Kategori
Perjuangan

Negeri Konoha dan Narkoba

“Menurut Anda, apa itu seniman? Orang tolol yang, jika ia pelukis, hanya punya mata, jika ia musisi, hanya punya telinga, jika ia penyair, hanya punya kecapi di setiap bilik hatinya, atau bahkan jika ia petinju, hanya punya otot? Sebaliknya, ia pada saat yang sama adalah makhluk politik, yang selalu waspada terhadap peristiwa-peristiwa yang menggemparkan dunia atau kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan dan menyayat hati, yang mengambil coraknya sendiri dari kejadian-kejadian itu. Bagaimana mungkin seseorang dapat memisahkan diri dari orang lain; dengan sikap acuh-tak-acuh seperti apa Anda harus menjauhkan diri dari kehidupan yang begitu berlimpah yang mereka hadirkan di hadapan Anda? Tidak, lukisan tidak dibuat untuk menghiasi apartemen. Lukisan adalah instrumen untuk perang ofensif dan defensif melawan musuh.” (Pablo Picasso; Les Lettres Francaises)

“Bendera rakyat berwarna merah pekat. Menyelimuti para martir kita yang mati. Dan sebelum anggota tubuh mereka menjadi kaku dan dingin. Darah hati mereka mewarnai setiap lipatannya. Lalu kibarkan bendera merah setinggi-tingginya. Di bawah naungannya kita akan hidup dan mati. Meski para pengecut bergidik dan pengkhianat mencibir. Kita akan tetap mengibarkan bendera merah di sini…. Dengan kepala terbuka, kita semua bersumpah. Untuk meneruskannya hingga kita terjatuh. Datanglah ruang bawah tanah yang gelap atau tiang gantungan yang suram. Lagu ini akan menjadi himne perpisahan kita.” (The Red Flag, 1889)

Ada periode-periode dalam sejarah umat manusia yang berlangsung sebagai titik-balik fundamental. Masa-masa itu ditandai dengan ketidakstabilan dan transformasi sosial, politik, dan budaya yang kolosal. Gagasan, kebiasaan, dan tradisi yang telah lama diterima, bahkan selama berabad-abad lamanya, sekelebat diragukan dan ditentang begitu rupa. Cara-cara hidup yang udik dan sebentar lagi musnah mulai goyah. Pikiran laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh situasi yang tidak dikenali; namun orang-orang yang walaupun menghadapi keadaan dengan tidak mengerti, tetapi di kedalaman batin mereka merasakan kalau perubahan yang mendasar telah mendekat dan cepat atau lambat pasti akan tiba. Inilah masa-masa yang sedang kita hadapi hari-hari ini: zaman krisis kapitalisme yang berada dalam kebuntuan total dengan pergolakan sosio-ekonomi yang tercermin dalam pergeseran mendalam di ranah agama. filsafat, sains dan seni. Kemanusiaan saat ini terbelenggu dan menderita oleh sistem ekonomi yang dipertahankan di atas eksploitasi dan opresi mayoritas manusia biasa demi keuntungan minoritas pemilik alat produksi secara pribadi. Kekuatan produksi umat manusia—industri, pertanian, teknik dan ilmu-pengetahuan—sudah tidak dapat lagi bergerak maju. Selama tiga dekade terakhir pertumbuhan pasar dunia berjalan tertatih dan sekarang mengalami kelumpuhan yang teramat parah. Masalah-masalah pengangguran dan kemiskinan meledak di segala penjuru. Ketimpangan meningkat hingga mencapai tingkatan tanpa preseden. Perbudakan dan perampokan, perang dan pendudukan, kebohongan dan pembodohan, dengan kepungan teror dan kekerasan dari segala institusi demokrasi borjuis telah menjadi tontotan umum yang mengerikan. Di dunia kapitalisme yang sedang sekarat ini unsur-unsur barbarisme bermunculan bahkan di negeri-negeri imperialis yang paling ‘demokratis’ dan ‘beradab’ sekalipun. Sedangkan di Dunia Ketiga, negara-negara borjuis tergantung menampilkan karakter yang luar biasa barbar: tombak birokrasi parasit dan korupnya diayunkan secara bengis, penuh teror pemenjaraan dan pembantaian yang sadis. Dalam skala dunia, konflik antara kekuatan imperialis untuk pembagian kembali dunia sebagai wilayah pengaruh dan koloni telah memicu pembengkakkan kapasitas militer. Tahun 2023, pendanaan militer global menembus angka 2,44 triliun dolar dengan AS, Cina, dan Rusia yang berada di posisi teratasnya. Di seluruh negeri, imperialisme dan militerisme hadir sebagai masalah kronis di sekitar eksploitasi kapitalis. Inilah yang pernah diantisipasi Leon Trotsky dalam “The War and the International”:

“Kekuatan produksi yang dikembangkan oleh kapitalisme telah melampui batas-batas negara-bangsa. Negara nasional, bentuk politik saat ini, terlalu sempit untuk mengeksploitasi kekuatan produksi ini. Oleh karena itu, kecenderungan alami sistem ekonomi kita adalah berusaha untuk menerobos batas-batas negara. Seluruh dunia, daratan dan lautan, permukaan serta interior telah menjadi satu bengkel ekonomi, yang bagian-bagiannya saling-terhubung satu sama lain. Tugas ini diselesaikan oleh kapitalisme. Namun dalam menyelesaikannya, negara-negara kapitalis harus berjuang untuk menundukkan sistem ekonomi yang mencakup seluruh dunia kepada akumulasi keuntungan kaum boruasi di setiap negara…. Perang yang terjadi saat ini pada hakikatnya merupakan pemberontakan kekuatan produksi untuk terhadap bentuk politik negra-bangsa. Ini berarti runtuhnya negara nasional sebagai unit ekonomi yang independen…. Perang itu mengumumkan kejatuhan negara-bangsa. Namun pada saat yang sama ia mengumumkan kejatuhan sistem ekonomi kapitalis. Melalui negara-bangsa, kapitalisme telah merevolusi seluruh sistem ekonomi dunia. Ia telah membagi seluruh bumi di antara oligarki-oligarki negara-negara besar, yang di sekitarnya negara-negara satelit, negara-negara kecil, yang hidup dari persaingan negara-negara besar. Perkembangan ekonomi dunia di masa depan atas dasar kapitalis berarti perjuangan tanpa henti untuk bidang-bidang eksploitasi kapitalis yang baru dan terus-menerus baru, yang harus diperoleh dari satu sumber yang sama—bumi. Persaingan ekonomi di bawah panji militerisme disertai dengan perampokan dan penghancuran yang melanggar prinsip-prinsip dasar ekonomi manusia. Kekuatan produksi dunia memberontak tidak hanya terhadap kebingungan yang dihasilkan oleh kebangkrutan negara nasional tetapi juga terhadap organisasi-organisasi ekonomi kapitalis, yang kini telah berubah menjadi disorganisasi dan kekacauan yang biadab.”

Di Indonesia, terkaman imperialisme dan militerisme itu meluncurkan penindasan nasional di sekitar konflik-konflik agraria dan bangsa. Negara dalam genggaman borjuasi nasional sama sekali tidak sanggup menyelesaikan masalah-masalah nasional ini. Di bawah kekuasaan mereka, di sisi perjuangan kaum buruh dan muda, perjuangan kaum tani miskin untuk tanah dan minoritas bangsa West Papua untuk hak menentukan nasib sendiri justru dihadapi dengan kekerasan badan khusus orang-orang bersenjata dalam skala yang meraksasa. Atas persetujuan imperialis, kelas penguasa di negeri tergantung yang korup dan parasit ini meluncurkan ratusan Proyek Strategis Nasional secara brutal. Proyek yang ditujukan untuk memperluas dan memperdalam eksploitasi kapitalis digencarkan dengan mendapat pengawalan ekstra dari gerombolan militer. Dalam membersihkan segala hambatan bagi eksploitasi pasar yang kosmopolit, polisi dan tentara di negeri kapitalis terbelakang ini bertindak bengis. Operasi-operasi mereka mengontrol, mengawasi, dan memaksakan ketertiban umum dari Jakarta hingga Papua; dari kota-kota besar sampai desa-desa pedalaman dan terpinggir, dari distrik-distrik industri yang diterangi listrik hingga distrik-distrik pertanian yang diselimuti kegelapan tanah. Dalam pertahanan kepemilikan pribadi di bawah birokrasi negara dan institusi demokrasi borjuasi, kekuatan produksi dihancurkan secara membabi-buta dan bumi manusia disulap menjadi lautan pusara. Selama 2020-2222, serangkaian operasi militer polisi dan tentara telah mengonggokan 1.182 kasus penganiayaan, pemerkosaan, penangkapan, pembunuhan dan pembantaian di Tanah Papua. Sementara oleh lembaga kepolisian saja, sepanjang Juli 2021-Juni 2022, sebanyak 677 kasus kekerasan dilancarkan di berbagai daerah. Di bidang ekonomi dan politik, peningkatan eksploitasi pasar dunia bukan sekadar meningkatkan horor militerisme tapi juga kecenderungan proteksionisme yang membebankan seluruh biaya krisis kapitalisme ke pundak rakyat pekerja. Tahun 2023, birokrasi-birokrasi borjuasi imperialis dan kapitalis memaksakan 2.500 langkah proteksionis ke seluruh dunia. Segera setelah memenangkan Pemilu 2024, Rezim Prabowo mempromosikan politik proteksionis itu dengan menaikkan Pajak Pertambahan Nilai dari 11 menjadi 12 persen. Ini merupakan kebijakan menuju penghancuran yang lebih dalam di mana kenaikan pajak akan memangkas permintaan dan mengacaukan pertumbuhan ekonomi, yang selanjutnya mendorong rezim borjuis tergantung untuk menambah pinjaman luar negeri di mana untuk mendapat hutang lebih lanjut rezim ini harus menyenangkan lembaga donor imperialis dengan melaksanakan lebih banyak kebijakan proteksionis di masa mendatang, yang pada gilirannya kembali memangkas permintaan dengan semakin mendalam di mana semua kegilaaan ini selalu dipaksakan dengan kebrutalan tentara dan kepolisian.

Awal 2025 merupakan tahun yang dibuka dengan riuh kekacauan dan gejolak yang berlarut-larut. Di negeri tergantung ini krisis dunia kapitalisme bukan saja tercermin dalam gelombang-gelombang mobilisasi dan gerakan perlawanan kaum miskin dan tertindas tapi juga terpancar dalam keindahan yang penuh ironi dalam karya-karya seni yang progresif. Seni adalah bagian dari sarana kehidupan masyarakat yang paling halus dan sensitif, dan oleh karenanya, paling mudah terpengaruh oleh tekanan-tekanan sosio-historis. Dalam masyarakat kapitalis yang sedang sekarat, seni dapat mencerminkan kebusukan-kebusukan masyarakatnya secara estetik. Kaum Marxis mendekati estetika bukan dari kemewahan dan kenikmatan sensual yang dangkal. Kami memandang seni sebagai proses kehidupan yang paling halus, yang akarnya terletak di dasar jiwa manusia dan terkondisikan oleh realitas material yang konkret. Inilah mengapa seni bersifat figuratif; perannya bukan untuk memberi bukti dan numerik, melainkan mengungkap segala sesuatu yang bertabir. Dalam perjuangan untuk revolusi sosialis, seni berperan sebagai senjata ideologis yang penting sekaligus elemen yang kuat untuk membangun masyarakat masa depan. Seni bukan semata hiburan, hiasan dan kesenangan. Seni adalah sarana pengatur kehidupan yang dalam perjuangan kelas-kelas yang hidup dapat mengilhami kekuatan. Dalam kehidupan sehari-hari; gambar, musik, tarian dan sastra menjelma sebagai senjata yang lebih tajam daripada pedang. Semua karya artistik terbaik adalah yang berasal dari perjuangan massa, mengekspresikan dan menangkap suasana hati massa, dan bertindak sebagai pemberi motivasi dan edukasi. Inilah kreasi kemanusiaan yang dapat dengan mudah merasuki kehidupan manusia: menembus kedalaman jiwa, mempengaruhi psikologi dan mendorong menuju perjuangan massa. Ernst Fischer berkata: ‘seni diperlukan agar manusia dapat mengenali dan mengubah dunia. Tetapi seni juga diperlukan karena keajaiban yang inheren di dalamnya.’ Namun kelas penguasa tidak bisa membiarkan seni melaksanakan peran revolusionernya. Dalam masyarakat kapitalis, setiap karya seni progresif mendapatkan pembatasan yang luar biasa sebelum sampai di mata dan telinga massa. Mekanisme birokrasi dan segala institusi demokrasi borjuasi bertugas melancarkan represi dan isolasi supaya massa tidak mencapai tingkat budaya dan pemahaman yang lebih tinggi. Inilah yang ditunjukkan negara borjuis ketika membredel pertunjukkan karya lukis Yos Suprapto. 

Pada Desember 2024, negara mengerahkan tangan-tangan reaksinya untuk membredel pameran lukisan Yos Suprapto. Setiap orang yang berpikiran terbuka dan berprikemanusiaan pasti tersentuh menyaksikan kebiadaban itu. Di Galeri Nasional Indonesia, sebuah pentas yang disepakati digelar awal bulan bukan sekadar ditunda berkali-kali tapi juga digulung dengan upaya kriminalisasi yang keji dan hina. Institusi kesenian borjuis ini memerangi setiap keindahan artistik yang mengundang pemberontakan terhadap status-quo. Galeri borjuis bukan tempat untuk menyebarkan kutukan atas kemapanan, tetapi wahana mencari keuntungan, kekayaan, dan pengesahan kepemilikan pribadi. Di sini orang-orang tidak diajak melihat kebusukan kekuasaan tapi memujanya sepanjang waktu. Inilah mengapa pertunjukan lukisan-lukisan Suprapto harus dilarang dengan segala cara. Kelas penguasa begitu ngeri melihat karya-karya Suprapto. Lukisan surealisnya mengekspresikan realitas secara kontradiktif. Dengan cara ini seni surealis membongkar eksploitasi dan opresi yang tersembunyi di balik selimut ideologis peradaban borjuis. Surealisme berusaha menembus batas-batas penampilan untuk memahami hakikat fenomena sosio-historis. Surealisme mengungkapkan tata-krama yang sopan dan selera yang baik dari masyarakat borjuis sebagai kedok yang menyembunyikan perbudakan, perampokan, ketidakadilan dan kebohongan kelas borjuis. Dalam gambar surealis tabir kemunafikan dan kenyataan buruk tersingkap dengan bentuk-bentuk imajinatif dan warna-warna mencolok. Semuanya disuguhkan sebagai dunia yang aneh dan terbalik, mengandung paradoks dan sangat ironis. Inilah lukisan yang mencerminkan kecenderungan yang saling-bertentangan di bawah pengaruh perjuangan kelas-kelas sosial yang saling-berlawanan dalam masyarakat borjuis. Dalam gambar-gambar ‘Konoha I’ dan ‘Konoha II’ diperlihatkan kehidupan yang terkoyak dan bergejolak oleh kecenderungan kontradiktif; dunia di mana cahaya akal budi padam oleh nafsu binatang yang berkuasa. Inilah dunia yang dipenuhi teror dan kekerasan secara terorganisir yang berlangsung di atas penipuan dan korupsi yang ditampilkan dengan tidak tahu malu. 

Dalam ‘Konoha I’, Yos Suprapto melukis tentang kekuasaan tiran yang mengangkat dirinya menjadi Raja Jawa di atas penderitaan orang-orang yang dirampok dan ditindas di suatu negeri terbelakang. Ini digambarkan dengan keberadaan raja kegelapan kecil yang dimahkotai dengan kupluk maling bermata Sauron kecil; di mana mahkota ini tidak saja menjadi lambang kebesaran dan keangkuhan sebagai penguasa nasional, tetapi juga seperangkat antena kelemahan dan ketergantungan yang berfungsi menangkap arahan dan persetujuan dari raja kegelapan besar yang bersemayam di langit kejahatan internasional yang luas. Awan panas yang seperti kobaran api neraka dan bersemburat di atas mahkota Sauron yang menampung kepentingan iblis. Raja Jawa adalah perwakilan iblis yang singgasananya terukir kejam selaksa binatang buas. Dia duduk dengan penampilan berdasi kupu-kupu malam yang menunjukkan kerakusan dan kegemaran dalam pencarian kepuasan fisiologis dan seksual; berjas beludru hitam kelam yang dirajut dari benang-benang eksploitasi dan penindasan yang kompleks; berkemeja permata, berselempang emas, dan berlencana perak yang tercipta dari perbudakan pekerja di tambang-tambang; bersabuk batik dan berpita merah-putih yang mengindentifikasikan dirinya sebagai borjuasi nasional, yang melindungi kapital-kapital nasional di tengah keterikatan seribu-benangnya dengan modal-asing dan sisa-sisa feodal; dan berselendang hijau daun dan rerumputan pertanian yang tersulam dari jari-jari rakyat miskin yang petak-petak kecil lahannya dirampas dan pemukimannya digusur. Inilah Raja Jawa; yang tertawa cengir dan mengejek bengis sambil membentangkan jari telunjuknya ke bawah, ke arah massa-rakyat yang dinjak-injak dengan sepatu mewah yang menunjukkan penghinaan yang luar biasa terhadap kaum miskin dan pekerja. Dia menampilkan dirinya sebagai perwakilan dari kelas borjuis secara keseluruhannya, yang membangun kekuasaan ekonomi dan politik di atas tubuh-tubuh kurus dan kaku dari rakyat kecil yang bekerja keras sepanjang waktu, dan yang mempertahankan kekuasaannya dengan mesin birokrasi bersenjata yang melindungi dan memaksakan kepentingan kelas penguasa dengan menodongkan senjata kepada massa. ‘Konoha I’ memperlihatkan dunia yang sedang dihancurkan oleh kontradiksi kepemilikan peribadi terhadap alat produksi dan negara-bangsa. Di latar belakangnya, kesengsaraan dan kematian yang berlangsung dalam pertentangan kelas yang tidak-terdamaikan, hadir dengan taburan warna-warna yang kuat, keras dan tajam, dan berbenturan satu sama lain secara menegangkan. Daya visualisasinya mengusik hati dan pikiran. Lukisan ini menceritakan penghisapan dan kekerasan ekstrem dan disampaikan secara telanjang dan penuh kengerian dan kegetiran yang menggemparkan. Polisi dan tentara, hukum dan penjara, peradilan dan segala institusi demokrasi borjuis diterangkan sebagai alat pengendalian dan penundukan massa; di mana setiap gerak-gerik pembangkangan akan dilumpuhkan dengan borgol dan tembakan peluru, penangkapan dan penyiksaan, serta pembunuhan dan pembantaian yang paling gila. Inilah karya seni yang tercipta dalam masa-masa tergelap dan berlimpah bencana, dilukis dengan kuas hati yang terluka, dan diwarnai tinta yang mengalir dari keringat darah dan nanah rakyat yang menderita.

Lukisan Yos Suprapto mengungkap kejahatan kelas penguasa dan segudang penderitaan massa. Namun disampaikan dengan penuh keanehan yang merupakan hasil refleksi dari dunia yang tidak lagi menyatu dengan dirinya sendiri, yang retak di setiap titik di mana tanah di bawah kaki tidak lagi padat; apa yang padat berubah menjadi cair, dan begitupun sebaliknya. Ini adalah gambar yang takkan pernah bisa diterima oleh sudut pandang, norma-norma, dan filsafat borjuis. Penggambaran ini mengejutkan pandangan dominan yang telah mapan dengan penjajaran-penjajaran yang kontradiktif. Dan kualitas gambar yang mengerikan bukan sekedar mengganggu ketenangan di pelupuk mata kelas penguasa, tetapi terutama memiliki dampak yang jauh lebih besar dan luar biasa menggugah apabila sampai kepada orang-orang lapar yang hidup tersiksa dan terhisap. Ini adalah karya artistik yang tercipta atas kekacauan dan gejolak masa transisi: kemunduran kapitalisme dan kebangkitan sosialisme. Ketika suatu sistem sosial-ekonomi maju, ada perasaan percaya-diri dan optimisme umum di mana orang-orang sama sekali tidak mempertanyakan dan menggugat sistem yang berlaku, cita-cita dan moralitasnya. Tetapi jika suatu sistem masyarakat mundur, yang tumbuh adalah keputusasaan dan kesangsian mendalam terhadap tatanan yang ada di mana orang-orang akan melepas segala kepercayaan lamanya dan sebagian kecil di antara mereka akan memulai pencarian sistem baru untuk memajukan perkembangan masyarakatnya. Dalam masa transisi yang berlarut-larut. di mana sistem sosio-historis yang sedang sekarat telah menyediakan syarat obyektif penggulingannya. tetapi lapisan yang paling maju dan sadar-kelas dalam masyarakat ini belum berhasil membangun syarat subyektif yang memadai untuk penggulingan itu, maka penderitaan krisis transisional ini akan semakin parah dan perasaan skeptisisme dan sinisme universal akan tumbuh menyelimuti hati sanubari masyarakat. ‘Konoha II’ mencerminkan suasana hati tersebut. Lukisan ini berbicara tentang kemerosotan ekonomi dan ketidakstabilan politik yang semakin parah dengan keruntuhan tatanan sosial dan moral yang meluas. Di langit mata Sauron besar muncul menunjukkan kemahakuasaannya dan menyelimuti dunia dengan aura kejahatan yang mencekam. Kemunculannya seolah menandakan akhir dari dunia dan kehidupan umat manusia. Mata raja-dari-segala-raja kegelapan yang jahat dan penuh kebencian itu begitu tajam dan mengancam. Kekuatan dominasi dan pengaruhnya mencengkram sampai ke istana Raja Jawa. Ini berarti bertambah lemahnya borjuasi nasional di hadapan borjuasi imperialis di mana kebijakan-kebijakan politik nasional semakin banyak yang dirancang untuk menyenangkan imperialisme. Kebangkrutan negara dan demokrasi borjuis ditandai dengan kekerasan, korupsi dan kebohongan yang dipertontonkan secara tidak tahu malu. Potret telanjang laki-laki tambun dan perempuan bertanduk iblis menunjukkan itu.

Aktivitas menyantap makanan dengan ketelanjangan yang cabul bukan sekadar menjadi simbol dari seks dan individualisme, melainkan pula memperlihatkan hasrat menumpuk kekayaan dan kepemilikan properti. Namun ketelanjangan wanita bertanduk iblis di hadapan pria tambun yang sedang memakan buah-buahan tidak saja menunjukkan pengejaran kenikmatan sensual dan keserakahan duniawi tapi juga penindasan terhadap perempuan yang berlangsung dalam masyarakat kelas ini. Masyarakat kapitalis mengomodifikasi tubuh perempuan begitu rupa dan agama memainkan peran tersendiri untuk melanggengkannya secara keji dan paling tidak masuk akal. Pandangan Kristen maupun Islam menghukum perempuan sebagai penyebab ‘dosa daging’ atau ‘dosa asal’. Dalam setiap agama perempuan selalu disoroti sebagai makhluk yang lemah, terhina dan berlumur dosa. Para pemimpin agama sering-kali tertangkap basah menyaingi dan berusaha melampaui para penguasa duniawi dengan gaya hidup mewah dan harta-benda yang berlimpah. Dalam khotbah dan ceramah-ceramah mereka, orang-orang miskin yang bekerja-keras sepanjang waktu dicercahi penghinaan dan pembodohan luar biasa. Dari keluarga-keluarga miskin, mereka juga mengambil gadis-gadis mudanya untuk dipersunting dengan janji surgawi apa saja. Menggunakan selubung agama, perempuan-perempuan miskin bahkan diseret menjadi istri kedua, ketiga, dan seterusnya. Di bawah kekuasaan borjuasi, perempuan menjadi bagian dari propertinya. ‘Konoha II’ berbicara mengenai itu. Perempuan direndahkan ke tingkat benda dan benda-mati memperoleh karakteristik manusia. Ini berlangsung dalam ketamakan mengejar laba dan kenikmatan duniawi. Akumulasi digencarkan dengan mendorong peningkatan penghisapan nilai-lebih, perluasan dan perdalaman eksploitasi pasar tenaga kerja dan bahan mentah, yang berada di bawah kontrol birokrasi borjuasi. Institusi kekerasan yang terorganir ini dilukiskan dengan babi-babi. Mereka melayani kepentingan kelas penguasa: melancarkan berbagai operasi penegakan hukum dan demokrasi untuk mengisi meja makan borjuasi.

Berkait pembersihan jalan untuk aneka proyek pembangunan dan investasi, pasukan babi selalu dikerahkan secara meraksasa. Pengerahan babi-babi bersenjata berfungsi mengamankan dirubahnya bukit dan gunung-gunung menjadi tambang-tambang emas dan batubara, sungai dan lautan menjadi tambang-tambang pasir dan mutiara, hutan-hutan adat dan pedalaman menjadi perkebunan-perkebunan sawit dan karet, petak tanah dan pemukiman penduduk menjadi jalan tol dan bandara. Di bawah kendali kawanan babi yang parasit dan korup inilah upah pekerja ditekan semurah-murahnya dan keuntungan borjuasi didulang sebanyak-banyaknya. Harta-benda konglomerat terus bertambah di atas perampokan, pengangguran, kemiskinan dan kelaparan yang merajalela. Di samping tumpukan kekayaan minoritas pemilik properti, kehidupan mayoritas rakyat sangat menyakitkan, biadab dan pilu. Ini adalah dunia yang gelap, gila, dan kacau. Ada buruh tanpa status dan kesepakatan kerja. Ada petani tanpa sepetak tanah. Ada perempuan hamil tanpa lelaki yang menghamilinya. Ada ibu tanpa suami. Ada bangsa tanpa hak menentukan nasib sendiri. Ada minoritas seksual dan keyakinan tanpa diakui. Ada penulis buku tanpa isi. Ada pembaca literatur yang bodoh. Ada pendengar pidato yang tuli. Ada koruptor yang digugui dan dilindungi. Ada penghisap dan penindas yang dijilat dan dibela. Inilah kehidupan yang ironis dan membuat orang-orang tak sebatas skeptis tapi juga pesimis. Keputusasaan menjalar. Agama, alkohol, atau narkoba dijadikan sebagai obat penenang atas penderitaan hidup. Agama mengasingkan ke langgar-langgar ibadat; alkohol dan narkoba mengasingkan ke sarang-sarang kriminalitas—kesemuanya memalingkan dari realitas dan menjebak dalam ilusi-ilusi yang vulgar. Kehidupan masyarakat kelas ini terus merosot. Laki-laki dan perempuan miskin yang tidak mendapat pekerjaan produktif dengan terpaksa mengemis dan melacur. Gerombolan yang gemar berbagi remah-remah di depan layar dan menyewa pelacur di belakang layar adalah hartawan dan pejabat. Yang pertama, hadir sebagai dermawan di sudut-sudut jalan dan mimbar-mimbar akbar. Yang selanjutnya, berwisata selangkangan di rumah-rumah bordil, bilik-bilik kantor, dan pesta-pesta tertutup.

Teruntuk urusan politik, kelas penguasa memelihara onggokan intelektual dan aktivis jalang yang bersedia menjilat kemaluan dan pantat mereka asal dibayar. Dalam ‘Konoha II’, Yos Suprapto melukis gerombolan penjilat dengan sangat menjijikan. Dengan tubuh telanjang yang diberi pewarnaan kontradiktif antara biru dan ungu, mereka bukan saja digambarkan tidak tahu malu tapi juga tidak memiliki prinsip perjuangan yang konsisten. Mereka hidup dengan menjilat pemodal, birokrat, dan bahkan spesies mereka sendiri. Mereka bersaing satu sama lain: bertengkar, saling-mencekik dan menginjak. Semuanya dilakukan untuk menyentuh wilayah kesenangan borjuis dan meraih tetes kesejahteraan dari meja makan yang disangga oleh babi-babi birokrat. Gerak-gerik mereka licin seperti ular: merayap di cela-cela sempit dengan kepala plontos yang licik, silatan lidah yang beracun, dan lilitan ekor yang kuat. Sebagai kawanan bernafsu binatang, ular-ular borjuis-kecil dapat bermain dengan babi-babi penegak hukum dan militer. Meja makan adalah kunci dari ‘Konoha II’. Meja makan dengan segala produk ekonomi kapitalis yang tersimpan di atasnya menjadi simbol dari keterasingan manusia. Di dunia yang dipenuhi orang-orang miskin dan lapar, pemandangan kerakusan hadir sebagai kontradiksi yang paling liar dan mengusik jiwa. Di sini diceritakan tentang ketidakadilan ekstrem di mana ketimpangan kekayaan dan kemiskinan muncul dengan warna-warna yang kuat dan tajam. Kekuasaan cabul yang diatur oleh keserakahan itu dilindungi oleh komplotan babi dan manusia ular dengan melancarkan kekerasan dan kebohongan. Keruntuhan tatanan sosial dan moral ini memekarkan kekacauan dan ketidakpastian yang mengerikan. Perasaan frustasi menyebar ke mana-mana. Lapisan-lapisan yang paling konservatif dan terbelakang dalam masyarakat menunjukkan keputusasaan mendalam dengan melarikan-diri pada agama dan narkoba. Lapisan-lapisan muda dan majunya melancarkan perlawanan yang begitu rupa. Kaum buruh, tani dan rakyat miskin kota, perempuan dan bangsa tertindas, dan pelajar bergerak bersama. Semua yang memendam amarah dan kebencian mendalam, dan berkeinginan mengakhiri penderitaan hidup yang tiada terperikan, termobilisasi dalam aksi-aksi massa. Yos Suprapto melukiskan mereka seperti banjir bandang yang datang menggempur ketamakan dan kerakusan borjuasi. Laki-laki dan perempuan bangkit dengan gagah-berani menenteng senjata di lengannya namun babi-babi dan manusia ular merintangi jalannya.

Dalam perjuangan buruh dan muda, manusia-manusia ular dan babi-babi selalu berkomplot untuk merintangi penggulingan kapitalisme secara revolusioner. Dan tatkala manusia ular memimpin perjuangan massa, mereka akan melemahkannya secara brutal dan munafik. Pada setiap kesempatan mereka berusaha membawa gerakan ke jalan buntu: berdamai dengan negara dan demokrasi borjuis. Setiap gerakan yang dipimpin dililit dan diracuni dengan kebohongan-kebohongan besar. Laki-laki dan perempuan diajarkan bahwa krisis dunia kapitalisme bisa diakhiri tanpa harus menghancurkan mesin birokrasi dan mengekspropriasi kepemilikan borjuasi. Dengan kata lain, mereka menyangkal signifikansi kebenaran revolusi sebagai lokomotif sejarah. Mereka mungkin memimpin orang-orang untuk mengatasi masalah-masalah pengangguran, kemiskinan, kelaparan, buta-huruf, prostitusi, korupsi, penyalahgunaan narkoba, perampasan tanah, dan pembatasan hak bangsa menentukan nasib sendiri. Tetapi mereka tidak pernah membantu orang-orang untuk memahami unsur-unsur barbarisme ini sebagai akibat dari kontradiksi mendasar dalam kepemilikan pribadi terhadap alat produksi dan negara-bangsa. Alih-alih berjuang untuk memajukan kesadaran massa, kaum reformis dan liberal borjuis-kecil membelenggunya dengan ide-ide yang membingungkan dan merusak. Dalam masa-masa kemunduran kapitalisme dan gerakan buruh, mereka menetapkan solusi individual untuk menjawab kompleksitas pertanyaan perjuangan kelas dan menciptakan aneka ide mewah yang menghidangkan penjelasan abstrak mengenai kekalahan proletar: subyektivisme, relativisme, skeptisisme, agnostisme, dan beragam kecenderungan idealisme filosofis lainnya. Postmodernisme merupakan tampilan mutakhir dari kemerostan filsafat borjuis di zaman krisis kapitalisme. Ajaran ini memberi bahasa kekuatan magis dengan mereduksi filsafat menjadi persoalan semantik, menolak kemajuan historis dengan radikalisme terminologis, dan menyangkal realitas dengan penalaran idealisme yang paling kasar. Mereka anti terhadap sains, meta-narasi, dan kebenaran obyektif. Sebagai konsekuensinya, kaum postmodernis menyangkal keabsahan Sosialisme Ilmiah.

Salah satu pemimpin liberal postmodernis yang sedang menggila hari-hari ini adalah Badai NTB. Mengekspresikan kemerosotan gerakan massa borjuis-kecil dalam krisis dunia kapitalis dan ketertinggalan historis daerahnya, Badai memimpin Gerakan Pemberantasan Narkoba dengan karakter kepemimpinan yang sangat reaksioner: penjilat yang konformis, reformis yang egosentris, dan oportunis yang tidak berprinsip. Di hadapan publik, dengan seabrek alat publisitas yang dijalankan dan disewanya dia membangun citra dengan narasi-narasi postmodernis yang kacau dan merusak. Segala sesuatu diperlakukannya sebagai alat dan dirinya sendiri adalah pusat. Egosentrisme, subyektivisme, dan individualisme terekspresikan dalam keseluruhan tulisan dan pembicaraannya. Aktivitas politik dalam gerakan-gerakan borjuis-kecil berpengaruh besar bagi pembentukan kepribadiannya. Pembangunan organisasi dan aksi-aksi yang mengandalkan kerjasama dan kedekatan dengan birokrat membentuk pribadinya menjadi pemburu harta-karun yang rakus. Dalam membangun gerakan selama ini dia mengkhususkan diri untuk menjilat birokrat demi terus eksis dan berkarir. Tatkala pendulum politik berayun ke kiri, ia tanpa sungkan masuk ke dalam gerakan borjuis-kecil radikal yang cenderung revolusioner; ketika pendulum politik beralih ke kanan, ia dengan mudah keluar untuk berpindah ke sisi babi-babi birokrat. Tahun 2021, Badai menjadi salah satu pimpinan organisasi yang mengisi struktur Aliansi Mahasiswa dan Rakyat NTB. Bersama pemimpin-pemimpin organisasi mahasiswa radikal, Badai berusaha memimpin perjuangan massa AMR. Namun saat gerakan dikriminalisasi di mana para pemimpin aliansi mendapat panggilan interogasi dari polisi, Badai ternyata lebih dahulu bertemu dengan intelijen dan mengontak Kapolda NTB secara pribadi. Segera setelah AMR mati, Badai berhenti berhubungan dengan politik kiri dan mulai bergerak dengan politik kanan. Pada 2022, Badai mendeklarasikan berdirinya SEMMI—organisasi yang berlandaskan obskurantisme agama—atas bantuan intelijen dan persetujuan gubernur. Perspektif dan programnya adalah sepenuhnya mendukung negara dan demokrasi borjuis. Demi menikmati tetesan kesejahteraan yang mengalir dari meja makan borjuis, Badai tidak malu untuk berkawan dengan babi-babi birokrat. Badai tidak pernah memiliki prinsip pasti dalam perjuangan apa saja, kecuali kebaikan dan kemanfaatan untuk pribadinya sendiri. Bohong kalau dirinya berjuang untuk generasi. Perjuangan untuk masa depan angkatan buruh dan muda hari ini, untuk memajukan kekuatan produktif umat manusia, tidak boleh sedikitpun bekerjasama dengan babi-babi birokrasi.

Mengatakan bahwa Badai berjuang untuk angkatan-angkatan baru adalah ketidaktahuan besar. Berjuang untuk massa-rakyat tapi dengan mendukung penguatan tentara dan polisi, hukum dan penjara, peradilan dan seluruh institusi demokrasi borjuasi, adalah sesungguhnya perjuangan untuk diri sendiri tapi mengatasnamakan orang-orang biasa yang tak-ternama dan tidak dikenal di pundak sejarah. Pemimpin macam ini adalah penipu yang berusaha menaiki gelombang frustasi massa terhadap persoalan narkoba. Namun dalam periode kemunduran perjuangan massa revolusioner, Badai berhasil terdorong menjadi mulut dan rupa dari massa yang frustasi itu. Konteks sejarah saat ini memang cenderung memudahkan bangkitnya sosok-sosok dengan kepribadian seperti Badai. Laki-laki dan perempuan membuat sejarah mereka sendiri, tetapi tidak dapat menciptakannya dengan sesuka-hati; karena ruang-lingkup dan hasil tindakan manusia dibatasi oleh konteks sosio-ekonomi yang independen dari keinginannya. Dengan kata lain: periode yang berbeda membutuhkan kepribadian yang berbeda. Ada saat-saat di mana sejarah menuntut tampilnya seorang yang berwawasan luas dan mendalam, pejuang yang percaya pada prinsip dan cita-cita besar, dan mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan umat manusia. Tetapi juga ada saat-saat di mana sejarah menuntut tampilnya seorang yang filistin dan bigot, pejuang yang munafik dan bercita-cita tidak pernah lebih luas dari piring nasi, yang menjilat birokrasi dan mengkhianati massa demi kemakmuran pribadi. Pemimpin dengan kepribadian yang pertama tidak cocok untuk periode kemunduran; dia hanya dapat meraih pengaruh dalam periode kebangkitan. Dan pemimpin dengan kepribadian yang kedua tidak cocok untuk periode kebangkitan; dia hanya memiliki pengaruh dalam periode kemunduran. Ini adalah periode kemunduran dan inilah alasan mengapa penjilat seperti Badai dibutuhkan dan tampil sebagai pemimpin yang berpengaruh. Namun pengaruhnya tentu saja terbatas karena kepribadian dan keinginan seseorang takkan mungkin menentukan jalannya perjuangan kelas yang besar. Intrik dan manuver tidak bisa mengendalikan arus sejarah yang kuat. Cepat atau lambat, peristiwa akan mengekspos Badai sebagai penjilat dalam arti yang paling eksplisit. Laki-laki dan perempuan akan mengetahui segala kebusukan Kepemimpinan Badai. Terutama yang menyangkut Gerakan Pemberantasan Narkoba. Mengenai obat-obatan yang disalahgunakan sebagai narkoba, pertama-tama dan paling utama, Badai menyatakannya sebagai ‘barang haram’; bukan hasil kreasi umat manusia yang dapat membuka jalan bagi penemuan-penemuan baru. Lebih jauh penyalahgunaan narkoba tidak diterangkan sebagai bentuk keterasingan dalam masyarakat borjuis yang sedang sekarat tapi tindakan kriminal yang harus diberantas dengan menghukum individu. Solusi individual yang berlandaskan idealisme subyektif ini sangat disukai kelas penguasa karena bukan saja akan menguatkan cengkeraman babi-babi dalam mengontrol massa, tetapi juga akan mengatomisasi laki-laki dan perempuan dalam setumpuk prasangka dan memecah-belah persatuan dan solidaritas kelas di antara orang-orang miskin yang terhisap dan tertidas di mana-mana. Dengan solusi macam inilah seluruh generasi terancam terisolasi dari perjuangan massa yang merupakan medan ofensif dan defensif bagi Sosialisme Ilmiah.

Ide-ide postmodernisme borjuis-kecil adalah musuh bebuyutan Marxisme. Dari kalangan akademisi, serangannya terhadap Marxisme dilancarkan dengan menggencarkan revisionisme. Mereka membuat sederet karya akademik dan populer yang berisi kutipan teori-teori Marxis, tetapi hanya untuk mengkritik masyarakat kapitalis secara setengah-hati dan tidak-pernah memaparkan bagaimana caranya menggulingkan kapitalisme secara revolusioner. Bahkan yang paling menjijikan, adalah ketika mereka menjelaskan Marxisme sebagai ajaran yang sudah tak-relevan dan upaya pembangunan masyarakat tanpa kelas sangatlah tak-memungkinkan. Sementara di sektor mahasiswa, tendensi-tendensi revisionis menampilkan dirinya dalam seabrek gerakan sosial yang menggunakan Marxisme sebatas menjadi pisau analisa untuk investigasi dan advokasi tanpa menekankan pembangunan kepemimpinan revolusioner dan kediktatoran proletariat. Mereka tampil memperjuangkan program-program minimumnya secara heroik, terjun ke daerah-daerah konflik, mengawal persoalan-persoalan kaum miskin kota dan desa, tidur dan beraktivitas bersama petani. Mereka berusaha membangun kekuatan dan kemandirian rakyat dengan pemberian pendidikan, pelatihan, dan pendirian unit-unit usaha yang begitu rupa. Tetapi tidak ada satupun di antara mereka yang berusaha meyakinkan orang-orang ke arah politik revolusioner yang sejati. Walaupun para pemikir dan aktivis gerakan sosial ini memiliki akses ke dalam serikat-serikat buruh, namun mereka berkeyakinan belum saatnya untuk memperkenalkan para pekerja dengan ide-ide sosialisme yang tinggi. Seperti memandang kaum tani dan rakyat miskin kota, mereka berpikir kalau buruh lebih tertarik pada persoalan pemenuhan kebutuhan sehari-hari ketimbang teori. Orang-orang ini tidak mengerti kalau perjuangan kelas bukan sekadar perjuangan politik dan ekonomi tapi juga teori. Kelas pekerja tidaklah berada di ruang hampa, melainkan dikelilingi oleh kelas-kelas sosial lain dengan ide-ide kelas-asingnya. Di tengah gempuran inilah perjuangan filosofis menjadi perlu untuk membentengi proletariat dari musuh-musuh kelasnya. Namun pada umumnya kaum intelektual dan populis tidak meyakini rakyat pekerja dapat memahami Marxisme. Mereka bukan saja tidak mengerti bahwa di dalam heterogenitas kesadaran massa terdapat lapisan terbelakang dan termaju, tetapi juga menyangkal kalau kesadaran yang konservatif dalam momen-momen tertentu dapat berubah menjadi radikal dan revolusioner. Demikianlah perjuangan untuk revolusi dan sosialisme akhirnya ditunda demi pendekatan-pendekatan sederhana dan murni ekonomi. Pendekatan ini dielu-elukan sebagai upaya membumikan teori-teori yang melangit dan merupakan tindakan mutakhir untuk merelevansikan Marxisme. Di antara pemimpin partai buruh dan organisasi-organisasi mahasiswa, pemikiran Ernest Laclau dan Chantal Mouffe menjadi salah satu teori postmodernis yang ditasbihkan dengan istilah ‘Narasi Kiri’. Gagasan itu menekankan bahwa negara sebagai medan yang ‘netral’ dan menganjurkan perjuangan kelas buruh untuk tidak-menghancurkan ‘negara borjuis’ tapi sebatas menanam ‘hegemoni’ di struktur kenegaraan melalui pintu-pintu yang disediakan oleh ‘demokrasi borjuis’. Semua yang dipuja sebagai pembaharuan tersebut dalam praksisnya menunjukkan penyangkalan besar terhadap filsafat materialisme dan metode dialektika Marxisme, terutama yang berkaitan dengan penjelasan umum tentang proses perkembangan sejarah dan kesadaran manusia yang memberi tempat untuk revolusi dan lompatan-lompatan kualitatif. Pada Jurnal Dielektika I (Melawan Postmodernisme), Front Muda Revolusioner (FMR) menulis:

“Perjuangan kelas revolusioner tidak dapat direduksi menjadi perjuangan untuk roti dan mentega semata. Di antara banyak sekte yang mengklaim sebagai Marxis yang tak terhitung jumlahnya dan kerap berselisih satu sama lain, sering kali kita temui kebencian terhadap teori yang terselubung dan penyembahan pada apa yang mereka sebut ‘isu-isu praktis’…. Buruh yang paling maju dan militan mencari asupan gizi yang lebih memuaskan. Mereka ingin memperoleh pemahaman yang mendalam tentang dunia mereka. Mereka haus akan pengetahuan dan ide, dan tidak takut mendalami teori. Adalah tugas kaum Marxis untuk membantu mereka mendapatkan ide-ide itu…. Perjuangan untuk teori adalah prasyarat mendasar untuk mempersiapkan buruh untuk perjuangan perebutan kekuasaan. Siapapun yang tidak memahami ini tidak memiliki pemahaman tentang apa itu Marxisme. Di samping perjuangan ekonomi dan politik, seperti yang dijelaskan Engels, kelas buruh juga harus berjuang melawan ide-ide dominan dalam masyarakat borjuis…. Materialisme dialektis tetap menjadi salah satu senjata terpenting dalam gudang persenjataan revolusioner kita. Dan karena materialisme dialektis adalah dasar dan fondasi Marxisme, maka cukup logis bahwa dari semua teori Marx, tidak ada teori lain yang diserang, diselewengkan, dan difitnah sedemikian rupa. Di masa sekarang, senjata paling dominan yang digunakan kaum borjuasi untuk melawan Marxisme adalah postmodernisme, yang merupakan bentuk paling kasar dari idealisme subyektif. Kehormatan untuk melawan arus, untuk memerangi ide-ide mistis dan irasional ini, jatuh ke pundak kaum pelopor revolusioner kelas buruh.”

‘Konoha I’ dan ‘Konoha II’ mengekspresikan realitas perjuangan massa hari-hari ini. Rasa kontradiksinya begitu kuat dan menggugah. Kita tidak saja melihat konflik yang menyakitkan dari kecenderungan-kecenderungan yang berlawanan tapi juga merasakannya, menyentuhnya, mendengarnya, dan menciumnya. Kekuatan surealismenya mengangkat ke permukaan bumi perasaan masyarakat yang telah lama terpendam di bawah tanah borjuis. Lukisan-lukisan Yos Suprapto berbicara kepada kita dengan keras dan jelas. Citraannya begitu hidup, memberi makan jiwa-jiwa yang lapar, dan mengilhami pemberontakan pada tatanan yang sedang sekarat. Setiap seniman hebat, yang walaupun kurang terlatih secara politik, kerap-kali mampu merasakan suasana hati tertentu yang sedang berkembang di tengah masyarakat, dan memberikannya ekspresi yang mendalam dan jujur. Suprapto adalah salah satunya. Kaum buruh dan muda harus mengangkat topi, memberikan penghormatan yang tulus, dan membela karya kemanusiaannya. Saat ini kreasi artistik yang bersifat ofensif dari Suprapto sedang menghadapi serangan-balik yang keji. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menuding kalau karya Suprapto mengandung unsur pornografi. Pejabat kementrian yang berasal dari Partai Gerindra ini menyorot gambar bugil dari pelukis surealis itu sebagai obyek yang dapat membangkitkan birahi. Lebih seenak jidadnya lagi, lukisan Suprapto dipandang melanggar moralitas agama. Keyakinan buta yang dipenuhi mitos dan takhayul adalah elemen utama dalam kebudayaan masyarakat terdahulu, yang tampil sebagai bentuk penting pengetahuan manusia yang mengekspresikan kelemahannya di hadapan alam dan ketidakberdayaannya dalam aktivitas sosio-ekonominya. Mitos dan takhayul tercipta dalam imajinasi yang palsu atas fenomena-fenomena alam dan institusi-institusi sosial dalam interkoneksitasnya. Di masa lalu yang jauh, kaum borjuasi berkuasa atas perjuangan yang berkeras-kepala dalam melawan penguasa tanah feodal dan ekspresi tertinggi ideologi feodalisme—obskurantisme agama. Mereka dilahirkan ke muka bumi dengan mengemban tugas historis untuk menyingkap kemunafikan feodalis yang membelenggu kemajuan umat manusia. Namun sekarang kapitalisme telah mencapai batasnya dan menjadi kebalikannya. Ketika sistem masyarakat telah menghabiskan potensinya, umat manusia diperhadapkan dengan gejala-gejala pembusukan yang berbahaya: krisis ekonomi, kemiskinan dan pengangguran umum, perang-asing dan konflik-internal, pembusukan moral dan ide, yang tercermin secara telanjang dalam kemerosotan agama dan segala moralitas lama, disertai dengan munculnya kecenderungan mistis dan irasional yang tidak tahu malu, rasa kesangsian dan keputusasaan umum, penghancuran seni dan budaya maju.

Kehidupan umat manusia sedang digempur oleh gejala pembusukan dunia kapitalis. Dan seni sebagai bagian yang paling halus dan sensitif dalam masyarakat ini mengekspresikannya secara jelas. Kemunculan mata Sauron besar dalam lukisan Suprapto mengabarkan dunia kapitalis yang sedang sekarat dan akan berakhir. Mata Sauron yang menyelimuti langit tidak sekadar menjadi simbol dominasi dan kejahatan imperialis, melainkan pula mengantisipasi kebangkitan perjuangan kelas revolusioner internasional di masa mendatang. Relasi kepemilikan pribadi yang diperluas dengan gairah persaingan sudah memasuki tahapan monopoli yang menghacurkan seluruh dunia. Pemaksaan kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara-bangsa sepenuhnya berubah menjadi hambatan bagi perkembangan kekuatan produksi yang ada. Di bidang industri dan pertanian, penghisapan nilai-lebih membengkakkan pengangguran dan kemiskinan umum yang meledakkan perasaan putus-asa dan rendah-diri. Di bidang ilmu-pengetahuan dan teknologi, pengejaran laba menumpulkan penalaran dan mempromosikan penemuan ilmiah sebagai senjata pemusnah. Kaum borjuasi di manapun mereka berada sudah berhenti memainkan peran progresif. Pada kesimpulan terkahir: apa yang rasional menjadi irasional, dan oleh karenanya, menyatakan kebenaran menjadi ancaman bagi kelas borjuis. Reaksi bengis terhadap lukisan Suprapto menunjukkan irasionalitas tersebut. Ini adalah keangkuhan moral dan pembodohan intelektual yang mengalir dari kepentingan kelasnya untuk mempertahankan kekeramatan kepemilikan properti dan mesin birokrasinya dengan memperdalam eksploitasi dan opresi terhadap massa rakyat. Dengan membredel pameran lukisan Yos Suprapto, kelas borjuis menjauhkan perjuangan buruh dan muda dari instrumen pembebasan yang luar biasa menggugah dan indah. Dan atas tebaran obskurantisme agama untuk melumuri keindahan artistik, kelas penguasa mencekoki kesadaran massa dengan racun idealisme filosofis yang setara penyalahgunaan narkoba. Dalam Jurnal Dialektika VII (“Seni dan Sosialisme”), Front Muda Revolusioner (FMR) berkata:

“Materialisme berusaha mengeksplorasi berbagai relasi yang menghubungkan semua bentuk pemikiran—termasuk seni dan agama—dengan kehidupan nyata manusia, yaitu kehidupan sosial mereka. Pada analisis terakhir, perubahan dari cara berpikir kita akan berasal dari perubahan dalam masyarakat. Namun, hubungan antara pemikiran dan keberadaan sosial tidaklah otomatis atau mekanis. Hubungan ini kompleks, kontradiktif, dengan kata lain bersifat dialektis…. Sepanjang sejarah apa yang kita sebut sebagai peradaban, yaitu masyarakat kelas, gagasan-gagasan yang dominan adalah gagasan kelas penguasa yang memonopoli budaya. Massa rakyat telah secara sistematis dikesampingkan dari budaya. Sementara kaum idealis melihat seni sebagai manifestasi independen dari jiwa manusia—sesuatu yang misterius dan tak dapat dijelaskan, yang muncul dari imajinasi manusia semata, atau ilham ilahi yang diturunkan dari langit—dalam masyarakat kelas selalu ada setidaknya dua-budaya: budaya yang dominan, yang biasanya meliputi institusi seni dan sastra yang paling maju, dan budaya paralel yang beredar di antara kelas-kelas yang dieksploitasi…. Kehidupan mayoritas orang dihabiskan melakukan kerja yang menjemukan dan tak ada akhirnya. Mereka mencari pelarian dari kerja yang menjemukan itu dengan berbagai cara. Penyair Prancis Baudelaire merujuk pada ‘Les Paradis Artificiels’, yaitu surga buatan seperti narkoba dan alkohol, yang berfungsi sebagai pelarian dari kehidupan sehari-hari yang monoton. Kemudian, tentu saja, ada surga buatan yang paling utama, yang paling keras dari semua obat keras, yang kita sebut agama, yang menawarkan kepada semua orang prospek yang menggiurkan akan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan abadi—setelah mereka mati.”

Agama adalah warisan kebudayaan masa lalu yang masih bertahan di tengah keterbelakangan sosio-ekonomi Dunia Ketiga. Kelas borjuis yang sudah tidak progresif lagi mengadopsi agama dalam gudang persenjataannya untuk menjinakkan massa. Agama ditawarkan sebagai penghiburan kepada laki-laki dan perempuan yang tersiksa dan menderita dalam masyarakat borjuasi ini. Orang-orang yang bertahan hidup dengan mengais roti dari kubangan lumpur dan debu, dengan tangan-tangan keriput dan wajah-wajah yang menua sebelum waktunya, berjalan dengan tubuh-tubuh yang terhuyung-huyung karena kerja keras, yang bermandikan keringat dan air mata, dan tidur terlentang dengan perut lapar, berbantalkan kemiskinan dan penghinaan yang tiada-tara; orang-orang yang sepanjang kehidupannya terbenam di kedalaman pusara eksploitasi dan opresi, tanpa keliauan cahaya, kesejukan udara dan wewangian bunga—orang-orang terhisap dan tertindas inilah yang dicekoki setiap harinya dengan idealisme kehidupan sejahtera dan abadi setelah kematian. Agama menjanjikan kenikmatan surgawi: kebahagiaan yang penuh gairah di akhirat nanti di mana semua penghuninya bisa makan kenyang di atas dipan-dipan sensual yang di bawahnya mengalir sungai-sungai susu. Melalui segudang alat publisitasnya, kelas penguasa menyiarkan dogma-dogma keagamaan yang pada intinya menekankan kesatuan obskurantisme yang berkontradiksi secara buta: pertama—ancaman dosa dan hukuman neraka terhadap setiap pembangkangan duniawi; kedua—menuntut kepasrahan dan kesabaran yang membabi-buta untuk mendapat tiket surgawi. Di genggaman kelas penguasa, khayalan akan kehidupan kedua yang lebih baik dan penuh nikmat menjadi iming-iming yang disebarluaskan untuk merintangi perjuangan massa. Dalam masyarakat kapitalis, obskurantisme agama dipupuk guna melancarkan eksploitasi dan penindasan terhadap massa. Babi-babi bersenjata tidak sekadar melakukan kontrol dan pengawasan melalui borgol, penjara dan seperangkat aturan legal melainkan pula menggunakan belenggu spiritual secara brutal. Kelas pekerja yang dihancurkan secara mental dan fisik atas penerapan jam kerja yang panjang, upah yang rendah, dan serangan-serangan standar hidup yang tajam, diceramahi dengan ajaran-ajaran keagamaan yang menuntut mereka untuk mendiamkan perlakuan sewenang-wenang dan keji tersebut.

Agama menganjurkan rakyat pekerja untuk bersabar dan ikhlas dalam menghadapi perlakuan-perlakuan buruk borjuasi. Agama memberitahukan kalau siksaan dan penderitaan hidup di dunia yang dilalui dengan tabah dan sabar akan mendapat balasan yang terbaik dari Yang Maha Kuasa. Di akhirat, Tuhan diyakini pasti menepati janji-janjinya kepada orang-orang yang beriman dengan memasukan hamba-hambanya yang terhisap dan tertindas ke surga dan menyeret gerombolan penindas dan penghisap ke neraka. Tuhan diberitahukan adalah hakim yang paling adil untuk hamba-hambanya. Tidak ada yang dapat menentang kehendak-Nya. Tugas umat beragama hanyalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Agama mengajarkan bahwa esensi dari kehidupan umat manusia adalah ibadah; yakni, berserah-diri dengan tunduk dan patuh untuk menyembah Tuhan semata. Dogma inilah yang terus-menerus dirawat untuk meredam kemarahan dan perlawanan kelas pekerja. Borjuasi membentuk kementerian dan lembaga-lembaga pemerintahan yang mengatur urusan agama masyarakatnya. Setiap harinya babi-babi birokrasi mencampuri urusan-urusan masyarakat keagamaan melalui beragam perangkat kekuasaannya. Tempat-tempat ibadah modern, sekolah maupun kampus, koran dan televisi, serta beragam alat publisitas yang ada memborbardil pikiran laki-laki dan perempuan pekerja dengan dogma-dogma yang menjebak dalam ketenangan-ketenangan semu. Inilah mengapa aktivitas-aktivitas reproduksi di rumah tangga-rumah tangga rakyat pekerja di mana momen-momen yang seharusnya dapat digunakan untuk beristrahat dalam rangka memulihkan tenaga, atau waktu-waktu luang yang sangat terbatas tapi dapat digunakan untuk berorganisasi, belajar dan berjuang untuk memajukan kehidupannya, ilmu-pengetahuan dan budaya, justru dililit oleh dorongan-dorongan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan peribadatan yang memabukkan dan mengalihkan dari realitas tatanan kapitalisme yang tidak-manusiawi. Dalam “Sosialisme dan Agama”, Lenin menjelaskan bahwa obskurantisme agama merupakan bentuk penindasan spiritual yang membebani kelas proletar dengan kerja keras yang terus-menerus dan impotensi di hadapan borjuasi:

“Impotensi kelas-kelas yang tereksploitasi dalam perjuangan melawan para pengeksploitasi membawa pada kepercayaan akan kehidupan yang lebih baik setelah kematian, sebagaimana impotensi orang-orang biadab dalam pertarungannya dengan alam memunculkan kepercayaan pada dewa, setan, mukzijat, dan sejenisnya. Mereka yang bekerja keras dan hidup dalam kekurangan sepanjang hayatnya diajarkan oleh agama untuk tunduk dan sabar selama berada di dunia, dan merasa nyaman dengan pengharapan pahala surgawi. Namun mereka yang hidup dari hasil kerja orang lain diajarkan oleh agama untuk melakukan amal selagi berada di dunia, sehingga menawarkan mereka cara yang sangat mudah untuk membenarkan seluruh keberadaan mereka sebagai pengeksploitasi dan menjual tiket dengan harga murah untuk mendapatkan kesejahteraan di surga. Agama adalah candu bagi masyarakat. Agama adalah sejenis alkohol spiritual, yang di dalamnya para budak kapital menenggelamkan citra kemanusiaan mereka, tuntutan mereka akan hidup yang kurang-lebihnya layak bagi manusia. Namun seorang budak yang sadar akan perbudakan yang dialaminya dan bangkit untuk memperjuangkan emansipasinya, sudah separuh berhenti menjadi budak. Pekerja modern yang sadar kelas, yang dibesarkan oleh industri skala besar dan tercerahkan oleh kehidupan perkotaan, dengan sikap merendahkan akan mengesampingkan prasangka keagamaan, menyerahkan surga kepada para pendeta dan kaum borjuis yang fanatik, dan berusaha memenangkan kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri di dunia ini. Kelas proletar saat ini berpihak pada sosialisme, yang melibatkan ilmu-pengetahuan dalam perjuangan melawan kabut agama, dan membebaskan kaum buruh dari keyakinan mereka akan kehidupan setelah kematian dengan menyatukan mereka untuk berjuang di masa kini demi kehidupan yang lebih baik di dunia ini.”

Sepanjang kelangsungan masyarakat kelas, agama selalu menjadi salah satu ekspresi keterasingan manusia. Mengenai kepercayaan keagamaan modern, Marxisme memandang bahwa obskurantisme—yang merupakan elemen utama dari setiap agama—berakar pada eksploitasi dan opresi terhadap kelas pekerja serta keputusasaannya di hadapan irasionalitas kapitalisme. Kaum Marxis tidaklah menyerukan pertempuran melawan orang-orang tereksploitasi dan tertindas yang memeluk agama ini atau itu, melainkan melancarkan perjuangan tanpa ampun untuk menyingkirkan tabir gelap dan menyingkapkan kepentingan kelas penguasa yang berlindung di balik kedok agama. Dalam masyarakat kapitalis, kita menyaksikan bagaimana agama digunakan sebagai alat pengekang kehidupan berjuta-juta laki-laki dan perempuan pekerja. Di tengah tuntutan mengoperasikan perkakas tanpa henti, dengan jam kerja yang fleksibel dan upah murah, tanpa jaminan keselamatan dan kesejahteraan, ditambah pelecehan dan kekerasan seksual yang meraja—kaum buruh masih saja diwajibkan menaati ketentuan-ketentuan agama untuk sembahyang, memohon pertolongan Tuhan, mengikuti pengajian dan mendengarkan ceramah-ceramah yang berisi anjuran-anjuran berhubungan baik dengan bos dan pentingnya pengejaran surga semata. Dan di bawah kapitalisme, penipuan keagamaan yang lebih berat lagi ditimpahkan kepada perempuan pekerja. Agama pertama-tama memandang perempuan secara buruk: perempuan digambarkan sebagai penyebab dosa asal yang dengan kecantikan parasnya menggoda laki-laki sehingga keduanya melakukan persetubuhan tanpa seizin Tuhan, dan oleh karena perbuatan tersebut, dua-duanya diusir-keluar dari taman firdaus di langit untuk diturunkan ke dunia material yang kotor. Agama memberitahu bahwa perzinahan adalah dosa pertama umat manusia. Dalam keterbelakangan kapitalisme Dunia Ketiga, keyakinan naïf itulah yang terus-menerus dipertahankan untuk mengekang keluarga-keluarga kelas pekerja. Di tangan kelas penguasa, kontrol terhadap alat reproduksi ditegakkan sebagai urusan negara yang parasit dan korup ini. Mengatasnamakan agama, negara hanya melegalkan hubungan seksual dalam pranata perkawinan dan memperlakukan hubungan seksual di luar nikah sebagai dosa berat yang dapat dipenjara dan setiap bayi yang lahir atas hubungan ini distigma sebagai anak haram yang tidak diakui hak-haknya. Namun negara mengatur persoalan selangkangan bukan sekadar atas perintah ilahi, tetapi lebih-lebih untuk mengamankan terlahirnya calon-calon pekerja masa depan untuk dibesarkan dalam setiap rumah tangga pekerja.

Dalam penindasan spiritual dan seksual ini hubungan yang paling intim dan alami bagi perempuan dan laki-laki ditekan sedemikian rupa dengan perempuan yang dijadikan sebagai tawanan yang paling menderita. Ajaran Kristen melukiskan penderitaan perempuan itu dengan gambaran Perawan Maria yang berduka atas ketiadaan kebahagiaan yang bisa diharapkan dalam kehidupannya di muka bumi. Dalam “Marxism and Religion”, Alan Woods memberitahu: ‘agama dari generasi-ke-generasi telah menyembunyikan nasib perempuan yang tidak-bahagia. Dan apa yang benar bagi agama Kristen sama benarnya atau bahkan lebih benar bagi agama-agama lain. Ada doa Yahudi kuno, “Terberkatilah Engkau, ya Tuhan, yang tidak menjadikanku perempuan.” Di negara-negara muslim tertentu, penindasan terhadap perempuan telah mencapai bentuk yang ekstrem—seperti di Iran, dan yang lebih buruk lagi, Afghanistan. Di India, tradisi Hindu selama berabad-abad mengutuk para ibu tunggal untuk melemparkan diri mereka ke dalam tumpukan kayu bakar jenazah suami mereka.’ Di Dunia Ketiga, obskurantisme agama mereduksi keberadaan perempuan menjadi budak dari laki-laki di mana laki-laki ini merupakan budak dari pemilik alat produksi. Inilah fenomena yang akrab dalam hari-hari di rumah tangga pekerja; perempuan menjadi budak dari budak-upahan yang tereksploitasi. Sementara di luar kehidupan domestik yang mengisolasi dan menghancurkan kemanusiaannya ini perempuan-perempuan pekerja juga terancam oleh komodifikasi yang keji. Demi merealisasikan nilai-lebih, borjuasi membangkitkan keabsurdan dan fantasi dengan mempertukarkan komoditas secara massal. Ini terutama produk-produk dan layanan-layanan kecantikan, aplikasi-aplikasi pemutih dan pemermak tubuh dan wajah, hingga alat-alat seks dan obat-obat pembesar payudara juga kelamin. Setiap hari spanduk, poster, selebaran, dan reklame-reklame menggempur kehidupan banyak orang dengan menayangkan aneka produk artifisial tersebut. Guna membangkitkan gairah konsumsi artifisial, konten-konten yang disuguhkan kapitalis menampilkan tontonan-tontonan eksentrik dan spektakuler. Dalam kondisi inilah perempuan-perempuan bertubuh langsing, berkulit putih, berwajah glowing dipekerjakan, dengan tuntutan tampil merangsang pembeli, untuk mengonsumsi segala produk kecantikan dan seksual yang ditawar. Dengan memasang perempuan-perempuan cantik dan seksi untuk mengiklankan produk-produknya, kapitalisme bukan sekadar melangsungkan eksploitasi keseluruhan kerja mental dan fisik tetapi juga berkecenderungan seksis dan meluncurkan moral perempuan pekerja. Sebagai sales, buruh-buruh perempuan didikte untuk menarik perhatian dan memikat pelanggan. Begitulah sales perempuan memasarkan produk-produk teknologi dan komunikasi, rokok dan suplemen, terutama kecantikan dan seksual menggunakan pesona dirinya, dan oleh karenanya, keindahan dan kemenarikan penampilan salesnya diasosiasikan dengan produk-produk yang ditawarkan. Akhirnya komoditas menjadi tampak tidak ada hubungannya dengan basis materilnya: kemampuan kerja yang dicurahkan oleh kaum produsen dalam bentuk kerja abstrak untuk menciptakan produk tertentu. Demikianlah komoditas menampak seakan-akan memiliki kekuatan mistis: hasil kerja manusia tampil sebagai sesuatu yang berelasi dengan manusia tapi berada di luar kendali manusia. Bukan manusia yang mengendalikan benda-benda ciptaannya, melainkan benda-benda ciptaannyalah yang menguasai manusia. Wujud tertinggi dari kekuasaan yang terasing ini adalah uang. Dalam “Manuskrip Ekonomi dan Filsafat”, Marx telah menjelaskan bagaimana kekuasaan uang mampu menukarkan apa saja. Hidup laki-laki dan perempuan dibuat tidak berarti tanpa mempunyai uang, karena uang menjadi semacam tongkat sihir yang memberikan setiap pemiliknya kemampuan luar biasa. Marx menjelaskannya begitu rupa:

“Sifat uang adalah milik saya—pemiliknya—dan kekuatan esensialnya. Jadi, apa yang saya ‘mampu’ dan ‘bisa lakukan’ sama sekali tidak ditentukan oleh individualitas saya. Aku jelek, tapi aku bisa membeli untuk diriku sendiri perempuan tercantik. Oleh karena itu, saya tidak jelek, karena dampak ‘keburukan’—daya jeranya—dapat dihilangkan dengan uang. Saya menurut karakteristik pribadi saya, adalah ‘orang yang timpang’, tetapi uang memberi saya ketinggian dua puluh empat kaki. Oleh karena itu, saya tidak timpang. Saya jahat, tidak jujur, tidak bermoral, bodoh; tetapi uang dihormati, dan karena itulah pemiliknya [juga memperoleh kehormatan]. Uang adalah barang yang paling utama, oleh karena itu pemiliknya adalah orang yang baik. Selain itu, uang menyelamatkan saya dari kesulitan bersikap tidak jujur: karena itu saya dianggap jujur. Saya tidak punya otak, tapi uang adalah otak sesungguhnya dari segala sesuatu dan bagaimana mungkin pemiliknya tidak punya otak? Lagi pula, dia dapat membeli orang-orang pintar untuk dirinya sendiri, dan apakah dia yang berkuasa atas orang-orang pintar tidak lebih pintar daripada orang-orang pintar? Bukankah saya, yang berkat uang mampu melakukan semua yang didambakan hati manusia, memiliki semua kapasitas manusia? Oleh karena itu, bukankah uang saya mengubah semua ketidakmampuan saya menjadi kebalikannya?”

Uang melayani pemiliknya dengan menundukkan segala jenis komoditas, termasuk aneka produk kecantikan dan seksualitas yang diperdagangkan melalui jasa-jasa sales perempuan. Dalam hubungan sosial-ekonomi yang didominasi oleh pertukaran komoditas, perempuan-perempuan pekerja yang menjajakan beragam barang-barang itu bahkan rentan diseret untuk melayani gairah seksual dari laki-laki yang berhasrat membayar produk dan jasanya. Dalam masyarakat yang memperlakukan tubuh perempuan sebagai komoditas, perempuan-perempuan miskin—baik perempuan pekerja maupun perempuan borjuis-kecil lapisan bawah—secara terpaksa menjual tubuh mereka untuk mempertahankan eksistensinya. Di tengah krisis kapitalisme yang berlarut-larut, dengan penurunan upah yang tajam dan peningkatan jam kerja yang mengharuskan terus-menerus berproduksi tanpa jaminan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, keterasingan rakyat pekerja mengalami menjadi tiada terperi. Kelas pekerja tidak memiliki cukup uang untuk mengonsumsi produk-produk kerjanya. Efek spiral ke bawah dari sistem yang sedang sekarat menggoncang unit-unit keluarga pekerja. Kapitalisme yang sejak kehadirannya mengandalkan keluarga-inti sebagai unit mandiri penyedia generasi proletar, selama momen-momen kritisnya, justru berbalik menghancurkan tenaga-tenaga produktif yang telah disediakan rumah tangga kaum buruh. Ayah, ibu dan anak—semuanya ditarik masuk dalam lingkaran-lingkaran industri. Unit-unit rumah tangga lama mereka telah dikikis dan dirubah. Semuanya diseret bekerja sebagai buruh-upahan, mereka teralienasi saat berproduksi, dan masing-masing membawanya sampai ke rumah-rumah dengan level-level keterasingan yang begitu rupa. Keberadaan keluarga pekerja akhirnya disesaki tekanan-tekanan standar hidup yang secara brutal meledakan tindakan-tindakan ekstrem: perbudakan istri dan anak sebagai pelacur atau pengemis, perselingkuhan bahkan perceraian suami dan istri, hingga aneka bentuk kriminalitas terhadap perempuan dan anak. 

Dalam masyarakat kapitalis, uang menguasai dunia dan memerosotkan kemanusiaan banyak orang. Uang sebagai penyetara nilai universal bukan sekadar dapat membayar kemerdekaan buruh dalam sistem perbudakan kerja-upahan, melainkan pula mampu membeli semua jenis komoditas yang diproduksi kaum produsen. Laki-laki dan perempuan bekerja untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan menggunakan uang. Uang tampil sebagai entitas yang maha kuasa karena produksi kapitalisme tidak direncanakan sadar. Sistem ini tidaklah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan umat manusia, tetapi ditujukan untuk mengapropriasi nilai-lebih dari kemampuan kerja proletariat yang tak-terbayarkan. Inilah mengapa setiap produk yang dihasilkan kaum buruh menjadi sesuatu yang asing. Kerja tiada lagi menjadi aktivitas yang dapat mengembangkan fakultas-fakultas pikiran, perasaan, dan kehendak dari pekerja, melainkan hanya melayani kepentingan borjuis semata: mengutip laba yang sebesar-besarnya dengan meningkatkan kapasitas produksi, memperdalam eksploitasi dan realisasi nilai-lebih. Dikepung oleh keadaan inilah konsumerisme menjadi sajian sehari-hari. Laki-laki dan perempuan diseret dalam kubangan penghisapan kemampuan kerja yang sadis, hingga mengalami penindasan psikis dan spiritual yang brutal. Peningkatan eksploitasi di ranah produksi menghadirkan kesenjangan yang mengenaskan; di mana kekayaan segelintir borjuasi bertambah besar dan kemiskinan massa semakin mendalam. Suasana ini dikelilingi krisis over-produksi yang tak-terkendali dan menyihir orang-orang untuk mengonsumsi produk apa saja dan memberhalakan benda-benda yang membuat mereka puas. Fenomena tersebut disebut sebagai ‘reifikasi’: irasionalitas atau kekuatan gelap pasar yang mendorong masyarakat untuk terbiasa memuaskan kebutuhan-kebutuhannya dalam kerangka pertukaran komoditi. Ilusi yang terbangun adalah dengan menikmati komoditaslah manusia-manusia yang terasing mendapatkan penghiburan yang penuh dengan kenikmatan yang menyenangkan. Mereka merasa kalau konsumsi terhadap barang-dagangan membawa kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian. Aktivitas jual-beli pada akhirnya menjadi semacam kegiatan peribadatan. Karl Marx pernah mengatakan: ‘seperti dalam agama, manusia diatur oleh produk otaknya sendiri, demikian pula dalam produksi kapitalis, manusia diatur oleh produk tangannya sendiri. Dalam ranah agama yang berkabut, produk otak manusia tampil sebagai sosok otonom yang diberkahi kehidupannya sendiri, yang menjalin hubungan baik satu sama lain bahkan dengan umat manusia. Demikian pula dalam dunia komoditas yang menjadi produk tangan manusia.’

Rayuan komoditas membelai kehidupan umat manusia. Namun dalam rumah tangga-rumah tangga rakyat pekerja yang miskin maka pemenuhan kebutuhan hidup menjadi serba-terbatas, dan sebagai ganti dari ketidakmampuan meraih kenikmatan dengan mengonsumsi komoditas, orang-orang yang tertindas dan menderita menjadikan agama sebagai pelarian dari realitas hidup yang buruk. Dalam dunia kapitalisme yang sedang sekarat, agama menemukan banyak pemeluk yang datang untuk berobat di mana setiap aktivitasnya menjadi obat bius yang meringankan beban hidup, penderitaan dan kesakitan yang tak-terperikan. Laki-laki dan perempuan yang secara fisik dan mental dihancurkan oleh sistem masyarakat yang busuk ini beribah dengan khusyuk untuk meminta pertolongan, kekuatan, dan kasih-sayang dari Tuhan. Mereka berkeluh-kesah tentang masalah-masalah duniawi, berharap semuanya dapat diatasi dengan kemahakuasaan ilahiah, dan setelah kematian nantinya mendapat balasan surgawi sesuai yang dijanjikan untuk orang-orang yang beriman. Inilah penghiburan yang agama berikan kepada para pemeluknya. Agama tidaklah memberikan solusi yang memadai untuk mengakhiri eksploitasi dan opresi kapitalisme, karena obskurantisme keagamaan menggantikan pembangunan dunia material yang nyata dengan pengejaran kehidupan abadi di akhirat yang sama sekali tidak-ada dan penuh dengan khayalan yang mengada-ada. Di tangan kelas penguasa, satu-satunya perjuangan yang diizinkan untuk umat beragama adalah persiapan untuk mati. Dengan kata lain: perjuangan hidup yang konkret diabaikan demi perjuangan yang penuh ilusi. Agama membuai orang-orang lapar dan bekerja banting-tulang sepanjang waktu untuk menengadah ke angkasa dan mengabaikan musuh-musuh kelasnya yang sebenarnya berada di bumi. Dengan cara inilah obskurantisme keagamaan menukar prospek kebahagiaan sejati yang bisa diperjuangkan di kehidupan saat ini dengan kebahagiaan palsu di akhirat nanti. Lewat sebuah novel Marxis yang diberi judul “Marx Muda; Cinta, Persahabatan, dan Perjuangan Kelas”, Raoul Peck merekam dialog Marx dan Engels terkait agama:

“Tuhan! Mereka meyakini Tuhan akan mendukung perjuangan mereka, dan menyambut mereka di ‘Taman Surga’, dan taman di mana sedang mereka perjuangkan: Keadilan, Kesetaraan, dan Persaudaraan antar semua manusia. Tuhan yang mereka anggap mendukung perjuangan dan sedang menunggu mereka itu tidak lain adalah diri mereka sendiri. Mereka berjuang untuk diri mereka sendiri, dan Tuhan yang menunggu mereka itu sebenanrnya mereka menunggu diri mereka sendiri memenangkan perjuangan mereka melawan penindasan…. Kepedihan, kesengsaraan, dan kesusahan yang dialami manusia dicerminkan secara terbalik oleh manusia sendiri ke dalam cermin yang bernama agama. Agama mengajarkan Tuhan maha pengasih dan maha penyayang. Ajaran seperti ini sebenarnya hanya ingin menunjukkan manusia seharusnya tidak ditindas oleh sesamanya, manusia seharusnya saling mengasihi dan menyayangi. Ketika manusia saling menindas, manusia yang tertindas berjuang untuk membebaskan diri dari penindasan berdasarkan semangat perjuangan mereka karena mereka berjuang bukan karena ingin merengkuh kasih sayang dari Tuhan. Mereka, justru, harus menyadari bahwa agama adalah hati dari dunia yang tidak memiliki hati—tidak memiliki belas kasihan, agama adalah roh yang sama sekali tidak memiliki jiwa. Agama adalah candu bagi kaum tertindas, alat untuk membenarkan penindasan bagi kaum penindas, dan alat untuk menjinakkan perlawanan kaum tertindas terhadap kaum penindas…. Dengan mengisap candu, manusia merasakan dirinya dihibur, dan rasa sakit dan kesengsaraannya dihilangkan oleh candu yang diisapnya. Rasa yang menipu manusia itu sendiri karena pada kenyataannya manusia tetap hidup dalam kesakitan dan kesengsaraan. Fungsi kedua sebagai penghasil perasaan euforia. Manusia yang mengisap candu merasa nyaman dan gembira secara berlebihan, bahkan rasa kesakitan dan kesengsaraan dia anggap sebagai bagian dari kenyamanan dan kegembiraan. Fungsi ketiga sebagai perusak psikologi dan fisik manusia. Secara psikologis, manusia yang mengonsumsi candu secara terus-menerus akan menjadi gila, dan secara fisik, manusia yang mengonsumsi candu terus-menerus organ-organ tubuhnya akan rusak dan membusuk’.”

Di balik keyakinan naïf akan kehidupan setelah kematian tersembunyi dorongan individualisme dan nihilisme yang sangat angkuh. Aspirasi untuk keabadian dan hidup selamanya di alam ilusi sesungguhnya begitu egois dan irasional. Setiap manusia dilahirkan untuk menjalani hidupnya dan mati untuk memberi jalan bagi generasi baru yang datang menggantikannya. Siklus kelahiran dan kematian adalah proses perkembangan yang menjadi takdir tak-terelakkan bagi manusia dengan tubuh-tubuh materialnya yang nyata. Diterapkan dalam kehidupan yang konkret, pandangan dunia tentang kekekalan akan mengacaukan perjuangan kolektif. Pada kesimpulan terakhir: obskurantisme agama sangatlah sesuai dengan strategi borjuasi untuk memecah-belas persatuan dan solidaritas kelas di antara kelas-kelas terhisap dan tertindas, sekaligus merintangi perkembangan pemikiran rasional yang dapat menggugah kesadaran massa untuk menempuh perjuangan revolusioner. Pada masa-masa krisis terdalam kapitalisme ini, kaum borjuasi kian hari makin meracuni perkembangan kebudayaan dengan obskurantisme yang begitu rupa. Dengan semakin tajamnya kontradiksi inheren dalam kepemilikan pribadi terhadap alat produksi dan negara-bangsa, mitos dan takhayul dari masa lalu yang jauh dibangkitkan kembali oleh rangkaian kontradiksi yang mendalam dan menjadi senjata tipu-daya yang besar dan meluas. Ini berbentuk dogma-dogma irasional seperti postmodernisme dan positivisme yang dikembangkan oleh gerombolan intelektual borjuis-kecil di bilik-bilik universitas dan dialirkan keluar untuk memborbardil kehidupan manusia-manusia biasa lewat media-media yang dikontrol kelas penguasa. Dalam Jurnal Dialektika VII, FMR menerangkannya:

“Hari ini, kendati apa yang disebut kebebasan pers yang dielu-elukan sebagai fitur demokrasi borjuis, mayoritas surat kabar harian yang ada dikontrol dengan ketat oleh segelintir konglomerat media dan isinya sebagian besar sampah. Katanya Bisnis Besar ‘memberikan apa yang diinginkan publik’. Pada kenyataannya, Kapital memberikan kepada publik apa yang mereka pikir harus publik nikmati dalam media: asupan berita tabloid picisan, seks, olahraga, dan skandal, dengan sedikit politik dan budaya, yang dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan para bankir dan kapitalis. Media hiburan jelas adalah upaya untuk menghentikan orang dari memikirkan masalah mereka dan mencegah mereka mengambil tindakan positif untuk menyelesaikannya…. Tidak ada yang baru dalam hal ini. Ini adalah ‘roti’ dan ‘sirkus’ di zaman modern. Karena bahkan dalam masyarakat budak, roti saja tidak pernah cukup untuk membuat massa menjadi penurut. Itulah satu-satunya fungsi dari apa-yang-disebut ‘budaya populer’. Televisi [dan media sosial] menyajikan tontonan kebangkrutan budaya dan moral yang menyedihkan: miskin ide, minim orisinalitas dan konten, yang hanya menghasilkan rasa bosan dan jijik dalam pikiran yang kurang terlatih…. Ini tidak berarti bahwa seni sudah tidak ada lagi. Di bawah permukaan, tunas-tunas hijau terus berjuang untuk tumbuh. Tetapi mereka terus terhalang oleh cekikan uang, patronase dan privilese. Galeri, dealer seni, dan perusahaan rekaman berada di tangan segelintir elit bisnis. Ratusan ribu seniman muda yang berbakat tidak memiliki akses ke sarana budaya. Karya mereka takkan pernah ditampilkan … Bagi kaum kapitalis; seni, budaya, dan pendidikan tidak memiliki nilai intrinsik. Semua hanya menarik sejauh semua ini menghasilkan profit bagi mereka. Dengan kata lain: ‘karya seni hanya menarik ketika karya-karya tersebut berubah menjadi komoditas.’ Jika kaum borjuasi dapat menutup sekolah dan rumah sakit untuk memangkas anggaran dan memotong pajak, mereka akan dengan senang hati melakukannya. Jika mereka dapat membuat penduduk membayar untuk layanan publik seperti meseum, perpustakaan, dan galeri seni, mereka akan memprivatisasinya. Jika itu sudah tidak menghasilkan cukup uang, mereka akan menutupnya. Mereka tidak peduli bagaimana ini akan menghancurkan kebudayaan dan peradaban. Yang penting kapital berkuasa dan akan menjarah seluruh dunia tanpa ada yang menghalanginya. Kesimpulannya hanya satu. Keberlanjutan kapitalisme akan membunuh seni. Menyelamatkan budaya dan mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi untuk generasi mendatang adalah tugas penting dalam perjuangan kaum buruh dan muda.”

Dalam perjuangan kelas ini kita perlu membangun sebuah kepemimpinan yang berpedoman pada teori yang paling maju: Marxisme. Tanpa menempuh perjuangan revolusioner dengan membangun kepemimpinan politik dan organisasi, yang dapat mempersenjatai perjuangan massa dengan perspektif, program, metode dan tradisi revolusioner, maka krisis dunia kapitalisme takkan mungkin diakhiri. Menghadapi penderitaan kematian kapitalisme, ketiadaan kepemimpinan revolusioner bukan saja mengundang kebingungan umum tapi juga berarti memberi ruang yang luas untuk obskurantisme. Tanpa sapuan-sapuan dari pemimpin-pemimpin revolusioner, puing-puing reruntuhan tatanan lama akan bertahan sebagai serakan sampah di lantai sejarah dan menghambat kesadaran massa. Di tengah kekacauan dan gejolak yang berlarut-larut, laki-laki dan perempuan yang tidak mendapat pendidikan revolusioner akan terdemoralisasi dan mencari keselamatan dengan memungut sampah-sampah obskurantisme intelektual dan moral dalam bentuknya yang paling merosot. Pada akhirnya masa-masa transisi yang sedang dilewati bukan saja semakin tidak dapat dimengerti, tetapi lebih-lebih dibayangkan sebagai akhir zaman di mana kiamat akan segera tiba. Untuk menghadapi gempuran kemerosotan inilah pembangunan kepemimpinan revolusioner menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Tugas historis ini dibebankan kepada lapisan-lapisan buruh dan muda yang paling maju dan sadar-kelas. Sebuah kendaraan tempur proletariat harus dibangun sekarang juga, pada siang menjelang malam ledakan besar; sebelum pertempuran penghabisan meletus. Dalam revolusi, demonstrasi, atau pemogokan—peran kepemimpinan adalah sentral. Saat barisan massanya dihantam reaksi, pecah dan terdemoralisasi oleh setumpuk serangan-balik borjuis; kepemimpinan yang lemah akan menatap diferensiasi dan penurunan homogenitas gerakannya sebagai akibat dari keberadaan lapisan-lapisan yang bersifat cair. Ketika massa mulai mundur dan meninggalkan jalanan, kepemimpinan macam itu pasti kebingungan dan menggantikan signifikansi agitasi-propaganda dengan perintah dan arahan langsung.

Dalam momen-momen kritis sejarah, peran kepemimpinan sangat strategis. Para pelopor yang tidak mampu memajukan perjuangan massa diabaikan dan ditinggalkan. Persoalan utamanya lagi-lagi bukan menyangkut karakter massa yang cair tapi peranan menentukan dari kepeloporan. Kepemimpinan tidaklah sebatas mendapatkan mata dan telinga massa melainkan pula membuat kebijakan, slogan, dan seruan-seruan penting. Pada tahap permulaan, spontanitas merupakan arus yang luar biasa kuat dalam menarik lapisan luas untuk mengidentifikasi dirinya dengan ledakan. Luapan spontan bahkan meretakkan kepemimpinan-kepemimpinan organisasi yang lembam dan bungkam dalam melayani kebutuhan massa yang sedang bangkit. Saat lapisan-lapisan terluas terbangunkan ke dalam aksi-aksi politik maka setiap kepemimpinan yang ada menghadapi tantangan serius. Pemimpin-pemimpin yang berkompromi ditinggalkan dan pemimpin-pemimpin yang berjuang didukung. Namun massa takkan sanggup berlarut-larut menghadapi ketidakstabilan. Jika kepemimpinan lemah, tanpa perspektif dan orientasi yang tepat, energi revolusioner massa terbuang sia-sia, hingga mereka menjadi lelah dan kecewa terhadap kepemimpinannya. Di titik inilah tampak jelas bagaimana hubungan pelopor dan massa sangat dinamis. Pelopor yang tidak mampu menjalankan perannya akan ditinggalkan dan massa yang teradikalisasi oleh peristiwa serta berhasil menarik kesimpulan revolusioner akan meningkatkan aktivitas politiknya menjadi pelopor. Itulah proses dialektis antara pelopor dan massa. Selama masa-masa tenang prosesnya lambat—membentangkan ujian kebosanan dan memerlukan kesabaran yang luar biasa. Memasuki masa-masa gejolak prosesnya dipercepat—melalui bermacam-macam ujian yang penuh ranjau tipu-daya dan menantang bahaya. Di atas segalanya, pada setiap masa, keyakinan dan pengorbanan sangat dibutuhkan dalam menghadapi tahap-tahap tertentu dari perjuangan kelas.

Sekarang kita berada di zaman yang dipenuhi kekacauan dan gejolak; di mana pendulum politik tidak secara terus-menerus berayun ke satu arah melainkan ke kanan dan ke kiri, dengan kejang-kejang historis yang dicirikan oleh fluktuasi periodik dan perubahan situasi yang mendadak. Inilah masa-masa yang penuh badai petir, angin topan dan gempa bumi politik. Tanpa pembangunan kepemimpinan revolusioner, situasi ini akan menenggelamkan seluruh generasi dalam skeptisisme dan pesimisme yang paling brutal. Hanya dengan membangun kepemimpinan revolusioner, kaum buruh dan muda beroleh tekad dan keyakinan teoretik yang kuat, untuk hidup dan berjuang mengakhiri krisis dunia kapitalisme secara revolusioner. Bangun kepemimpinan revolusioner sekarang juga; bergabunglah bersama kami dalam pembangunan Bolshevisme.

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai