Kategori
Sejarah

Revolusi dan Pembebasan Perempuan (Bagian 8)

“Aku memburu sumber rahasia api, yang tangkainya memenuhi adas, yang ketika terungkap, menjadi guru dan sumber daya besar bagi manusia.” (Prometheus)

“Meskipun dalam deras hujan kemiskinan dan kerja keras, Api Prometheus akan tetap berkobar, untuk mengeraskan baja-baja yang lapar dan banjir keringat. Walaupun harus hidup tragis dan singkat, untuk simpati umum di hati dan nurani orang-orang yang merangkak dalam debu dan lumpur, yang keringatnya mengalir deras dan menyayat getir, senjata historis akan ditempa dalam badai petir yang menyambar keras. Untuk menyeka air mata. Untuk mengisi kekosongan jiwa. Untuk menyalakan pelita. Untuk kebangkitan laki-laki dan perempuan di bawah bendera merah. Untuk membuat busur yang dipoles keringat dan darah. Untuk mengeluarkan anak panah hasrat yang membara. Untuk mengenakan perisai keyakinan yang teguh. Untuk mengendarai kereta perang yang berapi-api. Untuk menancapkan pedang di jantung dunia yang sedang runtuh, tempat kita mempertaruhkan hidup yang sekali ini—bangun Kepemimpinan Revolusioner (Bolshevisme) sekarang juga!” (Kaum Bolshevik)

Sebagai konsekuensi dari lemahnya kepemimpinan politik dan organisasional, yang ditujukan oleh kebimbangan para pemimpin reformis, maka spontanitas massa yang tidak tereskpresikan dengan baik menguap dengan buruk. Kepemimpinan yang lemah tidak akan pernah berhasil memberi ekspresi sadar dan terorganisir pada perjuangan massa. Tatkala melarutnya ketidakstabilan dan kepungungan reaksi, massa perlahan-lahan meninggalkan medan pertempuran bukan sekadar karena luka-luka dan terbunuh tapi terutama rasa lelah dan kecewa. Dalam hari-hari Juni, menyaksikan kecenderungan proletariat untuk merongrong pertahanan kepemilikan pribadi maka borjuasi yang menelan banyak kerugian dan meraung ketakutan berusaha memulihkan keadaan. Di tengah krisis finansial, kredit dan properti inilah kelas pekerja juga menghadapi luapan kemarahan borjuis-kecil yang mendera kebangkrutan umum. Pemilik-pemilik kafe, restoran, toko, pedagang kecil dan pengrajin berdiri di garis depan untuk mengacaukan barikade dan melemahkan proletariat. Di balik barisan kreditur kelas menengah yang bangkrut ini terdapat seabrek debitur aristokrasi keuangan yang terus-menerus melemahkan Majelis Nasional dalam jeratan hutang. Menghadapi kekacauan itulah Pemerintahan Sementara melalui Majelis Nasional bukan sekadar mengaktifkan kekuatan militer—yang mengangkat Cavaignac sebagai Kepala Eksekutif, memberlakukan keadaan darurat dan mengumumkan pengepungan seluruh Paris—tetapi juga merancang-ulang konstitusi untuk melaksanakan pemilihan presiden sebagai bentuk konsensi untuk menjinakkan pemberontakan dan melakukan pemulihan. Di tubuh kekuasaan, republikan borjuis melumpuhkan perwakilan buruh yang sudah tergerogoti setumpuk skandal dan kehilangan integritas di hadapan massanya. Kontan Louis Blanc diperiksa dan diseret ke pengadilan atas pelbagai tuduhan gila. Guna menenangkan massa, selanjutnya Louis Napoleon Bonaparte (pemimpin tani) dan Raspail (pemimpin buruh) dimasukan ke Majelis Nasional sebagai perwakilan Paris.

Pada masa-masa keterkepungan Paris, Pemerintahan Sementara menjadi lebih berhati-hati dalam bereaksi. Meskipun pada 3 Juli Cavaignac berhasil membubarkan bengkel nasional tapi tidak mungkin represi terus-menerus diluncurkan karena dapat menjadi cambuk bagi revolusi. Akhirnya konsensi diperbesar melalui tebaran ilusi demokrasi borjuasi. Inilah reformasi dari atas untuk menghadang revolusi dari bawah. Tepat 4 November 1848, Republik Parlementer diproklamirkan dengan pemberlakuan Majelis Nasional permanen tunggal, hak pilih universal, dan pemisahan kekuasaan eksekutif dan legislatif. Tanggal 10 Desember 1848, diadakan Pemilihan Presiden Prancis yang pertama. Cavaignac, Raspail, dan Bonaparte tampil sebagai calon-calonnya. Di tengah ketidakstabilan rezim borjuis, melemahnya gerakan buruh, dan bangkitnya massa borjuis-kecil—maka Louis Napoleon Bonaparte memenangkan suara mayoritas konstituen dan meraih takhta republikan. Kemenangan Napoleon dengan 6 juta suara—yang berasal dari kaum tani, pemilik toko, pedagang kecil, bahkan kaum buruh—menunjukkan bagaimana lapisan-lapisan pekerja mendera kelelahan, kekecewaan dan keputusasaan di bawah kepemimpinan Blanquis dan Cabetis. Dalam setiap situasi politik yang kritis maka peran kepemimpinan menjadi sangat penting. Pemimpin tidak sekadar dilekati otoritas, tapi juga mampu meraih telinga massa untuk mengusulkan dan mengorganisir langkah-langkah yang akan ditempuh. Saat situasi menegang, dengan kejang-kejang dan belokan historis mendadak;  kepemimpinanlah yang akan membuka jalan bagi langkah maju dan mundurnya, kiri dan kanannya, hingga menang dan kalahnya dari perjuangan massa.

Selama 13-14 Mei 1849, pemilihan legislatif berlangsung dan pemimpin-pemimpin perempuan borjuis-kecil radikal berusaha mempropagandakan hak pilih universal perempuan. Dengan memagut keyakinan emansipasi perempuan Fourieris, maka—jauh hari sebelum pemungutan suara dilaksanakan—Euginie Niboyet, Desiree Gay, Jeanne Deroin, dan Pauline Roland membentuk surat kabar dan klub feminis-sosialis. Sejak Januari—kehadiran kelompok feminis ini bukan saja mengkritik gagasan-gagasan Proudhon yang memandang perempuan-perempuan pekerja hanya pantas diperlakukan sebagai pelacur dan budak-budak rumah tangga, tapi juga mengusung Deroin sebagai calon wakil perempuan pertama dalam pemilihan legislatif. Namun pencalonannya dibatasi; Legitimis, Orleanis, dan Bonapartis menghalang-halanginya dengan mengeluarkan penolakan melalui Majelis; akhirnya hasil pemilihan didominasi kelompok Bonapartis—Partai Ketertiban pimpinan Odilon Barrot memenangkan mayoritas 450 kursi parlemen, sedangkan Partai Montagne pimpinan Ledru-Rollin 180 kursi dan Partai Republik pimpinan Cavaignac 75 kursi. Dalam momen-momen kritis historis—surutnya perjuangan revolusioner dan mundurnya gerakan buruh di tengah ketidakstabilan yang berlarut-larut—maka lautan sosial perjuangan kelas didominasi oleh massa borjuis kecil yang bimbang, tidak sabar, dan mendambakan pemulihan cepat. Demikianlah petani-petani bangkit. Tetapi tanpa organ politik independen maka kepentingannya akan diwakilkan kepada kelas lainnya. Di tengah kekosongan kepemimpinan revolusioner, melemahnya kelas buruh, dan perpecahan antara kubu penguasa; kaum tani tidak melihat kepentingannya dapat terwakili oleh Cavaignac, Raspail, Ledru-Rollin, dan bahkan kaum feminis-sosialis sekalipun; mereka memandang kepentingannya hanya bisa dipenuhi dengan mengangkat Napoleon Bonaparte dan pengikutnya. Sebab setelah keruntuhan Pemerintahan Robespierre dan kepemimpinan borjuis-kecil radikal Jacobin, Kaisar Napoleon I menunjukkan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin yang secara populer dan patriotik mewakili kepentingan tani: mengalihkan tanah-tanah bangsawan dan gereja kepada petani, menyatakan perang di luar negeri dan melindungi kepentingan kelasnya di dalam negeri. Ingatan akan kekuasaan Bonapartis begitu membekas di benak tani. Maka Louis Bonaparte dilihatnya bukan sebagai sesosok manusia, tetapi program yang berpihak pada kepentingan borjuis-kecil. Demikianlah petani-petani pemilik tanah berbaris menuju tempat pemungutan suara dengan memekikkan slogan-slogannya: ‘Tidak Ada Lagi Pajak!’, Turunkan Orang Kaya!’, ‘Gulingkan Republik!’, dan ‘Hidup Kaisar!’. Bahkan dengan unjuk kekuatan massanya yang besar inilah kaum tani mampu menarik di sisinya selesapisan borjuis-kecil lainnya, serta lapisan-lapisan proletariat yang telah mundur dari perjuangan revolusioner. Lewat “Brumaire Kedelapan Belas Napoleon Bonaparte”, Marx menjelaskan kondisi kelas-kelas tersebut:

“Manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya sesuka hati; mereka tidak menciptakannya dalam keadaan yang dipilih sendiri, tetapi dalam keadaan yang sudah ada, diberikan dan ditransmisikan dari masa lalu. Tradisi semua generasi yang mati membebani otak orang yang hidup seperti mimpi buruk. Dan sama seperti mereka tampaknya sibuk merevolusi diri mereka sendiri dan hal-hal lain, menciptakan sesuatu yang tidak ada sebelumnya, justru di zaman krisis revolusioner seperti itu mereka dengan cemas menyulap semangat masa lalu untuk melayani mereka, meminjam dari mereka nama, slogan pertempuran, dan kostum untuk menghadirkan adegan baru ini dalam sejarah dunia dengan penyamaran yang dihormati waktu dan bahasa pinjaman…. Prancis, selama mereka terlibat dalam revolusi, tidak dapat menghilangkan ingatan tentang Napoleon, sebagaimana dibuktikan pada pemilihan 10 Desember [1848, ketika Louis Bonaparte terpilih sebagai Presiden Republik Prancis melalui plebisit]…. 10 Desember adalah kudeta para petani, yang menggulingkan pemerintaha yang ada…. Kelas-kelas lain membantu menyelesaikan kemenangan plebisit para petani. Bagi proletariat, pemilihan Napoleon berarti deposisi Cavaignac, penggulingan Majelis Konstituante, pembubaran republikanisme borjuis, penghentian kemenangan Juni. Bagi kaum borjuis-kecil, Napoleon memaksudkan kekuasaan debitur atas kreditur. Untuk mayoritas borjuasi besar, pemilihan Napoleon berarti pelanggaran terbuka dengan faksi yang harus digunakannya, untuk sesaat, melawan revolusi, tetapi menjadi tidak dapat ditoleransi segera setelah faksi ini menjadi sebuah posisi konstitusional … Terakhir, bagi tentara, memilih Napolen untuk menyingkirkan Garda Mobil, melawan idilis perdamaian, untuk perang.”

Berkuasanya Louis Bonaparte (Napoleon III) segera menegakkan kembali kebesaran Napoleon. Di bawah aturan Napoleonik, tanah-tanah pedesaan disulap untuk melengkapi persaingan bebas dan perkembangan industri di perkotaan. Hipotek ditegakkan untuk menggantikan sisa-sisa hubungan feodal dan kapital-kapital borjuis akhirnya menyingkirkan kepemilikan tanah aristokrat. Inilah waktunya kota menundukan desa; dari tanah-tanah kecil borjuasi mengutip laba, bunga, dan sewa. Louis Bonaparte menampikan reforma agraria yang mengerikan: mewajibkan penjualan dan lelang terhadap tanah-tanah petani serta penarikan pajak dan hutang-hutang secara paksa. Di sisinya, kewenangan suami atas istri dan anak-anaknya menjadi norma yang umum bukan saja bagi kaum tani tapi juga kelas pekerja. Dalam keluarga-keluarga rakyat pekerja—istri ditundukan kepada suami, perceraian dipersulit, dan warisan diatur oleh negara begitu rupa. Sekarang petani mendapati kepentingannya tidak terwakili oleh kepemimpinan Bonapartis dan mulai menunjukkan pertentangan dengan borjuasi. Louis tidaklah melindungi kepemilikan skala kecil melainkan berusaha menyingkirkannya dengan memajukan industri dan perdagangan, serta memberikan konsensi-konsensi—terhadap pemilik kereta api dan bursa—untuk memperkaya diri dan kroninya. Bank diberi wewenang menerbitkan uang kertas, mengonsentrasikan seluruh kredit, dan mengumpulkan sebanyak mungkin emas dan perak di brangkasnya. Seusai hari-hari Juni, industrialisasi mengalami pertumbuhan signifikan. Selama 1849-1850, pabrik kapas di Rouen dan Mulhouse telah menyerap ribuan pekerja upahan, ekspor komoditas Paris ke Meksiko dan Spanyol menunjukkan peningkatan, perekonomian mengalami pertumbuhan hingga menciptakan kemakmuran. Setelah Revolusi 1848, industri-industri raksasa untuk pertama kalinya berdiri di Prancis, Jerman, Hungaria, Polandia, hingga Rusia. Demikianlah kekuasaan mulai terpusatkan ke tangan borjuasi-borjuasi besar dan kemakmuran yang dibawanya menjadi landasan kebangkitan reaksi Eropa.

Di Prancis, kemakmuran ekonomi itu tidak berlaku bagi rakyat pekerja karena Bonapartisme membangun pemerintahannya dengan pajak, korupsi, dan peperangan yang mengerikan. Di bawah Louis Bonaparte perkembangan penuh industri dipertahankan. Caranya bukan sebatas memaksakan ketenangan domestik, tapi sekaligus mengalihkan arus revolusioner internal ke luar negeri dan menciptakan perang dengan dalih menegaskan prinsip kebangsaan. Saat rezim Bonapartis mulai mengirimkan pasukannya untuk menyerang dan mengebom Republik Romawi, maka Majelis Nasional segera mengkritiknya tidak sesuai dengan Pasal 5 dan 54 Konstitusi Prancis yang melarang pengerahan militer tanpa persetujuan Majelis. Tanggal 11 Juni 1849, Ledru-Rollin—dari Partai Montagne (Sosial-Demokrat)—mengajukan RUU Pemakzulan terhadap Louis dan para menterinya. Tetapi penguasa Bonapartis tidak terima dan berusaha mengendalikan opini publik dengan seabrek surat kabarnya. Puovoir tampil sebagai koran utama untuk menyerang musuh-musuh dan mempertahankan kekuasaan Bonaparte. Di sekitar koran inilah seksi-seksi rahasia lumpen-proletariat diorganisir untuk membentuk Perhimpunan 10 Desember. Tepat 12 Juni, paduan kekuatannya bersama Divisi Angkatan Darat Pertama kontan mematahkan RUU Pemakzulan dan mengusir Ledru-Rollin dari parlemen. Pada 13 Juni, setelah terprovokasi oleh gerombolan Bonapartis maka Partai Montagne mengumumkan seruan terbuka yang menyatakan kalau Bonaparte dan kementeriannya merupakan pemerintahan yang inkonstitusional. Di Paris, Montagne memulai protes terbuka dengan menggerakan Garda Nasional untuk berdemonstrasi. Aksi ini diikuti oleh kelas pekerja dan kaum tani yang tersiksa di bawah Pemerintahan Bonaparte. Tetapi Sosial-Demokrasi begitu ragu-ragu dan tidak percaya kepada kekuatan massa. Saat massa meminta dipersejantai, Ledru-Rollin malah menolak dan meninggalkan massanya. Montagne ingin memaksa presiden dan menterinya menaati konstitusi, tapi dengan cara damai dan tak perlu susah-susah mengobarkan api dan mengeraskan baja. Alih-alih mendorong ke arah pemogokan umum dan pemberontakan bersenjata; Montagnard membatasi massa untuk tetap terkendali—beraksi secara santun, tanpa tuntutan revolusioner dan senjata.

Kaum Sosial-Demokrat menunjukkan bagaimana institusi-institusi demokratik-republik bukanlah sarana untuk memerangi kepemilikan pribadi dan kerja-upahan, tetapi melemahkan antagonisme proletariat dan modal untuk koeksistensi yang paling tidak masuk akal: membuat keduanya harmonis. Walaupun mereka memagut keyakinan sosialis atau komunis, namun semuanya bersifat utopis karena tiada berlandaskan perjuangan kelas yang sejati: bertujuan melayani kepentingan proletariat dan membangun kekuatan revolusioner. Keberadaan demokrat borjuis-kecil dalam parlemen tidak berkepentingan melancarkan transformasi masyarakat secara mendasar, tapi mengurung aspirasi-aspirasi revolusioner pada program, tuntutan dan slogan-slogan reformis. Marx dan Engels menyebut sikap ini sebagai ‘kretinisme parlementer’: mereduksi perjuangan kelas dalam bilik-bilik politik elektoral, dengan cara-cara santun dan menolak pertempuran kelas, hingga mengangkat parlementerisme sebagai pusat gravitasi untuk revolusi sosial. Engels bahkan menjelaskan pendirian itu sangat naïf, tengik, dan berbahaya: ‘kretinisme parlementer adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan, penyakit yang pengidap malangnya diresapi oleh keyakinan luhur bahwa seluruh dunia, sejarahnya dan masa depannya diarahkan dan ditentukan oleh mayoritas suara dari lembaga yang sangat representatif yang mendapat kehormatan dari pemilih mereka dalam kapasitas anggotanya’. Penyakit kretinisme parlementer membelenggu tinjauan Montagne terhadap jalannya perjuangan kelas. Ketika perjuangan kelas menajam, Partai Sosial-Demokrasi tampil bimbang dalam melawan pasukan Bonapartis. Menyaksikan keragu-raguan kepemimpinan reformis, Angkatan Darat Pertama lantas melancarkan pengepungan, pembubaran paksa, pengejaran dan penangkapan, hingga pembekuan Garda Nasional. Para pemimpin Montagnard banyak yang meninggalkan garis depan perjuangan dan melarikan diri ke luar negeri, sedangkan lapisan-lapisan pekerja yang tidak dipersenjatai ditinggalkan begitu saja untuk menjadi santapan moncong senjata Napoleon.

Di tengah keterkepungan gerakan buruh dalam lautan sosial kelas-asing dan represi Bonapartis di Paris, kelas pekerja Lyon bangkit melawan dan menyatakan solidaritasnya untuk buruh-buruh yang telah dikhianati oleh pemimpin-pemimpin borjuis-kecil di Paris. Pada 14-15 Juni, laki-laki dan perempuan Canut melancarkan pemogokan dan berusaha mencari senjata. Tetapi gudang-gudang persenjataan lebih dahulu diamankan tentara. Memang sejak 1848 perwira-perwira militer telah belajar untuk mengitari dan melumpuhkan barikade, hingga sukar bagi kaum buruh untuk mendapatkan senapan berburu dan membuat sendiri amunisinya dari bubuk dan timah di pabrik-pabrik tempatnya bekerja. Demikianlah meskipun kaum tani dan borjuis-kecil lainnya telah banyak yang menderita dan kecewa, sampai meninggalkan Partai Ketertiban dan mengelompokkan dirinya sendiri, serta lebih dekat dengan proletariat; tetapi konsentrasi kekuasaan Bonapartisme dengan segala aparatusnya masih berdaya. Berpadu dengan bangkrutnya kepemimpinan gerakan massa, maka inilah yang menjadi alasan utama mengapa prajurit-prajurit Napoleonik mampu melumpuhkan pemberontakan Lyon dengan mudah. Setelah runtuhnya Garda Nasional, penguasa Bonapartis semakin berdigdaya. Louis Bonaparte memiliki tentara, milisi reaksioner, dan mampu menekan Partai Ketertiban dan pengambilan keputusan di Majelis Nasional. Sementara bagi gerakan buruh, pembubaran Garda Nasional membuatnya kehilangan pasukan pengawal borjuis-kecil yang secara moral bisa dimenangkan dalam pertempuran barikade. Dan pada gilirannya, tanpa kehadiran Garda Nasional maka Majelis Nasional Konstituante dan Badan Legislatif ikut melemah; karena tak ada lagi pasukan-pasukan bersenjata yang memberikan perlindungan fisik kepada mereka.

Kelas borjuis membutuhkan ketenangan untuk mengembangkan industri dan perdagangan, tetapi keseluruhan situasi masih dihinggapi letupan-letupan gerakan massa. Pada 1850-51, walaupun kapitalisme sedang dalam perkembangan progresifnya namun krisis over-produksi adalah inheren di dalamnya: selama Februari-Juni 1850, pabrik-pabrik Canut ditutup dan perdagangan dunia mengalami stagnasi—di Inggris impor menurun dan di Prancis ekspor melemah. Engels menjelaskan kalau pukulan ini merupakan dampak bawaan dari ‘kemakmuran material terbesar dan produksi berlebih’ sepanjang 1849-50. Sejak 1848, pembuatan wol telah berkembang pesat di Inggris tetapi antara 1850 dan 1851 berlangsung pula gagal panen kapas. Terpukulnya Inggris sebagai pemasok bahan mentah untuk produksi tekstil dunia segera menggetarkan Prancis: akibat gagal panen bukan saja harga wol mentah naik melebihi proporsi tetapi juga hasil panen sutera di Lyon jatuh. Kejatuhan ini segera dikaitkan oleh borjuasi Prancis dengan perseteruan antara eksekutif dan legislatif yang menjadi salah satu konflik istana yang mempengaruhi gerakan buruh di negerinya. Mereka menolak fakta tentang stagnasi ekonomi yang selalu melekat dalam kelebihan produksi dan spekulasi dari siklus industri kapitalisme. Engels menegaskan: ‘selain krisis umum, Prancis mengalami krisis nasional perdagangannya sendiri, yang bagaimanapun lebih ditentukan dan dikondisikan oleh keadaan umum pasar dunia daripada pengaruh lokal Prancis’. Kaum borjuasi dan para pelayannya tidak mungkin mengakui hal tersebut. Keberadaan sosial yang mengondisikan hati nurani dan akal sehat mereka tidak pernah lebih halus dan bersih daripada sekantong uang. Saat krisis sosial, politik dan moral berkecamuk—mereka panik. Sepanjang Juni-Agustus, diskresi pemerintah diberlakukan secara bengis: keadaan darurat berlanjut, hak berserikat dipangkas, dan kebebasan pers diberangus. Louis Bonaparte dan para menterinya keluar sebagai pemenang, Sosial-Demokrasi kalah, dan rakyat pekerja menjadi korban utama dari pertarungan tersebut.

Bukan saja teriakan ‘Hidup Republik Sosial-Demokrat!’ yang kemudian dinyatakan inkonstitusinal, tetapi juga seruan ‘Hidup Republik!’ gampang dituntut sebagai Sosial-Demokrat. Sekarang pemulihan digencarkan. Tanggal 27 November 1849, menghadapi fluktuasi perekonomian Prancis dan gelombang kebangkitan proletariat, faksi-faksi dari Partai Ketertiban—Legitimis, Orleanis, dan Bonapartis—melalui Majelis Nasional—memberlakukan UU Anti-Mogok. Tetapi Louis Bonaparte akhirnya semakin kuat hingga mampu melepaskan dirinya dari Partai Ketertiban. Louis memperkuat posisinya dengan mengangkat Jenderal Hautpoul dalam jajaran Partai Ketertiban, memberhentikan Jenderal Changarnier yang menentangnya, dan membentuk kementerian baru yang terdiri dari kroni-kroninya. Konflik di tubuh kelas penguasa tidak sekadar berlangsung sacara faksional di partai, tetapi juga berbentuk pertentangan antara presiden dengan Majelis Nasional Konstituante. Dalam Partai Ketertiban dan Majelis Nasional; Legitimis, Orleanis, dan republikan-republikan borjuis dan nasionalis-nasionalis borjuis-kecil radikal bersekutu untuk menjatuhkan rezim Bonaparte. Melihat semakin terkonsentrasinya kekuasaan Bonapartisme, mereka mangajukan solusi konstitusionil: revisi konstitusi guna mempercepat pengunduran diri Louis Bonaparte dan pemilihan presiden baru. Tepat 31 Mei 1850, mereka merevisi UU Pemilu untuk melemahkan kekuasaan Napoleon—menghapus 3 juta suara dari daftar pemilih, mengurangi jumlah pemilih menjadi 7 juta, dan mempertahankan batas minimum yang sah sebesar 2 juta untuk pemilihan presiden. Keputusan ini membuat Louis Bonaparte marah dan memulai permusuhan tajam. Koran-koran Napoleonik terus-menerus mengkritik parlemen. Bulan Juli, Majelis Nasional melanjutkan serangannya dengan mengesahkan UU Pers untuk meningkatkan penarikan uang perizinan terhadap para penerbit, memperkenalkan pajak pada setiap publikasi termasuk pamflet, mewajibkan identitas penulis artikel, hingga membatasi sirkulasi dan pendirian surat-surat kabar.

Di tengah ancaman pencabutan hak pilih universal dan pembatasan kebebasan pers inilah Pouvoir menjadi surat kabar yang secara masif menyerang parlemen. Pengaruhnya mampu membuat 150 anggota parlemen berbelok dan memberikan dukungannya kepada kekuasaan Napoleon. Konflik di tubuh Partai Ketertiban semakin mendalam. Partai sudah kehilangan banyak perwakilan parlemen independen dan Majelis Nasional tergoncang. Tanggal 19 Juli 1951, Majelis mengeluarkan keputusan penghapusan hak pilih universal yang segera memangkas kesempatan pencalonan kembali Louis Bonaparte sebagai presiden. Bulan Agustus, Louis mulai mempersiapkan ofensif: kepatuhan mutlak ditegakkan di kalangan prajurit dan Perhimpunan 10 Desember diperbesar hingga berisi 10.000 lumpen-proletar. Pada 1-2 Desember 1851, Louis Bonaparte meluncurkan kudeta dan Kekaisaran Napoleon III diproklamirkan secara bengis. Mula-mula 25 juta franc dirampok dari Bank Prancis untuk membeli Jenderal Magnan—yang melindungi Majelis Nasional—1 juta franc dan membayar prajurit-prajuritnya dengan 15 juta franc, wiski dan sosis. Bersama gerombolan 10 Desember mereka dikumpulkan malam hari untuk membobol rumah orang-orang yang paling berpengaruh dan berbahaya dalam Majelis Nasional: Cavaignac, Changarnier, Thiers, Charras, Lamoriciere, Baze, dan sebagainya. Setelah pemimpin-pemimpin parlemen ini diseret keluar dari tempat tidurnya dan dimasukkan ke sel-sel penjara; gerombolan Bonapartis mulai bergerak menduduki alun-alun Paris dan gedung parlementer dengan pasukan berjumlah raksasa. Perwakilan-perwakilan yang belum tertangkap lantas membentuk kelompok pertahanan diri dan mengajak kelas pekerja untuk bergabung di barisannya tapi diabaikan begitu saja.

Kaum buruh dan muda, laki-laki dan perempuan pekerja, telah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Bahwa kepemimpinan mereka tidak bersungguh-sungguh dalam melawan kontra-revolusi. Para pemimpin gerakan massa menghadapi prajurit Napoleon bukan dengan senjata, tetapi pidato-pidato muluk yang mengrem perjuangan revolusioner massa. Dengan mengabaikan signifikansi mempersenjatai massa, maka gerombolan 10 Desember secara riang menertawakan dan menghantam mereka dengan keras. Tanggal 2 Desember pagi—dinding-dinding kota dibanjiri plakat dan ditempeli poster-poster yang mengumumkan mengenai pembubaran Majelis Nasional Konstituante dan Badan Legislatif, keadaan berbahaya dan pemulihan hak pilih universal, hingga seruan-seruan plebisit dan pembentukan Konsultan Negara. Memasuki siang harinya seluruh Paris menjadi gelisah karena penangkapan terus berlanjut, kota terkepung dan bajingan-bajingan 10 Desember semakin brutal. Di tengah situasi yang penuh angkara, Komite Masyarakat Buruh berdiri. Mereka mendesak perwakilan-perwakilan yang tersisa—Michel de Borges, Jules Favre, Victor Hugo, dan Carnot—untuk menyerukan pemberontakan bersenjata. Di bawah tekanan massa yang luar biasa besar, mereka menyetujui desakan tersebut. Barikade-barikade akhirnya terbentuk dan mesiu diproduksi secepat kilat. Di Rue Aumaire, sekitar 5.000-6.000 perempuan dan laki-laki pekerja bertempur menentang kudeta. Bendera merah dipancang sebagai lambang keberanian dan teriakan-teriakan ‘Hidup Republik!’ bergema. Di Porte Saint Martin, seorang perempuan telah terkena tembakan peluru tetapi tidak menyerah. Meski tergeletak di tanah, dia tetap meneriaki laki-laki di barikadenya untuk bertempur. Meriam-meriam militer mendekat dan peluru-peluru yang ditembakannya melayang-layang di atas kepala. Namun para pekerja tetap bertahan sekuat tenaga, meski hanya menenteng belasan senapan berburu dan bebongkohan batu semata. Di seluruh Paris, semua barikade telah tersudut, kehabisan amunisi, dan melemah. Di Distrik Timur, pembantu bernama Augustine Pean terkena tembakan dan jatuh. Barikadenya sudah rusak parah, 5.260 pekerja ditangkap, dan 36 perempuan yang tergabung dengan menyamar menggunakan pakaian pria langsung diseret sebagai tersangka pemberontakan bersenjata.

Di Rue Masley, saat selongsong peluru habis, sesosok buruh berusia 19 tahun—yang bernama samaran Piere Tisse—berteriak, “Ada orang yang takut? Apakah ada yang takut mati?” Dia lantas mengeluarkan pisau Katalan dari samping pinggangnya dan menerobos kepulan asap untuk menikam prajurit. “Siapa yang sedang berjalan di sana,” tanya tentara. “Kematian,” tegasnya. Prajurit kontan menembak tapi buruh muda itu mampu menghindar, melompat, dan menghantam sasarannya dengan tikaman kuat. Prajurit tewas sementara senjata dan ransel berisi amunisi direbut. Selengsong berisi 150 peluru didistribusikan ke barikade, namun saat pembagian berlangsung infanteri muncul dan pertempuran berlanjut. Tentara menyerang dengan tembakan anggur. Pekerja berlindung di antara bongkahan batu dan menembak hingga kehabisan kartrid. Saat semua amunisi buruh habis, prajurit berbayonet secara cekat dan bengis mulai mendekat. Pemimpin barikade menyerukan pasukannya untuk mundur, “Ayo kita pergi.” Tetapi Tissie memilih untuk tinggal dan menahan tentara supaya kamerad-kamerad lainnya beroleh cukup waktu dalam melarikan diri, “Tidak, aku harus tetap di sini guna menghadang musuh-musuh kita lebih lama.” Bersamanya terdapat seorang buruh berusia 14 tahun yang menyatakan bertahan, “Dan aku juga. Aku tidak memiliki ayah atau ibu—semuanya telah mati. Aku akan bertempur sampai mati.” Pemimpin barikade memeluk keduanya, melepaskan tembakan voli terakhirnya, dan memimpin pasukannya meninggalkan barikadenya yang setengah hancur. Kedua proletar muda itu sekarang bersiap menghalangi-halangi prajurit. Keduanya berdiri di atas tumpukan pistol yang tiada berkartrid. Tidak ada lagi persenjataan yang bisa digunakan, kecuali sebilah pisau yang berlumur darah dan bebatuan yang terus dilemparkannya ke arah prajurit. Saat tentara berada sejengkal kaki di hadapan mereka, tusukan belati dan tinju dilepaskan. Beberapa prajurit tertikam dan terluka, namun dua-dua pemuda pekerja ini juga tertusuk oleh seabrek bayonet di sekujur tubuhnya. Dua-duanya akhirnya tersungkur-tewas, namun pengorbanannya berhasil meloloskan kamerad-kameradnya dari kejaran serdadu.

Pada 2 Desember 1851, Louis Bonaparte mengakhiri ketegangan dengan mengerahkan bala tentara, sanksi dan penjara. Angkatan Darat dan lumpen-lumpen proletar ditumpuk dalam Perhimpunan 10 Desember dengan jumlah yang meraksasa dan diberikan kebebasan merampok dan melukai kelas pekerja. Meskipun gerakan proletariat bangkit kembali, tetapi gelombang radikalisasi kali ini sangatlah lemah. Kelemahan bukan saja karena tekanan sentralisasi-birokratik Napoleonik, tetapi terutama dikondisikan oleh perdagangan dunia yang meningkat dan menjadi basis kebangkitan reaksi Eropa. Inilah mengapa gerakan Anti-Kontrarevolusi hanya berpuncak pada pemberontakan bersenjata dan tidak pernah mencapai kemenangan revolusi—tergulingnya Louis Bonaparte dan berpindahnya kekuasaan ke tangan kaum buruh. Revolusi proletariat Februari, Maret, dan Juni—meskipun berakhir dengan kegagalan dalam merebut kekuasaan, tetapi capaian dan pelajaran-pelajaran darinya telah mengilhami bangkitnya gerakan proletar dunia. Kebangkitan revolusioner yang meluas dan menggetarkan seluruh Eropa telah menunjukkan karakter internasional dari perjuangan kelas revolusioner: kelas pekerja. Di mana-mana ada perang, pengangguran, kemiskinan dan kelaparan yang sangat mencolok, yang disertai dengan semangat pemberontakan baru dari laki-laki dan perempuan yang tertindas dan terhisap. Mereka bangkit bukan sekadar untuk mengutuk tragedi peperangan yang reaksioner, beserta segala penghematan dan serangan terhadap standar hidup yang teramat destruktif, tetapi juga untuk menemukan ide-ide revolusioner yang sanggup mempersenjatai perjuangan kelas ini untuk sampai pada kemenangan revolusi dan pembangunan kehidupan umat manusia yang lebih tinggi. Dan merupakan tugas historis dari kaum revolusioner untuk mengorganisir dirinya dalam organisasi tempur politik yang tersentral dan kuat, demi menyediakan panduan yang memadai dalam proses perjuangan kelas revolusioner; untuk membuka jalan bagi kelas-kelas yang membawa api dan baja di hati dan lengannya ini sampai pada kesimpulan yang benar—penghancuran kreatif, terorganisir dan sadar terhadap masyarakat kelas untuk membangun dunia masa depan yang setara dan bebas.

(Berlanjut)

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai