“Jika kita telah memilih posisi dalam hidup di mana kita dapat bekerja bagi umat manusia, tidak ada beban yang dapat menundukkan kita, karena beban itu adalah pengorbanan untuk kebaikan semua; maka kita tidak akan mengalami sukacita yang remeh, terbatas, dan egois, tetapi kebahagiaan kita akan menjadi milik jutaan orang, perbuatan kita akan tetap hidup dengan tenang tetapi terus-menerus berkarya, dan di atas abu kita akan ditumpahkan air mata hangat dari orang-orang yang mulia.” (Marx, Surat kepada Ayahnya, 1837)
Zaman ini memiliki banyak hal untuk disorot dan dibongkar, hanya saja miskinnya waktu dan kayanya tekanan hidup menjadi tantangan yang paling konkret. Semakin seseorang mampu mengatasinya maka akan bertambah luas dan dalam pembahasannya. Namun untuk orang-orang dengan keberadaan sosial seperti kita, apa yang memungkinkan untuk kita bahas? Mungkin yang terjangkau adalah hal-hal yang partikuler. Apakah ini dangkal dan sempit? Bagi kita, adalah tidak. Yang khusus mengandung yang umum, dan begitupun sebaliknya. Jika kita mampu memahami inti-negeri di mana kita berada, maka kita dapat memahami semua negeri di dunia. Dan dalam yang individu terkandung yang universal, dan oleh karenanya, membahas individu berarti sekaligus membahas yang universal.
Supaya menyatu secara dialektis sebagai keseluruhan maka bagian-bagian yang ada harus berjuang untuk menghadapi segala rintangan dan mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Itu berlaku untuk bagian—individu. Mereka harus berjuang mentranformasikan dirinya supaya menjadi cocok dengan masyarakatnya. Namun pernyataan itu tidak dapat dilebih-lebihkan: karena kita bukanlah suatu kelas dengan keberadaan sosial yang dapat bersatu dengan masyarakat kapitalisme yang sedang sekarat. Untuk dapat memajukan perkembangan kemanusiaanya dan mempertahankan eksistensinya sebagai spesies manusia, laki-laki dan perempuan yang merangkak dalam lumpur dan debu, yang diterkam kemiskinan dan kelaparan, dan diluncurkan dalam kubangan penghinaan, pelecehan, dan kekerasan reaksioner, justru harus berjuang melenyapkan masyarakat kelas ini. Kita bukanlah kelas yang berkepentingan mempertahankan tatanan sosial dan moral ini. Kita bukanlah penyeru romantisme, dengan gelora dan gairah masa lalu yang divulgarisasi seolah takkan pernah berlalu. Kau dan aku hidup hari ini, sebagai manusia yang memiliki masa lalu dan masa depan. Aku mengakui banyak kegagalan. Gagal dalam hubungan-keluarga, hubungan-universitas, hingga hubungan-cinta. Tetapi aku tidak ingin gagal dalam hubungan persahabatan dan perjuangan untuk revolusi—untuk kemajuan dan masa depan umat manusia. Aku pikir dirimu juga serupa: punya banyak kegagalan. Terberat adalah dalam hubungan-keluarga. Kau dan aku telah gagal mengemban tugas-tugas kramat dan udik dari keluarga kita. Tugas yang sangat tidak pantas untuk kita.
Pada masa kebangkitan revolusioner, masalah pribadi dan keluarga adalah sangat ringan untuk diabaikan dan bahkan menjadi tidak penting. Tetapi dalam masa-masa kemunduran perjuangan kelas yang relatif ini, masalah-masalah itu muncul sebagai sabuk yang mengikat kencang. Ini telah menyeret sebagian kecil angkatan kita untuk keluar dari medan pertempuran dan mencari perlindungan dalam bilik-bilik rumah dan aktivitas yang aman. Kita tidak ingin mengikuti mereka. Kita tidak boleh berdiri di barisan yang telah menyerah, apalagi gerombolan sinisme dan skeptisisme. Jangan khawatir, perjuangan untuk masa depan umat manusia akan memberikan kita vitalitas yang segar selaksa udara pagi dan optimisme yang bersinar seperti cahaya matahari. Jika kita membahas perihnya siksaan dan tekanan, ini bukan sebagai keluhan yang mengekspresikan keputusasaan. Dalam kehidupan yang diselimuti dusta dan kebohongan, wajah-wajah kesengsaraan akan dipandang sebagai parodi yang payah dan menjijikan. Cara pandang kelas penguasa tidak suka disuguhkan dengan menu-menu penderitaan, karena mereka selalu ingin makan senang dan menyembunyikan segala kebusukan tatanan. Kesengsaraan bukan pula yang ingin didengar oleh deretan perempuan dan laki-laki, karena semuanya telah melihat bahkan merasakannya sendiri. Hanya saja mereka tidak memberikan semua yang sedang tumbuh di kedalaman jiwanya. Nada-nada yang ceria dan kesenangan yang berlebihan menyembunyikan kemunafikan masyarakat ini dengan sempurna.
Dalam penderitaan hidup yang umum ini, orang-orang harus belajar bukan hanya untuk mengungkapkan apa-yang-dialaminya tapi juga menyampaikan pesan-pesan harapan kepada dunia. Bila mereka yang hidup sekarang tuli, maka biarlah generasi mendatang yang mendengarnya. Jika masyarakat yang tua bangka dan sedang sekarat ini dipertahankan dengan mekanisme dusta dan kebohongan yang paling tidak masuk akal, maka kita harus menjadi angkatan yang paling kurang-ajar yang menolak untuk mengakui kekalahan, dengan kepala yang tidak tunduk terhadap setiap kesulitan apapun. Walaupun kebutuhan manusia adalah memahami dan merubah dunia, tetapi pria dan wanita sejati bukanlah orang orang yang tidak pernah bersedih. Laki laki dan perempuan yang berpikir harus belajar untuk merasakan dengan tingkat sensitivitas yang tinggi. Curahan pemikiran yang mendalam adalah bagian dari seni untuk merasakan sesuatu yang terdalam. Bila semua kita mengungkapkan segala penderitaan hatinya dan memancang optimisme yang-terorganisir-dan-sadar-kelas untuk mengakhirinya, maka tatanan purba dan tidak-manusiawi ini tidak akan dapat bernafas lebih lama lagi.
Sesungguhnya di tanah ini tidak ada kenangan tentang kasih-sayang yang hangat atau pelukan dan ciuman yang menyejukkan, karena yang membengkas hanyalah kenaifan dan penghinaan yang paling tidak masuk akal. Dan jika ada kasih-sayang khusus terhadap tanah kelahiran kita, yang nampak sebagai suatu identitas yang tertanam di lubuk hati ini; itu adalah identitas yang kuat dengan orang-orang yang terendam dalam lumpur dan dipaksa merangkak menuju barak. Ini adalah rasa ketidakadilan yang mengakar dan kebencian yang membara dari kondisi hidup yang nyata. Perasan identitas macam ini, ditarik ke kesimpulan rasionalnya, akan menegasikan dirinya untuk menjadi sesuatu yang lebih tinggi.
Dalam ketenangan yang naif dan kasar di tanah kita, ada getaran yang membakar–seperti arus listrik yang kuat; resonansi dari emosi, harapan dan aspirasi terdalam. Namun ketika jiwa seseorang lahir di tempat ini, ada jaring yang dilempar untuk menahannya agar tidak terbang. Jiwa kita seharusnya mendeklarasikan perang pada jaring yang gelap dan dingin itu; terhadap segala perangkap ketertinggalan berabad-abad yang membuat daging dan kemanusiaan menderita. Di dasar jiwa kita, tidak ada kelembutan laksana makhluk-makhluk renta. Dalam jiwa orang-orang muda, tidak ada sehelai rambutpun yang memutih. Dengan hati kita yang tercabik-cabik dan berdarah di tanah ini, kita akan memerangi semua mereka yang kita benci lagi dan lagi; kita harus bersikap tanpa ampun dan menyakitkan sekali. Kita akan menikam musuh-musuh kelas kita dengan pedang yang ditempah di tengah kegelapan tanah ini.
Di atas tanah yang hitam pekat. Partikel-partikel udara segar dan hembus angin sepoi-sepoi membelai lembut. Kicau burung dan aliran air merambat merdu. Selaksa buaian agama dan narkoba. Menabiri penderitaan hidup yang terpendam di dasar bumi. Menenangkan hati orang-orang di padang rumput dan genangan lumpur. Menjadi lumbung kesejahteraan bagi tikus, babi dan ular. Kebinatangan yang beranak-pinak dan semakin kasar dalam ketertinggalam yang tidak dimengerti. Di sini ‘kebenaran’ dikubur di hadapan wajah-wajah pekerja keras yang menua sebelum waktunya. Penderitaan keruntuhan sistem masyarakat yang keji ini berarti penajaman kontradiksi sosial yang tak-terperi, yang secara tak terelakkan mengarah pada kontradiksi pribadi. Semua generasi pekerja keras merasakannya: keheningan yang berteriak, keputusasaan yang mengamuk, dan kemanusiaan yang memberontak.
Dalam musim dingin di hati, kita harus tetap berada di bawah sinar matahari. Di atas tanah yang gelap, kita harus tetap berjuang mengalirkan listrik. Meski dunia ini runtuh dengan cepat, kita harus tetap bertahan hidup. Mimpi yang bersemayam di alam mata kita, suatu saat akan mekar di taman kehidupan baru.
“Sejak lahir, setiap anak membawa api kehidupan dan petualangan yang menggairahkan. Tapi terancam oleh sistem masyarakat kelas yang terkutuk, yang menggantikannya dengan rasa malu, takut, dan kelumpuhan. Namun cetakan kaku yang sempit, mengikat dan menjepit, cepat atau lambat, akan hancur. Jaring laba-laba dan sangkar masa lalu udik pasti tersapu oleh gelombang perkembangan generasi baru yang akan menjadi lebih teorganisir dan sadar. Di tanah yang hitam pekat ini ada arus listrik yang mengalir. Dan sebuah angkatan yang tumbuh di malam yang gelap, ketika semuanya tampak tanpa harapan, tetapi jiwa manusia yang ditempa oleh seluruh keadaan, akan memancarkan cahaya terang, dan keluar sebagai pemenang dari malam yang paling gelap sekalipun. Semangat laki laki dan perempuan, yang mendera siksaan mengerikan dan kehilangan yang menyedihkan, takkan padan. Orang orang yang terlahir ke dunia, dengan mewarisi penderitaan berabad-abad, cukup kuat untuk bangkit dan belajar dari semua kekalahan dan menarik ‘kesimpulan revolusioner’ untuk melanjutkan perjuangan sampai ke garis kemenangan. Inilah kemauan historis yang membaja dan optimisme masa depan yang tak-tergoyahkan, yang menertawakan kesulitan dan mencengkeram takdir dengan penuh keyakinan.”
“Kawan, kita berasal dari daerah terpinggir dan brutal. Tempat di mana keterbelakangan dan inferioritas merayap ke rumah-rumah penduduk secara ganas. Kita tumbuh dalam sangkar idilik, di mana adat dan tradisi yang udik memasung jari-jemari, bibi, dan pikiran kita dengan brutal. Tetapi sekarang semuanya retak. Tidak ada alasan lagi untuk meringkuk. Aku tahu dan sangat mengerti: terlalu berat beban yang harus kalian tanggung dan semua kalian tertekan oleh pembatasan-pembatasan hidup yang mengerikan. Aku harap kalian bertahan. Namun tiada pertahanan terbaik selain menyerang. Kita harus mempersiapkan pukulan mematikan. Sudah waktunya kita membangun kekuatan untuk melancarkan perjuangan penghabisan.”
Dari yang subyektif, muncul yang obyektif. Namun, pada akhirnya; yang obyektiflah yang menjadi penentu bagi yang subyektif. Dalam kehidupan ini, obyektivitas bukanl ah sikap pura- pura atau acuh-tak-acuh; melainkan tindakan menyatakan sesuatu apa adanya, dengan sejujur-jujurnya. Tapi ini bukan sekadar fakta. Lebih dari mengetahui, seseorang mesti memahami dan merasa. Dalam aktivitas sehari -hari, tidak ada satupun alasan untuk menyembunyikan simpati atau antipati, cinta atau benci—semuanya ditunjukan dengan satu dan lain cara. Indera yang memiliki daya nalar yang keras dan hati yang halus akan menjadi murid terbaik dari kehidupan ini–untuk menghirup segala pelajarannya, tumbuh dan hidup darinya.
Dalam proses ini dibutuhkan kerja keras, bukan hanya pada siang ketika banjir keringat tapi juga pada malam saat banyak mata terlelap. Dalam waktu-waktu dan energi- energi yang terbatas, hidup menuntut kita untuk lebih serius. Tatkala perjuangan penghabisan, yang berisi ledakan semangat dan harapan, impian dan jalan menuju masa depan yang terbentang—akan ada orang-orang yang telah dipersiapkan untuk bertempur secara militer dan politik, dengan revolver dan literatur, secara fisik dan mental. Namun tindakan kita—yang merupakan mata rantai dari rantai zaman transisi—telah menuliskan hidup kita dengan gaya yang sangat kejam. Terekam dalam pikiran sebagai lukisan yang sangat suram. Hitam mencekam. Luas dan dalam, dengan warna-warna gelap yang menyembunyikan kejutan-demi-kejutan, yang dalam proses perkembangan kemanusiaan, hadir sebagai kebetulan-kebetulan yang menjadi bagian integral dari keharusan. Di tengah tatanan sosial dan moral yang sedang runtuh, unsur unsur ‘anarki merasuki lautan masyarakat dan angkatan kita untuk pertama kalinya memasuki medan politik sebagai pembangkang yang kebingungan. Kita berlarian ke kiri dan ke kanan. Menguji setiap kepemimpinan. Memberaki Cipayung. Muak dengan sabotase dan aksi-langsung anarkisme. Memuntahkan Stalinisme dan epigonisme. Dan sampai pada udara dan cahaya Bolshevisme. Tetapi proses ini tidak berjalan lurus, terdapat belokan mendadak dan lompatan tiba-tiba, yang membawa bencana dan pelajaran yang berharga, dan tidak bisa dipahami dari kemalangan ‘individu’.
Di medan pertempuran sehari-hari, kita tidak perlu malu dan menyembunyikan apapun selama itu berangkat dari kemuliaan moral kelas kita. Di hati orang-orang yang bekerja, menderita, dan berjuang untuk kehidupan baru yang lebih tinggi dan lebih manusiawi–seperti kaum revolusioner proletar sejati, kesulitan dan kekurangan materi akan kita tanggung dengan enteng dan penuh canda. Dalam kehidupan sastra yang penuh vitalitas, kita perlu bersungguh-sungguh dalam mempelajari, memeriksa dan merenungkan segala sesuatu yang konkret yang kita alami. Ini bukan untuk deklamasi agitasi yang hampa dan vulgar, tetapi mengasah ‘temperamen
revolusioner’ yang tulus yang mengandung nyala api yang hidup. Temperamen ini dibentuk dan dikeraskan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan pribadi–persahabatan dan keluarga–yang terkait-erat dengan aktivitas-aktivitas politik besar di zaman kita.
Kita hidup dalam batasan-batasan masyarakat kapitalis yang sedang sekarat. Siang dan malam menjadi budak, makan dengan buruk dan selalu kurang tidur. Tahan angin dan hujan, panas dan badai petir. Tanpa kasih-sayang, pelukan atau ciuman hangat. Jika kita adalah benih bagi masa depan yang jauh, maka tempat kita tumbuh selaksa tundra yang beku. Tetapi ‘menjadi muda adalah anugerah’ alam dan sejarah. Di dasar jiwa angkatan politik ini terdapat percikan bunga-bunga api kemanusiaan baru yang merah membara, tidak takut dan tanpa pamrih, tiada henti berusaha membuka jalan ke permukaan bumi. Dalam proses yang diselimuti kegelapan ini, keputusasaan tidak dapat diterima.
“Kita berada dalam periode penurunan dan demoralisasi. Lautan sosial kita disumbat oleh onggokan pemberontak karatan yang-gagal-memetik-pelajaran dari kekalahan tempo hari dan tenggelam dalam perasaan frustasi dan putus-asa yang tak-terperi. Keseluruhan mereka telah menyerah: sebagian di antaranya, mencari perlindungan di bawah mesin birokrasi negara dan partai borjuasi untuk melancarkan studi akademik dan karir; dan sebagian lainnya, meromantisasi aktivitas politik infantil terdahulu-untuk mendirikan otoritas informal secara retrospektif dan menuangkan mimpi buruk ke medan-medan perkembangan generasi baru–demi mempertahankan eksistensi personal.”
“Namun periode penurunan dan demoralisasi ini tidak bergerak ke satu arah. Waktu menyajikan dua-sisi pertanyaan yang saling-mempengaruhi: defensif untuk mempersiapkan serangan baru dengan penuh kesabaran?, atau, ofensif untuk memperpanjang barisan orang-orang yang terburu-buru dan kalah dengan keputusasaan yang mendalam? Kita harus berhati-hati dalam mengambil tindakan: di antara kesabaran dan ketidaksabaran, tidak ada jalan tengah–sedikit saja ketidakbijaksanaan akan menyeret menuju konservatisme dari orang-orang kalah, yang tersesat dan berputus-asa, dan berjalan di muka bumi seperti mayat hidup yang disirami parhum dan gincu.”
Jika kita mengingat masa silam dan mempertimbangkan perubahan arus dan kecenderungan serta pergulatan sengit yang pernah berlangsung dalam Organisasi Mahasiswa Radikal kita terdahulu, maka diperolehlah kepuasan moral dan politik yang mendalam. Bahwa benturan, keretakan, dan pengelompokan-ulang dari pandangan-pandangan yang saling-ekslusif, secara umum didominasi oleh tendensi yang berhari depan dan memberi harapan yang terang. Bagi kawan-kawan kita yang rendah hati dan berpikiran terbuka, mereka akan menaklukan prasangka sentimentilnya dan berenang keluar dari kapal yang sedang tenggelam. Dan bagi kawan-kawan yang ‘membatasi-diri’, yang secara inheren menunjukkan kelelahan moral dan ketidakberdayaan politik, cepat atau lambat akan tiba pada perkembangan logika internalnya sendiri. Ini berbahaya: karena orang-orang yang ‘kemarin’ secara radikal menjadi partisan dari gerakan revolusioner, apabila tidak berjuang keluar dan mencari keselamatan di bawah panji-panji yang benar, akan terjebak di reruntuhan kapal yang sedang meluncur ke dasar samudera yang gelap. Ini mungkin terpampang heroik, tetapi sayangnya begitu tragis. Walau dalam dilematika antara hidup dan mati, nyali sama harganya dengan nyawa, tapi keberanian semata takkan sanggup mengeluarkan kita dari maut. Para pemberani sama halnya dengan para pecinta, harus menyadari dirinya. Kasih-sayang dan pengorbanan tampa pamrih haruslah dilancarkan dengan pikiran yang jernih. Perasaan kita harus disubordinasi di bawah pemikiran-pemikiran rasional. Sepertinya halnya segala ikatan organisasi harus disubordinasi di bawah politik.
Saat ini segala tendensi sedang diuji. Tekanan peristiwa memaksa seluruh yang hidup dan berjuang untuk meninjau kembali semua hal yang telah digeluti. Orientasi politik yang memadai sedang dicari. Satu-per-satu elemen sosial tergoncang: angkat bicara, melompat ke kanan dan ke kiri, lelah dan kecewa. Ini adalah periode paling menarik dalam sejarah. Kontradiksi antara massa dan kepemimpinan semakin terbuka. Gejala ini sehat. Lapisan-lapisan paling segar akan melangkah maju dengan kesimpulan-kesimpulan yang tepat. Dunia lama di belakangmu. Avante, Camarada! Fajar baru akan menyambutmu. Proses ini tidaklah otomatis ke satu arah. Dibutuhkan keyakinan, kesabaran, dan pengorbanan terbaik untuk mencapainya. Seribu kesalahan di masa kanak-kanak adalah warna-warni kehidupan yang menggairahkan, tapi sedikit saja kesalahan di masa dewasa adalah kemalangan yang memilukan, yang apabila fatal maka akan sangat membahayakan. Suatu kekeliruan terdahulu yang mungkin dapat dimaafkan, tapi tidak untuk diulangi–itu hanya ketika kita mengingat bahwa kala itu kita baru belajar mengepakan sayap-sayap kita yang rapuh, dengan cakar dan taring yang baru tumbuh. Kesalahan itu mengalir bukan sekadar dari eklektisisme yang mencampuradukan Marxisme, Stalinisme dan Anarkisme, tetapi lebih mendasar lagi: dari keberadaan sosial kita sendiri dan ketiadaan orientasi yang jelas pada perjuangan buruh.
Ya, kita pernah bermimpi bersama. Mimpi kita bukanlah bayangan yang sewenang-wenang dan tidak-nyata; bukan pula sebagai faktor yang berdiri di luar fakta dan mengatur realitas dengan maha-kuasanya. Ingatlah selalu: mimpi kita adalah fakta di dalam rangkaian fakta! Dan jika kita harus memulai dari awal lagi, maka kita harus menghindari kesalahan ini dan itu. Kita terlalu naif untuk sebuah perjalanan yang panjang dan penuh ranjau. Kenapa kita membutuhkan panduan yang benar? Karena dalam aktivitas praktis kita cenderung memandang dunia sebagai sarana dan diri kita sebagai tujuan—egosentrisme praktis ini hanya bisa diatasi dengan memeluk ‘panduan untuk tindakan yang benar’, yang mengarah kepada pembangunan semua bagian-bagian yang ada. Trotsky pernah berkata: ‘sampai hari ini, subjektivisme dalam satu atau lain cara, didasarkan pada kontradiksi antara sebab obyektif dan tujuan subyektif. Keduanya tidak bisa diperhadapkan secara diametral, atau digabungkan secara eklektik. Sebab adalah keseluruhan dan tujuan merupakan bagian darinya. Keduanya adalah kesatuan organis; di mana teleologi menjadi departemen khusus dalam determinisme.’
“Ingatlah selalu: satu-satunya kriteria yang menentukan dalam perjuangan untuk eksistensi yang konkret ini, adalah peran kita dalam perjuangan kelas proletar untuk membangun dan berlayar dengan kapalnya sendiri, untuk menundukkan lautan yang tak bertepi dan menemukan harta karun sejarah yang telah lama terkubur di pulau impian umat manusia.”
Ya, Kawan-kawanku. Dalam perjuangan yang penuh dengan kepedihan dahulu, terdapat kesedihan yang mendalam dan optimisme yang membara. Kita telah berulang-kali mendera kekalahan yang begitu rupa, tetapi kehendak yang kuat untuk menang masih terpatri di dasar jiwa kita. Dan cerita-demi-cerita dalam halaman-halaman organisasi dan gerakan yang telah berlalu harus kita balik untuk membuka babak-baru. Semuanya tidak untuk kita ratapi tapi dipahami. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kita; belokan dan lompatan dalam perjalanan hidup kita–semuanya mencerminkan perimbangan kekuatan kelas yang ada, bukan karakter individu kita. Tahap-demi-tahap telah kita hadapi. Dan jika kita menyelami catatan catatan perjuangan kita dahulu: garis umumnya adalah kemajuan yang ditandai dengan peningkatan kesadaran kita. Dan hari ini kita mesti memilih: melanjutkan perjuangan kita ke tingkat yang lebih tinggi, atau, menyerah dengan segala kemalangan individu kita?; menjadi tua dan sekarat, atau, menjaga bunga-bunga api dalam jiwa kita? Saat ini kita berada dalam periode sejarah yang begitu menguji moral kita: prajurit musim panas dan patriot matahari dalam lautan krisis yang membeku, akan mundur dan hancur berkeping-keping atau melangkah maju dengan api dan baja di lengannya?
Kepada angkatan yang kesepian dalam keramaian dan berisik dalam kesunyian. orang-orang muda yang ingin menjadi pria sejati, bermain dengan anak anjing dan kucing, đan menatap takjub setiap bayi dengan penuh kesenangan. Saat malam menyingsing, aku mengejar kalian. Aku mencari kawan-kawanku yang bertahan, dekat perapian yang đingin. Aku ingin berbagi bahan-bahan yang dibutuhkan, untuk memperpanjang nyala api đi tungku kehiđupan. Agar perahu impian kita dapat terus berlayar, melintasi lautan kegelapan di đunia yang hancur. Semua asap yang bergelantung đi langit, jangan biarkan menjadi lebih pekat. Hujan badai dan gelombang apapun yang menerjang, pastikan untuk ditaklukan. Demi mentrasferkan ke setiap hati dan kepala, bait-bait masa depan yang tertulis di layar perahu kita.
Ya, Komune. Aku cukup tahu dan mengerti keadaan kawan-kawanku, termasuk Rangga. Sekarang kalian berdua masing-masing menjadi pekerja di perusahaan surat kabar dan pegadaian. Hari-hari kalian diseret dalam rutinitas yang membosankan–serupa dengan diriku talkala beraktivitas di gudang. Seusai tetes keringat terakhir bercucuran dan mengering di penghujung hari, maka sepanjang malam pertempuran melawan rasa lelah menjadi agenda. Berkali-kali aku tertikam jatuh, terbujur kaku dan terlelap bisu sebelum belatiku menyelesaikan pahatannya di punggung waktu. Tetapi matahari pagi selalu setia membangunkanku, dengan sinarnya yang murah hati dan mengilhami supaya setiap malam diriku bertempur lagi dan lagi. Tidak peduli seberapa banyak luka dan kemalanganku, dalam bilik-bilik hidup yang gelap dan longgar-longgar peristrahatan yang terbatas—perjuangan untuk mengatasi rasa lelah harus berlanjut; demi capaian yang lebih luas daripada sepiring nasi dan demi percikan yang lebih kuat daripada dorongan perut. Ini tentang ekspresi yang mencakup seluruh dunia—dengan keseluruhan aktivitas manusiawi, yang meliputi masa kini, masa lalu, dan masa depan—yang bersumber dari keberadaan sosial garda terdepan umat manusia: proletariat.
“Sepanjang apapun jalan ini, seberat apapun alat ini, jangan lupa: kesetiaan, pengabdian, dan pengorbanan hanya untuk kelas ini, kelas yang telah ditakdirkan oleh sejarah—untuk membebaskan perkembangan daging dan seluruh kemanusiaan kita dengan sepenuh-penuhnya. Kita seharusnya tidak peduli terhadap semua rayuan dan keyakinan naif untuk memanjat bangunan masyarakat megah di atas kepala. Inilah tempat kita terlahir kembali dan dibesarkan dengan karakter yang baru. Di sini terdapat kenikmatan tersendiri yang diperoleh dengan mengerjakan dan menyadari sesuatu. Aku percaya bahwa kemanisan spiritual dan ketidakegoisan akan menaklukan kerakusan peradaban manusia. Keyakinanku pada kelas pekerja semakin kuat, dari peristiwa-ke-peristiwa. Tangga waktu hanya akan bergema bukan dengan sepatu bot yang dipoles mulus dan terjaga, tetapi sepatu kayu yang menghantam lantai peristiwa.”
Bangunlah kawan. sudah waktunya kita berangkat ke sekolah kehidupan yang menggelegak dan berkilauan. Kita harus merebut pencerahan dengan antusiasme dan kemauan yang tak-tergoyahkan. Bayangkanlah tindakan individu kita yang ringkih ini sebagai suatu mata-rantai dari rantai politik yang luas dan besar. Muram dan penuh ironi yang berbisa. Inilah corak hidup orang-orang muda dengan vitalitas yang menggelora. Maka tertawa-rianglah bersama pagi yang bergembira. sebagai ekspresi kemenangan manusia atas kesulitan yang ada di pelupuk mata.
Bagaimana hubungan antara bunga dan roti–manakah yang menentukannya? Hubungan keseluruhannya, hubungan timbal-balik antara keduanya! Dan bagaimanakah seharusnya kita memperjuangkan keseluruhannya? Bukan dengan mengorbankan yang satu karena yang lainnya, tetapi memperjuangkan yang satu untuk yang lainnya. Namun lihatlah nasib kita saat ini. Jangan bersedih dan kecewa, menyesal dan putus-asa. Tersenyumlah! Kita masih punya alasan untuk hidup lebih lama. Demi meraih sepotong roti dan sekuntum bunga. Setiap tahun benih-benih keyakinan itu tergeletak tumbuh di bawah tanah generasi baru. Mungkin tidak bisa didengar karena telinga yang tuli, tidak bisa pula dilihat karena mata yang buta–itu bukan berarti tidak ada; mereka sedang tumbuh dalam hati dan jiwa generasi baru. Bangunlah! Lakukanlah sesuatu supaya kita semua bisa memainkan peran dalam pertumbuhan ini. Jika tidak, gulma akan menyerbu di sekitar mereka dan memaksa kita untuk membayarnya dengan kesunyian dan kegelapan hidup yang membuat kita tidak dapat merasakan pertumbuhan benih-benih itu.
Yakinlah, kita berbicara tentang keyakinan yang menjadi alasan kita untuk hidup. Tentang makna hidup dan kehidupan yang berarti. Hanya orang-orang yakin yang bersedia mempertaruhkan hidupnya. Hanya orang-orang yakin yang bersedia menderita, terluka, kehabisan darah dan terbunuh. Demi roti dan bunga, yakinlah! Jangan biarkan waktu melumat kita, menyerah pada tekanan kelas-asing yang mengepung keberadaan kita. Tidak ada hidup yang lebih ‘realistis’ di tengah tatanan sosial, politik dan moral yang sedang runtuh. Tanah yang kita injak telah terjungkir-balik dan udara yang kita hirup sudah sangat panas. Dengan waktu kita yang teramat terbatas, kita tidak boleh menyia-nyiakan nya untuk ‘belajar hidup’. Kita harus hidup untuk belajar, bukan belajar untuk hidup—menyerah pada tuntutan tubuh material dan spesies. Waktu seharusnya membuat kita menjadi lebih matang, supaya menua seperti anggur yang baik. Semua episode yang kurang atau lebih tidak biasa dal am hidup kita sama sekali tak-terkait dengan ‘belajar untuk hidup’ tapi ‘hidup untuk belajar’ Inilah yang mengilhami perjuangan yang terus menerus untuk ide-ide yang tepat, teori yang benar. Jika kita meraba-raba surat-surat terdahulu kita yang terlampau eklektik dan dualistik itu, sudah sejauh mana kita ‘menjadi’ anggur yang baik dengan perkembangan kita saat ini? Tinjaulah. Semuanya tentang hidup untuk belajar, hidup untuk berjuang, lebih jauh: hidup untuk merealisasikan mimpi yang kita warisi dari periode dan aktivitas masyarakat sebelumnya, hidup bukan untuk ‘diri’ kita sendiri—egosentrisme.
“Laksana penggalian yang tiada berhenti. Menggali dan menggali. Terowongan kehidupan semakin dalam, asing, dan berbahaya. Perubahan dramatis yang sedang berlangsung memperkaya kehidupan kita dengan berbagai kejadian. Banyak hal yang harus dituliskan. Peran ini mungkin telah lama đilakukan oleh mereka yang beruntung. Suatu saat kelas kami, yang dimulai dari bunga-bunga terbaikmya akan merebut tugas itu. Terlepas dari tempo yang sempit dan benak yang terlilit oleh aneka masalah; kami akan bercerita dengan bibir dan jemari kami sendiri tentang semua yang kami alami.”
“Hari-hari untuk mengais roti yang mengenyangkan tidaklah secuilpun menghapus kerinduan terhadap mawar yang indah. Selaksa orang-orang yang memiliki kekasih, bersumpah setia, terpisah dan berjumpa; akan tiba waktunya di mana bibir dan jari kami mencium dan mencengkeram keindahan budaya.”
Berbeda dengan masa-masa ketika kita berlayar di kampus, dalam membangun organisasi dan gerakan mahasiswa yang penuh dengan kejutan–semua itu sudah berlalu. Dahulu, kita mudah sekali membahas dan menulis sesuatu. Kita dapat merangkai kata-kata di atas aspal yang panas, pelataran yang berasap, atau lorong-lorong kampus yang gelap. Kala itu kita hidup dalam kelimpahan waktu-luang dengan cangkang kepala yang tidak terbebani oleh keperluan mengais roti. Kini, semuanya telah berubah: waktu dan pikiran kita luar biasa tersita. Inilah kehidupan yang sesungguhnya. Kita sedang đitempa olehnya. Lenin berkata: ‘kehidupan mengajarkan’. Kita tidak boleh tumbang. Kita mesti menemukan jalan keluar dari labirin keadaan. Meskipun secara fisik kita mengalami kehancuran, tetapi sesungguhnya mental kita masih sanggup untuk bertarung. Jangan biarkan moral kita ikut diremukkan. Dalam pertempuran ini, moral adalah benteng terakhir kita. Di tengah hari-hari yang memperlakukan kita secara biadab, kita harus berjuang untuk menjadi manusia-manusia yang beradab. Untuk membangun kebudayaan baru; budaya masa depan yang lebih tinggi dan manusiawi. Perjuangan ini adalah perjuangan sepanjang kehidupan. Kita mesti maju bersama selaksa gelombang yang menerjang batu-batu karang. Tatkala di antara kita ada yang berhenti berjuang, perkawanan kita akan tertinggal di belakang dan tenggelam di lautan sunyi kehilangan. Inilah penderitaan yang paling menyakitkan, dengan kesedihan yang tiada terperikan.
Pengalaman penderitaan yang intens dan perjuangan untuk mengatasinya, telah mengilhami jiwa manusia, yang berakar di kedalaman lautan sosial yang gelap dan dingin, dan berkilau bagaikan berlian, yang keras dan mengandung energi potensial yang besar, dan menjadi poros bawah-sadar dari suatu mekanisme rumit yang terus bergerak. Ini tentang tahanan rasa-lapar dan budak-upahan yang bangkit di ruang bawah tanah menuju cahaya siang dengan nyanyian yang mencerahkan. ‘Oh, betapa senangnya menghirup udara pagi di momen terbitnya matahari yang menghangatkan sanubari kemanusiaan.’ Tidak ada lagi malam keterasingan yang sepi dan dingin; di bawah sinar harapan, dengan lengan baju yang tersingsing, penderitaan hidup ditaklukan. Api dan baja dalam jiwa manusia akan menopang perjuangan melalui semua medan ujian kehidupan. Yang ditempa menjadi pedang dan peluru, yang secara kejam merobohkan segala rintangan. Kesengsaraan pada akhirnya putus-asa menghadapi keteguhan hati yang tiada terkalahkan.
Lengan baju yang hitam ini telah disingsingkan dengan keyakinan yang tidak begeser seincipun. Tidak ada yang vulgar, setiap komponen saling berkait, semuanya berkilauan metalik dan berdenyut dengan muatan listrik internal: akan tiba waktunya di mana adonan manusia merasakan antusiasme yang menggelegak dari kehidupan kaum proletar—akan tiba saatnya di mana garis pemisah antara seni dan kehidupan menjadi sangat tipis, bahkan pupus. Makan dan tidur, bekerja dan berpikir menjadi lebih harmonis. Laki-laki dan perempuan membangun kehidupan kolektif dengan penuh keindahan, gairah dan perasaan baru yang bersinar terang. Kegelapan penghisapan, perundungan, represi dan kekerasan disingkirkan di atas Sosialisme yang menang. Budaya kehidupan akan mekar dan berjaya di dunia revolusi yang menang. Revolusi adalah segalanya bagi elemen yang terhisap dam tertindas, termiskinkan dan terhempaskan. Revolusi merupakan pintu menuju dunia yang kita dambakan: hidup dengan akses sepenuhnya terhadap kebutuhan dasar, cinta dan kasih-sayang yang menghidupkan kemanusiaan. Tidak ada aktivitas yang paling mencerahkan dan membangkitkan gairah bagi kaum buruh dan muda selain mempersiapkan kemenangan revolusi. Kita tidak dapat memastikan kapan hari maupun jamnya. Namun setiap menit dan detik—keseluruhan waktu yang memisahkan kita dengan ‘momen yang menentukan’, adalah tugas kita untuk menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Di semesta raya ini, tidak ada satupun hal-hal yang lebih berharga daripada waktu. Waktu lebih-lebih menyangkut persoalan hidup dan mati, menang dan kalah, mundur dan maju. Tragis dan menyayat hati, tapi jangan menyerah!
Untuk setiap tubuh yang terbujur kaku dan menua sebelum waktunya. Pada saatnya nanti, kita akan melemparkannya dalam ledakan besar dan membakarnya menjadi abu. Dan membiarkan angin sepoi-sepoi meniupnya. Membawa debu-debunya ke tempat tumbuhnya bunga-bunga. Meskipun seluruh bunga tumbuh untuk layu, tetapi sepanjang siklus kehidupan ini, akan hidup kembali dan mekar lagi, menjadi lebih indah dan mempesona. Atas kehidupan macam ini, setiap orang yang mengenal dan mengasihi kita tidak perlu ribut dan mengeluh. Tidak ada sebercakpun keegoisan di kebun jiwa kelas ini. Kita dapat pergi dan menghilang di tempat yang tidak dikenal dengan rasa senang. Karena setiap bunga yang tumbuh dan mekar dari dan untuk kelas ini, tidak akan pernah mengkhianati seorang laki-laki, perempuan, dan anak-anak sekalipun.
Itu akan segera terjadi. Ini hanya persoalan waktu. Bukan melalui lidah para profesor, bukan pula lewat bibir imam dan uskup, apalagi perut parlemen dan kementerian yang gendut. Tetapi di lengan dan hati orang-orang yang bekerja keras siang dan malam. Laki-laki dan perempuan ini pasti akan menempah senjata, untuk melancarkan pembelaan diri yang paling tajam. Atas keteguhan kerja-fisik dan keunggulan moral revolusioner, mereka akan bertempur lebih hebat dari tentara profesional manapun. Dari garnisun-garnisun inilah sejarah yang diukir dengan api dan baja, akan mencatat kelahiran pemimpin-pemimpin organik proletar yang akan memainkan peran yang menentukan.
Dalam sebuah catatan kaki untuk “Deklarasi Dewan Editorial Iskra”, Lenin berkata: ‘kita harus bermimpi! Apakah seorang Marxis punya hak untuk bermimpi, apalagi kalau mengetahui bahwa menurut Marx umat manusia selalu menetapkan untuk dirinya sendiri tugas-tugas yang bisa ia selesaikan dan bahwa taktik adalah sebuah proses pertumbuhan tugas-tugas Partai yang tumbuh bersama dengan Partai. Mimpi saya mungkin berlari melampaui alur alami peristiwa. Mimpi saya takkan pernah menyebabkan kerugian; ia bahkan dapat mendukung dan memperbesar energi bagi rakyat pekerja. Tidak ada sesuatupun dalam mimpi ini yang akan mendistorsi dan melumpuhkan kekuatan buruh. Jurang antara mimpi dan realitas tidak akan menyebabkan kerugian hanya bila seseorang yang bermimpi benar-benar percaya pada impiannya, bila dia memperhatikan kehidupan dengan seksama, membandingkan pengamatan-pengamatannya dengan mimpinya, dan bila, secara umum dia bekerja dengan rajin dan teliti untuk meraih impiannya. Bila ada hubungan antara mimpi dan kehidupan maka tidak ada masalah.’ Jika kita tidak bertahan dan melalukan sesuatu yang memadai, maka impian impian kita akan đilahap waktu. Waktu tidak pernah berbelas-kasih; waktu akan melumat semua yang menyepelekan persoalan ini hingga mengubah semuanya menjadi debu. Ingatlah selalu! Mereka yang bermimpi harus bertanggung jawab atas mimpinya. Berbahagialah orang-orang yang berjuang untuk merealisasikan mimpi-mimpinya.
Kita tidak menyangkal bahwa hidup yang kita lalui tidak berjalan biasa-biasa saja. Semua peristiwa yang tidak biasa dalam hidup kita menyangkut perjuangan untuk eksistensi sebagai makhluk sosio-ekonomi. Namun kita harus belajar untuk melihat sejarah bukan dari sudut pandang sepihak yang berdasarkan nasib pribadi kita, melainkan dari sudut pandang hukum material yang mengatur kehidupan ini secara obyektif menuju bentuk keberadaan yang lebih tinggi. Meskipun waktu yang kita miliki tidak begitu memadai, tetapi keinginan untuk belajar seharusnya pernah hilang dari diri kita. Dari aktivitas kita yang terdaulu, kehidupan telah mengajarkan kita bahwa pembangunan kepemimpinan borjuis kecil radikal mernbawa kita pada jalan buntu. Dan pada periode kemunduran relatif ini penurunan aktivitas massa, terekspresikan dengan baik oleh suasana batin barisan depan yang masih bertahan; seperti air muka beberapa di antara kita yang meringis dan mengerut dalam udara yang dingin. Cahaya perjuangan hampir padam. Kebimbangan mengepung. Kesungguhan dan kekokohan tergoyahkan. Kepalan tangan yang menghantam ke langit diturunkan. Tidak ada selongsong slogan, dengan panah verbal yang tajam dan tepat sasaran. Tidak ada panduan yang menghangatkan jiwa. Tidak ada kepemimpinan yang menyelamatkan moral pasukan yang goyah. Kemanakah kepemimpinan yang dibangun selama ini? Sungguh mengetirkan, kesepian dan terasing. Ini adalah momen pengujian. Setiap ujian mengandung rintangan, seperti pernyataan-pernyataan yang asing, hubungan-hubngan manusia yang membingungkan, dan ketidakjelasan serta ketidakpastian yang memisahkan khayalan dari kenyataan. Dalam ujian yang memilukan ini, jika ada hal-hal yang harus dijaga seumar hidup kita; itu adalah kesetiaan terhadap persahabatan yang menghidupkan dan prinsip-prinsip perkembangan yang menolak keputusasaan. Apapun yang terjadi jangan pernah membiarkan diri kalian menyerah dalam labirin keadaan. Periode penurunan dan demoralisasi adalah tahap perkembangan yang harus ditaklukan untuk meneguk air kemenangan di cawan masa depan. Setiap kejatuhan juga mengandung benih-benih kebangkitan, begitupun sebaliknya. Dalam proses ini aspek-aspek aksidental dan non-esensial dari masa lalu akan dibuang dan hakikat sejatinya dipertahankan dan dibawa oleh mereka yang hidup hari ini ke masa depan yang Jauh. Perjuangan hidup, perjuangan untuk maju dan sampai pada kehidupan baru, adalah proses perkembangan yang tidak berjalan lurus, karena terdapat gelombang pasang dan surut yang saling-merasuki. Dan, orang-orang yang akan terus berkembang, adalah mereka yang tidak berhenti dalam memperbaharui dirinya; adalah mereka yang tidak pernah menyerah menghadapi setiap peristiwa.
“Keteralienasian adalah musuh kemanusiaan yang tidak memiliki hati; jiwa dari kehidupan material umat manusia yang sama selkali tidak berjiwa. Di bawah kapitalisme, alienasi mengancam perjuangan buruh untuk sadar dan terorganisir untuk revolusi. Setiap buruh dan pelopornya terkepung oleh alienasi, yang merongrong pikiran, perasaan, dan kehendaknya. Tetapi kita tidak bisa lari dari semua itu. Kita mesti menakłukannya. Kita boleh saja jatuh, namun kita akan bangkit kembali. Kita harus belajar dari setiap kejatuhan dan kebangkitan. Pertempuran ini tidak ditentukan oleh kegagalan-kegagalan dan keberhasilan-keberhasilan kita, melainkan oleh seberapa baik kita menarik pelajaran dalam setiap peristiwa menuju kemenangan; totalitas hubungan timbal balik antara kegagalan dan keberhasilan menuju kemajuan!”
Tetaplah hidup dan jangan pernah lupakan: kita semua masih belajar–pembelajaran yang panjang, melelahkan, dan menuntut kesungguhan. Singa memang kuat dan terkenal sebagai raja hutan yang buas, tetapi serigala jauh lebih kuat dan tidak pernah hidup di tenda sirkus. Lihatlah serigala, betapa hatinya lembut: penuh dengan kepedulian dan kesetiaan, kasih-sayang dan komitmen, kepemimpinan dan kebersamaan yang tak-terperikan! Tetapi dengan mata yang jernih, penciuman yang tajam, cakar serta taring yang runcing nan keras, maka serigala tidak hidup untuk tertawa dan menangis, dalam kesenangan dan kesedihan melainkan: memahami, menaklukan persoalan kehidupan dengan penuh keteguhan sebagai pejuang yang yakin!
Setiap hari kita berubah, tetapi hanya satu yang takkan pernah terubah; yakni, inti-rasional yang menjadi esensi dari perjuangan ini–itu adalah prinsip kemajuan.Semuanya akan hancur, akan musnah, akan binasa, akan berubah, tetapi semuanya menjadi maju, menjadi lebih maju, dan menjadi semakin maju lagi. Dan saat kita melangikah maju, berarti kita membuka jalan untuk yang lainnya. Kita tidak maju dengan pamrih untuk diikuti, tetapi keyakinan bahwa akan ada yang mengikuti dan menjadi lebih maju lagi. Seperti serigala yang berburu untuk mengatasi rasa lapar, dengan tenang dan senbuyi-sembunyi melangkah maju di tengah malam; dalam kegelapan ini kita mesti membuka jalan bagi generasi masa depan. Kita harus bertahan melewati semua rintangan, menghadapi penderitaan hidup dengan penuh kesabaran. Meskipun kita mati di rimba kehidupan ini–itu bukanlah kekalahan; karena di masa depan yang jauh, kita akan menang dengan impian-impian kita yang menembus batas-batas kematian. Inilah satu-satunya keabadian yang bisa kita harapkan ntuk menyelamatkan kemanusiaan kita dari lembah keputusasaan.
Siapapun yang tidak berjuang untuk membersihkan dirinya dari kemerosotan, kekotoran, dan kehinaan masyarakat hari ini, maka dia tidak cocok mtuk sebuah dunia yang baru. Pengalaman masa lalu telah menunjukkan bahwa setiap pemberontakan bersakala raksasa, setiap revolusi sepanjang sejarah tidak dipimpin oleh orang-orang miskin dan lapar yang meledakkan bom di kepala sang penguasa tapi oleh orang-orang yang sadar dan terorganisir di bawah teori yang tepat. Trotsky pernah berkata: ‘siapa yang memandang teori sebagai panduan aksi, dia akan lebih teliti, cermat, dan seimbang. Orang yang skeptis mugkin akan mencemooh ilmu kedokteran, namum ahli bedah tidak dapat hidup dalam suasana ketidakpastian ilmiah. Semakin besar kebutuhan kaum revolusioner akan teori sebagai pedoman aksi, semakin keras pula ia menjaga teori tersebut. Apa yang Lenin hargai di atas segalanya dalam Marxisme adalah disiplin ketat dan otoritas metodenya. Hidup bukanlah hal yang mudah Anda tidak dapat menjalaninya tanpa jatuh ke dalam keputusasaan dan sinisme kecuali Anda memiliki ide hebat di hadapan Anda yang mengangkat Anda dari ke sengsaraan pribadi, dari kelemahan, dari segala jenis pengkhianatan dan kehinaan.’ Apa yang diperoleh secara mudah, dapat diperlakukan dengan sangat remeh; seperti emas dan permata hasil pertaruhan di meja judi, yang berbeda nilainya dan maknanya dengan kenikmatan dari curahan keringat dan darah. Kerja ‘keras’ memberi kehidupan manusia nilai yang ‘berlimpah’. Dan perjuangan yang gigih, sabar, dan yakin memberi kehidupan kita makna yang luas dan mendalam. Hanya kesulitan yang membuat eksistensi kita kaya dan berharga—dengan mengatasinya, memberikan hidup kita sepenuhnya untuk menaklukannya.
“Pengetahuan dan pengalaman dapat diperoleh, asalkan kita mengabdikan hidup kita untuk itu. Sampai kapanpun, pengabdian macam ini takkan pernah bisa didamaikan dengan skeptisisme yang berbentuk apapun. Dalam periode kemurtadan umum, hanya pengabdian inilah yang dapat menyelamatkan seseorang dari kemunduran dan pengkhianatan. Ini adalah pengabdian untuk menjaga pandangan tetap tertuju pada prinsip- prinsip tertinggi dan generali sasi sejarah terluas, yang dilakukan dengan sepenuh hati berdasarkan keyakinan teoretik yang benar. Semakin keras perjuangan kita, semakin mulia kemenangan kita.”
Dalam perjuangan politik, seseorang akan sangat mustahil untuk terus hidup tanpa memetik pelajaran dari masa lalu dan memeluk keyakinan akan masa depan. Dan untuk memperoleh keyakinan rasional, yang menjadi antipode dari keyakinan naif, kita membutuhkan pengetahuan yang benar. Ini berasal dari pengalaman kolektif, yang telah đibersihkan dari segala unsur unsur non-esensial dan aksidennya yang kasar. Bila kepemimpinan ideologi-politik-organisasi yang pernah ‘kita’ bangun dahulu, hari ini tidak mampu menyelamatkan kalian dari ancaman demoralisasi; kawan-kawanku, kuulurkan tangan kepada kalian untuk membangun Kepemimpinan Bolshevisme. Jika benteng-benterng moral kiła benar-benar hancur maka hydra bekepala seribu akan melahap bukan hanya diri kita lapi juga seluruh harapan kita. Kepemimpinan dibangun dari atas dan kepercayaan dibangun dari bawah. Namun tidak cukup hanya kesadaran, lebih jauh: kita membutuhkan kehendak. Kesadaran dan kehendak yang terorganisir. Itulah yang kita butuhkan untuk menggerakan roda gigi dan rantai besi demi memenangkan pertempuran hidup ini. Dan potret aktivitas ini tidak dapat digambarkan sebagai sebuah ketertinggalan di belakang massa atau ketertumdukan pada praktik ekonomis yang ada. Orang-orang yang sedang membangun kepemimpinan tidak dapat memaksa keadaan yang diwarisi dari masa lalu ini. Kerap kali sebuah refleksi dan imajinasi yang kasar dibuktikan keliru oleh kebiasaan tangan dan kaki yang bergerak setiap hari. Sebuah organisasi politik bagi kaum buruh bukan sekadar kesadaran yang terorganisasi tapi juga kehendak yang terorganisasi. Sebuah kesadaran tanpa kehendak untuk bertempur tidak akan memenangkan apa-apa.
Bolshevisme bukan hanya sebagai aliran pemikiran yang lahir dalam perjuangan kelas, tetapi juga kebebasan-sadar, kehendak-sadar, inisiatif-sadar, yang paling ekspresif, yang lebih tajam daripada pedang untuk menembus dasar-dasar jiwa yang gelap dan memberi makan jiwa-jiwa yang lapar. Bolshevisme adalah seni pembangunan kepemimpinan revolusioner. Kemanusiaan garda depan yang mengantisipasi perkembangan masyarakat tanpa kelas: cinta dan kasih-sayang yang tulus, pengorbanan yang tiada terkira, penderitaan yang begitu rupa, kesetiaan, keberanian, kebencian, dendam dan amarah yang mendalam, yang terpatri dalam perjuangan sadar dan tersentral untuk menghancurkan keseluruhan tatanan sosio-historis yang eksploitatif dan opresif. Sebuah karya artistik yang organis dan historis, yang mengisi kekosongan jiwa manusia dengan keindahan dan kehalusan yang paling luhur. Inilah pancaran sinar matahari di kedalaman sanubari massa, yang menerangi jalan menuju masa depan yang jauh. Inilah satu-satunya senjata teoritis—politis dan ideologis—untuk memerangi kekuatan gelap yang ada di alam, masyarakat, dan dalam diri manusia sendiri.
“Tidak ada sesuatupun di muka bumi yang dapat merenggut harapan kelas buruh dan kaum muda. Penderitaan hidup yang mengoyak hari-hari ini dapat kita atasi. Kita akan menaklukan rintangan apapun yang ada, termasuk yang membuat sebagian angkatan kita berputus-asa dan menyerah–terdemoralisasi. Kita terlahir dalam haru-birunya situasi dengan kaki yang menghujam ke tanah dan lengan yang terhunus ke langit, perasaan yang berdarah dan pikiran yang memberontak.”
“Kita berjanji: cakar dan taring kita yang sedang tumbuh akan merobek dan menghancurkan segala yang pantas untuk binasa! Datang dan bertambahlah penderitaan hidup, hingga benteng-benteng kami terkepung. Dan tiba di benteng terakhir, musuh-musuh kelas kita akan menyaksikan perjuangan penghabisan yang paling dahsyat. Ketika para tuan melihat semua kita tersudut, ini tidak berarti semuanya berakhir. Kita adalah kelas yang sedang bangkit. Akan tiba waktunya di mana kelas proletar mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menang atau mati secara bermartabat.”
“Kita hidup, dan sepenuhnya siap mengorbankannya, untuk kehidupan umat manusia yang lebih baik. Kita adalah angkatan politik yang dibesarkan di tengah angkara. Kita bertanggung-jawab untuk melenyapkannya. Kaum muda proletariat, bersama semua garda-tempur terhisap dan tertindas di dunia, akan membersihkan bumi manusia ini dari segala kekotoran sosial yang keji dan hina. Naluri revolusioner yang bersemayam di alam bawah-sadar dan menghiasi dasar jiwa kelas proletar takkan padam, dan cepat atau lambat, akan mendorong lapisan terluas dari kelas revolusioner ini pada kesimpulan yang benar.”
Ketahuilah, kawan-kawanku. Tidak ada satupun alasan untuk menyerah. Kita dibesarkan dalam keterhisapan dan kemiskinan. Tumbuh di tengah penderitaan dan kehancuran. Berhadapan dengan pengkhianatan dan kemunafikan. Terkucilkan. Terhempaskan, Terhinakan. Tetapi kita mesti bertahan. Kita harus terus berjalan, membangun kekuatan dan menaklukan masa-masa tergelap ini. Di setiap medan yang ada, kita mestilah melangkah dengan keyakinan penuh untuk mengatasi segala rintangan masa lalu demi terhubung dan mempersenjatai angkata baru. Di antara dedaun kering yang berserakan, kita pasti menemukan tunas-tunas masa depan. Setelah musim gugur keputusasaan akan tiba musim semi pengharapan; di mana bunga bunga terbaik bermekaran dan menggantikan peran semua elemen yang sudah mengusang. Inilah salah satu mata-rantai keindahan yang layak diperjuangkan dalam siklus perkembangan: dialektika kehidupan dan kematian. Cepat atau lambat, yang indah-indah akan memasuki pertempuran dan ditemukan memimpin penghancuran tatanan sosial yang sedang sekarat. Kita selalu mendambakan hal-hal manusiawi, seperti keluarga, persahabatan, dan cinta dalam bentuknya yang lebih tinggi, yang berkilauan seperti bintang fajar, membakar seperti api, dan menyinari kehidupan umat manusia seperti matahari. Kita ingin keberadaan’ kita ‘menjadi’ berarti. Kita harus berjuang untuk itu bukan dengan mengejar bagian-bagiannya tapi membangun keseluruhannya. Kitalah yang akan memberi hidup kita makna, dengan tindakan-tindakan bersama yang membentuk peristiwa—dan merangkai pelita kata-kata—untuk menerangi kontur-kontur sejarah.
Kita berkenalan dalam periode sejarah yang penuh ledakan, dengan setiap kita yang baru saja tumbuh dewasa dan berusaha mencari senjata-senjata untuk mengambil peran dalam pertempuran. Itulah pertama kali kita bertemu dalam peristiwa yang berkilauan, yang mendorong kita ke dalam mozaik perjuangan dan rajutan perkawanan. Yang pertama merupakan persoalan politik, selanjutnya adalah urusan personal. Dalam gerak dan perubahan, keduanya menjadi bagian integral yang mengajari kita arti kehidupan. Hubungannya dialektis—seperti umum dan khusus, universal dan individu, keharusan dan kebetulan, keseluruhan dan bagian; di mana persahabatan kita tumbuh di medan politik dan pertanyaan personan ini dapat memberi pengaruh yang konstruktif terhadap politik asalkan kita membawa persahabatan ini ke tingkatan yang cemerlang. Politik dan personal tidak dapat disatukan atau dipisahkan secara kaku. Kita adalah manusia yang konkret dengan berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi dalam berhubungan dengan sesama kita. Ini tidak-berarti egosentrisme; menjadikan alam dan masyarakat manusia sebagai alat—individu manusia bukanlah pusat dari dunia; ini hanya berarti kita tidak bisa hidup sendiri, untuk diri sendiri, apalagi berjuang sendiri. Dalam perjuangan politik kita perlu memajukan persahabatan personal supaya menjadi harmonis dengannya. Tetapi jika pertanyaan kedua itu menjadi pengacau atau penghambat bagi yang pertama; itu menuntut kita untuk pecah, bahkan sepenuh-penuhnya. Ini seperti dalam berhubungan romansa: kekasih kita seharusnya mendukung perjuangan kita, bila tidak, setidaknya tidaklah menghambatnya; dan apabila kedua-duanya atau salah satu kriteria ini tidak terpenuhi maka kekasih kita takkan mungkin bertahan dengan kita—dia akan menderita dan menginveksi moral kita.
Kawan, kehidupan yang indah ini akan menjadi buruk dan tak-terperi apabila dibiarkan berlalu begitu saja. Hidup di masa muda adalah surga yang nyata. Jadi, jangan menyerah dan menyia-nyiakan kehidupan yang sekali ini. Atas nama impian-impian kita, bangun dan berjuanglah kembali—lagi dan lagi! Aku mengingat semuanya: tentang malam yang ditantang; tentang pagi yang dinantikan. Kita mencari api dari tumpukan derita. Kita bertukar cerita dan asa. Kita mengutarakan mimpi, janji, dan ambisi. Kita menatap ke timur harapan dan memanggil fajar masa depan. Cepat atau lambat, sinar merah akan menyapu kehidupan. Aku sangat terpukau oleh terangnya mimpi-mimpi kita di tengah malam yang suntuk dan pekat. Kita semua ingin maju dan kuat. Kita telah berjanji. Janji ini harus ditepati!
“Angin bersiul, badai mengamuk, sepatu kita rusak, tapi kita harus terus berjalan, menaklukan mata air merah, tempat terbitnya matahari masa depan…. Maju kamerad! Maju! Bawa suara kalian ke suara kami. Maju kamerad! Maju! Dan matahari akan bersinar untuk kita semua. Untuk fajar baru ini. Bergabunglah dengan kami. Dan bersama-sama kita akan membawa. Ke setiap sudut dan setiap rumah. Bendera merah rubi kita.” (Bandiera Rossa)
Agar ikatan kita menyala dari waktu-ke-waktu dengan begitu hangatnya sehingga memberi kita imbalan yang berkali-kali lipat atas gesekan kecil dalam kemalangan sehari-hari, maka perjuangan kita harus berlanjut, pada tingkat kesadaran dan pengorganisian diri yang lebih tinggi. Dengan berusaha keras dalam mengatasi rasa lapar dan lelah, kita akan menaklukan ruang bawah tanah yang gelap dan tiang gantungan yang suram, untuk meneguk mata air kebudayaan yang jernih. Naluri kelas buruh, kelas kita hari ini, yang diperkaya oleh pengalaman terdahulu, memungkinkan kita hampir pada setiap kasus untuk menemukan jalan politik yang benar secara mandiri. Supaya dapat melalui ratusan saluran, pikiran dan perasaan; untuk menghangatkan jiwa dengan keterikatan yang lembut dan saling pengertian–kehidupan kita hanya layak dihargai sejauh itu melayani kelas revolusioner yang berhari depan.
Di medan-medan yang menguras energi dan penuh jebakan, dalam terpaan hujan petir dan angin topan, terdapat kemauan keras yang menyala dengan panas yang tak pernah padam–kilatan keyakinan teoretik yang mengalir dalam kerja-kerja persiapan yang optimis dan dilakukan secara metodis. Di masa-masa tergelap dalam sejarah ini, tendensi politik dan organisasional dari apa-yang-sedang-kami-bangun akan menjadi cahaya sejati–untuk menerangi bilik-bilik dunia yang keji, hina, dan penuh dusta; untuk dukungan dan harapan semua laki-laki dan perempuan yang terhisap, tertindas, tertipu, dan teraniaya–bangun Bolshevisme sekarang juga!
