Kategori
Seruan

Seruan Diskusi tentang Sosialisme dan Pembebasan Palestina

“Perang yang terjadi saat ini pada dasarnya adalah pemberontakan kekuatan produksi melawan bentuk politik bangsa dan negara. Ini berarti runtuhnya negara nasional sebagai unit ekonomi yang mandiri. Bangsa ini harus terus eksis sebagai sebuah fakta budaya, ideologis dan psikologis, namun landasan ekonominya telah tercabut dari bawah kakinya. Semua pembicaraan mengenai bentrokan berdarah yang terjadi saat ini sebagai upaya pertahanan nasional adalah sebuah kemunafikan atau kebutaan.” (Leon Trotsky)

Kapitalisme sudah mencapai tahapan perkembangan tertingginya: ekspor-kapital menembus batas-batas sempit negara-bangsa, meruntuhkan pusat-pusat ekonomi nasional, dan mendirikan perekonomian global dengan menghubungkan semua negeri dan menggabung berbagai tahapan perkembangan historis yang berbeda-beda di bawah pemaksaan-pemaksaan imperialisme. Di zaman imperialis, seluruh permukaan bumi telah habis dibagi di antara perusahaan-perusahaan besar yang mendominasi dunia dengan mengandalkan militerisme. Dalam periode ini, perang menjadi tak-terelakkan dan masalah-masalah nasional menjadi peristiwa yang meledak di mana-mana.

Di Timur Tengah, perampokan dan pengrusakan ekonomi yang beralatkan militer telah lama membara. Di Gaza, konflik Israel-Palestina memasuki babak-baru, dengan tingkat konflik yang semakin tajam dan ketahananan sistem yang bertambah rapuh. Perang mempercepat seluruh peristiwa: memanaskan atmosfer sosial, membakar penderitaan kaum terhisap dan tertindas, dan menyingkapkan secara telanjang semua kontradiksi yang telah bertumpuk-tumpukan dalam masyarakat berkelas. Pada tahap inilah kelembaman–dari periode yang sebelumnya–tersingkir, aktivitas massa meningkat, dan perimbangan kekuatan bergeser.

Setelah mendapat onggokan provokasi dari militer Israel, Hamas meluncurkan serangan rudal yang segera dibalas oleh Pemerintahan Netanyahu dengan serangan-balik teramat brutal. Tanggal 7 Oktober 2023, Palestina dibombardil. Di jalan buntu perkembangan kapitalisme, korupsi dan pemborosan mengepung perekonomian Israel secara mengerikan. Dunia lama sudah busuk dan rusak sampai ke sum-sum. Kelas pekerja yang bekerja banting-tulang diperhadapkan dengan rezim borjuis tukang-jagal dan maling. Perumahan-perumahan kumuh keluarga-keluarga terhisap berseliweran di sekitar bangunan-bangunan mewah para penyamun. Pembusukan yang dimulai dari atas mengalir ke bawah dengan beragam kekotoran, kemelaratan, dan kekacauan yang takkan pernah terselesaikan. Dalam kemerosotan inilah kebijakan perang dilancarkan.

Walaupun perang ini disela oleh masa-masa damai untuk sementara waktu, tetapi tujuan perdamaian imperialis sejalan dengan motif peperangannya. Inilah mengapa perang dan perdamaian tidak bisa direduksi menjadi pertanyaan tentang pihak mana yang memulai dan mengakhirinya, tetapi lagi-lagi harus dilihat berdasarkan kepentingan kelas yang berdiri di belakangnya. Trotsky berucap: ‘kebijakan luar negeri adalah perpanjangan dari kebijakan dalam negeri’. Di zaman krisis kapitalisme, pemerintahan-pemerintahan yang ada telah tunduk sepenuhnya di bawah kemahakuasaan kapital-finans. Selama masa-masa tenang, kebijakan-kebijakan dalam negeri mereka tidak pernah beringsut dari kepentingan mendulang kakayaan, hak istimewa, dan aneka prestise. Kepentingan-kepentingan itu dipaksakan kepada massa melalui badan orang-orang bersenjata. Maka selama masa damai sekalipun, kekerasan minoritas penguasa tetaplah merajalela. Namun ketika kapitalisme berada di jalan buntu, kekerasannya diperluas ke negeri-negeri lainnya.

Pertempuran dalam krisis kapitalisme begitu kompleks. Marx menulis: ‘seperti halnya dengan epos-epos geologi, epos-epos dalam sejarah masyarakat tidaklah dipisahkan antara satu sama lainnya oleh garis-garis demarkasi yang kaku dan abstrak’. Semuanya berkait dan konkret. Perjuangan kelas merupakan penggeraknya. Marx berkata: ‘kekuatan adalah bidan dari setiap masyarakat lama yang mengandung yang baru’. Reaksi pemerintahan Israel terhadap serangan Hamas merangsang kebangkitan kembali dari gelombang Intifada.

Dunia lama berada dalam pembusukan yang luar biasa cepat dan tidak dapat diperbaiki. Keseluruhan sistem kapitalis hancur, tetapi belum terkubur oleh kekuatan yang memadai. Jutaan laki-laki dan perempuan tercabik-cabik oleh kecenderungan yang kontradiktif. Keyakinan lama mereka remuk dan keyakinan baru dipeluk. Di tengah krisis historis inilah kekuatan dahsyat mulai bersiap-siap untuk memasuki arena politik dan memainkan peran yang menentukan. Pemberontakan-pemberontakan massa hari ini mengantisipasi kejadian menakjubkan di masa depan. Akan tiba waktunya di mana kapitalisme digulingkan secara revolusioner dan sosialisme ditegakkan sebagai satu-satunya alternatif bagi kemanusiaan.

Kondisi sejarah tengah berubah dan perang sedang mempercepatnya. Tetapi apakah kaum revolusioner dapat menghadapinya? Bagaimanakah perspektif Marxis terhadap Perang Palestina-Israel? Di mana posisi kaum Marxis dalam periode hari ini? Seperti apakah hubungan lapisan pelopor dan massa? Mengapa revolusi menjadi satu-satunya solusi? Kenapa belum ada revolusi di tengah setumpuk insureksi? Dari mana kita mulai dan apa yang harus kita lakukan?

Dalam menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu–ikutilah Diskusi Publik Front Muda Revolusioner (FMR) Yogyakarta. Bergabunglah bersama kami–daftarkanlah dirimu di sini: 081215077989 (kamerad).

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai