Kategori
Perjuangan

Untuk Sebuah Percikan yang Akan Membakar Indonesia Gelap

“Antusiasme orang muda dengan visi masa depan dan vitalitas yang murah hati, tidak cocok dengan aktivitas di bilik-bilik dunia yang palsu, disesaki dusta dan tipu-daya. Sebuah terompet kecil yang sangat berisik dari masa lalu yang dipenuhi gairah paling kurang-ajar harus dijaga. Jangan pernah menggantungnya di tiang-tiang pengakuan dosa. Jangan juga coba-coba menyimpannya di pelana tempat perut-perut gemuk dan pantat-pantat berlemak duduk malas. Jiwa kita tidak mungkin dijual kepada iblis. Inspirasi terdalam takkan dapat digantikan oleh hal-hal teknis. Selapar apapun perut kita di zaman yang dingin dan beku yang berwajah batu ini, lembaran untung-rugi takkan bisa menjadi makanan untuk batin kita. Terompet yang kebisikannya berasal dari pertumpahan darah, keringat dan air mata, pada waktunya akan ditiup oleh mulut-mulut yang terorganisir dan berdisiplin sadar, sebagai senjata yang menyalak yang mampu melubangi emas dan permata.”

“Ketika terompet itu hilang dari sanubari kita, bukan hanya fajar harapan di atas kepala kita yang akan tenggelam tapi juga mata air merah yang mengalir dari tindakan dan catatan kehidupan kita akan mengering. Sudah terlalu banyak baris-baris putus-asa yang menjadi batu nisan dari orang-orang yang terperangkap dalam saringan: merpati merah-muda dan gagak hitam-tua yang dianugerahi sayap, tetapi terbang dalam ember kekecewaan dan penyesalan. Namun, kilau dan ketajaman pandangan elang-elang muda yang berkeras kepala tidak mungkin dikalahkan oleh rasa lelah, rintih sakit, deru tangis, dan sangkar laudanun. Dalam pertarungan untuk masa depan, di awan-awan gelap yang tinggi dan tebing-tebing abu-abu yang curam, kaki-kaki yang menghujam kokoh ke tanah dan sayap-sayap yang mengepak keras ke langit, dengan cakar dan taring yang kuat, akan menjadi senjata pahat yang mengukir kemenangan.”

“Kaum muda adalah percikan yang akan mengobarkan api revolusi proletar. Tidak ada kegelapan zaman yang dapat merintangi jalannya guntur. Dengan antusiasme yang membara di hati dan jiwa kita, bangun Bolshevisme sekarang juga!”

– Kaum Bolshevik

Krisis organik kapitalisme adalah hakikat zaman kita. Ini adalah krisis historis yang mendalam yang didasarkan pada kelebihan produksi yang melekat dalam keseluruhan sistem masyarakat dunia. Produksi berlebih muncul dari kontradiksi inheren dalam produksi dan pertukaran kapitalisme, yang menciptakan dan menyebarkan barang-barang bukan untuk memenuhi kebutuhan massa manusia tapi memupuk keuntungan segelintir individu pemilik properti. Berlandaskan relasi-relasi kepemilikan pribadi, dorongan tak-terbatas untuk memperluas produksi komoditas berbenturan dengan tembok besar pertukaran komoditas yang terbatas. Banyak orang yang bekerja keras sepanjang waktu—laki-laki dan perempuan biasa yang merangkak dalam lumpur dan debu—yang membutuhkan sesuatu untuk memulihkan energi dan mempertahankan eksistensinya tapi tidak dapat membelinya. Ini karena kekayaan material yang tercipta dari kerja yang bersifat sosial dirampok oleh legalitas individual dalam hubungan-hubungan properti borjuasi. Bukan kemerosotan tingkat keuntungan dan kurangnya permintaan yang mendasari kekacauan sosial dan politik masyarakat dunia, tetapi cacat-bawaan dalam mekanisme kepemilikan borjuasi: krisis over-produksi. Tingkat laba atau pertumbuhan ekonomi kapitalis tidak ditentukan oleh kesesatan ‘hukum permintaan dan penawaran’ tapi eksploitasi nilai-lebih yang bersumber dari daya kerja kaum buruh. Hanya kerja yang menjadi prasayarat keberadaan umat manusia, yang memberinya nilai dan menghasilkan nilai baru. Sementara nilai-lebih yang diekspropriasi kapitalis merupakan kemampuan kerja produsen laki-laki dan perempuan yang tidak dibayar. Itulah upah yang lebih rendah daripada nilai komoditas yang dihasilkan kelas proletar. Upah yang secara keseluruhannya sangat kecil takkan pernah cukup untuk menyerap kembali komoditas yang menumpuk di pasar. Dorongan tak-terkendali untuk akumulasi kapital atau ekspansi pasar dunia, cepat atau lambat akan mencapai batas konsumsi. Selama nilai-lebih disalurkan kembali pada mesin, bangunan, dan infrastruktur umum yang produktif maka kapitalisme dapat memperpanjang nafasnya tapi dengan mempersiapkan krisis-krisis baru yang menantinya. Namun ketika nilai-lebih diinvestasikan pada sektor-sektor non-produktif, sistem ini berarti sudah tidak mampu lagi berkembang lebih jauh dan penderitaan krisisnya akan semakin ganas.

Krisis global 2008 menjadi titik balik yang mendasar. Kredit sebagai salah satu sektor investasi kapital-fiktif, yang berfungsi memperpanjang masa kejayaan sebelum krisis, telah berubah menjadi gunungan utang yang kronis. Utang sebagai mekanisme utama untuk mengatasi kontradiksi inheren kapitalisme mengarah pada krisis utang yang mencerminkan krisis overproduksi. Tahun 2021-2024, tren kenaikan suku bunga memperkeruh kekacauan pasar dunia: memprovokasi penerapan kebijakan proteksionis yang melesukan industri-industri padat karya di negeri-negeri eksportir. Dengan menggencarkan proteksionisme untuk mempertahankan kepentingan relatif dari negerinya sendiri, setiap rezim borjuis yang ada menebarkan ilusi nasionalisme ekonomi untuk membela perang dagang dan pengurangan efisiensi global—produk-produk luar-negeri yang berharga murah diperangi dan produk-produk dalam-negeri yang kurang efisien dijajakan dengan membangkitkan sentimen nasional dan politik identitas yang paling biadab. Sebelum menguras habis keringat dan darah atau menenggelamkan umat manusia dalam kotoran dan nanah, kapitalisme meracuni atmosfer dunia dengan kebencian nasional dan ras. Anti-Semitisme terhadap Yahudi, penjajahan terhadap Palestina dan West Papua adalah beberapa kejang yang ganas dalam keruntuhan dunia kapitalis. Melalui perdagangan antar negara-bangsa, kapitalisme sudah merevolusi perekonomian dunia dengan membagi seluruh bumi dalam oligarki kapital-finansial di antara negara-negara besar. Namun kapitalisme liberalistik, yang diwarnai persaingan dan perdagangan bebas, sekarang telah dibuang ke museum barang antik. Penggantinya ialah kapitalisme monopolistik yang bermotifkan ekspor-kapital dan tidak meredakan anarkisme pasar tapi memberinya karakter yang sangat bergejolak dan kasar; di mana perjuangan tanpa henti dari kekuatan-kekuatan imperialis untuk bidang-bidang eksploitasi kapitalis yang baru, harus diperoleh dari satu sumber yang sama: inilah bumi manusia, yang di dalamnya kekuatan irasional menuntut perampokan dan penghancuran di bawah panji militerisme. 

Kecenderungan kekuatan produksi umat manusia untuk melampaui batas-batas sempit kepemilikan pribadi dan negara-bangsa telah memaksa rezim-rezim borjuis untuk meningkatkan campur tangan dalam ‘pengaturan ekonomi’ secara barbar. Kelas penguasa membayangkan kalau perubahan suprastruktural dapat menyelamatkan keruntuhan basis ekonomi masyarakat. Dengan mengandalkan hutang untuk berperan sebagai angsa bertelur emas yang memberikan pinjaman terakhir kepada perusahaan yang terancam bangkrut dan mendorong konsumsi rumah tangga melalui kredit murah, maka intervensi pemerintah tidak saja akan membawa pada inefisiensi tapi juga memperparah kenaikan harga, menurunkan PDB, menyuburkan pengangguran dan kemiskinan yang pada gilirannya akan semakin memperdalam krisis keuangan dan moneter. Di skala internasional, semua negeri mendera ketidakstabilan permanen dan agenda revolusi proletariat sedang dipersiapkan. Saat ini program tarif yang dipimpin rezim borjuis imperialis Trump memperdalam kecenderungan proteksionis yang semakin mengacaukan perekonomian setiap negeri. Beberapa bulan terakhir, perdagangan global menurun hingga 66 persen yang terekspresikan dalam penurunan produksi di Inggris (23 persen), Prancis (24 persen), Jerman (41 persen), dan sebagainya. Pada Maret 2025, percikan gerakan angkatan muda di Serbia dan Turki berhasil menyebar luas dan menarik ratusan ribu laki-laki dan perempuan pekerja ke medan perjuangan bersama untuk melawan keseluruhan sistem yang ada. Goncangan-goncangan krisis dunia kapitalisme, dengan inflasi dan penghematan yang menggila maupun proteksionisme dan perang imperialisme yang membabi-buta, telah membangunkan massa dari ranjang ketenangan dan kelumpuhan apolitisnya. Selama satu dekade terakhir, kaum muda selalu berdiri di garda depan pertempuran ini. Gerakan-gerakan pelajar dan mahasiswa anti-kapitalisme mewarnai perjuangan kelas di negeri-negeri terbelakang maupun maju. Dalam “The Need for a Militant Worker’s Movement”, Fightback (Seksi Kanada dari Revolutionary Communist International) mengungkapkannya:

“Kaum muda berada di garis depan gerakan global melawan status-quo. Jajak pendapat demi jajak pendapat menunjukkan kaum muda menolak kapitalisme dan memandang positif sosialisme, komunisme, dan bahkan revolusi. Ada perasaan umum bahwa sistem tidak berjalan dan kapitalisme tidak memberikan masa depan bagi kaum muda. Ketika ditanya tentang bagaimana menurut mereka kualitas hidup generasi berikutnya, 13 persen mengatakan lebih baik sementara 65 persen mengatakan lebih buruk…. Kaum muda tidak memiliki konsep orang dewasa tentang kapitalisme yang memberikan perbaikan, tetapi mereka juga tidak memiliki ingatan orang dewasa tentang gerakan buruh yang melakukan perjuangan nyata. Hal ini dapat membuat konsep bahwa kelas pekerja yang sentral dalam perjuangan mengubah masyarakat menjadi abstrak. Sangatlah penting bahwa kaum muda tidak meninggalkan analisis kelas revolusioner dan tersedot ke dalam ide-ide kelas menengah yang trendi seperti politik identitas. Ini akan mengisolasi kaum muda dan mencegah mereka bersatu dengan kekuatan yang sebenarnya mengancam kapitalisme dan semua penindasan yang ditimbulkannya…. Dalam analisis terakhir, kelas pekerjalah yang memiliki kekuatan untuk mengakhiri kapitalisme dan menyatukan semua yang tertindas untuk melawan sistem. Kekuatan pemuda hanyalah sebagai percikan untuk membantu membawa para pekerja ke dalam perjuangan.”

Di Indonesia, babak baru perjuangan anti-kapitalisme dibuka dengan kebangkitan Gerakan Indonesia Gelap. Gerakan ini terhubung dengan menyerap pelajaran-pelajaran tertentu dari gerakan-gerakan sebelumnya: Indonesia Darurat, Mosi Tidak Percaya, Tolak Otsus Jilid II, Reformasi Dikorupsi, dan seterusnya. Seperti proses kebangkitan pemuda di seluruh dunia: mobilisasi dimulai dari lapisan yang lebih segar dan paling tidak terpengaruh oleh kekalahan di masa lalu. Dari sudut pandang politik, elemen-elemen yang masih hijau ini tidak tertarik pada organisasi massa, serikat pekerja dan partai buruh; karena elang-elang muda ini bukan saja baru mengepakan sayapnya tapi juga tidaklah melihat organisasi-organisasi massa dengan kepemimpinan sentris dan reformis yang ada mampu menawarkan solusi-solusi yang efektif atas masalah-masalah yang mengemuka. Sikap umum di antara pelajar dan mahasiswa yang bergerak hari ini adalah kemarahan dan kebencian mendalam terhadap kekuasaan tiran yang dijaga polisi dan tentara. Sejak kebangkitannya, gerakan pelajar dan mahasiswa langsung menghunuskan tuntutan dan menghujamkan mosi ketidakpercayaan ke dada Rezim Prabowo. Dalam gelombang demonstrasi yang menyapu lebih dari 34 kota—dari Banda Aceh sampai Manokwari, dari Samarinda sampai Yogyakarta–berjuta-juta laki-laki dan perempuan bukan saja menunjukkan kecenderungan untuk membuang keyakinan lamanya tentang krisis kapitalisme yang dapat diobati, tetapi juga mengenyahkan keyakinan butanya terhadap negara dan demokrasi borjuis yang harus digugui. Inilah suasana hati yang dibentangkan oleh angkatan muda yang kembali memasuki medan perjuangan kelas. Di sini, sebuah kesadaran kolektif baru mekar. Kesadaran bahwa sistem kapitalis dan struktur khusus orang-orang bersenjata harus hancur terekspresikan dengan satu dan lain cara dalam aksi-aksi militan yang menyinari jantung masyarakat dan mengirimkan rangkaian teror ke atas yang segera mendatangkan reaksi ke bawah dari kaum borjuis. Di titik-titik demonstrasi yang menggelegak, polisi dan tentara reguler dikerahkan untuk memadamkan mimbar bebas dan protes secara bengis. Anjing-anjing penjaga borjuasi mengepung angkatan muda dengan kokangan senapan dan tembakan peluru, semprotan water cannon dan gas air mata, serta penangkapan-penangkapan brutal berpatokan pada aturan-aturan yang seperti gagang pintu parlemen dan istana. Di bilik-bilik pemerintahan korup yang gelap dan kotor, para pemimpin mahasiswa liberal yang berperut karet dan para akademisi pembual yang tambun dijamu sampai kenyang untuk membantu merintangi meluasnya mobilisasi massa. Di kampus-kampus geopolitik, komplotan penjilat itu diberi mandat untuk menggembosi gerakan muda mulai dari mengontrol Kepemimpinan BEM-BEM Universitas hingga melancarkan sinergi pengendalian massa dengan institusi kepolisian dan militer. Di pemukiman-pemukiman penduduk miskin dan penganggur, aparat-aparat cabul dan ormas-ormas reaksioner yang terisolir dipadukan untuk meraih dukungan lancung—atas UU TNI, peningkatan keamanan dan pertahanan—dengan membagikan roti-roti busuk yang menjadi muntahan meja makan orang kaya dan pemilik properti. Semua ini digencarkan untuk meredam percikan radikalisasi massa supaya gagal menjalar sampai ke tempat-tempat kerja yang berisi bahan-bahan yang mudah terbakar; agar tidak berlangsung pemogokan umum yang dapat melumpuhkan perekonomian kapitalis dan mengambil-alih aktivitas produksi di bawah kontrol proletar, yang dapat berkembang menjadi pemberontakan bersenjata untuk menghancurkan kediktatoran borjuis dengan menegakkan kediktatoran proletariat.

Pada tahap permulaan kebangkitan perjuangan massa, terbangunnya kaum muda ke arena politik dengan cepat menyambar sarang-sarang kekuasaan borjuasi. Menghadapi petir mobilisasi massa yang mengandung muatan listrik yang tinggi, kelas penguasa segera meluncurkan manuver dan intrik-intrik yang keji. Terutama supaya gerakan pelajar dan mahasiswa gagal menyebar ke dalam gerakan buruh sebagai satu-satunya kelas revolusioner dengan bobot sosial atau daya-ungkit ekonomi terbesar dan paling ditakuti oleh kelas kapitalis secara menyeluruh. Namun gelombang demonstrasi Indonesia Gelap tidak dapat dipadamkan dengan mudah. Serangan-balik kekuasaan, baik dengan menggunakan tongkat maupun wortel sekalipun, justru menambah kemarahan dan kejijikan angkatan muda terhadap keseluruhan sistem yang berlaku. Ketidakstabilan sosial dan politik yang berlarut-larut yang bersumber dari bangunan kapitalisme yang sedang runtuh takkan mungkin dapat dijinakkan dengan reforma-reforma dari atas. Aneka intervensi pemerintah borjuis ke dalam ekonomi kapitalis takkan mampu menghentikan ketidakstabilan sosial dan politik karena tidak berkepentingan memperjuangkan penghapusan kepemilikan pribadi untuk menyingkirkan anarki pasar. Segala upaya rezim untuk mengendalikan krisis dan mengontrol perjuangan massa akan menuangkan bensin di tumpukan jerami yang sedang terbakar. Dalam menghadapi tren peningkatan suku bunga dan kebijakan tarif Trump di skala internasional, ditambah dengan tingginya utang yang menjadi beban perekonomian nasional; Rezim Prabowo berusaha menangani masalah fiskal dengan mengambil langkah-langkah penghematan baru yang begitu keras. Kelas pekerja merupakan penanggung utama dari krisis dunia kapitalisme. Produsen laki-laki dan perempuan dipaksa untuk membayar pinjaman dan kejatuhan tingkat laba kapitalis dalam serangkaian penutupan pabrik, perpanjangan hari kerja, dan pemotongan-pemotongan upah dan subsidi. Semuanya semakin memperburuk kondisi kaum buruh dan keluarganya. Di gudang-gudang yang pintu keluar-masuknya tidak pernah ditutup, di pabrik-pabrik yang mesin-mesinnya tidak pernah berhenti beroperasi, juga di perumahan-perumahan mewah orang kaya di mana orang miskin menjadi pembantu dan penjaga—terjejer perempuan dan laki-laki yang bersimbah luka dan dipaksa terus bekerja oleh majikannya bahkan di hari-hari libur. Tidak ada waktu yang cukup untuk sahabat dan orang-orang terkasih, apalagi untuk belajar, mengembangkan kebudayaan dan berpolitik. Semuanya terbatas dalam kondisi-kondisi perbudakan borjuis yang semakin dalam menghisap keringat dan darah budak-upahannya sampai tetes-tetes terakhir. Dalam masyarakat kapitalis, dengan kehidupan anjing-makan-anjing dan tetangga-membunuh-tetangga demi uang; siksaan dan kegetiran hidup kelas pekerja tidak pernah memudar, kecuali makin menganga dan berlimpah-ruah. Panderitaan universal buruh Indonesia hari ini masih serupa dengan buruh Amerika dahulu. Dalam “History of Labour Conditions under Industrial Capitalism”, J. Kuczynski memberikan rekamannya:

“Kami diwajibkan oleh para majikan kami untuk bekerja pada musim ini, dari jam 5 pagi hingga matahari terbenam, yang berarti empat belas jam setengah, dengan jeda setengah jam untuk sarapan, dan satu jam untuk makan malam, mecurahkan tiga belas jam kerja keras, pada pekerjaan yang kotor dan tidak sehat, dan sedikitya waktu istrahat yang kami terima di malam hari tidak cukup untuk memulihkan energi kami yang terkuras, kami kembali bekerja di pagi hari, sama lelahnya seperti saat kami meninggalkannya; tetapi meskipun demikian kami harus bekerja, kelelahan dan ketidakberdayaan seperti kami, atau keluarga kami akan semakin berada dalam kondisi kelaparan, karena upah kami hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Kami tidak dapat menyediakan diri terhadap penyakit dan kesulitan apapun, dengan menabung satu dolarpun, karena kebutuhan kami saat ini menghabiskan secuil yang kami terima dan ketika kami terbaring di tempat tidur karena sakit dalam waktu yang lama, kami terjerumus dalam tekanan terdalam, yang sering kali berakhir dengan kahancuran total, kemiskinan dan kemelaratan…. Biaya hidup kami mungkin lebih besar … di mana upah seluruh anggota keluarga yang mampu bekerja (kecuali seorang gadis kecil yang mengurus rumah dan menyediakan makanan) diperlukan utuk memenuhi kebutuhan mutlak, akibatnya para perempuan tidak punya waktu untuk membuat gaun mereka sendiri atau gaun anak-anak, tetapi tentu saja harus melamar pekerjaan untuk setiap barang yang dibutuhkan.”

Halaman-halaman rumah dan bangunan-bangunan yang nampak damai dengan suara yang unik, serta tanah kehidupan umum yang luas dan pekat, sesungguhnya terlalu panas untuk diinjak. Dalam hubungan properti, sama sekali tidak ada ketenangan di dada dan kepala gerombolan konglomerat dan pemilik. Orang-orang yang hidupnya seperti binatang cabul, tidur pulas dan makan rakus seperti keledai kembung dan babi gemuk, dan duduk ongkang kaki di sofa berminyak dan berfantasi dalam perlindungan mesin pengawal yang brutal; hati dan pikiran mereka membusuk di atas tumpukan kekayaan sosial yang dikuasai secara pribadi. Mereka selalu mencurigai orang miskin dan lapar yang menderita dalam kerja-keras sepanjang hari sebagai penjahat yang harus diantisipasi. Psikologi kaum borjuasi dipenuhi ketakutan akan kehilangan harta-benda yang meneror kehidupan mereka sepanjang waktu. Ketika laki-laki dan perempuan biasa bekerja banting-tulang, siang dan malam, dalam panas maupun dingin, apa yang menanti? Hanya kelimpahan yang tidak dapat dinikmati, dengan kemegahan arsitektur jahat yang menipiskan mata, yang diperas dari kesengsaraan para pekerja-upahan yang pucat-pasi. Awal tahun ini, Pemerintah Prabowo-Gibran mengeluarkan Inpres Nomor 1 Tahun 2025 untuk meningkatkan serangannya terhadap standar hidup rakyat pekerja. Dalam putaran pertama, pencabutan jaminan sosial telah mencapai Rp 306 triliun. Pemangkasan akan terus berlangsung sampai menumpuk Rp 750 triliun; di mana lebih dari separuhnya ditujukan untuk mengonsolidasikan Danantara—sebuah megaproyek untuk melancarkan akumulasi kapital yang membutuhkan pendanaan minimal Rp 1.000 triliun dan sarat korupsi. Sejak diluncurkan, kebrutalan efisiensi rezim langsung mencekik banyak sektor—seperti BMKG dan pendidikan, yang masing-masing anggarannya dipotong dari Rp 2,826 menjadi Rp 1,423 trilun dan dari Rp 722 menjadi 607,4 triliun. Februari 2025—sapuan politik penghematan bertambah luas, menabrak bangunan ekonomi yang rapuh, dan kekacauannya yang mendalam digunakan sebagai alasan kapitalis dalam mem-PHK 18.610 pekerjanya. Di sektor pendidikan, pemangkasan anggaran hadir sebagai rangsangan yang memberikan dorongan keras untuk bangkitnya gerakan pelajar dan mahasiswa. Meskipun kebangkitan massa yang dibuka dengan tiupan terompet berusaha diredam dengan desisan cambuk, namun terdapat hukum sejarah yang berlaku di sepanjang peradaban masyarakat kelas yang ada: reforma dari atas akan membuka kran revolusi dari bawah dan setiap cambuk revolusi akan mengobarkan api revolusi yang belum kalah. Setelah UU TNI direvisi secara tertutup dan disahkan secepat kilat, agenda peralihan suprasruktural susulan untuk merevisi UU Polri akan mempertajam perjuangan kelas. Dengan mengintensifikasi perubahan legislasi otoriter dan operasi represif untuk menghadang mobilisasi massa, semakin banyak laki-laki dan perempuan yang akan menyadari karakter yang sesungguhnya dari negara kelas penguasa terbelakang yang korup dan konservatif ini. Sepanjang keberadaan masyarakat kelas, negara hadir sebagai instrumen pemaksa yang melayani kepentingan kelas yang berkuasa. Badan khusus orang-orang bersenjata yang didukung dengan perangkat hukum, lembaga peradilan dan penjara adalah perwujudan langsung dari negara. Institusi kekerasan ini adalah produk dan manifestasi dari kontradiksi kelas dalam masyarakat pada tahap perkembangan tertentu yang tidak dapat didamaikan dan cenderung saling-menghancurkan satu sama lainnya. Tapi agar kelas-kelas antagonis tidak sampai pada pertempuran puncak yang terlalu berisiko dan mengancam status-quo, negara akan menjaga konflik dalam masyarakat kelas ini sampai batas-batas yang dapat diterima. Dalam “Asal-Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara”, Engels memaparkannya:

“Negara oleh karenanya bukanlah kekuasaan yang dipaksakan dari luar masyarakat; negara juga bukanlah ‘realitas gagasan etis’, ‘citra dan realitas nalar’, seperti yang dikemukakan Hegel. Sebaliknya, negara adalah produk masyarakat pada tahap perkembangan tertentu; negara adalah pengakuan bahwa masyarakat ini telah terjerat dalam kontradiksi yang tak-terpecahkan dengan dirinya sendiri, bahwa masyarakat telah terpecah-belah menjadi antagonisme yang tidak dapat didamaikan dan ia tak berdaya untuk membebaskan dirinya dari keadaan ini. Namun, agar antagonisme ini, kelas-kelas dengan kepentingan ekonomi yang saling-berlawanan, tidak membinasakan satu sama lainnya dan tidak membinasakan masyarakat dalam perjuangan yang sia-sia, maka diperlukan kekuasaan yang tampaknya berdiri di atas masyarakat, yang akan memoderasi konflik dan menjaganya dalam batas-batas ‘ketertiban’; dan kekuatan ini, yang muncul dari masyarakat tetapi menempatkan diri di atasnya, dan semakin mengasingkan dirinya dari masyarakatnya adalah negara.”

Dalam menghadapi Gerakan Indonesia Gelap, negara hadir sebagai mesin reaksi yang mengasingkan dirinya dari masyarakat dan menjadi tembok penghalang besar yang berdiri di antara angkatan muda dan kelas pekerja, antara percikan dan bahan-bahan yang mudah terbakar untuk menciptakan taring dan cakar bagi perjuangan massa. Kelas penguasa ketakutan membayangkan itu. Inilah mengapa polisi dan tentara dikerahkan dalam skala raksasa untuk memukul-mundur, menangkap dan menyiksa para pemuda yang teradikalisasi sampai memiliterisasi perguruan tinggi dan sekolah-sekolah. Namun setiap represivitas dan tindakan-tindakan militeristik saat ini mendapat pembelaan-diri yang gagah-berani. Barisan laki-laki dan perempuan muda yang dikepung aparat bersenjata dengan berbagai peralatan pengendalian massa tidak dapat menerima begitu saja tembakan peluru, water cannon, dan gas air mata. Para pemuda yang teradikalisasi melawan dengan sekuat tenaga, baik dengan menggunakan tinju maupun beragam peralatan tempur mendadak yang ditemui. Kokangan senapan dibalas letusan kembang api. Tendangan sepatu bot dibalas sempakan sepatu kayu. Meriam air dibalas batu. Kartrid panas dibalas molotov. Luka dibayar luka dan darah dibayar darah. Dendam dan kemarahan rakyat yang meluas terhadap kejahatan institusi kepolisian dan militer dicurahkan dengan mengambil bentuk kebencian yang tidak terdamaikan oleh gerakan pelajar dan mahasiswa. Ini menunjukkan proses revolusioner yang mendalam yang berlangsung dalam kesadaran massa. Tekad dan keberanian pemuda untuk melawan teror negara borjuis, menghadapi kekerasan reaksioner dengan kekerasan revolusioner, tidak dapat diasosiasikan dengan teori maupun praktik anarkisme. Pembelaan-diri yang besar dan spontan ini sama sekali berbeda dengan ‘sabotase’, ‘aksi-langsung’, ‘terorisme individual’, atau ‘propaganda lewat perbuatan’ yang diupayakan oleh sekte-sekte anarkis. Tindakan-tindakan defensif yang cenderung spontan dan keras ini sejalan dan tunduk pada gerakan kolektif untuk bertahan dari reaksi. Ini bukanlah sikap kekanak-kanakan atau serangan yang tidak tepat waktu, penuh petualangan, dan tidak beralasan konkret di sela-sela aksi massa seperti yang disarankan berbagai kelompok kecil anarkis.

Anarkisme menempatkan spontanitas sebagai pilar utama ideologinya, tetapi spontanitas massa tidak dapat secara vulgar diidentifikasi sebagai bentuk pengaruhnya dalam gerakan pelajar dan mahasiswa. Spontanitas merupakan unsur yang terdapat dalam semua perjuangan massa: demonstrasi, pemogokan umum, bahkan pemberontakan bersenjata dan revolusi. Dalam suasana perjuangan kelas yang intens, spontanitas massa mau-tidak-mau mengarah pada pembentukan berbagai organ kepemimpinan atau persatuan yang dipimpin oleh organisasi tertentu. Inilah yang terjadi pada setiap momen kebangkitan massa. Keterlibatan individu dan organisasi dalam mendirikan aliansi atau front menunjukkan itu. Namun kepemimpinan yang sadar-kelas dan terorganisir-kuat tidak dapat dibentuk secara mendadak. Pembentukan organ kepemimpinan yang sanggup mengekspresikan perjuangan revolusioner massa, untuk menancapkan pedang di jantung dunia yang sedang runtuh, dengan kader-kader yang terlatih membawa panji, meniup terompet, menabuh drum, dan menjadi jenderal perang-kelas revolusioner ini takkan mungkin diiterupsikan pada saat berlangsungnya momen-momen revolusioner; karena membutuhkan waktu yang panjang untuk membangun kepemimpinan yang memadai, terutama yang berkait proses pendidikan calon-calon pemimpin masa depan, dengan teori, program, metode, dan tradisi perjuangan kelas revolusioner. Spontanitas dan organisasi terhubung secara dialektis, dan oleh karenanya, menekankan pada satu sisi saja akan menjadi sesuatu yang berat-sebelah. Kaum anarkis cenderung menutup hati dan pikirannya dari dialektika perjuangan kelas yang hidup ini. Dalam “Sosialisme dan Anarkisme; Kritik dan Polemik”, Front Muda Revolusioner menjelaskannya:

“Sesungguhnya tidak ada kontradiksi [yang kaku] antara spontanitas dan organisasi atau kepemimpinan. Ledakan energi revolusioner massa yang spontan dengan sendirinya tidak akan bisa mendorong massa sampai ke tujuan akhir revolusi. Namun organisasi juga dengan sendirinya tidak cukup karena organisasi sehebat apapun tidak akan bisa menciptakan revolusi. Hubungan antara keduanya adalah seperti tenaga uap dan kotak piston. Tenaga uap sebesar apapun akan menguap sia-sia ke udara tanpa adanya kotak piston yang memusatkan dayanya. Tetapi kotak piston tanpa tenaga uap hanyalah onggokan besi yang tidak berguna. Demikianlah hubungan dialektika antara keduanya. Terlebih lagi, spontanitas dan organisasi bukanlah dua-kutub yang terpisah. Organisasi tidak lain adalah distilasi dari pengalaman perjuangan rakyat. Dari setiap ledakan spontan gerakan massa sepanjang sejarah, massa belajar dari pengalamannya, dan menyarikannya ke dalam organisasi. Organisasi, dan di sini kita berbicara mengenai partai revolusioner, oleh karenanya adalah memori kolektif sejarah perjuangan massa, yang telah dipertimbangkan, telah direnungkan, telah dibersihkan dari vulgaritas dan kesalahan-kesalahannya, dan lalu ditarik kesimpulan-kesimpulannya. Dalam tubuh organisasi ini terhimpun individu-individu, lapisan maju kelas pekerja dari masa-ke-masa yang telah melalui pahit-getir perjuangan dan mampu menyarikan pengalaman mereka menjadi teori. Tugas partai revolusioner adalah merawat ingatan kolektif kelas pekerja, meneruskannya dari generasi-ke-generasi, menanamnya ke dalam kelas pekerja lewat kerja propaganda dan pendidikan. Demikianlah hubungan dialektis antara propaganda dan organisasi. Mereka adalah dua-kutub yang saling merasuki. Kaum anarkis yang berpikir secara mekanis hanya bisa memisahkan kedua hal ini secara mekanis, tanpa memahami hubungan dialektis di antara keduanya.”

Dalam babak pertama ledakan Gerakan Indonesia Gelap, pemikiran orang-orang yang sebelumnya sangat primitif berubah menjadi sangat rakus dalam melakukan analisis politik. Slogan-slogan dan tuntutan-tuntutan radikal sudah tidak lagi membuat laki-laki dan perempuan takut. Kesadaran massa menyerap setiap seruan, kecaman, penolakan dan ketidakpercayaan terhadap struktur birokrasi borjuis dan keseluruhan sistem kapitalisme bagaikan spons yang menyerap substansi cair. Tidak ada program dan kebijakan pemerintah yang tidak disorot dan digugat. Setiap kesalahannya dibongkar dan diekspos luas. Siaran-siaran mengenai prospeknya ditanggapi ejekan dan ancamannya menimbulkan kebencian. Perasaan-perasaan yang terpendam terus-menerus mencari jalan keluar dan pikiran-pikiran banyak orang berubah menjadi tindakan. Kekacauan situasi dunia yang tiba di Indonesia dengan meningkatnya pencabutan subsidi telah menghancurkan standar hidup rakyat pekerja dengan beban yang meraksasa. Ancaman mati kelaparan dalam kondisi kemiskinan dan pengangguran umum bergelayut di cakrawala politik borjuasi, menutup segalanya dengan meningkatkan cengkereman badan orang-orang bersenjata dalam kehidupan laki-laki dan perempuan biasa. Lapisan sosial yang paling pasif dan lembam, yang sebelumnya tidak membicarakan persoalan-persoalan politik dan tidak berhubungan dengan elemen-elemen sadar-kelas dan maju, dihantam oleh goncangan peristiwa untuk keluar dari rutinitas dan keyakinan lamanya. Namun saat mood kemarahan massa tidak menemukan kepemimpinan yang secara memadai sanggup memberikan ekspresi yang terorganisir dan sadar-kelas, maka ia akan memanifestasikan dirinya dalam bentuk gerakan-gerakan yang begitu rupa. Kekosongan kepemimpinan revolusioner bukan saja secara positif menempatkan spontanitas menjadi elemen utama dalam perjuangan massa, tetapi juga secara negatif memberi kesempatan untuk reformisme dan ultrakiri-isme meracuni gerakan buruh. Di tengah ledakan aksi-aksi Indonesia Gelap di masa-masa yang mendebarkan, penuh harapan, dan ekspektasi politik ini—semua tendensi borjuis-kecil yang ada tertangkap basah tidak sanggup menghadapi malapetaka yang mengancam, mempersenjatai dan mengilhami massa dengan perspektif, program, dan slogan-slogan revolusioner, serta mengirimkan tanda bahaya ke seluruh lini untuk memajukan perjuangan kelas yang sedang bangkit. Dalam gerakan pelajar dan mahasiswa, para pemimpin populis borjuis-kecil radikal menyampaikan pandangan-pandangan vulgar berkait karakter Rezim Prabowo. Dengan satu atau dua ciri kekerasan reaksioner pemerintahan Bonapartis atau fasis, aktivis-aktivis dan politisi-politisi kiri yang berselancar dalam gerakan massa dengan paniknya berteriak akan fenomena fasisme dan mencium bangkai kebangkrutan kekuasaan borjuis di ujung hidungnya sebagai pertanda kemunculan penguasa fasis. Mereka tidak memahami unsur-unsur kekerasan reaksioner yang selalu ada dalam setiap negara borjuis, dan oleh karenanya, memberikan tinjauan yang sesat terhadap karakter pemerintahannya. Dalam “The Meaning of Donald Trump: A Marxist Analysis”, Alan Woods menyampaikan penjelasan umum tentang fasisme dengan metode dialektika yang benar—‘mendasarkan’ pandangannya pada fakta atau benda dalam perkembangannya, bukan abstraksi-abstraksi yang sudah jadi dan ‘memaksakan’ perkembangan material untuk mengikutinya:

“Marxisme adalah ilmu pengetahuan. Dan seperti semua ilmu pengetahuan, ia memiliki terminologi ilmiah. Kata-kata seperti ‘fasisme’ dan Bonapartisme, bagi kami memiliki makna yang tepat. Itu bukan sekedar istilah makian, atau label yang dapat dengan muda ditempelkan pada individu [atau rezim] manapun yang tidak sesuai dengan keinginan kami. Mari kita mulai dengan definisi fasisme yang memadai. Dalam pengertian Marxis, fasisme adalah gerakan kontra-revolusioner—gerakan massa yang terutama terdiri dari kaum lumpen-proletar dan borjuis-kecil yang frustasi. Fasisme digunakan sebagai gerakan pendobrak untuk menghancurkan dan mengatomisasi kelas pekerja dan membangun negara totaliter di mana kaum borjuis menyerahkan kekuasaan negara kepada birokrasi fasis. Karakter utama negara fasis adalah sentralisasi ekstrem dan kekuasaan negara absolut, di mana bank-bank dan monopoli besar dilindungi, dengan tunduk pada kontrol terpusat yang kuat oleh birokrasi fasis yang besar dan berkuasa…. Artikel Trotsky berjudul ‘Bonapartism and Fascism’ memberikan definisi Bonapartisme yang sangat tepat dan ringkas dari sudut pandang Marxis: ‘pemerintah yang meninggikan dirinya di atas negara tidak akan melayang di udara. Poros sejati pemerintahan saat ini melewati polisi, birokrasi, dan kelompok militer. Kita dihadapkan pada kediktatoran militer-polisi, yang nyaris tertutupi oleh hiasan parlementerisme. Namun, rezim yang menggunakan pedang sebagai hakim penengah negara—itulah Bonapartisme.’ Hakikat Bonapartisme, yang mungkin muncul dalam penyamaran berbeda, pada analisis terkahir selalu sama: kediktatoran militer. Dalam ‘Germany: The Only Road’, Trotsky menjelaskan bagaimana Bonapartisme muncul: ‘begitu pertikaian dua lapisan sosial—si kaya dan si miskin, si pengeksploitasi dan si tereksploitasi—mencapai ketegangan tertingginya, kondisi terbentuk untuk dominasi birokrasi, polisi dan tentara. Pemerintah menjadi ‘independen’ dari masyarakat.”

“Tentu saja, ada kemungkinan untuk menunjuk ke satu atau beberapa elemen dalam situasi saat ini yang dapat dikatakan sebagai elemen Bonapartisme. Mungkin memang begitu. Namun, komentar serupa dapat dibuat untuk hampir semua rezim demokrasi borjuis terkini. Di Inggris yang ‘demokratis’ di bawah Tony Blair, kekuasaan dalam praktiknya berpindah dari parlemen yang dipilih ke Kabinet, dan dari Kabinet ke sekelompok kecil pejabat yang tidak-dipilih, kroni dan juru putar-balik. Tidak diragukan lagi ada unsur-unsur yang dapat disebut sebagai Bonapartisme parlementer. Akan tetapi, sekedar mengandung unsur-unsur tertentu dari suatu fenomena [Bonapartisme atau fasisme] belum tentu menandakan kemunculan fenomena itu sendiri [sebagai keselurahan perkembangannya]…. Seperti yang dikatakan Hegel dalam “Phenomenology”: ‘ketika kita ingin melihat pohon ek dengan seluruh batangnya yang kokoh, cabang-cabangnya yang lebar, dan dedaunannya yang lebat, kita tidak akan puas jika hanya diperlihatkan biji pohon ek.’”

Pemikiran Marxis bersifat konkret: memandang setiap faktor yang menentukan atau penting dalam setiap pertanyaan atau keadaan dari sudut pandang timbal-balik dan perkembangannya secara keseluruhan. Marxisme tidak pernah melarutkan situasi sesaat dalam perspektif umum, tetapi melalui perspektif umum memungkinkan analisis situasi sesaat dalam setiap kekhasannya. Dalam “Bonapartism and Fascism”, Trotsky mengajarkan kepada kaum buruh dan muda untuk menggunakan metode Marxis dalam mengalisa tahap-tahap perkembangan perjuangan kelas yang hidup. Ini bukan untuk mengabsolutkan skema yang sudah jadi di hadapan realitas yang terus mengalir. Lebih-lebih ketika kita berada dalam masa-masa perjuangan kelas yang intens, dengan kedalaman krisis sosial tanpa preseden dan ketidakstabilan politik yang besar. Inilah mengapa artikelnya dibuka dengan pernyataan metodis yang tegas: ‘signifikansi praktis yang luas dari orientasi teoritis yang benar paling mencolok terlihat dalam periode pergeseran politik yang cepat, perubahan situasi yang mendadak’. Ini seperti periode-periode sejarah yang bergejolak di zaman krisis dunia kapitalisme yang gelap di mana kita berada sekarang. Dia mengingatkan bahwa untuk mendapatkan tinjauan yang memadai terhadap karakter rezim, kita perlu mendasarkan diri pada ‘hukum dialektika yang paling penting: kebenaran selalu konkret’. Jika tidak, analisa kita dapat mengarah pada penyimpangan kolosal seperti teori Stalinis tentang fasisme. Trotsky berkata: ‘teori fasisme Stalinis tidak diragukan lagi merupakan salah satu contoh paling tragis dari konsekuensi praktis yang merugikan yang dapat terjadi akibat pergantian analisis dialektis atas realitas, dalam setiap fase konkretnya, dalam semua tahap transisinya, yaitu, dalam perubahan bertahap serta dalam lompatan revolusioner (atau kontra-revolusioner), dengan kategori-kategori abstrak yang dirumuskan atas dasar pengalaman sejarah yang parsial dan tidak memadai (atau pandangan yang sempit dan tidak mencakup keseluruhannya).’ Teori Stalinis tentang fasisme menyatakan bahwa di zaman imperialis, kapital finanansial sudah tidak dapat lagi menyesuaikan dirinya dengan demokrasi parlementer sehingga menggunakan fasisme. Sudut pandang ini tidak dialektis, terlampau reduksionis dan vulgar. Sebelum memasuki zaman krisis, revolusi dan kontra-revolusi, modal keuangan sama sekali tidak pernah harmonis dengan demokrasi parlementer. Tidak ada kapital-finansial ‘murni’ seperti tidak adanya demokrasi ‘murni’. Modal keuangan dan demokrasi borjuis selalu dilengkapi dengan represi terbuka atau rezim represif; di mana di antara parlementerisme dan fasisme terdapat bentuk-bentuk transisi baik secara damai maupun melalui perang saudara. Trotsky menerangkannya:

“Fasisme yang berkuasa, seperti Bonapartisme, hanya dapat menjadi pemerintahan kapital-finansial. Dalam pengertian sosial ini, fasisme tidak hanya dapat dibedakan dari Bonapartisme, tetapi bahkan dari demokrasi parlementer. Setiap kali, kaum Stalinis menemukan hal ini lagi, lupa bahwa masalah sosial dapat diselesaikan dalam ranah politik. Kekuatan kapital-finansial tidak terletak pada kemampuannya untuk membentuk pemerintahan dalam bentuk apapun dan kapanpun, sesuai keinginannya; kapital-finansial tidak memiliki kemampuan ini. Kekuatannya terletak pada kenyataan bahwa setiap pemerintahan non-proletar dipaksa untuk melayani modal keuangan; atau lebih baik lagi, bahwa kapital-finansial memiliki kemungkinan untuk mengganti setiap sistem dominasinya yang rusak dengan sistem lain yang sesuai dengan kondisi yang berubah. Namun, peralihan dari satu sistem ke sistem lain, yang dengan berjalannya aktivitas proletar revolusioner, dapat diubah menjadi bahaya sosial bagi kaum borjuis. Peralihan demokrasi parlementer ke Bonapartisme sendiri diiringi oleh perang saudara di Prancis. Perspektif peralihan dari Bonapartisme ke fasisme penuh dengan gangguan yang jauh lebih hebat dan akibatnya juga kemungkinan revolusioner. Hingga kemarin, kaum Stalinis menganggap bahwa ‘kesalahan utama’ kita adalah melihat fasisme sebagai kaum borjuis-kecil dan bukan kapital-finansial. Dalam kasus ini mereka menempatkan kategori-kategori abstrak sebagai pengganti dialektika kelas-kelas. Fasisme adalah cara khusus untuk mengorganisasikan borjuis-kecil demi kepentingan sosial kapital finansial. Selama rezim demokrasi, kapital mau-tidak-mau berusaha untuk menanamkan rasa percaya diri kaum borjuis-kecil yang reformis dan pasifis dengan kebencian kepada kaum proletar. Sebaliknya, jalan menuju fasisme tidak dapat dibayangkan tanpa terlebih dahulu meresapi kaum borjuis-kecil dengan kebencian terhadap proletar.”

Dari pengalaman perjuangan kelas pekerja internasional selama lebih dari satu abad terakhir, Bonapartisme atau fasisme tampil sebagai metode di tangan borjuasi untuk melawan revolusi proletar. Di Indonesia, kaum buruh dan tani memiliki ingatan kuat akan fenomena tersebut. Pada permulaan 1960-an, dislokasi perekonomian nasional berlangsung kronis: defisit mencapai 100-300 persen, inflasi 20-600 persen, dan pencetakan uang 40-600 persen. Protes, demonstrasi, dan pemogokan meledak-ledak. Massa pekerja industri dan buruh tani bergerak secara tidak-sadar atau setengah-sadar untuk mengakhiri krisis masyarakat kapitalis. Namun kekosongan kepemimpinan revolusioner berarti krisis kapitalisme akan berlangsung berlarut-larut, dengan pemiskinan umum proletariat dan meluasnya proletarisasi di antara borjuis-kecil, yang menciptakan kengerian di dada petani kecil dan kesuraman di kepala kaum intelektual. Ketidakstabilan sosial yang akut dan tidak mampu diakhiri secara revolusioner ini menjadi basis peralihan dari rezim borjuis demokratik ke rezim borjuis Bonapartis. Lapisan-lapisan borjuis-kecil yang kondisi sosialnya telah hancur di bawah godam krisis ekonomi dan politik, yang tingkat keamanannya runtuh dan tidak pernah terserap oleh industri, menyebrang ke arah reaksi dengan menjadi lumpen-proletar yang bertahan hidup dengan menjilat pantat dan kemaluan kelas borjuis secara keseluruhannya. Dan kapital finansial yang belum sampai pada tingkat krisis terdalamnya, yang mengambil bentuk krisis keuangan dan utang tanpa preseden, cenderung mendanai gerombolan borjuis-kecil dan lumpen-proletar untuk menjadi basis reaksinya. Dengan pendanaan yang besar, organisasi-organisasi reaksioner massa borjuis-kecil dan lumpen-proletar dimobilisasi di bawah kedok-kedok politik identitas agama, ras, gender, dan nasionalisme. Ketakutan menyaksikan gerakan massa buruh pabrik dan buruh tani yang semakin radikal yang terus berjuang untuk melampaui legalitas borjuis maka kaum kapitalis segera mengganti cara-cara parlementerisme dengan Bonapartisme.

Di bawah panji Demokrasi Terpimpin, Soekarno terangkat menjadi demagog yang berkuasa dengan pedang. Pendukung utama Soekarnoisme adalah borjuis-kecil yang marah dan kecewa terhadap perjuangan massa yang dipimpin oleh PKI (Stalinis). Hubungan dialektis antara kehancuran ekonomi (faktor obyektif) dan kekeliruan politik Stalinis (faktor subyektif) di sini sangat menentukan dalam mengonsolidasikan basis sosial yang menyangga Bonapartisme atau fasisme. Kesesatan Stalinisme dalam memandu perjuangan kelas untuk mengakhiri krisis masyarakat ini meluaskan kesangsian dan kebencian para intelektual dan petani kecil terhadap gerakan buruh. Berada pada periode bergejolak yang menempatkan revolusi proletar sebagai agenda, Kepemimpinan Stalinisme-Aiditisme tidak pernah memandu perjuangan revolusioner massa untuk maju menuju penghancuran negara dan demokrasi borjuis: menegakkan kediktatoran proletariat melalui mobilisasi massa dalam aksi-aksi revolusioner. Daripada menetapkan tugas perebutan kekuasaan oleh partai kelas buruh yang dibantu kaum tani miskin untuk tampil sebagai pemimpin bangsa, Kepemimpinan Stalinis pada momen-momen puncak perjuangan kelas justru melemahkan massa yang diorganisirnya dengan kebijakan kolaborasi-kelas yang membuka jalan menuju reaksi. Dengan memimpin 3 juta anggota serta 20 juta pengikut dan simpatisan, Partai Komunis memiliki kekuatan besar untuk menggulingkan borjuasi; namun dipimpin oleh kaum Stalinis yang mendasarkan diri pada teori revolusi dua-tahap, Partai Komunis dilikuidasi dalam pembangunan Front Nasional yang mengikatnya dengan program Manipol-Usdek borjuis. Di bawah Pemerintahan Front Nasional—yang menyatupaksakan golongan ABRI, petani, pemuda, perempuan, dan pekerja—kebijakan kolaborasi kelas PKI berpadu dengan upaya Soekarnois untuk menyeimbangkan kelas-kelas antagonis. Ini pada gilirannya semakin meningkatkan kemandirian negara atas masyarakat; di mana Rezim Boenapartis-Soekarnois yang telah menggantikan kekuasaan parlemen dengan kebesaran Soekarno, bertindak lebih jauh dengan menunjuk Kabinet, Dewan Pertimbangan Agung, dan Penguasa Tertinggi Militer untuk mengontrol keadaan darurat, serta Komando Operasi Tertinggi untuk mengganyang Malaysia dan menaklukan Papua Barat. Langkah-langkah demikian memberikan pelayanan terhadap kapital finansial: bukan saja untuk menajamkan pedangnya tapi juga memandikannya dengan darah berjuta-juta buruh dan tani—penghancuran fisik organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar. Kudeta Merangkak G30S dan Tragedi 1965-66 adalah momen peralihan dari satu Rezim Bonapartis ke Rezim Bonapartis lainnya, yang merupakan bagian dari keseluruhan transisi demokrasi parlementer ke fasisme.

Marxisme telah menegaskan bahwa negara pada analisa terakhir adalah ‘badan khusus orang-orang bersenjata’, yang melayani kepentingan kelas yang berkuasa dengan kontrol dan pengawasan yang luar biasa terhadap perjuangan massa, supaya tidak bergerak lebih jauh untuk melampaui batas-batas yang bisa diterima. Pada periode kritis dalam sejarah, tatkala krisis masyarakat kelas semakin mendalam dan perjuangan kelas mencapai puncaknya, maka batasan-batasan kepemilikan pribadi dan negara-bangsa mendapat sorotan tajam dengan mengemukanya masalah-masalah kekuasaan yang begitu rupa: entah kelas revolusioner yang sedang bangkit menggulingkan negara lama dan mendirikan kekuasaan baru, atau kelas penguasa menghancurkan revolusi dan menunjukkan kediktatoran reaksionernya secara terbuka—bukan lagi dalam kedok republik demokratik atau demokrasi parlementer tapi Bonapartisme atau fasisme. Ini berlangsung ketika kelas-kelas yang bertempur telah berjuang sampai tetes darah penghabisan tanpa hasil yang jelas. Inilah saatnya perjuangan di antara kelas-kelas antagonis berada pada keseimbangan yang tidak-stabil; di mana dalam ketidakstabilan basis ekonomi inilah ‘Negara’ mendapatkan kemandirian yang lebih besar untuk mempertahankan status-qou dengan ayunan tangan besinya. Namun saat ini keseluruhan situasi dunia tidak menempatkan rezim pedang borjuasi sebagai agenda. Keruntuhan dunia kapitalisme kini menyeret negeri-negeri kapitalis maju dalam onggokan pinjaman berbunga dan negeri-negeri kapitalis terbelakang dalam ancaman kebangkrutan yang nyata. Krisis utang membuat kelas penguasa tidak mampu lagi mengalirkan hujan pendanaan yang deras untuk membesarkan dan mempertahankan organisasi-organisasi reaksioner borjuis-kecil dan lumpen-proletar seperti di masa lalu. Tanpa ketersediaan dana yang berlimpah maka kemampuan kelas penguasa untuk memobilisasi massa petani kecil dan kaum intelektual yang membusuk dalam krisis masyarakat ini menjadi lemah. Kekuatan pemerintah borjuasi untuk memobilisasi massa reaksioner bersandar pada kantong uang, bukan simpati umum dan bantuan aktif dari rakyat terhisap dan tertindas. Sekarang negara borjuis di seluruh dunia bukan saja tidak memiliki cukup uang untuk mendanai gerakan reaksioner yang meluas tapi terutama tidak berhadapan dengan kondisi kehancuran umum gerakan buruh sebagai prasyarat terbentuknya basis reaksi yang besar untuk mengaktifkan fasisme. Di zaman krisis terminal kapitalisme ini ketidakstabilan sosial dan politik yang berlarut-larut berlangsung di berbagai negeri. Namun semua ketidakstabilan yang terjadi takkan pernah dapat membuka jalan untuk kebangkitan fasisme tanpa terlebih dahulu pertempuran antara borjuasi dan proletariat sampai pada titik kritis perjuangan kelas: pertempuran puncak untuk perebutan kekuasaan tanpa ada yang meraih kemenangan dan tersandung kekalahan, yang bertahan dan dihancurkan.

Saat ini perjuangan kelas-kelas antagonis belum sampai pada tahap perebutan kekuasaan, apalagi berada dalam keseimbangan tidak-stabil yang dapat memanggil kekuasaan Bonapartis atau fasis. Meskipun sekte-sekte ultrakiri borjuis-kecil radikal, baik organisasi Stalinis maupun kelompok Anarkis, berteriak-teriak mengenai ancaman kebangkitan fasisme tapi perimbangan kekuatan-kelas yang hidup tidak menunjukkan itu. Dalam krisis dunia kapitalisme di zaman kita; borjuasi telah kehilangan banyak basis-massa reaksi borjuis-kecilnya, sementara serikat-serikat buruh masih utuh dan proletariat tumbuh lebih kuat. Sekarang cadangan reaksi sudah menipis: sebagian besar borjuis-kecil yang keberadaan sosialnya dihancurkan dalam krisis kapitalisme tidak dapat dengan mudah dimobilisasi secara politik untuk menjadi lumpen-proletar, karena keseluruhan situasi sedang mengubah mereka untuk menjadi bagian terluas dari kelas proletar—semi-proletar. Ketika kekuatan umum kelas pekerja—terutama serikat-serikat buruh—semakin tumbuh; kelas revolusioner bersama seluruh pasukan cadangannya dalam masyarakat ini takkan mudah dikalahkan untuk membuka jalan bagi kebangkitan fasisme. Sebuah kondisi yang perlukan untuk bangkitnya fasisme adalah kehancuran dari organisasi-organisasi tradisional kelas pekerja dan kekecewaan umum dari lapisan-lapisan borjuis-kecil terhadap gerakan buruh. Fasisme hanya dapat berkuasa ketika perjuangan kelas-kelas antagonis telah sampai di tahap puncak dengan kelas revolusioner yang dihancurkan dalam pertempuran yang menentukan. Kini kondisi untuk kekuasaan Bonapartis atau fasis sama sekali tak-terpikirkan: proletar belum memasuki perjuangan penghabisan dalam melawan borjuis dan kekuatan revolusioner beserta cadangan kekuatannya tidaklah dalam posisi dikalahkan dan hancur. Dalam “Who has there not need a revolution? THE NEED FOR REVOLUTIONARY LEADERSHIP” dan “The Ideas of Karl Marx”, Alan Woods menulis:

“Krisis saat ini—yang bersifat internasional—secara kualitatif berbeda dengan krisis masa lalu. Dalam dua tahun terakhir, jutaan rakyat pekerja perlahan tapi pasti telah menarik kesimpulan. Di mana-mana, di bawah permukaan yang tampaknya tenang, ada ketidakpuasan yang sangat besar. Massa diliputi oleh kemarahan, rasa ketidakadilan yang membara, dan di atas segalanya, perasaan frustasi yang tak-tertanggungkan…. Seruan demagogi untuk persatuan nasional disambut dengan skeptisisme oleh massa rakyat yang menyaksikan sinisme, keserakahan, dan keegoisan kelas penguasa … Mood dan kekecewaan yang terus menumpuk sekarang muncul ke permukaan. Dukungan pada status-qou dan pemerintah serta politisi yang kini berkuasa tengah menurun dengan cepat. Tapi semua ini tidak secara otomatis mengarah pada revolusi sosialis yang sukses. Trotsky pernah mengomentari Revolusi Spanyol, bahwa kaum buruh Spanyol bisa saja mengambil-alih kekuasaan tidak hanya sekali tapi sepuluh kali. Namun dia juga menjelaskan bahwa, tanpa kepemimpinan yang memadai, bahkan pemogokan yang paling radikal sekalipun tidak menyelesaikan apapun…. Ada banyak persamaan tahun 1920-1930-an dan situasi hari ini. Tetapi ada juga perbedaan penting. Sebelum Perang Dunia Kedua, situasi pra-revolusioner tidak dapat bertahan lama, dan akan segera diselesaikan dengan gerakan entah ke arah revolusi atau kontra-revolusi (fasisme). Tapi tidak demikian hari ini. Di satu sisi, kelas penguasa tidak memiliki basis massa reaksioner (kelas borjuis-kecil) seperti di masa lalu. Di sisi lain, degenerasi [kepemimpinan reformisme] organisasi buruh yang sebegitu parahnya telah menjadi penghalang besar yang mencegah proletariat mengambil-alih kekuasaan.”

“Tanpa para pemimpin reformis, kapitalisme tidak dapat bertahan bahkan selama seminggu. Oleh karena itu, pembicaraan tentang bahaya fasisme dan Bonapartisme tidak masuk akal saat ini. Kelas penguasa di seluruh Eropa harus mendasarkan dirinya pada para pemimpin organisasi massa buruh pada tahap ini. Setiap upaya untuk bergerak ke arah fasisme atau Bonapartisme pada titik ini hanya akan memprovokasi gerakan buruh untuk bertindak. Tentu saja, ini bisa berubah. Krisis saat ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Pada titik tertentu, kelas penguasa akan berkata: terlalu banyak pemogokan, terlalu banyak demonstrasi, terlalu banyak kekacauan. Kita perlu memulihkan ketertiban! Lalu mungkin ada gerakan menuju reaksi. Tetapi bahkan dalam kasus seperti itu, kelas penguasa harus melakukan dengan hati-hati, pertama-tama menguji tanah dengan bergerak ke arah Bonapartisme parlementer….”

Di masa lalu, kelas borjuis dapat membeli perdamaian sosial dengan reforma dan menegakkan ketertiban dengan mendirikan pemerintahan fasis. Di zaman kita, setiap manuver politik justru mendapat sorotan tajam dan beragam tindakan untuk reaksi memicu perlawanan besar. Dalam periode sejarah saat ini, basis sosial-ekonomi untuk memanggil fasisme sangatlah lemah—bukan saja karena lapisan-lapisan borjuis-kecil yang ada cenderungan mendukung pembalikan revolusioner proletariat tetapi juga dengan tingkat hutang yang menjulang dan tanpa adanya boom ekonomi seperti masa-masa terdahulu maka upaya kelas penguasa untuk mendirikan rezim fasistik dengan pembiayaan militer yang sangat mahal dan kecenderungan kronisme akan menenggelamkannya dalam krisis hutang dan kebangkrutan dengan segala penderitaan yang dibebankan kepada rakyat pekerja. Di negeri-negeri yang sebelumnya menjadi tempat borjuasi terpaksa mempertaruhkan kekuasaannya pada kartu fasisme, sekarang telah meluncur dengan mata terbuka menuju bencana ekonomi dan militer yang begitu rupa. Ekonomi perang imperialis atau pengeluaran militer kapitalis adalah beban-mati bagi masyarakat ini, yang menjelma sebagai modal-fiktif di mana kapital tidak diinvestasikan kembali dalam produksi, dan oleh karenanya, tidak dapat menciptakan nilai-lebih karena tidak menjadi bagian dari sirkulasi dan reproduksi kapitalisme. Setiap upaya borjuasi untuk meningkatkan pertahanan dan keamanannya, untuk menguatkan kapasitas polisi dan tentara regulernya, atau untuk memaksakan kekuasaan pedang tanpa memperhatikan ketersediaan basis massa reaksioner dan anggaran yang cukup untuk mendanainya, akan berkontribusi pada peningkatan inflasi dan gejolak politik di negerinya. Kini kaum kapitalis dan imperialis di dunia kepemilikan pribadi dan kemahakuasaan uang yang sedang runtuh ini hanya mampu menunjukkan kecenderungan untuk bergerak ke arah Bonapartisme parlementer; yakni, dengan meninggikan dirinya di atas bangsa, parlemen-parlemen borjuis menggencarkan reformasi konstitusional dan beragam peralihan peraturan keji untuk memperpanjang nafas kapitalisme. Ini menandai kondisi sejarah dan hubungan-hubungan dalam masyarakat yang sedang berada pada momen perjuangan kelas yang intens, dengan fluktuasi periodik yang sangat tajam dan perubahan situasi yang luar biasa mendadak. Ini berarti akan marak peristiwa yang tiada terduga yang pasti meletus, menggoncang tatanan sosial dan politik secara mendasar, dan menghasilkan pergeseran kesadaran secara dramatis. Laki-laki dan perempuan biasa yang tertidur dalam keadaan terlentang, penuh ketidakpedulian, dan diselimuti rutinitas oleh ledakan peristiwa diseret ke medan perjuangan kelas yang sedang bangkit. Dari aksi-aksi Reformasi Dikorupsi, Mosi Tidak Percaya, Indonesia Darurat, hingga Gerakan Indonesia Gelap menunjukkan kebenaran tersebut. Dalam ketidakstabilan sosial dan politik yang terus berlanjut, dengan setiap perkembangannya yang merangsang pasang naik dan surutnya gerakan mahasiswa dan pelajar di sekitar dukungan bawah-sadar atau setengah-sadar pada kepentingan proletariat, bukan ancaman kebangkitan fasisme yang harus dikhawatirkan tapi kekosongan kepemimpinan revolusioner dalam perjuangan massa: karena dalam krisis yang berlangung lama, kelemahan politik revolusioner untuk memberikan ekspresi yang sadar dan terorganisir bagi angkatan muda dan buruh, akan mengancam menyuburkan suasana anarkis di satu sayap dan suasana reformis di sayap lainnya.

Kini babak baru Gerakan Indonesia Gelap telah dibuka. Gerakan mahasiswa dan pelajar yang membawa percikan radikalisasi dalam kemampuan mobilisasinya yang menyebar secepat kilat di kampus-kampus dan sekolah-sekolah, sangat ditakutkan oleh kelas penguasa akan prospeknya untuk menyentuh gerakan buruh. Meningkatnya represi negara melalui kebrutalan polisi dan tentara yang ditujukan terhadap kaum muda menunjukan ketakutan itu. Di masa-masa normal atau relatif damai, kelas penguasa menjalankan kendali atas negara dengan menanam keyakinan naïf melalui institusi-institusi pendidikan dan demokrasinya. Namun dalam periode-periode pra-revolusioner atau revolusioner, persoalan-persoalan mengenai negara akan terungkap dalam metode-metode yang paling kasar. Dalam memadamkan kobaran Indonesia Gelap, langkah-langkah militer adalah yang digunakan pemerintahan borjuis. Setiap kali kelas penguasa yang telah memegang kekuasaan selama berabad-abad, berhadapan langsung dengan kebangkitan massa yang dapat mengarah pada perenggutan kekuasaan dari tangannya, nalurinya untuk berkuasa menjadi semakin sensitif. Tapi dalam krisis sosial dan politik di zaman kita, suasana hati masyarakat ini—yang terekspresikan dalam gerakan angkatan muda sebagai barometer paling akuratnya—telah dipenuhi dengan kebencian mendalam terhadap korupsi dan kebrutalan seluruh aparat birokrasi dan badan khusus orang-orang bersenjatanya. Polisi dan tentara yang mewakili kekuatan represif negara borjuis, inti pertahanan bagi kepemilikan pribadi dan hak istimewa kelas borjuis, tidak akan pernah berhasil merintangi jalannya kaum muda yang sedang bangkit. Dalam melawan teror tentara-polisi, gerakan pelajar dan mahasiswa telah membentuk barikade secara mendadak. Namun ini tidak cukup. Barikade pertahanan diri yang kuat tidak sekedar menuntut angkatan muda untuk berlatih dan membiasakan diri menggunakan senjata, tetapi terutama harus melibatkan perjuangan revolusioner untuk mempersenjatai pekerja sebagai nukleus dari kediktatoran proletariat. Perlawanan terhadap badan khusus orang-orang bersenjata, melawan polisi dan tentara reguler yang terorganisir, tidak mungkin dilakukan tanpa pengorganisasian milisi rakyat pekerja sebagai badan kolektif pelindung gerakan massa. Hanya lapisan massa bersenjata yang dapat memberi perlindungan yang paling nyata di hadapan gempuran kekuatan reaksi. Perjuangan massa untuk kediktatoran proletariat adalah menyangkut bentuk negara yang akan menghancurkan kediktatoran borjuis—negara dan demokrasi borjuis. Dalam “Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 14), kami menulis:

“Marx dan Engels, Lenin dan Trotsky, menggunakan materialisme dialektis untuk menjawab pertanyaan mendasar yang dihadapi umat manusia hari-hari ini: bagaimana mengakhiri persoalan masyarakat kapitalis? Dalam Revolusi Oktober—Marxisme bukan sekadar menunjukkan peran sentral dari Kepemimpinan Revolusioner (Bolshevisme) tapi sekaligus menegaskan bahwa Kediktatoran Proletariat adalah yang esensial dalam perjuangan penggulingan kapitalisme di zaman imperialis. Pada Maret 1852, Karl Marx—dalam “Surat untuk J. Weydemeyer di New York”—bahkan pernah menerangkan tentang arah pembangunan keseluruhan yang akan menggulingkan kelas borjuis: (1) Keberadaan kelas hanya terikat pada ‘fase-fase sejarah tertentu dalam perkembangan produksi’; (2) Perjuangan kelas pasti mengarah kepada ‘kediktatoran proletariat’; dan (3) Kediktatoran itu sendiri hanyalah merupakan transisi menuju ‘penghapusan semua kelas’ dan menuju ‘masyarakat tanpa kelas’. Inilah kebutuhan historis yang diabaikan oleh kaum-kaum Stalinis, Maois, Aiditis, bahkan Lorimeris. Daripada menyatukan secara organis perjuangan untuk pembebasan nasional dan ‘kebutuhan’ akan revolusi internasional dengan memperjuangkan kediktatoran proletariat, atau menghubungkan program minimum dan maksimum dengan sistem ‘tuntutan transisional’ yang mengorientasikan kediktatoran proletariat, atau secara teguh membawa tuntutan-tuntutan demokratik untuk melampaui ‘legalitas borjuis’ dengan mengusung kediktatoran proletariat, atau memandu pembangunan sosialisme dengan kediktatoran proletariat; Stalinisme (Teori Sosialisme di Satu Negeri)—dan semua tendensi ideologi dan politik yang secara sadar atau tidak-sadar mengalir darinya—justru secara terbuka atau sembunyi-sembunyi menganjurkan perjuangan untuk revolusi demokratik dan sosialis secara bertahap, membangun kepemimpinan politik dan organisasional di sekitar aliansi dan front-front yang cenderung berkolaborasi-kelas, menyejajarkan partai dengan kelas dengan memaksakan kebijakan dan taktik front populer atau strategi mobilisasi persatuan, menyangkal dialektika ‘pembangunan keseluruhan’ dengan menekankan pada metode-metode ‘pembangunan bagian’, dan secara keseluruhannya mengabaikan tugas strategis pembangunan Partai Komunis Revolusioner di skala nasional dan internasional. Dan tanpa pembangunan keseluruhan inilah, yakni mempersiapkan kepemimpinan revolusioner Bolshevisme dan Komunis Internasional, mereka tidak akan pernah sanggup membuka jalan menuju fase transisi: periode kediktatoran proletariat dengan agenda transformasi sosialis, yang bertugas membangun masyarakat komunis di atas puing-puing keruntuhan masyarakat kapitalis.”

Kediktatoran proletariat adalah inti dari Teori Marxis tentang ‘Negara Buruh’, yang tanpanya maka segala pembicaraan mengenai penghancuran kapitalis dan rekonstruksi sosialis menjadi bualan semata. Dalam “Negara dan Revolusi”, Lenin mengajukan empat syarat mendasar untuk menegakkan kediktatoran proletariat—negara dan demokrasi proletar: (1) Pemilu yang bebas dan demokratis terhadap semua pejabat dengan hak untuk me-recall semua pejabat setiap saat; (2) Tiada satupun pejabat yang boleh menerima upah yang lebih tinggi seorang buruh terampil; (3) Tidak terdapat polisi dan tentara reguler, melainkan rakyat yang dipersenjatai; dan (4) Berangsur-angsur seluruh tugas pengeloaan negara dilaksanakan secara bergilir oleh kelas pekerja; ketika setiap orang menjadi birokrat, maka tidak ada seorangpun birokrat. Pertanyaan-pertanyaan mengenai kediktatoran proletariat, akan mengemuka ketika kelas proletar mulai bergerak untuk mencari jalan keluar, bukan atas dasar masyarakat lama tapi sepanjang jalur pemberontakan revolusioner. Selama babak pembuka Gerakan Indonesia Gelap, kelas pekerja—lebih-lebih yang paling maju, berpikiran terbuka dan bertekad baja—memang belum bergabung ke dalam aksi-aksi mahasiswa dan pelajar. Tetapi ini tidak berarti orientasi akan kediktatoran proletariat harus dikubur dan dibiarkan berkarat di bawah permukaan sosial yang gelap. Dalam “Program Transisional”, Trotsky telah menjelaskan apa-yang-menjadi tugas strategis di zaman kita. Itu adalah: ‘mengatasi kontradiksi antara kondisi revolusioner obyektif yang telah matang dan ketidakmatangan proletariat serta pelopornya (kebingungan dan kekecewaan generasi tua, dan generasi muda yang kurang berpengalaman). Dalam proses perjuangan sehari-hari, kita harus membantu massa untuk menemukan jembatan penghubung antara tuntutan-tuntutan hari ini dan program revolusi sosialis. Jembatan penghubung ini harus melibatkan sistem “tuntutan transisional”, yang mengambil titik-tolak dari kondisi hari ini dan dari kesadaran luas kelas proletar hari ini dan secara tak-terelakkan menuju ke satu kesimpulan akhir: penaklukan kekuasaan oleh proletariat.’ Dalam perjuangan kelas yang hidup, tidak ada tahapan-tahapan yang bersifat mutlak dan menjadi bagian-bagian yang terpisah dengan pembangunan keseluruhannya. Di tengah krisis dunia kapitalisme, pembangunan sejarah secara keseluruhan sedang mengarah kepada kediktatoran proletariat; di mana setiap bagian atau tahapan perjuangan kelas yang ada akan menuntut gerakan massa untuk menyebar ke dalam kelas buruh, supaya perjuangan massa diberi karakter internasional dan bobot-sosial atau daya-ungkit ekonomi yang kuat dari kelas proletar untuk mengakhiri kapitalisme secara revolusioner—revolusi sosialis.

Di skala internasional, seluruh peristiwa sedang dipercepat oleh ketidakstabilan yang menjadi elemen utama yang menggoncang sistem keuangan, sosial, politik, dan militer negeri-negeri kapitalis maju dan terbelakang. Tetapi kondisi sejarah di mana revolusi terjadi akan berbeda dari satu negeri dengan negeri lainnya dan menurut kondisi-kondisi inilah taktik-taktik perjuangan-khusus di berbagai negeri juga berbeda-beda. Aktivitas masa lalu masyarakat dan peristiwa sejarah sebelumnya membatasi keputusan dan kemungkinan yang tersedia bagi angkatan proletar yang hidup di masing-masing negeri hari-hari ini. Kepercayaan terhadap pemimpin reformis dan negara borjuis, ilusi akan reformasi dan demokrasi borjuis, serta aneka prasangka terdahulu membebani pikiran mereka sebagai mimpi buruk yang diwarisi dari orang-orang yang telah mati. Sebab-sebab spesifik macam ini tidak saja membedakan tahap-tahap perjuangan kelas di pelbagai negeri, melainkan pula menentukan sikap proletar dalam menanggapi krisis kapitalisme di negerinya masing-masing. Meskipun untuk semua tujuan praktis rakyat pekerja di sebuah negeri melancarkan perjuangannya seturut tahap-tahap perkembangan historis yang spesifik-nasional, namun dalam isinya setiap perjuangan kelas proletar berkarakter internasionalis sesuai dengan kapitalisme yang bersifat internasional. Dan, memasuki periode sejarah dunia yang meledak-ledak, dengan kontradiksi yang bertambah tajam dan ketidakstabilan yang semakin meluas, perbedaan-perbedaan historis akan digabungkan dalam persamaan masing-masing negeri untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan konkret mengenai bobot-sosial proletariat, hubungannya dengan kelas-kelas lainnya, kekuatan organisasi-organisasinya, pengalaman dan tingkat budayanya, tradisi dan temperamen nasionalnya. Pada titik ini tahapan historis yang berbeda-beda mengalami pembauran satu sama lain—untuk memajukan perkembangan tenaga-tenaga produktif yang ada—berdasarkan hukum-hukum tertentu. Pada analisa terakhir, arah dari tahap-tahap perkembangan historis yang unik akan ditentukan oleh sebab-sebab umum: perkembangan-perkembangan kekuatan produksi dan hubungan timbal-balik dalam proses sosio-ekonominya.

Di zaman kita, arah perjuangan massa akan ditentukan oleh krisis dunia kapitalisme. Dalam “Program Transisional”, Trotsky berkata: ‘orientasi massa pertama-tama ditentukan oleh kondisi obyektif pembusukan kapitalisme, dan kedua, oleh politik pengkhianatan dari organisasi-organisasi buruh yang lama. Dari faktor-faktor ini, faktor pertama tentu saja adalah faktor yang menentukan: hukum sejarah lebih kuat daripada aparatus birokrasi. Tidak peduli bagaimana metode-metode dari para pengkhianat ini berbeda—dari undang-udang “sosial”-nya Leon Blum sampai ke pengadilan fitnahnya Stalin—mereka tidak akan pernah berhasil mematahkan semangat revolusioner proletar.’  Proletariat adalah satu-satunya kelas yang sanggup memikul takdir historis untuk memimpin bangsa dalam mengakhiri kapitalisme secara revolusioner. Dalam dinding-dinding beton yang gerbang-gerbang besinya dikunci dengan gembok-gembok dan rantai-rantai besar; suasananya bagai suasana hati para tiran—yang siangnya terasa gelap, dan ketika malam membesit, menjadi semakin gelap, hingga tidak terlihat apa-apa kecuali karnaval alat-alat potong, cetakan, kawat dan roda gigi yang perkasa melahap tinta dan kertas atas paduan tangan dan kaki, tulang dan otot, yang gerah dan panas, berkeringat dingin dan menggigil dalam kerja keras. Yang membuat cucuran air putih dari botol-botol bekas, yang ditambah dengan cucuran dari galon-galon bocor dan cawak-cawan retak, tidak pernah lebih banyak daripada keringat yang mengalir keluar dari tubuh yang diperas. Di sini—keseluruhan energi harus dikuras, sampai semuanya sangat-sangat lelah; sampai ketika orang-orang kembali bekerja di pagi hari sama lelahnya dengan saat mereka meninggalkannya. Tapi meskipun tubuh laki-laki dan perempuan pekerja diperas sampai tetes darah dan keringat terakhir, jiwa mereka berkilau dan kuat, seperti kristal dan listrik yang menyengat. Jam kerja yang panjang dan mobilitas yang kencang dalam proses mekanisasi yang kejam, yang membuat rehat semalam suntuk seakan tidak cukup untuk melihat hari esok, sama sekali tidak dapat melemahkan naluri dan menghancurkan kognisi kelas proletar: perbudakan kerja-upahan hanya mengendalikan tubuh material yang lapar dan tidak mungkin membatasi perkembangan mental yang memiliki eksistensi otonom yang ditentukan oleh keseluruhan keberadaan sosial proletariat.

Apa itu bekerja? Itu adalah perang yang terdengar merdu. Gema upahnya terlalu baik pada perut yang lapar. Seonggok kebaikan yang jahat dalam hari-hari yang berkecamuk—dan kejahatan besar bagi jiwa yang halus. Apa itu istrahat? Itu adalah gencatan senjata sementara setelah pertempuran harian yang keras. Dan untuk setiap prajurit di medan tempur, anggota tubuhnya seperti tercemeti di sel, untuk menambah kemewahan tirani yang barbar. Para pengais roti yang diatur untuk bangun lebih pagi dan tidur lebih malam, yang memasuki dan meninggalkan barak-barak produksi dengan melewati lorong-lorong penggeledahan, dan kaki dan tangannya berada di bawah pengawasan yang ketat dan tajam—mereka hanya dikendalikan secara fisiologis atas ketakutan mati kelaparan. Dalam “The Intelligensia and Socialism”, Trotsky menerangkan: ‘meskipun memperbudak otot dan melelahkan tubuh, kerja pabrik tidak berdaya untuk menundukan pikiran pekerja. Semua tindakan yang telah dicoba untuk mengendalikan yang terkahir, di Swiss seperti di Rusia, terbukti sama-sama tidak membuahkan hasil. Kerja-mental dari sudut pandang kerja-fisik jauh lebih bebas. Penulis tidak harus bangun ketika alarm berbunyi, di belakang dokter tidak berdiri pengawas, saku pengacara tidak digeledah ketika dia meninggalkan pengadilan. Namun sebagai gantinya, mereka dipaksa bukan hanya menjual daya kerjanya, bukan hanya ketegangan ototnya, tetapi seluruh kepribadiannya sebagai manusia—dan bukan karena rasa takut melainkan karena profesionalitas.’ Di arena pertempuran sehari-hari, tidak ada Aristoteles yang memandikan babi atau rohaniawan yang menggembalakan domba; kehidupan konkret membentuk karakter kaum buruh untuk menjadi raksasa, bukan pigmi dengan karakter kardus yang biasa ditemui dalam fiksi-fiksi populer. Di medan-medan yang menguras tenaga dan penuh jebakan, dalam terpaan hujan petir dan angin topan krisis sosial dan politik yang mendalam, terdapat kemauan keras yang berwarna metalik dan menyala dengan daya hidup yang tak pernah padam. Inilah kehendak bawah-sadar atau setengah-sadar untuk kemajuan material umat manusia yang terpendam di dasar jiwa kaum produsen. Dan kehendak ini hanya bisa diekspresikan secara terorganisir dan sadar dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner. Dalam proses perkembangan Gerakan Indonesia Gelap, pertanyaan tentang kepemimpinan telah mengemuka dan menuntut untuk dijawab. Kemajuan dan kemunduran perjuangan massa akan menjadi tanggung-jawab kepemimpinannya. Dipandu oleh kepemimpinan yang berpedoman pada teori yang keliru, angkatan muda terancam diseret dalam periode penurunan dan demoralisasi. Tanpa faktor subyektif yang hanya sanggup dipenuhi oleh kepemimpinan revolusioner, gerakan pelajar dan mahasiswa yang sedang bangkit atas rangsangan faktor obyektif krisis dunia kapitalisme ini, tidak akan pernah menemukan panduan yang utuh dan berorientasi jauh ke depan untuk melangkah ke periode perjuangan massa yang lebih tinggi. Hanya dengan kepemimpinan yang berpedoman pada teori yang paling maju, tahap pertama perjuangan kelas akan dihubungkan secara dialektis dengan tahap-tahap berikutnya; awal kebangkitan massa akan diorientasikan dengan perspektif, program, taktik dan slogan yang dapat membuka jalan bagi kediktatoran proletariat. Dengan kata lain: peran kepemimpinan akan menjadi satu-satunya jembatan yang dapat menjamin keterhubungan massa pelajar dan mahasiswa dengan massa buruh secara organisasional dan politik. Dalam “Tugas Angkatan Muda dalam Kegelapan Dunia Kapitalisme”, kami menulis:

“…Setiap gerakan muda yang ingin memantaskan dirinya untuk revolusi harus menyebar ke dalam gerakan buruh dan menghadapi segala rintangan yang ada. Di barak-barak kerja yang kotor dan penuh penyakit, yang mengurung laki-laki dan perempuan dalam unit-unit rutinitas yang mengancam dengan kehancuran diri total, terkandung saripati kehidupan yang luar biasa berdaya; tidak tunduk pada rasa lelah, sebuah kemauan hidup yang membara, dan sumber mata air merah bagi dahaga umat manusia. Semua ini menggumpal dalam gairah yang tertekan dan dianggap berbahaya karena dapat menghancurkan tatanan yang ada. Di balik tempat-tempat kerja yang menyuguhkan ketenangan relatif, tersembunyi keberanian, kemuakan, amarah, dendam, dan kebencian mendalam terhadap keseluruhan sistem masyarakat ini. Di dasar jiwa kaum buruh, yang dikondisikan oleh keberadaan sosialnya sendiri, terdapat dorongan naluriah yang berkeliau dan kuat seperti arus listrik yang menyengat. Semuanya mengintai di alam bawah-sadar atau setengah-sadar pekerja sepanjang waktu dan hanya butuh percikan untuk meledakannya ke permukaan. Namun untuk menyebar secara terorganisir dan sadar ke dalam gerakan buruh, para pelajar dan mahasiswa yang teradikalisasi membutuhkan kepemimpinan yang memadai. Jika gerakan mahasiswa dan pelajar yang sedang bangkit, yang walaupun diberkati dengan waktu-luang yang cukup, sekedar tertarik bernyanyi dan berlayar, berpidato dan bergerak, tanpa memiliki harapan dan keyakinan yang teguh, yang diilhami oleh panduan aksi yang terang, luas dan mendalam untuk penggulingan masyarakat-kelas secara revolusioner—banyak perahu yang akan karam, menghantam batu-batu karang di tengah lautan badai sosial dan politik yang berkabut hitam pekat. Dalam dunia kapitalisme yang sedang sekarat, kegelapan selalu menjadi ekspresi dari mimpi buruk tapi hitam dapat mengekspresikan kedalaman dan keluasan, kekokohan dan keteguhan. Keharusan juga kebetulan. Di mana di antara warna-warna hitam, mengalir warna merah darah rakyat—kemanusiaan, keberanian, pengorbanan yang akan mengeluarkan kesadaran sebagai pemenang dalam pertempuran yang paling gelap sekalipun. Pada titik inilah sebuah kepemimpinan revolusioner diperlukan—bukan hanya untuk menjadi jenderal perang-kelas tapi juga pembawa panji, peniup terompet, dan penabuh drum revolusi proletar.”

Tugas strategis pembangunan kepemimpinan revolusioner adalah penaklukan kekuasaan oleh kediktatoran proletariat untuk menghancurkan mesin-mesin birokrasi dan mengekspropriasi kepemilikan borjuasi. Tetapi dalam pelaksanaan tugas historis ini ada tahap-tahap perjuangan kelas yang hidup dan harus dilalui dengan sadar dan teorganisir. Setiap tahapannya bukanlah sesuatu yang abstrak dan mekanik melainkan konkret dan dialektis. Perkembangan historis tidak berada pada garis yang lurus; walaupun kapitalisme mengalami krisis yang mendunia tapi masing-masing negeri melalui tahap perjuangan kelas yang unik. Namun keunikan tahapan ini tidaklah berarti menggantikan signifikansi revolusi proletariat-sosialis dengan penekanan pada revolusi demokratik-borjuis atau revolusi dua-tahap. Kapitalisme takkan pernah dapat diakhiri dengan mempertahankan kepemilikan pribadi dan negara borjuis, melainkan dengan penghapusan batas-batas sempit ini dengan sebuah kediktatoran proletariat yang akan mengembangkan perekonomian terencana berskala internasional. Keunikan tahap-tahap yang ada hanyalah merupakan konsekuensi dari hukum perkembangan sejarah yang tak-berimbang namun tergabungkan dalam relasi-relasi sosial-ekonomi umat manusia dan menyatukan perkembangan sejarah di negeri-negeri maju dan negeri-negeri terbelakang secara dialektis. Perkembangan kekuatan produksi yang umum tak menyangkal perkembangan negeri-negeri yang khusus, tetapi menempatkan kekhususan (perkembangan sejarah yang spesifik) dalam keumuman (perkembangan kekuatan produksi yang universal). Pada sebuah pidato yang disampaikan di Kongres Internasional Kedua, Trotsky berpidato: ‘dalam perkembangan berbagai negara-bangsa, terutama negeri kapitalis, tidak ada keserupaan dan regularitas. Berbagai tahapan peradaban, bahkan yang bertolak belakang, saling mendekat dan berbaur satu sama lain dalam kehidupan bangsa.’ Perkembangan kapitalisme yang telah memasuki tahap tertingginya merupakan penyebab umum yang menciptakan situasi revolusioner di skala internasional. Namun gerakan buruh di setiap negeri tidaklah secara langsung dapat merespon situasi tersebut tanpa mempertimbangkan kondisi sejarah di negerinya masing-masing, yang di dalamnya partikularitas dari kepemimpinan memainkan peran penting. Meskipun sebab-sebab spesifik di berbagai negeri dibentuk oleh sebab umum yang sama, tapi tidak secara otomatis kondisi sejarah di tiap-tiap negeri adalah sama. Di setiap negeri terdapat perbedaan tingkat kesadaran dan keterorganisasian proletariat untuk menggulingkan kapitalisme. Menghadapi persoalan inilah tugas kepemimpinan sangatlah sentral dan signifikan, yakni untuk memandu proses pembelajaran massa dengan meningkatkan level politik dan keterorganisasian dari para pelopornya: mengklarifikasi ide-ide yang keliru, menghindari sejumlah kesalahan dan kegagalan masa lalu, mengembangkan program dan kebijakan-kebijakan yang tepat untuk melewati situasi saat ini, dan secara keseluruhan mendidik calon-calon pemimpin revolusioner yang akan memainkan peran menentukan dalam kemenangan revolusi di masa depan.

Jika angkatan muda yang sedang bangkit dan berada di garis depan perjuangan massa menarik kesimpulan yang pesimistis dari fakta: belum bergabungnya gerakan buruh dalam gerakan bersama dengan gerakan pelajar dan mahasiswa—itu justru menunjukkan kurangnya keberanian politik dan kedangkalan teoretik yang menyedihkan dari kepemimpinan yang ada. Krisis dunia kapitalisme telah menerpa kehidupan umat manusia dengan segala beban yang sangat mengerikan dan penganggung utamanya adalah kelas pekerja. Saat ini energi revolusioner dari sekolah dan kampus-kampus telah berkumpul dalam Gerakan Indonesia Gelap—memperlihatkan simpati yang kuat dari kaum muda dan rakyat tertindas dalam menghadapi pemerintah borjuis yang dikutuk secara umum, yang tangannya dilumuri darah petani miskin dan bangsa West Papua, yang dihina dan patah semangat, berjuang memulihkan kekuasaannya dengan sia-sia, mencari dukungan, memprovokasi dan mundur, berbohong dan terekspos, kurang-ajar dan korup. Energi ini tidak boleh terbuang dalam pertempuran dan bentrokan sporadis. Diperlukan pembangunan kepemimpinan revolusioner untuk melancarkan agitasi, propaganda, dan organisasi, yang ditujukan untuk memusatkan semua kepahitan, kebencian, dan kemarahan massa; untuk memberi emosi-emosi massa bahasa dan tujuan yang sama, untuk mempersatukan dan memperkokoh partikel-partikel massa, dan untuk membuat massa memahami bahwa mereka tidak terisolasi. Hanya dengan membangun kepemimpinan yang tersentral dan kuatlah angkatan muda dapat berperan memajukan massa rakyat luas; muncul di sana-sini dan di mana-mana untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan politik dengan cara yang paling berani dan tegas; menyerukan, mengecam, membuka kedok negara dan demokrasi borjuis yang busuk; menerangkan kelemahan reformisme dan sentrisme secara sabar; dan memenangkan lapisan-lapisan proletar dan semi-proletar yang paling maju dan sadar-kelas di bawah panji-panji revolusioner. Namun setelah ledakan awal aksi-aksi pelajar dan mahasiswa yang segera disambut serangan-balik reaksi, tanpa kepemimpinan yang sanggup menjembataninya dengan gerakan buruh, angkatan muda menghadapi kenyataan kalau garda depan kelas pekerja hanya berdiri di pinggir gerakan pemuda. Demonstrasi atau pemogokan politik sebagai pertarungan tunggal angkatan muda tidak akan pernah memiliki bobot sosial atau daya ungkit ekonomi yang kuat tanpa keterlibatan aktif kaum buruh. Udara yang dihirup di jalan-jalan raya, tempat-tempat kerja, dan pemukiman-pemukiman rakyat pekerja saat ini bukan lagi suasana keputusasaan dan kekecewaan kosong tapi telah berkembang menjadi suasana kemarahan yang terkonsentrasi dan mencari cara dan jalan keluar untuk aksi-aksi revolusioner. Untuk membakar Indonesia Gelap dengan sebuah pemogokan umum sebagai senjata utama perjuangan kelas revolusioner, mobilisasi massa tidak saja harus dimulai di kota-kota sebagai tempat utama peristiwa revolusioner tapi terutama harus dimulai di pabrik-pabrik dan gudang-gudang sebagai titik awal dari pemogokan politik yang dahsyat. Sebuah periode revolusioner yang akan menyediakan kondisi untuk kediktatoran proletariat hanya akan terbuka ketika kaum buruh—yang dimulai dari garda terdepannya—memasuki medan aktivitas politik revolusioner dan mengulurkan tangan solidaritas dan persaudaraan kelas kepada lapisan terluas kaum terhisap dan tertindas.

Di skala internasional, dalam krisis kapitalisme Indonesia sebagai bagian dari krisis kapitalisme dunia, kaum buruh telah berkembang dengan kekuatan tempur yang meraksasa. Masalah yang timbul hari-hari ini bukan mengenai ada atau tidaknya kekuatan untuk mengubah dunia, tetapi kapasitas aksi proletar untuk terlibat dalam pertempuran melawan kapitalisme, imperialisme dan militerisme secara revolusioner; kapasitas untuk perlawanan efektif di bawah kepemimpinan revolusioner—mobilisasi massa menuju revolusi proletar, kediktatoran proletariat untuk penggulingan kekuasaan dan ekspropriasi kepemilikan borjuasi di negerinya masing-masing, yang diberi karakter politik independen dan internasionalis oleh Partai Komunis Revolusioner. Pada analisis terakhir: ini bukanlah masalah tahap perjuangan kelas untuk revolusi sosialis yang belum tersedia, karena setiap tahapan perjuangan kelas dalam sejarah dan alam selalu terhubung dan berkembang secara dialektis. Materialisme dialektis berangkat dari proposisi bahwa dunia material yang obyektif ada secara independen dari subyek yang memikirkannya, namun subyek dan obyek terhubung sebagai kesatuan dialektis dalam perkembangan alam, sejarah, dan pemikiran manusia secara menyeluruh. Marxisme menerima keselarasan antara subyek-obyek sebagai suatu kesatuan bukan dalam identitasnya tapi keterhubungan dan pembangunannya secara keseluruhannya. Alam semesta maupun masyarakat manusia bukanlah dunia fenomena yang terisolasi dan terpaku dalam ruang dan waktu, melainkan keseluruhan yang saling-berhubungan secara kontradiktif dan terus-menerus berubah dari bentuk-keberadaan yang lebih rendah menuju bentuk-keberadaan yang lebih tinggi. Inilah hukum pembangunan yang berlaku untuk setiap benda dan peristiwa. Materialisme dialektis tidak memperlakukan obyek atau fenomena sebagai sesuatu yang dikurung dalam klasifikasi logis, seperti logika formal dari para penganut sistematika yang bekerja dengan memisahkan realitas material menjadi hal-hal tersendiri. Bentuk-bentuk perkembangan bukanlah aspek yang permanen dan dapat dipisahkan menjadi tahap-tahap yang terisolasi, karena bentuk atau tahapan merupakan bagian dari keseluruhan dan hubungan antara bagian dengan keseluruhan adalah kesatuan organis. Dalam “The Phenomenology of Spirit”, Hegel menulis:

”Semakin pikiran orang awam menganggap pertentangan antara yang benar dan yang salah harus diperbaiki, semakin terbiasa mereka mengharapkan persetujuan atau kontradiksi dengan sistem filsafat tertentu, dan melihat alasan untuk yang satu atau yang lain dalam pernyataan penjelasan apapun mengenai hal itu. Ia tidak menganggap keragaman sistem filosofis sebagai evolusi kebenaran yang progresif; sebaliknya, ia hanya melihat kontradiksi dalam keragaman tersebut. Kuncupnya menghilang ketika bunganya mekar, dan kita dapat mengatakan bahwa kuncup tersebut dibantah oleh kuncupnya tersebut; sama halnya ketika buah muncul, mekarnya bunga dapat dijelaskan sebagai wujud palsu dari keberadaan tanaman, karena buah muncul sebagai sifat aslinya menggantikan mekarnya bunga. Tahapan-tahapan ini tidak sekedar dibedakan; mereka saling-menggantikan karena tidak cocok satu sama lain. Namun aktivitasnya yang tak henti-hentinya dari sifat bawaan mereka pada saat yang sama menjadikan mereka momen-momen kesatuan organik, di mana mereka tidak hanya tidak bertentangan satu sama lain, tetapi di mana yang satu sama pentingnya dengan yang lain; dan kebutuhan yang sama atas semua momen ini merupakan satu-satunya hal dan dengan demikian merupakan pembangunan keseluruhan.”

Pada babak baru dalam Gerakan Indonesia Gelap, persoalan perjuangan politik kaum muda di hadapan desisan cambuk kelas penguasa akan ditentukan oleh dua faktor yang nyata: pertama, kebutuhan yang dipahami lapisan-lapisan buruh dan muda seluas mungkin untuk mengambil bagian aktif dalam melawan rezim borjuasi yang semakin otoriter; kedua, korelasi kekuatan politik dalam kelas proletar saat ini. Dari kedua faktor inilah pertanyaan mengenai front persatuan mengemuka. Dalam “Komunisme Sayap Kiri; Suatu Penyakit Kekanak-Kanakan”, Lenin berkata: ‘jika Anda ingin membantu “massa” dan memenangkan simpati serta dukungan dari “massa”, Anda tidak boleh takut akan kesulitan atau kesukaran, tipu-daya, hinaan, dan penganiayaan dari para pemimpin (yang, sebagai kaum oportunis atau bersifat chauvinis, dalam banyak kasus secara langsung atau tidak-langsung berelasi dengan kaum borjuasi dan polisi), tetapi harus benar-benar bekerja di manapun massa berada. Anda harus mampu berkorban, mengatasi rintangan terbesar, untuk melakukan agitasi dan propaganda secara sistematis, tekun, teratur, dan sabar di badan-badan, perkumpulan-perkumpulan, perserikatan-perserikatan yang ada—bahkan yang paling reaksioner—di mana massa proletar dan semi-proletar berada’. Taktik ini mengalir dari tugas strategis pembangunan Bolshevisme dan Internasionalisme, yang bertujuan untuk menyatukan secara dialektis antara garda depan revolusioner dan barisan belakang proletar, dengan mendeklarasikan perang terhadap reformisme dan oportunisme yang mengkhianati perjuangan massa. Dan taktik Front Persatuan Leninis bersifat konkret: ‘harus didasarkan pada penilaian yang bijaksana dan obyektif terhadap semua kekuatan kelas’; berasal dari ‘kondisi obyektif yang mengatur perkembangan proletariat’, dan oleh karenanya, bukanlah sesuatu yang kebetulan dan dibuat-buat, apalagi dengan manuver dan intrik birokratik yang memaksakan penerapan taktit front persatuan secara kasar. Dalam “Lenin’s ‘Left-Wing Communism’: A Masterclass in Revolutionary Strategy”, Francesco Merli menulis:

“Pertama, tugas strategis [kaum revolusioner adalah] untuk memenangkan garda depan proletariat ke komunisme, dan menyatukan mereka ke dalam partai revolusioner. Akan tetapi, karena tugas mendesak ini sedang dalam proses penyelesaian di banyak negara, muncul pertanyaan tentang bagaimana kaum komunis dapat dan harus memenangkan massa dari pengaruh sosial-demokrasi, reformisme dan oportunisme—yang merupakan hambatan utama di jalan menuju revolusi…. Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan pemahaman yang benar mengenai peran garda depan revolusioner, hubungannya dengan massa, dan peran partai revolusioner…. Walaupun barisan depan bisa belajar dari kombinasi pengalaman dan pendidikan politik, di mana propaganda komunis yang baik dan efektif memainkan peran penting, massa belajar terutama melalui pengalaman. Peran partai revolusioner adalah menghilangkan hambatan-hambatan terhadap persatuan lapisan-lapisan massa dan lapisan-lapisan revolusioner yang maju, mempersiapkan partai, barisan depan dan massa untuk melakukan revolusi dengan mempersatukan mereka dalam perjalanan revolusi. Hal ini hanya dapat dicapai dengan mengungkap dalam praktik pengkhianatan kaum liberal borjuis dan para pemimpin reformis, dan menunjukkan tanpa keraguan bahwa satu-satunya metode bagi massa untuk memenuhi kebutuhan fundamental mereka adalah melalui cara-cara revolusioner. Taktik revolusioner adalah metode yang digunakan partai untuk membantu massa dalam pengalaman praktis yang sulit, dan pada saat yang sama memastikan bahwa lapisan yang lebih maju terus-menerus terhubung dengan massa yang terbelakang dan mendorong mereka maju, tanpa berlari terlalu jauh ke depan dari mereka atau terlibat sebelum waktunya dalam pertempuran. Lenin memahami bahwa revolusi tidak akan pernah bisa dicapai dengan kemauan para pelopor revolusioner saja. Agar revolusi dapat menang, lapisan yang paling maju, yakni lapisan pelopor, harus diorganisir secara berdisiplin dalam sebuah partai revolusioner dan perlu mendapat dukungan dari mayoritas kelas pekerja, sebagai syarat untuk menaklukan kekuasaan negara…. Cara untuk mencapai posisi itu tidak memungkinkan jalan pintas. Kaum komunis harus berjuang untuk kepemimpinan organisasi massa kelas pekerja seperti serikat buruh, dengan membersihkan mereka dari pengkhianat-kelas—elemen chauvinis dan reformis. Mereka juga harus memenangkan massa yang masih mengikuti kepemimpinan reformis di partai-partai reformis yang mempunyai basis massa. Hanya dengan mencapai posisi seperti itu partai revolusioner dapat memulai perebutan kekuasaan. Hanya dengan melemahkan pengaruh sisa tatanan lama, mengatasi kelesuan sosialnya, massa yang lebih luas bisa dimenangkan untuk revolusi. Upaya untuk menggulingkan negara kapitalis secara revolusioner hanya dapat diluncurkan ketika kondisi-kondisi ini terpenuhi…. Penolakan terhadap taktik untuk mengekspos peran kaum reformis kepada massa dalam praktiknya hanya akan mengarah kepada sektarianisme yang mandul…. Dengan menolak mengadopsi [secara benar] taktik yang dapat menempatkan partai revolusioner sebagai pemimpin massa, kaum ‘Kiri’ memberikan pelayanan kepada kelas penguasa dalam memisahkan barisan depan dari massa, sehingga membuat mereka rentan terhadap serangan, dan memfasilitasi penindasan terhadap mereka…”

Saat ini pengaruh reformisme dan sentrisme dalam perjuangan massa menjadi kendala dalam pembentukan blok organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar. Tendensi-tendensi reformis dan sentris tidaklah memiliki tinjauan yang utuh tentang negara: kaum reformis berpikir dapat memperbaiki dan mempertahankan negara dengan segala alat-alat represinya untuk melayani kepentingan massa; kaum sentris mengira bisa mengakhiri krisis masyarakat dengan mencampur-adukan teori yang bertentangan secara prinsipil atau menolak kekuasaan negara secara umum sehingga menyangkal kebutuhan kelas pekerja akan negara yang bersifat sementara. Negara borjuis bagi kedua tendensi ini bukan untuk ‘dihancurkan’ dan ‘digantikan’ dengan melancarkan perjuangan untuk revolusi sosialis yang akan membangun negara buruh yang berangsur-angsur ‘melenyap’. Hanya perjuangan revolusioner massa yang mempunyai taring dan cakar dalam menghadapi kekuatan reaksi tentara-polisi dan seluruh birokrasi kekerasan borjuasi, yang akan menghancurkan dan menggantikan badan khusus orang-orang bersenjata dengan mendirikan badan kolektif di bawah kontrol demokratis kelas pekerja yang melindungi hak-hak dan keselamatan massa. Sekarang serangkaian kondisi untuk perjuangan revolusioner itu sedang berkembang. Ini ditandai dengan ledakan pembuka energi revolusioner kaum muda, yang dalam perkembangannya menghadapi serangan-balik borjuasi yang seketika mengajukan pertanyaan mengenai kekuatan, dan menuntut dijawab dengan kemampuan gerakan muda untuk menyebar ke dalam kelas buruh demi mengaktifkan kekuatan raksasa yang masih tertidur. Dalam babak kedua Gerakan Indonesia Gelap, perjuangan massa melawan militerisme harus didekati sebagai perjuangan kelas yang berkait-erat dengan perjuangan untuk mengkahiri kemiskinan, pengangguran, dan serangan terhadap rakyat pekerja secara umum. Dengan pendekatan inilah gerakan pelajar dan mahasiswa dapat didorong menuju demonstrasi, pendudukan, pemogokan umum dan pemberontakan bersenjata yang akan menarik seluruh kelas pekerja dalam melawan kelas penguasa. Aksi-aksi protes dan mobilisasi yang meluapi jalanan dan fasilitas publik mesti diulang tapi berdasarkan koordinasi bersama elemen-elemen gerakan buruh. Dialog harus digelar untuk mengundang serikat-serikat buruh ke dalam pendirian Komite Aksi Bersama. Pembentukan komite-komite pemogokan di tempat-tempat kerja, belajar, dan lingkungan sekitar adalah langkah pertama yang wajib ditempuh. Ini membutuhkan kepemimpinan politik yang mempunyai program yang dapat menghubungkan gerakan melawan kekerasan polisi dan tentara dengan tuntutan-tuntutan mengenai perbaikan taraf hidup mayoritas laki-laki dan perempuan; menentang pemiskinan dan pengangguran umum; menaikan upah minimum, gaji pensiun dan tunjagan. Energi revolusioner angkatan muda harus dihubungkan dengan kepentingan gerakah buruh secara luas. Yang menuntut diakhirinya kebijakan pemotongan dan penghematan, penghapusan semua peraturan yang membatasi hak mogok dan berserikat serta penyampaian pendapat di muka umum. Ini mesti dihubungkan dengan tuntutan-tuntutan yang melarang diterobosnya universitas dan sekolah-sekolah oleh polisi dan tentara. Semua aparat represif mesti ditendang keluar dari segala aktivitas politik massa, organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar. Tidak boleh ada brutalitas dan militerisasi dalam aktivitas-aktivitas kaum muda dan kelas pekerja. Namun tuntutan vital ini takkan pernah mungkin dipenuhi oleh pemerintahan reaksioner borjuasi yang ada. Inilah mengapa slogan utama yang paling memadai untuk memperbesar Gerakan Indonesia Gelap haruslah menggaungkan: “Gulingkan Rezim Otoriter Prabowo-Gibran!”

Hanya berdasarkan tuntutan-tuntutan konkret yang disertai dengan slogan revolusionerlah, pembentukan Komite Aksi Bersama yang dapat menjadi blok persatuan organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar dapat terpikirkan. Hari-hari ini massa tidak membutuhkan khotbah kosong tentang persatuan yang berasal dari ‘kebijaksanaan palsu’ para pemimpin salon, tetapi program dan slogan-slogan yang jelas dari kepemimpinan yang berani. Spontanitas kaum muda telah berkumpul dalam Gerakan Indonesia Gelap. Agar energi dari gerakan pelajar dan mahasiswa tidak menguap tapi bertambah besar dan kuat, maka sebuah kepemimpinan revolusioner harus dibangun untuk memberinya ekspresi yang terorganisir dan sadar. Dengan memiliki kepemimpinan revolusioner, gerakan mahasiswa dan pelajar yang sedang bangkit akan dipersenjatai dengan program dan slogan yang secara praktis untuk merangkul para pekerja industri, mengeluarkan buruh laki-laki dan perempuan dari gudang dan pabrik-pabrik: untuk membuat para pekerja memberhentikan mesin dan mengambil-alih tempat kerja; untuk menarik para pekerja turun ke jalan; untuk bergerak dari satu tempat kerja ke tempat-tempat kerja lainnya, dengan jumlah yang terus bertambah, membentuk barikade pertahanan-diri yang dipersenjatai, menyapu penghalang polisi-tentara, menyerap massa baru dari lapisan terluas yang teradikalisasi, memadati jalanan dan menguasai lapangan dan gedung-gedung yang cocok untuk rapat umum, mengadakan pertemuan yang terus-menerus dengan peserta yang datang dan pergi, membawa keteroganisasian dalam gerakan massa, membangkitkan semangat dan tekad kolektif yang meresap ke kedalaman jiwa, dan menerangi pikiran dengan penjelasan yang sabar akan apa tujuan dan makna dari apa yang sedang terjadi; pada akhirnya, untuk mengubah seluruh kota menjadi kubu revolusioner yang tergabung dalam komite-komite atau blok-blok organisasi proletar dan semi-proletar—penghancuran negara borjuis dengan sebuah kediktatoran proletariat.

Dengan kerja-kerja politik dalam pembangunan organisasi kaum revolusioner, kepengecutan reformisme dan kelemahan sentrisme akan diatasi dengan serangkaian intervensi sadar dan teorganisir melalui lapisan buruh dan muda yang paling maju dan sadar-kelas dalam gerakan massa. Kebingungan ideologis menjadi alasan mendasar mengapa perjuangan massa terhambat untuk sampai pada penggulingan kapitalisme secara revolusioner. Di bawah kepemimpinan sayap-kanan maupun sayap-kiri, massa dipimpin tanpa sebuah rencana aksi yang matang dan perspektif yang memadai untuk menggulingkan kapitalisme. Kepemimpinan yang berhaluan reformisme, sentrisme, Stalinisme maupun anarkisme; bukanlah struktur yang stabil untuk menjadi piston bagi gerakan massa. Tanpa pemahaman teoretik yang melandasi pembentukan komitmen, kebulatan tekad, dan orientasi masa depan yang jelas—untuk revolusi sosialis, menegakkan kediktatoran proletariat dan penghapusan kelas-kelas sosial dalam masyarakat—maka kepemimpinan-kepemimpinan mereka sangatlah rapuh. Perjuangan revolusioner massa untuk mengkahiri krisis kapitalisme, dominasi imperialisme dan kebrutalan militerisme, tidak dapat dipimpin oleh mereka. Peran historis yang inheren dari kaum reformis dan sentris adalah mengantar ketidakpuasan massa ke jalur yang terkendali; di mana dalam perjuangan kelas yang hidup, pada setiap tahap perkembangannya, mereka menunjukkan sikap setengah-hati; dan dalam momen kebenaran di titik puncaknya, mereka siap menyebrang sepenuh-penuhnya ke sisi reaksi. Hanya dengan membangun kepemimpinan revolusionerlah perjuangan kelas dapat bergerak maju. Kepemimpinan revolusioner dibangun bukan untuk menyediakan kondisi-kondisi untuk perebutan kekuasaan oleh kelas revolusioner—revolusi proletariat; tetapi untuk menjembatani dan menyelaraskan kesadaran kelas proletar—yang dikacaukan dan dibingungkan oleh pengaruh-pengaruh reformisme dan sentrisme—dengan situasi obyektif yang telah matang untuk menjalankan tugas historisnya: menempuh perjuangan revolusioner massa untuk pengorganisasian proletariat sebagai kelas penguasa yang akan menjalankan pembangunan sosialisme di atas puing-puing keruntuhan kapitalisme. Tugas ini hanya bisa diemban secara sadar dan terorganisir dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner, yang akan berjuang untuk melayani kebutuhan historis umat manusia akan kediktatoran proletariat dan transformasi sosialis secara berteguh-hati, berdisiplin-baja, penuh keberanian dan gigih.

“Ketika setiap harinya kita bertempur di bawah matahari, gencatan senjata yang sementara akan dibuka di bawah bulan dan bintang-bintang. Dalam kedamaian relatif dan ketenangan palsu yang menggabungkan rasa lelah dan lapar ada kemanusiaan yang membakar dan tidak pernah padam, yang mengeluarkan budak-upahan sebagai pemenang atas malam-malam keheningan dan siang-siang kebisingan. Inilah kemanusiaan yang menderita, karena bertindak bukan atas kemauan sadar tapi ketakutan atas kelaparan dan mati mengenaskan; sebuah tragedi laki-laki dan perempuan yang berhari, berbulan, dan bertahun terlibat dalam pertempuran anonim di mana mereka tidak memiliki konsep atas kekuatan gelap—kecenderungan irasional dan barbarisme—yang mendominasi kehidupan mereka. Prajurit musim panas dan patriot matahari harus ikut bertempur di sini, beradu dengan binatang buas yang ganas dan kejam dalam galaksi hitam-putih, dan kemenangan cahaya mata dan akal budi atas dunia yang terbalik ini adalah ketika konten menjadi bentuk dan bentuk menjadi konten; di mana orang-orang tersenyum menghadapi kesulitan, mengumpulkan kekuatan dari penderitaan, dan keluar sebagai pemenang melalui kesatuan refleksi dan tindakan. Dalam catatan kehidupan mengenai manusia-manusia biasa tapi agung dan indah, dan membuka jalan untuk pengetahuan yang lebih tinggi—buku yang terbuka untuk semua yang dapat membacanya; ada jurang yang mengaga di antara mengetahui sesuatu dan benar-benar mengalaminya, dan satu-satunya jembatan yang dapat menghubungkannya adalah pemahaman yang memerlukan kerja-keras yang sepenuh-penuhnya, melalui laki-laki dan perempuan yang tak kenal lelah untuk mengalirkan semangat zaman di mana mereka berada—di sini orang-orang yang belajar dengan terlampau berhati-hati, supaya tidak membakar dan mengotori jari mereka sendiri, adalah pengecualian yang teramat pengecut dan takkan bisa diterima.”

“Terlepas dari semua permainan kanak-kanak dan setengah-hati, tidak ada jalan pintas menuju kemenangan revolusi. Keringat yang baunya menyengat, lengan yang tergores, jari dan punggung yang memar, dan mata dan telinga yang sakit—sungguh bukan apa-apa, mengingat perjuangan penghabisan kelas revolusioner yang akan ditulis dengan api dan baja. Untuk mendapatkan mata dan telinga kaum buruh, menyentuh dan memenangkan hati dan nurani mereka ke dalam perjuangan revolusioner, kita tidak dapat bertindak mengatasnamakan proletariat tapi bertindak melalui kelas proletar. Ini memerlukan keyakinan yang mendalam dan kesabaran yang besar dalam kerja-kerja persiapan yang paling bersemangat untuk menaklukan setiap rintangan yang ada. Secara keseluruhan, tugas ini menyangkut taktik politik yang mengalir dari strategi revolusi proletar-sosialis—perspektif sosialisme dunia yang dibebankan oleh proses perjuangan kelas internasional yang hidup. Di medan-medan yang menguras energi dan penuh jebakan, dalam terpaan hujan badai dan angin topan politik yang kencang, terdapat kemauan keras yang menyala dengan panas yang tak pernah padam—kilatan keyakinan politik yang mengalir dalam kerja-kerja persiapan yang optimis dan dilakukan secara metodis. Di masa-masa tergelap dalam sejarah ini, tendensi politik dan organisasional dari apa-yang-sedang-kami-bangun akan menjadi cahaya sejati, yang akan menerangi bilik-bilik dunia yang keji, hina, dan penuh dusta, dan akan meraih dukungan dan harapan semua laki-laki dan perempuan yang terhisap, tertindas, tertipu, dan teraniaya—bangun Bolshevisme sekarang juga!

“Bolshevisme adalah seni pembangunan kepemimpinan revolusioner: untuk terlibat secara sadar-kelas dan terorganisir-kuat dalam perjuangan kelas yang konkret dan revolusioner; untuk menentukan keunikan perkembangan historis, satu dengan berbicara dan menulis, yang lain dengan pedang dan pistol, dan dengan penyatuan dialektis keduanya; dan untuk kepenuhan dan kekuatan karakter yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya. Pada proses persiapan ini dibutuhkan kerja keras, bukan hanya pada siang ketika banjir keringat tapi juga pada malam saat banyak mata terlelap. Dalam waktu-waktu dan energi-energi yang terkuras—untuk masa depan masyarakat tanpa kelas, hidup menuntut kita untuk lebih serius dan bersungguh-sungguh dalam menebar sepotong sinar matahari dan menjaga burung cinta yang bertengger di lengan dan hati kita. Tatkala periode revolusioner untuk kebangkitan proletariat tiba, yang berisi ledakan semangat dan harapan, tekad dan impian akan kehidupan baru yang lebih tinggi dan lebih manusiawi—akan ada orang-orang yang dipersiapkan untuk memimpin kemenangan revolusi proletar dalam pertempuran secara politik dan militer, dengan revolver dan literatur, secara fisik dan mental. Oh, kelasku. Suatu hari nanti—ketika kita memasuki perjuangan penghabisan, dengan barikade bersenjata yang dipimpin oleh kepemimpinan yang mempuni dan berorientasi jauh ke depan—kita akan menyapu-bersih sampah-sampah masa lalu yang membusuk dari dunia kapitalisme yang sedang runtuh ini, bersama ruang bawah tanahnya yang gelap dengan mayat-mayat yang tidak pernah dikubur. Saat momen itu tiba, kita akan menginjak tanah yang akan mengembangkan kemanusiaan kita dengan sepenuh-penuhnya; untuk membangun tempat tinggal baru bagi umat manusia—di mana tidak akan ada sekat ruang tamu; di mana semua ruangan akan dibuat lapang dan cerah; dan di mana udara yang dihirup akan menjadi bersih, lebih hidup, dan mulia.”

– Kaum Bolshevik

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai