang membantah ini bukan seorang materialis. Namun, mesti diakui juga bahwa dalam kondisi tertentu, aspek-aspek seperti relasi produksi, teori dan super-struktur pada gilirannya memanifestasikan dirinya dalam peranan pokok dan menentukan’. Pernyataan inilah yang menjadi fondasi utama dari teori tentang ‘otonomi relatif’ yang berkembang di dalam kajian-kajian Marxis Barat ‘berkat Althusser’ (yang merekonstruksikannya dari Mao dalam ‘For Marx’, 1965). (Makanya saya sering heran dengan kawan-kawan yang menolak teori kontradiksi pokok tetapi mendukung penuh ide tentang otonomi relatif). Otonomi relatif menyatakan bahwa super-struktur memiliki otonomi yang relatif terhadap basisnya, dengan kata lain, bahwa superstruktur memiliki kemampuan untuk memberikan respon dan intervensi pada basis, tidak semata dikendalikan oleh basis … Teori kontradiksi pokok dan otonomi relatif ‘tidak’ mereduksi basis ke super-struktur. Teori tersebut justru menegaskan kembali ‘primacy’ basis atas superstruktur secara non-mekanistik [dialektis] … Perhatikan kalimat Mao selanjutnya sesudah kutipan di muka: ‘ketika tidak mungkin bagi tenaga produktif untuk berkembang tanpa perubahan dalam relasi produksi, maka perubahan dalam relasi produksi memainkan peranan pokok dan menentukan … Ketika super-struktur (politik, kebudayaan, dan sebagainya) merintangi perkembangan basis ekonomi, maka perubahan politik dan kultural menjadi pokok dan menentukan’…. Artinya, tetap ada ‘primacy’ pada yang material atau realitas material di atas yang-mental atau kesadaran. Basis material tetap menjadi prakondisi dasar yang memungkinkan sekaligus membatasi superstruktur politik, kendati penyelesaian atas kontradiksi basis mensyaratkan juga penyelesaian atas kontradiksi suprastruktur. Jelas bahwa ini bukanlah voluntarisme, bukan pula determinisme-mekanistik. Ini adalah esensi materialisme dialektis.”
Tidak! Esensi materialisme dialektis bukanlah mengenai peralihan suprastruktural atau ‘otonomi relatif’, melainkan kontradiksi: kesatuan dari hal-hal yang berlawanan dan saling-merasuki atau saling-mentransformasi—ini adalah pembangunan keseluruhan dari tingkatan yang lebih rendah menuju tingkatan yang lebih tinggi. Pada “Philosohical Notebooks” atau “On the Question of Dialectics” (‘Catatan Filsafat Lenin’, yang Mao Zedong vulgarisasi), Lenin secara singkat menyampaikan bahwa ‘inti’ materialisme dialektis adalah ‘kesatuan yang berlawanan’ (kontradiksi). Sementara dengan bernasnya, Lenin menyampaikan. Pertama, penentuan konsep dari dirinya sendiri [relasi internal]: sesuatu itu sendiri harus dipertimbangkan dalam hubungannya dan dalam perkembangannya [gerak dan perubahannya]. Ketiga, sifat kontradiktif dari sesuatu itu sendiri—yang berlawanan dengan dirinya sendiri—kekuatan dan kecenderungan yang saling bertentangan dalam setiap fenomena [benda]. Ketiga, kesatuan analisis dan sintesis [induksi dan deduksi, praktik dan teori]. Selanjutnya, Lenin memaparkan ketiga elemen dialektika materialis itu secara lebih rinci: (1) obyektivitas pertimbangan—bukan persamaan, bukan perbedaan [artinya: bukan tentang identitas—logika diam], melainkan sesuatu dalam dirinya sendiri [yakni: dalam relasi internal atau dialektikanya yang tentunya bisa kita pahami]; (2) keseluruhan rangkaian ragam hubungan suatu benda dengan benda lain; (3) perkembangan [keterhubungan] benda ini—fenomena, bagian-bagian—gerakannya sendiri, kehidupannya sendiri [yakni: gerak dan perubahannya dalam hubungan antara bagian dengan keseluruhannya]; (4) kecenderungan—dan sisi—yang bertentangan secara internal dalam hal ini; (5) benda—fenomena, dan sebagainya—sebagai jumlah [kuantitas] dan kesatuan [kualitas] dari hal-hal yang berlawanan; (6) perjuangan yang masing-masing berlangsung dari pertentangan ini [kedua kutub yang berlawanan], perjuangan yang kontradiktif, dan lain-lain; (7) kesatuan analisis dan sintesis—penguraian bagian-bagian yang terpisah dan totalitas, keseluruhan dari bagian-bagian ini [dalam keterhubungannya: relasi internalnya]; (8) hubungan setiap hal—fenomena, dan sebagainya—tidak hanya bermacam-macam, tetapi bersifat umum, universal. Setiap hal—fenomena, dan sebagainya—berhubungan satu sama lain; (9) bukan hanya kesatuan dari hal-hal yang berlawanan, tetapi juga peralihan dari setiap determinasi, kualitas, ciri, sisi, properti menjadi yang lain—ke dalam kebalikannya?; (10) proses tanpa akhir dalam menemukan sisi baru, hubungan, dan lain-lain; (11) proses pendalaman pengetahuan manusia yang tiada habisnya tentang sesuatu, tentang fenomena, proses, dan sebagainya, dari penampakan ke hakikat yang lebih mendalam; (12) dari hidup berdampingan menuju kausalitas dan dari satu bentuk hubungan dan ketergantungan timbal-balik ke bentuk lain yang lebih dalam dan umum; (13) pengulangan di tingkat yang lebih tinggi akan ciri-ciri tertentu, sifat-sifat, dan lain-lain, dari tingkat yang lebih rendah dan (14) kembalinya ke masa lalu [yakni: kembali ke peredaran semula sebagai sesuatu yang baru]—negasi dari negasi; (15) pergulatan isi dan bentuk dan sebaliknya. Peralihan bentuk, transformasi isi; dan (16) transisi kuantitas menjadi kualitas dan sebaliknya—‘15’ dan ‘16’ adalah contoh ‘9’. Pada akhirnya: otonomi relatif hanyalah sebagian kecil dari elemen-elemen dalam dialektika materialis secara totalitasnya. Dan pengenalan akan otonomi yang bersifat ‘terbatas’—kemandirian ‘dalam batas-batas tertentu’ dari kesadaran (suprastruktur) terhadap materi (basis)—bukanlah hal yang baru. Dalam “Excerpts on Lenin, Dialectics, and Evolutionism”, Trotsky mengungkapkannya begitu rupa:
“Kehadiran kesadaran dan puncaknya melalui pemikiran logis dapat ‘dibenarkan’ secara biologis dan sosial hanya jika kesadaran tersebut memberikan hasil-hasil penting yang positif di luar apa yang dicapai oleh sistem refleks bawah sadar. Hal ini tidak saja mengandaikan otonomi kesadaran (dalam batas-batas tertentu) dari proses otomatis di otak dan saraf, namun juga kemampuan kesadaran untuk mempengaruhi tindakan dan fungsi tubuh. Sakelar apa yang melayani kesadaran untuk mencapai tujuan ini? Sakelar-sakelar ini jelas tidak dapat bersifat material, atau mereka akan dimasukkan ke dalam rantai proses anatomi-fisiologis organisme dan tidak dapat memainkan peran otonom yang terdiri dari fungsi-fungsi yang ditentukan. Pikiran beroperasi berdasarkan hukumnya sendiri, yang bisa kita sebut hukum logika; dengan bantuan mereka untuk mencapai hasil praktis tertentu, hal ini beralih ke yang terakhir (dengan kurang-lebih berhasil) dalam rantai aktivitas kehidupan kita. Telah diketahui dengan baik bahwa ada aliran psikiatri (‘psikoanalisis’ Freud) yang dalam praktiknya sepenuhnya melepaskan diri dari fisiologi, mendasarkan dirinya pada determinisme batin [relasi internal] dari fenomena psikis, seperti apa adanya. Oleh karena itu, beberapa kritikus menuduh aliran Freud idealisme. Bahwa para psikoanalisis sering kali condong ke arah dualisme, idealisme, dan mistifikasi … Namun metode psikoanalisis itu sendiri, yang mengambil titik tolak ‘otonomi’ dari fenomena psikologis, sama sekali tidak bertentangan dengan materialisme. Sebaliknya, justru materialisme dialektis yang mendorong kita pada gagasan bahwa jiwa tidak dapat terbentuk kecuali ia memainkan peran yang otonom, yaitu, dalam batas-batas tertentu, kemandirian dalam kehidupan individu dan spesies. Namun demikian, di sini kita mendekati semacam titik kritis, suatu terobosan dalam semua peralihan, transisi dari kuantitas ke kualitas; jiwa yang muncul dari materi, ‘dibebaskan’ dari determinisme materi, sehingga ia dapat secara mandiri—oleh hukumnya sendiri—mempengaruhi materi. Benar, dialektika sebab dan akibat, basis dan suprastruktur, bukanlah hal yang baru bagi kita: politik tumbuh dari ekonomi yang kemudian mempengaruhi basis melalui peralihan yang bersifat suprastruktural. Namun, di sini keterkaitannya konkret, karena dalam kedua kasus tersebut, tindakan manusia yang hidup terlibat; di satu sisi mereka dikelompokkan bersama untuk produksi, di sisi lain—di bawah tekanan tuntutan produksi yang sama—mereka dikelompokkan secara politis dan bertindak berdasarkan perubahan politik pada pengelompokkan produksi mereka sendiri. Ketika kita melakukan transisi dari anatomi dan fisiologi otak ke aktivitas intelektual, keterkaitan antara ‘basis’ dan ‘suprastruktur’ menjadi jauh lebih membingungkan. Kaum dualis membagi dunia menjadi substansi independen: materi dan kesadaran. Jika demikian, lalu apa yang kita lakukan dengan alam bawah sadar?”
Sudut pandang yang menerangkan ‘otonomi relatif’ sebagai esensi dari materialisme dialektis adalah sesat; karena ini berarti menyulap sesuatu yang ‘non-esensial’ menjadi ‘esensial’. Di “On Contradiction, Mao Zedong telah memvulgarisasi teori Marxis tentang kemandirian suprastruktur dengan menetapkan peralihan suprastruktural sebagai ‘pokok’ dan ‘menentukan’: ‘ketika tidak mungkin bagi tenaga produktif untuk berkembang tanpa perubahan dalam relasi produksi, maka perubahan dalam relasi produksi memainkan peranan pokok dan menentukan’; ‘ketika suprastruktur (politik, kebudayaan, dan sebagainya) merintangi perkembangan basis ekonomi, maka perubahan politik dan kultural menjadi pokok dan menentukan’. Meskipun Teori Kontradiksi Maois mencoba mengangkat pemikiran Marxis tentang ketidaksesuaian antara tenaga produktif dan hubungan produksi yang menjadi faktor yang ‘paling umum dan mendasari’ perubahan sejarah, tetapi apa-yang-disebutnya sebagai ‘relasi produksi’ tidaklah seperti yang dipandang Marxisme. Lewat sebuah ‘Pengantar’ dalam “Kontribusi terhadap Kritik Ekonomi Politik”, Marx menjelaskan bagaimana hubungan antara tenaga produktif dan relasi produksi: ‘dalam produksi sosial yang ada, manusia mau-tidak-mau masuk ke dalam hubungan-hubungan tertentu, yang tidak bergantung pada kehendak mereka, yakni hubungan produksi yang sesuai dengan tahap tertentu dalam perkembangan kekuatan-kekuatan produksi materialnya. Keseluruhan hubungan-hubungan produksi [dari kekuatan produktif] ini merupakan struktur ekonomi masyarakat, landasan sesungguhnya, yang di atasnya timbul suatu suprastruktur hukum dan politik dan yang dengannya bentuk-bentuk kesadaran sosial tertentu yang bersesuaian’. Dalam masyarakat modern, kekuatan produksinya adalah industri, pertanian, sains dan teknologi yang dikuasai secara pribadi, namun dikembangkan di atas kerja-kerja manusia yang bersifat sosial. Dan, sesuai dengan tingkat perkembangan kekuatan-kekuatan produksi inilah tenaga produktif—yang sebelumnya bekerja untuk subsistensi yang tak-berbayar—ditarik ke dalam relasi-relasi produksi kapitalisme: dipekerjakan di bawah belenggu kepemilikan pribadi terhadap alat produksi, yang mengintesifikasi pembagian kerja dengan mengeskpansi atau mengekspor kapital, memperdalam eksploitasi kerja-upahan dalam proses produksi komoditas, yang mengarah pada pertukaran barang-dagangan di pasar untuk merealisasikan nilai-lebih (akumulasi laba) bagi kapitalis.
Kami telah mengutip bagaimana Marx menerangkan bahwa totalitas dari hubungan-hubungan kekuatan produksi itulah yang menjadi basis sosio-ekonomi, yang di atasnya berdiri beragam bentuk-bentuk suprastruktur hukum dan politik, hingga kesadaran-kesadaran ideologi, agama dan budaya. Dan, sekali lagi—dalam ‘Pengantar’-nya, Marx melanjutkan penjelasannya: ‘cara produksi material mengondisikan proses umum kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, namun keberadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya. Pada tahap perkembangan tertentu, kekuatan-kekuatan produksi material berkonflik dengan hubungan-hubungan produktif yang ada atau—hal ini hanya menyatakan hal yang sama dalam istilah hukumnya—dengan hubungan-hubungan properti dalam kerangka di mana mereka beroperasi sampai sekarang. Dari bentuk-bentuk perkembangan tenaga-tenaga produktif, hubungan-hubungan ini berubah menjadi belenggunya. Kemudian dimulailah era revolusi sosial. Perubahan pada fondasi ekonomi, cepat atau lambat, akan mengarah pada transformasi secara keseluruhan suprastruktur yang sangat besar’. Pada akhirnya: filsafat Marx mengenai hubungan antara basis dan suprastruktur itu sepenuhnya berlawanan dengan apa-yang-diterangkan teori Maois. Syarat kemajuan historis adalah perubahan sosio-ekonomi secara mendasar, bukan peralihan suprastruktural; karena yang membelenggu perkembangan tenaga produktif bukanlah suprastruktur kesadaran sosianya, melainkan fondasi material ekonomi yang menjadi basis keberadaan sosialnya. Dengan kata lain: kontradiksi internal yang mendasari dan menentukan perkembangan historis atau kemajuan tenaga produktif bukan berada pada suprastrukturnya tapi basis ekonominya—keseluruhan hubungan produksi antara kekuatan produktif dengan relasi kepemilikan (properti), yang di atasnya berdiri suprastruktur-suprastruktur tertentu sebagai bentuk ‘variasi’ dan ‘gradasi’ yang berlangsung dalam hubungannya dengan basisnya. Namun “On Contradiction” menyelewengkannya begitu rupa: elemen-elemen suprastruktural dipertentangkan (dipisahkan) secara mekanis dari basis ekonomi—yang telah memberikannya ‘kemandirian terbatas’—dengan menetapkan bahwa perubahan politik dan kultural adalah faktor yang ‘mendasar’, sekaligus menghubungkan (menyatukan) suprastruktur dan basisnya secara eklektis dengan menegaskan bahwa perubahan suprastruktur adalah yang ‘menentukan’ perkembangan tenaga produktif. Marxisme tidaklah mengajarkan dialektika basis dan suprastruktur semacam itu. Dalam “Capital” volume ketiga, Marx menerangkan perkembangan tenaga produktif dalam hubungan timbal-balik basis dan suprastruktur itu dengan sudut pandang meterialisme historis:
“Bentuk ekonomi spesifik di mana kaum produsen tak-berbayar dipompa keluar dari ranah subsistensi menentukan hubungan dominasi dan perbudakan, karena hal ini tumbuh langsung dari produksi itu sendiri dan beraksi kembali terhadapnya sebagai sebuah determinan. Hal ini mendasari seluruh konfigurasi masyarakat yang timbul dari hubungan produksi aktual, dan juga bentuk politik spesifiknya. Dalam setiap kasus, hal ini merupakan hubungan langsung antara para pemilik [alat atau] kondisi-kondisi produksi dengan para produsen langsung—suatu hubungan yang bentuk khususnya secara alamiah selalu bersesuaian dengan tingkat perkembangan tertentu dari jenis dan cara kerja, dan dengan demikian juga dengan kekuatan produktif sosialnya,—di dalamnya kita menemukan rahasia terdalam, dasar tersembunyi dari seluruh bangunan sosial, dan karenanya juga bentuk politik dari hubungan kemandirian dan ketergantungan, singkatnya bentuk negara yang spesifik dari setiap kasus. Hal ini tidak menghalangi basis ekonomi yang sama—yang sama dalam kondisi-kondisi utamanya—untuk menunjukkan variasi dan gradasi yang tak ada habisnya dalam keberadaannya, sebagai akibat dari berbagai keadaan konkret, kondisi alam, hubungan ras, pengaruh sejarah yang datang dari luar negeri, dan lain-lain, dan hal ini hanya dapat dipahami dengan menganalisis kondisi-kondisi yang diberikan secara empiris [dengan bermetodekan ‘dialektika materialis’].”
Di “On Contradiction”, Mao Zedong tidak berangkat dari analisa yang diajarkan Marx. Pengembangan Marxisme secara sepihak—yakni: dengan menyangkal doktrin relasi internal (universalitas kontradiksi, gerak-diri, atau kontradiksi internal)—membuat Maoisme (Stalinisme) kekurangan metode dialektis untuk memahami hubungan-hubungan produksi dalam pembangunan keseluruhannya. Sudut pandang yang membagi kontradiksi menjadi umum (sebab-sebab eksternal) dan khusus (sebab-sebab internal), dengan memberi penekanan terhadap kekhususan kontradiksi (pembangunan bagian yang terpisah dari keseluruhan), pada akhirnya melahirkan teori yang secara sewenang-wenang mengutamakan penyelesaian apa-yang disebutnya ‘kontradiksi pokok’, dan oleh karenanya, mengabaikan kontradiksi internal dalam masyarakat borjuasi: pertentangan antara tenaga produksi yang berkarakter sosial dan hubungan produksi kepemilikan pribadi. Saat perubahan pada suprastruktur ditetapkan sebagai syarat bagi perkembangan tenaga produktif—pada analisis terakhir: ini akan mensubordinasi perjuangan revolusioner untuk transformasi sosial secara mendasar (revolusi proletar dan sosialisme) di bawah perjuangan untuk reformasi (negara dan demokrasi borjuis). Kapitalisme tidak dapat digulingkan dengan merubah relasi-relasi politik dan budaya, dengan reformasi agrarian maupun kebudayaan; karena penggulingan kapitalisme hanya bisa dilakukan dengan menghancurkan fondasi sosial-ekonominya—kepemilikan pribadi terhadap alat produksi. Peralihan suprastruktural hanyalah perubahan-perubahan politik dan budaya dalam skala terbatas (bagian-bagian parsial dan spesifik yang sesuai dengan basisnya), yang secara kualitatif berbeda dengan revolusi sosial: perubahan mendasar pada basis material yang mengarah kepada transformasi suprastruktur secara keseluruhannya, dan bukan sebaliknya. Pandangan yang menekankan pada ‘otonomi relatif’ sangat berbahaya, karena kemiskinan dialektikanya membawa pada jalan buntu yang cenderung menerjemahkan momen-momen peralihan suprastruktural ke dalam kebijakan-kebijakan kolaborasi dengan negara—berkolaborasi-kelas bersama borjuasi; di mana partai-partai Stalinis telah membuktikan kebuntuan perspektif otonomi relatifnya dengan begitu rupa—baik melalui penyimpangan ‘Blok Empat Kelas’ (PKT), kekeliruan ‘Dua-Aspek Kekuasaan Negara’ (PKI), maupun kelemahan ‘Dewan Rakyat Independen’ (PRD).
Pada penerapan materialisme historis, penyimpangan-penyimpangan dari teori dan kebijakan Maoisme (Stalinisme) adalah: eklektisisme yang mendasari sudut pandang keterhubungan timbal-baliknya. Yakni, kecenderungan untuk mempersatukan hal-hal yang secara prinsipil berlawanan dan tak-terdamaikan—borjuis dan proletar; oleh karenanya, menyubordinasi perjuangan kelas di bawah perjuangan nasional dan memperjuangkan revolusi demokratik di tahap pertama untuk revolusi proletariat di tahap kedua. Dalam “Ideologi Jerman”, Marx sesungguhnya telah memperingatkan mereka: ‘hubungan-hubungan aktual ini [basis ekonomi masyarakat] sama sekali tidak diciptakan oleh kekuasaan negara, sebaliknya: merekalah kekuatan yang menciptakan negara. Individu-individu yang memerintah dalam kondisi ini, selain harus membentuk kekuasaannya dalam bentuk kekuasaan negara, ‘Negara’, harus memberikan kehendaknya, yang ditentukan oleh syarat-syarat tertentu ini, suatu ekspresi universal sebagai kehendak ‘Negara’ [kemandirian terbatasnya], berupa hukum—suatu ekspresi yang isinya selalu ditentukan oleh hubungan-hubungan kelas ini, sebagaimana ditunjukkan oleh hukum perdata dan pidana [yang melegalkan kepemilikan pribadi, eksploitasi dan opresi dalam masyarakat borjuasi]’. Kemandirian suprastruktur takkan pernah melampaui batas-batas yang diizinkan oleh basis ekonomi. Dengan kata lain: peralihan-peralihan suprastruktural ditentukan oleh perimbangan kekuatan kelas yang berada di basisnya. Marxisme menegaskan: negara pada analisa terakhir adalah ‘badan khusus orang-orang bersenjata’ yang melayani kepentingan kelas yang berkuasa dengan kontrol dan pengawasan yang luar biasa terhadap perjuangan massa supaya tidak bergerak lebih jauh untuk melampaui batas-batas yang bisa diterima. Namun pada periode kritis dalam sejarah, ketika krisis masyarakat kelas semakin dalam dan perjuangan massa mencapai puncaknya, maka batasan-batasan kepemilikan kelas yang berkuasa dan negara-bangsa itu akan dilampaui dengan mengemukakanya masalah-masalah kekuasaan yang begitu rupa: entah kelas revolusioner yang sedang bangkit menggulingkan negara lama dan mendirikan kekuasaan baru, atau kelas penguasa menghancurkan revolusi dan menunjukkan kediktatoran reaksionernya secara terbuka (bukan lagi dalam kedok republik-demokrasi), namun ketika kelas-kelas yang bertempur ini telah berjuang sampai titik-darah penghabisan tanpa hasil yang jelas maka perjuangan di antara keduanya berada pada keseimbangan yang tidak-stabil, sehingga dalam ketidakstabilan basis ekonomi inilah ‘Negara’ akan mendapatkan kemandirian yang lebih besar untuk mempertahankan tatanan yang ada dengan mengencangkan pukulan tangan besinya, pedang dan pelurunya untuk memadamkan perjuangan kelas revolusioner (fonemana ini di masa lampau berbentuk Caesarisme dan di zaman modern dikenal dengan Bonapartisme).
Ketika kaum Marxis menyatakan bahwa dalam keadaan tertentu ‘faktor subyektif’ dapat memainkan peran yang sentral dan menjadi penentu dalam perubahan sejarah—ini tidak bisa dilebih-lebihkan untuk mengonfirmasi konsepsi ‘otonomi relatif’ Maois (Stalinis). Marxisme, dengan alasan apapun, tidaklah dapat disejajarkan dengan Maoisme (Stalinisme). Materialisme dialektis yang diterapkan dalam sejarah bukanlah metode yang mengungkapkan hubungan antara individu (subyektif) dan kekuatan besar (obyektif) dengan menekankan pada ‘identitas’ tapi ‘dialektika’. Dalam relasi timbal-balik basis dan suprastruktur, dengan menjelaskan persoalan peralihan suprastruktural, materialisme historis menunjukkan peran individu sesuai konteks historisnya; di mana seseorang dengan bakat, kecakapan, dan pandangan jauh ke depan yang dibentuk oleh kekuatan obyektif, pada gilirannya akan memainkan peran penentu dalam sejarah. Yakni: menjadi mata-rantai terakhir yang menentukan dalam rantai kausalitasnya. Pada “Gerakan Buruh dan Mahasiswa Hari Ini (Bagian 3), kami telah menjelaskan bahwa pengaruh individu dalam sejarah bergantung pada kondisi historis, korelasi kekuatan sosial, dan sejauh mana peranan yang dimainkannya untuk melayani kebutuhan besar dari kelas revolusioner yang memberinya tanggung jawab. Dalam “Peran Individu dalam Sejarah”, Plekhanov menegaskannya: ‘pengaruh mereka sangat besar namun kemungkinan penerapannya dan luasnya ditentukan oleh organisasi masyarakat dan penyelarasan kekuatan-kekuatannya. Karakter individu merupakan sebuah “faktor” dalam perkembangan sosial hanya jika, kapan, dan sejauh hubungan sosial mengizinkannya’. Dan, Marxisme menerangkan bahwa alasan mendasar mengapa mengapa faktor subyektif (kepemimpinan dan partai revolusioner: Bolshevisme) dapat memainkan peran yang menentukan dalam sejarah adalah karena semua ‘kondisi obyektif’ yang diperlukan untuk transformasi sosio-historis telah matang: integrasi perekonomian dunia sudah menciptakan pembagian kerja berskala dunia dengan kelas pekerja internasional yang meraksasa di tengah kebuntuan sistem kapitalisme yang meluapkan ketidakstabilan kronis dan barbarisme yang membelenggu perkembangan tenaga produktif. Namun kapitalisme yang sedang sekarat tiada berhenti menggunakan segala macam cara untuk memperpanjang nafasnya dengan memperdalam derita penghisapan dan penindasan umat manusia. Sistem yang irasional ini takkan pernah berhenti dengan sendirinya tanpa diakhiri secara revolusioner oleh kelas pekerja. Di titik inilah signifikansi dari pembangunan Bolshevisme tidak bisa lagi ditunda. Medan aksi-aksi revolusioner yang terorganisir dan sadar telah terbuka. Hanya kelas revolusioner membutuhkan wawasan teoritis yang memadai, yang akan memberikannya tinjauan ke masa depan dan perhitungan yang terpadu, dengan tekad yang membara dan keberanian sekeras baja. Kebutuhan ini takkan bisa dipenuhi kecuali dengan membangun Bolshevisme sekarang juga. Tugas historis tersebut tidak dapat diletakkan di pundak intelektual borjuis-kecil serta para pemimpin reformis dan Stalinis. Tugas demikian harus dipikul oleh kelas proletar sendiri, dengan perjuangannya yang nyata dan berdialektika, menciptakan para pemimpin revolusioner proletariat yang mendedikasikan hidupnya untuk memajukan perjuangan kelasnya dengan berpedomankan teori yang paling maju—Marxisme. Dalam ‘Introduction’ untuk “The Revolutionary Philosophy of Marxism”, Alan Woods menguraikannya begitu rupa:
“Semua faktor obyektif yang diperlukan untuk sebuah revolusi sudah ada, namun agar potensi tersebut menjadi nyata, diperlukan faktor lain. Peran katalisator dalam situasi pra-revolusioner dimainkan oleh partai revolusioner dan kepemimpinannya. Hal inilah yang memberi gerakan massa yang belum berkembang, tidak berbentuk, dan membingungkan dengan koherensi, struktur, tujuan, dan organisasi yang diperlukan untuk menggulingkan tatanan yang ada, yang, bahkan ketika tatanan tersebut terhuyung-huyung menuju kehancurannya, masih merupakan kekuatan perlawanan hebat yang harus diatasi secara sadar. Setiap partai revolusioner dalam sejarah selalu dimulai dari kelompok minoritas kecil. Pada awalnya hal ini tampaknya tidak menimbulkan tantangan serius terhadap tatanan yang ada. Ia dimulai, seperti organism hidup lainnya, sebagai embrio. Namun embrio, asalkan mencakup semua informasi genetik yang diperlukan untuk membentuk manusia yang sehat, dapat tumbuh dan berkembang…. Demikian pula kaum Marxis yang percaya pada sosialisme tak-terhindarkan, dalam arti bahwa kapitalisme telah kehabisan potensinya alam mengembangkan masyarakat dan memajukan kebudayaan dan peradaban. Dengan mengembangkan kekuatan-kekuatan produksi ke tingkatan yang ada saat ini, kapitalisme telah mempersiapkan jalan bagi tahap rasional berikutnya, yaitu sosialisasi alat-alat produksi, yang sedang melakukan pemberontakan melawan pembatasan kepemilikan pribadi dan negara-bangsa yang mencekik. Proses ini dapat dipercepat atau ditunda oleh serangkaian faktor, salah satunya adalah faktor subyektif. Akan ada banyak peluang bagi kelas pekerja untuk mengambil-alih kekuasaan, namun keberadaan sebuah kemungkinan tidak berarti bahwa potensi tersebut akan terwujud. Hal ini tergantung pada tindakan manusia, kemauan mereka untuk berjuang, dan kualitas pemimpin mereka. Kapitalisme berada dalam kondisi pembusukan yang nyata. Dekadensi kapitalisme yang sudah pikun menimbulkan ancaman yang mematikan bagi peradaban dan spesies manusia itu sendiri. Perpanjangan penderitaan berarti perpanjangan krisis, dengan segala dampak buruknya berupa keruntuhan ekonomi dan sosial, kemiskinan, pelecehan, perang, kematian, dan kehancuran dalam skala besar. Oleh karena itu, merupakan tugas kaum Marxis untuk berjuang menyingkirkan penderitaan umat manusia dengan melakukan segala yang mungkin untuk mempercepat proses revolusi, yang dapat mengakhiri penderitaan yang mematikan dari sistem yang sudah tua, busuk, dan terlampau membusuk. Dalam hal ini, kaum revolusioner yang sadar adalah agen-agen kebutuhan sejarah, sama seperti Ironsides-nya Oliver Cromwell, Jacobin Prancis, dan Bolshevik Rusia adalah agen-agen transformasi sosial yang diperlukan pada periode sebelumnya.”
“Persamaan informasi genetik dalam partai revolusioner adalah teori Marxis. Partai, meski kecil, harus memiliki kualitas yang diperlukan agar bisa berkembang. Kualitas menjelma menjadi kuantitas, namun kuantitas pada titik tertentu menjadi kaulitas. Partai massa menjadi salah satu faktor dalam situasi ini, dan tindakannya kini dapat mempengaruhi banyak orang. Ia akan mampu memimpin massa menuju kemenangan. Sejarah Partai Bolshevik sangat bermanfaat dalam hal ini. Tidak ada partai lain dalam sejarah yang pernah mencapai keberhasilan luar biasa dalam waktu yang relatif singkat, mengubah kelompok kader Marxis yang awalnya kecil dan terisolasi menjadi sebuah partai massa yang mampu melaksanakan revolusi sosial terbesar dalam sejarah. Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah betapa pentingnya teori yang selalu diberikan oleh Lenin dan Trotsky dan kerja serius dalam perspektif, taktik, dan strategi. Dalam analisis terakhir, inilah rahasia kesuksesan mereka. Sejak awal, Lenin selalu menekankan pentingnya teori. Dalam ‘What Is to Be Done?’, ia menulis: tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner. Gagasan ini harus kita tekankan dengan sangat kuat justru ketika hari ini dakwah oportunisme yang modis bersandingan dengan keranjingan terhadap bentuk-bentuk kegiatan praktis yang paling sempit’. Pentingnya metode dialektika sebagai landasan ilmiah bagi semua praksis revolusioner dijelaskan dengan cara yang cemerlang dalam otobiografi Trotsky, ‘My Life’: ‘belakangan perasaan supremasi yang umum terhadap yang khusus menjadi bagian integral dari karya sastra dan politik saya. Empirisme yang membosankan, pemujaan tanpa rasa malu dan ngeri terhadap fakta yang sering kali hanya khayalan, dan ditafsirkan secara salah, sangat menjijikan bagi saya. Di luar fakta, saya mencari hukum. Tentu saja, hal ini berulang kali membawa saya ke dalam generalisasi yang terburu-buru dan salah, terutama di masa muda saya ketika pengetahuan saya, perolehan buku, dan pengalaman hidup saya masih belum memadai. Namun dalam segala bidang, kecuali bidang yang tidak ada, saya merasa bahwa saya dapat bergerak dan bertindak hanya jika saya memegang benang sang jenderal. Radikalisme sosial-revolusioner yang telah menjadi poros permanen bagi seluruh kehidupan batin saya tumbuh dari permusuhan intelektual terhadap perjuangan untuk mencapai tujuan-tujuan kecil, terhadap pragmatisme yang sepenuhnya, dan terhadap segala sesuatu yang secara ideologis tidak-konkret dan secara teoritis tidak-tergeneralisasi’…. Tujuan kaum Marxis adalah memperjuangkan trasformasi sosialis dalam masyarakat di skala nasional dan internasional. Kami percaya bahwa kapitalisme telah lama kehilangan kegunaan historisnya dan telah berubah menjadi sistem yang sangat menindas, tidak-adil, dan tidak-manusiawi. Pengakhiran eksploitasi dan penciptaan tatanan dunia sosialis yang harmonis, berdasarkan rencana produksi yang rasional dan demokratis [di bawah kontrol kelas pekerja], akan menjadi langkah pertama dalam penciptaan bentuk masyarakat yang baru dan lebih tinggi di mana laki-laki dan perempuan akan berhubungan dengan kehendak mereka sendiri, sebagai manusia yang benar-benar bebas. Peran filsafat di zaman modern haruslah menjadi tugas yang mulia untuk memfasilitasi kerja-kerja untuk revolusi sosialis, memerangi gagasan-gagasan palsu, dan memberikan penjelasan rasional mengenai manifestasi-menifestasi paling penting di zaman kita, sehingga membuka jalan bagi perubahan mendasar dalam masyarakat.”
Namun “Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer” tidaklah mengemban tanggung jawab teoretis untuk mendukung kerja-kerja revolusioner. Pandangan dunia yang mendasari buku ini sangat destruktif. Kemiskinan dialektika membuat sudut pandang materialismenya menjadi sempit dan kasar. Ide-ide subyektivisme dan eklektisismenya merupakan salinan-buruk dari salinan-buruk Maoisme (Stalinisme): ‘dialektika materialis mengakui bahwa sebab eksternal merupakan “prakondisi” perubahan dan sebab internal adalah “basis” perubahan, serta bahwa sebab eksternal menjadi operatif melalui sebab internal’. Pengadopsian ajaran ini diparodikan dalam meditasi kontra-kartesian; di mana di balik premis-premis kontrakdiktifnya tersembunyi pandangan dunia yang menempatkan obyek pemikiran sebagai ‘prakondisi’ dan subyek yang berpikir dijadikan ‘basis’ yang mendasari atau menentukan: ‘karena kita tidak dapat membayangkan keberadaan kesadaran tanpa keberadaan tubuh material [basis perubahan] yang menjadi ‘locus ontologicus’ kesadaran tersebut, maka keberadaan realitas material [prakondisi perubahan] tidak menyaratkan keberadaan kesadaran. Realitas material itulah yang menjadi prakondisi atau panggung tempat drama kesadaran dimungkinkan [dapat dipahami—sesuatu untuk kita] atau sekaligus dibatasi [tidak dapat dipahami—sesuatu untuk dirinya sendiri]. Sehingga berpikir dengan metode materialisme dialektis berarti berangkat dari pengakuan atas realitas material yang eksternal [yakni: “alam” yang tidak-terhubungkan secara dialektis atau berelasi universal] terhadap kesadaran [“manusia”]’. Pendekatan macam ini seperti yang telah kami jelaskan: menggunakan logika formal, yang menggambarkan kesadaran sebagai cerminan ‘sempurna’ dari alam, dan oleh karenanya, keberadaan obyek pemikiran cukuplah ditunjukkan oleh keberadaan subyek yang berpikir tanpa menjelaskan keterhubungan dialektisnya. Pendekatan demikianlah yang dibayangkan oleh Martin mampu menjadi metode yang ‘menegaskan distingsi antara epistemologi dan ontologi: menetapkan demarkasi antara subyek dan obyek, sehingga membatasi proses kognisi atau keterhubungan timbal-balik yang ‘menyeluruh’ antara kesadaran manusia dengan dunia materialnya. Inilah mengapa dalam meditasi kontra-kartesian tentang kontradiksi subyek-obyek terdapat pernyataan ‘dimungkinkan atau sekaligus dibatasi’, yang berarti kesadaran ‘diragukan’ untuk dapat memahami realitas materialnya dengan sepenuh-penuhnya. Tinjauan itu, lagi dan lagi, secara prinsipil berlawanan dengan Marxisme. Lewat “Materialisme dan Empiriokritisisme”, Lenin berkata: ‘dalam teori pengetahuan, seperti halnya dalam semua cabang ilmu-pengetahuan lainnya, kita harus berpikir secara dialektis, yaitu kita tidak boleh menganggap pengetahuan kita sebagai pengetahuan yang dibuat-buat atau tidak dapat diubah, tetapi kita harus menentukan bagaimana pengetahuan muncul dari ketidaktahuan, bagaimana pengetahuan yang tidak lengkap dan akurat menjadi lebih lengkap dan akurat’. Dan pada “Excerpts on Lenin, Dialectics, and Evolutionism”, Trotsky juga ikut menerangkan bagaimana proses kognisi dari tingkatan yang lebih rendah menuju tingkatan yang lebih tinggi dalam hubungan-hubungan subyek-obyek dengan luar biasa hidup dan menggugat penyimpangan yang dengan sengaja dilakukan seabrek intelektual borjuis-kecil:
“Akal budi, yang terdapat pada evolusi bumi yang paling jauh, pada asal-usul tata-surya, dan pada perkembangan kehidupan organik di dalamnya, dan sebagainya, akan mampu mencakup proses-proses ini, bisa dikatakan demikian, karena sebab dialektis yang tetap ada sejak kelahirannya. Namun akal budi manusia kita adalah anak bungsu dari alam. Dalam ingatan manusia, alam tidak memberikan banyak gambaran tentang perubahan, melainkan siklus yang berulang, ‘[gerakan] kembali ke lintasannya’. Kemanusiaan itu sendiri merupakan rangkaian generasi yang berkelanjutan. Setiap generasi memulai pekerjaan kognisi yang sulit dalam arti tertentu mulai dari awal [dan ini tidak boleh dilebih-lebihkan]. Dalam batas-batas praktis sehari-hari manusia terbiasa berhadapan dengan benda-benda yang tidak berubah. Sebagai hasil dari [praktik] bawaan, yang diwariskan, dan teratomisasi ini, muncullah logika formal, yang memecah-mecah alam menjadi unsur-unsur yang otonom dan tidak berubah. Perkembangan pemikiran beralih dari logika vulgar ke dialektika hanya berdasarkan akumulasi pengalaman [kolektif] ilmiah, di bawah dorongan perkembangan sejarah (kelas)…. Keterkaitan antara kesadaran (kognisi) dan alam merupakan suatu ranah yang mandiri dan memiliki keteraturan tersendiri. Kesadaran membagi alam ke dalam kategori-kategori yang tetap dan dengan cara ini masuk ke dalam kontradiksi dengan kenyataan. Dialektika mengatasi kontradiksi ini … membawa kesadaran lebih dekat pada realitas dunia. Dialektika kesadaran (kognisi) dengan demikian bukan merupakan cerminan [yang sempurna: identitas—sesuatu yang diam dan tak-berubah] dari dialektika alam, namun merupakan hasil interaksi yang hidup antara kesadaran dan alam dan—di samping itu—sebuah metode kognisi, yang muncul dari interaksi itu. Karena kognisi tidak identik dengan dunia (terlepas dari postulasi idealis Hegel), kognisi dialektis tidak identik dengan dialektika alam. Kesadaran adalah bagian yang cukup orisinil, memiliki kekhasan dan keteraturan yang sama sekali tidak ada kesamaannya dengan bagian alam lainnya. Oleh karena itu, dialektika subyektif harus menjadi bagian dari dialektika obyektif—dengan bentuk dan keteraturannya yang khusus…. Dialektika kognisi menghubungkan kesadaran pada ‘rahasia’ alam, yaitu membantunya menguasai dialektika alam juga. Tapi dialektika alam terdiri dari apa? Di manakah demarkasi yang memisahkannya dari dialektika kognisi (sebuah ‘batas’ yang bimbang)?”
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
