Kategori
Perjuangan

Keterasingan yang Meledak

“Revolusioner zaman kita, yang hanya dapat dikaitkan dengan kelas pekerja, memiliki ciri psikologis khusus, ciri intelektual dan kemauan. Jika perlu dan memungkinkan, revolusioner akan menghancurkan hambatan historis, menggunakan kekerasan untuk tujuan tersebut. Jika ini tidak memungkinkan, maka ia akan mengambil jalan memutar, merusak dan menghancurkan, dengan sabar dan penuh tekad. Ia adalah seorang revolusioner karena ia tidak takut untuk menghancurkan rintangan dan tanpa henti menggunakan kekerasan; pada saat yang sama ia mengetahui nilai historisnya. Upayanya yang konstan adalah untuk mempertahankan kerja destruktif dan kreatifnya pada tingkat aktivitas tertinggi, yaitu, untuk mendapatkan dari kondisi historis yang ada hasil maksimal yang mampu diberikan untuk kemajuan kelas revolusioner.”

“Seorang revolusioner hanya mengenal hambatan eksternal terhadap aktivitasnya, bukan hambatan internal. Artinya: ia harus mengembangkan dalam dirinya sendiri kemampuan untuk menilai arena aktivitasnya dalam segala kekonkretannya, dengan aspek positif dan negatifnya, dan untuk mencapai keseimbangan politik yang tepat. Tetapi jika ia terhambat secara internal oleh hambatan subjektif terhadap tindakan, jika ia kurang pemahaman atau kemauan, jika ia lumpuh oleh perselisihan internal, oleh prasangka agama, nasional, atau keahlian, maka ia paling banter hanya setengah revolusioner. Sudah terlalu banyak hambatan dalam kondisi objektif, dan seorang revolusioner tidak dapat membiarkan dirinya menikmati kemewahan memperbanyak hambatan dan gesekan objektif dengan hambatan subjektif. Oleh karena itu, pendidikan seorang revolusioner harus, di atas segalanya, terdiri dari pembebasannya dari sisa-sisa ketidaktahuan dan takhayul, yang sering ditemukan dalam kesadaran yang sangat ‘sensitif’ … Kami berpendapat bahwa ateisme, sebagai unsur yang tak terpisahkan dari pandangan materialis tentang kehidupan, merupakan syarat mutlak bagi pendidikan teoretis seorang revolusioner. Orang yang percaya pada dunia lain tidak mampu memusatkan seluruh hasratnya pada transformasi dunia ini.”

– Trotsky; “The Tasks of Communist Education

Dunia kapitalisme terjungkir-balik dalam belokan sejarah yang tajam dengan peralihan situasi yang luar biasa mendadak. Peristiwa-demi-peristiwa mengamuk secepat kilat, seiras terjangan petir yang menghantarkan arus listrik yang kuat, yang menyambar bumi manusia yang tersesaki tumpukan rutinitas. Perubahan historis yang sangat lambat dan dihitung dalam cakupan abad sedang dipercepat. Di balik permukaan alam yang tidak berbahaya, kekuatan-kekuatan yang menakutkan dan tidak dapat dikekang terus mengintai dan bergerak sembunyi-sembunyi: tanah yang menggeliat terancam akan longsor, gunung yang menjulang terancam akan meletus, sungai yang penuh terancam akan meluap, hutan yang rimbun terancam akan terbakar. Dan dalam perkembangan sosial yang permukaannya begitu tipis namun nampak tebal terkendali, juga terdapat kekuatan tersembunyi yang terus bergerak dan bertumpuk-tumpuk untuk meledak dan menghancurkan segala kekangan yang ada: hasrat yang menggelegak, kebencian yang mengakar, kemarahan yang membaja, dorongan seksual yang membara, ketakutan dan kecemburuan yang meraksasa. Mekanisme organik di dasar bumi dan molekuler revolusioner di lubuk hati masyarakat akan menghujamkan mimpi buruk bagi segala krak mati yang merintangi langkah maju alam dan sejarah. Kapitalisme yang sekarat dengan krisisnya yang bertambah dalam telah menyeret bumi manusia dalam atmosfer sosial yang diselimuti kejang-kejang kematian dengan penderitaan dan kejahatan umum yang beranak-pinak. Seturut hukum ‘akumulasi-untuk-akumulasi’ dan ‘produksi-untuk-produksi’ yang berorentasi laba alih-alih pemenuhan kebutuhan umat manusia, semesta kemanusiaan dan seisinya dibenamkan dalam kubangan lumpur kerakusan yang membentuk adonan kekejian yang tidak dikenali. Dalam satu dekade terakhir, cengkeraman hidra kapital telah menyeret lingkungan dan iklim global dalam prahara. Hutan hujan terbakar di Australia dan California. Banjir bandang memorak-morandakan Bangladesh dan Indonesia. Kekeringan menggulung negeri-negeri Afrika. Gelombang panas menewaskan ribuan populasi setiap musim panasnya. Kematian hanyalah deretan angka yang didekati dengan pidato dan dituangkan ke berita. Kelaparan dan penyakit hadir menyertai, menambah getir kehidupan massa namun merupakan kegetiran yang manis bagi kaum borjuasi; seperti atraksi kerumunan semut mengais sisa-sisa, jejeran birokrasi korup berkerumun dengan pesolek dalam toples gula-gula: program-program rehabilitasi dan filantropi. Kelas yang bermilik dan berkuasa tidak pernah merasa ngeri menyaksikan pemberontakan alam dengan kekuatannya yang buta; satu-satunya momen yang mereka takuti adalah kehilangan kepemilikan pribadi, dan oleh karenanya, beraneka hak istimewa yang melekatinya. 

Menghadapi pemberontakan-buta, kaum penghisap dan penindas terjaga seperti fosil purba atau spesies langka. Modal adalah ajimat yang mengaruniai mereka gedung tinggi tahan banjir dan gempa bumi, menerbangkan dengan helikopter dengan garda bersenjata, mampu mengungsi ke pulau pribadi, atau mendapat perawatan medis mutakhir dengan dokter tersohor dan obat nomor satu. Modal dapat menyulap apapun yang menjadi bencana bagi massa menjadi lapangan bisnis, panggung drama, atau wahana wisata bagi borjuasi. Setiap birokrasinya memproyekan bencana, maka industri kesehatan dan farmasi, makanan dan minuman, media dan transportasi, bahkan industri fiktif properti dan parasit keamanan akan hadir dengan bermerk-merk produk dan layanannya. Dan ketika perut birokrat tak kenyang-kenyang, maka mereka menjelma menjadi tikus-tikus kanibal di antara sesama mereka. Aneka korupsi anggaran terbongkar dan rupa-rupa koruptor mengular, tetapi babi-babi penegak hukum dapat dibayar melindungi. Tuan hakim, jaksa, dan pengacara memutar otak dan pasal-pasal, bersilat lidah, bermain mata bahkan kelamin demi memberi pelayanan dan pengayoman ekstra. Di kantor-kantor pengadilan juga pers yang beranda-berandanya bagai berangkas, semua iblis berjubah malaikat mengaum layaknya singa di tenda sirkus. Atas nama ‘keadilan’ untuk kelas turunan dajal, para perampok cabul berdasi diplaster di rumah bordil dan para pembunuh gendut berpangkat diendap ke kamarbola republik begundal. Dalam “Manuskrip Ekonomi dan Filsafat”, Marx bertutur bagaimana kekuasaan uang mampu menukarkan apa saja. Hidup miliaran laki-laki dan perempuan dibuat tidak berarti tanpa mempunyai uang, karena uang menjadi semacam tongkat sihir yang memberikan setiap pemiliknya kemampuan yang luar biasa:

“Sifat uang adalah milik saya—pemiliknya—dan kekuatan esensialnya. Jadi, apa yang saya ‘mampu’ dan ‘bisa lakukan’ sama sekali tidak ditentukan oleh individualitas saya. Aku jelek, tapi aku bisa membeli untuk diriku sendiri perempuan tercantik. Oleh karena itu, saya tidak jelek, karena dampak ‘keburukan’—daya jeranya—dapat dihilangkan dengan uang. Saya menurut karakteristik pribadi saya, adalah ‘orang yang timpang’, tetapi uang memberi saya ketinggian dua puluh empat kaki. Oleh karena itu, saya tidak timpang. Saya jahat, tidak jujur, tidak bermoral, bodoh; tetapi uang dihormati, dan karena itulah pemiliknya juga memperoleh kehormatan. Uang adalah barang yang paling utama, oleh karena itu pemiliknya adalah orang yang baik. Selain itu, uang menyelamatkan saya dari kesulitan bersikap tidak jujur: karena itu saya dianggap jujur. Saya tidak punya otak, tapi uang adalah otak sesungguhnya dari segala sesuatu dan bagaimana mungkin pemiliknya tidak punya otak? Lagi pula, dia dapat membeli orang-orang pintar untuk dirinya sendiri, dan apakah dia yang berkuasa atas orang-orang pintar tidak lebih pintar daripada orang-orang pintar? Bukankah saya, yang berkat uang mampu melakukan semua yang didambakan hati manusia, memiliki semua kapasitas manusia? Oleh karena itu, bukankah uang saya mengubah semua ketidakmampuan saya menjadi kebalikannya?”

Uang adalah monumen tertinggi dari daging dan seluruh kemanusiaan yang terasing. Dalam masyarakat barang-dagangan yang mengerikan ini uang menjelma sebagai entitas yang maha kuasa dan teramat sangat agung. Uang bisa membeli segala yang terkomodifikasikan. Di hadapan kantong-kantong uang, gembol-gembol penghuni dunia bawah yang berlemak jahat dan super menjinjikan menjual keyakinan dan kehormatan secara telanjang. Dengan uang para begundal membeli kedudukan dan dengan kedudukan diluncurkan beribu kebijakan sadis dalam mendatangkan uang. Dalam lingkaran setan dari spesies-spesies yang bergelimang kekayaan melalui warisan dan perampokan kolosal terhadap kerja orang lain, tidak ada sesuatupun yang lebih mulia dan patut dipercaya selain uang. Hanya uang yang dapat memberi kehidupan makhluk-makhluk berhati kasar dan berjiwa kriminal itu nilai—hitam menjadi putih; kotor menjadi bersih; tua menjadi muda; buruk menjadi baik; jelek menjadi rupawan; maling menjadi dermawan; salah menjadi benar; pengecut menjadi pemberani. Namun lembaran kertas ajaib ini tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri. Tidak akan pernah ada yang sanggup membuat uang bernilai selain dari kerja manusia. Hanya manusia-manusia biadab yang tidak pernah mengotori jari tangan dan berlinang keringat yang memandang uang sebagai sumber nilai. Tanpa laki-laki dan perempuan yang bekerja-keras sebagai budak-upahan sepanjang hari dan memerlukan makan-minum untuk pemulihan energi, maka uang sama sekali tidak bernilai dan tidak patut dijadikan penyetara nilai terhadap benda-benda. Ketika orang-orang bekerja untuk secara langsung memenuhi kebutuhan dasarnya, tanpa dimestikan menjual atau membeli untuk beroleh sesuatu, maka uang sama sekali tak dibutuh. Tatkala orang-orang menguasai semua sarana produksi yang ada untuk pemenuhan kebutuhan umat manusia maka uang tinggallah untaian kertas usang yang berdebu. Namun dalam masyarakat yang mempertahankan kepemilikan pribadi, yang secara moral dan legal menerima pandangan kelas penguasa untuk mengakui kepemilikan individu atas alat-alat produksi, dan pada gilirannya melazimkan intensifikasi pembagian kerja-mental dan kerja-manual dalam perbudakan kerja-upahan; maka kebutuhan-kebutuhan manusia yang sebenarnya—baik individu maupun masyarakat, secara khusus dan umumnya—direduksi menjadi kebutuhan akan uang semata.

Pada hakikatnya produksi kapitalisme sepenuhnya menyangkut penghisapan nilai-lebih. Konsep tentang nilai-lebih berkait dengan kerja-produktif dalam hubungan antara kapital dan proletar—eksploitasi: (1) peningkatan nilai-lebih absolut dengan memperpanjang keseluruhan durasi hari kerja bahkan dengan tuntutan lembur yang bar-bar dan tidak-dibayar dan (2) peningkatan nilai-lebih relatif dengan meningkatkan produktivitas atau mempersingkat waktu kerja-perlu yang dibayar yang berarti pengurangan upah atau nilai tenaga kerja yang dibayar. Dalam aktivitas produksi kapitalisme bentuk-bentuk eksploitasi ini menjadi kabur lantaran semua kerja nampak seperti ‘dibayar’ secara harian, mingguan, atau bulanan dalam ketentuan upah per jam, per potong, borongan—atau yang teramat biadab: kontrak tanpa jam kerja yang tetap. Inilah sistem kerja upahan. Melalui “Das Capital”, Marx menulis: ‘dengan meningkatkan produktivitas tenaga kerja, nilai tenaga kerja dapat terus menurun dan penurunan ini disertai dengan pertumbuhan konstan dalam jumlah sarana penghidupan yang dibutuhkan pekerja. Dan dibandingkan dengan nilai-lebih, nilai tenaga kerja akan terus turun, dan dengan demikian jurang antara situasi kehidupan proletar dan kapitalis akan terus melebar.’ Di seluruh negeri, kesenjangan kaya-miskin melebar drastis dengan kemakmuran dan pelinunguhan berjiwa kriminal di satu kutub dan kemelaratan dan penghinaan tak tertanggungkan di kutub lainnya. Tahun 2026, Oxfam Internasional menyodorkan sajian menggetirkan: kekayaan terlaknat dari 10 persen konglomerat global sama dengan tiga perempat dari seluruh kekayaan penduduk bumi. Jurang raksasa—yang menjadi neraka manganga yang dialiri keringat nanah dan darah sampai tetes terakhir—yang memisahkan minoritas penghisap super tambun dengan mayoritas terhisap pucat kerempeng—adalah perampokan kerja-upahan sebagai satu-satunya sumber laba dalam tatanan gelap yang keji dan hina ini. Namun dengan meludahkan remah-remah upahnya, kelas borjuis berkelakar telah menunaikan kewajibannya, yang sesungguhnya merupakan sebuah penipuan karena tak seluruh nilai kerja buruh dibayar. 

Pengolahan bahan mentah dan penyusutan mesin hanya mentransferkan nilainya ke komoditas yang tercipta. Perkakas dan bahan baku yang dikuasai secara pribadi tidak menciptakan nilai yang baru: nilai-lebih. Begitu juga pertukaran barang-dagangan yang disetarakan dengan uang sama sekali tidak menjadi sumber laba. Satu-satu sumber keuntungan kapitalis adalah kerja manusia yang hidup dan tidak dibayar dengan upah yang penuh. Borjuasi dari semua negeri, sepanjang sejarah masyarakat kapitalis, telah bersekutu dengan segala kekuatan jahat untuk memotong dan mengurangi upah; karena jika proletariat menerima upah yang setara dengan nilai kerja yang sepenuhnya maka borjuasi sama sekali takkan memperoleh untung apa-apa. Saat memproduksi komoditas, proletar tidak sebatas melakukan kerja-konkret untuk menghasilkan nilai-guna yang berbentuk barang dan jasa secara fisik, tetapi juga kerja-abstrak untuk menciptakan nilai-tukar. Kerja-abstrak ini bukanlah fungsi-fungsi aktual yang dijalani ketika bekerja: menjahit, memintal, memutar, menarik, mengangkut, berkendara, dan sebagainya. Kerja-abstrak menyangkut daya kerja—keseluruhan kemampuan mental dan fisik, hubungan organik antara pikiran, perasaan, dan kehendak secara keseluruhannya. Tanpa kerja-abstrak yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan biasa dengan perut yang mementaskan orkestra perang terhadap rasa lapar dan berkeras hati mengais roti dengan lengan dan kaki yang terbakar menari-nari telanjang dalam hari-hari yang berat, maka tidak ada sepotong mesin yang dapat mendesing, tidak ada sebongkah pabrik atau gudang yang dibuat meriah siang dan malam, dan tidak ada onggokan kekayaan material yang menggunung di dipan-dipan segelintir tuan yang terangsang kesetanan. Penyair revolusioner Shelley melukiskan dalam sebuah gubahan yang gemilang:

“Tidak ada kekayaan sejati selain kerja-keras manusia. Seandainya ada gunung-gunung emas dan lembah-lembah perak, dunia tidak akan menjadi lebih kaya daripada sebutir jagung; tidak ada setetespun kemewahan yang akan dituangkan pada umat manusia. Sebagai akibat dari pertimbangan kita terhadap logam mulia, seseorang dapat menimbun kemehawan untuk dirinya sendiri dengan mengorbankan kebutuhan tetangganya; sebuah sistem yang cocok untuk menghasilkan semua jenis penyakit dan kejahatan, yang tidak pernah gagal untuk mencirikan dua-ekstrem: kelimpahan dan kemelaratan … Orang miskin harus bekerja untuk apa? Bukan untuk makanan yang membuat mereka kelaparan; bukan untuk selimut yang membuat bayi mereka kedinginan di gubuk mereka yang menyedihkan; bukan untuk kemuliaan peradaban yang tanpanya makhluk beradab akan jauh lebih menderita daripada orang biadab yang paling hina; tertindas oleh semua kekejaman yang berbahaya, dalam prospek kemanfaatan yang tak terhitung jumlahnya yang diperlihatkan di hadapan mereka setiap hari—tidak, untuk keangkuhan kekuasaan, untuk kesenangan buta dari seratus bagian masyarakat.”

Di pepabrikan, juga pergudangan; medan di mana wajah-wajah peluh yang menua sebelum waktunya memikul beban kerja yang meremukan, tidak ada yang bersih dari pemotongan atau pengurangan bayaran. Setiap bos, juga jongos kepercayaannya–tukang cari-muka yang menjilat kemaluan bosnya–selalu menyemprotkan: ada kerusakan alat atau kehilangan bahan atau ketidakbecusan pekerjaan yang menuntut pertanggungan. Dalam caci-maki dan hinaan dari majikan dan atasan lancung, kesalahan-demi-kesalahan dipertuduhkan ke segenap bawahan—upah yang seukuran kurcaci pada akhirnya terpenggal di tiang gantungan yang suram. Walau setiap hari seseorang bekerja hampir mencurahkan seluruh waktunya dalam sehari, pada panas siang yang membuat gosong dan pada dingin malam yang mengundang meriang, dengan tangan-kaki yang terikat mengikuti ritme yang tersembul dari putaran mesin dan barang-barang, dan terus memaksakan kuat bertahan dengan telanan obat maupun tegukan minuman, tetap tidak ada upah setara yang ditemukan di akhir atau awal bulan. Upah yang tidak manusiawi begitu mendatangkan patah-hati dan pikiran-kacau. Standar hidup digerogoti, tiada terpenuhi. Keintiman di rumah kontrakan atau bilik keluarga meluruh. Weker-weker tipis dalam hari-hari yang terbatas untuk reproduksi dipertarukan untuk, 2 bahkan 3, aktivitas mengais tambahan roti—ada banyak di tempat berbeda yang menyerabut sebagai budak-upahan lagi dan lagi, tetapi tidak sedikit pula yang nekad berjudi dan menjual-diri. Semuanya menjadi corak-corak paling kelam dan tragis dalam persoalan sistem kepemilikan dan upahan borjuasi, yang merenggut segala-gala yang dimiliki pekerja: energi dan energi sisa, hingga seluruh waktu-luang untuk menghaluskan jiwa dan mengembangkan budaya.

Dalam sistem kerja-upahan, gerombolan setan-uang dengan angkuh membayar fungsi-fungsi dari pekerja dan secara bengis merampok kerja-abstraknya. Nilai-tukar pada produk-produk kerja tidak diberikan oleh fungsi kerja yang aktual (kerja-konkret), melainkan daya kerja atau kemampuan kerja ‘yang hidup’ dan digunakan selama waktu tertentu (kerja-abstrak) dan perlu dipulihkan melalui reproduksi di bilik-bilik keluarga atau rumah tangga. Inilah satu-satunya sumber nilai-lebih bagi kapitalis; kerja-abstrak yang menjadi alat valorisasi modal, energi manusia yang menjadi ukuran nilai yang imanen dan menuntut diperbaharui agar dapat terus bekerja. Daya-kerja yang terkuras setiap harinya bukan saja menciptakan dan mengurung nilai-lebih dalam komoditas sebagai potensi, tapi juga ikut merealisasikannya dalam dorongan tak-terkandali untuk terlibat dalam aktivitas pertukaran di pasar. Kerja-abstrak merupakan aktivitas produksi sekaligus konsumsi. Tapi hasil-hasil produksi dalam masyarakat kapitalis tidak dapat dinikmati oleh kelas pekerja untuk memenuhi kebutuhan materialnya dan memajukan kehidupannya. Kapitalisme menyulap kerja manusia menjadi arena penghancuran kekuatan produktif. Pertanian, industri, ilmu-pengetahuan dan teknik yang berkembang hari ini telah memungkinkan laki-laki dan perempuan yang selama berabad-abad merangkak dalam lumpur dan debu untuk bangkit makan kenyang dan tidur nyenyak, menghirup udara pagi yang segar berbudaya dan meraih kehangatan matahari yang penuh cinta-kasih. Tapi kontradiksi inheren dalam masyarakat kapitalis—kepemilikan alat produksi secara pribadi dan kerja yang bersifat sosial serta aktivitas produksi dan pertukaran yang-tidak-mengenal-batas dan batas-batas sempit negara-bangsa—terpatri seiras simpul Gordian yang membelenggu kemajuan umat manusia.

Kapitalisme tidak akan pernah bisa mengatasi kontradiksi dalam dirinya. Satu-satunya cara kapitalis memperpanjang dengus nafasnya yang menua tidak pernah beringsut dari akumulasi-untuk-akumulasi: menginvestasikan kembali nilai-lebih yang disedotnya dari pekerja ke dalam produksi. Namun metode ini menambah kedalaman kontradiksi: investasi lebih lanjut meningkatkan kapasitas produktif, membanjiri pasar dengan komoditas dalam jumlah yang semakin kolosal hingga mencipta prahara over-produksi: membludaknya barang-barang yang tidak diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi barang-dagangan untuk merealisasikan laba yang pada akhirnya tidak menemukan pembeli. Dari beraneka sektor industri, satu industri saja segera dapat memampangkan betapa ironisnya krisis over-produksi dalam masyarakat kita: perhatikanlah air muka sektor otomotif—yang terhubung dengan sektor baja, plastik, elektronik, nikel dan aneka bahan kimia—kelebihan kapasitas produksinya telah mencapai 30 persen dari jumlah penduduk dunia. Tidak ada satupun daratan yang tidak dijejaki mobil dan motor yang diproduksi perusahaan-perusahaan raksasa Ford, Fiat, Renault, Toyota, Honda, Suzuki, Ducati, dan sejenisnya. Jalan-jalan kota dan lintas provinsi sudah digerayangi kendaraan canggih dan mewah. Semua mata melirik dan terpikat oleh produk-produk otomotif yang ada. Namun tidak semua orang sanggup membeli sesuatu apa-apa. Hanya turunan orang kaya, konglomerat dan koruptor saja yang mampu membeli semuanya. Bagi rakyat pekerja—tak ada cukup biaya, tak ada upah setara kerja, bahkan tak ada lapangan kerja; karena dengan tiga puluh persen kelebihan produksi otomotif, ini akan berarti perusahaan otomotif dan segala perusahaan yang terhubung dengannya dapat menutup sepertiga pabrik mereka dan memecat sepertiga pekerja mereka. Dan ini berlaku untuk seluruh sektor yang dilanda krisis over-produksi.

Pemulihan krisis over-produksi saat ini adalah yang paling lemah dalam sejarah: investasi produktif menurun pesat dan terjebak dalam labirin kapital-fiktif yang non-produktif dan pertumbuhan ekonomi menjadi sangat dangkal dan kemerosotan lebih tajam dan berkempanjangan, yang kesemuanya ditandai dengan penurunan standar hidup yang besar dengan kemiskinan dan pengangguran yang menjadi permanen. Pertahanan kepemilikan pribadi dan kerja-upahan telah menumpukan kayu bakar pengangguran dan kemiskinan sebagai wajah dunia yang paling umum. Awal 2024 sebuah laporan resmi mencatat jumlah pengangguran global hampir menembus 200 juta orang dan akhir 2025 sebuah laporan serupa menyatakan 4,5 miliar orang sedang menatih hidup di bawah garis kemiskinan. Krisis zaman ini bersifat organik dan eksistensialis bagi keseluruhan sistem sosio-historis yang menua. Semua kekuatan produktif yang dikembangkan kapitalisme telah tumbuh melampaui kekangan kepemilikan pribadi dan negara-bangsa. Seisi bumi, daratan maupun lautannya, permukaan maupun kedalamannya, telah menjadi satu bengkel ekonomi dunia dengan bagian-bagian yang saling-terhubung dan saling-mempengaruhi satu sama lainnya—jika AS dan Eropa tidak mengonsumsi maka Cina dan Rusia tidak dapat memproduksi dan jika Cina dan Rusia tidak berproduksi dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya maka negeri-negeri semacam Indonesia, Argentina, Brazil, dan Venezuela tidak dapat mengekspor bahan mentah. Ekspor kapital yang menjadi ciri umum zaman kita telah menyengkeram dan menundukan semua sarana penghidupan sampai ke ujung-ujung dunia dan ke pelosok-pelosok terpencil. Tanah leluhur dan bengkel kampungan, emas pegunungan dan mutiara lautan, minyak dan seluruh kandungan di perut bumi, yang sebelumnya tidak terjamah kini dilahap modal raksasa secara bengis. Ledakan perang yang bergemuruh dan mengirimkan gelombang ancaman ke seluruh negeri hari ini tidak saja mengekspresikan pemberontakan kekuatan produktif terhadap kekeramatan kepemilikan pribadi dan bentuk politik negara-bangsa, tetapi juga memproklamirkan kejatuhan setiap perekonomian nasional sebagai unit ekonomi yang sudah kehilangan kemandiriannya di hadapan rongrongan imperialisme.

Perang Rusia-Ukraina, pendudukan Irael atas Palestina, penjajahan Indonesia terhadap Papua Barat, serta ancaman invansi AS pada Iran dan negara-negara Amerika Latin menunjukkan kekacauan dan disorganisasi yang biadab dari dunia kapitalisme yang sedang runtuh. Ketidakmampuan kapitalisme untuk membawa maju perkembangan kekuatan produksi sampai ke masa depan yang jauh, dengan memanfaatkan hukum ekonomi serta proses produktif demi kepentingan umat manusia, telah menjerumuskan peradaban modern dalam mimpi buruk perang imperialis dan militerisme. Upaya penguatan dominasi dan wilayah pengaruh dari kekuatan-kekuatan imperialis yang ada, membentangkan beragam persoalan sosial untuk diselesaikan dengan kekerasan berdarah dan bentrokan bersenjata. Kestabilan dan ketentraman pada akhirnya menjadi kenangan yang udik dan remuk di bawah godam ketidakpastian dan ketidakamanan yang berlapis-lapis. Di dunia di mana kemewahan ditumpuk, di sinilah manusia membusuk. Kondisi hidup laki-laki dan perempuan kian hari makin memburuk, kurus-kering dengan darah hati yang hampir mengering dalam kilang sedot kelas penguasa yang semakin brutal dan rakus. Untuk menggarap sepetak kecil lahan sewaan; untuk menjajakkan produk rumahan; untuk mengenyam pendidikan formal dan kesehatan yang terbatas; dan untuk terus bernafas dengan upah yang tipis dan seluruh sarana penghidupan yang tergerus—semuanya terpaksa mencari selamat dalam jaring laba-laba perbankan dan kolam liur lintah-darat. Di sisi pinjaman swasta dan pemerintah yang bertumpuk-tumpuk, kredit rumah tangga membentuk gunungan yang melilit. September 2025, total hutang dunia menembus angka yang tragis: 310 persen dari PDB global—345,7 triliun dolar AS. Kebijakan akrobatik Federal Reserve dalam menurun-naikan suku-bunga sama sekali bukan obat mujarab, melainkan cambuk yang menyeret setiap pemerintahan borjuis di negeri miskin dalam kebangkrutan besar. Tetapi berlusin-lusin suntikan uang-murah dan beroket-roket bunga pinjaman justru menambah gemuk birokrasi korup yang mengatasi persoalan hutang dan ancaman kebangkrutan dengan mengencangkan ikat-pinggang serangan terhadap standar hidup massa-rakyat.

Di seluruh dunia, monopoli-monopoli raksasa yang terkait-erat dengan perbankan dan terjalin-kasar dengan negara borjuis telah mendominasi kehidupan umat manusia. Berjuta-juta orangtua mewariskan tumpukan hutang kepada anak-anaknya dan setiap bayi yang dilahirkan tanpa cela dipaksa menanggung beban hutang yang berlimpah. Tangan-tangan mungil yang dulunya tidak tahu melap ingus sendiri kini sudah tumbuh dewasa sebagai jago-jago hutang sendiri. Hutang membayangi orok-orok yang terhempas ke dunia ini mulai dari buaian sampai ke liang kubur. Ayah atau ibu yang mendekati pensiun mendapati dirinya bekerja lebih banyak tapi diupah lebih sedikit. Hutang yang beronggokan tak kuasa dibayar dan kemiskinan yang tak tertanggung melambai di hari tua. Di dunia kapitalis yang sedang runtuh, dibutuhkan dua atau tiga jenis pekerjaan sekaligus untuk bertahan hidup lebih lama atau mati lebih dini. Dan kita yang keluar dari rahim kelas pekerja begitu mengenal perjuangan sehari-hari ini. Masa kanak-kanak telah menyingkap jati-diri kita, seperti pagi hari yang menunjukkan keceriaannya. Di permukaan hari, masa kecil berbicara tentang canda dan tawa—matahari selalu bersinar dan langit selalu biru. Namun semakin larut ke dalam hari, seperti malam yang menyemburkan kekelamannya; masa kecil diselimuti kegelapan cakrawala masyarakat dan keluarga. Idealisasi masa kanak-kanak sebagai masa damai, bahagia, dan indah hanya ada dalam kemunafikan sastra borjuasi. ‘Rimba kapitalisme menyerang yang lemah dan adakah yang lebih lemah dari anak-anak kelas pekerja?’ Ketakutan, ketidakpastian, penghinaan, pengapiran, dan penindasan yang tiada tara menyertai masa kanak-kanak kita. Dan ketika tumbuh dewasa, kita mendapati diri menjadi penambah bilangan laki-laki dan perempuan yang tidak pernah tidur nyenyak dan makan kenyang. Sepanjang hari kita menantang panas dan dingin, untuk menciptakan kekayaan yang tidak dapat kita nikmati. Wajah kita pucat-pasi, kadang menetehkan air mata seperti bayi yang ditinggal sendiri, dan berkeringat dingin dengan tubuh yang meringkuk kaku. Tatkala kita kembali ke rumah, hanya rasa lapar yang menyengat yang menjadi saus terbaik yang membangkitkan selera. Tidak ada daging dan buah; menu rutin hanyalah mie rebus dan nasi yang mengeras. Tapi di atas piring nasi yang retak, makanan tidak dihidangkan untuk muntahan mulut basah dan perut bulat, yang dilumuri minyak babi dan susu manis. Tidak! Makanan dihidangkan untuk tampungan mulut kering dan perut datar, yang berlumur cairan kuning dan gumpalan asap. Dan saat kita hendak tidur, seakan dibutuhkan satu-malam-penuh untuk melihat hari esok.

Di hari esok dan hari esok lagi dari masyarakat yang menua dengan cepat ini, angkatan muda—mahasiswa dan terutama buruh muda—hanya menyaksikan dunia yang sedang meluncur dalam mimpi-mimpi buruknya. Inilah kehidupan dengan gambaran kengerian tanpa akhir yang meletakan kaum muda kita seperti di sebuah perahu yang mengangkut orang-orang gila dengan wajah yang terdistorsi dan tidak terkenali—segala jenis parasit dan sampah masyarakat kita yang bergerombol layaknya binatang buas—berlayar ke tengah lautan badai; di mana satu-satunya warna adalah kegelapan tak bertepi dan tak tertembus cahaya, satu-satunya suara adalah kertakan gigi dan ratapan putus-asa, dan satu-satunya aroma adalah bau busuk kejahatan dan kematian yang mengaga. Inilah visi dunia kapitalisme yang sedang runtuh, terbalik dan terkoyak-koyak dalam keganasan perang tiada henti. Semua kekuatan kapital yang sebelumnya bertugas membimbing masyarakat borjuis telah menyatakan kebangkrutan sosial dan historis mereka melalui perang imperialisme. Gelombang pertama dari perang ini telah mengangkat birokrasi pemerintah dan militer ke ketinggian nasional yang belum pernah dicapai sebelumnya. AS, Rusia, dan Cina mengeluarkan berlimpah pendanaan untuk menguatkan alat-alat perangnya. Saat ini seluruh negara borjuis-imperialis yang berperang dan pemerintahan borjuis-nasional yang terancam memasuki pusaran perang berduyun-duyun meningkatkan anggaran pertahanannya demi mempertahankan kepemilikan pribadi dan memperluas kerja-upahan dengan memperdalam kesengsaraan rakyat pekerja: memaksakan perluasan penerapan kerja alih-daya dan upah-murah serta mencabut subsidi atau menaikan pajak untuk menjaga tingkat laba dan menggemukan mesin-mesin birokrasi. Kaum kapitalis, borjuis-imperialis maupun borjuis-nasional, berperang satu sama lainnya bukan untuk melindungi bangsa dari invansi tentara asing tapi demi mengeruk laba dengan merebut pasar luar negeri untuk komoditas mereka, sumber bahan mentah dan tenaga kerja murah dan memperluas lingkup pengaruh mereka. Dari segala penjuru mata angin, dalam panasnya hutan-hutan tropis dan dinginnya es kutub utara, intensifikasi produksi dan pertukaran kapitalis yang brutal ini memperdalam keterasingan rakyat pekerja sebagai komoditas utamanya. Pertahanan kepemilikan pribadi dengan sistem kerja-upahan mengintesifikasi pemisahan antara kerja-mental dan kerja-manual, melinunguhankan setinggi-tingginya binatang buas yang memerintah dengan kekuasaan uangnya dan memerosotkan sehina-dinanya manusia biasa yang hidup dari kerja-kerasnya; dan kepada yang terakhir dikondisikan untuk terasing dari keseluruhan kerjanya, terasing dalam relasi dengan alam dan manusia dalam perjuangan untuk eksistensi—terasing dari alat-alat kerjanya, bahan dan hasil kerjanya, dirinya sendiri dan sesamanya. Alienasi yang mengakar dalam bilik-bilik produksi meluas seperti bah melalui saluran-saluran pertukaran komoditas yang ada. Dalam “Teori Marxis tentang Keterasingan”, George Novack menerangkannya:

“Keterasingan telah menjadi ciri umum sejarah manusia. Keterasingan telah muncul semenjak zaman primitif, dan terus berlanjut hingga zaman manusia modern. Keterasingan kerja merupakan ciri khas peradaban manusia, dan terikat dengan perkembangan alat produksi dan hubungan produksi…. Kendali manusia yang semakin besar terhadap alam diikuti oleh hilangnya kendali terhadap proses produksi selama proses produksi masih sederhana dan aktivitas kerja  dilakukan secara kolektif dalam kehidupan manusia primitif. Namun, perluasan pembagian kerja secara sosial menyebabkan semakin banyak barang-barang kebutuhan hidup yang diubah menjadi komoditas, dan dipertukarkan di pasar. Kondisi seperti ini membuat kaum pekerja kehilangan kendali terhadap hasil kerja mereka, karena hasil-hasil produksi tunduk pada hukum pasar komoditas. Pada gilirannya, hukum itu mengatur kehidupan kaum pekerja sedemikian rupa, sehingga kaum pekerja sendiri menjadi komoditas untuk diperjual-belikan di pasar tenaga kerja. Dalam kondisi seperti ini, perbudakan terhadap tenaga kerja adalah sistem keterasingan kerja yang terorganisasi…. Keterasingan yang diderita oleh kelas pekerja berbasis pada sejarah kepemilikan pribadi terhadap alat-alat produksi. Kepemilikan pribadi itu memungkinkan untuk merampas surplus komoditas yang diproduksi oleh kelas pekerja. Tidak ada yang misterius dalam mengungkapkan asal-usul keterasingan dalam masyarakat yang telah terbagi dalam kelas. Keterasingan muncul sebagai akibat dari pemisahan tenaga kerja dari hasil produksinya, dan pemisahan tenaga kerja dari alat-alat produksi. Ketika alat produksi berada di luar kontrol kelas pekerja, mereka kehilangan kendali terhadap hidup mereka, kehilangan kebebasan mereka, dan kehilangan sarana-sarana untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka…. ”

Namun keterasingan dalam reruntuhan masyarakat yang uzur ini tidak bergerak pada garis yang lurus. Keterasingan yang compang-camping merayap menembus jendela dan pintu rumah, berhembus seperti angin subuh yang membawa kabar akan terbitnya fajar. Kelas penguasa yang berbantal kelimpahan dari kerja-keras para budak-upahan semakin lelap di ranjang ketambunan yang angkuh. Dengan kemudahan memperoleh kekayaan tanpa berkotor tangan dan berpeluh keringat, mereka menjadi semakin buta, tuli dan dungu. Namun ketika pagi menjelang, orang-orang lapar akan membuka mata dan bangkit dari setiap kasur kesengsaraan hidup yang ada. Di bawah matahari yang murah hati tidak ada satu rupa kegelapan yang tidak dapat ditembus oleh lengan-lengan keras cahaya; gelap yang meraja hanya dapat bertahan dalam hari-hari yang beku dari otak-otak angkuh yang berlemak babi. Penderitaan kemiskinan dan pengangguran tidak selamanya menyeret orang-orang dalam lembah kehancuran dan kematian yang sia-sia. Dalam satu dekade terakhir, Indeks Bunuh Diri Global mencatat: setiap tahunnya jutaan orang rentan mengalami depresi dan frutasi berat, di mana 700-800 ribu di antaranya berputus-asa dan memilih bunuh-diri dengan 1 kasus bunuh-diri tiap 40-43 detik—tetapi penghancuran-diri macam ini hanyalah berlangsung di selat-selat terpencil dan tersempit dari lautan kemanusiaan yang luas dan dalam. Berputus-asa menghadapi kondisi sosial yang mengerikan dan melenyapkan diri untuk pembebasan-diri-sendiri memang merupakan tindakan memberontak tapi pemberontakan individual yang malang: perlawanan personal yang terisolasi—tidak terorganisir secara tersentral dan impoten secara politik—yang cenderung menekankan pada kebebasan individu, dan oleh karenanya, mengandung prasangka ketidaksabaran dan keamatiran borjuis-kecil yang memilukan. Keterasingan yang menjadi sangkar yang mengurung kekuatan destruktif yang tersembunyi di jantung masyarakat ini, dalam perkembangannya akan meledak layaknya bencana alam yang tidak terkendali. Letusan-letusan kecil peristiwa bunuh-diri sebagai bentuk pemberontakan individu-individu yang terisolasi sesungguhnya mengantisipasi pemberontakan sosial yang meraksasa dan terorganisasi.

Kaum buruh dan muda yang menderita lapar dan miskin tidak mungkin terus membelakangi dunia kapitalisme yang sedang runtuh. Dalam musim dingin di hati, laki-laki dan perempuan yang ingin meraih kehangatan matahari, tidak mungkin terus meratapi kesengsaraan dan kepedihan hidup yang ada. Untuk setiap orang di antara kita, yang ingin menentukan nasib kelas kita sendiri, harus mulai menyingsingkan lengan bajunya; mengasah belati dan pelurunya dalam pertempuran sehari-hari, untuk mempersiapkan diri sebelum babak perjuangan penghabisan terbuka. Di pabrik maupun gudang yang sangat kotor dan dipenuhi penyakit, yang mengurung kita dalam unit-unit rutinitas yang membawa pada kehancuran diri total, terkandung saripati kehidupan yang luar biasa menggugah: daya-hidup yang tidak dapat ditaklukan oleh rasa lapar dan lelah—sebuah kemauan hidup yang membara, sumber mata air merah bagi dahaga sepanjang hari. Meskipun nampak semua ini dipentaskan sebagai perjuangan mengais roti tapi mawar merah yang berduri dan indah merona diam-diam tumbuh di kebun jiwa yang disirami keringat dan darah. Di sinilah tempat utama ditumpuknya gairah yang terpendam atau tertekan—jenis vitalitas yang umumnya dianggap berbahaya karena tidak dapat dikendalikan atau mengancam untuk menghancurkan tatanan yang sudah mapan. Inilah kekuatan inheren yang terkurung dan semakin membesar di dasar masyarakat, namun berusaha dilepaskan secara perlahan-lahan oleh keterasingan yang irasional ke saluran-saluran penenang yang sempit. Di titik tertentu dalam perkembangan angkatan kita, segala kesenangan dalam tegukan alkohol spiritual dan rangsangan seksual yang berlebihan yang kita dekati sebagai pelipur-lara dan pelarian-diri, yang menjadi satu-satunya penghiburan dan pelepasan penat kita dari kejamnya realitas hidup di zaman krisis kapitalisme ini, akan kita jauhi karena semuanya terungkap sebagai katarsis yang paling buruk dan tidak dapat mengubah apa-apa. Dalam kerja-upahan yang merusak diri kita dengan kerja-keras yang sangat melelahkan di mana izin sakit atau cuti sekalipun dapat diperlakukan sebagai pelanggaran yang dihukum pemotongan upah atau pemecatan sepihak—minuman keras, cinta-bebas, atau mukjizat macam apa yang mampu menghentikan banjir keringat dan darah hati yang setiap harinya dihisap? Dalam barak hisap yang gerbangnya tidak pernah ditutup, dengan cambuk shift-shift yang mengular, ada sakit kepala dan punggung yang mencekam dengan perut dan pinggang yang terlilit. Tatkala tangan dan kaki terkungkung mengikuti ritme mesin siang dan malam, dada menjadi sesak dan bola mata terasa copot. Dan ketika timbunan beban sepanjang waktu telah sampai ke tulang ekor, sistem saraf pusat meledak seperti letusan pistol, yang meremukan kontrol-diri atau membawa kematian mendadak. Diterapkan pada proses historis, apa-yang-berlaku bagi individu juga berlaku bagi masyarakat: sistem sosio-ekonomi yang tidak memberikan istrahat dan makanan yang cukup untuk laki-laki dan perempuan yang bekerja sepanjang waktu akan menggali liang-kuburnya sendiri. 

Dalam keterasingan sosial yang suram dan menyedihkan hari ini, yang menemukan kelegaannya dengan membesar-besarkan keputusasaannya sendiri dan kehancurannya menjadi ciri umum dari zaman kita; sesungguhnya terdapat tikus tanah yang terus menggali dengan semangat api dan keyakinan baja akan kehidupan yang baru—ada pasang surut dalam kehidupan umat manusia yang dapat diarungi untuk membawa kemanusiaan yang menderita ke tempat yang memungkinkan untuk tumbuh. Perang imperialis yang sedang berkecamuk, dengan skala kehancuran yang meluas dan spiral ke bawah yang melancip, tidak saja merupakan bencana historis yang besar tapi juga sekolah politik yang keras; di mana dalam amuk apinya, prasangka dan kebiasaan lama para budak akan terbakar hangus. Perang adalah metode yang digunakan kapitalisme pada puncak perkembangannya untuk menjinakan krisis over-produksinya yang bertambah ganas, namun dengan segala kekejaman yang menyertainya maka secara dramatis peperangan mempercepat keruntuhan sistem masyarakat yang sudah uzur dan menarik lapisan-lapisan sosial yang lembam ke medan perjuangan politik dengan cengkeraman yang kuat. Digoncang oleh gedebum meriam dan rudal balistik, juga tembakan anggur peluru inflasi dan ranjau harga yang meledak-ledak, laki-laki dan perempuan yang telah lama dibutakan dan ditulikan dalam kubangan keteralienasian yang mencekik, kini mulai menyadari makna yang sesungguhnya dari semua peristiwa yang sedang merundung kehidupannya dalam semua kebenarannya yang tersingkap secara brutal. Dalam krisis masyarakat kapitalis dan perang imperialis yang berlarut-larut, hidup benar-benar menjadi guru yang hebat! Di pabrik maupun di gudang tempat kita melangkah dengan sepatu yang rusak, juga di rumah-rumah kontrakan dan pemukiman kita yang kotor, yang semuanya terkait-erat dengan proses sejarah yang luas; di sini, dari pagi sampai sore hari, dan berlanjut pada malam yang menanti, tidak ada sosok-sosok Aristoteles atau Plato yang menggembalakan babi—di sini, tidak ada seorangpun dari kelas kita yang ditinggalkan sendiri dalam keteralienasian yang mencekam, tidur terlentang atau berjalan sempoyongan seperti mayat hidup yang disirami parfum dan gincu. 

Sebuah karya sastra yang hidup dikatakan ‘jujur’ dan ‘artistik’ ketika hubungan orang-orang yang mengisinya berkembang, bukan menurut keinginan pengarang tapi berdasarkan hubungan timbal-balik yang laten antara subyek dan obyek—tokoh dan latar. Dan di tengah pasang surut zaman kita, dalam kekalahan dan kekecewaan besar—harus ada lebih banyak keyakinan pada kelas kita sendiri, pada kekuatan kita bersama dan pada masa depan yang jauh. Dalam krisis dan perang ini, kaum buruh dan muda yang hidup dan berjuang dengan sepenuh hati dan jiwanya, tidak akan pernah mendapati dirinya dimahkotai sebagai karakter-karakter kardus yang merengkek dalam dunianya sendiri seperti yang biasa ditemui dalam cerita-cerita fiksi populer. Dengan satu dan lain cara, semua kita terhubung: sepanjang hari, tahun, abad, dan selama kehidupan umat manusia—setiap kali seseorang di antara kita, bangkit memperjuangkan sesuatu yang ideal bagi kemanusiaan yang ada, dia telah mengirimkan satu gelombang kecil pengharapan, yang kemudian saling-melintas silang dengan yang datang dari setiap mata-rantai energi dan tekad setiap orang dari kelas kita yang berhari depan, lalu menyatu untuk membentuk suatu aliran besar untuk meruntuhkan tembok-tembok keputusasaan. Biarlah gerombolan orang suci berperut buncit dan komplotan orang pintar yang munafik, menyenangkan para tuannya dengan meramalkan bahwa kita tidak mempunyai kegunaan lain selain menjadi skrup dan kawat dalam sangkar dengan sipir yang terus mengawasi di jam-jam yang tak berujung. Tatanan yang sedang runtuh ini takkan mungkin berdamai dengan kita, bahkan untuk sementara waktu, di bilik-bilik pemulihan yang suram dan sunyi, karena secara keseluruhannya meminum darah hidup dari hati kita. Dari keberadaan sosial kita yang malang, dengan lengan dan jari kita yang hampir putus, seperti seseorang yang tenggelam mencintai dasar laut, paru-paru kita terinfeksi oleh hasrat yang tak tertahankan untuk berhenti menjadi budak. Di tengah dunia yang dipenuhi tulang-belulang dan pusara tanpa nama dari semua kejahatan raksasa, meski tali-kekang kematian masyarakat ini menjerat leher kita—kita akan selamat, sebagai kelas revolusioner yang di pundaknya diletakkan masa depan umat manusia.

Dalam rimba kehidupan yang disesaki reruntuhan kedangkalan dan kesengsaraan, lautan sosial di mana kita mengapung seperti bunga-bunga api yang melayang di awang—meskipun kondisi kita bagaikan jatuh dari tebing, mari kita hadapi kenyataan; ‘di mana ada kehidupan, di situ ada harapan!’ Segala kekotoran dunia yang membusuk ini tidak akan pernah bisa menempel pada tubuh yang berkeringat; seperti lumut yang tidak dapat melekat pada batu yang menggelinding. Di titik keterasingan mendalam dan tiada tertanggungkan lagi, kemanusiaan yang terkekang dan dihancurkan melancarkan pemberontakannya. Di Bulgaria, yang merupakan salah satu negeri Eropa termiskin dan terkorup, dengan kesenjangan kaya-miskin yang telah lama dianggap lazim kini sudah tidak bisa diterima; seratus ribu orang membanjiri jalanan ibu kota untuk menentang pemerintahan durjana. Dari barikade tersembul kemarahan yang membentang dalam sebuah spanduk: ‘Bulgaria bukan milik Babi!’ Di Indonesia, Sri Langka, Bangladesh, Kenya, dan Nepal—yang juga masing-masing menjadi negeri di mana penduduk miskin dan pejabat korup beranak-pinak—dalam setahun terakhir, tumpukan kemarahan dan kebencian yang meluap-luap membentuk adonan massa yang bergerak secara gagah berani: bertempur memukul-mundur ‘anjing-anjing bersenjata lengkap’ dan membakar gedung-gedung ‘tikus-tikus parasit’ dalam artian yang sesungguhnya. Reaksi revolusioner massa akan semakin menguat seiring dengan bertambah dahsyatnya malapetaka krisis dan perang di zaman kita. Dari sudut pandang dan kepentingan kelas kita, tidak ada alasan untuk membelakangi dan meratapi segala kengerian yang ada—inilah zaman transisi yang akan membuka tahap-tahap baru dan lebih tinggi dalam perjuangan kelas proletar untuk revolusi dunia. Walau kelelahan yang berlebihan, yang berpadu dengan keseluruhan bahaya di sekeliling dapat memainkan peran yang sangat merusak fisik dan mental kita; tetapi jalan menuju masyarakat tanpa kelas, kehidupan masa depan yang bebas dan setara, akan melahirkan angkatan politik yang tak kenal lelah dan melampaui batas-batas kapasitas manusia. Dalam “The Phenomenology of Spirit”, Hegel melukiskan secara indah proses-proses molekuler menjelang kelahiran dunia baru:

“Selebihnya: tidak sulit untuk melihat bahwa zaman kita adalah masa kelahiran, dan masa transisi. Semangat manusia telah putus dengan tatanan lama yang sampai saat ini berlaku, dan dengan cara berpikir lama, dan berada dalam pikiran untuk membiarkan semuanya tenggelam ke dalam kedalaman masa lalu dan memulai transformasinya sendiri. Memang tidak pernah berhenti, tapi terus mengikuti arus kemajuan. Namun hal ini sama halnya dengan kelahiran seorang anak; setelah periode nutrisi yang lama dalam keheningan, kesinambungan pertumbuhan bertahap dalam ukuran, perubahan kuantitatif, tiba-tiba terputus oleh tarikan nafas pertama—ada jeda dalam proses tersebut, perubahan kualitatif dan anak terlahir. Dengan cara yang sama, semangat zaman, yang tumbuh perlahan dan diam-diam matang untuk mengambil bentuk baru. Menghancurkan satu-demi-satu bagian dari struktur dunia sebelumnya. Bahwa ia terhuyung-huyung hingga tumbang hanya ditunjukkan oleh gejala-gejala di sana-sini. Kesembronoan dan lagi-lagi rasa bosan, yang menyebar dalam tatanan yang sudah mapan, firasat yang tidak jelas akan sesuatu yang tidak diketahui—semua ini menandakan bahwa ada sesuatu yang lain yang sedang mendekat. Keruntuhan bertahap ini, yang tidak mengubah tampilan umum dan aspek keseluruhan, disela oleh matahari terbit, yang, dalam sekejap dan dalam satu pukulan, memperlihatkan struktur dan bentuk dunia baru.”

Dalam peperangan besar di tengah krisis dunia kapitalisme ini, revolusi sosialis menjadi agenda—bagi semua angkatan kita yang bekerja, menderita, dan berjuang untuk dunia yang lebih baik; ini adalah masa-masa yang mendebarkan, penuh harapan dan ekspektasi politik! Di permukaan sosial yang tampaknya tidak akan terjadi apa-apa, kesembronoan dan rasa bosan hanyalah bentuk ekstenal historis yang sementara; kebingungan dan perasaan putus-asa yang bercampur kekecewaan dan kebencian yang merayap di setiap sudut gang dan jalanan, pabrik dan pergudangan, sekolah dan rumah-rumah—ini bukanlah reaksi yang kosong, melainkan gerak molekuler yang organis dan terus-menerus mencari jalan keluar untuk menghancurkan seluruh tatanan yang sudah mapan. Keseluruhan situasi telah menciptakan prasyarat obyektif untuk proletariat merebut kekuasaan dan memulai transformasi sosialis, namun yang kurang adalah faktor subyektif: kepemimpinan sebuah partai yang berpedoman pada teori revolusioner, yang memiliki visi masa depan yang jelas dengan tingkat keteguhan, tekad dan kemampuan berjuang yang diperlukan untuk memastikan tindakan-tindakan yang mampu mengorganisir dan memberi ekspresi yang sadar terhadap kekuatan destruktif yang terpendam di sanubari masyarakat. Di dunia kapitalis yang sedang runtuh, seluruh kendaraan tua organisasi politik borjuis dan borjuis-kecil dengan sekujur dinding keropos moralis dan penjilatnya, tidak ada satupun yang sanggup memainkan peran yang dibutuhkan oleh sejarah. Menghadapi beribu gejala yang menyertai periode yang sedang berubah, gembol-gembol khianat yang bergidik dan berjiwa picik, takkan bisa menerima dan membawa panggilan apapun dari kedalaman masyarakatnya.

Sebagaimana kepemilikan pribadi dan negara-bangsa telah menjadi belenggu bagi perkembangan kekuatan produksi, demikian pula partai-partai sosialis ‘lama’ dengan para pemimpinnya yang berkredinsial ‘kiri’ telah menjadi penghalang bagi gerakan revolusioner massa. Keseluruhan mereka menua dengan buruk, menggadaikan impian-impian masa lalunya kepada iblis dan hadir sebagai ular berbisa yang meracuni gerakan rakyat. Dalam menghadapi kebangkrutan politik liberalisme dan ekonomi pasar bebas, mereka dengan naifnya mengelukan program negara kesejahteraan dan nasionalisme ekonomi borjuis. Dalam kepungan militerisme yang semakin meningkat, mereka dengan ngeri menerangkan itu sebagai pertanda kebangkitan fasis tanpa memahami bahwa negara sebagai alat kekerasan itu sendiri, tidak ada basis massa borjuis-kecil yang cukup untuk menyangga pemerintahan bertangan besi, dan perjuangan kelas-kelas yang hidup belum sampai pada periode perjuangan penghabisan di mana fasisme adalah metode terakhir di tangan kapitalis untuk menghancurkan revolusi proletar. Dalam menyaksikan ledakan perang imperialis, mereka secara terang-terangan menyerukan perdamaian-kelas dan bersembunyi-sembunyi dalam mendukung salah satu pihak borjuis-imperialis yang berperang. Dan dalam setiap beranda publisitas dan seluruh upaya pengorganisasian, mereka tidak pernah menghubungkan tuntutan sehari-hari dengan perjuangan untuk revolusi dunia; tidak pernah menjembatani kebutuhan sejarah yang obyektif dengan ketertinggalan kesadaran massa di belakang peristiwa. Kini di antara mereka—ada yang mencari perlindungan di bawah ketiak birokrasi negara dan partai borjuis untuk melancarkan kemaniakan studi akademiknya, ada pula yang bergerilya meromantisasi aktivitas politik infantilnya dan memaksakan otoritasnya secara retrospektif di hadapan generasi baru yang masih hijau.

Konon setiap anak manusia yang terlempar ke dunia dan tumbuh sebagai bagian dari masyarakatnya memiliki pegas takdirnya sendiri. Tapi periode di mana kita hidup ini, dengan sudut-sudutnya yang tajam, menghantam pegas itu hingga patah. Zaman kita—kondisi dan aktivitas masyarakat dalam dunia krisis kapitalisme—memiliki pegas yang lebih kuat daripada pegas-pegas individu yang ada. Ini adalah krisis sosio-historis yang melanda seluruh budaya, dimulai di basis ekonominya dan berakhir di bangunan ideologinya. Dalam periode sejarah yang tajam ini kedewasaan kita terutama akan terekspresikan melalui fakta bahwa kita tidak menuntut lebih dari apa yang bisa diberikan oleh siapapun dan apapun kepada kita. Sebuah pertimbangan yang tepat dan kemampuan untuk menilai keseluruhan situasi secara proporsional adalah sesuatu yang penting untuk melangkah maju. Tanpanya akan begitu banyak orang muda yang jatuh dengan jiwanya yang mati-muda dan keruntuhan moralnya mengekspresikan keruntuhan dunia kapitalisme. Mereka adalah orang-orang yang menua sebelum waktunya bukan karena kerja-keras tapi oleh kedangkalan, keraguan, dan kepongahan yang begitu rupa: mereka letih karena derai kelelahan yang telah berlalu; mereka takut akan kesulitan di hadapan mata; dan mereka membusuk dengan cepat namun tidak untuk menjadi anggur yang baik, dan oleh karenanya, tidak mampu menambah cita-rasa pada perjuangan kelas revolusioner yang ada. Cangkang ini terdiri dari seluruh generasi sosialis dan kiri-kiri ‘masa lalu’ yang telah membeku dalam kerja-kerja agitasi dan organisasi pada periode sebelumnya. Mereka tidak mampu pecah dengan kebiasaan dan pandangan lamanya selama periode-periode di mana peristiwa bergerak lambat dan permukaan sosial relatif damai. Memasuki dunia yang terjungkir-balik, mereka tidak siap berada di tengah krisis, perang dan revolusi. Keseluruhan situasi telah berubah dan sedang berubah dengan cepat dan menuntut kita untuk melihat lebih dalam ke massa yang merana dalam sistem sosio-historis yang keji dan hina ini. Kita belum selesai dan tidak akan pernah selesai untuk belajar dan memahami. Bahwa laki-laki dan perempuan yang siang dan malam menjadi budak tidaklah membutuhkan khotbah-khotbah kosong tentang perjuangan dan persatuan di luar dunianya; bukan kebijakan amorf dan fiktif dari salon dan kedai kopi, tapi slogan-slogan yang jelas dari kepemimpinan proletariat yang memadai; bukan sekadar mengenai berdiri terpisah dan bergerak bersama, tetapi terutama kejelasan dan keberanian untuk tidak mencampuradukan program dan panji. Satu-satunya yang sanggup memandu umat manusia untuk sampai pada kehidupan baru adalah partai revolusi sosialis dunia.

Kondisi politik dunia saat ini menunjukan: yang paling terbelakang adalah organisasi-organisasi atau partai-partai yang memimpin perjuangan massa—perubahan revolusioner umum proletariat dan borjuis-kecil lapisan bawah, serta pembusukan politik kelas penguasa, berkembang lebih cepat daripada kematangan kepemimpinan politik yang siap memimpin revolusi dunia. Ini menandakan bahwa di babak pembuka zaman revolusi kita, pada tahap pertama dari perjuangan kelas revolusioner yang telah membuka medan aksi untuk organ-organ kepemimpinan yang ada, tidak menutup kemungkinan akan bergemuruh situasi revolusioner yang hebat tanpa organisasi atau partai revolusioner yang memadai untuk memimpin revolusi. Pemberontakan-pemberontakan besar yang meledak di berbagai negeri telah menunjukan kekosongan kepemimpinan revolusioner; dalam situasi nasional di masing-masing negeri yang khusus dan merupakan bagian dari situasi dunia yang umum, secara keseluruhannya telah menunjukkan kejang-kejang historis yang serius dengan belokan situasi yang mendadak dan perkembangan kesadaran yang melompat. Zaman perang dan revolusi ini mengharuskan kita bersiaga: untuk menghadapi malapetaka yang mengancam, dengan memilih posisi yang paling memungkinkan untuk maju; memberi harapan, mempersenjatai dan mengilhami produsen laki-laki dan perempuan; dan membawa panji dan senjata, yang dapat menaungi pasukan dan memanggil pasukan cadangan, ke medan pertempuran. Hanya dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner inilah kita dapat mempersiapkan kemenangan revolusi: berlatih seni perang kelas yang paling dasar untuk menjaga prajurit untuk selalu siap bertempur dan mengirimkan tanda bahaya ke seluruh lini ketika waktunya telah tiba.

Jangan biarkan waktu melumat kita, menyerah pada tekanan kelas-asing yang mengepung keberadaan kita. Tidak ada kehidupan yang aman dan nyaman di tengah dunia kapitalisme yang sedang runtuh. Tidak ada jalan untuk kembali. Tidak ada pekarangan dengan taman bermain yang indah. Tidak ada bilik-bilik rumah yang damai dan teduh. Tidak ada hidup yang cukup ‘realistis’ di tengah tatanan sosial, politik dan moral yang sedang runtuh. Menuntut sikap realistis dalam keruntuhan dunia kapitalisme sama sekali tidak dapat dimengerti. Tanah yang kita injak telah terjungkir-balik dan udara yang kita hirup sudah sangat panas. Dalam sistem kehidupan ‘anjing-makan-anjing’, yang dipenuhi dengan penderitaan kemiskinan, kesuraman kelaparan, pengkhianatan kelelahan, dan kehilangan yang mendalam—kita harus hidup dan berjuang, sebagai angkatan muda proletar, yang telah membakar jembatan untuk bertolak ke masa kanak-kanak radikalisme borjuis-kecil yang menyedihkan. Kita tidak dapat menebak kapan tanggal dan bulan Revolusi Oktober di zaman kita akan meledak; tapi setiap hari, setiap jam, setiap menit yang memisahkan kita dari momen yang menentukan itu, adalah tugas kita untuk memanfaatkannya—untuk mempersiapkan diri kita secara politik dalam papan catur kehidupan sehari-hari, sebelum badai revolusi itu tiba dan menggugat kesiapan kita. Dengan waktu yang teramat terbatas dan dalam perjuangan untuk maju, kita tidak boleh menyianyiakannya untuk belajar-hidup— ‘belajar-untuk-perut’. Kita harus ‘makan-untuk-belajar’, bukan ‘belajar-untuk-makan’—menyerah pada tuntutan tubuh material dan spesies. Waktu seharusnya membuat kita menjadi lebih matang supaya menua menjadi anggur yang baik. Untuk hidup, untuk perut, untuk makan—kita harus bekerja, bukan belajar. Tetapi dengan tidak belajar-untuk-hidup, bukan berarti kita tidak belajar dan tidak belajar sama sekali. Karena segera setelah mengatasi rasa lapar, kita dapat menggunakan waktu kita yang terbatas itu untuk belajar—berpolitik dan meneguk mata air budaya dan filsafat.

Di tengah rimba sosial yang memaksa setiap orang yang tidak berkepemilikan seperti kita untuk menjual kemampuan kerjanya, bila kita ingin hidup lebih lama dan sampai ke tahap perjuangan kelas yang lebih tinggi, orientasi belajar-untuk-hidup sama sekali tidak bisa diterima. Belajar-hidup di bawah sistem kerja-upahan adalah abstrak dan dalam perkembangannya terungkap sebagai pandangan yang berat-sebelah. Setiap angkatan muda politik proletar yang memijakan kakinya di dunia yang konkret, dunia kapitalisme yang busuk, apabila ingin hidup maka kita harus bekerja dalam sistem kerja-upahan. Kita tidak boleh gemetar ketakutan menghadapi perbudakan, bukan hanya karena dengan itulah kita beroleh makan tapi terutama hanya dengan penghancuran perbudakanlah kita akan membuka jalan bagi kebebasan. Merasa ngeri dan jijik pada perbudakan-upahan adalah ciri umum psikologi intelektual borjuis-kecil. Mereka memandang disiplin industri yang buta sebagai jeruji tahanan yang paling kejam bagi kebebasannya yang relatif. Mereka lebih takut kehilangan waktu-luang daripada tidak makan. Mereka ingin berpolitik, berfilsafat, dan berbudaya tapi dengan tidak perlu mendasarkan diri pada kerja-fisik. Satu-satunya pekerjaan yang bisa menjamin hidup mereka adalah dengan menjual kemampuannya dalam berpikir. Setiap karya mereka diperlakukan bukan sebagai tujuan hidup tapi sarana untuk hidup. Dengan menempatkan supra-struktur kerja-mental sebagai pengganti basis-struktur kerja-fisik, orientasi hidup dan belajar mereka secara keseluruhannya sangat kacau: sebagian berpandangan filosofis dualisme dan berposisi politik reformisme, sebagian lainnya berpandangan filosofis eklektisisme dan berposisi politik sentrisme.

Suka atau tidak, kebutuhan eksistensial dari tubuh material dan spesies manusia, akan menarik semua perut yang lapar dalam aktivitas produksi dan reproduksi yang ada. Jika itu kaum intelektual, sistem kerja-upahan akan memasang mereka sebagai pekerja-pikir daripada pekerja-otot; mereka akan dibuat gila dalam pekerjaan mental yang merenggut kreativitas dan kemandirian berpikir. Gerombolan intelektual yang diperbudak secara mental dikutuk untuk menjadi pelayan iblis. Dokter juga pengacara, yang menganggap pekerjaannya independen, tetapi dalam hubungan mereka dengan klien-klien borjuis, mereka tersubordinasi secara psikologis–mereka harus selalu berpikir untuk mengobati atau melindungi kepentingan borjuis. Dosen maupun jurnalis, yang dalam pekerjaan mereka tertangkap sedang belajar–membaca, berpidato, atau menulis, tetapi setiap kata yang mewakili kepribadian mereka, hanya akan dibawa ke hadapan publik apabila disetujui borjuasi–apabila tidak melanggar batas-batas yang bisa diterima kelas penguasa. Kaum intelektual borjuasi-kecil membayangkan semua perbudakan mental terhadap mereka sebagai sebuah kewajiban moral: kode etik profesi–sebuah konsep etis atau moralitas resmi yang mengalir dari kepentingan kelas penguasa.

Dengan menjadi pelayan yang baik untuk tatatan yang telah mapan, mereka berpretensi untuk mendaki tangga birokrasi dan demokrasi borjuasi–sebuah orientasi politik yang berakar dari keberadaan kelasnya: sebagai pemilik modal skala kecil yang basis-strukturnya sudah hancur, dan oleh karenanya, bercita-cita secara suprastruktural untuk menjadi borjuasi besar. Di zaman dominasi kapital besar ini, mereka berdiri menggunakan cangkang kepalanya yang sempit dan memahkotai perbudakan mental terhadap dirinya dalam kedok moralitas resmi. Semakin dikendalikan untuk berpikir, mereka akan semakin menganggap dirinya bebas; bebas dari realitas kerja-upahan yang nyata, bebas dari kerja-otot yang ditakuti dan dibenci, dan bebas untuk menjadikan karya mental mereka sebagai sarana untuk dirinya sendiri.

Di hadapan angkatan kita, kaum intelektual borjuis-kecil adalah pengecut yang berjiwa kriminal. Kerja-fisik yang membuat mereka merasa ngeri, adalah aktivitas yang tidak pernah dapat merintangi kaum buruh untuk melakukan kerja-mental yang sesungguhnya: untuk menciptakan dan mengembangkan produk kebudayaan yang menjadi tujuan hidup kita sendiri. Pada awalnya, orientasi belajar-untuk-hidup berasal dari lapisan intelektual borjuis-kecil yang keranjingan ingin menjadi borjuis-besar. Basis dari pandangan ini adalah pemisahan kerja-mental dari kerja-fisik, yang secara antagonis menyubordinasi kerja-fisik di bawah kerja-mental. Tapi ketika angkatan-angkatan muda politik kita memasuki lorong-lorong kerja-upahan yang keras, pandangan dunia belajar-untuk-hidup akan tenggelam dalam banjir keringat—akan remuk di bawah godam-berat realitas kerja-untuk-hidup. Sebagai laki-laki dan perempuan yang hidup dari kerja-otot, sistem kerja upahan yang telah memenjarakam kemampuan berpikir kaum intelektual, tidak sedikitpun membuat kemampuan mental kita terborgol. Secara umum, perbudakan kerja-upahan menghancurkan kemampuan fisik dan mental proletar. Tapi secara khusus, dalam perbudakan modern ini, kemampuan mental pekerja fisik lepas dari jerat spiritual borjuis. Seorang laden konstruksi, dapat setiap hari merenovasi sarang tikus di Senayan atau membangun kuil bagi babi gemuk di bursa Jakarta; seorang kurir ekspedisi, dapat sepanjang hari mengirim barang mahal ke pekarangan istana Keluarga Cemara atau mengambil barang antik dari apartemen mewah Keluarga Cendana–dan kedua-duanya tetap mendapati diri sebagai pekerja otot yang ‘terisolasi’ dari pikiran para tuan dan nyonya yang ada. Ini akan menjadi berbeda, jika yang bekerja untuk borjuis itu adalah kaum intelektual borjuis-kecil. Yang terakhir, akan menjual seluruh pikirannya kepada kantong-kantong yang sudi membayarnya.

Orientasi politik dan pandangan filsafat angkatan kita harus berpijak pada realitas masyarakat kapitalis, tetapi bukan untuk menerimanya sebagai sesuatu yang tetap—melainkan harus dirubah dalam perjuangan kelas kita yang revolusioner. Untuk bergabung dalam perjuangan ini, kita tidak boleh belajar-untuk-hidup tapi harus hidup-untuk-belajar. Sistem kerja-upahan selama berabad-abad telah merintangi perkembangan kesadaran massa dengan belenggu kerja-untuk-hidup. Dengan mengabaikan realitas ini, yang merupakan batasan yang dikondisikan oleh keseluruhan perkembangan masyarakat kita, posisi belajar-hidup tidak akan bisa membantu angkatan kita untuk secara jelas mendekati persoalan ‘belajar dan hidup’, ‘kesadaran dan keberadaan’, atau ‘kerja-mental dan kerja-fisik’.

Dalam masyarakat kelas, yang memisahkan secara kasar kerja umat manusia menjadi kerja-fisik dan kerja-mental, kerja yang secara inheren tidak bernilai pada dirinya sendiri tapi merupakan instrumen untuk mengenal, memahami dan mengubah dunia—jembatan kreatif dalam hubungan subyek dan obyek, yang menghubungkan metabolisme tubuh material dengan metabolisme alam sebagai sebuah kesatuan organis—menjadi sesuatu yang terasing dari dunia dan diri manusia sendiri, tidak dikenali dan buta. Dalam masyarakat kapitalis, kerja sosial atau kerja-upahan untuk memproduksi komoditas adalah kerja yang membatasi perkembangan kemanusiaan kita. Manajer dan insinyur pabrik, mandor dan kepala gudang–dengan tanggung jawab administratif, mereka selalu mewakili pemilik modal dalam antagonisme dengan proletariat; fungsi yang diletakan di pundak mereka, telah merubah cara mereka berpikir dan membuat mereka menjadi pengkhianat dalam gerakan buruh. Di hadapan laki-laki dan perempuan proletar yang bekerja dengan otot, mereka membedakan dirinya secara spiritual sebagai intelektual borjuis-kecil yang bekerja dengan otak. Dalam setiap kesempatan, atas fungsinya dalam sistem-kerja upahan, mereka membayangkan dirinya sebagai bos. Di tengah peningkatan waktu kerja-lebih, yang ditandai dengan deru mesin-mesin mutakhir yang tiada terhenti dan ceceran-ceceran produk yang semakin berlimpah; pekerja otak di ruangannya yang menawarkan kesejukan surga, semakin memisahkan dirinya dari pekerja otot di lantai-lantai neraka yang berdebu. Di pabrik, di gudang, di pelabuhan, di stasiun kereta, dan di manapun kita bekerja dalam sistem ini—tidak akan kita temui kerja-fisik yang tergabungkan secara harmonis dengan kerja-mental—kita bekerja bukan untuk mencapai pengetahuan rasional dan revolusioner; bukan untuk mengembangkan pengetahuan dari tingkat paling rendah ke tingkat paling tinggi dan seterusnya; bukan untuk merubah dunia dan nasib kelas kita sendiri—kita bekerja hanya untuk meningkatkan perolehan laba kapitalis, dan oleh karenanya, memperdalam eksploitasi yang mengalienasi diri kita sendiri.

Dalam masyarakat kita, kelas pekerja sepanjang waktu dijerat melalui mekanisme penghancuran yang nampak sederhana tapi tidak disadari: bekerja-untuk-hidup dan hidup-untuk-bekerja. Lingkaran setan ini bukan saja menunjukkan keberadaan sosial yang nyata, karena di balik tampilan tipisnya tersembunyi rutinisme yang membelenggu kesadaran massa. Dan perjuangan untuk tidak sebatas mengetahui, tapi terutama meraih pemahaman untuk merubah dunia ini, diperlukan pandangan dan orientasi yang jelas, yang hanya dapat diperoleh dalam pembangunan organisasi kaum revolusioner proletar. Dengan membangun kepemimpinan revolusioner, angkatan muda proletar kita, yang memasuki medan-medan kerja-upahan hari ini, memiliki persenjataan metodis untuk melindungi kemanusiaannya dari destruksi pemisahan kerja-mental dan kerja-fisik—untuk penggabungan dialektis antara kerja-untuk-hidup dan hidup-untuk-belajar. Semua episode yang kurang atau lebih tidak biasa dalam kehidupan kita yang sekali ini, sama sekali tak terkait dengan orientasi ‘belajar-untuk-hidup’ tapi orientasi ‘hidup-untuk-belajar’. Inilah yang mengilhami perjuangan yang terus-menerus untuk ide-ide yang tepat, teori yang benar. Kenaifan ikatan terdahulu dan mimpi buruk keterbelakangan masa lalu adalah alasan mengapa kita harus maju dan lebih maju lagi. Kita harus maju bersama kelas kita, menempah besi ‘baja’ dalam jiwa kita. Kebutuhan sejarah yang besar dan kehendak untuk tidak menyerah akan membawa kita ke masa depan yang jauh. Partai revolusi sosialis dunia adalah organ politik yang dibutuhkan oleh keseluruhan situasi zaman kita, bukan sekadar sebagai kesadaran revolusioner yang terorganisasi tapi juga kehendak revolusioner yang terorganisasi.

Dalam hati dan nurani laki-laki dan perempuan yang sepanjang hari diperlakukan bagai kawat, gir, dan skrup terkandung dahaga yang luar biasa atas sesuatu yang belum dimengerti. Di kedalaman jiwa kelas kita butuh pengetahuan akan sesuatu yang terjadi, yang lebih tinggi, untuk memahami dunia yang sesungguhnya. Setiap pekerja otot dari kelas kita, yang dipandang remeh dan sebelah-mata, bukanlah makhluk-makhluk pandir di hadapan teori yang paling maju. Sistem kerja-upahan dalam masyarakat ini mengintesifikasi pemisahan antara kerja-mental dan kerja-fisik di mana kelas proletar dibatasi untuk berpikir tapi tidak diperbudak dalam berpikir. Dengan membangun organisasi tempur bagi proletariat, kita semua, yang bekerja, menjadi tidak hanya bekerja-untuk-hidup tapi juga dapat menggabungkannya secara dialektis dengan hidup-untuk-belajar—terutama mempelajari dan memahami bagaimana kelas kita bergerak dan beradaptasi dengan beragam peristiwa tanpa kehilangan generalisasi terluas dan prinsip-prinsip umum sejengkal jua. Penting untuk mempelajari ritme sejarah dan mencoba mengikutinya. Ini adalah seni yang tidak dapat dipelajari dan dipahami hanya dengan mengandalkan buku-buku teks yang dingin dan beku. Seni ini menuntut kita bekerja keras dengan tingkat antusiasme dan selera humor yang tinggi untuk menertawakan setiap kesulitan yang ada. Inilah seni pembangunan kepemimpinan revolusioner. Di medan-medan yang menguras energi dan penuh jebakan ekonomik, dalam terpaan petir dan angin topan politik, terdapat kemauan keras yang menyala dengan panas yang tak pernah padam—kilatan keyakinan teoretik yang mengalir dalam kerja-kerja persiapan yang optimis dan dilakukan secara metodis. Di masa-masa tergelap dalam sejarah ini, kepemimpinan politik dan organisasional yang bertendensi Bolshevisme yang sedang kami bangun akan menjadi cahaya sejati—untuk menerangi bilik-bilik dunia yang keji, hina, dan penuh dusta; untuk dukungan dan harapan semua laki-laki dan perempuan yang terhisap, tertindas, tertipu, dan teraniaya. Berjuanglah bersama kami: bangun Bolshevisme sekarang juga! Bolshevisme adalah seni pembangunan kepemimpinan revolusioner, untuk terlibat secara sadar-kelas dan teroganisir-kuat dalam pertempuran kelas yang paling konkret dan memainkan peran yang signifikan dalam gerak historis; satu dengan berbicara dan menulis, yang lain dengan gergaji besi dan revolver, dan dengan penyatuan dialektis keduanya—untuk kepenuhan dan kekuatan karakter yang membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya.

“Kita mungkin telah melakukan kesalahan dalam hidup kita, tetapi bahkan dalam kesalahan-kesalahan itu, kita berusaha menunjukkan sifat manusiawi yang penuh gairah. Kelas kita, dalam perjuangan melawan kapitalisme, untuk mengeraskan baja dalam jiwa, membutuhkan semangat juang yang tinggi yang diimbangi dengan ‘rasa proporsi’ dan ‘selera humor’ yang memadai. Bertahan tidak dapat direduksi menjadi penantian yang pasif, yang membentengi diri di belakang istilah yang asing bagi zaman yang sedang berubah: realistis. Bertahan bagi ‘subyek’ haruslah berupa penantian yang aktif. Dengan berserakannya hambatan material yang obyektif di muka bumi, seharusnya tidak ada secuilpun halangan personal yang subyektif di bawah kaki kita. Keyakinan yang kuat akan masa depan umat manusia dan cinta yang mendalam pada kehidupan yang sekali ini, membuat pengorbanan dan penderitaan individu kita tidak ada apa-apanya di hadapan perjuangan massa yang tak bernama—bukan untuk mengukir wajah kita dan mengabadikannya dalam sejarah, tetapi memberikan yang terbaik kepada dunia yang mungkin sama sekali tidak mengenal kita.”

“Oh, kelasku: suatu hari nanti—ketika kita memasuki pertempuran penghabisan, dengan barikade bersenjata yang dipimpin oleh jenderal yang paling mempuni dan berorientasi jauh ke depan—kita akan membersihkan kehidupan yang busuk ini, bersama ruang bawah tanahnya yang gelap dengan mayat-mayat yang tidak pernah dikubur. Saat momen itu tiba, kita akan sepenuh-penuhnya hidup untuk sesuatu yang lebih tinggi dan mulia daripada dorongan perut kita: untuk membangun tempat tinggal baru bagi umat manusia—di mana tidak ada sekat ruang tamu; di mana semua ruangan akan dibuat lapang dan cerah; dan di mana udara yang dihirup akan menjadi bersih, lebih hidup, dan manusiawi.”

– Kaum Bolshevik

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai