Kategori
Seruan

Kapitalisme Membunuh Yohannes Roja

“Darah rakyat masih berjalan. Menderita sakit dan miskin. Pada datangnya pembalasan. Rakyat yang menjadi hakim. Ayo-ayo bergerak sekarang. Kemenangan pasti datang. Merahlah warna panji kita. Merahlah warna darah kita. Merahlah warna darah kita.” (Mars Darah Rakyat)

Yohannes Bastian Roja, bocah SD yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena. Berita dari Kabupaten Bajawa, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sempat menghebohkan seluruh Indonesia, anak yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri.

Pesan yang ditinggalkan sebelum kematiannya, sesaat sebelum kemiskinan dalam masyarakat yang keji dan hina ini merenggut nyawanya, merupakan bentuk protes terhadap dunia yang tidak adil kepada dirinya dan ibunya–kepada seluruh kaum yang menderita dan terhina seperti Roja. Ini adalah pesan yang ditulisnya di atas kertas kumuh dan dengan pena yang tintanya hampir tidak tersisa–‘Surat buat Mama Reti’:

“Mama saya saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya mama. Mama saya pergi.”

“Tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal mama.”

Sungguh pesan yang memiliki pesan moral mendalam, yang berangkat dari sebuah kelas yang tertindas dalam masyarakat ini, dan terekspresikan melalui peristiwa bunuh-diri dari seorang ‘anak yang masih kecil’ di pulau di ujung timur negeri kita.

Jika kita mendalami apa maksud dari kondisi kehidupan keluarga ini–begitu memperihatinkan, bagaimana mana tidak? Seorang anak yang mestinya belajar bersama anak seusianya dengan aman, justru sebaliknya: ia diperhadapkan dengan pendidikan yang mahal sejak usia dini, hal ini memberatkan ibunya yang seorang diri bersusah payah mempertahankan hidupnya dan anaknya. 

Bagaimana ini bisa terjadi?

Dari pengakuan warga setempat, ibu Reti adalah seorang ibu-tunggal yang menghidupi seorang anaknya tanpa keterlibatan tangan sang ayah. Dia bekerja ke sana-ke mari untuk sesuap nasi, tidak pernah menerima saluran sembako apalagi akses pendidikan ‘gratis’ untuk anaknya. Birokrasi korup yang hidup enak dan berkalang kemewahan tidak punya kewajiban untuk memperhatikan orang-orang susah. Borjuasi di manapun berada hanya mengejar kepentingannya kelas sendiri.

Seolah-olah Roja dan ibundanya tidak ada, tidak hidup, dan tidak menjadi bagian dari penduduk di negeri ini. Pembunuhan struktural terhadap Roja–ini adalah salah satu dari beragam peristiwa yang memilukan, yang setiap harinya dihadapi seorang ibu sekaligus perempuan dan lebih-lebih perempuan-perempuan kelas pekerja lainnya di Indonesia, yang sering kali kita dengar dari mulut penguasa bengis sebagai kelaziman di negeri berkembang. Berbagai macam bentuk penindasan yang rakyat pekerja kita hadapi, pada dasarnya, berakar dari sistem ekonomi yang tidak berorientasi mempertahankan keberlangsungan hajat hidup orang banyak. Profit besar di sisi minoritas dan kemelaratan ganas di sisi mayoritas–seperti yang dijelaskan Marx di dalam karyanya: Das Kapital.

Inilah kapitalisme, bagaimana sistem ini bekerja–bagaimana buruh memproduksi dan bagaimana cara pendistribusiannya; semuanya dilumuri darah dan nanah dari orang-orang yang bekerja keras sepanjang waktu. Hari ini umat manusia berada dalam sistem masyarakat kapitalis yang sedang sekarat. Dimana buruh memproduksi dan hasil produksinya hanya dinikmati oleh mereka yang menjadi minoritas kelas bermilik dan berkiasa, dan di sisi lain kelas mayoritas hanya bisa menonton dengen derita seleher. 

Kapitalisme, sistem yang tidak masuk akal dan boros, yang hanya mementingkan profit bukan pemenuhan kebutuhan mayoritas; karena alasan inilah kapitalisme menjadi musuh kita bersama, sistem ini harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya, jika tidak sungguh malapetaka akan seterusnya menghinggapi kehidupan umat manusia. 

Sosialisme dan Pendidikan

Pendidikan dibawah kapitalisme adalah wadah yang subur untuk menumpuk keuntungan dan memeras kaum yang tak berdaya. Jika ada yang berkomentar pendidikan hari ini berkualitas dan dapat diakses oleh seluruh rakyat–itu semua omong kosong belaka. Selama Anda tidak mampu membayar pendidikan, dengan berbagai macam alasan instansi pendidikan; membayar SKS, pembaharuan infrastruktur, dan lain-lain, dan seterusnya–rakyat miskin dalam hal ini, alih-alih diberi bantuan yang memadai, segera ditendang supaya tidak terlihat lagi batang hidungnya. Inilah sistem pendidikan di bawah kapitalisme mulai dari tingkat kanak-kanak sampai perguruan tinggi–semuanya serupa lahan basah untuk meraup laba.

Tugas kaum revolusioner hari ini adalah berjuang untuk mengakhiri masyarakat kelas dan mengekspropriasi kepemilikan borjuis sebagai akar dari segala belenggu kemajuan umat manusia hari ini. Dengan cara menasionalisasikan 200 perusahaan multinasional dan bank-bank kapitalis di bawah kontrol buruh secara demokratis, kita akan dapat menciptakan pendidikan yang benar-benar gratis dan berkualitas tinggi.

Sosialisme tidak hanya sistem masa depan untuk keberlangsungan hidup manusia dan bumi. Terlebih dapat membebaskan pendidikan dari tujuan mencari keutungan dan profit. Sosialisme menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas dan membebaskan kaum miskin supaya memberinya kesempatan untuk mengembangkan diri dan masyarakat sesuai kebutuhan umat manusia.

Di bawah ‘Sosialisme yang menang’, tidak akan ada lagi pendidikan yang membunuh anak usia dini: kita tidak akan lagi menyaksikan peristiwa-peristiwa bunuh-diri dari anak-anak seusia Yohannes Roja. Alih-alih pendidikan kapitalis yang destruktif ini, pendidikan dalam masyarakat sosialis akan melahirkan manusia-manusia baru, dengan tingkat kecerdasan yang tinggi dan kepenuhan karakter yang memukau, yang dapat bekembang seperti Einstein-Einstein baru bagi masa depan umat manusia.

Bangun gerakan revolusioner sekarang juga!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai