“Kita adalah ‘minjung’, rakyat jelata yang harus merubah rasa rendah diri menjadi percaya diri. Rasa malu menjadi kebanggaan, ketakutan dan pengecut menjadi kemarahan dan keberanian, kebisuan dan pasrah diri menjadi kritis dan setia berjuang….” (Chun Tae-il)
“Kaudapat membakar kebun bunga, tetapi kautidak dapat mencegah datangnya musim semi.” (Pepatah Afghanistan)
“Tidak ada dunia yang merintangi jalannya guntur; percikan akan mengobarkan api!” (Kaum Bolshevik)
Atas nama investasi dan pembangunan, kehidupan kita jatuh dalam kubangan sejarah mengerikan. Horor kekerasan-reaksioner bergentayangan. Setan-setan bersenjata beraksi tidak karuan: tanah-tanah kaum miskin kota digusur; daerah tangkapan nelayan diserobot kasar; lahan-lahan petani dirampas: serikat-serikat buruh diberangus; hutan-hutan adat diobrak vulgar; sekolah dan kampus-kampus disisir; bangsa-kecil dianiaya, dihilangkan paksa, dilecehkan dan diperkosa, dibunuh dan dibantai. Kawan, mungkin suatu hari kelak: kitalah yang akan menjadi sasaran selanjutnya. Boleh jadi: kami, kalian, serta semua orang yang kita kasihi–bakal dijadikan sebagai korban pula. Sebab, kita tinggal di suatu negeri yang melanggengkan kepemilikan pribadi dengan menghisap dan menindas rakyat pekerja. Nyawa, jiwa dan raga kita bahkan tak-berharga ketimbang laba. Demi mengejar keuntungan, maka negara borjuis dan kelas penguasa gampang sekali menjadikan kita sebagai umpan meriam dan target penjagalannya. Kami pikir kalian telah mengerti! Bahwa hidup kita sedang diancam tirani-borjuasi. Kebebasan-kebebasan untuk menyampaikan pendapat, berekspresi, dan berasosiasi terus dilucuti. Hak untuk hidup, merdeka, sehat, dan berpendidikan semakin dikurangi. Setiap hari kita bahkan disasar beragam bahaya: dikriminalisasi, dicabuli, dihilangkan, dan dibuat mati. Kekuasaan hari-hari ini memang tegak begitu keji. Di Indonesia dan West Papua–kejahatan-kejahatan kemanusiaan tiada berhenti. Penguasa mengarahkan penegak hukum bukan mengupayakan keadilan, tetapi melindungi kekuasaannya.
Hasilnya begitu gila: pelanggaran HAM berlangsung tapi tanpa meninggalkan siapa-siapa sebagai pelaku dan jika terungkap siapa penjahat HAM-nya namun musykil untuk diadili. Hukum dan lembaga peradilan kini amat membuat menyeringai. Dalam tiap-tiap letusan tragedi kemanusiaan dilukiskan seperti misteri. Kenyataan tentang penderitaan para korban kemudian disulap jadi cerita fiksi. Inilah mengapa deretan fakta dan pengakuan penyitas tidak pernah dipeduli, berkali-kali diabai, dan seolah tak pernah terjadi. Di negeri ini: hukum dan hak asasi tidak berarti. Keduanya telah dimakan penguasa hingga diolah jadi ta’i. Makanya lingkungan kita dipenuhi virus dan bakteri. Mereka menerabas berbagai pranata sosial, budaya, agama, seni, politik, dan ekonomi. Olehnya ketidakadilan melenggang tinggi-tinggi. Kian ke mari ketidakadilan itu semakin menumpukan persoalan kemanusiaan. Ketidakadilan jauh tertatanam di dasar masyarakat berkelas. Kepemilikan pribadi terhadap alat produksi merupakan akar ketidakadilan, diskriminasi dan eksploitasi. Penguasan Properti secara pribadi meningatkan pembagian kerja ment dan fisik, ketidaksetaraan penerimaan surplus, hingga serangan-serangan terhadap standar hidup kita sekarang. Kawan, kini kehidupan kita sedanh dipertaruhkan. Setiap ketidakadilan sudah waktunya memicu sikap berlawan. Hanya tiap-tiap perlawanan akan direspon kekuasaan dengan kekerasan. Kekerasan kemudian memperuncing ketidakadilan. Dan ketidakadilan selanjutnya mengonggokan daftar kekerasan. Inilah yang dimaksudnya sebagai spiral kekerasan yang terlembagakan. Sekarang kita harus menyangsi! Buat siapakah demokrasi di negeri ini: rakyat pekerja atau borjuasi? Bukankah ketika kau hadapkan wajahmu ke mana-mana: niscaya akan terlihat kebrutalan yang mengaga. Badan orang-orang bersenjata adalah pelakunya—kepentingan siapa yang mereka layani kalau bukan kelas yang bermilik dan berkuasa?
Di tangan mereka setiap orang mungkin bisa mengkritik dan memprotes, tapi tidak mendapat jaminan keselamatan setelah suaranya dilepas. Daripada dilindungi dan mendapat keamanan; kita justru dibanduli teror, intimidasi, represi, hingga mudah sekali dituduh telah melakukan praktik kriminalitas. Berkait itulah tidakkah kita punya pandangan serupa dan pasti bersepakat: demokrasi yang ditegakkan adalah demokrasi borjuis? Melalui hukum, pengadilan, penjara, polisi dan tentara—kekuasaan menyulap negeri ini jadi medan teror dan tempur. Penindasan merayap ke beragam lini kehidupan secara vulgar. Itulah mengapa ketika membuka berita—setiap hari dapat kita temukan kesewenang-wenangan menggelegar di banyak sektor: buruh di-PHK karena meminta kenaikan upah atau menentang perlakuan diskriminasi dalam pabrik; petani dikriminalisasi gara-gara menolak perampasan tanah; nelayan dipenjara lantaran melawan pencemaran lingkungan; masyarakat adat diteror dan diintimidasi ketika menjaga kelangsungan hutan-hutan adatnya; kaum miskin kota diperangi saat mempertahankan pemukimannya dari penggusuran; perempuan dituduh melakukan kejahatan padahal membela dirinya dari upaya pemerkosaan; wartawan dibui untuk melindungi nama baik pemangku kepentingan; mahasiswa dan pelajar ditangkap, ditahan, dan kenai DO atas alasan mengganggu keteriban dan keamanan; dan yang terakhir adalah yang paling menegerikan—Rakyat-Bangsa West Papua terus menerus deperlakukan secara rasis, dikirimi militer, dan dipaksakan Otsus guna meredam desakan Hak Menentukan Nasib Sendiri sebagai Solusi Demokratis.
Sekarang pertanyaanya: melihat itu semua apakah kita cuma akan terus menjadi penonton dan menerima keadaan yang mengerikan ini? Bukankah kalian muak melihat kebuasan, kemerosotan, dan ketidakadilan menyembul di sana-sini? Sampai kapan membiarkan para bajingan menggusur dan menganiaya rakyat miskin kebanyakan, mengeksploitasi kelas pekerja, menjajah bangsa lain, melecehkan kaum perempuan, dan melilit angkatan muda dalam ketidakpastian masa depan? Adakah jaminan kehidupan dalam kepungan tindakan brutal, keji dan lancung? Tidak adakah keinginanmu menyalakan perubahan; atau bahkan membakar, meledakkan dan menghancurkan hal-hal yang jauh dari perasaan-perasaan kemanusian dan keadilan?
“Keadilan tidak bisa ditunda oleh janji, apalagi kesepakatan. Keadilan dihadirkan dengan perjuangan, pertarungan, dan perebutan.” (Pelatah Radikal)
Senjata Kita
“Jika kami bunga. Engkau adalah tembok. Tapi di tubuh tembok itu. Telah kami sebar biji-biji. Suatu saat kami akan tumbuh bersama. Dengan keyakinan: engkau harus hancur. Dalam keyakinan kami. Di mana pun tirani harus tumbang!” (Wiji Thukul)
Kutipan sajak itu dulunya menggema di tengah amisnya darah dan keringat para pejuang di medan Orde Baru. Rezim di mana serdadu tampil sebagai strata istimewa: mendulang kekayaan dari eksploitasi dan monopoli kekerasan, memborong semua jabatan industri dan kenegaraan, hingga punya kontrol dalam urusan pengetahuan dan kebenaran. Hanya puisi Thukul menolak tunduk di bawah kekuasaan karena berdentum sebagai suluh penyadaran dan penyulut pemberontakan. Begitulah bait-baitnya menghantam ketentraman kelas penguasa. Diajaknya massa-rakyat tidak mudah menyerah meski kefasisan Soeharto telah menelan korban meraksasa. Walau teror, intimidasi, pembantaian, pembunuhan, penculikan, pemenjaraan, dan penghilangkan paksa di depan mata, tapi api perlawanan terus terbakar dan membara. Itulah kalanya bait seorang buruh tidak saja menjadi saksi atas onggokan praktik bonapartisme, tapi juga menebar harapan dan menaruh keyakinan pada keberlanjutan perlawanan. Lebih-lebih untuk menuntaskan perjuangan pembebasan nasional dengan kepemimpinan proletariat untuk meruntuhkan tirani dan membentuk pemerintahan buruh dan rakyat miskin. Kini kita sedang berada dalam situasi demikian. Pertempuran melawan imperialisme dan borjuis-borjuis nasional di negeri kita sendiri tengah berlangsung.
Dunia tak-sebatas bergejolak menghadapi krisis kapitalisme, melainkan pula terbakar oleh rambahan gerakan dan ide-ide sosialisme. Ambruknya pasar saham Wallstreet bukan sekadar menggoyahkan imperium modal, melainkan pula menumbuhkan gugatan dan ketidakpercayaan terhadap sistem yang ada. Maka perlawanan terhadap kapitalisme menjalar dari Amerika Serikat hingga Jazirah Arab dan Afrika Utara. Begitulah meletusnya gerakan-gerakan Anti-Donald Trump, Occupy, Black Lives Matter, Musim Semi Arab. LGBT, Hip-Hop, Black Power, dan Anti-Apartheid. Dalam setiap gerakan inilah ide sosialis diadopsi dan dipupuk. Kapitalisme yang membiakan diskriminasi, eksploitasi, kemiskinan, ketimpangan dan kekerasan pun ditentang dan dikutuk. Tuntutan-tuntutan demokratis dan program-program revolusioner dibentangkan melalui aksi massa yang meluap dan terus-menerus. Maka sosialisme yang selama ini dibombardil prasangka dan stigma-stigma kelas penguasa kembali populer di tengah massa-rakyat. Pengalaman bergerak secara kolektif tidak saja mendesakan tuntutan reformis dan membangkitkan kepercayaan kepada kekuatan massa, tetapi juga memudahkan penyerapan gagasan-gagasan termaju dan penarikan kesimpulan revolusioner. Begitulah pernyataan kaum muda yang ikut melancarkan Musim Semi Arab. Bahwa Marxisme—yang menjadikan revolusi proletariat sebagai jantung teorinya—sangat relevan dalam perjuangan penggulingan Rezim Mubarak. Seorang perempuan revolusioner menulis:
“Kami cenderung memandangnya sebagai suatu cara memahami apa yang kami alami kini. Pikirkanlah apa yang terjadi di Mesir. Jatuhnya rezim Mubarak begitu menginspirasi. Peristiwa itu membongkar begitu banyak stereotip—demokrasi awalnya dianggap bukan hal yang perjuangkan rakyat di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Peristiwa itu menegaskan bahwasahnya revolusi adalah suatu proses, bukan suatu peristiwa. Apa yang terjadi di Mesir adalah revolusi, kemudian kontra-revolusi dan lalu kontra-revolusi. Apa yang kami pelajari darinya adalah pentingnya organisasi.”
Kini keyakinan kami tak-bergeser seincipun: kita membutuhkan organisasi revolusioner. Diisi oleh kaum buruh dan muda yang sadar-kelas—dimana perjuangannya berupaya menghadirkan transformasi sosial secara mendasar. Pada tahap permulaannya–senjata untuk mengobarkannya bukan surat tilang, borgol, tongkat, pistol, water canon, granat, bayonet dan sepatu lars; melainkan teori revolusioner. Tidakkah kamu bosan atas pembatasan-pembatasan oleh kaki-tangan kelas borjuis? Sampai kapan kehidupanmu akan ditenggelamkan dalam lubang kehinaan, kepongahan, dan kebebalan? Sekarang kami harap dirimu lebih terbuka untuk mempelajari Marxisme secara mendalam. Sekaranglah saatnya kita berjabatangan dengan teori revolusioner. Karena pengetahuan ini amat penting untuk mengarungi dunia yang disesaki penghisap dan penindas. Ingatlah! Lemahnya kemampuan teoretik telah lama membungkus pikiran kita dalam pemahaman yang kaku, beku, dan penuh ilusi. Inilah kenapa begitu banyak orang takut terhadap segala yang berbau kiri. Itulah mengapa sejarah gerakan kiri di negeri ini tercatat dengan tinta darah: orang-orangnya disiksa, diperkosa, dibunuh dan dibantai secara berjamaah. Bahkan warisan literaturnya juga ikut dimusnahkan dengan kebrutalan polisi dan tentara: buku-buku kiri disita dan penjual maupun penerbitnya diancam penjara.
Sekarang tidak mungkin lagi membiarkan pikiran-pikiran kita ditenggelamkan dalam kubangan ketidaktahuan dan pembodohan yang mengerikan. Saatnya organisasi revolusioner dibangun dengan berlandaskan Marxisme. Waktunya ide dan gagasan yang selama ini dibatasi oleh kelas penguasa dipelajari dengan penuh antusiasme untuk mengakhiri kapitalisme secara revolusioner. Sudah tak-mungkin kebenaran dan pengetahuan didaku seenak kekuasaan dan hukuman-hukuman sepihak diputuskan dengan lancang. Tidak ada cara lain, bergabunglah bersama kami dalam membangun kepemimpinan revolusioner untuk memandu perjuangan penghabisan di masa depan.
“Sekaranglah waktunya untuk melakukan kerja keras yang diperlukan untuk mempersiapkan perjuangan yang tak terelakkan di masa depan. Sebuah organisasi revolusioner dapat memberikan ide-ide yang membantu gerakan-gerakan ini menang, dan memberikan pelajaran yang diperlukan sehingga massa dapat memahami krisis ini. Tendensi Marxis Internasional telah mencapai kemajuan yang mengesankan dalam beberapa tahun terakhir, dan siap menyatukan elemen-elemen revolusioner terbaik di bawah benderanya. Banyak kelompok yang datang ke arah kami dan bergabung dengan gerakan kami. Kita harus mempunyai rasa urgensi untuk membangun dan melatih organisator Marxis baru yang terintegrasi dalam perjuangan nyata. Kita tidak puas lagi hidup di bawah status-quo perang imperialis, penindasan, bencana lingkungan hidup, dan eksploitasi kapitalis. Bergabunglah dengan kami dalam perjuangan untuk sosialisme!” (International Marxist Tendency)
