Kategori
Teori

Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 6)

“Pertanyaan besar yang dihadapi umat manusia saat ini adalah: bagaimana menyelesaikan permasalahan masyarakat kapitalis? Marx dan Engels menggunakan materialisme dialektis untuk menunjukkan cara melakukan hal tersebut, dan membuktikan hanya kelas pekerja yang dapat memajukan masyarakat. Mereka yang menolak mengakui fakta ini, tidak dapat mengakui keabsahannya, sehingga perlu menggunakan kebingungan filosofis untuk melakukan hal tersebut. Sering kali, mereka bersembunyi di balik bentuk-bentuk idealisme subyektif untuk membenarkan hal ini, dengan alasan bahwa mempercayai kelas pekerja adalah hal yang naïf dan sederhana. Para kritikus empiris adalah seperti kaum reformis yang berpura-pura tidak berdiri di kedua sisi barikade, namun menginginkan rekonsiliasi di antara kelas-kelas yang bertikai. Dengan melakukan hal ini, mereka membantu melemahkan keyakinan ideologis kaum revolusioner dan dengan demikian membantu reaksi.” (International Marxist Tendency)

“Jika kita berani menyerukan kepada massa untuk melakukan perubahan revolusioner dalam masyarakat, kita memikul tanggung jawab yang sangat besar, yang harus kita pertimbangkan dengan sangat serius. Dan apakah teori kita, selain merupakan alat tindakan kita? Alat-alat ini adalah teori Marxis kami karena hingga saat ini kami belum menemukan alat yang lebih baik. Seorang pekerja tidak terlalu mahir dalam menggunakan peralatan—tapi jika itu adalah peralatan terbaik yang bisa dia dapatkan, maka dia akan berhati-hati dalam menggunakannya; dia tidak meninggalkannya atau menuntut alat-alat fantastis yang tidak ada.” (In Defence of Marxism)

Krisis dunia yang berlangsung sekarang merupakan titik balik dari keseluruhan situasi. Meskipun gerakan massa dikhianati oleh kepemimpinan reformis, hingga mendera kekalahan dan kemunduran, tetapi ledakan-ledakan peristiwa telah menyingkirkan kelembaman dan kepasifan dari periode sebelumnya. Pada tahap ini kaum buruh dan muda memasuki periode persiapan yang penuh gejolak dan perdebatan, dengan klarifikasi ide, perspektif, dan tugas-tugas perjuangan yang, cepat atau lambat, akan mendorong lapisan-lapisan sosial terluas ke dalam aktivitas-aktivitas politik. Sejak peristiwa-peristiwa Reformasi Dikorupsi, Mosi Tidak Percaya, Tolak Otsus Jilid II, sampai sekarang telah kita saksikan betapa banyak orang—yang sebelumnya kurang atau sama sekali tak-tertarik pada persoalan-persoalan politik—mulai bergerak turun ke jalan, berpartisipasi dalam gerakan massa, mengikuti forum-forum diskusi dan konsolidasi, hingga bergabung dengan organisasi-organisasi tertentu untuk menentang tatanan sosial-ekonomi yang sudah tidak dapat ditoleransi. Di pusat dan pelosok-pelosok daerah, kita melihat menjamurnya lingkaran-lingkaran pengorganisasian dan gerakan-gerakan dari angkatan-angkatan yang baru memasuki medan perjuangan kelas. Mereka membentuk sarikat-sarikat literasi, perpustakaan-perpusatakaan jalanan, dan kelompok-kolompok studi untuk menemukan teori-teori yang mampu menjawab persoalan-persoalan krisis kapitalisme secara memadai. Dalam kondisi inilah ide-ide anarkis, postmodernis, Stalinis, dan Marxis satu per-satu atau secara bersamaan dipelajari. Ini memang menunjukkan kebingungan, di mana aneka gagasan dicampur-aduk dan dipeluk untuk memandu perjuangan. Namun kecenderungan eklektisisme itu akan diatasi oleh pengalaman-pengalaman mereka yang dinamis. Kekeliruan-kekeliruan dari anarkisme, postmodernisme, Stalinisme, dan ketidakmungkinannya untuk dipadukan secara harmonis dengan Marxisme, cepat atau lambat, pasti terungkap melalui perjuangan-perjuangan yang konkret. Benturan-benturan antar-kelas, cambuk-cambuk reaksi, kelemahan-kelemahan kepemimpinan reformis dan sentris, hingga krisis dan perpecahan dalam organisasi dan gerakan massa—semuanya akan menenggelamkan elemen-elemen konservatif dan terdemoralisasi, tetapi mengangkat lapisan-lapisan yang paling maju dan sadar-kelas ke tingkat persatuan tertinggi di bawah panji revolusioner Marxisme yang sejati: Bolshevisme-Leninisme. 

Dalam organisasi dan gerakan massa hari ini, kekosongan kepemimpinan revolusioner diisi oleh pemimpin-pemimpin reformis dan sentris yang memandu perjuangan kelas dengan kebijakan-kebijakan dan orientasi-orientasi politik yang mengarah pada reaksi. Mereka menggelar mobilisasi, advokasi, kampanye, pendidikan politik dan perekrutan anggota, namun bukan untuk revolusi sosialis. Pada setiap kesempatan, analisa-analisa Marxis digunakan untuk mengkritik kapitalisme tapi lagi-lagi tidak pernah sampai ke kesimpulan untuk memperjuangkan kediktatoran proletariat. Mengapa? Marxisme yang mereka peluk adalah yang dipadukan dengan ide-ide yang berlawanan secara prinsipil. Di organ-organ propaganda, forum-forum politik, catatan-catatan perspektif dari organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan yang ada—ide-ide borjuis-kecil postmodernisme, anarkisme, Stalinisme, Maoisme dan Neo-Stalinisme didekati bukan untuk dikritik secara konsisten tapi dipadukan secara eklektis dengan pemikiran-pemikiran Marx, Engels, Lenin, bahkan Trotsky. Mereka menganggap aktivitas itu merupakan usaha mengembangkan Marxisme demi menyegarkan dan menemukan relevansinya dengan kondisi material baru pada periode terkini. Pada pengembangan teoretiknya, mereka mengaku bersepakat dengan prinsip pengetahuan Marxisme yang menempatkan praktik sebagai ujian terakhir dari setiap teori. Dalam mempelajari dan menerapkan teorinya, mereka menekankan pada urusan-urusan praktis-ekonomis untuk menguji kebenarannya. Pengujian ini dilakukan melalui aktivitas pengorganisasian dan gerakan sosial yang beragam, tetapi tidak untuk mempersiapkan kemenangan revolusi sosialis dengan membangun kepemimpinan revolusioner dan menetapkan kediktatoran proletariat sebagai orientasi perjuangannya. Marxisme merupakan filsafat tindakan yang tajam untuk perjuangan revolusioner, namun oleh mereka kandungan revolusionernya ditumpulkan begitu rupa.

Bagi mereka yang mencampur-adukan Marxisme dengan Maoisme (Stalinisme), maka penekanan Marx tentang praksis revolusioner untuk mengubah dunia direduksi menjadi praktik-praktik sempit. Demikianlah kebutuhan akan pembangunan partai revolusioner digantikan dengan pendirian front-front poluler atau demokratis dan kebutuhan akan kediktatoran proletariat digantikan dengan pembangunan-pembangunan basis. Tugas utama mereka adalah menjangkau massa dengan membangun basis-basisnya di antara mahasiswa, petani, buruh, rakyat miskin desa dan kota. Mereka berusaha memenangkan massa dengan tindakan-tindakan kultural dan edukatif yang berupa pengabdian kepada massa dan aktivisme lokal untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendesak rakyat dan melawan penindas-penindas lokal. Menurut mereka terdapat aneka taktik untuk memasukkan sosialisme ke dalam kehidupan massa: melakukan kerja-makan-tidur bersama kaum tani; menyelenggarakan liga olahraga mahasiswa dan kelas pekerja; memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak dan orang muda; mendirikan panggung kebudayaan dan mimbar-mimbar bebas, menyalurkan bantuan hukum dan kesehatan, mengagendakan pertemuan lingkungan, mendirikan koperasi, melancarkan kampanye, demonstrasi, copwatch, dan lebih banyak rupanya. Seperti kebingungan aktivis-aktivis Narodnik dahulu, pemuda-pemuda Stalinis dan Maois hari-hari ini menasbihkan ‘turun ke bawah’ sebagai strateginya dan ‘pergi ke massa’ sebagai slogannya. Kehadiran mereka di tengah-tengah massa tidaklah membangun kepemimpinan yang berguna untuk memberikan pemahaman teoretik dan meningkatkan level politik, tetapi menjadi ‘pelayan massa’ yang berfokus menyelesaikan isu-isu ekonomi yang bersifat reguler. Di kalangan Maois (dan Stalinis), praktik itu mereka gandrungi dengan berkiblat pada pemikiran Mao Zedong—“On Practice”:

“Kaum Marxis berpendapat bahwa praktik sosial manusia sajalah yang menjadi kriteria kebenaran pengetahuannya tentang dunia luar. Apa yang sebenarnya terjadi adalah pengetahuan manusia hanya ketika ia mencapai hasil yang diharapkan dalam proses praktik sosial (produksi materi, perjuangan kelas, atau eksperimen ilmiah). Jika seseorang ingin berhasil dalam pekerjaannya, yakni mencapai hasil yang diantisipasi, ia harus menyelaraskan ide-idenya dengan hukum dunia yang obyektif; jika tidak sesuai, ia akan gagal dalam praktiknya. Setelah ia gagal, ia akan menarik pelajarannya, mengutarakan gagasannya agar sesuai dengan hukum dunia luar, dan dengan demikian dapat mengubah kegagalan menjadi kesuksesan; inilah yang dimaksud dengan ‘kegagalan adalah ibu dari kesuksesan’ dan ‘jatuh ke dalam lubang, keuntungan bagi kecerdasan’. Teori pengetahuan dialektis-materialis menempatkan praktik pada posisi utama, berpandangan bahwa pengetahuan manusia sama sekali tidak dapat dipisahkan dari praktik dan menolak semua teori keliru yang mengingkari pentingnya praktik atau memisahkan pengetahuan dari praktik. Oleh karena itu, Lenin berkata, ‘Praktik lebih tinggi dari pengetahuan (teoretis), karena praktik tidak hanya mempunyai martabat universalitas, namun juga aktualitas langsung.’ Filsafat Marxis tentang materialisme dialektis memiliki dua karakteristik yang menonjol. Yang pertama adalah sifat kelasnya: ia secara terbuka mengakui bahwa materialisme dialektis melayani kaum proletar. Yang kedua: adalah kepraktisannya: menekankan ketergantungan teori pada praktik, menekankan bahwa teori didasarkan pada praktik dan pada gilirannya melayani praktik. Kebenaran suatu pengetahuan atau teori bukan ditentukan oleh perasaan subyektif, namun oleh hasil obyektif dalam praktik sosial. Hanya praktik sosial yang dapat menjadi kriteria kebenaran. Sudut pandang praktik merupakan sudut pandang utama dan mendasar dalam teori pengetahuan materialisme dialektis.”

“Marxisme-Leninisme [Stalinisme] berpendapat bahwa masing-masing dua tahap dalam proses kognisi memiliki karakteristiknya sendiri, dengan pengetahuan yang memanifestasikan  dirinya sebagai perseptual yang lebih rendah dan logis pada tahap yang lebih tinggi, namun keduanya merupakan tahapan dalam proses kognisi yang terintegrasi. Persepsi dan rasional secara kualitatif berbeda, namun tidak terpisahkan satu sama lain; mereka disatukan berdasarkan praktik. Praktik kami membuktikan bahwa apa yang dirasakan tidak dapat dipahami sekaligus dan apa yang dipahami dapat dirasakan lebih mendalam. Persepsi hanya memecahkan masalah fenomena; hanya teori yang dapat memecahkan masalah esensi. Penyelesaian mengenai kedua persoalan ini tidak lepas sedikitpun dari praktik. Siapapun yang ingin mengetahui suatu hal tidak dapat melakukannya kecuali dengan bersentuhan dengannya, yaitu dengan hidup (berlatih) di lingkungannya. Dalam masyarakat feodal, hukum-hukum masyarakat kapitalis tidak mungkin diketahui sebelumnya karena kapitalisme belum muncul, dan praktik yang relevan masih kurang. Marxisme hanya bisa menjadi produk masyarakat kapitalis. Marx, di era kapitalisme laissez-faire, tidak dapat mengetahui secara konkret hukum-hukum tertentu yang khas pada era imperialisme sebelumnya, karena imperialisme, tahap terakhir dari kapitalisme, belum muncul dan praktik yang relevan belum ada; hanya Lenin dan Stalin yang dapat melakukan tugas ini. Terlepas dari kejeniusan mereka, alasan mengapa Marx, Engels, Lenin dan Stalin dapat mengembangkan teori-teori mereka terutama mereka secara pribadi mengambil bagian dalam praktik perjuangan kelas dan eksperimen ilmiah pada masa mereka; tanpa kondisi ini, tidak ada orang jenius yang bisa berhasil … Jika Anda ingin mengetahui suatu hal atau suatu kelompok hal tertentu secara langsung, Anda harus secara pribadi ikut serta dalam perjuangan praktis untuk mengubah kenyataan, untuk mengubah hal atau kelompok hal tersebut, karena hanya dengan cara inilah Anda dapat berhubungan dengan hal-hal tersebut sebagai fenomena; hanya melalui partisipasi pribadi dalam perjuangan praktis untuk mengubah kenyataan, Anda dapat mengungkap esensi dari benda atau kelompok benda tersebut dan memahaminya. Ini adalah jalan menuju pengetahuan yang sebenarnya dilalui oleh setiap orang, meskipun beberapa orang, dengan sengaja memutarbalikkan persoalan, berpendapat sebaliknya.” 

“Pengetahuan rasional bergantung pada pengetahuan persepsi dan pengetahuan persepsi masih harus dikembangkan menjadi pengetahuan rasional—inilah teori pengetahuan materialis dialektis. Dalam filsafat, baik ‘rasionalisme’ maupun ‘empirisme’ tidak memahami sifat historis atau dialektis pengetahuan, dan meskipun masing-masing aliran ini mengandung satu aspek kebenaran (di sini saya mengacu pada materialis, bukan idealis, rasionalisme dan empirisme), keduanya salah dalam teori pengetahuan secara keseluruhan. Pergerakan pengetahuan materialisme dialektis dari persepsi ke rasional berlaku untuk proses kognisi kecil (misalnya, mengetahui satu hal atau tugas) serta untuk proses kognisi besar (misalnya, mengetahui seluruh masyarakat atau sebuah revolusi). Namun pergerakan pengetahuan tidak berakhir di sini. Jika gerakan pengetahuan materialisme dialektis berhenti pada pengetahuan rasional, maka hanya sebagian permasalahan yang dapat diatasi. Sejauh menyangkut filsafat Marxis berpendapat bahwa masalah yang paling penting bukanlah terletak dalam memahami hukum-hukum dunia obyektif dan dengan begitu menjadi sanggup untuk menerangkannya, namun pada penerapan pengetahuan tentang hukum-hukum ini secara aktif untuk mengubah dunia. Dari sudut pandang Marxis, teori itu penting, dan pentingnya teori ini diungkapkan sepenuhnya dalam pernyataan Lenin, ‘Tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner.’ Namun Marxisme menekankan pentingnya teori secara tepat dan hanya karena teori tersebut dapat mengarahkan tindakan. Jika kita mempunyai teori yang benar tetapi hanya berceloteh tentangnya, mengabaikannya dan tidak menanamnya, maka teori tersebut, betapapun betapapun bagusnya, tidak ada artinya. Pengetahuan dimulai dengan praktik, dan pengetahuan teoritis diperoleh melalui praktik dan kemudian harus kembali melalui praktik. Fungsi aktif pengetahuan terwujud tidak hanya dalam lompatan aktif dari pengetahuan perseptual ke pengetahuan rasional, namun—dan ini lebih penting lagi—ia harus terwujud dalam lompatan dari pengetahuan rasional ke praktik revolusioner … Marxisme-Leninisme [Stalinisme] dianggap benar bukan hanya karena hal tersebut dipertimbangkan ketika dirumuskan oleh Marx, Engels, Lenin dan Stalin, tetapi karena hal ini telah dibuktikan dalam perjuangan kelas revolusioner [revolusi proletar-sosialis] dan perjuangan nasional revolusioner [revolusi borjuis-demokratik]. Materialisme dialektis secara universal benar karena tidak mungkin ada orang yang bisa melepaskan diri dari wilayahnya dalam praktiknya. Sejarah pengetahuan manusia memberitahu kita bahwa kebenaran banyak teori tidak-lengkap dan ketidaklengkapan ini dapat diatasi melalui praktik. Banyak teori yang salah dan melalui praktiklah kesalahan-kesalahan tersebut dapat diperbaiki. Itulah mengapa praktik merupakan kriteria kebenaran dan mengapa ‘sudut pandang kehidupan, praktik, harus menjadi yang pertama dan mendasar dalam teori pengetahuan’. Stalin pernah berkata dengan baik, ‘Teori menjadi sia-sia jika tidak dihubungkan dengan praktik revolusioner, seperti halnya praktik meraba-raba dalam kegelapan jika pencahayaan tidak diterangi oleh teori revolusioner.’”

Dalam “Tesis Kedua tentang Feuerbach”, Marx menulis: ‘persoalan apakah kebenaran obyektif dapat dikaitkan dengan pemikiran manusia bukanlah pertanyaan teori tetapi pertanyaan praktis. Manusia harus membuktikan kebenaran itu—yaitu realitas dan daya, sifat duniawi dari pemikirannya. Perselisihan mengenai realitas dan non-realitas pemikiran yang terisolasi dari praktik adalah perkara yang murni skolastik’. Pemikiran merupakan ekspresi dari praktik dan pada gilirannya hanya dapat diuji kebenarannya lewat praktik. Dalam praktiklah manusia melakukan percobaan, menemui kegagalan dan keberhasilan, kesalahan dan kebenaran, hingga akhirnya semua elemen yang bersifat aksidental dan non-esensial dibuang, dan hal-hal mendasar diambil untuk dimasukan dalam tumpukan pengetahuan manusia. Kaum Maois (dan Stalinis) menaruh keyakinan bahwa mereka melancarkan aktivitas-aktivitas praktis untuk mengembangkan Marxisme seturut pengalaman-pengalaman langsungnya. Mereka mendatangi tempat-tempat penggusuran dan konflik agraria, membangun basis dengan mengorganisir kaum tani dan muda dalam serangkaian advokasi litigasi dan non-litigasi, memasarkan hasil-hasil panen dan membuat pupuk organik dalam skala lokal, dan sebagainya—semua ini diyakini untuk menguji kebenaran Marxisme melalui praktik. Namun bukan praktik-praktik inilah yang mempunyai martabat universalitas dan berpedomankan teori revolusioner seperti yang dimaksud Lenin. Dia tidak pernah memandang semua tradisi, metode, program dan perspektif perjuangan para aktivis—dalam menghadapi persoalan-persoalan dari masyarakat kelas—sebagai sesuatu yang revolusioner. Praktik bermartabat universalitas dan teori revolusioner hanyalah yang telah teruji dapat memajukan perjuangan kelas proletar. Pembangunan Partai Boslhevik adalah warisan historis terbesar—yang ditinggalkan oleh Lenin dan kamerad-kameradnya—untuk angkatan-angkatan politik proletariat yang ingin mengembangkan praktik dan teori revolusioner sebagai sebuah kesatuan yang harmonis. Membangun Kepemimpinan Bolshevisme merupakan upaya sadar dan terorganisir untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin revolusioner yang akan memainkan peran menentukan ketika momen revolusi tiba. Partai revolusioner adalah organisasi politik tertinggi yang memperjuangkan kepentingan kelas proletar secara menyeluruh. Keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya dan melalui penguatan keseluruhan berarti menguatkan bagian-bagian yang ada. Secara dialektis, dengan membangun Bolshevisme maka Lenin bukan saja mengajarkan Marxisme kepada kamerad-kameradnya tapi juga mendidik dirinya dengan Sosialisme Ilmiah—sebagai murid Rusia dari Marx dan Engels—dan menjadi revolusioner profesional. Dalam “Tesis Ketiga tentang Feuerbach”, Marx menjelaskan kesatuan teori dan praktik inilah yang dimaksud dengan praksis revolusioner:

“Doktrin materialis menyatakan bahwa manusia adalah hasil dari keadaan dan didikan, dan oleh karena itu, manusia yang berubah adalah hasil dari perubahan keadaan dan didikan, melupakan bahwa manusialah yang merubah keadaan dan pendidik itu sendirilah yang harus dididik. Oleh karena itu, doktrin ini pasti akan membagi masyarakat menjadi dua bagian, yang salah satunya adalah masyarakat yang lebih unggul. Perubahan keadaan dan aktivitas manusia atau perubahan diri yang terjadi secara bersamaan hanya dapat dipahami secara rasional sebagai praksis revolusioner.” 

Marxisme menyatakan bahwa praksis revolusioner bukan sebagai pilihan tambahan, melainkan inti dari materialisme dialektis. Praksis revolusioner bukanlah aktivitas akademis yang datar atau kerja-kerja aktivisme yang sempit, tetapi praktik untuk mengetahui, memahami, dan mengubah dunia secara revolusioner. Marx mengakui kalau kesadaran manusia tertinggal di belakang peristiwa dan berkembang secara tak-seragam. Dalam mengatasi kontradiksi ini praksis revolusionerlah yang diajukan. Oleh Lenin, praksis demikian disalurkan pada pembangungan Bolshevisme. Dalam membangun kepemimpinan revolusioner inilah Lenin tidaklah sekadar menyampaikan ‘tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner’, tetapi juga menambahkan bahwa ‘gagasan ini harus kita tekankan dengan sangat kuat justru ketika hari ini dakwah oportunisme yang modis bersandingan dengan bentuk-bentuk kegiatan praktis yang paling sempit’ dan ‘peran pejuang garda depan hanya dapat dipenuhi oleh sebuah partai yang dipandu oleh teori yang paling maju’. Sementara dalam organisasi-organisasi Maois (dan Stalinis), gerakan-gerakannya berpedoman pada teori-teori Marxis yang dicampur dengan ide-ide yang berlawanan secara prinsipil. Mao (dan Stalin) memang memberikan penekanan terhadap praktik, tetapi bukan untuk membela kebenaran-kebenaran Marxisme melainkan menyangkalnya secara subtil. Lewat “On Practice”, Mao menghimbau orang-orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas praktis dalam menemukan dan mengembangkan kebenaran. Pengalaman langsung merupakan prasyarat bagi setiap orang untuk memperoleh pengetahuan. Saat mengajarkan materialisme dialektis, Mao memberitahukan kepada murid-muridnya kalau setiap teori bersifat tidak-lengkap, mengandung kesalahan, dan perlu diperbaiki dengan praktik. Di akhir tulisannya itu ia menegaskan: ‘temukan kebenaran melalui praktik, dan melalui praktik, verifikasi dan kembangkan kebenaran. Bermula dari pengetahuan perseptual dan secara aktif mengembangkannya menjadi pengetahuan rasional; kemudian mulai dari pengetahuan rasional dan secara aktif memandu praktik revolusioner untuk mengubah dunia subyektif dan obyektif. Amalan, ilmu, amalan lagi, dan ilmu lagi. Bentuk ini berulang dalam siklus yang tiada habisnya, dan dengan setiap siklus, isi amalan dan pengetahuan meningkat ke tingkat yang lebih tinggi. Demikianlah keseluruhan teori pengetahuan dialektis-materialis, demikian pula teori dialektis-materialis tentang kesatuan pengetahuan dan perbuatan’. Kaum Marxis sepakat kalau praktik adalah hal yang esensial dalam teori pengetahuan. Dalam “Materialisme dan Empiriokritisisme”, Lenin tidak saja menerangkan bahwa ‘sudut pandang kehidupan, praktik, harus menjadi yang pertama dan mendasar dalam teori pengetahuan’ dan ‘semua upaya untuk memecahkan persoalan mendasar epistemologi tanpa bantuan praktik sebagai “skolastik” dan “kesalahan filosofis”, tetapi juga memerangi penekanan terhadap aktivitas-aktivitas praktis dengan memasukkan kriteria praktik:

“Pengetahuan dapat berguna secara biologi, berguna dalam praktik manusia, berguna untuk pelestarian kehidupan, demi pelestarian spesies, hanya jika hal itu mencerminkan kebenaran obyektif, kebenaran yang tidak bergantung pada manusia. Bagi kaum materialis, ‘keberhasilan’ praktik manusia membuktikan kesesuaian antara gagasan kita dan sifat obyektif dari hal-hal yang kita rasakan … Jika kita memasukkan kriteria praktik ini dalam landasan teori pengetahuan, kita pasti akan sampai pada materialisme, kata kaum Marxis…. Tentu saja, kita tidak boleh lupa bahwa kriteria praktik tidak akan pernah, pada hakikatnya, dapat membenarkan atau menyangkal ‘sepenuhnya’ gagasan manusia manapun. Kriteria ini juga cukup ‘tidak-terbatas’, tidak membiarkan pengetahuan manusia menjadi mutlak, namun pada saat yang sama pengetahuan tersebut pasti sudah cukup untuk melakukan perlawanan yang kejam terhadap segala bentuk idealisme dan agnostisisme. Jika apa yang ditegaskan oleh praktik kita adalah satu-satunya kebenaran yang hakiki dan obyektif, maka dari situ kita harus mengakui bahwa satu-satunya jalan menuju kebenaran ini adalah jalan ilmu-pengetahuan, yang mengandung sudut pandang materialis. Misalnya saja, Bogdanov bersiap untuk mengakui teori Marx tentang sirkulasi uang sebagai sebuah kebenaran obyektif hanya untuk ‘zaman kita’, dan berasumsi sebagai ‘dogmatisme’ untuk menganggap teori ini sebagai sebuah kebenaran ‘obyektif super-historis’. Ini lagi-lagi kekacauan. Kesesuaian teori ini dengan praktik tidak dapat diubah oleh keadaan apapun di masa depan … Namun sejauh kriteria praktiknya, yaitu arah perkembangan semua negara kapitalis dalam beberapa dekade terakhir, hanya membuktikan kebenaran obyektif dari seluruh teori sosial dan ekonomi Marx secara umum, dan bukan hanya satu atau beberapa bagian, formulasi, dan lain-lain … Satu-satunya kesimpulan yang dapat diambil dari pendapat kaum Marxis bahwa teori Marx adalah sebuah kebenaran obyektif, adalah bahwa dengan mengikuti jalur ‘teori’ Marxis kita akan semakin dekat dengan kebenaran obyektif (tanpa pernah kehabisan tenaga); tetapi dengan mengikuti jalan lain apapun, kita hanya akan sampai pada kebingungan dan kebohongan.”

Dalam tinjauan Marxisme mengenai pengetahuan, kebenaran akan tetap ada terlepas dari pikiran-pikiran setiap orang; kebenaran ada secara obyektif, tak-bergantung pada pikiran individu. Tanpa dipikirkan oleh manusia, kebenaran material selalu ada. Materi berdiri secara independen di luar pikiran manusia tapi hubungan antara subyek dan obyek tidaklah bersifat kontemplasi abstrak yang pasif, karena reaksi terhadap dunia material yang konkret berlangsung secara aktif melalui praktik. Manusia mengubah dunia dan dirinya lewat praktik tetapi bukan praktik-individual melainkan praktik-kolektif dalam hubungan-hubungan sosial-ekonominya. Berdasarkan pandangan materialisme dialektis terhadap perkembangan sejarah, masyarakat dan pemikirannya; praktik yang dapat dipikirkan secara rasional sebagai peranan manusia dalam mengubah dunia adalah praksis revolusioner, yang menekankan bahwa manusia adalah hasil dari ‘keadaan’ dan ‘didikan’, dan menganjurkan supaya ‘pendidik itu sendirilah yang harus dididik’ dengan pengetahuan-pengetahuan revolusioner. Hanya melalui praktik macam inilah manusia dapat mengembangkan pengetahuan, menemukan kebenaran obyektif dan mengatasi batasan-batasan subyektif. Sebuah pemikiran ilmiah merupakan hasil dari pemikiran-kolektif, bukan pemikiran-individual yang parsialistik. Manusia tidak saja berpikir menggunakan otaknya tetapi juga dengan seluruh inderanya. Pikiran merupakan keseluruhan aktivitas otak dan sistem saraf, yang secara dialektis keseluruhan ini lebih besar daripada bagian-bagiannya. Dan, pemikirannya bukanlah produk yang dihasilkan dari pengalaman-pengalaman yang terisolasi melainkan produk sosial yang menjadi bagian dari keseluruhan pengalaman manusia. Sehingga ide-ide rasional dan filosofis yang besar bukan merupakan produk pemikiran beberapa orang hebat saja, tetapi lebih jauh sebagai sebuah ekspresi tertinggi dari perkembangan pemikiran manusia dalam periode sejarah dan masyarakat tertentu—yang diatur oleh hukum-hukum material—yang bergerak dari bentuk-bentuk pemikiran yang lebih rendah ke pemikiran yang lebih tinggi—di mana setiap ide-ide yang benar pada masa lalu menjadi kurang-memadai seiring proses material yang terus berkembang, dengan kontradiksi-kontradiksi yang memicu gerak dan perubahan yang terus-menerus, dan menuntut supaya gagasan-gagasan lama digantikan oleh gagasan-gagasan baru tapi tanpa membuang inti-rasional dan esensi pemikiran terdahulu. Dalam “In Defence of Hegel”, Hamid Alezadeh menerangkan contoh perkembangan itu: 

“Aliran pemikiran Pythagoras, contohnya, terkenal dengan hasil-hasilnya dalam bidang matematika. Aliran ini percaya bahwa angka dan matematika adalah realitas dunia yang sebenarnya dan karenanya menyelidiki hubungan antara angka secara mendalam. Namun yang kurang diketahui umum adalah Pythagoras sebagai aliran sesat. Para anggotanya hidup di bawah peraturan yang sangat kekat dan, misalnya, tidak diperbolehkan makan daging atau kacang-kacangan. Mereka juga merupakan salah satu aliran pemikiran pertama yang mempercayai perpindahan jiwa dan kehidupan setelah kematian. Bahkan dapat dikatakan bahwa aliran Pythagoras merupakan salah satu pendiri idealisme filsafat. Idealisme adalah gagasan bahwa ide adalah komponen utama dunia kita, dan bahwa realitas material hanyalah cerminan dari gagasan tersebut. Semua agama termasuk dalam kategori ini dan semua idealisme pada akhirnya mengarah pada pemikiran keagamaan. Aliran Pythagoras pasti akan hancur. Upacara dan ritualnya yang tidak jelas dan mistis telah lama terlupakan. Namun, hampir tidak ada murid sekolah yang tidak diajarkan penemuan cemerlang mereka di bidang matematika. Faktanya, dapat dikatakan bahwa para pendiri idealisme filosofis ini juga merupakan pemikir pertama yang menyelidiki hubungan kuantitatif dan numeric secara sistematis. Namun perlakuan sistematis terhadap kuantitas yang dilakukan oleh aliran sesat itu sendiri—seperti yang sering terjadi pada kemajuan-kemajuan baru dalam sejarah gagasan—dibesar-besarkan, diputarbalikkan, dan diselimuti selubung mistis. Namun setelah kecenderungan mistisismenya hilang, ia menjadi landasan dalam semua bidang ilmu-pengetahuan manusia.”

Engels—dalam tulisannya tentang “Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy”—menjelaskan bahwa bagi materialisme dialektis ‘tidak ada yang final, mutlak, sakral. Ini mengungkapkan sifat sementara dari segala sesuatu dan dalam segala hal; tidak ada apapun yang dapat bertahan di hadapannya kecuali proses menjadi dan lenyap yang tak-terputus, peningkatan tanpa akhir dari yang rendah ke yang lebih tinggi. Dan filsafat dialektis itu sendiri tidak lebih dari sekadar refleksi proses ini dalam otak yang berpikir. Tentu saja, ia juga mempunyai sisi konservatif; ia mengakui bahwa tahap-tahap tertentu dalam perkembangan pengetahuan dan masyarakat dapat dibenarkan sesuai dengan waktu dan keadaannya; tapi hanya sejauh itu. Konservatisme cara pandang ini bersifat relatif; karakter revolusionernya bersifat mutlak—satu-satunya filsafat dialektis yang mutlak mengakui hal tersebut’. Inilah yang disangkal oleh Mao. Maoisme menetapkan sisi konservatif Teori Pengetahuan Marxis sebagai mutlak dan sisi revolusionernya sebagai relatif. Demikianlah dijelaskannya bahwa perkembangan kesadaran manusia adalah bertahap: dimulai dari tahap ‘pengetahuan-perseptual’ menuju tahap ‘pengetahuan-rasional’. Sesampai pada pengetahuan-rasional inilah Mao memperkirakan kesadaran akan ‘melompat menuju praktik revolusioner’. Berdasarkan keyakinan akan tahapan-tahapan ini bukan saja perkembangan kesadaran manusia yang didekati secara kuantitatif, melainkan pula praktik-praktiknya ikut dilaksanakan secara bertahap—tahap pertama: dimulai dari aktivitas-aktivitas praktis untuk mendapatkan pengetahuan-perseptual dan pengetahuan-rasional; tahap kedua: segera setelah memperoleh pengetahuan rasional barulah bergerak menuju praktik revolusioner. Berlandaskan ajaran inilah kaum Maois (dan Stalinis) membangun organisasi dan gerakannya. Mereka memandang perkembangan kesadaran revolusioner yang dinamis berlangsung secara kuantitatif dan tahap-tahap perjuangan kelas revolusioner yang organis berlangsung secara mekanik.

Pada kenyataannya kesadaran revolusioner tidak berkembang dalam melalui tahapan-tahapan melainkan dengan lompatan-lompatan yang dipicu oleh situasi obyektif. Secara umum, pikiran manusia menolak perubahan tapi konservatismenya bersifat relatif. Kaum Marxis menjelaskan ini sebagai ‘mekanisme pertahanan-diri psikologis’ yang mendalam, berakar dari hasrat untuk mempertahankan hidup, dan diwarisi dari masa lalu yang jauh, di mana ingatan-ingatan terhadapnya telah terhapus dalam pikiran manusia tapi meninggalkan bekas di alam bawah sadarnya. Dan, di tengah krisis kapitalisme yang mendalam dengan kontradiksi yang semakin tajam, yang menggoncang sendi-sendi kehidupan sosial-ekonomi dengan ledakan-ledakan perang dan revolusi, kesadaran yang selama ini tertinggal di belakang peristiwa akan mengejar secepat kilat; kesadaran yang sebelumnya berkarakter konservatif akan berubah menjadi revolusioner dalam hitung jam bahkan menit. Ketika permukaan tanah tercabik-cabik oleh gempa bumi, angin topan, banjir hujan dan guntur politik; orang-orang pasti berlarian kesana-kemari, diselimuti pertanyaan-pertanyaan hidup dan mati, hingga terdorong meninggalkan kepercayaan-kepercayaan lamanya untuk mencari ide-ide baru yang dapat menjelaskan apa yang terjadi dan bagaimana mengatasi peristiwa yang sedang dihadapinya secara memadai. Dalam perang dan revolusi, laki-laki dan perempuan belajar lebih cepat dan kesadarannya berkembang tanpa berimprovisasi dengan tahap-tahap seperti yang digariskan Mao. Di masa-masa pra-revolusioner atau pra-revolusioner, kesadaran bahkan dapat didorong mengejar ketertinggalannya apabila terdapat kaum revolusioner yang terus-menerus melancarkan agitasi-propaganda dan edukasi politik revolusioner. Kerja-kerja pembangunan Bolshevisme adalah sebuah praksis revolusioner yang mampu mengatasi elemen inersia dalam perjuangan massa; dengan membangun kepemimpinan revolusioner maka orang-orang akan dibangunkan dari tradisi dan rutinitas sehari-hari yang membelenggu benaknya dan membatasi pangetahuannya terhadap kebenaran obyektif yang ada di luar pikirannya.

Hanya jangkauan kaum revolusioner terhadap massa bukan saja dipengaruhi oleh perimbangan kekuatan kelas dan perkembangan situasi secara menyeluruh, tetapi juga kemampuan dalam memberikan ekspresi yang terorganisir dan sadar pada gerakan yang ada. Kemampuan ini tidaklah diperoleh tiba-tiba. Kemampuan ini takkan mungkin dengan cekatan diinterupsi selama hari-hari revolusi. Sebab, kemampuan ini hanya bisa diperoleh dengan mempersiapkan kepemimpinan revolusioner jauh-jauh hari. Inilah kemampuan yang perlu dipelajari dan dikembangkan sebelum ledakan raksasa itu tiba. Trotsky mengingatkan: ‘ketika peristiwa-peristiwa terjadi dengan cepat, sebuah partai yang lemah dapat dengan cepat tumbuh menjadi partai yang perkasa asalkan partai tersebut memahami dengan jelas arah revolusi dan memiliki kader-kader yang kuat, tidak mabuk dengan slogan-slogan, dan tidak ketakutan menghadapi ancaman-ancaman penganiayaan. Namun partai seperti itu harus ada sebelum revolusi, karena proses mendidik kader memerlukan waktu yang cukup lama dan revolusi tidak akan menyediakan waktu yang dibutuhkan’. Di Rusia, pada Februari 1917, Partai Bolshevik hanya memiliki 8.000 anggota. Selama momen Revolusi Oktober, berdasarkan kebijakan teori, perspektif, dan kebijakan yang tepat, keanggotaannya meningkat drastis jadi 250.000. Demikianlah kemenangan revolusi proletariat itu tak-terpikirkan tanpa partisipasi aktif dari kelas pekerja. Dan, di tengah perjuangan kelas yang intens, ‘kelas revolusioner’ memerlukan ‘partai revolusioner’ sebagai kendaraan politiknya dan ‘kepemimpinan revolusioner’ untuk memandu perjuangannya. Massa terhisap dan tertindas ‘Soviet’, ‘Partai Bolshevik’ dan ‘Kepemimpinan Bolshevisme’ Lenin dan kamerad-kameradnya merupakan tiga unsur kesatuan dialektis yang menjadi kunci keberhasilan revolusi sosialis itu, yang pada momen perubahan sejarah, peran yang paling menentukan dilimpahkan di pundak kepemimpinannya. Sepanjang Februari sampai Revolusi Oktober, kehadiran kepemimpinan revolusioner menjadi syarat penentu dalam melewati tahap-tahap perjuangan kelas yang berbeda-beda dan bergeser dengan cepat: dari Revolusi Februari, Tesis April, Hari-Hari Juli, Pemberontakan Kornilov, hingga Penyerbuan Istana Musim Dingin dan Kongres Soviet Kedua. Dengan melewati tahapan-tahapan ini, logika perjuangan kelas (materialisme dialektis) bukanlah menggabungkan atau memisahkan Revolusi Februari dan Revolusi Oktober secara mekanik tapi menguraikannya secara dialektis; dengan menyingkap hubungan-hubungan kelas dalam pertempuran kekuatan-kekuatan material yang hidup dan merefleksikan pancarannya dalam otak manusia yang berpikir, hingga menerangkan kontradiksi inheren yang memicu gerak dan perubahan yang terus-menerus dari tingkatan yang lebih rendah ke tingkatan yang lebih tinggi secara organis. Demikianlah penerapan materialisme dialektis dalam sejarah (materialisme historis), yakni untuk menganalisa Revolusi Rusia, memandang bahwa kemenangan Revolusi Oktober takkan pernah terpikirkan tanpa pengalaman-pengalaman perjuangan kelas dari periode-periode sebelumnya. Dalam ‘Kata Pengantar’ untuk “Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi—Jilid III: 1914-1917”, Ted Sprague menjelaskannya:

“Pada 7 November (25 Oktober) 1917, tepat 106 tahun yang lalu, dunia menyambut kemenangan Revolusi Sosialis yang pertama di Rusia. Kemenangan megah Revolusi Oktober kerap membuat banyak orang lupa bagaimana sebenarnya kemenangan ini dipersiapkan dengan kerja-kerja bersahaja yang panjang. Ini seperti seorang yang terkagum oleh foto pendaki Gunung Everest yang telah mencapai puncaknya, tetapi melalaikan langkah-langkah persiapan dalam pendakian yang harus dilakukan. Sebelum memulai pendakian Gunung Everest, seorang harus menghabiskan satu sampai dua tahun untuk melatih kekuatan fisik, emosi dan psikologi. Pendaki juga harus terlebih dahulu mengumpulkan banyak pengalaman mendaki gunung-gunung es lainnya yang lebih rendah. Pendeknya, di balik setiap capaian-capaian besar ada kerja-kerja kecil yang tak-terlihat. Tidak ada jalan pintas ke Everest, apalagi ke kemenangan Revolusi Sosialis. Semua yang telah dilalui oleh kaum Marxis Rusia, perjalanan panjangnya dari sebuah lingkaran kecil yang tidak lebih dari hitungan jari di tangan, kerja gigih membangun partai revolusioner, jatuh bangunnya yang getir, polemic-polemik teori yang tajam yang membuat kawan jadi lawan, semua ini telah mempersiapkan mereka untuk satu momen besar, yaitu Revolusi 1917. Semua gagasan dan organisasi menemui ujian besar dalam revolusi, dan Bolshevisme menemukan pembenaran historisnya dalam kemenangan Revolusi Oktober. Kemenangan ini bukanlah sebuah proses yang otomatis, yang bergerak dalam satu garis lurus. Pembaca yang telah mendedikasikan waktu dan energinya menelusuri jejak-langkah sejarah Bolshevisme akan menemukan persis demikian. Jalan ini panjang berkelok-kelok, dengan langkah maju besar yang sering disusul oleh langkah mundur, dengan masa stagnan yang panjang yang lalu disusul dengan lompatan pesat dan ledakan-ledakan besar. Mustahil untuk memahami Revolusi Oktober bila kita tidak mempelajari keseluruhan sejarah Partai Bolshevik.”

“Langkah persiapan pertama yang dilakukan kaum Marxis Rusia untuk meniti jalan kemenangan adalah meletakkan fondasi gagasan Marxisme. Kerja ini dimulai oleh Plekhanov dengan segelintir kameradnya pada periode awal gerakan Marxis, yaitu pada 1880-1890an. Berbekal hanya pena, mereka mengkaji secara mendalam problem teori dalam gerakan dan menjawab kebuntuan gagasan-gagasan Narodnisme dan Anarkisme yang awalnya mendominasi gerakan revolusioner Rusia. Mereka menjabarkan secara komprehensif filsafat Marxisme dan perspektif revolusi untuk Rusia…. Setelah teori fondasi telah dikukuhkan, langkah persiapan selanjutnya adalah membangun organisasi di atasnya. Gagasan sebaik apapun tidaklah berguna bila tidak memiliki aparatus organisasi yang bisa menghubungkannya dengan massa dan gerakan. Inilah tugas yang lalu diemban oleh kaum Bolshevik, terutama oleh Lenin. Pergulatan untuk membangun organisasi revolusioner menjadi perhatian terutama kaum Bolshevik di periode selanjutnya. Kontradiksi-kontradiksi kapitalisme yang tak-tertanggungkan mendorong selapisan kaum buruh dan muda untuk mengambil jalan perjuangan. Beragam organisasi perjuangan—serikat buruh, serikat tani, organisasi pelajar, organisasi perempuan, dan sebagainya—terbentuk sebagai kendaraan perjuangan rakyat dalam melawan kapitalisme. Tetapi di periode awal, semua kekuatan perlawanan ini masih tercerai-berai. Tidak cukup hanya memiliki banyak aktivis yang bergerak sendiri-sendiri. Tidak cukup hanya dengan organisasi-organisasi perjuangan yang berserakan. Mereka harus dihimpun ke dalam satu organisasi revolusioner yang profesional, yang tersatukan dalam satu panji dan ideologi bersama, dengan kedisiplinan baja yang bisa memusatkan kekuatan demi menghantarkan pukulan besar. Inilah peran partai revolusioner. Namun, ini bukan berarti persatuan tanpa prinsipil demi menyatukan sebanyak mungkin orang. Dari masa-ke-masa ini kesalahan yang kerap dilakukan banyak orang. Pada tahapan awal pembangunan partai revolusioner, kaum Menshevik menginginkan bentuk organisasi yang longgar: siapapun yang setuju sedikit saja dengan program partai dapat bergabung, dan tidak ada kewajiban untuk bekerja secara disiplin di bawah arahan partai. Sebaliknya kaum Bolshevik menuntut organisasi yang rapat, dengan anggota yang setuju sepenuhnya dengan Marxisme dan bekerja secara disiplin di bawah arahan partai. Bentuk organisasi yang didambakan oleh Menshevik memang akan tampak lebih besar, tetapi terkandung di dalamnya adalah elemen-elemen yang goyah dan bimbang. Revolusi sosialis tidak akan bisa dimenangkan dengan elemen-elemen seperti itu. Sebaliknya bentuk organisasi Bolshevik menyatukan elemen-elemen yang paling kokoh, walaupun awalnya mungkin hanya merekrut satu dua. Hasilnya terlihat selama Revolusi 1917. Sementara Menshevik goyah ketika dihadapkan dengan momen revolusi dan akhirnya menyerah pada tekanan borjuis, kaum Bolshevik berdiri teguh dan berhasil menyediakan kepemimpinan revolusioner bagi buruh dan tani dan menuntunnya ke kemenangan Revolusi Oktober.”

“Pada akhirnya, kemenangan Revolsi Oktober hanya bisa dijamin dengan keberadaan kepemimpinan revolusioner Bolshevik. Tanpanya rakyat pekerja Rusia sudah pasti akan digiring oleh borjuasi liberal dan kaum reformis ke kekalahan. Dengan kepemimpinan revolusioner, kita bukan berbicara mengenai satu dua pemimpin kharismatik, ataupun demagog populis. Yang kita maksud adalah partai revolusioner yang berlandaskan ide, program, metode, dan tradisi Marxisme. Partai semacam ini tidak bisa diimprovisasi selama revolusi. Ia harus dibangun dan dipersiapkan jauh hari…. Partai revolusioner tidak menciptakan revolusi, karena revolusi diciptakan bukan oleh partai atau individu, sehebat apapun mereka. Revolusi diciptakan oleh kapitalisme itu sendiri, oleh kontradiksi-kontradiksi tak-tertenggungkan dalam sistem ini yang akhirnya mencapai titik loncatan kualitatif, yang mendorong massa luas menyeruak masuk ke panggung sejarah. Tetapi masuknya massa di panggung sejarah tidak menjamin kemenangan akhir. Tugas partai revolusioner adalah menyediakan massa revolusioner dengan organisasi, disiplin, kesatuan, dan program yang lengkap, yang dibutuhkan untuk memenangkan revolusi, karena hal-hal ini bukanlah sesuatu yang bisa diimprovisasi oleh massa selama periode revolusi yang singkat…. Sepanjang sejarah, rakyat pekerja telah menunjukkan kesediaan dan keberanian mereka untuk berjuang melawan kapitalisme. Lagi dan lagi mereka menempuh jalan revolusi untuk mengambil nasib ke tangan mereka sendiri. Selama 15 tahun terakhir, semenjak krisis finansial 2008 yang telah mengekspos kebangkrutan kapitalisme, kita saksikan pemberontakan-demi-pemberontakan massa dalam skala dan kecepatan tanpa preseden meledak silih-berganti. Namun keberanian, inisiatif, dan kreativitas massa yang penuh inspirasi ini tidak mampu memenuhi tugas akhirnya: perebutan kekuasaan revolusioner. Faktanya sederhana, tenaga revolusioner massa ini menguap sia-sia tanpa organisasi yang mampu mengolahnya, tanpa kepemimpinan revolusioner yang bisa memahami gerak kesadaran kelas yang dialektis dan memberinya ekspresi politik yang terorganisir. Generasi muda hari ini harus mempelajari sejarah perjuangan proletariat yang begitu kaya itu [Sejarah Pembangunan Bolshevik] agar dapat menuntaskan tugas yang telah dimulai oleh para pendahulunya: mengakhiri penindasan manusia atas manusia dan membuka jalan ke tatanan masyarakat sosialis di seluruh dunia.”

Dalam “Komunisme Sayap Kiri; Sebuah Penyakit Kekanak-Kanakan”, Lenin menyampaikan bahwa Bolshevime lahir ‘atas dasar yang paling teguh dari teori Marxisme’ dan telah dibuktikan tidak hanya oleh pengalaman perjuangan rakyat pekerja sedunia selama abad-abad terakhir tapi ‘terutama sekali oleh pengalaman-pengalaman kesesatan-kesesatan dan kebimbangan-kebimbangan, kesalahan-kesalahan dan kekecewaan-kekecewaan dari pikiran revolusioner di Rusia. Selama hampir setengah abad—kira-kira dari tahun 1840-an sampai dengan 1890-an abad yang lalu—pikiran yang maju di Rusia, yang ditindas oleh tsarisme yang tak ada bandingan kejam dan reaksionernya, dengan haus mencari teori revolusioner yang benar di negeri seberang dan setiap “kata terakhir” dalam lapangan ini di Eropa dan Amerika diikutinya dengan ketekunan dan ketelitian yang mengagumkan. Rusia memperoleh Marxisme, sebagai satu-satunya teori revolusioner yang benar, “dengan melalui penderitaan” yang sesungguhnya, dengan mengalami siksaan dan pengorbanan yang tak ada taranya, heroisme revolusioner yang tak ada bandingnya, energi yang luar biasa, penyelidikan dengan sepenuh tenaga, studi, praktik percobaan, kekecewaan, ujian dan perbandingan dengan pengalaman di Eropa selama setengah abad’. Marxisme adalah ilmu tentang hukum fundamental yang mengatur perkembangan sejarah, masyarakat dan pemikirannya. Dengan memahami hukum-hukum inilah kaum Bolshevik tidak sekadar mampu melihat posisinya dalam sejarah, tetapi juga dapat memainkan peran dan mengemban tugas revolusioner dalam perkembangan historis. Teori Marxis merupakan landasan analisis, perspektif, program, dan partisipasi aktif terhadap realitas. Dalam menempuh perjuangan kelas revolusioner, pemahaman teoretik mengenai hukum-hukum dunia material dan apa yang diperjuangkan Marxisme menempati posisi sentral. Semuanya jelas berlawanan dengan pemikiran Mao yang menegaskan kalau penerapan pengetahuan akan tujuan dan hukum-hukum itulah yang justru paling penting. Pada kenyataannya, seseorang takkan pernah mampu menerapkan pengetahuannya tanpa terlebih dahulu memahami apa yang diketahuinya. Pemahaman terhadap sesuatu menjadi prasyarat sebelum memperjuangkannya. Dalam membangun Bolshevisme dan memandu Soviet-Soviet Buruh dan Prajurit, Lenin dan kamerad-kameradnya menekankan itu.

Dalam menaklukan dan mengembangkan Marxisme, Lenin tidak pernah menyerukan kameradnya berimprovisasi untuk menciptakan teori-teori baru berdasarkan pengalaman-pengalaman langsung mereka masing-masing. Guna memahami Marxisme, Lenin, Trotsky, dan kamerad Bolshevik lainnya memang menempatkan praktik untuk menguji ketepatan pengetahuannya terhadap dunia di luar pikirannya. Tetapi praktik-praktiknya adalah berlandaskan teori Marxis yang sudah terbukti keobyektifannya sepanjang sejarah. Demikianlah praktik yang pertama dan mendasar yang dilakukan oleh Lenin dan kamerad-kameradnya—lagi-lagi bukanlah aktivitas-aktivitas praktis yang sempit melainkan praksis revolusioner; di mana transformasi sosial secara mendasar diperjuangkan berdasarkan panduan materialis, yakni mengakui peran manusia dalam sejarah dengan menekankan pada perubahan keadaan dan didikan, dan mengharuskan ‘pendidik untuk dididik’ dengan teori yang benar. Namun Mao Zedong mempelajari Marxisme dan menguji kebenaran pengetahuannya bukan dengan mendasarkan dirinya pada praksis revolusioner, melainkan improvisasi-improvisasi yang menyangkal kesatuan teori dan praktik revolusioner yang konsisten dan sistematis. Mao lebih mementingkan persoalan praktis ketimbangan pemahaman teoretik. Orang-orang dihimbaunya untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas praktis demi memperoleh pengalaman langsung daripada mengikuti pendidikan politik atau mendalami literatur Marxis. Aktivis Maois (dan Stalinis) dipandu untuk mencari pengetahuan dan mengembangkan kebenaran berdasarkan pengalaman langsungnya masing-masing. Dengan penekanan ini Marxisme—sebagai teori yang paling maju dan secara prinsipil telah teruji kebenarannya dalam perjuangan kelas revolusioner—bukannya mendapatkan pengembangan yang memadai melainkan vulgarisasi yang beracun. Maoisme menyerukan kepada orang-orang untuk menyangkal teori-teori ilmiah dan filosofis terdahulu karena di dalamnya pasti terkandung kesalahan; sebagai gantinya, orang-orang harus melandasi kehidupannya pada doktrin Maois, yang menekankan pada aktivitas praktis untuk memperoleh pengalaman langsung dan menasbihkan pengalaman langsung itu sebagai satu-satunya hal yang harus ditaklukan untuk sampai pada pengetahuan sejati. Dalam “On Practice”, Mao menulis begini:

“Semua pengetahuan sejati berasal dari pengalaman langsung. Namun seseorang tidak bisa mempunyai pengalaman langsung terhadap segala hal; padahal sebagian besar pengalaman kita berasal dari pengalaman tidak-langsung, misalnya semua pengetahuan dari masa lalu dan negeri asing. Bagi nenek moyang kita dan orang asing, pengetahuan semacam itu … adalah hasil pengalaman langsung, dan pengetahuan ini dapat diandalkan jika dalam pengalaman langsung mereka melewati “abstraksi ilmiah”, yang dibicarakan oleh Lenin adalah—atau—tercapainya kenyataan obyektif diungkapkan secara ilmiah, jika tidak maka kenyataan tersebut tidak dapat diandalkan. Oleh karena itu, pengetahuan manusia hanya terdiri dari dua bagian, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman langsung dan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman tidak-langsung. Apalagi pengalaman tidak-langsung bagi saya adalah pengalaman langsung bagi orang lain. Oleh karena itu, jika dilihat secara keseluruhan, pengetahuan apapun tidak dapat dipisahkan dari pengalaman langsung. Semua pengetahuan berasal dari persepsi terhadap dunia di luar pikirannya melalui organ indera fisik manusia. Siapapun yang menyangkal persepsi tersebut, menyangkal pengalaman langsung, atau menyangkal partisipasi pribadi dalam praktik yang mengubah kenyataan, bukanlah seorang materialis.”

Pandangan materialis menunjukkan kalau persepsi, pemikiran, perasaan, kehendak, sensasi, dan kesadaran adalah nyata. Apa yang disangkal oleh materialisme adalah ketika seseorang membayangkan pikirannya sebagai sesuatu yang terpisah dari tubuhnya. Pikiran adalah cerminan yang tidak sempurna dari dunia material independen yang diorganisir dengan cara tertentu, yang takkan mungkin dipisahkan dari tubuh material karena merupakan keseluruhan dari aktivitas indera, saraf dan otak; yang secara dialektis keseluruhan lebih besar dari jumlah bagian-bagian yang ada—inilah mengapa pikiran sekaligus menjadi produk tertinggi dari materi yang berpikir. Manusia memperoleh pengetahuannya dengan berinteraksi dengan kehidupan nyata di luar dirinya: orang-orang dan lingkungan alam dengan segala materi yang menyusunnya. Engels mengatakan: ‘semua gagasan diambil dari pengalaman, merupakan refleksi—benar atau menyimpang—dari kenyataan’. Dengan kata lain, Engels mengingatkan: pengalaman tidak saja menjadi sumber pengetahuan tetapi juga setiap pengalaman, yakni refleksi terhadap ‘kenyataan’, bisa ‘benar atau menyimpang’. Sementara tugas ilmu-pengetahuan dan filsafat Marxis adalah mencari kebenaran, bukan kebohongan dan kepalsuan. Materialisme dialektis adalah teori pengetahuan yang mengharuskan seseorang untuk bergerak dari pengalaman langsung tentang penampakan menuju penemuan esensi dan hukum-hukum yang mendasar. Dialektika tidak berhenti mendekati benda-benda dan peristiwa untuk memperoleh fakta, informasi dan data-data, namun lebih jauh mengungkap hubungan-hubungan mendalam dan proses-proses umum maupun khusus yang tersembunyi di balik realitas. Marxisme memandang pengalaman langsung sebagai pengetahuan perseptual yang harus dilewati dalam memperoleh pengetahuan rasional dan kesadaran revolusioner. Namun dalam proses ini metode dialektis tidak pernah menetapkan perkembangan pengetahuan atau kesadaran secara bertahap, gradualis atau evolusioner. Dalam “Anti-Duhring”, Engels mengakui universalitas konsepsi Hegel tentang ‘hubungan garis ukur nodal’: ‘di mana pada titik nodal tertentu, peningkatan atau penurunan kuantitatif murni menimbulkan lompatan kualitatif: misalnya, dalam kasus air panas, di mana titik didih dan titik beku adalah titik di mana pada tekanan normal terjadi lompatan keadaan agregasi baru, dan akibatnya kuantitas berubah menjadi kualitas’. Ini berlaku terhadap semua benda dan fenomena yang ada di alam, dalam perkembangan sejarah, masyarakat, dan pemikiran manusia. Hegel berkata:

“Suatu perkembangan yang tampaknya mengulangi tahap-tahap yang telah dilalui, namun mengulanginya secara berbeda, pada landasan yang lebih tinggi (negasi dari negasi), suatu perkembangan, bisa dikatakan, dalam spiral, bukan dalam garis lurus; perkembangan yang pesat, bencana, revolusi; terputusnya kontinuitas; transformasi kuantitas menjadi kualitas; dorongan internal perkembangan, yang ditimbulkan oleh kontradiksi dan konflik dari berbagai kekuatan dan kecenderungan yang bekerja pada suatu tubuh tertentu, atau dalam fenomena tertentu, atau dalam suatu masyarakat tertentu: saling ketergantungan dan hubungan yang paling dekat dan tidak dapat dipisahkan dari semua sisi dari setiap fenomena (sementara sejarah sejarah terus-menerus menyingkapkan sisi-sisi yang baru), suatu hubungan yang memberikan suatu proses gerak universal yang seragam, diatur oleh hukum, demikianlah beberapa ciri dialektika sebagai doktrin perkembangan yang lebih kaya (daripada doktrin biasa).”

Hukum-hukum materialisme dialektis bersifat imanen. Ini tidak saja berlaku di alam semesta secara umum tapi juga dalam perkembangan pengetahuan yang merupakan bagian dari fenomena dunia material. Leon Trotsky menjelaskan: ‘menganggap bahwa ada seperangkat hukum yang berlaku pada kesadaran manusia dan ada seperangkat hukum yang sama sekali berbeda bagi alam—seperti yang ditegaskan oleh beberapa ‘Marxis’ masa lalu—berarti memandang dunia secara dualistis dan bukan secara materialistis’. Mengenai pemikiran Mao dalam “On Practice”, yang memandang perkembangan pengetahuan secara bertahap dan menuding ‘setiap orang’ yang menyangkal pengalaman langsung sebagai non-materialis tanpa memperhatikan apa motif penyangkalannya—Trotsky, dalam “The ABC of Materialist Dialectics” menyampaikan pandangannya: ‘[kami] menyebut dialektika kami materialis karena akarnya tidak terletak pada surge atau kedalaman “kehendak bebas” [kami], melainkan pada realitas obyektif, pada alam. Kesadaran, tumbuh dari ketidaksadaran, psikologi dari fisiologi, dunia organik dari anorganik, tata surya dari nebula. Pada semua anak tangga perkembangan ini, perubahan-perubahan kuantitatif ditransformasikan menjadi kualitatif. Pemikiran kita, termasuk pemikiran dialektis, hanyalah salah satu bentuk ekspresi perubahan materi. Dalam sistem ini tidak ada tempat bagi Tuhan, iblis, jiwa abadi, maupun norma-norma hukum dan moral yang abadi. Dialektika pemikiran, yang tumbuh dari dialektika alam, akibatnya memiliki karakter yang sepenuhnya materialis’. Pada “Anti-Duhring”, Engels menegaskan: ‘meskipun terjadi bertahap, transisi dari satu bentuk gerakan ke bentuk gerakan lainnya selalu merupakan suatu lompatan, suatu perubahan yang menentukan’. Hegel menjelaskan: ‘bila dikatakan tidak ada lompatan yang tiba-tiba di alam, dan merupakan gagasan umum bahwa segala sesuatu berasal dari peningkatan dan penurunan bertahap. Tetapi ada juga yang disebut transformasi mendadak dari kuantitas ke kualitas. Misalnya saja, air tidak menjadi keras perlahan-lahan saat didinginkan, mula-mula menjadi lembek dan akhirnya menjadi keras seperti es, tetapi langsung berubah menjadi keras. Jika suhu diturunkan sampai derajat tertentu, air tiba-tiba berubah menjadi es, yaitu kuantitas—jumlah derajat suhu—diubah menjadi kualitas—suatu perubahan dalam sifat benda tersebut’. Di titik tertentu perubahan-perubahan kuantitatif yang berlangsung di dalam dan di luar benda—yang tak-terlihat dengan mata telanjang—secara keseluruhan terakumulasi dan mengubah benda secara kualitatif. Dengan kata lain, perbedaan kuantitas menimbulkan perubahan kualitas—yang ditandai terputusnya kesinambungan evolusi oleh krisis, revolusi, dan lompatan—yang mengarah pada kemunculan sesuatu yang baru dan secara kualitatif berbeda dari yang sebelumnya. 

Demikian pula perkembangan kesadaran manusia—dari ‘pengetahuan perseptual’ ke ‘pengetahuan rasional’ dan ‘praktik revolusioner’—tak-terpikirkan tanpa berlangsungnya lompatan-lompatan dialektis dari kuantitas ke kualitas. Namun dalam mencapai titik ini seseorang tidak cukup menenggelamkan dirinya dalam aktivitas-aktivitas praktis untuk memperoleh pengalaman-pengalaman langsung. Massa yang berdasarkan pengalamannya merefleksikan sesuatu takkan pernah dapat menghindarkan dirinya dari penyimpangan-penyimpangan tertentu tanpa mempunyai kepemimpinan yang memandunya dengan teori yang paling maju. Ini berarti dalam memperoleh pengetahuan sejati takkan mungkin bertumpukan aktivitas praktis atau praktik sempit, tetapi haruslah melakukan praksis revolusioner yang memandang perkembangan kesadaran sebagai hasil dari perubahan ’keadaan’ dan ’didikan’ dan menekankan pentingnya ‘pendidik untuk dididik’. Dengan kata lain, praksis revolusioner adalah praktik politik untuk mengembangkan pengetahuan dengan cara mempersiapkan calon-calon pendidik atau pemimpin revolusioner masa depan. Namun praksis demikian tidak dapat dipahami secara formalistik, yakni dalam mendidik para pendidik dengan cara memenangkan ‘hegemoni intelektual’ selangkah-demi-selangkah, dengan terlebih dahulu menaklukan sekolah, universitas, surat kabar, televisi dan alat-alat publisitas yang ada untuk mendidik massa. Praksis revolusioner tidak sekadar memperhatikan keberadaan faktor subyektif tapi juga perkembangan-perkembangan sosial-ekonomi yang obyektif pada periode tertentu. Dalam masa-masa yang relatif tenang dan damai, orang-orang memperoleh beragam pengalaman langsung lewat aktivitas sehari-harinya: bekerja, mengadvokasi, berdemonstrasi, dan sebagainya. Kaum buruh yang bekerja banting-tulang dengan menjual kemampuan kerja mereka tidaklah memiliki waktu-luang yang memadai untuk mengembangkan kebudayaan tersendiri. Inilah mengapa pembelajaran utama mereka bukanlah dari buku-buku dan forum-forum diskusi tapi pengalaman-pengalaman regulernya semata. Melalui pengalaman hidup sehari-hari massa memperoleh pengetahuan perseptual mengenai situasi di sekitar. Namun mereka tidaklah secara langsung sampai pada pengetahuan rasional dan kesimpulan revolusioner.

Selama waktu yang panjang perkembangan kesadaran berlangsung lamban dan kurang-terekspresikan melalui gerakan massa. Belajar dari pengalaman-pengalaman harian dapat membuka mata orang-orang akan buruknya sistem sosial, pemerintahan, dan kehidupan mereka: lamanya waktu-kerja, upah murah, kesenjangan, korupsi, pelanggaran HAM, dan beragam bentuk eksploitasi dan penindasan merupakan fakta-fakta yang dapat dilihat dengan mata telanjang dan menjadi pengetahuan umum di antara rakyat pekerja. Selama masa-masa normal, semua itu dapat diterima oleh mayoritas orang yang terhisap dan tertindas di bawah sistem yang ada. Secara umum, rutinitas sehari-hari dan tradisi masa lalu membelenggu kesadaran massa. Namun di antara berbagai lapisan massa terdapat heterogenitas kesadaran, yang membagi mereka menjadi lapisan berkesadaran terbelakang dan lapisan berkesadaran terdepan. Pada periode yang relatif tenang dan damai, jumlah garda depan sangat sedikit ketimbang yang terbelakang. Ini menjadi tugas kaum revolusioner untuk menemukan para pejuang garda depan dan mendorong mereka ke arah Marxisme. Keberadaan massa seperti genangan air yang terdiri dari kumpulan molekul dengan energi kinetik berbeda-beda, di mana beberapa molekulnya mengandung energi kinetik yang cukup untuk menguap secara tidak disengaja. Ketidaksengajaan ini bisa dimaklumi dari sudut pandang bagian selama hubungan-hubungan dan hukum-hukum mendasar yang mengatur perkembangan sejarah, masyarakat dan pemikirannya belum dipahami. Namun dalam pandangan Marxis tentang pembangunan keseluruhan apa yang menjadi kebetulan merupakan bagian dari kebutuhan. Marxisme mendasarkan dirinya pada determinisme dialektis yang mengakui kesatuan antara kebetulan dan kebutuhan, yang melihat dunia material sebagai sebuah kesatuan dan menerangkan bahwa segala benda maupun fenomena yang ada mengikuti hukum sebab-akibat yang berlaku secara obyektif. Materialise dialektis meninjau segala sesuatu tidaklah secara sepihak, melainkan dalam kontradiksi-kontradiksi benda dan fenomena yang terus bergerak. Engels berkata: ‘apa yang dianggap perlu hanyalah terdiri dari kecelakaan, dan apa yang disebut kebetulan adalah bentuk yang di baliknya ada kebutuhan tersembunyi’. Di alam, ketika atmosfer sosial dipanaskan oleh peristiwa maka laju penguapan akan meningkat drastis hingga tiada tersisa air sama sekali. Demikian pula dalam perang dan revolusi, di tengah perjuangan kelas yang intens, massa teradikalisasi begitu rupa dan lapisan-lapisan terlembam ditarik memasuki medan perjuangan politik. Di periode inilah kesadaran yang sudah lama berada di bawah permukaan menerobos ke atas dengan mengambil bentuk ledakan perjuangan massa yang kesadarannya tak-berkembang secara bertahap tetapi menyambar secepat kilat. Situasi material yang berubah menentukan perkembangan tersebut. Di tengah perubahan situasi yang tajam, kesadaran akan mengejar ketertinggalannya melalui lompatan-lompatan dialektis. Itulah momen di mana pembelajaran dipercepat oleh fenomena luar biasa dan kesadaran yang sebelumnya konservatif berubah jadi radikal bahkan revolusioner. Namun perkembangan kesadaran itu tidaklah otomatis dan berjalan lurus. Perubahan ‘keadaan’ dalam perang dan revolusi memang mendorong massa untuk belajar lebih cepat, namun tanpa mendapatkan ‘didikan’ atau intervensi yang memadai dari kaum revolusioner maka takkan ada jaminan bahwa orang-orang akan berhasil menarik kesimpulan revolusioner untuk memenangkan perjuangan kelas. Dalam “Marxism or Anarchism?—An Open Letter to Thinking Anarchists”, Alan Woods menulis:

“Kelas pekerja tidak secara otomatis dan secara massal sampai pada kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Jika demikian, maka tugas membangun partai akan menjadi mubazir. Tugas mentransformasi masyarakat akan menjadi tugas yang sederhana jika pergerakan kelas pekerja berlangsung dalam garis yang lurus. Namun hal ini tidak terjadi. Selama periode sejarah yang panjang, kelas pekerja mulai memahami perlunya organisasi. Melalui pembentukan organisasi-organisasi, baik yang berbentuk serikat buruh maupun, pada tingkat yang lebih tinggi, yang bersifat politik, kelas pekerja mulai mengekspresikan dirinya sebagai sebuah kelas, dengan identitas independen. Dalam bahasa Marx, ia berpindah dari kelas ‘dalam dirinya sendiri’ ke kelas ‘untuk dirinya sendiri’. Perkembangan ini terjadi dalam periode sejarah yang panjang melalui berbagai macam perjuangan, yang melibatkan partisipasi tidak hanya dari minoritas aktivis yang kurang-sadar, namun juga dari ‘massa yang tidak-terdidik secara politik’, yang, pada umumnya, tersadarkan untuk berpatisipasi aktif, dalam kehidupan politik (atau bahkan dalam serikat buruh) hanya berdasarkan peristiwa-peristiwa besar. Seperti yang telah kita lihat, kelas pekerja pada umumnya belajar dari pengalaman, khususnya pengalaman perjuangan kelas. Banyak pekerja yang telah melalui pemogokan: mereka telah mengetahui kemenangan dan kekalahan serta sudah mengambil pelajarah tertentu dari pengalaman mereka. Oleh karena itu, pekerja militan yang berpengalaman memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk mengorganisir dan memimpin pemogokan. Mereka tidak memerlukan nasihat—baik Marxis atau anarkis—untuk menjalankan fungsi ini. Namun, jika menyangkut situasi revolusioner, pertanyaannya diajukan secara berbeda. Berapa banyak pekerja yang pernah mengalami pemogokan umum besar-besaran? Tidak terlalu banyak. Namun pemogokan umum tidak sama dengan pemogokan biasa. Ini menentang aturan borjuis secara langsung. Siapa yang menjalankan masyarakat: para bos atau para pekerja? Dengan kata lain, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kekuasaan. Oleh karena itu, pemogokan umum tidak dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti pemogokan biasa. Biasanya hal ini akan berakhir—dengan perebutan kekuasaan oleh kelas pekerja atau kekalahan telak…. Kaum kapitalis bisa menunggu selama yang diperlukan untuk mengalahkan pemogokan umum, namun kemampuan buruh untuk bertahan hidup tanpa bayaran, tanpa makanan untuk keluarga mereka, mempunyai batas yang pasti. Jika pemogokan berlangsung terlalu lama tanpa penyelesaian, maka mood buruh akan mulai menurun dan pemogokan akan dikalahkan. Bahkan serangan yang paling dahsyat sekalipun tidak dapat menyelesaikan masalah kekuasaan. Kita melihat hal ini dengan jelas di Perancis pada bulan Mei 1968, di mana pemogokan umum terbesar dalam sejarah berakhir dengan kekalahan. Dan ini justru merupakan masalah sifat kepemimpinan. Menyerang suatu sistem adalah suatu hal, dan dengan melakukan hal tersebut untuk sementara waktu melumpuhkannya, adalah hal yang berbeda jika mengatur tugas yang rumit dan terperinci untuk membubarkan pemeritahan lama, menyetujui bagaimana pemerintahan tersebut harus diganti, dan kemudian mengorganisir pertahanan sistematik terhadap suatu rezim sosial yang baru. Tanpa organisasi politik yang jelas, yang dapat dilihat oleh kelas pekerja dan mengusulkan langkah-langkah konkret seperti itu, pemogokan umum yang revolusioner akan gagal dan rezim lama akan mendapatkan kembali kendalinya.”

Kesadaran yang melompat maju, cepat atau lambat, akan berbalik mundur apabila tidak ada kepemimpinan yang mampu memberinya ekspresi terorganisir dan mempertahankannya untuk memajukan perjuangan kelas. Orang-orang yang mengikuti pemogokan umum, apalagi demonstrasi, mimbar bebas, advokasi, atau bahkan pembangunan basis takkan mungkin dengan sendirinya mencapai tingkat pengetahuan yang lebih tinggi tanpa adanya kepemimpinan yang memandunya dengan menekankan pada praksis revolusioner yang dipandu oleh teori yang paling maju. Demikianlah pengetahuan atau kesadaran manusia tidaklah berkembang secara bertahap. Aktivitas praktis untuk mendapat pengalaman langsung memang memberi seseorang pengetahuan, namun perkembangannya menuju pengetahuan rasional dan kesimpulan revolusioner bukanlah dengan menumpuk-numpuk pengetahuan perseptual. Tanpa perubahan ‘keadaan’ dan ‘didikan’—yang menekankan hubungan antara situasi obyektif dan syarat subyektif—maka manusia takkan pernah sampai pada tingkat pengetahuan tertinggi. Doktrin Maois tentang “Praktik” tidaklah menekankan persoalan itu. Walaupun Mao menuliskan kalau teori pengetahuannya mengakui ‘lompatan aktif’ dalam perkembangan pengetahuan manusia, tetapi proses dari tahap pertama (pengetahuan perseptual ke pengetahuan rasional) menuju tahap kedua (dari pengetahuan rasional ke praktik revolusioner) secara praktis memandu orang-orang untuk mengabaikan dialektika dari perkembangan kesadaran yang fleksibel dan hidup. Seperti yang diterangkan Engels dalam kritiknya untuk Ludwig Feuerbach bahwa ‘tahap-tahap tertentu dalam perkembangan pengetahuan dan masyarakat’ itu ‘bersifat relatif’. Demikian pula proses kognisi Maois—yang memulai dari pengetahuan perseptual ke pengetahuan rasional (tahap pertama) dan dari pengetahuan rasional ke praktik revolusioner (tahap kedua)—adalah relatif. Setiap perkembangan mempunyai unsur kuantitatif, namun ini hanya berlaku pada periode tertentu; karena ketika perubahan kuantitatif telah sampai di titik kritis maka akan terjadi lompatan maju secara kualitatif, sehingga hal-hal baru—yang sama sekali berbeda dari yang sebelumnya—terlahir dari rahim hal-hal lama. 

Perkembangan pengetahuan dan masyarakat secara bertahap hanya berlaku untuk ‘waktu dan keadaan’ yang terbatas, dan oleh karena itu, tidaklah mutlak: dalam situasi normal, kesadaran akan bergerak lamban dari pengetahuan perseptual ke pengetahuan rasional; dalam situasi perang dan revolusi, kesadaran akan bergerak cepat menjadi radikal dan revolusioner. Engels menegaskan bahwa pengakuan akan tahap-tahap (karakter evolusioner) merupakan ‘sisi reaksioner’ dan pengakuan akan ‘karakter revolusioner’ adalah ‘prinsipil’ bagi materialisme dialektis. Marxisme tidak menerima ‘kebenaran abadi’ dalam bentuk apapun. Menggunakan sudut pandang dialektika, kontradiksi antara kebenaran dan kesalahan bersifat relatif. Kebenaran dan kesalahan saling berpindah-pindah; apa yang benar pada tempo dan konteks tertentu menjadi salah pada tempo dan konteks lainnya—ini tidaklah berlaku untuk setiap kondisi; terdapat pengecualian terhadap aturan itu. Namun ketika teori lama telah menunjukkan kelemahan maka mestilah dijelaskan guna mengembangkan teori baru yang dapat mengatasi kelemahannya. Pengembangan bukanlah bermaksud meniadakan kandungan teori yang lama secara membabi-buta, tetapi untuk menyelamatkan inti-rasional dan esensial dari teori yang lama dengan mengangkat dan memasukannya ke dalam teori yang baru. Tetapi dalam pengembangan teoretik, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman langsungnya semata; seseorang membutuhkan metode analisa yang tentunya berasal dari teori tertentu. Dalam “On Practice”, Mao menekankan kepada orang-orang supaya mencari kebenaran dengan melakukan aktivitas-aktivitas praktis dan melandaskan pengetahuannya dari pengalaman-pengalaman langsung. Secara individual, manusia mampu membentuk konsepsi—elemen dasar pemikirannya—berdasarkan pengetahuan perseptual akan lingkungan di sekitarnya yang terbatas, tidak-lengkap, dan berat-sebelah. Namun secara historis, manusia telah menciptakan pemikiran-pemikiran besar yang merupakan ekspresi tertinggi dari kecerdasan sosial pada periode tertentu. Marxisme adalah pemikiran ilmiah dan filosofis yang merupakan produk pengalaman kolektif: praktik sosial-ekonomi dan perjuangan kelas pekerja sepanjang sejarah. Inilah arti ketika Marxisme menyatakan dirinya sebagai pemikiran yang mendasarkan pengetahuannya pada pengalaman manusia. Dalam ‘Pengantar’ untuk bukunya Lenin “Materialisme dan Empiriokritisme”, Alan Woods berkata:

“…berpikir harus dilihat bukan sebagai aktivitas yang terisolasi … sebagai bagian dari keseluruhan pengalaman manusia, aktivitas indera manusia, dan interaksi dengan dunia dan orang lain. Hal ini harus dilihat sebagai bagian dari interaksi permanen yang kompleks, bukan sebagai aktivitas terisolasi yang secara mekanis disandingkan dengannya. Ketika kami mengatakan bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengelaman, itu sama sekali tidak berarti pengalaman pribadi saya, tetapi mencakup seluruh pengalaman kolektif manusia dalam kurun waktu ratusan ribu tahun…. Sehubungan dengan hal ini, Trotsky menulis sesaat sebelum pembunuhannya [oleh agen rahasia Stalinis], ‘”Kami tidak tahu apa-apa tentang dunia ini kecuali apa yang diberikan oleh pengalaman.” Hal ini benar jika seseorang tidak memahami pengalaman dalam pengertian kesaksian langsung dari panca indera individu kita. Jika kita mereduksi materi menjadi pengalaman dalam pengertian empiris yang sempit, maka mustahil untuk mencapai penilaian apapun tentang asal-usul spesies atau, terlebih lagi, tentang pembentukan kerak bumi, Mengatakan bahwa dasar dari segala sesuatu adalah pengalaman berarti mengatakan banyak atau tidak sama sekali. Pengalaman adalah hubungan aktif antara subyek [individu] dan obyek [universal]. Menganalisa pengalaman di luar kategori ini, yakni di luar lingkungan material obyektif penyelidik yang melakukannya dan, dari sudut pandang lain, merupakan bagian dari lingkungan tersebut—melakukan hal ini berarti melarutkan pengalaman ke dalam unit yang tidak berbentuk, di mana tidak ada obyek maupun subyek, yang ada hanyalah rumusan mistik dari pengalaman. “Eksperimen” atau “pengalaman” semacam itu hanya terjadi pada bayi dalam kandungan ibunya, namun sayangnya bayi ini kehilangan kesempatan untuk mencapai kesimpulan ilmiah dari eksperimennya.’ Hanya pengalaman kolektiflah yang memungkinkan kita untuk memahami tentang dunia, membuat penilaian ilmiah dan akurat atas informasi yang kita terima melalui indera kita, dan menarik kesimpulan yang memungkinkan kita membuat prediksi yang benar tentang dunia fisik dan masyarakat. Oleh karena itu, pengetahuan tidak terbatas pada lingkup sempit persepsi indera individu, karena untuk memahami informasi yang terbatas yang diperoleh dari pengalaman individu, saya harus mengandalkan sejumlah besar informasi yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk abstraksi teoritis.”

Di “On Practice” gagasan-gagasan dari ‘Marx, Engels, dan Lenin’ diakui oleh Mao sebagai teori yang memandu perjuangannya, tetapi pada praksisnya ‘Marxisme tradisional’ tidaklah diberi kesempatan untuk memandu praktik-praktik yang ada dan memajukan perjuangan massa. Maoisme memandang kalau semua teori mengandung kesalahan dan ukuran kebenaran pengetahuan manusia terhadap dunia di luar dirinya hanyalah aktivitas praktis untuk mendapatkan pengalaman langsung, dan oleh karena itu, seruan Maois tentang praktik mengarahkan seseorang untuk mengabaikan Marxisme sekaligus menekankan pada pengumpulan pengalaman-pengalaman langsung dalam mengembangkan kebenaran-kebenaran baru. Mao membayangkan kalau tahap perkembangan pengetahuan yang dituliskannya berlaku untuk setiap keadaaan dan waktu. Atas keyakinan naïf inilah orang-orang dibebaskan untuk menyangkal kebenaran Marxisme dengan melakukan improvisasi-improvisasi yang begitu rupa. Dipandu oleh ide-ide Maois (dan Stalinis), praktik dilakukan bukan untuk menegakkan Marxisme tapi menenggelamkannya dalam kubangan pengalaman langsung yang berpretensi untuk menemukan teori-teori baru tanpa mempertahankan inti-rasional dan esensial dari teori yang lama. Meskipun dalam tulisannya mengenai “Praktik”, Mao menegaskan bahwa ‘pergerakan pengetahuan manusia belum selesai. Setiap proses baik dalam ranah alam mupun masyarakat, maju dan berkembang karena adanya konflik dan perjuangan internal, perkembangan manusia juga harus maju dan berkembang seiring dengan itu’ dan ‘dalam era perkembangan masyarakat saat ini, tanggung jawab untuk mengetahui dan mengubah dunia dengan benar telah dilimpahkan oleh sejarah ke pundak proletariat dan partainya’, namun sedari awal doktrin Maois tidaklah menekanan untuk menempuh perjuangan kelas revolusioner dengan mengumpulkan para pejuang garda depan untuk membangun kepemimpinan yang dipandu oleh teori yang paling maju, karena yang pertama-tama dan utama adalah mengarahkan perjuangannya pada aktivitas-aktivitas praktis yang secara tak-terelakkan menolak Marxisme dan Bolshevisme-Leninisme.

Materialisme dialektis mengakui bahwa kontradiksi merupakan faktor utama yang mendorong gerak dan perubahan dalam sejarah, masyarakat dan pemikirannya. Dalam mengatasi kontradiksi antara pikiran dan dunia di luarnya, ide dan realitas, teori dan praktik bukanlah dengan berimprovisasi dan memutar jarum jam menuju tahap-tahap perkembangan yang telah dilewati sebelumnya tapi membawanya untuk berkembang ke tingkatan selanjutnya. Inilah salah satu hukum dialektika: negasi dari negasi—di mana pergerakan, perubahan, dan perkembangan bergerak melalui serangkaian negasi yang tiada terputus, dengan menyingkirkan unsur-unsur irasional dan non-esensial dari masa lalu dan mempertahankan inti-rasional dan esensialnya untuk dilestarikan pada saat yang bersamaan menjadi sesuatu yang baru. Kemajuan dicapai melalui serangkaian kontradiksi yang mendorong pergulatan terus-menerus antara bentuk dan isi, hingga mengakibatkan hancurnya bentuk lama dan berlangsungnya transformasi isi. Dan, keseluruhan prosesnya digambarkan sebagai sebuah spiral—di mana gerakan kembali pada posisi semula namun berada di tingkat yang lebih tinggi. Dalam teori Maois tentang pengetahuan, orang-orang diarahkan bergerak mengulang dari awal namun di tingkat yang lebih rendah. Di tangan Mao, materialisme dialektis yang menekankan pada praksis revolusioner dalam membangun partai yang dipandu oleh teori yang paling maju digantikan dengan aktivitas praktis untuk mendapatkan pengalaman langsung dan mengembangkan teori mutakhir tanpa mendasarkan diri pada Marxisme tradisional yang memegang teguh prinsip penghapusan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi dan internasionalisme proletariat dalam menempuh perjuangan untuk revolusi sosialis dunia. Marxisme yang sejati, yakni Bolshevisme-Leninisme—yang dikembangkan oleh Lenin dan Trotsky dengan mendalami pemikiran Marx dan Engels di zaman imperialis—menetapkan perebutan kekuasaan oleh kelas proletar sebagai strategi politik, yang diperjuangkan dengan membangun kepemimpinan revolusioner Bolshevik untuk menegakkan kediktatoran proletariat. Sementara Marxisme yang diajarkan Mao (dan Stalin) mengukuhkan revolusi dua-tahap menjadi strateginya dan pembangunan Pemerintahan Front Populer—yang mengkolaborasikan antara partai proletariat dan partai borjuis—sebagai kebijakannya. Teori macam ini tercipta bukan berpedomankan Marxisme tradisional; Maoisme (dan Stalinisme) tidak menekankan pentingnya mendasarkan diri pada pengalaman-pengalaman perjuangan kelas internasional yang telah diabstrasikan oleh Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky menjadi teori revolusioner, melainkan pengalaman-pengalaman langsung yang embrional dan perseptual di negerinya untuk dikembangkan begitu rupa menjadi teori baru yang secara tak-terelakkan mengabaikan signifikansi Marxisme sebagai teori termaju yang tak-tersangkal kebenarannya.

Lenin pernah berkata: ‘Marxisme mahakuasa karena ia benar. Teori Marxis komprehensif dan harmonis, dan memberikan manusia pandangan dunia yang integral, dan tidak dapat didamaikan dengan segala bentuk takhayul, reaksi, atau pembelaan terhadap keberadaan borjuis’. Namun lewat “On Practice”, Mao Zedong menunjukkan keraguannya dengan menjelaskan kalau ‘semua teori mengandung kesalahan’, dan oleh karena itu, harus diuji keabsahannya melalui tindakan untuk mendapatkan pengalaman langsung sebagai ‘kriteria kebenaran pengetahuan manusia atas dunia di luar pikirannya’. Namun Marxisme bukanlah ekspresi dari pemikiran individual yang terbatas dalam usia biologis, ruang lingkup dan pengalaman harian manusia, tetapi merupakan ekspresi tertinggi dari pengalaman-pengalaman perjuangan kelas yang bersifat kolektif dan politis sepanjang sejarah. Marxisme adalah pemikiran rasional, ilmiah dan filosofis yang secara dialektis telah melompati pengetahuan-pengetahuan perseptual. Dalam membuktikan keabsahan teori Marxis, seseorang tidak secara otomatis dapat melakukan pengujian yang memadai tanpa terlebih dahulu memahaminya. Pemahaman teoretik adalah prasyarat yang harus dipenuhi sebelum mengembangkan kebenaran Marxisme. Inilah yang disangkal Mao. Dalam tulisannya, ia berkata: ‘sejauh menyangkut filsafat Marxis berpendapat bahwa masalah yang paling penting bukanlah terletak dalam memahami hukum-hukum dunia obyektif dan dengan begitu menjadi sanggup untuk menerangkannya, namun pada penerapan pengetahuan tentang hukum-hukum ini secara aktif untuk mengubah dunia’. Bahkan seruan Maoisme untuk ‘bermula dari pengetahuan perseptual dan secara aktif mengembangkannya menjadi pengetahuan rasional; kemudian mulai dari pengetahuan rasional dan secara aktif memandu praktik revolusioner untuk mengubah dunia subyektif dan obyektif. Amalan, ilmu, amalan lagi, dan ilmu lagi’—ini merupakan panduan untuk membuang Marxisme ke tong sampah sejarah dan memulai penyimpangan yang memalukan rupanya. Maoisme mengabaikan kalau Marxisme tidak sekadar mengarahkan pandangannya untuk mengungkap proses yang tersembunyi dan mendasar di balik realitas tapi juga mengembangkan pengetahuan dari tingkat yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi dengan menyerap inti-rasional dan esensial dari pemikiran terdahulu dan menggunakannya sebagai titik keberangkatan dalam penyelidikannya. Teori Pengetahuan Maois tidaklah memperhatikan apa yang disampaikan Engels—dalam “Ludwig Feurbach and the End of Classical German Philosophy”—secara seksama, yang menegaskan akhir dari metode analisa metafisik yang cenderung empiris-subyektif dan menganjurkan penggunaan metode analisa ilmiah yang sistematis dan dialektis. Engels menulis:

“Metode penyelidikan dan pemikiran klasik yang disebut Hegel ‘metafisik’, yang lebih memilih untuk menyelidiki hal-ihwal sebagai sesuatu yang sudah ada, sebagai sesuatu yang tetap dan stabil, sebuah metode yang peninggalannya masih sangat menghantui pikiran orang-orang, mempunyai banyak pembenaran sejarah pada zamannya. Adalah penting untuk terlebih dahulu memeriksa berbagai hal sebelum memungkinkan untuk memerika proses-prosesnya. Seseorang harus mengetahui terkait suatu benda benda tertentu sebelum dapat mengamati perubahan yang dialaminya. Demikian pula halnya dengan ilmu pengetahuan alam. Metafisika lama yang menyelidiki sesuatu sebagai benda yang sudah selesai, muncul dari ilmu pengetahuan alam yang menyelidiki hal-ihwal mati dan hal-ihwal hidup sebagai benda jadi. Namun ketika penyelidikan ini telah berkembang sedemikian jauh sehingga menjadi mungkin untuk mengambil langkah maju yang menentukan, yaitu meneruskan penyelidikan sistematis terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di alam itu sendiri, maka saat-saat terkahir metafisika lama tiba … Faktanya, meskipun ilmu pengetahuan alam hingga akhir abad yang lalu sebagian besar merupakan ilmu pengumpulan, ilmu tentang benda-benda jadi, di abad kita ilmu alam pada dasarnya adalah ilmu yang mensistematisasikan, ilmu tentang proses, asal-usul dan perkembangan benda-benda tersebut, dan tentang interkoneksi yang mengikat semua proses alam menjadi satu kesatuan yang organis. Fisiologi, yang menyelidiki proses yang terjadi pada organisme tumbuhan dan hewan; embriologi, yang memperlajari perkembangan organisme individu mulai dari embrio hingga dewasa; geologi, yang menyelidiki pembentukan permukaan bumi secara berangsur-angsur—semua ini adalah hasil abad kita.”

Materialisme dialektis adalah pisau analisa yang tajam dan komprehensif dalam menyelidiki benda dan fenomena yang ada di alam. Mengarahkan seseorang untuk bertindak –demi mencari pengetahuan dan kebenaran—tanpa dibekali dengan pemahaman teoretik ini adalah sikap kekanak-kanakan. Marxisme mengakui pengalaman langsung dalam hubungan sosial manusia sebagai ‘sumber pengetahuan paling dasar’ dan menjadikannya sebagai titik keberangkatan menuju ‘pengetahuan yang lebih tinggi’ untuk ‘memahami dan melancarkan tindakan-tindakan yang dapat merubah dunia’. Namun pendirian ini tidak bisa divulgarisasi: dipandang secara mekanis dan dipeluk sebagai landasan untuk berimprovisasi. Kaum Marxis mengakui bahwa dalam perkembangan sejarah, masyarakat dan pemikirannya terdapat pola mendasar yang selalu berulang, namun proses-prosesnya tak-terulang dengan cara yang persis sama. Praktik merupakan jalan untuk menemukan kebenaran dan pengalaman langsung adalah sumber pengetahuan, tetapi segera setelah Marxisme terlahir sebagai pemikiran ilmiah dan filosofis dalam gerakan buruh, maka orang-orang yang sadar-kelas dan maju harus mendasari perjuangannya bukan lagi pada aktivitas praktis-ekonomis—untuk memperoleh pengetahuan embrionik dan menciptakan teori mutakhir—tapi dengan menyerahkan diri sepenuhnya untuk memahami Marxisme dan mengangkatnya menjadi pedoman dalam mentransformasi realitas secara revolusioner. Dalam melawan tendensi ekonomisme—yang menjangkiti kepemimpinan organisasi dan gerakan buruh dengan aktivitas praktis-ekonomis dan mengabaikan signifikansi teori revolusioner untuk memandu perjuangan revolusioner—Lenin melancarkan perjuangan teoritis tanpa ampun dengan berlandaskan gagasan Sosialisme Ilmiah dari Marx dan Engels. Pada “Apa yang Harus Dikerjakan?”, Lenin mengutip tulisan Engels—dalam ‘Der Deutsche Bauernkrieg’—yang menerangkan pentingnya memperjuangkan teori Marxis untuk dipelajari oleh kelas proletar:

“Baiklah kita kutip apa kata Engels dalam tahun 1874 mengenai arti penting teori dalam gerakan sosial-demokratis. Engels mengakui ‘bukan dua’ bentuk perjuangan besar sosial-demokrasi Rusia seperti Herzen, Belinski, Cernisyevski dan kelompok orang-orang revolusioner tahun 70-an…. Baiklah kita kutip apa kata Engels dalam tahun 1874 mengenai arti penting teori dalam perjuangan sosial-demokrasi (politik dan ekonomi), sebagaimana lazim di kalangan kita, ‘melainkan tiga’, dengan menempatkan perjuangan teori setaraf dengan dua perjuangan yang pertama itu. [Engels pernah berkata:] ‘…Untuk pertama kalinya sejak adanya gerakan buruh, perjuangan dilakukan secara terencana dari ketiga seginya yang dikoordinasi dan dihubungkan satu sama lain: dari segi teori, politik, dan ekonomi-praktis (perlawanan terhadap kaum kapitalis) … Untuk itu, diperlukan usaha yang dilipatduakan dalam segala bidang perjuangan dan agitasi. Terutama adalah kewajiban para pemimpin untuk memperoleh pemahaman yang senantian semakin jelas tentang semua soal teori, untuk kian lama kian membebaskan diri dari segala pengaruh konservatisme warisan dunia lama, dan selalu mengingat bahwa sosialisme, sejak ia menjadi ilmu, menuntut supaya ia diperlakukan sebagai ilmu, yaitu supaya ia dipelajari. Perlu menyebarluaskan dengan ketekunan yang terus meningkat di kalangan massa buruh mengenai pengertian yang jernih yang diperoleh demikian itu dan memadukan dengan semakin kokoh organisasi partai maupun organisasi serikat buruh….’”

Apakah dengan menempatkan Marxisme pada posisi sentral dalam aktivitas organisasi dan gerakannya maka kaum Marxis akan menjatuhkan diri ke jurang idealisme filosofis? Basis sosial dari segala bentuk pemikiran idealisme adalah pembagian kerja-mental dan kerja-fisik, pemisahan teori dari praktik, yang menghasilkan pandangan bahwa ide sebagai hal primer dan materi merupakan hal sekunder. Sementara kaum Marxis tidaklah hanya berusaha menyatukan praktik dan teori secara harmonis, namun juga mengakui bahwa Marxisme lahir dari pengalaman-pengalaman perjuangan kelas yang materialistik dan dialektik, yang konkret dan hidup. Pengalaman dan ide-ide, pengetahuan dan gagasan-gagasan merupakan materi yang diorganisir dengan cara tertentu, yang keberadaannya takkan pernah termungkinkan tanpa adanya tubuh material yang berpikir. Marxisme merupakan puncak tertinggi dari perkembangan pemikiran manusia sepanjang sejarah dan untuk meneruskan pemikirannya ke tingkat yang semakin tinggi, maka manusia mesti memulainya bukan dengan beragam rutinitas masa lalu sebelum Marxisme dilahirkan melainkan melalui praktik-praktik yang dipandu oleh pemahaman-pemahaman yang memadai akan teori-teori Marxis. Hakikat materialisme dialektis adalah memandang segala materi—benda-benda dan fenomena-fenomena yang ada di alam dan dalam pikiran manusia—tidak secara sepihak, melainkan dalam kontradiksi-kontradiksinya yang diakui sebagai proses yang dinamis dan organis, mengalami pergerakan dan perkembangan secara dialektis. Inilah yang diabaikan kaum Maois. Dalam “On Practice”, Mao memang mengakui gerak dan perubahan yang terus-menerus—yang disebabkan oleh kontradiksi-kontradiksi dari materi-materi yang ada—namun dirinya melupakan praksis revolusioner untuk mengatasi kontradiksi itu secara revolusioner. Di antara pengetahuan perseptual dan pengetahuan Marxis terdapat kontradiksi yang mesti diatasi dengan memperhatikan perubahan ‘keadaan’ dan ‘didikan’, yang menekankan bahwa ‘pendidik itu sendirilah yang harus dididik’ dengan membangun sebuah partai yang kepemimpinannya berlandaskan teori yang paling maju.

Maoisme bukanlah teori termaju yang dapat mengatasi kontradiksi kapitalisme dan memajukan perjuangan kelas buruh secara revolusioner. Pada artikel “On Contradiction”, Mao bersepakat kalau hukum kontradiksi adalah dasar dari materialisme dialektis. Pernyataan ini ditegaskan dengan mengklaim dirinya melanjutkan pemikiran Lenin. Di “On the Question of Dialectics”, Lenin menerangkan bahwa kontradiksi merupakan ‘kesatuan’ dari hal-hal yang berlawanan, di mana pertentangannya bersifat ‘mutlak’; persatuannya bersifat ‘kondisional, sementara, relatif’; dan keberadaan dari yang bertentangan dan yang bersatu bersifat ‘organis’: ‘dialektika adalah ajaran yang menunjukkan bagaimana hal-hal yang bertentangan dapat terjadi dan bagaimana hal-hal itu menjadi identik, berubah menjadi satu sama lain—mengapa pikiran manusia harus memahami hal-hal yang berlawanan ini bukan sebagai sesuatu yang mati, kaku, tetapi bersyarat, bergerak, ditransformasi menjadi saru sama lain’. Dalam pandangan Hegel, kontradiksi dipahami sebagai ‘akar dari semua gerak dan vitalitas, dan hanya sejauh ia mengandung kontradiksi maka segala sesuatu bergerak dan mempunyai dorongan dan aktivitas’ dan ‘segala sesutau itu hidup sepanjang ia mengandung kontradiksi, yang memberinya gerak-diri’. Gerak-diri lebih lanjut dijelaskan Lenin sebagai cara keberadaan dari materi-materi yang ada: ‘dalam keadaan tertentu, yang universal adalah yang individu, dan yang individu adalah yang universal. Bahwa segala sesuatu berubah menjadi kebalikannya—sebab dapat menjadi akibat dan akibat dapat menjadi sebab—karena keduanya hanyalah mata-rantai dalam rantai yang tiada [awal dan] akhir dalam perkembangan materi’ dan ‘hal-hal yang berlawanan (individu bertentangan dengan yang universal) adalah identik: individu hanya ada dalam hubungan yang mengarah pada yang universal. Yang universal hanya ada dalam diri individu dan melalui individu. Setiap individu (dalam satu atau lain cara) bersifat universal. Setiap universal adalah (sebuah fragmen, atau aspek, atau esensi dari) seorang individu. Setiap universal kira-kira hanya mencakup semua obyek individual. Setiap individu masuk secara tidak lengkap ke dalam yang universal, dan sebagainya, dan sebagainya. Setiap individu dihubungkan oleh ribuan transisi dengan jenis individu lain (benda, fenomena, proses) dan sebagainya’. Lenin memahami gerakan internal dari ‘kesatuan dua hal yang berlawanan’ (dua kutub yang berlawanan dan saling-merasuki) dengan meninjau hubungan-hubungan kontradiksi di antara keduanya, di mana setiap materi tidak dilihat sebagai bagian-bagian yang terpisah melainkan terhubungkan satu sama lainnya dengan satu dan lain cara—berkait-kelindan dan saling-mengondisikan dalam pembangunan keseluruhan. Lewat “Dialektika Alam”, Engels menerangkan:

“Materi bergerak dalam siklus yang abadi, menyelesaikan lintasannya dalam jangka waktu yang begitu lama sehingga jika dibandingkan dengan itu, tahun di bumi kita tidak ada artinya; dalam sebuah siklus di mana periode perkembangan tertinggi, yaitu periode kehidupan organik dengan pencapaian puncaknya –kesadaran diri, merupakan ruang yang relatif kecil dalam sejarah kehidupan dan kesadaran diri; dalam sebuah siklus di mana bentuk keberadaan materi—baik itu matahari atau nebula, hewan atau spesies hewan tertentu, kombinasi kimia atau dekomposisi—sama-sama berada dalam transisi; dalam sebuah siklus di mana tidak ada yang abadi, kecuali materi yang terus berubah, bergerak selamanya, serta hukum pergerakan dan perubahannya. Namun betapapun sering dan tanpa belas kasihan siklus ini terjadi dalam ruang dan waktu, betapapun banyaknya matahari dan bumi yang tak-terhitung jumlahnya muncul dan tenggelam, betapapun lamanya kita harus mengunggu hingga di suatu tata-surya, di suatu planet muncul kondisi yang cocok untuk kehidupan organik, betapapun banyaknya mahkluk yang tak-terhitung jumlahnya yang jatuh dan bangkit sebelumnya, dari tengah-tengah mereka, berkembang menjadi hewan dengan otak yang berpikir menemukan lingkungan yang memungkinkan mereka untuk hidup, meskipun hanya untuk jangka waktu singkat, namun kita yakin bahwa materi dalam segala hal perubahan-perubahannya tetap satu dan tunggal selamanya…. Ketika kita mempertimbangkan dan merenungkan alam secara luas atau sejarah umat manusia atau aktivitas intelektual kita, pertama-tama kita melihat gambaran keterikatan hubungan dan reaksi, permutasi dan kombinasi yang tiada akhir, di mana tidak ada yang tersisa apa, di mana, dan bagaimana. Memang benar, tapi segala sesuatunya bergerak, berubah, menjadi ada, dan lenyap. Oleh karena itu, pada mulanya kita melihat gambaran itu secara keseluruhan, dengan bagian-bagian individualnya kurang-lebih masih berada di latar belakang; kita mengamati pergerakan, transisi, koneksi, bukan hal-hal yang bergerak, bergabung, dan terhubung. Konsepsi dunia yang primitif, naïf, namun benar secara intrinsik ini berasal dari filsafat Yunani kuno, pertama kali dirumuskan dengan jelas oleh Heraclitus: segala sesuatu ada dan tidak ada, karena segala sesuatu mengalir, terus berubah, terus-menerus muncul dan lenyap’.”

Alam semesta merupakan materi yang tunggal dan tak-terbagi. Sains menyebutnya dengan atom yang tersusun dari partikel-partikel sub-atom: di inti-pusatnya terdiri dari proton (listrik positif) dan neutron (listrik nol) yang di kelilingnya oleh elektron (listrik negatif). Di inti-atom, semua proton mengalami tolak-menolak satu sama lainnya dan dalam interaksi proton dengan neutron dapat bertukar partikel menjadi satu sama lainnya; di sekeliling inti-atom, proton dan elektron mengalami tarik-menarik, dengan elektron yang tiada berhenti melakukan putaran intrinsik; dan dalam hubungan secara keseluruhan, sub-sub atom terikat bersama dengan adanya gaya nuklir yang kuat. Kesatuan partikel sub-atom berada dalam keadaan berinteraksi, bergerak, dan bergejolak secara konstan, di mana tidak ada sesuatupun yang sama dengan dirinya sendiri. Kontradiksi inilah yang menghasilkan energi pada setiap materi. Materi dan energi tidak dapat diciptakan dan dihancurkan tetapi ada dalam proses pergerakan dan perubahan yang terus-menerus, yang melibatkan ledakan berkala, pengembangan dan penyusutan, tarikan dan tolakan, kehidupan dan kematian. Dunia material berasal dari atom dan telah ada sebelum spesies makhluk material berkembang dan menjadi manusia yang sadar-diri untuk mengamatinya. Benda-benda organik (hidup) muncul secara alami dari benda-benda anorganik (mati), hingga pada titik tertentu makhluk sederhana bersel satu berevolusi ke bentuk kehidupan yang lebih tinggi dan kompleks melalui ‘Ledakan Kambrium’ sekitar 600 juta tahun yang lalu—invertebrata menjadi vertebrata, dan seterusnya, hingga menjadi makhluk yang memiliki sistem saraf pusat yang berkembang lebih lanjut menjadi otak dan akhirnya menjadi otak manusia dan kesadaran manusia. Teori Pengetahuan Maois tidak melihat sejarah, masyarakat dan pemikirannya sebagai materi yang berkembang melalui kontradiksi dalam pembangunan secara menyeluruh, di mana akumulasi dari perubahan-perubahan kuantitatif (evolusi) yang ada di dalam dan di luar organisme mengarah pada lompatan-lompatan kualitatif (revolusi). Dalam proses ini materialisme dialektis menempatkan gerak-diri atau kontradiksi internal dalam hubungan timbal-balik yang organis dari kutub-kutub yang berlawanan dan saling-merasuki. Dalam “The Dialectical Biologist”, Stephen Jay Gould dan Richard menulis:

“Apa yang menjadi ciri dunia dialektis, dalam segala aspeknya … adalah ia terus bergerak. Konstanta menjadi variabel, sebab menjadi akibat, dan sistem berkembang, menghancurkan kondisi yang membentuknya. Bahkan unsur-unsur yang tampak stabil berada dalam keseimbangan gaya dinamis yang tiba-tiba bisa menjadi tidak-seimbang, seperti ketika segumpal logam abu-abu kusam dengan ukuran kritis menjadi bola api yang lebih terang dari seribu matahari. Namun gerakannya bukannya tidak dibatasi dan seragam. Organisme berkembang dan berdiferensiasi, kemudian mati dan hancur. Spesies muncul tetapi pasti punah. Bahkan di dunia fisik sederhanapun kita tidak mengenal gerak seragam. Bahkan yang berputar pada porosnya telah melambat dalam waktu geologis. Perkembangan sistem seiring berjalannya waktu tampaknya merupakan konsekuensi dari kekuatan-kekuatan yang berlawanan dan gerakan-gerakan yang berlawanan. Munculnya kekuatan-kekuatan yang berlawanan ini telah memunculkan konsep-konsep yang paling diperdebatkan dan sulit, namun paling sentral dalam pemikiran dialektis, yaitu prinsip kontradiksi. Bagi sebagian orang, kontradiksi hanyalah sebuah prinsip epistemik saja. Hal ini menggambarkan bagaimana kita memahami teori-teori yang saling berlawanan, yang bertentangan satu sama lain dan bertentangan dengan fenomena-fenomena yang diamati, mengarah kepada pandangan baru tentang alam. Teori revolusi ilmiah Kuhn (1962) memiliki semacam kontradiksi dan penyelesaian terus-menerus, sehingga memberi jalan bagi kontradiksi baru. Bagi yang lain, kontradiksi menjadi prinsip ontologis setidaknya dalam eksistensi sosial manusia. Bagi kami, kontradiksi tidak hanya bersifat epistemik dan politis, tetapi juga ontologis dalam arti luas. Kontradiksi antar-kekuatan terjadi di mana-mana, tidak hanya di institusi sosial manusia. Tradisi dialektika ini dikembangkan oleh Engels (1880) yang menulis, dalam ‘Dialektika Alam’ bahwa ‘bagi saya, yang terpenting bukanlah menciptakan hukum-hukum dialektika alam, melainkan menemukan hukum-hukum dialektika di alam dan mengembangkannya dari situ’.”

Namun doktrin Maois memvulgarisasi metode dialektis. “On Contradiction” menjelaskan kalau ‘pandangan dunia dialektika materialis berpendapat bahwa untuk memahami perkembangan suatu benda, kita harus mempelajarinya secara internal dalam hubungannya dengan benda lain; dengan kata lain, perkembangan sesuatu harus dilihat sebagai gerak-diri yang bersifat internal dan perlu, sedangkan setiap benda dalam geraknya saling berkaitan dan berinteraksi dengan benda-benda di sekitarnya. Sebab mendasar berkembangnya suatu hal bukan bersifat eksternal melainkan internal; itu terletak pada kontradiksi di dalam hal tersebut. Ada kontradiksi internal dalam setiap hal, oleh karena itu gerak dan perkembangannya. Kontradiksi dalam suatu hal merupakan penyebab mendasar dari perkembangannya, sedangkan keterkaitan dan interaksinya dengan hal lain merupakan penyebab sekunder’. Mao mengakui hubungan dari benda-benda namun secara arbitrer membagi hubungannya menjadi yang bersifat internal (kekhususan kontradiksi) dan yang bersifat eksternal (keumuman kontradiksi) serta menempatkan keduanya menjadi hal-hal yang terpisah, di mana untuk memahami proses-proses ini ‘secara menyeluruh’ diharuskan melawati tahapan: tahap pertama, mempelajari kontradiksi-kontradiksi khusus; tahap kedua, mempelajari kontradiksi-kontradiksi umum. Teori tahapan itu berusaha dibenarkan Mao dengan menggunakan pemikiran Lenin tentang hubungan antara ‘yang individu’ dan ‘yang universal’ secara berat-sebelah: menekankan pada ‘yang individu’ tanpa mempertimbangkan adanya hubungan-hubungan timbal-balik yang kompleks antara individu dan universal. Di “On the Question of Dialectics”, Lenin memang menerangkan kalau segala sesuatu dapat berubah menjadi kebalikannya: di mana sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab. Namun proses perubahan ini bukanlah dengan memisahkan kontradiksi menjadi yang individu (khusus) dan universal (umum) secara mekanis dan bertahap tanpa menekankan keterhubungannya sebagai kesatuan dialektis. Gerak dan perubahan-perubahan material merupakan mata-rantai dari rantai perkembangan materi yang ‘tiada mengenal awal dan akhir’—segala sesuatu selalu berada dalam interaksi timbal-balik; segala sesuatu merupakan akibat dan sebab. Wawasan yang Lenin (dan Marx) peroleh dari metode dialektika adalah perubahan yang tiada henti dalam alam, masyarakat dan pemikirian manusia dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi; di mana tidak ada batasan, bagian atau tahapan yang ‘mutlak’ dalam proses ini—sesuai yang dijelaskan Hegel: ‘fakta bahwa sesuatu ditentukan sebagai suatu batasan menyiratkan bahwa batasan tersebut telah dilampaui’. Dalam doktrinnya tentang “Kontradiksi”, Mao mengabaikan persoalan tersebut. Maoisme menjelaskan kontradiksi sebagai sesuatu yang memiliki awal dan akhir dengan garis perkembangannya yang bertahap-tahap; dari kontradiksi yang sederhana ke kontradiksi yang kompleks, dari gerak-diam kuantitatif ke gerak-perubahan kualitatif, dari yang khusus ke yang umum, dari yang individu ke yang universal. Pendekatan tahapan ini berusaha dibenarkannya dengan mengutip pemaparan Lenin secara arbitrer:

“Dalam Kapital-nya, Marx pertama-tama menganalisis relasi masyarakat borjuis (komoditas) yang paling sederhana, paling biasa dan mendasar, paling umum dan sehari-hari, sebuah relasi yang ditemui miliaran kali, yaitu pertukaran komoditas. Dalam fenomena yang sangat sederhana ini (dalam ‘sel’ masyarakat borjuis ini) analisis mengungkap ‘seluruh’ kontradiksi (atau bibit dari ‘semua’ kontradiksi) masyarakat modern. Penjelasan berikutnya menunjukkan kepada kita perkembangan (‘baik’ pertumbuhan ‘maupun’ pergerakan) kontradiksi-kontradiksi ini dan perkembangan masyarakat ini dengan penjumlahan bagian-bagiannya, dari awal hingga akhir. Lenin menambahkan, ‘Metode eksposisi (atau studi) dialektika secara umum juga harus demikian…. Kontradiksi hadir dalam proses perkembangan sesala sesuatu; itu meresapi proses perkembangan setiap hal dari awal hingga akhir. Inilah universalitas dan absolutitas kontradiksi … Sekarang mari kita bahas kekhusuan dan relativitas kontradiksi…. Pertama, kontradiksi dalam setiap bentuk gerak materi mempunyai kekhasannya masing-masing. Pengetahuan manusia tentang materi adalah pengetahuan tentang bentuk-bentuk geraknya, karena tidak ada apapun di dunia kecuali materi yang bergerak dan gerak itu harus mengambil bentuk-bentuk tertentu. Dalam membahas setiap bentuk gerak suatu materi, kita harus memperhatikan persamaan-persamaannya dengan bentuk gerak yang lain. Namun yang terutama penting dan perlu, yang juga landasan bagi pengetahuan kita tentang sesuatu, adalah mengamati apa yang khusus dari bentuk gerak materi itu … Setiap gerak mengandung kontradiksi tersendiri. Kontradiksi khusus ini merupakan hakikat khusus yang membedakan satu hal dengan hal lainnya. Ini adalah penyebab internal atau, sebagaimana dapat disebut, dasar dari berbagai macam hal di dunia. Bentuk gerak di alam bermacam-macam, yaitu gerak mekanik, bunyi, cahaya, panas, listrik, disosiasi, kombinasi, dan lain sebagainya. Semua bentuk ini saling bergantung, namun pada hakikatnya masing-masing berbeda satu sama lain. Hakikat khusus setiap bentuk gerak ditentukan oleh kontradiksinya masing-masing. Hal ini berlaku tidak hanya pada alam tetapi juga pada fenomena sosial dan ideologi. Setiap bentuk masyarakat, setiap bentuk ideologi, mempunyai kontradiksi dan esensi tertentu…. Adapun urut-urutan perkembangan gerak ilmu-pengetahuan manusia selalu terjadi perkembangan bertahap dari ilmu tentang hal-hal yang bersifat individual dan khusus menuju ilmu tentang hal-hal yang umum. Hanya setelah manusia mengetahu hakikat khusus dari banyak hal yang berbeda, barulah ia dapat melanjutkan ke generalisasi dan mengetahui hakikat umum dari segala sesuatu…. Kesalahan para dogmatis kita dalam persoalan ini adalah, di satu sisi, mereka tidak memahami bahwa kita harus mempelajari kekhususan kontradiksi dan mengetahui hakikat khusus dari hal-hal individual sebelum kita dapat mengetahui secara memadai keumuman kontradiksi dan hakikat umum dari suatu kontradiksi, dan sebaliknya mereka tidak memahami bahwa setelah mengetahui hakikat umum dari segala sesuatu, kita harus melangkah lebih jauh dan mempelajari hal-hal konkret yang belum dipelajari secara menyeluruh atau baru muncul. Penganut dogmatis kita adalah orang-orang yang malas. Mereka menolak melakukan studi sungguh-sungguh terhadap hal-hal konkret, mereka menganggap kebenaran-kebenaran umum muncul dari kehampaan, mereka mengubahnya menjadi formula-formula abstrak yang tidak dapat dipahami, dan dengan demikian sama sekali menyangkal dan membalikkan urutan normal [teori tahapan kognisi] yang dengannya manusia dapat mengetahui kebenaran….”

Pernyataan Lenin pada “On the Question of Dialectics” diserap Mao Zedong sebagai metode eksposisi ‘mutlak’ dalam mengembangkan materialisme dialektis. Mao tidak mempertimbangkan kalau apa yang ditulis Lenin bukan untuk diterbitkan sebagai pedoman umum dalam memandu perjuangan revolusioner, melainkan sebagai catatan pribadi atas pembacaannya terhadap Hegel. Dalam sebuah diskusi dengan Ted Sprague, bulan Desember 2023—Ted menjelaskan perosalan tersebut: ‘pendeknya, menurutku, “Conspectus” Lenin mengenai Hegel (dan lain-lain), yang merupakan catatan sampingan dari buku yang dia baca, tidak terlalu baik sebagai materi untuk memahami dialektika. Pertama, ini bukan ditulis Lenin untuk diterbitkan, tetapi adalah catatan untuk diri sendiri. Seperti ketika kita baca buku, lalu kita menulis catatan sendiri, coret-coret di tepi buku, dan lain-lain. Intinya, kalau mau memahaminya, maka juga harus sembari membaca buku yang sedang dibaca oleh Lenin. Jadi kutipan-kutipan terpisah dari “Conspectus” (Catatan Lenin) ini hampir tidak berguna dengan sendirinya, dan bagi pemula, bahkan bisa menyesatkan. Di “On Contradiction”, Mao menggunakan ‘Catatan Lenin’ secara sepihak, yakni tanpa memperhatikan apa yang dipelajari Lenin dari Hegel. Dalam seluruh tulisannya tentang “Kontradiksi” tidak ada satupun pemikiran Hegel yang berusaha digunakan Mao untuk menjelaskan pemikirannya. Mao hanya mengandalkan catatan sampingan Lenin yang diadopsi menjadi referensi utamanya. Inilah mengapa Mao tidak mengerti ketika Lenin (dan Hegel) menyatakan bahwa ‘yang universal adalah individu dan yang individu adalah universal’—ini tidaklah bisa dipahami secara dangkal, melainkan dalam hubungan-hubungan kontradiksi di antara keduanya yang bersifat inheren: antara konkret dan abstrak, antara umum dan khusus, antara bagian dan keseluruhan, antara kebetulan dan kebutuhan. Individu menjadi universal dan universal menjadi individu hanya dalam proses hubungan dari hal-hal yang berlawanan dan saling-merasuki, yang seperti proses biologi di mana sel-sel tubuh material seseorang terus-menerus dibuang dan diisi dalam hubungannya dengan dunia material; setiap partikel tubuh materialnya terus-menerus digantikan dengan partikel lainnya yang diserapnya dari alam sekitarnya dan menyebabkan perubahan-perubahan molekul, hingga individu selama hidupnya sama dengan dirinya sekaligus berbeda dengan dirinya.

Pada pemikiran Lenin, individu dan universal ditinjau dalam proses pembangunan keseluruhan: di mana individu menjadi bagian dalam keseluruhan dan yang universal dipahami sebagai keseluruhan dari hubungan-hubungan individu. Di “On the Question of Dialectics” telah ditunjukkan bagaimana materialisme dialektis diterapkan untuk memahami fenomena dan proses berbagai bidang dalam keterhubungan inherennya. Lenin menerangkannya dengan merujuk kepada metode analisa Marx dalam “Capital”, yang menempatkan relasi barang-dagangan sebagai kontradiksi yang paling umum dalam masyarakat kapitalis. Relasi ini merupakan ‘sel masyarakat borjuis’ yang merambah ke dalam setiap lini kehidupan, menyeret setiap orang memasuki ‘aktivitas produksi dan pertukaran’, dan miliaran kali ditemui dalam kehidupan sehari-hari yang sederhana. Lenin menjelaskan bahwa terdapat ‘keadaan tertentu’ di mana ‘individu ada dalam yang universal secara tidak lengkap’ dan ‘universal ada pada individu dan melalui individu’; ‘individu adalah universal dan universal adalah individu’. Pernyataan ini menerangkan bagaimana hubungan antara yang individu dan yang universal dalam aktivitas produksi dan pertukaran: keterlibatan dalam aktivitas sosial-ekonomi bukan sekadar membuat seseorang dapat berinteraksi dengan dunia material yang mengelilinginya tapi juga mengubah alam, masyarakat, dan dirinya sendiri. Materialisme dialektis memandang bahwa individu sebagai subyek dan universal sebagai obyek. Ini bukanlah antitesis yang tetap dan abadi tetapi dinamis dan relatif dalam proses kontradiksi, dengan yang satu dapat menjadi kebalikannya dalam praktik sosio-ekonomi umat manusia. Dalam pembangunan keseluruhan, subyek (individu) sendiri merupakan suatu obyek (universal) sepanjang manusia tunduk—baik secara sadar (memahami, dan oleh karena itu, menyerahkan diri) maupun tidak-sadar—pada hukum-hukum inheren yang mengatur kehidupan materialnya.

Kekuatan analisis dalam “Capital” terletak pada pemahaman materialisme dialektis, yang digunakan untuk mendekati fenomena ekonomi dari sudut pandang obyektif pembangunan sosial secara menyeluruh. Apa yang menentukan pembangunan ini bukanlah pikiran manusia tentang tindakannya tapi alam dan tenaga produktif dengan perjuangan yang permanen dari kekuatan-kekuatan yang berlawanan dan saling-merasuki. Pada “On Contradiction”, Mao mengklaim bahwa pemikirannya menggunakan pendekatan seperti itu. Namun pada kenyataannya adalah sebaliknya. Dalam Teori Pengetahuan Maois, kontradiksi tidaklah diterangkan dengan memperhatikan hubungan-hubungan dari kutub-kutub yang bertentangan dan saling-merasuki secara menyeluruh dalam keterhubungan, pergerakan dan perubahannya yang terus-menerus, melainkan dipecah-pecah menjadi segi-segi terkecil dan terpisah-pisah dengan keunikan satu sama lainnya. Maoisme memandang semua materi mengandung kontradiksi dan antara satu benda dengan benda lainnya mempunyai kontradiksi tersendiri-sendiri yang spesifik, hingga perlu dibagi menjadi kontradiksi yang bersifat umum dan bersifat khusus, yang dalam kekhususan kontradiksinya terkandung kontradiksi pokok dan kontradiksi non-pokok dengan aspek-aspek primer dan sekunder, yang kesatuannya bersifat relatif dan pertentangannya bersifat mutlak. Berdasarkan metode macam inilah Maoisme menyatakan bahwa sebuah tinjauan yang komprehensif bukanlah dengan menekankan pada pembangunan keseluruhan—yang memperhatikan hubungan-hubungan timbal-balik antara subyek-obyek, antara khusus-umum, antara individu-universal—tetapi membedah perkembangan-perkembangan bagiannya secara parsial dan atomistik. Maoisme memaksakan pendekatan ini, dan oleh karena itu, memvulgarisasi pemikiran Marxis berkait kontradiksi. Pada pembahasannya mengenai “Kontradiksi”, Mao menulis begini:

“Bersikap dangkal berarti tidak mempertimbangkan ciri-ciri suatu kontradiksi secara keseluruhan maupun ciri-ciri masing-masing aspeknya; maksudnya adalah mengingkari perlunya menyelidiki secara mendalam suatu hal dan mempelajarinya secara cermat ciri-ciri kontradiksinya, namun sebaliknya hanya melihat dari jauh dan, setelah melihat sekilas garis besarnya, segera menyelesaikan kontradiksi tersebut … cara melakukan sesuatu seperti ini pasti akan menimbulkan masalah…. Seluruh proses gerak yang berlawanan dalam perkembangan suatu hal, baik dalam katerkaitannya maupun dalam setiap aspeknya, tidak hanya mempunyai ciri-ciri tertentu yang ‘harus’ diperhatikan, tetapi setiap tahapan dalam proses itu mempunyai ciri-ciri yang khas yang harus juga kita perhatikan. Kontradiksi mendasar dalam proses perkembangan sesuatu dan hakikat proses yang ditentukan oleh kontradiksi mendasar ini tidak akan hilang sampai proses tersebut selesai; namun dalam proses yang panjang biasanya kondisinya berbeda-beda pada setiap tahapannya. Sebabnya, walaupun hakikat kontradiksi mendasar dalam proses perkembangan sesuatu dan hakikat proses itu tetap tidak berubah, kontradiksi mendasar itu semakin lama semakin intensif ketika ia berpindah dari satu tahap ke tahap lainnya dalam proses yang panjang. Selain itu, di antara banyak kontradiksi besar dan kecil yang ditentukan atau dipengaruhi oleh kontradiksi mendasar, ada yang semakin intensif, ada yang terselesaikan atau dikurangi untuk sementara atau sebagian, dan ada yang baru muncul; karenanya prosesnya ditandai dengan tahapan. Jika manusia tidak memperhatikan tahapan-tahapan dalam proses perkembangan suatu hal, maka ia tidak dapat menyikapi kontradiksi-kontradiksinya dengan baik.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

(Berlanjut)

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai