“Kelas pekerja tidak berada dalam ruang hampa; ia dikelilingi oleh kelas-kelas dan lapisan sosial lain, yang pandangan kelasnya dapat tercermin dalam gerakan buruh. Oleh karena itu, perjuangan kelas bukan hanya perjuangan ekonomi dan politik, namun juga merupakan perjuangan filosofis, seperti yang berulang kali ditekankan oleh Lenin.” (International Marxist Tendency)
Situasi dunia sedang mengharu-biru dengan beragam krisis, peperangan, revolusi, kontra-revolusi, terorisme, kematian, kehancuran, dan bencana yang begitu rupa. Ini semua bukan hanya menyingkirkan kelembaman dari periode terdahulu, tetapi juga membuat banyak orang putus asa. Termasuk para aktivis organisasi dan gerakan kiri. Orang-orang yang dulunya percaya pada transformasi sosial secara mendasar kini berbalik mendukung sistem yang ada. Mereka yang pernah membara dan menari-nari di medan tempur sekarang tenggelam dalam kubangan rutinitas dan kemapanan semu. Inilah pola umum yang berlaku dalam sejarah. Bahwa segera setelah gerakan massa, pemberontakan dan revolusi mengalami kemunduran, maka kita akan melihat barisan panjang dari para pembelajar dan aktivis yang terjerumus ke lubang pengkhianatan. Satu-demi-satu, spesies ini dengan tergesa-gesa meninggalkan perjuangannya demi keselamatan studi dan karirnya masing-masing.
Kaum intelektual adalah barometer yang cukup akurat mengenai perubahan suasana hati kaum borjuis-kecil. Sebagai lapisan perantara yang berdiri di antara kaum proletar dan borjuasi, mereka adalah lapisan sosial yang secara organik tidak-stabil: terus-menerus terombang-ambing di antara dua kutub besar dalam masyarakat. Sejauh barisan intelektual mampu tertarik pada kelas pekerja dan sosialisme revolusioner, mereka selalu terbukti menjadi sekutu yang sangat tidak stabil, bimbang, dan tidak dapat diandalkan. Ketika kelas pekerja bergerak ke arah revolusioner, sebagian dari intelektual borjuis-kecil dapat merasakan antusiasme yang luar biasa, namun perubahan suasana hati ini dapat segera berubah menjadi kebalikannya apabila gerakan buruh kalah.
Pada periode kemunduran, kaum intelektual akan menyerah pada tekanan reaksi yang menghujani gerakan. Mereka mundur dan membuang keyakinannya akan kekuatan kaum buruh dalam memperjuangkan perubahan. Mereka menggantikan cita-cita perjuangan kolektif dengan pencarian solusi individual: subjektivisme, relativisme, agnostisisme, pragmatisme, positivisme logis, empirisme kasar–dengan kata lain: idealisme filosofis. Mereka menciptakan segala macam ide mewah untuk menjelaskan penyebab kekalahan dan melimpahkan kesalahan kepada kelas proletar. Untuk itulah mereka berceloteh tentang perlunya ‘ide-ide baru’ dan ‘kebebasan mengkritik’ untuk melampiaskan ketidaksabaran dan kekecewaan terhadap perjuangan massa yang tak-kunjung dimenangkan serta mengakhiri–apa yang mereka sebut sebagai–‘ortodoksi atau dogma yang menyesakkan’: Marxisme.
Di Rusia–segera setelah Revolusi 1905 mengalami kekalahan, gelombang demoralisasi menjadi mimpi buruk yang menyapu barisan terpelajar dan aktivis gerakan. Antara 1906 dan 1908, serangkaian buku dan artikel karikatur Marxis muncul dengan mengklaim mengembangkan pemikiran Marx dan Engel sesuai kebutuhan zaman. Penulisnya adalah intelektual kiri seperti Alexander Bogdanov, Anatoly Lunacharsky, V. A. Bazarov, Pavel Yushkevich, dan Victor Chernov. Mereka menjelaskan bahwa sebagian gagasan Marxisme sudah ‘kuno’, dan oleh karena itu, perlu diperbarui dengan memasukkannya ke dalam penemuan-penemuan ‘baru’ dari Mach dan Avenarius.
Namun Marxisme adalah pandangan dunia yang integral dan harmonis. Ini bukanlah kumpulan ide-ide filosofis dan ilmiah yang unsur-unsurnya dapat diubah sesuka hati. Apa yang disebut sebagai ‘pembaharuan kecil’ ini, dalam praktiknya, adalah penyangkalan total terhadap Marxisme dan filsafat materialisnya secara menyeluruh. Pada 1908, Lenin menulis “Materialisme dan Empiriokritisme” untuk memerangi revisionisme dan membela materisme dialektis. Tahun 1909, karya itu berhasil diterbitkan dan segera meluluhlantakkan keranjingan-keranjingan idealisme subyektif. Dalam penjelasannya Lenin menunjukkan bagaimana Machisme cenderung mengarah pada solipsisme (yang melebih-lebihkan peran subyek–yang individu dan partikular–dan sekarang muncul dalam bentuk mutakhirnya sebagai postmodernisme).
Mereka berusaha mengembangkan pemikiran Marxis tetapi bukan dengan melandaskan dirinya pada Marxisme. Esensi dari Teori Pengetahuan Marxis adalah hukum kontradiksi. Hanya kesatuan hal-hal berlawanan dan saling-merasuki dikembangkan secara vulgar oleh mereka. Prinsip pembangunan keseluruhan dalam hubungan-hubungan subyek-obyek, individu-universal, khusus-umum, kebetulan-kebutuhan dipahami secara berat-sebelah. Di satu sisi, mereka mengambil inspirasi dari empirisme dengan mengangkat konsep ‘perbedaan’ dan ‘diskontinuitas’ sebagai prinsip yang bertentangan dengan ‘identitas’ dan ‘interkoneksi’. Hasilnya adalah sebuah dunia tanpa kesatuan mendasar, tanpa kontradiksi internal atau gerak-diri yang jelas, karena dikuasai oleh pemisahan dan atomisasi yang semakin dalam tanpa henti menjadi aspek-aspek terkecil. Di sisi lain, dengan mengacu pada subjektivisme Kantian maka mereka menyangkal bahwa kita dapat benar-benar memahami realitas karena sudut pandang subjektif manusia. Ini hanyalah versi buruk dari dualisme lama.
Mereka yang berat-sebelah dalam menjelaskan materialisme dialektis selalu melebih-lebihkan peran subjek, individu, dan khusus, tanpa menekankan pada hubungan-hubungan timbal-baliknya dengan obyek, universal, dan umum. Mereka menerangkan kontradiksi internal atau gerak-diri bukan dalam kesatuan hal-hal berlawanan dan saling merasuki dalam pembangunan keseluruhan, melainkan sebatas kontradiksi-kontradiksi dalam pembangunan bagian-bagian yang terspesifikasi. Di tangan mereka, materialisme dialektis disampaikan secara membingungkan hingga tidak memadai dalam memahami dunia material yang terus-menerus berkembang, bergerak, dan berubah dari bentuk-bentuk yang lebih rendah menuju bentuk-bentuk yang lebih tinggi.
Dalam “Materialisme dan Empiriokritisisme”, Lenin mengingatkan bahwa semua ilmu pengetahuan didasarkan pada fakta: (1) dunia ada di luar pikiran kita; (2) pada prinsipnya kita dapat memahaminya. Dan kepada kaum idealis subyektif, Lenin menyatakan dengan sangat jelas bahwa pertanyaan yang menentukan mengenai materialisme bukanlah sejauh mana persepsi indra kita benar, atau seberapa sering persepsi tersebut menyesatkan; bukan pula sejauh kita mengakui segala sesuatu adalah materi, atau seberapa banyak pengalaman-langsung yang dikumpulkan–namun pada desakan bahwa alam semesta adalah dunia material independen yang bertindak tanpa berdasarkan indra kita.
Realitas tidak bisa tersubordinasi di bawah persepsi indera, karena hal ini membuat realitas bergantung pada persepsi. Dunia material tidak bergantung pada persepsi seseorang tentangnya. Pernyataan bahwa tidak ada apapun dalam akal yang tidak berasal dari indera mengandung benih gagasan yang terbukti kebenarannya. Ini adalah materialisme. Namun tanpa menegaskan tentang keindependenan dunia material yang tidak bergantung pada pikiran kita, maka materialisme macam itu akan menjadi begitu kasar, vulgar, atau berat-sebelah. Inilah penyimpangan yang akan membuka pintu bagi idealisme subyektif, yang mengingkari keberadaan realitas material yang tidak tergantung pada pengamatnya.
Dalam memerangi kaum revisionis, Lenin mendasarkan dirinya pada materialisme dialektis. Teori Pengetahuan Marxis yang mendasarkan dirinya pada pengalaman. Kaum Marxis mengatakan bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman, namun ini sama sekali tak-berarti pengalaman pribadi yang parsial dan terbatas oleh ruang dan waktu, tetapi pengalaman kolektif yang mencakup seluruh pengalaman manusia dalam periode tertentu. Marxisme memandang proses berpikir bukan merupakan praktik yang terisolasi, namun sebagai bagian dari keseluruhan pengalaman manusia, aktivitas indera dan interaksi dengan dunia materialnya.
Pengalaman kolektif memungkinkan kita memahami apa yang kita ketahui tentang dunia, membuat penilaian yang akurat dan ilmiah atas informasi yang kita terima melalui indera kita, dan menarik kesimpulan yang memungkinkan kita membuat prediksi yang benar. Oleh karena itu, pengetahuan tidak terbatas pada lingkup sempit persepsi indra individu, karena untuk memahami informasi terbatas yang diperoleh dari pengalaman individu, harus mengandalkan sejumlah besar informasi yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk asbtraksi teoritis.
Di dunia hewan, akumulasi pengalaman generasi masa lalu diwariskan melalui mekanisme transmisi genetik. Hewan itu secara naluriah mengetahui bagaimana bereaksi dalam situasi tertentu. Namun masyarakat manusia berbeda dari kelompok hewan lainnya. Di sini budaya dan pendidikan memainkan peran yang lebih penting daripada genetika. Bagaimana pembelajaran generasi masa lalu diteruskan ke generasi baru? Tidak ada mekanisme otomatis untuk hal ini. Penularannya harus dilakukan melalui mekanisme pembelajaran. Dan ini membutuhkan waktu, keuletan dan kesabaran.
Apa yang berlaku bagi masyarakat secara umum juga berlaku bagi kelas pekerja dan perjuangan sosialisme. Partai revolusioner adalah mekanisme dimana pelajaran masa lalu diteruskan kepada generasi baru dalam bentuk umum–teori. Ini setara dengan informasi genetika. Apabila informasi genetiknya benar dan lengkap maka akan bermuara pada terbentuknya manusia yang sehat. Jika terdistorsi, ia akan terlahir mati atau cacat. Sama halnya dengan teori. Sebuah teori yang merangkum pengalaman masa lalu dengan tepat dapat sangat membantu generasi baru menghindari kesalahan masa lalu. Namun teori yang salah hanya akan menimbulkan kebingungan, disorientasi, atau lebih buruk lagi.
Jika kita serius mengenai revolusi proletariat, negara yang melenyap, dan masyarakat tanpa kelas; kita harus melakukan pendekatan dengan serius, bukan dengan cara yang dangkal dan amatiran. Pertanyaan mengenai strategi dan taktik harus menempati tempat sentral dalam pertimbangan kaum Marxis. Tanpa taktik, semua pembicaraan tentang pembangunan gerakan revolusioner hanyalah obrolan kosong: bagaikan pisau tanpa bilah. Konsepsi strategi revolusioner mengalir dari pengaruh terminologi militer. Ada banyak persamaan antara perjuangan kelas dan perang antar bangsa. Untuk menggulingkan kaum borjuis, kelas pekerja dan kepemimpinnya harus memiliki organisasi yang kuat, tersentralisasi, dan berdisiplin. Kader-kader pemimpinnya harus mempunyai pengetahuan yang diperlukan tentang kapan harus maju dan kapan harus mundur, kapan harus berperang dan kapan harus menghindarinya.
Pengetahuan seperti itu mengandaikan, selain pengalaman, studi yang cermat dan terperinci tentang pertempuran, kemenangan, dan kekalahan di masa lalu. Dengan kata lain, ini membutuhkan pengetahuan tentang teori. Marxisme lahir dari pengalaman-pengalaman perjuangan kelas buruh dan merupakan ekspresi tertinggi dari pemikiran kolektif pada periode tertentu. Marxisme telah teruji oleh berbagai peristiwa sebagai satu-satunya teori yang benar dan mampu menjelaskan secara memadai mengenai maju dan mundurnya, kalah dan menangnya, bangkit dan menurunnya perjuangan hidup umat manusia. Lenin berkata: ‘Marxisme mahakuasa karena ia benar’. Jadi, sikap sembrono atau meremehkan teori ini tidak diperbolehkan, karena Marxisme merupakan generalisasi dari pengalaman kelas pekerja sepanjang sejarah.
Namun apakah tidak mungkin untuk berimprovisasi dan menciptakan ide-ide baru berdasarkan pengalaman hidup kita dalam perjuangan kelas? Ya, tentu saja mungkin. Namun akan ada harga yang harus dibayar. Dalam sebuah perang dan revolusi, peristiwa-peristiwa bergerak sangat cepat. Tidak ada waktu untuk berimprovisasi dan melakukan kesalahan seperti orang buta di ruangan gelap. Setiap kesalahan yang kita lakukan akan mendapat balasannya, dan bisa sangat merugikan kita. Inilah yang pernah dilakukan oleh kaum Machis di Rusia. Ini pula pernah dilakukan oleh beragam orang-orang terpelajar dan pemimpin-pemimpin gerakan massa di aneka negeri lainnya. Terutama oleh mereka yang secara vulgar menjelaskan kontradiksi dalam masyarakat kapitalis dengan memisahkan antara keumuman kontradiksi dan kekhususan kontradiksi, dan dari kekhusuannya menciptakan konsep-konsep kontradiksi pokok dan kontradiksi non-pokok, dengan aspek-aspek primer dan sekunder terpisahkan dari pembangunan sosial yang menyeluruh.
Dalam analisis terakhir, aliran filsafat mengungkapkan perkembangan sejarah, dan kepentingan material dari kelas-kelas yang berbeda, meskipun biasanya dalam bentuk yang tersamar. Namun pertanyaan besar yang dihadapi umat manusia saat ini adalah: bagaimana menyelesaikan permasalahan masyarakat kapitalis? Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky menggunakan materialisme dialektis untuk menunjukkan cara melakukan hal tersebut, dan membuktikan bahwa hanya kelas pekerja yang dapat memajukan masyarakat. Mereka yang menolak mengakui fakta ini, tidak dapat mengakui keabsahannya, sehingga perlu menggunakan kebingungan filosofis untuk melakukan hal tersebut. Seringkali, mereka bersembunyi di balik bentuk-bentuk idealisme subyektif untuk membenarkan hal ini, dengan alasan bahwa mempercayai kelas pekerja dan revolusi sosialis adalah hal yang naif. Dengan mengabaikan teori revolusioner sesungguhnya mereka sedang membantu reaksi.
Ideologi resmi borjuis mengobarkan perang tanpa henti melawan Marxisme, yang dianggap sebagai bahaya mematikan bagi kapitalisme. Para profesor borjuis terus-menerus menyebarkan propaganda dalam upaya mendiskreditkan Marxisme, terutama dengan menyerang jantung teori Marxis: materialisme dialektis. Kaum reformis dan sentris, dengan kesembronoannya, bukan saja bukan saja membiarkan tapi telah membuka pintu yang sangat lebar kepada kelas penguasa untuk mengoyak-ngoyak metode dialektika. “Marxisme tradisional tidak relevan lagi’ dan “Marxisme sudah mati”–mantra ini berulang kali mereka nyatakan. Namun kaum Marxis, kaum materialis yang paling konsisten takkan pernah menyerah. Kami menolak berbaring di kuburan kepalsuan, kebohongan dan hinaan para musuh-musuh proletariat. Marxisme adalah cerminan dari keinginan bawah-sadar kaum buruh untuk mengubah masyarakat. Nasibnya terkait dengan nasib kelas proletar. Dalam konteks inilah kita harus melihat signifikansi perjuangan Lenin melawan revisionisme filosofis.
Kini telah tiba waktunya kami mengundang semua kalian untuk mendiskusikan pemikiran Lenin terkait perjuangan tanpa ampun melawan kaum revisionis filosofis–“Materialisme dan Empiriokritisisme”. Untuk sebuah pimikiran ilmiah dan filosofis yang benar, daftarkanlah dirimu dalam Sekolah Politik Revolusioner sekarang juga: https://bit.ly/spr2024. Trotsky pernah berkata: ‘lokomotif kemajuan adalah kebenaran, bukan kebohongan’. Dan kebenaran, tidak akan pernah terkubur selamanya oleh tumpukan dusta dan pengkhianatan.
“Sejak Marxisme muncul sebagai kekuatan besar dan menantang tatanan yang sudah mapan, kelas penguasa dan antek-anteknya terus melancarkan perang melawan semua aspek ideologi Marxis, dimulai dengan materialisme dialektis. Setiap penyebutan Marxisme akan langsung menimbulkan kemarahan di kalangan orang-orang ini. ‘Ketinggalan zaman’, ‘anti-ilmiah’, ‘sudah lama dibantah’, ‘metafisik’ dan seluruh rangkaian reaksi yang basi.” (International Marxist Tendency)
Bangun Kepemimpinan Revolusioner Bolshevisme sekarang juga!
Catatan: gambar di bawah ini merupakan poster yang berkali-kali telah kami posting di halaman facebook, namun selalu digagalkan karena konten kami ‘secara sepihak’ diputuskan sebagai ‘penipuan’, dan oleh sebab itu, dianggap melanggar standar atau kepentingan “Pihak Facebook”, hingga dihapuslah olehnya secepat kilat.


