Kategori
Seruan

Mengapa Kita Perlu Mendiskusikan Perang Israel-Palestina?

“Di setiap epos besar dalam perkembangan kekuatan produktif dapat kita temui rezim sosial tertentu yang sesuai dengannya. Setiap rezim sosial hingga saat ini telah memastikan keuntungan luar biasa bagi kelas penguasa. Oleh karenanya, jelaslah bahwa rezim sosial tidaklah abadi. Mereka lahir secara historis, dan kemudian menjadi belenggu atas progres selanjutnya. ‘Semua yang muncul layak dihancurkan.’ Tetapi tak ada kelas penguasa yang pernah secara sukarela dan damai turun dari takhtanya. Dalam masalah hidup dan mati, argumentasi yang berdasarkan nalar tidak pernah menggantikan argumentasi kekerasan.” (Leon Trotsky, Membela Revolusi Oktober)

“Sebuah revolusi tidak selalu menjadi sumber pertumpahan darah dan air mata, seperti halnya api tidak selalu menghasilkan kehancuran. Sebuah revolusi berarti penggunaan kekuatan untuk menghancurkan sistem yang tidak memuaskan.” (Kaum Boshevik)

Marxisme memandang perkembangan kekuatan produktif sebagai kunci dari kemajuan masyarakat dan sejarah. Hari-hari ini kapitalisme sudah tidak mampu lagi mengembangkan kekuatan produktif yang ada. Kapitalisme yang telah kehabisan misi historisnya kini menjadi belenggu kolosal yang menghancurkan kemanusiaan secara menyeluruh. Kepemilikan pribadi atas alat produksi dan batas-batas sempit negara-bangsa memenjarakan rakyat pekerja dalam kamp-kamp eksploitasi dan penindasan berskala raksasa. Di skala dunia, krisis kapitalisme mencekam kehidupan umat manusia dalam badai kekacauan, ketidakstabilan inflasi, pengangguran, kemiskinan, dan penderitaan yang begitu rupa.

Krisis kapitalisme yang tak-terpecahkan membuka jalan bagi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah. Perang, revolusi dan kontra-revolusi menjadi perspektif internasional hari ini. Karl Marx pernah berkata: ‘tidak ada sistem sosial yang meninggalkan kancah sejarah sampai ia kehabisan tenaga dan tidak mampu lagi mengembangkan kekuatan produktif umat manusia’. Invasi Israel ke Gaza dan peperangan yang menyalak-nyalak merupakan bentuk pemberontakan kekuatan produksi terhadap kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara-bangsa. Pemboman besar-besaran Israel di Palestina berefek meluas dengan mengguncang situasi sosial, politik, dan ekonomi dunia. Hukum mekanika dasar menerangkan bahwa setiap tindakan memiliki reaksi yang serupa tapi berlawanan. Krisis kapitalisme memprovokasi reaksi kelas buruh dan kaum muda untuk melawan. Di seluruh dunia, dukungan dan solidaritas untuk Gerakan Intifada bermunculan secara besar-besaran.

Di mana-mana, di bawah permukaan sosial yang tenang dan kedamaian yang dangkal, ada arus keresahan, kemarahan, kesangsian dan ketidakpuasan yang membara, dengan kemuakkan yang luar biasa terhadap keadaan masyarakat kapitalis. Di satu demi satu negara–Kazakhstan, Iran, Sri Langka, Peru, Prancis, dan Inggis–pemberontakan massa telah meletus memasuki medan politik dengan kekuatan elemental. Bahkan di Amerika Serikat, ada perasaan tidak-puas yang meluas dan memprotes rencana-rencana imperialisme negaranya dalam perang yang berlangsung. Kini intervensi-intervensi imperialis–dari Pemerintahan Joe Biden–di Timur Tengah rontok. Perang mempertajam perjuangan kelas, mengaktifkan gelombang perlawanan akar-rumput, dan meretakkan front-front imperialis.  

Di Palestina, kekuatan-kekuatan produksi yang dihancurkan kapitalisme melancarkan pemberontakan habis-habisan. Kelas penguasa yang panik segera meluncurkan pemadaman brutal. Dengan mengatasnamakan agama dan memerangi jihadis, mereka membombardil Gaza secara membabi-buta. Pemboman militer Israel di Rumah Sakit Al-Ahli Al-Arabi saja, telah menelan lebih dari 500 korban jiwa yang mayoritasnya adalah perempuan dan anak-anak. Walaupun kelas pekerja dan rakyat sipil yang dikorbankan, tetapi media-media munafik dari konglomerat-konglomerat Barat memberitakan kalau Rezim Netanyahu hanya menumpas aksi-aksi terorisme Hamas. Pergerakan Hamas–yang didanai dinas keamanan Israel dan dipromosikan CIA untuk memotong Gerakan Intifada–sekarang diangkat sebagai topik-topik diskursif oleh surat kabar borjuis dalam memproduksi kebohongan dan sentimen-sentimen reaksioner keagaamaan.

Selama 2008-2023, kepemimpinan Hamas telah gagal memberikan ekspresi yang sadar dan terorganir bagi perjuangan rakyat Palestina. Aksi-aksi terorisme individual tidak akan pernah dapat memajukan Gerakan Intifada, tetapi justru meluncurkannya menjadi umpan peluru dan rudal-rudal imperialisme. Dengan kepemimpinan macam ini gelombang perlawanan dari bawah takkan pernah tersalurkan ke atas untuk meruntuhkan kapitalisme. Dipandu secara keliru maka potensi revolusioner massa disumbat dan dicemari begitu rupa. Hamas mensubordinasi perjuangan kelas di bawah perjuangan agama. Dan, di negeri-negeri yang perkembangan historisnya ketinggalan, reaksi atas perjuangan kelas di Palestina didistorsi sebagai konflik keagamaan. Kelas borjuis di berbagai negeri kapitalis terbelakang memperlakukan agama bukan sebatas sebagai lahan bisnis yang menggiurkan, tapi sekaligus panggung dan kubangan yang memabukkan. Di masa-masa krisis kapitalisme, agama disulap menjadi media untuk meraih dukungan massa. Di Indonesia, agama yang merasuki sendi-sendi kehidupan rakyat, mencampuri urusan-urusan sosial, ekonomi, politik, dan perang, digunakkan untuk memecahkan persatuan dan solidaritas kaum tertindas berdasarkan garis kelas. Di setumpuk surat kabar, institusi sosial dan pendidikan borjuis–sentimen keagamaan dikobarkan sebagai referensi pengambilan sikap atas konflik Palestina-Israel. Di tengah kekuasaan borjuis-nasional yang retak dan melemah, agama dengan para pengkhotbahnya–yang bisa mengakses kehidupan penduduk paling bawah–digunakan sebagai agen publisitas dan propaganda kepentingan-kepentingan borjuasi.

Mengenai invasi dan pemboman di Gaza, Rezim Jokowi menyembulkan kritikannya terhadap Pemerintahan Netanyahu. Gelombang radikalisasi dari bawah memaksa Jokowi bahkan untuk intervensi imperialis AS. Inilah kemunafikan borjuasi. Di masa-masa krisis dan ledakan tiba-tiba, sikap politiknya seolah bertujuan mendukung pembebasan Palestina. Padahal, motif utamanya adalah merintangi kebangkitan arus revolusioner di dalam negerinya dengan menyalurkannya keluar. Demikianlah, dalam masalah kebangsaan, Pemerintah Indonesia mendekati persoalan penindasan nasional di Palestina dan Papua secara tengik dan culas: di satu sisi, membela hak bangsa-kecil; di lain sisi, menjajah bangsa-kecil. Meskipun menggunakan pendekatan fleksibel, tetapi secara prinsipil kepentingannya tak-berubah: mempertahankan kepemilikan pribadi terhadap alat produksi dan negara-bangsa yang telah kehilangan pijakan ekonominya.

Di jantung masyarakat yang sedang sekarat, perjuangan kelas diekpresikan melalui konflik-konflik agama. Di tubuh kekuasaan, agama menyediakan pembenaran untuk berperang, menaklukan, berdamai, dan berkuasa. Namun agama sama sekali tidak mampu menawarkan apa-apa untuk mengakhiri konflik Palestina-Israel dan memandu Gerakan Intifada sampai di garis akhir kemenangan. Tidak ada jalan keluar atas dasar kepentingan borjuis, yang diatur untuk menjerumuskan umat manusia ke dalam zaman krisis dan perang imperialis. Hanya di sepanjang garis kelas dan berlandaskan perjuangan revolusionerlah kaum terhisap dan seluruh lapisan sosial tertindas dapat menggulingkan kapitalisme dan mengkahiri kekuasaan borjuis-imperialis. Begitu ini terjadi, masyarakat memasuki periode revolusi sosial. Inilah situasi yang ada sekarang di skala dunia: krisis sistem kapitalis yang menyeluruh mendorong kekuatan produktif untuk memberontak melawan batasan-batasan kepemilikan pribadi dan negara-bangsa.

Dengan ledakan dan tabuhan genderang perang imperialis yang membakar berbagai negeri, pemberontakan-pemberontakan tenaga produktif akan membawa umat manusia di zaman revolusi. Periode sejarah sedang berubah dan peperang imperialisme adalah rangsangan obyektif yang mempercepatnya. Sekarang, umat manusia hidup dalam dunia yang di mana tiang utama equilibirium kapitalis berguncang, melemah, dan runtuh. Di sektor ekonomi, gangguan dan pemulihan keseimbangan yang konstan ini berbentuk krisis dan ledakan tiba-tiba. Di ranah hubungan antar kelas, gangguan-gangguan keseimbangannya mengambil bentuk pemogokan, pembatasan dan penguncian sosial-politik, hingga perjuangan revolusioner. Di bidang hubungan antar-negara, gangguan keseimbangan itu adalah peperangan tanpa akhir–perang tarif, perang ekonomi, atau blokade-blokade imperialis.

Tidak diragukan lagi bahwa kurva perkembangan revolusioner sedang menanjak ke atas secara memukau. Di Eropa dan Timur Tengah, gangguan-gangguan terhadap keseimbangan kapitalisme akan mempersiapkan gelombang pasang revolusioner yang baru. Perang Israel-Palestina memperlihatkan itu semua. Di tubuh kekuasaan, gerombolan kapitalis dan imperialis menikmati kemewahan, melakukan korupsi dan pemborosan, dan menempatkan uang sebagai segala-galanya. Di akar rumput, massa yang menganggur, lapar dan miskin menggerutu dan menekan-nekan. Di zaman perang dan revolusi, semua ide dan keyakinan-keyakinan lama diremukkan. Kehidupan laki-laki dan perempuan dijungkirbalikkan. Cara-cara lama sudah tak-berguna dan cara-cara baru ditemukan. Inilah masa transisi yang luar biasa menakjubkan.

Di tengah pemboman besar-besaran di Palestina, lapisan-lapisan yang paling tertindas terbangun memasuki medan perjuangan kelas dan menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ledakan peristiwa telah memecahkan kebisuan dan menyingkirkan kelembaman dari periode-periode terdahulu. Perempuan-perempuan—yang sebelumnya terisolasi dan teratomisasi sebagai budak-budak rumah tangga dan diperangi dengan seksisme dan femisida kini ditarik keluar untuk memberontak: mereka sangat berdedikasi—tidak takut berdiri di garis depan pertempuran, menunjukkan kemarahan, tekad dan ketulusannya dalam berjuang sampai mati. Sikap itu bersumber dari penderitaan hidupnya yang sedang dibakar oleh perang dan tekad macam ini mengantisipasi revolusi di hari-hari esok nanti.

Dari sudut pandang Marxis, proses sejarah saat ini memang rumit tapi tetap menguntungkan. Dengan kepastian dari pemahaman teoretik, kita dapat mengatakan hari ini bahwa secara keseluruhan situasinya sepenuhnya revolusioner. Tetapi revolusi tidaklah jinak; revolusi memiliki fluktuasinya sendiri, krisisnya sendiri, dan konjungturnya sendiri yang menguntungkan. Dan, keyakinan kaum Marxis tidak pernah bergeser seincipun: apa yang terjadi di masa lalu pasti terulang kembali dalam kualitasnya yang lebih tinggi. Sampai hari ini, sejarah umat manusia merupakan arena perjuangan, yang melibatkan kepentingan dan adu-kekuatan tanpa henti. Perempuan dan laki-laki, tidak-bisa-tidak, akan terlibat dalam perjuangan ini. Hubungan-hubungan sosial kita membentuk sejarah yang abadi: melintasi dinding-dinding kematian, mewarisi mimpi buruk dan tragedi kemanusiaan, kekayaan dan pelajaran, bagi generasi-generasi masa depan.

Sejarah merupakan sebuah spiral yang melilit maju. Di dalamnya terdapat aneka peristiwa. Dan, tidak pernah dalam sejarah, perempuan bangkit bertempur dan mengangkat senjata, kecuali dalam momen-momen perang dan revolusi! Sejarah revolusi adalah juga sejarah perjuangan perempuan, peristiwa di mana lapisan sosial yang paling-lembam dan paling-tertindas menghancurkan rantai yang membelenggu kesadarannya selama berabad-abad. Dalam perang dan revolusi, semua keyakinan dan cara-cara hidup kuno tersingkir. Pada periode yang penuh gejolak, perempuan-perempuan yang dipandang menjinjikan dan diperlakukan secara mengerikan, akan dilahirkan kembali sebagai pejuang yang berdiri di barisan-barisan depan dan penting.

Dalam Perang Israel-Palestina, semua mata terbelalak menyaksikan: ketika massa semakin menderita, lapisan-lapisan perempuan pekerja dan kelas-menengah bawah mulai angkat bicara, dan bergerak turun ke jalan, dalam jumlah yang besar; berani, lebih berani, dan semakin berani–ini adalah tanda di mana agenda perubahan mendasar akan segera dimulai. Di tengah perjuangan kelas yang menajam, kepentingan-kepentingan seksional dari setiap lapisan sosial yang teradikalisasi bersatu: individu-individu yang mengejar kepentingan dan tujuan-tujuan hidup mereka sendiri, bergerak seperti yang dijelaskan Marx: ‘secara tak-terelakkan masuk dalam hubungan-hubungan tertentu, yang terlepas dari kehendak mereka, yaitu hubungan-hubungan produksi’. Menghadapi serangan-serangan dan penghancuran luar biasa, perempuan dan laki-laki yang posisi sosial-ekonominya dihisap, ditindas, dan dimiskinkan terdorong untuk melawan bersama dan menciptakan sejarah. Melalui “Keluarga Suci”, Marx dan Engels menjelaskannya:

“Sejarah tidak melakukan apa-apa, ia tidak memiliki kekayaan yang sangat besar, ia tidak melakukan pertempuran. Adalah manusia, manusia sejati yang hidup dan melakukan semua itu, yang memiliki dan berjuang; ‘sejarah’ bukanlah, seolah-olah, seseorang yang terpisah, menggunakan manusia sebagai alat untuk mencapai tujuannya sendiri; sejarah tidak lain adalah aktivitas manusia yang mengejar tujuannya.”

Trotsky dalam “Sejarah Revolusi Rusia”, menjelaskan bahwa ketika kontradiksi dalam masyarakat semakin intens dan kekuatan sejarah secara keseluruhan bertambah besar, maka karakteristik-karakteristik pribadi akan menyesuaikan dirinya sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh zamannya: ‘iritasi yang serupa (tentu saja tidak begitu identik) dalam kondisi serupa memunculkan refleks yang serupa; semakin kuatnya iritasinya; semakin cepat ia mengatasi kekhasan pribadi. Menghadapi rasa geli, orang bereaksi berbeda, tetapi terhadap besi panas, sama saja. Seperti palu uap mengubah bola dan kubus menjadi lembaran logam, demikian pula di bawah hantaman peristiwa yang terlalu hebat dan tiada terelakkan, resistensi dilebur dan batas “individualitas” hilang’. Kebebasan-kebebasan relatif untuk bertindak secara terpisah-pisah bukan saja tak berguna, tapi terutama tidak mungkin dilakukan pada periode perang dan revolusi. 

Trotsky menjelaskan bahwa palu yang berat meremukkan kaca tapi menempa baja: ‘palu revolusi adalah besi baja yang ditempa oleh karakter massa. Segera setelah kebangkitan massa, seorang jenderal Tsarist, Zalweski menulis dengan penuh kemarahan, “Siapa yang akan percaya bahwa tukang antar barang atau seorang tukang ronda tiba-tiba menjadi penjaga keadilan, seorang pelayan rumah sakit menjadi direktur rumah sakit, seorang tukang cukur menjadi kepala kantor, seorang kopral menjadi panglima tertinggi, seorang buruh harian menjadi mayor, seorang juru kunci kuburan menjadi direktur sebuah pabrik?”’ Pada masa-masa perang dan revolusi, kebutuhan dan tujuan banyak individu bergabung untuk menciptakan kondisi bagi perubahan revolusioner: massa yang merupakan produk sejarah tertentu secara dialektik berbalik membentuk dunia mereka dengan mendorong ke depan individu-individu pemimpin yang dapat memajukan masyarakat. 

Dalam setiap momen pra-revolusioner dan revolusioner, barisan-barisan perempuan pekerja adalah yang paling ditakuti penguasa. Bersama angkatan-angkatan muda di sekitarnya, mereka bukan sekadar sigap dan berani tapi terutama mampu menebar agitasi dan menginspirasi massa. Daya juangnya tinggi dan setiap tindakannya berapi-api. Dari lapisan perempuan dan muda yang teradikalisasi inilah akan ditemukan calon-calon pemimpin-pemimpin revolusioner masa depan. Demikianlah ledakan peristiwa mendorong kaum terhisap dan tertindas bukan saja berperang secara fisik, tetapi juga mengadu argumen dan pemikiran. Lapisan-lapisan yang selama ini dibungkam, dikucilkan, dan dilemahkan mendapati kepercayaan diri untuk bertempur dan cenderung mengembangkan gagasan baru. Di tengah gelombang kebangkitan baru, Intifada yang bergerak kembali hari ini, meletakkan gagasan revolusioner sebagai senjata teoretiknya. Menghadapi ketidakstabilan akut dan bentrokan tajam yang berbentuk perang tanpa-akhir, lapisan termaju dari gerakan ini–mau-tidak-mau, suka-tidak-suka–menarik kesimpulan revolusioner untuk memajukan perjuangannya.

Walaupun proses sejarah sangat kompleks, tetapi kemajuan ini menunjukkan kebenaran materialisme historis: dalam ketidakpastian peristiwa yang tampak kacau, penuh dengan kejang-kejang historis dan belokan politik mendadak, terdapat keteraturan yang menjadi hukum paling umum dalam perkembangan sosial-ekonomi masyarakat: umat manusia bergerak untuk meningkatkan penguasaannya terhadap alam demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, yang terekspresikan tidak sekadar melalui industri, teknologi, dan teknik, melainkan pula ilmu-pengetahuan. Pada periode peperangan dan revolusioner, perkembangannya ditampilkan oleh perubahan-perubahan cepat dan melompat-lompat pada kesadaran massa. Dalam “Membela Revolusi Oktober”, Trotsky menjelaskannya begitu rupa:

“Tetapi kesadaran manusia tidak sekadar secara pasif mencerminkan kondisi objektifnya. Kesadaran manusia terbiasa bereaksi secara aktif terhadap kondisi objektif. Pada saat-saat tertentu reaksi ini mengambil karakter massa yang tegang dan menggelora. Semua moral dan tatanan yang berlaku tumbang. Intervensi aktif massa dalam peristiwa sejarah merupakan elemen yang paling dibutuhkan dalam sebuah revolusi.”

“Tetapi bahkan aktivitas yang paling dahsyat sekalipun dapat tetap terhenti dalam tahap demonstrasi atau pemberontakan, tanpa mencapai ke puncak revolusi. Pemberontakan massa harus mengarah ke tergulingnya dominasi suatu kelas dan tegaknya dominasi kelas lain. Hanya dengan begitu kita mencapai revolusi. Kebangkitan massa bukanlah aksi terisolasi, yang dapat diserukan kapan saja diinginkan. Kebangkitan massa mewakili sebuah elemen yang terkondisi-secara-objektif dalam perkembangan revolusi, sebagaimana revolusi merepresentasikan sebuah proses yang terkondisi-secara-objektif dalam perkembangan masyarakat. Tetapi jika kondisi-kondisi yang diperlukan untuk kebangkitan ini hadir, kita tidak boleh menunggu secara pasif, dengan mulut ternganga; seperti yang dikatakan Shakespeare: ‘ada gelombang pasang dalam pergulatan manusia. Yang, bila kita arungi saat pasang naik, akan mengarah ke keberuntungan’.”

“Untuk menyingkirkan tatanan sosial yang sudah usang, kelas yang progresif harus memahami bahwa waktunya telah tiba dan menetapkan tugas untuk merebut kekuasaan. Di sini terbukalah medan aksi revolusioner yang sadar, di mana wawasan ke masa depan dan perhitungan berpadu dengan tekad dan keberanian. Dengan kata lain: di sini terbukalah medan aksi bagi Partai [Revolusioner].”

Perubahan mendadak dan tajam berakar pada keseluruhan situasi saat ini. Satu-demi-satu negeri, kelas buruh dan kaum muda sedang dan sudah memasuki medan perjuangan politik. Tetapi momen pra-revolusioner atau revolusioner itu mempunyai pasang dan surut. Gejolak perang dan revolusi dapat terungkap selama bertahun bahkan berdekade lamanya dan massa tidak mungkin terus berada dalam ketidakstabilan yang berlarut-larut. Ada saat-saat yang sangat maju, tetapi juga terdalat masa-masa kelelahan, reaksi dan kekecewaan berat. Lapisan tua dari unsur-unsur yang lelah dan terdemoralisasi akan mundur dan digantikan oleh unsur-unsur yang lebih muda, bersemangat, siap untuk bertempur. Dalam menghadapi kondisi ini, apa yang harus kita lakukan dan darimana kita memulainya?

Kaum muda, lebih-lebih buruh muda dan perempuan sedang dan akan bangkit, lagi dan lagi. Dalam tahap-tahap awal dari perkembangan revolusioner, selalu ada kenaifan dan kebingungan dari lapisan-lapisan baru. Mereka pertama-tama akan mengekspresikan keresahannya di luar organisasi massa tradisional yang ada, dengan membentuk sekte-sekte gerakan tertentu, atau melirik organisasi dan kepemimpinan yang mapan secara kuantitatif. Pada tahapan ini partai dan pemimpin-pemimpin yang ada diuji satu-per-satu, dengan serangkaian krisis internal dan perpecahan ke kanan dan ke kiri. Namun bagi kaum revolusioner, bagaimanakah tinjauannya terhadap gerakan massa dan kepemimpinan yang ada saat ini?

Ide-ide Marxis adalah satu-satunya teori yang dapat memandu kelas buruh dan kaum muda menuju kemenangan di Eropa, Timur Tengah, dan seluruh dunia. Namun dalam kepungan invasi dan pemboman Israel saat ini, bagaimanakah sosialisme dapat membebaskan Palestina? Mengapa kaum revolusioner menyerukan pembangunan organisasi dan partai revolusioner berlandaskan Marxisme? Apakah ini memadai dalam manjawab pertanyaan-pertanyaan kebangsaan dan memainkan peran strategis dalam perkembangan kemanusiaan secara menyeluruh?

Dalam menjawab pertanyaan ini kami mengajak semua kalian yang tertarik dengan ide-ide revolusioner untuk mengikuti Diskusi Publik Front Muda Revolusioner (FMR) Yogyakarta. Agenda ini akan dilaksanakan pada: Minggu (22 Oktober 2023), pukul 19.00 WIB-selesai, di Nitikusala Coffe and Tea. Hadirilah pertemuan diskusi-politik itu. Daftarkan dirimu sekarang juga: 081215077989 (FMR Yogyakarta).

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai