“Periode reaksioner seperti periode kita sekarang tidak hanya mencerai-beraikan dan melemahkan kelas buruh dan kaum pelopornya, tetapi juga menurunkan level ideologis umum dari gerakan, serta melemparkan pemikiran politik ke belakang, ke tahapan-tahapan yang telah lama ditinggalkannya. Dalam kondisi seperti ini tugas terpenting dari kaum pelopor adalah tidak membiarkan dirinya terbawa arus yang bergerak mundur. Kaum pelopor harus berenang melawan arus. Apabila relasi-relasi kekuatan yang tidak menguntungkan mencegahnya untuk mempertahankan posisi politik yang telah dimenangkannya, paling sedikit ia harus mempertahankan posisi ideologisnya, sebab dalam posisi ideologis itulah terekspresikan pengalaman-pengalaman masa lalu yang sangat mahal harganya. Orang pandir akan menganggap kebijakan ini ‘sektarian’. Padahal, inilah satu-satunya cara untuk mempersiapkan diri untuk langkah besar ke depan yang baru dalam gelombang sejarah yang akan datang…. Kekalahan politik yang besar mendorong pertimbangan-ulang kembali nilai-nilai yang ada, dan biasanya ini terjadi dalam dua arah. Di satu pihak, kaum pelopor sejati, yang diperkaya oleh pengalaman kekalahan, dengan gigih mempertahankan warisan pemikiran revolusioner. Berdasarkan itu kaum pelopor berusaha mendidik kader-kader baru demi perjuangan yang akan datang. Di lain pihak, para rutinis, sentris, dan orang-orang yang tidak memiliki komitmen, yang tercekam oleh kekalahan, berusaha sehebat-hebatnya untuk menghancurkan otoritas tradisi revolusioner dan bergerak mundur untuk mencari sebuah ‘Dunia Baru’….“
“Proletariat hanya bisa merebut kekuasaan melalui kaum pelopornya. Pada dirinya sendiri, keharusan untuk merebut kekuasaan negara timbul dari level kultural massa-rakyat yang tidak-memadai dan heterogenitas mereka. Di dalam kaum pelopor revolusioner, yang terorganisir dalam sebuah partai, terkristalisasi aspirasi massa-rakyat untuk mendapatkan kebebasan mereka. Tanpa keyakinan dari kelas proletar terhadap kaum pelopornya, tanpa dukungan kelas terhadap kaum pelopor, kita tidak dapat berbicara tentang penaklukan kekuasaan. Dalam pengertian ini, revolusi dan kediktatoran proletariat adalah karya seluruh kelas [tertindas], tetapi hanya di bawah kepemimpinan kaum pelopor. Soviet-soviet adalah sekadar bentuk yang terorganisir dari ikatan antara kaum pelopor dan kelas. Sebuah konten revolusioner bisa diberi bentuk ini hanya oleh partai. Ini dibuktikan oleh pengalaman positif Revolusi Oktober dan oleh pengalaman-pengalaman negatif negeri-negeri lain (Jerman, Austria, dan akhirnya, Spanyol). Tidak seorangpun telah memperlihatkan dalam praktek atau berupaya menjelaskan secara akurat di atas kertas bagaimana proletariat bisa merebut kekuasaan tanpa kepemimpinan poltik dari sebuah partai yang tahu apa yang diinginkannya….”
– Leon Trotsky; “Stalinisme dan Bolshevisme”
Pada “Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 5)” dan “Revolusi Oktober: Lenin, Perempuan dan Bolshevik (Bagian 1)”, kami telah menjelaskan bagaimana peran kepemimpinan dalam pembangunan keseluruhan dengan menunjukkan peranan yang dimainkan Lenin dalam proses pembangunan Gerakan Buruh Rusia, Partai Bolshevik dan Revolusi Oktober. Lenin adalah produk sosial pada periode tertentu: hasil dari perjuangan revolusioner massa di tengah krisis yang begitu rupa. Lenin mewarisi kualitas revolusioner yang luar biasa memukau dari para pendahulunya. Lenin tumbuh pada masa-masa yang penuh badai, dibesarkan di tengah gemuruh perjuangan kelas yang berapi-api, menyaksikan rezim lama yang sedang sekarat dan tatanan baru yang mulai menguat, dengan kemunduran dari kaum borjuis-kecil radikal Narodnik dan gejolak kebangkitan kelas pekerja di tengah perkembangan kapitalisme yang mencapai tahapan imperialisme. Dan kemunculan Lenin sebagai pemimpin Bolshevik dan Revolusi Oktober, memperlihatkan bagaimana hubungan dialektis antara kebetulan dan kebutuhan, individu dan universal, bagian dan keseluruhan. Lewat “Peran Individu dalam Sejarah”, Plekhanov menguraikan fenomena demikian sebagai momen kehadiran pemimpin dengan kualitas tertentu mengekspresikan perkembangan sosial yang ‘universal’ dalam pembangunan ‘keseluruhan’. Dalam proses ini kepemimpinan dapat memainkan peran yang menentukan bukan karena ‘kualitas-kualitas personal’ seseorang memberikan ‘sepuhan individual pada peristiwa bersejarah’, melainkan karena individu memiliki kualitas yang paling mampu melayani ‘kebutuhan’ kelas yang sedang bangkit di lautan sosialnya. Dengan kata lain: individu hanya bisa memainkan peran yang menentukan jika dia mampu memahami apa yang menjadi kebutuhan kelas yang besar pada masanya dan berdasarkan pemahaman ini memosisikan dirinya dengan mengambil tindakan-tindakan yang dapat memenuhi kebutuhan sosial itu. Tanpa kesadaran dan perjuangan kelas yang memadai, individu takkan pernah mempengaruhi fenomena sejarah. Plekhanov menjelaskannya:
“…individu dapat mempengaruhi nasib masyarakat melalui ciri-ciri kepribadian mereka. Pengaruh kepribadian ini terkadang sangatlah besar, tetapi kemungkinan untuk menggunakan pengaruh ini ditentukan oleh struktur masyarakat dan relasi kekuatan-kekuatan di dalamnya. Kepribadian individu menjadi sebuah ‘faktor’ dalam perkembangan sosial hanya pada waktu, tempat, dan cakupan yang diizinkna oleh relas-relasi sosial…. Dalam periode tertentu, yang menentukan peran individu yang bertalenta atau tidak-kompeten adalah struktur masyarakatnya dan hubungannya dengan masyarakat-masyarakat lain, yang pada gilirannya akan menentukan signifikansi sosial individu-individu tersebut…. Kita telah menyaksikan bagaimana talenta-talenta hebat selalu muncul ketika ada kondisi-kondisi sosial yang mendukung perkembangan mereka. Ini berarti setiap talenta yang memanifestasikan dirinya, yakni talenta yang menjadi kekuatan sosial, adalah produk dari relasi-relasi sosial. Oleh karena itu, kita bisa memahami mengapa individu-individu bertalenta, seperti yang telah kami katakan, hanya bisa mengubah fitur-fitur individual peristiwa, bukan tren umum peristiwa; mereka sendiri adalah produk dari tren tersebut; bila saja bukan karena tren ini, mereka tidak akan bisa melampaui batasan yang memisahkan antara apa yang potensi dan apa yang nyata…. Oleh karenanya, kualitas-kualitas personal para pemimpin menentukan fitur-fitur individual peristiwa-peristiwa sejarah, dan elemen-elemen kebetulan, dalam arti yang telah kita definisikan, selalu memiliki peran tertentu dalam alur peristiwa, yang arahnya pada analisa terakhir ditentukan oleh sebab-sebab umum, yakni oleh perkembangan kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan timbal-balik antar-manusia dalam proses sosio-ekonomi produksi.”
Sesuatu yang muncul secara kebetulan ditentukan oleh relasi timbal-baliknya dengan kebutuhan. Ini adalah hukum dialektika yang secara inheren berlaku di alam. Dalam “Dialektika Alam”, Engels menjelaskan bahwa terdapat hubungan dialektis antara ‘kebetulan’ dan ‘kebutuhan’. Dia menjelaskan bahwa ‘akal sehat [logika formal] memperlakukan kebutuhan dan kebetulan sebagai determinasi yang mengecualikan satu sama lain untuk selamanya’—dengan kata lain: menekankan pada persoalan identitas. Namun materialisme dialektis justru meninjau kebutuhan dan kebetulan sebagai determinasi-dialektis yang organis, dengan menekankan pada relasi-timbal balik yang menentukan di antara keduanya; di mana ‘apa yang bisa dimasukan ke dalam hukum umum dianggap kebutuhan; apa yang tidak-bisa dianggap sebagai suatu kebetulan’. Tanpa sebuah hukum timbal-balik atau sebab-akibat yang ‘menentukan’ dan beroperasi secara ‘independen’ di luar pikiran manusia inilah pembangunan material akan mengalami kekacauan yang absurd. Di “In Defence of Hegel”, Alizadeh menyatakan: ‘jika alam bertindak sewenang-wenang tanpa hukum, maka tidak akan ada kebebasan. Jika gravitasi adalah suatu gaya acak, manusia akan terbang ke segala arah di ruang angkasa—dengan asumsi bahwa materi padat dapat terbentuk! Bagaimana lagi kita bisa berbicara tentang pengetahuan dan pengalaman? Ketentuan yang sama juga harus berlaku pada masyarakat dan pemikirannya. Jika bukan hukum yang obyektif, lalu apa yang akan menjadi pengatur utama tindakan dan keinginan manusia?’ Engels menerangkan: ‘manusia membuat sejarahnya sendiri, namun belum tentu dengan kemauan kolektif atau rencana sosial atau bahkan dalam masyarakat tertentu yang telah ditentukan secara pasti. Aspirasi-aspirasi mereka berbenturan, dan karena alasan itulah semua masyarakat diatur oleh ‘kebutuhan’, yang dilengkapi dan muncul dalam bentuk-bentuk ‘kebetulan’. Kebutuhan yang muncul di tengah semua ‘kebetulan’ pada akhirnya adalah kebutuhan ekonomi’. Dalam “Sebuah Surat untuk Borgius”, Engels menegaskan:
“Di sinilah orang-orang yang disebut sebagai orang hebat datang untuk berobat. Bahwa manusia ini dan itu dan tepatnya manusia itu muncul pada waktu tertentu di negera tertentu, tentu saja murni kebetulan. Namun hentikan dia dan akan ada permintaan untuk penggantinya, dan penggantinya akan ditemukan, baik atau buruk, tapi dalam jangka panjang dia akan ditemukan. Bahwa Napoleon orang Korsika yang khusus itu, seharusnya menjadi diktator militer yang dianggap perlu oleh Republik Perancis, yang kelelahan karena perangnya sendiri, adalah kebetulan; tetapi, jika Napoleon tidak ada, maka Napoleon lain akan menggantikannya, dibuktikan dengan fakta bahwa orang tersebut selalu ditemukan segera setelah ia diperlukan; Caesar, Augustinus, Cromwell, dan lain-lain.”
Pada akhirnya, semua fenomena yang disebut kebetulan adalah hal-hal yang-tidak-disadari atau yang ditinjau secara sepihak dari sudut pandang yang individu, subyek, khusus, bagian, tanpa memperhatikan hubungan-hubungannya dengan yang universal, obyek, umum, keseluruhan. Di tengah berlangsungnya relasi timbal-balik kebetulan-kebutuhan, yang menjadi salah satu hukum pembangunan material yang independen di luar pikiran manusia ini, kaum Marxis menekankan untuk dapat memahaminya secara memadai; karena semakin baik kaum revolusioner memahami hukum itu, maka bertambah efisien pula penggunaannya untuk memperjuangkan kepentingan kelas pekerja. Dalam “History of the Russian Revolution”, Leon Trotsky menjelaskan peranan yang dimainkan Lenin berdasarkan pemahaman yang baik terhadap hukum dialektika. Trostsky berkata: ‘[Lenin] bukanlah elemen kebetulan dalam perkembangan sejarah, melainkan sebuah produk dari seluruh sejarah masa lalu Rusia. Dia tertanam di dalamnya dengan akar terdalam. Bersama dengan garda depan kaum buruh, ia telah menjalani perjuangan selama seperempat abad sebelumnya’. Lenin melibatkan dirinya dalam gerakan buruh dan secara serius mendidik dirinya dengan mempelajari Marxisme; yakni, dengan praksis revolusioner—membangun kepemimpinan revolusioner (Bolshevisme), dengan memperhatikan perubahan ‘keadaan’ dan ‘didikan’, dan pemberian pendidikan Marxis untuk mendidik garda depan ‘pendidik’ (pelopor proletariat). Trotsky berucap: ‘Lenin tidak mendidik partai dari luar, karena ia sendiri adalah ekspresi partai yang paling utuh. Dalam membangun partainya Lenin telah mendidik dirinya sendiri di dalamnya’. Pembangunan kepemimpinan revolusioner merupakan kerja kolektif untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang akan memainkan peran sentral dalam perjuangan kelas pekerja. Lenin menguatkan bagian dengan membangun keseluruhan; dengan mempersiapkan kader-kader revolusioner-profesional yang akan berperan-aktif dalam memandu pergerakan dari organisasi-organisasi tradisional buruh yang ada. Keseluruhan lebih besar daripada bagian; Partai Bolshevik adalah keseluruhan dan organisasi massa proletariat ialah bagian. Dalam Revolusi Oktober, gerakan buruh adalah universal dan Lenin ialah individu di dalamnya; yang di titik tertentu dalam perkembangan dua kutub yang berlawanan dan saling-merasuki (yakni pada momen kritis perjuangan kelas pekerja), keduanya berubah menjadi satu sama lainnya: individu adalah universal dan universal adalah individu. Lenin terhubung dengan kekuatan besar yang melancarkan revolusi proletariat, melambangkan harapan dan aspirasi massa revolusioner, mempersonifikasikan kecerdasan dari garda depan revolusioner yang paling aktif, dan mempunyai wewenang yang diperlukan untuk membawa revolusi sampai ke garis akhir. Inilah saat di mana peran kepemimpinan Lenin di partainya menjadi sebab partikular yang kuat, yang dalam hubungannya dengan faktor obyekif (sebab-sebab khusus dan umum), berperan sebagai faktor subyektif yang ‘menentukan’ keberhasilan dan kegagalan revolusi, maju dan mundurnya gerakan buruh. Dalam “The Class, the Party and the Leadership: How to Organize Revolution?”, Arseneau menjelaskannya:
“Kebangkitan Bolshevik ke tampuk kekuasaan bukanlah berada di garis yang lurus. Bukanlah fakta yang umum diketahui bahwa antara bulan Maret dan April 1917, para pemimpin Partai Bolshevik di Rusia pada saat itu tidak berniat berebut kekuasaan. Ketika Lenin dan Trotsky masih berusaha untuk kembali ke Rusia dari pengasingan, para pemimpin utama Bolshevik yang hadir di Petrogard pada saat itu adalah Stalin dan Kamenev. Di bawah kepemimpinan mereka, surat kabar Bolshevik, Pravda, pada dasarnya membela kebijakan Menshevik: bahwa ‘terlalu dini’ bagi kaum buruh untuk merebut kekuasaan’. Seperti yang dijelaskan Trotsky dalam bukunya, ‘The History of the Russian Revolution’: ‘para pekerja-revolusioner ini hanya kekurangan sumber daya teoritis untuk mempertahankan posisi mereka. Namun mereka siap untuk menanggapi seruan itu dengan jelas’. Seruan ini datang bersamaan dengan kembalinya Lenin ke Rusia pada bulan April 1917…. Pada bulan April 1917, Lenin adalah satu-satunya pemimpin Partai Bolshevik yang mengajukan perspektif ini (Trotsky belum tiba di Rusia, dan baru bergabung dengan partai tersebut pada bulan Juli). Namun karena otoritas pribadinya yang sangat besar, dan terutama fakta bahwa kebijakannya sejalan dengan pengalaman para militant Bolshevik di basisnya, Lenin mampu memperjuangkan pengadopsian perspektifnya pada Konferensi Partai Bolshevik yang diadakan pada akhir April. Sejak saat itu, Partai Bolshevik, di bawah kepemimpinan Lenin, menetapkan tujuan untuk secara sabar menjelaskan kepada para pekerja pentingnya Soviet mengambil-alih kekuasaan [Seluruh Kekuasaan untuk Soviet]. Apa jadinya jika Lenin tidak bisa mencapai Rusia? Dalam sebuah revolusi, waktu adalah unsur kuncinya. Para pemimpin Bolshevik mungkin telah mengerti perlunya kekuasaan Soviet, namun tidak ada indikasi mereka akan memahaminya ketika kaum buruh masih termobilisasi. Kelas pekerja tidak bisa terus-menerus berjuang. Pada titik tertentu, revolusi akan menang, atau keraguan dan sikap apatis mulai muncul. Jika Lenin tidak melakukan intervensi pada tahun 1917, kepemimpinan Partai Bolshevik kemungkinan besar akan kehilangan kesempatan untuk mengambil-alih kekuasaan. Jadi, mendirikan partai saja tidak cukup; partai itu harus memiliki kepemimpinan yang tahu ke mana arahnya. Kepemimpinan revolusi sosialis tidak dapat terlaksana tanpa partisipasi kelas pekerja. Tapi kelas ini harus mempunyai partai. Dan partai tersebut harus memiliki kepemimpinan yang mengetahui apa yang dilakukannya. Ketiga unsur inilah yang menjadi kunci keberhasilan revolusi di masa depan.”
Dalam Revolusi Oktober, peran yang dimainkan Lenin bukan saja menentukan tapi juga tidak bisa digantikan oleh pemimpin-pemimpin partai lainnya. Hanya Lenin yang memiliki otoritas politik dan kemampuan teoritis yang diperlukan dalam mempersenjatai-ulang Bolshevik di tengah perjuangan kelas yang menajam dan situasi yang berbelok tiba-tiba. Tanpa kehadiran Lenin di April 1917, tekanan konservatif dari kaum Bolshevik ‘Tua’ akan menjadi sukar untuk ditanggulangi dan perjuangan massa revolusioner tidak dapat dipimpin dengan kebijakan sesuai kepentingan kelas revolusioner yang ada. Kedudukan Lenin yang luar biasa dalam partai tidak-terganti; Stalin dan Kamenev karena berpemahaman tidak-memadai, bahkan Trotsky karena posisinya yang masih di luar partai—tidak dapat menggantikan posisi dan peran yang dimainkan Lenin. Aland Woods secara terang menyatakan betapa sentralnya keberadaan sosial Lenin: ‘jika Bolshevik memimpin kaum buruh dan tani, Lenin memimpin Partai Bolshevik. Dia adalah “pemimpin” dari para pemimpin’. Perannya dapat dilukiskan dengan perkataan Plekhanov dalam “Peran Individu dalam Sejarah”: ‘seseorang tokoh besar adalah pelopor karena dia melihat lebih jauh daripada orang lain. Dia menyelesaikan problem-problem ilmiah yang dikedepankan oleh alur perkembangan pemikiran yang sebelumnya; dia mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan sosial baru yang diciptakan oleh perkembangan relasi-relasi sosial sebelumnya; ia mengambil inisiatif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial tersebut. Dia adalah seorang pahlawan; bukan dalam artian bahwa dia dapat menghentikan atau mengubah alur peristiwa, tetapi dalam artian bahwa aktivitas-aktivitasnya adalah ekspresi sadar dan bebas dari alur peristiwa yang tak-terelakkan dan tak-sadar itu. Di sinilah terletak semua signifikansinya, semua kekuatannya. Tetapi signifikansi ini amat besar, dan kekuatan ini sangat kuat’. Tanpa peranan kepemimpinan Lenin yang disalurkan melalui Partai Bolshevik, maka keberhasilan perjuangan proletar Rusia dalam memenangkan Revolusi Oktober menjadi tak-terpikirkan. Plekhanov menerangkan persoalan demikiran:
“Akhirnya, pengaruh sebab-sebab spesifik ini diperbesar oleh sebab-sebab partikular; yakni ciri-ciri personal dari tokoh-tokoh ternama dan ‘kebetulan-kebetulan’ lainnya, yang membuat peristiwa memiliki fitur-fitur individual. Sebab-sebab partikular tidak dapat menyebabkan perubahan radikal dalam beroperasinya sebab-sebab umum dan spesifik, yang, terlebih lagi, menentukan arah dan batas-batas pengaruh sebab-sebab partikular. Namun, tidak diragukan kalau sejarah akan memiliki sepuhan yang berbeda bila saja sebab-sebab partikular yang mempengaruhi sejarah tersebut digantikan dengan yang lain.”
Besarnya pengaruh individu dalam sejarah bergantung pada proses perkembangan sebab khusus dan sebab umum, korelasi kekuatan-kekuatan kelas dan seberapa baik perannya dalam melayani kekuatan sosial itu. Maka penggantian faktor subyektif (sebab-sebab partikular) takkan mungkin membawa pengaruh yang mendasar terhadap faktor obyektif (sebab-sebab khusus dan umum), tetapi dalam situasi tertentu dapat menciptakan sepuhan-sepuhan ‘individual’ yang secara efektif membalikkan perimbangan kekuatan kelas dengan mencondongkan pendulum politik ke satu sisi dan mempengaruhi jalannya perkembangan historis (sebab khusus); dalam situasi pra-revolusioner dan revolusioner, itu dapat berarti penurunan atau peningkatan kekuatan, kegagalan atau keberhasilan perjuangan, bahkan periode kemunduran atau kebangkitan. Dalam revolusi proletariat di Rusia, Kepemimpinan Bolshevik-Leninis dengan perspektif, program, dan metode-metode revolusionernya mampu memastikan kemenangan perjuangan revolusioner massa, menjaga independensi-kelas proletar dan mengangkat karakter sosialis-internasionalis dari kubangan karakter tahapan-borjuis yang anti-revolusioner. Dalam Revolusi Tiongkok (bahkan Revolusi Indonesia), Kepemimpinan Stalinis (PKT-Maois dan PKI-Aiditis) justru mengarahkan perjuangan revolusioner massa dalam rawa-rawa kolaborasi-kelas, mengundang demoralisasi dan kontra-revolusi, hingga menutupi karakter sosialis-internasionalis dalam perjuangan kelas proletar dengan menekankan pada karakter tahapan-borjuis sebagai sesuatu yang mutlak dalam proses pembangunan sejarahnya. Dalam “Peran Individu dalam Sejarah”, Plekhanov menjelaskan bahwa yang ‘kebetulan’ atau ‘bagian’—atau apa-yang-didekati Maoisme sebagai ‘kekhususan perkembangan’ atau ‘tahap-tahap revolusi’ yang ‘mutlak’—adalah hal-hal yang ‘relatif’; ini muncul di titik persimpangan dari fenomena-fenomena yang ‘tidak-terelakkan’, yang diatur oleh ‘kebutuhan’ dalam pembangunan sosio-ekonomi secara ‘keseluruhan’. Plekhanov mencontohkan dengan kemunculan penjajahan Eropa di Benua Amerika—yang dari sudut pandang perkembangan historis di Meksiko dan Peru adalah kebetulan. tetapi ditinjau dari sudut pandangan pembangunan keseluruhan adalah kebutuhan; karena dorongan mengarungi samudera pada akhir Zaman Pertengahan adalah kecenderungan yang tak-terhindarkan dari perkembangan kapitalisme secara umum, namun konsekuensi-konsekuensi yang timbul tidaklah secara sepihak ditentukan oleh sebab umum tapi dalam hubungannya dengan sebab khusus—relasi timbal-balik antara kekuatan sosio-ekonomi dari bangsa penakluk dengan kekuatan sosio-ekonomi bangsa yang ditaklukannya. Di masing-masing negeri, apa yang menjadi sebab-sebab khususnya dikondisikan oleh perkembangan ‘kekuatan yang sama’ dengan negeri-negeri lainnya—perkembangan tenaga produktif, yang dipandang bukan sebagai bagian-bagian yang terpisah tapi dalam totalitasnya; yakni, bagian-bagian yang terhubungkan satu sama lainnya dalam perkembangan material, masyarakat dan pemikiran manusia sedunia. Setiap negeri tentunya memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda, tetapi dalam pembangunan keseluruhan segala perbedaan tahapan digabungkan (bukan secara mekanis tapi dialektis) sebagai kesatuan organis. Ini merupakan hukum perkembangan sejarah yang tak-berimbang dan tergabungkan. Hanya dengan menggunakan perspektif materialisme historis inilah Revolusi Oktober dapat dipahami sebagai permulaan dari revolusi proletariat-sosialis dunia. Dalam “Membela Revolusi Oktober”, Trotsky menjelaskannya:
“Pertanyaan-pertanyaan apa yang muncul di benak orang ketika mendengar kata Revolusi Oktober? Mengapa dan bagaimana revolusi ini terjadi? Lebih tepatnya, mengapa revolusi proletariat berjaya di salah satu negeri yang paling terbelakang di Eropa?… Fakta bahwa proletariat mencapai kekuasaan untuk pertama kalinya di negeri yang begitu terbelakang seperti Rusia Tsar tampak misterius hanya bila dilihat secara sekilas. Pada kenyataannya ini sesuai dengan hukum sejarah. Revolusi ini sudah dapat diprediksi, dan memang diprediksi. Terlebih lagi berdasarkan prediksi inilah kaum Marxis revolusioner membangun strategi mereka jauh-jauh hari sebelum momen yang menentukan tiba. Penjelasan pertama dan paling umum adalah Rusia merupakan negeri terbelakang, tetapi hanya bagian dari perekonomian dunia, hanya sebuah elemen dari sistem kapitalis dunia. Dalam pengertian ini, Lenin menyelesaikan teka-teki Revolusi Rusia dengan formula yang singkat: ‘rantai ini putus pada titik terlemahnya’. Gambaran kasarnya demikian: Perang Besar [Perang Dunia Pertama], yang merupakan akibat dari kontradiksi imperialisme dunia, telah menyeret negeri-negeri dengan berbagai tahapan perkembangan, namun menuntut hal yang sama pada semua partisipannya. Jelas bahwa beban perang sangat tak-tertanggungkan, terutama bagi negeri-negeri yang paling terbelakang. Rusia adalah negeri pertama yang terpaksa meninggalkan medan perang. Tetapi untuk bisa keluar dari perang, rakyat Rusia harus menumbangkan kelas penguasa. Dengan cara inilah rantai perang terputus pada titik terlemahnya…. Seseorang yang keberatan mungkin membalas: ‘perimbangan umum Anda mungkin cukup menjelaskan mengapa Rusia lama harus runtuh, negeri kapitalis terbelakang dengan kaum tani miskin, yang diperintah oleh aristokrasi parasitik dan monarki yang membusuk. Namun, dalam analogi rantai yang terputus di titik terlemahnya, masih ada teka-teki yang belum terjawab: bagaimana revolusi sosialis bisa berhasil di negeri terbelakang? Sejarah penuh dengan banyak contoh negeri dan peradaban yang membusuk, yang disertai dengan tumbangnya kelas-kelas yang lama tetapi tanpa adanya kelas progresif yang bisa menjadi penerusnya. Keruntuhan Rusia lama seharusnya mengubah negeri ini menjadi koloni kapitalis ketimbang menjadi Negara Sosialis’.”
“Keberatan ini sangatlah menarik. Ini membawa kita langsung ke inti permasalahan. Kendati demikian, keberatan ini keliru. Menurut saya, keberatan ini kurang memiliki simetri internal. Di satu sisi, ia berangkat mengenai konsepsi yang berlebihan mengenai fenomena keterbelakangan historis secara umum. Makhluk hidup, termasuk manusia, tentu saja, tumbuh besar melalui tahapan-tahapan perkembangan yang serupa sesuai dengan usia mereka. Seorang bocah normal berusia 5 tahun akan memiliki berat tubuh, tinggi, dan organ internal tertentu yang sesuai dengan usianya. Tetapi lain halnya dengan kesadaran manusia. Berbeda dengan anatomi dan fisiologi, psikologi—baik individual maupun kolektif—memiliki kapasitas penyerapan, flesibilitas dan elastisitas yang luar biasa. Di sinilah keunggulan manusia atas kerabat terdekatnya, kera. Psike yang absorptif dan lentur memberi apa-yang-disebut ‘organisme’ sosial ini—yang dibedakan dari organisme biologis—suatu variabilitas struktur internal yang luar biasa sebagai kondisi yang diperlukan bagi progres historis. Dalam perkembangan berbagai nasional dan negara, terutama negara kapitalis, tidak ada keserupaan dan regularitas. Berbagai tahapan peradaban, bahkan yang bertolak-belakang, saling-mendekat dan berbaur satu sama lain dalam kehidupan bangsa…. Jangan lupa bahwa keterbelakangan historis adalah konsep yang relatif. Ada pengaruh timbal-balik antara negara-negara terbelakang dan maju; ada tekanan dari negara maju terhadap negara terbelakang; ada dorong terhadap negara-negara terbelakang untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju, untuk meminjam teknologi dan sains mereka, dan sebagainya. Dengan cara inilah muncul tipe perkembangan gabungan: ciri-ciri terbelakang digabungkan dengan ilmu teknik terbaik dan pemikiran dunia termaju. Akhirnya, negara-negara yang secara historis terbelakang, untuk bisa bebas dari keterbelakangannya, sering kali terpaksa melompat mendahului yang lainnya. Di bawah kondisi tertentu, kelenturan kesadaran kolektif memungkinkan tercapainya dalam arena sosial apa-yang-disebut dalam psikologi individual sebagai ‘mengatasi kesadaran inferioritas’. Dalam hal ini, kita dapat mengatakan bahwa Revolusi Oktober adalah usaha heroik rakyat Rusia untuk mengatasi inferioritas ekonomi dan budaya mereka sendiri.”
“…Keterbelakangan historis Rusia mengekspresikan dirinya paling jelas pada permulaan abad ke-20, dalam fakta bahwa industri menduduki tempat yang kecil di negara itu dibandingkan dengan kaum tani. Diambil secara keseluruhan, ini berarti produktivitas tenaga kerja nasional yang rendah…. Namun pada saat yang sama hukum perkembangan gabungan mengekspresikan dirinya dalam ranah ekonomi di setiap langkah, baik dalam fenomena sederhana maupun kompleks. Nyaris tanpa jalan raya. Rusia terpaksa membangun rel kereta api. Tanpa melalui artisan dan manufaktur di Eropa, Rusia langsung memasuki tahapan produksi dengan mesin. Negara-negara terbelakang menempuh jalan perkembangannya dengan melompati tahapan-tahapan peralihan. Sementara pertanian Rusia mandek pada level abad ke-17, industri Rusia, jika bukan dalam cakupannya setidaknya dalam tipenya, telah mencapai level negara-negara maju dan dalam beberapa hal telah melampaui mereka. Di Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan raksasa dengan masing-masing lebih dari seribu pekerja mempekerjakan 18 persen dari total buruh industri. Di Rusia, angka ini mencapai lebih dari 41 persen. Fakta ini sulit didamaikan dengan konsepsi konvesional mengenai keterbelakangan ekonomi Rusia. Sebaliknya, fakta ini tidak menyangkal keterbelakangan Rusia, tetapi secara dialektis melengkapinya. Karakter kontradiktif yang sama ditunjukkan oleh struktur kelas di negara tersebut. Kapital finans dari Eropa telah mengindustrialisasi ekonomi Rusia dengan tempo yang sangat cepat. Kaum borjuasi industri Rusia segera menjadi kapitalis skala-besar dan berkarakter anti-rakyat. Terlebih, para pemegang saham asing berdomisili di luar negeri. Sementara, kaum buruh adalah orang Rusia. Kaum borjuasi Rusia yang jumlahnya kecil ini, yang tidak memiliki akar nasional, berhadap-hadapan dengan proletariat yang relatif kuat di tengah-tengah rakyat…. Tetapi proletariat Rusia yang muda, segar, dan penuh tekad ini masih merupakan minoritas kecil. Tenaga cadangan revolusionernya berada di luar proletariat itu sendiri—yakni di antara kaum tani, yang hidup dalam kondisi semi-feodal, dan di antara rakyat bangsa-bangsa tertindas…. Berkenaan dengan tugas-tugas mendesaknya, Revolusi Rusia adalah revolusi borjuis. Tetapi borjuis Rusia berkarakter anti-revolusioner. Maka dari itu, kemenangan Revolusi hanya mungkin terjadi sebagai kemenangan proletariat. Tetapi proletariat yang menang tidak akan berhenti di program demokrasi borjuis: mereka harus melangkah ke program sosialisme. Revolusi Rusia akan menjadi pandahuluan bagi Revolusi Sosialis Sedunia…. Kekuatan produktif yang ada hari ini telah lama melampaui batas-batas nasionalnya. Masyarakat sosialis tidak mungkin terwujud dalam batas-batas nasional. Meskipun keberhasilan ekonomi sebuah negara buruh yang terisolasi sangatlah penting, namun program ‘Sosialisme di Satu Negeri’ adalah utopia borjuis-kecil. Hanya federasi sosialis di Eropa dan kemudian dunia yang dapat menjadi arena yang sesungguhnya bagi masyarakat sosialis yang harmonis.”
Pada September 1920, Kongres Rakyat Baku berlangsung di Rusia. Di bawah panduan Bolshevik-Leninis—yang ketepatan teoretiknya telah terbukti dalam kemenangan Revolusi Oktober—pertemuan bangsa-bangsa tertindas ini diselenggarakan dengan bersemangatkan internasionalisme. Di depan pemimpin-pemimpin Komunis dari Timur, Lenin berpidato: ‘sudah jelas bahwa kemenangan akhir hanya dapat diraih oleh proletariat di seluruh negara maju di dunia, dan kami, orang-orang Rusia, sedang memulai pekerjaan yang akan dikonsolidasikan oleh proletariat Inggris, Prancis atau Jerman. Namun kita melihat bahwa mereka tidak akan menang tanpa bantuan dari rakyat pekerja di semua negeri kolonial tertindas, terutama di negeri-negeri Timur’. Dan Lenin melanjutkan pidatonya: ‘Anda harus menemukan jalan untuk menemui massa pekerja yang tereksploitasi di setiap negara dan memberi tahu mereka dalam bahasa yang mereka pahami bahwa satu-satunya harapan emansipasi mereka terletak pada kemenangan revolusi internasional, dan bahwa proletariat internasional adalah satu-satunya sekutu dari ratusan juta rakyat yang bekerja dan tereksploitasi di Timur’. Para pelopor bangsa-bangsa tertindas menerima pandangan ini dengan menetapkan tugas pembangunan Bolshevisme di negerinya, dan oleh karenanya, mereka mendeklarasikan bahwa perjuangan revolusioner di negeri-negeri Dunia Ketiga tidaklah memandang tahapan revolusi borjuis-demokratik sebagai sesuatu yang perlu. Dipandu oleh Kepemimpinan Bolshevik-Leninis, tahap demokrasi nasional atau revolusi demokratis di negeri-negeri terbelakang tidak didekati sebagai sesuatu yang absolut melainkan relatif. Dalam “China: Uninterrupted Revolution or Permanent Revolution?”, John Peter Roberts menulis: ‘kaum tani di Timur tidak harus berjalan melalui demokrasi borjuis; tidak harus melewati fase perkembangan kapitalis sebelum mereka dapat beralih ke sistem Soviet [Kediktatoran Proletariat]’. Ini paralel dengan pernyatan Lenin bahwa perkembangan kapitalisme yang mencapai tingkatan tertingginya di zaman imperialisme telah ‘mengubah tahap perkembangan kapitalis saat ini menjadi era revolusi proletar-sosialis’.
Berkait Revolusi Tiongkok, Peter Roberts menerangkan fakta-fakta mengapa tahap-borjuis ‘Demokrasi Baru’ tidak diperlukan: (1) PKT dan PLA mengambil-alih kekuasaan pemerintah tanpa memerlukan aliansi dengan kekuatan lain. PKT adalah satu-satunya partai di RRT yang memiliki otoritas nyata dan PLA adalah kekuatan negara baru tersebut sejak awal; (2) Dalam mengekspropriasi modal birokrasi dan properti milik orang-orang yang berada di puncak KMT, RRT memiliki begitu banyak industri dan sistem perbankan sehingga secara ‘de facto’ RRT menguasai perekonomian nasional. Pemerintahan bisa (dan seharusnya) menyerahkan, dan segera memperkenalkan, rencana ekonomi nasional yang sudah dipersiapkan sebelumnya, termasuk monopoli perdagangan luar negeri dan distribusi pangan grosir. Jika PKT secara proaktif melakukan langkah-langkah rasional ini daripada menunggu sampai mereka dipaksa melakukannya karena inflasi, sabotase, embargo AS, dan kebutuhan Perang Korea, rezim tersebut akan menjadi negara buruh sejak tahun 1949 dan rakyat Tiongkok tidak akan mengalami kekurangan dan kesulitan yang tidak perlu; (3) Jumlah kaum borjuasi nasional yang masih bertahan di Tiongkok setelah tahun 1949 sangatlah kecil, pertumbuhan dan kekuatannya bersifat artifisial, dan diperkuat oleh keuntungan yang diberikan oleh RRT. Ketika PKT menarik dukungannya, borjuasi nasional dengan cepat, mudah dan hampir seluruhnya tersingkir tanpa penggunaan kekuatan berlebihan dari pemerintahan. Hal ini terjadi karena perimbangan kekuatan sangat berpihak pada PKT/PLA, yang menunjukkan dengan jelas bahwa basis apapun yang dimiliki kaum borjuis di Tiongkok pasca-revolusi hanyalah ilusi daripada kenyataan; (4) Kebijakan “Tanah bagi Penggarap” dilaksanakan, namun ditunda secara artifisial ketika PKT mencoba membangun ‘ekonomi petani kaya [kulak]’ alih-alih memenuhi keinginan mayoritas petani—kaum tani miskin dan menengah. Revolusi agrarian dapat dan seharusnya dilaksanakan dengan cepat, lebih efisien dan menyeluruh. Demokrasi Baru sebenarnya menunda reformasi pertanahan tetapi, seperti di Rusia, transisi menuju negara buruh mendahului selesainya pembagian tanah; dan (5) Durasi tahap-borjuis dalam Demokrasi Baru sangat singkat. Tidak ada waktu bagi kaum borjuasi nasional untuk memajukan perekonomian secara signifikan sebelum mereka tersingkir dan apa yang mereka capai sebagian besar disebabkan oleh perlakuan khusus yang diberikan rezim kepada mereka.
Namun fakta-fakta tersebut diabaikan oleh kepemimpinan PKT. Karena setelah kekalahan Revolusi Jerman, keterisolasian Revolusi Rusia, degenerasi Uni Soviet, kebangkitan kasta-birokrasi, kematian Lenin, berkuasanya Stalin, hingga pembubaran Internasional Ketiga, dan pembasmian terhadap Oposisi Kiri dan pembunuhan Trotsky oleh agen Stalinis; pembangunan kepemimpinan partai-partai Komunis tidak lagi berlandaskan Marxisme yang sejati tapi karikatur mengerikannya—Stalinisme. Tanpa Kepemimpinan Bolshevik-Leninis di Partai Komunis Rusia, dan lebih-lebih di Internasional Ketiga, maka partai-partai Komunis di negeri koloni dan semi-koloni—yang masih muda dan kurang berpengalaman serta berkumpul di sekitar panjir Revolusi Oktober—bukan sekadar kehilangan arah tapi lebih jauh tersubordinasi di bawah Kepemimpinan Stalinis, yang menanggalkan prinsip penghapusan kepemilikan pribadi dan internasionalisme proletariat dengan mendaur-ulang perspektif ‘tahapan’ Menshevik dan menyelundupkan Teori Sosialisme di Satu Negeri ke dalam perjuangan kelas. Teori merupakan elemen mendasar bagi setiap gerakan politik, karena teori adalah landasan dalam mengembangkan perspektif, program, strategi dan taktik. Teori yang benar menyediakan metode yang memadai untuk membedah realitas serta menggeneralisasi pengalaman masa lalu untuk mendapatkan tinjauan yang jauh ke depan secara holistik. Sementara teori yang keliru membedah realitas dengan metode yang kasar dan menggeneralisasi pengalaman-pengalaman yang ada secara sepihak, dan oleh karenanya, menghasilkan tinjauan yang buruk dan sempit. Menurut Teori Sosialisme di Satu Negeri: perjuangan massa di setiap negeri harus mencari jalannya sendiri-sendiri menuju sosialisme tanpa memperhatikan kesatuan dialektis antara satu negeri dengan negeri lainnya. Berlandaskan teori yang dualistik dan eklektik inilah kepemimpinan PKT membawa gerakan buruh dan muda ke dalam rawa-rawa kolaborasi-kelas, yang secara tak-terelakkan mengarah pada pelemahan perjuangan massa revolusioner dan penguatan cambuk reaksi borjuis, yang pada gilirannya mencekik leher revolusi dan partai proletar di bawah kepentingan kasta-birokrasi. Dalam “China: Uninterrupted Revolution or Permanent Revolution?”, Peter Roberts menjelaskan begini:
“Teori Stalinis tentang Sosialisme di Satu Negeri memberi PKT pandangan nasionalis yang sempit. Perspektif Marxis yang revolusioner adalah Tiongkok dan Rusia bersatu dalam Federasi Sosialis dengan negara-negara Eropa Timur untuk mengembangkan rencana produksi internasional dengan menggunakan, secara gabungan dan rasional, sumber daya manusia dan material dari semua negeri tersebut. Sebaliknya, pandangan nasionalis dari birokrasi Tiongkok dan Soviet pada akhirnya menimbulkan konflik Tiongkok-Soviet yang sangat merugikan [perjuangan massa] karena masing-masing birokrasi berusaha melindungi kepentingannya dengan caranya sendiri…. Ketika mengambil-alih kekuasaan pada tahun 1949, PLA dan PKT terdiri dari kaum tani dengan ideologi borjuis-kecil, dan sepenuhnya terisolasi dari kelas pekerja perkotaan. Mao Zedong hendak membangun sebuah negara di Tiongkok dengan gambaran Rusia Stalinis—sebuah karikatur birokrasi yang mengerikan dari sebuah negara buruh. Sebuah negara buruh yang berubah bentuk sejak lahir, namun tetap saja sebuah negara buruh. Tidak ada Soviet, tidak ada kontrol pekerja, tidak ada serikat pekerja yang idependen dari negara, atau kepemimpinan Marxis yang sejati. Kondisi paling mendasar bagi demokrasi buruh sudah tidak ada sejak awal. Peristiwa ini merupakan tantangan teoretis yang baru dan serius bagi kaum revolusioner. PKT berkuasa dengan memeluk teori tahapan Stalinis, dengan menyatakan kebijakan pendirian republik borjuis…. Revolusi Rusia 1917 dengan jelas telah mengungkapkan perlunya mengambil tindakan-tindakan yang secara obyektif bersifat sosialis untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan revolusi demokratis … Sejak saat itu teori revolusi permanen kerap digambarkan sebagai proses dimana revolusi di negeri-negeri terbelakang mempunyai kecenderungan alami untuk melampaui fase [artifisial] borjuis-demokratis dan berubah menjadi revolusi sosialis…. [Namun] kemenangan PKT bergema di seluruh dunia dan memenangkan banyak generasi muda untuk bergabung dengan Maoisme. Menutup mata mereka terhadap kurangnya demokrasi buruh di Tiongkok, mereka menyimpulkan bahwa untuk bisa menang, PKT harus memutus hubungannya dengan Stalinis. Mao dipercantik dan diromantisasi, bahkan oleh sebagian gerakan Trotskis: Mao ditampilkan sebagai Videl Castro versi Asia, dia telah membebaskan PKT dari dominasi Stalin dan Komintern, dia adalah pemimpin ‘Long March’ yang menginspirasi, dia bertanggung-jawab mengembangkan strategi perang gerilya berkepanjangan…. Jika Maoisme benar-benar dapat melancarkan revolusi, haruskan kaum Marxis menghentikan perjuangan untuk membentuk partai Bolshevik yang revolusioner dan terpisah? Apakah Partai Komunis yang diorganisir menurut garis Maois merupakan instrumen yang memadai untuk pembangunan sosialisme?….”
“Nasihat dan dukungan material dari Komunis Internasional (Komintern) sangat penting bagi keberhasilan pembentukan PKT. Pada awalnya PKT menerima bantuan dan bimbingan yang tulus, namun setelah kematian Lenin, dengan naiknya kekuasaan Stalin dan faksinya, pertama di Rusia dan selanjutnya di Komintern, sebuah garis politik baru secara sistematis diberlakukan pada Komintern. Ketika praktik membuktikan bahwa garis baru ini sangat salah, kepentingan faksi-faksi dalam Partai Rusia menjadi faktor penentu dan pedoman digantikan oleh perintah langsung. Jika ditantang, perwakilan Komintern mengancam individu dan bahkan seluruh organisasi dengan pengusiran dari Komintern untuk memaksakan penerimaan proposal mereka. Orang-orang yang berusaha mengorganisir oposisi diusir, dan rumor gelap terus berlanjut bahwa beberapa pemimpin PKT secara aktif mengkhianati oposisi melalui polisi rahasia KMT. Tindakan tersebut cukup sesuai dengan metode yang digunakan oleh faksi Stalinis di Rusia. Selama ‘Pembersihan Raksasa’, yang dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan faksional Stalin, lebih banyak orang Komunis Rusia yang terbunuh daripada selama perang saudara. Sejak pertengahan tahun 1920-an, hingga setidaknya dimulainya Perang Korea pada tahun 1950, keinginan Stalin sangat berpengaruh dalam menentukan kebijakan PKT dalam semua hal penting. Dampaknya adalah kekalahan politik dan militer yang besar bagi PKT, hilangnya dukungan proletar yang menentukan, dan dua puluh tahun perjalanan yang membuat rakyat mengalami penderitaan yang luar biasa. Pengetahuan tentang perkembangan faksi Stalinis di dalam Partai Bolshevik, dan bagaimana kebijakan-kebijakannya terhadap Revolusi Tiongkok didasarkan pada kepentingan birokrasi sendiri dan bukan berdasarkan realitas Tiongkok, sangatlah penting untuk memahami kekalahan Revolusi Kedua Tiongkok.”
Dalam memimpin gerakan-gerakan buruh di negeri-negeri maju dan gerakan-gerakan pembebasan nasional di negeri-negeri terbelakang, partai-partai Komunis yang ada melandaskan dirinya pada Teori Sosialisme di Satu Negeri. Berlandaskan teori inilah pemimpin-pemimpin Stalinis bukan sekadar mengembangkan perspektif revolusi bertahap yang menentang kebijakan kediktatoran proletariat dan kebutuhan akan revolusi dunia, melainkan pula secara tak-terelakkan mengalihkan kaum buruh dan muda dari tugas historis membangun Kepemimpinan ‘Bolshevisme’ dan ‘Komunis Internasional’ yang revolusioner dengan mengusung pembangunan ‘Frontisme Populer’ yang vulgar. Sudut pandang persatuan Stalinis ini mengarahkan perjuangan kelas revolusioner menuju rawa-rawa kolaborasi-kelas: membentuk aliansi bersama kaum liberal dan radikal dari lapisan-lapisan borjuasi, partai-partai borjuis dan negara kapitalis. Setelah kekalahan berbagai perjuangan massa yang dipandu oleh kepemimpinan yang berpedoman pada Stalinisme dan keruntuhan partai-partai Komunis di Eropa Timur, kebijakan front persatuan tersebut dipertahankan begitu rupa. Meskipun sebagian kaum Stalinis hari-hari ini telah menyatakan kebijakan kolaborasi-kelas sebagai ‘bagian’ yang buruk, dan oleh karenanya, dalam taktik persatuan mereka mendeklarasikan penolakan berkolaborasi bersama borjuasi; namun secara ‘keseluruhan’, praktik-praktik persatuan mereka tetaplah mengalir dari teori-yang-keliru. Dengan membuang satu bagian yang buruk dari teori-yang-keliru dan mempertahankan bagian lain yang dianggap baik dari teori-yang-keliru, orang-orang tidak dapat menerima premis-premisnya tanpa terjerumus dalam kontradiksi-kontradiksi yang absurd, ambigu dan kacau. Di Indonesia, kita dapat menyaksikan bagaimana kelemahan teoretik mereka dalam memimpin perjuangan massa untuk emansipasi bangsa-bangsa tertindas—West Papua dan Palestina. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan kebangsaan, mereka mengusung program hak bangsa menentukan nasib sendiri—yang diadopsi dari posisi Leninis—secara vulgar. Demikianlah hak menentukan nasib sendiri diperjuangkan oleh mereka dengan menekankan pada pembangunan front-front kerakyatan dan demokratis, bukan dengan penyatuan kaum buruh dan muda dari kebangsaan tertindas dengan kaum buruh dan muda dari kebangsaan penindas dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner yang tersentral dan kuat.
Posisi Leninis berkait persoalan kebangsaan mengalir dari prinsip internasionalisme proletariat, yang melayani kepentingan kelas proletar internasional untuk menghapuskan kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara-bangsa, dengan memperjuangkan revolusi dunia; di mana tugas historis ini mengharuskan kaum buruh dan muda dari setiap kebangsaan yang ada untuk bersatu secara politik dan organisasional di bawah panji Marxisme dalam pembangunan Bolshevisme dan Komunis Internasional. Posisi Leninis sangat kontras dengan posisi Stalinis, yang dalam persoalan kebangsaan mengusung program hak bangsa menentukan nasib sendiri dengan menekankan pada pembentukan front-front yang longgar dan tidak berdiri di atas garis persatuan yang jelas. Sementara perlawanan terhadap segala bentuk penindasan nasional, rasisme dan diskriminasi kebangsaan minoritas sangatlah tidak mungkin tanpa mempersatukan bangsa tertindas dan bangsa penindas dalam perjuangan revolusioner bersama untuk transformasi masyarakat secara mendasar. Ini merupakan persatuan menyeluruh, sukarela, dan sadar di antara kaum buruh dan muda dari semua kebangsaan berdasarkan garis kelas yang akan memotong semua perbedaan-perbedaan nasional, bahasa, agama, ras, gender, orientasi seksual, dan warna kulit. Di bawah Kepemimpinan Lenin, Partai Bolshevik dan Komintern menjadi model penyatuan strategis dari berbagai bangsa dalam organisasi politik revolusioner bersama; di mana kaum terhisap dan tertindas Rusia, Ukraina, Latvia, Lituania, Armenia, bahkan Yahudi—semuanya bersatu dan bekerja sama dalam organisasi-organisasi Bolshevik. Jadi, persatuan yang mengalir dari posisi Leninis untuk mengatasi persoalan kebangsaan bukanlah dalam bentuk persatuan-persatuan taktis, yang luas dan tidak-ketat. Melainkan persatuan dalam organisasi-organisasi massa dan pelopor yang tersentral dan kuat. Mengabaikan penyatuan politik dan organisasional ini berarti membuka jalan untuk kaum buruh dan muda berkebangsaan tertindas untuk membangun organisasi yang terpisah dengan kaum buruh dan muda berkebangsaan penindas. Pembangunan organisasi macam ini secara tak-terelakkan akan menguatkan prasangka dan sentimen nasionalisme di antara bangsa-bangsa, yang secara dialektis, melemahkan perjuangan kelas proletariat internasional. Secara filosofis, posisi Leninis terkait masalah kebangsaan berdiri di atas garis kelas yang ‘materialis-dialektis’: dengan penolakan yang prinsipil untuk membuat konsensi sekecil apapun terhadap nasionalisme dari bangsa manapun, segala kecenderungan ‘eklektik’—untuk membentuk persatuan-persatuan politis yang luas dan longgar dengan mencampur-adukan berbagai perspektif dan program; atau segala kecenderungan ‘dualistik’—untuk membentuk organisasi-organisasi tersendiri yang membedakan secara kaku antara bangsa tertindas dan bangsa penindas—tidak dapat dibenarkan. Pada analisa terakhir, tendensi-tendensi borjuis-kecil itu justru melayani kepentingan borjuasi yang secara global berusaha merintangi dan memecahkan persatuan revolusioner di antara kaum buruh dan muda dari semua kebangsaan; di mana persatuan politis yang cenderung eklektis maupun persatuan organisasional yang cenderung dualistis sama-sama mengarah pada pengabsolutan perbedaan-perbedaan identitas; mempertahankan partikularitas dan ekslusivitas kebangsaan—yang pertama dilancarkan secara gelap-gelapan dan membingungkan, yang kedua digencarkan secara terang-terangan dan meyakinkan. Dalam “The Right of Nations to Self-Determination”, Lenin menjelaskan:
“Kaum borjuasi liberal dari semua bangsa—dan terutama borjuasi Rusia Raya—berjuang untuk privelese bangsanya ‘masing-masing’ … untuk partikularitas nasional, untuk ekslusivitas nasional, dan dengan ini, mereka menyokong kementerian dalam negeri…. Nasionalisme borjuis dan internasionalisme proletarian adalah dua slogan yang bertentangan satu sama lain, yang mewakili dua kubu kelas dalam dunia kapitalis dan mengekspresikan dua kebijakan (atau, dua cara pandang dunia) dalam masalah kebangsaan…. Kebudayaan nasional kaum borjuasi dalah sebuah ‘fakta’ (dan saya ulangi, kaum boruasi di seluruh dunia menjalin kesepakatan dengan kaum tuan-tanah dan kelerus). Nasionalisme borjuis yang agresif, yang membodohi dan memecah-belah kaum buruh supaya kaum borjuasi dapat mencocok hidung mereka—inilah fakta fundamental hari ini. Mereka yang ingin melayani [kepentingan] kelas proletariat harus menyatukan rakyat pekerja dari semua bangsa, dan dengan tegas memerangi nasionalisme borjuis, entah itu dalam negeri sendiri atau luar negeri…. Berlawanan dengan segala bentuk nasionalisme borjuis [dan borjuis-kecil], demokrasi kelas-buruh mengedepankan tuntutan persatuan tanpa-syarat dan amalgamasi penuh rakyat pekerja dari ‘semua’ kebangsaan dalam ‘semua’ organisasi kelas proletar—serikat buruh, koperasi, asosiasi konsumen, badan pendidikan, dan yang lainnya—sebagai tandingan atas percekcokan nasionalis antara berbagai partai borjuis mengenai masalah kebangsaan dan sebagainya. Hanya persatuan dan amalgamasi macam ini yang dapat menjaga demokrasi dan membela kepentinga proletariat dalam melawan kapital—yang sudah menginternasional dan semakin menginternasional—dan mendorong perkembangan umat manusia ke sebuah cara hidup yang asing dari semua privilese dan semua eksploitasi.”
Program dan slogan hak menentukan nasib sendiri pada dasarnya tidaklah dirancang untuk membela hak istimewa satu bangsa di atas bangsa lainnya—atau dengan kata lain: tidak pernah ditujukan untuk mendukung nasionalisme, separatisme, jinggoisme, atau chauvinisme dari kaum borjuis dan borjuis-kecil yang berasal dari bangsa manapun; karena itu berlawanan dengan internasionalisme dan melemahkan perjuangan kelas revolusioner dunia. Posisi Leninis dalam persoalan kebangsaan bertujuan menyatukan perjuangan nasional bangsa-bangsa tertindas dan perjuangan kelas pekerja internasional untuk kemenangan revolusi proletariat dan sosialisme dunia. Berdasarkan tujuan inilah Lenin berucap: ‘pengakuan terhadap hak penentuan nasib sendiri tidak mengecualikan propaganda dan agitasi untuk menentang separasi atau nasionalisme borjuis’. Dalam premis ini persoalan kebangsaan ditangani secara konkret menggunakan pendekatan dialektis yang berprinsipkan pembangunan keseluruhan; yakni, dengan menerangkan dua sisi pendekatan yang membentuk sebuah posisi internasionalis yang konsisten. Pertama, pendekatan di negeri-negeri tertindas: perlu melindungi kaum buruh dan muda dari pengaruh-pengaruh nasionalisme borjuis dan borjuis-kecil. Kedua, pendekatan di negeri-negeri bangsa penindas: perlu membela hak-hak demokratis dari bangsa tertindas, termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri. Namun untuk mengoperasikan kedua pendekatan itu sebagai kesatuan dialektis, Lenin mengutamakan penggunaan ‘tuntutan-negatif’: tuntutan yang berhubungan dengan penolakan terhadap segala bentuk aneksasi atau penahanan paksa satu bangsa oleh bangsa lain. Dengan menentang semua kepentingan nasional yag ada, tuntutan ini berarti sangatlah ketat dan tertutup dari nasionalisme borjuasi di negeri manapun. Sedangkan dengan meninggalkan tuntutan-negatif itu berarti mengarah pada ‘tuntutan-positif’: tuntutan yang berhubungan dengan persetujuan terhadap kepentingan nasional suatu bangsa dan karenanya sangat terbuka terhadap tendensi-tendensi nasionalis. Dan dengan tuntutan yang longgar macam ini maka borjuasi dari negeri manapun dapat memelintirnya seturut kepentingan nasionalnya. Inilah ranjau-ranjau nasionalis yang terkandung dalam setiap perjuangan-perjuangan pembebasan nasional yang ada. Tanpa pembangunan kepemimpinan revolusioner yang berpedoman pada teori yang paling maju, maka pertempuran teoretis untuk persatuan politik dan organisasional yang menyeluruh dalam melawan segala bentuk nasionalisme borjuis dan borjuis-kecil menjadi mustahil. Dalam “The Socialist Revolution and the Right of Nations to Self-Determination”, Lenin menulis:
“Tujuan sosialisme bukan hanya untuk menghapus pembagian umat manusia hari ini ke dalam negeri-negeri kecil dan semua isolasi nasional; bukan hanya untuk membawa bangsa-bangsa menjadi semakin dekat, namun juga untuk menyatukan mereka. Dan untuk mencapai tujuan ini kita harus, di satu sisi, menjelaskan kepada massa sifat reaksioner dari ide-ide Renner dan Otto Bauer mengenai apa-yang-disebut ‘otonomi budaya nasional’ dan, di sisi lain, menuntut pembebasan bangsa-bangsa tertindas, bukan dalam kata-kata umum dan samar-samar, bukan dalam pernyataan-pernyataan kosong, bukan ditunda sampai sosialisme dimenangkan, namun dengan sebuah program politik yang terformulasikan secara jelas dan tepat, yang secara khusus akan menjelaskan kemunafikkan dan kepengecutan kaum sosialis di negeri-negeri yang menindas. Seperti juga umat manusia dapat mencapai penghapusan kelas-kelas hanya dengan melewati periode transisi dari kediktatoran kelas tertindas [kediktatoran proletariat], demikian juga umat manusia dapat mencapai keniscayaan persatuan bangsa-bangsa hanya dengan melewati periode transisi pembebasan sepenuhnya dari seluruh bangsa yang tertindas, yaitu kebebasan mereka untuk memisahkan diri…. Dan, kaum borjuis-kecil, yang percaya pada kapitalisme ‘damai’, hingga hari ini terus menekankan semua tuntutan [demokratis] tersebut secara utopis, tanpa melihat perjuangan kelas dan fakta bahwa perjuangan kelas ini telah menjadi semakin intensif di bawah demokrasi. Gagasan tentang persatuan damai bangsa-bangsa yang setara di bawah imperialisme, yang menipu rakyat, dan yang diajukan oleh kelompok Kautsky, justru bersifat seperti itu. Untuk melawan kaum Utopis yang filistin dan oportunis ini, program Sosial-Demokrasi harus menunjukkan bahwa di bawah imperialisme, pembagian negara menjadi negeri-negeri penindas dan tertindas adalah sebuah fakta yang mendasar, paling penting dan tidak dapat dihindari.”
“Kaum proletar dari bangsa-bangsa penindas tidak dapat membatasi dirinya sendiri pada ungkapan-ungkapan yang umum dan lazim menentang aneksasi dan mendukung hak yang setara dari bangsa-bangsa secara umum, sesuatu yang dapat diulang-ulang oleh kaum borjuis pasifis manapun. Kaum proletar tidak dapat menghindari masalah yang sangat ‘tidak menyenangkan’ bagi borjuasi imperialis, yakni, masalah perbatasan sebuah bangsa yang didasarkan pada penindasan nasional. Kaum proletar harus melawan pengekangan paksa bangsa-bangsa yang tertindas di dalam batas-batas sempit negara-bangsa tertentu, dan inilah makna perjuangan untuk hak penentuan nasib sendiri. Kaum proletar harus menuntut hak politik untuk memisahkan diri bagi negeri-negeri jajahan dan bagi bangsa-bangsa yang ditindas oleh bangsanya ‘sendiri’. Jika proletariat tidak melakukan itu, internasionalisme proletariat akan menjadi ungkapan yang tidak bermakna; saling-percaya dan solidaritas-kelas antara buruh dari bangsa-bangsa yang menindas dan tertindas akan menjadi mustahil; kemunafikan dari kaum reformis dan para pendukung Kautsky yang mengakui hak menentukan nasib sendiri namun bungkam bagi bangsa-bangsa yang ditindas oleh ‘bangsa mereka’ dan dikurung secara paksa dalam ‘negeri mereka’ akan tetap tidak terekspos. Sebaliknya, kaum sosialis dari bangsa-bangsa tertindas harus secara khusus berjuang untuk dan mempertahankan persatuan yang utuh dan mutlak (juga secara organisasional) antara pekerja dari bangsa yang ditindas dan pekerja dari bangsa yang menindas. Tanpa persatuan seperti itu akan menjadi mustahil untuk mempertahankan kebijakan proletar yang independen dan solidaritas-kelas dengan proletariat dari negeri-negeri lain dalam menghadapi semua akal-akalan, pengkhianatan, dan tipu-muslihat borjuasi; karena kaum borjuis dari bangsa tertindas selalu mengubah slogan pembebasan nasional menjadi alat untuk menipu buruh; dalam politik internal borjuasi bangsa tertindas menggunakan slogan tersebut sebagai alat untuk melakukan perjanjian-perjanjian reaksioner dengan borjuasi dari bangsa penindas (misalnya, borjuasi Polandia di Austria dan Rusia, yang membuat perjanjian dengan kelompok reaksi untuk menindas kaum Yahudi dan Ukraina); dalam ranah politik luar negeri borjuasi berusaha membuat perjanjian dengan salah satu pesaing kekuatan imperialis dengan tujuan menenangkan kepentingan-kepentingan predatornya sendiri (kebijakan negeri-negeri kecil di Balkan, dan sebagainya). Fakta bahwa di bawah kondisi tertentu perjuangan pembebasan nasional melawan satu kekuatan imperialis bisa digunakan oleh Kekuatan ‘Besar’ lainnya untuk kepentingan yang juga imperialis tidak dapat menjadi alasan Sosial-Demokrasi dalam mencampakkan pengakuan terhadap hak bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri, seperti halnya dalam banyak kasus di mana borjuasi menggunakan slogan republik untuk tujuan penipuan politik dan perampokan ekonomi, contohnya, di negeri-negeri Amerika Latin, tidak mendorong mereka untuk meninggalkan republikanisme.”
Di zaman krisis eksistensialis kapitalisme yang semakin kompleks, dengan bertambah kejinya dominasi imperialis dalam meluluhlantakan pasar-pasar nasional, masalah-masalah kebangsaan mengemuka secara eksplosif. Ini menjadikan tuntutan-tuntutan kebangsaan, yang meskipun merupakan tugas borjuis-demokratik, tidak dapat diabaikan oleh kelas proletar dan komunis; karena dengan menghindari masalah kebangsaan maka secara efektif akan menyerahkan medan perjuangan tersebut ke tangan borjuasi nasional yang sudah tidak-progresif. Di tengah penderitaan kematian kapitalisme yang sedang sekarat ini—dengan reforma-reforma yang terus-menerus dicabut, serangan-serangan terhadap standar hidup yang meningkat drastis, hak-hak demokratis rakyat pekerja yang dipangkas habis, dan bangsa-bangsa kecil yang ditaklukkan secara brutal dalam skandal-skandal kejahatan imperialis—sangat irasional dan tidak-manusiawi untuk membiarkan proses-proses penghancuran tersebut dengan alasan menunggu revolusi sebagai jalan keluar yang paling praktis. Revolusi sosialis adalah satu-satunya solusi untuk mengakhiri krisis masyarakat kapitalis tapi perubahan mendasar itu hanya mungkin terjadi di atas perjuangan-perjuangan untuk reforma-reforma, hak-hak demokratis, dan termasuk perjuangan pembebasan nasional, yang diarahkan untuk melampaui legalitas atau batas-batas borjuis secara revolusioner. Demikianlah revolusi ini bukanlah sebuah periode dengan pertempuran tunggal, melainkan mencangkup serangkaian pertempuran mengenai beragam masalah reforma ekonomi dan demokrasi, yang dalam masyarakat kapitalis hanya bisa dimenangkan dengan mengapropriasi kepemilikan borjuasi. Dan berkait masalah kebangsaan dan setiap persoalan-persoalan demokrasi lainnya, Lenin berkata: ‘tidak ada satupun tuntutan demokratik yang tidak dapat menjadi, atau belum menjadi, di bawah kondisi-kondisi tertentu, sebuah instrumen borjuasi untuk menipu kaum buruh. Dalam teori, adalah secara fundamental keliru apabila hanya memilih satu tuntutan demokrasi politik, yaitu, hak bangsa untuk menentukan nasib sendiri, dan mempertentangkannya dengan tuntutan-tuntutan demokrasi politik lainnya. Dalam praktik, proletariat akan mampu mempertahankan kemandiriannya hanya jika mensubordinasikan perjuangannya untuk semua tuntutan demokratik, termasuk tuntutan untuk sebuah republik, kepada perjuangan revolusionernya untuk menggulingkan borjuasi’. Untuk memandu perjuangan revolusioner inilah pembangunan kepemimpinan yang berpedoman pada teori yang paling maju menjadi tugas strategis, yang di tengah-tengah gemuruh penderitaan krisis-krisis kapitalisme, reformisme, dan Stalinisme, peran historis yang revolusioner ini semakin meningkat signifikansinya untuk tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Dalam perjuangan pembebasan nasional, tanpa kepemimpinan yang memadai—untuk menunjukkan posisi Leninis yang benar—maka kaum buruh dan muda menjadi sangat rentan menginjak ranjau-ranjau nasionalis. Hanya ketika dipandu secara benar, untuk menggunakan dua sisi pendekatan internasionalis yang tersatukan secara dialektis; di mana kedua sisinya dihubungkan dengan penggunaan tuntutan-negatif, maka perjuangan massa di negeri tertindas dan di negeri penindas dapat disatukan secara organis; yakni bersatu dalam perjuangan revolusioner untuk transformasi sosialis. Dan pendekatan untuk persatuan macam ini lagi-lagi takkan pernah dimungkinkan selama menekankan pada pembangunan front-front populer, karena yang harus ditekankan adalah tugas strategis untuk membangun Bolshevisme dan Komunis Internasional. Melalui pembangunan kepemimpinan Partai Komunis Revolusioner di skala nasional dan dunia maka perjuangan politik dan organisasional yang tersentral dan kuat menjadi mungkin dan efektif, termasuk dalam melawan pengaruh-pengaruh nasionalisme borjuis dan borjuis-kecil di negeri-negeri yang tertindas dan membela hak-hak demokratis bangsa minoritas di negeri-negeri yang menindas. Dan dengan pembangunan kepemimpinan revolusioner inilah kaum buruh dan muda dari setiap kebangsaan dapat menyelamatkan perjuangannya dari pendekatan-pendekatan yang sepihak. Pendekatan satu sisi dalam masalah bangsa-bangsa yang konkret, akan menjadi pendekatan yang formalis dan abstrak, yang mengabaikan prinsip internasionalisme atau pembangunan keseluruhan. Pertama, pendekatan pada bangsa tertindas: program hak menentukan nasib sendiri yang diperjuangkan di negeri tertindas dengan melawan kepentingan nasional negeri penindas, namun tanpa sebuah kepemimpinan revolusioner yang secara politik dan organisasional menghubungkan kaum buruh dan muda berkebangsaan tertindas dengan gerakan buruh dan muda berkebangsaan penindas—yang berjuang membela hak-hak demokratis bangsa-bangsa minoritas, maka takkan mungkin melindungi bangsa tertindas dari pengaruh nasionalisme borjuis dan borjuis-kecil; karena tanpa pembangunan partai yang berpedoman pada teori yang paling maju, dalam praktiknya, perlawanan bangsa tertindas ini akan tersungkur pada pendekatan satu sisi yang cenderung ‘dualistik’: mempertentangkan secara kaku antara nasionalisme bangsa penindas dan nasionalisme bangsa tertindas, yang pada gilirannya akan menguatkan nasionalisme secara keseluruhannya. Kedua, pendekatan pada bangsa penindas: program hak menentukan nasib sendiri yang diperjuangkan kaum buruh dan muda di negeri penindas dengan membela hak-hak demokratis bangsa minoritas, namun tanpa sebuah kepemimpinan revolusioner yang secara politik dan organisasional menyatukannya dengan gerakan buruh dan muda berkebangsaan tertindas—yang berjuang menentang kepentingan nasional negeri penindas, maka takkan mungkin mempertahankan tuntutan-negatif di negeri penindas secara konsisten; karena tanpa pembangunan partai yang berpedoman pada teori yang paling maju, dalam praktiknya, solidaritas terhadap bangsa tertindas ini akan terperosok pada pendekatan satu sisi yang cenderung ‘eklektik’: mengabaikan agitasi dan propaganda untuk menentang separasi atau pengutamaan kepentingan satu bangsa di atas bangsa lainnya, dan oleh karenanya, mendekati persoalan kebangsaan secara vulgar di mana tuntutan-negatif dilampaui menjadi tuntutan-positif, yang secara tak-terelakkan membuka pintu belakang untuk membuat konsensi terhadap partikularitas dan eksklusivitas kebangsaan—memasukkan salah satu (atau beberapa) kepentingan nasional yang bersifat reaksioner ke dalam perjuangan revolusioner massa yang berkarakter internasional.
Perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme tidak dapat dipimpin secara sadar dan terorganisir dengan berpedoman pada teori-teori Stalinis. Di bawah kepemimpinan Stalinis, kebijakan-kebijakan persatuan tidaklah dirumuskan secara konkret untuk membangun hubungan-hubungan politik dan organisasional antara kaum revolusioner atau buruh Komunis (yang berada di garda depan proletariat) dengan berbagai lapisan rakyat pekerja (yang masih berada di bawah pengaruh pemimpin-pemimpin sosial-demokrasi, reformis dan sentris). Sebab sudut pandang Stalinis tentang persatuan terlampau abstrak dan formalis. Stalinisme membayangkan kalau dalam membangun kekuatan-tempur revolusioner cukuplah dengan mengajak sebanyak mungkin orang untuk bergabung dengan gerakan-gerakan dan organisasi-organisasi radikal yang ada. Ini keliru. Fakta bahwa pertanyaan-pertanyaan revolusi—terlebih yang berkait masalah-masalah perebutan kekuasaan—tidak dapat diajukan tanpa adanya partisipasi aktif dari massa, tidak berarti menjadi pengungkit untuk mencari jalan pintas demi mendapatkan massa: penyederhanaan strategi, taktik, dan slogan-slogan revolusioner seturut tingkat kesadaran lapisan terbelakang. Dalam “Komunisme Sayap Kiri; Suatu Penyakit Kekanak-Kanakan”, Lenin berkata: ‘jika Anda ingin membantu “massa” dan memenangkan simpati serta dukungan dari “massa”, Anda tidak boleh takut akan kesulitan atau kesukaran, tipu-daya, hinaan, dan penganiayaan dari para pemimpin (yang, sebagai kaum oportunis atau bersifat chauvinis, dalam banyak kasus secara langsung atau tidak-langsung berelasi dengan kaum borjuasi dan polisi), tetapi harus benar-benar bekerja di manapun massa berada. Anda harus mampu berkorban, mengatasi rintangan terbesar, untuk melakukan agitasi dan propaganda secara sistematis, tekun, teratur, dan sabar di badan-badan, perkumpulan-perkumpulan, perserikatan-perserikatan yang ada—bahkan yang paling reaksioner—di mana massa proletar dan semi-proletar berada’. Taktik front persatuan Leninis bersifat konkret: ‘taktik harus didasarkan pada penilaian yang bijaksana dan obyektif terhadap semua kekuatan kelas’. Dan taktik yang—mengalir dari tugas strategis pembangunan Bolshevisme dan Internasionalisme ini—bertujuan untuk menyatukan secara dialektis antara garda depan revolusioner dan barisan belakang proletar, dengan mendeklarasikan perang terhadap reformisme dan oportunisme yang mengkhianati perjuangan massa—berasal dari ‘kondisi obyektif yang mengatur perkembangan proletariat’, dan oleh karenanya, bukanlah sesuatu yang kebetulan dan dibuat-buat, apalagi dengan manuver dan intrik birokratik yang memaksakan penerapan taktit front persatuan secara kasar. Dalam “Lenin’s ‘Left-Wing Communism’: A Masterclass in Revolutionary Strategy”, Francesco Merli menulis:
“Pertama, tugas strategis [kaum revolusioner adalah] untuk memenangkan garda depan proletariat ke komunisme, dan menyatukan mereka ke dalam partai revolusioner. Akan tetapi, karena tugas mendesak ini sedang dalam proses penyelesaian di banyak negara, muncul pertanyaan tentang bagaimana kaum komunis dapat dan harus memenangkan massa dari pengaruh sosial-demokrasi, reformisme dan oportunisme—yang merupakan hambatan utama di jalan menuju revolusi…. Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan pemahaman yang benar mengenai peran garda depan revolusioner, hubungannya dengan massa, dan peran partai revolusioner…. Walaupun barisan depan bisa belajar dari kombinasi pengalaman dan pendidikan politik, di mana propaganda komunis yang baik dan efektif memainkan peran penting, massa belajar terutama melalui pengalaman. Peran partai revolusioner adalah menghilangkan hambatan-hambatan terhadap persatuan lapisan-lapisan massa dan lapisan-lapisan revolusioner yang maju, mempersiapkan partai, barisan depan dan massa untuk melakukan revolusi dengan mempersatukan mereka dalam perjalanan revolusi. Hal ini hanya dapat dicapai dengan mengungkap dalam praktik pengkhianatan kaum liberal borjuis dan para pemimpin reformis, dan menunjukkan tanpa keraguan bahwa satu-satunya metode bagi massa untuk memenuhi kebutuhan fundamental mereka adalah melalui cara-cara revolusioner. Taktik revolusioner adalah metode yang digunakan partai untuk membantu massa dalam pengalaman praktis yang sulit, dan pada saat yang sama memastikan bahwa lapisan yang lebih maju terus-menerus terhubung dengan massa yang terbelakang dan mendorong mereka maju, tanpa berlari terlalu jauh ke depan dari mereka atau terlibat sebelum waktunya dalam pertempuran. Lenin memahami bahwa revolusi tidak akan pernah bisa dicapai dengan kemauan para pelopor revolusioner saja. Agar revolusi dapat menang, lapisan yang paling maju, yakni lapisan pelopor, harus diorganisir secara berdisiplin dalam sebuah partai revolusioner dan perlu mendapat dukungan dari mayoritas kelas pekerja, sebagai syarat untuk menaklukan kekuasaan negara…. Cara untuk mencapai posisi itu tidak memungkinkan jalan pintas. Kaum komunis harus berjuang untuk kepemimpinan organisasi massa kelas pekerja seperti serikat buruh, dengan membersihkan mereka dari pengkhianat-kelas—elemen chauvinis dan reformis. Mereka juga harus memenangkan massa yang masih mengikuti kepemimpinan reformis di partai-partai reformis yang mempunyai basis massa. Hanya dengan mencapai posisi seperti itu partai revolusioner dapat memulai perebutan kekuasaan. Hanya dengan melemahkan pengaruh sisa tatanan lama, mengatasi kelesuan sosialnya, massa yang lebih luas bisa dimenangkan untuk revolusi. Upaya untuk menggulingkan negara kapitalis secara revolusioner hanya dapat diluncurkan ketika kondisi-kondisi ini terpenuhi…. Penolakan terhadap taktik untuk mengekspos peran kaum reformis kepada massa dalam praktiknya hanya akan mengarah kepada sektarianisme yang mandul…. Dengan menolak mengadopsi [secara benar] taktik yang dapat menempatkan partai revolusioner sebagai pemimpin massa, kaum ‘Kiri’ memberikan pelayanan kepada kelas penguasa dalam memisahkan barisan depan dari massa, sehingga membuat mereka rentan terhadap serangan, dan memfasilitasi penindasan terhadap mereka….”
Dengan mengadopsi perspektif persatuan Stalinis, lapisan yang paling maju dan sadar-kelas dari kaum buruh dan muda takkan pernah mendapatkan pendidikan politik yang layak untuk bertempur dengan baik; yakni, perjuangan revolusioner dengan membangun partai tempur yang tersentral dan kuat, yang menyatukan secara dialektis antara keteguhan teoretis dengan fleksibilitas taktis dan organisasi; untuk memahami medan dan kondisi-kondisi secara konkret; untuk mempelajari cara terlibat dan melepaskan-diri secara bijak; untuk pemusatan kekuatan dan menyerang pada tempo yang tepat; untuk bermanuver dan mundur secara teratur pada saat yang diperlukan; untuk menghindari pertempuran pada waktu yang tidak menguntungkan; untuk miminimalisir kerugian dan meningkatkan persentase keberhasilan; dan singkatnya, untuk kemenangan revolusi proletariat (yang dipimpin oleh partai tempur—organisasi kader revolusioner). Alih-alih menempatkan pembangunan kepemimpinan revolusioner ini sebagai tugas strategis, yang ditekankan justru tentang pembangunan kepemimpinan populis-kiri atau front populer dengan label ‘kiri’ maupun ‘demokratik’; di mana taktik pembangunannya mengalir dari strategi mobilisasi massa yang seluas-luasnya (Frontisme Populer), dan oleh karenanya, bertentangan dengan strategi penyatuan kaum buruh dan muda di bawah panji-panji Marxisme yang sejati (Bolshevisme dan Internasionalisme Komunis). Di bidang teori, adalah sebuah kesalahan eklektis untuk menggabungkan partai dengan kelas, atau menyejajarkan pelopor dengan massa; karena ini berarti menyatukan paksa semua heterogenitas kesadaran massa ke dalam homogenitas—prinsip, program, metode, dan tujuan—kepemimpinan partai yang mengekspresikan kepentingan historis dan obyektif kelas proletar. Dalam perjuangan pembebasan nasional, meskipun pemimpin-pemimpin populis-kiri mengadopsi program hak bangsa menentukan nasib sendiri—yang diadopsi dari posisi Leninis—tetapi dengan pengembangan kebijakan front persatuan yang bertendensi Stalinis, maka program dan kebijakan mereka menjadi sesuatu yang digabungkan secara eklektik. Dan eklektisisme dalam teori, secara tak-terelakkan akan menyeret kepada praktik-praktik perjuangan yang membingungkan. Dalam praktik mereka, posisi internasionalis terhadap persoalan kebangsaan sangat tidak-konsisten. Prinsip internasionalisme dalam perjuangan kelas tidak saja menyangkut pengakuan terhadap hak bangsa menentukan nasib sendiri, tetapi secara fundamental berhubungan dengan kemandirian politik kelas revolusioner proletariat. Perwujudan dari independensi-kelas ini tidak dapat direduksi menjadi sekadar lembaran-lembaran edukasi, pernyataan-pernyataan organisasi, dan aksi-aksi politik yang menentang kebijakan kolaborasi-kelas. Inilah salah satu kebingungan teoretik yang mendasar dari kepemimpinan-kepemimpinan politik dan organisasional yang bertendensi Stalinis. Kebingungan mereka ditunjukkan melalui sikap politik terhadap kebijakan kolaborasi-kelas. Mereka mengandaikan kemandirian politik proletariat dapat terekspresikan melalui penolakan-penolakannya terhadap kebijakan kolaborasi-kelas semata. Mereka tidak mengerti kalau independensi proletariat hanya dapat terwujud dalam kepemimpinan revolusioner, yang memberikan ekspresi terorganisir dan sadar terhadap perjuangan kelas proletar dalam melawan musuh-musuh kelasnya dan mempertahankan kepentingan-kepentingan politik revolusionernya untuk revolusi dan sosialisme dunia. Dalam “What Is To Be Done?”, Lenin menegaskan”: ‘tanpa organisasi yang kuat dan terampil dalam melancarkan perjuangan politik dalam segala situasi dan waktu, tidak mungkin ada program yang sistematis, yang diterangi oleh prinsip-prinsip yang kuat dan dilaksanakan dengan teguh, yang merupakan satu-satunya yang layak disebut taktik’. Dengan kata lain: tanpa strategi pembangunan partai revolusioner di skala nasional dan internasional, yang berpedoman pada teori Marxis yang benar, segala penolakan terhadap kolaborasi-kelas akan menjadi sesuatu yang formalis dan abstrak. Dalam “What Next? Vital Question for the German Proletariat”, Trotsky bukan sekadar menerangkan apa itu independensi-kelas tapi lebih jauh mengungkap karakter reaksioner dari semua teori yang keliru dan vulgar:
“…Kepentingan kelas tidak dapat dirumuskan selain dalam bentuk program; program ini tidak dapat dipertahankan selain dengan membentuk partai … Kelas proletar mengambil peran independen hanya pada saat ketika kelas sosial itu sendiri menjadi kelas politik bagi dirinya sendiri. Hal ini tidak dapat dilakukan kecuali melalui prantaraan partai. Partai adalah organ sejarah yang melaluinya kelas menjadi sadar akan kelas. Mengatakan bahwa ‘massa berdiri lebih tinggi dari partai’, berarti menegaskan bahwa kelas dalam keadaan mentah berdiri lebih tinggi dari kelas yang sedang menuju kesadaran kelas. Hal ini tidak hanya salah; itu reaksioner. Teori congkak dan dangkal ini sama sekali tidak dapat digunakan untuk menerangkan perlunya front persatuan. Kemajuan suatu kelas menuju kesadaran kelas, yaitu pembangunan sebuah partai revolusioner yang memimpin proletariat, adalah sebuah proses yang kompleks dan kontradiktif. Kelas itu sendiri tidak-homogen. Bagian-bagiannya yang berbeda mencapai kesadaran kelas melalui jalan yang berbeda dan pada waktu yang berbeda. Kelas borjuasi berpartisipasi secara aktif dalam proses ini. Di dalam kelas proletar, mereka menciptakan lembaga-lembaganya sendiri, atau memanfaatkan lembaga-lembaga yang sudah ada, untuk membedakan strata pekerja tertentu dengan strata pekerja lainnya. Di dalam proletariat ada beberapa partai yang aktif pada saat bersamaan. Oleh karena itu, dalam sebagian besar perjalanan sejarahnya, mereka masih terpecah secara politik. Masalah front persatuan—yang muncul pada periode-periode tertentu, paling tajam berasal dari sini. Kepentingan historis kelas proletar hanya dalam Partai Komunis—ketika kebijakan-kebijakanya tepat. Tugas Partai Komunis adalah menenangkan mayoritas proletariat; dan hanya dengan cara inilah revolusi sosialis dapat terwujud. Partai Komunis tidak dapat memenuhi misinya kecuali dengan mempertahankan, sepenuhnya dan tanpa syarat, independensi politik dan organisasionalnya, terpisah dari semua partai dan organisasi lain di dalam dan di luar kelas proletar. Melanggar prinsip dasar Marxis ini berarti melakukan kejahatan paling keji yang bertentangan dengan kepentingan proletariat sebagai sebuah kelas. Revolusi Tiongkok tahun 1925-1927 hancur justru karena Komintern, di bawah kepemimpinan Stalin dan Bukharin, memaksa Partai Komunis Tiongkok untuk beraliansi bersama partai borjuasi, Koumintang, dan mematuhi disiplinnya. Pengalaman yang dihasilkan dari penerapan kebiakan Stalinis terhadap Koumintang akan selamanya tercatat dalam sejarah sebagai contoh bagaimana revolusi disabotase secara kejam oleh para pemimpinnya. Teori Stalinis tentang ‘partai buruh dan tani dua kelas’ di Timur adalah generalisasi dan otorisasi dari praktik yang dilakukan terhadap Kuomintang; penerapan teori ini di Jepang, India, Indonesia, dan Korea telah melemahkan otoritas Komintern dan menghambat perkembangan revolusioner mereka selama beberapa tahun. Kebijakan yang sama—yang pada dasarnya bersifat reaksioner—diterapkan, meskipun tidak terlalu sinis, di Amerika Serikat, Inggris, dan di semua negara Eropa hingga tahun 1928.”
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
