Kategori
Teori

Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 4)

“Demo-demo militan kemarin akan menjadi pemandangan yang semakin sering terjadi di hari depan. Rezim boleh saja bersuka-cita telah meredam demonstrasi kemarin dengan represi brutal, dan mencegahnya dari terus menyebar dan berlanjut. Tetapi problem-problem mendasar rakyat pekerja yang menjadi penyebab tumpah-ruahnya massa ke jalan-jalan belum diselesaikan sama sekali. Miliaran rupiah bisa saja dihabiskan untuk meyakinkan rakyat pekerja kalau Omnibus Law akan menguntungkan mereka, tetapi hukum besi ekonomi-politik akan terus menegakkan kebenarannya: bahwa kepentingan modal dan kepentingan rakyat pekerja adalah dua hal yang tak-terdamaikan; agar modal bisa menggeliat tumbuh subur, maka keringat, air mata, dan darah rakyat pekerja harus membasahinya. Adalah satu hal untuk meloloskan Omnibus Law, hal lain lagi untuk mengimplementasikannya, terutama di tengah krisis ekonomi dunia yang tak kunjung berakhir. Api masih dalam sekam dan benturan-benturan yang lebih besar tengah dipersiapkan.” (Perhimpunan Sosialis Revolusioner)

“…Namun, apa yang tidak dicatat dalam buku-buku pelajaran masa kini adalah sifat gelisah dan sering kali penuh kekerasan yang sering terjadi dalam perjuangan untuk mendapat pengetahuan ilmiah. Hasilnya adalah sifat angkuh terhadap ilmu-pengetahuan … Meskipun kurva umum pembangunan kemanusiaan mengarah ke atas, kurva tersebut terpecah oleh periode stagnasi dan keruntuhan; ia meledak ke depan hanya untuk mundur dan kemudian bergerak maju lagi.” (International Marxist Tendency)

Dalam periode krisis kapitalisme yang mendalam dengan perubahan-perubahan situasi yang luar biasa mendadak, peran kepemimpinan terangkat sebagai rantai terakhir yang menjadi penentu dalam rantai kausalitas dan secara tak-terelakkan mempengaruhi arah perkembangan sejarah selanjutnya. Di tengah ketidakstabilan dan belokan-belokan tajam historis, kecakapan dan orientasi kepemimpinan memainkan peranan menentukan pada setiap ketepatan dan kekeliruan, keberhasilan dan kegagalan, kemajuan dan kemunduran gerakan massa. Januari-Oktober 2020, selama permulaan protes-protes Tolak Omnibus Law hingga ledakan Gerakan Mosi Tidak Percaya, masuknya lapisan-lapisan baru dalam medan perjuangan politik membuat para pemimpin reformis ketakutan, kebingungan, bergeming dan ternganga atas peningkatan aktivitas massa yang tak-biasa. Penyebaran gerakan mahasiswa di tengah kelas pekerja mampu menekan para pemimpin serikat-serikat buruh untuk menyerukan pemogokan umum, tetapi dalam pelaksanaannya kepemimpinan reformis berusaha memoderasi gerakan menjadi aksi-aksi unjuk-rasa semata. Tanggal 6-8 Oktober, kaum buruh melangsungkan pemogokan-pemogokan militan yang bertekad melumpuhkan aktivitas produksi kapitalisme namun pimpinan-pimpinan reformis segera mengkhianatinya dengan melakukan lobi-lobi terselubung dan memberlakukan kebijakan mogok ber-shift-shift yang berdurasi selama setengah hari. Sementara di luar organisasi-organisasi buruh, kaum muda yang teradikalisasi oleh peristiwa terus bergerak ke kiri untuk mencari saluran yang dapat mengekspresikan keresahan dan kemarahannya. Tetapi menghadapi kekosongan partai dengan kepemimpinan yang memadai, maka potensi revolusioner ini gagal teralurkan dengan baik dan akhirnya menguap melalui aksi-aksi spontan yang begitu rupa.

Selama tiga hari, spontanitas massa meledak-ledak dan menyebar bagai jerami yang terbakar. Pelajar, mahasiswa, dan buruh-buruh muda memperlihatkan keberangan dan terus bergerak ke kiri. Di akar rumput, gelombang radikalisasi berkobar dan memanaskan atmosfer sosial secara luas. Namun energi yang dahsyat ini gagal diberi ekspresi yang sadar dan terorganisir oleh kepemimpinan-kepemimpinan organisasi buruh yang ada. Di struktur gerakan buruh, kepemimpinan sayap-kanan dan sayap-kiri berpecah: Ketum KSPI Said Iqbal menutup aksi-aksi unjuk-rasa dengan seruan-seruan perjuangan konstitusional yang mengupayakan Judicial Review di Mahkamah Konstitusi dan Ketum KASBI Nining Elitos tetap menyerukan aksi-aksi parlementer jalanan untuk menggagalkan Omnibus Law. Friedrich Engels pernah menjelaskan bahwa terdapat periode-periode sejarah di mana jangka waktu dua puluh tahun berlalu seolah-olah hanya satu hari dan ada pula periode di mana sejarah dua puluh tahun terkonsentrasi dalam waktu beberapa minggu atau bahkan sehari. Di periode yang terkahir ini seluruh proses sejarah bergantung pada aktivitas sekelompok kecil individu atau bahkan satu-dua orang saja. Inilah momen yang memerlukan kehadiran partai revolusioner dengan kepemimpinan revolusioner untuk memanfaatkan situasi itu. Tanpa kesiapan dari partai dan kepemimpinan yang memadai maka momen tersebut akan berakhir dan membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum momen demikian muncul kembali. Di bawah kepemimpinan yang tak-memadai, spontanitas massa meluap sia-sia tanpa panduan-panduan yang berguna untuk menghadapi musuh-musuh proletariat secara revolusioner. Ketika perjuangan kelas bertambah intens, dengan kontradiksi-kontradiksi yang makin menajam, maka kepemimpinan akan dibebani tanggung-jawab historis yang besar. Pada momen inilah kontradiksi antara massa dan kepemimpinan menjadi tak-terperi. Massa berusaha mencari jalan keluar, dengan menguji satu-per-satu kepemimpinan yang ada; dengan mendorongnya untuk memainkan peran penentu dalam membawa perjuangan ke tahap berikutnya.

Perkembangan situasi menuntut perubahan tajam dalam kebijakan-kebijakan yang dijalankan kepemimpinan buruh. Namun dengan kelemahan teoretik dan orientasi masa depan maka kebangkitan massa gagal dimanfaatkan, perimbangan kekuatan berubah, dan arah juang terbelokkan. Dalam situasi revolusioner jalannya peristiwa dipercepat, kebutuhan akan sentralisasi gerakan meningkat, dan setiap kebimbangan serta penundaan mengundang kekalahan. Tanpa kejelasan politik maka takkan ada kemajuan yang bisa dicapai oleh gerakan massa yang paling berang sekalipun. Demikianlah pendulum politik yang sedang berayun ke kiri tiba-tiba menjadi condong ke kanan, dengan gelombang radikalisasi yang dihentikan, dan periode kebangkitan yang diikuti oleh periode penurunan dan kejatuhan. Inilah momen-momen berlangsungnya reaksi, isolasi, dan demoralisasi yang mengerikan. Suasana yang sebelumnya dipenuhi optimisme revolusioner sekarang diselimuti depresi, kekecewaan, dan pesimisme di kalangan pelajar, mahasiswa, dan intelektual-intelektual kelas-menengah. Cambuk brutalisasi, kriminalisasi, dan stigmatisasi meremukkan gerakan massa. Pembubaran aksi, penangkapan dan penahanan lapisan-lapisan massa dan pelopor, dan fitnah-fitnah yang diluncurkan terhadap organisasi-organisasi buruh dan kaum muda bukan saja membunyikan lonceng kekalahan, tetapi juga memicu kemerosotan mendalam di kalangan orang-orang terpelajar dan intelektual kelas menengah. Di tengah kepungan serangan-balik yang membabi-buta, suasana pesimisme menyapu lapisan-lapisan borjuis-kecil yang sebelumnya bersimpati kepada kelas pekerja. Keterpencar-pencaran dan keterisolasian dari massa, dengan perasaan putus-asa dan frustasi kepada gerakan buruh, menyeret mereka meninggalkan medan perjuangan kelas berbasis teori revolusioner dan menjerumuskan mereka dalam kubangan idealisme dan ide-ide reaksioner yang begitu rupa.

Di perguruan-perguruan tinggi, ajaran-ajaran postmodernisme ditanamkan melalui setumpuk kuliah, seminar, dan dialog terbuka. Di mimbar-mimbar akademik, kaum postmodernis menyembulkan ceramah dan pidato kritis dengan akrobat retorika yang mengkritik apa saja. Dasar filsafat mereka adalah idealisme subyektif yang menyangkal keberadaan realitas obyektif yang independen dari pikiran dan sensasi manusia. Lewat moncong intelektual-intelektual postmodern diajarkan ‘tidak ada apapun di luar teks’, hingga bahasa diberi kekuatan luar biasa dan filsafat direduksi menjadi persoalan semantik semata. Mereka mengasosiasikan ‘pengetahuan sebagai kekuasaan’ dan secara naïf meyakini ‘kuasa kata-kata’. Dalam menangani realitas eksploitasi dan penindasan; postmodernisme tak-menganjurkan perjuangan kelas revolusioner dan penghapusan kepemilikan pribadi, tetapi sebatas perhalusan kata, perubahan nama dan istilah-istilah.  Mereka melihat dunia sebagai deretan kata, bukan kehidupan material yang nyata. Menurut tinjauan postmodernisme, kebenaran selalu bersifat subyektif (relatif dan arbitrer) dan kebenaran ilmiah yang obyektif mustahil dicapai. Demikianlah interseksionalitas menjadi pendekatan utamanya. Di tengah masyarakat kapitalis, mereka menggambarkan keberadaan aneka bentuk kejahatan dan kemerosotan sosial secara reduksionis: terpotong-potong dan tumpang-tindih dengan konfigurasi yang berbeda-beda untuk setiap personalitas, yang menciptakan beragam pengalaman dan hambatan-hambatan sosial yang unik, sehingga membutuhkan penyelesaian-penyelesaian partikular yang lokal dan parsial. Selama masa surut perjuangan kelas, postmodernisme dan interseksionalitas memperoleh pengaruh besar di kalangan mahasiswa dan akademisi-akademisi borjuis-kecil. Sebagai lapisan perantara yang berdiri di antara proletariat dan borjuasi, borjuis-kecil mempunyai keberadaan sosial yang tak-stabil: terombang-ambing di tengah dua kutub besar masyarakat.

Suasana hati borjuis-kecil bergantung pada perimbangan kekuatan kelas: ketika pendulum bergerak ke kiri, mereka bersimpati perjuangan revolusioner; saat pendulum bergerak ke kanan, mereka menyerah dan menyebrang ke sisi reaksi. Di kampus-kampus, para akademisi radikal berceloteh mengenai perlunya kebebasan mengkritik dan pengembangan ide-ide baru dalam kepemimpinan buruh dan organisasi-organisasi gerakan yang ada. Onggokan artikel dan buku-buku mereka hasilkan untuk melakukan penyesuaian terhadap Marxisme. Mereka menganggap perlu untuk merevisi teori-teori Marxis. Sepasang ahli teori terkemuka mereka adalah Ernest Laclau dan Chantal Mouffe. Dalam geraka buruh internasional, keduanya mengusung ‘Narasi Kiri Baru’ yang berusaha menggeser tugas historis proletariat—sebagai satu-satunya kelas yang dapat memimpin perjuangan penggulingan kapitalisme secara revolusioner—dengan strategi diskursif yang mengindentifikasi kawanan ‘orang-orang yang tidak-diunggulkan’ sebagai subyek yang mampu memimpin gerakan oposisi melawan kelas borjuis. Laclau dan Mouffe secara prinsipil melihat negara bukan sebagai alat pemaksa kepentingan kelas penguasa tapi medan perjuangan yang netral dan bisa digunakan tanpa harus menghapus badan orang-orang bersenjatanya secara revolusioner: menegakkan ‘Kediktatoran Proletariat’ yang dipandu oleh ‘Kepemimpinan Revolusioner’. Berdasarkan tinjauan inilah Narasi Kiri melihat kalau negara memiliki ruang-kosong untuk populisme kiri dan dapat diisi dengan menerapkan metode kontra-hegemonik untuk mengubahnya sebagai ‘institusi radikal dan plural’ dan menggunakannya untuk melayani kepentingan ‘rakyat’ atau ‘orang banyak’. Walaupun mereka membicarakan persoalan-persoalan eksploitasi dan penindasan, tetapi semua saran dan tuntutan-tuntutan yang diusung terpaku pada program-program demokratik dan bahkan abstrak—lebih-lebih keyakinan naïf mengenai negara kesejahteraan: program yang tak-mungkin diwujudkan dalam batas-batas masyarakat kapitalis yang sedang mengalami krisis. Pendekatan macam ini secara tak-terelakkan menyangkal realitas pertentangan kelas dan mendorong berkolaborasi-kelas dengan partai-partai borjuis di institusi-institusi demokrasi borjuis. Pada bagian “Narasi Kiri atau Perjuangan Kelas” di Jurnal Dialektika I (Melawan Postmodernisme), Yola Kipcak menulis:

“Orientasi utama para pendukung narasi kiri bukanlah perjuangan kelas melawan kapitalisme, tetapi pemenuhan tuntutan-tuntutan demokrasi [murni]…. Perspektif yang disajikan di sini adalah perspektif status-quo! Kita diberitahu superstruktur lembaga-lembaga ‘demokrasi’ yang ada, yang berulang kali telah terbukti dicurangi untuk memihak kepentingan kelas penguasa, tidak boleh dihapuskan, tetapi hanya ‘diperbaiki’. Sementara itu, penyebab sebenarnya dari ketidaksetaraan dan eksploitasi tersebut—yaitu kapitalisme—bahkan tidak diakui. Garis demarkasi yang krusial di sini adalah konsepsi kita mengenai negara dan apa yang disebut lembaga-lembaga demokrasi. Bagi kaum revolusioner, kejelasan mengenai watak negara sangatlah penting. Ada perbedaan yang menentukan antara keinginan untuk menghapuskan negara melalui revolusi, dan keyakinan bahwa negara dapat diubah dan direforma untuk kepentingan kaum tertindas. Pandangan untuk mereforma negara selalu diterjemahakan ke dalam kolaborasi dengan negara, dan dengan demikian kolaborasi dengan kelas penguasa yang dilayani oleh negara tersebut.”

Dalam praktik-praktik gerakan yang konkret, gagasan-gagasan postmodernis yang berkarakter reformis itu membawa pada kesimpulan-kesimpulan reaksioner: penyangkalan terhadap perjuangan revolusioner dan transformasi sosial secara mendasar melalui aneka pemujaan terhadap gerakan-gerakan spontan, interseksional, dan aksi-aksi individual. Di Indonesia, pada momen kejatuhan dan kemunduran perjuangan massa, intelektual-intelektual borjuis-kecil memperbaharui Marxisme begitu rupa. Salah satu pemikir terkemukanya adalah Martin Suryajaya. Dari mimbar-mimbar universitas dan Indoprogress, Martin menulis buku “Materialisme Dialektis; Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer” dan artikel yang menyerukan perlunya “Penemuan Kembali Marxisme Kita” untuk menciptakan ide-ide baru dalam memandu organisasi dan gerakan-gerakan sosial yang ada. Di meja kerjanya, dia berusaha menemukan kebenaran bukan dalam kehidupan yang konkret tapi aktivitas-aktivitas diskursif yang abstrak. Dirinya berkata: ‘kita tidak bisa lagi berangkat dari problematik klasik Marxisme: dialektika, materialisme, dan perjuangan kelas. Sebagai sistem filsafat, Marxisme yang saya bayangkan mesti dapat memberi ruang pada apa-apa yang berada “di luar” domain diskursus Marxisme tradisional: permasalahan-permasalahan di luar ilmu sosial seperti Ada, esensi, kebenaran, makna, kesadaran, dan sebagainya. Rekonstruksi atas Marxisme sebagai sistem filsafat kontemporer mesti dimulai dari “luar” domain Marxisme tradisional.’ Dengan kata lain: upaya untuk mengembangkan Marxisme bukanlah dalam perjuangan-perjuangan yang nyata melainkan bilik-bilik pikiran semata dan kebenaran berusaha digali bukan dari realitas-realitas kehidupan yang konkret tapi teks-teks diskursif yang abstrak. Inilah penyimpangan luar biasa yang dilakukan Martin terhadap Teori Marxis. 

Dalam upaya merevisi Marxisme, Martin Suryajaya menekankan kalau dirinya lebih berfokus pada materialismenya ketimbang dialektikanya. Pernyataan ini ditegaskan dengan menyembulkan prasangka yang begitu rupa: ‘diskursus terhadap dialektika kerap kali mengarah pada negasi terselubung terhadap materialisme. Inilah yang mengemuka dalam pemikiran para komentator yang tidak memilah dialektika Marxian dari dialektika Hegelian’. Dengan akrobat kata-kata macam ini dia seolah hendak membela apa yang menjadi prinsip-prinsip teori Marxis, namun pada kenyataannya ia sedang memvulgarisasi Marxisme secara menjijikan. Walaupun pada pernyataannya mengenai dialektika mengutip penjelasan Engels, tetapi dibengkokkan menjadi dalih pembelaan diri yang paling kekanak-kanakan. Pernyataan terpenting Engels tentang ‘dialektika’ sebagai ‘alat kerja terbaik dan senjata paling tajam’ diabaikan. Pemahaman materialisme secara dialektis merupakan prasyarat penting dalam memahami Marxisme. Materialisme tanpa dialektika tak-berdaya dalam menjelaskan realitas kehidupan yang kompleks dan memperjuangkan perubahan historis secara revolusioner. Materialisme dialektis adalah landasan filosofis yang mendasari seluruh doktrin Marxis dan memberikan pandangan yang ilmiah dan komprehensif. Penyangkalan terhadap dialektika, lebih-lebih dengan mempertentangkan metode Marx dan Hegel secara tidak-adil—menyuguhkan apologi yang paling kasar, filistin dan hipokrit dari seorang Marxis akademik. Pada posisi inilah Martin jatuh ke rawa-rawa idealisme ekstrem: postmodernis. Dia menulis: ‘saya merasa Marxisme hanya dapat ditemukan kembali dengan cara dilupakan terlebih dahulu. Inilah yang saya tawarkan: melupakan dan membuang semua konsep dan fraseologi Marxis, memulai lagi semuanya dari nol, dari problem paling dasar filsafat seperti Ada dan sifat-sifatnya, dari situ mendeduksikan hasilnya sampai ke taraf filsafat politik dan etika’. Dengan kecenderungan introspektif borjuis-kecil macam ini, pada akhirnya ditunjukanlah pretensi-individualnya dalam menolak kebenaran obyektif dan pemikiran rasional untuk merevisi Marxisme: ‘Marxisme yang akan kita temukan di akhir proses ini bukanlah Marxisme tradisional yang lazim dikenal. Marxisme yang akan kita temukan ialah Marxisme yang lahir baru, yang disucikan dari segala kekeliruan dan keruwetan konseptualnya selama ini’. Obsesi tersebut menyingkapkan perspektif yang ahistoris dan orientasi yang avonturis. Hasilnya: bukanlah ide-ide baru yang ditemukan, tetapi kebingungan-kebingungan terburuk dan merusak bagi gerakan proletar. Kagandrungan akan orisinalitas gagasan bukan saja menyingkirkan kandungan-kandungan prinsipil dari teori-teori terdahulu, melainkan pula menolak kemajuan-kemajuan historis dan pemikiran umat manusia. Disangkalnya rantai perkembangan dari Dialektika Pra-Marxis menuju Dialektika Marxis (Dialektika Materialis) memperlihatkan keangkuhan postmodernisme. Inilah kecongkakkan intelektual borjuis-kecil yang berpretensi memurnikan Marxisme dengan membuang inti filsafatnya: metode dialektika. Dalam “In Defence of Hegel”, Hamid Alizadeh membela Marxisme dari keranjingan macam itu:

“Sebagai kaum Marxis, kami tidak mengklaim diri kami istimewa atau telah menemukan formula ajaib yang sulit dipahami yang tidak ditemui orang lain selama ratusan ribu tahun. Kami melihat Marxisme sebagai akumulasi pengalaman umat manusia sepanjang sejarah. Kami dengan bangga menempatkan diri kami di urutan terakhir dari barisan panjang pemikir, mulai dari Trotsky, Lenin, Marx dan Engels hingga Hegel, hingga kaum Materialis pencerahan Prancis, hingga Aristoteles, Socrates, Heraclitus, dan semua filsuf Yunani kuno. Pada setiap tahap, para raksasa ini mewakili kemajuan masyarakat manusia dan meletakkan landasan intelektual bagi langkah-langkah baru ke depan. Hegel memiliki pandangan serupa. Dia menentang penolakan langsung terhadap ide-ide sebelumnya. Ia tidak melihat sejarah pemikiran ilmiah sebagai salah satu gagasan kacau yang dikembangkan oleh orang-orang secara acak, tetapi sebagai cerminan dari proses umum perkembangan umat manusia dan kebudayaan manusia, yang diatur oleh hukum-hukum khusus yang mengarah dari bentuk pemikiran yang lebih rendah ke bentuk pemikiran yang lebih tinggi … Setiap gagasan yang benar pada suatu saat dalam sejarah menjadi tidak memadai seiring berjalannya waktu dan harus diganti oleh sesuatu yang lebih benar. Atau, seperti yang dijelaskan Hegel, segala yang muncul sebagai sesuatu yang rasional akan ditakdirkan oleh kontradiksi-kontradiksi batinnya menjadi irasional dan lenyap pada tahap berikutnya. Namun filosofi lama tidak hilang begitu saja. Esensinya dipertahankan dalam aliran pemikiran baru yang muncul sebagai gantinya.”

“Proses yang kami uraikan di atas terjadi sepanjang sejarah filsafat. Dengan menurunnya suatu rangkaian gagasan dan digantikan gagasan lain, aspek-aspek aksidental dan non-esensial dibuang, sementara hakikat sejati dari gagasan lama dipertahankan dan diserap ke dalam gagasan baru. Setidaknya secara umum, itulah garis besar prosesnya. Tentu saja, proses ini bukanlah suatu kurva perkembangan yang terus meningkat. Periode kemajuan dapat diikuti oleh kemunduran sementara, yang diperlukan untuk mempersiapkan jalan bagi langkah selanjutnya. Filsafat Yunani kuno penuh dengan penemuan-penemuan brilian, yang paling penting adalah dialektika: yaitu gagasan memandang dunia sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan dan terus berubah, didorong oleh kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Namun mengingat perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan pada saat itu, doktrin canggih ini tidak dapat diterapkan pada tugas-tugas yang dihadapi umat manusia. Oleh karena itu, hal itu hampir terlupakan. Selama berabad-abad, aspek idealis konservatif filsafat Yunanilah yang menjadi landasan filsafat skolastik Abad Pertengahan. Sebagai pengganti dialektika, filsuf ini mengadopsi metode metafisika, yang memandang dunia sebagai kumpulan entitas kaku yang terikat dalam ruang dan waktu…. Hegel-lah yang mengembalikan dialektika ke kedudukannya yang semestinya dalam filsafat. Dia tidak memiliki pretensi atau niat untuk menjadi orisinal, seperti yang diinginkan oleh orang-orang postmodernis kita. Ia mengembangkan ide-idenya dengan mengkritik semua filsafat sebelumnya, memisahkan esensi sejati dari aspek-aspek yang bersifat aksidental dan vulgar. Oleh karena itu, doktrinnya di satu sisi merupakan terobosan revolusioner terhadap masa lalu, namun pada saat yang sama mempertahankan sebagian besar kemajuan hebat dari aliran filsafat sebelumnya.”

“Jika kita melihat sejarah filsafat dengan cara ini, yang kita lami bukanlah naik-turunnya filsafat-filsafat yang berbeda secara acak, melainkan suatu proses yang tidak pernah berakhir dari bentuk-bentuk pemikiran yang lebih rendah ke bentuk-bentuk pemikiran yang lebih tinggi dalam pendalaman progresif pengetahuan kita tentang hukum-hukum yang mengatur kehidupan manusia. Orang-orang postmodernis kita yang menentang gagasan ini sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sendiri menirukan gagasan-gagasan yang jauh lebih tua daripada Hegel. Relativisme dan subyektivisme mereka dapat ditelusuri sepanjang sejarah filsafat, mulai dari Sofisme Yunani kuno dan aliran relativis lainnya—dengan tambahan peringatan bahwa kaum sofis adalah revolusioner dan orisinal. Relativisme mereka menekankan banyaknya keberpihakan dunia dan kemunafikan masyarakat Yunani. Namun relativisme postmodernis sangat kasar dan reaksioner, menyangkal realitas obyektif dan membela aspek moralitas borjuis yang paling merosot, seperti individualisme dan nihilisme. Apa yang diwakili oleh ide-ide ini adalah kecenderungan menurunnya pemikiran manusia, yang mencerminkan, bukan akhir dari kemajuan secara umum, namun akhir dari kemajuan dalam masyarakat kelas…. Postmodernisme saat ini, meskipun bersifat eklektik, mengambil posisi paling kasar dari kaum rasionalis dan empiris. Di satu sisi, mengambil inspirasi dari empirisme, ia mengangkat konsep ‘perbedaan’ dan ‘diskontinuitas’ sebagai prinsip panduannya yang bertentangan dengan ‘identitas’ dan ‘interkoneksi’. Hasilnya adalah sebuah dunia tanpa kesatuan mendasar, yang dikuasai oleh pemisahan dan atomisasi yang semakin dalam tanpa henti. Atas dasar ini, postmodenisme menolak satu sistem pemikiran rasional—atau apa yang mereka sebut sebagai ‘narasi besar’, ‘esensialisme’, dan ‘universalisme’—untuk dapat diterapkan secara umum. Tentu saja, dengan menyangkal ‘narasi besar’ dan menggeneralisasi pemikiran secara keseluruhan, mereka mengedepankan pernyataan menyeluruh yang paling megah, paling kasar, dan paling menggeneralisasi….”

Pada kesimpulan Martin Suryajaya, Marxisme tradisional—yang dipelopori oleh Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky—adalah teori yang sudah kehilangan relevansi dan ruwet bagi perjuangan massa. Martin berpikir bahwa ide-ide revolusioner yang ketat ini takkan mungkin dapat dicerna dengan baik oleh kaum buruh dan muda. Seolah teori Marxis hanya mampu dipelajari oleh intelektual-intelektual borjuis-kecil seperti dirinya saja. Marx dan Engels, Lenin dan Trotsky, dan kamerad-kamerad Bolshevik yang mengikuti jejak mereka tidaklah menciptakan teori-teorinya untuk gerombolan akademisi melainkan kelas pekerja.  Martin sama sekali tak-mengerti kalau Marxisme merupakan senjata moral bagi kelas proletar, yang lahir dari pengalaman-pengalaman perjuangan kelas yang hidup dan diabstraksi sebagai teori oleh lapisan paling maju dan sadar-kelas dalam gerakan buruh. Dirinya tidak memperhatikan tingkat-tingkat kesadaran yang berbeda-beda, sehingga memandang bahwa kelas pekerja hanya berisi lapisan-lapisan terbelakang tanpa melihat lapisan-lapisan majunya. Sikap ini jelas meremehkan proletar untuk mempelajari dan memahami Marxisme. Ia kurang memperhatikan hambatan-hambatan nyata di jalur perjuangan proletariat untuk teori. Martin terlalu naïf jika menyamakan keberadaan sosial kelas buruh dengan kelas borjuis-kecil seperti dirinya. Laki-laki dan perempuan pekerja tak-memiliki yang memadai untuk membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, dan menulis. Kehidupan kaum buruh takkan bisa disepadankan dengan setumpuk intelektual borjuis-kecil dan profesor-profesor klerikal di universitas-universitas borjuis, yang memiliki waktu-luang berjam-jam, mendapat fasilitas pendidikan yang layak dan secara leluasa mengakses literatur apa saja tanpa-takut cacing-cacing di perutnya memprotes dan isi sakunya terkuras. Cara-cara hidup intelektual borjuis-kecil dan proletariat jauh berbeda, tetapi Martin cenderung mereduksi perbedaan-perbedaan keduanya dalam persoalan intelektualitas semata. Prasangka borjuis-kecil ini mengalir di sepanjang kesimpulannya. Berdiri di lapisan atas borjuis-kecil, Martin memperlihatkan kedekatan pandangannya dengan kelas borjuis ketimbang lapisan bawah borjuis-kecil yang lebih dekat dengan kelas proletar. Berdasarkan posisi sosial-ekonomi inilah Martin yang dikenal-luas sebagai pemikir Marxis akademik sesungguhnya tidak mempunyai pemahaman memadai dan bahkan kontak apapun dengan proletariat. Standar dan gaya hidupnya, lingkungan sosial dan psikologinya—semuanya kontras dengan kaum buruh.

Dalam menunjukkan keranjingannya untuk memperbaharui Marxisme dengan menyangkal prinsip-prinsip revolusionernya, Martin bukan sebatas memproklamirkan dirinya sebagai intelektual borjuis-kecil yang oportunis tetapi juga kaum postmodern yang teramat kekanak-kanakan. Di meja-meja kerja-mentalnya yang dingin dan terpisah dari kerja-fisik, dia berkelakar tentang “Penemuan Kembali Marxisme Kita”. Tidak! Ini bukan Marxisme bagi kelas buruh dan kaum muda di lapisan bawah borjuis-kecil; ini adalah Marxisme lapisan atas borjuis-kecil yang ditujukan untuk melayani kepentingan borjuasi. Pandangan Marxis terhadap dunia tidak sekadar bersifat materialis melainkan pula dialektis. Dialektika merupakan upaya untuk memahami perkembangan alam, masyarakat manusia, dan pemikirannya secara saling-terhubung. Di atas posisi sosial Martin, Marxisme dikembangkan secara terputus dari praktik dan setiap pemutusan dari praktik akan mengarah pada idealisme sepihak. Pandangan idealisme tentang dunia tumbuh dari pembagian kerja-mental dan kerja-fisik—bertambah jauh dari kerja fisik maka ide-ide menjadi semakin abstrak dan ketika sudah berpisah dari realitas perjuangan kelas pekerja yang hidup maka pemikiran-pemikiran abstrak akan menyangga tatanan kapitalis. Di kampus-kampus, lembaga-lembaga riset, dan bilik-bilik rumah tempatnya bekerja—seorang Marxis akademik hidup dari kucuran-kucuran laba industri, pendanaan pemerintah, bahkan uang sewa tanah. Keberadaan sosial macam inilah yang membuat gerombolan intelektual itu secara spiritual bergantung pada kelas borjuis dan kapitalisme. Walaupun intelektual borjuis-kecil dan proletariat sama-sama menjual kemampuan kerjanya, tetapi kondisi kerja-mental dan kerja-fisik keduanya jauh berbeda: kerja-kerja pabrik dan pergudangan yang mengauskan otot dan melesukan badan dengan onggokan tekanan-peraturan yang menakutkan tidaklah menundukkan pikiran buruh, namun kerja-kerja akademik dan intelektual dengan setumpuk tekanan-kewajiban yang menggiurkan bukan sekadar menguras kecakapan otak dan fisik tetapi lebih jauh meremukkan seluruh kepribadian manusia. Yang pertama, kondisi kerja kaum buruh hanya menguras kemampuan kerja-fisiknya tapi tak-melumpuhkan kemampuan kognisinya. Yang kedua, kondisi kerja kaum intelektual relatif bebas secara fisik tapi ranah pikiran dan kreativitasnya tersubordinasi di bawah persetujuan dan anggaran penghidupan dari kelas penguasa.

Di bilik-bilik pikiran dan kreativitas Martin Suryajaya, Marxisme dikembangkan secara arbitrer. Lewat tulisan tentang “Materialisme Dialektis sebagai Metode”, dia menciptakan metode-baru yang begitu kasar: kesatuan teori dan praktik dilumpuhkannya dengan menolak pelaksanaan sentralisme-demokatik dalam pembangunan partai revolusioner. Martin mengabaikan signifkansi pembangunan organisasi politik yang kuat dan tersentral dengan mempersiapkan calon-calon pemimpin masa depan berdasarkan teori, program, metode, dan tradisi perjuangan kelas revolusioner. Martin memandang bahwa ‘fragmentasi gerakan’ sebagai fakta elementer yang tidak bisa dipecahkan dengan membangun partai apapun. Dalam persoalan inilah signifikansi kepemimpinan revolusioner digantikan dengan ‘konsep persatuan epistemik’ yang abstrak: membentuk ‘Biro Pendidikan Marxis non-partai’untuk mempersatukan ‘intelektual Marxis’ dengan ‘aktivis Marxis’ secara fleksibel dan memadukan tendensi-tendensi teoretik yang pada dasarnya kontradiktif. Dalam seruan mengenai kesatuan epistemik, Martin berpretensi menyatukan seluruh gerakan dengan semangat persatuan metodologis untuk membaca kenyataan dan memungkinkan kerjasama dari berbagai tendensi yang berlawanan. Penyatuan macam ini sangat naïf dan abstrak. Dalam perjuangan-perjuangan konkret, ide-ide yang berkontradiksi secara prinsipil takkan dapat membangun kesatuan gerak yang harmonis. Pada praktik-praktik gerakan, persatuan dan perpecahan tidaklah ditentukan oleh metode analisa terhadap realitas tapi perimbangan kekuatan kelas yang menuntut kejelasan teoritis yang mengalir dari pengalaman-pengalaman perjuangan kelas yang hidup. Di masa-masa tenang, dengan tingkat kelembaman kesadaran yang tinggi dan aktivitas politik massa yang rendah, persoalan-persoalan teori belumlah menjadi sorotan utama. Tetapi di masa-masa krisis, dengan kejang-kejang dan belokan-belokan mendadak dalam sejarah, yang menyingkirkan kelembaman dan kekurangan politis dari periode sebelumnya, masalah-masalah teori akhirnya terangkat sebagai pembahasan utama. Pada tahapan inilah kemampuan teoretik dari para pemimpin menempati posisi kunci dalam setiap persatuan dan perpecahan gerakan revolusioner massa.

Menghadapi krisis kapitalisme yang berlarut-larut, dengan kebangkitan massa yang disela penurunan dan kejatuhan tiba-tiba, dalam setumpuk ledakan spontan yang gagal diberi ekspresi sadar dan terorganisir oleh kepemimpinan-kepemimpinan yang ada, hingga mengundang gelombang reaksi yang mendorong ke jurang demoralisasi—konsep penyatuan epistemik bukan saja tak-berguna dan rapuh, tetapi lebih jauh membingungkan dan melemahkan perjuangan massa. Di tangan Martin, Teori Pengetahuan Marxis (Materialisme Dialektis)—yang konsisten menyatakan bahwa pengetahuan diturunkan dari pengalaman indera dalam hubungannya dengan dunia material independen di luar dirinya—disulap menjadi pengetahuan yang bersumber dari teks. Berdasarkan strategi diskursif, realitas dan kebenaran obyektif ditolak. Di tengah ronrongan kapitalisme, Martin menyerukan pentingnya mengubah bahasa atau metode berpikir semata. Artinya, kapitalisme tak-dihadapi sebagai sesuatu yang harus digulingkan secara revolusioner tapi diperbaiki melalui reformasi-reformasi kecil dan parsial dalam bingkai kata-kata dan terminologi. Inilah orientasi di balik celoteh-kosong mengenai penyatuan epistem dan metodologi: menolak revolusi dan kepentingan proletariat demi reformasi dan kepentingan borjuasi. Revisionisme menjiwai keseluruhan pemikiran intelektual borjuis-kecil ini. Akhirnya Teori Persatuan Marxis yang meletakkan sentralisme-demokratik untuk pembangunan organisasi politik yang kuat dan tersentral—partai dan kepemimpinan revolusioner—digantikan dengan persatuan epistemik yang diupayakan melalui pembentukan Biro Pendidikan Marxis non-partai. Dalam “Deklarasi Dewan Editorial Iskra”, Lenin menjelaskan tentang apa itu persatuan bagi kaum Marxis. Persoalan persatuan ditinjau secara dialektis. Marxisme memandang persatuan berhubungan-erat dengan perpecahan, di mana persatuan dan perpecahan sama-sama dapat memberikan kekuatan atau menghadirkan kelemahan. Persatuan yang menguatkan berdiri di atas kesatuan teori dan praktik; persatuan yang melemahkan tidak mampu menyatukan teori dan praktik secara harmonis.

Dalam mencapai kesatuan teori-praktik, Lenin menekankan sentralisme-demokratik dengan melaksanakan diskusi-diskusi terbuka dan menyeluruh berkait masalah-masalah prinsip dan taktik fundamental. Maka Persatuan Marxis sejak awal dibangun bukan dengan berlandaskan persamaan-persamaan dangkal tetapi menegaskan perbedaan-perbedaan mendasar. Lenin menerangkan: ‘sebelum kita dapat bersatu, dan supaya kita dapat bersatu, kita pertama-tama harus menarik garis demarkasi yang tegas dan jelas. Kalau tidak persatuan kita akan sepenuhnya fiktif. Persatuan macam ini akan menutup-nutupi kebingungan yang ada dan menghalang-halangi penyelesaiannya secara radikal’. Persatuan yang kokoh tidak bisa direduksi menjadi pernyataan-pernyataan organisasional dengan mempertemukan perwakilan-perwakilan organisasi untuk mengambil keputusan dan dekrit-dekrit. Marxisme menjelaskan bahwa satu-satunya persatuan yang dapat meningkatkan kekuatan kaum buruh adalah dengan melewati perjuangan-perjuangan konkret untuk meyentralisasikan ide-ide termaju sebagai landasan-landasan aksi yang bersatu. Tanpa sentralisasi gagasan-gagasan yang memadai maka kesatuan-gerak tak-terbayangkan. Dalam “Deklarasi Dewan Editorial Iskra”, Lenin menjelaskan bahwa untuk mencapai persatuan, kaum Marxis harus bersemangatkan tendensi idelogis yang secara tegas membedakan dirinya dengan tendensi-tendensi lain dengan menerbitkan koran dan literatur dari satu sudut pandang—Marxisme. Pertama, pembangunan kesatuan ideologis yang kokoh untuk menghapus kebingungan teoretik di antara kaum sosialis, yang dikonsolidasikan dengan sebuah program politik Marxis. Kedua, pembangunan organisasi yang memiliki tujuan khusus untuk membangun dan mempertahankan kontak dengan semua pusat gerakan, menyediakan informasi yang lengkap dan tepat-waktu mengenai perjuangan, dan menyampaikan koran dan literatur Marxis secara reguler ke seluruh pelosok negeri. Dalam “Penemuan Kembali Marxisme Kita”, perjuangan macam itu diabaikan begitu saja: Martin membuang ajaran Lenin yang menekankan pentingnya koran dan literatur sebagai perancah dan medan diskusi terbuka untuk mengklarifikasi gagasan-gagasan yang keliru dan menegaskan perbedaan-perbedaan politik secara prinsipil dan mendasar sebelum dapat membicarakan mengenai persatuan-persatuan organisasional. Di tangan Martin, bahkan apa-yang-ditekankan Marx menjadi praksis revolusioner dikubur: ‘teori dan filsafat revolusioner hanya berguna apabila diubah menjadi kepemimpinan revolusioner’. Demikian ide-ide revolusioner ditumpulkan dan para pemikirnya diperlakukan sebagai ikon semata. Dalam “Negara dan Revolusi”, Lenin pernah menjelaskan bagaimana cara kelas penguasa dan sekutunya mencemari Marxisme selama ini:

“Apa yang terjadi pada teori Marx saat ini, sepanjang sejarah telah terjadi berulang kali pada teori-teori pemikir revolusioner dan pemimpin kelas tertindas yang memperjuangkan emansipasi. Selama masa hidup kaum revolusioner besar, kelas penindas terus-menerus member mereka, menerima teori mereka dengan kebencian yang paling kejam, kebencian yang paling hebat, dan kampanye kebohongan dan fitnah yang paling tidak bermoral. Setelah kematian mereka, berbagai upaya dilakukan untuk mengubah mereka menjadi ikon yang tidak berbahaya, untuk mengkanonisasi mereka, dan menguduskan nama mereka sampai batas tertentu demi ‘penghiburan’ kelas tertindas dan dengan tujuan menipu kelas tertindas, sementara pada saat yang sama merampas subtansi teori revolusioner, menumpulkan sisi revolusionernya, dan memvulgarisasinya.”

Dengan konsep persatuan epistemik yang mengalir di sepanjang garis revisionisme filosofisnya, Martin menggantikan signifikansi sentralisme-demokratik dalam pembangunan partai revolusioner dengan pretensi kesatuan metodologis dalam membentuk Biro Pendidikan Marxis non-partai. Pemikiran ini tersebar luas melalui universitas, sekolah, dan setumpuk sarana publisitas publisitas lainnya. Di kampus-kampus, mahasiswa-mahasiswa yang sedang bergerak mencari gagasan-gagasan maju untuk menjawab kebuntuan masyarakatnya dihalang-halangi oleh intelektual-intelektual borjuis-kecil dan profesor klerikal dengan ide-ide postmodernisme. Buku-buku, jurnal, dan artikel dari akademisi-akademisi Marxis yang revisionis, eklektis, dan postmodernis ke dalam ruang-ruang kuliah, seminar, dan diskusi-diskusi terbuka. Angkatan-angkatan muda yang semangatnya meledak-ledak tapi kurang-berpengalaman dan masih-kebingungan dijerat ke dalam aliran filsafat dan ideologi reaksioner itu. Dengan menawarkan teori-teori yang mengandung istilah-istilah luar biasa radikal; generasi-generasi baru diarahkan untuk menyangkal pemikiran-pemikiran rasional, kebenaran-kebenaran obyektif, dan terutama Marxisme sebagai sebuah pemikiran ilmiah yang sepenuhnya bertentangan dengan postmodernisme. Diteguk oleh aktivis-aktivis mahasiswa maka ide-ide postmodernis selanjutnya dibawa keluar kampus, digunakan sebagai panduan gerakan, dan menjangkiti aktivitas sosial-politik secara tragis. Pada periode kejatuhan dan kemunduran perjuangan kelas pekerja, pesimisme dan kecenderungan introspektif borjuis-kecil menjadi basis dari kebangkitan filsafat-filsafat lama yang mengklaim dirinya sebagai baru: subyektivisme, relativisme, agnostisisme, dan sebagainya. Ide-ide reaksioner ini bertebaran di lautan sosial yang ada, menemukan pengikut di antara elemen-elemen yang ragu, dan menekan gerakan buruh dengan ideologi-ideologi kelas-asing yang berbahaya.

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

(Berlanjut)

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai