“Kaum buruh dan muda yang maju haus akan ide dan teori. Mereka ingin memahami apa yang terjadi dalam masyarakat. Mereka tidak tertarik dengan tendensi-tendensi yang sekadar memberi tahu mereka apa yang sudah mereka ketahui: bahwa kapitalisme sedang dalam krisis, adanya pengangguran; bahwa mereka tinggal di rumah yang buruk, mendapatkan upah yang rendah, dan sebagainya. Orang-orang yang serius ingin mengetahui mengapa hal-hal seperti ini terjadi, revolusi apa yang berlangsung di Rusia?, apa itu Marxisme?, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bersifat teoritis. Itulah sebabnya mengapa teori bukanlah sebuah tambahan opsional, seperti yang dibayangkan oleh para ‘praktisi’, namun sebuah alat penting dalam perjuangan revolusioner.… Kami mempunyai ide-ide Marxisme, dan itulah yang terpenting. Semua pengalaman [kami] meyakinkan [kami] bahwa jika Anda memiliki ide yang benar, Anda selalu dapat membangun sebuah peralatan. Namun hal sebaliknya tidaklah benar. Anda dapat memiliki peralatan terbesar di dunia, namun Anda bekerja berdasarkan teori dan metode yang salah, Anda akan gagal. Kami mempertimbangkan posisi tersebut dan sampai pada kesimpulan bahwa dalam situasi saat ini, terutama setelah keruntuhan Uni Soviet, tugas kami yang paling mendesak adalah mempertahankan ide-ide dasar dan teori-teori Marxisme … Cepat atau lambat, kesalahan dalam teori akan berubah menjadi bencana dalam praktiknya….” (Revolutionary Communist International)
Teori Kontadiksi Maois menempatkan gerak-diri atau kontradiksi internal kapitalisme sebagai sesuatu yang berlangsung dalam garis yang lurus dan terisolasi, bukan dalam hubungan-hubungan dialektis antara yang khusus dan umum, kebetulan dan kebutuhan, individu dan universal, subyek dan obyek. Penyimpangan tersebut mengalir dari sudut pandang Mao Zedong di “On Practice”. Pengakuan bahwa pengalaman sebagai sumber pengetahuan yang paling dasar dan praktik merupakan satu-satunya cara untuk menguji kebenaran pengetahuan manusia tidak cukup dalam menyampaikan materialisme dialektis. Karena ketika pernyataan ini ditekankan tanpa menegaskan bahwa keberadaan realitas material itu tidaklah bergantung pada aktivitas berpikir, pengamatan dan pengalaman manusia—dan untuk mengetahui, memahami dan mengubah dunia dibutuhkan praksis revolusioner—maka pandangan-pandangan yang disampaikan menjadi sepihak dan abstrak. Teori Pengetahuan Maois menundukkan dunia yang obyektif pada subyektivitas, dan oleh karena itu, cenderung menciptakan hukumnya sendiri dengan menafikkan hukum-hukum dialektika yang melekat di alam. Meskipun Maoisme (Stalinisme) mengklaim dirinya tidak memisahkan kesadaran dari aktivitas indera dalam berhubungan dengan dunia material di luar dirinya, tetapi penekanan terhadap aktivitas-aktivitas praktis untuk memperoleh pengalaman langsung menjerumuskan ke jurang materialisme yang paling sempit. Cara pandang demikian tidaklah monistik tapi cenderung dualistik; menempatkan subyek (tubuh material) sebagai primer dan obyek (alam material) sebagai sekunder, serta membagi proses perkembangan pengetahuan-perseptual ke pengetahuan-rasional dan praksis revolusioner secara diametral dengan tahapan yang terpisah-pisah. Berangkat dari pandangan tersebut tidaklah sekadar membuat seseorang sukar mendapatkan pemahaman yang memadai terhadap realitas, melainkan pula menenggalamkannya dalam spiral rutinitas praktis-ekonomis yang absurd, mendemoralisasi, dan menjauhkannya dari perjuangan untuk menggulingkan kapitalisme secara revolusioner. Ini akan membuat seseorang kesulitan dalam mencapai wawasan ilmiah dan filosofis, karena Maoisme tidaklah menekankan pada studi yang serius untuk memahami Marxisme—sebagai ilmu tentang hukum fundamental yang mengatur perkembangan sejarah, masyarakat, dan pemikiran manusia—tapi secara pretensius memaksakan ide-ide subyektif dari pengamat ke dunia material obyektif. Organisasi dan gerakan yang kepemimpinannya berlandaskan teori macam ini dapat terperosot pada jurang materialisme mekanis, empirisme kasar, atau idealisme subyektif. Dalam “Materialisme dan Empiriokritisme”, Lenin memerangi kepicikan semacam itu. Pada ‘Pengantar’ buku tersebut, Alan Woods menerangkannya begitu rupa:
“Asal mula kebingungan dalam epistemologi ini terletak pada abad ke-17, ketika umat manusia berjuang untuk membebaskan diri dari obskurantisme agama pada abad pertengahan. Sebuah langkah maju yang penting dalam perjuangan tersebut adalah berkembangnya empirisme di Inggris. Pada masa-masa awalnya, empirisme memainkan peran yang sangat progresif dan revolusioner ketika ia berbalik melawan Gereja dan memproklamirkan pembebasan ilmu-pengetahuan dan keunggulan observasi dan eksperimen atas dogma, Kaum empiris pertama (Bacon, Locke, dan Hobbes) adalah kaum materialis. Sebagaimana dicatat, seruan mereka: ‘tidak ada sesuatupun di dalam pikiran yang tidak didahulukan oleh indera’. Penekanannya pada persepsi inderawi sebagai dasar dari semua pengetahuan pada masanya merupakan lompatan besar dari spekulasi kosong kaum skolastik abad pertengahan. Hal ini membuka jalan bagi perluasan pesat ilmu-pengetahuan, berdasarkan penyelidikan empiris, observasi dan eksperimen. Namun meskipun kehadirannya sangat revolusioner, bentuk awal materialisme ini bersifat sepihak, terbatas, dan karenanya tidak-lengkap. Pernyataan bahwa tidak ada sesuatupun dalam akal yang tidak berasal dari indera mengandung benih gagasan yang sangat benar. Ini adalah materialisme. Namun empirisme yang berat-sebelah membuka pintu bagi idealisme subyektif, yang mengkingkari keberadaan realitas material yang tidak-tergantung pada pengamatnya. Disajikan dengan cara yang membingungkan, gagasan ini memiliki konsekuensi yang paling merusak bagi perkembangan filsafat di masa depan. Kemajuan besar yang dicapai oleh kaum materialis Inggris awal, Hobbes dan Locke, digantikan oleh epigone dangkal, David Hume, yang kemudian memberi pengaruh negatif terhadap filsafat Kant. Dalam diri Uskup George Berkeley ini mendapatkan pembelaannya yang paling konsisten. Empirisme kasar ini, yaitu idealisme subyektif, telah berulang kali membuat pengaruhnya terasa dalam filsafat dan ilmu-pengetahuan borjuis modern dengan berbagai samara yang berbeda. Salah satu samara yang paling merusak adalah apa yang disebut positivisme logis. Di bawah pengaruh ide-ide ini, ilmuwan Austria Ernst Mach, yang dibahas secara mendalam oleh Lenin dalam bukunya, menyangkal keberadaan atom, karena tidak dapat dilihat, dirasakan atau didengar.”
“Argumen idealisme subyektif, pada pandangan pertama, mungkin tampak memiliki logika yang tidak dapat disangkal. Faktanya, jika kita menerima premis awal, hampir tidak mungkin untuk membantahnya. Namun seseorang tidak dapat menerima premis seperti itu tanpa terjerumus ke dalam kontradiksi-kontradiksi yang paling tidak masuk akal…. Pada kenyataannya mereka didasarkan pada penipuan intelektual, yang secara filosofis setara dengan sulap penyihir. Argumen tersebut didasarkan pada premis berikut: ‘saya mengetahui dunia melalui indera saya’. Pernyataan ini benar dan tidak dapat disangkal, sejauh ini. Saya hanya bisa mengetahui dunia melalui indera saya. Namun, seperti yang telah ditunjukkan, kami harus menambahkan pernyataan lain ini: dunia ada secara independen dari indera manusia, jika tidak, kita akan terjerumus ke dalam kontradiksi dan absurditas yang paling mengerikan. Semua ilmu-pengetahuan justru didasarkan pada fakta bahwa: (a) dunia ada di luar kita, dan; (b) pada prinsipnya kita dapat memahaminya. Bukti dari pernyataan-pernyataan ini jika diperlukan bukti, terdiri dari kemajuan ilmu-pengetahuan selama lebih dari 2 ribu tahun, yaitu kemajuan ilmu-pengetahuan yang terus-menerus atas ketidaktahuan…. Pada tahun 1909, buku Lenin secara menyeluruh menghancurkan idealisme subyektif Mach dan Avenarius. Namun idealisme subyektif itu sendiri berjalan dengan sangat baik dan masih hidup hingga saat ini…. Idealisme suyektif ini dibawa ke dalam filsafat abad ke-20 oleh aliran yang diwakili oleh Ernst Mach dan, kemudian, Lingkaran Wina (O. Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain) dan positivisme logis. Di Inggris, hal ini diperjuangkan oleh Profesor AJ Ayer, yang bukunya ‘Language, Truth and Logic’ berpengaruh di universitas-universitas pada tahun 1960-an. Tesis dasar buku Ayer adalah bahwa satu-satunya pengetahuan pasti yang dapat kita miliki adalah apa yang disebutnya ‘isi inderawi’ [pengalaman langsung, pengalaman murni, atau pengetahuan-perseptual]… Namun seluruh konstruksi tersebut runtuh ketika ia mencoba menjelaskan seluruh isi indera tersebut sebenarnya apa…. Dapatkah ada isi indera tanpa mata, telinga, dan otak material? Bisakah ada otak material tanpa sistem saraf pusat dan tubuh material? Dapatkah ada badan material [subyek] tanpa adanya lingkungan fisik [obyek] yang menyediakan sarana-sarana penghidupan yang diperlukan bagi keberadaannya?”
“Pada awalnya, materialisme mekanis tidak mampu memecahkan masalah ini dan sampai pada pemahaman ilmiah tentang hubungan konkret antara subyek dan obyek. Hal inilah yang dibahas oleh Marx dalam ‘Tesis tentang Feuerbach’. Materialisme awal dibatasi oleh tingkatan yang dicapai oleh tingkat ilmu-pengetahuan pada saat itu, yang sifatnya sangat kaku dan mekanis (Engels menyebutnya sebagai ‘pandangan metafisika’, meskipun kita menggunakan kata metafisika sangat berbeda saat ini). Mekanika melihat hubungan antara subyek dan obyek secara sederhana, statis, dan unilateral: mendorong, menarik, tuas, katrol, dan lain-lain. Setiap gerakan ditransmisikan dari luar. Alam semesta mekanis Newton memerlukan Yang Maha Kuasa untuk memberikan dorongan agar dapat bergerak, namun setelah itu ia berjalan dengan sempurna, seperti jarum jam…. Di alam semesta mekanis ini, hanya ada sedikit atau tidak ada ruang untuk aktivitas subyektif dan inisiatif kreatif. Setiap tindakan telah ditentukan sebelumnya oleh Hukum Alam yang Abadi. Sebaliknya, kaum idealis melebih-lebihkan peran subyek, menganggapnya sangat penting. Mereka bahkan menurunkan keberadaan obyek dari subyek. Konsepsi aktivitas subyek dikandung dan dikembangkan oleh Hegel. Inilah yang dimaksud Marx ketika mengatakan bahwa unsur subyektif dikembangkan oleh kaum idealis, bukan kaum materialis. Penggabungan dua elemen, konsep aktivitas subyek kaum idealis dan gagasan material obyektif kaum materialis, itulah kunci pemecahan masalah. Argumen-argumen idealisme subyektif dan masalah subyek-obyek dengan mudah diatasi ketika kita mengadopsi sudut pandang praktik dan mendekati teori pengetahuan dari sudut pandang historis yang konkret, bukan dari sudut pandang abstraksi yang kosong dan statis.”
Di “On Practice”, Mao tidaklah mendidik orang-orang sesuai dengan teori Marxis tentang praktik. Doktrin Praktik Maois menekankan bahwa semua teori yang ada pasti mengandung kesalahan dan ukuran kebenaran pengetahuan manusia terhadap dunia material adalah praktik. Pandangan yang melihat semua teori mengandung kesalahan adalah berlebihan. Dan ketika praktik yang dianjurkan–ini terlampau melebih-lebihkan aktivitas praktis-ekonomis untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan perseptual; bukan mengajurkan praktik revolusioner untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan rasional dan merubah dunia melalui aktivitas-aktivitas ‘industri’ dan ‘eksperimen’; bukan praksis revolusioner dalam menggulingkan kapitalisme dengan membangun kepemimpinan revolusioner untuk menegakkan kediktatoran proletariat dan memenangkan revolusi sosialis. Maoisme memvulgarisasi Marxisme begitu rupa. Sudut pandang ini begitu merusak dan melemahkan organisasi dan gerakan massa dalam memperoleh pemahaman yang memadai mengenai perjuangan kelas revolusioner. Maoisme tidaklah mempunyai pemecahan yang tepat dalam mengatasi kontradiksi antara pengetahuan perseptual dan pengetahuan rasional, antara praktik-ekonomis dan praktik-revolusioner—ini seperti kontradiksi antara logika formal dan logika dialektis—di mana yang diperlukan adalah munyubordinasi logika formal di bawah logika dialektis. Lewat “The ABC of Materialist Dialectics”, Trotsky telah menjelaskan: ‘pemikiran dialektis [logika gerak] berkaitan dengan pemikiran vulgar [logika diam] seperti halnya gambar bergerak dikaitkan dengan foto diam. Film tersebut tidak menyingkirkan foto diam tetapi menggabungkan serangkaian foto itu menurut hukum gerak. Dialektika tidak mengingkari silogisme, namun mengajarkan kita untuk memadukan silogisme sedemikian rupa sehingga memperdalam pemahaman kita terhadap realitas yang selalu berubah’. Dalam kehidupan reguler setiap orang membutuhkan logika formal untuk berkomunikasi dan melakukan aneka aktivitas praktisnya. Tanpa menggunakan silogisme maka pertanyaan-pertanyaan pergaulan sehari-hari akan menjadi rumit untuk dipecahkan. Dalam mengatasi persoalan-persoalan harian yang sederhana, dapat digunakan metode penalaran logis (akal sehat) yang menekankan pada abstraksi linear dan penarikan kesimpulan secara deduktif: ini memperhatikan tiga aturan mendasar: hukum identitas (sebuah benda hanya sama dengan dirinya sendiri), hukum non-kontradiksi (suatu benda yang sama dengan dirinya sendiri tidak mungkin sama dengan yang lainnya), dan hukum tidak ada jalan tengah (ketika dua hal bertentangan, maka takkan mungkin keduanya sama-sama benar dan sama-sama salah; salah satunya harus benar dan sisanya mesti salah). Namun ketika berhadapan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik, militer, historis dan sains maka logika formal atau pengetahuan perseptual menemui kebuntuan. Pada titik inilah dibutuhkan pemakaian logika dialektis atau metode Marxis—yang mengarahkan untuk menarik kesimpulan secara induktif—dalam ‘mendidik’ seseorang untuk memahami perubahan ‘keadaan’ yang berlangsung. Tanpa praksis revolusioner, yakni pembangunan kepemimpinan revolusioner ‘Bolshevisme’ yang dipandu oleh Marxisme untuk transformasi sosialis di skala dunia, kontradiksi-kontradiksi inheren dalam masyarakat kapitalis takkan mungkin diatasi dengan pemahaman, peran dan penyelesaian yang memadai. Doktrin Maois tentang “Praktik” dan “Kontradiksi” sama sekali tidak berdaya mengatasi kontradiksi antara pengetahuan yang lebih rendah dan pengetahuan yang lebih tinggi; antara gerakan pembebasan nasional dan perjuangan kelas internasional; antara masyarakat lama dan masyarakat baru—Teori Pengetahuan Maois justru mempertajam kontradiksinya dengan mensubordinasi Marxisme di bawah pengalaman-pengalaman aktivisme yang sempit. Kaum Marxis menolak kemalasan mental, kesembronoan dan kedangkalan dalam menempuh perjuangan kelas. Penekanan pada aktivitas praktis tanpa memahami Marxisme adalah metode materialis yang cenderung kaku dan formalis. Dalam “Dialectical Materialism”, John Pickard menulis:
“Kaum Marxis tidak malu untuk mengatakan bahwa ada unsur yang kontradiktif dalam setiap proses sosial. Sebaliknya, justru dengan mengenali dan memahami kepentingan-kepentingan berlawanan dalam proses yang sama, kita dapat menyikapi arah perubahan yang mungkin terjadi, dan dengan demikian dapat mengindentifikasi maksud dan tujuan yang perlu dan dapat dilakukan dalam menghadapi situasi tersebut dari sudut pandang kelas pekerja…. Sikap Marx dan Engels adalah memandang proses sosial dari sudut pandang dialektis yang sama dengan sudut pandang mereka dalam memandang alam—dari sudut pandang proses yang sebenarnya sedang terjadi. Dalam diskusi dan perdebatan kita sehari-hari dalam gerakan buruh, kita sering menjumpai orang-orang yang bersifat formalis. Bahkan banyak orang di sayap kiri. Bahkan banyak orang di sayap kiri akan memandang segala sesuatu dengan cara yang kaku dan formal, tanpa memahami ke arah mana segala sesuatunya bergerak. Sayap kanan dalam gerakan buruh, dan juga beberapa sayap kiri, percaya bahwa teori Marxis adalah sebuah dogma, bahwa ‘teori’ itu seperti beban seberat 600 pon di punggung seorang aktivis, dan semakin cepat Anda menghilangkan beban tersebut, semakin aktif dan efektif Anda. Namun hal tersebut merupakan kesalahpahaman total terhadap keseluruhan teori Marxis. Faktanya, Marixisme adalah kebalikan dari dogma. Ini justru merupakan sebuah metode untuk memahami proses perubahan yang terjadi di sekitar kita. Tidak ada yang tetap dan tidak berubah. Kaum formalislah yang melihat masyarakat sebagai sebuah foto diam, yang bisa terkejut dengan situasi yang mereka hadapi karena mereka tidak melihat bagaimana dan mengapa segala sesuatunya akan berubah. Pendekatan semacam inilah yang dapat dengan mudah mengarah pada penerimaan dogmatis terhadap segala sesuatu sebagaimana adanya, tanpa memahami keniscayaan perubahan.”
“Oleh karena itu, teori Marxis merupakan perangkat yang sangat penting bagi aktivitas apapun dalam gerakan buruh. Kita perlu secara sadar memposisikan diri dalam menghadapi kekuatan-kekuatan kontradiktif yang bekerja dalam perjuangan kelas, agar kita dapat mengarahkan diri kita mengintervensi bagaimana peristiwa-peristiwa itu berkembang. Tetu saja tidak mudah untuk melepaskan diri dari kerangka berpikir yang berlaku dalam masyarakat kapitalis dan menyerap metode Marxis. Seperti yang dikatakan Karl Marx, tidak ada jalan raya menuju ilmu-pengetahuan. Terkadang Anda harus menempuh jalan yang sulit dalam bergulat dengan ide-ide politik baru. Namun diksusi dan kajian teori Marxis merupakan bagian yang sangat penting dalam perkembangan setiap aktivis. Hanya teori itulah yang akan memberi kawan-kawan sebuah kompas dan peta di tengah segala kerumitan perjuangan. Menjadi seorang aktivis adalah hal yang baik. Namun tanpa pemahaman sadar akan proses yang Anda jalani, Anda tidak lebih efektif dibandingkan seorang penjelajah tanpa kompas dan peta. Dan jika Anda mencoba melakukan eksplorasi tanpa panduan ilmiah, Anda bisa menjadi energik sesuka Anda, namun cepat atau lambat Anda akan jatuh ke jurang atau rawa dan menghilang, seperti yang sayangnya dilakukan oleh banyak aktivis selama bertahun-tahun. Ide mengenai kompas dan peta adalah supaya Anda dapat menentukan arah. Anda dapat menilai di mana Anda berada pada waktu tertentu, ke mana Anda akan pergi, dan ke mana Anda akan berada. Dan itulah alasan mendasar mengapa kita perlu memahami teori Marxis.”
Pada “Tesis Kesebelas tentang Feuerbach”, Marx memang menjelaskan bahwa ‘para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara, tetapi yang terpenting adalah mengubahnya’. Di “On Practice”, Mao nampak memparafrase proposisi itu untuk mendukung kesimpulannya. Tetapi tesis tersebut tidak dapat dipisahkan dengan pemikiran Marx mengenai praksis revolusioner. Praksis ini tidak dapat berhenti pada ‘mengetahui’ semata, karena bermaksud menggali lebih dalam dan semakin dalam untuk ‘memahami’. Berkait Teori Pengetahuan Marxis, Marx dan Engels telah membuang yang metafisik dan aksidental dari pemikiran Hegel dan mempertahankan apa yang esensial dan menjadi inti-rasionalnya. Hegel pernah berkata: ‘menganggap “mengetahui” sesuatu tidak dapat mengarah pada bentuk pengetahuan yang lebih tinggi. Apa yang diperlukan untuk mencapai pengetahuan yang sejati adalah membuang semua prasangka dan memulai “perjalanan yang panjang dan melelahkan”, untuk “menyerap dan meresapi” pokok bahasan yang ada; “menyerahkan diri padanya” untuk menemukan hukum mendasar yang mengatur alam, masyarakat manusia, dan pemikiran rasional’. Pendekatan ini diakui oleh kaum Marxis sebagai hal yang prinsipil dalam menempuh perjuangan kelas secara terorganisir dan sadar. Tanpa memahami hukum-hukum obyektif yang mengatur kehidupan materialnya maka siapapun takkan mampu bertindak secara sadar, apalagi mencapai pengetahuan sejati dan berperan aktif dalam mengubah realitas sesuai dengan hukum tersebut. Mengabaikan pentingnya sentralitas pemahaman akan hukum-hukum pembangunan dan kemampuan menjelaskannya, sehingga menggantinya dengan mengutamakan aktivitas praktis dalam mengubah dunia tanpa landasan teori yang paling maju, sama halnya dengan menyangkal perubahan ‘keadaan’ dan ‘didikan’ dan keperluan ‘pendidik itu sendirilah yang harus dididik’. Materialisme dialektis bukan sekadar teori pengetahuan materialis di otak manusia, tetapi sekaligus metode memperoleh pemahaman dengan membangun kepemimpinan revolusioner ‘Bolshevisme’ di kancah sejarah. Dalam praktiknya, ide-ide Maois tidaklah mendidik orang-orang dalam pembangunan Bolshevisme. Dengan kecenderungan untuk memisahkan praktik dari teori revolusioner, Teori Pengetahuan Maois justru menjadi doktrin yang asing dan sepenuhnya berlawanan dengan Marxisme. Dalam “Materialisme dan Empiriokritisme”, Lenin memerangi penyimpangan terhadap materialisme dialektis yang serupa dengan ide-ide Maoisme (Stalinisme):
“Salah satu ekspresi kejeniusan Marx dan Engels adalah bahwa mereka membenci permainan kata-kata baru, istilah-istilah ilmiah, dan ‘isme-isme’ yang terlalu berlebihan, dan mereka mengatakan dengan sederhana dan jelas: ada garis materialis dan garis idealis dalam filsafat … Pencarian menyakitkan akan sudut pandang ‘baru’ dalam filsafat menunjukkan kemiskinan pikiran yang sama yang terungkap dalam upaya menyakitkan untuk menciptakan teori nilai ‘baru’, atau teori sewa ‘baru, dan seterusnya…. Sekarang mari kita periksa bagaimana kata ‘pengalaman’ digunakan dalam filsafat empirs-kritis. Paragraf pertama: Kritik terhadap Pengalaman Murni menguraikan ‘asumsi’ berikut: ‘setiap bagian dalam lingkungan kita berdiri dalam kaitannya dengan individu-individu manusia sedemikian rupa sehingga, yang pertama telah diberikan, yang terakhir berbicara mengenai pengalaman mereka sebagai berikut: ‘ini adalah pengalaman’, ini adalah sebuah pengalaman’; atau ‘itu berasal dari pengalaman’, atau ‘itu bergantung pada pengalaman’. Dengan demikian pengalaman didefinisikan dalam konsep yang sama: ‘diri’ dan lingkungan; sementara doktrin dari hubungan mereka yang ‘tidak dapat dipisahkan’ untuk sementara waktu telah dikesampingkan. Lebih lanjut: ‘konsep sintetik dari pengalaman murni’—yaitu, pengalaman ‘sebagai predikasi yang, dalam semua komponennya, hanya sebagian dari lingkungan yang berfungsi sebagai premis’. Jika kita berasumsi bahwa lingkungan ada secara independen dari ‘deklarasi’ dan ‘predikasi’ manusia, maka menjadi mungkin untuk menafsirkan pengalaman dengan cara yang materialis!”…. ‘Pengalaman’ mencakup garis materialis dan idealis dalam filsafat dan menyucikan kekusutan keduanya. Namun sementara kaum Machis kita dengan percaya diri menerima ‘pengalaman murni’ … [Seseorang berkata:] ‘saya secara terbuka menyatakan bahwa makna terdalam, jiwa filosofi saya, adalah manusia tidak mempunyai apa-apa selain pengalaman, manusia mencapai segala sesuatu yang dicapainya hanya melalui pengalaman.’ Kita tahu dari sejarah filsafat bahwa penafsiran konsep pengalaman memisahkan kaum materialis klasik dari kaum idealis. Saat ini filsafat profesor [Marxisme akademik hingga postmodernisme] dengan segala corak menyamarkan sifat reaksionernya dengan mendeklarasikan ‘pengalaman’ subyek….”
Dalam “On Practice”, Mao Zedong telah menunjukkan kecenderungan yang serupa dengan kaum Machis: memberi penekanan yang luar biasa terhadap ‘pengetahuan perseptual’ atau ‘pengetahuan embrional’ yang berasal dari ‘pengalaman langsung’ atau ‘pengalaman murni’. Meskipun diakhir tulisannya dia menyatakan tentang ‘amalan, ilmu, amalan lagi, dan ilmu lagi. Bentuk ini berulang dalam siklus yang tiada habisnya, dan dengan setiap siklus, isi amalan dan pengetahuan meningkat ke tingkat yang lebih tinggi’—ini hanyalah kata-kata kosong, karena sejak awalnya Teori Pengetahuan Maois mengarahkan untuk menyangkal kebenaran Marxisme. Dengan semangat subyektivisme dan eklektisisme, Maoisme bukanlah menekankan mengenai kesatuan teori-praktik untuk mengakhiri kapitalisme secara revolusioner tapi sebatas investigasi untuk menemukan fakta. Secara praktis, pencarian terhadap fakta dinyatakan oleh para aktivis Maois sebagai sebuah prinsip perjuangannya. Dalam “Oppose Book Worship”, Mao menegaskan bahwa ‘Tidak Ada Investigasi, Tidak Ada Hak Berbicara’. Dia menerangkan pentingnya penyelidikan sosial dan ekonomi untuk menemukan fakta-fakta yang ada dalam perkembangan sejarah dan mengetahui apapun yang menjadi hal-hal mendasarnya, menyelesaikan masalah dan mengambil kesimpulan yang benar sebagai dasar perumusan taktik perjuangan. Namun dalam kehidupan yang konkret mengetahui sesuatu saja belumlah cukup tanpa bergerak lebih jauh untuk memahaminya dan penekanan yang berlebihan pada investigasi itu justru memberi kesempatan besar untuk menyangkal otoritas politik dan moral kepemimpinan. Ini tentunya berlawanan secara prinsipil dengan metode sentralisme-demokratik dalam pembangunan Bolshevisme. Dalam membangun kepemimpinan bagi proletariat, Lenin dan kemerad-kameradnya melakukan pembangunan partai revolusioner dari atas ke bawah, dengan membentuk Organ Sentral dan Komite Pusat yang dipimpin oleh orang-orang yang paling sadar-kelas, paling cakap, paling berdedikasi dan berpengalaman dalam perjuangan kelas revolusioner. Sementara Mao mendorong pengorganisasian dari bawah ke atas, dengan mengandaikan setiap orang memiliki tingkat kesadaran atau level teoritis yang memadai dan mendorong mereka yang berada di luar badan-badan kepemimpinan partai untuk meluncurkan kritik-otokritik sesuai pemahamannya masing-masing. Dia menyangkal heterogenitas kesadaran yang bertingkat-tingkat, yang pada kenyataannya mempertentangkan antara lapisan-lapisan terbelakang dengan garda depan revolusioner. Inilah mengapa dalam merumuskan kebijakan dan taktik-taktik perjuangan, metode Maois cenderung melumpuhkan partai dan melikuidasinya dengan ide-ide dari lapisan terbelakang. Namun kecenderungan reaksioner ini dibela secara eklektik, dengan memadukan pandangan materialis terhadap pengetahuan dan pretensi borjuis-kecil akan kebebasan individu, hingga menghasilkan pendirian-pendirian yang terkesan radikal—anti-dogmatisme, anti-formalisme, dan anti-konservatisme. Mao menuliskan apologinya begitu rupa:
“Ketika kita mengatakan bahwa suatu arahan dari organ kepemimpinan yang lebih tinggi adalah benar, hal ini bukan hanya karena arahan tersebut berasal dari ‘organ kepemimpinan yang lebih tinggi’ namun karena isinya sesuai dengan kondisi obyektif dan subyektif perjuangan serta memenuhi persyaratannya. Adalah keliru jika mengambil sikap formalistik dan membabi-buta menjalankan arahan tanpa membahas dan mengkajinya berdasarkan kondisi sebenarnya hanya karena arahan tersebut berasal dari organ yang lebih tinggi. Kenakalan yang dilakukan oleh formalisme inilah yang menjelaskan mengapa garis dan taktik Partai tidak mengakar lebih dalam di kalangan massa. Melaksanakan arahan dari organ yang lebih tinggi secara membabi-buta, dan tampaknya tanpa perselisihan apapun, sebenarnya bukanlah melaksanakannya, melainkan merupakan cara yang paling cerdik untuk menentang atau menyabotase arahan tersebut. Metode mempelajari ilmu-ilmu sosial yang hanya berdasarkan buku juga sangat berbahaya dan bahkan bisa membawa seseorang ke jalan kontra-revolusi. Bukti jelas dari hal ini dapat dilihat melalui fakta bahwa sejumlah besar komunis Tiongkok yang membatasi diri pada buku-buku dalam studi ilmu-ilmu sosial telah berubah menjadi kontra-revolusioner. Ketika kita mengatakan Marxisme benar, hal ini tentu saja bukan karena Marx adalah seorang ‘nabi’ namun karena teorinya telah terbukti benar dalam praktik dan perjuangan kita. Kita membutuhkan Marxisme dalam perjuangan kita. Dalam penerimaan kita terhadap teorinya, tidak ada formalisasi gagasan mistik seperti ‘nubuatan’ yang pernah terlintas dalam pikiran kita. Banyak orang yang membaca buku-buku Marxis telah menjadi pemberontak revolusi, sedangkan para pekerja yang buta huruf sering kali memahami Marxisme dengan baik. Tentu kita harus mempelajari buku-buku Marxis, namun kajian ini harus dipadukan dengan kondisi aktual negeri kita. Kita butuh buku, tapi kita harus mengatasi pemujaan buku yang lepas dari keadaan sebenarnya. Bagaimana kita bisa mengatasi penyembahan buku? Satu-satunya cara adalah menginvestigasi situasi sebenarnya.”
“…Dalam situasi ketika perjuangan kelas menjadi semakin akut dan terjadi dalam jarak dekat, kemenangan proletariat harus bergantung sepenuhnya pada taktik perjuangan yang benar dan tegas dari partainya sendiri, Partai Komunis. Taktik perjuangan Partai Komunis yang benar dan teguh tidak boleh diciptakan oleh segelintir orang yang duduk di kantor; mereka muncul melalui perjuangan massa, yaitu melalui pengalaman nyata. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mempelajari kondisi sosial dan melakukan penyelidikan praktis. Kawan-kawan yang tidak fleksibel, konservatif, formalistis, dan optimis tanpa dasar menganggap bahwa Komunis harus menciptakan kondisi baru yang menguntungkan melalui perjuangan; mereka mewakili garis yang murni konservatif. Jika tidak dihilangkan sama sekali, garis ini akan menimbulkan kerugian besar bagi revolusi dan merugikan kawan-kawan ini sendiri. Jelas ada beberapa kawan di Tentara Merah kita yang puas membiarkan segala sesuatunya apa adanya, yang tidak berusaha memahami apapun secara menyeluruh dan optimis tanpa dasar, dan mereka menyebarkan kekeliruan bahwa ‘ini adalah proletar’. Mereka makan sampai kenyang dan duduk tertidur di kantor sepanjang hari tanpa pernah bergerak satu langkahpun dan keluar ke tengah massa untuk menyelidikinya. Setiap kali mereka membuka mulut, kata-kata hampa mereka membuat orang mual. Untuk menyadarkan kawan-kawan ini kita harus bersuara dan berseru kepada mereka: ubah ide konservatif Anda tanpa penundaan! Gantikan mereka dengan ide-ide Komunis yang progresif dan militan! Bergabunglah dengan perjuangan! Pergilah ke tengah massa dan selidiki faktanya!”
Maoisme (Stalinisme) mengarahkan orang-orang untuk memeluk ‘kebebasan mengkritik’ sebagai prinsip dalam membangun kepemimpinan proletariat. Mao sekali lagi memvulgarisasi metode dialektis demi membenarkan teorinya yang subyektif. Perspektif Marxis yang menyatakan bahwa tidak ada kebenaran abadi—karena materi selalu mengalami kontradiksi, pergerakan dan perubahan—bukan saja digunakan untuk mengembangkan pengetahuan secara sepihak, tetapi lebih-lebih diangkat sebagai panduan dalam praktik ideologi, politik dan organisasi proletar. Doktrin Maois tentang “Investigasi” pada esensinya bukanlah teori yang mengajarkan untuk ‘berpikir kritis’ dalam mengembangkan pengetahuan ke tingkat yang lebih tinggi, melainkan merevisi Marxisme dan melikuidasi kepemimpinan partai; ajaran untuk mengoreksi para pemimpin yang lebih banyak bekerja di kantor partai daripada melakukan aktivitas praktis-ekonomis bersama massa sesungguhnya mengekspresikan kecenderungan filistinisme dan dilentatisme borjuis-kecil yang anti-teoritis, amatir, individualis, egois, tidak-sabar, setengah-hati dan menolak berkorban untuk perjuangan revolusioner yang besar. Seruan tersebut akan menenggelamkan homogenitas politik-teoritik garda depan revolusioner dalam hoterogenitas kesadaran lapisan terbelakang. Sudut pandang ini lagi-lagi sangat asing bagi Marxisme. Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky tidak sekadar menjelaskan perjuangan kelas sebagai perjuangan politik dan ekonomi tapi juga teoritis. Teori Maois menyangkal hal tersebut bukan saja dengan menekankan pada aktivitas praktis yang paling sempit, tetapi lebih jauh menyelinapkan ideologi kelas-asing yang bahkan menuntut ‘kebebasan’ kritik-otokritik terhadap organ politik dan ideologi partai proletar. Melalui “Oppose Book Worship”, Mao memperkenalkan kebebasan mengkritik—yang cenderung liberal—ini sebagai prinsip dalam pembangunan kepemimpinan proletariat. Dalam “Apa yang Harus Dikerjakan?”, Lenin memerangi penyakit kritisisme yang vulgar macam itu. Bahwa kebebasan kritik-otokritik tidak dapat dilebih-lebihkan dengan mengabaikan heterogenitas kesadaran massa dan menganjurkan ‘setiap lapisan’ dalam gerakan buruh untuk meluncurkan kritiknya. Dan penekanan terhadap kebebasan mengkritik tidak dapat digandrungi di tengah-tengah periode kekacauan teoritis; karena ini tak-sebatas berarti menentang ‘otoritas politik’ garda depan proletar, melainkan pula secara tak-terelakkan akan dengan sewenang-wenang menggerogoti ‘otoritas teoretik’ Marxisme. Lenin menjelaskannya:
“Siapapun yang tidak dengan sengaja menutup matanya pasti akan melihat bahwa tren ‘kritis’ baru dalam sosialisme tidak-lebih dan tidak-kurang dari suatu jenis ‘oportunisme’ baru. Dan jika kita menilai orang, bukan dari seragam gemerlap yang mereka kenakan atau dari sebutan tinggi yang mereka berikan pada diri mereka sendiri, tapi dari tindakan mereka dan dari apa sebenarnya yang mereka dukung, maka akan jelas bahwa ‘kebebasan mengkritik’ berarti kebebasan untuk sebuah tren oportunis dalam Sosial-Demokrasi, kebebasan untuk mengubah Sosial-Demokrasi menjadi partai reformasi yang demokratis, kebebasan untuk memasukan ide-ide borjuis dan unsur-unsur borjuis ke dalam sosialisme. ‘Kebebasan’ adalah suatu perkataan agung, tetapi di bawah panji kebebasan industri, perang yang paling ganas dilancarkan; di bawah panji kebebasan buruh, kelas pekerja dirampok. Penggunaan istilah ‘kebebasan mengkritik’ di zaman modern mengandung kepalsuan serupa’ dan ‘teriakkan ‘Hidup Kebebasan Mengkritik!’ yang terdengar dewasa ini, terlampau mengingatkan pada dongengan tentang tong kosong.”
“Kasus kaum Sosial-Demokrat Rusia dengan jelas menggambarkan fenomena umum di Eropa (yang sudah lama dicatat juga oleh kaum Marxis Jerman) bahwa kebebasan mengkritik yang sangat dibanggakan tidak berarti penggantian satu teori dengan teori lainnya, melainkan kebebasan dari semua teori yang integral dan dipikirkan secara mendalam; ini menyiratkan eklektisisme dan kurangnya prinsip. Mereka yang mengetahui sedikit saja keadaan sebenarnya dari gerakan kita pasti akan melihat bahwa penyebaran luas Marxisme disertai dengan tingkat penurunan teoretis tertentu. Cukup banyak orang yang mempunyai sedikit, atau sama sekali tidak memiliki pelatihan teoritis, bergabung dengan gerakan ini karena signifikansi dan keberhasilan praktisnya. Kita dapat melihat dari betapa tidak bijaksananya ‘Raboceye Dyelo’ [organ kaum reformis, Marxis legal] ketika, dengan nada kemenangan, ia mengutip pernyataan Marx, ‘Setiap langkah gerakan nyata lebih penting daripada selusin teori.’ Mengulangi kata-kata ini dalam periode kekacauan teoretis adalah seperti berharap para pelayat di pemakaman mendapatkan banyak kebahagiaan pada hari itu. Terlebih lagi, pernyataan Marx ini diambil dari suratnya tentang Program Gotha, di mana ia ‘mengutuk keras’ eklektisisme dalam perumusan prinsip-prinsip. Jika Anda harus bersatu, tulis Marx kepada para pemimpin partai, maka buatlah perjanjian untuk memenuhi tujuan praktis gerakan, namun jangan biarkan tawar-menawar mengenai prinsip-prinsip, jangan membuat ‘konsensi’ teoritis. Ini adalah gagasan Marx, namun ada orang-orang di antara kita yang berusaha meremehkan pentingnya teori atas namanya. Tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner. Gagasan ini harus kita tekankan dengan sangat kuat justru ketika hari ini dakwah oportunisme yang modis bersandingan dengan keranjingan terhadap bentuk-bentuk aktivitas praktis yang paling sempit…. Peran pejuang garda depan hanya dapat dipenuhi oleh sebuah partai yang dipandu oleh teori yang paling maju.”
Dengan memeluk prinsip ‘kebebasan kritik-otokritik’, Maoisme (Stalinisme) membangun kepemimpinan proletariat yang bukan berdasarkan pemahaman, keyakinan dan komitmen teoritis terhadap kebenaran Marxisme tapi skeptisisme borjuis-kecil yang kasar dan picik. Dalam “Oppose Book Worship”, Mao Zedong telah menuliskan bagaimana keskeptisan yang berlebihan—yang mengangkat relativisme, subyektivisme dan eklektisisme sebagai prinsip—perlu ditekankan dalam memandu perjuangan organisasi dan gerakan proletar. Mao secara naif mengajarkan kepada massa untuk bersikap skeptis terhadap semua teori, termasuk teori revolusioner yang menjadi ajaran Marxis dan memandu partai revolusioner. Di “In Defence of Marxism”, Leon Trotsky meluncurkan perlawanan terhadap penyimpangan macam itu. Pada bagian tentang ‘Partai Pekerja’ dan ‘Filistin Borjuis-Kecil’, Trotsky mengidentifikasi peran kepemimpinan organisasi dan gerakan yang menganjurkan ‘skeptisisme teoritis’ sebagai tindakan ‘pengkhianatan’ terhadap perjuangan kelas revolusioner dan ‘siapapun yang menyebarkan skeptisisme teoritis adalah pengkhianat’ yang mempersiapkan dirinya untuk menyeberang ke sisi reaksi. Trotsky berkata: ‘aktivitas revolusioner yang didasarkan pada skeptisisme teoritis adalah kontradiksi batin yang paling janggal. “Pengabdian pada perjuangan revolusioner massa” tidak mungkin terjadi tanpa pemahaman teoritis tentang hukum perjuangan revolusioner ini. Pengabdian revolusioner hanya mungkin terjadi jika seseorang memperoleh jaminan bahwa pengabdiannya masuk akal, memadai; bahwa hal itu sesuai dengan tujuannya. Kepastian seperti itu hanya bisa diciptakan melalui wawasan teoritis mengenai perjuangan kelas. “Skeptisisme terhadap semua teori” tidak lain hanyalah persiapan untuk desersi pribadi’. Ini buruk dan merusak. Revolusi Tiongkok bahkan telah membuka mata setiap orang yang berpikiran terbuka, berani dan jujur untuk mengakui kebenaran obyektif; tentang kekeliruan dan ketidakmampuan Maoisme (Stalinisme) untuk memandu PKT dalam memimpin perjuangan revolusioner massa, yang secara tak-terelakkan berujung pada pengkhianatan kontra-revolusi dan kekalahan kolosal bagi gerakan buruh Tiongkok. Dalam “Uninterrupted Revolution or Permanent Revolution?”, John Peter Roberts menulis:
“Pengujian teori apapun adalah seberapa baik teori itu bersesuaian dengan kenyataan.… [Mao Zedong menulis “On New Democracy”, yang menerangkan teori revolusi dua-tahap sebagai mutlak, dengan tahapan-tahapan yang terpisah satu sama lainnya: ‘dalam perjalanan sejarahnya, Revolusi Tiongkok harus melalui dua-tahap, pertama, revolusi demokratis, dan kedua, revolusi sosialis, dan pada hakikatnya, kedua tahap tersebut merupakan dua proses revolusioner yang berbeda. Di sini demokrasi tidak termasuk dalam kategori lama—bukan demokrasi lama, namun termasuk dalam kategori baru—melainkan dalam kategori baru’.] ‘Demokrasi Baru’ Mao menegaskan bahwa tahap borjuis [revolusi demokratik] itu perlu, bahwa tidak mungkin mencapai sosialisme tanpa melalui tahap tersebut dan cara tercepat dan paling efisien untuk melakukan hal ini adalah dengan bergabung dengan borjuasi nasional dalam sebuah blok yang terdiri dari empat kelas [petani, borjuasi nasional, borjuis-kecil, dan proletar]. Mao, tentu saja, mempunyai hak untuk percaya pada skema apapun yang dia inginkan, namun merupakan tanggung jawab seorang pemimpin politik untuk menguji ide-idenya terhadap kenyataan. Sayangnya, ketika Stalinisme memasuki kematiannya, argumen ini dihidupkan kembali oleh mereka yang menyebut teori Mao sebagai ‘revolusi dua-tahap yang tak-terinterupsi’. Inti dari argumen ini adalah bahwa terdapat tahapan borjuis-demokratis yang jelas dan pasti dalam Revolusi Tiongkok Ketiga (dan Revolusi Oktober), dan ini merupakan prasyarat yang sangat diperlukan dalam semua revolusi sosialis. Tahapan ini, menurut pendapat mereka, diperlukan untuk melaksanakan, misalnya, revolusi agraria yang harus mendahului revolusi sosialis. Ini adalah salinan dari argumen Kamenev pada bulan April 1917, bahwa karena revolusi agraria baru saja dimulai di Rusia, maka revolusi borjuis belum selesai dan dengan demikian revolusi sosialis masih sangat jauh. Tentu saja hal ini sangat bertolak belakang dengan pendapat Lenin yang secara konsisten berargumentasi bahwa ketidakmampuan kaum borjuis untuk menyelesaikan revolusi agraria demi kepuasan kaum tani adalah alasan utama terjadinya revolusi sosialis, dan bahwa revolusi agraria borjuis-demokratis di Rusia terjadi hanya karena didahului oleh revolusi proletar….”
“Teori revolusi permanen [Trotsky] dengan mudah menerima pentingnya tuntutan demokratis untuk memobilisasi massa perkotaan dan tani. Namun, argumennya adalah bahwa kepentingan bersama dari unsur-unsur reaksioner (misalnya komprador, tuan-tanah, dan borjuasi besar) di negeri-negeri yang disebut terbelakang dan hubungan mereka yang erat dengan imperialisme, berarti bahwa borjuasi nasional secara keseluruhan akan menentang pelaksanaan sistem demokrasi borjuis. Untuk mengatasi pertentangan ini, untuk melaksanakan tuntutan-tuntutan demokratis yang populer (misalnya mencapai kemerdekaan nasional, mentasi kelaparan dan kemiskinan, kesetaraan bagi perempuan, pengendalian inflasi, pembagian tanah bagi petani, perencanaan untuk mengatasi bencana alam dan bencana akibat ulah manusia, dan lain-lain) adalah diperlukan bagi kelas sosial yang tertindas untuk mengambil-alih kekuasaan pemerintahan. Dengan tindakan ini, arus peristiwa yang alami pasti mengarah pada penggulingan hubungan kepemilikan kapitalis, pembentukan negara buruh dan langkah pertama menuju sosialisme [sebagai fase terendah dari komunisme—masyarakat tanpa kelas]…. Namun keyakinan akan perlunya tahap borjuis menyebabkan kekalahan Revolusi Tiongkok 1925-27, karena hal ini membatasi mobilisasi massa tertindas pada tuntutan-tuntutan yang dapat diterima oleh keluarga tuan-tanah, para perwira di NRA [National Revolutionary Army]. Namun bahkan setelah tahun 1949, tahapan yang tidak [absolut dan] diperlukan ini masih banyak merugikan, termasuk: mengekan pengorganisasian mandiri kelas pekerja, tidak memberikan hak kepada petani miskin dan menengah untuk merampas tanah, membatasi hak perempuan, membuang-buang waktu, tenaga dan uang dengan menjadi kaki-tangan borjuasi nasional, dan memfasilitasi pertumbuhan korupsi yang meluas di seluruh partai dan pemerintahan. Sejarah dipenuhi dengan para pemimpin … yang awalnya menjalankan satu program, namun kemudian menjalankan program lain di bawah teknana situasi, dan Mao adalah salah satu contohnya. Setelah tahun 1949, Mao menilai kekuatan-kekuatan yang berlawanan untuk mendapatkan tempat di pemerintahan, melihat ke arah mata angin bertiup dan mengambil tindakan yang searah [dengan kepentingan borjuasi]. Hal ini tidak mengejutkan, ini merupakan ciri khas kaum borjuis-kecil. Saat ini, di era kapitalisme akhir [imperialisme—zaman krisis kapitalisme], menyerahkan sebagian besar teori Marxis dan mundur ke argument pra-Leninis bahwa revolusi sosialis harus didahului dengan selesainya tahap borjuis-demokratis [pembebasan nasional atau demokrasi nasional], adalah tindakan yang secara terbuka dan jelas merupakan tindakan kontra-revolusioner.”
Dalam Teori Investigasi Maois—saat perjuangan kelas bertambah intens, Mao Zedong bukan malah menekankan signifikansi pembangunan kepemimpinan yang tersentral dan kuat tapi justru menginginkan setiap orang pergi ke basis-basis organisasi untuk melakukan investigasi. Dengan kata lain: ketika kontradiksi semakin tajam maka bukanlah kepemimpinan dengan teori yang paling maju yang akan memandu perjuangan massa tetapi fakta dan data-data yang dikumpulkan para investigator dan digunakan oleh setiap investigator dalam merumuskan taktik-taktik perjuangan sesuai tingkat pemahamannya masing-masing. Berdasarkan seruan turun ke massa dan penyelidikan fakta, metode Maois sesungguhnya menolak peran sentral dari kepemimpinan revolusioner dalam memandu perjuangan massa. Dalam mengatasi persoalan kepemimpinan yang kurang-memadai, Mao bukan malah memperkuat kepemimpinan tapi justru melemahkannya sama sekali. Bahkan saat menghadapi kamerad-kamerad yang tidak-becus dalam melaksanakan tugas-tugasnya di kantor partai, Mao tidaklah menyerukan penggantian mereka dengan pemimpin-pemimpin yang cakap namun berusaha menarik-keluar mereka demi mengisi bilik-bilik pekerjaan investigasi. Demikianlah Maoisme menempatkan investigasi sebagai metode yang dalam praktiknya mengabaikan kebutuhan akan sentralisme-demokratik yang ditekankan oleh Lenin dalam pembangunan Kepemimpinan Bolshevisme. Pada kenyataannya, organisasi dan gerakan yang berlandaskan Maoisme (Stalinisme) secara vulgar mengangkat metode investigasi sebagai prinsip perjuangan massa. Di Indonesia, untuk berdiskusi dengan aktivis Maois (dan Stalinis) kita diminta terlebih dahulu melakukan investigasi dan mengumpulkan setumpuk data. Pada seabrek diskusi, lebih-lebih ketika pendiskusian semakin mendalam dan tajam, maka mereka akan berkata: ‘Tidak Ada Investigasi, Tidak Ada Hak Berbicara’.
Meskipun seseorang yang berdiskusi dengan mereka mengusung pendekatan Marxisme sebagai pisau analisa tetapi tetap saja dalam membedah realitas bukanlah materialisme dialektis yang ditekankan melainkan fakta-fakta investigatif. Mereka tidak membutuhkan teori-teori yang dianggap terlalu abstrak karena belum divalidasi oleh praktik-investigatif dari subyek-subyek investigator. Melalui investigasi mereka beranggapan dapat membumikan ide-ide Marxis yang melangit dan menciptakan ide-ide Marxis terkini yang bisa digunakan untuk menangani persoalan-persoalan masyarakat di sekitar. Dan kerap kali, lawan-lawan bicaranya yang secara konsisten membela kebenaran Marxisme tradisional dituding dogmatik. Pengetahuan yang benar bagi mereka tidak pernah lebih luas dari penemuan-penemuan investigatif: pengalaman-pengalaman langsung investigator. Mereka sepertinya tidak mengerti kalau pandangan individu bersifat terbatas dan sebuah teori yang obyektif haruslah melampui batas-batas subyektif. Dengan mengukuhkan investigasi sebagai prinsip dalam memperoleh pengetahuan dan mendiskusikan sesuatu, mereka sesungguhnya menolak mengatasi keterbatasan subyek dengan menguji obyektivitas propoposinya melalui tinjauan-tinjauan yang memadai dan tindakan-tindakan manusia secara kolektif. Aktivis-aktivis Maois (dan Stalinis) secara naif menganggap aktivitas investigasinya sebagai cara terbaik untuk menemukan kebenaran dan memahami realitas yang kompleks. Dengan menunjukkan onggokan data dan angka-angka belum tentu mereka dapat melihat lebih jauh dari apa yang ada dan mengungkap proses-proses yang tersembunyi di balik fakta. Dialektika merupakan pisau analisa yang tajam untuk membedah realitas dan menemukan kebenaran-kebenaran material yang obyektif. Namun dalam praktik organisasi dan gerakan Maois, metode dialektis digantikan dengan metode investigatif yang menekankan pada pengalaman langsung setiap subyek. Demikianlah investigasi tampil bukan saja sebagai bentuk aktivitas praktis yang paling sempit, melainkan pula penyeberangan ke arah empirisme kasar atau idealisme subyektif yang mendekati pengetahuan sebagai akumulasi fakta yang tidak dapat digeneralisasi dan diproses oleh kesadaran manusia secara rasional. Ini buruk karena merupakan pengkhianatan terhadap materialisme dialektis.
Mereka pikir hal-hal mendasar dari sebuah fakta dapat terangkat dengan sendirinya tanpa sebuah metode analisis berdasarkan teori yang tepat. Seperti Mao, yang mempelajari ‘Catatan Lenin’ dan mengadopsi metode ekposisi Marxis secara sepihak; aktivis-aktivis Maois (dan Stalinis) tidak mendengarkan peringatan Hegel: bahwa pencarian wawasan rasional bukan ‘akumulasi tumpukan fakta’ dan sekadar ‘mengetahui sesuatu’ takkan secara otomatis mengarah kepada pengetahuan yang lebih tinggi. Supaya mencapai pengetahuan sejati, Hegel berkata: ‘kita harus membuang semua prasangka dan memulai “perjalanan yang panjang dan melelahkan”, untuk “menyerap dan meresapi” pokok bahasan yang ada; “menyerahkan diri padanya” untuk menemukan hukum mendasar yang mengatur alam, masyarakat manusia, dan pemikiran rasional’. Kaum Marxis tidaklah menolak keperluan untuk melakukan investigasi demi memperoleh data mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa historis. Fakta dan data-data sangatlah dibutuhkan untuk mengetahui dunia material yang obyektif. Ini adalah pengetahuan-perseptual. Marxisme mengakuinya sebagai pengetahuan paling dasar yang merupakan titik keberangkatan menuju pengetahuan rasional atau kesadaran revolusioner; di mana proses mencapainya, tidaklah secara mekanis (dengan terus-menerus mengumpulkan data atau menekankan pada pengetahuan perseptual yang bersifat kuantitatif) tetapi dialektis (dengan berusaha memahami hukum-hukum tersembunyi yang mengatur dunia material; yakni, secara kualitatif menaklukan Marxisme selaku ilmu tentang hukum-hukum tersebut). Inilah proses perkembangan pengetahuan yang hidup sebagai kesatuan organis, yang materialis-dialektis; di mana berlangsung hubungan-hubungan timbal-balik dari hal-hal yang berlawanan dan saling-merasuki—antara subyek dan obyek, antara pengalaman praktis dan teori Marxis, antara kuantitas dan kualitas; di mana dalam proses ini Marxisme mengajarkan tentang praksis revolusioner yang menekankan pada perubahan ‘keadaan’ dan ‘didikan’, dan pentingnya ‘pendidik itulah yang harus dididik’. Praksis revolusioner sebagai esensi dari materialisme dialektis adalah praktik sosial yang menuntun seseorang untuk menemukan hukum-hukum material yang independen dari pikiran manusia dan memahaminya sebagai prasyarat untuk melancarkan perjuangan-sadar dalam mengubah realitas. Di “In Defence of Marxism”, Alizadeh menulis:
“Lenin pernah berkata: ‘Marxisme itu mahakuasa karena ia benar’. Maksudnya adalah bahwa Marxisme memperoleh ide-idenya dari realitas material. Ia tidak memiliki skema tetap yang dipaksakan ke dalam kenyataan, namun ia sendiri merupakan hasil penyelidikan cermat terhadap dunia di sekitar kita. Dengan demikian, Marxisme bukanlah sebuah filsafat dalam pengertian klasik. Kaum Marxis adalah materialis. Berbeda dengan kaum idealis, kami percaya bahwa tidak ada yang lain selain dunia material. Pikiran dan gagasan manusia merupakan cerminan yang tidak sempurna dari dunia material ini; dan hukum dialektika bukanlah hukum gagasan, melainkan hukum yang melekat pada alam itu sendiri pada tingkat yang paling umum. Melalui interaksi kita dengan dunia ini, kita dapat menemukan hukum-hukum ini. Pikiran manusia adalah materi yang diorganisir dengan cara tertentu. Individu bebas mengambil keputusan sendiri. Namun, begitu kita mengambil langkah mundur, kita akan segera melihat hukum-hukum besi bekerja secara mandiri dan, sering kali bertentangan dengan, kehendak manusia…. Sejarah manusia mengungkapkan hukum-hukum ini dengan cara yang paling mencolok. Pertama-tama, manusia perlu makan, tidur, dan bertahan hidup. Dalam upaya ini, mereka mengembangkan alat dan saran produksi, yang meningkatkan produktivitas mereka. Pada tahap tertentu, hal ini berarti sebagian umat manusia tidak perlu bekerja untuk menopang dirinya sendiri. Bagian ini dapat hidup dari surplus yang diciptakan oleh pihak lain. Di sini, kita melihat kebangkitan masyarakat kelas, yang didorong oleh perjuangan untuk mendapatkan surplus produk itu sendiri. Pada tahap masyarakat kelas, perkembangan kekuatan produksi membawa langkah maju yang sangat besar bagi umat manusia. Masyarakat kelas awal bertepatan dengan revolusi perkotaan, yang merupakan sebuah langkah maju yang besar bagi umat manusia. Masyarakat kelas akhir yang berdasarkan perbudakan bertepatan dengan berkembangnya ilmu-pengetahuan, budaya dan filsafat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun perbudakan, yang mencapai puncaknya di Zaman Romawi kuno, pasti akan melemah karena adanya kontradiksi yang ada di dalamnya. Dari reruntuhan masyarakt budak muncullah feodalisme, yang juga menjadi belenggu dan digulingkan oleh borjuis….”
“Pada setiap tahapan [sejarah yang bersifat relatif ini], perkembangan penuh suatu masyarakat kelas tertentu akan membawa pada kehancurannya dan digantikan oleh masyarakat kelas lain. Hegel mencari hukum-hukum perkembangan filsafat pada bidangnya sendiri. Meskipun benar bahwa filsafat mempunyai hukum-hukum batinnya sendiri, namun filsafat sepenuhnya terikat pada perkembangan masyarakat dan tenaga-tenaga produktif. Naik-turunnya aliran pemikiran filsafat selalu sejalan dengan naik-turunnya berbagai lapisan kelas dan masyarakat kelas. Setiap kelas revolusioner tentu harus mempunyai filosofi revolusioner. Kaum borjuis berkuasa atas dasar perjuangan melawan feodalisme dan obskurantisme agama. Ia datang ke dunia untuk mengungkap Kebenaran dan menyingkapkan kemunafikan dan irasionalitas masyarakat feodal. Kemenangannya merupakan langkah maju yang besar bagi umat manusia. Perkembangan kekuatan produki yang belum pernah terjadi sebelumnya, di bawah kapitalisme telah memberi kita, untuk pertama kalinya, kemampuan untuk mengangkat seluruh umat manusia keluar dari kemiskinan dan penderitaan yang umum terjadi. Namun kapitalisme juga telah mencapai batasnya dan kini menjadi penghambat kemajuan umat manusia. Menyatakan Kebenaran telah menjadi ancaman bagi sistem itu sendiri, karena sistem tersebut memperlihat sifat busuk dan bobroknya. Filsafat revolusioner dari kelas revolusioner saat ini, kelas pekerja, haruslah materialisme dialektis. Ini merupakan pandanga yang memandang realitas sebagaimana adanya, yakni dalam ‘totalitas dan perubahannya’. Kelas pekerja sedang berjuangan untuk mengakhiri semua masyarakat kelas, semua penindasan, dan dengan itu, semua ilusi, prasangka dan fetish, yang merupakan produk ideologis dan penopang masyarakat kelas. Kita memerlukan filsafat materialis menyeluruh untuk memahami hukum gerak masyarakat manusia, yang kita upayakan tidak hanya untuk mengubah masyarakat, namun juga diubah selaras dengan kebutuhan umat manusia secara keseluruhan. Dalam masyarakat kapitalis, kelas pekerja dipersiapkan sebagai penggali kuburnya. Sebuah kelas [yang memiliki para pelopor] yang mampu [membangun kepemimpinan revolusioner untuk] memimpin umat manusia keluar dari barbarisme masyarakat kelas, dan menjadikan umat manusia sebagai penguasa atas nasibnya sendiri. Kebenaran kini telah menjadi senjata revolusioner di tangan kelas pekerja. Oleh karena itu, bagi kaum Marxis, kebebasan saat ini terdiri dari mengakui proses ini, berpartisipasi di dalamnya sebagai elemen-sadar dan bukannya tidak-sadar, dan membantu mendorong umat manusia keluar dari jalan buntu masyarakat kelas ini. Dengan demikian kita membuka jalan bagi perkembangan masyarakt manusia yang benar-benar bebas dan harmonis. Dalam perjuangan ini, dialektika adalah senjata terkuat kita, untuk ini kita berhutang banyak pada Hegel dan tugas kita adalah mempertahankan warisan ini dari segala serangan dan distorsi.”
Teori Pengetahuan Marxis mengajari seseorang untuk menyelidiki segala hal-ihwal dengan berlandaskan metode dialektika yang diterapkan kepada realitas melalui praksis revolusioner. Maoisme (Stalinisme) tidaklah mengindahkan ajaran tersebut. Di “On Contradiction”, Mao Zedong menyatakan bahwa ‘prinsip penggunaan metode yang berbeda untuk menyelesaikan [kekhususan] kontradiksi [atau tahap] yang berbeda adalah prinsip yang harus dipatuhi dengan ketat oleh kaum Marxis-Leninis [Stalinis]’. Mao melihat kontradiksi secara teratomisasi dan menetapkan tahapan-tahapan perkembangan historis sebagai sesuatu yang mutlak, terpisah-pisah, dan membutuhkan penyelesaian tersendiri-sendiri. Pendekatan ini menyimpang jauh dari Marxisme. Kaum Marxis mengakui krtidakmerataan perkembangan historis di berbagai negeri, dan oleh karenanya, sebuah partai yang ingin memimpin massa dalam menempuh perjuangan revolusioner membutuhkan taktik perjuangan-khusus. Namun taktik khusus yang mengalir dari sebab-sebab khusus itu takkan terpikiran tanpa memperhatikan keterhubungannya dengan sebab-sebab umum. Dalam “Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 1)”, kami telah menjelaskan: ‘meskipun untuk semua tujuan praktis rakyat pekerja di sebuah negeri melancarkan perjuangannya seturut tahap-tahap perkembangan historis yang spesifik-nasional, namun dalam isinya setiap perjuangan kelas proletar berkarakter internasionalis sesuai dengan kapitalisme yang bersifat internasional. Dan, memasuki periode sejarah dunia yang meledak-ledak, dengan kontradiksi yang bertambah tajam dan ketidakstabilan yang semakin meluas, perbedaan-perbedaan historis akan digabungkan dalam persamaan masing-masing negeri untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan konkret mengenai bobot-sosial proletariat, hubungannya dengan kelas-kelas lainnya, kekuatan organisasi-organisasinya, pengalaman dan tingkat budayanya, tradisi dan temperamen nasionalnya. Pada titik ini tahapan historis yang berbeda-beda mengalami pembauran satu sama lain—untuk memajukan perkembangan tenaga-tenaga produktif yang ada—berdasarkan hukum-hukum tertentu. Pada analisa terakhir, arah dari tahap-tahap perkembangan historis yang unik akan ditentukan oleh sebab-sebab umum: perkembangan-perkembangan kekuatan produksi dan hubungan timbal-balik dalam proses sosial-ekonominya’.
Materialisme dialektis, yang diterapkan pada sejarah (materialisme historis), tidak melihat tahap-tahap perkembangan historis di setiap negeri sebagai sesuatu yang mutlak dan tak-terhubungkan satu sama lainnya. Di zaman krisis kapitalisme, meskipun laju peristiwa berbeda-beda namun pembauran dari tahapan-tahapan yang tidak-merata akan mengarah pada tugas yang sama: pembangunan kepemimpinan revolusioner sebagai kekuatan politik garda depan proletar revolusioner, yang bertugas menghubungkan perspektif dan program revolusioner untuk revolusi sosialis dengan tuntutan-tuntutan mendesak dari lapisan terluas kelas pekerja. Seluruh taktik perjuangan-khusus yang diterapkan di setiap negeri pada akhirnya ditentukan oleh seberapa baik kaum revolusioner menghubungkannya dengan tugas-strategis yang umum ini. Namun “Oppose Book Worship” menunjukkan pengkhianatan sedemikian rupa. Dengan membuang metode dialektis dan menggantikan kedudukannya dengan metode investigatif, maka Maoisme memandu perjuangan partai dan organisasi massa untuk meragukan teori ilmiah dan filosofis terdahulu—‘Marxisme tradisional’, dan sebagai gantinya, hanya mengakui teori prematur ‘Stalinisme-Maoisme’ sebagai pemandunya dalam memperjuangkan revolusi di satu negeri. Metode investigasi dijelaskan sebagai satu-satunya cara untuk mendekati sesuatu secara konkret, mendalam, dan menyelesaikan kekhususan kontradiksi atau tahapan perkembangan yang berbeda-beda di setiap negeri. Di “On Practice”, metode investigasi bahkan diterangkan sebagai upaya untuk mendapatkan pengetahuan-perseptual (pengalaman langung atau pengalaman murni) dan secara bertahap menuju ‘pengetahuan-rasional dan praktik revolusioner’. Tetapi pada kenyataannya—ini tidak dapat dilakukan sama sekali karena aktivitas-aktivitas yang ditekankan adalah berlandaskan pemahaman yang keliru mengenai materialisme dialektis. Kenyataan tersebut bisa ditemukan dengan mengamati bagaimana para aktivis Maois (dan Stalinis) melakukan kerja-kerja pengorganisasian di sekolah dan kampus-kampus, pedesaan dan perkotaan, tempat-tempat kerja dan pemukiman-pemukiman rakyat pekerja—semuanya mengabaikan Marxisme yang merupakan landasan teoritis dalam melancarkan praksis revolusioner (membangun kepemimpinan revolusioner), dan sebagai gantinya, menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis-ekonomis; yakni, ‘pembangunan basis’ di mana orang-orang diorganisir secara investigatif ke dalam aksi-aksi demonstrasi, advokasi, kampanye mimbar bebas, dan forum-forum belajar untuk mengatasi keperluan sehari-hari semata. Di sisinya juga terdapat kaum reformis-kiri dan sentris yang beragam, yang meskipun tidaklah menekankan pada metode investigasi Maois, tetapi ikut melakukan kegiatan-kegiatan pembangunan basis dengan taktik-taktik dan intensitas tertentu. Di tengah krisis kapitalisme dan kepemimpinan revolusioner dalam skala dunia, pembangunan basis terangkat sebagai konsep pengorganisasian yang terlampau dangkal tapi menjadi populer di antara aktivis-aktivis kiri yang tidak-mendasari organisasi dan gerakannya dengan pemahaman yang memadai terhadap materialisme dialektis—Marxisme. Di kala melemahnya kepemimpinan politik dan serikat buruh atas pengkhinatan-pengkhianatan para pemimpin reformisnya, pembangunan basis menjadi solusi yang ditekankan oleh mereka yang kebingungan dalam memajukan perjuangan massa. Dalam “Base-Building or Bolshevisme?”, Antonio Balmer menjelaskan ini sebagai kecenderungan borjuis-kecil yang secara historis berakar dari kaum Narodnik di Rusia:
“Bagaimana kita menjangkau massa? Pertanyaan ini telah menjadi pusat perdebatan revolusioner sejak lahirnya gerakan sosialis. Revolusi diawali dengan periode persiapan yang penuh gejolak dan perdebatan, klarifikasi ide, perspektif, dan tugas, serta menghilangkan kelembaman dari era stablitas dan kepastian sebelumnya. Pada periode-periode ini terdapat perasaan bahwa masyarakat berada pada jalan buntu, sementara pada saat yang sama, sejarah semakin cepat dan peristiwa-peristiwa besar akan terjadi. Hal ini mendorong lapisan masyarakat yang lebih luas ke dalam aktivitas politik dan terdapat kehausan akan ide-ide yang dapat menjelaskan krisis sistem dan cara untuk mengubahnya. Saat ini kita melihat menjamurnya lingkaran studi sosialis, kelompok membaca Marxis, klub kampus sosialis, dan segala jenis kelompok kerja di seluruh negeri. Masuknya sosialisme ke dalam arus utama dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah lanskap politik. Yang paling menonjol adalah perdebatan sengit yang terjadi di dalam dan di sekitar kekuatan DSA [Democratic Socialist of America] yang sedang tumbuh dan berkembang mengenai taktik dan strategi: … Bagaimana kita bisa menjangkau massa? Salah satu solusi yang diusulkan untuk menjangkau ‘massa’ yang baru-baru ini mendapatkan popularitas adalah konsep ‘pembangunan basis’. Kadang-kadang disajikan sebagai strategi revolusioner, di lain waktu sebagai cara untuk ‘membangun kekuatan kelas pekerja’ secara abstrak, pembangunan basis telah menjadi kata kunci di DSA dan di antara kelompok sayap kiri lainnya. Sejak tahun 1851, Marx telah berjuang melawan upaya-upaya untuk mengalihkan perjuangan kelas menjadi ‘eksperimen doktriner, bank pertukaran, dan asosiasi pekerja, sehingga menjadi gerakan yang menolak revolusi sosialis dunia melalui gerakan-gerakan besar perjuangan kelas pekerja internasional yang menggabungkan sumber daya yang besar yang dimiliki dunia lama untuk membangun dunia baru, dan sebaliknya berupaya mencapai keselamatan di balik punggung masyarakat, dengan cara tertentu, dalam kondisi keberadaannya yang terbatas, dan karenanya akan tenggelam.”
“Pendekatan ini mulai bangkit kembali dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan upaya yang dilakukan untuk mendefinisikan dan mengodifikasi pembangunan basis sebagai metodologi bagi kelompok aktivis. Dalam artikel tahun 2017 di ‘Philadelphia Partisan’, sebuah publikasi aktivis lokal yang diproduksi oleh Philly Socialist, Tim Horras memberikan gambaran tentang apa yang dia sebut sebagai ‘tugas praktis’ pembangunan basis: ‘…perbincangan satu lawan satu, melayani kebutuhan mendesak masyarakat, melawan kekuatan penindas lokal yang ada di samping mereka … Ada sejuta taktik yang bisa kita gunakan untuk memasukan sosialisme ke dalam tatanan kehidupan kelas pekerja, karena kehidupan kelas pekerja memiliki sejuta sisi…. Tugas kaum radikal saat ini adalah menggali lebih dalam ke akar kehidupan rakyat, menjangkau ‘massa’, membangun hubungan jangka panjang dengan lapisan masyarakat tertindas dan kelas pekerja, dan berorganisasi di lingkungan dan tempat kerja kita. Ini adalah pekerjaan berat yang bersifat menghukum dan mendemoralisasi yang sebaiknya dihindari oleh para aktivis, namun ini merupakan satu-satunya jalan ke depan’. Meskipun ini dianggap sebagai sesuatu yang baru, mulai dari kelompok aktivis kecil dengan fokus lokal hingga ke jajaran DSA yang lebih luas dan seterusnya, pada kenyataannya konsep ini mencerminkan kecenderungan yang memiliki sejarah panjang dan memberikan banyak pelajaran bagi kaum revolusioner masa kini…. Hampir setengah abad sebelum Revolusi Rusia tahun 1917, perjuangan revolusioner melawan tsarisme dilakukan oleh para pendahulu gerakan sosialis Rusia, yaitu kaum Narodnik. Kelompok Narodnik merupakan gerakan kaum muda kelas menengah dan kaum intelektual dengan ide-ide eklektis anarkis dan liberal, tetap merupakan pejuang tanpa pamrih yang berkomitmen untuk menghasut gerakan massa untuk menjatuhkan tsar. Slogan utama mereka adalah “Datanglah ke Rakyat!” dan mereka bertujuan untuk membangun akar di kalangan kaum tani miskin, yang merupakan mayoritas penduduk….”
“Para veteran revolusioner Narodnisme, yang mengupayakan tindakan segera dan perjuangan habis-habisan melawan tsarisme, tidak mudah menyadari perlunya organisasi kader [kepemimpinan revolusioner], yang menekankan pada studi dan diskusi untuk membangun inti kaum Marxis yang terpelajar dan berkomitem dalam gerakan buruh. Namun pengalaman yang melelahkan dari aktivisme lokal dan ‘perbuatan-perbuatan kecil’—yang saat ini sudah tidak asing lagi bagi banyak aktivis yang mengalami kelelahan akibat beraktivitas praktis tanpa henti dalam mengorganisir aksi unjuk-rasa, demonstrasi, mengetuk pintu rumah, menghubungi melalui telepon, dan upaya-upaya lain yang fokusnya lebih sempit—membawa [lapisan-lapisan yang paling maju dan pantang menyerah dari] mereka pada kesimpulan bahwa sebuah gerakan revolusioner membutuhkan landasan ideologis yang lebih [kuat dan] serius. Bahkan setelah Narodnisme memudar, mentalitas ‘pergi ke rakyat’ tetap bertahan dalam gagasan bahwa kaum sosialis tidak boleh mengidentifikasi dirinya untuk ‘memimpin’ para pekerja, namun hanya untuk ‘melayani’ mereka dengan membantu di garis piket dan dalam konfrontasi dengan negara. Ada tekanan untuk fokus hanya pada isu-isu ekonomi yang bersifat ‘sehari-hari’, daripada mendalami politik atau pertanyaan-pertanyaan teoritis yang mungkin terlalu ‘sulit’ atau ‘abstrak’ untuk dipahami oleh para pekerja. Kaum Marxis berjuang melawan kecenderungan ini, yang dikenal sebagai ‘ekonomisme’ dan menekankan pentingnya pendidikan teoritis bagi militan kelas pekerja, dan perlunya menggabungkan perjuangan ekonomi dan politik.”
Maoisme (Stalinisme) tidak menekankan pembangunan kepemimpinan organisasi dan gerakannya pada pendidikan teoritis. Walaupun para aktivisnya membuka perekrutan anggota dengan mengadakan forum-forum pendidikan politik tapi pemahaman Marxisme secara memadai tidak pernah ditekankan. Doktrin Maois bukanlah ajaran yang mengakui kebenaran Marxisme tetapi melancarkan penyangkalan yang sewenang-wenang. Dalam pengembangan pengetahuan manusia, Maoisme mengharuskan penggunaan metode investigatif ketimbang dialektis. Secara praktis, investigasi diangkat kaum Maois (dan Stalinis) sebagai prinsip teoritik untuk memandu organisasi dan gerakan massa. Dalam membangun kepemimpinan revolusioner Bolshevisme, Lenin dan kamerad-kameradnya tidak pernah menekankan soal investigasi melainkan sentralisme-demokratik; di mana materialisme dialektis dan praksis revolusioner diaplikasikan dalam pembangunan partai revolusioner Bolshevik, yang dimulai dari atas ke bawah, yakni, dengan membentuk Organ Sentral dan Komite Pusat yang berusaha memperoleh informasi menyeluruh dengan ‘memberikan semua orang sesuatu untuk dilakukan’ tapi ‘dengan mempertimbangkan bahwa tiap-tiap aspek kerja revolusioner membutuhkan kemampuan yang berbeda’ dan ‘pada saat yang sama mempertahankan kepemimpinan ideologi dan praktis dari seluruh gerakan’ menggunakan ‘otoritas, energi, pengalaman yang lebih besar, kepandaian yang lebih beraneka ragam, dan kecakapan yang lebih baik’. Dengan keberadaan organ-organ kepemimpinan Bolshevik yang berperan mendesentralisasi tanggung-jawab dan menyentralisasi informasi inilah kontradiksi antara teori dan praktik diatasi. Jadi, orang-orang tak cukup ditugaskan berada di tengah massa untuk menyelidiki fakta-fakta yang ada; orang-orang lebih jauh harus diberikan tugas berbeda-beda yang sesuai dengan kemampuannya dan tetap dipandu untuk melakukan kerja-kerja revolusionernya dalam memberikan informasi kepada pusat. Dalam hubungan timbal-balik inilah orang-orang dididik untuk mempelajari Marxisme secara serius dan meningkatkan pemahaman teoritisnya seiring dengan pembangunan kepemimpinan revolusioner. Pekerjaan ini takkan mungkin dilakukan dengan metode dan prinsip Maois, yang berupaya mengatasi kontradiksi antara teori dan praktik, subyek dan obyek, individu dan keseluruhan, dengan menekankan pada pencarian-pencarian fakta dan membebaskan setiap investigator dalam merumuskan taktik-taktik perjuangan, yang bahkan dengan ‘bebas mengkritik’ organ-organ kepemimpinan partainya. Ini keliru dan sangat bertentangan dengan sentralisme-demokratik. Penekanan terhadap kebebasan individu sangat asing bagi Marxisme, Bolshevisme-Leninisme. Kaum Marxis, Bolshevik-Leninis, menentang kecenderungan borjuis-kecil itu. Lewat “Sebuah Surat untuk Seorang Kamerad mengenai Tugas-Tugas Organisasional Kita”, Lenin berkata:
“Kepemimpinan gerakan harus dipercayakan kepada sesedikit mungkin kelompok kaum revolusioner profesional yang paling homogen, yang memiliki pengalaman yang besar. Partisipasi dalam gerakan harus diperluas sebanyak mungkin kelompok yang paling beragam dan heterogen, yang merangkul lapisan-lapisan proletariat yang paling beragam (dan juga kelas-kelas rakyat lainnya). Pusat Partai harus selalu memiliki, tidak hanya informasi yang terperinci mengenai aktivitas-aktivitas dari tiap-tiap kelompok ini, tetapi juga ‘informasi yang selengkap-lengkapnya mengenai komposisi kelompok mereka’. Kita harus menyentralisasi kepemimpinan gerakan. Kita juga harus (dan persis untuk alasan ini, karena tanpa informasi maka sentralisasi adalah mustahil) sebisa mungkin ‘mendesentralisasi tanggung jawab kepada Partai’ dari tiap-tiap anggotanya, dari tiap-tiap partisipan di dalam kerjanya, dan dari tiap-tiap lingkaran yang langsung di bawah Partai atau yang berasosiasi dengan Partai. Desentralisasi ini adalah prasyarat yang esensial untuk sentralisasi revolusioner dan alat korektif yang esensial untuknya. Hanya setelah sentralisasi dicanangkan sepenuhnya dan hanya setelah kita memiliki Organ Sentral dan Komite Pusat, maka setiap kelompok, tidak peduli sekecil apapun mereka, dapat berkomunikasi dengan mereka [Komite Pusat dan Organ Sentral]—dan tidak hanya berkomunikasi dengan mereka, tetapi melakukan ini secara ‘reguler’ sebagai hasil dari sebuah sistem yang telah dibentuk dengan bertahun-tahun pengalaman—dan hanya dengan demikian maka konsekuensi buruk dari komposisi komite lokal yang buruk dapat diatasi. Sekarang kita telah semakin dekat ke persatuan Partai yang sesungguhnya dan semakin dekat ke pembentukan pusat kepemimpinan yang sesungguhnya, dan kita harus ingat dengan baik bahwa pusat ini akan ‘tak-berdaya’ bila kita tidak pada saat yang sama memperkenalkan ‘desentralisasi yang maksimum’ sehubungan dengan tanggung jawab pada pusat dan sehubungan dengan menginformasikan pusat mengenai semua gir dan roda mesin Partai.”
Dalam “Oppose Book Worship”—Mao Zedong mengarahkan pembangunan kepemimpinan politik dan organisasi buruh bukan dengan mendasarkan diri pada prinsip-prinsip teori ilmiah dan filosofis yang kokoh dan sudah teruji kebenarannya dalam praktik perjuangan kelas sepanjang sejarah, melainkan pencarian fakta yang terus-menerus untuk menyangkal Marxisme dan secara berat-sebelah menciptakan teori baru untuk memandu perjuangan massa. Ini merupakan konsekuensi dari pemahaman akan eksposisi Marxis secara keliru. Di bawah panduan Maoisme (Stalinisme), organisasi-organisasi dan gerakan yang ada diarahkan memeluk garis politik yang mengabaikan Marxisme. Teori Pengetahuan Maois beresensikan ‘praksis-ekonomis’ untuk mendapatkan pengetahuan teoritis secara bertahap dalam pembangunan bagian, dan oleh karena itu, menekankan pada ‘Garis Massa’. Garis ini memperlakukan massa sebagai bagian-bagian individual yang dijumlahkan, membentuk kesatuan yang homogen dan tetap, dan mengabaikan relasi timbal-balik antara lapisan-terbelakang dan garda-depan revolusioner, antara orang-orang yang dididik dan para pendidik, antara pengetahuan yang lebih rendah dan pengetahuan yang lebih tinggi, antara praktik dan teori revolusioner. Teori Pengetahuan Marxis menekankan pada ‘praksis-revolusioner’ untuk memperoleh pemahaman teoritis secara dialektis dalam pembangunan keseluruhan, dan oleh karena itu, menekankan pada ‘Garis Kesadaran Massa’. Garis ini tidaklah memperlakukan massa sebagai hasil penjumlahan bagian-bagian individual yang statis, tetapi memandangnya sebagai totalitas yang heterogen, hidup dan dinamis; yang di dalamnya tidak saja terdapat lapisan-terbelakang tapi juga lapisan-terdepan, paling-maju dan sadar-kelas—orang-orang ini berpikiran terbuka dan tidak-terbebani prasangka masa lalu, sehingga berpotensi menjadi pemimpin revolusioner di masa depan; dan untuk itulah kaum Marxis harus memenangkan mereka ke arah politik revolusioner dengan menjelaskan Marxisme bukan hanya secara sabar tapi juga benar.
Sudut pandang Maoisme terhadap perjuangan kelas sangat sempit dan berat-sebelah, karena tidak memperhatikan hubungan-hubungan bagian-keseluruhan. Dengan menekankan pada yang individu (sebab-sebab khusus) tanpa mempertimbangkan relasi timbal-balik yang menentukan dalam hubungannya dengan yang universal (sebab-sebab umum), maka Maoisme menjadi teori yang melebih-lebihkan keberadaan ‘bagian’ dan meremehkan keterhubungannya dengan keberadaan ‘keseluruhan’. Ketika kaum Marxis menyatakan bahwa sudut pandang Maois memberi penekanan terhadap ‘sebab khusus’, ini tidak dapat dipahami secara diametral sebagai bentuk penekanan kami yang ‘berlebihan’ terhadap ‘sebab umum’; yakni, semua hal-ihwal ‘direduksi’ ke sebab umum tanpa memperhatikan hubungan yang menentukan antara sebab-sebab khusus (individu) dan sebab-sebab umum (universal). Marxisme memandang individu-universal, khusus-umum, subyek-obyek, bagian-keseluruhan, kebetulan-kebutuhan sebagai suatu kesatuan organis, yang pada titik tertentu dalam hubungan-hubungan di antara dua kutub yang berlawanan dan saling-merasuki ini akan mempertukarkan keberadaannya menjadi kebalikannya—berubah menjadi satu sama lainnya. Pernyataan bahwa perkembangan historis ditentukan oleh ‘sebab umum’, tanpa memandang keterhubungan-keterhubungan dan pengaruh-pengaruh timbal-balik yang menyertai perkembangannya, sama halnya dengan ‘keberatsebelahan’ Maoisme yang secara absolut menganggap ‘sebab khusus’ sebagai penentu perkembangan historis di masing-masing negeri. Dalam pembangunan keseluruhan, Marxisme memberitahukan bahwa ketidaksesuaian antara tenaga produktif dan hubungan produksi merupakan faktor yang paling umum dan mendasari perubahan sejarah. Inilah kontradiksi internal dalam perkembangan masyarakat di seluruh dunia. Di masyarakat kapitalis, kontradiksi internalnya dinyatakan melalui pertentangan dari kegiatan produksi yang berkarakter sosial dan kepemilikan alat produksi yang bersifat pribadi. Di zaman imperialisme, kontradiksi internal ini berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks; yakni, kontradiksi antara proletariat dengan kepemilikan borjuis, negara-bangsa dan pasar dunia, yang mengarah pada perang imperialis dan revolusi sosialis di mana tenaga-tenaga produktif memberontak terhadap hubungan-hubungan sosial-ekonomi yang telah usang dan tidak mampu lagi memajukan perkembangan tenaga produktifnya.
Di momen perubahan sejarah, kaum Marxis mengakui betapa individu dapat mengambil peran yang luar biasa penting melalui keberadaannya dalam sebuah partai yang memimpin perjuangan revolusioner massa. Pengakuan ini tidak dapat dilebih-lebihkan dan diartikan sebagai keberatsebelahan perspektif Marxis. Proposisi tersebut harus ditinjau berdasarkan hubungan individu dan universal, subyek dan obyek, bagian dan keseluruhan, kebetulan dan kebutuhan yang tidak dijelaskan dalam Teori Kontradiksi Maois. Pendekatan historis Mao Zedong hanya menguraikan apa yang dimaksudnya dengan ‘sebab internal’ (khusus) dan ‘sebab eksternal’ (umum) tanpa berusaha menjelaskan mengenai ‘sebab partikular’ (individual) secara memadai. Di “On Contradiction”, apa yang kaum Marxis sebut sebagai sebab partikular diperlakukan menjadi ‘segi-segi kontradiksi’. Sementera pandangan Marxis terhadap sejarah menempatkan kepribadian manusia, perbuatan-perbuatannya, serta fenomena-fenomena ‘kebetulan’ yang menyertainya sebagai sebab-sebab partikular. Materialisme historis tidak pernah mengabaikan peran individu dalam sejarah, tetapi melihat peran tersebut sesuai konteks perkembangan historis; yang pada situasi yang kritis, peran yang dimainkan indvidu dapat menjadi penentu karena perannya merupakan mata-rantai terakhir yang menentukan dalam rantai kausalitas. Dalam “Jurnal Dialektika III: Mengapa Tidak Ada Revolusi? Perlunya Kepemimpinan Revolusioner”, Alan Woods dan kamerad-kameradnya memberi penekanan terhadap sebab-sebab partikular yang menjadi faktor subyektif dalam sejarah: ‘tanpa kehadiran Partai Bolshevik—bahkan tanpa kehadiran Lenin dan Trotsky—Revolusi Oktober tidak akan pernah terjadi. Revolusi ini akan gagal dan berakhir dengan kontra-revolusi’. Pernyataan tersebut lagi-lagi tidaklah bisa dipahami secara sepihak tanpa memperhatikan relasi timbal-balik dari faktor subyektif (kepemimpinan revolusioner) dan faktor obyektif (krisis kapitalisme). Alasan utama pentingnya kepemimpinan revolusioner berasal dari fakta mendasar bahwa semua kondisi obyektif yang memberi signifikansi terhadap faktor subyektif sudah terpenuhi: integrasi ekonomi dunia yang menghancurkan perekonomian nasional, dengan ketidakstabilan kronis dan kebuntuan sistem di mana kapitalisme sudah tidak mampu memajukan masyarakat, hingga munculnya unsur-unsur barbarisme yang berbentuk perang imperialis, kolonialisme, rasisme, militerisme, seksisme, femisida, kemiskinan dan penderitaan massal, pengangguran permanen, dan sebagainya. Semua ini menjadi ekspresi pembusukan historis di zaman imperialisme, di mana kapitalisme tenggelam dalam krisis-krisis yang menghancurkan tenaga produktif umat manusia. Pada kondisi inilah faktor subyektif dapat memainkan peranan penentu dalam hubungannya dengan faktor obyektif. Dalam “Program Transisional” Trotsky (1938) dan “Resolusi Organisasi Revolusioner” PSR (2010) tertulis:
“Syarat ekonomi untuk revolusi proletar sudah secara umum mencapai tingkatan tertinggi yang mampu dicapai di bawah kapitalisme. Kekuatan-kekuatan produksi umat manusia tidak bertambah maju. Penempuan-penemuan dan perkembangan baru sudah tidak mampu meningkatkan kesejahteraan material. Krisis-krisis yang saling bertautan di bawah krisis kondisi sosial dari seluruh sistem kapitalis mengakibatkan kelaparan dan kesengsaraan yang semakin parah di dalam masyarakat. Tingkat pengangguran yang makin membengkak, pada gilirannya, memperdalam krisis finansial negara dan melemahkan sistem keuangan yang sudah tidak stabil. Rezim-rezim demokratik dan juga rezim-rezim fasis, terhuyung-huyung dari satu kebangkrutan-ke-kebangkrutan lainnya…. Semua argumen bahwa kondisi sejarah belumlah ‘matang’ untuk sosialisme adalah produk dari kebodohan atau penipuan yang dilakukan secara sadar. Syarat-syarat obyektif untuk revolusi proletariat bukan hanya sudah ‘matang’, mereka sudah mulai membusuk. Tanpa sebuah revolusi sosialis di dalam periode sejarah yang selanjutnya, sebuah bencana akan mengancam seluruh peradaban umat manusia. Sekarang semua tergantung pada kelas proletariat, terutama kaum pelopor revolusioner kelas tersebut. Krisis sejarah umat manusia tereduksi ke krisis kepemimpinan revolusioner.”
“Dalam kegagalan banyak revolusi sepanjang sejarah perjuangan kelas (termasuk kegagalan revolusi di Indonesia). Situasi objektif untuk sosialisme sudahlah matang dan bahkan sudah membusuk. Rakyat pekerja di seluruh penjuru dunia sudah berulang kali menunjukkan keberanian dan kegigihan mereka dalam berjuang untuk mengubah kondisi mereka, dan berulang kali mereka gagal dan harus membayarnya dengan sangat mahal.… Rakyat pekerja gagal karena mereka tidak memiliki sebuah kepemimpinan revolusioner yang mampu menggiring mereka ke garis akhir revolusi sosialis. Kepemimpinan yang mereka miliki adalah kaum reformis yang menjual mereka ke kaum kapitalis. Di sini bukan tempatnya untuk mempertanyakan niat luhur dari para pemimpin reformis ini. Cukup banyak dari mereka tidak diragukan memiliki niat luhur yang sejati untuk membela rakyat pekerja. Tetapi niat luhur tidaklah cukup untuk memimpin sebuah revolusi. Sebaliknya, justru jalan ke neraka sering kali dibangun dengan niat luhur…. Keberanian kaum muda dan buruh Indonesia tidak perlu lagi dipertanyakan. Di bawah cengkraman kediktatoran Soeharto, kaum muda dan rakyat pekerja Indonesia melawan dan akhirnya menggulingkan rezim yang busuk ini. Namun, bila ada satu hal yang bisa kita pelajari dari kegagalan gerakan Reformasi 1998 adalah kurangnya pemahaman teori revolusioner di dalam gerakan…. Bila ada satu pelajaran dari semua ini yang bisa kita tarik, tugas selanjutnya yang harus diemban oleh kaum revolusioner Indonesia adalah melakukan pendidikan politik secara sabar dan sistematis. Dengan kader-kader yang tertempa, kegagalan bukannya menciptakan kebingungan dan kekacauan tetapi justru menguatkan karena pelajaran yang bisa kita tarik dari kegagalan tersebut. Dengan kader-kader yang terlatih, ketika dihadapkan dengan momen-momen yang menentukan, kita akan bisa membawa revolusi ke garis akhir.”
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
