“Di permukaan, segala sesuatu mungkin tampak damai dan menenangkan. Namun di bawah permukaan ada lautan magma yang mendidih, dengan suhu dan tekanan yang tak-terbayangkan, yang terus mencari titik lemah di permukaan bumi. Akhirnya, kekuatan tekanan dari bawah ini secara bertahap meningkat sampai ke titik di mana magma akhirnya menerobos ke permukaan dalam ledakan hebat, mewujudkan kekuatan kolosal yang terpendam ini dalam letusan gunung berapi. Di sini kita memiliki analogi yang sangat tepat dengan masyarakat manusia. Di permukaan, semuanya tenang, yang berlalu dengan cepat, dan meninggalkan status-quo kurang-lebih tidak terganggu. Para pembela status-quo membiarkan diri mereka tertipu oleh gagasan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun di balik permukaan ada ketidakpuasan, kekecewaan dan amarah, yang perlahan-lahan terakumulasi hingga mencapai titik kritis di mana gempa sosial menjadi tak-terhindarkan.” (Jurnal Dialektika III)
Tahapan-tahapan perjuangan kelas bukanlah sesuatu yang abstrak dan mekanik melainkan konkret dan dialektis. Perkembangan historis tidak berada pada garis yang lurus; walaupun kapitalisme mengalami krisis yang mendunia tapi masing-masing negeri melalui tahap perjuangan kelas yang unik. Namun keunikan tahapan ini tidaklah berarti menggantikan signifikansi revolusi proletariat-sosialis dengan revolusi demokratik-borjuis. Kapitalisme takkan pernah dapat diakhiri dengan mempertahankan kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara borjuis, melainkan dengan penghapusan kepemilikan pribadi oleh kediktatoran proletariat yang mengembangkan perekonomian terencana berskala internasional. Keunikan tahap-tahap itu hanyalah merupakan konsekuensi dari hukum perkembangan sejarah yang tak-berimbang namun tergabungkan dalam relasi-relasi sosial-ekonomi umat manusia dan menyatukan perkembangan sejarah di negeri-negeri maju dengan negeri-negeri terbelakang secara dialektis. Perkembangan kekuatan produksi yang umum tak menyangkal perkembangan negeri-negeri yang khusus, tetapi menempatkan kekhususan (perkembangan sejarah yang spesifik) dalam keumuman (perkembangan kekuatan produksi yang universal). Pada sebuah pidato yang disampaikan di Kongres Internasional Kedua, Trotsky berkata: ‘dalam perkembangan berbagai nasion dan negara, terutama negara kapitalis, tidak ada keserupaan dan regularitas. Berbagai tahapan peradaban, bahkan yang bertolak belakang, saling mendekat dan berbaur satu sama lain dalam kehidupan bangsa’. Perkembangan kapitalisme yang telah memasuki tahap tertingginya merupakan penyebab umum yang menciptakan situasi revolusioner di skala internasional. Namun gerakan buruh di setiap negeri tidaklah secara langsung dapat merespon situasi tersebut tanpa mempertimbangkan kondisi sejarah di negerinya masing-masing, yang di dalamnya partikularitas dari kepemimpinan memainkan peran penting. Meskipun sebab-sebab spesifik di berbagai negeri dibentuk oleh sebab umum yang sama, tapi tidak secara otomatis kondisi sejarah di tiap-tiap negeri adalah sama. Di setiap negeri terdapat perbedaan tingkat kesadaran dan keterorganisasian proletariat untuk menggulingkan kapitalisme. Menghadapi persoalan inilah tugas kepemimpinan sangatlah sentral dan signifikan, yakni untuk memandu proses pembelajaran massa dengan meningkatkan level politik dan keterorganisasian dari para pelopornya: mengklarifikasi ide-ide yang keliru, menghindari sejumlah kesalahan dan kegagalan masa lalu, mengembangkan program dan kebijakan-kebijakan yang tepat untuk melewati situasi saat ini, dan secara keseluruhan mendidik calon-calon pemimpin revolusioner yang akan memainkan peran menentukan dalam revolusi di masa depan.
Di skala internasional, seluruh peristiwa sedang dipercepat oleh ketidakstabilan yang menjadi elemen utama yang menggoncang sistem keuangan, ekonomi, sosial, politik, dan militer negeri-negeri kapitalis maju dan terbelakang. Tetapi kondisi sejarah di mana revolusi terjadi akan berbeda dari satu negara dengan negara lainnya dan menurut kondisi-kondisi inilah taktik-taktik perjuangan-khusus di pelbagai negeri juga berbeda-beda. Aktivitas masa lalu masyarakat dan peristiwa sejarah sebelumnya membatasi keputusan dan kemungkinan yang tersedia bagi angkatan proletar yang hidup di masing-masing negeri hari-hari ini. Kepercayaan terhadap pemimpin reformis dan negara borjuis, ilusi akan reformasi dan demokrasi borjuis, serta aneka prasangka terdahulu membebani pikiran mereka sebagai mimpi buruk yang diwarisi dari orang-orang yang telah mati. Sebab-sebab spesifik macam ini tidak saja membedakan tahap-tahap perjuangan kelas di pelbagai negeri, melainkan pula menentukan sikap proletar dalam menanggapi krisis kapitalisme di negerinya masing-masing. Meskipun untuk semua tujuan praktis rakyat pekerja di sebuah negeri melancarkan perjuangannya seturut tahap-tahap perkembangan historis yang spesifik-nasional, namun dalam isinya setiap perjuangan kelas proletar berkarakter internasionalis sesuai dengan kapitalisme yang bersifat internasional. Dan, memasuki periode sejarah dunia yang meledak-ledak, dengan kontradiksi yang bertambah tajam dan ketidakstabilan yang semakin meluas, perbedaan-perbedaan historis akan digabungkan dalam persamaan masing-masing negeri untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan kongkret mengenai bobot-sosial proletariat, hubungannya dengan kelas-kelas lainnya, kekuatan organisasi-organisasinya, pengalaman dan tingkat budayanya, tradisi dan temperamen nasionalnya. Pada titik ini tahapan historis yang berbeda-beda mengalami pembauran satu sama lain—untuk memajukan perkembangan tenaga-tenaga produktif yang ada—berdasarkan hukum-hukum tertentu. Pada analisa terakhir, arah dari tahap-tahap perkembangan historis yang unik akan ditentukan oleh sebab-sebab umum: perkembangan-perkembangan kekuatan produksi dan hubungan timbal-balik dalam proses sosial-ekonominya. Dalam “Membela Revolusi Oktober”, Trotsky menjelaskan itu semua:
“Masyarakat manusia adalah sebuah kolaborasi yang bermula secara historis dalam perjuangan untuk eksistensi serta untuk menjamin keberlangsungan generasi. Karakter sebuah masyarakat ditentukan oleh karakter ekonominya. Karakter ekonominya ditentukan oleh sarana tenaga kerja produktifnya. Di setiap epos besar dalam perkembangan kekuatan produktif dapat kita temui rezim sosial tertentu yang sesuai dengannya…. [Tetapi] rezim sosial tidaklah abadi. Mereka lahir secara historis, dan kemudian menjadi belenggu atas progres selanjutnya. ‘Semua yang muncul layak dihancurkan’…. Dalam masalah hidup dan mati, argumentasi yang berdasarkan nalar tidak pernah menggantikan argumentasi kekerasan. Ini mungkin menyedihkan, tetapi memang demikian adanya…. Revolusi berarti perubahan tatanan sosial. Revolusi memindahkan kekuasaan dari tangan kelas yang telah kehabisan tenaga ke tangan kelas lain yang sedang bangkit. Pemberontakan adalah momen yang paling tajam dan paling kritis dalam pertarungan demi kekuasaan antara dua kelas. Pemberontakan hanya dapat mencapai kemenangan revolusi yang sesungguhnya dan membentuk tatanan baru bila ia didasarkan pada kelas yang progresif, yang mampu menggalang dukungan mayoritas rakyat. Berbeda dengan proses alam, revolusi dibuat oleh manusia dan melalui manusia. Tapi dalam perjalanan revolusi, manusia juga bertindak di bawah pengaruh kondisi-kondisi sosial yang tidak mereka pilih secara bebas, melainkan diturunkan dari masa lalu dan secara imperatif menunjukkan jalan yang harus mereka ikuti. Untuk alasan ini, dan hanya untuk alasan ini, revolusi mengikuti hukum-hukum tertentu.”
“Tetapi kesadaran manusia tidak sekedar secara pasif mencerminkan kondisi obyektifnya. Kesadaran manusia terbiasa bereaksi secara aktif terhadap kondisi obyektif. Pada saat-saat tertentu reaksi ini mengambil karakter massa yang tegang dan menggelora. Semua [nilai-nilai] moral dan tatanan yang berlaku tumbang. Intervensi aktif massa dalam peristiwa sejarah merupakan elemen yang paling dibutuhkan dalam sebuah revolusi. Tetapi bahkan aktivitas yang paling dahsyat sekalipun dapat tetap terhenti dalam tahap demonstrasi atau pemberontakan, tanpa mencapai ke puncak revolusi. Pemberontakan massa harus mengarah ke tergulingnya dominasi kelas lain. Hanya dengan begitu kita mencapai revolusi. Kebangkitan massa bukanlah aksi terisolasi yang dapat diserukan kapanpun diinginkan. Kebangkitan massa mewakili sebuah elemen yang terkondisi-secara-obyektif dalam perkembangan revolusi, sebagaimana revolusi merepresentasikan sebuah proses yang terkondisi-secara-obyektif dalam perkembangan masyarakat. Tetapi jika kondisi-kondisi yang diperlukan untuk kebangkitan ini hadir, kita tidak boleh menunggu secara pasif, dengan mulut terngaga…. Untuk menyingkirkan tatanan sosial yang sudah usang, kelas yang progresif harus memahami bahwa waktunya telah tiba dan menetapkan tugas untuk merebut kekuasaan. Di sini terbukalah medan aksi revolusioner yang sadar, di mana wawasan ke masa depan dan perhitungan berpadu dengan tekad dan keberanian. Dengan kata lain: di sini terbuka medan aksi bagi Partai [Revolusioner].”
Sejarah dibuat oleh manusia, dan individu-individu yang mengejar keinginan mereka sendiri-sendiri akan bergerak seperti yang dijelaskan Marx: ‘secara tak terelakkan masuk dalam hubungan-hubungan tertentu, yang terlepas dari kehendak mereka, yaitu hubungan-hubungan produksi’. Di tengah kondisi historis yang sedang berubah, dengan serangan-serangan dan penghancuran luar biasa terhadap tenaga produktif yang ada, maka lapisan-lapisan pekerja, cepat atau lambat, pasti terdorong untuk melawan dan menciptakan sejarahnya bersama-sama. Lewat “Keluarga Suci”, Marx dan Engels berkata: ‘sejarah tidak melakukan apa-apa, ia tidak memiliki kekayaan yang sangat besar, ia tidak melakukan pertempuran. Adalah manusia, manusia sejati yang hidup dan melakukan semua itu, yang memiliki dan berjuang; sejarah bukanlah, seolah-olah, seseorang yang terpisah, menggunakan manusia sebagai alat untuk mencapai tujuannya sendiri; sejarah tidak lain adalah aktivitas manusia yang mengejar tujuannya’. Di zaman imperialisme, batas-batas sempit negara-bangsa telah dihancurkan oleh ekspor kapital yang begitu ganas. Dalam periode saat ini, seluruh bangsa terperangah menyaksikan kaum muda yang sedang terbakar dan menjadi yang pertama mengambil tindakan untuk bergerak ke kiri. Dengan taraf kebudayaan yang tinggi dan tanpa beban kebiasaan, rutinitas pekerjaan, dan ingatan akan progresivitas kapitalisme di masa lalu—lapisan sosial ini tampil sebagai barometer yang jauh lebih tanggap dalam merespon persoalan yang menggerogoti jantung masyarakatnya. Walaupun para pemimpin reformis memblokir struktur yang dapat digunakan untuk mengekspresikan kemarahan rakyat pekerja, tetapi krisis yang berlarut-larut mengaharuskan perlawanan-perlawanan terbuka tetap berlanjut: lapisan-lapisan udik mengalami demoralisasi dan mundur; lapisan-lapisan segar bermunculan dan mengisi kekosongan tersebut. Namun menghadapi pengkhianatan-pengkhianatan reformisme—yang mengundang sejumlah kekalahan dan membebani gerakan proletar—maka angkatan-angkatan muda yang baru saja teradikalisasi oleh peristiwa mendapati gerakannya berada dalam posisi yang dilematik dan dramatis. Dalam “The Ideas of Karl Marx”, Alan Woods menguraikannya secara jelas:
“Salah satu faktor yang paling mencolok dalam gerakan-gerakan yang melanda dunia adalah mobilisasi kaum muda, yang pada semua tahapan berada di garis depan perjuangan. Pelajar dan pekerja muda, karena posisinya, adalah barometer yang sangat sensitif dari kontradiksi yang mendasarinya dalam masyarakat. Di dunia Arab, hampir 75 persen penduduk berusia di bawah 35 tahun. Dari jumlah tersebut, hampir 70 persen menganggur dan sebagian besar harus berjuang mencari nafkah di ekonomi informal. Selain itu, penindasan yang mencekik terhadap semua hak demokrasi memberikan tekanan luar biasa pada kaum muda yang pada dasarnya memberontak terhadap batasan tersebut. Posisi pemuda di negara kapitalis maju saat ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan posisi pemuda di negara terbelakang. Di Spanyol, pengangguran kaum muda untuk mereka yang berusia di bawah 25 tahun mencapai lebih dari 40 persen, dan situasi di seluruh dunia Eropa dengan cepat bergerak ke arah yang sama, demokrasi borjuis dengan cepat kehilangan legitimasinya di mata kaum muda yang dengan tepat melihatnya, dan semua partai mapan yang terkait dengannya, sebagai kedok kediktatoran para bankir.”
“Generasi muda yang tumbuh di negara-negara kapitalis maju saat ini, adalah yang pertama sejak Perang Dunia Kedua yang dapat berharap melihat standar hidup yang lebih rendah daripada orangtua mereka. Mereka tidak memiliki ingatan tentang ‘hari-hari emas’ reformisme, di mana kapitalisme mampu memberikan beberapa konsensi kecil, memungkinkan para pemimpin reformis untuk membangun otoritas yang dapat mereka wujudkan menjadi perdamaian sosial. Mereka tidak memiliki ingatan tentang periode perjuangan pasca perang ketika para pekerja bergerak melalui organisasi massa tradisional mereka. Satu-satunya pengalaman yang mereka miliki adalah kontra-reformasi tahun 90-an, dan pengkhianatan terus-menerus dari kaum sosial-demokrat, dan sampai batas tertentu, kaum Stalinis. Oleh karena itu, kaum muda memandang semua kekuatan politik yang mapan dengan ketidakpercayaan. Otoritas para pemimpin organisasi massa tradisional di kalangan pemuda berada pada titik terendah dalam sejarah. Sejak awal krisis, kaum muda sangat terpukul, tetapi belum melihat para pemimpin reformis dan Stalinis mewakili kepentingan mereka. Organisasi tradisional masih terbebani oleh birokrasi karir yang menyesakkan sehingga pada tahap ini tidak mencerminkan aspirasi gerakan yang telah terjadi. Sebaliknya, para pemimpin Partai Buruh di Inggris, PASOK di Spanyol, dan Partai Demokrat di Italia tunduk pada tekanan kelas kapitalis dan melakukan yang terbaik untuk tampil sebagai ‘negarawan’.”
Kekosongan kepemimpinan revolusioner bukan saja secara negatif memberi kesempatan untuk reformisme memimpin gerakan buruh, tetapi juga secara positif menempatkan spontanitas menjadi elemen utama dalam perjuangan massa. Saat mood kemarahan kelas proletar dan kaum muda tidak menemukan kepemimpinan dan organisasi yang dapat memandu dan memajukan perjuangannya, maka ia akan memanifestasikan dirinya dalam gerakan-gerakan spontan yang begitu rupa. Di seluruh dunia, lapisan-lapisan segar yang baru bergerak mengalaminya. Amarah, dendam, dan kebencian mereka terhadap sistem kapitalisme yang kejam dan sedang membusuk ini diekspresikan melalui pergerakan-pergerakan yang beraneka. Selama 2018-19, laju perekonomian Indonesia menurun dari 5,2 menjadi 5,0 persen. Melemahnya permintaan global mencekik Indonesia yang merupakan negeri penyuplai bahan baku ke Cina dan pengekspor alas kaki serta tekstil ke Amerika. Secara internasional harga-harga komoditas energi dan non-energi hancur. Selama 2019-20, perdagangan dunia mengalami kontraksi sebesar 21,2 persen dan pendapatan ekspor Indonesia menyusut 8,5 persen. Dari PT Freeport Indonesia (PTFI) saja, penurunannya mencapai -15,72 persen. Guna mempertahankan tingkat laba, sepanjang tahun itu lebih dari 45.000 pekerja dikenai PHK dan 3.500 di antaranya merupakan buruh Freeport. Data BPS akhirnya mengungkapkan sejumlah laporan-moderat kalau pengangguran Indonesia membengkak menjadi 6,82 juta dan jumlah penduduk miskinnya mencapai 24,79 juta. Awal Februari 2019, puluhan buruh Freeport bertolak ke Jakarta untuk memperjuangkan hak-haknya di depan Istana Presiden. Selama seminggu aksi protes mereka bertahan dan pada akhirnya berujung pembububaran paksa serta penangkapan terhadap 40 demonstran. Dalam melancarkan pembungkamannya kelas penguasa tidak sekadar mematutkan kriminalisasi tapi juga tindakan-tindakan rasialistik. Di Indonesia, rasisme dirawat secara terlembaga untuk melemahkan solidaritas dan persatuan antara buruh dari bangsa-penindas dengan buruh dari bangsa-tertindas. Di West Papua, ribuan pasukan organik dan non-organik dikirimkan setiap tahunnya. Bulan Maret, 6.000 personil gabungan TNI-Polri kembali dikerahkan meredam tuntutan hak menentukan nasib sendiri dari bangsa-kecil Papua secara keji dan hina. Berada di jalan buntu perkembangannya—imperialisme, maka kapitalisme menggencarkan ekspor kapital—untuk menemukan wilayah eksploitasi baru dan memperdalam penghisapan di wilayah-wilayah lama—dengan mengibarkan militerisme dan mengobarkan peperangan—sebagai solusi-barbar atas kontradiksi kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara-bangsa. Dalam “The War and the International”, Trotsky telah memperingatkan mengenai kecenderungan barbarisme dari kapitalisme di puncak perkembangan tertingginya:
“Kekuatan produksi yang dikembangkan oleh kapitalisme telah melampaui batas-batas bangsa dan negara. Negara-bangsa yang merupakan bentuk politik saat ini, terlalu sempit untuk mengeksploitasi kekuatan-kekuatan produktif ini. Oleh karena itu, kecenderungan alami sistem ekonomi kita, adalah berupaya menembus batas-batas negara. Seluruh dunia, baik daratan maupun lautan, baik permukaan maupun bagian dalamnya telah menjadi satu kesatuan perekonomian, yang bagian-bagiannya saling berhubungan satu sama lain. Pekerjaan ini dilakukan oleh kapitalisme. Namun dalam mencapai hal tersebut negara-negara kapitalis digiring untuk berperang agar sistem ekonomi global tunduk pada kepentingan keuntungan kaum borjuis di masing-masing negeri…. Perang yang terjadi saat ini pada dasarnya adalah pemberontakan kekuatan produksi melawan bentuk politik bangsa dan negara. Ini berarti runtuhnya negara-bangsa sebagai unit ekonomi yang mandiri. Bangsa ini harus eksis sebagai kekuatan budaya, ideologis, dan psikologis, namun landasan ekonominya telah tercerabut dari bawah kakinya. Semua pembicaraan mengenai bentrokan berdarah yang terjadi saat ini sebagai upaya pertahanan nasional adalah sebuah kemunafikan atau kebutaan. Sebaliknya, arti sebenarnya dan obyektif dari perang ini adalah hancurnya pusat-pusat perekonomian nasional yang ada saat ini, dan digantikannya dengan perekonomian dunia…. Perang ini menyatakan kejatuhan negara-bangsa. Namun pada saat yang sama ia memproklamirkan kehancuran sistem ekonomi kapitalis. Melalui negara-bangsa, kapitalisme telah merevolusi seluruh sistem perekonomian dunia. Ia telah membagi seluruh bumi di antara oligarki [finansial] negara-negara besar. Perkembangan ekonomi dunia di masa depan berdasarkan basis kapitalistik berarti perjuangan tanpa henti untuk mendapatkan ladang-ladang eksploitasi kapitalis yang baru dan terus-menerus, yang harus diperoleh dari satu sumber yang sama, yaitu bumi. Persaingan ekonomi di bawah bendera militerisme disertai dengan perampokan dan pengrusakan yang melanggar prinsip-prinsip dasar perekonomian manusia.”
Di zaman imperialisme, masalah kebangsaan menjadi tajam. Di sektor mahasiswa berkebangsaan Papua, proses radikalisasi kaum muda tidak saja dipicu oleh persoalan-persoalan pengangguran dan kemiskinan tapi terutama penindasan nasional yang mengambil bentuk kolonialisme dengan praktik-praktik rasisme dan militerisme. Pada 15 Agustus 2019, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) se-Pulau Jawa melaksanakan demonstrasi serentak yang bertajuk: ‘Tolak New York Agreement dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Bangsa West Papua’. Tanggal 16-18 Agustus, kelas penguasa meluncurkan serangan-balik rasialistik dengan mengerahkan gerombolan tentara, polisi, dan intel-intel untuk mengepung dan mengobrak-abrik Asrama Kamasan Surabaya. Selama pengepungan akses informasi dan logistik diputus, gerbang dan kaca-kaca jendela dihancurkan, dan sederet penghuni dilumpuhkan. Mahasiswa Papua terisolir, tertekan dan kelaparan. Mereka dibombardil batu-bata, tembakan gas air mata, caci-maki dan hinaan-hinaan rasialistik, serta penangkapan dan penahanan oleh badan orang-orang bersenjata. Setelah kabar-kabar brutalitas aparat tersebar maka aksi-aksi spontan untuk memberikan solidaritas dan melawan rasisme terlembaga meledak secara sporadis. Di pelbagai kota dan kabupaten di bumi Papua, ribuan massa bangsa-tertindas bangkit memancang protes anti-rasisme dan menuntut hak menentukan nasib sendiri bagi Bangsa West Papua. Di kota-kota geopolitik dan geoekonomi Indonesia, ratusan massa mahasiswa melancarkan aksi-aksi serupa. Namun dengan kekosongan kepemimpinan revolusioner, pengkhinatan reformisme dan kekalahan gerakan buruh di masa lalu, maka tidaklah mudah bagi gerekan mereka untuk mendapat perhatian dan bantuan yang menentukan dari kelas pekerja. Di butuhkan lebih banyak peristiwa untuk menarik gerakan buruh kembali memasuki medan perjuangan revolusioner. Walaupun tidak secara langsung menggetarkan organisasi-organiasi proletar, ledakan rasisme menjadi rangsangan obyektif yang meradikalisasi kelas menengah, meningkatkan agitasi-agitasi mengenai persoalan kebangsaan, dan mendorong lapisan-lapisan lembam ke arena perjuangan politik.
Kondisi sejarah dan hubungan-hubungan sosial sedang berada pada momen perjuangan kelas yang intens, dengan fluktuasi periodik yang sangat tajam dan perubahan situasi yang luar biasa mendadak. Ini berarti akan banyak peristiwa tak-terduga yang pasti meletus, menggoncang masyarakat secara mendasar dan menghasilkan pergeseran kesadaran secara dramatis. Dalam situasi inilah akan muncul lebih banyak calon pemimpin revolusioner dari elemen-elemen yang baru bergerak. Melalui aksi-aksi sporadis dan spontanitas yang meledak-ledak, angkatan-angkatan muda radikal bermunculan. Individu-individu yang tertidur dalam keadaan terlentang, penuh ketidakpedulian, diselimuti rutinitas dan kebiasaan sehari-hari akhirnya diseret ke arena pertempuran terbuka. Goncangan peristiwa mengusik kehidupannya dan meruntuhkan kepercayaan-kepercayaan lamanya. Begitulah ledakan rasisme menyulut protes yang menyalak-nyalak, dengan jalanan yang diluapi gelombang amarah, dan bilik-bilik kampus yang mulai memanas. Dalam krisis yang meluas, lautan sosial menjadi sangat sensitif terhadap gejolak dan manuver. Setiap pengambilan kebijakan disorot dan gerak-gerik yang mencurigakan ditindak. Orang-orang menjadi lebih awas dan mudah terbakar. Pada situasi ini reformasi dari atas dapat membuka kran revolusi dari bawah. Demikianlah upaya revisi UU KPK, pengesahan RKUHP, dan setumpuk RUU bermasalah memicu kebangkitan gerakan mahasiswa berskala raksasa. September 2019, Aksi Reformasi Dikorupsi meledak secara tiba-tiba. Ledakan peristiwa seketika memecahkan kebisuan dan menyingkirkan kelembaman. Perempuan-perempuan—yang terisolasi, teratomisasi, dan menjadi sasaran utama dari praktik-praktik kekerasan gender dan seksual dalam masyarakat kapitalis—kini ditarik ke dalam medan perjuangan. Meningkatnya agitasi-agitasi mengenai pasal-pasal seksis dalam RKUHP—yang mempertajam stigmatisasi, memperluas kriminalisasi, dan menghancurkan perempuan—mendorong mereka untuk bergabung bersama massa laki-laki dalam melancarkan perlawanan.
Di tengah degenerasi birokratik dan reformis dari pemimpin-pemimpin organisasi buruh, spontanitas memainkan peranan penting dalam kebangkitan massa. Dalam periode inilah persoalan kepemimpinan membuncah. Lapisan-lapisan baru mengutuk pengkhianatan-pengkhianatan reformisme dan berhasrat untuk revolusi, namun gerakan-gerakannya menunjukkan kelemahan programatik dan landasan teoritik. Mengetahui kepengecutan dan kepandiran pemimpin-pemimpin reformis serikat buruh—yang lamban, tambun, dan setengah-hati—dalam menyikapi pemaksaan aturan borjuis, maka angkatan-angkatan muda terpelajar dengan posisinya yang unik memasuki medan-medan aksi politik. Aksi-aksi mimbar bebas, protes dan kampanye diorganisir di kampus-kampus dan sesegera mungkin disalurkan untuk menduduki jalanan dan mengepung intansi-instansi pemerintahan. Di titik-titik api, sekte-sekte Anarkis yang memuja spontanitas berusaha mengklaim bahwa gerakan-gerakan spontan massa merupakan bukti dari pengaruh anarkisme. Bakunin dalam “Sosialisme Tanpa Kewarganegaan: Anarkisme” menulis keyakinan naifnya: ‘dalam sebuah revolusi sosial, yang dalam segala hal sangat bertentangan dengan revolusi politik, tindakan individu sama sekali tidak diperhitungkan, sedangkan tindakan spontan massa adalah segalanya’. Anarkisme tidak memahami kalau spontanitas merupakan unsur yang terdapat dalam semua gerakan massa: demonstrasi, pemogokan umum, hingga pemberontakan bersenjata. Kaum anarkis menempatkan spontanitas sebagai kunci dari perubahan tatanan secara mendasar. Sebagai konsekuensinya maka dalam proses penggulingan kapitalisme, penghapusan negara, dan pembangunan masyarakat komunis-bebas yang mereka cita-citakan—anarkisme menyangkal signifikansi dari kepemimpinan revolusioner dan kediktatoran proletariat. Meskipun para militan anarkis mempunyai panduan teoretik yang dirancang oleh pemimpin-pemimpin informalnya, tetapi anarkisme merupakan teori yang lemah untuk memandu perjuangan kelas buruh yang kompleks. Dalam tulisannya tentang “Anarkisme”, Kropotkin menekankan pembangunan masyarakat masa depan secara tak-memadai: ‘selama periode revolusi, sebuah kota besar—jika penduduknya menerima gagasan Anarkisme—dapat mengorganisir dirinya sesuai dengan garis komunisme-bebas’. Walaupun gerakan mereka memberi tempat pada gagasan tapi ide-ide anarkisme yang abstrak tidak dapat disalurkan dalam realitas yang konkret.
Tatanan kapitalis takkan pernah dapat digulingkan hanya dengan gagasan-gagasan semata; penggulingannya membutuhkan kekuatan yang nyata. Mereka pikir sebuah transformasi mendasar cukup dilakukan secara spontan oleh massa yang teradikalisasi tanpa melibatkan kepemimpinan yang memiliki teori, program, strategi-taktik, dan orientasi yang jelas menuju masa depan. Walaupun para militan Anarkis mengorganisir dirinya ke dalam kolektif dan afinitas-afinitas tertentu tapi gerakan atau organisasi macam ini terlalu kekanak-kanakan untuk merealisasikan impian-impian yang besar. Dunia lama terlalu mengakar untuk diremukkan oleh heroisme gerombolan individu pelempar molotov, pelaku sabotase, pembunuh pejabat dan aparat. Aksi-aksi teror, gerilya kota, dan beragam bentuk propaganda perbuatan tiada-memadai dalam meningkatkan kesadaran dan mengorganisir rakyat pekerja. Kapitalisme dan negara borjuis yang memiliki segudang alat-alat represinya tak bisa dimusnahkan tanpa mengobarkan perjuangan kelas revolusioner yang ditempuh secara sadar dan terorganisir di bawah kepemimpinan revolusioner dan kediktatoran proletariat. Aksi Reformasi Dikorupsi (2019) memberikan pelajaran bagaimana kelemahan politik dari gerakan-gerakan spontan. Meskipun pada awalnya ledakan-ledakan demonstrasi tidak menunjukkan adanya kepemimpinan dengan perspektif, kebijakan dan slogan-slogan tertentu, tetapi meluasnya mobilisasi dengan bertambahnya elemen-elemen sosial yang teradikalisasi untuk memasuki medan aksi, maka spontanitas tak dapat dipertahankan dan kepemimpinan harus diadakan atau ditemukan. Di tangan pemimpin-pemimpin reformis organisasi-organisasi buruh, kebangkitan gerakan—yang belum menemukan refleksinya di organisasi-organisasi massa selain serikat-serikat pekerja—tidak mampu dimanfaatkan. Angkatan muda yang baru saja terbangun ke arena politik mendapati dirinya tak-terwakili oleh kepemimpinan organisasi-organisasi buruh manapun. Dalam kondisi inilah luapan amarah dan frustasi dari lapisan kelas menengah diekspresikan melalui kecenderungan-kecenderungan ultrakiri yang sangat membingungkan.
Di tengah kelemahan-kelemahan politik itu sekte-sekte anarkis berusaha mengklaim kalau aksi-aksi spontan merupakan gerakan anarkis. Dengan aneka simbol dan slogan kekanak-kanakan, individu-individu libertarian berusaha menebarkan pengaruhnya di tengah gerakan massa yang sedang bangkit. Di barisan-barisan mahasiswa, pelajar SMA-SMK-STM—mereka meneriakan seruan anti-otoritarian, mengibarkan Bendera Merah-Hitam dan Bendera Hitam bergambar A bulat. Mereka berpura-pura untuk menyangkal peran kepemimpinan tapi secara samar-samar menunjukkan tindakan-tindakan kepemimpinan yang kontradiktif. Walaupun mereka berada di tengah-tengah gelombang radikalisasi, bukan berarti unsur-unsur spontan adalah bagian dari sekte anarkis yang menyedihkan ini. Anarkisme sangatlah kurang-memadai untuk memberikan ekspresi yang sadar dan terorganisir dalam perjuangan massa. Sejak awal, para militan anarkis sudah keliru dalam mendekati persoalan spontanitas. Spontanitas memang merupakan sebuah letusan yang kuat tetapi mempunyai batas. Massa yang meluapi jalanan dan meggencarkan pertempuran terbuka tak bisa terus-menerus bergerak secara spontan dan berada di tengah-tengah ketidakstabilan. Lapisan-lapisan terbelakang membutuhkan jalan keluar yang ditawarkan oleh lapisan terdepan. Pada tahap inilah kebutuhan dan tujuan dari setiap kelompok atau individu bersatu untuk mendorong dilahirkan atau ditemukannya pemimpin-pemimpin yang dapat memecahkan kebuntuan. Selama pasang revolusioner, tuntutan dan keinginan massa meniscayakan lahir atau ditemukannya individu-individu tertentu untuk memimpin gerakannya. Dalam tahapan peningkatan agitasi, orang-orang hebat bermunculan untuk memberikan orasi, pidato, mengusung tuntutan, dan tampil sebagai pemimpin-pemimpin perjuangan massa. Pribadi-pribadi itu menjadi pemimpin massa atas kualitas dan prestisenya pada organisasi tertentu dan berusaha melayani kebutuhan sosial yang besar di momen meledaknya peristiwa. Sejak permulaan ledakan, organisasi-organisasi mahasiswa kanan dan BEM-BEM Universitas terdorong oleh gelombang peristiwa untuk bergerak ke kiri. Teradikalisasinya lapisan kelas menengah—yang masih menaruh kepercayaan terhadap kepemimpinan organisasi-organisasi internal kampus dan Cipayung—menempatkan Kepemimpinan Gerakan Reformasi Dikorupsi berada di tangan pemimpin-pemimpin liberal yang berusaha mempertahankan kepemimpinannya dengan menerima kepentingan massa di belakangnya. Tetapi ketika atmosfer sosial semakin memanas dan karakter massa bertambah radikal, seabrek organisasi dan pemimpin-pemimpin liberal disingkirkan dan anasir-anasir yang lebih radikal didorong memimpin. Demikianlah seabrek pimpinan organisasi-organisasi Cipayung dan BEM-BEM moderat disisihkan oleh para pimpinan organisasi-organisasi radikal dan aliansi-aliansi populer.
Di tahap awal kebangkitan, terbangunnya massa ke arena politik mengirimkan goncangan keras ke tubuh kekuasaan. Mendapati tekanan dari bawah, faksi-faksi di istana dan parlemen borjuis mengalami keretakan. Meskipun Fraksi-Fraksi PKS, Gerindra, dan Demokrat sebelumnya kompak mengusung revisi UU KPK, pengesahan RKUHP, dan aneka RUU bermasalah, namun kebangkitan massa segera memaksa mereka untuk bersilang-pendapat. Mereka mencoba menghadapi tuntutan-tuntutan massa dengan manuver dan intrik-intrik. Di bilik-bilik pemerintahan para pemimpin liberal dipanggil, diajak berdialog, dan dibujuk untuk berkompromi. Tetapi di universitas, sekolah dan jalanan, lautan sosial masih bergejolak dan massa tetap bergerak. Seabrek pimpinan gerakan didorong untuk melangkah lebih jauh dan menolak berkompromi: di struktur-struktur kepemimpinan, akhirnya pengaruh pemimpin-pemimpin liberal melemah dan pemimpin-pemimpin radikal mengambil-alih posisi mereka hingga tawaran-tawaran negosiasi dan pertemuan-pertemuan tertutup dipentalkan. Namun massa tidak bisa bergerak secara terus-menerus dan berada dalam ketidakstabilan yang berlarut-larut. Di titik tertentu, massa mengalami kelelahan dan tenaganya terkuras-habis. Spontanitas saja tidaklah cukup dalam membawa perjuangan kelas sampai ke garis akhir; dibutuhkan kepemimpinan yang memadai untuk memandu perjuangan massa sampai ke garis akhir. Dengan menyangkal persoalan inilah keresahan dan kemarahan massa yang besar takkan dapat ditampung dan disalurkan dengan baik. Selama beberapa hari saja, Gerakan Reformasi Dikorupsi menunjukkan bagaimana aksi-aksi yang berlangsung spontan secara dialektis memberikan kepemimpinan sebuah peran yang vital. Perspektif dan orientasi politik mendikte seluruh slogan dan kebijakan-kebijakan yang diikuti massa. Di bawah kepemimpinan yang tak-memadai maka agitasi-agitasi menurun, semangat melemah, dan barisan-barisan perlawanan goyah. Dalam kondisi ini perimbangan kekuatan berubah. Pendulum yang semula ke kiri perlahan berayun ke kanan. Borjuasi kini mendapatkan kesempatan untuk meluncurkan represi-represi mengerikan. Kontadiksi antara kepemimpinan dan massa akhirnya membuncah begitu rupa. Di tengah kepungan tentara dan polisi, tembakan gas air mata dan water cannon, serta penangkapan-penangkapan brutal—di struktur kepemimpinan, para pemimpin berbeda pendapat mengenai langkah yang mesti dipilih; di ruas-ruas jalanan, massa menunggu seruan dan arahan-arahan yang berguna. Namun pimpinan-pimpinan mahasiswa tak berdaya menghadapi serangan-balik penguasa. Daripada menyerukan pembentukan barikade-barikade pertahanan diri dan mundur secara teratur, kepemimpinan justru abstain dan kebingungan: massa dibiarkan menunggu, bertindak tanpa petunjuk yang dibutuhkan, hingga menjadi sasaran empuk badan orang-orang bersenjata.
Sepanjang 24-30 September 2019, terdapat 1.489 yang ditangkap, 380 dijadikan tersangka, 5 meninggal dunia, dan ribuan luka-luka. Menghadapi represivitas yang luar biasa kencang maka massa tidaklah mungkin terus-menerus mengharapkan kepemimpinnya. Gelombang reaksi berhari-hari menghancurkan barisan-barisan yang ada. Pengepungan, penganiayaan, penangkapan, penahanan, penyiksaan, dan pembunuhan menyeret gerakan massa pada kekalahan dan demoralisasi. Di garis depan pertempuran, para pemimpinnya nampak berputus asa dan mempersonifikasikan kelemahan sosial dari selapisan borjuis-kecil yang sudah menyerah. Mobilisasi tidak dapat bertahan lama. Massa mahasiswa dan pelajar tak bisa terus-menerus berada di barisan-barisan perlawanan tanpa keyakinan dan harapan yang diperoleh secara sadar akan kemenangan di masa depan. Saat ketegangan bertambah parah dan tekanan massa melemah, struktur kepemimpinan mengalami tekanan tajam: elemen-elemen radikal dipukuli tongkat dan elemen-elemen liberal diberi wortel. Demikianlah para pemimpin radikal diburu dan pemimpin-pemimpin liberal menghilang untuk mencari tempat perlindungan dan bersiap melakukan kompromi. Sementara di jalanan, sejumlah elemen radikal yang masih bertahan dengan sisa-sisa tenaganya membentuk barikade-barikade dengan bersenjatakan tongkat dan batu-bata. Kaum anarkis melihat ini sebagai kecenderungan anarkisme yang paling liar dan berusaha mengklaim upaya pertahanan diri ini sebagai bagian dari gerakan anarkis. Mereka sama sekali tidak mengerti kalau tindakan-tindakan demikian merupakan bukti dari kelemahan kepemimpinan. Di tengah amukan represi dan kebingungan yang menyeringai, mahasiswa dan pelajar secara dramatis melakukan perlawanan terbuka tanpa pemimpin-pemimpin yang siap memandu perjuangan. Mereka membrondongi water cannon dengan batu dan kayu, melempar-balik peluru-peluru gas air mata ke arah gerombolan badan orang-orang bersenjata, dan menarik dukungan dari rakyat miskin kota di perkampungan-perkampungan sekitarnya. Meskipun reaksi berpotensi membuka kran radikalisasi yang semakin besar, namun kekosongan kepemimpinan revolusioner—yang seharusnya berperan sebagai jenderal perang kelas—akhirnya membuat nyali dan militansi massa yang luar biasa menguap begitu saja. Aparat-aparat yang terorganisir terbukti lebih kuat ketimbang massa yang bergerak secara sporadis. Tanpa struktur yang stabil maka spontanitas massa tak mampu dikonsolidasikan dengan terorganisir dan sadar. Dalam menyelesaikan kontradiksi inilah peran struktur memadai dengan pemimpin-pemimpin revolusionernya adalah sentral. Lewat “The Class, the Party and the Leadership: How to Organize Revolution?”, Julien Arseneau mempertegas:
“Tidak semua lapisan kelas pekerja dan pemuda menarik kesimpulan yang sama pada saat yang bersamaan. Beberapa pekerja percaya bahwa kapitalisme adalah sistem terbaik. Ada pula yang tidak menyukai kapitalisme, namun tidak percaya kapitalisme dapat digulingkan. Yang lainnya tidak peduli. Namun ada pula yang berkesimpulan bahwa perjuangan untuk sosialisme itu perlu. Setelah memahami hal ini, orang-orang ini tentu ingin mengarahkan gerakan massa kea rah tersebut. Tentu saja tugas minoritas komunis ini (yang oleh Trotsky disebut sebagai ‘kader’) adalah berorganisasi untuk mendapatkan kepercayaan dari lapisan kelas pekerja lainnya. Tugas ini lebih efektif jika kelompok minoritas ini dikelompokkan dalam suatu organisasi dengan program yang sama. Dalam “Diskusi tentang Program Transisional”, Trotsky menjelaskan: ‘sekarang apa partainya? Kohesi ini adalah pemahaman bersama mengenai peristiwa-peristiwa, tugas-tugas, dan pemahaman bersama ini—yang merupakan program partai. Sebagaimana pekerja modern, lebih dari pekerja barbar, tidak dapat bekerja tanpa alat, maka di dalam partai, program adalah instrumennya. Tanpa program setiap pekerja harus menginprovisasi alatnya, menemukan alat seadanya, dan yang satu bertentangan dengan yang lain.”
Dalam suasana perjuangan kelas yang intens, spontanitas massa mau-tidak-mau mengarah pada pembentukan kepemimpinan atau persatuan-persatuan tertentu tapi struktur tersebut sangatlah rapuh. Aliansi-Aliansi Rakyat, Aliansi-Aliansi Mahasiswa, maupun Aliansi-Aliansi Pelajar di pelbagai daerah begitu lemah. Keterlibatan pelbagai individu dan organisasi yang mendirikan aneka aliansi atau front-front secepat kilat, dengan tendensi-tendensi yang beragam, takkan mampu membentuk struktur yang kuat. Kepemimpinan yang sadar dan terorganisir dengan baik tidak dapat dibentuk secara mendadak. Pembentukan kepemimpinan macam ini tak bisa diiterupsikan ketika momen-momen revolusi terbuka—membutuhkan waktu yang panjang untuk membangun kepemimpinan yang memadai, terutama yang berkait proses pendidikan calon-calon pemimpin masa depan, dengan teori, program, metode, dan tradisi perjuangan kelas revolusioner. Tanpa memperhatikan persoalan inilah spontanitas massa akan terbuang sia-sia; apa yang meledak secara spontan akhirnya menghilang secepat kilat. Saat keterlibatan massa menurun dan kekuatan gerakan melemah, kepemimpinan yang tak-memadai itu cenderung meletakkan kesalahan kepada massa dengan aneka apologi liar: massa tidak siap, terlalu banyak bermain-main dan amat cair. Kita mengerti kalau bobot sosial mahasiswa dan pelajar tidaklah sebesar proletariat, tetapi kekuatan kelas menengah yang teradikalisasi berperan sebagai percikan dalam mengorbarkan perjuangan kelas revolusioner. Kaum muda seperti yang diungkapkan Karl Liebknecht: ‘adalah api bagi revolusi proletariat’. Dalam “Fightback’s 2018 Perspectives; The Need for a Militant Worker’s Movement”, Fightback (Seksi Kanada dari International Marxist Tendency) menulis:
“Kaum muda berada di garis depan gerakan global melawan status-quo. Jajak pendapat demi jajak pendapat menunjukkan kaum muda menolak kapitalisme dan memandang positif sosialisme, komunisme, dan bahkan revolusi. Ada perasaan umum bahwa sistem tidak berjalan dan kapitalisme tidak memberikan masa depan bagi kaum muda. Ketika ditanya tentang bagaimana menurut mereka kualitas hidup generasi berikutnya, 13 persen mengatakan lebih baik sementara 65 persen mengatakan lebih buruk…. Kaum muda tidak memiliki konsep orang dewasa tentang kapitalisme yang memberikan perbaikan, tetapi mereka juga tidak memiliki ingatan orang dewasa tentang gerakan buruh yang melakukan perjuangan nyata. Hal ini dapat membuat konsep bahwa kelas pekerja yang sentral dalam perjuangan mengubah masyarakat menjadi abstrak. Sangatlah penting bahwa kaum muda tidak meninggalkan analisis kelas revolusioner dan tersedot ke dalam ide-ide kelas menengah yang trendi seperti politik identitas. Ini akan mengisolasi kaum muda dan mencegah mereka bersatu dengan kekuatan yang sebenarnya mengancam kapitalisme dan semua penindasan yang ditimbulkannya…. Dalam analisis terakhir, kelas pekerjalah yang memiliki kekuatan untuk mengakhiri kapitalisme dan menyatukan semua yang tertindas untuk melawan sistem. Kekuatan pemuda adalah sebagai percikan untuk membantu membawa para pekerja ke dalam perjuangan.”
(Berlanjut)
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
