“Kelas pekerja, perang kita adalah perang kelas! Sama seperti revolusi yang tidak bisa memberi jeda untuk pembangunan partai tempur, barikade bersenjata harus dipersiapkan pada siang-siang kekacauan menjelang malam-malam ledakan besar. Milisi adalah garda depan dari setiap organisasi proletar dan semi-proletar di medan tempur. Tanpa massa yang dipersenjatai, bukan hanya pertahanan-diri yang tak terpikir, tetapi juga pembubaran polisi, tentara, penjara, hukum dan peradilan borjuis. Senjata di tangan kita adalah satu-satunya peralatan untuk menciptakan teror di hati kelas borjuasi, yang gemar berperang dan membunuh dengan tangannya yang bersimbah darah, bahkan sebelum mereka mampu mengaktifkan fasisme sebagai satu-satunya ‘metode terakhir’ untuk memadamkan revolusi.”
– Kaum Bolshevik
Di bawah kekuasaan borjuasi-nasional yang terikat seribu benang dengan borjuasi-imperialis dan obskurantis-sisa-feodal, Indonesia terpuruk dalam disintegrasi dan kekacauan dunia kapitalisme yang sedang sekarat. Pada sekujur tubuh kelas penguasa yang basah kuyup, dalam semua institusi republik dan demokrasi borjuasi yang berlendir jahat; skandal semakin menumpuk dengan pengaruh korup dari birokrasi orang-orang culas yang semakin meluas. Tahun 2025—Pemerintahan Prabowo-Gibran, Presiden dan Wakil Presiden yang baru saja terpilih di bilik-bilik gelap elektoralisme yang berlemak babi, membentuk kabinet gendut—Kabinet Merah Putih di mana 53 menteri dan 56 wakil menteri diambil dari gerombolan militer, pebisnis, klerikus, artis dan intelektual salon, yang kesemuanya diberkati dengan privelese cabul: gaji dan tunjangan berserta jaminan pensiun yang berlimpah-ruah, ditambah rumah dinas yang tidak pernah kekurangan daging dan roti, listrik dan air, serta seluruh jaminan kesehatan, pendidikan, dan keamanan bagi segenap anggota keluarga mereka. Dalam periode awal pemerintahan mereka, sebagai langkah putus-asa untuk membiayai rezim birokratik yang terjebak di tengah badai krisis yang kronis, gembol-gembol penguasa mengeluarkan jurus-jurus moneter. Satu lapisan mengalunkan lagu inflasi: peredaran uang murah, depresi upah, kenaikan biaya hidup, dan perampasan aset borjuasi-kecil. Lapisan lainnya mengayunkan tarian deflasi: pengurangan pengeluaran rumah tangga dengan menggergaji upah, peningkatan kemiskinan dan pengagguran dalam skala raksasa, dan penghancuran produsen petani kecil beserta lebih banyak lagi borjuasi-kecil yang tersebar di kota-kota.
Januari 2025, Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan sebagai program unggulan. Rezim Prabowo mempromosikan MBG sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi—menanggulangi pengangguran, kemiskinan, dan kelaparan. Namun, pada kenyataannya: MBG tidak lebih baik dari keseluruhan program rezim yang membusuk. Setiap program politik dalam masyarakat kelas merupakan rumusan dari kepentingan kelas tertentu. Program pemerintah adalah manifestasi dari kepentingan kelas mana yang berkuasa dalam negara. Dalam negara borjuis, MBG merupakan perwujudan dari kepentingan kelas borjuis yang bangkrut: orientasinya bukan untuk mengatasi rasa lapar tapi mendulang laba secara kasar. Gembol-gembol pemodal berkumpul di sekitar proyek, bersekutu dengan birokrasi korup dalam urusan tender. Dari kas belanja, pemerintah menganggarkan 335 triliun rupiah per tahun di mana per hari terkuras 1,2 triliun untuk makan gratis. Investasi di sektor MBG tidak akan pernah meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Produksi makanan gratis berkontradiksi dengan kepentingan umum kapitalisme. Sistem ini tidak saja menuntut agar barang-barang diciptakan dengan nilai-guna yang bisa dipakai tapi juga mengharuskan adanya nilai-tukar yang bisa dijual-beli. Tanpa dimasukan ke dalam aktivitas pertukaran di pasar, maka nasi kotak yang dibagikan secara cuma-cuma gagal menjadi komoditas, Dengan kegagalan menjadi barang-dagangan yang menemukan pembeli, produksi makanan gratis tidak akan pernah meningkatkan pertumbuhan ekonomi. PDB sebagai parameter perekonomian kapitalis tidak saja berkait investasi, belanja pemerintah, ekspor dan impor, tapi juga konsumsi untuk merealisasikan laba. Di bidang ekonomi, lapangan pekerjaan yang memperboros anggaran, pada analisa terakhir hanya akan menjadi sektor parasit: tempat di mana nilai-lebih yang terkurung dalam komoditas direalisasikan secara cacat—bukan dengan perdagangan nasi kotak tapi spekulasi modal dan korupsi birokrat. Di sinilah laki-laki dan perempuan pekerja kita dieksploitasi kemampuan kerjanya—bahkan mencapai 10-12 jam kerja sehari—untuk mengolah miliaran pangan yang disedot dari kaum tani, menjadi berjuta makanan jadi yang dimuntahkan setiap harinya. Dengan menampilkan upah di atas rata-rata buruh-upahan di sektor lainnya, babi gemuk dan tikus rakus memahkotai para pekerja MBG sebagai buruh-buruh yang istimewa. Di bidang politik, parasitisme ekonomi MBG berkembang sebagai metode pecah-belah di tangan kelas penguasa untuk melemahkan gerakan buruh. Berbagai alat publisitas yang mereka kuasai sepanjang waktu membanjiri media massa dengan tontotan yang memvulgarisasi nominal gaji sebagai garis demarkasi yang mempertentangkan kelas pekerja di sektor MBG dengan keseluruhan kelas pekerja yang ada. Di bidang hubungan luar negeri, MBG menjadi sektor ekonomi parasit yang memperdalam inflasi nasional dan menambah ketergantungan borjuasi-nasional terhadap borjuasi-imperialis. Sejak kehadirannya, program makan gratis mendapat tepuk-tangan dan sorak-sorai dari kekuatan imperialis: Gedung Putih AS, Rockefeller Institute, dan Game Changer. MBG pada kesimpulan rasionalnya, bukan mendeklarasikan kemandirian ekonomi dalam negeri tapi kehancuran perekonomian Indonesia dalam lingkup pengaruh dan dominasi imperialisme.
Mengalir dari resep inflasi, kebijakan penghematan diayunkan semakin keras untuk memangkas sebanyak mungkin subsidi. Februari 2025, Danantara diluncurkan sebagai institusi berperut beton yang disulap untuk menyedot subsidi dalam skala raksasa: 14.000-15.000 triliun rupiah. Mobilisasi anggaran publik yang brutal ini menjadi monumen kebangkrutan neoliberalisme dan karanjingan nasionalisme ekonomi di bawah pantat imperialisme. Tumpukan hutang yang diwarisi dari rezim Jokowi, membuat rezim Prabowo tidak mungkin lagi mendanai keseluruhan program yang mengisi mulut birokrasinya dengan mengandalkan pinjaman berbunga. Sebagai gantinya, rakyat pekerja dihisap dan ditindas lebih kejam lagi. Bagi kaum buruh, hari kerja semakin panjang dan tidak menentu dengan nilai tenaga kerja yang terus menurun dan angka kemiskinan yang bertambah tinggi. Bagi kaum tani kecil dan miskin, ongkos produksi bertambah mahal dengan harga jual yang semakin tidak stabil dan jerat perbankan yang luar biasa mencekik. Bagi angkatan muda dan penganggur, kehidupan bertambah susah dengan lapangan pekerjaan yang semakin sempit dan sulit diakses. Namun bagi kelas penguasa, semuanya adalah bisnis yang menggiurkan dengan keuntungan yang menumpuk di atas kejahatan yang beranak-pinak. Bulan Agustus, peningkatan PBB yang kriminal memicu pemberontakan rakyat pekerja di Pati. Semua golongan dan kelompok masyarakat dipenuhi kebencian mendalam terhadap pemotongan subsidi dan korupsi birokrasi. Gelombang besar kemarahan meluap dan membentuk adonan manusia yang menduduki jalanan dan mengepung institusi demokrasi yang sudah tidak dipercaya. Kelas penguasa yang ketakutan mengirimkan aparat kekerasannya untuk membungkam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu. Namun menghadapi pendulum politik yang sedang bergerak ke kiri, cambuk reaksi justru menyiramkan bensin ke dalam kobaran api. Ahmad Husein tertekan mundur dan berdamai dengan bupati, namun ribuan rakyat pekerja tetap bergerak bersama. Sang pemimpin Husein tidak menciptakan energi-revolusioner massa—dia hanya melepaskannya. Kekosongan kepemimpinan revolusioner adalah faktor utama yang mengangkat Husein ke kepala massa dan memberi cap kepribadiannya dalam peristiwa. Subtansi dari pemberontakan ini tidak ditemukan pada individu tapi massa. Rakyat pekerja adalah subyek utamanya—sebuah kelas yang telah memulai pemogokan politik dengan seruan turun ke jalan dan memenangkan simpati dari seluruh penduduk yang dipersatukan di bawah slogan “Gulingkan Sudewo.” Dalam kebangkitan ini, yang dikondisikan oleh keseluruhan peristiwa, tanpa melihat keberadaan partai revolusioner yang siap menyalurkan aspirasinya, kelas pekerja secara terpaksa memilih kepemimpinan seorang tokoh yang secara asal-asalan menginisiasi pembentukan aliansi. Husein tidak mempunyai persiapan politik yang serius dengan rencana aksi yang utuh. Bergeraknya massa ke dalam pertempuran melawan polisi dan tentara adalah di luar dari rencananya. Rakyat Pekerja Pati menunjukkan tingkat kewaspadaan politik dan energi-revolusioner yang jauh melampui rencana pemimpinnya yang ceroboh. Laki-laki dan perempuan biasa yang sedang bangkit berhadapan dengan badan anjing-anjing bersenjata dari dada ke dada. Massa memungut berbagai peralatan yang ditemukan di jalan untuk digunakan sebagai senjata. Massa membentuk barikade dan bertempur dengan gagah berani walaupun dengan persenjataan seadanya. Tembakan gas air mata dibalas dengan lemparan batu. Auman pistol dibalas dengan tembakan kembang api. Tonfa dibalas dengan kayu. Setiap upaya pembubaran paksa mengundang balasan yang berani. Serangan-balik negara borjuis digagalkan. Regu-regu polisi tersudutkan dan mata-mata yang menyamar diamuk pukulan. Inilah naluri revolusioner massa untuk pertahanan-diri: senjata dilawan dengan senjata, kekerasan reaksioner negara dilawan dengan kekerasan revolusioner massa.
Seluruh kota berubah menjadi medan perang kelas di mana gerakan massa bertempur melawan negara borjuis. Dari Pati—gelombang agitasi menggema, yang dengan kecepatan penuh menyebar dan menyentuh bahan-bahan yang mudah terbakar. Di skala nasional, rasa tidak puas dan kemuakan terhadap seluruh sistem masyarakat kapitalis berubah menjadi penjarahan rumah-rumah mewah anggota parlemen dan pembakaran gedung-gedung kehormatan birokrasi. Inilah buah dari janji-janji pemerintahan borjuasi yang tidak dipenuhi dan kepercayaan rakyat luas yang dikhianati. Ini sekaligus menjadi monumen keruntuhan liberalisme kaum liberal borjuis dan radikalisme kaum radikal borjuis-kecil yang tidak berdaya, kaget oleh peristiwa, gendut akan kompromi, dan telah lama menjadi penyeru legalitas dan menunda perjuangan revolusioner massa. Dalam rahim perjuangan massa yang sedang bangkit, slogan-slogan pembubaran parlemen dan pemerintahan borjuis terlahir. Slogan-slogan revolusioner di zaman kita tidak lagi menakut-nakuti massa untuk berjuang. Slogan yang pada masa-masa yang relatif damai tidak bisa diterima, kini dalam situasi pra-revolusioner dengan belokan peristiwa yang luar biasa mendadak dan lompatan kesadaran yang begitu tiba-tiba, bergema sebagai slogan yang dibutuhkan dan memiliki signifikansi politik yang kuat. Dari kenaikan PBB ke rencana jahat pemerintah untuk menaiki tunjangan DPR yang rakus, massa menyerap setiap kata penolakan, kecaman, dan kutukan yang ditujukan kepada kelas penguasa dengan cepat. Tidak seincipun kebijakan borjuis yang didukung. Krisis kapitalisme yang kronis telah mencabut reforma-reforma lama dan tidak mampu memberikan reforma-reforma yang baru. Langkah apapun yang dipernalkan oleh pemerintah yang bangkrut dikenali sebagai kebijakan yang salah. Rencananya mengundang ejekan dan ancamannya membesarkan kebencian. Pada Hari-Hari Agustus, slogan-slogan “Bubarkan DPR” dan “Gulingkan Pemerintahan” telah membawa gema yang berlipat ganda dan mengalir sebagai pribahasa yang menggerakan massa untuk bertempur. Pertempuran dahsyatnya adalah segera setelah pembunuhan polisi terhadap seorang pemuda pekerja: Affan Alfian. Cambuk reaksi sekali lagi menambah bahan bakar dalam revolusi. Angkatan-angkatan muda politik proletar menanggapi kematian Alfian dengan seruan perang-kelas yang semakin panas, dengan pengerahan kekuatan yang secara langsung ditujukan untuk menghancurkan kantor-kantor birokrasi borjuasi.
Laki-laki dan perempuan yang selama ini disuapi oleh pers-pers liberal dan radikal yang populer, dengan onggokan fakta yang meresahkan dan mengobarkan emosi, sekarang mendapati dirinya bergerak untuk mencari jalan keluar bukan dalam saluran-saluran yang kecil dan legal yang bermaksud menghormati ‘opini publik’ dan ‘moralitas resmi’ yang tidak berdaya. Dalam babak pembuka revolusi kita, massa bergerak untuk mencari kepemimpinan yang berani dan sanggup menyalurkan aspiranya yang berkait penghancuran seluruh tatanan yang ada. Tanpa kehadiran kepemimpinan revolusioner, laki-laki dan perempuan yang sedang bangkit memberontak dengan menjarah dan membakar. Kekuatan besar yang selama ini terpendam di kedalaman masyarakat kapitalis yang sedang runtuh tidak menemukan saluran yang dapat memusatkan seluruh kekuatannya menuju kemenangan revolusi: perebutan kekuasaan untuk menghancurkan seluruh struktur birokrasi dan sistem kapitalisme. Tidak ada perspektif, program, dan kebijakan yang memadai. Kaum radikal dan liberal, yang dengan satu dan lain cara, terseret ke dalam gerakan massa, tidak mengakui kalau pemberontakan besar ini sebagai babak pembuka dari revolusi. Menghadapi serangan-balik dari kelas penguasa yang oleh keseluruhan peristiwa dibuat gila, para pemimpin radikal yang melihat serbuan badan orang-orang besenjata sebagai kekuatan yang tidak bisa dihadapi, menyerukan kepada massa yang sedang bertempur bukan untuk mundur secara teratur tapi tiarap. Kepemimpinan radikal membuat segudang analisa yang mencap slogan “Bubarkan Parlemen” sebagai ultrakiri. Slogan ini dipandang sebagai buatan “influencer” dan “buzzer” yang didorong oleh manuver salah satu faksi dalam tubuh kekuasaan untuk mengalahkan faksi lainnya dengan menunggangi gerakan massa. Dengan mengusung slogan itu dan terus berjuang di sekitarnya, kaum radikal meramalkan pemerintahan akan berpindah ke tangan militer yang berkuasa dengan tangan besi. Menyaksikan kebangkitan massa di punggung sejarah yang dipenuhi perubahan situasi secara tiba-tiba, pemimpin-pemimpin berpandangan sempit dan vulgar hanya bisa melihat kesuraman dan malapetaka. Mereka membuat tinjauan yang keliru: sebelum terbukanya tahap puncak perjuangan kelas untuk perebutan kekuasaan oleh kelas proletar yang terorganisasi; sebelum terbentuknya basis reaksi borjuasi-kecil yang kecewa terhadap gerakan buruh dalam perjuangan untuk revolusi; dan sebelum penghancuran terhadap organisasi-organisasi buruh dan semi-buruh di mulut kontra-revolusi—tanpa memperhatikan keberadaan faktor-faktor pemicunya, mereka telah lebih dulu memperingatkan massa akan ancaman kebangkitan fasisme. Pada akhirnya, peringatan akan bahaya fasisme yang abstrak dan berat-sebelah, dalam logika internalnya, berkembang menjadi pandangan beracun yang menakut-nakuti massa untuk maju. Ini adalah perspektif yang kacau, yang dalam praktiknya memandu perjuangan massa dengan setengah-hati, dan tertangkap basah sebagai tendensi yang kebingungan di antara revolusi dan reformasi—sentrisme.
Di Hari-Hari Agustus, kaum sentris memainkan peran kriminal dalam menarik mundur kaum muda. Palajar dan mahasiswa ditarik keluar dari medan aksi bukan untuk membangun barikade pertahanan-diri yang sejati, sebuah milisi—yang bertugas menjaga garis depan perjuangan massa—yang diorganisir dengan menyebar ke dalam gerakan buruh dengan mendorong metode pemogokan politik umum, taktik front persatuan dan strategi pembangunan komite mogok bersama. Kelas pekerja adalah satu-satunya kekuatan revolusioner yang paling tangguh, yang memiliki bobot sosial atau daya ungkit ekonomi yang sanggup menghancurkan kapitalisme dan melumpuhkan seluruh elemen reaksioner melalui pengorganisasian kediktatoran proletariatnya. Dalam babak pembuka revolusi kita, kelas proletar belum memasuki medan aksi sebagai sebuah kelas yang cukup terorganisir dan sadar. Para pekerja seperti Affan Alfian terlibat dalam perjuangan massa, tetapi bukan secara terorganisasi di bawah kepemimpinan yang kuat. Tidak ada partai revolusioner yang siap. Tidak ada organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar yang membentuk front-front pertahanan-diri di hadapan serangan-balik negara borjuis. Tidak ada komite aksi sebagai pemerintahan mandiri untuk mengorganisir pemogokan politik umum dan menyuplai garda depan proletariat dengan senjata. Lapisan paling maju dalam gerakan buruh masih berada di pinggir dan belum terlibat secara aktif. Pengaruh reformisme dalam gerakan buruh menjadi simpul Gordian yang membelenggu proletar untuk melancarkan aksi-aksi revolusioner. Seperti para pemimpin sentris yang terperangah menghadapi perubahan situasi yang mendadak, para pemimpin liberal gemetar dalam menyaksikan perjuangan massa yang berusaha bergerak melampaui batas-batas yang dapat diterima oleh kelas borjuasi yang kita benci. Di tengah perjuangan kelas yang bertambah intens, dengan benturan-benturan antar kelas-kelas dalam masyarakat yang bertambah tajam, tahap pertama ledakan spontan gerakan massa hampir mencapai limitnya, dan selanjutnya menuntut untuk dimajukan ke arah perjuangan revolusioner massa yang lebih terorganisasi dan sadar-kelas. Namun kepemimpinan liberal justru menginjak pedal rem: program 17+8 yang mengandung ilusi legalitas diluncurkan untuk meracuni kesadaran massa yang teradikalisasi agar bersedia berkompromi pada konsensi-konsensi kecil dan meninggalkan aksi-aksi revolusioner untuk duduk menunggu dalam keheningan dari gerombolan pemimpin yang suka berdiplomasi di bilik-bilik terkendali dengan rencana-rencana tersembunyi. Pada 28 Agustus 2025, Aksi Serentak Nasional yang dipimpin Partai Buruh gagal berkembang menjadi pemogokan politik di seluruh negeri. Hambatan utamanya adalah konservatisme para birokrat partai dan serikat buruh sendiri. Di tangan kepemimpinan reformis, mogok nasional bukan aksi militan yang ofensif tapi gestur simbolik yang tidak berdaya mensubordinasi perjuangan ekonomi yang defensif di bawah perjuangan politik kelas pekerja yang sejati. Tidak ada perspektif dan kebijakan untuk memimpin gerakan buruh ke dalam revolusi. Tidak ada rencana aksi untuk meluncurkan pemogokan tanpa batas waktu dan memperluas pemogokan menjadi pemberontakan massa di seluruh Indonesia. Kepemimpinan reformis di organisasi buruh menumpulkan metode pemogokan umum yang revolusioner menjadi katup pengaman untuk melepaskan ketegangan perjuangan massa: untuk merintangi bergabungnya kelas pekerja ke dalam api revolusi bersama angkatan muda politiknya, mereka mempromosikan mogok simbolik yang sama sekali tidak berdaya dalam mengorganisir kemuakan dan kemarahan lapisan-lapisan luas massa ke dalam pembangunan komite-komite pemogokan politik bersama.
Berhadapan dengan kekuasaan yang berada dalam krisis legitimasi dan terkepung, perjuangan massa menyaksikan kelas borjuasi yang terpecah: satu kubu menawarkan konsesi dan kubu lainnya memaksakan represi. Untuk mengekang arus revolusi dari bawah, kelas penguasa meluncurkan reforma dari atas: pencabutan tunjangan anggota DPR dan perombakan Kabinet Merah Putih. Di sisinya brutalitas aparat terus diayunkan untuk memastikan kehancuran gerakan massa. Namun faktor utama yang melemahkan gerakan massa tidak pernah ditentukan oleh manuver dan intrik yang mengemuka. Dalam perjuangan kelas yang hidup, peningkatan dan penurunan kekuatan massa akan ditentukan dalam kemampuannya untuk menghadapi benturan-benturan yang terjadi. Ini berarti masalah kepemimpinan yang berada di kepala massa. Dan peran kriminal dari tendensi sentrisme dan reformisme telah melemahkan perjuangan revolusioner massa. Kaum reformis mabuk di meja konsesi dan kaum sentris meringkuk di lantai represi. Keduanya kompak menciptakan efek demoralisasi dan demobilisasi kumulatif. Pada Hari-Hari Agustus, arus kemarahan yang besar yang mendapatkan rangsangannya dalam peristiwa kematian Affan Alfian mendorong perjuangan massa ke dalam situasi yang genting: pintu gerbang radikalisasi terbuka oleh gelombang mobilisasi yang bertambah luas, tetapi energi-revolusioner secara bertahap terkuras dalam gerakan-gerakan yang tidak cukup terorganisir dan sadar-kelas. Tidak adanya kepemimpinan proletariat yang siap memandu perjuangan massa untuk menggulingkan kapitalisme secara revolusioner, secara tidak terelakan membuat kekuatan massa yang tak terbendung menjadi terbuang sia-sia: karena kepemimpinan reformis maupun sentris di dalam organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar menolak mengorganisir perjuangan yang berkeras kepala dari bawah, kekuatan-kekuatan destruktif yang terpendam di kedalaman sosial menemukan ekspresinya dalam tindakan-tindakan penjarahan dan pembakaran yang berlangsung cepat dan spontan di mana-mana. Baik para pemimpin sentris maupun reformis, radikalisme maupun liberalisme, tidak pernah menetapkan tugas untuk memajukan tahapan spontanitas ke tahap perjuangan yang lebih tinggi: pengorganisasian kaum buruh dan lapisan luas rakyat pekerja ke medan aksi untuk revolusi—mendorong pemogokan politik nasional yang akan menyediakan basis utama untuk pembangunan komite-komite mogok proletar bersama rakyat, yang sejak pembentukannya akan langsung bersandar pada massa bersenjata sebagai barikade-barikade pertahanan-diri di hadapan segala perlawanan reaksioner negara borjuis. Daripada memenuhi panggilan sejarah untuk menyediakan perspektif, program, strategi-taktik, kebijakan dan metode perjuangan kelas-revolusioner, mereka justru menunjukkan kebangkrutan dengan menyebrang ke sisi reaksi. Tendensi sentrisme dan reformisme dalam revolusi kita terbukti menjadi saluran yang buruk; di mana ketika perjuangan kelas bertambah intens, dengan keragu-raguan dan ketakutan yang mengalir dari psikologi borjuasi-kecil mereka, perjuangan massa dibawa ke jalan buntu, dan pada gilirannya, membalikan pendulum politik dari kiri ke kanan yang ditandai dengan kedatangan badai hitam reaksi. Sejarah revolusi kita, dengan keseluruhan peristiwanya yang dipercepat, telah mengejek kelemahan mereka. Aktivis, politisi, dan ahli-ahli teori yang cerdas yang menganggap diri mereka realis yang bijaksana, dalam pemberontakan besar ditertawakan sebagai para pemuka yang dengan mata terbuka menyebrang ke sisi reaksi.
Akhir Agustus-Awal September 2025, ribuan orang muda menjadi korban brutalisme di mana 703 di antaranya ditangkap dan diseret ke penjara sebagai tahanan politik. Perjuangan massa yang dibuka dengan gemuruh terompet ditutup dengan desisan cambuk. Tahap pertama perjuangan kelas dalam revolusi kita telah dikalahkan secara tragis, namun dalam waktu dekat, sama sekali tidak ada prospek untuk kediktatoran militer atau kekuasaan fasis. Setiap upaya untuk mendirikan pemerintahan yang berkuasa dengan pedang, akan dibalas dengan gerakan yang lebih dahsyat oleh organisasi-organisasi buruh yang ada dan lapisan-lapisan bawah borjuis-kecil yang teradikalisasi ke arah politik revolusioner proletar. Revolusi pada hakikatnya bukanlah suatu tindakan tunggal atau aksi yang terisolasi. Revolusi kita akan berlangsung bertahun-tahun lamanya. Laki-laki dan perempuan pekerja akan belajar di sekolah peristiwa yang besar dengan tingkat kepahitan yang luar biasa. Bahkan di bilik-bilik dunia kapitalisme yang paling gelap sekalipun, periode kekalahan dan demoralisasi yang diselimuti gelombang reaksi yang tajam, akan membuka jalan bagi pembalasan di pihak rakyat pekerja kita dalam hitungan bulan atau tahun. Sebuah pemberontakan besar yang dipermukaannya nampak telah dipadamkan dan kalah, namun sebenarnya telah menorehkan perubahan kesadaran yang drastis di jantung masyarakat kita: kehidupan sosial yang sebelumnya dipenuhi dengan pemujaan terhadap takhayul, alkohol, dan lendir berubah menjadi atmosfer yang dipenuhi dengan pergolakan, kritik, dan perjuangan kelas. Adonan manusia yang sebelumnya tidak berbentuk sekarang sudah berkumpul dalam pengelompokan dengan metode-metode dan program-program tertentu. Saat ini babak baru revolusi kita sedang dibuka. Ini diawali dengan perjuangan-perjuangan di sekitar tuntutan demokratik untuk pembebasan tahanan-tahanan politik borjuasi. Namun selama aksi-aksi solidaritas ini hanya mengambil bentuk-bentuk lokal dan terisolasi dari gerakan-gerakan rakyat pekerja yang lebih luas, perjuangan ini justru akan menguras energi-revolusioner secara bertahap. Setelah Pemberontakan Agustus tidak ada satupun gerakan yang memiliki signifikansi yang serius; kecuali gerakan itu mempunyai metode dan program dengan taktik dan strategi revolusioner untuk pemberontakan nasional yang mengangkat proletariat sebagai pemimpin bangsa. Revolusi kita tidak mungkin selamanya menyuguhkan pertarungan tersendiri dan terisolir dari angkatan muda melawan garda pengawal bersenjata lengkap. Tanpa melibatkan proletariat sebagai kekuatan utama dan lapisan terluas rakyat pekerja sebagai kekuatan cadangan, perjuangan massa bukan saja tidak akan memperoleh kekuatan nyata untuk pertahanan-diri tapi terutama tidak akan pernah bisa melangkah ke tahapan yang lebih tinggi untuk kemenangan revolusi.
Pertahanan-diri yang kuat dan penggulingan kapitalisme secara revolusioner takkan pernah terpikirkan dengan metode-metode yang romantis dan tinjauan-tinjauan yang abstrak. Siapapun yang merenungi dan mengambil pelajaran yang benar atas kekalahan kita dalam Pemberontakan Agustus, akan bersepakat bahwa yang kita butuhkan adalah kepemimpinan yang memiliki ide-ide revolusioner yang jernih, rencana aksi yang tegas, dan organisasi dan taktik yang fleksibel, untuk menyebarkan slogan yang dapat mempersatukan gerakan buruh dan rakyat, mengerahkan pasukan ke medan pertempuran, memanggil kekuatan cadangan, dan melancarkan serangan di sepanjang garis kelas, yang akan membawa perjuangan massa menuju kemenangan perebutan kekuasaan oleh proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa. Apa-yang-telah-dimulai sebagai pemberontakan rakyat pekerja di Pati dan digariskan dengan jelas oleh aliran darah buruh ojek online Alfian, harus dibawa ke tahapan perjuangan kelas yang lebih tinggi. Kita tidak boleh mengulang tahapan perjuangan kelas ini dari awal lagi. Tidak ada jalan untuk kembali ke masa kanak-kanak politik yang lalu. Sejumlah besar kekuatan destruktif yang terpendam di bawah tanah telah meledak ke permukaan sosial dan berkumpul di sekitar slogan-slogan “Bubarkan Parlemen” dan “Gulingkan Pemerintahan”. Gelombang revolusi telah melanda Indonesia dan gelombang itu sama sekali belum mereda. Satu guncangan saja, kawah perjuangan massa akan meletuskan aliran lava revolusionernya. Ini terantisipasi oleh peritiswa bunuh-diri anak buruh tani yang tak mampu beli buku dan pena, yang segera membuka kran pemberontakan massa yang merusak kantor polisi di Yogyakarta. Energi-revolusioner yang masih bertahan dalam pemberontakan-pemberontakan lokal yang ada, tidak boleh dibiarkan terbuang begitu saja dalam ledakan-ledakan sporadis tanpa koherensi dan rencana-rencana aksi yang pasti. Di manapun berlangsungnya gerakan yang mengusung tuntutan-tuntutan demokratik, harus dijadikan gema akhir dari Pemberontakan Agustus kita. Setiap bentrokan tersebar yang terjadi, harus didekati sebagai medan aksi untuk menyatukan dan mempersiapkan massa, dengan mempopulerkan gagasan pemberontakan seluruh Indonesia, yang hanya bisa dicapai dengan metode pemogokan umum politik, yang berusaha menggabungkan gerakan buruh dan lapisan terluas rakyat pekerja dalam komite mogok bersama. Sebesar mungkin upaya harus dilakukan untuk memusatkan kembali semua kegetiran, kesakitan, penderitaan, kebencian, amarah dan protes massa di sekitar slogan-slogan revolusioner untuk pemberotakan massa di seluruh Indonesia.
Januari 2026 dibuka dengan kehancuran IHSG yang mengantisipasi kekacauan yang lebih besar yang akan terjadi di hari depan. Untuk menjaga harga saham, satu-satunya metode di tangan kelas penguasa yang bangkrut adalah disiplin keuangan: menaikan pajak dan memangkas pengeluaran. Ini akan memperdalam inflasi dan mempertajam serangan terhadap standar hidup rakyat pekerja. Awal Februari, mobilisasi besar-besaran anggaran publik ke Danantara mengakibatkan pembekuan BPJS PBI. Sekitar 11 juta orang miskin yang sebelumnya diberi bantuan berobat, yang 120 ribu di antaranya merupakan pasien penyakit katastropik, kini dilepas melarat dan sakit tanpa akses kesehatan. Dalam kemiskinan ekstrem, penyakit apapun yang menyerang, akan membuka pintu menuju kematian yang mengerikan. Rangsangan yang membangkitkan Pemberontakan Agustus kini telah kembali dengan dorongannya yang semakin mendalam. Di seluruh dunia, kondisi yang menciptakan inflasi dan penghematan sama tidak menghilang tapi justru makin menajam. Kontradiksi dalam kepemilikan alat produksi secara pribadi dan batas-batas sempit negara-bangsa semakin menuntut kelas borjuis untuk meningkatkan eksploitasi dan opresinya. Namun ketika mereka sudah tidak dapat lagi menemukan mayoritas parlemen yang stabil untuk melancarkan pemotongan dan serangannya, maka mereka akan beralih ke cara-cara militer untuk memaksakannya. Parlementerisme dan militerisme tampak sebagai metode politik yang berbeda tapi tujuan sosial mendasar yang dilayaninya sesungguhnya sama: modal keuangan, kapital finansial, imperialisme. Landasan historis bagi antagonisme antara parlementerisme dan militerisme sebagai kesatuan metodis di tangan kelas yang berkuasa adalah kemerosotan keseluruhan sistem kapitalisme itu sendiri. Demokrasi parlementer berbasis pada persaingan dan perdagangan yang bebas—sebuah fitur utama kapitalisme di masa perkembangan awalnya. Di zaman imperialisme, yang berfiturutamakan ekspor kapital besar multinasional, sebagai bom untuk memperluas lingkup pengaruh dan dominasi dengan menghancurkan kapital kecil di skala nasional—kuk parlementer akan digilas dan diseret ke museum masa lalu. Pemberontakan Agustus kita telah mengungkap kebangkrutan parlementerisme. Kemuakan massa yang mengkristal dalam slogan pembubaran parlemen dan brutalitas anjing-anjing bersenjata lengkap untuk membubarkan massa, menandai peralihan metode parlementeris ke metode militeris di gudang persenjataan borjuasi.
Saat ini militerisme telah diaktifkan untuk memainkan sirkus kekerasannya ke segala penjuru mata angin. Dari puncak peradaban, umat manusia diluncurkan ke jurang barbarisme yang paling mengerikan. Dalam krisis kapitalisme yang bertambah parah dan tiada menemukan obat mujarab, prospek pembangunan sejarah secara damai berubah menjadi asap yang mengepul dan sampah yang berbau busuk. Seisi bumi—daratan, lautan, dan udaranya—diselimuti dengan ancaman kehancuran dalam peperangan yang bertambah bar-bar. Perang AS/Ukraina-Rusia yang belum selesai dan Perang AS-Iran yang baru dimulai adalah perkembangan ekstrem penggunaan metode militerisme dari negara-negara kapitalis untuk membebankan seluruh penderitaan keruntuhan kapitalisme kepada kelas proletar internasional. Namun perang ini akan memperdalam manifestasi keruntuhan seluruh tatanan yang ada, dengan menciptakan perang-perang baru dengan skala kehancuran yang bertambah besar. Februari 2026—pemerintah borjuasi nasional Prabowo, yang terikat seribu benang dengan imperialisme dan obskurantisme, menyeret Indonesia ke dalam papan catur kemunafikan politik borjuasi imperialis AS dan Israel: “Board of Peace.” Didukung oleh para pemuka ormas klerikus, borjuasi Indonesia yang tangannya bersimbah darah di tanah Papua, duduk bersama Trump dan Netanyahu di dewan perdamaian semu untuk konflik kebangsaan Israel-Palestina. Dan pada saat ledakan terbaru invansi AS dan Israel ke Iran, Rezim Prabowo yang gemar membunuh dan memenjarakan massa menyatakan diri siap menjadi mediator perdamaiannya. Dalam perang-perang imperialis ini, demokrasi parlementer yang telah lama bangkrut tiba-tiba menghadapi ancaman militerisme di sekelilingnya. Siapapun yang menenangkan-diri dengan ungkapan “Indonesia bukanlah Iran” dan “Indonesia bukanlah Palestina”, adalah orang yang tidak berdaya di hadapan peristiwa. Di semua negeri kapitalis, hukum sejarah yang sama tetap berlaku: hukum krisis overproduksi. Jika alat produksi terus dikuasai borjuasi, tidak ada kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat; masyarakat di mana alat produksi terus dikuasai secara pribadi, ditakdirkan untuk terus-menerus mengalami krisis-demi-krisis—dari kebutuhan menuju kesengsaraan, dari buruk menjadi lebih buruk.
Kapitalisme sudah mengembangkan kekuatan produksi umat manusia ke tingkat tertinggi, namun sekarang tidak mampu dikembangkannya lagi, sehingga perkembangan kekuatan produksi menjadi lumpuh dan remuk di bawah kakinya sendiri. Keseluruhan sistem ini sedang membusuk dengan kecepatan penuh. Di berbagai negara-bangsa, kemerosotan dan disintegrasi kapitalisme diekspresikan dalam berbagai bentuk dan ritme yang tidak-sama tapi dengan ciri-ciri dasar yang sama di mana-mana. Kelas borjuasi membawa masyarakatnya menuju kehancuran total. Mereka tidak mampu lagi menjamin kelangsungan hidup rakyat pekerja dengan roti maupun perdamaian. Dan justru karena itulah hak-hak demokratik yang sebelumnya diberikan dengan metode parlementerisme, dihancurkan dengan kekerasan reaksioner metode metode militerisme. Dalam krisis terdalamnya, kapitalisme bukan hanya tidak dapat memberikan reformasi sosial yang baru tapi bahkan tidak sanggup memberikan sedekah kecil kepada kelas pekerja. Saat ini terpaksa mengambil kembali apa yang pada masa lalu diberikannya kepada massa. Seluruh Eropa telah memasuki era kontra-reformasi ekonomi dan politik. Dan kebijakan borjuis yang semakin merampas dan mencekik kita di Indonesia adalah bagian dari keruntuhan dunia kapitalis. Bergabungnya Pemerintah Prabowo dalam BoP dan keranjingan borjuasi nasional ini untuk memediasi Perang AS/Israel-Iran berarti menyeret Indonesia ke jantung peperangan imperialisme. Kebijakan luar-negeri Prabowo memmperlihatkan bagaimana 8.000 pasukan dipersiapkan untuk membela omong-kosong perdamaiannya. Upaya ini mengalir dari kepentingan imperialisme dalam BoP dan kelas kapitalis secara keseluruhannya; bahwa apa-yang-mereka-maksud dengan perdamaian itu, sesungguhnya merupakan program persenjataan kembali kekuatan imperialisme, untuk hubungan antar-imperialis dan komitmen atas pembagian dunia yang baru. Ketegangan dalam persaingan imperialisme Eropa, AS, Cina, dan Rusia untuk mendapat akses ke sumber bahan mentah dan tenaga kerja murah, menata-ulang koridor pasar internasional untuk ekspor komoditas dan modal, telah meluas ke seluruh negeri dan semakin menekan setiap rezim borjuasi nasional ke dalam pusarannya.
Setiap negara borjuasi-tergantung akan merasakan kengerian perang bukan saja penajaman inflasi di bidang ekonomi yang secara brutal akan memotong subsidi. Tetapi juga secara tak terelakan, di bidang hubungan luar-negerinya, akan terseret dalam kebijakan persenjataan kembali. Ini berarti penguatan militerisme dengan menguras anggaran publik, dan pada gilirannya, menambah kedalaman inflasi. Inilah mengapa dalam pengerahan militer mereka, kepentingan borjuasi secara keseluruhannya, sesungguhnya bukan untuk melawan kekuatan asing atau menjaga perdamaian dunia, tetapi menghancurkan rakyat pekerja. Portugal, Yunani, Italia, Belgia, dan Spanyol telah menetapkan anggaran ratusan miliar euro per tahunnya hanya untuk menguatkan militer mereka. Kurang dari dua minggu, mereka masing-masing sudah mengeluarkan 800 miliar euro untuk tahun pertamanya. Sementara Indonesia, kurang dari satu bulan setelah pembentukan BoP, telah mengumpulkan 16 triliun dalam mempersiapkan 8.000 pasukan siap tempurnya. Dan setiap tahunnya, Rezim Prabowo bersedia menyiapkan belasan triliun rupiah untuk melancarkan kebijakan perang yang mengalir dari kepentingan imperialisme ini. Selama bertahun-tahun kita diberitahu tidak ada uang untuk jaminan pensiun, perumahan, kesehatan, atau pendidikan gratis. Tapi dalam waktu yang singkat, setiap pemerintahan borjuasi nasional yang ada, menemukan triliun rupiah atau miliaran euro dari anggaran belanjanya untuk menjadi peserta perang imperialis. Namun dalam sekolah perang ini, prajurit-prajurit yang miskin akan lebih peka daripada jenderal-jenderal korup yang hanya tahu memberi perintah menembak. Tentara akan pecah di mana prajurit-prajurit bawahan yang berasal dari keluarga buruh dan tani, yang dikirim ke parit-parit pertempuran dan menjadi umpan peluru, dan diberi tugas-tugas yang sangat terspesialisasi dan mekanis, dan menemukan-diri bekerja dan berpikir seperti pekerja-upahan—akan keluar dalam peperangan ini sebagai orang-orang yang sepakat: bahwa perdamaian dunia secara umum dan negerinya secara khusus tidak akan pernah ditentukan oleh manuver dan intrik borjuasi; bukan melalui diplomasi dan kesepakatan rahasia, bukan oleh BoP maupun PBB yang imperialis, bukan pada ilusi parlemen dan pers-pers yang menjaga opini publik atau moralitas resmi, bukan pula di bawah kepemimpinan partai dan organisasi yang bertendensi reformis atau Stalinis, dan bukan juga di ruang nyaman intelektual borjuis-kecil yang skeptis, pengeluh dan pengumbar retorika. Nasib dunia dan negara-bangsa kita hanya bisa ditentukan melalui perjuangan kelas yang mendasarkan dirinya di pabrik-pabrik dan gudang-gudang, untuk meledakan kawahnya ke seluruh kota, mengalirkan lavanya ke pemukiman dan barak, dan menarik desa-desa ke dalam arus perjuangannya yang panas. Ini berarti pemberontakan seluruh negeri dengan metode pemogokan umum politik, yang akan menyediakan medan aksi bagi kediktatoran proletariat untuk penggulingan kapitalisme dan penerapan program sosialis—untuk menjamin kebebasan bangsa-bangsa dari kuk imperialisme dan menawarkan perdamaian dunia yang sejati di bawah panji persatuan kelas pekerja internasional.
Babak pembuka revolusi kita telah menghasilkan berbagai bentuk pengorganisasian-diri massa. Dan selanjutnya, perjuangan massa yang telah bangkit pada Hari-Hari Agustus, akan sangat bergantung pada pengorganisasian-diri kelas pekerja kita dalam revolusi—untuk membentuk, mengembangkan dan memperluas organ-organ pemerintahan mandiri: komite-komite pemogokan buruh, petani dan tentara. Komite-komite aksi di zaman kita tidak akan pernah memiliki signifikansi politik yang serius kecuali jika itu adalah komite mogok untuk pemerintahan mandiri buruh dan lapisan terluas rakyat pekerja, yang berbasiskan massa yang sedang berjuang dan bersandar langsung pada organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar yang dipersenjatai. Dalam dunia kapitalisme yang sedang runtuh, dengan kekuacauan dan disintegrasi nasional yang bertambah parah, tidak ada lagi tempat untuk partai-partai yang memuja reformasi yang demokratis dan perubahan bertahap secara damai. Siapapun, dan kelompok manapun, yang mengatakan, bahwa situasi hari ini belum cukup revolusioner untuk pembangunan komite pemerintahan buruh dan rakyat, sesungguhnya mereka adalah barisan orang-orang yang putus-asa. Situasi politik Indonesia berkait-erat dengan situasi perang dan krisis dunia yang revolusioner. Namun dalam kekosongan kepemimpinan proletar yang siap untuk memandu perjuangan revolusioner, maka situasi di Indonesia muncul dalam karakter massa yang pra-revolusioner bersamaan dengan karakter kepemimpinan proletar yang non-revolusioner. Situasi revolusioner tidak jatuh dari langit, tapi tercipta dari partisipasi aktif kelas-revolusioner proletar dan kepemimpinan partainya dalam perjuangan di tengah krisis masyarakat kapitalis. Untuk membawa situasi setengah-revolusioner ini ke kematangan penuhnya, krak mati yang menghambat kemajuan perjuangan kelas harus disingkirkan, dengan mobilisasi massa yang segera, luas dan tanpa henti, dengan metode mogok, di bawah panji perebutan kekuasaan atas nama sosialisme. Hanya dengan cara inilah energi-revolusioner dari jutaan borjuasi-kecil lapisan bawah yang masih tersisa, dapat dialirkan untuk mengaktifkan energi-revolusioner proletariat yang masih utuh—dan penggabungan keduanya, akan menciptakan situasi revolusioner yang sejati.
Saat ini kita berada dalam periode sejarah dengan mimpi buruk perang tanpa akhir dan serangan inflasi bertubi-tubi yang mengalir melalui berbagai bentuk kebijakan nasional yang buruk. Di sini kesadaran rakyat pekerja akan mengalami proses pemurnian dari perbudakan spiritual moralitas resmi dan pengerasan menjadi kebencian yang tidak terdamaikan terhadap kelas kapitalis—borjuasi-nasional-dan-imperialis. Dan sebuah slogan yang dibutuhkan untuk memajukan perjuangan massa ke tahap yang lebih tinggi harus mendasarkan diri pada keseluruhan situasi ini. Situasi di mana untuk mempertahankan kehidupan, merebut kebebasan, dan menciptakan perdamaian yang sejati—semuanya harus bermuara pada penggulingan Prabowo secara revolusioner. Dalam Pemberontakan Agustus, yang menjadi hambatan utama untuk sampai pada tahap pemberontakan revolusioner di seluruh Indonesia, dengan aksi mogok di mana-mana untuk mendorong para pekerja yang paling maju ke garis depan; itu bukan karena para pekerja kita kekurangan organisasi serikat buruh dan tidak tahu cara untuk melakukan pemogokan umum, tetapi dihambat oleh kepemimpinan reformis dan Stalinis dalam perjuangan massa. Adalah keliru untuk menyatakan kalau, pelajar dan mahasiswa yang membakar gedung DPR dan kantor polisi saat itu, tidak menyebar dan bergabung ke dalam gerakan buruh karena ‘takut’ apabila tindakan-tindakan ‘ekstrem’ dipakai melawan negara. Borjuasi-kecil lapisan bawah, massa besar dalam pemberontakan itu, malah melihat Partai Buruh sebagai mesin parlementer yang telah bangkrut dan kaum Stalinis sebagai pemimpin-pemimpin organisasi yang kacau. Dan merupakan sebuah kebohongan besar bilamana kelas proletar, yang tidak terlibat aktif dalam Hari-Hari Agustus, dinyatakan tidak sanggup melancarkan perjuangan revolusioner; mereka yang membuat penilaian semacam ini sesungguhnya menyebarkan fitnah dengan menuduh kaum buruh sebagai penyebab kelemahan dan kepengecutan kepemimpinannya sendiri. Sampai sekarang, belum ada satu kasus, baik di Jakarta, Surabaya, atau di kota-kota lainnya, di mana massa proletariat tuli untuk mendengar seruan dari atas. Yang ada justru massa pekerja yang kurang antusias ketika aksi-aksi mogok dipimpin dengan gestur-gestur simbolik. Kurangnya partisipasi massa dalam ASN-ASN selama ini, jelas menunjukkan betapa muaknya para pekerja terhadap pemimpin-pemimpin reformis dalam partai dan organisasi-organisasi proletar. Lapisan pekerja yang paling berani, jujur, dan bijaksana mengerti bahwa pemogokan satu hari tidak memiliki signifikansi yang serius; jadi, jutaan proletariat hanya mengangkat bahu dan jutaan lainnya mengacungkan jari-tengah tepat di depan hidung kaum reformis.
Untuk memicu dan mengembangkan pemberontakan seluruh Indonesia, yang kita butuhkan adalah aksi-aksi mogok tanpa batas waktu. Lapisan pekerja yang maju dan sadar-kelas memahami apa-yang-tidak-dipahami oleh para pemimpin reformis maupun sentries yang ada. Bahwa dalam dunia kapitalisme yang sedang runtuh, dengan krisis sosial yang sangat besar di hadapan mata kita ini, perjuangan ekonomi parsial atau politik kanak-kanak yang setengah-hati, meskipun dengan upaya yang menguras segala sumber daya, tidak dapat mencapai hasil yang memadai. Lebih buruk lagi, perjuangan itu akan menghabiskan energi dan menghancurkan perjuangan massa dalam periode kekalahan dan demoralisasi. Rakyat pekerja siap berpartisipasi dalam protes-protes demonstrasi dan bahkan dalam pemogokan umum, tetapi tidak untuk aksi-aksi kecil dalam sehari yang melelahkan dan tanpa prospek apapun. Tanpa pemogokan dengan prospek yang besar, para pekerja tidak dapat dan tidak akan mulai berjuang. Di era yang sangat kritis ini, angkatan muda proletariat harus mampu memenuhi panggilan sejarah. Kaum muda kita harus bergabung dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner untuk memberikan ekspresi yang terorganisir dan sadar dalam perjuangan massa, untuk menunjukkan arah yang benar untuk maju: yaitu pemberontakan seluruh Indonesia dengan metode mogok di mana-mana tanpa batas waktu, yang dalam perkembangannya akan mengorganisir komite-komite aksi sebagai organ-organ pemerintahan mandiri yang secara langsung dipertahankan dengan massa bersenjata. Mogok yang kuat, meluas, gigih dan berani, dari satu industri ke industri, pabrik ke pabrik, yang melumpuhkan aktivitas produksi dan mengambil-alih kontrol atasnya, dengan mendasakan dirinya pada massa yang dipersenjatai, menyebar ke seluruh kota dan menarik keluarga-keluarga di rumah-rumah pekerja hingga menyentuh kamp-kamp prajurit tingkat rendah, menyatukan satu kota dengan kota lainnya, menyebar ke desa-desa, dan terikat-erat satu-sama-lain dalam komite-komite mogok yang demokratis, yang memilih pemimpinnya dari semua partai atau organisasi buruh dan semi-buruh yang ada secara terbuka, langsung dan bebas, mengangkatnya sebagai petugas pelaksana pemerintahan dengan gaji yang setara dengan pekerja terampil dan dapat diganti sepanjang waktu, pemerintahan-mandiri tanpa sistem dua-kamar yang memisahkan eksekutif dan legislatif, tidak membatasi pengelompokan faksional, agitasi dan propaganda, yang terus-menerus mengorganisir pemogokan dan menyuplai senjata kepada organisasi-organisasi massa yang membentuk blok-blok untuk tindakan bersama atau front-front pertahanan-diri yang bersatu dalam aksi, dan mengadakan pertemuan di setiap distrik dan di setiap kota yang berpuncak pada Kongres Komite Mogok dari seluruh Indonesia.
Pemberontakan seluruh Indonesia yang bermetodekan pemogokan umum akan melibatkan sebanyak mungkin peserta yang militan, menarik gerakan-gerakan tani, bangsa terjajah, perempuan, LGBT, dan sebanyak mungkin lapisan tertindas lainnya. Semua pengalaman masa lalu kelas pekerja, sejarah keterhisapan dan ketertindasannya, penderitaan dan pengorbanannya, perjuangan yang menang dan kekalahannya, akan hidup dalam dampak peristiwa ini dan terserap ke dalam kesadaran setiap rakyat pekerja yang sedang berjuang bersama. Metode mogok lahir dari rahim perjuangan proletariat sendiri, sama seperti setiap persenjataan modern yang ada di muka bumi diciptakan oleh kaum buruh sendiri. Bukanlah gembok atau tembok yang memisahkan kelas proletar dari mogok dan senjata melainkan reformisme, sentrisme, hipnosis dominasi borjuasi dan racun nasionalisme. Tanpa pemogokan umum, komite aksi dan persenjataan massa di bawah kepemimpinan yang memadai, maka kemenangan revolusi kita takkan mungkin diraih. Pemberontakan seluruh Indonesia harus memperkenalkan ini dalam perjuangan massa. Menghadapi situasi pra-revolusioner di mana karakter setengah-revolusioner massa dan karakter non-revolusioner kepemimpinan proletar muncul secara bersamaan, kaum muda dan terutama buruh muda harus segera membangun kepemimpinan revolusioner untuk mengisi kekosongan kepemimpinan politik itu. Dentuman pembuka revolusi kita telah membuka mata dan telinga massa. Dan babak baru perjuangan massa di tengah penajaman kematian inflasi dan pembantaian perang yang semakin bergemuruh, akan memperhebat kebangkitan baru di medan-medan aksi melawan kapitalisme dan imperialisme. Di sini, gerakan massa harus maju ke tahap yang lebih tinggi. Dunia yang sedang berubah menuntut kita untuk tidak menyerah, tetapi memperhebat perjuangan revolusioner kita. Angkatan muda politik proletar, bangun kepemimpinan revolusioner sekarang juga! Pemberontakan Seluruh Indonesia! Kehidupan! Kebebasan! Perdamaian! Gulingkan Prabowo!
