Kategori
Teori

Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 8)

“Bersembunyi di balik topeng idealisme adalah agama dan takhayul. Idealisme, pada analisis terakhir, selalu berupa agama…. Kelas borjuasi pada masa mudanya mendasarkan diri pada rasionalisme, empirisme, dan materialisme. Mereka menyokong sains, filsafat, budaya; dengan kata lain, mereka menyokong ‘Pencerahan’. Namun hari ini, kelas borjuasi semakin hari makin meluncur ke obskurantisme; dogma-dogma irasional seperti postmodernisme dan positivisme telah menjadi gagasan utama untuk membenarkan keberadaannya sendiri. Maka tugas revolusi kini telah jatuh ke pundak kelas proletar, yang tugasnya tidak hanya menggulingkan kapitalisme, tetapi juga masyarakat kelas secara keseluruhan. Seperti dalam semua revolusi sebelumnya, bagian integral dari revolusi proletariat adalah perjuangan ideologi: perjuangan untuk menegakkan materialisme dan pendekatan yang rasional dan ilmiah melawan propaganda idealis reaksioner dari kelas penguasa dan para pendeta tingginya di aula akademisi. Kebenaran, dengan kata lain, sekali lagi telah menjadi senjata revolusioner, kali ini melawan kelas borjuasi.” (International Marxist Tendency)

“Kita menyebut dialektika kita materialis, karena akarnya tidak terletak pada surga atau pada kedalaman ‘kehendak bebas’ kita, namun pada realitas obyektif, pada alam. Kesadaran tumbuh dari ketidaksadaran, psikologi dari fisiologi, dunia organik dari anorganik, tata-surya dari nebula. Pada semua anak tangga ini, perubahan kuantitatif ditransformasikan menjadi kualitatif. Pemikiran kita, termasuk pemikiran dialektis, hanyalah satu bentuk ekspresi materi yang berubah. Dalam sistem ini tidak ada tempat bagi Tuhan, iblis, jiwa abadi, maupun norma-norma hukum dan moral yang abadi. Dialektika pemikiran, yang tumbuh dari dialektika alam, akibatnya memiliki karakter yang sepenuhnya materialis.” (Leon Trotsky)

Teori Kontradiksi Maois menyangkal doktrin relasi internal atau universalitas kontradiksi. Inilah yang memandu Martin Suryajaya dalam mengembangkan “Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer”. Di “On Contradiction”, Mao Zedong membagi totalitas kontradiksi menjadi dua subtansi independen: kontradiksi khusus (sebab-sebab internal) dan kontradiksi umum (sebab-sebab eksternal). Pembagian yang kaku ini dilakukan dengan memberi penekanan terhadap kekhususan kontradiksi tanpa memperhatikan keterhubungannya dengan keumuman kontradiksi, sehingga cenderung memisahkan secara kaku antara pembangunan bagian (sejarah satu negeri) dari pembangunan keseluruhan (sejarah dunia), dan pada akhirnya menciptakan konsepsi yang berat-sebelah tentang peralihan suprastruktural; yang secara sewenang-wenang mengutamakan penyelesaian ‘kontradiksi pokok’ di suprastruktur politik dan budaya, daripada mengatasi kontradiksi internal di basis ekonomi masyarakat borjuasi secara menyeluruh: pertentangan antara tenaga produktif sosial dan relasi produksi kepemilikan pribadi. Dalam “Socialism and Religion”, Lenin berkata: ‘penindasan ekonomi terhadap kelas pekerja pasti akan menimbulkan dan melahirkan segala jenis penindasan politik dan penghinaan sosial, yang menjadikan kehidupan spiritual dan moral masyarakat menjadi kasar dan gelap. Para pekerja bisa mendapatkan kebebasan politik yang [relatif] lebih besar atau lebih kecil untuk memperjuangkan emansipasi ekonomi mereka, namun kebebasan sebesar apapun takkan pernah membebaskan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan penindasan sampai kekuatan modal [di basis ekonomi masyarakatnya] di gulingkan’. Namun Maoisme (Stalinisme) mengabaikan pernyataan tersebut dengan menekankan pada perubahan-perubahan suprastruktur. Dan berangkat dari teori inilah Martin menciptakan metode meditasi kontra-kartesiannya: cara berpikir yang mengandung premis bahwa manusia menafsirkan dunia melalui inderanya, tubuh materialnya—namun menetapkan demarkasi antara subyek yang berpikir (epistemologi) dengan obyek pemikirannya, dunia obyektifnya (ontologi); yakni, membagi realitas material menjadi relasi internal (sesuatu untuk kita) dan relasi eksternal (sesuatu untuk dirinya sendiri), di mana yang terakhir diperlakukan sebagai ‘sesuatu yang absolut’ (dunia yang tidak dapat dipahami; materi yang tidak bisa dijangkau oleh kesadaran, dan karenanya, cukuplah diyakini keberadaannya dengan intuisi semata). Meditasi kontra-kartesian hanyalah sebuah idealisasi borjuis-kecil mengenai pemisahan kaku antara kerja-mental dan kerja-fisik, sehingga secara prinsipil sangatlah bertentangan dengan materialisme dialektis;  karena dengan menetapkan demarkasi yang memutus keterhubungan antara epistemologi dan ontologi, maka yang ditunjukkan bukanlah keberadaan dunia material yang independen dari pikiran manusia tapi menyelundupkan kecenderungan solipsisme (‘hanya aku yang ada’) atau idealisme filosofis—ajaran yang menyatakan bahwa subyeklah yang menentukan keberadaan realitas obyektif. Lewat sebuah ‘Pengantar’ untuk “Materialisme dan Empiriokritisisme”, Alan Woods menulis:

“Materialisme menolak anggapan bahwa pikiran dan kesadaran adalah sesuatu yang terpisah dari materi. Pikiran hanyalah cara keberadaan otak yang seperti kehidupan itu sendiri, hanyalah materi yang diorganisir dengan cara tertentu. Pikiran adalah apa yang kita sebut sebagai keseluruhan aktivitas otak dan sistem saraf. Namun, secara dialektis, keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Visi ini erat kaitannya dengan penemuan ilmu-pengetahuan, yang secara berangsur menemukan cara kerja otak dan mengungkap rahasianya. Sebaliknya, idealisme tetap menampilkan kesadaran sebagai ‘misteri’, sesuatu yang tidak dapat kita pahami. Hal ini mengacaukan hubungan fisik dan sebab-akibat antara pikiran yang berpikir dan tubuh manusia. Apa yang disebut ‘pertanyaan pikiran-tubuh’ muncul karena fakta bahwa fenomena mental tampak berbeda secara kualitatif dari tubuh fisik yang menjadi tempat bergantungnya fenomena tersebut. Namun materialisme yang konsisten menyatakan bahwa pikiran dan tubuh adalah satu subtansi. Kecenderungan idealistis dalam filsafat setidaknya sama tuanya dengan Plato dan Pythagoras, yang memandang dunia fisik sebagai tiruan yang buruk dari Ide (Forma) yang sempurna, yang sudah ada sebelum dunia ada. Ini adalah visi yang sesuai dengan kepentingan kelompok lobi agama, yang sangat aktif membela segala sesuatu yang masih bisa dipertahankan dari prasangka primitif tentang jiwa, kehidupan setelah kematian, dan segala omong kosong keagamaan lainnya … Tersembunyi di balik topeng idealisme filosofis adalah agama dan takhayul. ‘Jiwa yang suci dan abadi’ yang terkunci di dalam tubuh material yang kotor, tidak-sempurna, berumur pendek, merindukan pelepasan pada saat kematian, ketika kita ‘bereinkarnasi’ dan melayang ke surga (jika kita beruntung). Sepanjang sejarah, agama menjadi penghambat kemajuan ilmu-pengetahuan. Gereja memusuhi kemajuan ilmu-pengetahuan karena setiap langkah maju dalam ilmu-pengetahuan menghilangkan dasar takhayul keagamaan lainnya. Agama didasarkan pada keyakinan buta, bukan pengetahuan ilmiah. Hal ini didasarkan ketakutan akan hal yang tidak diketahui dan oleh karena itu hal yang tidak diketahui adalah sekutu terbesarnya. Itulah sebabnya semua agama didasarkan pada mistisisme, obskurantisme, mukjizat, dan sebagainya.”.

Pada pemikiran Martin, baik dalam “Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer” maupun “Materialisme Dialektis sebagai Metode”, pengakuan terhadap ‘relasi eksternal’ (ontologi) yang terpisah dari ‘relasi internal’ (epistemologi) menjadi cela yang memberi ruang untuk diterimanya dogma-dogma keagamaan: keyakinan buta yang berlandaskan ketidaktahuan dari subyek yang berpikir (kesadaran) terhadap obyek pemikirannya (dunia materialnya). Di Indonesia, begitu riuh kaum pergerakan menaruh perhatian dan memeluk karikatur dari Marxisme seperti itu—baik revisionisme intelektual-intelektual borjuis-kecil akademik maupun Maoisme (Stalinisme) aktivis-aktivis kiri. Di organisasi-organisasi politik, alat-alat publisitas dan embrio dari partai mereka; penerapan materialisme dialektis terhadap perjuangan kelas (sejarah) nampak digabungkan secara eklektik dengan penerimaan yang sentimentil akan obskurantisme agama. Sejauh ini, seabrek propaganda-propaganda mereka menunjukkan bagaimana ide-ide keagamaan secara eklektis digabungkan dengan Marxisme. Jika sudut pandang ini dijadikan sebagai pemandu perjuangan kelas, maka akan sangat membingungkan, menyesatkan dan meluncurkan ke jurang kekalahan. Kaum buruh dan muda—yang hidupnya menderita di bawah eksploitasi dan opresi kapitalisme yang tak-terperikan—tidak membutuhkan ide-ide borjuis-kecil yang secara diam-diam mengaburkan realitas dengan membuka pintu belakang untuk mistisisme, kreasionisme, agnostisisme, obskurantisme, dan lain-lain. Penghisapan dan penindasan, kemelaratan dan kesengsaraan, pemerkosaan dan pelecehan, kebrutalan dan penghinaan, pembantaian dan pengrusakan perkembangan kemanusiaan dalam masyarakat kapitalis adalah kenyataan obyektif yang mampu dipahami oleh manusia. Ini bukanlah takdir Tuhan, dewa, iblis, atau apapun yang tidak-terhubung dalam relasi subyek-obyek yang nyata! Ini adalah kekuatan buta yang ada di alam, masyarakat, dan pikiran manusia yang harus diatasi dengan perjuangan untuk revolusi sosialis dunia; untuk memajukan kemanusiaan dengan membawa kehidupan umat manusia ke tingkatan historis yang lebih tinggi.

Agama—yang merupakan ekspresi dari kelemahan manusia dalam menaklukan kekuatan buta yang ada di alam, masyarakat, dan dalam dirinya sendiri—telah menjadi mekanisme pertahanan diri psikologis yang mendalam yang diwarisi dari masa lalu yang jauh. Meskipun corak-corak produksi pra-kapitalis di mana agama mendapat posisi suprastruktural yang cukup kuat telah dihancurkan, tetapi jejaknya telah terpatri begitu dalam di alam bawah sadar manusia hingga sisa-sisanya bertahan sampai kini. Ini didorong oleh hasrat manusia untuk mempertahankan eksistensinya. Ilusi yang telah dibangun selama berabad-abad lamanya takkan mudah disingkirkan begitu saja. Tanpa serangkaian guncangan besar yang menghancurkan keseimbangan sosio-ekonomi yang ada, maka orang-orang tetap bersikukuh memeluk kepercayaan lamanya. Namun ketika badai, banjir hujan, dan gempa bumi politik yang dahsyat mulai mengguncang kepercayaan massa terhadap tatanan masyarakat hari-hari ini, maka mereka akan berlarian kesana-kemari untuk menyelamatkan diri. Namun dengan berlandaskan ajaran-ajaran konservatif tidak ada kemajuan yang dapat dicapai. Dalam keadaan inilah agama dan segala prasangka terdahulu akan diganti dengan paham-paham baru yang mampu memberikan pemahaman yang memadai mengenai situasi dan secara revolusioner dapat digunakan untuk memandu perjuangan historis massa. Dalam “Brailsford and Marxism”, Leon Trotsky berkata: ‘ide-ide keagamaan, seperti ide-ide lainnya, yang lahir dari kondisi material kehidupan dan terutama dari kontradiksi kelas, hanya perlahan-lahan hilang dan kemudian hidup dengan kekuatan konservatisme lebih lama dari kebutuhan yang melahirkannya dan lenyap sepenuhnya hanya setelah dampak guncangan dan krisis sosial yang serius’. Marxisme mengajarkan untuk menolak keberadaan entitas supranatural dalam bentuk apapun. Karl Marx menegaskan: ‘ketidaktahuan tidak akan pernah menyelamatkan siapapun’. Dan cara berpikir yang memberikan tempat untuk ‘ketidaktahuan’, ditarik ke kesimpulan rasionalnya, akan menjadi ‘visi yang sesuai bagi kepentingan kelompok lobi agama’.

Dalam revisionisme “Materialisme Dialektis” Martin Suryajaya, metode meditasi kontra-kartesian—yang memberikan pengakuan terhadap keabsolutan ‘relasi eksternal’—menyediakan ruang istimewa untuk obskurantisme. Di IndoPROGRESS, pemikiran-pemikiran keagamaan diberi saluran begitu rupa. Martin dan rekan-rekan sekelasnya merupakan kontributor utamanya. Dengan aneka artikel yang berkecenderungan idealisme filosofis, seabrek intelektual borjuis-kecil secara eklektik menggabungkan Marxisme dan agama. Dalam “Marxisme dan Ketuhanan yang Maha Esa”, Martin memberitahukan bahwa materialisme dialektika menerima ide-ide tentang Tuhan yang Maha Esa. Rekannya, Muhammad Ridha—yang memperkenalkan dirinya sebagai Marxis akademik dan merupakan salah satu pemimpin reformis Partai Buruh—menyambut hangat ide tersebut dengan menulis “Tuhan sebagai Eksepsi: Perihal Teologi Materialis”. Ide-ide ketuhanan mereka berusaha mendamaikan Marxisme dan obskurantisme keagamaan. Di In Defence of Tendency (IDOM), Alan Woods menulis artikel-artikel yang memberikan peringatan bahwa agama adalah apa-yang-disebut oleh kaum Marxis sebagai ‘kesadaran palsu’; ‘karena agama mengarahkan pemahaman kita menjauh dari dunia dan menuju kepada sesuatu yang lain, yang tidak dapat kita ketahui apapun dan tidak ada gunanya bahkan untuk bertanya sekalipun. Seluruh sejarah ilmu-pengetahuan berangkat dari dua asumsi mendasar: (1) dunia ada di luar diri saya dan (2) saya dapat memahami dunia ini, dan bahkan jika ada hal-hal yang saya tidak ketahui sekarang, setidaknya saya mampu untuk mengetahuinya di masa depan. Menetapkan demarkasi yang tidak bisa dilanggar oleh pengetahuan manusia berarti membuka pintu bagi segala macam mistisisme dan takhayul’. Di organisasi bagi kaum revolusioner proletar, organisasi politik yang berdasarkan Marxisme yang sejati—kecenderungan-kecenderungan keagamaan haruslah dihadapi dengan mengobarkan perjuangan teoritis untuk memahami dan membela materialisme dialektika. Lewat “A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right Introduction”, Marx menyatakan: ‘agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas, jantung dari dunia yang tidak berperasaan, dan jiwa dari keberadaan yang tidak berjiwa. Itu adalah candu masyarakat’.

Marxisme menerangkan bahwa agama adalah pandangan dunia yang penuh kebimbangan, karena menghadirkan kesan yang menyimpang dari realitas obyektif. Agama begitu dingin karena tidak mempunyai roh pada dirinya sendiri, dan oleh karenanya, keberadaannya hanyalah sebuah pancaran yang ditentukan oleh hubungan-hubungan sosio-ekonomi dalam perjuangan kelas yang konkret. Karl Marx menjelaskannya secara puitis: ‘ajaran-ajaran agama adalah ajaran-ajaran yang relatif. Di satu sisi, ajaran ini dapat digunakan oleh kelas penguasa untuk menindas, dan di sisi lain ajaran-ajaran ini dapat digunakan oleh kelas yang tertindas untuk melawan penindasan. Penafsiran pada ajaran-ajaran ini tergantung pada kelas mana yang menafsirkannya, dan itu artinya ajaran-ajaran agama, sesungguhnya, hanya hasil ciptaan manusia, dan hasil penafsiran manusia. Dengan begitu, di satu sisi agama adalah hati dari dunia yang tidak memiliki hati karena hati dari agama adalah milik manusia bukan milik agama itu sendiri. Hati agama menjadi bengis ketika agama melayani orang-orang yang bengis, dan hati agama menjelma menjadi kasih-sayang dan cinta yang bercahaya ketika melayani orang-orang yang penuh kasih dan cinta. Aku tidak menganjurkan manusia menghancurkan semangat spiritualnya, aku menunjukkan bahwa agama dan Tuhan hanyalah hasil ciptaan dan penafsiran agung manusia. Ketika manusia yang tertindas menyadari bahwa agama adalah hasil ciptaan manusia sendiri, manusia akan semakin memanusiakan hasil ciptaannya itu dan membersihkan spiritualitasnya dari kebengisan melalui perjuangan kelas demi mewujudkan cita-cita kehidupan tanpa kelas, tanpa penindasan antar-manusia yang mereka sebut-sebut sebagai “Taman Surga”—taman tempat penindasan antar-manusia telah musnah, dan taman seperti ini dapat tercipta karena hasil dari perjuangan manusia sendiri’. Agama, pada analisa terakhir: merupakan ekspresi dari kontradiksi yang tak-terdamaikan dalam masyarakat berkelas—pertentangan antara kelas penindas dan kelas tertindas. Di masyarakat kelas awal, pemujaan terhadap Dewa Babilonia Marduk mengekspresikan pembagian kerja dan masyarakat menjadi dua kelas: pendeta-pendeta yang melakukan kerja-mental di kuil-kuil dan menikmati hak-hak istimewa sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi, dan para penebang kayu dan tukang air—yang melakukan kerja-manual—mengumpulkan persembahan terbaik untuk melancarkan pelaksanaan ritual-ritual pemujaan terhadap sesembahannya. Dalam “What is Historical Materialist?” dan “Marxism and Religion”, agama dijelaskan oleh kamerad Woods dengan metode dialektika materialis yang diterapkan pada sejarah:

“…agama dalam arti sebenarnya (berlawanan dengan sihir, totemisme, dan animisme pada masyarakat tanpa kelas sebelumnya) muncul dari pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas yang antagonis, dan merupakan ekspresi dari kontradiksi-kontradiksi tak-terpecahkan yang timbul dari hal ini. Pada periode paling awal, kenangan samar akan masa lalu ketika semua orang setara masih tetap hidup [masyarakat komunal-primitif]. Ia berbentuk mitologi dalam gagasan ‘zaman keemasan’, dan muncul dalam Alkitab dalam bentuk Taman Eden. Ide-ide ini mengungkapkan rasa kehilangan dan kerinduan akan dunia kebahagiaan yang hilang. Agama berupaya mengatasi rasa kontradiksi ini, melunakkan dampaknya, mendamaikan laki-laki dan perempuan dengan realitas penderitaan dan eksploitasi dengan menampilkannya sebagai kehendak Tuhan, atau akibat kegagalan manusia dalam menaati Tuhan, atau keduanya. Hubungan psikologis antara manusia dengan dewa-dewa [yakni, gambaran menyimpang dari alam dan masyarakat—realitas material yang disimpangkan oleh ‘ketidaktahuan’ keagamaan] yang mereka ciptakan untuk diri mereka sendiri memberi tahu kita banyak hal tentang kondisi nyata umat manusia. Bukan rahasia lagi bahwa dewa-dewa suatu masyarakat hanyalah cerminan dari masyarakat tersebut, cara produksinya, hubungan sosialnya, moralitasnya, dan prasangkanya. Seperti yang kami tulis dalam ‘Nalar yang Memberontak’: ‘bukan Tuhan yang menciptakan manusia menurut gambarnya sendiri, tetapi sebaliknya, laki-laki dan perempuan yang menciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa mereka sendiri. Ludwig Feuerbach mengatakan jika burung punya agama, Tuhan mereka akan memiliki sayap. ‘Agama adalah sebuah khayalan yang di dalamnya konsepsi dan emosi kita tampak sebagai keberadaan yang terpisah, wujud dari diri kita sendiri. Pikiran keagamaan tidak membedakan antara subyektif dan obyektif [dalam hubungan-hubungan timbal-baliknya yang nyata]—tidak ada keraguan; ia memiliki kemampuan, bukan untuk membedakan hal-hal lain selain dirinya sendiri, tetapi untuk melihat konsepsinya tentang dirinya sendiri sebagai makhluk yang terpisah dengan dirinya sendiri’. Hal ini telah dipahami oleh orang-orang Xenophanes dari Colophon, yang menulis ‘Homer dan Hosiod telah menganggap para dewa melakukan setiap perbuatan yang memalukan dan tidak-terhormat di antara manusia: mencuri dan berzina dan menipu satu sama lain’….”

“Namun dewa-dewa ini bukan sekadar salinan realitas, melainkan realitas yang dilihat melalui kacamata agama—sebuah dunia yang terasing, mistis, kacau-balau di mana segala sesuatu berada di atas kepalanya. Mereka adalah segala sesuatu yang diinginkan manusia tetapi tidak mereka dapatkan. Mereka memiliki atribut yang ingin dimiliki dan dicita-citakan oleh manusia, namun mereka gagal didapatkan. Dalam pengertian ini, agama mewakili kerinduan akan hal-hal yang tak bisa dicapai. Namun perasaan religius ini juga mengandung unsur lain: kerinduan mendalam akan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Ketika petani yang kelaparan dan tertindas berseru kepada Tuhannya, ia berseru untuk keadilan, dan karenanya menentang ketidakadilan, kekejaman dan ketidakmanusiawian di dunia. Keyakinan akan kesetaraan dan persekutuan umat beriman ini sering kali diungkapkan dalam bentuk komunisme primitif, seperti yang terjadi pada umat Kristen awal … Gerakan massa yang dipicu oleh keyakinan tersebut pada periode awal Islam dan Kristen mengguncang dunia. Namun, karena tidak adanya perkembangan yang diperlukan dalam alat-alat produksi, umat manusia terpaksa bekerja keras dan menderita selama dua ribu tahun lagi di bawah perbudakan kelas. Impian kesetaraan dan persaudaraan hancur. Di belakang tuan tanah—dan kemudian kapitalis—berdiri tidak hanya raja duniawi dengan tentara, polisi dan sipir penjara, tetapi polisi dan sipir penjara spiritual. Perlawanan terhadap status-quo tidak hanya dihukum dengan api dan pedang, tetapi juga dengan ekskomunikasi dan siksaan abadi. Putus-asa akan segala kemungkinan untuk memperoleh keadilan di dunia manusia yang nyata, ia pasrah pada pemikiran bahwa keadilan dapat ditemukan—di balik kubur [atau di akhirat setelah kematiannya]…. Dalam masyarakat kelas, konsep ‘kasihanilah sesamamu manusia’ tidak ada gunanya. Perekonomian kapitalis dengan moralitas anjing-makan-anjing, kebijakan pengemis-tetangga, dan lain-lain, menjadikan hal ini sulit, bahkan mustahil. Untuk mengubah tingkah-laku dan psikologi laki-laki dan perempuan, pertama-tama kita perlu mengubah cara hidup mereka. Dalam perkataan Marx: ‘keberadaan sosial menentukan kesadaran’. Seluruh dunia didominasi oleh monopoli raksasa yang menjarah bumi, merusak planet ini, menghancurkan lingkungan dan menyebabkan jutaan orang hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan yang tak-tertahankan. Tuan dan nyoya yang duduk di dewan direksi perusahaan multinasional ini sebagian besar beragama Kristen, dan lebih sedikit lagi yang beragama Yahudi, Islam, Hindu, dan agama-agama lain. Namun, agama dalam masyarakat kapitalis yang sebenarnya bukanlah satupun dari hal-hal tersebut. Ini adalah pemujaan terhadap Mammon, dewa kekayaan [yaitu ‘uang’]. Kapitalisme menjungkirbalikkan hubungan manusia. Begitu menyimpang dan terdistorsinya sehingga kita menyebut seseorang sebagai orang yang ‘bernilai satu juta dolar’—seolah-olah kita sedang berbicara tentang sebuah barang-dagangan. Televisi mengacu pada bursa saham, pasar, dolar dan pound seolah-olah mereka adalah makhluk hidup (‘pound sedikit lebih baik hari ini’). Inilah yang dimaksud dengan alienasi: yang mati (modal) dianggap hidup dan yang hidup (manusia, buruh) dianggap mati, remeh, tidak ada artinya.”

Hanya di bawah kapitalismelah produksi-untuk-pertukaran menjadi dominan. Pengembangan-pengembangan teknik tidaklah sebatas mendorong produktivitas umat manusia, tetapi juga meningkatkan pembagian kerja melalui proses spesialisasi yang menciptakan aneka produk berbeda-beda dan menguniversalkan pertukaran komoditas. Produksi dan pertukaran menjadi hukum universal dalam masyarakat kapitalis: setiap produk kerja sosial tidak dapat langsung dikonsumsi; semua barang dan jasa dipertukarkan dengan uang sebagai penyetara nilai universal dan ekspresi kekuasaan yang terasing dari kerja manusia. Dalam masyarakat kapitalis, jalannya eksploitasi dan penindasan begitu terselubung dibanding zaman kuno. Pada era feodal, tani-hamba selain berhari-hari berproduksi untuk tuan-tanah juga di hari tertentu berkesempatan bekerja demi pemeliharaan dirinya sendiri. Sementara dibandingkan masa perbudakan, Marx pernah menjelaskan ini: ‘dalam kerja budak, bahkan bagian dari hari kerja di mana budak hanya menggantikan nilai kebutuhan hidupnya sendiri, di mana ia sebenarnya bekerja untuk dirinya sendiri, tampak sebagai kerja untuk tuannya. Semua pekerjaannya muncul sebagai kerja yang tidak dibayar. Sebaliknya, dalam kerja-upahan, bahkan kerja-lebih, atau kerja yang tidak dibayar, tampak sebagai kerja berbayar. Dalam satu kasus, relasi kepemilikan menunjukkan kerja budak untuk dirinya sendiri; dalam kasus lain, hubungan uang menyembunyikan kerja yang tidak dibayar dari kerja-upahan’. Contoh tipikalnya dipertontonkan PT Panarub Industry (PI) yang tampil sebagai sub-kontraktor dari Adidas-Salomon AG (Imperialis Jerman) dalam membuat sepatu di Indonesia. Saat pertama kali beroperasi, perusahaan itu mengikuti UMK Tangerang untuk menggaji buruhnya. Dalam sebulan pekerja-pekerjanya dituntut bekerja 26 hari (karena dikurangi 4 hari libur setiap hari Minggu) yang sehari berlaku 8 jam kerja. Setiap harinya buruh (anggaplah) rata-rata memproduksi sampai 4 pasang sepatu yang harga per pasangnya bervariasi: Adidas Copa Sense (Rp 550.000 per pasang), Adidas Orketro Shoes (Rp 2.600.000 per pasang), Adidas Ultraboost (Rp 3.300.000 per pasang), dan sebagainya. Sedangkan dalam sebulan buruh telah menempuh 208 jam kerja dan menghasilkan 104 pasang sepatu. Jika sepatu yang dihasilkannya adalah Adidas Copa Sense maka berapa nilai yang telah dihasilkan buruh(?): 208 jam kerja = 104 pasang sepatu Copa Sense = Rp 57.200.000. Tetapi dengan perhitungan kerja-upahan maka Panurab Industry hanyalah menggaji buruhnya seturut UMK Tangerang (2022/2023)—yang dihitung setiap satu jamnya Rp 21.154, satu harinya Rp 169.230, dan sebulannya Rp 4.400.000. Kaum kapitalis menganggap kerja-upahan dengan upah sebesar itu sebagai kewajaran. Ini berdasarkan klaim kepemilikannya terhadap sarana dan prasarana produksi, mesin dan teknologi, bahan-bahan, hingga buruh-buruh yang dipekerjakan. Padahal nilai-lebih sebagai motor penggerak perekonomian kapitalisme dan sumber keuntungan kapitalis tidak dihasilkan secara sepihak, tetapi dengan mengekspropriasi kerja-lebih dari kaum produsen selama berjam-jam.

Saat ini perkembangan teknik dan kapasitas produksi umat manusia telah mencapai tingkat yang mencengangkan, namun produksi kapitalisme bukanlah semata-mata tentang intensifitas pembagian kerja dan penciptaan barang-dagangan; karena pada hakikatnya produksi kapitalisme adalah menyangkut penghisapan nilai-lebih. Konsep tentang nilai-lebih berkait dengan kerja-produktif dalam hubungan antara kapital dan proletar—eksploitasi: (1) peningkatan nilai-lebih absolut dengan memperpanjang keseluruhan hari kerja dan (2) peningkatan nilai-lebih relatif dengan memperpendek waktu kerja-perlu yang dibayar dan memperpanjang kerja-surplus yang tidak-dibayar. Namun dalam kegiatan produksi kapitalisme bentuk-bentuk eksploitasi ini menjadi kabur karena semua kerja nampak seperti dibayar dengan sistem kerja-upahan. Atas dasar pengupahan kelas borjuis memandang telah menunaikan kewajibannya ketika mempekerjakan buruh-upahan. Padahal tak seluruh kerja buruh dibayarkan. Saat memproduksi komoditas, proletar bukan sebatas melakukan kerja-konkret untuk menghasilkan nilai-guna yang berbentuk barang dan jasa secara fisik, tapi juga kerja-abstrak untuk menciptakan nilai-tukar. Kerja-abstrak ini bukanlah merupakan fungsi yang dijalani ketika bekerja: menjahit, memintal, memutar, menarik, mengangkut, berkendara, dan sebagainya. Kerja-abstrak berhubungan dengan tenaga-kerja, keseluruhan kemampuan mental dan fisik, kolaborasi antara pikiran, perasaan, dan kehendak. Dalam kerja-upahan, kapitalis hanya membayar fungsi-fungsi kerja dan menolak memberikan bayaran untuk kerja-abstrak. Sementara nilai-tukar pada produk-produk kerja tidak diberikan oleh fungsi kerja (kerja-konkret, nilai-guna dari kerja), melainkan tenaga kerja atau kemampuan kerja ‘yang hidup’ dan digunakan selama waktu tertentu (kerja-abstrak, nilai-tukar dari kerja) yang perlu dipulihkan kembali melalui reproduksi (di lingkungan keluarga atau rumah tangga) dengan menunaikan pertukaran (konsumsi atas barang-barang di pasar). Inilah satu-satunya sumber nilai-lebih bagi kapitalis; kerja-abstrak yang bukan saja menghasilkan dan mengurung nilai-lebih dalam komoditas sebagai potensi, tapi juga ikut merealisasikannya di pasar-pasar. Demikianlah kerja-abstrak sesungguhnya adalah aktivitas produksi sekaligus konsumsi. Namun hasil-hasil produksi dalam masyarakat kapitalis tidak dapat dinikmati oleh kelas pekerja untuk memenuhi kebutuhan materialnya dan memajukan fakultas-fakultas pikiran, perasaan, dan kehendaknya. Kapitalisme justru memperlihatkan bagaimana kerja manusia menjadi arena penghancuran tenaga produktif. Proses produksi menempatkan kaum produsen sebagai makhluk yang teralienasi. Kepemilikan pribadi terhadap alat produksi telah memisahkan antara kerja-mental dan kerja-fisik, hingga mengondisikan proletariat terasing dari pekerjaannya: alat kerja, hasil kerja, dirinya dan sesamanya. Secara dialektis, kerja yang dilakukan tak sekadar tercerabut dari pekerja tapi lebih-lebih menjadi bumerang yang berbalik menyerang pekerja. Begitulah perkakas produksi tiada melayani penggunanya melainkan menjelma sebagai bumerang yang memaksa buruh untuk menyesuaikan diri dengan beroperasinya mesin-mesin yang mempersengit pembagian kerja dan meningkatkan persaingan, kelelahan, dan keterasingan dalam produksi kapitalisme. Alienasi yang berlangsung pada aktivitas produksi selanjutnya meluas lewat pertukaran komoditas, karena kelas proletar tidak saja menciptakan nilai-lebih bagi kapitalis tapi juga menjadi konsumen dalam merealisasikan nilai-lebih dengan membeli komoditas-komoditas yang telah diproduksinya. Dari kondisi inilah keterasingan kerja tidak sekadar bersemayam pada aktivitas produksi tetapi merangsek jauh melalui konsumsi yang melibatkan sebanyak mungkin rakyat pekerja. Demikianlah kaum Marxis meninjau persoalan keterasingan—merujuk pada proses produksi dan reproduksi manusia yang berlangsung dalam hubungannya dengan kerja, alat kerja, dan hasil kerjanya; relasi antara manusia dengan alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dalam “Teori Marxis tentang Keterasingan”, George Novack menerangkannya:

“Keterasingan telah menjadi ciri umum sejarah manusia. Keterasingan telah muncul semenjak zaman primitif, dan terus berlanjut hingga zaman manusia modern. Keterasingan kerja merupakan ciri khas peradaban manusia, dan terikat dengan perkembangan alat produksi dan hubungan produksi…. Kendali manusia yang semakin besar terhadap alam diikuti oleh hilangnya kendali terhadap proses produksi selama proses produksi masih sederhana dan aktivitas kerja  dilakukan secara kolektif dalam kehidupan manusia primitif. Namun, perluasan pembagian kerja secara sosial menyebabkan semakin banyak barang-barang kebutuhan hidup yang diubah menjadi komoditas, dan dipertukarkan di pasar [demi akumulasi kapital kelas borjuasi]. Kondisi seperti ini membuat kaum pekerja kehilangan kendali terhadap hasil kerja mereka, karena hasil-hasil produksi tunduk pada hukum pasar komoditas. Pada gilirannya, hukum itu mengatur kehidupan kaum pekerja sedemikian rupa, sehingga kaum pekerja sendiri menjadi komoditas untuk diperjual-belikan di pasar tenaga kerja. Dalam kondisi seperti ini, perbudakan terhadap tenaga kerja adalah sistem keterasingan kerja yang terorganisasi…. Keterasingan yang diderita oleh kelas pekerja berbasis pada sejarah kepemilikan pribadi terhadap alat-alat produksi. Kepemilikan pribadi itu memungkinkan untuk merampas surplus komoditas yang diproduksi oleh kelas pekerja. Tidak ada yang misterius dalam mengungkapkan asal-usul keterasingan dalam masyarakat yang telah terbagi dalam kelas. Keterasingan muncul sebagai akibat dari pemisahan tenaga kerja dari hasil produksinya, dan pemisahan tenaga kerja dari alat-alat produksi. Ketika alat produksi berada di luar kontrol kelas pekerja, mereka kehilangan kendali terhadap hidup mereka, kehilangan kebebasan mereka, dan kehilangan sarana-sarana untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka…. ”

Sepanjang kelangsungan masyarakat kelas, agama selalu menjadi salah satu ekspresi keterasingan manusia. Mengenai kepercayaan keagamaan modern, Marxisme memandang bahwa ketidaktahuan atau obskurantisme—yang merupakan elemen utama dari setiap agama—berakar pada eksploitasi dan opresi terhadap kelas pekerja serta keputusasaannya di hadapan irasionalitas kapitalisme. Sebuah kepemimpinan dengan partainya yang secara serius memperjuangkan pembebasan umat manusia dari belenggu eksploitasi dan opresi kapitalisme tidak bisa membiarkan ketidaktahuan masuk lewat pintu belakangnya. Namun pernyataan ini tak dapat dilebih-lebihkan untuk disajikan sebagai pandangan yang menyatakan perang terhadap umat beragama. Kaum Marxis tidaklah menyerukan pertempuran melawan orang-orang tereksploitasi dan tertindas yang memeluk agama ini atau itu, melainkan melancarkan perjuangan tanpa ampun untuk menyingkirkan tabir gelap dan menyingkapkan kepentingan kelas penguasa yang berlindung di balik kedok agama. Dalam masyarakat kapitalis, kita menyaksikan bagaimana agama digunakan sebagai alat pengekang kehidupan berjuta-juta laki-laki dan perempuan pekerja. Di tengah tuntutan mengoperasikan perkakas tanpa henti, dengan jam kerja yang fleksibel dan upah murah, tanpa jaminan keselamatan dan kesejahteraan, ditambah pelecehan dan kekerasan seksual yang meraja—kaum buruh masih saja diwajibkan menaati ketentuan-ketentuan agama untuk sembahyang, memohon pertolongan Tuhan, mengikuti pengajian dan mendengarkan ceramah-ceramah yang berisi anjuran-anjuran berhubungan baik dengan bos dan pentingnya pengejaran surga semata. Di Gudang Shopee Xpress di Mataram, setiap malam Jumatnya yasinan dan doa-doa dipanjatkan begitu rupa. Di Surabaya dan Yogyakarta, aneka perusahaan bahkan membuka lowongan pekerjaan yang mamatutkan syarat bekerja dengan kewajiban sholat lima waktu dan berhijab supaya mendapat pahala dan manjauhkan dari zina. Di Morowali dan Halmahera Tengah, bahkan ada-ada saja upaya dari badan orang-orang bersenjata untuk mengaitkan ledakan-ledakan smelter dengan ketidaktaatan dari buruh-buruh yang beragama dalam mengindahkan perintah dan larangan Tuhannya.

Di bawah kapitalisme, penipuan keagamaan yang lebih berat lagi ditimpahkan kepada perempuan pekerja. Agama pertama-tama memandang perempuan secara buruk: perempuan digambarkan sebagai penyebab dosa asal yang dengan kecantikan parasnya menggoda laki-laki sehingga keduanya melakukan persetubuhan tanpa seizin Tuhan, dan oleh karena perbuatan tersebut, dua-duanya diusir-keluar dari taman firdaus di langit untuk diturunkan ke dunia material yang kotor. Agama memberitahu bahwa perzinahan adalah dosa pertama umat manusia. Pada masyarakat kelas yang keji ini, keyakinan naïf itulah yang terus-menerus dipertahankan kelas penguasa untuk mengekang keluarga-keluarga kelas pekerja. Di tangan mereka, kontrol terhadap alat reproduksi ditegakkan sebagai urusan negara. Agama dan negara melegalkan hubungan seksual dalam pranata perkawinan dan memperlakukan hubungan seksual di luar nikah sebagai dosa berat yang dapat dipenjara dan setiap bayi yang lahir atas hubungan ini distigma sebagai anak haram yang tidak diakui hak-haknya. Hubungan yang paling alami bagi perempuan dan laki-laki ini ditekan oleh kelas penguasa begitu rupa, dengan perempuan yang dijadikan sebagai tawanan yang paling menderita. Ajaran Kristen melukiskan penderitaan perempuan itu dengan gambaran Perawan Maria yang berduka atas ketiadaan kebahagiaan yang bisa diharapkan dalam kehidupannya di muka bumi. Dalam “Marxism and Religion”, Alan Woods memberitahu: ‘agama dari generasi-ke-generasi telah menyembunyikan nasib perempuan yang tidak-bahagia. Dan apa yang benar bagi agama Kristen sama benarnya atau bahkan lebih benar bagi agama-agama lain. Ada doa Yahudi kuno, “Terberkatilah Engkau, ya Tuhan, yang tidak menjadikanku perempuan.” Di negara-negara muslim tertentu, penindasan terhadap perempuan telah mencapai bentuk yang ekstrem—seperti di Iran, dan yang lebih buruk lagi, Afghanistan. Di India, tradisi Hindu selama berabad-abad mengutuk para ibu tunggal untuk melemparkan diri mereka ke dalam tumpukan kayu bakar jenazah suami mereka.’ Di seabrek negeri bermayoritas Islam, tradisi masa lalu seperti sunat perempuan juga masih dipertahankan dengan pengerahan badan khusus orang-orang bersenjata untuk menundukkan keluarga-keluarga pekerja. Pada masyarakat kelas pra-kapitalis, yang sebagian kecil sisa-sisanya masih bertahan dalam masyarakat kapitalis, keberadaan perempuan direduksi menjadi budak dari laki-laki yang merupakan budak dari pemilik alat produksi. Inilah fenomena yang akrab dalam hari-hari di rumah tangga pekerja; yakni, perempuan menjadi budak dari budak-upahan yang menjual kemampuan kerjanya. Dalam “Tentang Eksploitasi dan Penindasan Perempuan”, kami telah menerangkannya:

“Ditundukkannya semua sumber mata pencaharian terdahulu oleh kekuatan modal mengondisikan semua tenaga produktif dan cadangan-cadangan tenaga produktif dalam masyarakat kapitalis untuk menjual kemampuan kerjanya. Walhasil, kelas borjuis tak sekadar mengubah sebanyak mungkin pekerja pra-kapitalis menjadi buruh-upahan, melainkan pula meremukkan hubungan-hubungan keluarga kuno yang tersisa. Keluarga-inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak dikikis demi mendapatkan buruh-buruh berupah murah. Sistem kekeluargaan lama yang mendasari dirinya di atas penghasilan ayah akhirnya digantikan dengan cetakan keluarga dan rumah tangga borjuis dengan pendapatan perorangan sebagai dasarnya. Meskipun kaum feminis borjuis dan borjuis-kecil kerap kali mendiskusikan bentuk-bentuk penindasan perempuan, tapi tidaklah mampu beringsut dari penjelasan usang dan kekeliruan teori patriarki—dominasi maskulinitas atas feminimitas; kekuasaan laki-laki atas perempuan. Mereka secara naïf meyakini ketertindasan perempuan mengakar dalam patriarkisme dan menyarankan perempuan untuk berjuang melawan dominasi laki-laki menggunakan cara apapun. Harus diakui: kapitalisme telah menghancurkan keberadaan keluarga patriarkal dan menarik sebanyak-banyaknya perempuan dalam arena produksi sosial, namun persoalan perempuan masih berlanjut dengan beban yang bertambah kompleks. Perempuan dalam masyarakat kapitalis tidak sekadar dilemahkan melalui pekerjaan domestik, tapi juga dihisap oleh kerja-upahan di pabrik-pabrik raksasa. Begitulah tergesernya perempuan dari dominasi patriarki kontan membawanya ke rawa-rawa penindasan terbaru: seksisme dan femisida. Menajamnya eksploitasi dalam masyarakat kapitalis dengan waktu kerja yang panjang, kondisi kerja yang buruk, dan, upah yang rendah memperdalam ketertindasan perempuan. Meski bukanlah laki-laki yang menjadi musuh utama perempuan, tetapi keberadaan sosial rakyat pekerja di bawah kapitalisme mempertentangkan keduanya sebagai buruh-upahan yang harus saling-bersaing dengan sesamanya—baik laki-laki melawan laki-laki, perempuan melawan perempuan, maupun laki-laki melawan perempuan. Engels sekali lagi menerangkan, ‘Persaingan adalah ekspresi terlengkap dari pertempuran semua melawan semua yang mengatur masyarakat kontemporer. Pertempuran ini, perjuangan untuk hidup, untuk keberadaan, untuk segalanya, jika perlu pertempuran hidup dan mati, diperjuangkan bukan hanya antara kelas-kelas masyarakat yang berbeda, tetapi juga antara anggota individu dari kelas-kelas ini. Masing-masing menghalangi yang lain, dan masing-masing berusaha untuk menyingkirkan semua yang menghalangi jalannya, dan menempatkan dirinya di tempat mereka. Kaum buruh selalu bersaing di antara mereka sendiri seperti halnya para anggota borjuasi di antara mereka sendiri … Tetapi persaingan di antara kelas pekerja ini adalah sisi terburuk dari keadaan saat ini dalam pengaruhnya terhadap pekerja, [menjadi] senjata paling tajam melawan proletariat di tangan borjuasi’.”

“…Hanya di bawah kapitalisme, persaingan antara rakyat pekerja laki-laki dengan perempuan terlampau tajam. Fakta-fakta alamiah dalam mengandung, melahirkan, menyusui, dan menstruasi tidaklah dianggap karakteristik yang inheren pada kaum perempuan, tetapi diperlakukan sebagai faktor biologis untuk mendiskriminasi dan menerapkan upah murah kepada perempuan-perempuan proletar. Kelas borjuis mempekerjakan buruh perempuan yang berjumlah raksasa bukan saja untuk menghasilkan nilai-lebih secara berlimpah, namun pula dihadirkan dan disulap menjadi pesaing bagi laki-laki pekerja. Melalui intesifikasi penggunaan mesin sampai pekerja-pekerja terampil dikurangi dengan menghadirkan pekerja-pekerja non-terampil yang bekerja secara fleksibel dan digaji lebih rendah. Begitulah pemakaian mesin digunakan bukan untuk mempermudah buruh, melainkan menambah memperburuk kondisi kerjanya dengan perpanjangan hari kerja, penyederhanaan keterampilan, dan berujung pemotongan upah dan pengurangan buruh laki-laki untuk digantikan dengan perempuan-perempuan berupah murah. Meningkatnya pemakaian mesin dan penggantian posisi-posisi tenaga terampil dengan tenaga non-terampil tak sebatas memekarkan kontradiksi tenaga produktif dengan mesin, tapi sekaligus mendorong persaingan di antara buruh untuk mempertahankan posisi dan upahnya dari ancaman pemotongan dan pemecatan sepihak. Tetapi diupahnya perempuan secara murah, meningkatnya pembagian kerja dan persaingan dalam bekerja tidak pernah mengistimewakan laki-laki pekerja, melainkan mengakibatkan spiral ke bawah yang menekan kehidupan keluarga dan rumah tangga rakyat pekerja…. Di zaman krisis kapitalisme, eksploitasi terhadap kemampuan kerja umat manusia menggila. Perempuan dan anak adalah korban utamanya. Pada 2020, 142 juta anak dibelenggu kemiskinan dan kelaparan yang begitu rupa. Sepanjang 2016-2020, pekerja-pekerja anak terdeteksi memasuki beragam pekerjaan dengan jumlah beratus-ratus juta. Tahun 2022, UNICEF mengeluarkan laporan: 200 juta anak perempuan maupun laki-laki di seluruh dunia melakukan banyak pekerjaan yang berbahaya secara ‘mental, fisik, sosial, dan moral’. Sebelumnya, 2009-2016 saja, jumlah hari kerja yang hilang mencapai: 146 juta karena sakit dan 15,8 juta akibat stres, depresi dan cemas. Sementara ILO mencatat: 22 ribu anak per tahun tewas saat bekerja dan setiap harinya 60 anak sekarat. Dipekerjakan dengan upah-murah dan kondisi kerja yang buruk; mereka rata-rata telah menempuh 16 jam kerja sehari, tanpa adanya hari libur, mengalami pemukulan, kekerasan seksual, dan berakhir dengan penyakit mental atau kematian mendadak. Krisis yang berlarut-larut keluarga dan rumah tangga rakyat pekerja mengalami goncangan dahsyat. Saat tingkat laba kaum kapitalis menurun, mereka menggencarkan gerak kontra-tendensi dengan memperpanjang waktu-kerja, pemotongan upah, pemecatan sepihak, pemberangusan serikat buruh, hingga meningkatkan eksploitasi perempuan dan anak. Dalam kondisi inilah pelecehan, kekerasan, dan pembunuhan berbasis gender dan seksual membukit. Keterasingan yang dialami buruh-buruh di pabrik meluas seiring dengan peredaran komoditas yang tidak mampu direalisasikan menjadi nilai-lebih. Barang-barang tersedia dengan jumlah yang meraksasa, tapi umat manusia tak mampu untuk membelinya. Saat triliunan dolar setiap detiknya meloncat keluar-masuk di bursa-bursa efek, miliaran keluarga dan rumah tangga rakyat pekerja justru mendera kekurangan uang dan kelebihan utang. Ketika uang sebagai penyetara universal yang mengkristal dalam pertukaran tidak mampu didapatkan, maka beragam kebutuhan hidup takkan pernah terpenuhi. Pekerja-pekerja perempuan, anak-anak dan muda menjadi penanggung beban terberat dari stagnasi ekonomi. Sementara meroketnya inflasi dan resesi lagi-lagi berusaha diselesaikan kelas borjuis dengan kebijakan proteksionisme dan pemotongan subsidi. Akhirnya spiral ke bawah dan tekanan-tekanan hidup membukit.”

“Di tengah krisis kapitalisme, penurunan upah dan peningkatan jam kerja yang mengharuskan terus-menerus berproduksi tanpa jaminan pemenuhan kebutuhan sehari-hari meningkatkan keterasingan rakyat pekerja. Kaum buruh tidak memiliki cukup uang untuk mengonsumsi produk-produk kerjanya. Ini menjadi kontradiksi fundamental dalam masyarakat barang-dagangan: di satu sisi, berlangsung perkembangan yang tak terbatas dari tenaga-tenaga produktif dan kekayaan material masyarakat, yang seluruhnya merupakan komoditas dan menuntut untuk segera direalisasikan menjadi uang-tunai yang harus kembali sirkulasikan; di sisi lain kapitalisme berdiri dengan fakta bahwa kaum produsen tidak sanggup untuk mengonsumsi produk-produk surplus yang berkelimpahan. Marx telah menerangkan: ‘produksi-berlebih secara khusus oleh hukum umum produksi kapital: untuk berproduksi hingga batas yang ditentukan oleh tenaga-tenaga produktif, yaitu mengeksploitasi sebanyak-banyaknya kerja dengan jumlah kapital tertentu, tanpa mempertimbangkan batas aktual pasar atau kebutuhan yang didukung oleh kemampuan untuk membayar’. Efek spiral ke bawah dari sistem yang sedang sekarat sangat menggoncang unit-unit keluarga pekerja. Kapitalisme yang sejak kehadirannya mengandalkan keluarga-inti sebagai unit mandiri penyedia generasi proletar; selama momen-momen kritis berbalik menghancurkan tenaga-tenaga produktif yang telah disediakan rumah tangga kaum buruh. Ayah, ibu dan anak—semuanya telah diseret masuk dalam lingkaran-lingkaran industri. Unit-unit rumah tangga lama mereka telah dikikis dan dirubah. Semuanya bekerja sebagai buruh-upahan, mereka teralienasi saat berproduksi, dan masing-masing membawanya sampai ke rumah-rumah dengan level-level keterasingan yang begitu rupa. Keberadaan keluarganya rakyat pekerja akhirnya disesaki angkara, hingga tekanan-tekanan brutal meledakan tindakan-tindakan ekstrem: perbudakan istri dan anak sebagai pelacur atau pengemis, perselingkuhan bahkan perceraian suami dengan istri, hingga aneka bentuk kriminalitas terhadap perempuan dan anak. Kehancuran keluarga macam inilah yang diterangkan Manifesto Komunis: ‘Dalam kondisi-kondisi proletariat, mereka yang berasal dari masyarakat lama pada umumnya sudah … tenggelam. Proletar adalah tanpa properti; hubungannya dengan istri dan anak-anaknya tidak lagi memiliki kesamaan dengan hubungan keluarga borjuis…. Atas dasar apa keluarga yang sekarang, …? Dengan modal, demi keuntungan pribadi. Dalam bentuknya yang sepenuhnya berkembang, keluarga ini hanya ada di antara kaum borjuis. Tetapi keadaan ini menjadi pelengkap dalam ketiadaan praktis keluarga di kalangan kaum proletar, dan dalam prostitusi publik…. Tepuk tangan borjuis tentang keluarga dan pendidikan, tentang hubungan keramat orangtua dan anak, menjadi semakin menjijikan karena dengan tindakan industri modern semua ikatan keluarga di antara kaum proletar hancur berkeping-keping, dan anak-anak mereka berubah menjadi komoditas sederhana dari perdagangan dan instrumen tenaga kerja’.”

Keluarga merupakan unit sosio-ekonomi paling dasar dalam kehidupan umat manusia, yang sepanjang sejarah mengalami perubahan sesuai dengan struktur ekonomi masyarakat secara keseluruhannya. Berdasarkan konsepsi materialis, faktor penentu dalam sejarah adalah perkembangan kekuatan produktif yang berlangsung melalui aktivitas produksi dan reproduksi kekayaan material dalam masyarakat—aktivitas-aktivitas ini mempunyai karakter ganda: di satu sisi, produksi sarana penghidupan yang meliputi pangan, sandang, papan dan alat-alat yang diperlukan untuk produksi tersebut, dan, di lain sisi, produksi manusia itu sendiri yang menyangkut perkembangan spesiesnya. Namun obskurantisme agama menyangkal ini dengan mengarahkan orang-orang untuk menyepelekan persoalan duniawi dan berfokus memandang ke langit demi mengejar janji-janji surgawi. Demikianlah ketidakmampuan keluarga pekerja untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, hingga perkosaan-perkosaan brutal yang dialami perempuan-perempuan pekerja (dan borjuis-kecil lapisan bawah yang keberadaan sosialnya sangat dekat dengan proletariat) direduksi menjadi pertanyaan-pertanyaan moral dan agama—ini seperti kegagalan dalam membina keluarga, ketidakbecusan membesarkan anak, atau kerusakan akhlak individu. Dalam masyarakat kapitalis, keluarga diperlakukan sebagai unit-unit pembangunan sosial yang terindividualisasi; di mana beban reproduksi dilimpahkan sepenuhnya kepada unit-unit rumah tangga mandiri, yang pemenuhan tugas-tugas rumah-tangganya bergantung pada pendapatan perorangan atau upah—baik untuk membesarkan calon-calon angkatan muda proletar maupun merawat pekerja tua supaya dapat memasuki pabrik setiap harinya. Ini adalah cerminan dari struktur sosio-ekonomi masyarakat borjuasi, yang menekankan pada kepemilikan pribadi hingga pengejaran laba dengan mengorbankan kaum buruh dan keluarganya. Agama di tangan kelas borjuis bertugas melayani kepentingan itu. Penipuan keagamaan mengajar umat manusia dengan semangat perbudakan yang begitu rupa. Laki-laki dan perempuan diajari untuk berpikir bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan yang lemah dan impoten, dan oleh karenanya, membutuhkan bantuan sang penciptanya yang maha kuat dan menghidupkan. Perasaan ketidakberadayaan yang menjadi ajaran setiap agama—dalam hubungan antara manusia dan alam—telah menyeret orang-orang ke lembah keterasingan: ketidaktahuan yang menenangkan, ketakutan yang mengerikan, penghinaan terhadap daging dan kemanusiaan, keputusasaan dalam memperjuangkan perubahan mendasar di dunia kenyataan, dan kepercayaan irasional akan keajaiban-keajaiban Tuhan. Dalam “Marxism and Religion”, Alan Woods menerangkan:

“Sebenarnya, sebagian besar orang pada zaman dahulu tampaknya sangat acuh-tak-acuh terhadap pertanyaan tentang apa yang akan terjadi pada mereka setelah kematian. ‘Kehidupan’ setelah kematian bagi orang-orang Yunani adalah tempat yang sangat tidak menarik, sebuah dunia kelabu, tempat roh-roh yang mengoceh tanpa keceriaan. Orang-orang Mesir memiliki pandangan yang lebih menarik tentang akhirat, yang di dalamnya terdapat makanan dan anggur, musik, gadis-gadis yang menari telanjang [di atas dipan yang di bawahnya mengalir sungai-sungai], dan di mana setiap kebutuhan seseorang akan dipenuhi oleh sepasukan budak. Namun, bagi orang Mesir, akhirat adalah monopoli kelas penguasa, yang makam-makamnya yang monumental menampilkan kekayaan dan kemewahan yang sama megahnya dengan yang mereka nikmati secara langsung. Faktanya, di Tiongkok dan semua masyarakat kelas awal lainnya, prospek kehidupan setelah kematian hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan, pemimpin, raja, dan pahlawan. Ini adalah hak istimewa lain yang dinikmati oleh elit penguasa, atau lebih tepatnya, hanya kelanjutan setelah kematian dari hak istimewa yang nikmati semasa hidup—hak istimewa yang sat dikecualikan bagi masyarakat luas [yang tertindas, terhisap dan miskin]. Dengan agama Kristen, surga pada akhirnya di demokratisasikan—semua orang diperbolehkan—namun ada konsekuensinya. Harganya kurang-lebih adalah mengorbankan hidup di dunia demi mengharapkan hal-hal yang lebih baik di masa depan [alam yang lain]. Memang benar, orang-orang kaya di dunia ini terancam hukuman berat atas dosa-dosa mereka. Hal ini mungkin membuat beberapa orang khawatir. Namun secara umum, kelas penguasa memandang dengan penuh ketenangan hati terhadap kemungkinan siksaan api neraka di masa depan, dan lebih memilih untuk mengabdikan diri mereka pada kesenangan yang tenang atas kekayaan dan hal-hal baik dalam hidup mereka, sambil membiarkan masa depan mereka mengurus dirinya sendiri. Namun bagi masyarakat miskin [dan kelas pekerja], penerimaan pasif terhadap dunia yang penuh kesakitan dan penderitaan di lembah air mata [dan darah] ini adalah harga dari janji kebahagiaan di masa depan setelah kematian. Janji ini telah membuat jutaan laki-laki dan perempuan terabaikan, kelelahan dalam kehidupan yang penuh kerja keras, penderitaan fisik dan mental tiada akhir.”

Dalam perjuangan untuk eksistensi manusia menghadapi alam atau perjuangan kelas yang konkret antara proletar melawan borjuis, agama tidak dapat menjelaskan apapun secara memadai dan gagal memberikan pemahaman yang berguna untuk mengangkat kemanusiaan dari kegelapan eksploitasi dan penindasan masyarakat kelas. Obskurantisme, mistisisme, dan takhayul dalam setiap agama bukanlah pengetahuan rasional yang memberikan keselamatan, tetapi hanyalah dogma-dogma yang menyuguhkan ilusi-ilusi dan janji-janji palsu untuk menghibur kaum terhisap dan tertindas. Sepanjang sejarah perjuangan kelas dalam masyarakat, kepercayaan-kepercayaan keagamaan yang memiliki pemeluk dalam jumlah besar diinstitusi menjadi agama-agama resmi; yakni, melalui lapisan atasnya diserap untuk menjadi bagian dari negara dan memanfaatkan perasaan inferioritas untuk memperbudak manusia demi menumpuk kekayaan material ke tangan segelintir kalangan yang berhak istimewa dan mempertahankan status-quo kelas yang berkuasa. Agama yang terserap ke dalam negara dimanfaatkan untuk menekankan ilusi dan janji ilahiah kepada massa supaya jutaan laki-laki dan perempuan bersabar atas segala penderitaan yang dialami dan mengumpulkan sebanyak mungkin pahala dalam kehidupan duniawi demi mendapat balasan surgawi setelah kematian nantinya. Oleh kelas penguasa, satu-satunya perjuangan yang diizinkan untuk umat beragama adalah persiapan untuk mati. Dengan kata lain: perjuangan hidup yang nyata diabaikan demi perjuangan yang penuh ilusi. Dalam absurditas inilah setiap yang terhisap dan tertindas bukan sekadar diarahkan untuk memandang ke angkasa dan mengabaikan musuh-musuh kelasnya yang sebenarnya di bumi, tetapi lebih jauh diseret untuk menukar prospek kebahagiaan sejati yang bisa diperjuangkan di kehidupan saat ini dengan kebahagiaan palsu di akhirat nanti. Lewat sebuah novel Marxis yang diberi judul “Marx Muda; Cinta, Persahabatan, dan Perjuangan Kelas”, Raoul Peck merekam dialog Marx terkait agama dan perjuangan massa:

“Tuhan! Mereka meyakini Tuhan akan mendukung perjuangan mereka, dan menyambut mereka di ‘Taman Surga’, dan taman di mana sedang mereka perjuangkan: Keadilan, Kesetaraan, dan Persaudaraan antar semua manusia. Tuhan yang mereka anggap mendukung perjuangan dan sedang menunggu mereka itu tidak lain adalah diri mereka sendiri. Mereka berjuang untuk diri mereka sendiri, dan Tuhan yang menunggu mereka itu sebenanrnya mereka menunggu diri mereka sendiri memenangkan perjuangan mereka melawan penindasan…. Kepedihan, kesengsaraan, dan kesusahan yang dialami manusia dicerminkan secara terbalik oleh manusia sendiri ke dalam cermin yang bernama agama. Agama mengajarkan Tuhan maha pengasih dan maha penyayang. Ajaran seperti ini sebenarnya hanya ingin menunjukkan manusia seharusnya tidak ditindas oleh sesamanya, manusia seharusnya saling mengasihi dan menyayangi. Ketika manusia saling menindas, manusia yang tertindas berjuang untuk membebaskan diri dari penindasan berdasarkan semangat perjuangan mereka karena mereka berjuang bukan karena ingin merengkuh kasih sayang dari Tuhan. Mereka, justru, harus menyadari bahwa agama adalah hati dari dunia yang tidak memiliki hati—tidak memiliki belas kasihan, agama adalah roh yang sama sekali tidak memiliki jiwa. Agama adalah candu bagi kaum tertindas, alat untuk membenarkan penindasan bagi kaum penindas, dan alat untuk menjinakkan perlawanan kaum tertindas terhadap kaum penindas.”

Dan Engels mengingatkan: ‘dengan mengisap candu, manusia merasakan dirinya dihibur, dan rasa sakit dan kesengsaraannya dihilangkan oleh candu yang diisapnya. Rasa yang menipu manusia itu sendiri karena pada kenyataannya manusia tetap hidup dalam kesakitan dan kesengsaraan. Fungsi kedua sebagai penghasil perasaan euforia. Manusia yang mengisap candu merasa nyaman dan gembira secara berlebihan, bahkan rasa kesakitan dan kesengsaraan dia anggap sebagai bagian dari kenyamanan dan kegembiraan. Fungsi ketiga sebagai perusak psikologi dan fisik manusia. Secara psikologis, manusia yang mengonsumsi candu secara terus-menerus akan menjadi gila, dan secara fisik, manusia yang mengonsumsi candu terus-menerus organ-organ tubuhnya akan rusak dan membusuk’. Dalam masyarakat kapitalis, candu macam ini menjadi pelarian paling menenangkan bagi kaum terhisap dan tertindas. Di hari-hari perempuan pekerja, agama menjadi obat bius yang dipeluk untuk meringankan beban hidup, penderitaan dan kesakitan mereka yang tak-terperikan. Agama menjadi satu-satunya pelarian yang dapat diakses dengan mudah untuk sejenak melepaskan diri dari persoalan-persoalan eksploitasi dan opresi yang mengerikan. Perempuan-perempuan yang secara fisik dan mental dihancurkan oleh sistem masyarakat yang tidak-manusiawi ini melaksanakan aneka aktivitas ibadah untuk meminta pertolongan, kekuatan, dan kasih-sayang dari Tuhan. Mereka berkeluh-kesah tentang masalah-masalah duniawi, berharap semuanya dapat diatasi dengan kemahakuasaan ilahiah, dan setelah kematian nantinya mendapat balasan surgawi sesuai yang dijanjikan untuk orang-orang yang beriman. Inilah penghiburan yang agama berikan kepada para pemeluknya. Agama tidaklah memberikan solusi yang memadai untuk mengakhiri penghisapan dan penindasan dalam masyarakat kapitalisme, karena obskurantisme keagamaan menggantikan pembangunan dunia material yang nyata dengan pengejaran kehidupan abadi di akhirat yang sama sekali tidak-ada dan penuh dengan khayalan yang mengada-ada. Dalam “Marxism and Religion”, Alan Woods menjelaskannya begitu rupa:

“…mengapa agama masih menguasai pikiran jutaan orang? Agama menawarkan kepada laki-laki dan perempuan penghiburan setelah kematian. Materialisme filosofis menyangkal kemungkinan hal seperti itu. Pikiran, gagasan, jiwa—semua ini adalah produk materi yang diorganisasikan dengan cara tertentu. Kehidupan organik muncul dari kehidupan anorganik pada tahap tertentu, dan demikian pula, bentuk kehidupan sederhana—bakteri, organism bersel tunggal, dan lain-lain—berevolusi menjadi bentuk yang lebih kompleks yang melibatkan tulang punggung, sistem saraf pusat, dan otak. Keinginan untuk hidup selamanya setidaknya setua peradaban—mungkin masih lebih tua. Ada sesuatu dalam diri kita yang menolak gagasan bahwa ‘aku’ suatu hari nanti harus lenyap. Dan tentu saja, meninggalkan dunia indah yang dipenuhi dengan sinar matahari dan bunga-bunga, angin yang menerpah wajah, suara air, kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai—untuk memasuki dunia kehampaan yang tak ada habisnya—sulit untuk diterima atau bahkan untuk dipahami. Oleh karena itu, sejak awal, manusia telah mencari persekutuan khayalan dengan dunia roh non-materi di mana—diyakini—sebagian dari diri kita akan terus hidup…. Permasalahannya adalah kehidupan yang dijalani oleh sebagaian besar laki-laki dan perempuan di masyarakat saat ini sangatlah sulit, tidak dapat ditoleransi, atau setidaknya tidak ada artinya, sehingga gagasan tentang kehidupan setelah kematian tampaknya merupakan satu-satunya cara untuk memberikan makna pada kehidupan tersebut…. Tapi apa jadinya hidup tanpa materi? Kehancuran tubuh fisik berarti berakhirnya kehidupan individu. Benar, triliunan atom yang menyusun tubuh kita tidak hilang, melainkan muncul kembali dalam kombinasi yang berbeda. Dalam pengertian ini kita semua abadi, karena materi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Memang benar, ada penganut spiritualis yang bersikeras bahwa mereka mendengar suara-suara meskipun tidak ada makhluk fisik. Jawabannya cukup sederhana: jika ada suara, pasti ada ‘pita suara’—kalau tidak kita tidak tahu apa itu suara. Bersuaralah sekuat tenaga, Anda tidak dapat memisahkan satupun manifestasi ‘aktivitas kehidupan manusia’ kita dari tubuh material…. Tapi apa salahnya mempercayai kehidupan lain? Tampaknya tidak banyak. Namun, bukankah tidak baik jika kita mendidik laki-laki dan perempuan secara salah, dan mendorong mereka untuk membangun kehidupan mereka berdasarkan ilusi? Sejauh kita mengesampingkan semua ilusi dan melihat dunia sebagaimana adanya, dan diri kita sendiri sebagaimana adanya, kita dapat memperoleh pengetahuan yang diperlukan untuk mengubah dunia dan diri kita sendiri.”

“Diri kita sebagai pribadi-pribadi individual terikat erat dengan tubuh material kita dan tidak mempunyai eksistensi yang tersendiri dan terpisah dari tubuh material ini. Kita dilahirkan, kita hidup dan mati, sama seperti semua organisme hidup lainnya di alam semesta. Setiap generasi harus menjalani hidupnya dan memberi jalan bagi generasi baru yang ditakdirkan untuk menggantikan kita. Aspirasi terhadap keabadian, hak yang dibayangkan untuk hidup selamanya, pada dasarnya bersifat egois dan tidak realistis. Daripada membuang-buang waktu untuk memperjuangkan ‘dunia lain’ yang tidak ada, kita perlu berusaha menjadikan dunia ini tempat yang layak untuk ditinggali. Karena bagi sebagian besar laki-laki dan perempuan yang dilahirkan ke dunia ini, pertanyaannya adalah bukan apakah ada kehidupan setelah kematian, melainkan apakah ada kehidupan sebelum kematian? Pengetahuan bahwa hidup ini sementara, bahwa kita dan orang-orang yang kita cintai tidak akan selalu ada di sini, jauh dari rasa cemas, seharusnya mengilhami kita dengan cinta yang penuh gairah terhadap kehidupan, dan hasrat yang membara untuk menjadikannya lebih baik bagi semua orang. Kita tahu bahwa setiap bunga dilahirkan untuk layu, dan dalam arti tertentu, kefanaan mekarnya memberikan keindahan yang tragis. Namun kita juga tahu bahwa alam berkembang kembali setiap musim semi, dan bahwa siklus abadi kelahiran dan kematian yang merupakan inti dari setiap makhluk hidup adalah apa yang memberi kehidupan rasa pahit dan manisnya, bahwa komedi dan tragedi, tawa dan air mata adalah yang membuat hidup menjadi kaya dengan mozaik sensasi manusia. Ini adalah takdir kita yang tidak bisa dihindari sebagai manusia. Karena kita adalah manusia, bukan dewa, dan harus menerima kondisi kemanusiaan kita. Kita mempunyai kelemahan dibanding dewa [yang tidak ada] karena kita fana. Namun kita juga mempunyai keuntungan besar dibandingkan mereka karena kita sebenarnya ada dengan daging dan darah, sementara mereka hanyalah khayalan belaka.”

Di tangan kelas penguasa, khayalan akan kehidupan kedua yang lebih baik dan penuh nikmat menjadi iming-iming yang disebarluaskan untuk mengatasi perjuangan massa. Dalam masyarakat kapitalis, obskurantisme agama dipupuk guna melancarkan eksploitasi dan penindasan yang begitu rupa. Badan orang-orang bersenjata tidak sekadar melakukan kontrol dan pengawasan melalui borgol, penjara dan seperangkat aturan legal melainkan pula menggunakan belenggu spiritual secara brutal. Kelas pekerja yang dihancurkan secara mental dan fisik atas penerapan jam kerja yang panjang, upah yang rendah, dan serangan-serangan standar hidup yang tajam, diceramahi dengan ajaran-ajaran keagamaan yang menuntut mereka untuk mendiamkan perlakuan sewenang-wenang dan keji itu. Agama menganjurkan proletariat untuk bersabar dan ikhlas dalam menghadapi perlakuan-perlakuan buruk borjuasi. Agama memberitahukan kalau siksaan dan penderitaan hidup di dunia yang dilalui dengan tabah dan sabar akan mendapat balasan yang terbaik dari Yang Maha Kuasa. Di akhirat, Tuhan diyakini pasti menepati janji-janjinya kepada orang-orang yang beriman dengan memasukan hamba-hambanya yang terhisap dan tertindas ke surga dan menyeret gerombolan penindas dan penghisap ke neraka. Tuhan diberitahukan adalah hakim yang paling adil untuk hamba-hambanya. Tidak ada yang dapat menentang kehendak-Nya. Tugas umat beragama hanyalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Agama mengajarkan bahwa esensi dari kehidupan umat manusia adalah ibadah; yakni, berserah-diri dengan tunduk dan patuh untuk menyembah Tuhan semata. Dogma inilah yang terus-menerus dirawat untuk meredam kemarahan dan perlawanan kaum buruh. Borjuasi membentuk kementerian dan lembaga-lembaga pemerintahan yang mengatur urusan agama masyarakatnya. Setiap harinya negara mencampuri urusan-urusan masyarakat keagamaan melalui beragam perangkat kekuasaannya. Tempat-tempat ibadah modern, sekolah maupun kampus, koran dan televisi, serta beragam alat publisitas yang ada memborbardil pikiran laki-laki dan perempuan pekerja dengan dogma-dogma yang menjebak dalam ketenangan-ketenangan semu. Inilah mengapa aktivitas-aktivitas reproduksi di rumah tangga-rumah tangga rakyat pekerja di mana momen-momen yang seharusnya dapat digunakan untuk beristrahat dalam rangka memulihkan tenaga, atau waktu-waktu luang yang sangat terbatas tapi dapat digunakan untuk berorganisasi, belajar dan berjuang untuk memajukan kehidupannya, ilmu-pengetahuan dan budaya, justru direcoki oleh dorongan-dorongan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan peribadatan yang memabukkan dan mengalihkan dari realitas tatanan kapitalisme yang tidak-manusiawi. Dalam “Socialism and Religion”, Lenin menjelaskan bahwa agama sebagai bentuk penindasan spiritual yang membebani kaum buruh dengan kerja keras yang terus-menerus untuk borjuasi, dengan penghisapan dan keteralienasian yang luar biasa melemahkan kemanusiaan dan merintangi persatuan kelas dari kaum-kaum yang terhisap dan tertindas. Namun dengan berperspektifkan Marxisme, Lenin pada akhirnya menunjukkan bagaimana caranya menghadapi persoalan tersebut:

 “Impotensi kelas-kelas yang tereksploitasi dalam perjuangan mereka melawan para pengeksploitasi sama saja memunculkan kepercayaan akan kehidupan yang lebih baik setelah kematian, sebagaimana impotensi orang-orang biadab dalam pertarungannya dengan alam memunculkan kepercayaan pada dewa, setan, mukzijat, dan sejenisnya. Mereka yang bekerja keras dan hidup dalam kekurangan sepanjang hidupnya diajarkan oleh agama untuk tunduk dan sabar selama berada di dunia, dan merasa nyaman dengan pengharapan pahala surgawi. Namun mereka yang hidup dari hasil kerja orang lain diajarkan oleh agama untuk melakukan amal selagi berada di dunia, sehingga menawarkan mereka cara yang sangat mudah untuk membenarkan seluruh keberadaan mereka sebagai pengeksploitasi dan menjual tiket dengan harga murah untuk mendapatkan kesejahteraan di surga. Agama adalah candu bagi masyarakat. Agama adalah sejenis alkohol spiritual, yang di dalamnya para budak kapital menenggelamkan citra kemanusiaan mereka, tuntutan mereka akan hidup yang kurang-lebihnya layak bagi manusia. Namun seorang budak yang sadar akan perbudakan yang dialaminya dan bangkit untuk memperjuangkan emansipasinya, sudah separuh berhenti menjadi budak. Pekerja modern yang sadar kelas, yang dibesarkan oleh industri skala besar dan tercerahkan oleh kehidupan perkotaan, dengan sikap merendahkan mengesampingkan prasangka keagamaan, menyerahkan surga kepada para pendeta dan kaum borjuis yang fanatik, dan berusaha memenangkan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya sendiri di dunia ini. Kelas proletar saat ini berpihak pada sosialisme, yang melibatkan ilmu-pengetahuan dalam perjuangan melawan kabut agama, dan membebaskan kaum buruh dari keyakinan mereka akan kehidupan setelah kematian dengan menyatukan mereka untuk berjuang di masa kini demi kehidupan yang lebih baik di dunia ini.”

“…Kita menuntut agar agama dijadikan urusan pribadi sejauh menyangkut negara. Namun kita sama sekali tidak mungkin menganggap sebagai urusan pribadi jika menyangkut Partai kita. Agama tidak boleh menjadi perhatian negara, dan masyarakat keagamaan tidak boleh mempunyai hubungan dengan otoritas pemerintah. Setiap orang harus benar-benar dijamin kebebasannya dalam menganut agama apapun yang disukainya, atau tidak menganut agama apapun, yaitu menjadi seorang ateis, yang mana [menjadi sikap] setiap sosialis, pada umumnya. Diskriminasi antar-warga negara karena keyakinan agama mereka tidak dapat ditoleransi. Bahkan penyebutan agama warga negara dalam dokumen resmi juga harus dihilangkan. Tidak boleh ada subsidi yang diberikan kepada gereja mapan atau tunjangan negara yang diberikan kepada masyarakat gerejawi dan keagamaan … Pemisahan total antara Gereja dan Negara merupakan tuntutan proletariat sosialis terhadap negara modern dan gereja modern…. Sejauh menyangkut partai proletariat sosialis, agama bukanlah urusan pribadi. Partai kita adalah sebuah perkumpulan para pejuang yang sadar-kelas dan maju demi emansipasi kelas pekerja. Asosiasi seperti itu tidak boleh dan tidak seharusnya bersikap acuh-tak-acuh terhadap kurangnya kesadaran kelas, ketidaktahuan, atau obskurantisme dalam bentuk keyakinan agama. Kita menuntut pembubaran total Gereja agar mampu memerangi kabut agama dengan senjata ideologis dan semata-mata ideologis, melalui pers kita dan dengan lisan kita. Namun asosiasi kita didirikan, Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia, tepatnya untuk perjuangan melawan setiap penipuan agama yang memabukkan kelas pekerja. Dan bagi kita perjuangan ideologi bukanlah urusan pribadi, melainkan urusan seluruh Partai, urusan seluruh proletariat.”

“Jika demikian, mengapa kita tidak mengatakan dalam Program kita bahwa kita adalah ateis? Mengapa kita tidak melarang umat Kristiani dan pemercaya Tuhan lainnya untuk bergabung dalam partai kita?… Program kita sepenuhnya didasarkan atas pandangan dunia ilmiah, dan terlebih lagi pandangan dunia yang materialis. Oleh karena itu, pemaparan mengenai Program kita harus mencakup penjelasan mengenai akar sejarah dan ekonomi sebenarnya dari kabut agama. Propaganda kita tentu saja mencakup propaganda ateisme…. Namun kita tidak boleh sewenang-wenang dalam mengajukan persoalan keagamaan secara abstrak dan idealis, sebagai persoalan ‘intelektual’ yang tidak berhubungan dengan perjuangan kelas, seperti yang dilakukan oleh kaum demokrat radikal dari kalangan borjuasi. Adalah bodoh untuk berpikir bahwa, dalam masyarakat yang didasarkan pada penindasan dan perlakuan kasar yang tiada henti terhadap massa pekerja, prasangka agama dapat dihilangkan hanya dengan metode propaganda. Adalah suatu kepicikan borjuis jika kita lupa bahwa beban agama yang membebani umat manusia hanyalah sebuah produk dan cerminan dari beban ekonomi yang ada dalam masyarakat. Tidak ada pamflet dan khotbah sebanyak apapun yang dapat memberikan pencerahan kepada kaum proletar, jika proletariat tidak mendapatkan pencerahan melalui perjuangan kelasnya sendiri dalam melawan kekuatan gelap kapitalisme. Persatuan dalam perjuangan revolusioner kelas tertindas demi terciptanya surga di bumi ini lebih penting bagi kita daripada kesatuan opini proletar tentang surga di langit. Itulah alasan mengapa kita tidak akan dan tidak seharusnya mengemukakan ateisme kita dalam Program kita; itulah sebabnya kita tidak akan dan tidak seharusnya melarang kaum proletar yang masih menyimpan sisa-sisa prasangka lama mereka untuk mengasosiasikan diri mereka dengan Partai kita….”

Namun pengasosiasian kaum buruh dan muda yang beragama dalam partai revolusioner tidak dapat dilebih-lebihkan sebagai penerimaan atau pembiaran terhadap obskurantisme agama. Ketika Marxisme menyatakan perlawanan terhadap agama—itu berarti menentang penindasan spiritual yang keberadaannya didasarkan pada perkembangan kekuatan produktif dan hubungan-hubungan produksi dalam masyarakat kelas yang mengalirkan dogma-dogma keagamaan untuk meracuni kesadaran massa dan mempertahankan status-quo. Dengan kata lain: perjuangan melawan agama adalah perjuangan untuk memerangi kekuatan buta yang ada di alam, masyarakat, dan dalam diri manusia. Dan pada organisasi bagi kaum revolusioner proletar, perjuangan ini berbentuk perjuangan teoritis dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner; yakni, dengan berjuang untuk memenangkan lapisan-lapisan buruh dan muda yang paling maju dan sadar-kelas di bawah panji Marxisme (Bolshevisme-Leninisme), untuk melawan musuh-musuh kelas proletar dengan menempuh perjuangan revolusioner—mempersiapkan kemenangan revolusi sosialis dan kediktatoran proletariat di masa depan. Hanya melalui keterlibatan aktif dalam perjuangan revolusioner, yakni membangun kepemimpinan revolusioner—untuk memberi ekspresi yang terorganisir dan sadar pada gerakan buruhlah—seseorang dapat membersihkan dirinya dari prasangka-prasangka lamanya. Inilah yang telah ditunjukkan oleh Leon Trotsky. Dalam “My Life”, Trotsky mengingat bahwa perubahan kesadarannya tidaklah berjalan di atas garis yang lurus tapi dengan lompatan kualitatif dalam perjuangan kelas yang intens. Masa di mana dia hidup, sampai pada zaman kita ini, digambarkannya dalam polemik sosial; ‘mulai dari yang biasa, terus-menerus dan normal, hingga perang dan revolusi yang bersifat luar biasa, eksplosif dan vulkanik’. Trotsky, seperti yang diketahui, adalah pemuda yang tumbuh dalam masa-masa penuh gejolak (hidup di bawah kebangkrutan rezim autokratik-liberal; menyaksikan kemunduran Narodnisme dan kebangkitan gerakan buruh; pecah dari gerakan populis borjuis-kecil, meninggalkan sekolahnya dan membantu pengorganisasian PBSDR; dipenjara dua setengah tahun dan diasingkan ke Siberia; mendidik dirinya di sekitar Iskra-nya Lenin; berdiri di luar faksi Bolshevik dan faksi Menshevik; mengepalai Soviet Petrograd; mengambil posisi internasionalis dalam Perang Dunia I dan menulis Manifesto Zimmerwald untuk menyatukan kaum revolusioner penentang perang imperialis; mendukung penuh Tesis April, bergabung dengan Partai Bolshevik, dan bersama Lenin berpolemik melawan kaum Bolshevik ‘tua’; mengorganisir Tentara Merah dan memimpinnya dalam Komite Militer Revolusioner; bertanggung jawab atas perebutan Istana Musim Dingin dan menyerahkan seluruh kekuasaan ke Soviet Buruh dan Prajurit; bertempur melawan tentara-tentara imperialis dan memadamkan perang saudara; hingga menyelamatkan warisan-warisan Revolusi Oktober dan Bolshevisme-Leninisme dari sungai darah, kebohongan, dan pemalsuan Stalinisme beserta para epigonnya). Di otobiografi itulah Trotsky mengingat bagaimana pengabdiannya pada perjuangan kelas proletar telah mengangkatnya ke tingkat kesadaran seorang Marxis yang yakin, dan oleh karenanya, menjadi ‘ateis yang keras kepala’:

“Saya tidak menyangkal hidup saya tidak berjalan seperti biasanya. Alasannya lebih melekat pada kondisi saat itu, buka pada diri saya. Tentu saja ciri-ciri pribadi tertentu diperlukan untuk pekerjaan, baik atau buruk, yang saya lakukan. Namun dalam kondisi sejarah lain, kekhasan pribadi ini mungkin tetap tidak aktif sama sekali, seperti halnya banyak kecenderungan dan hasrat yang tidak dituntut oleh lingkungan sosial. Sebaliknya, kualitas-kualitas lain yang saat ini dikesampingkan atau ditekan mungkin akan muncul ke permukaan. Di atas subyektif muncullah obyektif, dan pada akhirnya obyektiflah yang menentukan. Kehidupan intelektual dan aktif saya, yang dimulai ketika saya berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, merupakan perjuangan terus-menerus untuk mendapatkan ide-ide tertentu. Dalam kehidupan pribadi saya tidak ada peristiwa yang menarik perhatian publik. Semua peristiwa yang kurang lebih tidak biasa dalam hidup saya berkaitan dengan perjuangan revolusioner, dan memperoleh arti penting dari perjuangan tersebut…. Saya agak bertele-tele dan konservatif dalam kebiasaan saya. Saya menyukai dan menghargai disiplin dan sistem. Bukan bermaksud memperkenalkan sebuah paradoks, namun karena ini adalah sebuah fakta, saya harus menambahkan bahwa saya tidak dapat menanggung kekacauan atau kehancuran. Saya selalu menjadi anak sekolah yang teliti dan rajin, dan saya telah menjaga kedua kualitas ini sepanjang hidup saya. Pada tahun-tahun perang saudara, ketika saya menempuh jarak yang sama dengan beberapa kali keliling bumi dengan kereta api, saya sangat senang melihat setiap pagar baru dibangun dari papan pinus yang baru dipotong. Lenin yang mengetahui kesenangan saya ini, sering menggoda saya tentang hal itu dengan ramah. Sebuah buku yang ditulis dengan baik di mana seseorang dapat menemukan ide-ide baru, dan sebuah pena yang bagus untuk mengkomunikasikan ide-idenya kepada orang lain, bagi saya selalu dan saat ini merupakan produk budaya yang paling berharga dan intim. Keinginan untuk belajar tidak pernah hilang dari saya, dan sering kali dalam hidup saya, saya merasa bahwa revolusi mengganggu pekerjaan sistematis saya. Namun lebih dari sepertiga abad perjuangan sadar saya dipenuhi dengan perjuangan revolusioner…. Selama empat puluh tiga tahun kehidupan sadar saya, saya tetap menjadi seorang revolusioner; untuk empat puluh dua di antaranya saya perjuangkan di bawah panji Marxisme. Jika saya harus memulai dari awal lagi, tentu saja saya akan berusaha menghindari kesalahan ini atau itu, namun jalan utama hidup saya tidak akan pernah berubah. Saya akan mati sebagai seorang revolusioner proletar, seorang Marxis, seorang materialis dialektis, dan, akibatnya, seorang ateis yang keras kepala. Keyakinan saya terhadap masa depan umat manusia yang komunis juga tidak kalah kuatnya; bahkan sekarang ini lebih kencang dibandingkan pada masa muda saya.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

(Berlanjut)

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai