“Karena umat manusia dalam aktivitas praktisnya cenderung memandang seluruh dunia sebagai sarana, dan dirinya sendiri sebagai tujuan. Egosentrisme praktis (homosentrisme)—yang dibawa ke dalam teori—membuat seluruh struktur dunia menjadi kacau-balau…. Kehadiran kesadaran dan puncaknya melalui pemikiran logis dapat ‘dibenarkan’ secara biologis dan sosial hanya jika kesadaran tersebut memberikan hasil-hasil penting yang positif di luar apa yang dicapai oleh sistem refleks bawah sadar. Hal ini tidak saja mengandaikan otonomi kesadaran (dalam batas-batas tertentu) dari proses otomatis di otak dan saraf, namun juga kemampuan kesadaran untuk mempengaruhi tindakan dan fungsi tubuh. Sakelar apa yang melayani kesadaran untuk mencapai tujuan ini? Sakelar-sakelar ini jelas tidak dapat bersifat material, atau mereka akan dimasukkan ke dalam rantai proses anatomi-fisiologis organisme dan tidak dapat memainkan peran otonom yang terdiri dari fungsi-fungsi yang ditentukan. Pikiran beroperasi berdasarkan hukumnya sendiri, yang bisa kita sebut hukum logika; dengan bantuan mereka untuk mencapai hasil praktis tertentu, hal ini beralih ke yang terakhir (dengan kurang-lebih berhasil) dalam rantai aktivitas kehidupan kita.” (Leon Trotsky)
Pendekatan terhadap hubungan cinta yang menetapkan garis demarkasi antara individu dan sosial merupakan bentuk vulgarisasi idealisme borjuis-kecil yang tengik. Perasaan cinta yang mendalam, yang menggerakan seseorang untuk melancarkan pengorbanan dan menempuh perjuangan dengan penuh kesabaran, adalah rasa cinta yang disubordinasi di bawah perspektif revolusioner untuk pembebasan kaum terhisap dan tertindas. Kualitas cinta macam ini tidaklah tumbuh di atas pemisahan kaku antara individu dan sosial. Sebab, kualitas cinta revolusioner hanya dapat hidup dan berjaya dalam aktivitas-aktivitas perjuangan revolusioner yang dipandu dengan teori yang rasional, obyektif, dan berkarakter internasional. Berlandaskan Marxisme, percintaan antara kedua jenis kelamin terbangun sebagai relasi yang memiliki tanggung-jawab kolektif. Laki-laki dan perempuan berhubungan cinta bukan untuk melayani kepentingan dirinya masing-masing, tetapi lebih jauh untuk memajukan kehidupan umat manusia. Inilah cinta revolusioner yang pernah dipraktikan oleh Friedrich Engels dan Mary Burns. Cinta bagi keduanya bukanlah sesuatu yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan seksual dan emosional semata, tetapi terutama kebutuhan sejarah untuk menggulingkan kapitalisme. Tahun 1824 di Inggris, pemogokan umum dipancang dan proletariat berhasil memenangkan kenaikan upah dan kebebasan berserikat. Kaum buruh dan muda tidak menyianyiakan kesempatan ini—mereka mendirikan banyak serikat. Mulai dari pertengahan hingga akhir 1820-an, gelombang pemogokan umum yang menyapu Inggris berkembang menjadi serangkaian pertempuran sengit melawan pemotongan upah. Selama 1829, aksi-aksi buruh telah meluas: mulai dari Midlands, Lancashire, Yorkshire, Bradford Woolcombers, Weavers, Stockport, hingga Manchaster. Di Manchaster, kaum buruh mendirikan organisasi Persatuan Umum Pemintal Operatif Britania Raya dan Irlandia. Pada 1830, Asosiasi Nasional untuk Perlindungan Tenaga Kerja juga terbangun dengan melibatkan 150 serikat buruh lokal di Leicester, Nottingham, dan Derbyshire. Pengorganisasian mereka menggunakan jurnal mingguan, anggotanya mencapai 100.000, dan menyebarkan pengaruhnya sampai ke West Midlands dan Wales. Dalam perjuangan inilah perempuan-perempuan pekerja mengambil peran yang sama aktifnya dengan buruh laki-laki. Adalah Mary Burns, misalnya, tampil sebagai perempuan revolusioner yang menjadi organisator serikat buruh. Mary tak sekadar mengikuti pertemuan-pertemuan tersembunyi yang dipantau polisi dan agen-agen rahasia pemerintah, tapi juga berusaha membangun kontak dengan lapisan terluas proletariat di pabrik-pabrik dan pemukiman-pemukiman kumuh kelas pekerja. Demikianlah Mary bekerja di pabrik Ermen and Engels dan melancarkan perlawanan yang berkeras kepala terhadap bosnya. Lewat “Cinta, Persahabatan, dan Perjuangan Kelas”, Raoul Peck menerangkan bagaimana keberanian Mary dalam menentang Piere d’Engels—yang merupakan pemilik perusahaan sekaligus ayah dari Friedrich Engels—untuk membela saudara-saudari kelasnya. Penampilan Mary tidak saja memecahkan kebisuan buruh-buruh lainnya, melainkan pula membuat takjub dan memekarkan cinta Engels kepada seluruh kemanusiaan yang ada pada dirinya:
“Pada suatu hari, Piere d’Engels mendapatkan laporan dari manajer perusahaan Ermen and Engels, Huissier. ‘Bos, pabrik telah disabotase oleh seseorang. Seseorang telah memotong sabuk dan mengambil tutup pengaman mesin tenun, dan tindakan itu mengakibatkan tidak hanya mesin berhenti beroperasi karena rusak, tetapi juga mengakibatkan, nyaris, mandor dan diriku mengalami kecelakaan.’ … ‘Kalau begitu, kamu cari tahu pelakunya. Kamu kumpulkan para mandor. Kita akan mendatangi pabrik untuk mencari pelakunya. Jangan lupa, kamu temui anakku, Friedrich Engels, dan suruh dia ikut bersama kita mendatangi pabrik.’ … Ketika d’Engels dan rombongannya tiba di pabrik, para buruh sudah berkumpul. Mereka, buruh anak-anak, buruh perempuan, dan buruh laki-laki, berkumpul dan berdiri di antara mesin-mesin pemintal benang menunggu kedatangan bos mereka bersama rombongannya…. ‘Siapa yang telah memotong sabuknya?’ tanya d’Engels…. ‘Sepuluh banding satu pasti ada salah satu dari anjing-anjing Irlandia ini yang memotong sabuk,’ sambung Huissier sambil berkacak pinggang dan memandangi buruh-buruh pabrik.”
“‘Guk.. guk.. guk.. aauuu.’ buruh-buruh pabrik serentak menirukan suara anjing, menyalak, melolong, dan, di antara mereka ada yang berbicara antara satu sama lain dengan riuh, dan ada pula yang mengendus-endus menirukan perilaku anjing. Di sela-sela keriuhan itu, seorang perempuan muda angkat bicara dan mengajukan pertanyaan kepada d’Engels dan Huissier, ‘Bagaimana dengan Roisin?…. Roisin, gadis yang tertidur di mesin tenun, dan jari-jari tangannya terpotong oleh mesin tidak kalian pedulikan. Kalian tidak bertanggung jawab terhadap kecelakaan kerja yang menimpa Roisin. Siapa yang akan mengembalikan jari-jemarinya yang telah terpotong itu?’”
“‘Kecelakaan seperti itu akan mengajari Roisin untuk lebih berdisiplin dalam bekerja. Kalian bekerja di sini dibayar, kalian ada di sini untuk bekerja bukan untuk tidur!’ seru Huissier dengan lantang.”
“‘Kami berada di sini sudah bekerja sangat keras,’ seru hampir seluruh buruh. ‘Bahkan lebih keras dari yang kamu bayangkan,’ sambung salah seorang buruh laki-laki…. Perkataan Huissier itu memicu buruh perempuan tersebut kembali angkat bicara, ‘Roisin tidak tidur selama tiga hari berturut-turut, dan sekarang dia akan kalian pecat dari pabrik ini, dan akan kalian biarkan Roisin mampus?! Kalian bilang itu pekerjaan?!’ … Friedrich Engels diam-diam memperhatikan perempuan itu. Dia kagum terhadap keberanian, kelantangan, dan ketegasan perempuan itu, dan diam-diam pula Engels jatuh hati padanya.”
“‘Diam..!!’ d’Engels berteriak. ‘Upah kalian akan dipotong untuk biaya perbaikan mesin-mesin pabrik yang telah kalian rusak. Itu, hukuman yang kalian dapatkan! … Mesin reparasi mahal tidak seperti upah buruh di Manchaster yang murah.’”
“‘Kami hanya memiliki sepuluh jari tangan’, buruh perempuan muda itu kembali lagi berbicara, ‘… dan jika jari kami rusak, atau putus, kami hanya akan menjadi tumpukan sampah. Apakah seperti itu maksudmu, bos?’ … ‘Namaku Mary Burns!’ seru perempuan muda itu yang diikuti sorak-sorai buruh-buruh lainnya. ‘Aku lahir di Tipperary, dan sekarang, aku sedang menjadi budak di Pabrik Tekstil Ermen and Engels.’ … ‘Siapakah sosok Mary Burns ini sebenarnya?’ bisik Engels pada dirinya sendiri. ‘Aku harus dapat menemuinya, aku sangat ingin berjumpa dengannya, dan aku sangat ingin menggenggam jari-jemarinya dan mengatakan: kausangat luar biasa. Aku.. Ya! Aku jatuh cinta padanya.’”
“…Cinta bukan hanya hasrat yang terkurung di dalam otak, melainkan juga hasrat yang mewujudkan dirinya dalam bentuk tindakan nyata (konkret), sedangkan tindakan nyata merupakan media bagi manusia memproyeksikan cinta sebagai objek indrawi…. Bagi Engels, cinta sejati bukanlah media bagi manusia mengumbar nafsu birahi, melainkan wujud nyata kepedulian manusia terhadap sesama. Aku mencintai kamu, artinya aku peduli padamu, aku peduli pada kehidupanmu. Aku mencintaimu, artinya aku mencintai kemanusiaan yang ada padamu—kamu sebagai manusia bukan kamu sebagai individu. Aku mencintaimu, artinya aku mencintai semua yang hidup pada kemanusiaanmu. Aku mencintaimu, artinya aku mencintai diriku sebagai manusia yang berperasaan dan berdaging yang ada pada dirimu…. Cinta dan tanggung jawab kemanusiaan bukanlah dua komponen yang saling terpisah, melainkan dua komponen yang saling berkombinasi, dan dua komponen yang mendorong perjuangan untuk mewujudkan kebersamaan yang bebas dari penindasan antarmanusia. Aku mencintaimu, artinya aku berjuang untuk menciptakan kebersamaan antara kamu dan aku, antarmanusia. Aku mencintaimu, artinya aku mencintai kemanusiaan yang ada dan tercermin pada dirimu, dan jika kemanusiaan itu tertindas, aku akan berjuang bersamamu membebaskannya. Jadi, cinta romantis Engels kepada Mary Burns berbaur menjadi satu dengan usaha Engels memahami Mary Burns sebagai buruh yang tertindas, dan berjuang bersama Mary membebaskan buruh dari penindasan. Perjuangan membebaskan buruh dari penindasan, artinya perjuangan membebaskan semua manusia dari nirkemanusiaan. Ya! Perjuangan pembebasan semua manusia bukan hanya pembebasan kaum buruh karena jantung yang berdetak dan darah yang mengalir dalam kehidupan manusia hanya dapat terus berdetak dan mengalir dengan ‘bebas’ apabila kaum buruh terbebas dari penindasan.”
Dalam relasi cinta antara individu laki-laki dan perempuan, kaum Marxis tidak pernah memisahkannya dari tanggung-jawab sosial kedua jenis kelamin terhadap masyarakat yang ada. Pengisolasian hubungan percintaan sebagai urusan personal bukan saja abstrak tapi terutama menyangkal peran dan konsekuensi sosial yang dimainkan oleh sepasang kekasih dalam hubungan mereka. Berkait pertanyaan-pertanyaan mengenai cinta, kecenderungan untuk secara tegas memisahkan individu dan sosial adalah keliru. Aktivitas seksual dan emosional memanglah menjadi fenomena yang dialami oleh laki-laki dan perempuan yang bercinta, tetapi segala hubungan cinta mereka haruslah ditinjau dari keberadaan keduanya sebagai bagian dari alam, masyarakat dan kelas sosial tertentu. Manusia adalah makhluk fisik, dengan gagasan dan emosi yang merupakan ekspresi dari pengalaman material dalam hubungannya dengan alam dan sesamanya. Demikianlah rasa cinta sekalipun adalah berasal dari kebutuhan tubuh material yang hanya bisa dipenuhi secara sosial. Dan, pemisahan brutal antara individu dan sosial, dengan alasan apapun, tidak dapat dibenarkan. Pandangan tersebut sangat sepihak dan berlebihan. Individu takkan bisa mempertahankan eksistensinya seorang diri tanpa berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas perekonomian tertentu dalam masyarakatnya. Dengan kata lain, jaminan terhadap keberadaan setiap orang sebagai individu bergantung pada sosial; yakni, hubungan-hubungan sosio-ekonomi yang mendasari keberadaan masyarakat di mana seseorang dilahirkan, dibesarkan dan dididik sebagai bagian dari masyarakat, yang keunikan-keunikan personal yang menjadi ciri individualitas seseorang diambil dari masyarakat; di mana ketika seseorang berpartisipasi dalam aktivitas sosio-ekonomi, pada gilirannya, kepentingan dan cara berpikir umum akan mempengaruhinya. Termasuk dalam urusan cinta, seseorang takkan mungkin membangkitkan gairah seksual dan emosinya tanpa berhubungan dengan orang lain di sekitarnya.
Demikianlah laki-laki dan perempuan tidak dapat memutuskan ketergantungan individu mereka dari sosial. Meskipun masing-masing orang memiliki individualitas tertentu yang membuat mereka tampil sebagai individu yang unik, namun keunikan-keunikan mereka mempunyai batas yang bisa diprediksi. Alasannya karena manusia adalah materi. Semua manusia berasal dari spesies yang sama dan merupakan mahkluk alami yang membutuhkan makan, minum, mencari perlindungan, dan sebagainya. Kebutuhan ini hanya bisa dijamin pemenuhannya dalam hubungannya dengan masyarakat yang ada. Inilah keharusan atau legalitas sosial yang mengekspresikan dirinya melalui kebetulan dalam setiap individu; di mana masing-masing individu bertindak sesuai kepentingan mereka sendiri-sendiri, namun dalam menunaikan kepentingan-kepentingan itulah seseorang diseret untuk berinteraksi dengan orang-orang lainnya sesuai dengan kondisi-kondisi obyektif di luar kendali individu manapun juga. Dengan cara yang serupa, keinginan individu, meskipun sampai batas-batas tertentu selalu spesifik pada dirinya sendiri, tetapi pada dasarnya dibentuk dan dibatasi oleh masyarakat di mana seseorang berada. Dan pendekatan pada hubungan cinta yang memberi garis demarkasi antara individu dan sosial, jika ditarik ke ranah perjuangan hidup dari manusia-manusia yang konkret, bukan sekadar mengatomisasi laki-laki dan perempuan dalam hubungan cinta yang abstrak tapi terutama memaksakan metode berpikir yang cenderung mengisolasi kesadaran (suprastruktur) dari keberadaan material (basis). Kaum Marxis berpandangan bahwa individu takkan pernah terpikirkan tanpa adanya otonomi-diri yang bersifat relatif. Seseorang tidak dapat dipandang sebagai individu tanpa memiliki kesadaran-diri, dengan keunikan yang memberinya individualitas atau kebebasan yang terbatas, dalam hubungannya dengan keberadaan sosial dan masyarakatnya. Dalam “Excerpts on Lenin, Dialectics, and Evolutionism”, Trotsky menjelaskannya begitu rupa:
“Benar, dialektika sebab dan akibat, basis dan suprastruktur, bukanlah hal yang baru bagi kita: politik tumbuh dari ekonomi yang kemudian mempengaruhi basis melalui peralihan yang bersifat suprastruktural. Namun, di sini keterkaitannya konkret, karena dalam kedua kasus tersebut, tindakan manusia yang hidup terlibat; di satu sisi mereka dikelompokkan bersama untuk produksi, di sisi lain—di bawah tekanan tuntutan produksi yang sama—mereka dikelompokkan secara politis dan bertindak berdasarkan perubahan politik pada pengelompokkan produksi mereka sendiri. Ketika kita melakukan transisi dari anatomi dan fisiologi otak ke aktivitas intelektual, keterkaitan antara ‘basis’ dan ‘suprastruktur’ menjadi jauh lebih membingungkan. Kaum dualis membagi dunia menjadi substansi independen: materi dan kesadaran. Jika demikian, lalu apa yang kita lakukan dengan alam bawah sadar?…. Namun demikian, di sini kita mendekati semacam titik kritis, suatu terobosan dalam seluruh perkembangan, transisi dari kuantitas ke kualitas: jiwa yang muncul dari materi, ‘dibebaskan’ dari determinisme materi, sehingga ia dapat secara mandiri—oleh hukumnya sendiri—mempengaruhi materi [sampai batas tertentu yang ditentukan oleh perkembangan material].”
Trotsky menegaskan: ‘materialisme dialektis yang mendorong kita pada gagasan bahwa jiwa tidak dapat terwujud kecuali ia memainkan peran yang [relatif] otonom, yaitu, independen [hanya] dalam kehidupan individu dan spesies’. Pada benak dari tubuh materialnya masing-masing, setiap orang bisa saja berpikir dan merasa bebas untuk mengejar keinginannya sendiri-sendiri. Termasuk untuk berhubungan seksual dengan laki-laki atau perempuan manapun yang memiliki ketertarikan seksual pada dirinya. Namun dalam pelaksanaan keinginan-keinginan ini, tidak ada satupun individu yang benar-benar bebas. Pemenuhan keinginan individu ditentukan oleh keberadaan sosialnya dalam hubungan-hubungannya dengan masyarakat di mana mereka hidup. Pandangan yang memisahkan secara paksa antara individu dan sosial, antara kesadaran dan materi, atau antara subyek yang berpikir dan obyek yang dipikirkan adalah pendekatan yang berat sebelah dan keliru; yang pada titik paling ekstrem, akan tenggelam dalam kubangan idealisme subyektif. Kecenderungan inilah yang mencemari dan merecoki jalannya perjuangan massa dengan subyektivisme dan eklektisismenya yang begitu rupa. Sebagai borjuis-kecil—yang bersandar pada kepemilikan skala kecil dan tidak berpartisipasi dalam kerja-upahan—seseorang akan lebih banyak mengidap prasangka bahwa dia bebas untuk merealisasikan dirinya dengan menjadi tuan atas kepemilikan skala kecilnya dan tanpa adanya majikan yang mengekangnya. Namun kebebasan tersebut sangat terbatas karena dalam masyarakat kapitalis dengan relasi barang-dagangan yang telah menjadi dominan, setiap individu yang bahkan bukan merupakan pekerja-upahan akan diseret memasuki aktivitas pertukaran demi mengatasi kebutuhannya; dan setiap borjuis-kecil yang dihancurkan oleh borjuis besar, kapitalis dan imperialis, keberadaan sosialnya akan diseret mendekati proletariat, atau dijerat dalam aktivitas produksi kerja-upahan sebagai proletar. Dalam aktivitas produksi dan pertukaran ini, uang menjadi penyetara nilai universal dan siapapun yang tidak mempunyai uang takkan mungkin mendapatkan hal-hal yang diinginkannya secara leluasa. Demikianlah dalam hubungan kedua jenis kelamin sekalipun, laki-laki dan perempuan sesungguhnya dibatasi dalam beraktivitas seksual: karena untuk berhubungan-intim setiap orang membutuhkan makanan-makanan yang memberi tenaga, tempat yang memadai untuk menjaga privasi atau memberi kenyamanan, alat-alat tertentu yang dapat melindungi dari penyakit-penyakit kelamin menular, dan lebih banyak lagi.
Dalam masyarakat kelas—yang khususnya masyarakat kapitalis, kebebasan yang mendominasi segala bentuk kebebasan individu, adalah kebebasan kelas borjuis untuk mengeksploitasi kemampuan kerja kaum buruh, menghancurkan standar hidup massa laki-laki dan perempuan, hingga membatasi pemenuhan kebutuhan material yang menjadi dasar perkembangan kemanusiaan. Ini adalah kebebasan dari kelas penguasa untuk menyubordinasi kebebasan setiap indvidu yang berasal dari kelas-kelas sosial yang dikuasainya. Dengan demikian, kebebasan yang paling dominan adalah perbudakan kerja-upahan. Tidak ada satupun orang yang benar-benar bebas selama kebutuhannya belum terpenuhi secara kolektif dan manusiawi. Sedangkan pemenuhan yang sepenuh-penuhnya terhadap kebutuhan umat manusia tidak dapat dicapai di bawah kapitalisme: pemenuhan kebutuhan material sebagai syarat kebebasan bagi setiap orang tidak dapat dilakukan dengan mempertahankan sistem produksi komoditas atau memperluas kekuasaan uang dalam kehidupan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan dan kebebasan yang sejati hanya bisa diperoleh dengan membersihkan kerja—yang bersifat sosial dan menjadi esensi kehidupan manusia—dari perbudakan-perbudakan masyarakat kelas selama berabad-abad. Hari-hari ini, pembersihan itu hanya bisa dilakukan dengan menempuh perjuangan revolusioner untuk mengakhiri kepemilikan pribadi terhadap alat produksi, pembagian kerja dan kerja-upahan dalam masyarakat kapitalis. Ini merupakan perjuangan untuk revolusi proletar dan sosialisme dunia. Yaitu perjuangan massa yang terorganisir dan sadar untuk menggulingkan kekuasaan ekonomi-politik borjuis demi membangun masyarakat baru yang sistem sosialnya berdasarkan kepemilikan bersama dan penerapan perekonomian terencana dalam skala dunia. Perjuangan macam itu tidak dapat dipandu oleh kepemimpinan politik dari organisasi-organisasi dan gerakan massa yang bertendensi borjuis-kecil—reformisme dan sentrisme; ekonomisme, Stalinisme, ultrakiri-isme, anarkisme, dan sebagainya. Mereka mengabaikan kalau kapitalisme telah menunaikan semua tugas historisnya. Kapitalisme bukan sekadar telah menghancurkan belenggu kepemilikan feodal yang membatasi perkembangan kepemilikan pribadi dalam unit-unit produksi skala-kecil, tetapi juga telah berhasil membangun hubungan kepemilikan borjuis dan mendorong perkembangan industri, pertanian, teknologi dan ilmu-pengetahuan mutakhir untuk meningkatkan produksi kekayaan material masyarakat, namun di bawah dominasi hubungan-hubungan kepemilikan borjuis maka produksi dan reproduksi kekayaan material tidak pernah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sosial melainkan menumpuk keuntungan individu, yang pada gilirannya membuat masalah-masalah kemiskinan, kelaparan, dan pengangguran menjadi umum, dengan penghancuran fisik, mental dan moral yang semakin meluas dan kejam, yang selanjutnya mengobarkan persoalan-persoalan penindasan seksual, gender, spiritual, dan kebangsaan secara eksplosif, hingga meledakkan kasus-kasus pembantaian dan kematian yang luar biasa mengenaskan. Pada analisa terakhir: kapitalisme sedang berada di jalan buntu, dan oleh karenanya, sebuah revolusi dengan perjuangan massa yang akan menegakkan kediktatoran proletariat dan pekenomian terencana sebagai agenda.
Karl Marx pernah berkata: ‘pada tahap perkembangan tertentu, kekuatan produktif material dalam masyarakat berkonflik dengan hubungan-hubungan produksi yang ada atau—hal ini hanya menyatakan hal yang sama dalam istilah hukum—dengan hubungan-hubungan properti di mana mereka beroperasi sampai sekarang. Dari bentuk-bentuk perkembangan tenaga produktif, hubungan-hubungan ini berubah menjadi belenggunya. Kemudian dimulailah era revolusi sosial. Perubahan pada fondasi ekonomi, cepat atau lambat, akan mengarah pada transformasi keseluruhan suprastruktur yang sangat besar’. Marxisme memberitahukan bahwa perkembangan kekuatan-kekuatan produktif merupakan kunci bagi perkembangan sosio-historis dan perjuangan kelas-kelas sosial dalam masyarakat adalah motor penggerak sejarah. Industri, pertanian, teknologi dan ilmu-pengetahuan untuk transformasi sosialis telah disediakan oleh kapitalisme dalam skala dunia. Modal telah bersarang di mana-mana, dengan kelas borjuis yang telah membangun kekuasaan politiknya sendiri, bersama perekonomian nasional yang telah ditundukan ke dalam sistem perdagangan dunia, hingga melahirkan garda proletariat dalam skala dunia. Namun kekuatan-kekuatan produktif umat manusia kini tidak mampu lagi dikembangkan lebih jauh, karena dicekik secara brutal oleh hubungan-hubungan kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara-bangsa. Hukum persaingan yang didasarkan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi—yang di tahap permulaan perkembangan kapitalisme mendorong kemajuan pesat dalam perkembangan kekuatan produktif dan meningkatkan kapasitas produksi—kini telah menciptakan kelimpahan komoditas yang tidak sanggup diserap oleh keseluruhan aktivitas pertukaran yang berlaku di pasar. Irasionalitas akumulasi-demi-akumulasi atau produksi-demi-produksi telah mencapai limit yang bisa ditampung oleh perekomian nasional dari setiap negara yang ada, dan oleh karenanya, memaksa kapitalis dari setiap negeri maju untuk menajamkan persaingannya hingga bertransformasi menjadi monopoli dan konglomerasi yang membangkitkan persoalan kebangsaan dengan menundukkan negeri-negeri terbelakang dalam cengkeraman imperialisme—kapital-finansial, yang diekspor dengan melancarkan perang-dagang hingga pengerahan militer untuk mengobarkan perang-perang imperialis dalam agenda perebutan wilayah pengaruh untuk ekspropriasi pasar-pasar baru dan pendalaman apropriasi pasar-pasar lama. Namun dalam setiap upaya untuk merealisasikan nilai-lebih yang terkurung dalam komoditas dengan menjualnya di pasar takkan pernah menemukan pembeli secara memadai. Inilah fakta yang inheren dalam sistem sosio-ekonomi yang sangat keji dan luar biasa kacau ini. Bahwa akumulasi kapital—yang menjadi motor penggerak kapitalisme—tidak pernah mengorientasikan aktivitas produksi dan reproduksi kekayaan material untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan taraf kehidupan umat manusia, tetapi ditujukan untuk mendulang keuntungan minoritas kapitalis semata. Dan, sekali lagi, tidak ada cara lain untuk memajukan perkembangan sosio-historis kecuali dengan menempatkan revolusi sebagai agenda. Ini memerlukan kepemimpinan politik yang memiliki perspektif, program, metode dan tradisi yang memadai untuk memberikan ekspresi yang terorganisir dan sadar pada perjuangan massa untuk mentransformasikan masyarakat yang ada. Dalam “Undestanding Marx’s Capital: A Reaser’s Guide”, Adam Booth dan Bob Sewell menjelaskannya begitu rupa:
“Sifat kapitalisme yang anarkis beroperasi secara membabi-buta di bawah kepemilikan pribadi dan hukum persaingan, menciptakan kontradiksi tersendiri. Di satu sisi, pembagian kerja dalam masyarakat—yaitu kepentingan relatif berbagai industri dan aktivitas—diatur melalui tangan pasar yang tidak kasat mata; melalui pertukaran komoditas. Di sisi lain, pembagian kerja di tempat kerja diatur dan diarahkan secara sadar oleh seorang kapitalis. Oleh karena itu, dalam kapitalisme, kita melihat kecenderung kontradiktif antara persaingan di pasar dan organisasi serta perencanaan di dalam perusahaan; kontradiksi antara kebutuhan masyarakat dan kebutuhan individu kapitalis…. Frederick Engels dalam pamflet ‘Sosialisme Utopis dan Sosialisme Ilmiah’, mencatat kontradiksi yang sama dalam kapitalisme antara tingkat perencanaan yang sangat besar yang dilakukan dalam setiap perusahaan dan bisnis—perencanaan yang dilakukan demi meningkatkan keuntungan—dan anarki yang luar biasa yang ada antara perusahaan dan bisnis. Kontradiksi ini, jelas Engels, hanyalah cerminan dari kontradiksi antara sifat produksi yang sangat tersosialisasi di bawah kapitalisme—yang mana setiap produsen adalah bagian dari sistem produksi dan pertukaran komoditas dunia yang sama—dan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan apropriasi pribadi atas hasil-hasil produksi…. Ironisnya, kata Marx, justu tuan dan nyoya yang berkhotbah tentang ‘kebebasan’, ‘hak’, ‘individualitas’, dan terutama ‘pasar’, merekalah yang dalam bisnis mereka—menuntut kebalikannya: organisasi, otoritas, kerjasama. Para pembela pasar bebas—mereka yang dengan keras menentang rencana produksi sosialis dalam masyarakat secara keseluruhan—pada saat yang sama merupakan pendukung paling gigih dari rencana produksi ‘dalam’ perusahaan. Oleh karena itu, seperti biasa, kita melihat kemunafikan kaum borjuis, yang ‘kebebasan’ dan ‘hak’ mereka hanyalah kebebasan dan hak bagi diri mereka sendiri; kebebasan borjuis untuk mengekspoitasi kerja orang lain. Semua orang harus menerima ketertundukan mereka di bawah kepentingan pemodal.”
“Kontradiksi yang menjadi inti sistem kapitalis—antara produksi yang disosialisasikan dan ekspropriasi hak milik pribadi—yang pada akhirnya mengubah progresivitas awal kapitalisme menjadi kebalikannya; menjadi suatu sistem yang tidak dapat lagi mengembangkan atau memanfaatkan kekuatan-kekuatan produktif dalam masyarakat. Persaingan dan kepemilikan pribadi, yang sebelumnya menjadi kekuatan pendorong di balik perkembangan alat-alat produksi pada masa kejayaan kapitalisme, kini menjadi hambatan besar bagi perkembangan ilmu-pengetahuan, teknologi, dan industri; sebagai belenggu raksasa terhadap kemajuan masyarakat dan kemanusiaan—belenggu yang secara organik menjerumuskan masyarakat ke dalam kondisi produksi berlebih, krisis, dan barbarism…. Setelah terbentuk, hukum persaingan kapitalis akan memusatkan kekuatan produktif dalam masyarakat, sehingga menciptakan monopoli yang mendominasi setiap sektor; kapitalis-multinasional yang merencanakan produksi dalam perusahaannya di skala internasional. Meskipun masih bersifat privat dalam hal kepemilikan dan apropriasi, proses produksi menjadi semakin tersosialisasi: para produsen kini terhubung erat ke dalam satu jaringan produksi dan pertukaran yang sama; produksi untuk konsumsi sendiri semakin dihilangkan; dan perekonomian masing-masing negara disatukan ke dalam satu pasar dunia, dengan rantai pasokan yang tersebar ke seluruh dunia. Semua ini terjadi demi skala ekonomi, peningkatan efisiensi dan produktivitas, dan pada akhirnya menurunkan biaya produksi dan meningkatkan laba. Semua ini mencerminkan peran kapitalisme yang secara historis progresif pada masa kejayaannya … Namun seperti yang dijelaskan Marxisme, pada titik tertentu, segala sesuatunya berubah menjadi kebalikannya. Kekuatan-kekuatan yang pada awalnya membuat kapitalisme menjadi progresif, mendorong perkembangan kekuatan-kekuatan produktif dan masyarakat pada umumnya—kekuatan-kekuatan persaingan dan keuntungan—kemudian menjadi penghalang besar bagi kemajuan industri, ilmu-pengetahuan, dan budaya: sebuah penghalang yang harus dirobohkan jika masyarakat ingin bergerak maju.”
“Tugas revolusioner yang ada di hadapan umat manusia adalah untuk menyelesaikan kontradiksi yang diciptakan oleh kapitalisme: kontradiksi antara sifat aktivitas produktif yang tersosialisasikan—yang tercermin dalam tingkat perencanaan yang sangat besar yang ada di dalam perusahaan-perusahaan raksasa yang dilahirkan oleh kapitalisme—dan kepemilikan pribadi dan apropriasi kekayaan yang muncul dari proses produksi ini. Setelah menghapus hak milik perseorangan [feodal] dan mendirikan hak milik perseorangan kapitalis, yang kini dibutuhkan adalah penghapusan lebih lanjut untuk mengambil-alih alat-alat produksi dari tangan perseorangan borjuis, dan menempatkannya di tangan masyarakat secara keseluruhan—yaitu, untuk menciptakan rencana produksi yang demokratis dan rasional berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan kepentingan modal…. Agen perubahan dalam transformasi revolusioner inni tidak lain adalah kelas pekerja—kaum buruh-upahan yang diciptakan oleh kapitalisme: ‘sebuah kelas yang terus bertambah jumlahnya, dan dilatih, dipersatukan dan diorganisir oleh mekanisme proses produksi kapitalis…. Semua syarat obyektif bagi revolusi sosialis sudah ada: kapitalisme telah menciptakan kondisi material yang diperlukan bagi sosialisme, mewariskan kepada kita sebuah masyarakat dengan potensi yang berlimpah; pada saat yang sama, sistem kapitalisme ini berada dalam krisis yang mendalam, dan sebagai akibatnya jutaan orang menjadi radikal dan terbuka terhadap ide-ide revolusioner. Yang hilang adalah faktor subyektif—sebuah kepemimpinan revolusioner yang dapat menghubungkan semua perjuangan khusus di bawah kapitalisme dengan kebutuhan historis yang umum untuk menggulingkan kapitalisme dan membangun masyarakat sosialis dunia. Kesenjangan ini—antara kebutuhan obyektif akan sosialisme dan tidak adanya kepemimpinan revolusioner yang diperlukan untuk menggulingkan kapitalisme—adalah kontradiksi utama yang harus diselesaikan oleh kaum Marxis. Ini adalah tugas yang paling penting dari semuanya. Ini adalah tujuan yang ditetapkan oleh International Marxist Tendency. Jika Anda setuju dengan tujuan revolusioner ini, maka bergabunglah dengan kami untuk memperjuangkan masa depan komunis—perjuangan untuk emansipasi umat manusia dari rantai modal dan perbudakan-upahan.”
Inilah tugas revolusioner yang kami tawarkan untuk diemban oleh lapisan yang paling maju dan sadar-kelas dari kaum buruh dan muda. Kita harus berjuang secara terorganir dan sadar dalam membangun kepemimpinan revolusioner untuk memandu perjuangan massa dalam mengakhiri krisis kapitalisme. Perjuangan revolusioner kita tidak hanya memerlukan pengorbanan yang besar dan antusiasme yang menyala-nyala, tetapi lebih jauh tingkat pemahaman teoritik yang tinggi dan kedisiplinan yang sekeras baja. Demikianlah kita mesti memerangi tendensi-tendensi ideologi kelas-asing yang menyeret jutaan laki-laki dan perempuan pada aktivitas politik dan organisasi yang membela kebebasan individu yang abstrak dan melemahkan perjuangan massa. Dalam organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan massa, segala bentuk pembelaan akan kebebasan individu—yang meskipun itu secuil rupanya—tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Angkatan-angkatan politik proletariat atau calon-calon pemimpin buruh di masa depan haruslah mulai dididik dengan teori, program, metode dan tradisi perjuangan yang memadai. Mereka perlu diselamatkan dari segala kecenderungan borjuis-kecil yang menebarkan racun subyektivisme dan eklektisisme dalam perjuangan massa. Di sektor-sektor mahasiswa dan pelajar hari-hari ini, cinta-bebas atau seks-bebas menjadi fenomena yang luar biasa menjerat jutaan laki-laki dan perempuan muda dengan gairah dan kesenangan individual yang destruktif dan mendemoralisasi. Mereka dengan tengiknya membela ide-ide tentang kebebasan individu dalam urusan cinta dan bahkan mengangkatnya sebagai pamflet-pamflet tuntutan untuk mengempansipasi perempuan dan LGBT dari sisa-sisa kebudayaan patriarki dan seksisme. Mereka mengabaikan kalau dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan di bawah kapitalisme, seperti yang dijelaskan Lenin: masalahnya bukanlah apa yang dimaksudkan secara subyektif sebagai ekspresi kebebasan gender dan seksual tapi ‘logika obyektif’ dari relasi kelas dalam urusan cinta setiap individu.
Pada analisa terakhir: gagasan yang melebih-lebihkan kebebasan individu, meskipun itu menyangkut urusan cinta antara dua orang saja, akan dilikuidasi oleh kebebasan kelas yang berkuasa dalam masyarakat ini. Marxisme berpandangan bahwa manusia memang membuat membuat sejarahnya sendiri, namun tidaklah dapat dilakukan dengan sesuka hati; ‘mereka tidak melakukannya dalam keadaan yang dipilih sendiri, tetapi dalam keadaan yang sudah ada, diberikan dan diturunkan dari masa lalu’. Tinjauan Marxis terhadap sejarah mengemukakan bahwa cara manusia menghasilkan makanan, pakaian, dan tempat perlindungan, adalah sesuatu yang secara inheren bersifat sosial dan menjadi landasan kehidupan masyarakat. Dalam proses inilah setiap orang—seperti yang diterangkan oleh Marx: ‘mau-tidak-mau masuk ke dalam hubungan-hubungan tertentu, yang tidak tergantung pada kehendak mereka, yaitu hubungan-hubungan produksi’. Pemahaman yang memadai terhadap hukum ini adalah syarat untuk pembebasan umat manusia. Engels berkata: ‘kebebasan tidak terletak pada impian untuk bebas dari hukum-hukum alam, namun pada pengetahuan akan hukum-hukum ini, dan pada kemungkinan yang diberikan oleh hal ini untuk secara sistematis membuat hukum-hukum itu bekerja menuju tujuan yang pasti’. Dalam masyarakat kapitalis, kebebasan yang paling dominan adalah kebebasan segelintir borjuasi untuk mengeksploitasi kemampuan kerja manusia dan mengopresi sebanyak mungkin manusia untuk melancarkan kepentingan kelasnya sendiri. Inilah cara produksi dan reproduksi kekayaan material yang berada di basis ekonomi dan mengondisikan proses umum kehidupan sosial; di mana terbentuk suprastruktur politik, ideologi, dan budaya yang sesuai dengan basisnya. Demikianlah ide dan tuntutan mengenai emansipasi perempuan dan LGBT—yang walaupun secara umum menyangkut pembebasan dari masalah-masalah pekerjaan, pangan, keuangan, perumahan, buta-huruf, penyakit fisik dan mental, prasangka agama dan diskriminasi sosial-budaya, hukum dan pengadilan, brutalitas polisi dan tentara—apabila tidak diterangkan dengan mempertimbangkan relasi kelas dan membersihkannya dari tendensi-tendensi borjuis-kecil, maka kelas penguasa akan mendapatkan kesempatan untuk memutilasi, menafsirkan dan menyebarluaskannya menjadi tuntutan-tuntutan yang seturut dengan kepentingan mereka; terutama—yang menyangkut ‘kebebasan individu’ untuk berhubungan seksual dan membentuk institusi keluarga—demi mendapatkan sebanyak mungkin calon-calon pekerja masa depan dari hubungan-seksual dan rumah-tangga rakyat-pekerja. Lenin dalam “Letter to Inessa Armand” memperingatkan kamerad perempuannya untuk berhati-hati dalam menyebarkan ide-ide dan tuntutan-tuntutan mengenai ‘kebebasan cinta’ di tengah masyarakat kapitalis:
“Mengenai rencana Anda untuk membuat pamflet tersebut, pendapat saya adalah bahwa ‘tuntutan akan kebebasan cinta’ tidak jelas … (saya menekankan hal ini ketika saya mengatakan bahwa yang penting adalah tujuan, hubungan kelas, dan bukan keinginan subyektif Anda)—dalam kondisi sosial hari ini, akan menjadi tuntutan borjuis, bukan tuntutan proletar…. ‘Perempuan borjuis’ paham dengan kebebasan cinta poin 8-10 [(8) dari unsur serius dalam cinta; (9) sejak melahirkan?; (10) kebebasan berzinah, dan lain-lain]—itulah tesis saya. Apakah Anda menyangkal hal ini? Bisakah Anda mengatakan apa yang dipahami oleh perempuan ‘borjuis’ tentang cinta-bebas? Anda memang tidak mengatakan itu. Tetapi bukankah sastra dan kehidupan benar-benar ‘membuktikan’ bahwa seperti itulah pemahaman perempuan borjuis? Mereka membuktikannya sepenuhnya! Anda diam-diam mengakui hal ini. Dan jika memang demikian, maka intinya adalah posisi kelas meeka, dan nyaris tidak mungkin dan hampir naïf untuk ‘menyangkal’ mereka. Apa yang harus Anda lakukan adalah ‘memisahkan diri’ dari mereka dengan jelas, ‘kontras’ dengan mereka, dari sudut pandang proletar. Kita harus mempertimbangkan fakta obyektif bahwa jika tidak, ‘mereka’ akan mengambil bagian-bagian yang sesuai [kepentingannya] dari pamflet Anda, menafsirkannya dengan cara mereka sendiri, membuat pamflet Anda menjadi air yang dituangkan ke pabrik mereka, memutarbalikan ide-ide Anda di mata para pekerja … Dan di tangan mereka ada banyak surat kabar, dan sebagainya.”
Tendensi-tendensi politik borjuis-kecil tidak akan sanggup memberikan kepemimpinan yang memadai untuk membawa perjuangan revolusioner massa sampai ke garis kemenangan yang sejati. Di tengah krisis organik dan eksistensial kapitalisme, kepemimpinan-kepemimpinan borjuis-kecil tidak pernah menempatkan perjuangan untuk transformasi sosial secara mandasar sebagai agenda. Tendensi ini terlampau melebih-lebihkan peralihan suprastrukural (reformasi), dengan secara sepihak menempatkan perubahan-perubahan politik, ideologi, dan budaya sebagai fenomena yang tidak bergantung pada perubahan basis ekonomi masyarakat (revolusi). Mereka mengabaikan kalau suprastruktur berakar dan tumbuh di atas basis, dan oleh karenanya, takkan mungkin menjamin pemenuhan reforma tanpa sebuah revolusi di basisnya. Dalam fenomena cinta-bebas di antara laki-laki dan perempuan, penekanan terhadap kebebasan individu atau otonomi-diri, pada analisa terakhir akan membuat orang-orang mengabaikan perjuangan untuk revolusi yang menyeluruh dan obyektif demi reforma-reforma suprastrukral yang parsial dan subyektif. Ditarik lebih jauh ke dalam sektor-sektor gerakan buruh dan muda hari-hari ini, perkembangan sudut pandang yang keliru itu diekspresikan oleh seabrek kepemimpinan politik dalam partai dan organisasi massa yang mendasari dirinya pada teori otonomi-relatif. Mereka berusaha melancarkan kepemimpinannya dengan menyubordinasi perjuangan untuk revolusi di bawah perjuangan untuk reformasi. Mereka berpikir bisa mewujudkan kehidupan yang lebih baik—kesejahteraan, kebebasan dan kesetaraan—bagi semua kaum terhisap dan tertindas hanya dengan menuntut reforma-reforma semata. Mereka melupakan fakta bahwa dalam masyarakat kapitalis tidak ada jaminan untuk perbaikan hidup umat manusia tanpa menempuh perjuangan revolusioner untuk transformasi sosialis. Sebagai gantinya, mereka meluncurkan perjuangan dengan beragam metode dan perspektif yang vulgar: dimulai dengan melebih-lebihkan aktivitas praktis melalui agenda-agenda pengadvokasian dan pembangunan basis, hingga menekankan pada reformasi untuk merombak institusi-institusi demokrasi borjuasi guna mendapat akses hegemonik. Demikianlah para pemimpin reformis bertindak sebagai rem bagi kebangkitan dan kemenangan perjuangan massa revolusioner. Pada setiap kesempatan mereka tampil mengalihkan perjuangan yang berkepentingan menggulingkan borjuasi dan mengekspropriasi kepemilikan pribadi dengan memompa sudut pandang yang menekankan pada perjuangan untuk merebut pengaruh melalui institusi-institusi demokrasi dalam negara borjuasi. Di seluruh dunia, perspektif macam ini dipopulerkan oleh Laclau dan Mouffe melalui literatur “Hegemony and Socialist Strategy: Towards a Radical Democratic Politics”. Dalam jurnal “In Defence of Marxism”, Arturo Rodriguez melayangkan kritikan keras terhadap populisme-kiri (Marxisme akademik) yang diwakili oleh sepasang pemikir tersebut:
“Ernesto Laclau (1935-2014), seorang pemikir Argentina yang mengembangkan sebagian besar karirnya di Universitas Essex, Inggris, berasal dari tradisi Marxis [akademik], dan beberapa tulisan pertamanya sebagian besar berkaitan dengan Marxisme, seperti ‘Politica e ideologia en la teoria Marxista’, dari tahun 1977. Namun pada tahun 1980-an, ia mulai mempertanyakan ajaran dasar Marxisme, yang mencapai puncaknya dengan strategi hegemoni dan sosialisnya, yang ditulis pada tahun 1985 bersama istri dan kolaboratornya, Ilmuwan Politik Belgia Chantal Mouffe. Penolakan terhadap Marxisme, yang mereka sebut ‘pasca-Marxisme’, terus mereka kembangkan dalam buku-buku seperti ‘Emancipation and Difference’ dan ‘Populist Reason’. Meskipun mereka terus menganggap diri mereka sebagai orang-orang Marxis, yang membela masyarakat yang lebih adil dan setara, mereka meninggalkan semua pilar dasar Marxisme. Teori-teorinya pertama-tama didasarkan pada pengabaian konsepsi materialis tentang masyarakat. Salah satu poros dasar Marxisme adalah gagasan bahwa keberadaan sosial menentukan kesadaran: bahwa kondisi kehidupan, khususnya posisi individu dalam struktur ekonomi, menentukan gagasan dan cara mereka memandang dunia. Demikian pula, bentuk produksi utama suatu masyarakat dan tingkat perkembangannya secara umum sangat menentukan sistem budaya dan politiknya. Oleh karena itu, bukan gagasan yang pada akhirnya memandu sejarah, namun sejarah, yang dipahami sebagai perkembangan teknik dan ekonomi masyarakat, yang menentukan gagasan. Oleh karena itu, kemajuan sejarah adalah kemajuan kekuatan-kekuatan produktif, yang melalui krisis-krisis dan revolusi besar, membawa serta sistem-sistem sosial mereka yang semakin kompleks. Proses ini tidak linier, melainkan dengan konflik dan berangsur-angsur, karena perubahan besar yang terjadi dalam sistem sosial, perlu secara perlahan-lahan memperkuat faktor-faktor baru dan melemahkan faktor-faktor lama yang selalu berkonflik.”
“Laclau dan Mouffe menolak semua ini, dengan melanggar ‘morfologi yang mendasari sejarah’, dengan menyatakan bahwa pembangunan ekonomi bergantung pada politik, dan bahwa politik pada dasarnya mengarahkan proses sejarah, sehingga menciptakan istilah ‘otonomi politik’ yang mengacu pada kemerdekaan dan supremasi politik atas ekonomi … Oleh karena itu, mereka juga menolak adanya hukum dan proses besar di balik sejarah: bagi mereka, sejarah benar-benar acak, merupakan mangsa-mangsa dari perubahan-perubahan politik—sejarah ‘sangat terbuka’, seperti yang mereka katakan. Pernyataan-pernyataan ini bertentangan dengan seluruh sejarah umat manusia. Analisis umum terhadap sejarah jelas menunjukkan bahwa filsafat-filsafat besar dan sistem-sistem politik baru muncul seiring dengan merosotnya sistem-sistem ekonomi dan sosial lama dan lahirnya sistem-sistem baru yang menggantikan sistem-sistem tersebut. Dengan demikian, Negara [pertama kali] lahir di wilayah paling makmur setelah revolusi ekonomi Neolitikum, yang memunculkan pertanian dan peternakan. Kekristenan pecah dengan krisis Kekaisaran Romawi dan perbudakan. Protestanisme, Pencerahan dan liberalisme muncul bersamaan dengan krisis feodal dan kebangkitan borjuasi kapitalis. Sosialisme modern berasal dari kaum proletar dan revolusi industri abad ke-19. Tingkat perkembangan teknologi dan ekonomi suatu masyarakat membentuk cakrawala yang tidak dapat diseberangi ole hide-ide, dan meskipun tidak diragukan lagi bahwa ide-ide tersebut memainkan peran penting dalam sejarah, hal-hal tersebut selalu berada dalam batas-batas yang ditentukan oleh tingkat perkembangan ekonomi. Dan, sungguh, gagasan memainkan peran penting bukan sebagai faktor di luar perkembangan material, melainkan sebagai bagian yang paling disadari dan canggih, karena bagi kaum Marxis, kesadaran manusia adalah sebuah entitas material, yang meskipun dengan karakteristik dan mekanismenya sendiri tapi merupakan bagian dari kesatuan yang bersifat material; bagian dari realitas material yang mengondisikannya dan tidak dapat dipisahkan darinya.”
Di sisi para reformis, terdapat pula kaum Stalinis yang memandang perkembangan sosio-historis secara vulgar. Di tengah krisis kapitalisme yang berlarut-larut dan bertambah kronis, dengan semua syarat obyektif pembangunan masyarakat sosialis yang telah tersedia dalam rahim masyarakat kapitalis yang sedang sekarat, kesimpulan akhir dari setiap kepemimpinan Stalinis tidak pernah menetapkan revolusi sosialis sebagai agenda. Perjuangan mereka sangat abstrak: tidaklah diorientasikan untuk mengakhiri krisis masyarakat ini secara revolusioner dan secara naïf menginginkan pemulihan krisis dengan memaksakan revolusi dua-tahap. Perspektif revolusi tahapan, baik yang memisahkan secara kaku antara perjuangan untuk pembebasan nasional dan revolusi dunia, atau bahkan yang telah dikembangkan menjadi revolusi dua-tahap tak-terinterupsi dengan menggabungkan secara eklektik antara revolusi demokratik dan revolusi sosialis, pada analisa terakhir: takkan sanggup menuntaskan tugas-tugas borjuis-demokratik apalagi membangun sosialisme, karena semua perspektif revolusi tahapan melupakan apa yang esensial dan menjadi kekuatan transformatif dari kapitalisme ke sosialisme—kediktatoran proletariat: kaum buruh yang diorganisir sebagai kelas penguasa untuk melancarkan kekerasan-revolusioner terhadap para penghisap yang mempertahankan kepemilikan pribadinya dan menghancurkan belenggu masyarakat kelas selama berabad-abad. Jaminan penuntasan revolusi demokratik adalah dengan menegakkan kediktatoran proletariat, dan oleh karenanya, berarti menempuh perjuangan untuk revolusi sosialis. Sosialisme takkan mungkin dibangun tanpa kediktatoran proletariat yang dipandu oleh kepemimpinan revolusioner; karena kaum buruh tidak dapat diorganisir sebagai kelas penguasa dan mentransformasikan masyarakat secara sadar tanpa dipimpin oleh partai yang berpedoman pada teori yang paling maju. Inilah kebutuhan historis dan tugas-tugas revolusioner yang terus-menerus disangkal Stalinisme dan para pengembangnya. Pembangunan partai revolusioner untuk memimpin perjuangan revolusioner massa hanya bisa dipenuhi dengan berlandaskan Marxisme, bukan teori-teori yang menjadi karikaturnya. Dalam “The Ideas of Karl Marx”, Alan Woods menekankan pentingnya ide-ide yang benar; dan, ide Marxisme yang benar, hanya dapat ditemukan melalui pembangunan partai revolusioner:
“…Partai revolusioner adalah mekanisme di mana pelajaran masa lalu diteruskan kepada generasi baru dalam bentuk umum (teori). Ini setara dengan informasi genetik. Apabila informasi genetiknya benar dan lengkap maka akan bermuara pada terbentuknya manusia yang sehat. Jika terdistorsi, ia akan terlahir cacat. Sama halnya dengan teori. Sebuah teori yang merangkum pengalaman masa lalu dengan tepat dapat sangat membantu generasi baru menghindari kesalahan masa lalu. Namun teori yang salah hanya akan menimbulkan kebingungan, disorientasi, atau lebih buruk lagi. Jika kita serius mengenai revolusi, kita harus melakukan pendekatan dengan serius, bukan dengan cara yang dangkal dan amatiran. Pertanyaan mengenai strategi dan taktik harus menempati tempat sentral dalam pertimbangan kaum Marxis. Tanpa taktik, semua pembicaraan mengenai pembangunan gerakan revolusioner hanyalah obrolan kosong: bagaikan pisau tanpa bilah. Konsepsi strategi revolusioner mengalir dari pengaruh terminologi militer. Ada banyak persamaa antara perjuangan kelas dan perjuangan antar-bangsa. Untuk menggulingkan kaum borjuis, kelas pekerja dan pelopornya harus memiliki organisasi yang kuat, tersentralisasi dan berdisiplin. Kader-kader pemimpinnya harus mempunyai pengetahuan yang diperlukan kapan untuk maju dan kapan harus mundur, kapan harus berperang dan kapan harus mengindarinya. Pengetahuan seperti itu mengandaikan, selain pengalaman, studi yang cermat dan terperinci tentang pertempuran, kemenangan, dan kekalahan di masa lalu. Dengan kata lain, ini mengandaikan pengetahuan tentang teori. Sikap sembrono dan meremehkan teori tidak diperbolehkan, karena teori, sebagian, merupakan generalisasi dari pengalaman sejarah kela pekerja di seluruh negeri. Tetapi apakah tidak mungkin untuk berimprovisasi dan menciptakan ide-ide baru berdasarkan pengalaman hidup kita dalam perjuangan kelas? Ya, tentu saja mungkin. Namun akan ada harga yang harus dibayar. Dalam revolusi, peristiwa-peristiwa bergerak sangat cepat. Tidak ada waktu untuk berimprovisasi dan melakukan kesalahan seperti orang buta di ruangan gelap. Setiap kesalahan yang kita lakukan akan mendapat balasannya, dan bisa sangat merugikan kita…. Untuk menghindari jebakan ini, pemahaman tentang teori dan pelajaran dari masa lalu merupakan prasyarat penting untuk sukses. Walaupun kebanyakan orang harus melalui proses belajar yang menyakitkan dengan percobaan dan kegagalan, kaum Marxis mendasarkan diri mereka pada pelajaran di masa lalu. Kita dapat mengatakan apa yang berhasil dan apa yang tidak dan menerapkan pengetahuan ini pada situasi saat ini. Kita masih akan melakukan beberapa kesalahan, dan ini tidak semudah mencari jawabannya di daftar menu revolusioner, namun kita sebenarnya tidak perlu menemukan kembali penggeraknya; ini ditemukan sejak lama sekali.”
Perkembangan teoretik berkait-erat dengan situasi sosio-ekonomi dan politik umum pada setiap zaman; dengan aktivitas-aktivitas perjuangan kelas-kelas sosial dalam masyarakat memberi makan dan merangsang perkembangan pemikiran umat manusia; di mana setiap kemajuan dan kemunduran ideologi-ideologi dalam perjuangan massa, selalu berkaitan dengan peningkatan dan penurunan mobilisasi kelas pekerja. Demikianlah Marx dan Engels mengembangkan ide-ide revolusioner di tengah dekade-dekade kebangkitan gerakan buruh, dengan terbentuknya serikat-serikat dan partai-partai buruh; yakni masa yang ditandai dengan Revolusi 1848 dan Komune Paris 1871. Demikian pula Lenin, Trotsky, dan kamerad-kamerad Bolshevik-nya, yang selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, dalam Revolusi 1905 dan Revolusi 1917 (Februari dan Oktober), mengembangkan Bolshevime—atas dasar yang paling teguh dari Marxisme—dan mempersiapkan kemenangan Revolusi Oktober. Namun dengan menurunnya gelombang revolusioner setelah Perang Dunia I, kekalahan Revolusi Jerman, keterisolasian Revolusi Rusia, dengan degenerasi Uni Soviet dan Partai Komunis Rusia, kebangkitan kasta birokrasi dan Stalinisme, pembubaran Komunis Internasional, hingga perburuan dan pembantaian kolosal terhadap Oposisi Kiri Trotsky; tendensi-tendensi borjuis-kecil dalam gerakan buruh mengalami pertumbuhan yang eksplosif dan memerosotkan teori Marxis dengan membuka pintu belakang bagi obskurantisme, subyektivisme dan eklektisisme. Di Cina–sebagai kelanjutan dari perspektif Revolusi Dua-Tahap Menshevik dan Sosialisme di Satu Negeri Stalinis, Mao Zedong mengembangkan teori kontradiksi pokok untuk memberikan landasan bagi kebijakan kolaborasi kelas antara PKT dan Koumintang. Pada 1950-an dan 1960-an, dengan berlandaskan Teori Kontradiksi Maois, intelektual borjuis-kecil yang dipimpin oleh Louis Althusser dan Jean-Paul Sartre menggalakkan distorsi strukturalis lebih lanjut terhadap Marxisme. Di akhir 1960-an dan selama 1970-an, kekalahan luar biasa dalam perjuangan revolusioner massa di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang dipimpin partai-partai Komunis dan Sosial-Demokrasi bukan sekadar mengungkapkan peran kriminal yang dimainkan reformisme dan Stalinisme dalam gerakan buruh, tetapi terutama meletakkan basis kemunduran historis yang relatif bagi perjuangan kelas di dekade-dekade terakhir abad ke-20; di mana titik puncaknya ditandai dengan keruntuhan Tembok Berlin dan Uni Soviet.
Di masa-masa melemahnya gerakan buruh dan menguatnya reaksi, proses regresi ideologis merupakan fenomena umum yang terjadi di antara lapisan-lapisan pelopor yang ada. Dalam “Bolshevisme dan Stalinisme”, Trotsky menerangkan: ‘kekalahan politik besar, mau-tidak-mau, memicu revisi nilai-nilai, yang umumnya berlangsung ke dua arah. Di satu sisi, pemikiran para pelopor sejati, yang diperkaya oleh pengalaman kekalahan, mempertahankan dengan sekuat tenaga keberlangsungan pemikiran revolusioner dan upaya untuk mendidik kader-kader baru untuk mempersiapkan perjuangan massa di masa depan. Sebaliknya, pemikiran kaum rutinis, sentris dan filistin, yang takut akan kekalahan, cenderung menggulingkan otoritas tradisi yang benar dan kembali ke masa lalu dengan dalih mencari sebuah kebenaran baru’. Yang terakhir, diwakili oleh setumpuk intelektual radikal yang menjadi barometer yang cukup akurat atas perubahan suasana hati borjuis-kecil. Mereka secara organik menjadi sekutu yang sangat tidak bisa diandalkan, tidak-stabil dan bimbang; karena terombang-ambing di antara kedua kutub masyarakat kapitalis—borjuis dan proletar. Sejauh kaum buruh bergerak ke arah revolusioner, seabrek intelektual borjuis-kecil akan merasakan antusiasme yang dahsyat dan memberikan dukungan penuh semangat. Namun segera setelah gerakan revolusioner mendera kekalahan, para pemikir borjuis-kecil menjadi sangat retrospektif, kecewa dan pesimis, hingga secara tergesa-gesa menggantikan cita-cita perjuangan kolektif (Marxisme) dengan solusi-solusi individual (idealisme filosofis): subyektivisme, relativisme, agnostisisme, mistisisme, dan sebagainya. Pada periode penurunan dan reaksilah para pemikir borjuis kecil, seperti Toni Negri, dan terlebih Laclau dan Mouffe, meluapkan kekecewannya kepada kelas pekerja dengan memperdalam penyimpangan terhadap teori Marxis: melanjutkan pengembangan teori kontradiksi pokok yang menekankan pada peralihan suprastruktural ketimbang perubahan basis ekonomi masyarakat.
Di “On Contradiction”, Mao Zedong menemukan apa-yang-disebut sebab eksternal. Dengan penemuan ini, metode berpikir Maois mengajarkan untuk membatasi kesadaran manusia terhadap dunia material yang independen dari pikirannya; di mana dalam bidang pengetahuan, pembatasan tersebut berkecenderungan menetapkan garis demarkasi antara subyek yang berpikir dan obyek yang dipikirkannya. Diterapkan pada perjuangan massa, ide-ide itu berperan besar dalam membingungkan, melemahkan, hingga menyeret gerakan buruh menuju lembah penghancuran yang begitu rupa. Dengan menciptakan teori kontradiksi pokok, Mao memaksakan pandangan bahwa perkembangan historis di masing-masing negeri memiliki keunikan tersendiri yang tak-terhubung dengan negeri-negeri lainnya. Maoisme (Stalinisme) menjelaskan kalau kontradiksi internal atau gerak-diri merupakan sebab-sebab internal yang terpisah dengan sebab-sebab eksternal. Tinjauan Mao memang mengutip ‘Catatan Lenin’, tetapi pengembangan Maois sungguh sangat sepihak; oleh karenanya, menjadi bertentangan secara prinsipil dengan dialektika Leninis. Dalam menyampaikan apa itu kontradiksi internal, Mao sepenuhnya menyangkal esensi pemikiran Leninis sehingga penyampaiannya sama sekali tidak berangkat dari penguraian Lenin. Bulan Desember 2023, pada sebuah diskusi kami mengenai “On Contradiction” dan “On the Question of Dialectics”, Ted Sprague mengingatkan: ‘ketika Lenin berbicara mengenai “gerak-diri”, dia mempertentangkannya dengan Tuhan, yang menurut idealisme adalah tenaga eksternal yang menggerakkan dunia. Jadi, bukan dalam arti yang dipelintir oleh Mao, bahwa misalnya kekuatan eksternal adalah iklim dan geografi. Bahkan sesungguhnya iklim dan geografi juga merupakan basis material dari perkembangan tenaga produktif dari suatu bangsa dan wilayah. Gerak-diri di sini adalah kita tidak memerlukan Tuhan (tenaga eksternal) sebagai penggerak dunia dan hal-ihwal’. Lenin menulis:
“Syarat bagi pengetahuan tentang semua proses material dalam ‘gerak-diri’, dalam kehidupan nyata, adalah pengetahuan tentang proses-proses itu sebagai satu kesatuan dari yang berlawanan. Pembangunan adalah ‘perjuangan’ dari hal-hal yang berlawanan. Dua hal mendasar—atau dua kemungkinan? Atau ada dua konsep yang bisa diamati secara historis?—konsepsi mengenai perkembangan adalah: [1] perkembangan sebagai penurunan dan peningkatan, sebagai pengulangan, dan [2] perkembangan sebagai kesatuan dari hal-hal yang berlawanan—pembagian suatu kesatuan menjadi hal-hal yang saling-bertentangan dan berhubungan timbal-balik. Dalam konsepsi pertama tentang gerak, gerak-diri, daya penggeraknya, sumbernya, motifnya, tetap berada di bawah naungan—atau sumber ini tercipta oleh kekuatan di luar dirinya—Tuhan, subyek, dan sebagainya. Dalam konsepsi kedua, perhatian utama diarahkan tepat pada pengetahuan tentang sumber ‘gerak-diri’. Konsepsi pertama tidak bernyawa, pucat, dan kering. Yang kedua adalah hidup. Yang kedua saja yang memberikan kunci pada ‘gerak-diri’ dari segala sesuatu yang ada; ia sendirilah yang memberikan kunci menuju ‘terputusnya kesinambungan’, menuju transformasi ke arah yang berlawanan, menuju kehancuran yang lama dan munculnya yang baru.”
Lenin tidak pernah mereduksi sebab-sebab eksternal menjadi masalah-masalah iklim dan geografi, apalagi sebagai hal-hal yang terpisah dengan sebab-sebab internal, karena keduanya merupakan kesatuan organis yang melalui hubungan-hubungan timbal-balik keduanyalah kontradiksi internal atau gerak-diri itu berlangsung. Marxisme memandang bahwa kontradiksi inheren yang mendorong perkembangan sejarah, masyarakat dan pemikiranya adalah kontradiksi dari kekuatan produksi umat manusia: pertentangan antara tenaga produktif dan hubungan produksi. Inilah penyebab fundamental dan paling umum dalam pembangunan sosio-ekonomi secara menyeluruh. Namun kontradiksi internal atau gerak-diri dijelaskan Mao dengan berat-sebelah; dia lebih mementingkan sebab-sebab khusus di satu negeri semata tanpa berusaha menjelaskan secara memadai bagaimana relasi-relasi timbal-balik yang menentukan dalam hubungannya sebagai kesatuan organis dengan sebab-sebab umum—pasar dunia dan perjuangan kelas internasional. Inti dari materialisme dialektis adalah pandangan integralistik dan dinamis terhadap dunia material yang obyektif; segala benda dan peristiwa diperlakukan sebagai proses yang berkait-kelindan dan organis, bukan fenomena yang statis dan terpotong-potong menjadi daftar-daftar yang atomistik. Segala sesuatu dalam realitas terdiri atas kesatuan hal-hal yang berlawanan dan saling-merasuki, dengan perubahan dari kuantitas ke kualitas dan begitupun sebaliknya, yang terus-menerus menegasikan dirinya dari keberadaan material yang lebih rendah ke keberadaan material yang lebih tinggi; di mana perubahan kuantitas (kualitas lama, yang lebih rendah) ke kualitasnya (kualitas baru, yang lebih tinggi) itu tidaklah berlangsung dalam tahapan-tahapan perkembangan material yang lancar tapi melalui lompatan-lompatan kualitatif—bencana, perang dan revolusi. Dalam “The Phenomenology of Spirit”—inilah ‘sisi revolusioner’ pemikiran Hegel yang kebenarannya telah dibuktikan dalam sejarah dan sampai sekarang dipertahankan oleh Marxisme untuk memandu perjuangan revolusioner kelas buruh:
“Selebihnya, tidak sulit untuk melihat bahwa zaman kita adalah masa kelahiran, dan masa transisi. Semangat manusia telah putus dengan tatanan lama yang sampai saat ini berlaku, dan dengan cara berpikir lama, dan berada dalam pikiran untuk membiarkan semuanya tenggelam ke dalam kedalaman masa lalu dan memulai transformasinya sendiri. Memang tidak pernah berhenti, tapi terus mengikuti arus kemajuan. Namun hal ini sama halnya dengan kelahiran seorang anak; setelah periode nutrisi yang lama dalam keheningan, kesinambungan pertumbuhan bertahap dalam ukuran, perubahan kuantitatif, tiba-tiba terputus oleh tarikan nafas pertama—ada jeda dalam proses tersebut, perubahan kualitatif dan anak terlahir. Dengan cara yang sama, semangat zaman, yang tumbuh perlahan dan diam-diam matang untuk mengambil bentuk baru. Menghancurkan satu-demi-satu bagian dari struktur dunia sebelumnya. Bahwa ia terhuyung-huyung hingga tumbang hanya ditunjukkan oleh gejala-gejala di sana-sini. Kesembronoan dan lagi-lagi rasa bosan, yang menyebar dalam tatanan yang sudah mapan, firasat yang tidak jelas akan sesuatu yang tidak diketahui—semua ini menandakan bahwa ada sesuatu yang lain yang sedang mendekat. Keruntuhan bertahap ini, yang tidak mengubah tampilan umum dan aspek keseluruhan, disela oleh matahari terbit, yang, dalam sekejap dan dalam satu pukulan, memperlihatkan struktur dan bentuk dunia baru.”
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
