Kategori
Perjuangan

Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 9)

“Sangat sedikit laki-laki—bahkan di kalangan proletariat—yang menyadari betapa besar upaya dan kesulitan yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan perempuan, bahkan bila mereka mau membantu ‘pekerjaan perempuan’ … Kehidupan rumah tangga seorang perempuan adalah pengorbanan sehari-hari terhadap ribuan hal sepele yang tidak penting. Hak pertuanan lama laki-laki itu masih hidup secara rahasia. Budaknya membalas dendam juga secara diam-diam. Keterbelakangan perempuan, kurangnya pemahaman terhadap cita-cita revolusioner laki-laki mengurangi semangat dan tekadnya dalam berjuang. Mereka ibarat cacing-cacing kecil yang tak kasat mata, perlahan tapi pasti, membusuk dan menimbulkan korosi. Saya tahu kehidupan seorang pekerja, dan tidak hanya dari buku. Pekerjaan komunis kita di kalangan perempuan, pekerjaan politik kita, mencakup banyak pekerjaan pendidikan di kalangan laki-laki. Kita harus mencabut gagasan ‘tuan’ yang lama sampai ke akar-akarnya yang terakhir dan terkecil, di dalam Partai dan di kalangan massa. Itu adalah salah satu tugas politik kita, sama seperti tugas yang sangat mendesak untuk membentuk staf yang terdiri dari kawan-kawan laki-laki dan perempuan, yang terlatih baik dalam teori dan praktik, untuk menjalankan aktivitas Partai di kalangan perempuan pekerja…. Perempuan harus sadar akan hubungan politik antara tuntutan kita dan penderitaan, kebutuhan, dan keinginan mereka sendiri. Mereka harus menyadari apa arti kediktatoran proletariat bagi mereka: kesetaraan penuh dengan laki-laki dalam hukum dan praktik, dalam keluarga, dalam negara, dalam masyarakat; diakhirinya kekuasaan kelas borjuis.” (V.I. Lenin)

Pada keberadaan sosial yang paling dekat dengan proletariat, yakni dalam kehidupan borjuis-kecil lapisan bawah, agama juga dipeluk sebagai ajaran yang memberikan ketenangan. Meskipun laki-laki dan perempuan-perempuan borjuis-kecil memperoleh akses keilmuan sampai ke tingkat universitas dan memiliki ketersediaan waktu-luang yang cukup untuk mendidik dirinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang mencerahkan, tetapi keberadaan sosial sebagai kelas antara begitu mempengaruhi perkembangan kesadaran mereka. Di kampus-kampus, sistem pendidikan borjuis meracuni peserta didik dengan filsafat idealisme yang membela obskurantisme agama. Materi-materi keagamaan yang beragam menjadi mata-kuliah wajib. Universitas-universitas mengangkat agama tertentu sebagai nama dan simbol. Di sisinya, berdiri pula berbagai organisasi internal dan eksternal mahasiswa yang ditarik bekerjasama dalam program-program yang berkait agama. Di organisasi-organisasi mahasiswa berbasis keagamaan, ajaran-ajaran ketuhanan diamalkan untuk membentengi diri dari kejahatan-kejahatan masyarakat kapitalis. Termasuk menghadapi persoalan-persoalan pelecehan dan kekerasan berbasis seksual dan gender yang berkembang-biak di lingkungan perguruan tinggi. Memeluk keyakinan agama tertentu, perempuan-perempuan borjuis-kecil yang keberadaan sosialnya lemah melakukan aneka peribadatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan harapan diberi perlindungan dan kekuatan. Bagi mereka, pemujaan terhadap Tuhan adalah kewajiban seorang hamba kepada Yang Maha Kuasa. Melakukan ibadah yang terus-menerus, mereka berusaha menenangkan dirinya dengan meneguk ilusi-ilusi kenikmatan dan janji-janji kebaikan hidup abadi di akhirat. Semua ini menghibur mereka dari aneka masalah kehidupan material yang konkret. Sisa-sisa kebudayaan patriarki, ancaman misogini dan femisida, dan kepungan seksisme tidak dihadapi dengan mengobarkan perjuangan revolusioner untuk penghapusan masyarakat kelas, melainkan sebatas melancarkan tindakan-tindakan kultural dan edukatif yang berlandaskan ajaran-ajaran moralis yang abstrak. 

Perempuan-perempuan borjuis-kecil lapisan bawah berkeyakinan naïf kalau dengan kegiatan peribadatan yang menekankan pada kesalehan individu, maka mereka akan terhindar dari beragam tekanan masyarakat kelas. Sedangkan dalam kehidupan perempuan borjuis-kecil lapisan atas, penghiburan bagi mereka bukanlah sebatas wisata religius yang murah dilakukan tapi lebih mahal; baik dengan mengisi waktu-luangnya dengan berbelanja sedemikian rupa maupun mengecap hiburan-hiburan di klub malam yang cenderung rentan dengan persoalan-persoalan seksisme, misogini dan femisida. Perempuan borjuis-kecil lapisan atas sangat terinspirasi dengan keberadaan sosial perempuan borjuis, menjadikan perempuan borjuis sebagai kiblat, hingga memaksakan diri untuk mengadopsi cara-cara hidup perempuan borjuis secara vulgar dan irasional. Di pusat-pusat perbelanjaan, mereka membeli berbagai produk-produk pakaian dan kosmetik untuk mempercantik dan memperseksi penampilan demi memperoleh sensasi psikis dan kepuasan seksual tertentu. Mereka menghamburkan banyak uang untuk membeli apa saja—baik produk yang tidak dibutuhkan sama sekali atau hanya produk yang digunakan untuk mempoles dan memperindah penampilan fisik semata. Dengan berbelanja dan memakai barang-barang seperti yang dikenakan perempuan-perempuan borjuis, perempuan borjuis-kecil lapisan atas merasa dirinya dapat menjadi bagian dari kelas sosial di atasnya. Sementara bagi perempuan-perempuan korban seksisme yang mentalnya terganggu, pusat-pusat perbelanjaan bahkan didekati sebagai tempat pengalihan atas rasa sakit dan penderitaannya. Aktivitas pertukaran komoditas, yakni memilah-milih hingga membeli produk tertentu, sejenak mengalihkan dari persoalan yang sedang dihadapi dan menawarkan kegembiraan semu yang menggebu-gebu bagi mereka. Tidak peduli hasil pendapatan dan tabungan habis, belanja-belanja produk yang menyenangkan tetaplah diprioritaskan. Dalam masyarakat kapitalis, bukanlah kebutuhan pokok dan mendasar yang diutamakan tapi kebutuhan-kebutuhan artifisial yang beraneka ragam. Setiap harinya onggokan barang-dagangan disuguhkan oleh gerombolan promotor pasar secara bombastis. Saluran-saluran media publisitas borjuis digunakan untuk mempermainkan keadaan jiwa banyak orang secara dramatis. Promo dan diskon-diskon disiarkan ke segala penjuru dengan penuh gairah dalam iklan-iklan televisi, pemberitaan-pemberitaan surat kabar, dan bermacam-macam platform teknologi dan komunikasi. Mereka yang tidak membutuhkan sesuatu dibuat butuh terhadap komoditas-komoditas yang ditawarkan begitu masif. Orang-orang pada akhirnya memuja komoditas yang ditampilkan dengan semacam kekuatan mistis yang dapat membuat hidup tentram dan lebih baik.

Dalam masyarakat kapitalis, jutaan laki-laki dan perempuan terbelenggu di altar barang-dagangan, yang berkembang menjadi neurosis sosial yang luar biasa mengerikan, meremukkan dan memerosotkan kemanusiaan. Irasionalitas dalam ranah produksi yang berdiri di atas relasi kepemilikan pribadi dan beroperasi melalui pembagian kerja-mental dengan kerja-fisik—di mana pekerja teralienasi dari manusia yang lain, produk yang dihasilkan, dan keseluruhan proses kerja yang berlangsung—meluas sampai ke proses pertukaran. Intensitas pembagian kerja bukan sekadar memasifikasi hasil produksi, tetapi lebih jauh mendehumanisasi makna bekerja. Di bawah kapitalisme, bekerja tidak pernah mengembangkan fakultas-fakultas pikiran, perasaan, dan kehendak umat manusia tapi semata demi memupuk laba dengan mempertajam penghisapan kemampuan kerja dan menciptakan keberlimpahan komoditi yang menyeret orang-orang untuk memuja barang-dagangan. Pemujaan terhadap komoditas mendehumanisasi kaum buruh yang merupakan produsen serta seluruh anggota keluarganya yang merupakan konsumen. Dalam aktivitas produksi, seseorang tidak melaksanakan pekerjaannya sebagai manusia karena diperlakukan sebagai bagian dari perkakas industri. Dalam aktivitas pertukaran, seseorang tidak dapat menikmati hasil-hasil kerjanya tanpa mempunyai uang yang digunakan membelinya. Bekerja pada akhirnya bukanlah mencipta sesuatu yang dapat dinikmati secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan demi mendapatkan uang untuk membeli sesuatu di pasar. Pada proses inilah uang tidak sebatas ditampilkan sebagai alat-tukar tetapi lebih-lebih dilekatkan dengan kekuasaan atas segala sesuatu yang diproduksi dan dipertukarkan. Bagi para penjual dan pembeli, komoditas dipertukarkan berdasarkan karakter yang misterius. Sebuah potongan logam dan lembaran kertas bahkan didekati sebagai benda yang ajaib karena mampu membeli semua jenis komoditas. Namun tinjauan Marxis terkait uang berhubungan dengan perkembangan barang-dagangan; di mana ketika produksi dan pertukaran komoditas sudah menjadi umum, maka uang muncul sebagai bentuk nilai yang berlaku umum untuk menyetarakan nilai komoditas-komoditas yang diperjual-belikan. Semua komoditi menyatakan nilainya dalam bentuk uang, sehingga uang tidaklah sekadar merupakan wujud keterasingan terakhir dari pekerja terhadap keseluruhan kerjanya tapi lebih jauh sebagai komoditas universal yang menjadi puncak keterasingan masyarakat barang-dagangan. Melalui “Manuskrip Ekonomi dan Filsafat”, Marx menjelaskan bahwa uang merupakan perwujudan kekuasaan yang terasing:

“Uang tampak sebagai kekuatan yang menganggu individu dan ikatan-ikatan sosial, yang mengklaim menjadi entitas yang mandiri. Uang mengubah kesetiaan menjadi pengkhianatan, cinta menjadi benci, benci menjadi cinta, kebenaran menjadi kesalahan, pembantu menjadi majikan, kebodohan menjadi kecerdasan, dan kecerdasan menjadi kebodohan … uang menukar setiap kualitas dan obyek dengan setiap yang lainnya, sekalipun kualitas itu saling bertentangan…. pertama, dalam proses kerjanya manusia dipisahkan dari kekuasaan kreatifnya sendiri; dan kedua, objek-objek kerjanya, menjadi makhluk-makhluk asing, dan akhirnya menguasainya, menjadi kekuatan yang independen dari pembuatnya…. Lalu apa itu alienasi kerja? Pertama, fakta bahwa kerja adalah sesuatu yang ada di luar buruh, yakni kerja tidak menjadi watak intrinsiknya, oleh karenanya, dalam kerja dia tidak mengafirmasi dirinya tetapi justru menyangkal dirinya, tidak merasa bahagia tetapi muram, tidak secara bebas mengembangkan tenaga fisik dan mentalnya tetapi mematikan raga dan meremukan jiwanya. Buruh oleh karenanya hanya merasa seperti dirinya di luar kerjanya, dan di dalam kerjanya dia merasa berada di luar dirinya. Dia merasa bahagia saat dia tidak bekerja, dan saat dia bekerja dia tidak bahagia.”

Dalam masyarakat kapitalis, uang menguasai dunia dan memerosotkan kemanusiaan banyak orang. Uang sebagai penyetara nilai universal bukan sekadar dapat membayar kemerdekaan buruh dalam sistem perbudakan kerja-upahan, melainkan pula mampu membeli semua jenis komoditas yang diproduksi kaum produsen. Laki-laki dan perempuan bekerja untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan membelanjakan uang. Uang tampil sebagai entitas yang maha kuasa karena produksi kapitalisme tidak direncanakan dengan sadar. Sistem ini tidaklah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan umat manusia, tetapi ditujukan untuk mengapropriasi nilai-lebih dari kemampuan kerja proletariat yang tak-terbayarkan. Inilah mengapa setiap produk yang dihasilkan kaum buruh menjadi sesuatu yang asing. Kerja tiada lagi menjadi aktivitas yang dapat mengembangkan fakultas-fakultas pikiran, perasaan, dan kehendak dari pekerja, melainkan hanya melayani kepentingan borjuis: meningkatkan pembagian kerja, menghasilkan produk secara masif, meningkatkan konsumsi, dan mengutip laba yang sebesar-besarnya dengan mengeksploitasi kelas pekerja. Dikepung oleh keadaan inilah konsumerisme menjadi sajian sehari-hari. Laki-laki dan perempuan diseret dalam kubangan penghisapan kemampuan kerja yang sadis, hingga mengalami penindasan psikis dan spiritual yang brutal. Peningkatan eksploitasi di ranah produksi menghadirkan kesenjangan yang mengenaskan; di mana kekayaan segelintir borjuasi bertambah besar dan kemiskinan massa semakin mendalam. Suasana ini dikelilingi dengan over-produksi komoditas yang tak-terkendalikan dan menyihir orang-orang untuk mengonsumsi produk apa saja dan memberhalakan benda-benda yang membuat mereka puas. Fenomena tersebut disebut sebagai ‘reifikasi’: irasionalitas atau kekuatan gelap pasar yang mendorong masyarakat untuk terbiasa memuaskan kebutuhan-kebutuhannya dalam kerangka pertukaran komoditi. Ilusi yang terbangun adalah cuma dengan menikmati komoditaslah manusia-manusia yang terasing mendapatkan penghiburan yang penuh dengan kenikmatan yang menyenangkan. Mereka merasa kalau konsumsi terhadap barang-dagangan membawa kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian. Aktivitas jual-beli pada akhirnya menjadi semacam kegiatan peribadatan. Karl Marx pernah mengatakan: ‘seperti dalam agama, manusia diatur oleh produk otaknya sendiri, demikian pula dalam produksi kapitalis, manusia diatur oleh produk tangannya sendiri’. Lewat sebuah “Kritik terhadap Ekonomi-Politik”, Marx menjelaskan fenomena demikian sebagai ‘fetisisme komoditas’:

“Dalam ranah agama yang berkabut, produk otak manusia tampil sebagai sosok otonom yang diberkahi kehidupannya sendiri, yang menjalin hubungan baik satu sama lain bahkan dengan umat manusia. Demikian pula dalam dunia komoditas yang menjadi produk tangan manusia…. Komoditas pada pandangan pertama menampak seperti ihwal remeh-temeh yang jelas dengan sendirinya. Akan tetapi, analisis atas komoditas menyingkap betapa hal itu demikian ganjil, penuh dengan keruwetan metafisis dan detail teologis.… [Sebab] sebuah komoditi mesti berguna atau terlihat cukup berguna agar seseorang membelinya. Tapi ketergunaan dalam hal ini, bukanlah isu terpenting. Sebagai komoditas, sebuah produk mesti dijual agar bisa digunakan. Tanpanya sebuah produk tak bisa digunakan. Jika sebuah komoditas gagal dalam menunjukan kemampuan tukarnya maka ketergunaan, dengan sendirinya digagalkan.”

Segala komoditas dalam masyarakat yang keji ini ditampilkan dengan kegunaan yang begitu rupa melalui setumpuk alat publisitas yang dikendalikan kelas borjuis. Demi meningkatkan laba, borjuasi membangkitkan keabsurdan dan fantasi dengan memproduksi dan mempertukarkan barang-dagangan secara massal: produk-produk dan layanan-layanan kecantikan, aplikasi-aplikasi pemutih dan pemermak tubuh dan wajah, hingga alat-alat seks dan obat-obat pembesar payudara maupun kelamin. Setiap hari spanduk, poster, selebaran, dan reklame-reklame menggempur kehidupan umat manusia dengan menayangkan aneka produk artifisial tersebut. Guna membangkitkan gairah konsumsi artifisial, konten-konten yang disuguhkan kapitalis menampilkan tontonan-tontonan eksentrik dan spektakuler. Dalam kondisi inilah perempuan-perempuan bertubuh langsing, berkulit putih, berwajah glowing dipekerjakan dengan tuntutan tampil merangsang pembeli untuk mengonsumsi segala produk kecantikan dan seksual yang ditawar. Dengan memasang perempuan-perempuan cantik dan seksi untuk mengiklankan produk-produknya, kapitalisme bukan sekadar melangsungkan eksploitasi keseluruhan kerja mental dan fisik tetapi juga berkecenderungan seksis dan meluncurkan moral para perempuan pekerja. Sebagai sales, buruh-buruh perempuan didikte untuk menarik perhatian dan memikat pelanggan begitu rupa. Begitulah sales perempuan memasarkan produk-produk teknologi dan komunikasi, rokok dan suplemen, terutama kecantikan dan seksual menggunakan pesona dirinya, dan oleh karenanya, keindahan dan kemenarikan penampilan salesnya diasosiasikan dengan produk-produk yang ditawarkan. Akhirnya komoditas menjadi tampak tidak ada hubungannya dengan basis materilnya: kemampuan kerja yang dicurahkan oleh kaum produsen dalam bentuk kerja abstrak untuk menciptakan produk tertentu. Demikianlah komoditas menampak seakan-akan memiliki kekuatan mistis: hasil kerja manusia tampil sebagai sesuatu yang berelasi dengan manusia tapi berada di luar kendali manusia. Bukan manusia yang mengendalikan benda-benda ciptaannya, melainkan benda-benda ciptaannyalah yang menguasai manusia. Wujud tertinggi dari kekuasaan yang terasing ini adalah uang. Tanpa berbasiskan teori Marxis, laki-laki dan perempuan kesulitan untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi sumber kekuasan dari uang. Uang pada akhirnya didekati sebagai entitas yang mengandung kekuatan magis yang kekuasannya penuh dengan misteri, bukan sebagai penyetara nilai universal yang sumber nilainya berasal dari kerja manusia. Dalam “Manuskrip Ekonomi dan Filsafat”, Marx telah menjelaskan bagaimana kekuasaan uang mampu menukarkan apa saja. Hidup laki-laki dan perempuan dibuat tidak berarti tanpa mempunyai uang, karena uang menjadi semacam tongkat sihir yang memberikan setiap pemiliknya kemampuan yang luar biasa. Marx menjelaskannya begitu rupa:

“Sifat uang adalah milik saya—pemiliknya—dan kekuatan esensialnya. Jadi, apa yang saya ‘mampu’ dan ‘bisa lakukan’ sama sekali tidak ditentukan oleh individualitas saya. Aku jelek, tapi aku bisa membeli untuk diriku sendiri perempuan tercantik. Oleh karena itu, saya tidak jelek, karena dampak ‘keburukan’—daya jeranya—dapat dihilangkan dengan uang. Saya menurut karakteristik pribadi saya, adalah ‘orang yang timpang’, tetapi uang memberi saya ketinggian dua puluh empat kaki. Oleh karena itu, saya tidak timpang. Saya jahat, tidak jujur, tidak bermoral, bodoh; tetapi uang dihormati, dan karena itulah pemiliknya [juga memperoleh kehormatan]. Uang adalah barang yang paling utama, oleh karena itu pemiliknya adalah orang yang baik. Selain itu, uang menyelamatkan saya dari kesulitan bersikap tidak jujur: karena itu saya dianggap jujur. Saya tidak punya otak, tapi uang adalah otak sesungguhnya dari segala sesuatu dan bagaimana mungkin pemiliknya tidak punya otak? Lagi pula, dia dapat membeli orang-orang pintar untuk dirinya sendiri, dan apakah dia yang berkuasa atas orang-orang pintar tidak lebih pintar daripada orang-orang pintar? Bukankah saya, yang berkat uang mampu melakukan semua yang didambakan hati manusia, memiliki semua kapasitas manusia? Oleh karena itu, bukankah uang saya mengubah semua ketidakmampuan saya menjadi kebalikannya?”

Uang melayani pemiliknya dengan menundukkan segala jenis komoditas, termasuk aneka produk kecantikan dan seksualitas yang diperdagangkan melalui jasa-jasa sales perempuan. Dalam hubungan sosial-ekonomi yang didominasi oleh pertukaran komoditas, perempuan-perempuan pekerja yang menjajakan aneka barang dan jasa itu bahkan rentan diseret untuk melayani gairah seksual dari laki-laki yang berhasrat membayar produk dan jasanya. Dalam masyarakat yang memperlakukan tubuh perempuan sebagai komoditas, perempuan-perempuan miskin—baik perempuan pekerja maupun perempuan borjuis-kecil lapisan bawah—secara terpaksa menjual tubuh mereka untuk mempertahankan eksistensinya. Di tengah krisis kapitalisme yang berlarut-larut, dengan penurunan upah yang tajam dan peningkatan jam kerja yang mengharuskan terus-menerus berproduksi tanpa jaminan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, keterasingan rakyat pekerja mengalami menjadi tiada terperi. Kaum buruh tidak memiliki cukup uang untuk mengonsumsi produk-produk kerjanya. Efek spiral ke bawah dari sistem yang sedang sekarat menggoncang unit-unit keluarga pekerja. Kapitalisme yang sejak kehadirannya mengandalkan keluarga-inti sebagai unit mandiri penyedia generasi proletar; selama momen-momen kritis berbalik menghancurkan tenaga-tenaga produktif yang telah disediakan rumah tangga kaum buruh. Ayah, ibu dan anak—semuanya ditarik masuk dalam lingkaran-lingkaran industri. Unit-unit rumah tangga lama mereka telah dikikis dan dirubah. Semuanya bekerja sebagai buruh-upahan, mereka teralienasi saat berproduksi, dan masing-masing membawanya sampai ke rumah-rumah dengan level-level keterasingan yang begitu rupa. Keberadaan keluarga pekerja akhirnya disesaki tekanan-tekanan standar hidup yang secara brutal meledakan tindakan-tindakan ekstrem: perbudakan istri dan anak sebagai pelacur atau pengemis, perselingkuhan bahkan perceraian suami dengan istri, hingga aneka bentuk kriminalitas terhadap perempuan dan anak. Kehancuran keluarga macam inilah yang diterangkan Marx dan Engels dalam “Manifesto Komunis”:

“Dalam kondisi-kondisi proletariat, mereka yang berasal dari masyarakat lama pada umumnya sudah … tenggelam. Proletar adalah tanpa properti; hubungannya dengan istri dan anak-anaknya tidak lagi memiliki kesamaan dengan hubungan keluarga borjuis…. Atas dasar apa keluarga yang sekarang, …? Dengan modal, demi keuntungan pribadi. Dalam bentuknya yang sepenuhnya berkembang, keluarga ini hanya ada di antara kaum borjuis. Tetapi keadaan ini menjadi pelengkap dalam ketiadaan praktis keluarga di kalangan kaum proletar, dan dalam prostitusi publik…. Tepuk tangan borjuis tentang keluarga dan pendidikan, tentang hubungan keramat orangtua dan anak, menjadi semakin menjijikan karena dengan tindakan industri modern semua ikatan keluarga di antara kaum proletar hancur berkeping-keping, dan anak-anak mereka berubah menjadi komoditas sederhana dari perdagangan dan instrumen tenaga kerja.”

Namun ketika perempuan-perempuan pekerja dan muda menjadi korban dari seabrek predator seksual—bukanlah pelaku dan terutama kapitalismelah yang disalahkan, melainkan korbannya; di mana para perempuan itu dituding berpenampilan seksi dengan memoles dirinya begitu rupa, sehingga gampang menyulut libido laki-laki. Pakaian semi-terbuka dan pose-pose ekspresif yang dipupuk menggunakan kosmetik dan aplikasi modern dipandang sebagai aib bagi kaum perempuan: tidak bermoral dan liar. Harus dimengerti bahwa di bawah kapitalisme segala bentuk tampilan erotik perempuan merupakan dampak dari perluasan produksi dan pertukaran komoditas. Sistem masyarakat yang tidak-manusasi ini tak sekadar menggempur dengan penghematan, kemiskinan dan pengangguran permanen, tetapi juga memaksa rakyat pekerja untuk segera merealisasikan nilai-lebih dengan menjadi lebih konsumtif. Pada kondisi inilah perempuan pekerja dan muda ditarik mengikuti logika-mode borjuis: seruan dan rayuan-rayuan iklan untuk memakai produk-produk mutakhir meskipun itu bukanlah bagian kebutuhan dasar. Pada pelajar dan mahasiswa, serangan ini sangatlah kuat karena mereka memiliki banyak waktu-luang. Sementara waktu-luang dalam masyarakat kapitalis telah terintegrasi dengan sirkulasi kapital. Kebudayaan borjuis mendominasi saluran ilmu pengetahuan, teknologi, pergaulan dan gaya hidup. Demikianlah waktu-luang yang seharusnya menjadi momen pengembangan kemanusiaan diseret memasuki ranjau-ranjau belanja dan konsumsi yang berlebihan. Terintegrasinya sirkulasi komoditas ke dalam waktu-luang menjerumuskan pikiran, perasaan, dan kehendak manusia ke rawa-rawa pertukaran. Akibat terburuknya adalah merosotnya intelektual, moral, dan psikologi manusia menuju lembah keterasingan. Di tengah kemiskinan umum dan segala serangan terhadap standar hidup yang terus-menerus, maka keberadaan sosial pelajar dan mahasiswa begitu terancam.

Di kehidupan perempuan maupun laki-laki borjuis-kecil lapisan bawah, krisis kapitalisme telah menempatkan mereka dalam kemiskinan yang mencekam. Keterbatasan dan penderitaan hidup bahkan mendorong mereka bukan sekadar menempuh studi sambil bekerja serabutan, melainkan pula memerosotkan perkembangan intelektual dan moralnya dengan berjudi atau melacur. Serangan-serangan terhadap standar hidup mengharuskan mereka menanggalkan aneka nilai dan keyakinan-keyakinan lama. Bahkan pesan orangtua untuk menimbah pengetahuan menjadi terabaikan. Daripada fokus belajar, bersekolah, atau berkuliah; mereka menempuh pelbagai cara untuk berjuang mempertahankan hidupnya dari himpitan keberadaan sosialnya yang lemah dan serba-kekurangan. Dalam hubungan asmara yang awalnya dirajut dengan rasa suka, sayang dan cinta terpelanting ke arah pemenuhan-pemenuhan kebutuhan paling dasar: tinggal bersama untuk mengurangi ongkos makan-minum, kos, laundry, bensin, listrik, air, pulsa dan kuota internet. Hanya berbarengan di satu kamar maka bukan sebatas kecenderungan-kecenderungan emosional yang mudah tersalurkan, melainkan pula dorongan-dorongan seksualitas. Di tengah krisis kapitalisme, ketika percintaan orang-orang lemah dan papa berbuntut kehamilan yang tidak diinginkan maka aborsi atau pembuangan bayi dijadikan satu-satunya solusi yang dengan terpaksa harus dilakukan. Saat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dibanduli keterbatasan-keterbatasan keuangan, di kala iklan-iklan produk-surplus yang beraneka, akibat terburuknya adalah kehidupan berpasangan yang diharapkan menjadi momen berkasih-sayang atau sekadar meringankan pengeluaran justru menjadi arena paling rentan dengan konflik, perpecahan, dan perbudakan seksual. Sedangkan bagi rakyat pekerja yang belum menemukan pasangan seksual dan tiada berkecukupan untuk menggunakan layanan pekerja seks; mereka-mereka berkecenderungan menyalurkan libidonya melalui tontonan film-film porno, melakukan onani atau mastubrasi, bahkan sampai melancarkan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap orang-orang di sekitarnya.

Tetapi di tengah dominasi relasi barang-dagangan, orang-orang yang memiliki uang justru merasa dirinya berdigdaya untuk menyalurkan gairah seksualnya secara ekspresif dan leluasa. Di klub-klub hiburan malam, perempuan-perempuan borjuis-kecil lapisan atas berkeyakinan naïf bahwa dirinya mendapatkan kebebasan berekspresi yang luar biasa setara dengan semua laki-laki di sekitarnya. Mereka bebas dalam memakai busana apapun, mengonsumsi minuman beralkohol, menari, bernyanyi, bahkan berhubungan seksual dengan lelaki manapun asalkan sama-sama menginginkannya. Klub malam merupakan sarang setan-uang yang menjadi pasar gelap dari kapitalisme dalam memperdagangkan minuman keras, obat bius, terutama memperbudak perempuan-perempuan miskin dalam aktivitas prostitusi. Di tempat ini penindasan seksual, moral, dan mental berlangsung secara brutal. Para pemilik uang mendekati seisi klub sebagai komoditas yang bisa dibeli, termasuk tubuh perempuan. Di klub hiburan sama sekali tidak ada kebebasan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Orang-orang kaya menikmati produk dan layanan-layanan yang ada dengan seenaknya, sedangkan orang-orang yang tidak memiliki uang hanya menjadi penonton yang digempur oleh aktivitas-aktivitas sosio-ekonomi yang destruktif di sekelilingnya. Tanpa uang, siapapun tidak akan mendapatkan pelayanan apa-apa dan takkan pernah diperlakukan secara terhormat. Keterlibatan mereka di pasar gelap tersebut bukan saja membuat mereka menjadi sangat rentan akan tekanan bertubi-tubi yang mendehumanisasi dengan menempatkan mereka sebagai korban ataupun mendorong mereka menjadi pelaku kekerasan dan pelecehan seksual. Di pasar minuman keras, narkotika, dan prostitusi ini, kehadiran perempuan-perempuan yang kekurangan uang akan didekati oleh laki-laki kaya—borjuis dan borjuis-kecil lapisan atas—secara rendahan, keji dan hina. Sedangkan kehadiran laki-laki yang kekurangan uang—proletar dan borjuis-kecil lapisan bawah—menjadi sasaran yang terus-menerus dibujuk untuk mengonsumsi komoditas dengan melampaui keberadaan sosial-ekonomi secara paksa; yakni, mulai dari berhutang sampai melakukan tindakan-tindakan kriminal, termasuk pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan-perempuan di sekitarnya.

Namun dalam menghadapi perlakuan cabul di klub malam, perempuan borjuis-kecil lapisan bawah tidak mempunyai cukup daya untuk melindungi dan membela diri. Sementara perempuan borjuis-kecil lapisan atas, bila dilirik dan disentuh wilayah sensitif keperempuannya oleh lelaki tanpa seizinnya, maka mereka dapat memarahi dan melayangkan pukulan maupun tendangan sekuat tenaganya tanpa menahan sedikitpun reaksinya. Luapan kemarahan itu memberinya kepuasan emosional; di mana perbuatan ofensif tersebut secara naif dianggap sebagai salah satu ekspresi kebebasan dan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Padahal perempuan borjuis-kecil lapisan atas tidaklah setara dengan perempuan dan laki-laki borjuis, perempuan dan laki-laki borjuis-kecil lapisan bawah, dan perempuan dan laki-laki proletar. Begitupun perempuan proletar dan borjuis-kecil lapisan bawah takkan pernah setara dengan perempuan dan laki-laki dari kelas sosial di atasnya. Tetapi dalam aktivitas sosial-ekonomi di klub malam, ilusi-ilusi kebebasan dan kesetaran dipupuk begitu rupa. Laki-laki dan perempuan memang sama-sama didekati sebagai konsumen yang ditawari pelayanan dan produk hiburan apa saja, namun mereka takkan pernah diperlakukan sebagai konsumen-konsumen yang setara dan bebas karena segala perlakuan terhadap mereka ditentukan oleh seberapa banyak uang di kantong mereka. Di pasar, laki-laki dan perempuan tidak pernah dilihat sebagai manusia yang memiliki daging dan kemanusiaan melainkan didekati sebagai kantong-kantong uang semata. Di klub malam, fenomena dehumanisasi ini berlangsung secara mengerikan dan hina. Kualitas-kualitas manusiawi bukan sekadar diukur berdasarkan banyak-sedikitnya uang konsumen, tetapi lebih jauh tubuh-tubuh perempuan dikomodifikasi sebagai benda-benda yang dapat dipertukarkan dengan uang. Jika peristiwa demikian dialami oleh perempuan-perempuan yang di masa lalunya menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual, maka tindakan ofensif terhadap lelaki yang mencoba melecehkannya dipandang sebagai wujud balas-dendam atas perlakuan-perlakuan serupa yang telah berlalu. Dengan melontarkan aneka kata-kata kasar dan sumpah-serapah, pukulan maupun tendangan kepada laki-laki itulah sensasi dan kepuasan tertentu diperoleh. Terutama kesan bahwa mereka memiliki otoritas atas tubuhnya dan mampu melancarkan perlawanan akan perbuatan-perbuatan pelaku seksis terhadap mereka. Dalam reaksi-reaksi macam inilah perempuan-perempuan itu merasa kalau dirinya bebas dan setara dengan laki-laki dan perempuan lainnya. Padahal lagi-lagi kebebasan dan kesetaraan tersebut bukan sekadar relatif, tetapi lebih-lebih ilutif, sensasional dan superfisial semata. Inilah rangkaian perbudakan dalam masyarakat kapitalis, yang mengalir dari ranah produksi menuju pertukaran komoditas. Lewat “Keluarga Suci” dan “Kapital”, Marx menulis:

“Perbudakan masyarakat sipil [dalam sistem kerja-upahan] seolah-olah merupakan kebebasan terbesar, karena hal ini tampaknya membuat individu menjadi mandiri sepenuhnya. Individu menganggap mobilitas sebagai kebebasannya sendiri (tidak lagi dibatasi atau dibelenggu oleh ikatan bersama atau oleh manusia lainnya) dari unsur-unsur kehidupannya yang terasing, seperti properti, industri, agama, pada kenyataannya, gerakan ini adalah kesempurnaan dari perbudakan terhadapnya…. Pembagian kerja yang sama yang mengubah [laki-laki dan perempuan] menjadi produsen yang mandiri, juga membebaskan proses produksi sosial, dan hubungan masing-masing produsen satu sama lain dalam proses tersebut, dan dengan demikian … independensi individu yang tampak memunculkan sistem ketergantungan universal dan saling-bergantung melalui produk [disetarakan nilainya atau dipertukarkan dengan uang].”

Pertukaran komoditas telah menjadi hubungan yang paling dominan dalam kehidupan sosial yang tumbuh secara spontan dan sepenuhnya berada di luar kendali laki-laki dan perempuan yang melakukannya. Dalam relasi barang-dagangan inilah kebebasan individu sesungguhnya hanyalah sebuah penampakan yang dangkal, artifisial dan menipu. Di hadapan orang-orang yang kekurangan uang, aksi-aksi perlawanan individu perempuan yang tidak-terima dilecehkan mungkin bisa dilancarkan. Tapi ketika berhadapan dengan borjuis-kecil lapisan atas dan terutama borjuis, maka penentangan individual semacam itu gampang terpentalkan. Berhadapan dengan laki-laki kaya, reaksi-reaksi spontan dari perempuan-perempuan borjuis-kecil lapisan bawah—maupun borjuis-kecil lapisan atas sekalipun—gampang dipatahkan dengan uang. Uang memberkati seseorang dengan kekuasaan yang luar biasa. Berkat kekuatan uang inilah laki-laki kaya berkemampuan mendominasi hingga menundukan perempuan-perempuan yang menentangnya. Dalam menghadapi pembangkangan-pembangkangan perempuan itulah uang dapat memberikan perlindungan ekstra terhadap pemiliknya. Para pemilik uang dengan mudah dapat menyuap manajer dan pemilik klub malam untuk berpihak kepadanya, menyewa penjaga—preman, polisi dan tentara—untuk menjamin keamanannya, menundukan hukum dan lembaga peradilan untuk membenarkan segala tindakan seksisnya, hingga menjatuhkan harkat dan martabat perempuan dengan memperlakukannya sebagai perempuan rendahan yang keseluruhan daging dan kemanusiaannya bisa dibeli dengan uang. Pada keadaan demikianlah aneka reaksi spontan atau balas-dendam individual terhadap pelaku-pelaku kekerasan dan pelecehan berbasis seksual dan gender bukan saja tidak mempan, tetapi lebih-lebih akan menyeret korban-korban seksisme, patriarki, misogini dan femisida dalam posisi yang semakin rentan dan penuh dengan kebrutalan yang tiada terperikan.

Perlawanan-perlawanan individual bukanlah metode yang tepat untuk membebaskan perempuan dari cengkeraman laki-laki kaya dan kejahatan-kejahatan masyarakat kapitalis secara keseluruhannya. Dalam hubungan asmara dan seksual mahasiswa laki-laki dan perempuan, baik yang dilakukan oleh borjuis-kecil lapisan atas maupun bawah sekalipun, reaksi spontan atau balas-dendam individu tidak pernah menjadi solusi yang memadai. Saat seorang laki-laki berselingkuh hingga melakukan hubungan seksual dengan perempuan selingkuhannya, maka perempuan yang dikhianati cenderung meniru apa yang menjadi perbuatan lelaki yang mengkhianatinya. Bermotifkan pembalasan dendam personal, perempuan yang tersakiti mengira dengan menggunakan cara-cara yang ditiru dari individu-pasangan yang telah mengkhianatinya maka pasangannya itu dapat merasakan luka yang serupa. Pada akhirnya segala sesuatu yang didorong oleh keinginan balas-dendam individual takkan pernah menyelesaikan masalah tapi justru membuat persoalan bertambah kompleks. Dalam hubungan-hubungan yang dijalani atas hasrat balas-dendam personal, persoalan-persoalan seksisme, misogini dan femisida bukan saja merupakan bahaya laten tapi juga ancaman-ancaman yang rentan menyakiti fisik, merusak psikis, dan menghancurkan moral perempuan. Pembalasan dendam atas segala praktik kejahatan terhadap perempuan dan LGBT dalam masyarakat kelas tidaklah tepat diatasi sebagai persoalan individu. Meskipun seabrek politisi dan aktivis-aktivis perempuan liberal bahkan radikal menyarankan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan LGBT melalui jalur legal dan kultural, tetapi perjuangan yang tidak menekankan pada aktivitas-aktivitas revolusioner untuk menggulingkan masyarakat kelas takkan sanggup membawa pada kebebasan dan kesetaraan yang sejati. Para pemimpin feminis liberal dan radikal menyerukan kepada perempuan-perempuan tertindas dan tereksploitasi untuk membebaskan dirinya sendiri bukan secara terorganisir dan sadar di bawah kepemimpinan revolusioner tapi cenderung individual, formalistik, dan reformis di bawah kepemimpinan borjuis dan borjuis-kecil. Perlawanan-perlawanan macam ini tidak akan pernah bergerak lebih jauh untuk menghancurkan tatanan yang ada, melainkan sebatas menjadi ajang balas-dendam terhadap individu-individu yang menjadi pelaku penindasan perempuan dan LGBT. Sekali lagi: perjuangan dari korban-korban pelecehan dan kekerasan berbasis gender dan seksual tidak cukup diarahkan kepada pelaku-pelaku kejahatannya semata. Kaum Bolshevik menunjukkan bahwa perjuangan untuk meraih kebebasan dan kesetaraan yang sesungguhnya di antara laki-laki dan perempuan haruslah ditekankan untuk menggulingkan sistem masyarakat yang luar biasa keji dan sangat tidak manusiawi ini. Dalam “Lenin, Communism and the Emancipation of Women”, Marie Frederiksen memaparkan begini:

“Kebanyakan perempuan di dunia saat ini masih sangat jauh dari pencapaian kesetaraan, apalagi pembebasan. Kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan adalah suatu hal, namun kesenjangan dan penindasan lebih dari itu. Dari rasa takut meninggalkan minuman kita tanpa pengawasan  saat kita sedang keluar malam; hingga kegelisahan berjalan sendirian, harus menerima komentar seksis terus-menerus; untuk melakukan sebagian besar pekerjaan rumah tangga; bagi para dokter yang tidak menganggap serius ‘penyakit perempuan’ dan umumnya diperlakukan sebagai hal yang lebih rendah nilainya, daftarnya terus bertambah…. Ketimpangan dan penindasan sudah tertanam dalam struktur masyarakat sehingga mempengaruhi seluruh kehidupan perempuan, di manapun ia tinggal. Mereka menampilkan ekspresi menjijikan mereka sendiri di bawah kapitalisme, namun semuanya telah diwariskan melalui masyarakat kelas selama ribuan tahun. Solusi yang ditawarkan kepada kita oleh para politisi dan tokoh masyarakat sama sekali tidak memadai. Mereka dijiwai oleh perspektif individualistis yang menolak perjuangan kelas dan perubahan sistem, dan mendukung ideologi ‘bos perempuan’, di mana seksisme dan penindasan lainnya ditampilkan sebagai sesuatu yang dapat diatasi oleh individu dalam kerangka kapitalisme. Namun kemajuan terbesar dalam pembebasan perempuan tidak dicapai melalui pencerahan otonom atau perjuangan individu melawan kejahatan sistemik. Mereka datang melalui perjuangan kolektif dan revolusioner untuk mengubah masyarakat secara mendasar. Oleh karena itu, sulit untuk menyebutkan nama pemimpin lain yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap pembebasan perempuan selain Lenin. Klaim tersebut mungkin akan membuat banyak feminis merasa ngeri … Revolusi Rusia yang dipimpin oleh Lenin, menunjukkan bahwa kita bisa menghapuskan sistem kapitalisme yang kita jalani, dan mulai membangun masyarakat tanpa kesenjangan dan penindasan. Akhirnya, pembebasan perempuan yang sesungguhnya menjadi agendanya. Tetapi hal ini tidak bisa diserahkan kepada individu saja, karena merupakan bagian dari perjuangan kolektif seluruh lapisan masyarakat yang tertindas. Rusia sebelum tahun 1917 merupakan masyarakat dengan budaya patriarki yang sangat menindas. Revolusi Oktober adalah gempa bumi yang mengguncang fondasi kebudayaan tersebut. Dalam sekejap semua undang-undang yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki dihapuskan, dan homoseksualitas didekriminalisasi. Itu baru permulaan.”

“Revolusi Rusia melangkah lebih jauh dibandingkan peristiwa manapun dalam sejarah umat manusia dalam membebaskan perempuan dari perbudakan masyarakat berkelas. Kaum Bolshevik mengambil ]langkah besar menuju emansipasi perempuan [juga LGBT] yang sesungguhnya, mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh dunia, menggoyahkan mereka yang berkuasa, dan menginspirasi perempuan (dan laki-laki) pekerja secara internasional. Oleh karena itu, bukanlah sebuah kebetulan bahwa perempuan di seluruh dunia menerima hak untuk memilih (bersama dengan banyak hak lainnya) pada tahun-tahun setelah revolusi…. Kaum Bolshevik menghapus semua undang-undang yang memaksakan ketidaksetaraan antar-jenis kelamin. Perempuan diberi hak untuk melaksanakan aborsi dan perceraian, dan pembedaan antara anak pembedaan hak antara anak yang lahir di dalam dan di luar nikah dihapuskan…. Namun kesetaraan di depan hukum hanyalah langkah pertama yang diambil oleh kaum Bolshevik. Ini hanyalah prasayarat formal untuk menghapuskan kesenjangan. Untuk mencapai kesetaraan yang nyata, tidak cukup hanya dengan menuliskan undang-undang baru di atas kertas. Hal ini memerlukan perubahan radikal dalam kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Di sinilah perjuangan nyata kaum Bolshevik untuk emansipasi perempuan dimulai: upaya mengubah kondisi material, menghilangkan akar kesenjangan, yaitu pembagian kelas. Hal ini memerlukan diakhirinya kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, bisnis dan tanah oleh kaum kapitalis dan tuan-tanah. Sebagai gantinya, mereka mulai menyusun rencana produksi demokratis yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sosial mayoritas kelas pekerja dan petani miskin…. Perempuan—sejak munculnya masyarakat berkelas—telah dirantai di rumah. Kapitalisme kemudian memainkan peran penting dalam menarik perempuan ke dalam masyarakat yang lebih luas sebagai pekerja, dan dengan demikian, menjadi partisipan dari perjuangan kelas. Namun hal ini gagal menghapuskan perbudakan rumah-tangga perempuan, yang berarti bahwa perempuan yang bekerja di bahwa kapitalisme mempunyai beban ganda: baik sebagai pekerja maupun selaku perempuan…. Lenin memimpin perjuangan untuk kesetaraan perempuan tidak hanya di depan hukum, namun di semua bidang. Itulah sebabnya kami sebagai kaum Komunis menganggap diri kami sebagai pembela emansipasi perempuan yang paling konsisten. Berbeda dengan feminis liberal [maupun radikal dan anarkis], Lenin tidak tinggal dalam kerangka kapitalisme. Hal maksimal yang dapat dicapai dalam sistem ini adalah kesetaraan di depan hukum…. Bagi Lenin, titik fokus perjuangan perempuan adalah persoalan kelas. Hanya penyelesaian masalah kelaslah yang mampu mengatasi semua bentuk penindasan yang terjadi…. Bagi Lenin, revolusi tidak hanya diperlukan untuk pembebasan perempuan, namun partisipasi perempuan juga sangat menentukan jika kita ingin revolusi berhasil. Ini bukanlah pertanyaan sekunder.”

“Perempuan pekerjalah yang memicu Revousi Rusia ketika mereka melakukan pemogokan pada Hari Perempuan Internasional pada tahun 1917. Sepanjang revolusi menjelang bulan Oktober, Lenin berulang kali menekankan perlunya mengorganisir perempuan dalam perjuangan. Dalam salah satu suratnya yang berjudul ‘Letter from Afar’—yang ditulis sebelum ia kembali dari pengasingan pada tahun 1917—ia menulis: ‘jika perempuan tidak ditarik ke dalam pelayanan publik, ke dalam milisi, ke dalam kehidupan politik, jika perempuan tidak disingkirkan dari rumah dan dapur mereka yang menakjubkan … tidak mungkin menjamin pembebasan yang sesunggunya, bahkan tidak mungkin membangun demokrasi [program minimum—perjuangan untuk reformasi dalam menekankan tuntutan-tuntutan mendesak di bawah kapitalisme] apalagi sosialisme [program maksimum—perjuangan revolusioner untuk transformasi sosialis demi pembangunan komunisme]. Tanpa partisipasi perempuan, revolusi tidak akan bisa menang. Dan pertanyaan tentang pengorganisasian perempuan kelas pekerja dalam perjuangan untuk komunisme tidak hanya dianggap penting oleh Lenin menjelang Revolusi Oktober, tetapi juga setelahnya, dan dalam pembangunan Internasional Ketiga sebagai alat untuk menyebarkan propaganda revolusi ke seluruh dunia…. Lenin berulang kali menekankan bahwa perjuangan pembebasan perempuan pekerja tidak dapat dipisahkan dari perjuangan revolusi sosialis. Ketimpangan dan penindasan tidak dapat diakhiri tanpa mengakhiri masyarakat kelas. Namun, hal ini tidak berarti bahwa ia menolak perjuangan tuntutan perempuan’sebelum’ revolusi. Kaum Komunis terkadang dituduh mengabaikan perjuangan perempuan sebagai sesuatu yang bisa diatasi melalui revolusi. Namun hal itu tidak jelas tidak benar. Memang benar kami menganggap revolusi adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri penindasan terhadap perempuan, namun hal itu tidak berarti kami menolak perjuangan demi tuntutan demokrasi saat ini. Kami, kaum Komunis, tidak duduk dan menunggu revolusi, namun terjun ke dalam perjuangan sehari-hari. Seperti yang dijelaskan oleh Lenin, pekerja dapat dimobilisasi melalui perjuangan sehari-hari untuk melakukan reformasi dan tuntutan demokrasi, dan melalui perjuangan ini batasan-batasan demokrasi kapitalis menjadi jelas. Tugas kaum Komunis adalah menggunakan perjuangan sehari-hari untuk meningkatkan kebutuhan perjuangan demi revolusi. Lenin menjelaskan bahwa semakin bebas dan demokratis suatu masyarakat, semakin jelas bahwa masalahnya bukan hanya hukum ini atau itu, namun kapitalisme itu sendiri: ‘…kaum Marxis tahu bahwa demokrasi tidak menghapuskan penindasan kelas, namun hanya membuat perjuangan kelas menjadi lebih jelas, lebih luas, lebih terbuka dan tajam; dan inilah yang kami inginkan. Semakin lengkap kebebasan untuk bercerai, semakin jelas bagi perempuan bahwa sumber “perbudakan rumah-tangga” mereka bukanlah kurangnya hak, melainkan kapitalisme. Semakin demokratis sistem pemerintahannya, semakin jelas bagi para pekerja bahwa akar kejahatannya bukanlah kurangnya hak, namun kapitalisme’.”

Di zaman krisis kapitalisme yang berlarut-larut, standar hidup kaum buruh dan muda terus-menerus diserang secara ganas. Kian kemari rakyat pekerja dan keluarganya semakin sukar memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dengan layak. Tekanan-tekanan masyarakat kapitalis datang bertubi-tubi dan kompleks. Dalam perjuangan massa hari-hari ini, kasus-kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dan LGBT berlangsung begitu rupa. Tidak ada seorangpun yang dapat bersembunyi dari tekanan-tekanan masyarakat kapitalis. Bahkan di serikat-serikat buruh, organisasi-organisasi kiri maupun sosialis sekalipun, tekanan kapitalisme menyeret massa dan pelopornya dalam seabrek kejatuhan dan kemunduran. Ini termasuk keterancaman mereka atas kepungan dan jeratan persoalan-persoalan seksisme. Di Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN), misalnya: berkali-kali mencuat pernyataan-pernyataan sikap yang mengandung kritik terbuka terhadap tindakan-tindakan seksis anggota maupun pemimpinnya, yang bahkan berujung pemecatan; di mana penanganan kasusnya ditekankan pada mekanisme kelembagaan, yang memberikan perlindungan dan menyanggupi pemulihan korban, disertai dengan seruan-seruan yang berisi permintaan solidaritas untuk mengisolir pelakunya dari setiap organisasi, aliansi, dan front-front perjuangan yang ada tanpa syarat atau batas waktu tertentu. Dengan mengisolasi individu-individu anggota atau pemimpin yang melakukan tindakan seksis persoalan seksis takkan pernah dapat diatasi secara memadai. Diblokirnya akses berorganisasi bagi mereka hingga dibiarkan terdehumanusasi tanpa mendapat pembinaan untuk membantunya bangkit kembali dengan tingkat kesadaran yang lebih tinggi, maka individu-individu itu akan tenggelam dalam kubangan demoralisasi dan semakin rentan melakukan tindakan-tindakan destruktif yang mendegradasi kemanusiaannya. Namun aktivis-aktivis kiri dan sosialis kebanyakan memandang kalau sikap politik ini merupakan perwujudan atas komitmen terhadap perjuangan pembebasan perempuan dan sosialisme yang sejati. Mereka mendambakan adanya bilik-bilik kecil yang dapat menjamin keamanan perempuan di tengah lautan kapitalisme dan mereka mempropagandakan kepada massa untuk mengambil tauladan dari apa yang mereka lakukan. Dengan perspektif dan metode macam ini mereka bukan sekadar berupaya menciptakan organisasi yang aman dari tekanan-tekanan seksisme masyarakat kapitalis, tetapi lebih jauh berpretensi menjadikan organisasi-organisasinya sebagai prototipe masyarakat masa depan yang mereka perjuangkan. Dalam “Perspektif Organisasi 2022: Maju ke Organisasi Kader yang Kuat”, Perhimpuan Sosialis Revolusioner (PSR) mengingatkan tentang kesatuan antara tujuan dan aktivitas yang perlu ditekankan oleh pejuang garda depan dalam menghadapi masalah-masalah degenerasi kepemimpinan organisasi dan gerakan:

“Organisasi kita adalah organisasi pejuang revolusioner. Tujuan kita adalah revolusi sosialis: penggulingan kapitalisme dan pembangunan masyarakat tanpa kelas. Semua aktivitas kita adalah subordinat pada tujuan ini dan tidak ada yang lain. Ada orang yang membayangkan bahwa partai harus menjadi cerminan masyarakat masa depan. Jika itu mungkin, tidak perlu revolusi sama sekali, dan maka dari itu juga tidak perlu organisasi. Partai adalah alat untuk mencapai masyarakat masa depan dan bukan masyarakat itu sendiri. Ada yang menuntut kita untuk memberikan jaminan 100% agar tidak ada pelecehan dan perilaku buruk dalam organisasi, dan untuk membentuk komite kontrol yang memiliki wewenang absolut yang akan menjamin lingkungan yang aman-tentram bagi semua orang. Tapi organisasi kita tidak bisa menjadi cerminan masyarakat sosialis di masa depan. Organisasi kita dibangun dengan manusia-manusia nyata yang telah dibesarkan dalam sistem penindasan yang busuk ini, dan oleh karenanya manusia-manusia ini penuh pula dengan kecacatan. Tidak ada orang lain. Membangun organisasi revolusioner memang membutuhkan kepercayaan yang tinggi di antara kamerad, dan persatuan yang sejati. Kita harus membangun lingkungan dan hubungan yang bersahabat di antara para anggota. Oleh karena itu, kita menuntut standar moral dan norma perilaku persahabatan tertinggi. Dan jika perilaku seorang kamerad secara serius—dan kami tekankan, ‘secara serius’—merusak kerja organisasi, maka kita akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi hal ini. Tetapi kita harus menghindari hasrat untuk membangun organisasi yang diisi oleh manusia-manusia yang sempurna, sesuatu yang telah dicoba dilakukan oleh banyak sekte dan yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran mereka. Trotsky pernah menjelaskan bahwa ‘struktur organisasi pelopor proletar harus subordinat pada tuntutan positif dari perjuangan revolusioner, dan bukan pada jaminan negatif melawan degenerasi’. Trotsky berbicara tentang bahaya degenerasi birokratik, tetapi ini juga berlaku untuk aspek lain pembangunan partai.”

Keberpihakan kepada penyintas menunjukkan sikap politik dan organisasional yang subordinat pada tuntutan positif dari perjuangan revolusioner, tetapi pemecatan hingga pengisolasian tanpa rehabilitasi terhadap pelaku penindasan perempuan adalah yang sebaliknya: tersubordinat di bawah tuntutan negatif dari perjuangan kelas. Penjatuhan sanksi kepada pemimpin atau anggota yang melakukan perbuatan seksis tidak dapat ditempuh secara berlebih-lebihan, apalagi sampai menekankan kalau setiap orang yang sadar atau tidak-sadar jatuh dalam tekanan seksisme harus diisolir dari aktivitas-aktivitas organisasi, ideologi dan politik. Perjuangan melawan penindasan perempuan akan sangat tidak-memadai apabila menenekankan untuk memecat dan mengisolir pelaku-pelaku seksis dari organisasi dan gerakan yang ada. Tekanan-tekanan seksisme dalam masyarakat kapitalis takkan pernah dapat diatasi dengan penyelesaian masalah yang cenderung berbasis individu. Pemecatan dan isolasi bukanlah upaya untuk mengangkat kemanusiaan orang-orang yang terdehumanisasi, melainkan membuang mereka menuju lautan demoralisasi yang begitu rupa. Hanya pengembangan kesadaran dan pemahaman teoritik melalui pelaksanaan edukasi dan pembebanan kerja-kerja yang terorganisirlah yang sanggup menyelamatkan daging dan seluruh kemanusiaan mereka dari aneka kejahatan dalam masyarakat yang kotor dan busuk ini. Dalam menghadapi masalah-masalah seksisme, PEMBEBASAN memang berupaya menggencarkan diskusi-diskusi mengenai pembebasan perempuan dan LGBT yang diangkat sebagai materi pendidikan politik dasarnya. Orang-orang muda diajarkan tentang “Asal-Usul Penindasan Perempuan”. “Penyingkiran Perempuan”, hingga bagaimana “Membangun Organisasi Anti-Seksisme”. Anggota-anggotanya diajari bahwa penindasan terhadap perempuan dan minoritas seksual bukan sebagai sesuatu yang alamiah, melainkan dampak-dampak bawaan dari perkembangan masyarakat kelas. Namun pembelajaran teori yang cenderung eklektik dan pengorganisasian diri untuk membangun kepemimpinan borjuis-kecil menjadi kekurangannya. Di organisasi mahasiswa kiri ini pengajaran akan sosialisme dan pembebasan perempuan tidak pernah secara berani, terang dan konsisten membawa angkatan muda pada kesimpulan revolusioner tentang diperlukannya pembangunan kepemimpinan revolusioner untuk memperjuangkan revolusi sosialis dan menegakkan kediktatoran proletariat untuk transformasi masyarakat secara mendasar.

Organisasi dan gerakan mahasiswa radikal yang ada hari-hari ini sepertinya mengabaikan apa yang ditulis oleh Lenin untuk emansipasi perempuan dan proletar. Kawan-kawan yang menyebut dirinya sebagai bagian dari kaum kiri dan bahkan sosialis ini memperjuangkan pembebasan perempuan dan LGBT, tetapi tidak memperhatikan perlunya penggunaan teori yang jelas. Lenin menekankan pada pembangunan kepemimpinan yang memiliki kejelasan teoritik dalam memajukan perjuangan revolusioner. Dia menyatakan: ‘kita harus menciptakan gerakan perempuan internasional yang kuat, berdasarkan landasan teori yang jelas’. Di bawah krisis kapitalisme yang berlarut-larut, dengan ancaman-ancaman perang imperialis yang luar biasa destruktif, yang menyeret seluruh negeri dalam kontradiksi yang semakin tajam dan membawa perubahan situasi yang mendadak, yang ditandai dengan revolusi dan kontra-revolusi yang meledak secepat kilat, maka pemikiran Lenin menjadi begitu relevan dan harus diperhatikan dengan serius. Dalam “Lenin on the Women’s Question: From My Momerandum Book”—sebuah catatan yang disusun oleh International Marxist Tendency dari diskusi antara Lenin dan Clara Zetkin mengenai masalah-masalah perempuan di tengah-tengah krisis, perang dan revolusi—dijelaskan bahwa kehadiran perempuan-perempuan yang terhisap dan tertindas dalam perjuangan kelas buruh memainkan peran yang sangat penting; di mana tanpa keterlibatan perempuan maka revolusi proletar tak-terbayangkan untuk menang. Dalam peristiwa sejarah kolosal itu, Lenin menerangkan: ‘betapa beraninya mereka. Bayangkan semua penderitaan dan kekurangan yang mereka alami. Dan mereka melakukan perjuangan revolusioner karena mereka menginginkan kebebasan, menginginkan komunisme. Ya, perempuan proletar kita adalah pejuang kelas yang hebat’. Di Partai Bolshevik, kerja-kerja politik yang perempuan lakukan mendapat apresiasi dan rasa hormat yang setinggi-tingginya dari Lenin: ‘kami mempunyai kawan-kawan perempuan yang dapat diandalkan, cakap, dan aktif di Partai. Kami dapat menugaskan mereka ke banyak jabatan penting di Komite-Komite Soviet dan Eksekutif, di Komisariat Rakyat dan semua layanan publik. Banyak dari mereka yang bekerja siang dan malam di Partai atau di kalangan massa proletariat, kaum tani, Tentara Merah. Ini sangat berharga bagi kami. Hal ini juga penting bagi perempuan di seluruh dunia’. Terlibatnya perempuan dalam aktivitas politik dan organisasi revolusioner bukan saja secara konkret mampu menghancurkan belenggu penindasan, ketidakbebasan dan ketidaksetaraan berabad-abad lamanya, melainkan pula menunjukkan perkembangan kapasitas daging dan kemanusiaan perempuan dengan sepenuh-penuhnya. Namun aktivitas-aktivitas tersebut tidak boleh mengebaikan kepentingan proletar dalam menggulingkan kapitalisme dan membangun komunisme. Di pendiskusiannya dengan Clara, Lenin lagi dan lagi menerangkan pentingnya kejelasan teori; akan prinsip teoritik yang jelas dalam memimpin perjuangan massa:

“Kediktatoran proletar pertama-tama adalah pioner nyata dalam menegakkan kesetaraan sosial bagi perempuan [dan laki-laki]. Hal ini menghilangkan lebih banyak prasangka dibandingkan dengan volume literatur feminis. Namun meskipun demikian, kita masih belum memiliki gerakan perempuan komunis internasional, dan kita harus memilikinya. Kita harus segara memulai untuk menciptakannya. Tanpa hal tersebut, pekerjaan Internasional kita dan para pihaknya bukanlah pekerjaan yang lengkap, dan tidak akan pernah selesai. Namun upaya untuk revolusi harus tuntas. Ceritakan pada saya bagaimana perkembangan komunis di luar negeri? … Jadi, apa yang membuat kawan-kawan Anda, kaum perempuan proletar di Jerman, bersemangat? Bagaimana dengan kesadaran kelas proletar mereka, apakah kepentingan mereka, aktivitas mereka terkonsentrasi pada tuntutan-tuntutan politik mendesak?, dan apakah sumber utama ide-ide mereka?…. Saya diberitahu bahwa pertanyaan tentang seks dan pernikahan adalah pokok bahasan utama yang dibahas dalam malam pembacaan dan diskusi kawan-kawan perempuan. Saya hampir tidak dapat memercayai apa yang saya dengar ketika saya mendengarkan Clara. Sebagai negara pertama di mana terdapat kediktatoran proletar yang dikelilingi oleh kaum kontra-revolusioner di seluruh dunia, situasi di Jerman sendiri memerlukan konsentrasi yang sebesar-besarnya dari seluruh kaum proletar, kekuatan revolusi untuk mengalahkan kontra-revolusi yang semakin berkembang dan terus meningkat. Namun kawan-kawan perempuan pekerja mendiskusikan masalah-masalah seksual dan pertanyaan tentang bentuk-bentuk pernikahan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Saya yakin, brosur yang paling banyak dibaca adalah pamflet seorang kawan perempuan muda asal Wina yang membahas masalah seksual. Sungguh sia-sia! Betapa besarnya isi brosur tersebut yang telah dibaca oleh para pekerja di Bebel, dahulu kala. Hanya saja tidak ditulis dengan membosankan, tidak terlalu banyak ditulis seperti di pamflet, namun ditulis dengan tegas, getir, agresif, melawan masyarakat borjuis….”

“Saya tidak mempercayai teori seksual dalam artikel, disertasi, pamflet, dan lain-lain, singkatnya, dari artikel tersebut. Saya tidak mempercayai orang-orang yang selalu merenungkan beberapa pertanyaan, seperti orang suci India yang menganggap teorinya sebagai teori seksual yang hipotesisnya berkembang pesat, muncul dari kebutuhan pribadi untuk membenarkan ketidaknormalan atau hipertrofi pribadi di hadapan moralitas borjuis, dan untuk memohon kehormatannya. Bagi saya, rasa hormat yang terselubung terhadap moralitas borjuis ini sama menjijikannya dengan mengungkit masalah seksual. Meskipun perilaku ini masih bersifat borjuis, hal ini terutama merupakan kegemaran kaum intelektual dan kelompok terdekat mereka. Tidak ada tempat bagi hal ini di dalam Partai, di dalam kaum proletar yang sadar-kelas dan berjuang…. Tesis ini harus menekankan dengan kuat bahwa emansipasi perempuan yang sejati tidak mungkin terjadi kecuali melalui komunisme. Anda harus menekankan hubungan yang tidak dapat diputuskan antara posisi kemanusiaan dan sosial perempuan serta kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi. Hal ini akan menarik garis yang kuat dan tidak dapat dihilangkan untuk melawan gerakan borjuis yang memperjuangkan ‘emansipasi perempuan’. Hal ini juga akan memberi kita dasar untuk mengkaji persoalan perempuan sebagai bagian dari persoalan sosial kelas pekerja dan revolusi. Gerakan perempuan komunis itu sendiri harus merupakan sebuah gerakan massa, bagian dari gerakan massa secara umum; dan bukan hanya kaum proletar, tapi juga semua yang tereksploitasi dan tertindas, semua korban kapitalisme atau kelas dominan. Di sinilah letak pentingnya gerakan perempuan bagi perjuangan kelas proletariat dan misi bersejarahnya, yaitu penciptaan masyarakat komunis. Kita boleh bangga bahwa kita mempunyai bunga-bunga perempuan revolusioner terbaik di Partai kita, di Komintern. Namun hal ini tidak menentukan, kita harus memenangkan hati jutaan perempuan pekerja di kota dan di desa demi perjuangan kita dan, khususnya, demi rekonstruksi masyarakat yang dilakukan komunis. Tidak akan ada gerakan massa yang nyata tanpa perempuan.”

Namun dalam kepemimpinan kaum muda radikal hari ini, perjuangan untuk pembebasan perempuan dan LGBT berlangsung secara dangkal dan buruk. Organisasi dan gerakan-gerakan mereka terlampau menitikberatkan pada praktik pengadvokasian untuk perlindungan dan pemulihan korban serta penjatuhan sanksi terhadap pelaku seksis, daripada kejelasan teori untuk memperjuangkan penggulingan masyarakat kapitalis secara mendasar. Dalam pembangunan kepemimpinan mereka, teori-teori sosialis mungkin dipelajari namun prinsip teoritik dari Sosialisme Ilmiah (Marxisme) tidaklah ditegaskan. Mengenai pembelajaran tentang materialisme dialektika; Teori Kontradiksi Maois adalah yang kerap dijadikan pedoman. Teori ini memandu aktivitas pembangunan kepemimpinan dan pengorganisasian mereka dengan menekankan pada kontradiksi pokok, yang mengabaikan kontradiksi internal dalam masyarakat kapitalis: pertentangan tak-terdamaikan antara proletariat dan borjuasi. Dalam partikularitas organisasi-organisasi mereka, kebudayaan seksis kerap kali didekati sebagai kontradiksi pokok yang berusaha diatasi melalui aktivitas-akitivitas advokasi yang cenderung birokratik. Walaupun mereka mendirikan forum-forum diskusi dan pendidikan politik dengan materi-materi sosialisme dan pembebasan perempuan, tetapi eklektisisme dalam pembelajaran teoritiknya secara serius melemahkan mereka. Meskipun mereka melakukan analisa terhadap aneka bentuk kekerasan dan pelecehan berbasis gender dan seksual dengan menggunakan pandangan-pandangan sosialis, namun ketiadaan prinsip teori secara tak-terelakkan membawa mereka ke lembah kebingungan dan menjauhkan mereka dari perjuangan untuk transfomasi sosialis. Berlandaskan karikatur Marxisme—Maoisme (Stalinisme)—yang membagi antara kekhususan kontradiksi (sebab-sebab khusus yang bersifat internal) dan keumuman kontradiksi (sebab-sebab umum yang bersifat eksternal) secara kaku, hingga menciptakan teori kontradiksi pokok yang menetapkan masalah-masalah suprastruktural sebagai persoalan yang harus dipecahkan terlebih dahulu ketimbang kontradiksi internal pada basis ekonomi masyarakat—maka perjuangan untuk mengakhiri penindasan perempuan dan LGBT diarahkan semata untuk mengupayakan perubahan supra-struktur politik, ideologi, dan budaya yang relatif (reformasi), daripada memperjuangkan perubahan basis-struktur yang mendasar (revolusi).

Sebagai konsekuensi dari landasan teori yang keliru inilah mengapa dalam praktiknya mereka mempertontonkan perjuangan untuk kesetaraan gender dan penghapusan diskriminasi seksual secara vulgar. Tanpa kejelasan teoritik untuk penggulingan masyarakat kelas dengan membangun kepemimpinan revolusioner dalam mengobarkan perjuangan kelas revolusioner untuk menegakkan kediktatoran proletariat dan melancarkan transformasi sosialis, maka aktivitas organisasi dan gerakan yang mereka lakukan secara tak-terelakkan memperlihatkan kecenderungan borjuis-kecil yang merosot. Di tengah krisis masyarakat kapitalis, dengan tekanan-tekanan hidup yang luar biasa tajam; maka tanpa pengorganisasian diri dengan berbasiskan teori yang benar, setiap orang yang berjuang melawan penindasan dan penghisapan kapitalisme rentan terseret dalam kubangan dehumanisasi dan demoralisasi yang serius. Di organisasi-organisasi mahasiswa radikal yang memperjuangkan pembebasan perempuan dan LGBT hari-hari ini, penyimpangan dan kemerosotan tersebut menjadi tragedi kemanusiaan yang memilukan. Atas nama ‘kebebasan’, laki-laki dan perempuan mengonsumsi alkohol sebebas mungkin dan ketika mereka berada dalam kondisi tidak-sadar mudah sekali berhubungan seksual satu sama lainnya hanya dengan mengikuti sisi kebinatangan mereka yang lebih rendah. Dan atas dalih ‘persetujuan’, laki-laki dan perempuan juga begitu gampang melakukan hubungan-intim hanya karena setuju-sama-setuju tanpa memerlukan komitmen cinta dan kasih-sayang sebagai pasangan-intim yang menunjukkan sisi kemanusiaan yang lebih tinggi. Di sektor mahasiswa, pergaulan dan kedekatan yang irasional dan destruktif macam ini populer dengan istilah “Friends with Benefits”. Relasi-relasi percintaan yang liberal macam ini mengutamakan pengejaran kesenangan fisiologis dan rangsangan seksualitas daripada mendorong perkembangan intelektual dan moral yang dibutuhkan untuk memajukan perjuangan revolusioner.  Dan, di antara mereka, teori-teori feminis borjuis dan borjuis-kecil yang memuja otonomi-diri, kebebasan dan persetujuan individu dijadikan sebagai sandaran dalam hubungan seksual mereka.

Di ranah akademik, laki-laki dan perempuan borjuis-kecil lapisan atas dan bawah menerima sudut pandang postmodernis dan interseksionalitas untuk membenarkan aktivitas-aktivitas politik maupun hubungan-hubungan percintaan mereka. Dengan memeluk postmodernisme, dan khususnya interseksionalisme dalam perjuangan emansipasi perempuan, mereka mendekati persoalan eksploitasi dan opresi dalam masyarakat kapitalis dengan menekankan pada pengalaman subyektif, bahasa, pemikiran dan perilaku-perilaku individu semata. Postmodernisme mencampakkan meta-narasi, pemikiran rasional dan obyektif, dan menggantinya dengan pemikiran-pemikiran subyektif dan absurd dari individu-individu yang berpretensi bahwa dirinya bebas untuk menciptakan aneka teori baru dan otentik yang seturut dengan pengalaman-pengalaman unik dan kepentingan-kepentingan personal mereka. Dalam menghadapi masalah-masalah seksisme, misogini dan femisida di bawah kapitalisme, pendekatan interseksionalitas—yang menggambarkan berbagai bentuk penindasan secara terpotong-potong dan tumpang-tindih dalam konfigurasi yang berbeda-beda untuk masing-masing individu maupun kelompok-kelompok identitas, sehingga mestilah diselesaikan secara terpisah-pisah tanpa menyatukan semua yang tertindas di bawah kepemimpinan revolusioner—dipopulerkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan perempuan dan LGBT dengan memisahkan mereka dari perjuangan kelas revolusioner untuk mengakhiri kapitalisme. Namun dalam praktiknya, perjuangan untuk emansipasi dan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, tidak dapat dimenangkan dengan berpedomankan postmodernisme dan interseksionalisme. Teori dan metode ini sangat absurd karena mendasarkan dirinya pada filsafat idealisme; yang ingin mengubah masyarakat bukan dengan menempuh perjuangan revolusioner untuk terlebih dahulu menghancurkan basis ekonomi kapitalisme, tetapi dengan menempuh perjuangan reformis yang ingin mengubah masyarakat dengan terlebih dahulu mengubah supra-struktur politik, ideologi dan budaya yang ada sebelum mengubah struktur ekonomi yang mendasarinya.

“Jadi, bagi kaum Marxis, masalah ‘pembingkaian’ atau cara orang berpikir tentang penindasan pada dasarnya bukanlah suprastruktural. Gagasan bahwa pemikiran dan bahasa adalah kekuatan dominan yang membentuk realitas sosial berasal dari idealisme filosofis, sedangkan kaum Marxis mendekati sejarah dari sudut pandang materialis dan berpendapat bahwa realitas sosiallah yang membentuk pemikiran. Kita tidak dilahirkan dengan pandangan dunia yang matang, dan pandangan yang kita kembangkan seiring berjalannya waktu juga tidak jatuh begitu saja dari langit. Apa yang kita pelajari dan yakini tentang dunia akan dipengaruhi dan dibentuk oleh kondisi material dan sosial pada zaman sejarah di mana kita hidup dan cara produksi apa yang mendasari bagaimana masyarakat diorganisasikan. Hal ini tidak berarti bahwa setiap pemikiran atau elemen budaya adalah produk langsung dari basis ekonomi masyarakat, namun basis ekonomi meletakkan landasan umum bagi pandangan-pandangan dominan pada zaman tertentu dan memberikan batasan-batasan tertentu pada cara kita berpikir. Tentu saja bukan hanya individu-individu yang mempunyai posisi berkuasa saja yang memegang dan menggunakan ide-ide diskriminatif demi kepentingan sempit mereka sendiri. Setiap hari pekerja dan rakyat miskin juga disosialisasikan dengan sikap ini. Ide-ide dominan dalam masyarakat adalah ide-ide dari kelas penguasa, yang di bawah kapitalisme adalah kaum borjuis. Kelas kapitalis mengandaikan sikap diskriminatif untuk menjaga kelas pekerja tetap terpecah berdasarkan ras dan etnis, bahasa, jenis kelamin dan gender, agama dan banyak perpecahan lainnya. Perpecahan ini mempunyai banyak fungsi seperti menciptakan tekanan terhadap upah dan ‘perlombaan ke bawah’ antara pekerja dan negara-negara yang bersaing dan menghalangi mayoritas kelompok yang tereksploitasi dan tertindas untuk bersatu melawan pengeksploitasi dan penindas mereka, yaitu kaum borjuasi. Kelas borjuis memiliki dan mengontrol sarana utama untuk menyebarkan ide-ide seperti media besar dan media budaya. Ide-ide kelas penguasa juga direproduksi melalui gereja, sistem pendidikan dan keluarga. Isi pemikiran kita dibentuk melalui lembaga-lembaga tersebut, yang mencerminkan masyarakat kapitalis. Kapitalisme memaksa kelas buruh [dan kaum muda] ke dalam persaingan yang tidak-manusiawi dan kejam yang mendistorsi cara kita berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain. Manusia tidak dilahirkan secara serakah atau diskriminatif, namun dibesarkan dalam masyarakat individualistis yang mengadu-domba kita satu sama lain dan menggunakan prasangka-prasangka yang memecah-belah untuk menghalangi kita bersatu. Oleh karena itu, menentang cara kita berpikir tanpa mengubah kondisi material dan sosial yang menimbulkan sikap diskriminatif merupakan pendekatan terbatas untuk melawan penindasan. Penekanan pada pemikiran dan gagasan yang terpisah dari asal-usul sosial dan material pasti menghasilkan pemahaman subyektif-individualis mengenai penindasan, sehingga menyimpang dari akar struktural ekonomi dan berisiko mengatomisasi gerakan tersebut.”

Di tengah krisis kapitalisme dan kekosongan kepemimpinan revolusioner hari-hari ini, gagasan-gagasan reaksioner termasuk—pandangan para politisi liberal, aktivis radikal, dan akademisi borjuis-kecil—mengenai emansipasi gender dan seksual sudah terlampau mencemari kehidupan kaum muda. Ketika pengangguran dan kemiskinan menjadi umum, dengan serangan-serangan terhadap standar hidup yang bertambah tajam, dan sistem masyarakat kapitalis secara keseluruhan mengalami pembusukan; maka ekspresi paling terang dari kemunduran tersebut menyeruap dalam bidang kebudayaan. Dalam momen-momen keruntuhan tatanan lama, bilik-bilik pemikiran mendapat hantaman yang mendalam. Dan, sebagai kelas sosial yang paling berkecukupan waktu-luang dan berkebudayaan, intelektual-intelektual borjuis-kecil menjadi lapisan yang pertama digoncang oleh keadaan demikian. Di sekolah-sekolah, kampus-kampus, bahkan di dalam organisasi dan gerakan muda sekalipun, pemikiran-pemikiran subyektif dan vulgar menanamkan pengaruhnya dengan mendorong mahasiswa dan pelajar dalam pergaulan yang dekaden. Dalam hubungan antara kedua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan diseret dalam relasi cinta yang ‘bebas’: orang-orang muda berpacaran bergonta-gantian dan berhubungan seksual dengan satu-demi-satu laki-laki atau perempuan tanpa berlandaskan pengetahuan yang memadai dan kesadaran akan cinta yang manusiawi, karena hubungan mereka sebatas menekankan pada hasrat untuk mengejar sensasi dan kepuasan seksual yang dibenarkan menggunakan pandangan-pandangan yang membela kebebasan individu yang irasional dan egois. Asalkan dalam percintaan dan perhubungan-badan mereka didahului dengan persetujuan, dilakukan secara sukarela, atau tidak nampak adanya dominasi dan kekerasan; maka aktivitas yang mereka lancarkan dipandang sebagai salah satu bentuk ekspresi kebebasan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Inilah praktik cinta dan seksualitas yang paling umum dalam masyarakat borjuis; di mana hubungan dua jenis kelamin diperlakukan secara terisolasi sebagai urusan masing-masing individu tanpa memahami fakta bahwa relasi kedua individu itu berkarakter sosial, dan oleh karenanya, berhubungan dengan masyarakat. Artinya, dalam hubungan cintanya, individu laki-laki dan perempuan haruslah membangunnya di atas komitmen dan orientasi yang dapat memajukan kehidupan umat manusia; mendorong perkembangan kemanusiaan ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan kata lain, relasi antara dua jenis kelamin mesti disubordinasi di bawah kepentingan dan perjuangan kelas revolusioner.

Dalam “Lenin on the Women’s Question: From My Momerandum Book”, praktik dan teori mengenai cinta-bebas atau seks-bebas yang berkembang di tengah pergaulan hidup kaum muda dikritik. Bahkan organisasi dan gerakan muda yang di masa-masa krisis, perang dan revolusi, menempatkan pertanyaan-pertanyaan seksual sebagai ‘studi favorit’ juga mendapat kritik. Hubungan antara dua jenis kelamin yang dekaden dan menghancurkan perkembangan intelektual dan moral revolusioner tidak bisa dibiarkan apalagi diterima begitu saja, karena kereaksioneran gagasannya dan destruktivitas praktisnya mengambil peran yang sangat brutal dan melemahkan kekuatan-tempur revolusioner dalam perjuangan kaum buruh dan muda. Dan, para pemuda—pelajar dan mahasiswa, terutama buruh muda—yang merupakan lapisan sosial paling berbudaya dan tidak-terpengaruh oleh unsur-unsur konservatisme—takkan mungkin dibiarkan untuk menghabiskan waktu, tenaga, dan seluruh sumber dayanya dalam persoalan seks dan menenggelamkan dirinya dalam topik seksualitas yang tidak memadai. Orang-orang muda adalah percikan yang akan mengobarkan api revolusi proletariat dan masa depan revolusi dunia ada di tangan mereka. Lenin menyampaikan bahwa dalam perjuangan revolusioner ini kelas proletar membutuhkan kekuatan angkatan muda. Mereka harus segera dimenangkan ke sisi Marxisme, dengan menyatukan mereka di bawah Kepemimpinan Bolshevisme. Lenin menyerukan: ‘kooptasi semua orang yang jujur dan energetik! Kita harus dengan teramat segera, menyatukan semua orang yang punya inisiatif revolusioner dan segera mengirim mereka untuk bekerja. Jangan takut kalau mereka kurang terlatih, jangan takut kalau mereka tidak berpengalaman dan belum berkembang, karena peristiwa-peristiwa akan mengajari mereka dengan semangat kita. Peristiwa-peristiwa sudah mengajari semua orang dengan semangat Bolshevik’. Lenin bukanlah meragukan energi, antusiasme, tekad dan militansi kaum muda dalam mendukung perjuangan revolusioner, namun untuk mendapatkan kekuatan inilah perlunya mereka diorganisir di bawah kepemimpinan revolusioner; yakni, kekuatan mereka harus dipusatkan dalam sebuah organisasi bagi kaum revolusioner profesional yang berpedoman pada teori yang paling maju, untuk memberi gerakan buruh dan muda ekspresi yang terorganisir dan sadar. Pada diskusinya dengan Clara Zetkin, Lenin bertutur:

“Saya diberitahu bahwa pertanyaan seksual juga merupakan studi favorit organisasi pemuda Anda. Seharusnya pembicaraan yang tidak memadai mengenai topik ini dikurangi. Kesalahpahaman seperti ini sangat merugikan, khususnya berbahaya bagi gerakan muda. Mereka dapat dengan mudah berkontribusi terhadap kegembiraan yang berlebihan dalam kehidupan seksual sebagian dari mereka, sehingga menyia-nyiakan kesehatan dan kekuatan masa muda. Anda juga harus melawannya. Ada banyak titik kontak antara gerakan perempuan dan pemuda. Kawan-kawan perempuan kita harus bekerjasama secara sistematis dengan kaum muda. Sebagai kelanjutan, perluasan, dan pengagungan keibuan dari individu ke ranah sosial. Dan semua kebangkitan kehidupan sosial dan aktivitas perempuan harus didorong, sehingga mereka dapat membuang keterbatasan-keterbatasan psikologi keluarga dan rumah tangga individualis filistin mereka…. Di negara kita juga, sebagian besar generasi muda tertarik untuk ‘merevisi konsepsi dan moralitas borjuis’ mengenai pertanyaan-pertanyaan seksual. Dan, saya harus menambahkan, sebagian besar dari generasi muda kita yang terbaik dan paling menjanjikan. Apa yang Anda katakana sebelumnya adalah benar. Dalam kondisi yang diciptakan oleh perang dan revolusi, nilai-nilai ideologi lama memudar atau kehilangan kekuatan pengikatnya. Nilai-nilai baru mulai mengkristal perlahan, dalam perjuangan. Dalam hubungan antara lakil-laki dan laki-laki, antara laki-laki dan perempuan, perasaan dan pikiran mengenai revolusi. Batasan baru sedang dibuat antara hak individu dan hak keseluruhan, dalam tugas individu. Namun masalahnya masih dalam kekacauan total. Arah, kekuatan-kekuatan pembangunan dalam berbagai kecenderungan yang saling-bertentangan belum dapat ditentukan dengan jelas. Ini adalah proses pembusukan dan pertumbuhan yang lambat dan sering kali sangat menyakitkan. Dan khususnya dalam bidang hubungan seksual, perkawinan dan keluarga. Kebusukan, korupsi, kekotoran pernikahan borjuis, dengan perceraian yang sulit, kebebasan bagi laki-laki, perbudakan bagi perempuan, kemunafikkan yang menjijikkan dari moralitas dan hubungan seksual memenuhi orang-orang yang berpikiran paling aktif dan terbaik dengan rasa muak yang mendalam.”

“Perubahan sikap remaja terhadap pertanyaan seks tentu saja bersifat ‘mendasar’ dan didasarkan pada teori. Banyak orang menyebutnya ‘revolusioner’ dan ‘komunis’. Mereka dengan tulus percaya bahwa memang demikian adanya. Saya sudah tua, dan saya tidak menyukainya. Saya mungkin seorang petapa yang murung, namun sering kali apa yang disebut sebagai ‘kehidupan seks baru’ di kalangan anak muda dan sering kali juga di kalangan orang dewasa, bagi saya tampak murni borjuis dan sekadar perpanjangan dari rumah borjuis lama yang baik. Semua ini tidak ada hubungannya dengan cinta-bebas sebagaimana kita, orang Komunis, pahami. Pasti Anda pernah mendengar teori terkenal bahwa dalam masyarakat komunis memuaskan hasrat seksual dan hasrat akan cinta adalah hal yang sederhana dan sepele seperti ‘minum segalas air’. Sebagian dari generasi muda kita sudah menjadi gila, benar-benar gila, karena ‘teori segelas air’ ini. Hal ini berakibat fatal bagi banyak anak laki-laki dan perempuan. Para penganutnya menegaskan bahwa ini adalah teori Marxis. Saya tidak ingin ada bagian dari Marxisme yang menyimpulkan semua fenomena dan perubahan dalam supra-struktur ideologis masyarakat secara langsung dan halus dari basis ekonominya, karena segala sesuatunya tidak sesederhana itu. Frederick Engels telah menetapkan hal ini sejak lama berkenaan dengan materialisme sejarah. Saya menganggap ‘teori segelas air’ yang terkenal itu sepenuhnya tidak Marxis dan, terlebih lagi, anti-sosial. Bukan hanya apa yang diberikan alam tetapi juga apa yang telah menjadi budaya, baik tingkat tinggi maupun rendah, yang berperan dalam kehidupan sosial. Engels menunjukkan dalam bukunya ‘Origin of the Family’ betapa pentingnya hubungan seksual biasa yang telah berkembang menjadi cinta seks individual dan dengan demikian menjadi lebih murni. Hubungan antara kedua jenis kelamin bukan sekadar ekspresi pengaruh timbal-balik antara ekonomi dan keinginan fisik yang sengaja dipisahkan untuk pemeriksaan fisiologis. Adalah rasionalisme dan bukan Marxisme yang mencoba merujuk perubahan dalam hubungan ini secara langsung pada basis ekonomi masyarakat dalam isolasi dari hubungannya dengan ideologi secara keseluruhan. Yang pasti, rasa haus harus dipuaskan. Tapi apakah orang normal akan berbaring di selokan dan minum dari genangan air? Atau malah dari gelas yang diujungnya diolesi banyak bibir? Namun aspek sosial lebih penting dari apapun. Minum air sebenarnya merupakan urusan individu. Tapi dibutuhkan dua orang untuk bercinta, dan orang ketiga, kehidupan baru, kemungkinan besar akan terwujud. Akta ini mempunyai corak sosial dan merupakan kewajiban terhadap masyarakat.”

“Sebagai seorang Komunis, saya sama sekali tidak menyukai teori ‘gelas air’, meskipun teori tersebut memiliki label yang menarik: ‘emansipasi cinta’. Selain itu, emansipasi cinta bukanlah novel atau gagasan komunis. Anda pasti ingat bahwa hal ini dikemukakan dalam literatur klasik sekitar pertengahan abad yang lalu sebagai ‘emansipasi hati’. Dalam praktik borjuis, hal ini terwujud dalam emansipasi daging. Hal ini dikhotbahkan dengan bakat yang lebih besar dibandingkan sekarang, meskipun saya tidak dapat menilai bagaimana hal itu dipraktikkan. Bukannya saya menginginkan kritik saya melahirkan asketisme. Itu adalah hal terjauh dari pikiran saya. Komunisme seharusnya tidak membawa asketisme, melainkan kegembiraan dan kekuatan, yang antara lain berasal dari kehidupan cinta yang sempurna. Sedangkan saat ini, menurut pendapat saya, benyaknya kehidupan seks tidak menghasilkan kesenangan maupun kekuatan. Sebaliknya, hal itu justru merugikan mereka. Ini sangat buruk, sangat buruk, di zaman revolusi. Kaum muda khususnya membutuhkan kegembiraan dan kekuatan. Olah-raga yang sehat seperti senam, berenang, pendakian, segala jenis latihan fisik dan berbagai minat intelektual adalah yang mereka butuhkan, begitu pula pembelajaran, kajian dan penelitian, dan sedapat mungkin dilakukan secara kolektif. Hal ini akan jauh lebih bermanfaat bagi kaum muda daripada ceramah dan diskusi tanpa akhir mengenai masalah seks dan apa yang disebut sebagai kehidupan alamiah. ‘Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.’ Jangan menjadi biksu atau Don Juan, tapi jangan juga berada di antara keduanya, seperti orang filistin Jerman. Anda tahu kawan muda X. Dia adalah pemuda yang luar biasa dan sangat berbakat. Untuk semua itu, saya khawatir dia tidak akan pernah berarti apapun. Dia memiliki hubungan cinta satu-demi-satu. Ini tidak baik bagi perjuangan politik dan revolusi. Saya tidak akan menjamin keandalan atau ketahanan perempuan yang hubungan cintanya terkait dengan politik, atau setiap laki-laki yang mengejar setiap rok dalam dan membiarkan diri mereka berhubungan dengan setiap perempuan muda. Tidak, tidak, hal itu tidak sejalan dengan revolusi.”

“Revolusi memerlukan konsentrasi dan penggalangan seluruh keberanian massa dan individu. Ia tidak mentolerir kondisi pesta-pora yang umum terjadi di kalangan pejuang dan pahlawan perempuan yang dekaden. Pergaulan bebas dalam urusan seksual bersifat borjuis. Itu adalah tanda kemunduran. Proletariat adalah kelas yang sedang bangkit. Tidak diperlukan minuman keras untuk membius atau merangsangnya, tidak pula minuman keras yang melemahkan nafsu seksual atau alkohol. Proletariat harus dan tidak akan pernah melupakan keburukan, kekotoran, dan kebiadaban kapitalisme. Ia mendapatkan inspirasi terkuatnya untuk melawan dari keberadaan kelasnya, dari cita-cita komunis. Yang dibutuhkan adalah kejelasan, kejelasan, dan sekali lagi kejelasan. Oleh karena itu, saya ulangi, tidak boleh ada pelemahan, tidak ada pemborosan, dan tidak ada pembuangan energi. Pengendalian-diri dan disiplin-diri bukanlah perbudakan; bukan pula dalam persoalan cinta…. Saya sangat memikirkan masa depan generasi muda kita. Ini adalah bagian tak-terpisahkan dari revolusi. Kapanpun unsur-unsur berbahaya muncul, yang menjalar dari masyarakat borjuis ke dunia revolusi dan menyebar seperti akar rumput liar yang subur, lebih baik kita segera mengambil tindakan untuk melawannya. Pertanyaan-pertanyaan yang harus diatasi ini juga merupakan bagian dari permasalahan perempuan.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

(Berlanjut)

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai