“Ketika aku menengok ke belakang, mereka masih ada. Melambai. Tampak seperti sesimpul buhul kecil. Orang-orang yang hidup dengan impian mereka, sementara dunia tengah hidup dalam mimpi-mimpi buruknya. Setiap malam aku memikirkan perjalanan ini … Aku tahu dia pasti bergerak, tengah berbaris, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk menjaga agar harapan tetap hidup untuk kita semua.” (Bersama Para Kamerad)
Jum’at, 19 Desember 2025, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Lombok dan Front Muda Revolusioner (FMR) Mataram mengagendakan pelaksanaan Diskusi Publik untuk memperingati 64 Tahun Trikora di Kontrakan Kinaonak Mataram, yang direncanakan dibuka pukul 18.00 WITA. Namun agenda ini tidak jadi dibuka atas intimidasi yang dilancarkan oleh Negara Borjuis-Kolonialis. Sejak siang intel-intel kepolisian dan militer beratribut lengkap mulai berkumpul dan menebar teror. Jumlah mereka terhitung puluhan dengan menyebar di titik tertentu dalam memantau dan mengancam aktivitas di Kontrakan Kinaonak.
Pukul 17.30 Wita, Kawan Wene, Kawan Andi, dan kawan-kawan Front Muda Revolusioner mulai bergegas ke titik diskusi. Namun suasana di Kontrakan Kinaonak sepi: kawan-kawan Papua telah lebih dahulu dintimidasi. Di grup whatsApp AP Kuni Lani Lombok, suatu pernyataan intimidatif beredar. Isinya adalah ancaman pembubaran diskusi dari pemilik kontrakan terhadap kawan-kawan Papua dan Solidaritas. Pemilik kontrakan melarang diskusi dilaksakan karena melanggar peraturan dan mengacaukan ketertiban umum.
Pukul 18.00 Wita, sekitar 30 intel berpakaian preman, Babinsa, dan ormas reaksioner berkumpul di gang depan kontrakan. Gang akses masuk ke kontrakan hendak ditutup dan berkali-kali mereka mondar-mandir di pintu gerbang kontrakan untuk memberi tanda bahwa aktivitas kawan-kawan Papua dan Solidaritas siap dihantam. Atas situasi ini agenda tertahan dan kawan-kawan yang berada di kontrakam dirisaukan oleh beragam ganguan.
Pukul 18.30 Wita, badan khusus orang-orang bersenjata semakin liar berdatangan di sekitar kontrakan. Ada yang terus berjalan keliling, berkerumun menutup gang, hingga di jalan raya dengan pasukan siap siaga. Di sisinya, pemilik kontrakan dan ikut pula kepala lingkungan setempat terus-menerus diminta untuk menambah tekanan hingga akhirnya agenda diskusi ditiadakan. Tidak ada diskusi, Peringatan 64 Tahun Trikora sebagai awal penjajahan terhadap Bangsa West Papua telah dibubarpaksakan dengan begitu rupa.
Pukul 19.30 Wita, sebagian kecil kawan bertolak ke Unram untuk mendapatkan tempat kondusif dalam melanjutkan agenda. Memasuki gerbang kampus, Satpam Unram terlihat bersiaga. Badan-badan orang bersenjata rupanya mengikuti kawan-kawan Papua dan Solidaritas yang ada. Dengan motor dan berjalan kaki, satpam berkeliling. Berkali-kali mereka melemparkan pandangan dengan sorotan yang tajam ke arah kawan-kawan AMP Lombok dan FMR Mataram. Sementara intel-intel juga menerobos masuk dalam area perkampusan. Kampus disisir untuk melarang diskusi “Persoalan Kebangsaan Papua”. Kampus dimiliterisasi untuk memerangi pandangan politik yang mendukung HMNS bagi Bangsa West Papua.
Dalam pandangan Marxis, negara adalah alat kekerasan yang digunakan oleh kelas yang berkuasa untuk melancarkan segala kepentingannya terhadap kelas lainnya. Negara hadir melalui polisi dan tentara, hukum, peradilan, penjara. Negara di tangan kelas borjuasi terbelakang, beroperasi sebagai institusi demokrasi yang dipenuhi kebohongan, sangat korup, buas dan keji. Dalam hubungannya dengan pembubaran diskusi dan persoalan kebangsaan Papua, negara kapitalis-kolonialis Indonesia berupaya keras dalam merintangi kepeloporan dalam gerakan Pembebasan Nasional West Papua. Terhadap kawan-kawan IMAPA dan AMP Lombok, negara melakukan operasi intelijen yang begitu rupa dalam memecah-belah angkatan muda Papua. Teror, ancaman, dan bujuk-rayu diluncurkan. Intrik dan manuver digencarkan. Prasangka, fitnah, dan tuduhan ditebarkan. Di sisinya, kepada elemen Solidaritas–negara borjuis mengumumkan mereka sebagai pengkhianat dan bagian dari kelompok separatis.
Namun dalam Persoalan Papua, kawan-kawan AMP dan Solidaritas tidak berjuang di atas garis separatisme. Perjuangan untuk Pembebasan Nasional Papua Barat bergaris kelas. Seluruh kelas yang tertindas dan terhisap harus bersatu secara organisasional dan politik di bawah panji revolusi sosialis, untuk penghancuran kapitalisme dan negara borjuis secara revolusioner. Kolonialisme Indonesia di Tanah Papua merupakan kekejian yang mekar di fase perkembangan akhir kapitalisme: imperialisme. Kelas borjuis-nasional Indonesia yang sudah tidak progresif dan terikat seribu benang dengan borjuis-imperialis sejak awal menganeksasi Papua untuk memperluas dominasi dan daerah pengaruh imperialisme. Kelas borjuis-nasional dan borjuis-imperialis tidak sekadar menginginkan kekayaan alam Papua tapi lebih jauh sumber kekayaan material di muka bumi: kemampuan kerja suatu bangsa. Militerisme, rasisme, seksisme, femisida, dan ekosida selama ini telah menjadi metode borjuasi dalam menundukan laki-laki dan perempuan Papua. Di tangan kelas borjuis, kekerasan-kekerasan reaksioner yang paling brutal dan biadab dihunus untuk memenggal pergerakan kaum muda dan rakyat pekerja Papua. Sejak Trikora sampai sekarang, darah dan nanah yang mengalir sepanjang waktu telah membentuk lautan pusara tanpa nama. Daging dan kemanusiaan Bangsa West Papua telah lama tercabik-cabik dan membusuk di tangan minoritas kelas yang berkuasa. Lukanya menganga dan sakitnya meraksasa, semakin membesar dalam hati dan jiwa generasi baru.
Bersaksi dan mengalami amukan situasi yang keji dan hina di sekitar kami, maka dalam Peringatan 64 Tahun Trikora kami memancang tuntutan berikut ini:
1. Hentikan Pembungkaman terhadap AMP KK Lombok, Kaum Muda Papua dan Elemen Solidaritas di Mataram.
2. Hentikan Kriminalisasi Elemen Gerakan Rakyat dan Bebaskan Semua Massa Aksi yang Masih Ditahan.
3. Cabut Omnibus Law Ciptaker.
4. Hapus Outsourcing.
5. Stop PHK dan Pemotongan Upah Sepihak.
6. Terapkan 8 Jam Kerja dengan 1 Jam Istrahat dalam Skala Nasional.
7. Buka Lapangan Pekerjaan dan Berikan Akses yang Seluas-luasnya untuk Kaum Muda.
8. Terapkan Pendidikan dan Kesehatan Gratis untuk Rakyat Miskin.
9. Hentikan Laju Deforestasi.
10. Tetapkan Banjir Sumatera sebagai Bencana Nasional.
11. Adili Semua Jenderal Pelanggar HAM Masa Lalu dan Hari Ini, di Indonesia dan West Papua.
12. Nasionalisasi Industri-Industri Strategis di Bawah Kontrol Rakyat Pekerja.
13. Sita Harta Koruptor di Bawah Kontrol Rakyat Pekerja.
14. Bubarkan Komando Teritorial.
15. Berikan HMNS bagi Bangsa West Papua.
16. Solidaritas Penuh untuk Perjuangan Pembebasan Rakyat Palestina, West Sahara, Kanaky, dan Catalonia di Garis Perlawanan terhadap Kapitalisme-Imperialisme.
“Angin bersiul, badai mengamuk, sepatu kita rusak, tapi kita harus terus berjalan, menaklukan mata air merah, tempat terbitnya matahari masa depan…. Maju kamerad! Maju! Bawa suara kalian ke suara kami. Maju kamerad! Maju! Dan matahari akan bersinar untuk kita semua. Untuk fajar baru ini. Bergabunglah dengan kami. Dan bersama-sama kita akan membawa. Ke setiap sudut dan setiap rumah. Bendera merah rubi kita.” (Bandiera Rossa)
Medan Juang, 19 Desember 2025
AMP KK Lombok dan FMR Mataram
