“Tidak ada kekayaan sejati selain kerja keras manusia. Seandainya ada gunung-gunung emas dan lembah-lembah perak, dunia tidak akan menjadi lebih kaya daripada sebutir jagung; tidak ada secuilpun kenyamanan yang akan dituangkan pada umat manusia. Sebagai akibat dari pertimbangan kita terhadap logam mulia, seseorang dapat menimbun kemewahan untuk dirinya sendiri dengan mengorbankan kebutuhan tetangganya; suatu sistem yang cocok untuk menghasilkan semua jenis penyakit dan kejahatan, yang tidak pernah gagal untuk mencirikan dua ekstrem: kelimpahan dan kemelaratan … Orang miskin harus bekerja keras untuk apa? Bukan untuk makanan yang membuat mereka kelaparan; bukan untuk selimut yang membuat bayi mereka kedinginan di gubuk mereka yang menyedihkan; bukan kemegahan peradaban yang tanpanya manusia beradab akan jauh lebih menderita daripada orang biadab yang paling hina; tertindas oleh semua kejahatan yang berbahaya, dalam prospek kemanfaatan yang tak-terhitung jumlahnya yang diperlihatkan di hadapan mereka setiap hari—tidak, untuk kesombongan kekuasaan, untuk kesenangan palsu dari seratus bagian masyarakat.” (Mary Shelley)
“Saat ini kita berada dalam periode sejarah yang begitu menguji moral kita: prajurit musim panas dan patriot matahari dalam lautan krisis yang membeku, akan mundur dan hancur berkeping-keping atau melangkah maju dengan api dan baja di lengannya?” (Kaum Revolusioner)
Penghancuran feodalisme di Belanda telah meretakkan dan melemahkan pertahanan monarki-monarki Eropa. Antara 1639 dan 1651, perjuangan kelas yang menajam terekspresikan melalui ledakan Perang Tiga Kerajaaan: Inggris, Irlandia, dan Skotlandia. Pada abad inilah monarki Eropa berdiri di tepi jurang ketakutan yang mendalam. Memasuki abad ke-17 dan ke-18, kapitalisme berkembang secara radikal. Arus besar perdagangan dan industri meluluhlantakan kekeramatan gereja, privilese-privelese raja dan pangeran-pangeran feodal. Kreativitas manusia untuk berinovasi yang selama ini disumbat dengan ajaran-ajaran mistis, klerik, dan keyakinan naïf terhadap Tuhan tersisihkan. Kemajuan-kemajuan teknik dan perindustrian memekarkan ilmu-pengetahuan dan teknologi yang menandai dimulainya babak pencerahan. Segera setelah Perdamaian Westfalen disepakati maka gairah pasar bebas dan tuntutan-tuntutan akan kebebasan individu bukan saja bergelora di Negara Rendah dan Sungai Rhein, tetapi merayap lebih jauh ke seluruh Eropa. Aktivitas-aktivitas produksi dan pertukaran komoditas mentransfer hasil-hasil Revolusi Borjuis Belanda ke negeri-negeri lainnya. Di Inggris, perdagangan bebas yang diadopsi dari Belanda telah meremukkan hak-hak ilahi gereja dan mahkota. Gagasan-gagasan kedaulatan rakyat menggerogoti takhta-takhta monarki yang tersisa. Sejak akhir abad ke-16, kekalahan Armada Spanyol dalam berperang melawan Belanda-Inggris telah mengangkat Inggris sebagai kekuatan militer dan perdagangan terkemuka. Di Dunia Baru, Inggris menjarah emas dan tembakau untuk dibawa ke pusat komersial di London dan melanjutkan penaklukan Spanyol atas Amerika. Di Prancis, Inggris meraut hubungan dagangannya dengan begitu rupa. Semua ini bukan sekadar memperluas pasar bagi masyarakat kapitalis yang sedang bangkit, tetapi juga meningkatkan persaingan dan mengonsentrasikan kekayaan para pedagang dan borjuasi di kota-kota setempat. Pada paruh pertama abad ke-17, kebangkitan kapitalisme Inggris mempertajam kontradiksi antara estate pertama (gereja dan rohaniwan), kedua (mahkota dan bangsawan), ketiga (burgher dan borjuis), dan keempat (semi-proletar dan proletar). Pertentangan kelas mereka menajam sepanjang Revolusi Inggris (1640-1660). Kepentingan untuk mempertahankan kepemilikan pribadi terekspresikan lewat parlemen yang diperjuangkan oleh estate ketiga dalam mengatur pembayaran pajak properti, menentang rezim lama, memenggal kepala Raja Charles I, hingga menghapus House of Lords. Sementara pada kehidupan sosial secara keseluruhan perjuangan kelas diungkapkan dalam istilah agama, karena gereja dijadikan senjata propaganda utama mahkota. Lewat gereja, rohaniwan dan bangsawan membela hak-hak ilahi, warisan dan keturunannya. Para uskup dan imam bertindak sebagai pejabat-pejabat negara yang membatasi kepemilikan properti dengan penerapan pajak, pinjaman paksa, dan pembatasan-pembatasan hak massa-rakyat yang begitu rupa. Demikianlah perjuangan kelas diekspresikan dengan ritual, ayat dan sabda-sabda.
Sejak awal perkembangan kapitalisme, persaingan untuk bebas secara individu dan memiliki properti menjadi motif utama dalam menanggalkan lokalitas-lokalitas feodal dengan pembentukan parlemen, aturan nasional, dan negara-bangsa. Semua ini bukan untuk melayani Tuhan dan agama tapi kepentingan kapitalisme dan individu. Pada 1760, selain telah berhasil menggulingkan Charles I dan House of Lords dengan pukulan-pukulan radikal; kaum borjuis yang sedang bangkit juga memulai Revolusi Industri dengan mengembangkan mesin-mesin uap, pengolah kapas, dan membangun industri tekstil. Pengembangan teknologi dan kemajuan-kemajuan teknik kontan meningkatkan produktivitas dan meluaskan pertukaran komoditas. Jalannya peristiwa ini membuktikan kebenaran metode materialisme historis: perkembangan alat-alat produksi menjadi motor penggerak kehidupan umat manusia dan alam—jika masyarakat tertentu tidak sanggup lagi mengembangkan perkakas produksinya maka akan digantikan oleh masyarakat yang mampu melakukannya. Runtuhnya feodalisme dan kebangkitan kapitalisme Inggris telah membuktikannya. Namun akumulasi—yang menjadi syarat pertumbuhan kapitalisme dan pertahanan kepemilikan pribadi—tidak sekedar mendorong persaingan untuk memajukan kegiatan produksi tetapi juga cenderung memonopoli pasar. Dalam hubungan perdagangan dengan kekaisaran Prancis, kapitalisme Inggris menunjukkan bagaimana peredaran produk-surplusnya segera menyapu puing-puing ikatan feodal dan mengguncang bangunan monarkis yang renta. Kepungan komoditas meruntuhkan kekangan feodalisme begitu rupa. Selama kenaikan harga-harga, kapitalis meraup keuntungan melalui penarikan-penarikan pajak dan spekulasi, serta menjerat monarki dalam kubangan hutang dari para bankir. Sementara saat kontradiksi masyarakat feodal menajam, rezim lama tidak mampu menstabilkan situasi. Beredarnya komoditas tidak terkendali, tapi secara pasti menghubungkan pelbagai lokalitas feodal dengan relasi barang-dagangan untuk membentuk pasar nasional dengan menundukan kota-kota dan membebaskan rakyat pekerja pra-kapitalis dari ketergantungannya terhadap tuan-tuan feodal. Kencangnya pertumbuhan industri mengatur-ulang dan meningkatkan pembagian kerja sosial. Engels menjelaskannya dalam tulisannya mengenai “Kondisi Kelas Pekerja di Inggris”:
“Dengan penemuan-penemuan ini, yang semakin meningkat dari tahun-ke-tahun, kemenangan kerja mesin atas kerja tangan di cabang-cabang utama industri Inggris dimenangkan; dan sejarah yang terakhir sejak saat itu hanya menceritakan bagaimana pekerja tangan telah didorong oleh mesin dari satu posisi-ke-posisi lain. Konsekuensi dari ini adalah, di satu sisi, penurunan harga yang cepat dari semua komoditas manufaktur, penaklukan hampir semua pasar luar negeri yang tidak terlindungi, penggandaan modal dan kekayaan nasional secara tiba-tiba; di sisi lain meningkatan numerik proletariat yang lebih cepat, penghancuran semua hak milik properti dan semua jaminan pekerjaan untuk kelas proletar, demoralisasi, gejolak politik, dan semua fakta yang sangat menjijikan bagi orang Inggris yang berkeadaan nyaman … Karena perdagangan dan menufaktur mencapai perkembangan yang paling lengkap di kota-kota besar [Inggris] ini, pengaruhnya terhadap proletariat juga paling jelas terlihat di sini. Di sini sentralisasi kepemilikian telah mencapai titik tertinggi; di sini moral dan adat istiadat masa lalu yang indah dilenyapkan seluruhnya … Oleh karena itu, juga, di sini hanya ada kelas kaya dan kelas miskin, karena kelas menengah ke bawah semakin menghilang setiap hari. Dengan demikian kelas yang sebelumnya paling stabil telah menjadi kelas yang paling gelisah….”
Kini bukanlah gereja dan bangsawan yang digugui, melainkan pedagang-pedagang perkotaan, industrialis dan bankir. Norma-norma lama terkubur dan digantikan oleh tuntutan-tuntutan akan kebebasan-kebebasan individual dan persamaan-persamaan formalitas. Di Prancis—Montesquieu, Diderot, Buffon, Condercut, Voltaire, dan Rousseau tampil sebagai pemikir keemasan bersemangatkan liberalisme. Karya-karya mereka tersebar di kota-kota dan menjadi senjata ideologis bagi estate ketiga untuk menggugat kekuasaan rohaniwan serta hak-hak istimewa pangeran dan raja. Tepat 17 Juni 1789, Majelis Nasional didirikan dalam rangka membuat undang-undang tersendiri sekaligus menjadi monumen kekuasaan dari estate ketiga. Majelis tidak saja diisi kaum liberal (Girondin) tapi juga borjuis-kecil radikal (Montagnard). Sosok-sosok seperti Mirebeau, Robespierre, Saint-Just, Levoisier, La Fayette, Brissot, Claviere, hingga kakak-beradik Lameth tampil sebagai perwakilan-perwakilan di Majelis. Di hadapan absolutisme, mereka memperjuangkan kebebasan dan persamaan hak. Kerja politik mereka berhasil mendekati klub-klub kota bukan sebatas sebagai tempat berkumpulnya pangeran, pemimpin-pemimpin pemerintah dan militer, tetapi juga ruang-ruang diskusi politik untuk memenangkan sejumlah keturunan bangsawan ke arah liberalisme Girondin atau populisme Montagnard. Saat krisis masyarakat feodal bertambah dalam, dengan beban hutang dan pajak yang makin menumpuk, perseteruan faksional menajam dan Majelis Nasional semakin didominasi oleh kaum Montagnard. Tanggal 14 Juli, perwakilan kaum radikal mendorong 1.000 orang pengrajin dan pemilik toko untuk menyerbu penjara Bastille guna membebaskan tahanan dan mendapatkan mesiu untuk melancarkan ofensif. Sejak 1770, inflasi terdongkrak. Harga-harga kebutuhan dasar meroket dan kelaparan menjalar. Akhir 1780-an, dari Provence sampai Bourgogne; dari Bretagne sampai Alasce—perampokan lumbung-lumbung gandum merebak dan menebar ancaman mengerikan bagi tuan-tuan tanah. Di Paris, harga roti naik berkali-kali lipat. Massa plebeian (rakyat jelata) semakin melarat, hingga hidup melacur, mengemis dan menjadi gelandangan-gelandangan kota. Di Lyon dan Abbevilla, jumlah pengangguran telah mencapai 24.000 jiwa. Buruh-buruh pabrik-pabrik dan perkebunan, pembantu-pembantu rumahan, penjahit dan pembuat rambut palsu menuntut harga roti diturunkan segera. Rezim lama lumpuh dan massa sudah tidak dapat lagi menerima kekuasaannya. Juni 1789, kelas proletar dan semi-proletar mendirikan dewan revolusioner komune-komune lokal dan menempatkan balai kota Hotel de Ville sebagai pusat pemerintahannya. Bulan Oktober, meluasnya gelombang radikalisasi dihadapi oleh intelektual-intelektual radikal dengan melaksanakan Rapat Umum Perkebunan. Mereka bertemu dan menyepakati pembangunan kepemimpinan radikal: Jacobin. Kelompok ini dipimpin Robespierre, yang berjuang menggulingkan monarki dan membentuk republik.
Selama Revolusi Prancis, Jacobin tampil sebagai elemen sosial yang memimpin gerakan populer melalui pengorganisiran rakyat pekerja, membentuk ribuan klub pertemuan, hingga memiliki sekitar 500 ribu anggota serta partisipan yang berjuta-juta. Melalui koran dan literatur-literatur ilegal mereka, semboyan keras diserukan kepada massa: ‘Hidup Bebas atau Mati’. Di tengah perkembangan politik Jacobin dan atmosfer perjuangan kelas yang menajam, perempuan bangkit menyulut pemberontakan. Sejak 16 September, perempuan-perempuan pekerja bangkit menuju Hotel de Ville dengan aksi-aksi simbolik yang menggambarkan bagaimana penderitaan hidup mereka. Dalam situasi krisis, rumah tangga dan keluarga mereka mendera kelaparan yang begitu rupa. Tanggal 5 Oktober 1789, penjahit perempuan, pelayan perempuan, pencuci perempuan, gadis-gadis penjaga toko, istri tukang ikan dan rakyat pekerja lainnya—semuanya membanjiri jalanan dan berbaris menuntut roti secara militan. Meskipun Revolusi Prancis dimulai saat penyerbuan Bastille, tetapi dorongan terkuat yang mampu menyeret seluruh lapisan massa pekerja barulah dipicu oleh pemberontakan perempuan. Mereka membentuk barisan perempuan Sans-Culottes (kelas pekerja, semi-proletar dan plebeian yang bersenjatakan sabot, bercelana panjang atau mengenakan rok pendek, dan bertopi merah sebagai lambang kebebasan) yang begitu radikal dan militan. Terbentuknya barisan perempuan di jalan-jalan Paris kontan menarik perhatian lapisan yang lebih luas hingga laki-laki pekerja dan kaum Jacobin memutuskan untuk bergabung. Sekitar 7.000 massa bukan sekadar melancarkan pawai yang berhasil melumpuhkan balai kota dan merampas roti serta senjata, tetapi juga mengarahkan gerakan revolusioner menuju istana Versailles untuk menentang Louis XVI. Pertempuran dengan prajurit kerajaan akhirnya pecah, tapi perempuan dengan penuh keberanian dan kesiapan berkorbannya menolak dikalahkan. Mereka terus maju bersama laki-laki Sans-Culottes untuk menuntut roti. Pada catatan tentang “Kerumunan dalam Revolusi Prancis”, George Rude merekamnya begini:
“Saat ini, para perempuan sudah mulai bergerak. Krisis roti khas mereka sendiri dan, sejak saat ini, merekalah yang memainkan peran utama dalam gerakan, bukan laki-laki. Pada 16 September … para perempuan telah menghentikan gerobak berupa biji-bijian di Chaillot dan membawa mereka ke Hotel de Ville di Paris. Pada tanggal 17, tepat tengah hari, Hotel de Ville dikepung oleh para perempuan yang marah dan mengeluh tentang perilaku para pembuat roti; mereka diterima oleh Bailly dan Dewan Kota … Para wanita ini dengan lantang menyatakan bahwa para pria tidak dapat memahami apapun dan bahwa mereka [perempuan-perempuan pekerja] akan menyelesaikan masalahnya sendiri … Keesokan harinya Hotel de Ville kembali dikepung, dan janji dibuat. Pada malam yang sama … para perempuan mengkat gerobak berisi biji-bijian di Place des Trois Maries dan mengawalnya ke markas Distrik setempat. Gerakan ini akan berlanjut hingga demonstrasi politik 5 Oktober…. Awalnya para perempuan berkumpul di Hotel de Ville. Tuntutan pertama mereka adalah roti, yang kedua adalah senjata dan amunisi untuk saudara-saudari mereka. Seorang pedagang tirai melewati aula pasar lama pada pukul setengah delapan, melihat sekelompok perempuan menghentikan orang asing di jalan dan memaksa untuk pergi bersama mereka ke Balai Kota, ‘kemana seseorang harus pergi untuk mendapatkan roti?’ Para penjaga dilucuti dan tangan mereka diserahkan kepada para pria yang mengikuti di belakang para wanita dan mendesak mereka. Saksi lain, seorang kasir di Hotel de Ville, menggambarkan bagaimana sekitar jam setengah Sembilan, sejumlah besar perempuan, dengan laki-laki di antara mereka, bergegas menaiki tangga dan memasuki semua kantor gedung. Seorang saksi mengatakan mereka membawa tongkat dan tombak, sementara yang lain bersikeras bahwa mereka dipersenjatai dengan kapak, linggis, gada, dan senapan … Dalam pencarian mereka akan senjata dan mesiu, para perempuan merobek dokumen dan buku besar, dan segepok uang … Tetapi objek mereka bukanlah uang atau jarahan…. Pada tahapan inilah Maillard dan sukarelawannya tiba di tempat kejadian. Menurut pengakuannya, para perempuan itu mengancam nyawa [bangsawan Girondin] Bailly dan Lafayette.… Maillard membiarkan dirinya dibujuk untuk bersama mereka melintasi perjalanan dua belas mil ke Versailles untuk mengajukan petisi kepada raja dan Majelis demi menyediakan roti bagi Paris. Saat mereka berangkat pada sore hari, mereka melepaskan meriam dari Chatelet dan … mengajak setiap laki-laki dan perempuan yang mereka temui … untuk bergabung dengan mereka.”
Di medan pertempuran, militansi dan kemampuan agitatif perempuan-perempuan pekerja bahkan mampu menggugah dan menghentikan kekejaman Garda Nasional yang menembaki massa. Memasuki istana, jumlah massa bertambah menjadi 60.000 rakyat pekerja, dan Rose Locambe dan Pauline Leon tampil mewakili perempuan-perempuan dan laki-laki pekerja untuk menuntut roti, mengutuk-ngutuk dan mengejek-ngejek raja dan ratu sebagai sepasang suami-istri tukang roti. Keduanya tidak sekadar dipermalukan, tetapi juga ditodong senjata dan diseret ke Paris untuk mengabulkan permintaan akan roti. Desember 1789, komune-komune berhasil dibangun di seluruh kota dan desa-desa di Prancis. Semua dewan-dewan revolusioner terhubung satu sama lain dan membentuk gerakan revolusioner berskala nasional. Saat inilah Locambe, Pauline bersama perempuan-perempuan dan laki-laki pekerja lainnya—yang sebelumnya bergerak secara spontan—bergabung menjadi anggota Jacobin dan ikut melancarkan perlawanan terorganisir. Agustus 1792, pemberontakan dipusatkan di distrik pekerja di Paris dan sekali lagi bergerak menyerbu istana Tuileries. Setelah memberikan janji-janji mengenai roti dan tidak kunjung mewujudkannya, raja dan ratu ditangkap kembali untuk dipenjara dan dikekang begitu rupa. Mendapati kekosongan kekuasaan, komune-komune mendesakan pembubaran Majelis Nasional untuk digantikan dengan Konvensi Nasional yang akan melaksanakan pemilihan umum segera. Namun di tengah ketidakstabilan dan pengkhiantan borjuis Girondin, maka hak pilih universal hanya berlaku bagi laki-laki dan Robespierre terpilih menjadi kepala negara. Di bawah kepemimpinan Jacobin, pada 21 Januari 1793 monarki absolut secara resmi diruntuhkan dengan dipenggalnya kepala Louis XVI di tiang guillotine. Kini pemerintahan revolusioner borjuis-kecil radikal sepenuhnya berkuasa, tetapi ketiadaan hak pilih perempuan sekelebat mengujinya dengan tuntutan akan emansipasi perempuan. Di tahun yang sama, Klub Perempuan Revolusioner dibentuk oleh Jacobin demi menjawab persoalan-persoalan perempuan. Di sisinya, salon-salon milik istri bangsawan liberal dan borjuis juga menjamur sebagai klub-klub pertemuan antara para novelis dan jurnalis-jurnalis liberal dengan nyonya-nyonya aristokrat bersama perwakilan-perwakilan Girondin. Mereka membicarakan topik-topik politik, sastra, filsafat, hingga gosip-gosip yang merendahkan masyarakat pra-kapitalis dan mengagungkan hak-hak borjuis. Perempuan-perempuan bangsawan liberal terlibat aktif mengorganisir salon-salonnya bukan sebatas menebarkan fitnah terhadap Robespierre, tetapi juga menggunjing Komite Perempuan Revolusioner. Melalui pers-pers royalis dan borjuis, perempuan-perempuan Sans-Culottes—yang tidak menuntut hak khusus bagi perempuan dan memisahkan perjuangan perempuan dari kepentingan kelas pekerja secara keseluruhan—seperti Locambe distigma sebagai perempuan ‘pasar’, ‘liar’ dan ‘jalang’.
September 1793, gelombang revolusioner mulai menunjukkan kesurutan. Rakyat pekerja yang bertahun-tahun bergerak melancarkan ofensif mendapati dirinya mengalami kelelahan. Ketidakstabilan yang berlarut-larut telah menguras banyak energi dan mengharuskan kaum plebeian beringsut meninggalkan medan-medan pertempuran. Dalam kondisi inilah tingkat radikalisasi dan militansi mengalami penurunan. Sementara Robespierre yang baru terpilih membutuhkan kekuatan massa untuk membawa perjuangan revolusioner sampai ke titik akhir. Surutnya perjuangan kelas akhirnya memberikan kesempatan kepada musuh-musuh revolusi untuk melancarkan serangan-balik. Setelah terpelanting dalam reruntuhan Pemerintah Louis XVI, rohaniwan dan bangsawan-bangsawan akhirnya dibantu oleh monarki Eropa untuk segera memanfaatkan kemunduran revolusioner sebagai cela untuk mengonsolidasikan kembali kekuatannya dan menggencarkan gerakan kontra-revolusi untuk melawan kepemimpinan radikal. Akhir 1793—Austria, Prusia, Belanda, Spanyol, dan Inggris membentuk aliansi monarkis dalam mengepung pemerintahan revolusioner Jacobin. Telah lama monarki-monarki ini melihat gerakan revolusioner di Prancis sebagai ancaman serius yang sewaktu-waktu dapat meluas ke negeri mereka. Sejak 1791, prajurit-prajurit emigran kontra-revolusi dikerahkan memasuki Rhineland. Kehadirannya bukan saja berhasil mendirikan markas besarnya di Coblenz, tapi juga mampu merekrut para royalisnya yang berasal dari perwira-perwira Garda Nasional dan liberalis-liberalis Girondin. Para royalis ini mewakili bagian dari bangsawan liberal dan borjuasi yang ketakutan menghadapi gerakan massa dan berkompromi dengan kekuasaan monarkis. Sementara kaum Montagnard dan Jacobin, terus-menerus menawarkan ‘persaudaraan dan bantuan’ terhadap semua rakyat dari negeri-negeri monarki yang ingin mengikuti jejak Revolusi Prancis. Desember 1792, Pemerintah Robespierre mendeklarasikan prinsip-prinsip revolusioner yang akan menghapuskan kewajiban-kewajiban feodal dan menyita privelese-privelese rohaniwan dan bangsawan dengan mempersenjatai rakyat pekerja, plebeian dan semi-proletar—tentara merah Sans-Culottes.
Namun setelah ditinggalkan oleh gerakan massa revolusioner, rezim Robespierre menjadi lemah dalam menghadapi serangan-balik kaum reaksioner. Dari salon-salon istri bangsawan liberal dan borjuis, Robespierre mendapatkan tekanan bertubi-tubi untuk memberikan hak pilih terhadap perempuan-perempuan borjuis. Perwakilan terkemukanya adalah Sophie de Condercet hingga Maria Gouze alias Olympe de Gouges. Mereka mengusung hak-hak perempuan untuk mengembangkan kebudayaan dan penghapusan perbudakan. Karya Gouze tentang “Hak-Hak Perempuan dan Warga Negara Perempuan” memajukan tuntutan-tuntutan mengenai pengakuan atas hak perempuan dalam perjuangan melawan privelese abad pertengahan. Di bawah kepemimpinan macam inilah gerakan emansipasi perempuan pertama kali mencuat dan mengambil karakter liberalisme abad pencerahan. Gouze maupun Condercet meyakini bahwa kebebasan dan persamaan hanya bisa diwujudkan melalui pengembangan akal, akses terhadap pendidikan, dan keterlibatan langsung perempuan-perempuan borjuis untuk menentukan kebijakan-kebijakan publik. Sejak kemunduran Revolusi Prancis, gerakan perempuan bukan lagi diasosiasikan dengan aksi-aksi radikal dan militan melainkan diskusi-diskusi salon dan tuntutan akan pengakuan formal atas kesetaraannya dengan laki-laki borjuis dalam berpolitik. Perempuan-perempuan liberal berjuang untuk reformasi sosial dan ekonomi di tengah sistem kapitalis. Gerakan emansipasi mereka tidak berkepentingan mengapuskan kepemilikan pribadi, karena membatasi persoalan pada tataran hak-hak berpolitik yang sama dan akses ke profesi untuk merengkuh kemerdekaan dan meningkatkan status sosial dalam masyarakat borjuis. Tetapi di tengah kemerosotan dan keletihan gerakan massa, Robespierre lantas menerapkan kebijakan teror merah untuk menegakkan hukum dan ketertiban demi meremukkan musuh-musuh revolusi dan menyetabilkan Pemerintahan Jacobin. Ketidakstabilan pemerintahannya dijelaskannya sendiri dalam sebuah draf mengenai krisis kekuasaan:
“Dua koalisi saingan telah berselisih, menjadi skandal publik, untuk beberapa waktu yang lalu itu dimulai. Salah satu condong ke moderasi dan yang lain ke ekses-ekses yang praktis bekerja melawan revolusi. Yang satu menyatakan perang melawan semua patriot yang energik dan mengkhotbahkan pemuasan bagi semua konspirator, yang lain dengan licik memfitnah para pembela kebebasan, dan akan menghancurkan satu-per-satu, setiap patriot yang pernah berbuat salah, sambil tetap pada saat yang sama dengan sengaja buta dari rencana criminal dari musuh kita yang paling berbahaya…. Yang satu mencoba untuk menyalahgunakan kreditnya atau kehadirannya di Konvensi Nasional, yang lain menyalahgunakan pengaruhnya terhadap masyarakat popular. Seseorang ingin mendapatkan dari Konvensi keputusan dan tindakan penindasan yang berbahaya kepada musuh-musuhnya; yang lain menggunakan bahasa yang berbahaya di majelis umum…. Kemenangan salah satu pihak akan berbahaya bagi kebebasan dan otoritas nasional…. Apa cara untuk mengakhiri perang saudara ini? Untuk menghukum para pengkhianat dan konspirator, terutama para deputi dan administrator yang bersalah. Untuk mengirim pasukan patriotik di bawah pemimpin patriot untuk menaklukan bangsawan Lyons, Marseilles, Toulon, Vende the Jura, dan setiap wilayah lain dimana standar pemberontakan dan royalisme telah ditetapkan. Dan untuk membuat contoh mengerikan dari semua bajingan yang telah membuat marah kebebasan dan menumpahkan darah para patriot.”
Tanggal 5 September 1793, Komite Keamanan Publik didirikan untuk menebarkan ketakutan kepada begundal-begundal kontra-revolusioner: sisa-sisa rohaniwan dan bangsawan yang menebar balas dendam, serta seluruh borjuis liberal pengkhianat. Setelah Konvensi Nasional menyatakan Ratu Louis XVI bersalah, maka eksekusi pertama dari Pemerintahan Teror langsung menghukum mati Marie Antoinette. Selanjutnya Marie Gouze ikut dipancung karena menyebarkan gagasan-gagasan liberal yang menentang pemenggalan kepala raja dan ratu, menyalahkan kebijakan teror merah, dan berusaha melindungi hak-hak perempuan serta laki-laki borjuis dan mencela perempuan-perempuan serta laki-laki pekerja. Seterusnya eksekusi-eksekusi digencarkan dalam melemahkan pengaruh agama dengan meneror para pendeta dan biarawati untuk meninggalkan keyakinan-keyakinan naifnya dan berhenti meracuni pikiran massa dengan ajaran-ajaran kleriknya. Intensitas penegakan hukum dan ketertiban dengan teror-teror merah bukan sekadar mengonggokan korban, tapi juga peningkatan teror menjadi momen yang dimanfaatkan elemen-elemen kontra-revolusi untuk memfitnah, menggerogoti, dan menjatuhkan Pemerintahan Jacobin. Demikianlah keluarga Girondin menjadi elemen kontra-revolusi yang paling aktif menyudutkan Montagnard dan Jacobin. Di bawah arahan Jacques-Pierre Brissot, gerombolan Gironden menyudutkan jurnalis radikal Jean-Paul Marat dan Jacques Herbert sampai dipenjarakan. Pada 27 Juli 1794, Robespierre digulingkan dan di-guillotine keesokan harinya. Sementara massa plebeian bukanlah lagi sebatas lelah, melainkan pula menjadi pasif, kecewa, dan mengabaikan musuh-musuh kelasnya. Dalam Kalender Republik Prancis, momen kemerosotan revolusioner ini berlangsung di bulan Thermidor ke-9. Meninjau Revolusi Prancis, Leon Trotsky pun melukiskan epos surutnya gelombang revolusioner dengan istilah Thermidor: saat-saat dimana massa plebeian ‘mulai letih dan elemen-elemen yang lebih konservatif dan birokratis’ tampil merebut kendali revolusi—melancarkan reaksi dan kontra-revolusi. Lewat artikel berjudul “Thermidor Soviet”, Trotsky menjelaskan begini:
“Tahapan-tahapan yang berkelanjutan dari Revolusi Prancis, baik selama pasang maupun surutnya, menunjukkan tanpa kelah meyakinkan bahwa kekuatan para ‘pemimpin’ dan ‘pahlawan’ yang saling menggantikan terletak pada hubungannya dengan karakter kelas dan lapisan masyarakat yang menunjang mereka. Hanya hubungan ini, dan bukannya superioritas yang tidak relevan, yang memungkinkan mereka untuk menancapkan kepribadian mereka pada periode sejarah tertentu…. Telah cukup diketahui bahwa setiap revolusi sampai masa ini selalu disusul dengan masa-masa reaksi, atau bahkan kontra-revolusi. Ini, pastinya, tidak pernah melempar bangsa tersebut ke masa sebelum revolusi, tetapi sebagian besar hasil-hasil pencapaian revolusi selalu dirampas dari rakyat. Korban-korban dari gelombang revolusioner pertama, secara umum, adalah para pelopor, inisiator dan pemimpin yang berdiri di depan barisan massa dalam masa-masa ofensif revolusioner. Sebagai gantinya, orang-orang dari lini kedua, yang bersekutu dengan para mantan musuh revolusi, telah terdorong maju ke depan. Di balik duel dramatik dari para ‘coryphees’ (pemimpin) di panggung politik terbuka ini, sebuah pergeseran telah terjadi di dalam relasi antara kelas, dan yang tidak kalah penting adalah perubahan mendasar dalam psikologi massa yang sebelumnya revolusioner.”
Pada Mei 1795, dislokasi perdagangan dan melambungnya harga roti kembali meresahkan massa. Menyaksikan bahaya di hadapan matanya, maka elemen-elemen kontra-revolusi membentuk Pemerintah Direktori dan sekelebat melancarkan teror putih terhadap gerakan massa. Di Paris, kerusuhan meledak dan Jacobin berusaha bangkit tapi segera dipukul mundur oleh pasukan Jenderal Pichegeru. Bulan Oktober kemudian, sekali lagi laki-laki dan perempuan pekerja Paris bergerak bersama dan mengadakan pertemuan akbar untuk menyelamatkan Revolusi Prancis dari kemerosotannya. Namun massa dibubarkan paksa oleh pasukan yang dipimpin Barras dan Napoleon Bonaparte. Garda Nasional yang sebelumnya bersekutu dengan Sans-Culottes kini berubah menjadi musuhnya. Saat Jacobin tua, Gracchus Babeuf, membentuk Perhimpunan Pantheon dan menerbitkan koran Tribune untuk melanjutkan perjuangan revolusioner; Direktori kontan mengirimkan Napolen untuk mengecoh dan meringkus Babeuf, memberangus Pantheon dan membredel Tribune. Di bawah Pemerintah Direktori, Napoleon tampil sebagai pemimpin prajurit yang jauh lebih siap melancarkan teror putih. Direktorat mengangkatnya menjadi pengawas polisi. Dengan posisi ini dia segera menanam pengaruh dan mengontrol aktivitas di setiap salon-salon istri bangsawan liberal dan borjuis. Namun laki-laki dan perempuan kaya menaruh hormat kepada Napoleon karena prestasinya dalam mengakhiri perlawanan terakhir kaum Jacobin: Perhimpunan Pantheon. Di sisi lain, capaian-capaian gemilang di front-front peperangan di luar negeri mendulang prestise Napoleon. Pada 1797, Napoleon dipanggil untuk menyelesaikan persoalan parlemen. Diundangnya militer untuk mengintervensi arena pengambilan keputusan segera menjadi bumerang dan menyingkapkan kebangkrutan pemerintahan. Di bulan Brumaire ke-18, November 1799, Napoleon akhirnya meluncurkan kudeta. Dalam “Kebangkitan dan Kejatuhan Napoleon Bonaparte”, Alan Woods menjelaskannya begitu rupa:
“Dengan karakternya sebagai seorang petualang dan seorang oportunis yang tidak berprinsip yang telah keluar dari revolusi, tetapi tidak pernah benar-benar seorang revolusioner, Napoleon sangat cocok berperang sebagai algojo. Selain itu, dia memiliki keuntungan yang tak terukur atas para pesaingnya bahwa dia sendiri yang memimpin kesetiaan tentara-tentara petani yang membayangkan dia sebagai perwujudan revolusi yang memberi kaum tani tanah dan sekarang berkomitmen untuk menyebarkan cita-cita revolusi dan kemuliaan Prancis ke negara-negara lain…. Kepada borjuasi dia menjanjikan ketertiban dan diakhirinya gangguan revolusioner, sementara kepada tentara dia secara demagogis berbicara tentang penyelamatan revolusi dari para konspirator royalis. Dia tidak logis atau konsisten. Dia tidak bisa seperti itu. Dia memiliki 80.000 argumen luar biasa dalam menggunakan tentaranya. Tentara adalah pedang yang tergantung di atas kepalamusuhnya yang bisa dia gunakan kapan saja…. Dalam situasi dimana kekuatan-kekuatan yang bersaing telah kehabisan tenaga, tentara (yaitu, negara) mengangkat dirinya sendiri di atas masyarakat. Apa yang muncul adalah kekuasaan dengan pedang—ciri esensial Bonapartisme…. Namun, aturan dengan pedang tidak menghilangkan definisi Bonapartisme. Ada banyak jenis aturan yang didasarkan pada pedang. Bonapartisme memiliki karakteristik tertentu yang mengalir dari fakta bahwa ia mengungkapkan suatu keadaan khusus di mana kekuatan-kekuatan kelas antagonistik berada dalam keadaan keseimbangan yang tidak stabil. Dalam posisi seperti itu, penguasa Bonapartis cenderung menyeimbangkan kelas-kelas. Napoleon pernah bersandar ke kiri untuk menyerang ke kanan, dan di waktu lain dia bersandar ke kanan untuk menyerang ke kiri. Dan sepanjang waktu dia meningkatkan kekuatannya sendiri.”
“Revolusi Prancis hanya dapat dipahami dari sudut pandang kelas. Partai-partai, klub-klub, kecenderungan-kecenderungan dan individu-individu yang berbeda, yang muncul dalam susunan yang membingungkan, naik dan turun seperti ombak di lautan yang bergolak, hanyalah ekspresi dari kelas-kelas yang berbeda yang berjuang untuk menguasasi situasi, dan hukum umum dari setiap revolusi yang semakin radikal selalu cenderung menggusur tren yang lebih moderat, sampai momentum revolusioner habis dengan sendirinya. Pada saat itu, film revolusi mulai terurai dan mundur, yang dalam kasus Prancis menyebabkan Bonapartisme … Ini adalah takdir yang tak terelakan dari revolusi borjuis, dimana dorongan yang datang dari massa akhirnya runtuh di atas kontradiksi antara ilusi mereka dan isi kelas yang sebenarnya dari gerakan. Pembagian kelas dalam gerakan revolusioner telah terwujud sejak awal. Girondin mewakili tren borjuis yang ingin menghentikan revolusi di tengah jalan dan membuat kesepakatan dengan raja untuk mendirikan monarki konstitusional. Ini akan berakibat fatal bagi revolusi, yang hanya memperoleh sapuan yang diperlukan karena massa terseret dalam ledakan peristiwa dan mulai menghadapi reaksi dengan gaya plebeian revolusioner….”
Kemenangan Napoleon Bonaparte atas pemerintahan revolusioner dan kepemimpinan radikal borjuis-kecil menandai titik-balik Revolusi Prancis. Dia merebut kekuasaan dan memproklamirkan dirinya sebagai Kaisar Napoleon I yang bukan saja menggantikan capaian-capaian perjuangan revolusioner dengan ornamen-ornamen luar dari tatanan aristokrat lama, tapi juga membangun basis dukungannya dengan menegakkan hubungan properti baru. Hukum direformasi dalam semangat kontra-revolusi. Undang-Undang Napoleon tidak sekadar menegakkan aturan penyerahan tanah kepada kaum tani, tetapi juga merendahkan kedudukan perempuan dengan menekankan otoritas ayah atas istri, anak-anak, dan hak milik keluarganya. Dengan memberi ruang kepemilikan pribadi maka Bonapartisme meraih dukungan dari petani-petani borjuis-kecil—yang telah memperoleh bekas tanah aristokrasi dan gereja—dan seterusnya melayani kepentingan borjuasi. Sementara borjuis-borjuis liberal—yang sebelumnya tampil progresif dalam menggulingkan kekuasaan feodal—kini telah menjadi reaksioner dengan menghalang-halangi perjuangan kelas revolusioner: membubarkan komune-komune, menyingkirkan koran dan literatur radikal Jacobin, menjerat borjuis-kecil radikal dalam persoalan parlementerisme, hingga menetapkan Undang-Undang Rumah Tangga dan Perawatan Anak yang memperhebat domestifikasi perempuan dan meletakkan beban terberat ke pundak perempuan-perempuan proletar. Dalam kondisi inilah kaum Jacobin diburu, dipenjara, dibunuh, hingga Komite Perempuan Revolusioner dihancurkan. Gerakan perempuan di salon-salon borjuis tidak keberatan mengenai peraturan dan tindakan demikian. Menggunakan kekayaannya mereka bukan saja sanggup mempekerjakan banyak pembantu dan pengasuh anak untuk mengurus rumah dan anak-anaknya, tetapi juga mampu membeli perlindungan dari penguasa Bonapartis. Fokus gerakan perempuan liberal bukanlah menyangkut pembebasan kelas buruh, tetapi mengangkat harkat dan martabat kelasnya sendiri dengan memperuangkan akses terhadap kebudayaan, jabatan publik dan kekayaan pribadi. Perempuan-perempuan liberal dari keluarga Girondin mengekspresikan kepentingan itu dengan menuntut ditegakkannya Undang-Undang Perceraian untuk mempertahankan hak atas properti.
Pada 1837, Charles Fourier mempopulerkan gerakan perempuan yang memperjuangkan hak-haknya dengan istilah feminisme. Pemikiran ini tidak saja menghargai keunikan perempuan, tapi juga menganjurkan kebebasan bagi perempuan dalam mengembangkan dirinya. Fourier berkeyakinan: ‘dalam masyarakat manapun tingkat emansipasi perempuan merupakan indikator alamiah dari tingkat emansipasi secara umum’ dan ‘perluasan hak istimewa perempuan adalah prinsip umum dari semua kemajuan sosial’. Di tengah masyarakatnya, Fourier menyaksikan penindasan terhadap perempuan berlangsung mengerikan: institusi perkawinan yang mengikat dengan hukum-hukum keagamaan bukan saja menyubordinasi perempuan, tetapi juga menjadi lahan prostitusi terselubung. Dia memandang kalau institusi pernikahan tampil menindas perempuan dan menganjurkan pembebasan perempuan dengan memberinya akses pekerjaan yang bukanlah berdasarkan jenis kelamin tapi minat dan keterampilan. Sudut pandang feminis yang pertama kali dipopulerkan Fourier ini tergolong maju pada zamannya, namun kelemahannya adalah tidaklah membedakan antara kepentingan-kepentingan kelas yang diperjuangkan gerakan-gerakan perempuan borjuis dan perempuan proletar. Meskipun perempuan mendapatkan pekerjaan dan tiada bersuami, namun takkan pernah dapat menghapus masalah penindasan perempuan yang mengakar dalam masyarakat kelas. Ketertindasan perempuan tak sekadar menyangkut rumah tangga dan akses terhadap pekerjaan, tetapi terutama pembagian kerja dan kepemilikan pribadi terhadap alat-alat produksi yang menempatkan perempuan-perempuan pekerja—yang merupakan tenaga produktif atau cadangan tenaga produktif—sebagai budak-upahan. Di bawah kapitalisme, ditariknya perempuan dari kungkungan aktivitas domestik menuju kemeriahan aktivitas publik memanglah merupakan salah satu langkah progresif; namun ini tidak pernah menjamin tercapainya kesetaraan gender dan seksual antara perempuan dan laki-laki, melainkan menyeret perempuan untuk menanggung beban-ganda: kompleksitas patriarki dan eksploitasi kerja-upahan yang memperlakukan tubuh perempuan sebagai komoditas. Teori Fourier—yang mendambakan kebebasan dan kesetaraan bagi perempuan dan laki-laki—tanpa berjuang untuk mengakhiri persoalan masyarakat kelas secara revolusioner, pada akhirnya hanyalah menjadi selubung bagi seruan-seruan humanisme yang utopis dan akal-budi borjuis yang berlandaskan idealisme filsafat. Dalam “Sosialisme Utopis dan Sosialisme Ilmiah”, Engels menulis:
“Kita telah melihat bagaimana para filsuf Prancis abad ke-18, para pelopor Revolusi, menggunakan nalar sebagai satu-satunya hakim dari segala yang ada. Sebuah pemerintahan yang rasional, masyarakat yang rasional, akan dibangun; segala sesuatu yang bertentangan dengan nalar abadi mesti disingkirkan tanpa belas kasihan. Kita juga telah melihat bagaimana nalar abadi ini pada kenyataannya tidak lain adalah pemahaman para warga abad ke-18 yang diidealisasikan, yang saat itu baru saja berkembang menjadi borjuasi. Revolusi Prancis telah merealisasikan masyarakat dan pemerintahan rasional ini. Tetapi, tatanan yang baru ini, yang cukup rasional jika dibandingkan dengan kondisi-kondisi sebelumnya, ternyata tidaklah mutlak rasional. Negara yang didasarkan pada nalar ambruk sama sekali. ‘Kontrak Sosial’ Rousseau telah menemukan realisasinya dalam Pemerintahan Teror. Kaum borjuasi, yang telah kehilangan kepercayaan pada kemampuan politik mereka sendiri, berlindung dari Kekuasaan Teror ini mula-mula lewat Pemerintahan Direktorat yang korup, dan, akhirnya, di bawah sayap despotisme Napoleon….”
“…Dalam diri Fourier kita temui kritik mengenai kondisi-kondisi masyarakat yang ada, yang murni Prancis dan pintar, tetapi tidak kalah menyeluruh. Fourier memperlakukan apa-apa saja yang diucapkan oleh kaum borjuasi, oleh para nabi mereka sebelum Revolusi, oleh para penyanjung mereka setelah Revolusi, sebagaimana adanya. Tanpa belas kasihan dia ekspos kesengsaraan material dan moral dari dunia borjuis. Dia pertentangkan dunia borjuis ini dengan janji-janji yang menyilaukan mata dari para filsuf sebelumnya, yang menjanjikan sebuah masyarakat di mana hanya nalar yang berkuasa, sebuah peradaban di mana kebahagiaan adalah universal, sebuah masyarakat dengan kesempurnaan manusia yang tak terbatas, dan dengan fraseologi berwarna-warni dari para ideolog borjuis zamannya. Dia tunjukkan bagaimana realitas dunia yang memilukan hati tidak sesuai dengan puja-puji yang paling muluk, dan dia serang kegagalan yang menyedihkan dari puja-puji ini dengan sarkasmenya yang pedas. Fourier bukan hanya seorang pengkritik. Wataknya yang tenang dan tak tergoyahkan menjadikannya seorang satiris, dan salah satu satiris terbesar dalam sejarah. Ia melukiskan, dengan kekuatan dan daya tarik yang sama, spekulasi penipuan yang tumbuh subur di atas reruntuhan Revolusi, dan semangat tukang-kelontong yang mendominasi dan menjadi karakter dari perdagangan Prancis pada masa itu. Lebih piawai lagi adalah kritiknya mengenai bentuk borjuis dari relasi antara laki-laki dan perempuan, dan kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat borjuis. Ia adalah orang pertama yang menyatakan bahwa dalam masyarakat manapun tingkat emansipasi perempuan merupakan indikator alamiah dari tingkat emansipasi secara umum.”
Feminisme sejak kelahirannya merupakan gagasan yang utopis dan sangat sesuai dengan kepentingan borjuis. Posisi feminis pertama-tama tidak berdiri di atas garis kelas yang materialis dan dialektis, melainkan kategori-kategori identitas yang mengalir dari penilaian intelektual dan moral yang idealis dan sepihak. Meski Fourier menerangkan cita-cita pembebasan perempuan dengan memberikan akses budaya, ekonomi dan politik, tetapi dirinya tidaklah meletakkan perjuangan kelas proletariat sebagai kuncimya. Mengingat Prancis yang baru mengenal relasi pertukaran borjuis dan belum mengenal industri modern seperti di Inggris, dan lebih jauh, mengingat mode produksi kapitalis yang belum mencapai puncak perkembangannya di skala internasional; maka kekasaran atau ketidakjelasan sudut pandang Fourier dalam mengungkap kontradiksi antara borjuis dan proletar barangkali dapat dimaafkan atas pertimbangan historis. Namun ketika pertentangan kelas antagonis antara borjuis dan proletar telah menjadi terang, maka sudah tidak ada alasan yang memadai untuk mengabaikan perjuangan kelas. Tanpa kejelasan akan kepentingan kelas mana yang dibela, semua teori dan perspektif akan menjadi sangat membingungkan untuk memandu perjuangan massa dalam masyarakat kelas. Pemikiran Fourier tentang feminisme menunjukkan persoalan tersebut. Kebingungan feminis pertama kali terungkap tatkala sudut pandang ini menyepadankan antara perjuangan perempuan borjuis untuk hak-hak formal dengan perjuangan perempuan proletar untuk hak-hak mendasar. Dalam Revolusi Prancis, perempuan-perempuan Girondin bergerak demi kesetaraan di hadapan hukum; sedangkan perempuan-perempuan Sans-Culottes bergerak demi mempertahankan hidup dari ancaman hubungan-hubungan feodal dan borjuis. Gerakan feminis berkepentingan untuk menyerahkan kekuasaan ke tangan borjuasi; sementara gerakan perempuan pekerja berjuang untuk mewujudkan keadilan kelas dengan kecenderungan naluriah menghapuskan hubungan-hubungan properti. Walaupun Revolusi Prancis merupakan revolusi borjuis-demokratik, namun gerakan perempuan Sans-Culottes tidaklah dimotivasi oleh pertahanan kepemilikan pribadi tapi amarah dan kebencian mendalam terhadap aristokrasi dan borjuasi. Perjuangan perempuan pekerja tidaklah bertujuan mendapatkan persamaan hak dengan laki-laki borjuis, namun menuntut roti untuk memenuhi kebutuhan dasar kelasnya—melawan kelaparan, kemiskinan dan penghisapan borjuasi. Kaum feminis liberal tidak dapat menjelaskan bagaimana korelasi antara eksploitasi kapitalisme dan penindasan perempuan. Saat gerakan perempuan Sans-Culottes menggencarkan aksi-aksi radikal dan militan; gerakan perempuan liberal menganggap remeh kenaikan harga roti dan menenggelamkan diri di salon-salon untuk mengembangkan kebudayaan. Mereka mencela gerakan perempuan revolusioner dengan keranjingan rasionalisme abad pencerahan: emansipasi perempuan harus meletakkan nalar sebagai motor penggeraknya, bukan perjuangan kelas yang berhubungan dengan kekuatan dan kepentingan. Kesimpulan ini berasal dari tinjauan sempit perempuan-perempuan borjuasi atas keberadaan sosial mereka sendiri, bukan penilaian obyektif terhadap perkembangan historis. Dalam “Ideologi Jerman”, Marx menulis:
“Baik untuk produksi secara massal dari kesadaran komunis [sekalipun], dan untuk keberhasilan penyebab itu sendiri, perubahan [kesadaran] manusia dalam skala massal, diperlukan, sebuah perubahan yang hanya dapat terjadi dalam gerakan praktis, sebuah revolusi; revolusi ini diperlukan, oleh karena itu, tidak hanya kelas penguasa tidak dapat digulingkan dengan cara lain, tetapi juga karena kelas yang menggulingkannya hanya dapat berhasil dalam revolusi untuk membersihkan dirinya dari semua kotoran zaman dan menjadi cocok untuk mendirikan masyarakat baru.”
Perempuan-perempuan borjuasi melihat gerakan pembebasan perempuan pertama kali bangkit di salon dan identik dengan forum-forum studi. Posisi sosial mereka sebagai kelas borjuis membatasinya dalam memandang lebih jauh bagaimana proses historis bangkitnya gerakan perempuan hingga munculnya istilah feminisme. Sebagai sebuah pemikiran filsafat dan politik yang lahir dalam periode sejarah dan aktivitas mastarakat tertentu, feminisme dengan segala kekasarannya bukan sekadar mengekspresikan hubungan produksi kapitalisme yang belum cukup matang di Prancis tapi juga kemunduran perjuangan massa dalam Revolusi Prancis. Bangkitnya gerakan perempuan dipicu oleh revolusi. Kebangkitannya paralel dengan pasang dan surutnya revolusi: saat naiknya gelombang revolusioner maka gerakan perempuan mengambil bentuk aksi-aksi militan dan tendensi radikalisme dari perempuan-perempuan Sans-Culottes, tapi ketika gelombang revolusioner menurun maka gerakan perempuan mengambil bentuk aktivitas-aktivitas terisolasi dan ide-ide konservatif dari kaum feminis liberal. Selama Revolusi Prancis, keberadaan sosial antara perempuan Sans-Culottes dan feminis liberal bukan sebatas kontras tapi lebih-lebih bertentangan secara tajam. Di tengah kemiskinan dan kelaparan umum yang mengepung rumah tangga-rumah tangga rakyat pekerja, keluarga-keluarga bangsawan liberal dan borjuis justru berkehidupan serba-mewah dan bergelimang harta-benda. Dan momen krisis kehidupan masyarakatnya, bersikeras diatasi oleh gerakan feminis liberal dengan mengusung tuntutan mengenai hak milik semata. Keberadaan sosial perempuan-perempuan borjuasi—sebagai orang-orang kaya pemilik properti dan produk-surplus yang berlimpah—membedakan kepentingan mereka dengan perempuan-perempuan proletar. Inilah mengapa reformasi yang diperjuangkan feminis liberal tak relevan untuk memecahkan masalah mendasar perempuan Sans-Culottes. Mereka pikir kemelaratan, penderitaan, dan segala bentuk ketertindasan massa perempuan bersumber dari kelemahan intelektual, moral, gender atau seksual. Sudut pandang ini tidak berangkat dari kondisi sosial dan perjuangan kelas. Mereka abai kalau segala bentuk krisis dan degradasi dalam masyarakat kapitalis dengan aneka serangan terhadap standar hidup rakyat pekerja itu menjalar melalui relasi barang-dagangan atau pertukaran komoditas yang tertanam di jantung kepemilikan dan produksi borjuis, tegak di atas pembagian kerja mental dan fisik, tumbuh dengan mengekspropriasi kerja-lebih—kerja yang tidak pernah dibayarkan tapi sangat melelahkan; kerja yang menjadi sumber kekayaan kapitalis dan kemelaratan proletar; kerja yang melahirkan keterasingan, kehancuran, penghinaan dan kekerasan brutal dalam masyarakat borjuis. Kaum Marxis menjelaskan relasi-relasi kepemilikan pribadi terhadap alat produksi ini sebagai bentuk eksploitasi dan syarat eksistensi kapitalis yang bersifat inheren dan sangat destruktif. Dalam “Kondisi Kelas Pekerja di Inggris”, Engels menerangkan bagaimana hukum persaingan atau akumulasi nilai-lebih yang menjadi motor-penggerak kapitalisme dan mengandung barbarisme ini tidak ditentukan oleh moralitas kapitalis individual, melainkan keberadaan sosial individu kapitalis sebagai kelas borjuis:
“Sebagai seorang kapitalis, dia hanyalah kapital yang dipersonifikasikan, jiwanya adalah jiwa modal. Tetapi kapital memiliki satu-satunya tenaga penggerak, dorongan untuk menghargai dirinya sendiri, untuk menciptakan nilai-lebih, untuk menjadikan bagiannya yang tetap, alat-alat produksi, menyerap sebanyak mungkin kerja-surplus. Kapital adalah kerja mati yang, seperti vampir, hidup hanya dengan menghisap kerja hidup, dan semakin hidup, semakin banyak kerja yang dihisapnya. Waktu selama buruh bekerja, adalah waktu selama kapitalis mengonsumsi tenaga-kerja yang dibelinya darinya. Jika pekerja menghabiskan waktunya untuk dirinya sendiri, dia [proletariat] merampok kapitalis. Perpanjangan hari kerja di luar batas hari alami, menjadi malam, hanya bertindak sebagai paliatif. Itu hanya sedikit memuaskan dahaga vampir akan darah buruh yang hidup. Oleh karena itu, produksi kapitalis mendorong, dengan sifatnya yang inheren, menuju apropriasi kerja sepanjang 24 jam…. Oleh karena itu, kapital tidak mempertimbangkan kesehatan dan umur pekerja, kecuali masyarakat memaksanya untuk melakukannya. Jawabannya atas teriakan tentang degradasi fisik dan mental, kematian dini, siksaan kerja berlebihan, adalah ini: haruskah rasa sakit itu mengganggu kita, karena itu meningkatkan kesenangan (keuntungan) kita? Tetapi melihat hal-hal ini secara keseluruhan, jelaslah bahwa ini tidak bergantung dalam kehendak, baik atau buruk kapitalis individual. Di bawah persaingan bebas, hukum imanen produksi kapitalis menghadapi kapitalis individual sebagai kekuatan koersif di luar dirinya.”
“Saya belum pernah melihat sebuah kelas yang begitu terdemoralisasi, begitu direndahkan oleh keegoisan, begitu terkorosi secara inheren … Ia tidak mengenal kebahagiaan kecuali keuntungan cepat, tidak ada rasa sakit kecuali kehilangan emas. Di hadapan keserakahan dan nafsu untuk mendapatkan ini, tak mungkin satu sentimen atau pendapat manusia tetap tidak ternoda. Benar, kaum borjuis Inggris ini adalah suami-suami yang baik dan pria-pria berkeluarga, dan memiliki segala macam kebajikan pribadi lainnya, dan tampil, dalam pergaulan sehari-hari, selayak dan terhormat seperti kaum borjuis lainnya; bahkan dalam bisnis mereka lebih baik untuk dihadapi daripada orang Jerman; mereka berbelit-belit dan tawar-menawar sebanyak pedagang-pedagang kecil kita sendiri; tetapi bagaimana hal ini membantu? Pada akhirnya itu adalah kepentingan pribadi, dan terutama perolehan uang, yang dengan sendirinya menentukan mereka. Saya pernah pergi ke Manchaster dengan seorang borjuis seperti itu, dan berbicara kepadanya tentang metode pembangunan yang buruk dan tidak sehat, kondisi lingkungan pekerja yang mengerikan, dan menegaskan bahwa saya belum pernah melihat kota yang dibangun dengan begitu buruk. Pria itu mendengarkan dengan tenang sampai akhir, dan berkata di sudut tempat kami berpisah: namun ada banyak uang yang dihasilkan di sini, selamat pagi, Tuan’.”
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
