Kategori
Seruan

Lawan Kekerasan dan Pelecehan Seksual dan Gender! Bangun Gerakan Revolusioner untuk Pembebasan Perempuan dan Proletar!

“Kekuatan kita tumbuh dari kesulitan kita. Kekuatan fakta akan mendorong kita untuk mencari langkah-langkah baru untuk membebaskan massa perempuan…. Kekuatan terbesar dari massa harus dibangunkan dan diterapkan untuk mencapainya. Dan kekuatan jutaan perempuan harus ikut membantu.” (Clara Zetkin)

Data WHO (2024) menunjukkan kalau lebih dari 900 juta perempuan di seluruh dunia telah menjadi korban seksisme maupun femisida. Setiap tiga menit terdapat 4 kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dan per 6 jam seorang perempuan menjadi sasaran pemukulan, pembakaran, dan pembunuhan. Sepanjang 2020-2021, Prancis dan Spanyol masing-masing mengalami peningkatan kekerasan dalam rumah tangga sebesar 30 persen dan 18 persen. Dan tahun 2020 saja, di Meksiko 10 perempuan setiap harinya menjadi korban pembunuhan dan di Inggris selama Maret-Oktober ditemukan 81 kasus feminisida. Sementara di Indonesia, Catahu Komnas Perempuan (2024) menemukan 445.502 peristiwa penindasan gender dan seksual.

Data ini menunjukkan bahwa posisi perempuan dalam masyarakat kapitalis tidaklah sekadar rentan di ranah publik tapi juga privat. Perempuan menjadi sasaran kebrutalan, pelecehan dan pemerkosaan bukan saja di tempat-tempat kerja dan studi, melainkan pula di lingkungan keluarga dan rumah tangga. Pelakunya beragam: mulai dari rekan-kerja, dosen dan guru, tetangga dan kerabat, hingga orangtua dan pasangannya sendiri. Tidak ada jaminan keamanan, perlindungan dan kedamaian bagi kaum perempuan di bawah sistem sosio-ekonomi anjing-makan-anjing. Perempuan proletar dan muda mengalami subordinasi, inferioritas, dan diperlakukan sebagai spesies sub-human. Diskriminasi, pelecehan, kekerasan, pembunuhan menghantui hari-hari perempuan. 

Intensifikasi pembagian kerja dan pertahanan kepemilikan properti tidak pernah mengenal karakteristik gender dan seksual. Kapitalisme mendekati laki-laki dan perempuan sebagai obyek yang diperas keringat dan darahnya sampai tetes terakhir. Sistem ini hanya mempertimbangkan keahlian, kompetensi, daya tahan, dan segala yang berguna untuk melancarkan produksi dan reproduksi kerja-upahannya. Dan perempuan distratifikasi ke posisi sosial nomor dua: mereka dianggap tidak seproduktif laki-laki, karena mempunyai fakta-fakta alamiah–menstruasi, kehamilan, melahirkan dan menyusui. Dalam masyarakat kapitalistik, pandangan kelompok dominan terhadap perempuan begitu patriarkal dan seksis. Perempuan tidak dilihat sebagai manusia yang setara dengan laki-laki, melainkan sebagai mesin penghasil anak dengan vagina dan payudara yang berjalan yang diperlalukan sebagai pemuas birahi pria semata. Perempuan hidup di kelilingi bahaya bukan sekadar di jalan raya, lokasi kerja, sekolah dan organisasi, melainkan pula di rumah-rumah, kos dan kontrakannya segala. Dalam rumah tangga-rumah tangga kelas pekerja dan semi-pekerja, perempuan diperlakukan sebagai budak-rumahan dari laki-laki budak-upahan.

Dalam sektor mahasiswa, penindasan terhadap perempuan berlangsung menggila. Penindasan ini menjalar di sekitar begitu keji dan hina. Pelakunya bahkan bisa datang dari tenaga pengajar hingga aktivis organisasi segala. Perempuan di setiap kampus menempati posisi yang paling rawan mendapatkan perlakuan diskriminasi, rasialisme dan brutalisme secara gender dan seksual. Pada sebuah survei yang dilakukan Kemendikbudristek (2020): 77 persen dosen menyatakan pelecehan dan kekerasan seksual rawan berlangsung dalam institusi pendidikan, tapi sama sekali tidak mendapat penanganan. Sementara berdasarkan penyebaran testimoni yang dilakukan Tirto, Jakarta Post, dan VICE Indonesia, terkumpul pula 207 testimoni yang datang dari 27 penyintas dari 79 perguruan tinggi se-Indonesia dan ditemukanlah 129 mengaku dilecehkan, 30 diintimidasi secara seksual, dan 13 di antaranya diperkosa. 

Di kampus-kampus di Mataram, terdapat gerombolan birokrat cabul yang mengasah kontolnya dengan memanfaatkan kelemahan sosio-ekonomi mahasiswanya. Di tubuh birokrasi-birokrasi universitas yang ada, pelaku-pelaku seksis bersemayam dan mendapat perlindungan yang begitu rupa. Kasus pencabulan di UIN Mataram merupakan salah satunya: sekitar 25 mahasiswi menjadi korban pencabulan, namun Dosen Bahasa Arab sekaligus Pimpinan Mahat yang menjadi pelakunya hampir tidak tersentuh hukuman. Rektorat dan Dekanat membelanya. Satgas, yang meskipun dibentuk untuk menangani kasus pelecehan dan kekerasan seksual, tetapi selama berada di bawah kontrol dan pengawasan birokrasi, maka takkan pernah berdaya untuk mengatasi persoalan sisa-sisa patriarki dan seksisme. Bukan Satgas Anti Kekerasan dan Pelecehan Seksual yang dibutuhkan, tetapi Komite Aksi Mahasiswa yang independen dari intervensi birokrasi dan dibangun dari tingkat fakultas sampai universitas, dari satu kampus ke kampus lainnya, untuk melawan penindasan perempuan, pembungkaman kebebasan akademik, pendidikan mahal dan tidak ilmiah, dan sebagainya. Institusi pendidikan dan kebudayaan borjuis adalah saluran besar untuk menyebarkan ideologi kaum penghisap dan penindas. Perjuangan revolusioner massa tidak boleh melikuidasi dirinya pada program dan kebijakan-kebijakan birokrasi. Dalam melawan seksisme dan kapitalisme di sektor mahasiswa, angkatan muda harus mengorganisir dirinya–bersatu secara politik dan organisasional di bawah kepemimpinan yang memadai, untuk menghubungkan dirinya secara sadar dan terorganisir dengan gerakan buruh.

Dalam masyarakat kapitalis, eksplotasi dan kekerasan atas tubuh perempuan tidak saja ditujukan untuk memupuk laba tapi juga mempertahankan status-quo. Di spanduk, poster, majalah, dan iklan-iklan apa saja–kecantikan paras perempuan diluncurkan sebagai pemikat pembeli pelbagai produk, hingga alat mendulang suara politisi dan partai borjuis. Keadaan ini telah berlangsung lama hingga tubuh mereka direifikasi jadi komoditi. Selama krisis kapitalisme, eksploitasi dan penindasan terhadap perempuan semakin tak terperikan. Dalam memupuk nilai-lebih, perempuan-perempuan proletar dipaksa melaksanakan pekerjaan mengerikan. Intensifikasi penggunaan mesin dan pembukaan kawasan-kawasan industri baru telah melecut jam kerja, mengurangi keselamatan kerja, dan mempersengit pemotongan upah pekerja perempuan. Semuanya mengarah pada perdalaman krisis over-produksi, yang menciptakan spiral ke bawah di mana rumah tangga-rumah tangga kelas perkerja dirong-rong dengan seabrek persoalan. Menghadapi serangan standar hidup yang tajam maka bukan saja pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang terbatas, tetapi juga menggoncang sendi-sendi keluarga mahasiswa dan pekerja dengan beragam tekanan: iuran air, listrik, kontrakan, hutang, cicilan kredit, ongkos kesehatan dan pendidikan anak, dan lain-lain. Begitulah keluarga-keluarga kaum terhisap dan tertindas menuai keretakan, bahkan sampai terjangkit pelecehan, kekerasan dan pembunuhan yang menyeramkan.

Setiap ledakan kasus penindasan terhadap perempuan berakar dari kontradiksi kapitalisme. Sistem produksi dan reproduksi yang berorientasi pada profit ini menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai pekerja yang diupah paling murah, tetapi terutama sebagai budak domestik yang dipasang untuk melayani suaminya dan melahirkan serta merawat calon-calon pekerja masa depan yang bisa diupah murah. Dalam masyarakat kapitalis–menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui tak diperlakukan sebagai fakta-fakta alamiah yang melekat pada perempuan. Melainkan hal-hal yang menghinakan, melemahkan dan menguntungkan. Begitulah seksisme mempolitisasi tubuh perempuan mulai dari lingkungan keluarga sampai tempat-tempat umum. Di rumah perempuan dibebani tugas berat yang menguntungkan kapitalisme: merawat anak (calon pekerja) dan suaminya (pekerja). Tenggelam dalam aktivitas domestik inilah mereka kemudian bukan sekadar dianggap melakukan kegiatan non-produktif, tapi juga bertugas utama sebagai kekuatan prokreasi—menghasilkan anak dan melayani laki-laki. Namun ketika kebutuhan tenaga kerja kapitalisme menyeret mereka keluar dari aktivitas domestik—untuk diperkerjakan di industri-industri yang tidak membutuhkan keterampilan—stereotip terhadap perempuan tetap dipertahankan. Kaum perempuan ditempatkan sebagai pekerja-pekerja paruh-waktu, industi-industri ringan, dan berupah kerja selalu rendah dibanding laki-laki. Bahkan untuk melanggengkan stereotip itulah mengapa kapitalisme lebih banyak menyeret masuk perempuan dalam industri media, iklan, club malam dan film porno.

Penyebaran pandangan dan perbuatan seksis yang mengomodifikasi seksualitas, tubuh dan menyubordinasi perempuan tidak saja berlangsung dalam saluran hiburan, tapi juga pendidikan, budaya dan agama. Bertahannya sisa-sisa patriarki dan menjalarnya seksisme dalam kehidupan kita bukan sekadar menindas perempuan dan minoritas seksual lainnya, melainkan pula menghalangi solidaritas dan memecahkan persatuan antara sesama kaum terhisap dan tertindas di mana-mana. Berlangsungnya situasi ini sekarang harusnya tak sekadar membuat kita berwaspada, tapi terutama mencari cara melawannya. Kita menjadi saksi atas zaman kapitalis yang sangat tidak manusiawi ini. Sebuah tatanan kelas yang sangat culas, rakus dan brutalis. Di mana eksploitasi dan kekerasan menyalak begitu beringas. Kekejian-demi-kekejian meletup, menjalar, dan berbanding lurus dengan akumulasi modal di kantong kaum borjuis. Di tangan kelas minoritas inilah massa perempuan dan laki-laki dikurung dalam situasi ekaploitasi dan opresi. Kepemilikan pribadi mereka terhadap alat produksi tidak saja mendorong pembagian kerja fisik dan mental dengan perolehan surplus tak berimbang dan pertahanan keras terhadap hubungan-hubungan kepemilikan pribadi. Tetapi juga mempertajam pembagian kelas-kelas sosial masyarakat dalam posisi saling bertentangan, penuh persaingan dan penundukan yang menghancurkan. Semuanya berlangsung bukan berdasarkan sifat dasar manusia, melainkan perampasan sumberdaya-sumberdaya kolektif untuk dikuasai segelintir orang. Begitulah kerakusan dirawat dan keuntungan dipupuk melalui sistem perbudakan, perhambaan, hingga perampokan kerja-upahan yang berlangsung sampai sekarang.

Walau perempuan dalam masyarakat berkelas menempati posisi sub-human, tapi mereka merupakan komponen penting bagi gerakan-gerakan pembebasan. Hanya kekuatan modal berusaha merecoki persatuan perempuan dan seluruh lapisan sosial yang terhisap dan tertindas dengan cara beragam dan mengerikan. Seksisme adalah salah satu senjata ampuh yang digunakan kelas borjuis untuk melemahkan musuhnya. Kaum kapitalis berupaya keras dalam memecahkan persatuan dari gender perempuan dan laki-laki bersama minoritas seksual lainnya. Namun di tengah krisis kapitalisme dengan kepungan penindasan yang semakin menajam, maka kesadaran massa perempuan meloncat dan mulai menarik kesimpulan untuk berjuang mengakhiri penindasannya. Kaum perempuan sekarang telah banyak yang sampai pada kesimpulan: upaya membebaskan perempuan seharusnya tidak menjadi kebutuhan sampingan, tetapi ditempatkan simultan dengan perjuangan kelas untuk pembebasan kaum proletar.

Adalah Sosialisme Ilmiah yang menjelaskan itu semua; mulai dari akar penindasan perempuan, kekerasan seksual, hingga bagaimana meluncurkan perjuangan sejati untuk pembebasan perempuan. Marxisme revolusioner memandang kalau perempuan tidak sekedar merupakan bagian terbesar dalam kelas buruh, tapi terutama dapat menjadi sekutu potensial untuk menghancurkan kapitalisme. Pada seabrek peristiwa revolusi proletariat di Abad ke-20, perempuan-perempuan proletar telah menunjukkan kebulatan tekad, kemampuan dan militansinya untuk memperjuangkan kehidupan baru. Dalam Revolusi Rusia, Revolusi Jerman, Revolusi Hungaria, Revolusi Chile, Revolusi Iran, hingga Revolusi Polandia–perempuan-perempuan proletar melangsungkan perjuangan dengan memagut keyakinan seperti yang dinyatakan Clara Zetkin dengan penuh optimisme: ‘di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kami memiliki kemauan untuk revolusi dunia, oleh karena itu kami harus menemukan cara untuk menjangkau massa perempuan yang dieksploitasi dan diperbudak, apakah kondisi historis membuatnya mudah ataupun sulit.’

Penindasan gender dan seksual mengakar dan menjalar dalam masyarakat kelas. Pandangan ini tidak sekedar mengomodifikasi, menistakan, dan melemahkan perempuan; tapi terutama merecoki kelangsungan perlawanan terhadap kelas penguasa. Kapitalisme menyatukan rakyat-pekerja di tempat kerja untuk membangun kontak dan berhubungan secara nasional dan internasional dengan berpusatkan di perkotaan. Tetapi sekaligus menjalarkan seksisme (juga beragam bentuk rasisme) untuk mengalihkan antagonisme kelas proletar dengan kelas borjuis menjadi permusuhan antara sesama kaum tertindas, terhisap dan miskin. Keadaan inilah yang melemahkan gerakan perlawanan bukan sebatas pada perpecahan, melainkan pula atomisasi, isolasi dan demoralisasi yang tergencarkan. Tahu bahwa solidaritas dan persatuan rakyat-pekerja itu berbahaya bagi imperium modal maka kapitalisme menebarkan pandangan-pandangan seksis dan rasial sebagai pemecah-belah perlawanan kolektif. Sementara pengalaman dan sejarah gerakan proletariat telah mencatat kalau perjuangan melawan kapitalisme tidak bisa dilakukan secara individual namun kolektif—dari protes demonstrasi kecil-kecilan sampai pemogokan dan pemberontakan besar-besaran saat melawan perusahaan raksasa maupun negara; buruh melakukannya secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri.

Kaum feminis borjuis dan borjuis-kecil menyangkal ledakan persoalan gender dan seksual sebagai dampak dari perkembangan kapitalisme, tapi justru menitikberatkan masalah penindasan tersebut menjadi urusan dominasi laki-laki terhadap perempuan yang harus diselesaikan melalui bilik-bilik politik, hukum, agama, budaya, dan moralitas individu semata. Selama masa-masa krisis kapitalisme, serangan-serangan terhadap standar hidup menggempur keluarga dan rumah tangga dengan segudang masalah kronis. Tekanan-tekanan yang mereka hadapi tidak saja mengambil bentuk keterbatasan mengisi dapur-dapurnya, tetapi juga ketidakmampuan beroleh perumahan, mengakses pendidikan dan kesehatan, dan pemenuhan belanja anak-anaknya. Walaupun para feminis menyinggung mengenai keadaan pikiran, mental, tubuh, keuangan, dan status sosial sebagai faktor-faktor pemicu penindasan perempuan, tetapi tidak pernah sampai pada kesimpulan kalau sumber konflik berasal dari masyarakat berkelas, intensifikasi pembagian kerja fisik dan mental, dan terutama kepemilikan pribadi terhadap sumber-sumber kekayaan material masyarakat, yang kesemuanya perlu diatasi dengan perjuangan untuk revolusi proletar.

Dalam Revolusi Oktober 1917, kelas proletar memberi tauladan: bersekutu dengan semua kaum tertindas, terhisap dan miskin untuk merebut kekuasaan hingga membangun kediktatoran proletariat dalam rangka melaksanakan demokrasi sosialis guna menekan kelas borjuis, melucuti kepemilikan pribadi, mengontrol ekonomi, meningkatkan produksi, berupaya melenyapkan negara, dan menuju masyarakat tanpa kelas. Dalam perjuangan perempuan untuk pembebasan dari penindasan gender dan seksual, kaum revolusioner Bolshevik tidak saja melacaknya dari asal-usul historisnya, tapi juga akar ekonomi-politiknya serta pengaruh-pengaruhnya pada perjuangan kelas buruh. Melihat penindasan perempuan sebagai penindasan pertama dalam sejarah hingga patriarkisme dan seksisme yang menjadi senjata borjuasi dalam melemahkan kekuatan proletariat, maka kaum Sosialis revolusioner berkepentingan memperjuangkan pembebasan perempuan dengan menyubordinasinya di bawah perjuangan revolusioner untuk pembebasan buruh: ‘tidak ada pembebasan kelas buruh tanpa pembebasan perempuan’.

Kaum Sosialis revolusioner bukan hanya melihat perempuan sebagai mayoritas dari kelas buruh. Tetapi juga meyakini kalau revolusi sosialis dapat mengintrodusir pembebasan perempuan. Mula-mula dengan penyetaraan legal: mengatur alat kontrasepsi dan aborsi sebagai hak perempuan secara gratis, menetapkan kesamaan kesempatan bekerja dan gaji yang setara perempuan dan laki-laki, menghapuskan sisa-sisa aturan yang mendiskriminasi gender dan seksual, hingga melarang segala bentuk penindasan terhadap perempuan. Lalu dilanjutkan dengan pelenyapan sisa-sisa keluarga-inti melalui: penggantian peran mengurus anak (reproduksi angkatan kerja) dan rumah tangga yang semula dibebankan kepada perempuan menjadi tanggungan negara sosialis dengan menyediakan tempat penitipan anak dan laundry gratis, pembersihan rumah dan restoran berbasis komunitas, sampai kesehatan dan pendidikan gratis. Semua ini hanya dapat diwujudkan dengan menempuh perjuangan untuk transformasi sosialis–revolusi dan kediktatoran proletar yang akan menghancurkan segala kekeramatan hubungan-hubungan borjuis dan membangun masyarakat tanpa kelas di atas basis material yang ada.

“Tanpa kaum perempuan kita tidak akan mencapai kemenangan. Betapa beraninya mereka, betapa tetap beraninya mereka! Renungkan semua penderitaan dan kehilangan yang mereka tanggung. Dan mereka masih terus berjuang karena mereka menginginkan kebebasan. Ya, kaum perempuan proletar kita adalah pejuang kelas yang hebat. Mereka layak dikagumi dan dicintai.” (Pernyataan Lenin dalam Diskusi bersama Clara Zetkin)

Lawan Kekerasan dan Pelecehan Seksual dan Gender!

Lawan Birokrasi Pendidikan Borjuis!

Bangun Komite Aksi Mahasiswa, untuk Melawan Penindasan Perempuan, Pembungkaman Kebebasan Akademik, Pendidikan Mahal dan Tidak Ilmiah–untuk Menggulingkan Kapitalisme secara Revolusioner!

Bangun Gerakan Revolusioner Berbasiskan Sosialisme Ilmiah!

Bangun Kepemimpinan Revolusioner: Bolshevisme!

Sumber: selebaran agitasi dan propaganda Front Muda Revolusioner (FMR) Mataram.

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai