Kategori
Reportase

Pemberontakan Pekerja di Pelabuhan Tanjung Wangi

Ratusan sopir dan kornet truk secara spontan memblokade Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Penutupan ini berlangsung atas kemuakan terhadap manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP). Penyebrangan dengan rute pulang-pergi Banyuwangi – Lombok, yang dilayani oleh KM Mutiara Ferindo I, KM Mutiara Sentosa III, dan KM Mutiara Barat, telah lama berlangsung buruk.

“Berkali-kali kapal tiba dan berangkat tidak tepat waktu dan kami mesti menunggu berjam-jam lamanya. Kapal berlayar sangat lambat dan lebih sering mematikan mesin di tengah laut dengan alasan apa saja,” tutur salah satu sopir truk bernama Iqbal, pada Minggu (8/3/26), di bibir Pelabuhan Tanjung Wangi.

KM Mutiara Barat berlayar dari Lombok ke Banyuwangi dengan waktu yang menyentuh 22 jam lamanya. Sejak pagi hari (7/3), para sopir truk telah berkumpul di Pelabuhan Lembar. Kapal baru tiba sore harinya dan menetapkan keberangkatannya pukul 21.00 Wita. Namun keberangkatan yang sesungguhnya adalah hampir 2 jam setelah waktu yang ditentukan dan sampai pada pukul 18.30 WIB di hari berikutnya. Telat berangkat, kapal juga dalam perjalanannya berlayar begitu lamban dengan keadaan yang buruk: tidak ada lokasi charger HP gratis–semuanya dipatok 10 ribu rupiah per pengecasan; toilet kotor di mana banyak kran air dan saluran pembuangan kotoran yang tersumbat; kamar tidur sopir dan kornet yang panas tanpa AC, dengan kasur tipis yang terbuat dari plastik yang dipenuhi debu dan banyak sisinya yang menjadi sarang kecoa.

“Jika kami ingin mendapatkan kamar yang layak, pihak kapal mematok tarif 50 ribu rupiah untuk mendapat kamar ber-AC. Itupun tidak disertai dengan pengecasan HP gratis,” tutur Doni yang juga sopir salah satu truk.

Hari Minggu, 8 Maret 2026, kemuakan yang terpendam meledak ke permukaan dengan mengambil bentuk blokade pelabuhan secara mendadak. Pada ledakan spontan ini, yang dalam logika internalnya, mengambil bentuk yang agak terorganisasi, dan dalam benturan dengan manajer pelabuhan yang bertambah intens, massa sopir dan kornet truk melahirkan dalam gerakannya pemimpin-pemimpin informal yang diangkat menjadi juru bicara. Didorong oleh massa, pemimpin pekerja angkutan menuntut kompensasi Rp 250.000. Jika ganti-rugi tidak diberikan, massa yang marah menekan kepemimpinannya untuk menyampaikan ancaman blokade tanpa batas waktu.

Menyaksikan bahaya di hadapan mata mereka, gerombolan kapitalis Pelindo dan ALP di Tanjung Wangi, pada akhirnya tunduk memberikan kompensasi. Blokade pelabuhan yang tiba-tiba ini menunjukan bagaimana massa pekerja siap melancarkan perjuangan massa. Dan penutupan penyeberangan yang sementara, memperlihatkan bagaimana para sopir dan kornet truk secara naluri mengambil senjata pemogokan sebagai metode perlawanannya.

Dalam krisis kapitalisme Indonesia sebagai bagian dari krisis dunia kapitalisme, blokade para sopir dan kornet truk ini mengantisipasi ledakan pemberontakan besar dengan metode pemogokan di hari-hari mendatang. Dan di sini–keterlambatan jadwal kapal yang bisa diterima pada periode normal, dalam periode revolusi menjadi tidak dapat ditoleransi.

***

“Revolusi tidak pernah memiliki jadwal operasi yang pasti. Hanya kapal di pelabuhan atau kereta di stasiun yang beroperasi sesuai jadwal, itupun tidak selalu tiba dan berangkat tepat waktu.”

– Kaum Bolshevik

Dalam periode kekacauan besar dan disintegrasi tajam di zaman kita, semua pertanyaan terungkap dengan konkret sebagai pertanyaan revolusi. Namun, karena revolusi tidak sering terjadi, konsep dan gagasan revolusioner menjadi kabur: garis besarnya menjadi tidak jelas, pertanyaan-pertanyaan diajukan secara teledor, dan dijawab dengan cara yang vulgar. Di sini perjuangan politik untuk kejelasan teoretik, yang mengalir dari ketelitian filosogis, menjadi sangat vital.

Revolusi memiliki kekuatan improvisasi yang luar biasa, tetapi tidak pernah mengimprovisasi sesuatu yang baik bagi kaum liberal–reformis dan radikal. Kemenangan revolusi kita hanya akan datang dari evaluasi politik yang benar, dari organisasi yang tepat, dan dari kemauan untuk melancarkan serangan dan pertahanan secara jelas, serta pukulan menentukan yang tegas.

Bangun kepemimpinan revolusioner sekarang juga, untuk pemberontakan seluruh Indonesia dengan metode mogok tanpa batas waktu.

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai