Kategori
Sejarah

Revolusi dan Pembebasan Perempuan (Bagian 7)

“Pengalaman penderitaan yang intens dan perjuangan untuk mengatasinya, telah mengilhami jiwa manusia–yang berakar di kedalaman lautan sosial yang gelap–untuk berkilau bagaikan berlian yang keras dan mengandung energi potensial yang besar, dan menjadi poros bawah-sadar dari suatu mekanisme rumit yang terus bergerak. Dalam musim dingin di hati, orang-orang lapar dan miskin yang ingin meraih kehangatan matahari, tidak mungkin meratapi kesengsaraan dan penderitaan hidup yang ada. Setiap perempuan dan laki-laki yang ingin menempa-diri, yang ingin memantaskan dirinya untuk revolusi, harus bertempur dalam kehidupan sehari-hari.”

Di pabrik maupun gudang yang sangat kotor dan penuh penyakit, yang mengurung laki-laki dan perempuan dalam unit-unit rutinitas yang membawa pada kehancuran total, terkandung sari-pati kehidupan yang luar biasa memukau. Ini tentang rasa lapar dan budak-upahan yang bangkit dari ruang bawah tanah dan tiang gantungan yang menyeramkan, menuju cahaya siang dengan nyanyian yang mencerahkan: ‘oh, betapa senangnya menghirup udara pagi di momen terbitnya matahari yang menghangatkan sanubari kemanusiaan.’ Tidak ada lagi malam yang sepi dan dingin. Di bawah sinar harapan, dengan lengan baju yang tersingsing, penderitaan hidup ditaklukan. Api dan baja dalam jiwa manusia akan menopang perjuangan melalui semua medan kehidupan. Yang ditempa menjadi pedang dan peluru, yang secara kejam merobohkan segala rintangan. Kesengsaraan pada akhirnya putus-asa menghadapi keteguhan hati yang tiada terkalahkan.”

“Di langit malam, kita melihat gugusan bintang. Kita ingin menggapainya. Namun untuk terbang, kita tidak bisa terpaku pada bintang-bintang, atau menunggu malaikat bersayap mengikat kita pada ekornya yang rapuh; kita bukanlah anak ayam tapi elang muda dengan cakar dan taring yang sedang tumbuh! Walau kelelahan yang berlebihan, yang berpadu dengan keseluruhan bahaya di sekeliling, dapat memainkan peran yang sangat merusak fisik dan mental kita; tetapi jalan menuju revolusi, akan melahirkan laki-laki dan perempuan pekerja yang tak kenal lelah dan melampaui batas kapasitas manusiawi.”

– Kaum Buruh dan Muda

Revolusi 1830 diremukkan dan Pemberontakan 1831 dan 1834 digulung, tetapi proletariat Inggris berhasil mengamati dan beroleh inspirasi darinya. Kaum buruh Inggris bukan sekadar mempelajari pengalaman pemberontakan-pemberontakan Peterloo dan South Wales, tapi sekaligus perjuangan kelas pekerja di skala dunia. Setelah situasi revolusioner mengalami pasang-surut di Prancis, capaian-capaian revolusionernya merayap memasuki hati dan benak buruh-buruh Inggris. Robohnya singgasana Charles X yang diikuti dengan pemogokan-pemogokan umum, pemberontakan-demi-pemberontakan bersenjata, dan pertunjukan-pertunjukan kemampuan kelas pekerja dalam perebutan kekuasaan—di satu sisi, membuat monarki-monarki Eropa gemetar ketakutan; di lain sisi, memberi inspirasi bagi gerakan buruh internasional untuk semakin percaya-diri dalam melancarkan perjuangan yang berkeras-kepala. Menghadapi ancaman inilah kelas penguasa selanjutnya terus-menerus mengembangkan strategi untuk melemahkan dan menghancurkan gerakan buruh. Di Inggris, borjuasi semakin brutal dalam membungkam massa. Kaum buruh yang berhasil meraih kebebasan berserikat, segera dikepung pelarangan-pelarangan aksi, penangkapan dan penahanan, pemberangusan-pemberangusan serikat, serta hukuman mati terhadap para pemberontak secara membabi-buta. Eksekusi-eksekusi terhadap laki-laki dan perempuan pekerja digencarkan untuk melindungi hak-hak borjuis atas properti. Hukuman yang dilimpahkan tidak sekadar pemenggalan kepala, melainkan pula pencabutan jantung dan isi perut saat korban sekarat dan dipertontokan di hadapan massa. Penindasan ini beriringan dengan meningkatnya eksploitasi di rumah kerja dan paroki-paroki: perempuan dan anak-anak dipekerjakan dalam jumlah berlimpah, dengan hari kerja yang begitu panjang, merusak fisik dan mentalnya, mengisolir dan memberatkan ibu dan bayinya, bahkan membunuh banyak bayi dan pekerja anak. Semua itu dilegalkan dengan aneka kebijakan yang menghisap dan menindas proletariat secara sadis. Ini seperti Undang-Undang Reformasi 1832 dan Undang-Undang Miskin 1834, yang diberlakukan untuk menghapus hak pilih universal bagi proletariat dan menguatkan privelese borjuasi; memerangi bantuan sosial, menangkap pengemis dan gelandangan, serta memaksa sebanyak mungkin orang miskin dan lapar bekerja dalam sistem kerja-upahan dengan kondisi-kondisi kerja yang buruk, dan menyeret istri-istri pekerja dalam perbudakan di rumah-rumah kerja dari setiap paroki. Dalam “Kondisi Kelas Pekerja di Inggris”, Engels menulis bagaimana borjuasi Inggris dengan partainya menggunakan hukum dan negara untuk memaksakan kepentingan kelasnya:

“…Kami telah memperlihatkan dalam laporan kami bagaimana borjuasi mengeksploitasi proletariat dengan segala cara yang dapat dibayangkan untuk keuntungannya sendiri! Akan tetapi, kita juga melihat bagaimana borjuasi tunggal menganiaya proletariat atas tanggunangannya sendiri. Mari sekarang kita beralih ke cara bagaimana borjuasi sebagai sebuah partai, sebagai kekuatan negara, bertingkah laku terhadap proletariat. Hukum diberlakukan hanya karena ada orang-orang miskin; dan meskipun hal ini secara langsung diungkapkan dalam beberapa undang-undang yang menentang pengemis dan gelandangan, di mana kaum buruh dilarang, namun permusuhan terhadap proletariat secara tegas menjadi dasar hukum sehingga para hakim, dan terutama para Hakim Perdamaian, yang borjuis sendiri, dan yang paling banyak berhubungan dengan proletariat, menemukan makna ini dalam undang-undang tanpa pertimbangan lebih lanjut. Jika orang kaya dibawa, atau lebih tepatnya dipanggil, untuk menghadap pengadilan, hakim menyesali bahwa dia berkewajiban menimbulkan begitu banyak masalah, memperlakukan masalah tersebut sebaik mungkin, dan, jika dia dipaksa untuk menghukum terdakwa, melakukannya dengan sangat menyesal, dan lain-lain, dan akhir dari semua itu adalah denda yang menyedihkan, yang dilemparkan oleh borjuasi di atas meja dengan penghinaan dan kemudian pergi. Tetapi jika iblis yang malang masuk ke posisi yang menampilkannya di hadapan Pengadilan Perdamaian—dia menghabiskan seluruh malam di rumah kerja dengan kerumunan rekan-rekannya—dia dianggap bersalah sejak awal; pembelaannya dikesampingkan dengan nada menghina, ‘Oh! Kami tahu alasannya’, dan denda yang dikenakan tidak dapat dia bayar dan diganti dengan bekerja beberapa bulan di atas treadmill, tidak kurang dari itu, ‘sebagai pengemis dan gelandangan … Dan perilaku polisi sesuai dengan perilaku Hakim Perdamaian. Kaum borjuis dapat melakukan apa yang dia mau dan polisi tetap sopan, dengan ketat mematuhi hukum, tetapi kaum proletar diperlakukan dengan kasar dan brutal; kemiskinannya menimbulkan kecurigaan atas semua jenis kejahatan padanya dan memotongnya dari ganti rugi hukum terhadap tindakan apapun dari para administrator hukum; baginya, oleh karena itu, bentuk perlindungan hukum tidak ada, polisi memaksa masuk ke rumahnya tanpa surat penangkapan lebih lanjut; menangkap dan menyiksanya….”

Menghadapi perlakuan keji dan hina itulah proletariat Inggris berusaha mengintervensi parlemen. Pada 1838, rakyat pekerja membentuk Asosiasi Pekerja Pria London dan memproklamirkan Piagam Chartis: (1) hak pilih universal laki-laki di atas 21 tahun; (2) penghapusan kualifikasi properti; (3) pembayaran gaji tahunan; (4) pemilihan parlemen setiap tahun; (5) pemungutan suara rahasia; dan (6) penyetaraan ukuran konstituen. Saat proses pendiriannya organisasi buruh itu memasukkan klausul hak pilih perempuan, tapi perdebatan sengit dan ketidaksetujuan pemimpin-pemimpin reformis segera menanggalkan pembahasan demikian. Saat sayap revolusioner pimpinan George Julian Harney memperjuangkan kesetaraan penuh antara perempuan dan laki-laki pekerja, sayap radikal yang dipimpin Feargus O’Connor justru bersikeras menolaknya—meski sekadar kesetaraan formal antara perempuan dan laki-laki—karena peran perempuan, baginya: cukuplah sebagai ‘ibu rumah tangga yang menyiapkan makanan, mencuci, menyeduh, memuaskan pria, serta mengasuh anak-anak dari suaminya’. Di sisi mereka, terdapat pula sayap moderat pimpinan Henry Hetherington yang—dalam persoalan hak pilih perempuan—secara diam-diam berpihak kepada sayap radikal ketimbang sayap revolusioner. Walaupun perimbangan kekuatan dalam forum pengambilan keputusan tak berhasil meloloskan klausul tentang perempuan, tetapi piagam itu mewakili kepentingan kelas pekerja secara keseluruhan dan mendapatkan dukungan dari buruh laki-laki maupun perempuan kebanyakan. Awal 1839, dukungan diperbesar dengan mendirikan Konvensi Nasional yang segera menyebarkan Petisi Chartis ke seluruh negeri dan mendapatkan lebih dari 3 juta tanda tangan yang 20 persen di antaranya diberikan oleh perempuan. Melihat konsolidasi kekuatan Chartis sebagai sebuah ancaman, maka kelas penguasa segera meluncurkan serangan dengan menggencarkan pembubaran rapat akbar, melarang mobilisasi dan aktivitas organisasi, hingga penangkapan-penangkapan massal terhadap buruh-buruh Chartis. Di tengah pergolakan inilah gerakan Chartis berpecah menjadi tiga kubu: (1) kekuatan-moral: kaum moderat yang mengusulkan Konvensi dibubarkan setelah petisi terwujud; (2) kekuatan-fisik: kaum radikal yang memancang tindakan-tindakan ekstrem untuk melaksanakan petisis tanpa bertumpukan gerakan yang terorganisir dan kuat; (3) kekuatan-revolusioner: kaum revolusioner yang menyerukan supaya Konvensi Nasional dirubah menjadi Parlemen Pekerja dan secara terorganisir dan sadar-kelas berjuang untuk menggulingkan rezim lama tanpa terjebak dalam persoalan diterima atau ditolaknya petisi.

Tanggal 12 Juli 1839, kelas penguasa menolak mentah-mentah Petisi Chartis dan tendensi-tendensi dalam Konvensi semakin menegang: kaum moderat berputus-asa dan mundur, kaum radikal mengusung pemberontakan tanpa persiapan yang jelas, dan kaum revolusioner terus mengorganisir. Oktober 1839, gerakan perempuan Chartis mengeluarkan pernyataan tegas untuk tetap mendukung laki-laki kelasnya dalam memperjuangkan hak pilih universal. Saat perempuan-perempuan borjuis membangun gerakan feminis liberal untuk memperjuangkan hak pilih perempuan dari kelasnya sendiri dan menentang Piagam Chartis; perempuan-perempuan pekerja justru melihat dengan mendukung hak pilih universallah standar-standar hidup kelasnya dapat diperjuangkan secara politik. Demikianlah saat pemogokan umum yang melibatkan 200.000 buruh laki-laki dan perempuan terekam pernyataan: ‘pertanyaan hak pilih universal ini adalah pertanyaan pisau dan garpu, pertanyaan roti dan keju’ dan ‘banyak daging sapi panggang, puding prem, dan bir kental dengan bekerja tiga jam sehari’. Proletariat Inggris menentang keputusan pemerintah yang menolak melaksanakan Piagam Chartis. Tetapi koran-koran borjuis—seperti The Times dan Punch Magazine—tiada henti menyerang pendirian tersebut. Mereka bahkan menyetigma perempuan Chartis sebagai ‘perempuan publik’: liar, nakal, dan penghibur. Di tengah serang brutal atas keterlibatan perempuan proletar dalam perjuangan Chartisme, The Northern Star sebagai surat kabar radikal menolak menyediakan kolom-kolom pembelaan karena O’Connor selaku pendiri dan pimpinan editorialnya menahan dan memuntahkan setiap artikel polemik dari perempuan Chartis. Hanya dalam Poor Man’s Guardian—yang didirikan Henry Hetherington tapi dieditori Julian Harney—pembelaan-pembelaan terhadap perempuan-perempuan pekerja bergaung keras. Kaum revolusioner melancarkan defenif dan ofensif, mengorganisir dan memperluas keterlibatan perempuan pekerja dalam gerakan Chartis. Lewat koran ini pulalah Harney berusaha menjelaskan signifikansi hak pilih universal dan menyulut pemogokan-pemogokan umum sampai pemberontakan bersenjata. Tertanggal 28 Januari, Harney menerbitkan pernyataan yang begitu rupa:

“Kami menuntut Hak Pilih Universal, karena kami percaya hak pilih universal akan membawa kebahagiaan universal. Waktu adalah ketika orang Inggris memiliki senapan di pondoknya, dan bersamanya tergantung sepotong daging; sekarang tidak ada sesendok daging karena tidak ada senapan; biarkan senapan dipulihkan dan sesendok daging akan segera munyusul. Anda tidak akan mendapatkan apapun dari tiran Anda kecuali apa yang dapat Anda rebut, dan Anda tidak dapat merebut apapun kecuali Anda benar-benar siap untuk melakukannya. Maka dalam kata-kata orang baik, saya mengatakan, ‘Lengan untuk perdamaian, lengan untuk kebebasan, lengan untuk keadilan, lengan untuk hak semua buruh laki-laki dan perempuan, dan para tiran tidak akan lagi menertawakan petisi Anda.’ Ingat itu!”

Bulan Mei 1839, Harney kembali menyebarkan selebaran yang nadanya serupa: ‘bersabarlah satu atau dua hari, tetapi bersiaplah pada peringatan satu menit; tidak ada orang yang tahu hari ini apa yang akan terjadi besok; bersiaplah untuk memelihara pohon kebebasan, DENGAN DARAH TIRAN!’ Setelah Petisi Chartis ditolak, Harney menemukan Bonbow sebagai kamerad yang bersepakat untuk berkeliling Inggris dengan dalam berceramah dan memberikan kuliah-kuliah tentang pentingnya pemogokan umum dan perjuangan bersenjata. Pertengahan Juli-permulaan Agustus, dua-duanya berkunjung dari satu kota-ke-kota untuk mengagitasi kelas pekerja. Menghadapi gerakan inilah kelas penguasa segera menangkap dan memenjarakan Harney dan Bonbow. Tetapi pembungkaman terhadap pemimpin gerakan kontan menyulut protes dan demonstrasi yang menyalak-nyalak. Meskipun telah dibungkam tetapi ide-ide yang tumbuh dalam medan perjuangan revolusioner massa terus-menerus dibicarakan dan meraih pengaruh di tengah kehidupan kelas proletar. Pada malam 3-4 November, Newport Rising bergemuruh di Wales. Sekitar 20.000-30.000 perempuan dan laki-laki pekerja meluncurkan pemberontakan bersenjata yang segera didukung pekerja di seluruh Inggris. Selama dua hari kelas pekerja dengan komite-komite aksinya menguasai kota. Bendera-bendera merah berkibar dan pabrik-pabrik dikelola secara bersama. Semua ini berakhir ketika militer berskala raksasa datang menerjang. Walau terhitung cepat dipadamkan, namun lagi-lagi proletariat memetik banyak pelajaran. Kelas proletar belajar kalau struktur gerakan yang longgar menjadi penghalang persatuan yang tegas untuk memenangkan piagam dan pemberontakan. Jadi, kesimpulannya adalah: dibutuhkannya organisasi terpusat dengan struktur kepemimpinan, keanggotan, dan program yang tepat untuk memperjuangkan Piagam Chartis.

Pada 1840, didirikanlah Asosiasi Chartis Nasional—dengan 50.000 anggota yang diorganisir melalui 500 cabang—dan memasukan hak pilih perempuan dalam programnya. Secara resmi The Northern Star diangkat sebagai pers organisasi, tetapi dieditori bukan oleh O’Connor melainkan Harney. Koran sekali lagi dikelolanya tak sebatas sebagai organ propaganda dan agitator kolektif tapi juga organisator kolektif. Di kolom-kolomnya, perempuan-perempuan pekerja diberi kesempatan untuk menulis. Hak pilih perempuan dibicarakan dan diperjuangkan secara luas. Awal 1840-an, situasi revolusioner berlanjut menerpa Eropa. Chartisme bangkit kembali. Di Lancashire, pemotongan gaji 25 persen mendorong kaum buruh melancarkan pemogokan umum yang menyebar ke Manchaster, Skotlandia, dan Cornwall. Dalam keadaan inilah aktivitas propaganda, agitasi, dan pengorganisiran Chartis meningkat hingga mencakup satu setengah juta pekerja. Mereka mempertahankan pemogokannya dengan membentuk majelis-majelis pekerja. Helen Mcfarlane menjadi salah satu organisator dan penulis di koran Chartis. Di sisinya terdapat pula Engels dan Marx, yang terhubung dengan perjuangan kelas proletar melalui Harney. Mengamati gerakan Chartis, Marx dan Engels mengembangkan pemikiran-pemikirannya. Artikel-artikelnya dimuat dalam The Northern Star dan segera beroleh pengaruh. Helen merupakan salah satu perempuan Chartis yang menerima cita-cita komunisme. Saat Manifesto Komunis pertama kali diterbitkan, Helen mendedikasikan dirinya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Lewat koran Chartis dia juga menyatakan impiannya: ‘sebuah republik tanpa orang miskin; tanpa kelas’ dan ‘sebuah masyarakat yang tidak hanya laki-laki bebas, tetapi juga perempuan bebas’. Di tengah situasi revolusioner yang berlangsung, kaum buruh teradikalisasi begitu rupa. Perempuan-perempuan pekerja memainkan peran penting dalam gerakan revolusioner. Chartisme telah membangkitkan perempuan dari lumpur perbudakan. Di tengah Revolusi Chartis, mereka menemukan dirinya bukan saja setara dengan laki-laki tapi juga terlibat dalam urusan-urusan politik revolusioner. Demikianlah seorang perempuan proletar menjelaskan posisi kelasnya di The Northern Star:

“Adalah tugas perempuan untuk maju, dan, dalam keagungan martabat kemanusiaanya, membantu saudara laki-laki pekerjanya dalam melakukan perebutan politik negara. Bukan ambisi, bukan kesombongan yang mendorongnya menjadi ‘wanita publik’; tidak, itu adalah penindasan yang menimpa setiap rumah pria miskin yang mendorongnya angkat bicara…. Dia [perempuan proletar] tidak meragukan keberhasilan akhir Chartisme dalam bentuk apapun, lebih dari perempuan-perempuan pekerja meragukan keadaannya sendiri; tetapi kemudian itu tidak akan, seperti yang kita katakan, diberikan oleh keadilan—tidak, itu harus diperas dari ketakutan para pengeksploitasi kelas pekerja.”

Di tengah gelombang revolusioner yang berlangsung di Eropa, kebangkitan gerakan perempuan Chartis memberi inspirasi bagi perempuan-perempuan pekerja di negeri-negeri lainnya. Januari 1840, perlawanan terhadap borjuasi juga dilancarkan oleh perempuan-perempuan pekerja dari pabrik tekstil di Allegheny, Pennsylvania, Amerika Serikat. Bersama buruh laki-laki mereka memberontak: menenteng kapak dan menghancurkan pabrik-pabrik dengan tuntutan pengurangan hari kerja dari 12 jam jadi 10 jam kerja, hingga pelarangan mempekerjakan anak-anak. Meski permulaan gerakannya buruh-buruh Amerika belumlah terorganisir seperti kamerad-kameradnya di Prancis dan Inggris, tetapi melalui perjuangan itulah mereka belajar dari pengalamannya sendiri hingga dapat memilih yang tepat di antara berbagai tendensi ide-ide sosialisme dan komunisme yang sedang berebut pengaruh dalam gerakan proletariat. Di Jerman, fraksi pekerja sosialis mulai terbentuk dan menjalar sampai ke Prancis dan Swiss. Tahun 1843, seluruh surat kabar Jerman dipenuhi diskusi mengenai persoalan sosial terutama bagaimana merubah tatanan secara mendasar. Beragam aliran sosialis beredar: sosialisme reaksioner (sosialisme feodal, sosialisme borjuis-kecil, dan sosialisme sejati), sosialisme konservatif (sosialisme borjuis), dan sosialisme atau komunisme utopis (Saint-Simonisme, Fourierisme dan Owenisme). Pada 1844, pemberontakan kelas pekerja akhirnya meledak: sabotase-sabotase industrial dimulai dari penenun-penenun di Silesia hingga diikuti pencetak-pencetak kain belacu di Praha. Tetapi gerakan ini ditindas dengan sangat kejam oleh pasukan-pasukan pemerintah. Kecenderungan populisme kelas-asing dalam gerakan buruh boleh saja tampil menggebu, tapi sesungguhnya justru membuat gerakannya lumpuh dan organisasinya terisolasi begitu rupa. Dalam “Cinta, Persahabatan, dan Perjuangan Kelas”, Mary Burns—yang berpengalaman sebagai organisator serikat buruh di Inggris—mendiskusikan persoalan ini dengan kekasihnya: Frederich Engels. Engels dan Mary bertukar pendapat:

“’Apakah melalui tindakan-tindakan anarkis seperti itu, kaum borjuis berhenti memeras tenaga-kerja buruh, proses produksi kapitalistik berhenti, dan pemiskinan rakyat dapat dihentikan?’

‘Tidak, Fred. Memang, proses produksi, untuk sementara terganggu, tetapi proses produksi yang berhenti hanya di pabrik tempat kebrutalan dan sabotase dilakukan, sedangkan di tempat-tempat lain proses produksi terus berjalan. Tidak hanya itu, tidakan-tindakan perlawanan anarkis itu semakin membuat polisi-polisi yang mendapat tuntutan keras dari kaum borjuis bertindak luar biasa semakin brutal, kejam, dan mengerikan, dan barisan penggebuk massa ini juga semakin diperkuat…. Karena kaum buruh menyadari tindakan-tindakan anarkis tidak membuahkan hasil bagi perbaikan nasib mereka, kaum buruh pun membentuk perlawanan terorganisasi, dan aku salah satu anggota dari salah satu organisasi perlawanan kaum buruh yang terorganisasi.’

Engels mengacungkan jempol, berdiri, kemudian mengecup kening Mary. ‘Cara-cara anarkis rupanya masih mereka pakai walaupun buruh-buruh itu sudah membentuk organisasi…. Akar penindasan dan pemiskinan terhadap kaum buruh, … bukan pada keberadaan mesin-mesin pabrik, melainkan pada sistem ekonomi, cara manusia berproduksi, dan keberadaan kelas-kelas yang terbentuk dalam perkembangan sejarah manusia, dan akar-akar penindasan inilah yang seharusnya menjadi objek perlawanan—objek perjuangan kelas proletar!…. Lalu, bagaimana caranya serikat-serikat buruh itu memperjuangkan kepentingan para buruh?’ Tanya Engels sambil semakin menggenggam erat jemari Mary. ‘Serikat-serikat buruh itu memainkan peranan penting bagi kaum buruh,’ Mary melanjutkan. ‘Kaum buruh yang bergabung dengan serikat buruh akan memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding jika mereka hanya berjuang sendiri-sendiri. Jika mereka berjuang sendiri-sendiri, kaum borjuis sangat mudah memukul mundur mereka entah melalui ancaman, entah melalui kekerasan, entah melalui pemecatan. Berbeda halnya jika buruh berjuang secara terorganisasi. Kaum borjuis akan berpikir seribu kali apabila mereka ingin memperlakukan buruh-buruhnya secara sewenang-wenang karena merekaakan berhadapan dengan buruh yang terorganisasi. Ketika buruh-buruh yang terorganisasi menunjukkan kekuatannya, mesin-mesin produksi tidak hanya mengalami gangguan operasi di beberapa pabrik, tetapi juga semua pabrik akan benar-benar berhenti beroperasi, dan kondisi seperti ini akan mengancam proses akumulasi, bahkan akan membuat bangkrut kaum borjuis.”

Sepanjang 1845-47, kombinasi antara krisis finansial dan industri di Inggris dengan wabah kelaparan dan gagal panen di Prancis meningkatkan pergolakan umum. Seluruh Eropa sampai perbatasan Rusia tersapu ketidakstabilan, kekacauan dan pemberontakan. Dalam situasi inilah bukan saja pertempuran jalanan yang menjadi sengit, tapi juga perjuangan teori menjadi signifikan. Pada 1846, Marx dan Engels—berlandaskan Sosialisme Ilmiah (ide-ide Komunisme yang dikembangkan dari pengalaman-pengalaman revolusi dan perjuangan kelas pekerja)—mendirikan Komite Korespondensi Komunis di Brussel. Melalui Mary Burns, keduanya membangun kontak dengan pemimpin-pemimpin Liga Keadilan di London. Di organisasi buruh bawah tanah yang memiliki anggota-anggota dari Jerman, Inggris, Prancis, Swiss, dan Belgia inilah Marx dan Engels meluncurkan pertarungan ideologis terhadap kepemimpinan borjuis-kecil yang diwakili orang-orang seperti Herman Kriege, Weitling dan Proudhon. Saat Mary berhasil mempertemukan mereka dalam sebuah ruangan, maka berlangsunglah perdebatan sengit di antara Marx dan Weitling. “Cita-citaku, tujuanku, bukanlah menciptakan teori-teori baru, baik teori ekonomi maupun teori lainnya. Aku bangkit melawan teori kebaruan apapun ongkosnya. Aku telah mengatakan kemarin, semua itu dalam orasiku di kota Brussel, dan perkataanku ini, luar biasa hebat, disambut dengan meriah oleh massa, dan mereka semua berdiri bertepuk tangan. Aku katakana pada mereka, semua kekuasaan harus dipusatkan kepada kaum buruh untuk kepentingan mendirikan harmoni universal. Cukup 100.000 pekerja bersenjata, yang mendapatkan dukungan 40.000 para pelaku kriminal, para penjahat, para bajingan, mereka dapat menggulingkan tirani kaum borjuis,” Weitling berkelakar. Marx kontan membalas, “Menurutku celotehmu itu hanya menghasut massa, kamu tidak menawarkan apapun pada kaum tertindas, doktrin yang kamu sampaikan ke hadapan massa dan kamu anggap konstruktif, bagiku, seperti mainan anak-anak yang tidak berguna dan omong kosong. Dalam celoteh-celotehmu, kamu seolah-olah mencitrakan dirimu sebagai seorang nabi yang, di satu sisi, mendapat wahyu dari Tuhan, dan, di lain sisi, kamu menunjukkan sebagai orang goblok tukang melongo.” Weitling membela diri, “Aku telah menerima ribuan surat yang membuktikan padaku bahwa pekerjaan sederhanaku lebih bermanfaat untuk cita-cita pergerakan dibanding dengan teori-teori yang kamu rumuskan, Marx. Lebih memalukannya lagi, Marx merumuskan teori-teori revolusionernya dengan cara mencungkilnya dari penderitaan yang dialami rakyat.” Marx lantas membentak, “Ketidaktahuan tidak pernah menolong siapapun!”

Juni 1847, Kongres Liga Keadilan berlangsung dengan pertentangan tajam di antara penganjur sosialisme borjuis-kecil dan sosialisme proletar. Meski forum Kongres didominasi para pendukung Weitling dan Proudhon, tetapi Marx dan Engels mampu memenangkan mayoritas peserta ke arah politik revolusioner. Dalam mengintervensi jalannya forum, keduanya dibantu bukan saja oleh Mary tapi juga Lizzy (perempuan pekerja yang merupakan rekan dari Mary, Engels dan Marx). Sejak Kongres dibuka, Mary dan Lizzy menyebar di tengah kerumunan hadirin untuk menjajakan buku tulisannya Marx (Kemiskinan Filsafat) yang mengkritik karyanya Proudhon (Filsafat Kemiskinan). Ketika Marx dan Engels dihalang-halangi berpidato—untuk memaparkan perspektif dan program revolusioner—di mimbar Kongres oleh Donald Muray; Mary dan Lizzy dengan cekatan membisikan, membujuk dan mempengaruhi para hadirin dengan memperkenalkan Marx dan Engels sebagai delegasi dari Brussel yang punya hak serupa dengan delegasi-delegasi lainnya. Demikianlah Mary dan Lizzy tampil sebagai agitator yang bahkan menyelinap di antara pendukung Waitling dan Proudhon guna menanam pengaruh. Akhirnya Muray gagal melakukan pembatasan. Saat forum hendak melakukan voting—sepakat atau tidak-sepakat; mayoritas hadirin justru angkat bicara, “Kenapa harus voting?” Kaum buruh yang hadir mengerti kalau Marx dan Engels merupakan delegasi yang seharusnya diberi kesempatan bicara, memilih dan dipilih. Ketika voting berlangsung, Marx dan Engels menang dengan suara mayoritas bersepakat kalau salah seorang di antara keduanya mesti diperkenankan berbicara. Marx lantas meminta Engels berorasi, sementara Mary dan Lizzy memberi semangat: keduanya meneriakan nama Engels yang segera diikuti banyak peserta.

Mula-mula slogan ‘Semua Manusia Bersaudara’ dikritik. Engels menjelaskan kalau borjuasi dan proletariat bukanlah saudara; keduanya memiliki kepentingan yang berbeda, berkontradiksi secara antagonis, dan pertentangan kelas ini akan berujung pada Revolusi Komunis: ‘revolusi industri hari ini telah menciptakan pekerja modern. Budak hari ini bernama: Proletariat! Proletariat yang berjuang membebaskan dirinya sendiri, mereka akan berjuang membebaskan semua manusia, dan semua manusia yang telah terbebaskan akan memasuki sebuah susunan masyarakat baru. Susunan masyarakat itu bernama: Komunisme!’ Mayoritas hadirin menerima gagasan Marx dan Engels. Forum bersepakat kalau Liga Keadilan diganti namanya menjadi Liga Komunis. Mary dan Lizzy lantas naik ke atas panggung untuk mengganti spanduk bertuliskan ‘Semua Manusia Bersaudara’ dengan kain merah berslogan ‘Kaum Buruh Sedunia, Bersatulah!’ Bulan Desember, Kongres Liga Komunis dilangsungkan—saat inilah Marx dan Engels mengusung Peraturan Dasar Liga Komunis. Forum menerimanya. Di Bagian I (Tentang Liga Komunis), dijelaskan bahwa setiap anggota bukan sekadar ‘setara, bersaudara, saling-membantu’, ‘menyandang nama organisasi dan menjaga kehormatan Liga’, dan ‘diorganisasikan dalam komunitas-komunitas, lingkaran-lingkaran, lingkaran Poros, Pimpinan Sentral dan Kongres’, tetapi juga menerangkan ‘tujuan dari Liga adalah untuk menggulingkan borjuasi, menegakkan kekuasaan proletariat, menghapuskan masyarakat borjuasi lama yang berdiri di atas antagonisme kelas-kelas; dan meletakkan pondasi sebuah masyarakat baru tanpa kelas dan tanpa kepemilikan pribadi’. Sedangkan syarat-syarat keanggotaannya meliputi: (a) cara hidup dan aktivitas yang berkesesuaian dengan tujuan-tujuan organisasi; (b) sanggup mengusung semangat revolusioner dan memiliki keberanian berpropaganda; (c) pengakuan dan penerimaan atas Komunisme; (d) tidak berpartisipasi dalam segala organisasi dan segala bentuk pergerakan politik anti-komunisme; dan wajib memberitahukan segala partisipasi keorganisasian lainnya kepada pimpinan Liga; (e) tunduk kepada keputusan-keputusan Liga; dan (f) siap menjaga kerahasiaan dan keberadaan segala urusan Liga, lingkaran-lingkaran Poros, Pimpinan Sentral dan Kongres. Liga Komunis diorganisir untuk menyediakan kepemimpinan revolusioner bagi perjuangan kelas proletar. Pada Januari 1848, Marx dan Engels menerbitkan Manifeto Komunis untuk mempersenjatai proletariat sedunia secara intelektual dan moral. Manifesto merupakan upaya Marx dan Engels untuk memberikan ekspresi terorganisir dan sadar dalam perjuangan kelas proletar. Kelak (dalam Pengantar Manifesto Komunis tahun 1890), Engels menulis:

“…ketika ia terbit kita tidak dapat menamakannya Manifesto Sosialis. Pada tahun 1847 ada dua macam golongan yang dianggap sebagai orang-orang Sosialis. Pada satu pihak adalah pengikut-pengikut berbagai sistem utopia, teristimewa kaum Owenis di Inggris dan kaum Fourieris di Prancis, yang kedua-duanya pada saat itu telah merosot menjadi hanya sekte saja dan berangsur-angsur menuju kematiannya. Di pihak lain tukang-tukang jual koyok kemasyarakatan yang sangat beragam coraknya itu yang dengan berbagai macam obat ajaib serta segala cara kerja tambal-sulam hendak melenyapkan keburukan-keburukan sosial, tanpa sedikitpun melemahkan kapital dan laba. Dalam kedua hal itu, orang-orang yang berdiri di luar gerakan buruh dan yang lebih suka minta bantuan pada kelas-kelas ‘terpelajar’. Tetapi bagian dari kelas buruh yang menuntut penyusunan-kembali masyarakat secara radikal, yakin bahwa revolusi-revolusi politik saja adalah tidak cukup, pada waktu itu menamakan dirinya ‘Komunis’. Ini adalah Komunisme yang masih mentah, hanya naluriah, dan sering kali agak kasar. Namun, ia cukup kuat untuk menimbulkan dua sistim Komunisme Utopia—di Prancis Komunisme ‘Icaria’ dari Cabet, dan di Jerman dari Weitling. Dalam tahun 1847 Sosialisme berarti gerakan borjuis, Komunisme berarti gerakan kelas buruh. Sosialisme, di daratan Eropa, setidak-tidaknya adalah cukup terhormat, sedang Komunisme justru sebaliknya. Dan karena kami telah mempunyai pendirian yang pasti sejak masa itu bahwa ‘pembebasan kelas buruh haruslah tindakan kelas buruh sendiri’ maka kami tidak sangsi lagi tentang nama mana di antara dua nama itu yang harus kita pilih. Sejak itupun tak pernah juga ada pikiran pada kita untuk menolak nama itu.”

Sejak awal dokumen itu langsung dibuka dengan pernyataan yang memproklamirkan perjuangan sepenuh hati dalam melawan kelas borjuis: ‘ada hantu berkeliaran di Eropa—hantu Komunisme. Semua kekuasaan di Eropa kuno sudah menyatukan diri dalam suatu persekutuan keramat untuk mengusir hantu ini: Paus dan Tsar, Metternich dan Guizot, kaum Radikal Prancis dan mata-mata polisi Jerman’ dan ‘telah tiba waktunya bagi kaum komunis dengan terang-terangan, menyatakan pandangan-pandangan mereka, cita-cita mereka, dan aliran-aliran mereka, dan melawan dunia dongengan kanak-kanak dengan sebuah manifesto dari partainya sendiri’. Tetapi setelah berdirinya Liga Komunis, revolusi yang tidak bisa diprediksi kedatangannya tiba-tiba meledak. Perempuan proletar mengambil peran yang paling radikal dan militan di tengah gelombang revolusioner. Saat kelaparan, gagal panen, dan krisis umum merajalela maka ibu-ibu dan gadis-gadis dari keluarga pekerja menjadi elemen yang pertama kali memberontak. Dari rumah-rumahnya penderitaan hidup dan keresahan mengenai roti meluap-luap sampai ke jalanan. Tanggal 24 Februari, Prancis bergejolak. Liga yang belum terlalu terkonsolidasi menyaksikan bagaimana 100.000 buruh laki-laki dan perempuan bangkit, merebut senjata, membentuk barikade-barikade, mengibarkan bendera-bendera merah, dan membentangkan spanduk-spanduk yang bertuliskan: ‘Roti atau Mati!’ dan ‘Kerja atau Mati! Diterjang gelombang massa maka Louis Philippe I dan Menteri Guizot tersungkur-jatuh, monarki konstitusional runtuh, dan Pemerintahan Sementara berdiri. Di tengah kebangkitan revolusioner inilah untuk pertama kalinya Manifesto Komunis menegaskan prinsipnya. Bahwa Liga Komunis bukanlah kaum sektarian yang membentuk partai massa tersendiri dan berhadap-hadapan dengan partai-partai kelas proletar lainnya, karena kaum komunis tidaklah mempunyai kepentingan-kepentingan yang terpisah dengan kepentingan-kepentingan proletariat secara keseluruhan: (1) dalam perjuangan nasional dari kaum buruh di berbagai negeri, mereka menunjukkan serta mengedepankan kepentingan-kepentingan bersama dari seluruh proletariat, terlepas dari segala nasionalitas; (2) pada berbagai tingkat perkembangan yang harus dilalui oleh perjuangan kelas proletar melawan borjuasi, mereka senantiasa dan di mana saja mewakili kepentingan-kepentingan gerakan itu sebagai keseluruhan.

Dengan pendirian itulah Liga Komunis berusaha melakukan intervensinya. Tetapi saat ini kepemimpinan komunis belumlah cukup kuat untuk memimpin aksi-aksi revolusioner kelas pekerja. Hanya bersama laki-laki dan perempuan-perempuan proletar, kaum revolusioner menekan parlemen bukan sekadar untuk menuntut pendirian republik tetapi juga tuntutan-tuntutan mengenai: jaminan untuk bekerja, kebebasan mendirikan organisasi buruh, 10 jam kerja sehari, hak pilih universal, dan sebagainya. Meskipun ini merupakan tuntutan reforma tapi diperjuangkan secara revolusioner dan mengandung kepentingan kaum buruh secara keseluruhan dalam melawan kediktatoran kapitalisme. Di baliknya terdapat tekad yang keras bukan saja untuk menuntut pekerjaan, mendapatkan perbaikan kondisi-kondisi kerja dan kesejahteraan hidup, tapi terutama secara langsung menyerang sistem kerja-upahan, pembagian kerja dan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi. Tanggal 25 Februari, Pemerintahan Sementara dihantam ultimatum untuk mendeklarasikan republik paling lambat 2 jam dan apabila tidak memenuhinya maka 200.000 massa bersenjata akan mengepung. Belum mencapai batasan waktu yang ditentukan, 20.000 laki-laki dan perempuan pekerja mulai membanjiri Hotel de Ville dalam komite-komite aksi. Namun di tengah antagonisme kelas yang belum matang dan lemahnya kepemimpinan proletariat, maka gerakan bersenjata tidaklah dimaksudkan untuk menggulingkan borjuasi. Saat ini kapitalis-kapitalis industri belumlah memerintah. Di seluruh Prancis, pusat-pusat industri baru saja tumbuh dan masih terpisah-pisah. Inilah mengapa perjuangan proletar melawan kapital berlangsung parsial. Di sisinya, perjuangan melawan mode eksploitasi sekunder kapital tampil dominan: petani menentang riba dan hipotek, atau borjuis-kecil berhadap-hadapan dengan pedagang grosir dan bankir. Pemberontakan ini tidak ditujukan kepada kelas borjuis melainkan aristokrasi keuangan yang menguasai Republik Pertama. Di bawah kepemimpinan Blanquis dan Cabetis, militansi gerakan buruh diarahkan untuk menghantarkan perwakilan gerakannya ke dalam Pemerintah Sementara yang dikendalikan Partai Republik Moderat pimpinan Alphonse de Lamartine. Setelah Monarki Juli terjungkal maka faksi borjuis Chamber yang gemetar ketakutan—menghadapi kecenderungan proletariat untuk menyerang kepemilikan pribadi dan menggulingkan kekuasaannya—akhirnya mendeklarasikan Republik Kedua, memberlakukan hak pilih universal, hingga membuka akses pendidikan dan pekerjaan dengan melaksanakan Lokakarya Nasional dan membentuk Kementerian Tenaga Kerja (Komisi Luksemburg) yang dipimpin Louis Blanc dan Albert. Tetapi berdirinya republik borjuis menandai kelemahan kepemimpinan proletar Paris. Wakil-wakil buruh dalam Pemerintahan Sementara bahkan menemukan dirinya tersubordinasi oleh kepentingan-kepentingan borjuis. Di tangan para pemimpin reformis ini hukuman-hukuman mati bagi monarki-monarki dihapus, pers-pers terbuka lebar untuk semua wacana borjuis dan membatasi pendapat-pendapat proletariat, dan bendera merah diturunkan dan dilarang digunakan sebagai simbol republik. Dalam “Perjuangan Kelas di Prancis, 1848 hingga 1850”, Marx menulis:

“Dengan mendikte republik kepada Pemerintahan Sementara, dan melalui Pemerintahan Sementara kepada seluruh Prancis, proletariat segera melangkah ke depan sebagai sebuah partai independen, tetapi pada saat yang sama menantang seluruh Prancis borjuis untuk datang menyerangnya. Apa yang dimenangkannya adalah medan perjuangan untuk emansipasi revolusionernya, tetapi sama sekali bukan emansipasi itu sendiri…. Republik Februari akhirnya memperlihatkan kekuasaan borjuasi dengan jelas, karena ia menghancurkan mahkota yang di belakangnya tersembunyi kapital…. Dengan enggan dan setelah perdebatan panjang, Pemerintahan Sementara mencalonkan semua komisi khusus permanen yang bertugas meminjamkan sarana untuk memperbaiki keadaan kelas pekerja [atau melemahkan perjuangan proletariat]! Komisi ini terdiri dari delegasi korporasi [serikat] pengrajin Paris dan dipimpin oleh Louis Blanc dan Albert. Istana Luksemburg ditugaskan sebagai tempat pertemuannya. Dengan cara ini wakil-wakil kelas pekerja disingkirkan dari kursi-kursi Pemerintahan Sementara, bagian borjuasi yang mempertahankan kekuasaan negara yang sesungguhnya dan kendali pemerintahan secara ekslusif berada di tangannya; dan berdampingan dengan kementerian keuangan, perdagangan, dan pekerjaan umum, berdampingan dengan Bank dan Bursa, muncul sinagoga sosialis yang imam besarnya Louis Blanc dan Albert, memiliki tugas untuk menemukan tanah perjanjian, memberitakan injil baru, dan menyediakan pekerjaan untuk proletariat Paris. Tidak seperti kekuatan negara profan manapun, mereka tidak memiliki anggaran, tidak memiliki otoritas eksekutif yang dapat mereka gunakan. Mereka seharusnya mematahkan pilar-pilar masyarakat borjuis dengan membenturkan kepala mereka ke tiang-tiang itu…. Sama dengan kaum borjuasi, kaum buruh telah membuat Revolusi Februari, dan bersama kaum borjuasi mereka berusaha mengamankan kemajuan kepentingan mereka, sebagaimana mereka telah menempatkan [dua orang] buruh dalam Pemerintahan Sementara itu sendiri di samping mayoritas borjuis. Kontrol tenaga kerja! Tetapi kerja-upahan, yaitu organisasi kerja borjuis yang ada. Tanpanya tidak ada kapital, tidak ada borjuis, tidak ada masyarakat kapitalis. Kementerian tenaga kerja yang istimewa! Dengan kementerian keuangan, perdagangan, pekerjaan umum—bukankah ini kementerian tenaga kerja borjuis? Dan di sampingnya Kementerian Buruh menjadi kementerian impotensi, kementerian amal saleh, Komisi Luksemburg. Sama seperti kaum buruh mengira akan mampu membebaskan diri mereka berdampingan dengan borjuasi, jadi mereka pikir akan mampu menyelesaikan revolusi proletar di dalam tembok nasional Prancis, berdampingan dengan negara-negara borjuis yang tersisa….”

Tersubordinasinya Komisi Luksemburg oleh Pemerintah Sementara melemahkan perjuangan kelas pekerja. Setelah bergabung dengan pemerintahan borjuis, wakil-wakil buruh langsung menyeret lapisan-lapisan proletariat Paris untuk mengisi layanan-layanan polisinya. Mula-mula komandan barikade Revolusi Februari, Marc Caussidiere, ditarik memimpin kepolisian borjuis dan diarahkan untuk mendirikan paramiliter Garda Mobil—dengan merekrut anggota-anggotanya dari gerombolan-gerombolan lumpen-proletar—yang diberi tugas membantu Garda Nasional dalam melindungi properti-properti borjuasi dan dibayar 1 franc. Di sisinya, Louis Blanc mendorong pembentukan atelier (bengkel atau rumah kerja) nasional untuk menyedot 100.000-200.000 proletariat yang sebelumnya terlempar ke jalanan. Pada bengkel inilah laki-laki dan perempuan pekerja bukan saja dibebani kondisi kerja yang mengerikan seperti di Inggris, tetapi juga diberi upah paling tinggi 23 sous. Menurut Blanc, itulah realisasi sosialisme di Prancis. Ini emansipasi yang begitu naïf: kebijakan sosialis utopis justru menyangga kapitalisme dengan menarik sebanyak mungkin perempuan dan anak-anak dalam rumah kerja dengan hari kerja yang panjang dan upah yang rendah. Sedangkan untuk memulihkan krisis keuangan yang berlarut-larut maka kelas borjuis mendeklarasikan kebangkrutan negara, memenjarakan rakyat pekerja yang berutang, dan memberlakukan pajak 45 sen terhadap kaum tani borjuis-kecil. Demikianlah perjuangan revolusioner kelas proletar dikhianati secara banal. Di tengah kuatnya serangan-balik terhadap gerakan buruh; kelaparan dan krisis Eropa segera mendorong tersebar luasnya gelombang Revolusi Februari. Berita-berita perjuangan revolusioner di Prancis tidak terbendung. Upaya-upaya kelas penguasa dalam menyensor surat kabar-surat kabar kaum revolusioner menuai kegagalan. Akhir Maret, Marx dan Engels bertemu bersama semua anggota Komite Sentral Liga Komunis di Paris. Mereka menghadapi upaya penyensoran dengan mencetak dokumen Manifesto dalam bentuk selebaran-selebaran yang disebarkan secara tertutup. Marx, sebagai editorial Neue Rheinische Zeitung, memastikan peredaran koran ini dengan meminta anggota-anggota Komite Sentral—yang kembali ke negerinya masing-masing—untuk membawa dan mengedarkannya di bawah tanah. Di Jerman, Italia, Polandia, Hungaria, dan Rusia—aksi-aksi revolusioner begemuruh: rakyat pekerja mengamuk dan barikade-barikade terbentuk. Tanggal 13 Maret 1848, gerakan revolusioner di Wina berhasil meruntuhkan kekuasaan Matternich. Pada 18 Maret, pemberontakan bersenjata menjalar sampai ke Berlin. Dalam “Revolusi dan Kontra-Revolusi”, Marx menuliskan:

“Revolusi Wina dapat dilihat sebagai peristiwa yang dilakukan oleh hampir seluruh rakyat. Kaum borjuis (kecuali para bankir dan pemilik saham), para pedagang kecil, maupun kaum pekerja (buruh), sama-sama bangkit melawan pemerintahan yang lalim…. Perhatian politik kelas menengah sebelumnya demikian diawasi oleh Matternich. Berita-berita dari Paris yang berisi tentang kekuasaan anarki, sosialisme, terorisme, dan perseteruan antara kelas kapitalis dan kelas buruh, dibatasi secara ketat…. Namun akhirnya hal itu berpengaruh juga pada mereka sehingga kemudian terbentuklah persatuan antara mereka dengan kaum miskin untuk melawan pemerintah. Mereka melihat bahwa kelas pekerja mempunyai cara pandang yang sama dengan mereka terutama dalam hal: konstitusi, digunakannya juri dalam proses peradilan, kebebasan pers, dan lain-lain. Hati dan jiwa mereka, sejak Maret 1848, sudah terikat dengan gerakan perlawanan tersebut. Dan kelas dominan ini tercatat sebagai pihak yang turut membantu gerakan…. Di kota Berlin, selama lima hari orang-orang bertemu untuk mendiskusikan berita-berita dan meminta perubahan dalam pemerintahan. Ketika Matternich memberikan kelonggaran, maka kaum revolusi melihat bahwa revolusi telah selesai dan bergegas berterima kasih kepada raja karena telah bergegas memenuhi harapan rakyatnya. Selanjutnya serangan militer muncul dalam jumlah yang besar, barikade-barikade perjuangan dibentuk, kerajaan luput dari serangan. Kemudian segala sesuatunya berubah. Kelas buruh yang telah melihat tendensi kelas borjuis untuk tetap menempatkan mereka di bawah, telah melawan dan dikalahkan. Hal ini membuat mereka sadar akan kekuatan mereka. Mereka dibatasi dalam masalah hak pilih, kebebasan pers, hak untuk duduk sebagai juri, dan hak untuk mengadakan pertemuan. Dan pembatasan ini akan sangat disetujui oleh kelas borjuis. Bahayanya dari kembalinya iklim anarki orang-orang Paris sudah semakin dekat. Sebelum bahaya ini, semua bentuk-bentuk yang berbeda muncul melawan kemenangan dari kaum buruh, kendatipun mereka mengeluarkan tuntutan-tuntutan yang spesifik untuk dirinya sendiri. Adanya persatuan antara teman dan musuh serta persekutuan antara kaum borjuis dan pendukung penggulingan sistem dapat dilihat dari barikade yang ada di Berlin…. Gerakan yang merdeka dari kelas buruh telah terjadi melalui revolusi. Kemauan serta situasi dari gerakan ini sepertinya tidak menunjukkan adanya tuntutan-tuntutan spesifik dari partai proletar. Dalam kenyataannya, selama adanya alasan yang tidak jelas untuk aksi yang terlepas dari kaum buruh, selama hak pilih langsung dan umum belum diberikan, selama tindakan memecah Jerman menjadi 36 negara bagian yang lebih kecil dilanjutkan, maka apa yang dapat dilakukan oleh kaum proletar selain melihat gerakan di Paris adalah berjuang bersama kelompok pekerja miskin untuk mendapatkan hak-hak tersebut.”

Awal April, Revolusi 1848 telah menjalar ke seluruh Eropa. Di seluruh negeri cengkeraman Aliansi Suci melemah dan pertahanan reaksioner terakhirnya tinggallah di Rusia. Tanggal 10 April, buruh-buruh Inggris memancang aksi-aksi solidaritas untuk mendukung perjuangan kelas proletar dunia yang sedang bangkit. Sementara kelas borjuasi membangun aliansi dengan sisa-sisa monarki Eropa untuk memadamkan gerakan-gerakan revolusioner. Pada 16 April, rakyat pekerja Paris berkumpul memilih staf umum Garda Nasional. Dalam kesempatan inilah hak pilih perempuan juga diusung. Terpengaruhi gagasan Saint-Simon dan Fourier; Eugenie Niboyet tampil menuntut ruang bagi perwakilan perempuan. La Voix des Femmes (Suara Perempuan) adalah surat kabar yang digunakannya untuk melancarkan pengorganisiran. Lewat korannya, dia menerangkan pendirian utopisnya dalam perjuangan pembebasan perempuan: ‘tujuan kita adalah keharmonisan: kita tidak pernah melanggar apa yang telah dipersatukan Tuhan; mari kita sucikan prinsip persaudaraan; mari kita bebas; mari kita setara. Kesetaran adalah keadilan’. Hanya pertemuan itu justru diputarbalikan oleh aparatur-aparatur borjuasi sebagai upaya kudeta terhadap Pemerintahan Sementara. Dengan prasangka inilah pemerintah borjuis mengumpulkan 100.000 pasukan Garda Nasional di bawah slogan: ‘Hancurkan Komunis!’, ‘Hancurkan Sosialis!’, ‘Hancurkan Feminis!’ ‘Turunkan Louis Blanc!’, ‘Singkirkan Blanqui dan Cabet!’. Rakyat pekerja lantas membentuk barisan-barisan pertahanan diri dan menjelaskan kalau berita-berita yang beredar merupakan kebohongan. Maka pertempuran tidak jadi dibuka dan borjuasi segera mengumumkan tindakannya sebagai sebuah kesalahpahaman. Apa-yang-dimaksudkan salah paham sebenarnya adalah kesengajaan. Borjuasi ingin menyingkirkan perwakilan-perwakilan buruh dari tubuh pemerintahan dan menolak perwakilan perempuan. Di tengah cambuk reaksi, ide-ide sosialisme dan pembebasan perempuan kembali disebarkan di bawah tanah. Di sekitar Suara Perempuan, Naboyet mendirikan Klub Perempuan bersama Desiree Gay, Jeanne Deroin, dan Pauline Roland. Pada 26 April, dikeluarkanlah petisi yang bernada tegas: ‘meminta Pemerintah Sementara Republik untuk segera mengadopsi sebuah dekrit yang pada prinsipnya didedikasikan untuk pengakuan mutlak hak-hak sipil bagi perempuan dan mengijinkan ibu tunggal dan gadis muda yang belum menikah untuk menikmati pelaksanaan hak pilih’.

Akhir April, Majelis Nasional Konstituante dibentuk dengan susunan keanggotaan yang didominasi oleh kaum republikan borjuis—yang diam-diam memberikan tempat untuk Legitimis (pendukung Dinasti Bourbon—borjuasi yang megamankan hak milik atas tanah) dan Orleanis (pembela Louis Philippe—borjuasi yang menginginkan hak milik atas rel kereta api, bursa, dan bank)—serta mengecualikan Louis Blanc dan Albert dari Komite Eksekutif serta mengabaikan seluruh tuntutan Komisi Luksemburg. Tepat 4 Mei, Majelis Nasional bersidang dan menggantikan hari berdirinya Republik Kedua dari 25 Februari menjadi 4 Mei 1848. Demikianlah mereka bukan saja menghapus ingatan bahwa pendirian republik berhubungan dengan kebangkitan revolusioner proletariat, tetapi juga merenggut semua capaian gerakan buruh menjadi capaian-capaian kelasnya sendiri. Tanggal 15 Mei, proletar Paris akhirnya meluncurkan protes terbuka. Barisan perempuan dan laki-laki pekerja bergerak menuju Hotel de Ville untuk menentang hasil sidang Majelis. Pemerintahan Sementara kontan menghadapinya dengan larangan berkumpul, pembubaran paksa, penangkapan, dan penghinaan-penghinaan langsung dari tribun Majelis. Seusai demonstrasi dibungkam, para pembangkang selanjutnya diseret ke sekolah-sekolah Menteri Perang Jenderal Cavaignac. Sementara di seluruh Paris, kehidupan kelas proletar dikontrol dan diawasi militer. Di tengah kondisi inilah aktivitas-aktivitas serikat buruh dipangkas dan borjuasi secara arbitrer mencabut reforma-reforma yang sebelumnya dimenangkan proletariat. Begitulah Komite Eksekutif mempersulit akses-akses untuk bekerja di bengkel nasional dengan beragam kualifikasi, upah-harian diganti menjadi upah-borongan, dan para buruh yang tidak lahir di Paris dibuang ke Sologne. Dengan cara inilah ide-ide Louis Blanc tentang atelier nasional didiskreditkan. Di bawah Pemerintahan Sementara, bengkel nasional dilikuidasi untuk diorganisir di garis militer untuk digunakan melawan gerakan buruh dan kaum revolusioner. Mulai 21 Juni, serangan-balik dipertajam dengan mengeluarkan Dekrit Penghapusan Lokakarya Nasional. Dihapusnya lokakarya berarti menjerumuskan lapisan-lapisan pekerja dalam lubang pengangguran, kemelaratan, kelaparan, dan pelacuran sempit. Proletariat akhirnya memulai perlawanan sengit. Revolusi Juni meledak dan tabir yang menyelimuti republik remuk. Pada 22-23 Juni, para pekerja di Marseille melancarkan perlawanan sengit. Perempuan dan laki-laki bangkit menolak keputusan pemerintah borjuis. Protes, demonstrasi dan pemogokan dilakukan tapi kelas penguasa menghadapinya sangat opresif. Barikade-barikade akhirnya didirikan, gelombang kemarahan segera menyebar ke Lyon dan mengambil bentuk pemberontakan bersenjata.

Pada 24 Juni dini hari, api pemberontakan telah tiba di Paris. Di Faubourg du Temple, saat langit masih gulita dan penduduk masih tertidur pulas, perempuan proletar membunyikan lonceng-lonceng menara lokal untuk membangunkan keluarga-keluarga pekerja menuju barikade. Saat semuanya terbangun, gadis-gadis pekerja memaksa pemilik toko dan tetangga-tetangganya mengumpulkan alat makan dan benda-benda logam untuk dilebur menjadi peluru. Di sisinya istri-istri pekerja juga meminta suaminya beringsut ke barikade. Di belakang barikadenya, perempuan-perempuan tukang cuci seperti Francoisen Beaulieu berusaha menyelundupkan senapan berburu dan roti-roti. Di barikade lainnya, Josephine Clabot tampil sebagai perempuan pembuat dompet yang cerdik dalam meloloskan diri dari polisi: saat akses ke Rue des Trois-Couronnes dibatasi, dia menyamar menggunakan pakaian laki-laki, menyembunyikan senjatanya, dan menyelinap-linap menghindari aparat yang berjaga di jalan raya. Di sampingnya juga terdapat Veuve Henry (veteran sans-cullotes berusia 76 tahun) dan Elisabeth Guibail (gadis pemahat kayu yang baru saja dipecat dari atelier nasional) yang memimpin seabrek perempuan lainnya dalam memecahkan jendela-jendela toko, menyita bubuk mesiu dan senapan-senapan untuk mempersenjatai barikadenya. Perjuangan militan dari perempuan-perempuan pekerja inilah yang telah memperluas gelombang radikalisasi sampai ke lapisan-lapisan perempuan borjuis-kecil. Wanita-wanita pedagang pakaian dan anggur bukan saja memberikan bahan-bahan untuk membuat kartrid, tetapi juga menyulap toko-toko mereka sebagai tempat pertemuan bagi para pemberontak. Proses radikalisasinya bahkan berlangsung melalui lapisan pekerja seks dan dokter; Florentina Bacle dan Jules Bonvicini merupakan sepasang borjuis-kecil radikal yang tidak sekadar menjadi kekasih dan tahu cara bercinta di atas ranjang, tetapi juga mampu menyediakan senapan berburu dan membuat selongsong peluru untuk membantu pemberontak. Rumah mereka diubah selaksa gudang amunisi dimana proletariat bersenjata keluar-masuk mengambil kartrid.

Selama hari-hari Juni, perempuan-perempuan proletar dan borjuis-kecil radikal mendirikan Society of the Mutual Education of Women. Meskipun organisasi buruh rahasia ini bertendensikan ide-ide sosialisme utopis Saint-Simonian dan feminisme Fourieris, dan dipimpin oleh perempuan-perempuan sosialis republikan—yang mengusung tuntutan ‘hak-hak sipil, sosial dan ekonomi perempuan’—yang berprinsipkan ‘kesetaraan seksual dan moralitas dalam keluarga’; tetapi pada kenyataannya—di tengah pasang revolusioner, perempuan proletar melampaui peran keibuan yang ditekankan oleh prinsip feminisme; perempuan proletar menunjukkan dirinya mampu mengambil inisiatif, menyulut dan mengorganisir perlawanan mulai dari rumah, pemukiman, jalanan, hingga bertempur sebagai massa yang paling militan di setiap barikade. Sampai 26 Juni, sebanyak 30.000-40.000 buruh perempuan dan laki-laki berbenturan dengan 80.000-100.000 tentara. Di dinding-dinding kota, kelas pekerja menempelkan poster seruan: ‘Mari Kita Pertahankan Senjata Kita!’ Demikianlah bendera-bendera merah—yang sebelumnya dilarang dan diturunkan—kembali dikibarkan di setiap sudut dan rumah-rumah pekerja. Di jalan-jalan, terbentang spanduk-spanduk bertuliskan: ‘Roti atau Mati!’ dan ‘Kerja atau Mati! Laki-laki dan perempuan proletar bergerak menghadapi guntur artileri, peluru dan roket-roket pembakar tanpa takut mati. Tetapi menghadapi momen-momen kebenaran, kepemimpinan borjuis-kecil radikal dalam gerakan buruh tidak bisa melaluinya. Saat perjuangan kelas menajam maka teori, program, dan kebijakan-kebijakan mereka dipertanyakan ketepatannya. Daripada mempertahankan independensi proletariat; mereka justru beringsut menuju rawa-rawa kolaborasi kelas: bergabung bersama borjuasi dengan melikuidasi dirinya ke dalam Partai Ketertiban yang perspektif dan program utamanya adalah melancarkan ofensif terhadap gerakan buruh.

Meskipun tanpa kepemimpinan yang tegas, kekurangan senjata dan akhirnya ditumpas; tetapi secara cerdik dan berani—selama lima hari—kaum buruh menunjukkan kemampuan tempurnya dalam menghadapi Garda Nasional, Garda Mobil, dan Divisi Angkatan Darat Pertama. Saat meledaknya Revolusi Juni intensitas perjuangan kelas begitu tajam dengan getaran yang mengguncang dunia. Di Paris, perempuan sekali lagi tampil heroik. Semangatnya tetap membara sewalaupun pemberontakan bersenjata telah dipadamkan. Di penjara perempuan St. Lazare—Simone Leblanc dan Catherine Leclerc meski mendapatkan penyiksaan keji dan tekanan-tekanan mengerikan, tetapi keduanya tetap menolak untuk ditundukan. Keberanian dan militansi mereka membakar semangat sesama tahanan. Di balik jeruji, daipada meratapi nasib dan menyesali perbuatan; keduanya justru menghasut seabrek tahanan untuk memberontak. Takut meletusnya pemeberontakan dari dalam bui, aparat Napoleonik sekelebat memindahkan dua-dua perempuan itu ke Penjara Haguenau yang terkenal dengan kekejamannya dan penjagaannya sangat kekat. Penderitaan, kemarahan, keberanian, perlawanan dan perlawanan proletariat macam inilah yang memberi inspirasi bagi rakyat pekerja Jerman. Melalui koran Liga Komunis Neue Rheinische Zeitung, Marx menjelaskan: ‘waktu itu, berita-berita yang ada dengan sangat jelas memberitahukan kepada umum (terutama masyarakat di benua Eropa) bahwa di satu pihak gerakan ini melibatkan kaum pekerja (buruh) dan seluruh kelas-kelas sosial dalam masyarakat kota Paris yang didukung oleh kelompok bersenjata. Di lain pihak, pergolakan yang terjadi beberapa hari itu diliputi dengan emosi tak terkendali. Peristiwa ini menjadi kepastian bagi setiap orang bahwa pemberontakan [kelas pekerja] adalah suatu peperangan yang besar dan menentukan, seperti halnya badai besar. Jika pemberontakan ini mencapai kemenangan besar di seluruh benua, ataupun jika pemberontakan ini dapat dilumpuhkan, setidaknya akan mendorong kaum kontra-revolusi untuk melakukan gerakan restorasi’. Di Jerman, Revolusi Maret menyalak dengan dua pusat pemberontakan: Wina dan Berlin. Kaum revolusioner mengintervensi gerakan demokratik—yang dipimpin Partai Demokrat Radikal—dengan mengusung perspektif dan program revolusioner. Bulan Mei 1848, rakyat pekerja Jerman memenangkan hak pilih universal dan mendirikan Majelis Nasional Frankfurt. Liga Komunis tidak menolak pemilihan umum dan parlemen karena merupakan taktik yang berguna dalam perjuangan kelas. Tetapi Liga menegaskan keterbatasan parlementer. Masalah mendasar tidak pernah dapat diselesaikan melalui undang-undang dan konstitusi, melainkan di pabrik dan jalan-jalan, kota-kota dan desa, dan barak-barak tentara. Inilah mengapa kaum revolusioner menempatkan aktivitas massa sebagai elemen kunci dalam melampaui limit-limit parlementerisme. Dengan menggunakan parlemen maka proletariat mendapatkan kesempatan melancarkan agitasi-agitasi revolusioner untuk melawan borjuasi secara legal dan terbuka. Engels pada ‘Pengantar’ untuk “Perjuangan Kelas di Prancis, 1848-1850” menjelaskannya:

“Dengan pemanfaatan hak pilih universal yang berhasil itu, suatu cara perjuangan proletar yang sama sekali baru mulai berlaku, dan ini dengan cepat berkembang lebih lanjut. Ditemukan bahwa lembaga-lembaga negara, di mana kekuasaan borjuasi diorganisir, masih menawarkan kesempatan lebih lanjut bagi kelas pekerja untuk melawan lembaga-lembaga negara ini. Mereka mengambil bagian dalam pemilihan umum individu, dewan kota dan pengadilan industri; mereka memperebutkan setiap pos melawan borjuasi yang pendudukannya cukup banyak diperoleh proletariat. Maka terjadilah borjuasi dan pemerintah menjadi jauh lebih takut pada tindakan legal daripada ilegal partai buruh, pada hasil pemilu daripada pemberontakan.”

Hanya kepemimpinan borjuis-kecil radikal yang bimbang dan lembek ini tidak bernyali untuk meluncurkan agitasi revolusioner melalui mimbar-mimbar borjuis yang didudukinya. Dalam Majelis Nasional Frankfurt mereka menggantikan program revolusioner—untuk melancarkan satu pukulan mematikan terhadap pemerintahan borjuis—dengan pertempuran-pertempuran kecil yang justru mempertajam kontradiksi di tubuh Majelis dan melemahkan perjuangan massa. Serangan-serangan yang tidak signifikan secara mudah dipadamkan oleh kekuatan reaksi. Menghadapi kondisi inilah Majelis Frankfurt bukan saja menjadi putus asa, tetapi juga kehilangan integritasnya di mata rakyat pekerja. Segera setelah massa tidak mempercayainya maka para pecundang, pemburu rente dan kariris dari kelas borjuis-kecil radikal menyeberang ke sisi reaksi—bersama kelas borjuasi mereka menghancurkan gerakan revolusioner. Kini gelombang revolusioner surut dan elemen-elemen kontra-revolusioner bangkit. Namun perempuan-perempuan pekerja Jerman maju di barisan terdepan untuk mempertahankan revolusi. September 1848, sebanyak 585 buruh perempuan Frankfurt dipenjara lantaran mengangkut batu, senapan, dan membangun barikade bersama laki-laki pekerja. Bulan Oktober di Polandia, perempuan dalam organisasi-organisasi buruh bawah tanah dikejar-kejar, 50 diintimidasi dan 14 lainnya ditangkap dengan tuduhan subversif karena terjun ke medan tempur, merawat yang luka-luka, memberikan pendidikan pada anak-anak pekerja, mendistribusikan literatur ilegal, dan menampung emigran-emigran revolusioner di rumah mereka. Di tengah pertempuran Dresden, pada Mei 1849, buruh perempuan bergabung dalam pemberontakan bersenjata bersama buruh laki-laki hingga Pauline Wunderlich dijatuhi hukuman seumur hidup atas keterlibatannya.

Sepanjang garis perjuangan revolusioner dan perlawanan terhadap kontra-revolusi, gerakan perempuan mengambil peran aktif. Di tengah kepungan reaksi yang secara brutal membubarkan serikat-serikat buruh, membredel pers-pers radikal, melucuti massa proletariat, dan memburu rakyat pekerja; perempuan-perempuan pekerja tampil di medan pertempuran untuk mendirikan tenda-tenda bantuan, mengobati korban-korban yang terluka, mengatur penyaluran logistik, menggelar forum-forum pendidikan, mengangkat senjata dan menempuh perjuangan penghabisan tanpa takut dipenjara, disiksa, luka-luka dan mati. Dalam Revolusi 1848, perempuan proletar lagi-lagi menunjukkan tekad dan kesanggupan tempurnya. Mereka kuat dan cekat, memproduksi dan mengangkat senjata, dan mampu menjadi propagandis dan agitator yang mengobarkan semangat perjuangan laki-laki kelasnya. Meskipun menghadapi ancaman besar di hadapan matanya, tetapi perempuan-perempuan pekerja sama sekali tidak menyerah dan mundur. Mereka berani, lebih berani, dan tetap berani. Revolusi telah menghancurkan belenggu perbudakan berabad-abad yang merantai mereka. Lewat perjuangan revolusioner perempuan-perempuan pekerja bukan saja membebaskan dirinya, tetapi juga menyetarakan dirinya dengan laki-laki pekerja di medan perjuangan kelas. Revolusi mengajari mereka bagaimana caranya berjuang dan menentukan nasibnya sendiri. Revolusi telah membuat mereka terlahir kembali sebagai orang-orang merdeka, bermartabat, berdedikasi dan bernyali tinggi. Perempuan pekerja adalah lapisan penting di barikade. Berdiri di garis depan, mereka tiada sekadar menembak dan menusuk melainkan pula menjadi ujung tombak yang mampu meruntuhkan moral, mempengaruhi dan memenangkan Garda Nasional ke sisi barikade. Namun menyaksikan jalannya barikade, Engels dalam catatan ‘Pengantar’ menyampaikan kesimpulannya:

“…kondisi perjuangan pada dasarnya telah berubah. Pemberontakan dengan gaya lama, pertarungan jalanan dengan barikade, yang hingga tahun 1848 memberikan keputusan akhir di mana-mana, sudah cukup usang…. Kita tidak memiliki ilusi tentang hal itu: kemenangan nyata dari pemberontakan atas militer dalam pertempuran jalanan, kemenangan antara dua pasukan, adalah salah satu pengecualian yang paling langka. Tetapi para pemberontak, juga, sangat jarang mengandalkannya … Jika mereka berhasil dalam hal ini, maka pasukan gagal bertindak, atau komandan kehilangan akal, dan pemberontakan menang. Jika mereka tidak berhasil dalam hal ini, bahkan di mana militer adalah minoritas, keunggulan peralatan dan pelatihan yang lebih baik, kepemimpinan yang bersatu, penggunaan pasukan militer yang terencana dan berdisiplin membuatnya kuat…. Maka, tidak heran, bahkan barikade yang berjuang dengan kepahlawanan terbesar—Paris, Juni 1848; Wina, Oktober 1848; Dresden, Mei 1849—berakhir dengan kekalahan pemberontakan, segera setelah para pemimpin penyerangan, tanpa terhalang oleh pertimbangan politik, bertindak dari sudut pandang militer murni, dan tentara mereka tetap dapat diandalkan…. Oleh karena itu, bahkan di masa klasik pertempuran jalanan, barikade menghasilkan lebih banyak efek moral daripada efek material. Itu adalah sarana pengguncang ketabahan militer. Jika bertahan sampai ini tercapai, maka kemenangan diraih; jika tidak, ada kekalahan…. Tetapi sejak itu terjadi lebih banyak perubahan, dan semuanya berpihak pada militer. Jika kota-kota besar telah menjadi lebih besar, tentara akan menjadi lebih besar lagi. Paris dan Berlin, sejak 1848, tumbuh kurang dari empat kali lipat, tetapi garnisun [tentara reguler] mereka tumbuh lebih dari itu. Melalui rel kereta api, garnisun dapat, dalam dua puluh empat jam, menjadi lebih dari dua kali lipat, dan dalam empat puluh delapan jam mereka dapat ditingkatkan menjadi pasukan besar…. Di sisi lain, semua kondisi umum di pihak pemberontak semakin memburuk. Sebuah pemberontakan yang menarik simpati seluruh lapisan masyarakat hampir tidak akan terulang kembali, dalam perjuangan kelas, semua lapisan menengah tidak akan pernah mengelompokkan diri mereka secara ekslusif sehingga partai-partai reaksioner yang berkumpul di sekitar borjuasi hampir menghilang. ‘Rakyat’, oleh karena itu, akan selalu tampak terbagi, dan dengan ini pengungkit yang kuat, yang sangat efektif pada 1848, menjadi lemah.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

(Berlanjut)

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai