Kategori
Perjuangan

Tabuhan Pembuka Revolusi Kita

“Janganlah ada apapun, dalam seruan yang kita bawa kepada laki-laki dan perempuan yang sedang bangkit sekarang, yang dapat menjatuhkan kita atau membuat kita kehilangan semangat zaman. Ingatlah selalu! Manuver dan intrik dari kelas penguasa akan luruh dan menjadi abu di hadapan api dan baja. Zaman kita memiliki pegas yang lebih kuat daripada pegas kita masing-masing, dan spiral sejarah akan terurai hingga akhir; janganlah kita menentangnya, melainkan membantunya, dengan upaya sadar dan terorganisir dari pikiran dan kehendak kita. Marilah kita persiapkan masa depan; marilah kita menangkan hak atas roti dan bunga, tarian dan lagu-lagu bagi umat manusia.” (Kaum Bolshevik)

Kita hidup pada periode sejarah yang sangat dramatis: penuh kemelut yang mencekam dan meledak-ledak. Dunia diselimuti awan gelap yang paling pekat dengan gerombolan penghisap yang mempertontonkan akrobat paling biadab. Umat manusia berada di tengah kesengsaraan akut dan penghinaan barbar. Tidak ada jaminan kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Semuanya terkerangkeng oleh monopoli raksasa yang berdiri di atas kepentingan mengeruk keuntungan demi mempertahankan dan meningkatkan kepemilikan perseorangan. Namun di hadapan kita sekarang sedang berlangsung sebuah proses historis yang luar biasa kompleks. Kontradiksi antara tenaga produktif dengan kepemilikan pribadi dan negara-bangsa sangat akut. Negeri-negeri borjuis dengan beragam bentuk pemerintahannya terhuyung-huyung, compang-camping dan bangkrut. Perkembangan kekuatan produksi masyarakat kapitalis telah melampaui batas-batas sempit negara-bangsa dan tidak cocok lagi dengan kekeramatan relasi-relasi borjuasi. Seluruh negeri di muka bumi sudah menjadi satu bengkel ekonomi dunia, yang secara keseluruhannya lumpuh, dengan bagian-bagiannya yang saling-terhubung dan saling-mempengaruhi, mendominasi yang lemah dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya—semuanya tengah meluncur dalam mimpi-mimpi buruk di zaman krisis eksistensial kapitalisme. Dalam Perspektif Dunia 2025, Revolutionary Communist International (RCI) menerangkan inilah periode di mana “Dunia Terjungkir Balik”. Fitur utamanya adalah berakhirnya kejayaan tatanan dunia ‘liberal lama’. Dari segi ekonomi–ini ditandai kebangkrutan globalisasi dan perdagangan bebas, dan dimulainya era proteksionisme agresif yang begitu predatoris. Dari segi politik–ini ditandai runtuhnya politik tengah (partai-partai borjuis liberal dan partai-partai sosial-demokrat reformis) dan ayunan tajam ke kanan dan kiri. Dari segi hubungan luar negeri–ini ditandai tereksposnya kemunafikan diplomasi AS (Presiden Trump) dan Ukraina (Presiden Zalensky) dalam Perang AS/Ukraina-Rusia. RCI berkata:

“Sesungguhnya, sejak krisis finansial 2008, perekonomian dunia tidak pernah sepenuhnya pulih dari krisis. Dunia bergerak dari satu krisis ke krisis lainnya. Sarana utama yang digunakan oleh kapitalis untuk menanggulangi krisis, yaitu utang, telah menjelma menjadi hal yang justru memperparah krisis itu sendiri…. Krisis kapitalisme dunia, dan semua konsekuensi yang mengalir darinya, cepat atau lambat akan menghantam semua negara. Tidak satupun negeri yang imun darinya. Perekonomian dunia yang telah terintegrasi oleh karenanya mengikat nasib satu bangsa dengan bangsa lainnya.”

“Materi-materi yang mudah terbakar menumpuk di berbagai penjuru dunia. Krisis sistem kapitalisme dalam segala bentuknya telah memicu gelombang demi gelombang pemberontakan revolusioner. Apa-yang-disebut tatanan dunia liberal, yang selama puluhan tahun membentuk lanskap global, kini runtuh di hadapan mata kita. Peralihan ke proteksionisme dan perang dagang mengguncang fondasi ekonomi dengan dahsyat…. Krisis kapitalisme, sebagai sistem ekonomi yang kini tak lagi mampu mengembangkan kekuatan produktif secara berarti, dan karena itu tak sanggup lagi meningkatkan standar hidup dari generasi ke generasi, telah melahirkan krisis legitimasi yang dalam dan terus membesar terhadap seluruh institusi politik borjuis…. Perjuangan melawan militerisme dan imperialisme telah menjadi isu sentral di zaman kita. Kita dengan tegas menentang perang imperialis dan imperialisme, namun kita bukan kaum pasifis. Kita harus menekankan bahwa satu-satunya cara untuk menjamin perdamaian adalah dengan menghapus sistem kapitalisme yang melahirkan perang.”

Sungai dan lautan sosial dan politik di seluruh negeri telah menghanyutkan tidak sedikit darah, nanah, dan keringat. Udara yang dihirup tercemar dengan panas yang menyengat sampai seleher. Umat manusia sedang melalui cobaan-cobaan berat dari dunia kapitalisme yang sedang runtuh, menjadi semakin suram dan brutal dengan kelas penguasa yang bertambah korup dan hina. Setiap konflik menjadi lebih getir dan keji. Kaum buruh dan muda hari ini tumbuh pada masa-masa tergelap dan penuh badai, melangkah di tengah gemuruh dan gedebum zaman transisi yang menuntut perubahan besar. Ekspresi ekstremnya adalah krisis, perang, revolusi dan kontra-revolusi yang berkecamuk. Inilah periode kejang-kejang historis dengan ledakan dan belokan peristiwa yang luar biasa mendadak. Secara keseluruhannya, dalam situasi dunia saat ini, gelombang pasang sejarah sedang mengalir deras ke arah pemberontakan massa sebagai tabuhan awal genderang revolusi. Penerapan Tarif trump yang memperdalam proteksionisme dan mempertajam perang dagang; masalah kebangsaan Palestina, Papua, dan Kurdi; dominasi imperialisme dan militerisme, seksisme, femisida, dan ekosida; dan kelaparan, kemiskinan, dan pengangguran yang telah menjadi umum–seluruh kejahatan masyarakat kapitalis ini telah membuat semua rezim borjuis dan kelas penguasa terjebak dalam ketidakstabilan yang mencekam. Para politisi dari partai-partai borjuis liberal, reformis dan Stalinis yang kemarin tampaknya tidak bisa berbuat salah kini telah menemukan dirinya tidak dapat melakukan apapun dengan benar. Kekacauan ini berakar dari situasi obyektif: sistem sosial yang berada di tepi jurang, dengan kelas penguasa yang telah kehabisan tenaga, menghasilkan sebuah rezim yang dilanda krisis akut.

Krisis dunia kapitalisme menempatkan segenap rezim borjuis di jalan buntu dengan ruang lingkup kesalahan yang terus berlipat-ganda. Pada masa awal kebangkitan kapitalisme, yang menawarkan kedamaian dan kemakmuran semu yang masih dapat diterima, bahkan spesies-spesies pandir dan tambun sekalipun dapat memerintah dengan mudah dan sukses. Namun di masa uzur kapitalisme yang tengah sekarat, bahkan talenta-talenta dari presiden dan menteri yang paling cakap sekalipun takkan mampu mengobati tatanan sosial dan politik yang sedang runtuh. Di semua birokrasi rezim borjuis, skandal beranak-pinak; pengaruh korup kaum kaya menyebar. Bagi kelas pekerja, pengangguran meningkat; bagi petani kecil, kehancuran merambat; bagi kaum muda dari keluarga buruh dan tani, pendidikan tak-terakses dan lapangan kerja menyempit; dan bagi semua yang tertindas, kesengsaraan menumpuk. Untuk mengatasi krisis ini, kelas penguasa mengupayakan dua solusi moneter: satu golongan memperdalam ‘inflasi’ (depresi upah, peredaran uang murah, peningkatan harga-harga, dan perampasan hak-hak borjuis-kecil) dan golongan lainnya mendorong ‘deflasi’ (pengurangan upah, penutupan perusahaan, perluasan pengangguran, dan penghancuran petani kecil dan kaum miskin kota). Alternatif manapun berarti memperdalam krisis kapitalisme, yang pada gilirannya memperdalam eksploitasi dan opresi terhadap rakyat pekerja.

Di puncak-puncak pemerintahan yang busuk dan jahat, yang disesaki dengan perpecahan dan konflik internal, selapisan kelas penguasa mencoba mencegah bencana dengan memberi konsensi, sementara yang lain berusaha menghentikan pemberontakan massa dengan represi. Lapisan pertama berusaha menyiramkan reforma dari atas untuk memadamkan revolusi dari bawah, tetapi setiap reforma lama telah dicabut dan reforma-reforma baru sudah tidak mungkin lagi mengendalikan massa seperti sebelumnya. Lapisan lainnnya bersikeras meluncurkan reaksi untuk menanamkan rasa ngeri dan menghentikan amuk massa, namun cambuk reaksi justru akan mengobarkan revolusi. Inilah yang terjadi pada rezim-rezim borjuasi di berbagai negeri: kelas penguasa terlihat bimbang, tidak kompeten, dan kehilangan kepercayaan-diri. Di Indonesia, selama dua periode (2014-2019 dan 2019-2024), rezim Jokowi berkuasa dengan relatif stabil. Tapi kini ketentraman kekuasaan borjuis sedang menghadapi goncangan-goncangan keras dari akar rumput. Pada akhir pemerintahannya, Jokowi terekspos sebagai salah satu presiden terkorup dengan nepotisme yang menggurita di sekitar kroni dan keluarganya. Dan ketika Prabowo melanjutkan kekuasaan sebagai presiden terpilih, rezim borjuis bukan sekedar menghadapi percikan gerakan kaum muda dalam Indonesia Darurat dan Indonesia Gelap tapi juga api pemberontakan rakyat pekerja yang dimulai dari Pati dan menyebar ke seluruh kota selaksa jerami yang terbakar.

Hutang raksasa Rp 1.353 triliun yang diwarisi Rezim Prabowo dari Rezim Jokowi, ditambah cekikan Tarif Trump dalam ekspor sepatu dan tekstil Indonesia ke AS, menyeret pemerintahannya ke arah nasionalisme ekonomi yang barbar: mobilisasi modal dalam negeri digencarkan dengan merencanakan pemangkasan tajam anggaran publik sebesar Rp 750 triliun untuk megaproyek Danantara. Spiral ke bawahnya segera mengoyak kehidupan rakyat pekerja di seluruh daerah, di mana pemerintah-pemerintah kabupaten dan kota menaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) secara menggila: mematok di atas 100 sampai 800 persen. Dipicu kenaikan PBB, akumulasi kemarahan massa mencapai titik didihnya. Di Pati dan Bone, demonstrasi ‘damai’ yang disambut kekerasan polisi meledakan pertempuran jalanan yang melibatkan ribuan laki-laki dan perempuan yang menuntut penguasa daerahnya untuk melepaskan jabatannya. Tanggal 25 Agustus 2025, ekspresi kebencian mendalam terhadap kelas penguasa dan keseluruhan sistem kapitalisme meluap sebagai pemberontakan massa yang begitu keras di seputar slogan Bubarkan Parlemen. Ledakannya menyebar ke lebih dari 30 kota dengan membakar dan melumat gedung-gedung parlemen dan kantor-kantor polisi menjadi abu. Bahan bakar dari pemberontakan ini adalah seluruh penderitaan dan penghinaan yang telah menumpuk di kedalaman sanubari massa.

Penderitaan hidup laki-laki dan perempuan yang sepanjang hidup bekerja siang dan malam, merangkak dalam lumpur dan debu demi mengais remah-remah roti, untuk mengatasi rasa lapar di tengah kelimpahan dan kekayaan material yang secara rakus ditumpuk oleh bos-bos pemilik alat-alat produksi secara pribadi. Penghinaan terhadap orang-orang anonim yang telah menjadi muntahan industri dan yang terus terkurung dalam sangkar-sangkar besi kerja-upahan yang kotor, penuh penyakit dan kematian akibat kelelahan dan kecelakaan yang menyeringai. Tidak ada pekerjaan yang layak dan upah yang memadai. PHK merajalela. Segala tunjangan dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali, gaji terpelanting jatuh dan usia pensiun ditambah. Harga-harga kebutuhan dasar melambung tinggi. Kemiskinan dan pengangguran mewabah. Dapur di rumah-rumah pekerja melompong. Cicilan kredit dan tunggakan hutang meradang. Petak-petak kecil tanah penduduk desa dan masyarakat adat digusur demi proyek infrastruktur, perkebunan dan pertambangan. Dagangan-dagangan kecil disita-paksa dan dimusnahkan atas nama penataan. Dan setiap anak yang lahir dari keluarga buruh dan miskin, kaki dan tangannya dibelenggu dengan warisan kemelaratan dan kesengsaraan yang mencekam, tumbuh dalam atmosfer sosial yang penuh dengan kesenjangan, pembodohan, dan kebrutalan. Penderitaan dan penghinaan yang mengepung kehidupan rakyat pekerja sudah tiada tertanggungkan lagi. Pertempuran jalanan di Pati dan Bone, serta pemberontakan 25 Agustus, yang kesemuanya menunjukkan inisiatif dan partisipasi aktif massa, dengan daya destruktif dan kreatif yang begitu menggelegak–ini hanya dapat ditemukan di zaman revolusi. Kebangkitan massa ini merupakan babak pembuka yang mengantisipasi momen-momen besar dan menentukan dari revolusi yang akan tiba, menang dan berjaya. Ini adalah gladi-resik bagi perjuangan-perjuangan hebat di hari depannya. Dalam Koran Pelopor Edisi 8 “Dunia yang Terjungkir Balik”, Perhimpunan Sosialis Revolusioner (PSR—Seksi Indonesia dari RCI) berkata:

“Ada proses pemiskinan umum di seluruh lapisan masyarakat. Yang sebelumnya hidup relatif nyaman kini jadi miskin, yang miskin kini melarat. Pekerjaan yang berupah relatif baik dan stabil telah digantikan dengan pekerjaan berupah murah yang rentan. Gig work dan pekerjaan informal telah menjadi semakin umum…. Mantra hilirisasi yang digadang-gadang akan menciptakan pekerjaan berlimpah, yang dikabarkan akan mengantarkan kita ke Indonesia Emas, terbukti hampa…. Belum lama menjabat, Prabowo telah diguncang oleh sejumlah demonstrasi besar, kelas penguasa sebelumnya merasa begitu percaya diri dengan peralihan kekuasan yang mulus dari Jokowi ke Prabowo. Tetapi peralihan ini ternyata tidak semulus yang mereka kira, terutama ketika situasi ekonomi dunia diobrak-abrik oleh tarif Trump…. Krisis hutang telah menjadi krisis utama yang melatarbelakangi krisis kapitalisme di seluruh dunia. Di mana-mana pemerintah terjerat utang besar yang diambilnya untuk terus menopang kapitalisme….”

“Memburuknya pelayanan publik dan kondisi kerja PNS akibat pemangkasan, ancaman PHK lebih lanjut sebagai imbas dari tarif Trump, dan krisis kapitalisme secara umum tengah menyiapkan konflik kelas di masa depan. Bagaimana konflik kelas ini meledak jelas bukanlah sesuatu yang bisa kita ramalkan dengan persis. Pemicunya bisa datang dari mana saja, dan tidak harus dari penyebab ekonomi langsung, karena sudah terlalu banyak jerami kering yang terkumpul, yang setiap saat dapat tersulut: kekerasan polisi, tingkah-laku pejabat yang semena-mena, pemberangusan hak-hak demokratik, korupsi, kekerasan seksual terhadap perempuan, [aneksasi pada bangsa kecil,] dan seterusnya, dan seterusnya.”

“Ledakan-ledakan revolusioner adalah implisit dalam situasi hari ini. Namun ledakan ini akan menguap sia-sia bila tidak disediakan kotak piston yang dapat memusatkan energi massa ke akar permasalahan, kapitalisme. Kotak piston ini adalah organisasi revolusioner, yang dibangun di atas fondasi teori perjuangan yang tepat, Sosialisme Ilmiah. Ke dalam organisasi revolusioner ini kita himpun lapisan muda dan buruh yang terbaik, untuk dilatih menjadi seorang revolusioner. Seorang revolusioner, kata Karl Marx, ‘adalah seorang yang secara teoritis … memahami secara jelas garis perkembangan, kondisi, dan cita-cita akhir gerakan proletar,’ dan cita-cita ini adalah ‘menumbangkan supremasi borjuis dan penaklukan kekuasaan politik oleh proletariat.’ Inilah yang sedang kita bangun untuk bersiap demi revolusi mendatang.”

Dalam “Membela Revolusi Oktober”, Trotsky menerangkan revolusi sebagai perubahan tatanan sosial secara mendasar, yang langkah pertamanya harus memindahkan kekuasaan dari tangan kelas yang telah kehabisan tenaga ke tangan kelas revolusioner yang sedang bangkit. Dalam revolusi, pemberontakan massa yang meledak-ledak adalah proses pembuka revolusi. Namun pemberontakan ini ‘hanya akan mencapai kemenangan revolusi yang sesungguhnya dan membentuk tatanan baru apabila didasarkan pada kelas revolusioner, yang mampu menggalang dukungan mayoritas rakyat’. Di tengah dunia kapitalisme yang terjungkir balik ini, setiap ledakan peristiwa akan ditulis dengan besi dan setiap langkah perjuangan akan dicap dengan darah. Itu karena tidak ada kelas penguasa yang akan secara sukarela dan damai menyerahkan takhtanya. Dalam babak pembuka revolusi Indonesia sebagai bagian dari revolusi dunia, hari ini protes dan demonstrasi damai yang menekankan pada negosiasi sudah berakhir. Selama 1 dekade terakhir, massa telah belajar bahwa aksi-aksi yang santun dan lembut bukan saja tidak dihiraukan tapi juga dihadapi dengan bualan dan tawaan dari ular, babi, dan tikus-tikus di gedung-gedung birokrat. Laki-laki dan perempuan yang sedang bangkit sekarang memperlihatkan kesiapannya untuk bertempur, membakar dan menghancurkan tatanan masyarakat yang sedang sekarat.

Babak pembuka revolusi kita memenuhi seluruh Agustus 2025 dengan nyanyian dan tarian perang kelas dari massa revolusioner yang begitu menggelegak. Dalam ledakan peritiwa inilah kesadaran massa berubah drastis. Api yang memelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja. Dan percikan api revolusi kita telah mendorong massa bukan saja bertempur secara fisik, tetapi juga melahirkan dari rahim perjuangannya slogan pemersatu yang berani: “Bubarkan DPR!” Ini adalah lompatan kesadaran yang mendadak dan hebat. Laki-laki dan perempuan yang selama ini ditipu dan dibodohi, dirampok dan dijarah, dikucilkan dan dilemahkan mendapati kepercayaan diri untuk bertempur dan cenderung mengembangkan pemikiran baru. Kemajuan kesadaran massa dalam gladi-resik revolusi kita menunjukkan kebenaran materialisme historis: dalam ketidakpastian peristiwa yang tampak kacau, penuh dengan kejang-kejang sejarah dan belokan tiba-tiba, terdapat keteraturan yang menjadi hukum paling umum dalam perkembangan masyarakat: umat manusia bergerak untuk meningkatkan penguasaannya terhadap alam demi memenuhi standar-standar hidupnya, yang terekspresikan tidak sekadar melalui industri, teknologi, dan teknik, melainkan pula ide-ide. Pada momen-momen revolusi, perkembangannya ditampilkan oleh perubahan-perubahan cepat pada kesadaran massa. Momen Agustus Berdarah dalam revolusi kita telah mengangkat jutaan laki-laki dan perempuan melewati banyak anak tangga, yang di masa-masa damai harus kita lewati dengan susah-payah dan letih. Massa telah meniup sangkakala revolusi dengan keras, yang pada babak permulaannya bukan saja mengoyak seluruh rencana jahat dari para politisi culas tapi juga secara harafiah menghancurkan gedung-gedung parlemen dan polisi korup.

Saat ini media-media borjuasi liberal yang riuh, dengan gerombolan analis borjuis-kecil yang pandangannya tidak pernah lebih luas daripada sepiring nasi, terus memancing keresahan massa namun cenderung mengalihkan arusnya ke saluran yang dangkal dan semu. Segera setelah pemberontakan massa membakar yang disapunya menjadi abu, kelas penguasa yang ketakutan kehilangan takhtanya tidak sekadar meluncurkan represi tapi juga memadukannya dengan konsesi. Massa yang marah dan siap bertempur sampai akhir berusaha dijinakan dengan sebuah kesepakatan bersama kaum demokrat liberal dan reformis: pelaksanaan tuntutan 17+8 yang moderat. Kampanye 17+8 diluncurkan sebagai bagian dari opini publik yang ditujukan untuk menenangkan kemarahan massa agar tidak menjadi aksi-aksi revolusioner—ia menyebarkan penghormatan takhayul terhadap reformasi dari atas, menegakkan ilusi legalitas dan demokrasi borjuis. Namun gelombang kebangkitan revolusioner sedang melanda Indonesia. Pasang naik belum mereda. Dari pertempuran jalanan di Pati dan Bone untuk melawan kenaikan PBB dan kebrualan polisi, dan segera setelah pembunuhan polisi terhadap buruh ojek online, kawah keberadaan sosial rakyat pekerja semakin mendidih dan menyemburkan lava revolusionernya ke seluruh penjuru. Di bawah hujan pukulan yang mengerikan dari musuh yang bersenjata canggih, massa secara kolosal menunjukkan kekuatan mereka. Laki-laki dan perempuan menerobos masuk ke panggung sejarah dengan cakar dan taringnya. Mereka mengobarkan api revolusioner di rumah-rumah mewah, kantor dan gedung-gedung kelas penguasa yang selama ini tidak tersentuh; mereka memenuhi jalanan dan alun-alun kota industri dan perdagangan dengan kebisingan dan gemerincing pertempuran yang gagah-berani; mereka memperlihatkan keunggulan moral dan kemampuan militer yang tak-terduga dalam melawan pasukan-pasukan polisi dan tentara. Peristiwa-peristiwa Agustus menunjukkan bahwa massa revolusioner kini bukan lagi sebatas impian melainkan sebuah fakta. Revolusi telah tiba dengan sebuah permulaan pemberontakan massa yang megah, yang menyapu ketentraman kelas penguasa dengan gelombang kebencian dan tekad revolusioner yang membara. Ini tidaklah seperti yang dicercahkan kaum liberal, reformis dan Stalinis, yang menyatakan kalau massa revolusioner hari ini hanyalah sebagai sebuah fantasi yang berlebihan dari kaum revolusioner. Udara yang dihirup di jalan dan lorong-lorong, tempat-tempat kerja dan pemukiman rakyat pekerja saat ini bukan lagi mengandung suasana keputusasaan dan kekecewaan kosong tapi telah berkembang menjadi suasana kemarahan yang terkonsentrasi dan terus-menerus mencari cara dan jalan keluar untuk aksi-aksi revolusioner. Di sini terdapat ribuan rakyat pekerja yang berpikir dan ribuan lainnya berada dalam keadaan agitasi politik, yang siap berhadap-hadapan dengan kelas penguasa bukan untuk mengelus dan mengemis tapi mencakar dan merampas. Dalam “Bagaimana Revolusi Ini Datang dan Kemana Ia Harus Melangkah?” dan “Lawan Represi dengan Aksi Massa Terorganisir yang Lebih Besar Lagi, Bukan dengan Tiarap”, Kepemimpinan PSR menulis:

“Dalam hitungan jam, apa yang mungkin bermula sebagai semi-insureksioner minggu lalu dengan cepat berubah menjadi pemberontakan terbuka. Roda revolusi telah berputar di Indonesia, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Setiap menit berlalu, ia berputar semakin cepat, melindas semuanya dan meninggalkan jejak-jejak kehancuran di manapun ia berlalu. Revolusi tidak hanya menghancurkan gedung-gedung pemerintah dan kantor-kantor polisi, tetapi yang lebih penting, ia menghancurkan kelembaman yang telah lama membelenggu pikiran rakyat. Revolusi telah dimulai di Indonesia…. Yang kita saksikan adalah revolusi, yang bergulir dengan semua kehijauan pohon kehidupan. Massa telah mengenalinya, terutama dari kaum muda, semakin sering terdengar dalam meningkatnya demonstrasi ini. Seperti yang dikatakan Trotsky, revolusi adalah ‘masuknya massa secara paksa ke wilayah kekuasaan atas nasib mereka sendiri’…. Revolusi bukanlah drama satu babak. Massa baru saja menemukan kekuatan mereka, yang mencengangkan diri mereka sendiri sekaligus meneror kelas penguasa. Setiap kali mereka menyadari betapa kuatnya mereka sebenarnya, mereka semakin berani, yang pada gilirannya menginspirasi dan menarik lapisan baru kelas pekerja ke dalam perjuangan. Proses ini kemudian berulang, berputar terus ke atas dan mencapai puncak-puncak baru setiap jamnya. Dengan setiap dorongan baru, massa menemukan bahwa kekuatan mereka itu bak sumur dalam yang bisa terus mereka timba. Untuk pertama kalinya, massa telah mematahkan rantai yang telah lama membelenggu pikiran mereka. Maka tak heran jika kekuatan baru ini meledak-ledak dengan liar dan berserakan. Namun, bahkan dengan berserakan seperti itu, kekuatannya mengguncang seluruh fondasi masyarakat. Inilah revolusi yang sedang beraksi.”

“Revolusi memiliki ritme. Meskipun revolusi itu sendiri adalah perubahan kualitatif, ia bukan kurva yang terus meningkat. Dalam proses revolusi, aka nada masa naik, masa jeda, masa penurunan, yang terus silih-berganti dan saling-merasuki, karena ini ditentukan oleh pertarungan kekuatan-kekuatan yang hidup. Setelah pemaparan hampir satu minggu, siang dan malam, gerakan ini memasuki masa jeda. Demonstrasi-demonstrasi besar di pusat-pusat Jakarta mereda, walaupun masih ada letupan-letupan di daerah seperti Ternate dan Banda Aceh. Masa jeda ini bukan berarti massa telah demor. Massa memeriksa apa yang sudah terjadi, apa yang telah mereka capai. Seperti pasukan yang baru saja kembali dari pertempuran, mereka memeriksa kembali kekuatan mereka dan juga kekuatan lawan. Di sini, kualitas kepemimpinan akan penting selama masa jeda ini. Dengan kepemimpinan yang baik, masa jeda ini bisa jadi lompatan untuk serangan lebih besar. Sebaliknya dengan kepemimpinan yang buruk, masa jeda ini bisa jadi peluang musuh untuk melakukan konter-ofensif.“

Pemberontakan Agustus menandai lompatan pada kesadaran massa. Atmosfer stagnasi, kenaifan, ketidakpercayaan-diri dan kerendah-hatian berubah menjadi atmosfer fermentasi, kritik, kemarahan dan perjuangan yang menggelora. Orang-orang anonim, yang dalam periode normal yang relatif damai menjadi adonan tak-berbentuk—yang impersonal dan tak-berwujud—dalam babak pembuka revolusi kita menjadi energi revolusioner dengan muatan listrik tinggi, yang membawa sinar harapan dan menyingkap secara tajam pertentangan kelas-kelas antagonis dalam masyarakat ini, dan menyediakan medan aksi bagi kepemimpinan-kepemimpinan politik dengan program dan metode-metode perjuangan yang harus diuji. Dalam ledakan permulaan revolusi kita, semua ideologi kelas-asing yang tidak peduli dengan revolusi, terutama liberalisme dan reformisme yang merencanakan konspirasi di balik layar, mengabaikan perjuangan massa revolusioner, dan hanya mengandalkan kemampuan diplomatik dan kesantunan yang cabul, dinyatakan runtuh. Di lautan sosial dan politik yang memanas, massa yang bangkit dan berusaha melampuai segala legalitas borjuis bukan saja mengguncang rezim yang berkuasa tapi juga menguji organisasi-organisasi kepemimpinan yang ada. Semua perspektif dan program yang tidak mampu memajukan perjuangan kelas diabaikan. Pemimpin-pemimpin yang merintangi kemajuan gerakan ditinggalkan. Kepemimpin reformis Partai Buruh tidak didengarkan. Seruan yang dimuntahkan Said Iqbal dan Andi Gani agar aksi-aksi rakyat pekerja dilangsungkan dengan tertib, terkendali, dan tidak melampui batas-batas yang dapat diterima mendapat ejekan dan cercahan. Aspirasi-aspirasi yang berkembang di jantung sosial yang sedang terbakar tidak cocok dengan karakter-karakter pemimpin borjuis-kecil yang pengecut dan berpandangan sempit. Hanya kaum revolusioner proletar yang mampu melayani aspirasi raksasa dari jutaan laki-laki dan perempuan di zaman yang sedang berubah ini. Hancurnya krak-krak konservatisme dari massa yang sekarang tengah bergerak tumpah-ruah, yang memercikan api yang membakar dan melahap bangunan-bangunan yang selama ini dianggap suci, diiringi letusan pistol dan tumpahan darah laki-laki dan perempuan pekerja dan miskin yang mengobarkan kemarahan dan dukungan yang lebih besar lagi, dan mengekspos kelemahan-kelemahan dari gerombolan pemimpin borjuis-kecil dalam gerakan massa, serta mengundang kengerian serta perpecahan internal di tubuh pemerintahan yang kebingungan dan kehilangan kepercayaan-diri—ini semua adalah proses revolusi. Dalam “Sejarah Revolusi Rusia”, Trotsky menerangkan ciri utama dari revolusi:

“Ciri paling pasti dari sebuah revolusi adalah campur tangan langsung massa dalam peristiwa sejarah. Di masa-masa biasa negara, baik monarki atau demokratis, meninggikan dirinya di atas bangsa, dan sejarah dibuat oleh spesialis dalam bidang bisnis itu—raja, menteri, birokrat, anggota parlemen, jurnalis. Tetapi pada saat-saat genting ketika tatanan lama tidak dapat lagi ditolerir oleh massa, mereka mendobrak penghalang yang mengucilkan mereka dari arena politik, yang menyingkirkan wakil-wakil tradisional mereka, dan dengan campur tangan mereka sendiri menciptakan landasan awal bagi sebuah rezim baru…. Intinya adalah masyarakat tidak mengubah institusinya saat dibutuhkan, seperti cara seorang mekanik mengubah instrumennya. Sebaliknya, masyarakat justru menganggap lembaga-lembaga yang bergantung padanya sebagai sesuatu yang diberikan sekali untuk selamanya. Selama puluhan tahun, kritik oposisi tak lebih dari katup pengaman bagi ketidakpuasan massa, syarat kestabilan struktur sosial … kondisi yang benar-benar luar biasa, terlepas dari kehendak pribadi dan partai, diperlukan untuk melepaskan belenggu konservatisme dari ketidakpuasan, dan membawa massa ke pemberontakan. Perubahan pandangan dan suasana hati massa yang cepat dalam zaman revolusi dengan demikian berasal, bukan dari fleksibilitas dan mobilitas pikiran manusia, tetapi justru sebaiknya, dari konservatismenya yang dalam. Keterlambatan ide dan relasi yang kronis di balik kondisi obyektif yang baru, hingga saat kondisi obyektif yang baru menimpa orang-orang dalam bentuk malapetaka, adalah yang menciptakan dalam periode revolusi gerakan ide dan hasrat yang melompat-lompat…. Massa pergi ke revolusi bukan dengan rencana rekonstruksi sosial yang telah disiapkan, tetapi dengan perasaan tajam bahwa mereka tidak dapat bertahan dengan rezim lama. Hanya lapisan pemimpin dari sebuah kelas yang memiliki program politik, dan bahkan ini masih memerlukan ujian peristiwa, dan persetujuan massa.”

Dalam ledakan pertama revolusi kita, peristiwa-peristiwa berkembang begitu cepat dan spontan di mana bentuk-bentuk Pemberontakan Agustus tak-terbayangkan sebelumnya. Para pemimpin berkredinsial “Kiri” terperangah menyaksikannya. Tidak ada prognosis dan kewaspadaan politik. Mereka semua terkejut melihat kebangkitan massa yang tiba-tiba dan hebat. Mereka tertinggal di belakang peristiwa dan mencoba mengejarnya namun dengan tinjauan dan seruan vulgar—mendasarkan dirinya bukan pada fakta ‘kebangkitan revolusioner massa’ tapi opini sesat dari kelas borjuis yang sedang membusuk dengan cepat. Koran Tempo, sebagai salah satu media borjuis yang menjadi corong kepentingan gerombolan pemodal dan bankir, terus-menerus menyeret perhatian orang-orang pada pemberitaan-pemberitaan yang dangkal dan sempit. Rangkaian-demi-rangkaian pemberitaannya mengisolasi kebangkitan revolusioner massa dengan prasangka dan tuduhan-tuduhan bengis. Onggokan analisanya memutilasi ledakan gerakan massa menggunakan sudut pandang ‘teori konspirasi’. Para analisnya memberitahu kalau pemberontakan massa ini ditunggangi: ada persaingan antara Jokowi dan Prabowo serta Polri dan TNI, yang membuat klik atau faksi tertentu mengaktifkan kekuatan massa untuk memukul lawan-lawan politiknya. Mencoba memadamkan proses revolusioner yang telah mengobrak-abrik kekuasaannya, kelas borjuis tidak sekedar mengencangkan kekerasan-fisik tapi juga kekerasan-ideologis. Sudut pandang mereka tidak saja diluncurkan melalui media-media yang menjadi pilar demokrasi bagi gerombolan bankir dan konglomerat, melainkan pula melalui pengkhianatan oportunisme dan keamatiran borjuis-kecil dalam perjuangan massa. Inilah yang diterangkan Ted Sprague dalam status di akun ‘facebook’-nya:

“Cara rezim [berusaha] melemahkan dan mematahkan revolusi bukan hanya secara fisik, tetapi juga lewat tekanan opini publik borjuis. Pertama, lewat media-media kapitalis mereka, di semua spektrum politik, bahkan yang secara tradisional tampaknya kritis pada rezim. Kedua, lewat para pemimpin buruh reformis, yang secara terbuka menjilat pantat rezim, seperti Said Iqbal, Andi Gani, dan kawan-kawan. Ketiga, yang bahkan lebih beracun, lewat Kiri-Kiri yang tampaknya kritis pada rezim dan mendukung gerakan ini, tetapi lalu kini mewanti-wanti agar demonstrasi damai, agar tidak boleh ada perusuh, jangan anarkis, jangan menjarah, dan lain-lain. Mereka menganggap slogan ‘Bubarkan DPR’ itu tidak realistis, dan bahkan provokatif karena bisa mengancam darurat militer, dan logika ‘minus malum’ mereka mengatakan lebih baik kita memoderatkan gerakan ini agar tidak ada ‘fasisme’ atau ‘kediktatoran’.”

Dalam “Penilaian Situasi, Posisi dan Sikap Politik Partai Pembebasan Rakyat (PPR)”, Kepemimpinan PPR memperingatkan: ‘hingga hari ini masih belum pasti siapa atau kelompok mana yang menginisiasi, merancang, dan menentukan tanggal 25 Agustus 2025 sebagai aksi perdana “Bubarkan DPR!”. Meskipun dugaan lebih menguat ke arah pihak Prabowo dan pendukungnya sebagai “dalang” perencanaan awal, dibandingkan kubu Jokowi-Gibran dan pendukungnya. Pada dasarnya, tetap masih berupa dugaan, dan dibutuhkan tim pencari fakta yang independen untuk mendapatkan kesimpulan bersama atas momen sejarah ini. Mengabaikan penelusuran fakta-fakta tersebut dan sekadar menganggapnya sebagai inisiatif dan kreativitas massa justru akan membuat kita “menari di atas tabuhan gendang” pihak lain.’ Namun dalam setiap revolusi, inisiatif dan kreativitas massa adalah hal yang primer—sementara keretakan dan perpecahan internal rezim yang disertai dengan manuver dan intrik adalah sekunder. Di tengah gemuruh revolusi, ledakan besar spontanitas dari bawah bukan saja dengan cepat menyebar ke samping tapi juga menukik tajam ke atas. Dalam tubuh kekuasaan yang terbelah, gelombang kemarahan massa akan berusaha dinaiki oleh faksi dan klik yang berseteru untuk menghantam saingan-saingan politiknya. Namun kekuatan massa takkan pernah dapat mereka kendalikan sesuai keinginannya. Massa yang sedang bangkit akan bergerak untuk melampaui batas-batas yang dapat mereka terima dan menyingkirkan mereka yang tidak sesuai dengan aspirasi massa. Segala perhitungan dan siasat jahat dari kelas penguasa pada akhirnya runtuh di hadapan cakar dan taring massa. Laki-laki dan perempuan biasa, kaum muda dan kelas pekerja yang teradikalisasi oleh peristiwa adalah pemeran utama dalam revolusi kita. Ketika massa terus melancarkan aksi-aksi revolusioner yang menandai pendulum politik sedang bergerak ke kiri, maka tida ada satupun kekuatan reaksi di muka bumi yang mampu merintanginya. Dalam “Bagaimana Revolusi Ini Datang dan Kemana Ia Harus Melangkah?”, Kepemimpinan PSR menerangkannya:

“Dengan masuknya rakyat pekerja, semua perhitungan sebelumnya bubar. Inilah mengapa rezim kesulitan meredam gerakan dengan taktik-aktik yang biasanya mereka gunakan, seperti yang telah dilakukan sebelumnya dengan gerakan-gerakan massa yang lebih kecil dalam beberapa tahun terakhir: Indonesia Gelap pada 2025, Peringatan Darurat pada 2024, atau Reformasi Dikorupsi pada 2029—dan semua gerakan ini kini tampak sangat pucat jika dibandingkan dengan yang kita saksikan hari ini. Ini juga menjelaskan kesulitan yang dihadapi banyak kaum Kiri dalam mengorientasikan diri mereka pada gerakan revolusioner ini. Banyak yang awalnya terkejut ketika para pemuda secara spontan menyuarakan slogan ‘Bubarkan DPR’, sebuah tuntutan yang mereka cibir sebagai ultra-kiri. ‘Jika kita bubarkan parlemen, apa yang akan menggantikannya?’ ‘Bukankah ini akan membuka pintu bagi presiden untuk menjadi diktator?’ ‘Membubarkan parlemen adalah tuntutan yang tidak rasional. Kita seharusnya menuntut pemilu ulang.’ Dan tiba-tiba kaum Kiri ini terdengar persis seperti pemerintah. Ketika revolusi meletus, kita sering kali, jika tidak selalu, mendapati massa jauh lebih revolusioner daripada para pemimpin mereka, daripada aktivis berpengalaman yang terbiasa dengan perjuangan-perjuangan kecil yang berada dalam kendali mereka. Dihadapkan dengan gerakan yang tak-terkendali, yang persis merupakan karakter inheren revolusi, terutama pada fase pertamanya, banyak aktivis Kiri yang segera tersandung.”

Ketidakberdayaan yang memalukan dari para pemimpin “Kiri” bukan karena mereka buta dan tuli terhadap pertanyaan-pertanyaan penting yang diajukan oleh periode sejarah hari ini. Namun kekurangan-kekurangan mereka bukanlah ketidakberdayaan individual yang kebetulan, melainkan karakteristik yang diwarisi dari masa lalu sebagai kecenderungan-kecenderungan selama periode likuidasi ideologis—pelaksanaan aktivitas-aktivitas praktis yang sempit: ‘ekonomisme’ dan ‘dilletantisme’. Menghadapi proses permulaan revolusi kita, kaum “Kiri” cenderung mengeluarkan seruan-seruan yang mengekspresikan elemen inersia dari perjuangan massa. Dalam “Penilaian situasi, Posisi dan Sikap Politik Partai Pembebasan Rakyat (PPR), Kepemimpinan PPR melancarkan kritik terhadap slogan ‘Bubarkan Parlemen’. Diberitahukan bahwa pembubaran DPR dapat melahirkan kekuasaan yang ditegakkan dengan pedang. Mereka “tidak-mengajurkan” pembubaran parlemen tapi karena kemarahan massa “mengarahkan” mereka maka mereka pula tidak kuasa memasang larangan. Dan kepada kaum revolusioner yang memandang Pemberontakan Agustus sebagai permulaan revolusi dan menetapkan tugas memajukan perjuangan massa di seputar slogan ‘Bubarkan Parlemen’, PPR menegaskan: ‘tentu penting bagi kita untuk merespon eskalasi politik ini dengan kejernihan berpikir, kewaspadaan dan kejelasan posisi. Dan menepiskan subyektivitas sehingga melebih-lebihkan kesadaran massa dengan menyatakan “revolusi sudah di ambang pintu.” Kesembronoan semacam itu akan berakibat fatal bagi organisasi, persatuan dan perjuangan rakyat.’ Bagi mereka, penghapusan DPR selaku parlementerisme borjuis untuk digantikan dengan Komite Aksi sebagai pemerintahan revolusioner rakyat pekerja itu tidak memiliki basis materialnya: belum ada massa revolusioner yang bisa diorganisir untuk pembentukan pemerintahan rakyat pekerja. Sebagai ganti dari slogan-slogan revolusioner yang  mereka cap “vulgar”, PPR menyerukan: ‘Berorganisasi, Bersatu dan Berlawan untuk Republik yang Adil/Setara, Demokratis, Ekologis, Modern dan Bervisi Kerakyatan!’ dan ‘Bangun Presidium Rakyat untuk Politik Alternatif!’

Tapi tidak ada yang baru dari slogan-slogan PPR; slogan mereka didaur-ulang dari gudang kebijakan dan persenjataan teoritis PRD “Lama” dalam kondisi sejarah Reformasi 1998—revolusi yang diaborsi menjadi reformasi. Lenin pernah mengatakan bahwa slogan harus konkret: ‘didasarkan pada penilaian yang bijaksana dan obyektif terhadap semua kekuatan kelas.’ Namun seruan-seruan PPR sangat abstrak, dan olehkarenanya, tidak cocok dengan apa-yang-menjadi-aspirasi massa yang sedang bangkit. Perjuangan massa saat ini bukan dalam situasi yang relatif damai tapi bergejolak dengan perubahan situasi yang luar biasa mendadak. Pemberontakan Agustus mengajarkan bahwa massa yang berusaha bergerak melampaui legalitas-legalitas borjuis membutuhkan kepemimpinan organisasi dan persatuan perjuangan yang tidak saja sanggup mengantarkan massa dalam menggulingkan tatanan yang ada tapi lebih jauh untuk membangun kekuasaan rakyat pekerja. Namun Kepemimpinan PPR tertinggal jauh di bekang peristiwa. Dalam proses awal revolusi kita, gerakan massa jauh lebih kiri daripada kaum “Kiri”. Dalam artikel terkait “Slogan”, Lenin menerangkan: ‘sering kali, ketika sejarah mengambil belokan tajam, bahkan partai-partai yang progresif tidak mampu beradaptasi pada situasi yang baru ini dan mengulang semua slogan-slogan yang sebelumnya tepat tapi sekarang telah kehilangan semua maknanya—kehilangan semua makna ini dengan “tiba-tiba” seperti halnya belokan tajam di dalam sejarah adalah “tiba-tiba.”’ Sebuah kepemimpinan organisasi atau partai yang dibangun untuk memimpin perjuangan massa tapi ketinggalan di belakang tugas-tugas yang dibebankan oleh sejarah, bukan sebatas akan beresiko menjadi krak mati yang merintangi kemajuan perjuangan massa tapi lebih-lebih akan dibuat gila oleh sejarah menjadi alat tidak-langsung dari kelas penguasa. Pandangan-pandangan “Kiri” tentang bahaya kepentingan elit dalam ledakan spontanitas massa dan ancaman darurat militer di balik pembubaran parlemen menunjukkan ketidakberdayaan kaum “Kiri” di hadapan opini publik borjuasi. 

Pada babak pembuka revolusi kita—sebuah proses molekuler yang terpendam di kedalaman sanubari massa telah dilepaskan dalam bentuk Pemberontakan Agustus yang meraksasa, dengan kemarahan revolusioner yang diluapkan sepanjang cahaya siang hari dan gelap malam hari, yang ke manapun mengalir berhasil menyapu-bersih ceceran sampah dan ranting-ranting masa lalu, seiras aliran air di musim semi yang menghanyutkan semua tanggul konservatisme, bukan hanya menghancurkan rancana-rencana jahat kelas penguasa tapi juga konstruksi kerja organisasi-organisasi kepemimpinan yang seperti semut dan jaring laba-laba. Inilah festival revolusi yang merupakan panggung sejarah kebangkitan massa. Namun kebangkitan ini bukanlah aksi terisolasi yang dapat diserukan kapan saja berdasarkan kehendak tokoh maupun lembaga. Kebangkitan massa tidak pernah berpatokan pada elemen-elemen subyektif dan formalistik tapi selalu bertumpukan sebuah proses yang terkondisi-secara-obyektif dalam perkembangan masyarakat dan sejarah. Dan perkembangan sosio-historis, lebih-lebih dalam perang, revolusi dan kontra-revolusi, tidaklah ditentukan oleh perhitungan diplomatik, intrik, dan manuver dari para pemimpin, organisasi atau partai tapi perimbangan kekuatan kelas yang ada. Menulis tentang “Peran Individu dalam Sejarah”, Plekhanov menjelaskan hubungan pemimpin dan massa: ‘individu dapat mempengaruhi masyarakat berdasarkan sifat-sifat tertentu dari sifat mereka. Pengaruh mereka kadang-kadang sangat besar tetapi kemungkinan pelaksanaannya dan jangkauannya ditentukan oleh organisasi masyarakat dan penyelarasan kekuatannya. Karakter individu adalah “faktor” dalam perkembangan sosial hanya di mana, kapan, dan sejauh hubungan sosial mengizinkannya.’ Dalam peristiwa-peristiwa Agustus ini, pada proses pembuka revolusi kita, hubungan sosio-ekonomi dengan pendulum politik yang sedang bergerak ke kiri tidak mengizinkan gerombolan politisi borjuis liberal, reformis, bahkan Stalinis untuk meraih kepemimpinan dalam gerakan massa. Dimasukinya medan perjuangan politik oleh gerakan massa menjadi unsur pertama dan paling fundamental dari setiap revolusi. Dalam hari-hari Agustus, kebangkitan massa adalah yang esensial dalam proses revolusi kita. Bukan kaum borjuis liberal, bukan kelompok-kelompok demokratik borjuis-kecil, bukan gerombolan intelektual akademik, bukan komplotan influencer dan buzzer cabul—melainkan rakyat pekerja dan kaum mudalah yang telah menabuh genderang revolusi kita; merekalah yang meniup terompet, membawa panji, menari dan bernyanyi dalam pertempuran untuk kehidupan baru.

Dari rahim perjuangan revolusioner massa inilah slogan ‘Bubarkan Parlemen’ terlahir. Naluri revolusioner yang terpendam di dasar jiwa laki-laki dan perempuan yang sedang bangkit meluap keluar bersama pasang naik pemberontakannya yang hebat. Massa mungkin belum memahami dengan sejelas-jelasnya kalau parlementerisme adalah instrumen kekuasaan borjuis. Tetapi secara setengah-sadar atau bawah-sadar, massa merasakan betapa parlemen merupakan sarang tikus yang dipenuhi ketamakan dan kebohongan yang mengakar dalam keseluruhan sistem masyarakat kapitalis. Tuntutan pembubaran parlemen mengandung resonansi dari emosi, harapan dan aspirasi terdalam dari kaum terhisap dan tertindas. Di bawah kapitalisme, populasi mayoritas—yang terdiri dari kaum buruh, petani, rakyat miskin kota dan desa, dan pelbagai jenis kelas-menengah lapisan bawah—dihisap dan ditindas oleh minoritas pemilik alat produksi: industrialis, bankir, tuan-tanah, dan berbagai spesies kantong uang yang mendasarkan keberadaan sosialnya pada kepemilikan pribadi. Di tangan kelas borjuis, negara menjadi alat kekerasan yang digunakan untuk mempertahankan status-quo dan melemahkan perjuangan massa. Negara borjuis adalah monster buas birokratis yang melahap kekayaan material rakyat pekerja secara kolosal. Pada masa-masa normal, kelas penguasa menjalankan kendali atas negara dengan menanam keyakinan naïf melalui institusi-institusi pendidikan dan demokrasinya. Dalam periode-periode pra-revolusioner atau revolusioner, pertanyaan-pertanyaan mengenai kekuasaan mengemuka. Massa yang sedang bangkit menuntut agar segala sesuatunya disuarakan dengan lantang, agar segalanya disebutkan dengan nama aslinya, agar tidak ada nada-nada yang samar-samar melainkan demarkasi yang jelas dan tepat dalam politik, agar para pengkhianat diboikot dan diburu, agar tempat mereka digantikan oleh kepemimpinan yang benar-benar mengabdikan jiwa dan raga demi memajukan perjuangan massa.

Dalam kondisi perjuangan kelas yang intens, orang-orang yang menginginkan perubahan tatanan secara mendasar dituntut untuk mempunyai pandangan yang memadai terhadap negara. Tendensi-tendensi reformisme dan sentrisme tidaklah memiliki tinjauan yang utuh tentang negara: kaum reformis berpikir dapat memperbaiki dan mempertahankan negara dengan segala alat-alat represinya untuk melayani kepentingan massa; kaum sentris mengira bisa mengakhiri kapitalisme tanpa memajukan perjuangan revolusioner massa pada pengorganisasian rakyat pekerja untuk membentuk Komite-Komite Aksi sebagai organ kekuasaan revolusioner kelas pekerja. Negara dan demokrasi borjuis bagi kedua tendensi ini bukan untuk dihancurkan dan digantikan dengan negara dan demokrasi buruh. Keduanya tidak mempunyai perspektif, program, dan orientasi masa depan yang jelas untuk mengakhiri kapitalisme secara revolusioner—memenangkan sosialisme sebagai tahap awal masyarakat tanpa kelas, tanpa penghisapan dan penindasan manusia oleh manusia. Menyaksikan proses awal revolusi kita, ketika Pemberontakan Agustus meledak tiba-tiba dan mengangkat slogan ‘Bubarkan Parlemen’, kaum “Kiri” kita mendadak merasa ngeri. Mulut mereka berbusa-busa mengatakan kalau pembubaran parlemen dapat membuka pintu ‘Darurat Militer’—Bonapartisme, fasisme. Kaum “Kiri” tidak mendasarkan penilaian situasi, posisi dan sikap politik mereka pada perimbangan kekuatan kelas. Mereka mengabaikan fakta bahwa apa-yang-sedang-berlangsung adalah kebangkitan massa dengan pendulum politik yang bergerak ke kiri, bukan kekalahan dan demoralisasi umum dengan pendulum politik yang bergerak ke kanan. Selama massa terbangun ke arena politik dengan terus-menerus melancarkan aksi-aksi revolusioner maka pintu Bonapartisme atau fasisme tidak akan berani dibuka. Kelas penguasa hanya dapat berkuasa dengan pedang ketika kelas-kelas yang bertempur telah berjuang sampai tetes darah penghabisan tanpa hasil yang jelas. Inilah saatnya perjuangan di antara kelas-kelas antagonis berada pada keseimbangan yang tidak-stabil; di mana dalam ketidakstabilan basis ekonomi inilah ‘Negara’ mendapatkan kemandirian yang lebih besar untuk mempertahankan status-qou dengan ayunan tangan besinya.

Dalam kondisi sosial dan politik negeri kita, yang merupakan bagian dari keseluruhan situasi dunia, sama sekali tidak menempatkan rezim pedang borjuasi sebagai agenda. Keruntuhan dunia kapitalisme kini menyeret negeri-negeri kapitalis maju dalam onggokan pinjaman berbunga dan negeri-negeri kapitalis terbelakang dalam ancaman kebangkrutan yang nyata. Krisis utang membuat kelas penguasa tidak mampu lagi mengalirkan hujan pendanaan yang deras untuk membesarkan dan mempertahankan organisasi-organisasi reaksioner borjuis-kecil dan lumpen-proletar seperti di masa lalu. Tanpa ketersediaan dana yang berlimpah maka kemampuan kelas penguasa untuk memobilisasi massa petani kecil dan kaum intelektual yang membusuk dalam krisis masyarakat ini menjadi lemah. Kekuatan pemerintah borjuasi untuk memobilisasi massa reaksioner bersandar pada kantong uang, bukan simpati umum dan bantuan aktif dari rakyat terhisap dan tertindas. Sekarang negara borjuis di seluruh dunia bukan saja tidak memiliki cukup uang untuk mendanai gerakan reaksioner yang meluas tapi terutama tidak berhadapan dengan kondisi kehancuran umum gerakan buruh sebagai prasyarat terbentuknya basis reaksi yang besar untuk mengaktifkan fasisme. Di zaman krisis terminal kapitalisme ini ketidakstabilan sosial dan politik yang berlarut-larut berlangsung di berbagai negeri. Namun semua ketidakstabilan yang terjadi takkan pernah sanggup membuka jalan untuk kebangkitan darurat militer tanpa terlebih dahulu perjuangan kelas-kelas antagonis sampai pada titik kritis: pertempuran puncak antara proletariat dan borjuasi untuk perebutan kekuasaan negara, namun keduanya belum ada yang menang dan kalah.

Saat ini perjuangan kelas-kelas antagonis belum sampai pada tahap perebutan kekuasaan, apalagi berada dalam keseimbangan tidak-stabil yang dapat memanggil kekuasaan Bonapartis atau fasis. Meskipun sekte-sekte ultrakiri borjuis-kecil radikal, baik organisasi Stalinis maupun kelompok Anarkis, berteriak-teriak mengenai ancaman kebangkitan fasisme tapi perimbangan kekuatan-kelas yang hidup tidak menunjukkan itu. Dalam krisis dunia kapitalisme di zaman kita; borjuasi telah kehilangan banyak basis-massa reaksi borjuis-kecilnya, sementara serikat-serikat buruh masih utuh dan proletariat tumbuh lebih kuat. Sekarang cadangan reaksi sudah menipis: sebagian besar borjuis-kecil yang keberadaan sosialnya dihancurkan dalam krisis kapitalisme tidak dapat dengan mudah dimobilisasi secara politik untuk menjadi lumpen-proletar, karena keseluruhan situasi sedang mengubah mereka untuk menjadi bagian terluas dari kelas proletar—semi-proletar. Ketika kekuatan umum kelas pekerja—terutama serikat-serikat buruh—semakin tumbuh; kelas revolusioner bersama seluruh pasukan cadangannya dalam masyarakat ini takkan mudah dikalahkan untuk membuka jalan bagi kebangkitan fasisme. Sebuah kondisi yang perlukan untuk bangkitnya fasisme adalah kehancuran dari organisasi-organisasi tradisional kelas pekerja dan kekecewaan umum dari lapisan-lapisan borjuis-kecil terhadap gerakan buruh. Fasisme hanya dapat berkuasa ketika perjuangan kelas-kelas antagonis telah sampai di tahap puncak dengan kelas revolusioner yang dihancurkan dalam pertempuran yang menentukan. Kini kondisi untuk kekuasaan Bonapartis atau fasis sama sekali tak-terpikirkan: proletar belum memasuki perjuangan penghabisan dalam melawan borjuis dan kekuatan revolusioner beserta cadangan kekuatannya tidaklah dalam posisi dikalahkan dan hancur. Dalam “Untuk Percikan yang Akan Mengobarkan Indonesia Gelap”, kami menulis:

“Di masa lalu, kelas borjuis dapat membeli perdamaian sosial dengan reforma dan menegakkan ketertiban dengan mendirikan pemerintahan fasis. Di zaman kita, setiap manuver politik justru mendapat sorotan tajam dan beragam tindakan untuk reaksi memicu perlawanan besar. Dalam periode sejarah saat ini, basis sosial-ekonomi untuk memanggil fasisme sangatlah lemah—bukan saja karena lapisan-lapisan borjuis-kecil yang ada cenderungan mendukung pembalikan revolusioner proletariat tetapi juga dengan tingkat hutang yang menjulang dan tanpa adanya boom ekonomi seperti masa-masa terdahulu maka upaya kelas penguasa untuk mendirikan rezim fasistik dengan pembiayaan militer yang sangat mahal dan kecenderungan kronisme akan menenggelamkannya dalam krisis hutang dan kebangkrutan dengan segala penderitaan yang dibebankan kepada rakyat pekerja. Di negeri-negeri yang sebelumnya menjadi tempat borjuasi terpaksa mempertaruhkan kekuasaannya pada kartu fasisme, sekarang telah meluncur dengan mata terbuka menuju bencana ekonomi dan militer yang begitu rupa. Ekonomi perang imperialis atau pengeluaran militer kapitalis adalah beban-mati bagi masyarakat ini, yang menjelma sebagai modal-fiktif di mana kapital tidak diinvestasikan kembali dalam produksi, dan oleh karenanya, tidak dapat menciptakan nilai-lebih karena tidak menjadi bagian dari sirkulasi dan reproduksi kapitalisme. Setiap upaya borjuasi untuk meningkatkan pertahanan dan keamanannya, untuk menguatkan kapasitas polisi dan tentara regulernya, atau untuk memaksakan kekuasaan pedang tanpa memperhatikan ketersediaan basis massa reaksioner dan anggaran yang cukup untuk mendanainya, akan berkontribusi pada peningkatan inflasi dan gejolak politik di negerinya. Kini kaum kapitalis dan imperialis di dunia kepemilikan pribadi dan kemahakuasaan uang yang sedang runtuh ini hanya mampu menunjukkan kecenderungan untuk bergerak ke arah Bonapartisme parlementer; yakni, dengan meninggikan dirinya di atas bangsa, parlemen-parlemen borjuis menggencarkan reformasi konstitusional dan beragam peralihan peraturan keji untuk memperpanjang nafas kapitalisme. Ini menandai kondisi sejarah dan hubungan-hubungan dalam masyarakat yang sedang berada pada momen perjuangan kelas yang intens, dengan fluktuasi periodik yang sangat tajam dan perubahan situasi yang luar biasa mendadak. Ini berarti akan marak peristiwa yang tiada terduga yang pasti meletus, menggoncang tatanan sosial dan politik secara mendasar, dan menghasilkan pergeseran kesadaran secara dramatis. Laki-laki dan perempuan biasa yang tertidur dalam keadaan terlentang, penuh ketidakpedulian, dan diselimuti rutinitas oleh ledakan peristiwa diseret ke medan perjuangan kelas yang sedang bangkit. Dari aksi-aksi Reformasi Dikorupsi, Mosi Tidak Percaya, Indonesia Darurat, hingga Gerakan Indonesia Gelap menunjukkan kebenaran tersebut. Dalam ketidakstabilan sosial dan politik yang terus berlanjut, dengan setiap perkembangannya yang merangsang pasang naik dan surutnya gerakan mahasiswa dan pelajar di sekitar dukungan bawah-sadar atau setengah-sadar pada kepentingan proletariat, bukan ancaman kebangkitan fasisme yang harus dikhawatirkan tapi kekosongan kepemimpinan revolusioner dalam perjuangan massa: karena dalam krisis yang berlangung lama, kelemahan politik revolusioner untuk memberikan ekspresi yang sadar dan terorganisir bagi angkatan muda dan buruh, akan mengancam menyuburkan suasana anarkis di satu sayap dan suasana reformis di sayap lainnya.”

Dalam perjuangan kelas yang hidup, kekuatan dan kelemahan merupakan proses-proses yang berlangsung secara dialektis; kelemahan yang satu berubah menjadi kekuatan bagi yang lain dan begitupun sebaliknya, dan hubungan timbal-balik di antara keduanya mengangkat salah satunya sebagai pemenang atas kekalahan yang lainnya. Pemberontakan Agustus adalah proses permulaan dari revolusi kita—rakyat pekerja baru bangkit, belum sampai pada titik kritis perjuangan kelas; ini barulah awal dari revolusi kita, belumlah puncaknya. Terlalu dini untuk memperingati massa dengan darurat militer. Referensi tentang Bonapartisme atau fasisme dari kaum “Kiri” kita, sebagai akibatnya, tidak menjelaskan apapun kecuali ketakutan mental dan kebingungan teoritis borjuis-kecil. Kecacatan politik borjuis-kecil tidak mampu menilai situasi dan mengambil sikap berdasarkan tahap-tahap perjuangan kelas yang hidup. Melebih-lebihkan kalau kebangkitan massa dipicu oleh perpecahan internal kekuasaan dan ada bahaya besar ditunggangi oleh klik atau faksi tertentu adalah ‘penilaian situasi’ yang sempit dan abstrak. Demikian pula pretensi untuk mengungkap siapa politisi partai borjuis dan birokrasi borjuis yang mana yang menyetir pemberontakan massa adalah ‘sikap politik’ yang berat-sebelah dan mubazir. Dengan mendesak orang-orang untuk menjawab siapa atau kelompok mana yang berada di balik Pemberontakan Agustus, kaum “Kiri” kita bukan saja tidak memahami proses molekuler revolusi tapi juga meremehkan elemen spontanitas dalam perjuangan massa. Selama waktu yang panjang perkembangan kesadaran berlangsung lamban dan kurang-terekspresikan melalui gerakan massa. Belajar dari pengalaman-pengalaman harian dapat membuka mata orang-orang akan buruknya sistem sosial, pemerintahan, dan kehidupan mereka: lamanya waktu-kerja, upah murah, kesenjangan, korupsi, pelanggaran HAM, dan beragam bentuk eksploitasi dan penindasan merupakan fakta-fakta yang dapat dilihat dengan mata telanjang dan menjadi pengetahuan umum di antara rakyat pekerja. Selama masa-masa normal, semua itu dapat diterima oleh mayoritas orang yang terhisap dan tertindas di bawah sistem yang ada. Secara umum, rutinitas sehari-hari dan tradisi masa lalu membelenggu kesadaran massa. Namun di antara berbagai lapisan massa terdapat heterogenitas kesadaran, yang membagi mereka menjadi lapisan berkesadaran terbelakang dan lapisan berkesadaran terdepan. Keberadaan massa seperti genangan air yang terdiri dari kumpulan molekul dengan energi kinetik berbeda-beda, di mana beberapa molekulnya mengandung energi kinetik yang cukup untuk menguap secara tidak disengaja. Ketidaksengajaan ini bisa dimaklumi dari sudut pandang bagian selama hubungan-hubungan dan hukum-hukum mendasar yang mengatur perkembangan sejarah, masyarakat dan pemikirannya belum dipahami. Namun dalam pandangan Marxis tentang pembangunan keseluruhan apa yang muncul sebagai kebetulan merupakan bagian dari kebutuhan. Seperti yang dikatakan Hegel: ‘kebetulan pada akhirnya adalah cerminan dari kebutuhan.’

Marxisme mendasarkan dirinya pada determinisme dialektis yang mengakui kesatuan antara kebetulan dan kebutuhan, yang melihat dunia material sebagai sebuah kesatuan dan menerangkan bahwa segala benda atau fenomena yang ada mengikuti hukum sebab-akibat yang berlaku secara obyektif. Materialisme dialektis meninjau segala sesuatu tidaklah secara sepihak, melainkan dalam kontradiksi-kontradiksi benda dan fenomena yang terus bergerak. Engels berkata: ‘apa yang dianggap perlu hanyalah terdiri dari kecelakaan, dan apa yang disebut kebetulan adalah bentuk yang di baliknya ada kebutuhan tersembunyi’. Dalam proses alam, setiap genangan air tersusun dari kumpulan molekul yang secara keseluruhannya mengandung energi kinetik ‘acak’—masing-masingnya tidak serupa. Beberapa molekul akan mengandung energi yang cukup untuk ‘secara tidak sengaja’ menguap, meskipun suhu kolektif air tidak pada titik didih. Namun, jika lingkungan sekitar dipanaskan maka laju penguapan akan meningkat dengan cepat hingga tidak ada air sama sekali—hanya uap. Demikian pula dengan perkembangan sejarah masyarakat atau kelas sosial, dalam periode perjuangan kelas yang intens, massa akan diradikalisasi dan lapisan yang lembam akan didorong ke dalam aksi-aksi revolusioner. Pembangunan sosio-historis penuh dengan peristiwa yang tampaknya ‘tidak disengaja’ di bidang ekonomi, politik, militer, dan sebagainya. Tetapi dalam situasi krisis umum, akan lebih banyak kecelakaan terjadi karena sistem menjadi semakin sensitif terhadap setiap kecelakaan tambahan, dan timbangan dibebani dengan berat ke satu arah oleh akumulasi peristiwa kebetulan sebelumnya. Pada periode inilah kesadaran yang sudah lama berada di bawah permukaan menerobos ke atas dengan mengambil bentuk ledakan perjuangan massa yang kesadarannya tak-berkembang secara bertahap tetapi menyambar secepat kilat. Situasi material yang berubah menentukan perkembangan tersebut. Di tengah perubahan situasi yang tajam, kesadaran akan mengejar ketertinggalannya melalui lompatan-lompatan dialektis. Itulah momen di mana pembelajaran dipercepat oleh fenomena luar biasa dan kesadaran yang sebelumnya konservatif berubah jadi radikal bahkan revolusioner. Namun perkembangan kesadaran itu tidaklah otomatis dan berjalan lurus. Perubahan ‘keadaan’ dalam perang dan revolusi memang mendorong massa untuk belajar lebih cepat, namun tanpa mendapatkan ‘bantuan’ atau ‘intervensi’ dari kaum revolusioner maka takkan ada jaminan bagi massa yang bangkit akan berhasil menarik kesimpulan yang memadai untuk penggulingan kapitalisme secara revolusioner.

Engels pernah berkata: ‘manusia membuat sejarah mereka sendiri tetapi belum tentu dengan kehendak kolektif atau menurut rencana kolektif atau bahkan dalam masyarakat tertentu yang ditentukan secara pasti. Upaya mereka berbenturan dan karena alasan itulah semua masyarakat seperti itu diatur oleh “kebutuhan”, yang dilengkapi dan muncul dalam bentuk-bentuk “kebetulan”. Keharusan yang di sini menegaskan dirinya sendiri di tengah-tengah semua kebetulan sekali lagi pada akhirnya adalah keniscayaan ekonomi.’ Sejarah dibuat oleh manusia, dan individu-individu yang mengejar keinginan mereka sendiri-sendiri akan bergerak seperti yang dijelaskan Marx: ‘secara tak terelakkan masuk dalam hubungan-hubungan tertentu, yang terlepas dari kehendak mereka, yaitu hubungan-hubungan produksi’. Di tengah kondisi historis yang sedang berubah, dengan serangan-serangan dan penghancuran luar biasa terhadap tenaga produktif yang ada—pengangguran dan kemiskinan yang umum; kelaparan dan buta-huruf yang dibiarkan; pengrusakan ekosistem yang meracuni alam; perbudakan seksual dan femisida yang kejam; brutalitas polisi dan militerisme yang menjijikan; korupsi birokrasi, hutang raksasa dan kenaikan pajak yang semuanya menambah beban kaum terhisap, tertindas dan miskin; dan lebih banyak lagi kesesangsaraan, ketamakan, dan pembodohan—maka lapisan-lapisan pekerja, cepat atau lambat, akan terdorong untuk menuliskan sejarahnya dengan pedang dan darah. Dalam “Keluarga Suci”, Marx dan Engels menerangkannya: ‘sejarah tidak melakukan apa-apa, ia tidak memiliki kekayaan yang sangat besar, ia tidak melakukan pertempuran. Adalah manusia, manusia sejati yang hidup dan melakukan semua itu, yang memiliki dan berjuang; sejarah bukanlah, seolah-olah, seseorang yang terpisah, menggunakan manusia sebagai alat untuk mencapai keinginannya sendiri; sejarah tidak lain adalah aktivitas manusia dalam mengejar keinginannya.’ Pada permulaan revolusi kita, rakyat pekerja telah terkumpul di sekitar keinginan keras untuk membubarkan parlemen. Energi revolusioner ini tidak boleh lenyap begitu saja atau terbuang sia-sia dalam bentrokan yang tersebar tanpa koherensi dan program. Tugas kaum revolusioner proletariat bukanlah untuk mengekang dan melumpuhkan pemberontakan-pemberontakan massa dengan satu dan lain cara, melainkan berjuang untuk menyatukan dan memajukan perjuangan massa dengan mengeluarkan kekuatan yang sebesar-besarnya. Segala upaya harus dikerahkan bukan untuk menebarkan kebingungan dan ketidakjelasan, melainkan memusatkan kemarahan, kebencian, dan kegetiran supaya terus diluapkan dalam aksi-aksi revolusioner bersama, untuk menyebarkan dan memberikan semua laki-laki dan perempuan biasa bahasa dan tujuan yang sama, demi menyatukan dan memperkokoh semua partikel massa, agar orang-orang yang terbangun ke medan politik memahami dan merasa bahwa mereka tidak terisolasi; agar mereka semakin percaya-diri dan berani hingga menjalarkan kepercayaan-diri dan keberanian itu kepada lapisan terluas massa; agar menarik simpati dan solidaritas yang lebih luas lagi dalam perjuangan revolusioner massa untuk menghancurkan birokrasi borjuasi dan kapitalisme.

Dalam revolusi kita, rakyat pekerja yang bangkit akan mekar dan berjaya seperti bunga-bunga yang indah di musim semi. Namun kemenangan menuntut perspektif dan kebijakan yang jelas dari kepemimpinan yang memadai. Ini bukan metode romantis dari kaum “Kiri” yang bankrut, yang rencana aksinya didasarkan pada penilaian yang abstrak, melainkan taktik-taktik revolusioner yang didasarkan pada perimbangan kekuatan kelas yang konkret. Setelah Pemberontakan Agustus yang membara, yang garisnya berwarna merah tumpahan darah rakyat pekerja, tidak ada lagi demonstrasi-demonstrasi lokal yang memiliki signifikansi politik yang serius. Kenyataan ini mengharuskan perjuangan massa pada tahap selanjutnya dari proses revolusi kita mengambil bentuk pemberontakan seluruh negeri yang dipimpin oleh kelas revolusioner proletariat—pemogokan umum politik berskala nasional. Maka saudara-saudari yang sadar-kelas, jujur dan berani berkorban, yang satu sama lainnya terikat kuat dalam keyakinan akan revolusi sosialis; di manapun gema susulan dari Pemberontakan Agustus, ledakannya harus dimanfaatkan untuk mempopulerkan kepada massa gagasan tentang “Pemogokan Nasional” dengan slogan “Bubarkan DPR” dan “Bentuk Komite Aksi”. Satu-satunya yang layak menggantikan parlemen borjuis, keseluruhan negara dan demokrasi borjuis, adalah organ kekuasaan revolusioner rakyat pekerja yang diorganisir secara embrionik dalam bentuk komite-komite aksi yang didirikan dari tingkat lokal hingga nasional, yang berdiri di pabrik-pabrik, gudang-gudang, pemukiman penduduk, sekolah dan kampus, dan di manapun rakyat pekerja berada. Setiap komite aksi akan sampai pada keputusan melalui suara mayoritas massanya, dengan kebebasan penuh agitasi dan propaganda dan pengelompokan faksi. Dalam hubungannya dengan organisasi atau partai, komite aksi adalah parlemen revolusioner yang menguji setiap kepemimpinan dalam aksi-aksi revolusioner untuk membebaskan massa dari pengaruh-pengaruh ideologi kelas-asing dalam perjuangan massa. Dalam kaitannya dengan aliansi atau front, komite aksi akan menjadi organisasi perjuangan yang langsung dan segera untuk merangkul pusat-pusat perjuangan penting untuk menjamin terbentuknya milisi sejati dari rahim rakyat pekerja. Ini bukanlah komite-komite yang sebatas untuk mengorganisir massa dalam menangani isu-isu sektoral tertentu. Ini bukanlah komite-komite seperti yang terbentuk di masa-masa yang relatif damai oleh aktivis-aktivis dan organisasi-organisasi yang menggandrungi advokasi. Ini adalah komite pengorganisasian rakyat pekerja untuk menjadi kelas yang berkuasa atas masyarakat. Namun pembentukan komite aksi takkan bisa melalui undang-undang dan deklarasi yang merupakan pendekatan birokratis. Komite aksi hanya dapat dibentuk melalui aksi-aksi revolusioner. Rakyat pekerja hanya akan mengikuti pemilihan perwakilannya yang akan mengisi struktur Komite atau Dewan Revolusioner ini hanya ketika mereka sendiri berpartisipasi dalam suatu aksi ‘demonstrasi, pemberontakan, atau pemogokan’ dan merasakan kebutuhan akan kehadiran pemimpin-pemimpin yang memadai untuk memajukan perjuangan massa.

Komite aksi adalah instrumen perjuangan massa yang dalam setiap tahap perkembangan peristiwa di zaman revolusi dibutuhkan untuk mengorganisir kemarahan dan kebencian jutaan laki-laki dan perempuan menjadi sebuah kekuatan besar yang dipersiapkan untuk perebutan kekuasaan secara revolusioner. Maka sejak kehadirannya komite aksi harus berjuang untuk menempatkan otoritas publik ke tangan rakyat pekerja. Namun pemilihan umum dalam Komite atau Dewan Revolusioner tidak menyaratkan representasi demokratis formal dari semua massa yang ada dan tersebar di mana-mana, melainkan representasi revolusioner dari massa yang sedang bangkit dan berjuang bersama. Otoritas revolusioner hanya dapat didasarkan pada kekuatan revolusioner massa yang aktif. Komite atau Dewan ini bukanlah perwakilan resmi dari seluruh penduduk, tetapi organisasi kelas di mana proletariat di dalamnya berjuang untuk memimpin populasi mayoritas kaum tertindas untuk menjalankan pemerintahan revolusioner yang independen. Metode utamanya adalah pemogokan politik untuk melibataktifkan massa dalam melumpuhkan rezim borjuis dan perekonomian kapitalis dengan aksi-aksi mogok. Semakin efektif aksi-aksi revolusioner yang terorganisir menciptakan disorganisasi pemerintahan borjuis, maka semakin banyak rakyat pekerja yang akan terdorong mengambil-alih otoritas publik dan menjadi bagian dari embrio kekuasaan revolusioner. Dalam revolusi kita, pembentukan Komite Aksi atau Dewan Rakyat Pekerja adalah tugas strategis yang dibebankan sejarah kepada kaum revolusioner proletar. Komite aksi adalah instrumen revolusioner yang untuk pertama kalinya akan memperkenalkan demokrasi buruh kepada massa, bukan sebatas dalam bahasa dan ide-ide tapi sekaligus tindakan-tindakan revolusioner. Ini adalah demokrasi revolusioner proletar, demokrasi yang paling demokratis untuk mayoritas kaum tertindas, yang tidak mengenal sistem dua-kamar untuk membagi eksekutif dan legislatif, tanpa birokrasi profesional kariris, yang memberikan hak pemilih untuk memanggil dan mengganti perwakilannya kapan saja, menggaji para wakilnya setara dengan gaji pekerja terampil yang ada, menghapus tentara-polisi reguler dan menjadikan massa rakyat yang dipersenjatai sebagai penyangga utamanya.

Komite aksi adalah embrio dari negara buruh—sebuah negara ‘transisional’ yang benar-benar baru, organisasi ‘kekerasan revolusioner’ untuk pertahanan diri yang bersifat ‘sementara’ dari massa rakyat pekerja, yang digunakan untuk merebut dan mengamankan kekuasaan kelas pekerja, untuk merampas hak-hak istimewa borjuis serta menundukan segala jenis ‘kekerasan reaksioner’ dalam perlawanan mereka. Komite aksi bukan hanya akan membubarkan parlemen borjuis melalui aksi-aksi revolusioner dalam pembentukan komite-komite rakyat pekerja, tetapi lebih jauh akan bergerak menghancurkan negara borjuis dengan seluruh institusi demokrasinya yang selama ini berperan sebagai penyangga kapitalisme. Pembentukan komite aksi ini merupakan kebutuhan historis dari sebuah zaman yang sedang berubah—zaman yang dipenuhi dipenuhi kejang-kejang sejarah, lompatan kesadaran dan belokan peristiwa secara tiba-tiba. Dalam “Sejarah Revolusi Rusia”, Trotsky menerangkan ketika kontradiksi masyarakat semakin intens dan kekuatan sejarah secara keseluruhannya bertambah besar, maka karakteristik-karakteristik pribadi akan menyesuaikan dirinya dengan apa yang dibutuhkan oleh zamannya: ‘iritasi yang serupa (tentu saja tidak begitu identik) dalam kondisi serupa memunculkan refleks yang serupa; semakin kuat iritasinya; semakin cepat ia mengatasi kekhasan pribadi. Menghadapi rasa geli, orang bereaksi berbeda, tetapi terhadap besi panas, sama saja. Seperti palu uap mengubah bola dan kubus menjadi lembaran logam, demikian pula di bawah hantaman peristiwa yang terlalu hebat dan tiada terelakkan, resistensi dilebur dan batas individualitas hilang.’ Penderitaan keruntuhan kapitalisme telah menimpakan kesengsaraan umum pada kehidupan kita, dengan segala kekejiannya yang terus bertambah. Monster inflasi dan deflasi yang biadab, yang dibesarkan oleh dominasi dan perang imperialis, telah menarik semburan darah dan api di cakrawala politik masyarakat borjuis, menancapkan bayonet dan pelurunya yang tajam ke uluh hati massa rakyat, menyebabkan rasa sakit yang mematikan dan untuk sesaat membuat orang-orang mustahil untuk menyakan penyebab rasa sakit tersebut. Tapi sekarang kesakitan kematian, kesengsaraan dan penghinaan mendalam telah berubah menjadi alasan setiap orang untuk memberontak. Pemberontakan Agustus yang kolosal dalam proses revolusi kita, akan mengarah pada penempatan kaum pekerja keras di garis depan perjuangan massa, memimpin populasi bangsa dan memperkuat gerakan tidak hanya dalam menghancurkan penghalang polisi dan tentara tapi juga dalam menggulingkan kapitalisme secara keseluruhannya.

Dalam membentuk Komite Aksi atau Dewan Rakyat Pekerja, kota-kota harus dijadikan sebagai pusat-pusat utama peristiwa revolusioner dengan titik-titik awalnya adalah di pabrik-pabrik. Seruan-seruan pemogokan-pemogokan politik harus dipusatkan di kota dan dimulai di pabrik. Selebaran-selebaran dan poster-poster agitasi, bahan-bahan propaganda, hingga konsolidasi-konsolidasi, pertama-tama harus dapat menjangkau dan merangkul para pekerja pabrik. Kaum muda pelajar dan mahasiswa, dan lebih-lebih pekerja muda, yang berjuang untuk revolusi proletar harus mengulurkan tangannya kepada buruh pabrik, untuk membantu buruh meninggalkan mesin-mesin yang tidak pernah berhenti beroperasi; untuk membuat buruh keluar dari pintu-pintu besi yang mengurungnya dalam kerja keras siang dan malam; untuk turun ke jalan dan membawa buruh dari satu pabrik ke pabrik lain atau gudang-gudang di dekatnya; untuk mendirikan pemogokan yang semakin meluas; untuk menarik lapisan-lapisan baru dalam barikade; untuk terus berpindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya, terus-menerus bertambah jumlahnya, menerobos tanggul polisi dan tentara, menyerap massa baru yang kebetulan ada di jalanan, menguasai dan membentengi gedung-gedung yang cocok untuk pertemuan rakyat pekerja, mengadakan pertemuan-pertemuan revolusioner massa yang terus-menerus dengan orang-orang yang datang dan pergi, mengedarkan literatur dan pidato-pidato seperti lokomotif revolusioner yang akan membawa kereta massa di atas rel revolusi, membangkitkan dan menjaga semangat massa dengan menjelaskan tentang tujuan dan makna dari peristiwa yang sedang terjadi. Dan pada akhirnya, mengubah seluruh kota menjadi suatu Komite Aksi atau Dewan Rakyat Pekerja yang mempunyai program revolusioner untuk memerintah dirinya sendiri. Inilah yang secara umum dapat menjadi rencana aksi untuk membangkitkan pemogokan politik nasional di sekitar slogan “Bubarkan DPR” dan “Bentuk Komite Aksi”.

Di lubuk hati massa yang luas dan dalam, pada kehidupan sosial laki-laki dan perempuan yang mungkin tidak pernah disentuh dengan sepatah kata agitasi dan propaganda revolusioner, kepahitan mendalam terakumulasi di bawah tekanan berbagai peristiwa. Kaum revolusioner proletariat harus menemukan jalan untuk meraih mata dan telinga massa. Zaman revolusi ini memanggil kita untuk tidak menyerah melainkan meningkatkan perjuangan revolusioner kita: semakin bersemangat, mengambil inisiatif dan berani berkorban dalam membangun Kepemimpinan Revolusioner “Bolshevisme”—untuk campur-tangan dan memberikan ekspresi yang sadar dan terorganisir dalam perjuangan massa, demi kemenangan revolusi sosialis dunia. Dengan menyadari bahwa perjuangan kita adalah untuk membangun masa depan umat manusia dengan perkembangan kemanusiaan yang sepenuh-penuhnya, kita harus bersikap optimis bahkan di saat kegelapan dunia kapitalisme dengan ruang bawah tanah yang penuh siksaan mencengkeram leher kita dengan penuh kesuraman yang tiada henti-hentinya. Ketika semua kejahatan kelas penguasa di muka bumi bersekongkol untuk menghancurkan kelas pekerja dan kaum muda kita, perjuangan kelas revolusioner yang kita layani akan menguasai dunia, dan kepemimpinan revolusioner dari partai kita yang masih berada di bawah tanah suatu saat akan melarutkan dirinya dalam arus besar sejarah yang mengantarkan massa manusia untuk pertama kalinya menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Di pucuk pimpinan revolusi kita akan berdiri kelas proletar! Di pucuk pimpinan kelas proletar akan berdiri Partai Revolusioner!

“Sejarah adalah mekanisme luar biasa yang melayani cita-cita kita. Kerjanya lambat, barbar, dan kejam, namun terus berlanjut. Kita meyakininya. Hanya pada saat-saat tertentu, ketika monster rakus ini meminum darah hidup dari hati kita untuk dijadikan santapan, kita ingin berteriak sekuat tenaga, ‘Apa yang kau lakukan, lakukanlah dengan cepat!’” (Leon Trotsky)

Hidup Revolusi Indonesia!

Bubarkan DPR!

Gulingkan Rezim Prabowo!

Bentuk Pemerintahan Buruh dan Rakyat Miskin!

Bentuk Komite Aksi sebagai Organ Perjuangan Rakyat Pekerja dan Muda!

Luncurkan Mogok Nasional!

Hentikan Moda Produksi!

Hancurkan Kapitalisme!

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai