Kategori
Sejarah

Revolusi dan Pembebasan Perempuan (Bagian 6)

“Tidak ada sesuatupun di muka bumi yang dapat merenggut harapan kelas kami. Kesengsaraan dan penghinaan yang mengoyak hari-hari ini dapat kami atasi. Kami akan menaklukan segala derita yang ada, termasuk yang membuat sebagian angkatan kami berputus-asa dan menyerah—terdemoralisasi. Kami terlahir dalam haru-birunya situasi dengan kaki yang menghujam ke tanah dan lengan yang terhunus ke langit, perasaan yang berdarah dan pikiran yang memberontak. Kami berjanji: cakar dan taring ini akan merobek dan menghancurkan segala yang pantas untuk binasa. Datang dan bertambahlah penderitaan hidup, hingga benteng-benteng kami terkepung. Dan tiba di benteng terakhir, kalian akan menyaksikan perjuangan penghabisan yang paling dahsyat. Ketika para tuan melihat semua kami tersudut, ini tidak berarti semuanya berakhir. Kami adalah kelas yang sedang bangkit. Akan tiba waktunya dimana kami mengerahkan seluruh kekuatan kami untuk menang atau mati secara bermartabat.”

“Kami hidup, dan sepenuhnya siap mengorbankannya, untuk kehidupan umat manusia yang lebih baik. Kami adalah angkatan politik yang dibesarkan di tengah angkara. Kami bertanggung-jawab untuk melenyapkannya. Kami, bersama semua garda-tempur terhisap dan tertindas di dunia, akan membersihkan bumi manusia ini dari segala kekotoran yang keji dan hina. Naluri revolusioner yang bersemayam di alam bawah-sadar kelas proletar takkan padam, dan cepat atau lambat, keseluruhan situasi akan mendorong lapisan terluas dari kelas revolusioner ini pada kesimpulan yang benar: pembangunan kepemimpinan revolusioner untuk mempersenjatai perjuangan revolusioner massa dalam menggulingkan masyarakat kelas yang sedang sekarat.”

– Kaum Buruh dan Muda

Persaingan dalam relasi barang-dagangan mendorong perkembangan kapitalisme secara radikal. Melalui persaingan borjuasi memainkan peran progresif mengembangkan tenaga produktif, berinvestasi dalam industri, ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah yang dilakukan kaum borjuis Inggris segera setelah kekeramatan hubungan feodal dan mahkota Charles I diremukkan: mengembangkan perkakas, teknik, sains dan filsafat, yang pada gilirannya membuka jalan bagi Revolusi Industri, juga Revolusi Prancis. Di bawah kapitalisme, mesin dihadirkan bukan untuk memperpendek hari kerja atau meringankan beban pekerja melainkan meningkatkan produktivitas dengan menyederhanakan keterampilan, mempersengit perlombaan pekerja-dengan-pekerja dan pekerja-dengan-mesin, hingga akhirnya perkerjalah yang akan dirongrong, dilemahkan dan dihancurkan menggunakan mesin. Bagi kapitalis secara individu, peningkatan pemakaian mesin bukan saja dapat mengurangi ongkos produksi tapi juga menurunkan harga komoditas di pasar. Singkatnya, kapitalis individual meningkatkan kehadiran mesin demi merebut pangsa pasar dan merealisasikan sebanyak mungkin nilai-lebih sehingga keuntungannya beronggok. Namun berlakunya hukum persaingan mengharuskan setiap kapitalis untuk ikut mengintensifkan penggunaan-penggunaan mesin supaya dapat menjaga tingkat laba, tidak tertinggal dan terus eksis. Maka perintisan suatu mesin di satu perusahaan tertentu berkecenderungan digeneralisasikan di seluruh industri sebagai syarat eksistensi kapitalis sebagai sebuah kelas. Akhirnya produktivitas meningkat secara umum di semua pabrik dan harga-harga komoditas merosot. Kemerosotan nilai komoditas merupakan dampak dari intensifikasi penggunaan mesin yang mengurangi waktu kerja yang diperlukan secara sosial untuk memproduksi komoditas. Saat harga barang-dagangan menurun maka nilai tenaga-kerja ikut berkurang. Jelaslah bukan permintaan dan penawaran yang menentukan upah, melainkan pelaksanaan kerja-perlu yang menentukan naik-turunnya harga komoditas sampai tinggi-rendahnya gaji pekerja yang dibutuhkan untuk mengonsumsi komoditas—mempertahankan hidup proletariat dan keluarganya: membeli makanan dan minuman, pakaian dan perumahan, perawatan kesehatan dan pendidikan, dan sebagainya.

Di sisi lain, intesifikasi penggunaan mesin memperdalam eksploitasi bukan dengan meningkatkan nilai-lebih absolut (perpanjangan keseluruhan hari kerja) tapi peningkatan nilai-lebih relatif: mengurangi bagian hari kerja dimana pekerja melaksanakan kerja-perlu (kerja yang dibayar—kerja-konkrit, nilai-guna dari tenaga-kerja—yang berbentuk fungsi kerja dalam mengerjakan sesuatu saat memproduksi barang dan jasa) dan meningkatkan bagian hari kerja dimana pekerja melaksanakan kerja-lebih (kerja yang tidak dibayar—kerja-abstrak, nilai-tukar dari tenaga-kerja—yang menyangkut perpaduan dari seluruh kemampuan mental dan fisik; kerja yang hidup dan bergerak sebagai energi yang membutuhkan pemulihan dengan mengonsumsi komoditas). Kapitalisme menggunakan mesin-mesin mutakhir untuk menambah kadar penghisapannya—untuk menghancurkan tulang, daging, dan seluruh kemanusiaan pekerja. Di bawah kapitalisme, mesin-mesin digunakan unruk mendulang laba dan sama sekali  Pada 1830, Cyfarthfa telah tumbuh menjadi pabrik besi-baja terbesar di dunia. Perusahaan ini memiliki aset sebesar 2 juta dolar AS dengan mempekerjakan 5.000 buruh yang mayoritasnya adalah perempuan-perempuan muda dengan waktu kerja mencapai 12-13 jam dan gaji 150 pound sterling (sekitar 2,7 juta rupiah). Di 1840-an, Engels bahkan memberitahukan kalau dari 419.560 buruh di Inggris terdapat 242.296 perempuan yang rata-rata berusia 18 tahun. Memasuki abad ke-19, kapitalisme menunjukkan dirinya semakin bergantung kepada pekerja-pekerja non-terampil karena kemajuan teknologi telah menempatkan kekuatan fisik belaka menjadi tidak penting dibanding pikiran dan tangan yang cekatan. Di tengah kepentingan cabul inilah buruh-buruh tidak-terampil—yang didominasi oleh perempuan dan muda—diseret menjadi budak-upahan bukan saja dengan bayaran rendah, tapi juga meningkatkan persaingan di antar-kelas pekerja. Melalui Kapital I, Marx menjelaskan kalau ‘tenaga-kerja perempuan dan anak-anak adalah hal pertama yang dicari oleh para kapitalis yang memperkenalkan mesin. Pengganti kemampuan-kerja dan buruh yang perkasa itu segera diubah menjadi sarana untuk meningkatkan jumlah buruh-upahan dengan menundukkan, di bawah pengaruh langsung modal, setiap anggota keluarga pekerja, tanpa membedakan usia atau jenis kelamin. Kerja wajib bagi kapitalis merampas waktu, tidak saja dalam permainan anak-anak, tetapi juga kerja domestik di rumah dalam batas-batas yang wajar untuk menghidupi keluarga’. Dalam “Manifesto Komunis”, Marx dan Engels menegaskan: ‘kaum borjuis telah mengubah nilai pribadi manusia menjadi nilai-tukar, dan menggantikan piagam-piagam kebebasan dengan satu kebebasan tunggal yang tidak disadari, yakni kebebasan berdagang, dan kebebasan mengumpulkan dan menumpuk keuntungan. Kondisi seperti itu telah merobek selubung sentimental keluarga, dan mengerdilkan hubungan keluarga menjadi hubungan uang’. Semua ini didorong dengan terus merevolusionerkan perkakas produksi untuk memupuk laba dan mempertahankan kepemilikan perorangan. Dalam “Manifesto” diterangkan:

“Borjuasi tidak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksi dan karenanya merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi, dan dengan itu semuanya merevolusionerkan segenap hubungan dalam masyarakat. Sebaliknya, dipertahankannya cara-cara produksi lama dalam bentuknya yang tidak berubah adalah syarat pertama untuk hidup bagi semua kelas industri yang terdahulu. Tetapi revolusi produksi yang terus-menerus, kekacauan tanpa henti dari semua kondisi sosial, ketiadaan kepastian serta kegelisahan yang abadi itu membedakan zaman borjuasi dengan semua zaman yang sebelumnya. Segala hubungan yang telah ditetapkan dan beku serta berkarat, dengan rentetannya berupa prasangka-prasangka serta pendapat-pendapat kuno yang disegani, disapu bersih, segala yang baru terbentuk menjadi usang sebelum membatu. Segala yang padat meleleh menjadi udara, segala yang suci dinodai, dan pada akhirnya manusia terpaksa menghadapi dengan pikiran yang terbuka syarat-syarat hidupnya yang sebenarnya, dan hubungan-hubungannya dengan sesamanya.”

Intensitas penggunaan mesin yang tinggi telah mensosialisasikan sistem produksi kapitalisme, tapi dengan jam kerja yang terus memanjang, upah murah serta serangan-serangan terhadap standar hidup keluarga-keluarga kelas pekerja yang mengerikan. Mengarungi kondisi inilah kaum buruh terdorong membentuk organisasi untuk memperjuangkan hak-haknya. Dari gelombang revolusioner yang meledak di Prancis, proletariat Inggris belajar dan berhasil menyimpulkan kalau perlawanan-perlawanan secara individu saja tidak dapat memberikan pukulan berarti terhadap kelas penguasa. Di tengah penerapan Undang-Undang Gabungan 1799 dan 1800—yang secara brutal membatasi berserikat—proletariat Inggris secara berani membentuk organisasi buruh bawah tanah. Akhir abad ke-18, organisasi-organisasi buruh rahasia berdiri di Britania Raya. Gagasan, cita-cita dan semangat populisme Jacobin—dalam Revolusi Prancis 1979—menjadi suluh yang meginspirasi dan memandu gerakan buruh Inggris. Pada 1790-an, Society of Corresponding telah mengumpulkan 30.000 anggota di Yorkshire. Tetapi di bawah kecenderungan borjuis-kecil radikal—sepanjang 1811-12—kelaparan, upah murah, dan kondisi kerja yang mengerikan dihadapi dengan melancarkan Pemberontakan Luddite: penghancuran mesin-mesin yang dianggap sebagai sumber kesengsaraan pekerja. Gerakan ini direaksi oleh borjuasi dengan menyewa polisi dan agen-agen rahasia untuk memburu bukan saja kaum Luddite, tapi seluruh anggota serikat buruh yang ada. Setelah pemberontakan dipadamkan maka penangkapan, penahanan, penyiksaan, dan hukum mati mengepung hari-hari kelas pekerja Inggris. Sementara situasi Eropa menampilkan kekuatan reaksi yang semakin ganas. Tanggal 18 Juni 1815, Pertempuran Waterloo meletus. Tsar Rusia, Raja Prusia dan Kaisar Austro-Hongaria—yang didukung cadangan keuangan dan kekuatan angkatan laut Britania Raya—berhasil mengalahkan Bonaparte secara telak. Kekalahan ini memberi peluang bagi Inggris dan sekutunya untuk mendukung semua rezim reaksioner di Eropa, termasuk dengan memulihkan Monarki Bourbon yang sebelumnya telah digulingkan dalam Revolusi Prancis 1789.

Pada 26 September 1815, monarki-monarki Eropa melaksanakan pertemuan kilat dan mendirikan Aliansi Suci untuk merestorasi kekuasaannya. Selama pertengahan 1810-an, Inggris dengan kekuatan modalnya tampil mempromosikan kontra-revolusi di Eropa. Meski dikejar-kejar, disiksa, dan dipenjara, tapi proletariat Inggris tidak pernah menyerah. Pada 1818, serikat-serikat buruh lokal mulai menyatukan gerakan mereka secara nasional. Di tengah kemiskinan, pengangguran, pembatasan-pembatasan berserikat, dan kelaparan yang dilanggengkan melalui Hukum Jagung yang mempertinggi harga roti—perjuangan kelas semakin menajam. Kaum buruh menempuh perjuangan militan. Agustus 1819, meledaklah Pemberontakan Paterloo—di antara 60.000-80.000 massa yang berkumpul menuntut reformasi parlemen dan dipimpin oleh reformis borjuis-kecil radikal; serikat-serikat buruh berusaha mengintervensi bukan saja dengan mendukung hak pilih universal yang dipandang menjadi bagian dari kepentingan pekerja secara keseluruhan, tetapi juga dengan membawa tuntutan dan slogan-slogan tersendiri mengenai upah dan kondisi-kondisi kelas proletar. Saat kelas penguasa beraksi secara brutal, barisan proletariat segera membentuk Komite Bantuan Manchaster. Perempuan-perempuan pekerja mengambil peran penting dalam memberikan bantuan terhadap korban luka-luka. Di saat perempuan-perempuan liberal—yang tergabung dalam Masyarakat Reformasi Perempuan—menyelematkan dirinya sendiri; perempuan proletar justru maju bersama laki-laki kelasnya dan membantu Yeomanry (pasukan sukarelawan borjuis-kecil radikal) dalam melawan pasukan-pasukan pemerintah. Meskipun pemberontakan itu dapat dipadamkan tetapi menandai kebangkitan gerakan perempuan pekerja Inggris. Memasuki 1820-an, perjuangan kelas pekerja bukan saja mulai melancarkan pemogokan yang meraksasa tapi juga berusaha memobilisasi buruh-buruh tekstil yang bermayoritaskan perempuan proletar.

Tahun 1824, pemogokan umum dipancang dan proletariat berhasil memenangkan kenaikan upah dan kebebasan berserikat di Inggris. Kaum buruh tidak menyianyiakan kesempatan ini—mereka mendirikan banyak serikat. Mulai dari pertengahan hingga akhir 1820-an, gelombang pemogokan umum yang menyapu Inggris berkembang menjadi serangkaian pertempuran sengit melawan pemotongan upah. Selama 1829, aksi-aksi buruh telah meluas: mulai dari Midlands, Lancashire, Yorkshire, Bradford Woolcombers, Weavers, Stockport, hingga Manchaster. Di Manchaster, kaum buruh mendirikan organisasi Persatuan Umum Pemintal Operatif Britania Raya dan Irlandia. Pada 1830, Asosiasi Nasional untuk Perlindungan Tenaga Kerja juga terbangun dengan melibatkan 150 serikat buruh lokal di Leicester, Nottingham, dan Derbyshire. Pengorganisasian mereka menggunakan jurnal mingguan, anggotanya mencapai 100.000, dan menyebarkan pengaruhnya sampai ke West Midlands dan Wales. Dalam perjuangan inilah perempuan-perempuan pekerja mengambil peran yang sama aktifnya dengan buruh laki-laki. Adalah Mary Burns, misalnya, tampil sebagai perempuan revolusioner yang menjadi organisator serikat buruh. Dirinya tak sekadar mengikuti pertemuan-pertemuan tersembunyi yang dipantau polisi dan agen-agen rahasia pemerintah, tapi juga berusaha membangun kontak dengan lapisan terluas proletariat di pabrik-pabrik dan pemukiman-pemukiman kumuh kelas pekerja. Demikianlah Mary bekerja di pabrik Ermen and Engels dan melancarkan perlawanan tanpa kikuk di hadapan bosnya. Lewat “Cinta, Persahabatan, dan Perjuangan Kelas”, Raoul Peck mengisahkan bagaimana keberanian Mary dalam menentang Piere d’Engels—yang merupakan pemilik perusahaan sekaligus ayah dari Friedrich Engels—untuk membela saudara-saudari kelasnya. Penampilan Mary tidak saja memecahkan kebisuan buruh-buruh lainnya, melainkan pula membuat takjub dan memekarkan cinta Engels kepada seluruh kemanusiaan yang ada pada dirinya:

“Pada suatu hari, Piere d’Engels mendapatkan laporan dari manajer perusahaan Ermen and Engels, Huissier. ‘Bos, pabrik telah disabotase oleh seseorang. Seseorang telah memotong sabuk dan mengambil tutup pengaman mesin tenun, dan tindakan itu mengakibatkan tidak hanya mesin berhenti beroperasi karena rusak, tetapi juga mengakibatkan, nyaris, mandor dan diriku mengalami kecelakaan.’ … ‘Kalau begitu, kamu cari tahu pelakunya. Kamu kumpulkan para mandor. Kita akan mendatangi pabrik untuk mencari pelakunya. Jangan lupa, kamu temui anakku, Friedrich Engels, dan suruh dia ikut bersama kita mendatangi pabrik.’ … Ketika d’Engels dan rombongannya tiba di pabrik, para buruh sudah berkumpul. Mereka, buruh anak-anak, buruh perempuan, dan buruh laki-laki, berkumpul dan berdiri di antara mesin-mesin pemintal benang menunggu kedatangan bos mereka bersama rombongannya…. ‘Siapa yang telah memotong sabuknya?’ tanya d’Engels…. ‘Sepuluh banding satu pasti ada salah satu dari anjing-anjing Irlandia ini yang memotong sabuk,’ sambung Huissier sambil berkacak pinggang dan memandangi buruh-buruh pabrik.”

‘Guk.. guk.. guk.. aauuu..’ buruh-buruh pabrik serentak menirukan suara anjing, menyalak, melolong, dan, di antara mereka ada yang berbicara antara satu sama lain dengan riuh, dan ada pula yang mengendus-endus menirukan perilaku anjing. Di sela-sela keriuhan itu, seorang perempuan muda angkat bicara dan mengajukan pertanyaan kepada d’Engels dan Huissier, ‘Bagaimana dengan Roisin?…. Roisin, gadis yang tertidur di mesin tenun, dan jari-jari tangannya terpotong oleh mesin tidak kalian pedulikan. Kalian tidak bertanggung jawab terhadap kecelakaan kerja yang menimpa Roisin. Siapa yang akan mengembalikan jari-jemarinya yang telah terpotong itu?’

‘Kecelakaan seperti itu akan mengajari Roisin untuk lebih berdisiplin dalam bekerja. Kalian bekerja di sini dibayar, kalian ada di sini untuk bekerja bukan untuk tidur!’ seru Huissier dengan lantang.

‘Kami berada di sini sudah bekerja sangat keras,’ seru hampir seluruh buruh. ‘Bahkan lebih keras dari yang kamu bayangkan,’ sambung salah seorang buruh laki-laki…. Perkataan Huissier itu memicu buruh perempuan tersebut kembali angkat bicara, ‘Roisin tidak tidur selama tiga hari berturut-turut, dan sekarang dia akan kalian pecat dari pabrik ini, dan akan kalian biarkan Roisin mampus?! Kalian bilang itu pekerjaan?!’ … Friedrich Engels diam-diam memperhatikan perempuan itu. Dia kagum terhadap keberanian, kelantangan, dan ketegasan perempuan itu, dan diam-diam pula Engels jatuh hati padanya.

‘Diam..!!’ d’Engels berteriak. ‘Upah kalian akan dipotong untuk biaya perbaikan mesin-mesin pabrik yang telah kalian rusak. Itu, hukuman yang kalian dapatkan! … Mesin reparasi mahal tidak seperti upah buruh di Manchaster yang murah.’

‘Kami hanya memiliki sepuluh jari tangan,’ buruh perempuan muda itu kembali lagi berbicara, ‘… dan jika jari kami rusak, atau putus, kami hanya akan menjadi tumpukan sampah. Apakah seperti itu maksudmu, bos?…. Namaku Mary Burns!’ seru perempuan muda itu yang diikuti sorak-sorai buruh-buruh lainnya. ‘Aku lahir di Tipperary, dan sekarang, aku sedang menjadi budak di Pabrik Tekstil Ermen and Engels.’… ‘Siapakah sosok Mary Burns ini sebenarnya?’ bisik Engels pada dirinya sendiri. ‘Aku harus dapat menemuinya, aku sangat ingin berjumpa dengannya, dan aku sangat ingin menggenggam jari-jemarinya dan mengatakan: kausangat luar biasa. Aku.. Ya! Aku jatuh cinta padanya.’

…Cinta bukan hanya hasrat yang terkurung di dalam otak, melainkan juga hasrat yang mewujudkan dirinya dalam bentuk tindakan nyata (konkret), sedangkan tindakan nyata merupakan media bagi manusia memproyeksikan cinta sebagai objek indrawi…. Bagi Engels, cinta sejati bukanlah media bagi manusia mengumbar nafsu birahi, melainkan wujud nyata kepedulian manusia terhadap sesama. Aku mencintai kamu, artinya aku peduli padamu, aku peduli pada kehidupanmu. Aku mencintaimu, artinya aku mencintai kemanusiaan yang ada padamu—kamu sebagai manusia bukan kamu sebagai individu. Aku mencintaimu, artinya aku mencintai semua yang hidup pada kemanusiaanmu. Aku mencintaimu, artinya aku mencintai diriku sebagai manusia yang berperasaan dan berdaging yang ada pada dirimu…. Cinta dan tanggung jawab kemanusiaan bukanlah dua komponen yang saling terpisah, melainkan dua komponen yang saling berkombinasi, dan dua komponen yang mendorong perjuangan untuk mewujudkan kebersamaan yang bebas dari penindasan antarmanusia. Aku mencintaimu, artinya aku berjuang untuk menciptakan kebersamaan antara kamu dan aku, antarmanusia. Aku mencintaimu, artinya aku mencintai kemanusiaan yang ada dan tercermin pada dirimu, dan jika kemanusiaan itu tertindas, aku akan berjuang bersamamu membebaskannya. Jadi, cinta romantis Engels kepada Mary Burns berbaur menjadi satu dengan usaha Engels memahami Mary Burns sebagai buruh yang tertindas, dan berjuang bersama Mary membebaskan buruh dari penindasan. Perjuangan membebaskan buruh dari penindasan, artinya perjuangan membebaskan semua manusia dari nirkemanusiaan. Ya! Perjuangan pembebasan semua manusia bukan hanya pembebasan kaum buruh karena jantung yang berdetak dan darah yang mengalir dalam kehidupan manusia hanya dapat terus berdetak dan mengalir dengan ‘bebas’ apabila kaum buruh terbebas dari penindasan.”

Tahun 1830-an dan 1840-an, ketidakstabilan menjalar di seluruh Eropa dan menyebar ke Amerika sampai perbatasan Rusia secara liar: perdagangan dunia melambat, pengangguran menjalar, kemiskinan meroket, kelaparan merebak, pelacuran beronggok, penderitaan memadat, serikat-serikat buruh diberangus dan kepercayaan terhadap pemerintah mencair. Krisis yang menajam segera membangkitkan perjuangan kelas proletar dan menebarkan ketakutan di mata monarki-monarki Eropa yang telah lama kehilangan basis sosialnya. Di tengah situasi inilah revolusi meledak di Prancis dan segera mengancam seluruh kelas penguasa di Eropa. Tanggal 27 Juli 1830, perempuan dan laki-laki pekerja turun ke jalan, membentuk komite-komite aksi, melumpuhkan tempat-tempat strategis, dan menjarah gudang-gudang senjata dan pabrik-pabrik mesiu. Mereka bergerak bersama secara radikal dan militan saat menghadapi pasukan-pasukan kavaleri. Pertempuran berlangsung di malam-malam hari. Selama sehari-semalam lebih dari 4.000 barikade proletariat telah berdiri di seluruh kota. Adalah Marie Deschamps—yang menjadi salah satu peremupan pekerja—yang tampil heroik dalam barikade. Saat bertempur di Rue de Saint-Martin, dirinya berjalan melintasi kerumunan mayat para martir dengan menenteng senapan di tangan kiri dan bendera republik di lengan kanannya. Di hadapan Garda Nasional dirinya tiada sedikitpun menunjukkan ketakutan. Di garis depan pertempuran, ketika kartridnya habis maka ia menghadapi tentara dengan telanjang dada sebagai ekspresi keberanian dan kesiapannya untuk mati. Kepada prajurit dia berkata, “Aku tidak takut pada kematian. Kemarilah, tembak dan tebaslah aku. Atas nama kebebasan; aku tak menyerah meski nyawaku adalah taruhannya. Walaupun aku terbunuh, tapi setidaknya aku telah berjuang untuk semua orang yang tertindas sepertiku.”

Demikianlah perempuan bertempur sekaligus berpolitik di medan perang. Kehadirannya tak sebatas mengangkat senjata, melainkan pula bertindak sebagai agitator. Keberaniannya melancarkan agitasi meluncurkan moral prajurit hingga berpihak kepada garnisun-garnisun proletar. Akhirnya kelas penguasa begitu panik: massa mengamuk bukan saja untuk menuntut roti, tapi juga berjuang menggulingkan kekuasaannya dengan senjata dan kekuatan yang tiada terkira. Bendera-bendera merah dikibarkan dari jalanan sampai rumah-rumah kelas pekerja. Pemberontakan bersenjata mengguncang kekuasaan Bourbon hingga tersungkur-jatuh. Tepat 2 Agustus, Charles X meninggalkan takhtanya dan bersama putranya Douphin mencari perlindungan di Inggris. Di Paris, Revolusi 1830 mengakibatkan Dinasti Bourbon terbakar. Di Eropa, segenap Aliansi Suci gemetar dan takut. Tetapi di tengah ketidakstabilan ini para politisi borjuis justru bersekutu dengan sisa-sisa monarkis: menyusun Pemerintahan Sementara dan menyerahkan kekuasaan kepada Louis Philippe dari Dinasti Orleans—dengan kesepakatan menerapkan monarki konstitusional—yang di belakangnya dikendalikan oleh aristokrasi keuangan: para bankir, raja bursa saham, dan pemilik-pemilik kereta api, tambang batu-bara, besi-baja, hutan, serta tuan tanah yang bersekutu dengan mereka. Belum matangnya antagonisme kelas dan tanpa kepemimpinan yang sanggup membawa perjuangan sampai ke garis akhir, maka kekuasaan yang telah digulingkan melalui pertempuran bersenjata tak berhasil dipindahkan ke komite-komite pekerja. Walau buruh laki-laki dan perempuan Paris gagal merebut kekuasaan tapi Revolusi Juli mampu mengilhami kebangkitan proletariat dunia dengan segudang pelajaran berharga.

Selama menghadapi Pertempuran Napoleon, South Wales—sebagai daerah yang kaya batu bara dan endapan logam—mengalami percepatan industrialisasi dalam memproduksi mesin, infrastruktur, dan persenjataan untuk perang. Wilayah ini berkembang menjadi salah satu pusat industri di Inggris dengan hari-hari kerja yang panjang, kepungan limbah beracun, dan tingkat kecelakaan dan kematian yang menjulang. Di tengah buruknya kondisi kerja, perempuan merupakan yang paling terbebani dan berkalang penderitaan. Antara 1813 dan 1830, 46 persen balita mengalami kematian menegerikan. Mengarungi tingginya tingkat eksploitasi maka ibu-ibu dan gadis-gadis pekerja kesulitan merawat dan membesarkan anak-anaknya yang baru dilahirkan. Bulan Juni 1831, gelombang Revolusi Juli membangkitkan kepercayaan diri gerakan buruh Inggris untuk melancarkan perlawanan. Bersama laki-laki pekerja, perempuan-perempuan pekerja dimobilisasi memasuki medan pertempuran terbuka. Di bawah pimpinan Dick Panderin, para penambang Merthyr melancarkan pemberontakan bersenjata dan segera menarik buruh-buruh di Dowlais, Cyfarthfa, Penydarren, dan Plymouth dalam perjuangan politik. Serikat-serikat buruh pertambangan dan perkebunan di Wales Selatan ini memulai aksinya dengan pemogokan umum, berkembang menjadi pendudukan seluruh kota, hingga tampil sebagai front utama dalam gerakan buruh Inggris: Klub Persatuan. Selama seminggu perempuan dan laki-laki pekerja membentuk pondok-pondok perjuangan buruh, mengibarkan bendera-bendera merah, dan melancarkan redistribusi properti. Merasakan serangan terhadap kepemilikan pribadi, maka sepanjang 1831-1832 kelas penguasa tidak tanggung-tanggung dalam bereaksi. Borjuasi bahkan mengerahkan ironmaster: gerombolan ahli-besi yang dipersenjatai dan membantu militer dalam memberangus gerakan buruh secara keji: 1.900 massa disidang dengan stigma perusuh, 644 buruh dipenjara, 481 perempuan dan laki-laki dibuang sejauh 12.000 mil ke Australia, 19 orang digantung dan 1 lainnya dicambuk di hadapan umum. Panderyn juga berhasil ditangkap dan dieksekusi-mati. Sementara Klub Persatuan akhirnya bersembunyi dan bergerak secara klandestin untuk mengorganisir pemogokan-pemogokan di tengah derasnya gelombang reaksi. Tetapi lewat pemogokan itulah kelas proletar belajar dan menarik kesimpulan-kesimpulan berarti. Engels menjelaskan kalau pemogokan itu merupakan ‘sekolah perang dimana mereka mempersiapkan diri untuk perjuangan besar yang tidak bisa dihindari’. Demikianlah proletar Inggris memberikan pelajaran bagaimana cara meningkatkan level gerakan pekerja; dari ‘kelas dalam dirinya sendiri’ menjadi ‘kelas untuk dirinya sendiri’. Dengan berorganisasi dan bertempur, gerakan-gerakan mereka ditulis Engels menjadi ‘usaha pertama kaum buruh untuk menghapus persaingan’ dan menunjukkan kemampuan ‘kaum buruh untuk menentukan nasib dan mengontrol hidupnya sendiri’.

Mengingat Revolusi 1830 telah mengudara dan masih segar; pada 1831 dan 1834 proletariat Lyon—yang bekerja antara 14-20 jam dengan kondisi kerja yang buruk—bangkit kembali dalam melawan monarki konstitusional dan borjuasi. Sepanjang 1828-1830, komoditas sutra Inggris yang murah terus-menerus mengempung Prancis, terutama menajamkan ketidakstabilan industri sutra di Lyon. Industri ini dikuasi oleh 1.400 bankir dan pedagang yang membawahi 8.000 dan mempekerjakan 30.000 buruh harian. Sementara sejak 1824, jumlah sutra yang terdaftar mengalami penurunan 25 persen dan segera menyeret para pedagang dan kapitalis dalam kebangkrutan dan pemecatan-pemecatan sepihak terhadap para pekerja tenun. Penurunan perdagangan bukan saja mengganggu ekspor barang jadi dari Prancis ke Inggris, Amerika, dan Jerman, tetapi juga menjulurkan pengangguran, kemiskinan, kelaparan, pelacuran, dan  penderitaan umum bagi kelas pekerja Lyon. Di tengah kondisi inilah Pemberontakan Canut meledak. Tanggal 21 November 1831, mesin-mesin pabrik berhenti beroperasi. Perempuan-perempuan dan laki-laki perkeja membentuk barikade dalam menghadapi Garda Nasional. Pemberontakan bersenjata menyebar secepat kilat dengan unit-unit garnisun proletar yang terbentuk di sepanjang Lyon dan mendapatkan dukungan gerakan-gerakan buruh di Paris. Bendera-bendera merah dikibarkan sepanjang jalan menuju alun-alun Hotel de Ville. Spanduk bertuliskan “Hidup Bekerja atau Mati Berjuang!” dipancang begitu rupa. Garda Nasional mundur dan proletariat merebut seluruh kota. Guilbert, seorang buruh, beringsut menerobos gedung parlemen dengan menodongkan pistol dan berkata: ‘tidak perlu lagi wakil-wakilan, kamilah yang berkuasa’. Di bawah kekuasan buruh patroli ditegakkan, pabrik-pabrik ditundukan, pembagian makanan dilakukan, hakim-hakim borjuis diturunkan dan dipilih-ulang dari kalangan rakyat pekerja. Menyaksikan bahaya di pelupuk matanya maka kelas penguasa segera memperkuat pasukannya. Veteran-veteran Napoleon dipanggil dari Paris untuk melancarkan serangan brutal. Akhirnya proletariat dilucuti, pemberontak Canut dipaksa bergabung dalam Garda Nasional, dan garnisun proletar dilemahkan. Tepat 29 November, Marsekal Soulth (Menteri Perang) dan Adipati Orleans (Putra Mahkota) yang ditemani 10.000 Divisi Angkatan Darat Pertama berhasil merebut kembali Lyon.

Meski dilucuti dan dilemahkan tapi Revolusi Canut telah berhasil membangkitkan kepercayaan diri kelas pekerja dalam berorganisasi, mendirikan serikat-serikat buruh dan menentang majikan-majikannya. Juli 1833, Society of Ferrandiniers dan Society of Mutual Duty memobilisasi pemogokan selektif untuk menuntut kenaikan upah. Proletariat Lyon bangkit kembali. Komite-komite aksi dibentuk untuk mengoordinasikan mogok. Ferrandiniers (reformis-kiri) dan mutualis (reformis-kanan) memimpin Dewan Eksekutif. Sejak awal Januari seluruh perempuan dan laki-laki pekerja dimobilisir dalam pemogokan umum. Sekitar 3.000-6.000 massa Canut mengikuti pemogokan. Jumlah massa kali ini tidak sebesar Pemberontakan 1831, karena kepemimpinan reformis membatasi radikalisasi massa. Mereka mengurung perjuangan pada metode-metode damai: bernegosiasi, sopan, siap menempuh jalur hukum, dan mencari solusi-solusi yang saling menguntungkan kedua belah pihak yang berseteru. Tetapi dorongan massa akar rumput memaksa pemimpin-pemimpin reformis secara terpaksa membawa gerakan lebih jauh. Tanggal 14 Februari 1834, pabrik dan toko-toko tutup, jalanan dan teater sepi, dan karnaval-karnaval tahunan dibatalkan begitu saja. Seluruh kota dilumpuhkan namun tidak ada program dan slogan-slogan tegas dari kepemimpinan reformis untuk mendorong gerakan menuju perebutan kekuasaan. Massa yang kebacut dimobilisasi dalam pemogokan bukan saja dibiarkan terkatung-katung melainkan pula kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Di tengah krisis yang semakin menajam rumah tangga-rumah tangga kelas pekerja mengalami serangan luar biasa. Dalam kondisi inilah kepemimpinan reformis tidak dapat lagi mengontrol massa. Perempuan-perempuan pekerja adalah yang pertama kali memecahkan belenggu reformisme. Pada 19 Februari, barisan ibu-ibu dan gadis-gadis muda menangis menuntut makanan dan memercikkan pemberontakan. Saat Garda Nasional datang membubarkan, mereka berusaha bertahan dengan melangsungkan bentrokan dan menebarkan ancaman akan membawa anak-anak dan laki-laki di rumah mereka dalam melancarkan pembangkangan. Bangkitnya gerakan perempuan Canut bukan saja memicu para pedagang membuka kembali tokonya, tetapi juga menekan Dewan Eksekutif untuk mengumpulkan uang dan makanan untuk rakyat pekerja yang semakin miskin dan lapar.

Pada 21 Februari, perempuan Canut kembali berbaris melaksanakan pawai yang mengakhiri pemogokan dan meretakkan otoritas kepemimpinan reformis hingga gerakan buruh mengalami perpecahan antara kelompok radikal dan kelompok moderat. Di sisi lain, kelas penguasa telah belajar bagaimana cara membungkam gerakan massa dari Pemberontakan 1831. Gerakan massa dilemahkan bukan hanya dengan konsesi, tapi juga represi: Undang-Undang Pelarangan Organisasi Rahasia, peluncuran propaganda-propaganda keji di surat-surat kabar borjuasi dan pemberedelan surat-surat kabar radikal, dan terutama pelatihan militer untuk menggencarkan tindakan defensif dalam mengamankan seluruh bangunan dan institusi publik, jembatan dan arteri utama kota supaya membatasi pergerakan antara distrik. Di tengah krisis yang semakin menajam, gelombang revolusioner menyapu permukaan sosial. Maret 1834, krisis keuangan di Amerika Serikat segera membatalkan perjanjian dengan semua industri sutra di Lyon. Dalam kondisi inilah over-produksi melenggang dan serangan-serangan terhadap standar hidup mengalami peningkatan. Memasuki 1 April, pawai-pawai perempuan Canut meningkat dan mampu menarik sebanyak mungkin perempuan dan laki-laki pekerja untuk berkumpul di alun-alun Lyon—termasuk kaum reformis yang menolak aksi radikal dan militan mampu diseret oleh gerakan perempuan. Menghadapi masifnya mobilisasi massa maka kelas penguasa mengerahkan Garda Nasional untuk membungkam dan menghancurkan gerakan. Lima orang pemimpin buruh ditangkap dan diancam hukuman mengerikan. Tanggal 5 April, gerakan solidaritas menyesaki proses persidangan untuk memberikan dukungan kepada para terdakwa. Hakim, jaksa, polisi, bahkan pengacara-pengacara pemerintah segera memanggil bantuan. Tentara datang mengepung pengadilan. Rakyat pekerja yang berkerumun—menuntut pembebasan kelima pimpinannya—diancam dengan moncong senjata dan bayonet.

Hanya gerakan buruh menolak mundur, terus bergerak dan melangsungkan pertempuran berkeras kepala sampai prajurit-prajurit bawahan berpihak kepada kaum buruh. Saat prajurit hendak menembak, adalah barisan perempuan Canut yang maju ke barisan terdepan; ibu-ibu dan gadis-gadis muda bukan saja memasang badan untuk melindungi massa, tetapi juga mengagitasi prajurit begitu rupa—dengan marah, menangis, merayu dan meluluhkan prajurit untuk meletakan senjatanya. Di tengah tumbuhnya sentimen republik, para prajurit akhirnya mendukung dibebaskannya pimpinan-pimpinan buruh, dan bersama gerakan buruh memekikkan: ‘hidup saudara-saudara kita!’ Menghadapi kemerosotan loyalitas militer maka kelas penguasa kontan membersihkan jajaran militernya dari semua elemen prajurit rendahan. Keretakan dalam jajaran militer menandai semakin menajamnya kontradiksi dan berkobarnya situasi revolusioner. Garnisun-garnisun kelas pekerja terbentuk. Tanggal 9 April, Pemberontakan 1834 meledak. Perempuan dan laki-laki Canut bertempur melawan infanteri yang berpatroli di distrik-distrik. Untuk kali keduanya Canut memberontak di Lyon. Bendera merah sekali lagi berkibar di setiap sudut dan rumah-rumah kelas pekerja. Buruh-buruh bersenjata menduduki dan mengontrol pabrik-pabriknya. Mereka terus bergerak merebut pusat-pusat kota serta menyebarkan seruan solidaritas ke kota-kota lainnya. Tetapi kelas penguasa telah belajar bagaimana melumpuhkan barikade-barikade dari pengalaman Pemberontakan 1831. Mereka sekarang jauh lebih siap membungkam massa. Selama 6 hari Divisi Angkatan Darat Pertama melaksanakan tindakan defensif untuk mengisolasi gerakan di daerah-daerah kantong, memutus kontak dengan lapisan terluas dan distrik-distrik, hingga menyumbat proses radikalisasi dan membuat Canut berputus asa. Pada 14 April, militer berhasil memadamkan insureksi, mengamankan kota, mengendalikan massa, dan meletakkan semua kesalahan kepada pemberontak-pemberontak yang kalah. Namun demi membela para pejuang kelas itu, Steve Brown menuliskan pembelaannya dalam “Pemberontakan Pekerja Sutra Lyon Tahun 1831 dan 1834”:

“…Kekalahan pemberontakan tahun 1834 tentu saja bukan kesalahan para pekerja yang gugur, bukan kesalahan para pemuda yang berjuang dengan gagah berani dan menderita di tangan pemenang, tetapi kesalahan atas padamnya api pemberontakan yang membara diletakkan tepat di kaki para pemimpin reformis. Kegagalan mereka untuk bertindak di hadapan strategi militer borjuis merupakan bukti kurangnya pandangan ke depan dan perspektif kelas mereka. Mereka berusaha untuk mempercayai tuan-tuan mereka, untuk mencoba menunjukkan diri mereka sebagai negarawan yang masuk akal dengan hidup dalam aturan dan hukum masyarakat borjuis dan gagal mempersiapkan diri, seperti musuh mereka, untuk pertempuran yang akan datang dan bentrokan yang tak terhindarkan…. Sifat dari gerakan pemberontakan ini sangat berbeda dari tahun 1831 sebelumnya dalam dua hal. Pertama, strategi militer borjuasi, yang sebelumnya telah membakar jari-jarinya, jauh lebih terorganisir dan jauh lebih siap. Kaum borjuasi pada kenyataannya telah merencanakan dan menyediakan sumber daya untuk kejadian semacam itu selama satu periode penuh, untuk memotong dan dengan cepat menghancurkan apa yang mereka lihat sebagai konsekuensi yang tak terelakkan dari krisis di dalam sistem mereka sendiri. Kedua, meskipun demonstrasi awal dihadiri banyak orang dan mencerminkan suasana hati yang sangat militant di pihak massa, tingkat kesiapsiagaan Canut dapat dikatakan sama sekali tidak memadai. Society of Ferrandiniers dan Society of Mutual Duty, asosiasi-asosiasi pekerja yang menunjukkan harapan besar dalam pembangunan menjelang dan selama pemogokan umum di bulan Februari, memainkan sedikit atau tidak ada peran resmi dalam mencoba mengorganisir pemberontak setelah pemberontakan dimulai, dan banyak pemimpinnya tidak menunjukkan tingkat partisipasi terorganisir dalam pertempuran apapun. Pemberontakan yang tidak terorganisir dan spontan ini (yang dapat diantisipasi dan dipersiapkan sebelum persidangan) menunjukkan kurangnya perspektif dan pemahaman atas lemahnya kepemimpinan Canut.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

(Berlanjut)

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai