Kategori
Teori

Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 11)

“Transformasi sosialis tidak hanya berarti perebutan kekuasaan: ini hanyalah langkah pertama. Revolusi yang sesungguhnya—lompatan umat manusia dari ranah kebutuhan ke ranah kebebasan—masih belum tercapai. Engels menunjukkan bahwa dalam masyarakat manapun di mana seni, ilmu-pengetahuan, dan pemerintahan merupakan monopoli kelompok minoritas, kelompok minoritas tersebut akan menggunakannya dan menyalahgunakan posisinya untuk membuat masyarakat tetap berada dalam perbudakan…. Kaum Marxis harus berada di barisan pertama kelas pekerja yang berjuang untuk mengubah masyarakat. Tugas kita adalah mendidik dan melatih kader-kader revolusi sosialis di masa depan. Untuk melaksanakan tugas ini, kita harus berpegang pada apa yang positif, progresif dan revolusioner dan dengan tegas menolak segala sesuatu yang terbelakang, bodoh dan primitif. Tujuan kita tertuju pada cakrawala yang sangat tinggi. Kita harus mengangkat pandangan kelas pekerja, dimulai dari elemen-elemen yang paling maju, ke cakrawala yang Trotsky bicarakan dalam ‘Literature and Revolution’:”

“’Sulit untuk memprediksi pemerintahan-mandiri yang dapat dicapai oleh manusia masa depan atau sejauh mana ia dapat menerapkan tekniknya. Konstruksi sosial dan pendidikan-mandiri psiko-fisik akan menjadi dua-aspek dalam satu proses yang sama. Semua seni—sastra, drama, lukisan, musik dan arsitektur yang memberikan proses ini bentuk yang indah. Lebih tepat lagi, cangkang yang membungkus konstruksi budaya dan pendidikan-mandiri orang Komunis, akan mengembangkan semua elemen penting seni kontemporer ke titik tertinggi. Manusia akan menjadi jauh lebih kuat, lebih bijaksana dan lebih halus; tubuhnya akan menjadi lebih harmonis, gerakannya menjadi lebih ritmis, suaranya menjadi lebih musikal. Bentuk-bentuk kehidupan akan menjadi dramatis secara dinamis. Tipe manusia rata-rata akan mencapai tingkat Aristoteles, Goethe, atau Marx. Dan di atas punggung bukit ini, puncak-puncak baru akan muncul.’”

– Revolutionary Communist International, RCI

Doktrin Maois tentang kontradiksi menyangkal proses pembangunan keseluruhan dari Teori Pengetahuan Marxis. Metode dialektika materialis yang diterapkan pada sejarah mengungkapkan karakter internasional dalam perjuangan kelas proletar. Berdasarkan prinsip pembangunan keseluruhan, Marxisme menetapkan tugas revolusi internasional untuk membangun sosialisme di skala dunia. Namun dengan menolak proses pembangunan keseluruhan, Teori Kontradiksi Maois menjadi sepenuhnya bertentangan dengan Marxisme. Pendekatan Marxis yang sejati harus menerima proses pembangunan keseluruhan sebagai dasar bagi prinsip internasionalisme proletariat. Di “On the Question of Dialectics”, Lenin menerangkan materialisme dialektis bukan untuk mendirikan ‘Sosialisme di Satu Negeri’, melainkan pembangunan ‘Sosialisme Dunia’. Lenin tidak pernah mengalihkan pandangan dari fakta bahwa gerakan revolusioner di Rusia terkait-erat dengan perjuangan kelas buruh di seluruh dunia. Lenin, seperti Trotsky, memandang kalau revolusi dapat diintrodusir di Rusia namun untuk menjamin kemenangannya maka revolusi harus meluas ke seluruh dunia. Semangat internasionalis mengalir dalam segenap karya Lenin. Jika ada yang paling dinodai oleh “On Contradiction”, yang ditulis oleh Mao dengan klaim mengikuti pemikiran Lenin, itu adalah internasionalisme proletariat. Sebagai konsekuensi penolakan terhadap prinsip pembangunan keseluruhan atau sudut pandang internasionalis, Teori Kontradiksi Maois menjadi berat-sebelah dan sangat destruktif. Di bidang teori, kecenderungan untuk memisahkan secara kaku antara sebab internal dan sebab eksternal membuka ruang untuk obskurantisme, empirisme vulgar atau idealisme subyektif. Kehadiran artikel-artikel (“Penemuan Kembali Marxisme Kita”, “Materialisme Dialektis sebagai Metode”) atau bahkan buku (“Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer”) dari Martin Suryajaya—yang berpretensi membuang inti-rasional filsafat Hegel atau mencekik keuniversalan relasi internal (dialektika)—dengan mendasarkan pemikirannya pada (prasangka-prasangka borjuis-kecil, dan terlebih) konsep-konsep Maois—mengekspresikan kebusukan dan kemunduran tersebut. Pada “Idealisme dalam ‘Penemuan Kembali Marxisme’”, Redaksi Perhimpunan Sosialis Revolusioner (PSR—Seksi Indonesia dari RCI) menulis:

“Menyusul apa yang kami tulis belum lama ini untuk menanggapi gagasan-gagasan keliru dari Indoprogress (Marxisme Mereka dan Marxisme Kami—Penutup Kritik Masalah Pemilu 2014), kami akan mencoba menyentuh lebih dalam proyek rekonstruksi Marxisme yang digagas oleh Martin Suryajaya, salah satu teoretikus utama dari situs Indoprogress. Tulisan terakhir Martin di kolom ‘Logika’ (Penemuan Kembali Marxisme Kita) telah sangat dilebih-lebihkan oleh para koleganya. Mereka membayangkan bahwa apa yang kelak dihasilkan dari proyek rekonstruksi filsafat Marxis Martin akan menghasilkan sebuah kebaruan atas Marxisme. Bahkan kami tidak-bisa-tidak merasa jijik ketika ada yang mengatakan bahwa kerja yang dilakukan Martin adalah seperti kerja yang dilakukan Marx ketika merumuskan pandangan filsafatnya. Tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan di sini karena sejak semula kita sudah mengetahui di sisi mana Martin melandaskan proyek filsafatnya, yang tidak lebih daripada pandangan dunia idealis. Apa juga bukan sebuah kebetulan kalau proyek rekonstruksi ini diluncurkan setelah gagasan-gagasan Indoprogress di bawah naungan Coen dan Martin berhubungan dengan masa pemilu kemarin (konsep relawan, artikulasi politik, dukungan kritis, melawan fasisme, dan sebagainya) telah terbukti keliru? Para akademiki Marxis kita jari-jarinya terbakar setelah mencoba bermain-main dengan ‘realpolitik’. Tidak ada satupun prognosis dan perspektif mereka yang benar sama sekali. Tetapi alih-alih merekonstruksi cara berpikir mereka yang sejak awalnya keliru, mereka justru ingin merekonstruksi Marxisme itu sendiri. Sebelum kita melihat hasil dari proyek rekonstruksi ini marilah kita melihat apa yang ada di isi kepala Martin. Martin tidak lebih dari seorang idealis. Segala sesuatu yang menyangkut keberadaan haruslah menyangkut Nalar atau Ide. Bila ia tidak mematuhi Nalar ini—begitu keinginan Martin—maka keberadaan segala hal patut dipertimbangkan, dilupakan, bahkan bila perlua dibuang dan kembali melahirkan ide-ide baru. Sementara Marxisme adalah filsafat materialis. Dalam artian ini saja ide-ide Martin sangatlah berlawanan dengan filsafat materialisme. Materialisme menganggap bahwa perkembangan dari Ide manusia pada akhirnya tergantung realitas obyektif—atau dalam ungkapan Jacob Bohme—ia tergantung pada Materi. Ketika kita berbicara mengenai Marxisme berarti kita berbicara mengenai filsafat materialis dialektik, yang dalam hal capaiannya melebihi apa yang pernah dicapai oleh para filsuf materialis sebelumnya, bahkan oleh para pemikir besar sebelumnya. Oleh karenanya, sebelum kita bisa berbicara mengenai apa yang ingin dicapai oleh proyek ‘penemuan kembali Marxisme’ yang diluncurkan oleh Martin, kita terlebih dahulu harus melihat apa yang sudah dicapai oleh Marx.”

“…Filsafat materialisme sebelum Marx beranggapan bahwa perkembangan kesadaran manusia haruslah ditemukan di dalam lingkungan, masyarakat sipil, dan keadaan eksternal lain. Persoalan ini tentu saja tidak menjawab mengenai proses perkembangan kesadaran manusia…. Apa yang tidak bisa dicapai oleh filsafat materialisme saat itu kemudian diambil tempatnya oleh idealisme Jerman. Perwakilan maju dari filsafat ini diambil oleh Hegel. Hegel melangkah lebih jauh dengan menemukan bahwa ada satu kekuatan yang pada akhirnya menentukan kesadaran manusia … Hegel menyatakan bahwa kekuatan yang mengemudikan itu semua adalah ‘Roh’ yang sebagai perwujudan dari Ide Absolut. Ia, Ide Absolut, adalah satu-satunya pencipta realitas. Hegel tidak menyangkal realitas. Ia menunjukkan bahwa realitas tidak lebih daripada logika yang diterapkan. Pengakuannya terhadap gerak akhirnya menempatkan kembali dialektika di dalam ajaran filsafatnya. Gerak adalah dasar dari logika. Dialektika menunjukkan bahwa tidak ada yang abadi, yang absolute; semua yang ada layak untuk musnah. Dialektika bekerja dalam gerak dan berurusan dengan proses…. Dialektika tidak menyingkirkan logika formal, tetapi ia hanya menghilangkan hukum-hukum logika formal dari nilai-nilai yang absolut; yang metafisika…. Dialektika Hegel kemudian menjadi ajal bagi dasar bangunan filsafatnya. Nilai-nilai absolut dari idealisme berkontradiksi dengan dialektika itu sendiri. Dialektika Hegel tidaklah musnah, ia lebih pada mempersiapkan jalan bagi perkembangan filsafat selanjutnya. Seperti Idealisme Jerman yang jaya menggantikan materialisme abad ke-18, maka berkebalikan dari itu, Materialisme sekarang menegakkan kepalanya di mana-mana. Ketika Hegel melihat Napoleon, ia mengatakan bahwa dia sedang menyaksikan ‘Roh Dunia’ sedang menunggang kuda. Ia melihat sejarah ditentukan oleh Ide Absolut. Memang dalam sejarah, individu-individu yang berpengaruh tersebut dapat mengubah fitur-fitur tertentu dari peristiwa, namun ia tidak dapat mengubah tren umum dari kekuatan-kekuatan lain. Kekuatan itu pulalah yang pada akhirnya menentukan seluruh bangunan ide-ide dari manusia, yang kesemuanya dapat ditemui di dalam hubungan-hubungan produksi dan pertukaran, dan yang kesemuanya pada akhirnya tergantung pada perkembangan kekuatan produksi masyarakat. Hanya Marx yang kemudian menempatkan dialektika pada tempat yang seharusnya [ini]. Ia menempatkan dialektika pada fondasi materialis. Bila dialektika Hegel ditopang oleh metafisika, maka dialektika Marx ditopang oleh doktrin materialis. Pada dasar ini pulalah Marx telah memecahkan problem filsafat antara ide dan keberadaan. Baginya, ide adalah refleksi dadi dunia material yang diterjemahkan dalam bahasa pemikiran. Kontradiksi-kontradiksinya yang ada dalam fenomena adalah sehubungan dengan sifat kontradiktif dasar sifat materi tersebut, yakni gerak. Inilah karakter revolusioner dari dialektika yang setelah dilepaskan dari selubung metafisisnya. Inilah capaian Marx capaian Marxisme itu sendiri. Dari cara pandang inilah kita melandaskan diri kita.”

Trotsky pernah menyampaikan bahwa lokomotif sejarah adalah ‘kebenaran’ dan Marxisme merupakan teori yang telah teruji kebenarannya dalam memajukan perjuangan kelas buruh selama 200 tahun terakhir. Sementara mereka yang mendasarkan perjuangannya pada teori yang keliru tidak mungkin menorehkan kemajuan apa-apa, kecuali penyimpangan-demi-penyimpangan yang memperdalam kemerosotan teoretik. Maoisme atau Stalinisme merupakan karikatur dari Marxisme, dan oleh karenanya, ide-ide Martin menjadi salinan-buruk dari salinan-buruk. Dan jika ditarik ke dalam perjuangan ekonomi dan politik yang konkret, penggunaan teori yang memaksakan pemisahan antara sebab internal dan sebab eksternal, secara tak-terelakkan akan berakhir pada perspektif yang menekankan pada perjuangan untuk pembebasan atau demokrasi nasional (revolusi demokratik) daripada transformasi sosialis; pada peralihan suprastruktural ketimbang perubahan basis ekonomi masyarakat kapitalis. Dan walaupun Maoisme (Stalinisme) menyatakan keinginan untuk revolusi sosialis dan pembangunan sosialisme namun semua ini merupakan kebohongan yang berakar dari kecongkakkan teoretik. Pertama-tama, Perspektif Revolusi Dua-Tahap—ini merupakan sudut pandang yang ‘dualistik’, karena memasang ‘demarkasi’ yang mengisolasi perjuangan untuk pembebasan nasional dari perjuangan untuk revolusi dunia, dan oleh karenanya, masing-masing perjuangannya diperlakukan secara terpisah-pisah sebagai perjuangan-perjuangan yang tak-terhubung secara organik. Dengan memisahkan secara kaku antara perjuangan pembebasan nasional dan revolusi dunia maka perspektif ini tidak sekadar menganjurkan untuk terlebih dahulu menyelesaikan tugas-tugas borjuis-demokratik sebelum menjalankan tugas-tugas proletar-sosialis, tetapi juga memperlakukan borjuasi-borjuasi nasional yang telah bangkrut, yang di zaman imperialis—krisis kapitalisme dan revolusi proletar—terikat seribu-benang dengan modal-asing dan sisa-sisa feodal, sebagai kelas yang masih mampu memainkan peran progresifnya seperti di masa lalu yang jauh. Selama abad ke-20, berlandaskan teori revolusi tahapanlah partai-partai Komunis (Stalinis) memimpin gerakan buruh menuju lembah kekalahan dan penghancuran yang luar biasa brutal. Di tengah perjuangan kelas yang tajam, kebijakan kolaborasi-kelas menjadi racun yang melemahkan perjuangan revolusioner massa dan secara dialektis merubah perimbangan kekuatan dengan menguatkan borjuasi untuk mengayunkan cambuk reaksi. Selanjutnya, pada abad ke-21, seabrek pemimpin Stalinis memperbaharui teori revolusi tahapan itu dengan mengembangkan Perspektif Revolusi Dua-Tahap Tak-Terinterupsi. Dalam perspektif ini borjuis nasional dipandang sudah tidak-progresif dan program-program sosialis diterima untuk menyelesaikan revolusi demokratik. Namun pandangan teoretik yang secara keseluruhannya mendasarkan diri pada karikatur Marxisme takkan pernah memadai untuk memandu perjuangan massa revolusioner.

Ditinjau secara keseluruhan, perspektif revolusi dua-tahap yang baru sangatlah ‘eklektik’; karena menghubungkan atau menggabungkan antara revolusi borjuis-demokratik dan revolusi proletar-sosialis tanpa mengusung kebijakan ‘kediktatoran proletariat’—yang dipandu oleh sebuah kepemimpinan dari partai yang berpedoman pada teori yang paling maju—sebagai prasyaratnya. Inti dari teori revolusi tahapan adalah penolakan terhadap kediktatoran proletariat. Tanpa kediktatoran proletariat, yakni pengorganisasian proletar secara sadar sebagai kelas yang berkuasa—yang dipimpin secara teoretik oleh partai revolusioner—maka segala pembicaraan mengenai rencana-rencana aksi untuk transformasi sosialis, untuk melancarkan perjuangan pembebasan nasional yang secara organis terhubung dengan revolusi dunia, menjadi sangat absurd. Demikianlah pengakuan atas kereaksioneran borjuis nasional dan keinginan untuk mempertahankan independensi-kelas serta membangun sosialisme menjadi teramat abstrak tanpa mengusung kebijakan revolusioner yang akan menegakkan kediktatoran proletariat. Inilah yang menjadi kenaifan dan kecongkakkan semua perspektif revolusi yang mengalir dari teori-teori Stalinis. Mereka menolak apa yang esensial dari kebijakan Bolshevisme: ‘kediktatoran proletariat’. Rosa Luxemburg pernah berkata: ‘yang perlu dilakukan sekarang adalah membedakan yang esensial dari yang non-esensial, membedakan esensi-esensi kebijakan Bolshevik dari ekses-ekses lainnya yang aksidental. Di masa sekarang, tatkala kita menghadapi perjuangan penghabisan yang menentukan di seluruh dunia, problem sosialisme yang paling penting adalah masalah yang paling mendesak hari ini. Ini bukanlah masalah taktik ini atau itu yang sekunder, tetapi masalah kapasitas aksi kelas proletariat, kekuatannya untuk bertindak, hasratnya untuk merebut kekuasaan demi sosialisme’. Pada analisa terakhir: segala pendekatan teoretik dan orientasi politik yang membuka pintu belakangnya untuk subyektivisme, dualisme dan eklektisisme takkan sanggup memajukan perjuangan massa sampai ke garis kemenangan yang sejati, karena tendensi-tendensi borjuis-kecilnya justru akan menjebak kaum buruh dan muda dalam kebingungan yang luar biasa, sehingga teori dan orientasinya menjadi sesuai dengan kepentingan kelas penguasa. Kecenderungan inilah yang mendapat kritik-keras dalam ‘Catatan Lenin’ tentang dialektika:

“Dialektika sebagai pengetahuan yang hidup dan memiliki banyak sisi—dengan jumlah sisi yang terus bertambah—dengan jumlah corak yang tak-terhingga dalam setiap pendekatan terhadap realitas—dengan sistem filosofis yang tumbuh menjadi satu kesatuan dari setiap corak—di sini kita mempunyai kekayaan yang tak-terkira isinya dibandingkan dengan materialisme metafisik, yang kelemahan mendasarnya adalah ketidakmampuannya menerapkan dialektika pada refleksi teoritis, pada proses dan pengembangan pengetahuan. Idealisme filosofis hanyalah omong kosong jika dilihat dari sudut pandang materialisme metafisik yang kasar dan sederhana. Sebaliknya, dari sudut pandang materialisme dialektis, idealisme filosofis adalah pengembangan yang sepihak, berlebihan,—inflasi, distensi—dari salah satu ciri, aspek, segi pengetahuan, menjadi sesuatu yang terpisah dari materi, dari alam … Idealisme adalah obskurantisme klerikal. BENAR. Namun idealisme filosofis adalah—‘lebih tepat’ dan ‘sebagai tambahan’—sebuah jalan menuju obskurantisme klerikal melalui salah satu corak pengetahuan (dialektis) manusia yang sangat kompleks. Pengetahuan manusia bukanlah—atau tidak mengikuti—sebuah garis yang lurus, melainkan sebuah kurva, yang terus-menerus mendekati serangkaian lingkaran, sebuah spiral. Setiap fragmen, segmen, bagian dari kurva ini dapat diubah (ditransformasikan secara sepihak) menjadi sebuah garis lurus yang independen, lengkap, yang kemudian (jika seseorang tidak melihat kayu pada pepohonan) mengarah ke dalam rawa obskurantisme klerikal (di mana hal ini ‘didasari’ oleh kepentingan kelas penguasa). Kelurusan dan kesepihakan, sifat kaku dan membatu, subyektivisme dan kebutaan subyektif—merusak dasar epistemologis idealisme. Dan obskurantisme klerikal (idealisme filosofis), tentu saja mempunyai dasar epistemologis, bukanya tidak berdasar; tidak diragukan lagi itu adalah ‘bunga yang mandul’, tetapi bunga mandul yang tumbuh di taman pengetahuan manusia yang hidup, subur, konkret, berkuasa, mahakuasa, obyektif, dan tidak-terbatas.”

Di “On Contradiction”, Mao Zedong menjelaskan tentang hubungan-hubungan antara sebab internal dan sebab eksternal tapi penjelasannya menjadi arbitrer dan absurd karena yang ditekankan adalah bagaimana sebab-sebab internal menguasai sebab-sebab eksternal tanpa menekankan adanya relasi timbal-balik—khusus-umum, individu-universal, kebetulan-kebutuhan—yang menentukan dalam keterhubungan keduanya. Mao menyajikan kontradiksi internal atau gerak-diri bukan sebagai proses pembangunan yang melekat dalam hubungan dari benda-benda dan peristiwa secara menyeluruh, melainkan sesuatu yang terspesifikasi di masing-masing bentuk-keberadaan peristiwa dan benda-benda. Mao berkata: ‘teori ini berpendapat bahwa sebab-sebab eksternal adalah kondisi perubahan dan sebab-sebab internal adalah dasar perubahan, dan sebab-sebab eksternal bekerja melalui sebab-sebab internal. Pada suhu yang sesuai telur dapat berubah menjadi ayam, tetapi tidak ada suhu yang dapat mengubah batu menjadi ayam, karena masing-masing mempunyai dasar yang berbeda. Ada interaksi yang konstan antara antara masyarakat dari berbagai negara. Di era kapitalisme, khususnya di era imperialisme dan revolusi proletar, interaksi dan dampak timbal-balik antar-negara dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya sangatlah besar. Revolusi Sosialis Oktober membuka era baru dalam sejarah dunia dan juga sejarah Rusia. Hal ini memberikan pengaruh terhadap perubahan internal di negara-negara lain di dunia dan, dengan cara yang sama dan sangat mendalam, terhadap perubahan internal di Tiongkok. Namun perubahan-perubahan ini dipengaruhi [secara menentukan] oleh hukum pembangunan di masing-masing negara tersebut, termasuk Tiongkok. Dalam peperangan, satu pasukan menang dan pasukan lainnya kalah, baik kemenangan maupun kekalahan ditentukan oleh sebab-sebab internal. Yang satu menang karena kuat atau karena kepemimpinannya kompeten, yang lain dikalahkan karena lemah atau karena kepemimpinannya tidak-kompeten’. Hanya tinjauan Maois mengenai perkembangan dan perimbangan kekuatan sosio-historis ini tidaklah bertumpukan materialisme dialektis. Dengan menjelaskan hubungan-hubungan antara sebab internal dan sebab eksternal, pada pandangan pertama, premis tersebut seakan tampak ‘dialektis’. Namun ketika Mao menekankan pada sebab-sebab internal (di masing-masing negeri maupun di masing-masing pasukan yang bertempur), pada analisa terakhir, pendekatannya terungkap vulgar dan abstrak; di mana sebab-sebab internal dan eksternal dipisahkan secara sepihak dan mekanis, dan oleh karenanya, hanya sanggup menerangkan tentang perbedaan-perbedaan dari bagian-bagian yang ada—bukan gerak dan perubahan dialektis dari kedua kutub yang berlawanan dan saling-merasuki secara keseluruhannya.

Pertama, mengenai sebab eksternal yang berkerja melalui sebab internal—Mao mereduksi hubungan antara ‘yang internal dan eksternal’ dengan mengabaikan kalau yang khusus ‘dalam pembangunan di negerinya’ adalah bagian dari yang umum ‘dalam pembangunan di seluruh dunia’; di mana bekerjanya sebab eksternal melalui sebab internal hanya dimungkinkan selama adanya hubungan-hubungan yang berlawanan antara yang ‘khusus dan umum, individu dan universal, kebetulan dan kebutuhan’ sebagai suatu kesatuan organis. Kedua, tentang telur ayam dan batu—Mao menerangkan bahwa dalam keadaan tertentu telur ayam akan menetaskan ayam dan batu dalam situasi apapun tidak mungkin menjadi ayam karena dirinya bukanlah telur ayam. Penjelasan ini terlalu sederhana untuk menerangkan kontradiksi internal, dan oleh karena itu, persoalan telur dan batu sesungguhnya tidak didekati menggunakan metode dialektika melainkan logika formal atau diam. Pendekatan Marxis takkan pernah berhenti pada penjelasan mengenai perbedaan-perbedaan (identitas) yang aksidental, karena lebih jauh akan menerangkan mengenai proses-proses kontradiktif yang esensial di balik setiap benda dan peristiwa. Seperti bagaimana partikel-partikel yang menyusun telur dan batu berkembang dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi, dari yang sebelumnya merupakan materi anorganik lalu di titik tertentu berubah menjadi materi organik, dengan pergulatan terus-menerus antara bentuk dan isi yang akhirnya mengakibatkan hancurnya bentuk lama dan transformasi isi. Ketiga, terkait peperangan—Mao melihat kemenangan dan kekalahan, kekuatan dan kelemahan sebagai sesuatu yang statis-mekanis dan bukan dinamis-dialektis; di mana kekuatan dan kelemahan ditemukan dari keterpisahan dan bukan keterhubungan, dengan kelemahan yang satu berubah menjadi kekuatan bagi yang lain dan begitupun sebaliknya, hingga hubungan timbal-balik di antara keduanya mengangkat salah satunya sebagai pemenang atas kekalahan yang lainnya. Keempat, berkait Revolusi Oktober—Mao, sadar atau tidak-sadar, menyentuh bahasan mengenai pengaruh pembangunan keseluruhan terhadap bagian-bagian tapi secara sepihak menarik kesimpulan bahwa faktor penentunya adalah pembangunan bagian secara tersendiri. Bagi masyarakat Tiongkok, pengaruh-pengaruh yang diperoleh dari (perang imperialis dan) revolusi proletar-sosialis di Rusia adalah penyebab eksternal dalam pengertian bahwa ini tidaklah mengalir dari perkembangan sosial di negerinya. Tetapi di bawah kapitalisme yang telah mencapai tahap perkembangan tertingginya—imperialisme; tahapan di mana kekuatan produksi cenderung berkembang untuk menghancurkan batas-batas sempit kepemilikan pribadi dan negara-bangsa; dengan ekspor kapital, kapital-finansial, monopoli, dan pembagian wilayah jarahan yang menjadi fitur utamanya dalam meremukkan perekonomian nasional (yang merupakan basis-material keberadaan bangsa-bangsa) dan menyatukannya menjadi pasar dunia (yang artinya menyatukan bangsa-bangsa yang memiliki tahapan perkembangan historis yang  berbeda-beda)—maka apa-yang-disebut oleh Maoisme sebagai ‘sebab eksternal’ sesungguhnya merupakan penyebab internal dalam pembangunan keseluruhan.

Faktor yang paling menentukan perkembangan historis pada fase kapitalisme-imperialisme adalah kontradiksi dari tenaga produktif umat manusia dengan ‘relasi kepemilikan pribadi’ yang telah mencapai tahapan dominasi, yang menembus batas-batas sempit negara-bangsa, meluluhlantakkan pasar nasional dan menggantikannya dengan perdagangan dunia. Tidak ada satupun bangsa yang sekuat apapun yang mampu menolak tarikan magnetis perekonomian global. Baik Rusia maupun Cina tak-berdaya dalam membentengi dirinya dari pengaruh tersebut. Itulah yang menjadi kontradiksi internal atau gerak-diri yang meledakkan bukan hanya Revolusi Oktober tapi juga Revolusi Tiongkok. Dalam “Peran Individu dalam Sejarah”, Plekhanov menulis: ‘hari ini kita harus menganggap perkembangan kekuatan produksi sebagai penyebab fundamental dan paling umum dalam perkembangan sejarah umat manusia. Bersamaan dengan sebab umum ini ada sebab-sebab spesifik, yakni situasi sejarah yang melatari berlangsungnya perkembangan kekuatan produksi bangsa tertentu, dan pada analisa terakhir situasi sejarah itu sendiri diciptakan oleh perkembangan kekuatan-kekuatan yang sama di antara bangsa-bangsa lain, yakni sebab umum yang sama’. Inilah kekuatan yang hidup dalam setiap masyarakat; yaitu, pertumbuhan tenaga produktif yang berlangsung dalam seluruh proses perkembangan umat manusia, yang di bawah kapitalisme mencapai pembagian kerja yang mendunia dan memunculkan ketergantungan antara berbagai negeri dengan tipe ekonomi berbeda-beda dalam sebuah sistem pasar dunia yang mempertukarkan beragam komoditas yang dibutuhkan manusia di tiap-tiap negeri. Di zaman imperialis, kontradiksi ini mengambil bentuk penindasan nasional yang begitu rupa dan memicu pemberontakan-pemberontakan tenaga produktif terhadap relasi-relasi kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara-bangsa.

Walaupun untuk alasan-alasan praktis dalam pemberontakan tenaga produktif itu menampilkan pengorganisasian segera sebagai sebuah kelas di negerinya sendiri, namun karakter sesungguhnya—dari perjuangan kelas di skala nasional ini—adalah internasionalis. Sifat internasionalisme dari perjuangan kelas proletar didikte oleh perkembangan kapitalisme di tahap tertingginya (imperialisme) yang berkarakter internasional; di mana kapitalisme sudah berhasil membangun pabrik, tambang, perkebunan, jembatan, pelabuhan, bandara, jalan raya, rel kereta, pemancar internet dan komunikasi di seluruh penjuru bumi, dan oleh karenanya, kapital menjadi bersarang di mana-mana dengan menciptakan batalion penggali kuburnya sendiri—kaum buruh internasional, yang tersebar luas di pelbagai negeri dalam barisan-tempur kolosal, dengan bobot-sosial yang semakin kuat untuk memenangkan revolusi proletariat sebagai satu-satunya cara dalam menggulingkan kapitalisme dan membangun sosialisme. Inilah persoalan yang diabaikan Maoisme. Di “On Practice” dan “On Contradiction”, Mao menyubordinasi perjuangan kelas untuk ‘revolusi sosialis’ di bawah perjuangan nasional untuk ‘pembebasan nasional’ atau ‘demokrasi nasional’. Perspektif Maois menolak kalau pertentangan antara proletariat dan borjuasi sebagai kontradiksi mendasar dalam masyarakat modern. Meskipun imperialisme merupakan tahapan tertinggi dari kapitalisme yang berkembang di skala dunia, tetapi Maoisme (Stalinisme) memandang masing-masing negeri mempunyai hukum pembangunan bagian yang khusus dan tak-tersatukan secara dialektis dalam pembangunan keseluruhannya. Inilah perspektif yang mengarahkan PKT untuk memimpin perjuangan massa berdasarkan Teori Revolusi Dua-Tahap: tahap pertama, revolusi borjuis-demokratis untuk ‘melawan imperialis dan feodalis’; tahap kedua, revolusi proletar-sosialis untuk ‘melawan kapitalis’. Sudut pandang ini bukan saja membiarkan sisa-sisa feodal menjadi aspek yang dipertahankan dalam tatanan kapitalisme yang sedang sekarat di puncak perkembangannya, tetapi lebih jauh menebar keyakinan naïf bahwa kapitalisme dan imperialisme memiliki kontradiksi yang berbeda satu sama lainnya sehingga menuntut penyelesaian tersendiri-sendiri. Pandangan tersebut sepenuhnya keliru. Dalam “Imperialisme; Apa itu dan Bagaimana Cara Melawannya?”, Perhimpunan Sosialis Revolusioner menjelaskannya:

“Fakta bahwa kapitalisme telah memasuki tahap imperialisme berarti bahwa situasi obyektif untuk sosialisme sudah menjadi semakin matang…. Konsentrasi kapital dan produksi telah menciptakan perusahaan-perusahaan monopoli raksasa—yang tergabungkan dalam konglomerasi-konglomerasi global—dengan produktivitasnya yang sangat tinggi. Di bawah kapitalisme, produktivitas yang begitu tinggi justru melempar ratusan juta rakyat pekerja ke jurang pengangguran, dan melempar lebih banyak lagi ketika terjadi krisis overproduksi. Inilah kekonyolan sistem kapitalisme, bahwa semakin banyak barang-barang yang terproduksi maka semakin banyak orang-orang yang menjadi tidak berguna. Namun bila monopoli-monopoli raksasa ini diambilkepemilikannya dari segelintir kapitalis dan diserahkan kepada rakyat pekerja untuk dijalankan dengan sistem ekonomi terencana, maka produktivitas yang begitu tinggi ini dapat digunakan sepenuhnya untuk membebaskan manusia dari kerja yang memperbudaknya. Kita harus ingat bahwa yang menjadi kontradiksi utama dalam kapitalisme bukanlah monopoli raksasa itu sendiri, tetapi kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi. Monopoli di tangan segelintir kapitalis adalah dominasi mereka atas mayoritas rakyat pekerja miskin. Monopoli di tangan mayoritas rakyat pekerja adalah penguasaan rakyat pekerja atas nasib mereka sendiri, atas alam, atas dunia untuk kebahagiaan mereka…. Satu fakta lainnya mengenai kapitalisme monopoli adalah ia telah menciptakan sebuah sistem produksi yang terpadu. Tidak ada satupun pabrik yang berdiri sendiri. Monopoli-monopoli bersatu menjadi konglomerasi-konglomerasi yang bergerak di berbagai industri dari hulu sampai hilir. Kapital-finans menyatukan semua industri menjadi sebuah organisme tunggal yang saling terkait. Dengan kata lain, kapitalis-imperialis atau kapitalisme monopoli telah menyiapkan fondasi untuk sistem ekonomi terencana sosialis….. Inilah fakta kapitalisme hari ini, yakni dominasi yang besar atas yang kecil di tiap-tiap industri, dalam skala nasional hingga skala internasional. Apakah kita bisa mencapai [masalah] kapitalisme tanpa dominasi monopoli? Apakah kapitalis-kapitalis yang terdominasi lantas menjadi sekutu bagi kaum buruh dalam melawan kapitalisme monopoli? Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini akan mentukan garis politik kita?”

“Pertama, kita mulai dengan fakta bahwa imperialisme adalah tahapan tertinggi kapitalisme, dan oleh karenanya perjuangan melawan imperialisme yang sesungguhnya akan bersandar pada kepemimpinan kelas buruh dalam menumbangkan kelas borjuasi dan sistem kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi yang merupakan dasar dari kapitalisme. Hanya persatuan kelas proletar seluruh dunia dengan rakyat pekerja tertindas lainnya—dan bukan persatuan dengan kelas-kelas penindas, apapun posisi mereka dalam hierarki kapitalisme monopoli—yang dapat menjamin pembebasan nasional yang sesungguhnya. Karena imperialisme adalah tahapan tertinggi kapitalisme, maka perjuangan melawan imperialisme tidak bisa dipisahkan dari perjuangan melawan kapitalisme. Perjuangan melawan dominasi modal-asing tidak bisa dipisahkan dari perjuangan kelas. Kedua perjuangan ini adalah satu kesatuan. Perjuangan melawan imperialisme membutuhkan sebuah program perjuangan kelas yang lengkap, tegas, dan tidak-berkompromi, yang dalam setiap langkahnya selalu menyerang kepemilikan pribadi kaum borjuasi. Kekeliruan dari mereka-mereka [Maoisme, Stalinisme, dan semacamnya] yang meletakkan perjuangan melawan imperialisme di atas perjuangan kelas adalah karena mereka melihat imperialisme sebagai sesuatu yang terpisah dari kapitalisme itu sendiri. Mereka tidak memahami bagaimana fitur utama dari tahapan kapitalisme hari ini adalah imperialisme itu sendiri, yakni monopoli, kapital-finans, ekspor kapital, dan pembagian pasar dunia. Mengharapkan kapitalisme tanpa imperialisme adalah mimpi para borjuis-kecil yang ingin kembali ke kapitalisme muda yang ‘lebih adil’, agar nantinya mereka diberikan kesempatan sekali lagi untuk menjadi monopoli…. Kesimpulannya jelas, tidak mungkin kita membentuk sebuah kapitalisme yang mandiri di [satu negeri]. Ini hanyalah mimpi kapitalis nasional yang sendirinya ingin menjadi monopoli, yang menggonggongi tuan-tuannya karena tidak kebagian kue jarahan yang lebih besar. Kedua, kita harus melihat karakter borjuasi nasional yang terdominasi ini. Borjuasi [nasional]—seperti borjuasi di negeri-negeri [Dunia] Ketiga lainnya—lahir terlambat di panggung sejarah. Mereka lahir bukan dari proses organik seperti borjuasi Eropa, tetapi dicangkokkan lewat ekspor kapital dari negeri-negeri kapitalis maju. Karena fakta historis ini, mereka tidak mandiri, lemah, tergantung pada modal-asing, dan tidak progresif. Mereka tidak bisa menyelesaikan sepenuhnya tugas-tugas demokratik nasional (reforma agraria, pembubaran feodalisme, pembentukan republik yang demokratis, pembentukan negara-bangsa yang mandiri dan utuh). Bahwa tugas-tugas demokratik nasional hari ini justru setengah tercapai berkat dorongan perjuangan rakyat pekerja…. Perjuangan anti-imperialis borjuasi nasional—kalaupun bisa disebut perjuangan—tidak konsisten, penuh keraguan, dan penuh pengkhianatan. Mereka lebih takut pada buruh daripada tuan-tuan mereka. Mereka lebih takut kehilangan kepemilikan mereka daripada kehilangan rantai yang mengikat mereka pada monopoli dunia. Mereka menggeram pada tuan mereka sembari menjilati tangannya. Borjuasi nasional tidak dapat menjadi sekutu kaum buruh dalam perjuangannya melawan imperialisme. Tidak semua lawan dari lawan kita adalah sekutu. Pembentukan front nasional antara buruh dan kaum borjuasi yang katanya ‘progresif’ hanya akan menumpulkan perjuangan kelas dan pada gilirannyan menumpulkan perjuangan anti-imperialisme. Dengan front nasional ‘anti-imperialisme’, kaum kiri hanya akan menjadi penjaga perdamaian kelas.”

Maoisme menunjukkan kesempitan dan ketidakkonsistenan dalam penerimaan terhadap hukum kesatuan dari hal-hal yang berlawanan dan saling-merasuki. Di “On Contradiction”, Mao Zedong menasbihkan borjuasi nasional sebagai elemen yang revolusioner karena menentang imperialisme dan feodalisme. Di tangan Mao, materialisme dialektis digunakan untuk memahami perkembangan historis secara berat-sebelah. Dengan menekankan pada apa-yang-disebutnya sebagai ‘kekhususan kontradiksi’ atau ‘kontradiksi pokok’; Mao gagal melihat kesatuan organis antara borjuis-nasional dan borjuis-imperialis sebagai sebuah kelas yang eksistensinya sama-sama berbasiskan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi dan dilindungi oleh badan orang-orang bersenjata. Sebagai konsekuensinya maka Teori Kontradiksi Maois secara artifisal memisahkan kapitalisme dan imperialisme menjadi sesuatu yang asing antara satu sama lainnya. Dalam “Imperialisme; Tahap Tertinggi Kapitalisme”, Lenin telah menjelaskan bagaimana kontradiksi inheren kapitalisme mendorong kaum borjuasi untuk mengekstraksi nilai-lebih dari kelas pekerja, yang pada permulaan perkembangannya mengambil bentuk kapitalisme-dagang (merkantilisme) dengan berfiturkan persaingan bebas antar-kapitalis, dan kecenderungan ini mengarah pada konsentrasi kapital dan produksi, yang pada perkembangan tertingginya menghadirkan kapitalisme-monopoli (imperialisme) di mana modal-modal kecil disubordinasi di bawah modal besar. Maoisme (Stalinisme) mengabaikan persoalan monopoli yang telah menjadi kenyataan utama yang tak-terbantahkan di zaman imperialis. Sudut pandang Maois hanya melihat perkembangan historis secara parsial dan sempit. Inilah mengapa borjuasi nasional Dunia Ketiga yang sudah membusuk justru dipandang sebagai elemen yang masih progresif. Kaum Maois (dan Stalinis) tak-mengerti kalau di fase imperialisme maka borjuasi-borjuasi di berbagai negeri takkan mungkin diberi kesempatan untuk melancarkan persaingan bebas seperti dahulu. Bahwa monopoli imperialis akan mendominasi bilik-bilik persaingan bebas dari borjuasi-borjuasi nasional yang ada. Dalam “Imperialisme; Apa itu dan Bagaimana Cara Melawannya?”, Perhimpunan Sosialis Revolusioner menjelaskannya begitu rupa:

“Monopoli hari ini telah menjadi sebuah kenyataan yang tak-terbantahkan dan diakui oleh semua ekonom besar borjuis. Mereka-mereka yang mengatakan sebaliknya adalah seorang penipu atau seorang dungu. Akan tetapi, para kapitalis tidak dapat mengakui dengan terus-terang kalau persaingan bebas—yang merupakan pilar dari kapitalisme—sudah bertekuk lutut di hadapan monopoli…. Oleh karenanya mengakui dominasi monopoli berarti mengakui bahwa kapitalisme hari ini sudah tidak ada nilai progresifnya lagi. Ternyata apa-yang-disebut karakter alami manusia untuk bersaing bebas tidak bisa menghentikan laju kapitalisme menuju monopoli, yang pada gilirannya berarti bahwa tidak ada yang namanya itu karakter alami manusia untuk menjadi makhluk yang individualis dan saling-bersaing seperti binatang liar. Pada kenyataannya, tidak ada yang namanya karakter alami manusia. Kesadaran manusia ditentukan oleh keberadaan sosialnya, oleh mode produksi dominan yang ada. Oleh karenanya, tidak jarang kita temui sejumlah kapitalis—lewat ideolog mereka—yang mengeluh mengenai monopoli. Mereka berusaha mengimplementasikan berbagai undang-undang anti-monopoli dan berharap dapat kembali ke masa muda kapitalisme di mana tiap-tiap kapitalis punya kesempatan yang sama dalam persaingan bebas. Akan tetapi, harapan dari jutaan kapitalis-kecil ini hanyalah angan-angan belaka. Mereka tidak dapat memutar-balik roda sejarah. Bahkan pada kenyataannya, para kapitalis kecil ini berharap kalau mereka sendirilah yang menjadi monopoli besar. Mereka kecewa bahwa tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk menjadi monopoli besar. Pemikiran kaum borjuis-kecil ini juga merasuki pemikiran-pemikiran Kiri. Sejumlah kaum Kiri borjuis-kecil berpikir kalau masalah utama dalam kapitalisme adalah korporasi raksasa ini. Lantas kritik mereka terhadap kapitalisme hanya terbatas pada korporasi raksasa, tetapi tidak pada sistem kapitalisme itu sendiri. Melihat kejahatan-kejahatan besar yang dilakukan oleh korporasi-korporasi raksasa, mereka lantas mengagung-agungkan perusahaan-perusahaan kecil dan menengah, atau UKM. Perusahaan-perusahaan kecil dan menengah milik keluarga jadi model kapitalisme yang humanis dan baik hati. Segala yang raksasa dan modal-asing adalah sumber dari kejahatan kapitalisme itu, sehingga perspektifnya adalah kembali ke periode awal kapitalisme di mana tidak ada dominasi korporasi raksasa dan modal-asing.”

Inilah tendensi borjuis-kecil yang kerap menyeruap dalam diskusi-diskusi bersama para aktivis Maois (dan Stalinis). Kritik mereka terhadap kapitalisme tidaklah konsisten dan komprehensif, karena tinjauannya atas kepemilikan pribadi cenderung dualistik. Mereka mendekati persoalan kepemilikan pribadi secara mekanis dengan membagi kepemilikan skala-besar dan skala-kecil menjadi hal-hal yang proses perkembangannya terpisah dan tak-terhubungkan satu sama lainnya sebagai kesatuan organis. Dengan pembedaan macam ini maka persoalan kepemilikan pribadi tidaklah ditinjau dalam hubungan-hubungan timbal-baliknya melainkan bagian-bagian tersendiri yang terisolir, sehingga yang menjadi masalah utamanya bukanlah kepemilikan pribadi secara umum tapi secara khusus. Dalam analisa Mao Zedong, permasalahan kepemilikan pribadi menjadi abstrak karena pandangannya bersifat sepihak. Fakta tentang dominasi kapitalis-imperialis dari negeri maju—yang mengekspor kapitalnya ke wilayah koloni dan semi-koloninya, hingga menundukan para pemilik modal pribumi dan menghancurkan corak produksi tradisional kaum tani—tidak saja disajikan untuk menekankan kalau kontradiksi mendasar di negeri terbelakang terdapat pada pertentangan massa-rakyat luas dengan imperialisme, melainkan pula dijadikan landasan untuk menyimpulkan bahwa kepemilikan pribadi yang perlu diatasi adalah menyangkut kepemilikan berskala-besar semata, dan oleh karenanya, persoalan kepemilikan pribadi menjadi terabaikan secara totalitasnya: keterhubungan modal-kecil nasional dan modal-besar internasional secara menyeluruh. Dihancurkannya kapital-kecil oleh kapital-besar tidak dilihatnya sebagai integrasi yang organis dalam pembangunan keseluruhan, yakni perkembangan masyarakat kapitalis dari tingkat yang lebih rendah (kapitalisme-merkantilisme—persaingan bebas di skala nasional) menuju tingkat yang lebih tinggi (kapitalisme-imperialisme—monopoli di skala internasional), sehingga kepemilikan berskala-kecil tidaklah dianggap sebagai hal-ihwal yang terhubung secara dialektis dengan kepemilikan berskala-besar. Berdasarkan pandangan inilah Mao memberitahukan bahwa kapital-besarlah, atau modal-asinglah, atau korporasi raksasalah yang menjadi musuh utama dalam perjuangan rakyat di negeri terbelakang. Namun kesimpulan ini bukanlah dimaksudkannya untuk menghancurkan kapitalisme di puncak perkembangannya. Sebab, perspektif Maoisme (Stalinisme) terhadap imperialisme hanyalah menyangkut kepemilikan skala-besar tanpa mengakui keterikatannya dengan kepemilikan skala-kecil. Tanpa memperlakukan keduanya sebagai kesatuan dialektis, maka teori Mao tentang imperialisme pada akhirnya menunjukkan jalan yang keliru; yakni, perlawanan terhadap imperialisme (kapitalisme-monopoli internasional) dipandu dengan berkolaborasi-kelas bersama borjuasi nasional (kapitalis-pribumi) yang berkepentingan mengamankan pertumbuhan kepemilikan pribadi di dalam negerinya sendiri.

Melebih-lebihkan perbedaan kedua kutub yang berlawanan dan saling-merasuki itu menghasilkan tinjauan yang berat-sebelah. Saat Mao Zedong menerangkan ancaman kapital-besar borjuasi internasional, dirinya mengabaikan keterikatannya dengan kapital-kecil borjuasi nasional; oleh karenanya, perjuangan melawan borjuis di luar negeri tidaklah dipadukan dengan perlawanan terhadap borjuis di dalam negerinya sendiri. Dan ketika Mao tak-memperhatikan hubungan timbal-balik antara modal-asing dan modal-pribumi, antara kapital monopoli yang besar dan kapital persaingan-bebas yang kecil, dalam pembangunan sosio-ekonomi secara keseluruhannya, dalam pengintegrasian pasar nasional ke dalam pasar dunia; maka secara tak-terelakkan perspektifnya akan mengarah pada pembangunan bagian, yang menekankan pada perkembangan historis di satu negeri secara terpisah dan tak-terhubung dengan negeri-negeri lainnya, yang melihat perkembangan tenaga produktif sebagai sesuatu yang terisolasi dari pembagian kerja dan hubungan-hubungan produksi dan pertukaran komoditas di skala dunia. Dalam praktiknya, perspektif pembangunan bagian ini mengarahkan aktivis-aktivis Maois (dan Stalinis) untuk menjadi pendukung kepentingan kapital-kecil dan pribumi di negerinya. Tendensi politik borjuis-kecil tidak sekadar ditunjukkan melalui kebijakan-kebijakan kolaborasi-kelas dengan borjuasi nasional pada Revolusi Tiongkok (dan Revolusi Indonesia), tetapi juga dalam serangkaian aktivitas praktis-ekonomis yang dilakukan untuk membangun basis di antara petani dan mahasiswa. Di Indonesia hari-hari ini, aktivitas-aktivitas praktis yang paling sempit itu dapat diamati dengan menyaksikan bagaimana kaum Stalinis (Maois dan Aiditis) melancarkan aksi-aksi pemasaran produk kaum tani, tiga-sama (sama-kerja, sama-tinggal, sama-makan) atau ‘live-in’, serta pencarian dana juang organisasi dan gerakannya dengan pembukaan-pembukaan usaha mikro, kecil, dan menengah. Penekanan pada praktik pengorganisiran macam ini tidak akan bisa mengatasi kepemilikan pribadi, karena tindakan-tindakan tersebut tidaklah ditujukan untuk memajukan perjuangan massa dalam mengakhiri kapitalisme. Kesimpulan diperlukannya pengorganisasian berbeda dengan perlunya penggulingan kapitalisme secara revolusioner. Orang-orang yang bergabung dalam perjuangan harian tidak-otomatis sampai pada kesimpulan revolusioner. Tanpa membangun kepemimpinan revolusioner, dengan kader-kader yang dididik berdasarkan teori yang paling maju, maka laki-laki dan perempuan akan sangat sukar mencapai kesimpulan mengenai tugas historis untuk menempuh perjuangan yang terorganisir dan sadar untuk transformasi sosialis.

Kepemimpinan partai dan organisasi-organisasi Maois (Stalinis) yang ada tidak sanggup memandu perjuangan massa secara revolusioner. Mereka melancarkan pengorganisasian yang menekankan pada tuntutan-tuntutan sehari-hari yang bersifat mendesak, bukan untuk menghubungkan tuntutan mendesak rakyat dengan perspektif revolusioner yang mempunyai rencana-rencana aksi untuk revolusi sosialis. Penekanan pada aktivitas praktis-ekonomis mengabaikan kerja-kerja revolusioner untuk mempersiapkan para pelopor yang akan memimpin perjuangan massa revolusioner di masa depan. Dalam jangka panjang, perspektif macam itu justru akan menenggelamkan orang-orang dalam rutinitas dan prasangka borjuis-kecil yang secara naïf berpretensi untuk meningkatkan kepemilikan pribadi skala-kecil menjadi skala-besar. Ditinjau dari sudut pandang kepentingan kelas proletar, perspektif pembangunan kepemimpinan organisasi tersebut takkan pernah membantu memerangi reformisme; ketidakmampuan untuk menghubungkan program minimum (reformasi) dengan program maksimum (revolusi), secara dialektis, justru akan menguatkan kepemimpinan reformis dalam gerakan buruh. Bersama reformisme, Stalinisme hari-hari ini memainkan peran yang merecoki perjuangan massa untuk transformasi sosialis. Di sektor-sektor buruh dan muda, aktivis-aktivis Stalinis kerap kali bersepakat dengan kaum reformis untuk membiarkan longgarnya kesadaran massa. Meskipun mereka mengadakan pendidikan-pendidikan politik tapi tidak pernah berpedoman pada teori yang paling maju untuk meningkatkan kesadaran laki-laki dan perempuan ke tingkat yang dibebankan oleh sejarah. Demikianlah garis politik dalam pengorganisasian mereka bukanlah untuk mengangkat kesadaran massa, yang dimulai dari lapisan-lapisan termajunya, menuju cakrawala yang lebih tinggi. Sebaliknya, berpedomankan teori-teori yang cenderung subyektif, dualistik, dan eklektik mereka malah berperan menurunkan kesadaran orang-orang yang diorganisirnya dengan prasangka-prasangka borjuis-kecil yang begitu rupa. Pengorganisasian yang vulgar ini dibela dengan pandangan teoretik mereka yang sempit; di mana dalam melihat persoalan kepemilikan pribadi, Maoisme (Stalinisme) menyangkal kesatuan dialektis antara borjuis-kecil dan borjuis-besar, dan oleh karenanya, cenderungan membagi kelas yang pada dasarnya adalah satu itu menjadi dua-kelas dengan kepentingan yang berbeda. Berdasarkan tinjauan kaku inilah kepemilikan pribadi tidaklah sepenuhnya ingin dihapus, karena kapital-kecil dianggap lebih baik daripada kapital-besar.

Dalam membangun basis-basis organisasi dan gerakannya, kaum Maois (dan Stalinis) secara berat-sebelah menyampaikan kepada orang-orang untuk mempermasalahkan kepemilikan berskala-besar dan mengabaikan kepemilikan berskala-kecil. Pandangan ini mengalir dari teori tahapan yang memandang bahwa masalah kepemilikan pribadi harus diatasi dengan menempuh revolusi dua-tahap. Tahap pertama: revolusi borjuis-demokratis ditujukan untuk menghapuskan dominasi kapitalisme-monopoli (imperialisme) dan melancarkan pertumbuhan kepemilikan berskala-kecil menjadi kepemilikan berskala-besar sebagai syarat pembangunan sosialisme. Tahap kedua: revolusi proletar-sosialis untuk mengakhiri semua jenis kepemilikan pribadi dan memulai pembangunan masyarakat sosialis dengan sumber daya yang ada di satu negeri. Pandangan ini ditekankan dengan meyakini adanya kekhususan kontradiksi (sebab-sebab khusus) dan kontradiksi pokok (kontradiksi internal) yang tersendiri-sendiri dalam perkembangan historis di berbagai negeri. Berkait negeri-negeri Dunia Ketiga—Maoisme (Stalinisme) mengidentifikasi keterbelakangan historis menjadi sesuatu yang absolut, hingga melihat borjuis-kecil yang mendominasi lautan sosial di negeri terbelakang sebagai kelas dengan pengaruh yang luar biasa besar ketimbang bobot-sosial kaum buruh, dan akhirnya menekankan kepentingan borjuis-kecillah yang harus diperjuangkan terlebih dahulu dibanding kepentingan proletariat. Berdasarkan perspektif inilah perjuangan demokrasi nasional atau pembebasan nasional lebih diutamakan daripada perjuangan kelas yang bersifat internasionalis. Mereka mengabaikan keterintegrasian perekonomian nasional ke dalam rantai perdagangan dunia, sehingga menolak kesatuan dialektis antara perjuangan nasional suatu bangsa dan perjuangan kelas internasional di zaman imperialis. Pada fase imperialisme, perlawanan terhadap penindasan nasional takkan mungkin dimenangkan tanpa disubordinasi di bawah perjuangan kelas yang dipimpin oleh kaum revolusioner proletar untuk revolusi sosialis. Inilah mengapa pembangunan kepemimpinan revolusioner ‘Bolshevisme’ menjadi tugas historis yang teramat strategis dan harus diambil sebagai tanggung-jawab bagi seluruh kaum buruh dan muda yang paling maju dan sadar-kelas. Dan fondasi dalam aktivitas revolusioner ini adalah teori Marxisme yang benar. Dalam “Does Mao’s ‘Combat Liberalism’ Actually Combat Liberalism”, Parson Young menulis:

“Titik awal bagi Bolshevisme yang sejati adalah landasan yang kuat pada teori Marxis. Dari sana, kita tidak hanya harus mengakui namun juga bertindak berdasarkan kebutuhan untuk membangun faktor subyektif yang revolusioner, dan setiap saat mengevaluasi apakah tindakan yang kita ambil berkontribusi terhadap peningkatan kesadaran, kepercayaan diri dan persatuan kelas proletar. Hal ini bukanlah sesuatu yang dapat dicapai secara otomatis dengan menghafal atau memaksakan suatu kode etik. Hanya melalui studi yang berdedikasi, debat demokratis, dan partisipasi aktif dalam perjuangan kelas pekerja kita dapat membangun kepemimpinan proletar yang layak menyandang nama tersebut.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

(Berlanjut)

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai