“Bukan tugas kaum Marxis untuk mengukur suhu tubuh kelas buruh dengan termometer di bawah lidahnya guna mencoba menentukan kapan mereka siap bergerak. Termometer seperti itu tidak ada dan tidak akan pernah ada. Dan peristiwa tidak dapat dibuat lebih cepat dengan ketidaksabaran. Apakah situasi hari ini bergerak terlalu lambat untuk Anda? Ya, kita semua ingin peristiwa berkembang lebih cepat. Tetapi ini akan memakan waktu dan ketidaksabaran adalah musuh kita yang paling berbahaya. Tidak ada jalan pintas! Trotsky memperingatkan, mencoba menuai apa yang belum kita tanam pasti akan menyebabkan kekeliruan, entah kekeliruan ultra-kiri atau oportunis. Dan jika kita berteriak lebih keras dari kekuatan pita suara kita, kita hanya akan kehilangan suara.” (International Marxist Tendency)
“Ketika waktunya sudah matang, hal-ihwal akan bergerak ke sana dengan kecepatan dan energi yang luar biasa, tetapi mungkin perlu waktu yang cukup lama untuk mencapai titik tersebut.” (Friedrich Engels)
Setelah pengkhianatan kepemimpinan reformis dalam Getok Monas dan kegagalan penolakan PP No. 78, gerakan buruh beralih untuk menggantikan aksi-aksi politik dengan aksi-aksi ekonomi. Selama ledakan Gerakan Reformasi Dikorupsi, perlawanan terhadap kelas borjuasi diambil-alih oleh kepeloporan kaum muda. Meski ribuan mahasiswa dan pelajar bergabung dalam rapat-rapat umum, pendidikan-pendidikan alternatif, hingga pembangkangan berskala raksasa, tetapi tanpa keterlibatan yang menentukan dari kelas proletar maka gerakan-gerakan ini menemui jalan buntu. Teradikalisasinya kelas menengah yang pada perkembangannya membentuk kepemimpinan radikal-populis tidaklah cukup kuat untuk menggulingkan kapitalisme. Kendati organisasi-organisasi kaum muda radikal memiliki perspektif anti-kapitalis dan program-program yang dirumuskan dengan menggunakan pisau analisa sosialis, namun tanpa orientasi yang jelas ke organisasi massa tradisional proletariat dan tendensi teoretik Marxisme Revolusioner (Bolshevisme-Leninisme)—spontanitas massa sukar dikonsolidasikan. Inilah penjelasan mendasar mengapa perlawanan Reformasi Dikorupsi menjadi padam. Pemberontakan, protes dan demonstrasi yang dilancarkan mahasiswa dan pelajar tidak secara signifikan mempengaruhi kemampuan kapitalis untuk melakukan eksploitasi dan penarikan keuntungan. Hanya pemogokan umum dari kelas pekerja yang dapat melumpuhkan perekonomian dan meruntuhkan kekuasaan borjuasi. Tanpa upaya membangun dialog, menarik simpati, dan melibatkan kelas pekerja ke dalam agenda perjuangannya, maka gerakan kelas menengah takkan dapat bertahan lama. Di setiap kampus dan sekolah-sekolah, komite solidaritas pelajar-mahasiswa-pekerja harus dibentuk. Melalui komite-komite inilah proses mobilisasi dan radikalisasi tidak saja diperluas sampai ke pemukiman-pemukiman penduduk, tetapi juga berusaha meyakinkan lapisan terluas proletariat dengan tuntutan-tuntutan mendesak yang dihubungkan dengan tugas-tugas revolusioner. Namun pengorganisasian komite macam ini membutuhkan kepemimpinan yang memadai. Kepemimpinan BEM-BEM Universitas terlalu elitis untuk melakukan itu. Sementara kepemimpinan organisasi-organisasi radikal dan aliansi-aliansi populer begitu lemah dalam perspektif dan orientasinya.
Kepemimpinan-kepemimpinan yang ada memandang kesadaran dan keterorganisasian merupakan buah matang dari kedewasaan massa, bukan sebagai tugas strategis dari kepemimpinan mereka. Demonstrasi atau pemogokan merupakan miniatur dari revolusi—pada setiap peristiwa ini kepemimpinan memainkan peran penting dalam proses perkembangan kesadaran massa. Selama berlangsungnya demonstrasi atau pemogokan setiap pidato dan kebijakan pemimpin dapat mencondongkan pendulum politik ke satu arah, hingga dalam momen-momen kritis bisa saja berarti kegagalan atau keberhasilan gerakan massa. Saat lapisan-lapisan lembam dan segar terbangun ke arena politik, para pemimpin seharusnya tidaklah sebatas mengajari mereka cara berorasi dan berbaris semata tapi terutama mengambil titik awal ini untuk mendorongnya maju: mendidik massa dengan agitasi dan propaganda-propaganda revolusioner guna menyingkapkan kelemahan-kelemahan borjuis dan meyakinkan massa akan kekuatannya sendiri hingga membantunya menarik kesimpulan revolusioner mengenai signifikansi pembangunan kepemimpinan revolusioner untuk revolusi proletariat. Kaum muda yang teradikalisasi adalah bahan bakar bagi perjuangan kelas revolusioner. Mereka tidak bisa dibiarkan bergerak secara spontan dan terombang-ambing dalam praktik-praktik gerakan yang paling sempit. Luapan penderitaan, kemarahan, dan keberanian mereka mesti diberi ekspresi yang sadar dan terorganisir dalam membangun organisasi revolusioner untuk mengakhiri krisis masyarakat kapitalis. Itulah mengapa lapisan-lapisan muda yang teradikalisasi harus segera didekati, dididik dan dipersiapkan menjadi pemimpin-pemimpin revolusioner di masa depan. Tanpa orientasi politik macam ini maka kepemimpinan hanya akan mendapati kebangkitan massa yang hampa dan diikuti oleh periode kemunduran yang tidak sekadar memadamkan proses radikalisi tapi juga melemparkan lapisan-lapisan terbelakang ke lubang demoralisasi. Tetapi bagian-bagian termajunya untuk sementara tetap bertahan dan bergerak; membentuk gerakan-gerakan lokal di mana-mana, atau memasuki organisasi-organisasi sayap kiri yang tersedia, hingga ledakan-ledakan baru kembali menggoncang mereka dan menguji setiap tendensi kepemimpinannya. Lapisan-lapisan tua yang lelah dan terdemoralisasi disingkirkan oleh lapisan-lapisan muda yang masih bersemangat dan siap untuk bertempur. Dalam situasi inilah tekanan massa terhadap kepemimpinan organisasi dan gerakan meningkat, mengguncang dari atas ke bawah, disertai dengan krisis dan perpecahan ke kanan dan ke kiri.
Di Indonesia, situasi politik nasional dicirikan oleh suasana ketidakpuasan dari bawah tanah yang menembus permukaan dengan ledakan sporadis. Gerakan-gerakan massa susul-menyusul dengan karakter serupa: meletus mendadak dan menghilang secepat kilat. Semua gerakannya memiliki benang merah yang sama: (1) secara signifikan melibatkan angkatan muda; (2) secara implisit menentang seluruh tatanan masyarakat kapitalis; dan (3) secara dramatis memperlihatkan spontanitas yang luar biasa. Ini bukanlah sebuah kecelakaan zaman melainkan keniscayaan historis. Seperti yang dikatakan Hegel: ‘kebetulan pada akhirnya adalah cerminan dari kebutuhan’. Di tengah krisis kapitalisme yang mendalam, dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran muda yang mengerikan, dan tanpa adanya struktur kepemimpinan yang stabil untuk membantu mengekspresikan kepentingannya—maka ketidakstabilan akan berlangsung berlarut-larut dan radikalisasi pemuda tidak dapat dihindarkan. Tahun 2019, merupakan titik-balik bagi perjuangan kelas di negeri ini. Setelah pengkhianatan reformisme dan kekalahan gerakan buruh di masa lalu, revisi UU KPK dan pengesahan RUU-RUU bermasalah merangsang kebangkitan perjuangan massa. Meskipun radikalisasi kelas menengah berakhir di jalan buntu, tetapi goncangannya mampu menarik perhatian kelas pekerja. Aksi-aksi Reformasi Dikorupsi menjadi katalis bagi kaum pekerja. Pembubarakan paksa, penangkapan, dan penahanan terhadap ribuan pelajar dan mahasiswa mendatangkan simpati dan dukungan dari serikat-serikat buruh yang ada. Ledakan perjuangan massa yang dahsyat ini mengindikasikan bahwa bentrokan-bentrokan baru akan segera tiba dan membuka jalan bagi tahapan perjuangan kelas yang juga baru. Dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020, Perpu Nomor 1 Tahun 2020, dan RUU Omnibus Law Cipta Kerja mempercepat kebangkitan baru. Pada 2020, gerakan buruh, mahasiswa dan pelajar bangkit kembali. Demikianlah suasana politik massa tak berubah secara otomatis ke satu arah. Seperti yang disampaikan Leon Trotsky: ‘kebangkitan dalam perjuangan kelas diikuti oleh kemerosotan, pasang surut, tergantung pada kombinasi yang rumit dari kondisi material dan ideologis, nasional dan internasional’.
Agustus 2019, The Economic sudah mengeluarkan rilis mengenai kelesuan ekonomi dunia dan ancaman resesi global. Bulan Desember, Covid-19 meledak di Cina dan segera menjulur ke pelbagai negeri secara liar. Maret 2020, sebagai langkah menanggulangi krisis maka Federal Reserve AS kontan memangkas suku bunga sampai 0 persen. Namun penurunan bunga tidaklah memulihkan pertumbuhan tapi memperkeruh ketidakstabilan. Selama 2019-20, pertumbuhan ekonomi global melambat sampai 2,9 persen dan sumbangan investasi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot hingga 1,47 persen. Di sisinya, kepungan pandemi korona memperparah inflasi dan menyingkapkan kerapuhan dari setiap pemerintahan borjuis. Di negara-negara kapitalis maju maupun terbelakang, pemerintah-pemerintah sudah tidak berdaya menghadapi krisis. Di seluruh dunia, 225 juta pekerja jadi penganggur dan 125 juta orang terhempas ke jurang kemiskinan. Di Indonesia, 57 juta buruh mengalami PHK dan 74 juta pekerja informal mendera pemerosotan pendapatan yang mengerikan. Di antara driver ojek online saja, 67 persen pemasukannya menurun dari rata-rata 250 ribu rupiah per hari menjadi 90 ribu. Sementara segelintir orang kaya dan pemilik alat produksi meningkatkan kekayaan pribadinya. Secara global, kekayaan 10 miliarder terkaya meningkat sebesar 540 miliar dolar AS. Di Indonesia, 15 konglomerat terkaya juga mendongkrak kekayaannya sebanyak 71,8 miliar dolar AS. Aliran modal tak-terbatas kini menyebabkan terkonsentrasinya kekayaan dan aset yang lebih besar ke tangan yang lebih sedikit. Kekayaan ini terakumulasi bukan sekadar dengan mengeksploitasi buruh, tetapi lebih jauh merusak kesehatan alam, biologis dan sosial yang meluas. Akhir 2019, ledakan Covid-19 di Wuhan tidak bisa dijelaskan sebagai sebuah peristiwa kebetulan tapi harus dihubungkan dengan keniscayaan akumulasi kapitalis. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mengungkapkan kalau 10 juta hektar hutan digunduli setiap tahunnya dan seperti hutan dunia telah mengalami kerusakan yang didorong oleh aktivitas alih-fungsi hutan untuk industri pertanian dan peternakan. Sepanjang 2000-18, konvensi kawasan hutan menjadi lahan perkebunan dan penggembalaan ternak mendominasi variabel penyebab deforestasi di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Data Universitas Maryland (2019) menunjukkan bahwa daerah tropis sudah kehilangan 11,9 juta tutupan pohonnya atas aktivitas agribisnis dan laju deforestasi menjadi ancaman yang mengerikan. Di tengah penghancuran hutan berskala raksasa inilah penghancuran ekosistem dan kekacauan iklim meningkat drastis. Ini mengharuskan hewan-hewan liar yang menjadi inang dari patogen virus langkah bermigrasi dan mendekat ke pemukiman penduduk, hingga ditangkap dan diperjual-belikan lewat serangkaian aktivitas pertukaran komoditas di pasar lokal, dan melalui infrastruktur transportasi modern menebarkan penyakit dan kengerian di skala internasional.
Sejarah dipenuhi oleh peristiwa yang tampak sebagai kebetulan, namun aktivitas-aktivitas manusia yang membentuk peristiwa mengikuti hukum-hukum tertentu. Di bawah kapitalisme, bisnis besarlah yang menentukan apa yang diproduksi dan bagaimana cara memproduksi sekaligus mempertukarkannya. Sementara aktivitas produksinya tidaklah direncanakan sebelumnya, tetapi diserahkan kepada tangan tak-terlihat (anarki pasar) yang merupakan irasionalitas yang bertumpu pada kepemilikan properti dan produksi sosial demi keuntungan pribadi: ekspropriasi kekayaan material masyarakat ke tangan individu-individu pemilik alat produksi. Dalam proses inilah kaum kapitalis akan mengambil jalan pintas atas nama pengejaran laba, terutama dengan mempermainkan peraturan dan penggunaan senjata untuk mengalahkan pesaingnya, merebut pasar baru dan mengoptimalkan pasar lama. Peningkatan deforestasi dan penyebaran korona adalah rangkaian kejadian yang didorong oleh kekuatan buta yang menjiwai keseluruhan sistem kapitalisme. Di tengah krisis yang meluas, kejadian-kejadian luar biasa sedang dipersiapkan dan setiap letusan peristiwa menjadi kejadian-tambahan yang membebani sistem ini sebagai akumulasi dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Demikianlah setelah Covid-19 menyebar ke mana-mana, maka pemerintah-pemerintah borjuis menerapkan pembatasan sosial berskala besar. Pengandalian ini membanduli kehidupan rakyat pekerja dan mengamankan keberadaan borjuis. Dalam skala internasional, ILO (2020) mencatat bahwa 1,6 miliar pekerja informal kehilangan 60 persen pendapatan dan setengah dari total pekerja global beresiko menjadi pengangguran. Sementara di seluruh negeri, kapitalis mendapatkan alokasi dana dari anggaran belanja pemerintah yang diberikan dalam bentuk jaminan utang, paket stimulus, dan sebagainya. Di Amerika Serikat, Pemerintahan Donald Trump memberlakukan UU CARES dan mengalokasikan 4-6 triliun dolar AS untuk perusahaan-perusahaan di sekelilingnya. Di Indonesia, kelancungan serupa ditunjukkan Rezim Jokowi-Ma’ruf dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020, Perpu Nomor 1 Tahun 2020, dan RUU Omnibus Law Cipta Kerja.
Perpu No. 1 Tahun 2020 menyediakan 405 triliun rupiah sabagai dana-talangan untuk perusahaan-perusahaan kapitalis dan PP No. 21 Tahun 2020 memberi keleluasaan TNI-Polri untuk membatasi mobilitas massa serta melancarkan pengesahan RUU Omnibus Law. Di tengah krisis kapitalisme, Omnibus Law hadir untuk melancarkan akumulasi dengan membuka membuka kran investasi dan menjaga pertumbuhan tingkat laba melalui gerak kontra-tendensi yang menghancurkan standar hidup rakyat pekerja. Dalam aturan ini sejumlah pasal dirumuskan untuk meningkatkan penerapan outsourcing dan kontrak, menghilangkan status pekerjaan tetap, mengurangi upah dan hari libur, menghapus cuti dan kompensasi, menanggalkan jaminan sosial dan kesejahteraan, menambah beban dan resiko kerja, mempermulus PHK-sepihak dan pemberangusan serikat buruh (militerisme), melanggar hak-hak maternitas perempuan pekerja (seksisme), dan mempertentangkan pekerja dalam-negeri dan pekerja luar-negeri (rasisme). Di kampus-kampus, pasal-pasal bermasalah disorot secara tajam dan kepemimpinan organisasi-organisasi kiri memblejeti serangan-serangan Omnibus Law terhadap kepentingan mahasiswa akan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis, dan bervisi kerakyatan. Komersialisasi, liberalisasi, dan privatisasi pendidikan merupakan persoalan-persoalan yang digaungkan. Semua ini terangkum dalam kritikan-kritikan terhadap neoliberalisme. Namun dalam periode ini kebangkitan kaum muda bukan sekadar dirangsang oleh kebijakan-kebijakan neoliberal—UU Sisdiknas, UU Pendidikan Tinggi, UU Guru dan Dosen, UU Pendidikan Kedokteran, dan UU Pesantren, tetapi lebih jauh didorong krisis kapitalisme yang memicu penghematan brutal terhadap sektor pendidikan. Selama satu dekade terakhir, gerakan-gerakan massa terpelajar anti-penghematan telah mewarnai perjuangan kelas di negeri-negeri kapitalis maju maupun terbelakang: Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Italia, Rumania, India, Yunani, Spanyol, Portugal, Irak, El Salvador, Kazakhstan, Iran dan Afrika Selatan. Di seluruh dunia, kaum muda—yang mengamuk di bilik-bilik sekolah dan universitas, hingga meluapkan kemarahan dengan menduduki jalan raya dan mengepung instansi pemerintah—merupakan mereka yang tertampar oleh krisis kapitalisme.
Setiap tahun kenaikan ongkos pendidikan, pemberangusan kebebasan akademik, ancaman seksisme dan rasisme yang terlembaga menjadi jangkar raksasa yang membanduli keberadaan sosial dan menggoncang kesadarannya. Sebagai bagian dari keluarga kelas menengah dan pekerja—yang standar hidupnya sedang dihancurkan, jatuh dalam lubang kemiskinan dan pengangguran—pelajar dan mahasiswa melancarkan perlawanan terbuka dan menunjukkan kecenderungannya untuk mendukung perjuangan kelas proletariat. Di Indonesia, forum-forum diskusi dan kajian isu bermekaran dan organisasi-organisasi mahasiswa kiri meningkatkan agitasi-agitasinya mengenai pendidikan gratis, ilmiah, demokratis, dan bervisi kerakyatan yang harus diperjuangkan dengan aksi-aksi massa dalam melawan kebijakan-kebijakan neoliberalis. Namun apa yang dihadapi bukan lagi sebatas persoalan kebijakan, melainkan krisis sistem secara mendalam yang takkan mungkin diperbaiki dengan reformasi. Di seluruh dunia, pemerintah-pemerintah borjuis sudah mengalami kekeringan anggaran, beronggokan hutang, hingga menggencarkan gerakan-gerakan kontra-reformasi untuk mencabut reforma-reforma lama dan menutup kemungkinan reforma-reforma baru. Dalam kondisi inilah revolusi proletariat menjadi satu-satunya solusi. Meskipun terdapat tahap-tahap perkembangan sejarah yang berbeda-beda di berbagai negeri, tetapi secara umum sejarah dunia memasuki periode kritis dengan aneka peristiwa yang bersiap-siap untuk meledak dan mengarahkan setiap negeri pada kebutuhan yang sama. Kaum muda, sebagai lapisan segar yang berada di garis depan pemberontakan di mana-mana, harus memahami keseriusan dari situasi hari-hari ini. Bahwa gerakan-gerakan yang sebatas menekan borjuasi untuk mereformasi kebijakannya bukan saja tidak memungkinkan lagi, tetapi juga bila diteruskan akan menenggelamkan perjuangan dalam kubangan kelelahan, keputusasaan, pesimisme dan demoralisasi yang begitu rupa. Sekarang pelajar dan mahasiswa harus memahami keseriusan situasi di mana kemenangan bagi angkatan muda tak-terpikirkan tanpa dipandu oleh kepemimpinan revolusioner yang dapat mempersenjatai gerakannya dengan teori, program, metode dan tradisi yang memadai untuk menyebar ke dalam gerakan buruh, memenangkan lapisan-lapisan termajunya ke arah politik revolusioner, dan menegakkan kediktatoran proletariat untuk melaksanakan transformasi sosialis dan mengubur kapitalisme yang sedang sekarat.
Setelah kekalahan dalam Gerakan Reformasi Dikorupsi, tidak saja terdapat lapisan terbelakang yang terdemoralisasi dan menyerah tapi juga muncul lapisan termaju yang berhasil belajar dari pengalamannya dan menarik kesimpulan untuk melanjutkan perjuangannya. Seusai ledakan pertempuran terbuka yang berujung pembubaran paksa, penangkapan dan penahanan massal, timbul perasaan umum di antara kaum muda bahwa masyarakat sedang berada di jalan buntu, sementara peristiwa-peristiwa besar dengan cepat meledak dan tidak memberi waktu untuk bersiap-siap. Memasuki periode inilah lapisan sosial terluas mengalami kehausan yang luar biasa terhadap gagasan-gagasan yang bisa memberikan penjelasan mengenai krisis yang berlangsung dan bagaimana cara mengakhirinya. Lapisan ini bergerak mencari ide-ide memadai dengan mendirikan lingkaran diskusi, kelompok membaca, atau bergabung dalam komunitas dan organisasi-organisasi tertentu. Di tahap inilah organisasi-organisasi dan kepemimpinan lama bukan sekadar dipertanyakan tapi lebih jauh ditinggalkan begitu saja. Lapisan-lapisan segar dan siap untuk bertempur tidak dapat dipimpin oleh lapisan-lapisan yang tambun, lamban, sudah menyerah dan berputus-asa. Sebagai gantinya akan muncul banyak organisasi dan gerakan kiri, radikal, bahkan revolusioner—dengan kerja-kerja politik penuh gejolak dan perdebatan, klarifikasi gagasan, penajaman perspektif, perancangan strategi-taktik—yang mempercepat hilangnya kelembaman dari era stabilitas dan kepasifan sebelumnya. Organisasi dan gerakan yang berhaluan kiri bermunculan dan mengorganisir angkatan-angkatan muda ke dalam pendidikan-pendidikan politik, advokasi, kampanye, investigasi, dan sebagainya. Isu-isu pelanggaran HAM, penindasan nasional terhadap Bangsa West Papua, kekerasan berbasis gender dan seksual, dan persoalan-persoalan agraria menjadi perhatian mereka. Kelompok-kelompok Aksi Kamisan, komite-komite kampus, lingkar-lingkar studi, lapak baca dan diskusi menjamur di mana-mana. Respon-respon ini bukan sekadar menjadi ekspresi awal dari lapisan-lapisan sosial yang sedang mencari jalan keluar atas krisis masyarakatnya, melainkan pula antisipasi terhadap kebangkitan revolusioner yang segera tiba.
Adalah sebuah hukum sejarah bahwa radikalisasi orang-orang terpelajar dan intelektual kelas menengah menandakan permulaan dari perkembangan revolusioner di tahap selanjutnya. Antara akhir 2019 dan awal 2020, Omnibus Law hadir sebagai rangsangan obyektif baru yang membangkitkan kembali perjuangan massa ke tingkat yang lebih tinggi dengan mendorong kaum muda untuk semakin mendekat ke kelas pekerja. Di kampus-kampus, proses mobilisasi massa meningkat. Seruan-seruan perlawanan bertebaran dan rapat-rapat umum diikuti lapisan-lapisan terluas. Di tengah lautan sosial yang bergejolak maka organisasi massa tradisional terguncang dan kepemimpinan reformis tertampar. Di tahap ini gerakan mahasiswa menyebar ke organisasi-organisasi buruh, meluncurkan agitasi-agitasi massa, hingga memaksa pemimpin-pemimpin reformis untuk bergerak ke kiri. Desember 2019, Ketum KSPI Said Iqbal mengumumkan pernyataan bahwa serikat-serikat buruh yang dipimpinnya akan melaksanakan Pemogokan Umum pada 16 Januari 2020. Namun atas sikap keragu-raguannya maka seruan pemogokan ditunda dengan alasan memalukan: anggota-anggota DPR RI masih berada di daerah pemilihannya masing-masing dan mereka harus ditunggu terlebih dahulu sampai kembali ke Parlemen Senayan. Sejak awal kebangkitan baru pimpinan reformis organisasi buruh telah memperlihatkan bagaimana mempermainkan perjuangan massa. Iqbal tahu bahwa tekanan kuat dari bawah mengancam kepemimpinannya dan untuk mempertahankan posisinya dibuatlah seruan aksi yang ditujukan untuk mendisiplinkan massa. Namun perkembangan historis tidaklah ditentukan oleh perhitungan diplomatik, intrik, dan manuver dari pemimpin, organisasi atau partai tapi perimbangan kekuatan kelas yang ada. Menulis tentang “Peran Individu dalam Sejarah”, Plekhanov menjelaskan hubungan pemimpin dan massa: ‘individu dapat mempengaruhi masyarakat berdasarkan sifat-sifat tertentu dari sifat mereka. Pengaruh mereka kadang-kadang sangat besar tetapi kemungkinan pelaksanaannya dan jangkauannya ditentukan oleh organisasi masyarakat dan penyelarasan kekuatannya. Karakter individu adalah “faktor” dalam perkembangan sosial hanya di mana, kapan, dan sejauh hubungan sosial mengizinkannya’. Saat masa-masa normal, peran sesosok individu tidaklah bisa mempengaruhi roda sejarah. Tetapi dalam momen-momen kritis maka pribadi tertentu dapat menjadi penentu sejauh mereka mampu memahami hukum perkembangan historis dan bertindak mewakili kepentingan kelas yang ada di belakangnya.
Di tengah pendulum politik yang berayun ke kiri, maka kepemimpinan organisasi-organisasi buruh mendapatkan sapuan kencang, dengan rentetan krisis internal dan perpecahan, yang berujung pada tumbuhnya massa sayap kiri dengan kepemimpinan yang lebih militan. Pada momen inilah pedal rem yang diinjak kaum reformis tidak mampu menahan arus kebangkitan. Dalam gerakan buruh, para pemimpin saya kiri tampil lebih berani dengan dukungan massa yang teradikalisasi. Pimpinan-pimpinan KASBI dan KPBI mengundang semua organisasi-organisasi kaum muda radikal dan gerakan-gerakan sosial yang ada untuk bergabung dengan Aliansi Gerakan Buruh bersama Rakyat (GEBRAK). Pada tahap ini gerakan massa berusaha diekspresikan dalam gerakan buruh. Tanggal 13 Januari 2020, kepemimpinan sayap kiri memandu ribuan massa Aliansi GEBRAK dalam mengepung Gedung DPR RI. Mobilisasi dan pengorganisasian GEBRAK bukan sekadar memukul ke atas tapi juga menarik lapisan-lapisan terluas proletariat yang berada di sekelilingnya ke medan aksi-aksi politik. Menghadapi tekanan inilah para pemimpin sayap kanan terpaksa bergerak ke kiri guna mendapat kepercayaan massa dan mempertahankan kepemimpinan mereka. Pada 20 Januari—KSPI, SPN, dan FSPMI melaksanakan Aksi Serentak Nasional. Dalam periode ini pemberontakan menjadi agenda. Data BPS mengungkapkan kalau selama tahun 2020 saja angka unjuk-rasa telah menembus 2.626 peristiwa. Tetapi insureksi tidak pernah sampai pada kemenangan massa dan transformasi sosial secara mendasar. Walaupun para pemimpin sayap kiri sudah mulai memandu perjuangan massa tetapi kepemimpinan mereka tidak cukup memadai. Besarnya krisis kapitalisme yang tak-memungkinkan reformasi berarti tak-dipahami sebagai situasi yang menuntut dilaksanakannya perjuangan revolusioner, melainkan dihadapi dengan pendekatan-pendekatan reformis-kiri dan sentris.
Kebingungan ideologis menjadi alasan mendasar mengapa perjuangan kelas buruh dan kaum muda mengalami stagnasi. Usaha para pemimpin sayap kiri untuk memandu gerakan massa berada di jalan buntu. Selama Januari-Agustus, berlangsung ratusan aksi buruh dan mahasiswa tapi potensi revolusioner ini tak-dipandu di bawah panji-panji revolusioner. Di bawah kepemimpinan sayap-kanan maupun sayap-kiri, massa dipimpin tanpa sebuah rencana aksi yang matang dan perspektif yang memadai untuk menggulingkan kapitalisme. Kepemimpinan yang berhaluan reformisme, sentrisme bahkan Stalinisme, bukanlah struktur yang stabil dalam menjadi piston bagi gerakan massa. Tanpa pemahaman teoretik yang melandasi pembentukan komitmen, kebulatan tekad, dan orientasi masa depan yang jelas—untuk revolusi sosialis, menegakkan kediktatoran proletariat dan menghapuskan kelas-kelas sosial dalam masyarakat—maka kepemimpinan-kepemimpinan mereka sangatlah rapuh. Dalam masa-masa krisis peran historis mereka adalah mengantar ketidakpuasan massa ke jalur yang terkendali; ketika perjuangan kelas bertambah intens mereka menunjukkan sikap setengah-hati; dan tiba momen kebenaran mereka menyebrang ke sisi reaksi. Demikianlah selama berbulan-bulan Gerakan Mosi Tidak Percaya, keresahan dan kemarahan yang datang dari bawah gagal disalurkan untuk menjatuhkan borjuasi. Menghadapi aksi-aksi politik yang tidak cukup sadar dan terorganisir dengan baik, maka kelas penguasa secara cekatan mengesahkan Omnibus Law. Tanggal pengesahan Omnibus Law dimajukan dari tanggal 8 Oktober menjadi 5 Oktober. Percepatan tersebut mempermainkan kepemimpinan organisasi-organisasi buruh, tetapi tidak dapat mengecoh insting revolusioner dari massa akar rumput. Demikianlah pengesahan ini menjadi rangsangan obyektif yang menyingkirkan kelembaman dan menghancurkan kerak birokrasi yang tambun dan ompong. Di saat para pemimpin reformis tak-berdaya untuk keluar dari rutinitas gerakan yang tidak mempunyai cakar dan taring, spontanitas massa akhirnya menemukan momen untuk menyembul ke permukaan sosial sebagai letusan gunung merapi dan goncangan gempa bumi politik yang kencang. Dalam “Neraca Singkat Setelah Demo 8 Oktober”, Dewan Editorial dari Perhimpunan Sosialis Revolusioner menerangkan:
“Protes massa pecah di seluruh pelosok Indonesia menyusul disahkannya undang-undang kontroversial Omnibus Law…. Buruh langsung merespon dengan mobilisasi di sejumlah kawasan industri. Serikat-serikat buruh melakukan pemogokan nasional tiga hari, dari 6-8 Oktober … Puluhan ribu buruh di berbagai kota tumpah-ruah ke jalanan. Di beberapa kawasan industri di Karawang, Sukabumi, Bekasi, dan Tangerang pemogokan ini menjadi kemarahan terbuka terhadap manajemen, yang dilihat sebagai kekuatan di balik disahkannya Omnibus Law…. Namun yang paling mengejutkan rezim adalah keterlibatan radikal anak-anak muda, yakni mahasiswa dan pelajar, dalam aksi menentang Omnibus Law. Terutama kaum pelajar yang hampir tanpa organisasi dan kepemimpinan turun dalam jumlah ribuan di hampir setiap kota utama dan berdiri di barisan paling depan dalam melawan represi polisi dan tentara…. Spontanitas kaum muda ini membawa energi besar yang meledak-ledak, yang menghancurkan rutinitas dan kelembaman dalam gerakan…. Energi spontan kaum muda ini adalah seperti angin segar. Sisi terkuat dari spontanitas adalah kemampuannya mendobrak inersia dan kerak birokrasi yang sering kali jadi penghambat gerakan. Spontanitas massa juga menjadi kejutan bagi rezim dan membuat mereka limbung pada awalnya. Tetapi sisi terkuat spontanitas dapat dengan cepat berbalik menjadi sisis terlemahnya. Segera setelah rezim menemukan pijakannya dan mengerahkan aparatus penindas mereka yang terorganisir, barisan kaum muda ini, kendati keberanian mereka, berhasil dipukul mundur. Represi segera mengunjungi mereka, dengan penangkapan massal oleh polisi yang bekerjasama dengan preman dan elemen lumpen-reaksioner. Tanpa organisasi, kepemimpinan, dan program aksi yang terang, energi spontan ini dengan cepat menguap dan tidak memiliki stamina dan keberlangsungan untuk bisa meneruskan perjuangan dengan intensitas yang terus tumbuh.”
Dalam Aksi Mosi Tidak Percaya, KontraS (2020) mencatat bahwa terdapat 6.658 orang yang menjadi korban penangkapan brutal, dengan 300 di antaranya ditahan dan 18 ditetapkan sebagai tersangka. Kepemimpinan sayap-kanan maupun sayap-kiri dalam gerakan buruh tak-berdaya dalam menghadapi serangan-balik negara. Sementara di barisan-barisan pelajar dan mahasiswa, BEM-BEM Universitas dan organisasi-organisasi kaum muda radikal juga tidak-siap melewati gelombang reaksi. Di tengah kepungan badan orang-orang bersenjata, seabrek pimpinan aliansi dan front-front persatuan melarikan diri dan bersembunyi. Di jalanan, massa dibiarkan tanpa kepemimpinan dan secara putus-asa meluncurkan perlawanan-perlawanan terakhirnya. Alasan utama kekalahan ini bukan sekadar kegagalan kepemimpinan mahasiswa dan pelajar dalam berhubungan dengan kelas pekerja yang terorganisir dan berjuang melakukan pemogokan tanpa batas waktu, tetapi lebih-lebih sikap politik dan perilaku pimpinan-pimpinan buruh yang ketakutan melihat kebangkitan massa yang tidak berada di bawah kendali mereka. Saat pemuda-pemuda radikal melancarkan pertempuran terbuka tiada satupun pemimpin organisasi buruh yang siap memberikan ekspresi terorganisir ke dalam gerakan itu. Walaupun buruh-buruh muda meregangkan otot dan mengangkat lengannya untuk bertempur membela pelajar dan mahasiswa, tetapi kepemimpinan sayap-kanan dan sayap-kiri tertinggal di belakang tugas-tugas historis kelas pekerja. Melihat pengerahan kekuatan militer berskala raksasa dan serangan-serangan brutal yang memukul-mundur kelas pekerja dan kaum muda—kepemimpinan mereka justru bergeming tanpa upaya berdialog dengan pemimpin-pemimpin pemuda radikal untuk memperkuat gerakan buruh, membentuk barikade-barikade pertahanan-diri dan melangkah ke tahapan selanjutnya. Kepemimpinan-kepemimpinan yang ada tak-mengerti kalau di hadapannya terdapat sebuah proses perkembangan historis yang sangat dinamis, dengan insting revolusioner massa yang selalu berusaha mencari jalan keluar yang benar, dan pergeseran berbagai tahap perjuangan kelas yang begitu cepat. Ketika sejarah mengambil belokan tajam kepemimpinan yang tak-memadai tidak mampu beradaptasi dengan mengambil belokan taktis, hingga akhirnya momen kebangkitan segera digantikan periode kemunduran dan demoralisasi, dengan kepemimpinan yang pasif, bimbang dan membelot ke sisi musuh-musuh kelas proletar. Dewan Editorial PSR menggugat:
“Said Iqbal, dalam statemen di media sosial Suara FSPMI untuk menutup ‘pemogokan nasional’ 6-8 Oktober, mengatakan bahwa ‘perjuangan ini akan berlanjut, melalui perjuangan hukum maupun konstitusional’. Tetapi bukankah pemerintah telah lewat hukum dan secara konstitusional mensahkan Omnibus Law? Langkah hukum apalagi yang bisa ditempuh? Para buruh akar rumput langsung merespon: ‘… jangan bawa ke ranah hukum [karena] aparat penegak hukum sudah memihak siapa yang punya duit’ … Buruh anggota jelas memiliki insting kelas yang lebih tajam dibanding pemimpinn mereka. Lewat pengalaman mereka sadar bahwa hukum yang ada tidaklah lebih dari hukum kelas borjuis. Hukum hanyalah secarik kertas yang nilainya ditentukan oleh perimbangan kekauatan kelas.”
Dalam momen-momen kritis, kekosongan kepemimpinan revolusioner dan pengkhianatan kepemimpinan reformis berpengaruh besar pada perimbangan kekuatan kelas. Tanpa kepemimpinan yang memadai, dengan perspektif dan orientasi politik yang tepat, maka spontanitas massa tidak bisa dimajukan ke tahap perjuangan kelas yang lebih tinggi. Meskipun korupsi internal dari kepemimpinan lama telah terungkap, tetapi tanpa mewarisi kader-kader revolusioner dari periode sebelumnya maka sebuah kelas tidak dapat dengan mudah menginprovisasi kepemimpinan baru. Tanpa kader-kader revolusioner yang dipersiapkan jauh sebelum masa-masa keruntuhan kepemimpinan lama, akan sukar bagi massa yang teradikalisasi oleh peristiwa untuk segera mencari penggantinya. Lapisan-lapisan yang lebih konservatif dan kerak birokrasi yang masih tersisa dalam organisasi buruh dengan segala cara berusaha mempertahankan kepemimpinan lama. Demikianlah demonstrasi atau pemogokan yang merupakan miniatur dari revolusi sengaja tidak-dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran dan keterorganisasian elemen-elemen sosial yang teradikalisasi. Daripada berdiri di atas aksi-aksi politik yang sadar-kelas dan terorganisir dengan baik, kepemimpinan mereka justru mengandalkan seruan-seruan omong-kosong dan garis komando yang tidak-berdisiplin dan prematur. Memang bertambah tajamnya kontradiksi akan meningkatkan kebutuhan sentralisasi, tetapi pemusatan kekuatan yang tidak menggunakan agitasi dan propaganda revolusioner berarti menyangkal metode sentralisme-demokratis dengan kecenderungan sentralisme-birokratis. Kepemimpinan macam ini tak-menginsafi kalau massa bergerak bukan saja karena dorongan obyektif melainkan pula faktor subyektif. Massa tidaklah cukup berjuang dan berkoban hanya lantaran terhimpit kesusahan dan penderitaan hidup. Laki-laki dan perempuan akan memberikan pengorbanan terbaiknya hanya ketika mereka tahu dan memahami, yakin dan mencintai apa yang diperjuangkannya. Menghadapi persoalan inilah peran kepemimpinan amat signifikan dalam mempercepat pembelajaran dan perkembangan kesadaran massa. Melalui Jurnal Dialektika III, Alan Woods menjelaskan bagaimana hubungan antara pelopor dan massa di tengah ledakan peristiwa:
“Gaya inersia adalah hukum yang berlaku untuk semua benda, dan yang menyatakan bahwa mereka akan selalu tetap dalam keadaan mereka, baik dalam keadaan diam atau bergerak, kecuali jika ada gaya eksternal yang dikenakan pada mereka untuk mengubah keadaan mereka, dan titik tersebut disebut resistensi atau aksi. Hukum yang sama berlaku untuk masyarakat…. Tradisi dan rutinitas sehari-hari membebani benak manusia dan memaksa mereka untuk mematuhi penilaiannya. Ini berarti bahwa massa, setidaknya pada awalnya, akan selalu menempuh jalan yang paling mudah. Namun pada akhirnya, hantaman peristiwa-peristiwa besar akan selalu memaksa mereka untuk mulai mempertanyakan norma, moralitas, agama dan kepercayaan yang telah membentuk cara berpikir mereka sepanjang hidup mereka. Dibutuhkan peristiwa-peristiwa besar untuk mengguncang massa keluar dari rutinitas yang membuat mereka bebal, untuk memaksa mereka menyadari posisi mereka yang sebenarnya, untuk mempertanyakan paham-paham lama yang mereka pikir tidak perlu dipertanyakan lagi, dan menarik kesimpulan revolusioner. Ini jelas membutuhkan waktu. Tetapi selama revolusi, kesadaran massa mengalami dorongan yang sangat besar. Kesadaran dapat sepenuhnya berubah dalam 24 jam. Kita saksikan proses serupa di setiap pemogokan. Sering kali buruh yang paling maju terkejut ketika justru buruh-buruh yang paling terbelakang dan konservatif tiba-tiba berubah menjadi menjadi militan yang paling aktif dan energetik. Pemogokan adalah miniatur revolusi. Dan dalam setiap pemogokan, kepemimpinan memainkan peran penting dalam proses perkembangan kesadaran. Acap kali, satu pidato berani oleh hanya seorang militan dalam pertemuan massa dapat berarti keberhasilan atau kegagalan sebuah pemogokan.”
Dalam revolusi, demonstrasi, atau pemogokan—peran kepemimpinan adalah sentral. Saat barisan massanya dihantam reaksi, pecah dan terdemoralisasi oleh setumpuk serangan-balik borjuis; kepemimpinan yang lemah akan menatap diferensiasi dan penurunan homogenitas gerakannya sebagai akibat dari keberadaan lapisan-lapisan yang bersifat cair. Ketika massa mulai mundur dan meninggalkan jalanan, kepemimpinan macam itu pasti kebingungan dan menggantikan signifikansi agitasi-propaganda dengan instruksi-instruksi korlap. Pada momen-momen kritis sejarah, tugas kepemimpinan sangat strategis. Para pelopor yang tidak mampu memajukan perjuangan massa diabaikan dan ditinggalkan. Persoalan utamanya bukan menyangkut karakter massa yang cair tapi peranan menentukan dari kepeloporan. Kepemimpinan tidaklah sebatas mendapatkan mata dan telinga massa melainkan pula membuat kebijakan, slogan, dan seruan-seruan penting. Pada tahap permulaan, spontanitas merupakan arus yang luar biasa kuat dalam menarik lapisan luas untuk mengidentifikasi dirinya dengan ledakan. Luapan spontan bahkan meretakkan kepemimpinan-kepemimpinan organisasi yang lemban dan bungkam dalam melayani kebutuhan massa yang sedang bangkit. Saat lapisan-lapisan terluas tertarik terbangunkan ke dalam aksi-aksi politik maka setiap kepemimpinan yang ada menghadapi tantangan serius. Pemimpin-pemimpin yang berkompromi ditinggalkan dan pemimpin-pemimpin yang berjuang didukung. Namun massa takkan tahan berlarut-larut menghadapi ketidakstabilan. Jika kepemimpinan lemah, tanpa perspektif dan orientasi yang tepat, energi revolusioner massa terbuang sia-sia, hingga mereka menjadi lelah dan kecewa terhadap kepemimpinannya. Di titik inilah nampak jelas bagaimana hubungan pelopor dan massa sangat dinamis. Pelopor yang tidak mampu menjalankan perannya akan ditinggalkan dan massa yang teradikalisasi oleh peristiwa serta berhasil menarik kesimpulan revolusioner akan meningkatkan aktivitas politiknya menjadi pelopor. Itulah proses dialektis antara pelopor dan massa. Selama masa-masa tenang prosesnya lambat—membentangkan ujian kebosanan dan memerlukan kesabaran yang luar biasa. Memasuki masa-masa gejolak prosesnya dipercepat—melalui bermacam-macam ujian yang penuh ranjau tipu-daya dan menantang bahaya. Di atas segalanya, pada setiap masa, keyakinan dan pengorbanan sangat dibutuhkan dalam menghadapi tahap-tahap tertentu dari perjuangan kelas. Sekarang kita berada di zaman bergejolak! Namun dengan pendulum yang tidak secara terus-menerus berayun ke satu arah melainkan mengarah ke kanan dan ke kiri, dengan kejang-kejang historis yang dicirikan oleh fluktuasi periodik dan perubahan situasi yang mendadak. Pada kondisi inilah kita akan melihat mobilitas yang amat cepat dari individu-individu untuk mencari dan menguji pelbagai organisasi dan kepemimpinan. Mereka bukanlah kutu-kutu loncat yang tiada berprinsip, melainkan orang-orang yang sedang berusaha menemukan jalan keluar untuk mengakhiri krisis kapitalisme secara memungkinkan. Ini merupakan gejala yang sehat di tengah kekosongan kepemimpinan revolusioner. Lewat “The Ideas of Karl Marx”, Alan Woods menulis:
“Pergolakan revolusioner tersirat dalam seluruh situasi saat ini. Mereka akan terjadi, seperti malam mengikuti siang, terlepas apakah ada partai revolusioner ataukah tidak. Tetapi dalam perang antar kelas, seperti halnya dalam perang antar negara, memiliki jenderal yang baik adalah faktor yang menentukan. Dan di situlah letak masalahnya. Massa berusaha mencari jalan keluar dari mimpi buruk ini. Mereka mencoba satu demi satu partai dan pemimpin, membuang satu demi satu ke dalam tong sampah sejarah. Ini menjelaskan ketidakstabilan ekstrem kehidupan politik di semua negara saat ini. Pendulum politik berayun keras ke kanan, lalu ke kiri…. Untuk alasan historis yang tidak akan kita bahas di sini, kekuatan Marxisme telah terlempar jauh ke belakang. Mengingat lemahnya faktor subyektif, tidak dapat dihindari bahwa ketika massa terbangun ke dalam kehidupan politik, mereka akan berpaling ke organisasi massa yang ada dan para pemimpin yang dikenal baik, terutama yang memiliki ‘kredensial’ kiri. Oleh karena itu, dalam periode hari ini kita akan saksikan kebangkitan tendensi reformis-kiri dan bahkan tendensi sentris [yang berayun-ayun antara revolusi dan reformisme]. Tapi ini juga akan diuji oleh massa, dan dalam banyak kasus, hanya akan memiliki karakter yang fana…. Jadi, sementara kaum muda, terutama lapisan aktifnya, menarik kesimpulan revolusioner, para pemimpin organisasi massa resmi dengan putus asa berpegang teguh pada tatanan kapitalis. Itu sebabnya mereka tidak bisa memuaskan kaum muda radikal yang mencari ide-ide yang benar-benar putus dengan sistem. Pemuda bertindak dengan berani dan penuh semangat, dan ini menciptakan peluang besar bagi kaum Marxis yang dapat mendekati pemuda secara langsung di bawah panji mereka sendiri. Jika kaum Marxis mengadopsi pendekatan yang fleksibel terhadap pemuda revolusioner ini, keuntungan besar dapat diperoleh.”
(Berlanjut)
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
