Kategori
Sejarah

Juli 1936: Revolusi dan Kontra-Revolusi Spanyol

“Hasrat untuk mengubah masyarakat secara fundamental tidak dapat dibatasi pada pemahaman yang jelas tentang program dan perspektif. Ini juga melibatkan unsur kebulatan tekad, atau tekad untuk berkuasa: yaitu, tekad sadar untuk menang, menaklukkan, menyingkirkan semua rintangan dan mengubah masyarakat. Ini, pada gilirannya, harus didasarkan pada visi masa depan dan keyakinan penuh pada kemampuan kelas buruh untuk mengubah masyarakat.” (International Marxist Tendency)

Tahun 1929, ekonomi dunia mengalami kemerosotan. Spanyol dengan keterbelakangannya, menjadi salah satu negeri yang menanggun beban mengerikan. Penderitaan dan kelaparan menyertai hari buruh dan tani. Kelas penguasa dengan rakus menyerang standar hidup dan memotong upah. April 1931, pemilihan kota berlangsung dan berjuta-juta pekerja dan petani miskin menaruh harapan ke pundak partai-partai Republik, Sosialis dan Komunis yang ada. Tetapi gerombolan monarki mencurangi jajak pendapat di desa-desa. Para petani ditekan oleh aristokrasi dan tuan-tanah kapitalis guna memperoleh suara mayoritas. Namun di kota, proletariat mengamuk. Buruh-buruh industri tidak terima ditipu dan dibodohi. Pendulum politik berayun ke kiri. Rasa tidak puas dan amarah sudah tak tertanggungkan lagi. Demonstrasi dan pemogokan meningkat. Seluruh situasi dipercepat. Kesadaran mengejar peristiwa dan berubah secepat kilat. Lapisan-lapisan terlembam memasuki medan tempur dan pemberontakan massa berkobar.

Tahun 1931, Revolusi Spanyol meledak dan menggetarkan dunia. Massa buruh dan tani menggulingkan Monarki Bourbon dengan kekuatan yang luar biasa. Keberhasilan penggulingan rezim disusul pembentukan Pemerintahan Koalisi Republik-Sosialis. Namun kekuasaan baru ini begitu rapuh karena secara keliru melibatkan kaum kapitalis. Keyakinan naif para pemimpin massa kepada demokrasi borjuis mengundang malapetaka. Demokrasi borjuis sama sekali tidak mampu menyelesaikan persoalan sosial-ekonomi yang dihadapi massa. Daripada memajukan perjuangan kelas, orientasi kekuasaan yang keliru macam itu justru memperdalam kemerosotan ekonomi dan mempertajam kontradiksi kapitalisme.

Setelah beberapa tahun Republik-Sosialis Pertama berdiri, kelas pekerja menyadari kekurangan kebijakan kolaborasi kelas pemimpinnya. Ketika protes, demonstrasi dan pemogokan mengudara; kelas penguasa menghadangnya dengan kepalan tangan besi Francisco Franco. Tanggal 17 Juli 1936, perwira fasis dan monarkis yang berbasis di Afrika Utara menyerukan kudeta untuk menggulingkan pemerintahan dan menghancurkan organisasi-organisasi buruh. Pada 19 Juli, proletariat di Barcelona secara cekatan menghadang kecamuk kontra-revolusi. Dalam jumlah raksasa, proletar bangkit untuk membela republik dan memempertahankan revolusi. Buruh laki-laki dan perempuan berkumpul dan melancarkan pengorganisasian yang efektif dalam menjalankan perekonomian dan memukul-mundur kaum fasis. Namun di tubuh republik, para pemimpin reformis dan sentris justru memandang kebangkitan massa sebagai peristiwa horor. Mereka lebih takut menyaksikan perjuangan revolusioner ketimbang teror-teror kontra-revolusioner.

Demikianlah mereka memilih memasuki Front Populer dengan kelas borjuis daripada membentuk Front Persatuan antara partai-partai Sosialis dan Komunis guna memperhebat kekuatan tempur proletariat. Di Catalonia, kelas pekerja berteriak-teriak meminta senjata. Hanya pemimpin-pemimpin POUM dan CNT-Anarkis menolaknya mentah-mentah. Proletariat yang sedang bangkit tidaklah mudah menyerah. Secara gagah-berani mereka bertempur tanpa takut mati dan merebut senjata-senjata dari musuhnya. Setelah berhari-hari pertempuran berdarah, Barcelona sepenuhnya dinyatakan berada di bawah kekuasaan buruh. Industri dikendali serikat-serikat pekerja dan layanan publik dikelola komite-komite aksi dengan menerapkan demokrasi buruh. Bos-bos diusir dan dipaksa mengalah. Polisi maupun tentara-tentara reguler diremukkan dan keberadaannya digantikan dengan rakyat bersenjata.

Seluruh lapisan terhisap dan tertindas terbangun ke arena politik untuk berperan aktif dalam mengatur kehidupannya secara bersama-sama. Namun kontrol proletariat-demokratik itu tidaklah berjalan lama. Partai-partai yang memimpin perjuangan kelas tak menaruh kepercayaan terhadap kemampuan kelas pekerja dalam berkuasa dan memulai transformasi sosial secara mendasar. Di akar rumput, massa teradikalisasi oleh peristiwa terdorong untuk bekerjasama dan bersatu dalam melawan elemen-elemen fasisme dan kapitalisme. Tetapi di pucuk-pucuk POUM dan CNT, para pemimpinnya justru berkapitulasi terhadap borjuasi.

Sejak seruan kudeta disiarkan di radio, buruh Katalonia telah bertindak memutuskan saluran informasinya dan menyerukan kamerad-kameradnya di Madrid untuk memberontak dan membuang perwira-perwira ke laut. Sedangkan di seluruh Barcelona, milisi-milisi Sosialis, Komunis, dan Anarkis bergerak bersama-sama di bawah slogan revolusioner: ‘Union de Hermanos Proletarios’. Namun dengan kepemimpinan yang setengah-hati dan teledor, daya-tempur proletariat tidaklah berhasil disalurkan sampai ke garis akhir. Pada ‘Pengantar’ untuk “Revolution and Counter-Revolution in Spain”, Alan Woods menulis:

“Pada tahun 1936 kaum Sosialis dan Komunis bersatu, bukan dengan ‘borjuasi progresif’ tetapi dengan bayang-bayang borjuasi. Kapitalis, bankir, dan tuan tanah sejati pada umumnya melarikan diri ke sisi Franco pada awal perang saudara. Satu-satunya kekuatan sosial yang tersisa untuk melawan fasisme adalah buruh dan tani…. Di belakang layar, di bawah perlindungan pemerintah Front Rakyat, konspirasi para Jenderal, monarkis, dan fasis segera dimulai. Pemerintah Front Populer tidak mengambil tindakan apapun terhadap Perwira Tentara Fasis. Bagaimana mereka bisa ketika itu berarti penghancuran mesin negara yang menjadi tumpuan kelas penguasa? Sementara pemerintah tidak melakukan apa-apa, para kapitalis besar melepaskan senjata cadangan mereka: kelompok fasis membasmi organisasi kelas pekerja, dan kelas borjuis memasok mereka dengan dana dan senjata.”

“Saat ini, banyak orang di kiri mengacaukan front populer dengan gagasan Lenin tentang front persatuan. Ini adalah kesalahan yang sangat serius. Pada kenyataannya front kerakyatan tidak ada hubungannya dengan front persatuan, front buruh atau front kiri. Ini mewakili kebijakan kolaborasi kelas, yang mensubordinasikan partai-partai buruh ke partai-partai borjuasi liberal. Lenin awalnya mengemukakan gagasan front persatuan sebagai front persatuan aksi antara partai-partai buruh (Sosialis dan Komunis) melawan partai-partai borjuis. Adalah kaum Menshevik, bukan Bolshevik, yang menganjurkan sebuah front ‘demokratis’ antara partai-partai buruh dan partai-partai yang disebut borjuasi progresif dan liberal–sebuah kebijakan yang dikecam keras oleh Lenin.”

Bacaan komprehensif: Revolusi dan Kontra-Revolusi di Spanyol

Bangun Kepemimpinan Revolusioner (Bolshevisme) sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

One reply on “Juli 1936: Revolusi dan Kontra-Revolusi Spanyol”

 Hello, thanks for the information. My problem is that I don’t understand Indonesian. I send you a big hug and all my support and solidarity with my brother people of West Papua . I collaborate with several Organizations and I am in Izquierda Unida, a left-wing political party.  Have a nice day and Papua Merdeka..El 18 jul 2023 1:11, Percikan Api <comment-reply@wordpress.com> escribió:

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Redaksi 1917 menulis:&quot; &quot;Hasrat untuk mengubah masyarakat secara fundamental tidak dapat dibatasi pada pemahaman yang jelas tentang program dan perspektif. Ini juga melibatkan unsur kebulatan tekad, atau tekad untuk berkuasa: yaitu, tekad sadar untuk menang, menaklukkan, menyin&quot;                                                                                                                                                                                                                                                                                           Percikan Api                                                                                                                Juli 1936: Revolusi dan Kontra-Revolusi Spanyol 

                                                        Redaksi 1917                                                    Jul 18                                                                                                   &quot;Hasrat untuk mengubah masyarakat secara fundamental tidak dapat dibatasi pada pemahaman yang jelas tentang program dan perspektif. Ini juga melibatkan unsur kebulatan tekad, atau tekad untuk berkuasa: yaitu, tekad sadar untuk menang, menaklukkan, menyingkirkan semua rintangan dan mengubah masyarakat. Ini, pada gilirannya, harus didasarkan pada visi masa depan dan keyakinan penuh pada kemampuan kelas buruh untuk mengubah masyarakat.&quot;&nbsp;(International Marxist Tendency) Tahun 1929, ekonomi dunia mengalami kemerosotan. Spanyol dengan keterbelakangannya, menjadi salah satu negeri yang menanggun beban mengerikan. Penderitaan dan kelaparan menyertai hari buruh dan tani. Kelas penguasa dengan rakus menyerang standar hidup dan memotong upah. April 1931, pemilihan kota berlangsung dan berjuta-juta pekerja dan petani miskin menaruh harapan ke pundak partai-partai Republik, Sosialis dan Komunis yang ada. Tetapi gerombolan monarki mencurangi jajak pendapat di desa-desa. Para petani ditekan oleh aristokrasi dan tuan-tanah kapitalis guna memperoleh suara mayoritas. Namun di kota, proletariat mengamuk. Buruh-buruh industri tidak terima ditipu dan dibodohi. Pendulum politik berayun ke kiri. Rasa tidak puas dan amarah sudah tak tertanggungkan lagi. Demonstrasi dan pemogokan meningkat. Seluruh situasi dipercepat. Kesadaran mengejar peristiwa dan berubah secepat kilat. Lapisan-lapisan terlembam memasuki medan tempur dan pemberontakan massa berkobar. Tahun 1931, Revolusi Spanyol meledak dan menggetarkan dunia. Massa buruh dan tani menggulingkan Monarki Bourbon dengan kekuatan yang luar biasa. Keberhasilan penggulingan rezim disusul pembentukan Pemerintahan Koalisi Republik-Sosialis. Namun kekuasaan baru ini begitu rapuh karena secara keliru melibatkan kaum kapitalis. Kepercayaan naif para pemimpin massa kepada demokrasi borjuis mengundang bahaya. Demokrasi borjuis sama sekali tidak mampu menyelesaikan persoalan sosial-ekonomi yang dihadapi massa. Daripada memajukan perjuangan kelas, orientasi kekuasaan yang keliru macam itu justru memperdalam kemerosotan ekonomi dan mempertajam kontradiksi kapitalisme. Setelah beberapa tahun Republik-Sosialis Pertama berdiri, kelas pekerja menyadari kekurangan kebijakan kolaborasi kelas pemimpinnya. Ketika protes, demonstrasi dan pemogokan mengudara; kelas penguasa menghadangnya dengan kepalan tangan besi Francisco Franco. Tanggal 17 Juli 1936, perwira fasis dan monarkis yang berbasis di Afrika Utara menyerukan kudeta untuk menggulingkan pemerintahan dan menghancurkan organisasi-organisasi buruh. Pada 19 Juli, proletariat di Barcelona secara cekatan menghadang kecamuk kontra-revolusi. Dalam jumlah raksasa, proletar bangkit untuk membela republik dan memempertahankan revolusi. Buruh laki-laki dan perempuan berkumpul dan melancarkan pengorganisasian yang efektif dalam menjalankan perekonomian dan memukul-mundur kaum fasis. Namun di tubuh republik, para pemimpin reformis dan sentris justru memandang kebangkitan massa sebagai peristiwa horor. Mereka lebih takut menyaksikan perjuangan revolusioner ketimbang teror-teror kontra-revolusioner. Demikianlah mereka memilih memasuki Front Populer dengan kelas borjuis daripada membentuk Front Persatuan antara partai-partai Sosialis dan Komunis guna memperhebat kekuatan tempur proletariat. Di Catalonia, kelas pekerja berteriak-teriak meminta senjata. Hanya pemimpin-pemimpin POUM dan CNT-Anarkis menolaknya mentah-mentah. Proletariat yang sedang bangkit tidaklah mudah menyerah. Secara gagah-berani mereka bertempur tanpa takut mati dan merebut senjata-senjata dari musuhnya. Setelah berhari-hari pertempuran berdarah, Barcelona sepenuhnya dinyatakan berada di bawah kekuasaan buruh. Industri dikendali serikat-serikat pekerja dan layanan publik dikelola komite-komite aksi dengan menerapkan demokrasi buruh. Bos-bos diusir dan dipaksa mengalah. Polisi maupun tentara-tentara reguler diremukkan dan keberadaannya digantikan dengan rakyat bersenjata. Seluruh lapisan terhisap dan tertindas terbangun ke arena politik untuk berperan aktif dalam mengatur kehidupannya secara bersama-sama. Namun kontrol proletariat-demokratik itu tidaklah berjalan lama. Partai-partai yang memimpin perjuangan kelas tak menaruh kepercayaan terhadap kemampuan kelas pekerja dalam berkuasa dan memulai transformasi sosial secara mendasar. Di akar rumput, massa teradikalisasi oleh peristiwa terdorong untuk bekerjasama dan bersatu dalam melawan elemen-elemen fasisme dan kapitalisme. Tetapi di pucuk-pucuk POUM dan CNT, para pemimpinnya justru berkapitulasi terhadap borjuasi. Sejak seruan kudeta disiarkan di radio, buruh Katalonia telah bertindak memutuskan saluran informasinya dan menyerukan kamerad-kameradnya di Madrid untuk memberontak dan membuang perwira-perwira ke laut. Sedangkan di seluruh Barcelona, milisi-milisi Sosialis, Komunis, dan Anarkis bergerak bersama-sama di bawah slogan revolusioner:&nbsp;'Uni

Suka

Tinggalkan Balasan ke pitufo-ex Batalkan balasan

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai