Kategori
Stratak

Tugas Angkatan Muda dalam Kegelapan Dunia Kapitalisme

“Kita berbahagia selama kita tidak mati muda. Namun kehidupan bukan perhitungan nyawa, umur bukan bilangan tahun, akal bukan ukuran tubuh; sehari hidup singa di rimba, seratus tahun bagi si domba. Tua atau muda bukan persoalan usia tapi keadaan jiwa; kejiwaan kita meliuk naik dan turun seturut gerak material yang ada. Kita tidak mengendarai unta tetapi juga tidak memikul beban bagai keledai. Keberanian bertindak orang-orang muda jadi bahan pertimbangan sejarah: melalui jari-jari mereka tali-tali biola bergetar dan tuts-tuts piano berdenting dengan alunan lagu-lagu dunia baru—tangan mereka adalah pencipta peristiwa.”

“Tindakan kita—yang merupakan mata rantai dari rantai zaman transisi—menuliskan hidup kita dengan gaya yang sangat kejam. Terekam dalam pikiran sebagai lukisan yang suram. Hitam mencekam. Luas dan dalam, dengan warna-warna gelap yang menyembunyikan kejutan-demi-kejutan, yang dalam proses perkembangan kemanusiaan, hadir sebagai kebetulan-kebetulan yang menjadi bagian integral dari keharusan. Di tengah tatanan sosial dan moral yang sedang runtuh, unsur-unsur ‘anarki’ merasuki lautan masyarakat dan angkatan kita untuk pertama kalinya memasuki medan politik sebagai pembangkang yang kebingungan. Kita berlarian ke kiri dan ke kanan. Menguji setiap kepemimpinan gerakan. Memberaki Cipayung dan reformisme. Muak dengan sabotase dan aksi-langsung anarkisme. Memuntahkan Stalinisme dan epigonisme. Dan sampai pada udara dan cahaya Bolshevisme. Namun proses ini tidak berjalan lurus, terdapat belokan mendadak dan lompatan tiba-tiba, yang membawa bencana dan pelajaran yang berharga, dan tidak bisa dipahami dari kemalangan ‘individu’.”

“Kita hidup dalam batasan-batasan masyarakat kapitalis yang sedang sekarat. Siang dan malam menjadi budak, makan dengan buruk dan selalu kurang tidur. Tahan angin dan hujan, panas dan badai petir. Tanpa kasih-sayang, pelukan atau ciuman hangat. Jika kita adalah benih bagi masa depan yang jauh, maka tempat kita tumbuh selaksa tundra yang beku. Tetapi ‘menjadi muda adalah anugerah’ alam dan sejarah. Di dasar jiwa angkatan politik ini terdapat percikan bunga-bunga api baru yang merah membara, tidak takut mati dan tanpa pamrih, tiada henti berusaha membuka jalan ke permukaan bumi. Dalam proses yang diselimuti kegelapan ini, keputusasaan tidak dapat diterima.”

– Kaum Buruh dan Muda

Kita hidup pada periode sejarah yang dramatis, penuh kemelut, dan ganas. Dunia diselimuti kegelapan pekat dan gerombolan penghisap mempertontonkan akrobat biadab. Umat manusia berada di tengah kesengsaraan akut dan penghinaan barbar. Tidak ada jaminan kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Semuanya tersisih oleh persaingan dan monopoli yang berdiri di atas kepentingan mengeruk keuntungan demi mempertahankan dan meningkatkan kepemilikan perseorangan. New Unite melaporkan bahwa selama berlangsungnya krisis biaya hidup segelintir perusahaan justru mendongkrak profitnya melalui pencatutan yang mengerikan. Tahun 2021, tiga supermarket teratas—Tesco, Sainsbury’s, dan Asda—meraup laba gabungan sebesar 3,2 miliar poundsterling. Pada 2022, raksasa minyak dan gas multinasional ExxonMobil membukukan labanya mencapai 219 miliar dolar AS. Oxfam International lantas menunjukkan statistik ketimpangan mendalam: 66 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan bernilai lebih dari 3,5 miliar orang termiskin. Satu persen konglomerat global menumpuk kekayaan yang melampaui setengah populasi umat manusia. Kekayaan luar biasa itu diperoleh dengan menggencarkan serangan terhadap standar hidup rakyat pekerja. Di Inggris, 6,7 juta rumah tangga mendera kekeringan bahan bakar atas meroketnya harga gas domestik 129 persen dan listrik 67 persen. Dalam kondisi inilah keluarga-keluarga pekerja tenggelam dalam kubangan kelaparan: inflasinya telah menembus angka 19,1 persen. Sedangkan di Jerman dan Prancis, tingkat inflasi juga menjulang: masing-masing 21,1 persen dan 15,8 persen. Secara global, War on Want mencatat kalau 2,3 miliar jiwa menderita kerawanan pangan, 3,1 miliar orang tidak mampu membeli makanan bergizi, dan setiap menit terdapat 5-13 laki-laki dan perempuan yang meninggal lantaran kelaparan. Namun Organisasi Pangan dan Pertanian PBB ini mengungkapkan bahwa selama 2005-2020, produksi pangan global mengalami pertumbuhan substansial: hasil tanaman tebu, jagung, beras, gandum, dan pasokan buah dunia mencapai 50 persen; produksi semua jenis sayuran naik 65 persen, susu 53 persen, dan daging 40 persen. Tetapi bahan-bahan makanan tersebut bukan saja sukar diakses oleh orang-orang miskin, melainkan pula sengaja dilenyapkan untuk mengakali over-produksi. Di Polandia, jutaan ton biji-bijian dibakar daripada disalurkan kepada rakyat. Di Rusia dan Ukraina, lahan-lahan pertanian dihancurkan selama berlangsungnya peperangan imperialis.

Kelas borjuis sudah tidak dapat membeli perdamaian sosial dengan konsensi dan reforma-reforma seperti di masa lalu. Keuntungan besar yang mereka hasilkan selama boom sudah terkikis, kas-kas anggaran habis, dan ruang untuk bermanuver sangat terbatas. Setelah Krisis Finansial 2008, satu dekade sudah berlalu tapi sama sekali tiada pemulihan berarti. Bertahun-tahun penerapan penghematan dan pemotongan anggaran membawa perekonomian dalam kerusakan parah. Politik merupakan ekonomi yang terkonsentrasi dan kekacauan ekonomi terekspresikan melalui seabrek perpecahan di tubuh kelas penguasa. Di Eropa, Krisis Brexit membara yang ditandai perseteruan Prancis-Jerman dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Visi federalis remuk, kelas kapitalis terpecah dan kehilangan kepercayaan dirinya. Krisis yang berulang-ulang bukanlah sebatas kelemahan kapitalisme, tetapi merupakan solusi berkala untuk kontradiksi yang menumpuki sistemnya. Melalui krisis-krisisnya, kapitalisme berusaha melancarkan penghancuran kreatif guna menyelamatkan perekonomiannya: menutup perusahaan-perusahaan yang inefisiensi dan membuat rugi, menyingkirkan hutang-hutang yang tidak dapat dilunasi, dan menghilangkan over-produksi yang terus menghantui. Namun sekarang jurus ini tak mempan lagi. Krisis kapitalisme makin parah dan Bank Dunia berusaha merangsang ekonomi dengan dua-resep yang sama-sama berbahaya: ‘menaikan’ atau ‘menurunkan’ suku bunga. Selama 2021-23, tren kenaikan suku bunga memperkeruh kekacauan pasar dunia dengan penerapan proteksionisme yang melesukan industri-industri padat karya di negeri-negeri eksportir. Dengan menggencarkan proteksionis maka pemerintahan-pemerintahan borjuis mengobarkan ilusi nasionalisme ekonomi yang mengarah pada pertarungan dagang dan pengurangan efisiensi global: produk-produk luar negeri yang berharga murah diperangi dan produk-produk lokal yang kurang efisien dijajakan dengan membangkitkan sentimen nasional. Tindakan ini tidak saja mengundang inefisiensi, tetapi juga memperparah kenaikan harga, menurunkan PDB, menyuburkan pengangguran dan kemiskinan.

Namun dalam rangka menekan krisis dan mengamankan tingkat keuntungan kapitalis; pemerintah lantas menggencarkan penghematan secara koersif. Di Prancis, usia pensiun diperpanjang dari 62 menjadi 64 tahun—guna memangkas tunjangan hari tua—dan militer dikerahkan dalam melumpuhkan setiap pemerotes. Di Inggris, larangan-larangan protes ditegakkan untuk menghadapi tuntutan-tuntunan kenaikan upah. Di Indonesia—Omnibus Law Ciptaker, RKUHP Reaksioner, dan Permenaker Pemotongan Upah disahkan demi memperdalam penghisapan kerja-upahan, menambah beban rumah tangga pekerja, dan melemahkan perjuangan massa. Namun turunnya upah dan meningkatnya jumlah penganggur memperparah amukan inflasi. Injeksi besar-besaran modal fiktif yang berbentuk kredit sama sekali tak mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Ekspansi kredit gagal memulihkan permintaan. Daripada mengeluarkan rumah tangga pekerja, perusahaan swasta, dan pemerintah dari persoalan meroketnya harga-harga; dana-dana pinjaman—yang disertai bunga-bunga beraneka—justru menjerat dalam lilitan hutang berkepanjangan. Di Amerika Serikat saja, ukuran kredit swasta sudah melampaui 200 persen PDB tahunannya. Juni 2022, total hutang global menembus angka 300 triliun dolar AS atau sekitar 349 persen dari total GDP dunia. Memperhatikan data inilah Institute of International Finance merilis prediksi yang menyeramkan: setiap orang yang dikenai pajak akan menanggung pembayaran hutang sebesar 37,5 ribu dolar AS. Artinya seluruh beban utang diletakkan secara arbitrer di pundak lapisan terbesar pembayar pajak: kelas menengah dan proletar. Tahun 2023, Bank Dunia mengungkapkan bahwa 3 miliar penduduk dunia didorong ke lembah kemiskinan dan lebih dari 30 juta kelas menengah Indonesia jatuh miskin. Meningkatnya harga-harga dan menurunnya permintaan bukan saja memangkas konsumsi rumah tangga-rumah tangga proletar, melainkan pula menampar pemenuhan kebutuhan di keluarga-keluarga pegawai negeri, pedagang kecil, petani kecil, dan petani penyewa. Mereka bukan saja mengalami kekurangan makanan, keterkurasan tabungan, dan kerugian panen tapi juga mendera kesukaran membayar cicilan kredit dan hutang-hutangnya di lembaga perbankan, koperasi dan lintah darat. Di semua negeri, prospek yang dihadapi umat manusia hari-hari ini sangat buruk. Tangga ke atas telah terpotong dan miliaran orang meluncur ke bawah dengan kencang. Bisnis-bisnis kecil hancur berantakan dan kian harinya kondisi rakyat pekerja semakin mengenaskan. Kenaikan suku bunga, sewa, pembayaran hipotek, terutama pemotongan upah dan penutupan pabrik berarti peningkatan tajam pengangguran, kemiskinan, dan penurunan permintaan secara ekstrem. Lapisan-lapisan kelas menengah terancam bangkrut dan lebih banyak yang menjadi proletar atau semi-proletar. Hidup mereka teramat suram, kalut, dan getir. Penderitan-penderitaan membukit. Tidak ada jaminan akan masa depan yang lebih baik. Semua akses dan kesempatan yang dulunya dapat digunakan merengkuh kehidupan yang aman, tentram, dan menyenangkan telah tertutup rapat-rapat.

Akhir 2024 dan awal 2025, dunia tenggelam dalam mimpi-mimpi buruk yang paling horor dan bengis. Jumlah orang-orang melarat, lapar dan menganggur bertambah besar. Umat manusia memasuki periode terganas, sensitif dan dilematis dari masyarakat kapitalis yang sedang sekarat. Kegelapan krisis dunia kapitalisme telah mendorong setiap rezim borjuis yang ada untuk menggunakan metode-metode paling kasar untuk menegakkan penghematan barbar—undang-undang yang mengatur kerja keras, pemaksaan kontrak, pembatasan ruang berkumpul dan aksi, hingga penguatan tentara dan polisi untuk merintangi gerakan massa. Namun setiap kali kaum kapitalis memaksakan kepentingannya melalui badan orang-orang bersenjata, kekuatan hegemoniknya menjadi semakin tumpul; massa mendapat pendidikan yang sangat konkret akan hakikat dari negara borjuis dan lapisan yang termaju dari massa akan bergerak dan memberikan efek radikalisasi pada gerakan secara keseluruhannya. Inilah logika konfrontasi yang di mana-mana mengarah pada protes-protes mimbar bebas, aksi-aksi solidaritas, dan pemogokan umum. Selama rangkaian kebijakan penghematan masih berlanjut, potensi kebangkitan perjuangan massa semakin terang. Di seluruh negeri, situasi politik dicirikan oleh suasana ketidakpuasan terpendam yang meledak secara sporadis. Selama satu dekade terakhir, gerakan-gerakan massa terpelajar anti-penghematan telah mewarnai perjuangan kelas di negeri-negeri kapitalis maju maupun terbelakang: Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Italia, Rumania, India, Yunani, Spanyol, Portugal, Irak, El Salvador, Kazakhstan, Iran dan Afrika Selatan. Secara dunia, kaum muda—yang mengamuk di bilik-bilik sekolah dan universitas, hingga meluapkan kemarahan dengan menduduki jalan raya dan mengepung instansi pemerintah—adalah yang tertampar oleh krisis kapitalisme. Setiap tahun kenaikan ongkos pendidikan, pemberangusan kebebasan akademik, ancaman seksisme dan rasisme yang terlembaga menjadi jangkar raksasa yang membanduli keberadaan sosial dan menggoncang kesadarannya. Sebagai bagian dari keluarga kelas menengah dan proletar—yang standar hidupnya sedang dihancurkan, jatuh dalam lubang kemiskinan dan pengangguran—pelajar dan mahasiswa melancarkan perlawanan terbuka dan menunjukkan kecenderungannya untuk mendukung perjuangan kelas pekerja.

Sekarang apa yang dihadapi bukan sebatas persoalan suprastruktural atau kebijakan neoliberal, melainkan krisis sistem secara keseluruhan yang takkan mungkin diperbaiki dengan reformasi tapi harus diakhiri dengan penggulingan kekuasaan borjuasi untuk perubahan mendasar di basis ekonomi masyarakat. Di seluruh dunia, pemerintah-pemerintah borjuis sudah mengalami kekeringan anggaran, beronggokan hutang, dan menggencarkan gerakan-gerakan kontra-reformasi untuk mencabut reforma-reforma lama dan menutup kemungkinan reforma-reforma baru. Dalam kondisi inilah revolusi proletariat menjadi satu-satunya solusi. Meskipun terdapat tahap-tahap perkembangan sejarah yang berbeda-beda di berbagai negeri, tetapi secara umum sejarah dunia memasuki periode kritis dengan aneka peristiwa yang bersiap-siap untuk meledak dan mengarahkan setiap negeri pada kebutuhan yang sama. Di Indonesia, Gerakan Peringatan Darurat telah menutup tahun 2024 dengan luapan kemarahan dan ketidakpercayaan massal ke tubuh kekuasaan borjuis. Februari 2025, gelombang perlawanan berlanjut dalam Gerakan Indonesia Gelap. Kaum muda pelajar dan mahasiswa menjadi elemen pertama yang bangkit di tengah kegelapan dunia kapitalis yang sedang runtuh. Dengan taraf kebudayaan yang tinggi dan tanpa beban kebiasaan, rutinitas pekerjaan, dan ingatan akan progresivitas kapitalisme di masa lalu—lapisan sosial ini tampil sebagai barometer yang jauh lebih tanggap dalam merespon persoalan sosial-ekonomi yang menggerogoti jantung masyarakatnya. Di Tanah Papua, ribuan pelajar sekolahan menduduki jalanan untuk menolak Program Makan Siang Gratis dan menuntut Pendidikan Gratis. Di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Makassar, Mataram, Tasikmalaya, Indramayu, Purwokerto, Bengkulu, Cirebon, Banda Aceh, Bandar Lampung, Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, dan kota-kota lain—beribu-ribu mahasiswa tumpah-ruah ke jalan dengan beragam tuntutan yang secara keseluruhan berusaha menjatuhkan Pemerintahan Borjuis Prabowo-Gibran. Di setiap sudut, lorong-lorong dan jalan-jalan kota, pemuda pelajar dan mahasiswa tampil sebagai percikan yang potensial mengobarkan api perubahan mendasar dalam masyarakatnya. Mereka adalah angkatan muda yang keringat keluarganya diperas di kampus-kampus, yang menyaksikan skandal-skandal birokrasi yang sewenang-wenang dan korup, yang mendegarkan rintih-tangis dari korban-korban yang rumah dan lahan-lahan kecilnya digusur, dan yang rentan menjadi sasaran perlakuan rasis, seksis, dan brutalitas militer. Di jalanan Malioboro, pekik “Revolusi!” menggema dari barisan para pemberontak. Tetapi apa itu revolusi? Dalam “Membela “Revolusi Oktober, Trotsky menjelaskannya:

“Revolusi berarti perubahan tatanan sosial. Revolusi memindahkan kekuasaan dari tangan kelas yang telah kehabisan tenaga ke kelas lain yang tengah bangkit. Pemberontakan adalah momen yang paling tajam dan paling kritis dalam pertarungan demi kekuasaan antara dua kelas. Pemberontakan hanya dapat mencapai kemenangan revolusi yang sesungguhnya dan membentuk tatanan baru bila ia didasarkan pada kelas yang revolusioner, yang mampu menggalang dukungan mayoritas rakyat. Berbeda dengan proses alam, revolusi dibuat oleh manusia dan melalui manusia. Tapi dalam perjalanan revolusi, manusia juga bertindak di bawah pengaruh kondisi-kondisi sosial yang tidak mereka pilih secara bebas, melainkan diturunkan dari masa lalu dan secara imperatif menunjukkan jalan yang harus mereka ikuti. Untuk alasan ini, dan hanya untuk alasan ini, revolusi mengikuti hukum-hukum tertentu. Tetapi kesadaran manusia tidak sekadar secara pasif mencerminkan kondisi-kondisi obyektifnya. Kesadaran manusia terbiasa bereaksi secara aktif terhadap kondisi obyektif. Pada saat-saat tertentu reaksi ini mengambil karakter massa yang tegang dan menggelora. Semua moral dan tatanan yang berlaku tumbang. Intervensi aktif massa dalam peristiwa sejarah merupakan elemen yang dibutuhkan dalam sebuah revolusi. Tetapi bahkan aktivitas yang paling dahsyat sekalipun dapat tetap berhenti dalam tahap demonstrasi atau pemberontakan, tanpa mencapai ke puncak revolusi. Pemberontakan massa harus mengarah ke tergulingnya dominasi suatu kelas dan tegaknya dominasi kelas lain. Hanya dengan begitu kita mencapai revolusi. Kebangkitan massa bukanlah aksi yang terisolasi, yang dapat diserukan kapan saja diinginkan. Kebangkitan massa mewakili sebuah elemen yang terkondisi-secara-obyektif dalam perkembangan revolusi, sebagaimana revolusi merepresentasikan sebuah proses yang tekondisi-secara-obyektif dalam perkembangan masyarakat. Tetapi jika kondisi-kondisi yang diperlukan untuk kebangkitan kelas ini hadir, kita tidak boleh menunggu secara pasif, dengan mulut ternganga; seperti yang dikatakan Shakespeare: ‘ada gelombang pasang dalam pergulatan manusia. Yang, bila kita arungi saat pasang naik, akan mengarah ke keberuntungan’. Untuk menyingkirkan tatanan sosial yang sudah usang, kelas yang revolusioner harus memahami bahwa waktunya telah tiba dan menetapkan tugas untuk merebut kekuasaan. Di sini terbukalah medan aksi revolusioner yang sadar, di mana wawasan ke masa depan dan berhitungan berpadu dengan tekad dan keberanian. Dengan kata lain: di sini terbukalah medan aksi bagi Partai [Revolusioner].”

Untuk sebuah pemberontakan yang sampai pada perebutan kekuasaan—kemenangan revolusi; sebuah perjuangan politik harus didasarkan pada kelas revolusioner. Pelajar dan mahasiswa bukanlah kelas yang revolusioner dalam masyarakat ini, tetapi mereka dapat memainkan peran revolusioner hanya ketika mereka mendasarkan perjuangannya pada kelas revolusioner—kaum buruh. Pelajar dan mahasiswa, terlepas dari semua antusiasme dan kemampuan mobilisasi yang memukau, bobot sosial atau daya ungkit ekonominya tidaklah sebesar yang dimiliki kaum buruh. Tidak ada bola lampu yang bersinar, kendaraan yang bergerak, telepon yang berdering, kertas dan pena untuk menulis, kompor dan gas untuk memasak, traktor dan peptisida untuk tanaman, juga pakaian dan kosmetik untuk pelindung dan perawat kulit, tanpa semuanya atas seizin kelas pekerja. Inilah fakta yang tidak cukup diketahui tapi lebih jauh harus dipahami dan diyakini oleh para pelajar dan mahasiswa. Bahwa kekuatan bagi gerakan mereka hanya bisa diperoleh dengan mendasarkan diri pada perjuangan bersama orang-orang yang bertahan hidup dengan mengais roti dari kubangan debu dan lumpur industri, tangan-tangan keriput dan wajah-wajah yang menua sebelum waktunya, yang berjalan dengan tubuh-tubuh yang terhuyung-huyung karena kerja keras sepanjang hari, bermandikan keringat yang menyengat dan tidur terlentang dengan perut yang lapar, berbantalkan kemiskinan dan penghinaan yang tiada-tara; laki-laki dan perempuan yang sepanjang kehidupannya terbenam di kedalaman pusara eksploitasi, tanpa keliauan cahaya, kesejukan udara dan wewangian bunga; pria dan wanita yang terhisap dalam sistem produksi yang sangat tidak manusiawi. Tatkala hati orang-orang muda dipenuhi penderitaan dan berkabung, dengan jiwa yang tersiksa dan menahan kepedihan; kepala dan jarinya mesti menunjuk kepada cahaya dan kebenaran—aktivitasnya harus diarahkan untuk menyebar ke dalam gerakan buruh yang merupakan tulang punggung bagi revolusi yang bisa menang. Dalam “Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 14), kami telah menerangkan:

“Dalam gerakan pelajar dan mahasiwa untuk melawan kapitalisme di sektor pendidikan, untuk mengakhiri krisis kapitalisme yang telah meroketkan ongkos pendidikan dengan kebijakan pemotongan subsidi yang luar biasa tajam, maka perjuangan kaum muda harus menyebar ke kelas pekerja yang merupakan target utama dari politik penghematan. Kekuatan pelajar dan mahasiswa sangatlah terbatas. Meskipun mereka menjadi barometer masyarakat—yakni, sebuah angkatan yang karena mempunyai cukup waktu-luang untuk mempelajari apapun maka menjadi lebih berbudaya dan mudah merasakan ketidakadilan di sekitar—dan memiliki sedikit kewajiban dan tidak-terkekang oleh rutinitas sehingga gampang bergerak secara meledak-ledak, tetapi segala gerakannya tidaklah membawa dampak langsung terhadap tatanan kapitalis. Tanpa keterhubungan dan kerjasama dengan gerakan buruh sebagai satu-satunya kelas dengan bobot-sosial yang signifikan, maka segala demonstrasi dan mogok belajar di sekolah dan kampus-kampus takkan sanggup meluncurkan serangan yang memadai terhadap kekuasaan politik dan ekonomi borjuis. Inilah yang menjadi kelemahan dalam gerakan NUS dan serikat-serikat mahasiswa Australia. Mereka belum memahami kalau kaum buruh adalah satu-satunya kelas yang paling revolusioner dalam masyarakat kapitalis. Ini bukan saja karena proletariat tidak mempunyai kepentingan secuil apapun untuk mempertahankan hubungan-hubungan produksi kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara borjuis yang menghisap dan menindas umat manusia secara keji dan hina ini. Ini lebih jauh karena hanya kaum buruhlah yang mempunyai kekuatan yang diperlukan untuk mengubah masyarakat secara mendasar. Segenap kaum muda yang tertindas tidak boleh melupakan bahwa takkan ada bangunan-bangunan sekolah dan universitas, tidak ada peralatan-peralatan belajar-mengajar, tidak ada pula makanan dan pakaian untuk bertahan hidup di muka bumi tanpa seizin proletariat. Kelas proletar adalah produsen utama dari kekayaan material yang umat manusia butuhkan hari-hari ini; mereka telah menjadi kelas pekerja dalam skala dunia, yang terhubungan antara satu negeri dengan negeri lainnya melalui sistem produksi dan pertukaran dunia, dan memberi mereka daya-tempur terorganisir dalam meruntuhkan sistem kapitalisme dunia. Hanya kekuatan historis inilah yang dapat menggulingkan kediktatoran para bankir, kapitalis dan imperialis, dan mengekspropriasi segala sarana produksi dan sumber-sumber kekayaan material untuk menjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar setiap laki-laki dan perempuan secara gratis, demokratis, progresif dan berkualitas—termasuk untuk memberikan akses terhadap pendidikan yang benar-benar ilmiah dan menggugah untuk mengembangkan fakultas-fakultas pikiran, perasaan, dan kehendak setiap orang dengan sepenuh-penuhnya. Pada akhirnya: ini berarti membutuhkan pembangunan kepemimpinan revolusioner untuk memenangkan revolusi dengan menegakkan kediktatoran proletariat yang bertugas membangun sosialisme.”

Dalam Gerakan Indonesia Gelap, tugas utama gerakan pelajar dan mahasiswa adalah menarik simpati dan keterlibatan aktif dari kaum buruh. Kekuatan angkatan muda yang teradikalisasi tidak terdapat dalam gerakannya sendiri, melainkan kemampuannya untuk menyebar dan beragitasi dalam gerakan buruh untuk perjuangan bersama. Sekadar menyelenggarakan forum diskusi, pertemuan berkala, dan demonstrasi semata tidak akan pernah memenangkan tuntutan akan pendidikan gratis apalagi revolusi. Tidak mungkin pemerintahan borjuis menyerah dan digulingkan tanpa mengorganisir pemogokan umum dengan melibatkan kelas pekerja dan mengaitkannya dengan masalah penghematan dan krisis kapitalisme di skala dunia. Selama kaum buruh tidak dilibatkan dalam perjuangan kaum muda, rezim borjuis apapun tidak akan pernah dapat ditaklukan dan dihancurkan. Tindakan-tindakan pelajar dan mahasiswa yang terisolasi dalam memblokir jalan dan menduduki gedung publik adalah penting, tetapi dengan sedikit atau sama sekali tanpa berhubungan dan berkoordinasi dengan gerakan buruh maka takkan membawa pengaruh yang besar untuk menghentikan sektor-sektor ekonomi yang menentukan. Meskipun ada dukungan dari organisasi-organisasi buruh terhadap gerakan muda dan di kampus-kampus terdapat keinginan untuk melibatkan kaum buruh dalam gerakan muda, namun yang dibutuhkan bukan sekadar jajak pendapat, konferensi pers, atau pernyataan-pernyataan tentang perlunya pemogokan umum tapi pengorganisasian pekerja secara konkret dalam komite aksi bersama. Inilah mengapa gerakan muda perlu membuka dialog dengan gerakan buruh untuk mendirikan Komite Solidaritas Pemuda-Pekerja, yang akan mengindentifikasi semua tempat kerja utama yang dapat dikunjungi dan membangun komite-komite aksi bersama di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan tempat-tempat kerja. Dengan Komite Solidaritas inilah pelajar dan mahasiswa yang teradikalisasi ditugaskan keluar dari sekolah dan universitasnya menuju pabrik, gudang, hotel, atau apapun tempat di mana pekerja berada di sekitar mereka. Asap apapun  menggantung di udara dan racun apapun mengalir di sungai gerakan pelajar dan mahasiswa, pemuda-pemuda radikal harus mengayuh perahunya untuk mengirimkan percikan yang dapat meledakan meriam perjuangan kaum buruh. Dengan keyakinan dan tindakan macam inilah kaum muda bukan saja dapat mengharmoniskan kerja-mental dan kerja-fisik, melainkan pula dapat membantu kaum buruh dalam melawan disiplin barak dan juga mambantu dirinya sendiri dalam menghadapi keterbatasan psikologis borjuis-kecil yang cenderung merasa jijik dan ngeri akan kehidupan yang penuh dengan kerja keras. Dalam sebuah catatan untuk kawan, kami menulis:

“Kondisi yang mendorong proletar ke dalam perjuangan kolektif dan terpadu, sadar-kelas dan terorganisir kuat, tidak dapat ditemukan dengan mengurung kesadaran kaum buruh dalam pengalaman sekolah pabrik atau gudang manapun, tetapi dengan memperluasnya dalam kondisi sosial umum keberadaan kelasnya—sekolah kehidupan politik yang luas dan belum dipelajari secara memadai. Para pelopor yang ingin mendorong pembelajaran ini pertama-tama harus berendah-hati, mendekati para pekerja bukan dengan perasaan kasihan tapi rasa takjub dan hormat yang tinggi, untuk mendapatkan simpati yang tulus dari mereka untuk belajar dan bangkit sebagai kelas yang mandiri. Benjos, bukankah ini pertanyaan ‘aktivis’ yang dirimu komentari, ‘Apa itu Nikel?’ Sama seperti, ‘Apa itu Kertas?’ Jika orang-orang yang bekerja pada tempat-tempat produksi ini tidak memberikan jawaban tentang apa yang diproduksinya, bukan berarti mereka ‘tidak tahu’ apalagi ‘tidak dapat mengerti’ apa yang sedang mereka olah. Akan sangat keliru menganggap laki-laki dan perempuan yang enggan menjawab pertanyaan itu—dengan satu dan lain frase—sebagai ‘bodoh’. Kelas proletar tidak punya waktu untuk mempedulikan hal-hal yang menjenuhkan yang setiap harinya ‘dijawab’ oleh kaki dan tangan mereka dengan curahan energi yang luar biasa. Pembahasan tentang apa itu nikel atau kertas sama sekali tidak menarik simpati pekerja. Menanyakan ini kepada buruh justru menunjukkan kecongkakkan intelektual yang secara teoritis adalah tautologis dan vulgar. Ini mengekspresikan psikologis borjuis-kecil yang malang dan menggelikan. Secara ‘moral revolusioner’: ini sangat menghina orang-orang yang menggeluti kerja-fisik, yang merangkak dalam debu dan lumpur, mengeluarkan keringat dingin dan panas, yang darinya tercipta kekayaan material dan kecerdasan masyarakat. Dan lebih keliru lagi, apabila orang-orang yang dapat menjawab pertanyaan itu hadir di tengah kehidupan buruh untuk memainkan peran pedagogi—sebagai guru, bukan agen politik. Yang dibutuhkan bukanlah pelaksaan tugas pedagogis (kerajinan) yang sederhana—dan cenderung abstrak dan skolastik—tapi tugas politis yang rumit untuk mempersenjatai kelas revolusioner secara ideologis. Dalam persoalan politik ini, segala sesuatunya mempertimbangkan waktu; waktu adalah persoalan maju dan mundur, hidup dan mati. Kerja propagandis bukanlah untuk menggurui, melainkan menyentuh hati dan nurani; menyelam ke dasar jiwa kelas ini, untuk membantunya mengangkat naluri revolusionernya yang tidak-sadar atau setengah-sadar menjadi sadar-kelas dan terorganisir kuat dalam aktivitas politik independen proletariat.”

“Persoalan politik yang hidup tidak dapat dipecahkan dengan pelatihan-pelatihan kognisi yang reduksionis dari kaum intelektual yang berpretensi mengajari orang-orang yang telah melalui sekolah pabrik dengan metode-metode yang angkuh dan tidak-jujur. Meminta pekerja mencari tahu atau memikirkan lagi dan lagi apa itu kertas atau nikel sama sekali tidak membantu untuk mengantarkan pada pengetahuan revolusioner. Laki-laki dan perempuan yang selama ini dididik dalam disiplin ekonomi yang tidak-sadar harus dibantu memahami disiplin politik yang sadar. Mendekati kaum buruh dengan merendahkan kemampuan mereka untuk berpikir rasional dan belajar teori secara serius adalah pendekatan yang mengandung perasangka borjuis-kecil, Untuk mendapat mata dan telinga para pekerja, seseorang tidak dapat bertindak mengatasnamakan kelas proletar tapi harus bertindak melalui kelas proletar. Ini memerlukan keyakinan yang mendalam, kesabaran yang besar, dan kerja keras yang bersemangat untuk menaklukan setiap rintangan yang konkret. Secara keseluruhan, tugas ini menyangkut taktik politik yang mengalir dari strategi revolusi proletar—perspektif sosialisme dunia yang dibebankan oleh proses perjuangan kelas internasional yang hidup…. Dalam hati dan nurani orang-orang yang diperlakukan bagai kawat, gir, dan skrup ini mengandung dahaga yang luar biasa atas sesuatu yang tidak dimengerti. Di kedalaman jiwa mereka butuh pengetahuan akan sesuatu yang belum dimengerti, yang lebih tinggi, dan untuk memahami dunia yang sesungguhnya. Laki-laki dan perempuan biasa yang dipandang remeh dan sebelah mata, bukanlah makhluk-makhluk pandir untuk meneguk teori. Mereka hanya tidak diberi kesempatan mengalami dan mempelajarinya. Dan ketika kita menempatkan aktivitas politik kita sebagai sebuah seni; tidak mungkin orang-orang yang kita temui menerima pidato dan propaganda sebagai bahasa-bahasa kemanusiaan yang sejati tanpa itu membiarkan mereka berusaha menyimpulkan makna politis bagi diri mereka sendiri. Kita harus belajar menyampaikan pesan secara tersirat dan hanya menjadi jelas, melalui penyajian dan tindakan-tindakan yang jujur. Orang-orang tidak cukup diyakinkan dengan rangkaian pengalaman kognisi, tetapi juga membutuhkan pengalaman manusiawi menyeluruh yang menyentuh emosi. Itulah mengapa dalam tugas ini kita harus menjadi manusia yang benar-benar hidup, dengan kesatuan fakultas-fakultas pikiran, perasaan, dan kehendak yang harmonis. Dalam aktivitas politik kita untuk mencengkeram massa, tendensi harus disalurkan sebagai upaya yang tulus yang menyentuh emosi. Hanya dengan ini sebuah tendensi politik dapat masuk dalam kehidupan jiwa manusia dan menjadi kredo yang diyakininya secara pribadi. Dan pada akhirnya kita hadir bukan sekedar sebagai unsur politis tapi juga memainkan peran kreatif untuk membangun ‘yang lain’ dalam perjuangan ini—yang dengan itu kita membangun diri kita sendiri.”

Dalam periode sejarah yang getir dan dramatis ini, para pemuda radikal yang terbiasa beragitasi di ruang pelajaran, lorong, kantin, lapangan atau taman-taman perkuliahan harus ditugaskan menerobos dinding-dinding beton yang gerbang besinya dikunci dengan gembok-gembok besar. Mereka harus menebarkan sepotong matahari dalam bilik-bilik produksi yang suasananya seperti suasana hati kelas borjuis—yang siangnya terasa gelap, dan ketika malam membesit, menjadi semakin gelap. Setiap gerakan muda yang ingin memantaskan dirinya untuk revolusi harus menyebar ke dalam gerakan buruh dan menghadapi segala rintangan yang ada. Di barak-barak kerja yang kotor dan penuh penyakit, yang mengurung laki-laki dan perempuan dalam unit-unit rutinitas yang mengancam dengan kehancuran diri-total, terkandung saripati kehidupan yang luar biasa berdaya: tidak tunduk pada rasa lelah, sebuah kemauan hidup yang membara, dan sumber mata air merah bagi dahaga umat manusia. Semua ini menggumpal dalam gairah yang tertekan dan dianggap berbahaya karena dapat menghancurkan tatanan yang ada. Di balik tempat-tempat kerja yang menyuguhkan ketenangan relatif, tersembunyi keberanian, kemuakan, amarah, dendam, dan kebencian mendalam terhadap keseluruhan sistem masyarakat ini. Di dasar jiwa kaum buruh, yang dikondisikan oleh keberadaan sosialnya sendiri, terdapat dorongan naluriah yang berkilau dan kuat seperti arus listrik yang menyengat. Semuanya mengintai di alam bawah-sadar atau setengah-sadar pekerja sepanjang waktu dan hanya butuh percikan untuk meledakannya ke permukaan. Namun untuk menyebar secara terorganisir dan sadar ke dalam gerakan buruh, para pelajar dan mahasiswa yang teradikalisasi membutuhkan kepemimpinan yang memadai. Jika gerakan mahasiswa dan pelajar yang sedang bangkit, yang walaupun diberkati dengan waktu-luang yang cukup, sekadar tertarik bernyanyi dan berlayar, berpidato dan bergerak, tanpa memiliki harapan dan keyakinan yang teguh, yang diilhami oleh panduan aksi yang terang, luas dan mendalam untuk penggulingan masyarakat secara revolusioner—banyak perahu yang akan karam, menghantam batu-batu karang di tengah lautan badai sosial dan politik yang berkabut hitam pekat. Dalam dunia kapitalisme yang sedang sekarat, kegelapan selalu menjadi ekspresi dari mimpi buruk tapi hitam dapat mengekspresikan kedalaman dan keluasan, kekokohan dan keteguhan. Keharusan juga kebetulan. Di mana di antara warna-warna hitam, mengalir warna merah darah rakyat—kemanusiaan, keberanian, dan pengorbanan yang akan mengeluarkan kesadaran sebagai pemenang dalam pertempuran yang paling gelap sekalipun. Pada titik inilah sebuah kepemimpinan revolusioner diperlukan—bukan hanya untuk menjadi jenderal perang-kelas tapi juga pembawa panji, peniup terompet, dan penabuh drum revolusi proletar.

Dalam periode ‘normal’ yang relatif damai, konservatisme yang diwarisi dari masa lalu akan menjadi penghambat bagi kebangkitan massa dan penerimaan yang luas akan ide-ide revolusioner; sementara dalam periode yang revolusioner—krisis, perang dan revolusi—rutinitas dan kebiasaan yang telah membantu akan dihancurkan oleh peristiwa-peristiwa besar. Godam berat akan menghantam hati dan nurani setiap orang yang terlelap dan apatis dengan kekuatan pukulan dan kedalaman terhebat. Dan hari-hari ini, situasi obyektif telah membuka jalan untuk kebangkitan perjuangan kelas revolusioner; di mana kontradiksi kapitalisme yang tak-terpecahkan telah menenggelamkan umat manusia dalam penderitaan, kemelaratan, kehinaan, dan kematian yang tak-terperikan, dengan kemarahan, kemuakkan, dan lain-lain, akan terakumulasi dan menciptakan lompatan kualitatif di masa mendatang. Namun di tengah krisis organik masyarakat kapitalis hari-hari ini, yang menyediakan sejumlah syarat obyektif untuk kebangkitan revolusioner pada periode berikutnya, kekuatan proletariat akan tetap berada sebagai potensi apabila tidak diaktifkan dengan membangun syarat subyektif: kepemimpinan revolusioner untuk mengorganisir kelas proletar secara tersentral dan mengangkat perjuangan bawah-sadar atau setengah-sadar menjadi perjuangan yang sadar-kelas. Dituntut kebutuhan untuk mengakhiri krisis kapitalisme inilah, kepemimpinan revolusioner dibangun bukan untuk menyediakan kondisi-kondisi untuk perebutan kekuasaan oleh kelas revolusioner atau revolusi proletar-sosialis; karena peran kepemimpinan revolusioner justru untuk menjembatani dan menyelaraskan kesadaran kelas proletar—yang dikacaukan dan dibingungkan oleh pengaruh-pengaruh reformisme dan sentrisme—dengan situasi obyektif yang telah matang untuk proletariat dalam menjalankan tugas historisnya: kediktatoran proletariat untuk membangun sosialisme di atas keruntuhan kapitalisme. Dan tugas ini hanya bisa dijalankan secara sadar dan terorganisir oleh kaum buruh—dan didukung oleh mayoritas kaum tertindas di sekelingnya—apabila mendapatkan kepemimpinan dari partai yang berpedoman pada teori yang paling maju; di mana dalam menghadapi kondisi obyektif yang telah matang, pembangunan kepemimpinan revolusioner ini berjuang untuk melayani kebutuhan historis umat manusia akan kediktatoran proletariat secara teguh, berdisiplin-baja, berani dan gigih. Dalam “Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 14), kami telah menjelaskan begini:

“Dalam hubungannya dengan gerakan-gerakan pelajar dan mahasiswa, kekosongan kepemimpinan yang berkeyakinan penuh dan berjuang keras untuk kediktatoran proletariat ini akan membuat kaum muda sukar untuk terhubung secara politik dan organisasional dengan kelas proletar. Dan tanpa terhubungkan dengan gerakan buruh maka kekuatan pemuda takkan mungkin untuk memiliki daya-gempur yang signifikan dalam menghadapi kapitalisme dan imperialisme. Kelemahan gerakan NUS dan serikat-serikat pelajar Australia menunjukkan itu. Bahwa pemblejetan terhadap kebusukan kaum liberal saja tidak cukup untuk memajukan perjuangan pelajar dan mahasiswa. Hanya dengan membangun kepemimpinan revolusioner yang berorientasikan kediktatoran proletariatlah aksi-aksi pemuda dapat dijembatani untuk memasuki tahap gerakan yang lebih tinggi dengan meraih dukungan dari organisasi-organisasi buruh. Dengan ketidakmampuan untuk menyebar dan mendapatkan solidaritas yang terorganisir dan kuat dari kelas proletar, demonstrasi dan pemogokan angkatan muda bukan saja tidak berdaya dalam memenangkan tuntutan-tuntutannya tapi juga akan terperangkap di jalan buntu: mobilisasi berlarut-larut yang luar biasa melelahkan dan menguras tenaga. Kebuntuan ini secara tak-terelakkan membawa pada periode stagnasi dan reaksi; di mana gerakan menurun dan serangan-balik bertambah leluasa, yang mengakibatkan demoralisasi, hingga menguatnya pengaruh pemimpin liberal dan melemahnya otoritas ‘Kiri’ dalam perjuangan massa. Pada akhirnya: tanpa peran para pemimpin revolusioner, dengan tingkat politik dan organisasional yang cukup, maka ledakan gerakan pelajar dan mahasiswa tidak akan menemukan jalan untuk memajukan perjuangannya dengan menyebar dan menyatu ke dalam perjuangan buruh. Di zaman krisis kapitalisme, perang imperialis, dan revolusi proletar; kaum revolusioner bertugas membangun kepemimpinannya dengan sekuat tenaga memperjuangkan keyakinannya terhadap kediktatoran proletariat. Inilah yang diabaikan oleh kepemimpinan Lorimeris. Tanpa keyakinan teoretik dan pembelaan politik serta organisasional yang sepenuh-penuhnya pada kemampuan kaum buruh untuk berkuasa dan mentransformasikan masyarakat, maka segala pernyataan untuk independensi-kelas dan sosialisme menjadi formalis.

“Dalam tulisan ‘Mengapa Belum Ada Revolusi?’, Alan Woods menuturkan: ‘mereka [kaum yang berkredensial ‘Kiri’ dan juga ‘Sosialis’] tidak memiliki keduanya. Oleh karena itu, mereka terus menghindar dari tujuan utama. Mereka bimbang, menunda-nunda, mencari kompromi, usaha membangun jembatan antara kepentingan-kepentingan kelas yang tak-terdamaikan, adalah mustahil. Keraguan, ambiguitas, dan kebimbangan adalah esensi batin kaum reformis-kiri. Kekalahan sudah terpatri dalam jiwa dan psikologi mereka’ dan ‘dalam banyak kasus, kaum reformis-kiri adalah orang-orang yang jujur. Oh ya, mereka benar-benar yakin akan nilai-nilai keadilan dari argumen mereka. Dan seorang reformis-kiri yang tulus dapat melakukan lebih banyak kerusakan daripada yang tidak-tulus. Pengkhianatan mereka tidak disengaja atau dilakukan secara tidak-sadar. Massa memberikan semua kepercayaan pada mereka dan karena itu akan lebih pasti digiring ke kekalahan. Martov tidak diragukan lagi adalah seorang yang sangat jujur dan tulus, dan juga sangat cakap dan cerdas. Namun ia memainkan peran yang sangat negatif selama Revolusi Rusia’. Hari-hari ini, mereka yang membangun organisasi dan front persatuan dengan mengembangkan dan mendasarkan diri pada teori tahapan (yang intinya adalah penolakan terhadap kediktatoran proletariat), cepat atau lambat, akan menemukan dirinya dalam rawa-rawa kolaborasi-kelas. Pertama, kecenderungan kolaborasi-kelas ‘positif’—reformisme dan oportunisme: membawa pada pembentukan blok antara organisasi proletar dengan organisasi radikal dan liberal borjuis, yang secara praktis mengejar pemenuhan program minimum (reformasi dan demokrasi) yang terpisah dari program maksimum (revolusi sosialis)—di bidang teori, ini dualistik. Kedua, kecenderungan kolaborasi-kelas ‘negatif’—ultrakiri-isme dan sektarianisme: mengabaikan atau menghindari pembentukan blok organisasi-organisasi proletar dan semi-proletar, yang dalam praktiknya ditunjukkan dengan kegandrungan membentuk blok organisasi-organisasi borjuis-kecil radikal dan liberal, dengan mematrikan sikap dan pendekatan yang membingungkan dalam menghubungkan antara program minimum dan maksimum—di bidang teori, ini eklektik. Pada 1938, Leon Trosky menulis dokumen perspektif tentang “Program Transisional” untuk mempersenjatai kaum buruh dan muda dengan mempersiapkan para pelopornya dalam memimpin perjuangan revolusioner massa di periode mendatang [kegelapan dunia kapitalisme saat ini]—masa-masa yang penuh dengan badai krisis masyarakat kapitalis; kecamuk perang-perang imperialis, revolusi dan kontra-revolusi yang membuncah, hingga kurva kekuatan revolusioner yang meningkat dengan fluktuasi ekonomi yang kacau serta kebangkitan dan kemunduran politik yang relatif.”

Dalam momen-momen kritis, kekosongan kepemimpinan revolusioner dan pengkhianatan kepemimpinan reformis berpengaruh besar pada perimbangan kekuatan kelas. Tanpa kepemimpinan yang memadai, dengan perspektif dan orientasi politik yang tepat, maka spontanitas massa tidak bisa dimajukan ke tahap perjuangan kelas yang lebih tinggi. Meskipun korupsi internal dari kepemimpinan lama telah terungkap, tetapi tanpa mewarisi kader-kader revolusioner dari periode sebelumnya maka sebuah kelas tidak dapat dengan mudah menginprovisasi kepemimpinan baru. Tanpa kader-kader revolusioner yang dipersiapkan jauh sebelum masa-masa keruntuhan kepemimpinan lama, akan sukar bagi massa yang teradikalisasi oleh peristiwa untuk segera mencari penggantinya. Lapisan-lapisan yang lebih konservatif dan kerak birokrasi yang masih tersisa dalam organisasi buruh dengan segala cara berusaha mempertahankan kepemimpinan lama. Demikianlah demonstrasi atau pemogokan yang merupakan miniatur dari revolusi sengaja tidak-dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran dan keterorganisasian elemen-elemen sosial yang teradikalisasi. Daripada berdiri di atas aksi-aksi politik yang sadar-kelas dan terorganisir dengan baik, kepemimpinan mereka justru mengandalkan seruan-seruan omong-kosong dan garis komando yang tidak-berdisiplin dan prematur. Memang bertambah tajamnya kontradiksi akan meningkatkan kebutuhan sentralisasi, tetapi pemusatan kekuatan yang tidak menggunakan agitasi dan propaganda revolusioner berarti menyangkal metode sentralisme-demokratis dengan kecenderungan sentralisme-birokratis. Kepemimpinan macam ini tak-menginsafi kalau massa bergerak bukan saja karena dorongan obyektif melainkan pula faktor subyektif. Massa tidaklah cukup berjuang dan berkoban hanya lantaran terhimpit kesusahan dan penderitaan hidup. Laki-laki dan perempuan akan memberikan pengorbanan terbaiknya hanya ketika mereka tahu dan memahami, yakin dan mencintai apa yang diperjuangkannya. Menghadapi persoalan inilah peran kepemimpinan amat signifikan dalam mempercepat pembelajaran dan perkembangan kesadaran massa. Melalui “Jurnal Dialektika III (Mengapa Tidak Ada Revolusi? Perlunya Kepemimpinan Revolusioner)”, Alan Woods menjelaskan bagaimana hubungan antara pelopor dan massa di tengah ledakan peristiwa:

“Gaya inersia adalah hukum yang berlaku untuk semua benda, dan yang menyatakan bahwa mereka akan selalu tetap dalam keadaan mereka, baik dalam keadaan diam atau bergerak, kecuali jika ada gaya eksternal yang dikenakan pada mereka untuk mengubah keadaan mereka, dan titik tersebut disebut resistensi atau aksi. Hukum yang sama berlaku untuk masyarakat…. Tradisi dan rutinitas sehari-hari membebani benak manusia dan memaksa mereka untuk mematuhi penilaiannya. Ini berarti bahwa massa, setidaknya pada awalnya, akan selalu menempuh jalan yang paling mudah. Namun pada akhirnya, hantaman peristiwa-peristiwa besar akan selalu memaksa mereka untuk mulai mempertanyakan norma, moralitas, agama dan kepercayaan yang telah membentuk cara berpikir mereka sepanjang hidup mereka. Dibutuhkan peristiwa-peristiwa besar untuk mengguncang massa keluar dari rutinitas yang membuat mereka bebal, untuk memaksa mereka menyadari posisi mereka yang sebenarnya, untuk mempertanyakan paham-paham lama yang mereka pikir tidak perlu dipertanyakan lagi, dan menarik kesimpulan revolusioner. Ini jelas membutuhkan waktu. Tetapi selama revolusi, kesadaran massa mengalami dorongan yang sangat besar. Kesadaran dapat sepenuhnya berubah dalam 24 jam. Kita saksikan proses serupa di setiap pemogokan. Sering kali buruh yang paling maju terkejut ketika justru buruh-buruh yang paling terbelakang dan konservatif tiba-tiba berubah menjadi menjadi militan yang paling aktif dan energetik. Pemogokan adalah miniatur revolusi. Dan dalam setiap pemogokan, kepemimpinan memainkan peran penting dalam proses perkembangan kesadaran. Acap kali, satu pidato berani oleh hanya seorang militan dalam pertemuan massa dapat berarti keberhasilan atau kegagalan sebuah pemogokan.”

Dalam revolusi, demonstrasi, atau pemogokan—peran kepemimpinan adalah sentral. Saat barisan massanya dihantam reaksi, pecah dan terdemoralisasi oleh setumpuk serangan-balik borjuis; kepemimpinan yang lemah akan menatap diferensiasi dan penurunan homogenitas gerakannya sebagai akibat dari keberadaan lapisan-lapisan yang bersifat cair. Ketika massa mulai mundur dan meninggalkan jalanan, kepemimpinan macam itu pasti kebingungan dan menggantikan signifikansi agitasi-propaganda dengan perintah-perintah di tempat. Pada momen-momen kritis sejarah, tugas kepemimpinan sangat strategis. Para pelopor yang tidak mampu memajukan perjuangan massa diabaikan dan ditinggalkan. Persoalan utamanya bukan menyangkut karakter massa yang cair tapi peranan menentukan dari kepeloporan. Kepemimpinan tidaklah sebatas mendapatkan mata dan telinga massa melainkan pula membuat kebijakan, slogan, dan seruan-seruan penting. Pada tahap permulaan, spontanitas merupakan arus yang luar biasa kuat dalam menarik lapisan luas untuk mengidentifikasi dirinya dengan ledakan. Luapan spontan bahkan meretakkan kepemimpinan-kepemimpinan organisasi yang lemban dan bungkam dalam melayani kebutuhan massa yang sedang bangkit. Saat lapisan-lapisan terluas tertarik terbangunkan ke dalam aksi-aksi politik maka setiap kepemimpinan yang ada menghadapi tantangan serius. Pemimpin-pemimpin yang berkompromi ditinggalkan dan pemimpin-pemimpin yang berjuang didukung. Namun massa takkan tahan berlarut-larut menghadapi ketidakstabilan. Jika kepemimpinan lemah, tanpa perspektif dan orientasi yang tepat, energi revolusioner massa terbuang sia-sia, hingga mereka menjadi lelah dan kecewa terhadap kepemimpinannya. Di titik inilah nampak jelas bagaimana hubungan pelopor dan massa sangat dinamis. Pelopor yang tidak mampu menjalankan perannya akan ditinggalkan dan massa yang teradikalisasi oleh peristiwa serta berhasil menarik kesimpulan revolusioner akan meningkatkan aktivitas politiknya menjadi pelopor. Itulah proses dialektis antara pelopor dan massa. Selama masa-masa tenang prosesnya lambat—membentangkan ujian kebosanan dan memerlukan kesabaran yang luar biasa. Memasuki masa-masa gejolak prosesnya dipercepat—melalui bermacam-macam ujian yang penuh ranjau tipu-daya dan menantang bahaya. Di atas segalanya, pada setiap masa, keyakinan dan pengorbanan sangat dibutuhkan dalam menghadapi tahap-tahap tertentu dari perjuangan kelas. Sekarang kita berada di zaman bergejolak! Namun dengan pendulum yang tidak secara terus-menerus berayun ke satu arah melainkan mengarah ke kanan dan ke kiri, dengan kejang-kejang historis yang dicirikan oleh fluktuasi periodik dan perubahan situasi yang mendadak. Pada kondisi inilah kita akan melihat mobilitas yang amat cepat dari individu-individu untuk mencari dan menguji pelbagai organisasi dan kepemimpinan. Mereka bukanlah kutu-kutu loncat yang tiada berprinsip, melainkan orang-orang yang sedang berusaha menemukan jalan keluar untuk mengakhiri krisis kapitalisme secara revolusioner. Ini merupakan gejala yang sehat di tengah kekosongan kepemimpinan revolusioner. Dan kekosongan ini tidak dapat diterima dan dibiarkan begitu saja. Bangun Bolshevisme sekarang juga:

“Di langit malam, kita melihat gugusan bintang. Kita ingin menggapainya. Namun untuk terbang, kita tidak bisa terpaku pada bintang-bintang atau menunggu malaikan bersayap mengikat kita di ekornya yang rapuh. Kita bukanlah anak ayam tapi elang muda dengan cakar dan taring yang sedang tumbuh. Antusiasme orang muda dengan visi masa depan dan vitalitas yang murah-hati, tidak cocok dengan aktivitas-aktivitas politik yang sempit di bilik-bilik dunia yang palsu, penuh bujuk-rayu dan tipu-daya. Sebuah terompet kecil yang sangat berisik dari masa lalu yang dipenuhi gairah paling kurang-ajar harus diaga. Jangan pernah menggantungnya di tiang pengakuan dosa. Jangan juga menyimpannya di pelana tempat perut-perut gemuk dan pantat-pantat berlemak duduk malas. Jiwa kita tidak mungkin dijual kepada iblis. Inspirasi terdalam takkan mampu digantikan oleh hal-hal teknis. Selapar apapun perut kita di zaman yang gelap dan beku yang berwajah batu ini, lembaran untung-rugi takkan bisa menjadi makanan bagi batin kita. Terompet yang keberisikannya berasal dari pertumpahan darah, keringat, dan air mata, pada waktunya akan ditiup oleh mulut-mulut yang terorganisir, sadar-kelas, dan berdisiplin baja, sebagai senjata yang menyalak yang mampu melubangi emas dan permata. Ketika terompet itu hilang dari sanubari kita, bukan hanya fajar harapan di atas kepala kita yang tenggelam tapi juga mata air merah yang mengalir dari tindakan dan catatan kehidupan kita akan mongering. Sudah terlalu banyak baris-baris putus-asa dari orang-orang yang terperangkap dalam saringan: merpati merah-muda dan gagak hitam-tua yang dianugerahi sayap, namun terbang dalam ember kekecewaan dan penyesalan. Namun kilau dan kegembiraan elang-elang muda yang berkeras kepala tidak mungkin dikalahkan oleh rasa lelah, rintih sakit, deru tangis, dan sangkar laudanun. Kaki-kaki yang menghujam kokoh ke tanah dan sayap-sayap yang mengepak keras ke langit, dengan cakar dan taring yang kuat, akan menjadi senjata pahat yang mengukir kemenangan, dalam pertarungan untuk masa depan, di awan-awan gelap yang tinggi dan tebing-tebing abu-abu yang curam.”

“Jika aktivitas praktis dan sangat fatal merasuki jiwa perjuangan kita, peran kita saat ini akan mengacaukan lintasan generasi mendatang dengan segala dusta dan prasangka yang mengiris hati. Matahari akan tetap bersinar meskipun untuk tindakan yang sederhana. Namun tanah yang kita jejaki hari ini bukan masalah sehari, setahu, atau berabad-abad; generasi mendatang terlibat dalam kontur yang kita tinggalkan dalam gerak, ruang dan waktu, yang lebih atau kurang terpengaruh oleh proses sekarang. Peran sekecil dan seburuk apapun akan menjadi prasasti yang diukir dengan ujung peniti pada pohon ek muda yang lembut; luka akan semakin membesar seiring dialektika perkembangan dari angkatan baru yang menemukan di dalamnya karakter dan aktivitas yang sempit. Dengan satu dan lain cara, tindakan kita hari ini bukan saja mengakar dari masa lalu tapi juga terhubung dan mengondisikan masa depan. Mimpi buruk yang kita warisi dari kegelapan masyarakat terdahulu harus kita taklukan dengan aktivitas yang terang dan mencerahkan. Pancaran sinar matahari tidak membutuhkan prasasti untuk menerangi kehidupan. Derita hidup yang mengoyak hari-hari kita tidak dapat dijadikan alasan untuk menghibur-diri dalam bilik-bilik kesempitan dan kedangkalan yang menenggelamkan. Tidak ada sesuatupun di langit yang bisa merobohkan pendirian orang-orang yang ‘memahami’ penderitaan konkret di muka bumi. Laki-laki dan perempuan yang dibesarkan di belantara zaman krisis, perang dan revolusi harus bangkit dengan kaki yang membaja dan lengan yang membara, hati yang terkendali dan pikiran yang berapi-api. Dan tatkala kita melihat dunia sebagai medan pertempuran bagi binatang tingkat tinggi, maka kita mesti mempersenjatai diri dengan peralatan tempur yang termanusiawi dan termaju. Perjuangan ini hanya bisa kita menangkan dengan perkakas tindakan dan pedoman aksi yang paling teguh: Marxisme-Bolshevime. Bangun Kepemimpinan Revolusioner ‘Bolshevisme’ sekarang juga!”

Bergabung dalam pembangunan Bolshevisme

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai