Kategori
Perjuangan

Gerakan Mahasiswa dan Buruh Hari Ini (Bagian 1)

“Di tangan kelas borjuasi hari ini, filsafat tidak mampu menjawab setiap pertanyaan penting yang dihadapi umat manusia, dan memang bukan itu tujuannya. Tujuan filsafat borjuis adalah untuk membuat kusut, membingungkan, dan mematahkan semangat kaum muda yang berpikir, guna menghalangi langkah mereka ke jalan revolusi.” (Alan Woods)

“Kita mengatakan bahwa tugas-tugas kita dalam bidang pendidikan adalah bagian dari perjuangan untuk menggulingkan borjuasi. Kita secara terbuka mendeklarasikan bahwa pendidikan yang terpisah dari kehidupan dan politik adalah kebohongan dan kemunafikan.” (V.I. Lenin)

Situasi dunia telah berubah: kapitalisme sudah tak mampu menyiasati krisisnya sebagai momen penghancuran over-produksi dan stimulus bagi investasi baru. Hukum ‘akumulasi-demi-akumulasi’ sebagai pendorong maju kapitalisme tiada lagi beroperasi seperti pada krisis-krisis terdahulu. Tidak ada lagi kombinasi unik antara kehancuran total akibat perang dunia dan meluasnya perdagangan dunia serta ancaman Stalinisme yang menjadi alasan kaum kapitalis memberikan reforma melalui program-program Negara Kesejahteraan. Alih-alih memprogramkan kesejahteraan, negara-bangsa hari-hari ini justru mencabut kembali reforma-reforma yang terlanjur diberikan dan mengalami kesukaran mengeluarkan reforma-reforma susulan. Periode Paska-Perang Dunia I dan II (1950-73), dimana ekspansi kapital berskala raksasa untuk invetasi produktif sudah berlalu. Sejak 1974, ekspor kapital untuk investasi sektor-sektor produktif mulai ditinggalkan dan digantikan dengan sektor jasa non-produktif: keuangan, properti, digital, dan sebagainya. Krisis kapitalisme 2008 menjadi titik balik perekonomian dunia. Pada 1990 sampai 2000-an, pertumbuhan ekonomi global rata-rata melambat 6 persen. Selama 2008-9, perdagangan dunia merosot tajam hingga pertumbuhan di tahun-tahun selanjutnya menurun 3,6 persen dan memasuki 2012 menjadi 2,1 persen. Sementara sepanjang 2007-12 produktivitas global cuma tumbuh 0,5 persen dan 2012-14 turun menjadi nol persen. Keseimbangan kapitalisme meluncur-berantakan dan tidak menunjukkan pemulihan signifikan. Boom ekonomi untuk memulihkan diri secara cekatan terkubur jauh dari pandangan, karena perdagangan dunia jelas-jelas menunjukkan perlambatan signifikan. Akhirnya proteksionisme menjadi monumen politik global yang dipaksakan untuk menambal-sulam keadaan dengan mencabut semua anggaran publik, menaikan harga-harga, memotong upah, dan membebankan pembayaran hutang di pundak rakyat pekerja secara kejam.

Tahun 2019, krisis kapitalisme mencapai tingkat terbaru. Kelas borjuis sudah tidak dapat membeli perdamaian sosial dengan konsensi dan reforma-reforma seperti di masa lalu. Keuntungan besar yang mereka hasilkan selama boom sudah terkikis, kas-kas anggaran habis, dan ruang untuk bermanuver sangat terbatas. Setelah Krisis Finansial 2008, satu dekade sudah berlalu tapi sama sekali tiada pemulihan berarti. Bertahun-tahun penerapan penghematan dan pemotongan anggaran membawa perekonomian dalam kerusakan parah. Politik merupakan ekonomi yang terkonsentrasi dan kekacauan ekonomi terekspresikan melalui seabrek perpecahan di tubuh kelas penguasa. Di Eropa, Krisis Brexit membara yang ditandai perseteruan Prancis-Jerman dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Visi federalis remuk, kelas kapitalis terpecah dan kehilangan kepercayaan dirinya. Krisis yang berulang-ulang bukanlah sebatas kelemahan kapitalisme, tetapi merupakan solusi berkala untuk kontradiksi yang menumpuki sistemnya. Melalui krisis-krisisnya, kapitalisme berusaha melancarkan penghancuran kreatif guna menyelamatkan perekonomiannya: menutup perusahaan-perusahaan yang inefisiensi dan membuat rugi, menyingkirkan hutang-hutang yang tidak dapat dilunasi, dan menghilangkan over-produksi yang terus menghantui. Namun sekarang jurus ini tak mempan lagi. Krisis kapitalisme makin parah dan Bank Dunia berusaha merangsang ekonomi dengan pelonggaran kuantitatif: menurunkan suku bunga dan mencetak sebanyak mungkin uang murah. Rangsangan ini membawa malapetaka. Pada kuartal pertama 2018, total hutang global membengkak menjadi 318 persen dari total PDB dunia dan tercatat 38 persen lebih tinggi ketimbang awal krisis 2008. Ketidakstabilan umum menghinggapi setiap rezim di seluruh dunia. AS dan Cina sebagai kekuatan ekonomi terbesar dunia melemah dan konflik dagang di antara mereka menyeret pelbagai negeri ke medan perseteruan. Pemerintah-pemerintah borjuis, partai-partai dan pemimpin-pemimpin reformis naik-turun tanpa menemukan jalan keluar dari kebuntuan. Ahli-ahli strategi kapitalis angkat tangan: kebijakan-kebijakan neoliberal maupun stimulus Keynesian tidak mampu memecahkan persoalan. Pada 1847, dalam “Manifesto Komunis”, Marx dan Engels secara akurat telah memprediksikan jenis krisis yang berlangsung sekarang:

“Dalam krisis-krisis ini, sebagian besar tidak hanya dari produk-produk yang ada, tetapi juga dari tenaga-tenaga produktif yang diciptakan sebelumnya, dihancurkan secara berkala. Dalam krisis ini pecah sebuah epidemi yang, di semua zaman sebelumnya, akan tampak absurd—epidemi kelebihan produksi. Masyarakat tiba-tiba menemukan dirinya kembali ke keadaan barbarism sesaat: tampak seolah-olah kelaparan, perang kehancuran universal telah memutuskan pasokan segala kebutuhan hidup: industri dan perdagangan tampaknya dihancurkan dan mengapa? Karena terlalu banyak peradaban, terlalu banyak sarana penghidupan, terlalu banyak industri, terlalu banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi cenderung memajukan perkembangan syarat-syarat keberadaan borjuis; sebaliknya, mereka menjadi terlalu kuat untuk kondisi ini, dengan mana mereka terbelenggu, dan begitu mereka mengatasi belenggu-belenggu ini, mereka membawa kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan kepemilikan borjuis. Kondisi masyarakat borjuis terlalu sempit untuk menampung kekayaan yang mereka cipatakan. Dan bagaimana kaum borjuasi mengatasi krisis ini? Di satu pihak dengan penghancuran paksa sejumlah besar tenaga produktif; di pihak lain, dengan penaklukan pasar-pasar baru, dan dengan eksploitasi yang lebih menyeluruh atas pasar-pasar lama. Artinya, dengan membuka jalan bagi krisis yang lebih luas dan lebih merusak, dan dengan mengurangi sarana pencegahan krisis.”

Sekarang kita menyaksikan: ketidakmampuan kelas penguasa untuk mengkahiri krisis kapitalisme telah mendorong mereka untuk memperkencang proteksionisme yang tidak sebatas mengontrol peredaran barang dan jasa secara brutal, tetapi juga memicu ketegangan sosial-politik yang luar biasa panas dan mencekik. Di Yunani, Kuba, Italia, Spanyol, Mesir dan Tunisia—massa memberontak untuk menentang perlakuan-perlakuan keji pemerintahan borjuis. Globalisasi kapital menyeret semua negeri ke dalam pusaran konflik yang tiada terkendali. Di skala dunia, peristiwa-peristiwa besar meledak, menyebar secepat kilat, dan menunjukkan kebangkrutan negara-bangsa dan kepemilikan pribadi. Sepanjang 2019-23, gejolak rasisme terhadap mahasiswa Papua, aksi-aksi Reformasi Dikorupsi, Mosi Tidak Percaya, Cabut Omnibus Law, Tolak Otsus Jilid II dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Bangsa West Papua menyalak di Indonesia. Ratusan ribu buruh dan muda terbangun ke arena perjuangan politik. Peristiwa ini menggoncang kesadaran lapisan-lapisan luas. Meskipun bersifat spontan, sporadis, dan mengalami sejumlah pasang dan surut yang begitu mencengangkan, tetapi terseretnya sejumlah lapisan paling lembam ke medan perjuangan politik menandakan pergeseran kesadaran secara mendalam dan dramatis. Fenomena ini bukanlah evolusi bertahap, melainkan memiliki karakter revolusioner: menunjukkan lompatan kualitatif di tengah belokan mendandak dan kejang-kejang historis. Dalam periode perjuangan kelas yang intens dengan kontradiksi yang bertambah tajam dan suhu sosial yang semakin memanas, maka lapisan-lapisan paling segar terseret menuju aksi-aksi politik seperti ranting-ranting kering yang terbakar. Di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Medan, Makassar, Ternate, Mataram, dan sebagainya—sektor mahasiswa teradikalisasi begitu rupa. Angkatan-angkatan muda bangkit bukan sebatas menentang setumpuk peraturan bermasalah tapi terutama menyalurkan keresahan atas meningkatnya inflasi, pencabutan subsidi, pengangguran, kemiskinan dan kelaparan yang menghantui hari-harinya. Di seluruh dunia, serangan-serangan terhadap standar hidup telah menggoncang kesadaran massa: kelas pekerja tertarik ke medan pertempuran dan bersiap memberikan pengorbanan terbesar untuk maju dan kelas menengah yang goyah cenderung mendukung gerakan revolusioner dalam mengakhiri krisis kapitalisme.

Di tengah hantaman krisis dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya, kepentingan-kepentingan seksional dari setiap elemen yang teradikalisasi bersatu: individu-individu yang mengejar kepentingan dan tujuan-tujuan hidup mereka sendiri, bergerak seperti yang dijelaskan Marx: ‘secara tak terelakkan masuk dalam hubungan-hubungan tertentu, yang terlepas dari kehendak mereka, yaitu hubungan-hubungan produksi’. Menghadapi serangan-serangan dan penghancuran luar biasa, individu-individu yang posisi sosial-ekonominya dihisap, ditindas, dan dimiskinkan terdorong untuk melawan bersama dan mengukir sejarah. Melalui “Keluarga Suci”, Marx dan Engels menjelaskan bahwa ‘sejarah tidak melakukan apa-apa, ia tidak memiliki kekayaan yang sangat besar, ia tidak melakukan pertempuran. Adalah manusia, manusia sejati yang hidup dan melakukan semua itu, yang memiliki dan berjuang; sejarah bukanlah, seolah-olah, seseorang yang terpisah, menggunakan manusia sebagai alat untuk mencapai tujuannya sendiri; sejarah tidak lain adalah aktivitas manusia yang mengejar tujuannya’. Dikepung krisis kapitalisme yang semakin mendalam, individu-individu yang teradikalisasi bergabung dalam pemberontakan bukan karena keinginan subyektif tapi terutama stimulus obyektif: mereka memberontak lantaran tatanan masyarakat kapitalis terlalu busuk dan sudah tidak bisa lagi memajukan kehidupan sosial-ekonominya. Trotsky dalam “The History of the Russian Revolution”, menerangkan ketika kontradiksi masyarakat semakin intens dan kekuatan sejarah secara keseluruhan bertambah besar, maka karakteristik-karakteristik pribadi akan menyesuaikan dirinya sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh zamannya: ‘iritasi yang serupa (tentu saja tidak begitu identik) dalam kondisi serupa memunculkan refleks yang serupa; semakin kuat iritasinya; semakin cepat ia mengatasi kekhasan pribadi. Menghadapi rasa geli, orang bereaksi berbeda, tetapi terhadap besi panas, sama saja. Seperti palu uap mengubah bola dan kubus menjadi lembaran logam, demikian pula di bawah hantaman peristiwa yang terlalu hebat dan tiada terelakkan, resistensi dilebur dan batas individualitas hilang’. Kebebasan-kebebasan relatif untuk bertindak secara terpisah-pisah bukan saja tak berguna, tapi bahkan tidak mungkin dilakukan pada periode sejarah yang menajam.

Kita hidup pada periode sejarah yang dramatis, penuh kemelut, dan ganas. Dunia diselimuti kegelapan pekat dan gerombolan penghisap mempertontonkan akrobat biadab. Umat manusia berada di tengah kesengsaraan akut dan penghinaan barbar. Tidak ada jaminan kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Semuanya tersisih oleh persaingan dan monopoli yang berdiri di atas kepentingan mengeruk keuntungan demi mempertahankan dan meningkatkan kepemilikan perseorangan. New Unite melaporkan bahwa selama berlangsungnya krisis biaya hidup segelintir perusahaan justru mendongkrak profitnya melalui pencatutan yang mengerikan. Tahun 2021, tiga supermarket teratas—Tesco, Sainsbury’s, dan Asda—meraup laba gabungan sebesar 3,2 miliar poundsterling. Pada 2022, raksasa minyak dan gas multinasional ExxonMobil membukukan labanya mencapai 219 miliar dolar AS. Oxfam International lantas menunjukkan statistik ketimpangan mendalam: 66 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan bernilai lebih dari 3,5 miliar orang termiskin. Satu persen konglomerat global menumpuk kekayaan yang melampaui setengah populasi umat manusia. Kekayaan luar biasa itu diperoleh dengan menggencarkan serangan terhadap standar hidup rakyat pekerja. Di Inggris, 6,7 juta rumah tangga mendera kekeringan bahan bakar atas meroketnya harga gas domestik 129 persen dan listrik 67 persen. Dalam kondisi inilah keluarga-keluarga pekerja tenggelam dalam kubangan kelaparan: inflasinya telah menembus angka 19,1 persen. Sedangkan di Jerman dan Prancis, tingkat inflasi juga menjulang: masing-masing 21,1 persen dan 15,8 persen. Secara global, War on Want mencatat kalau 2,3 miliar jiwa menderita kerawanan pangan, 3,1 miliar orang tidak mampu membeli makanan bergizi, dan setiap menit terdapat 5-13 laki-laki dan perempuan yang meninggal lantaran kelaparan. Namun Organisasi Pangan dan Pertanian PBB ini mengungkapkan bahwa selama 2005-2020, produksi pangan global mengalami pertumbuhan substansial: hasil tanaman tebu, jagung, beras, gandum, dan pasokan buah dunia mencapai 50 persen; produksi semua jenis sayuran naik 65 persen, susu 53 persen, dan daging 40 persen. Tetapi bahan-bahan makanan tersebut bukan saja sukar diakses oleh orang-orang miskin, melainkan pula sengaja dilenyapkan untuk mengakali over-produksi. Di Polandia, jutaan ton biji-bijian dibakar daripada disalurkan. Di Rusia dan Ukraina, lahan-lahan pertanian dihancurkan selama berlangsungnya peperangan.

Over-produksi muncul dari kontradiksi perekonomian yang anarkistik dan pembagian masyarakat menjadi kelas-kelas yang bertentangan. Kekayaan cabul kapitalis dan kemiskinan mengenaskan dari lapisan-lapisan terluas proletariat menghancurkan perdagangan dunia dan membawa ekonomi pada krisis-krisis lebih mendalam. Meskipun para pemilik modal menyiasati kontradiksi kapitalisme dengan menginvestasikan kembali nilai-lebih yang diekspropriasinya dari kaum produsen untuk menciptakan pasar-pasar baru, namun langkah tersebut pada gilirannya akan menciptakan kapasitas produksi yang secara keseluruhan lebih besar dan memperburuk krisis di masa-masa mendatang. Walaupun terdapat segudang argumen untuk menjelaskan krisis demikian, tetapi alasan mendasarnya adalah bahwa produksi benar-benar telah melampaui kemampuan masyarakat untuk mengonsumsi komoditas yang mengalir ke pasar dunia. Selama beberapa dekade terdahulu perdagangan global memang berkembang pesat, tapi setelah Krisis Finansial 2008 semuanya melamban dan mundur: investasi sebagai kunci pertumbuhan berkelanjutan berada di titik nadir dan pemerintah-pemerintah borjuis kekurangan anggaran untuk meningkatkan pengeluaran publik. Produksi kapitalis yang bergantung pada percepatan akumulasi mengalami kerusakan parah. Hukum akumulasi-demi-akumulasi yang di masa lalu mendorong maju kapitalisme telah berhenti berfungsi. Jalur perdagangan internasional rusak. Berlangsungnya Covid-19 hingga Perang Ukraina/AS-Rusia meningkatkan gangguan terhadap rantai pasok. Guncangan-guncangan pandemi dan perang menyebabkan dislokasi perdagangan yang tragis: kelebihan pasokan di satu tempat dan kekurangan pasokan di tempat lain serta lonjakan dan penurunan harga komoditas yang mendadak. Pada 2023, Organisasi Perdagangan Dunia memperkirakan kalau perdagangan global takkan mampu tumbuh di atas 1 persen. Prediksi macam ini mencerminkan pesimisme dan keputusasaan umum yang mencekam lembaga-lembaga imperialis.

Sejak kemerosotan keuangan 2008, manuver-manuver ahli strategi kapital tidak pernah berhasil mengeluarkan kapitalisme dari jalan buntu. Kebijakan cetak uang dan kredit murah bukan malah mendorong investasi produktif, tapi justru memekarkan investasi spekulatif di sektor-sektor non-produktif. Tanpa adanya perencanaan produksi dan jaminan terhadap produktivitas pekerja, maka penyuplaian uang berskala raksasa takkan pernah membawa pemulihan substansial melainkan memacu laju inflasi dan memperluas cengkeraman kapital-finans terhadap sektor-sektor kehidupan rakyat. Uang publik yang dipompakan ke bilik-bilik perekonomian—untuk menyelamatkan bank-bank dan perusahaan-perusahaan dari kepailitan—dalam jangka panjang mengundang bencana besar. Tahun 2022, badai inflasi menghantam dunia dan langkah Bank Sentral dalam menaikan suku bunga gagal mengatasinya. Sistem keuangan—yang terbiasa dengan suku bunga rendah—sekarang mengalami kejang-kejang karena meroketnya biaya pinjaman. Kenaikan suku bunga tidaklah menjinakkan inflasi, tetapi memperparah ketidakstabilan ekonomi. Di Amerika, Silicon Valley Bank dan Signature Bank ditutup dan segera mengirimkan gelombang kejut bagi industri-industri teknologi Washington dan Wall Street. Sekitar 30 persen perusahaan-perusahaan tech gulung tikar dan melancarkan pemecatan sepihak terhadap pekerja-pekerjanya secara brutal. Sepanjang Januari 2022-Februari 2023, perusahaan teknologi multinasional Amazon telah memecat 260.000 buruhnya di seluruh dunia. Di Indonesia, 1 juta laki-laki dan perempuan di-PHK dan ribuan di antaranya merupakan buruh-buruh OLX dan Shoope. Kenaikan suku bunga telah memperdalam serangan terhadap standar-standar hidup mereka. Tidak ada pekerjaan, gaji, ongkos pendidikan dan kesehatan untuk menyelamatkan memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarganya. Kebijakan pendongkrakan suku bungan Federal Reserve sudah meremukkan perekonomian AS dan faktor destabilisasi utama yang membawa dunia ke jurang resesi. Dalam Dokumen Perspektif Tahun 2023, International Marxist Tendency (IMT) menjelaskan begini:

“Di seluruh dunia, kenaikan dolar mendorong biaya impor serta pembayaran utang pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga yang telah mengambil pinjaman dalam mata uang dolar. Semua negara lain merasa terdorong untuk berbaris sejalan dengan Federal Reserve AS, menaikkan suku bungan ke tingkat yang ditentukan olehnya. Di seluruh Asia, pemerintah dipaksa untuk menaikkan bunga dan membelanjakan cadangan mereka untuk menahan depresiasi mata uang mereka. India, Thailand, dan Singapura telah melakukan intervensi di pasar keuangan untuk mendukung mata uang mereka…. Di Eropa, situasi menjadi lebih buruk ketika Inggris menuangkan bensin ke api dengan kebijakan fiskal yang sembrono, yang segera memicu kepanikan di pasar keuangan.”

Selama 2021-23, tren kenaikan suku bunga memperkeruh kekacauan pasar dunia dengan penerapan proteksionisme yang melesukan industri-industri padat karya di negeri-negeri eksportir. Dengan menggencarkan proteksionis maka pemerintahan-pemerintahan borjuis mengobarkan ilusi nasionalisme ekonomi yang mengarah pada pertarungan dagang dan pengurangan efisiensi global: produk-produk luar negeri yang berharga murah diperangi dan produk-produk lokal yang kurang efisien dijajakan dengan membangkitkan sentimen nasional. Tindakan ini tidak saja mengarah pada inefisiensi, tetapi juga memperparah kenaikan harga, menurunkan PDB, menyuburkan pengangguran dan kemiskinan. Kontradiksi akhirnya menajam. Hanya dalam rangka menekan krisis dan mengamankan tingkat keuntungan kapitalis; pemerintah lantas menggencarkan penghematan secara koersif. Di Prancis, usia pensiun diperpanjang dari 62 menjadi 64 tahun—guna memangkas tunjangan hari tua—dan militer dikerahkan dalam melumpuhkan setiap pemerotes. Di Inggris, larangan-larangan protes ditegakkan untuk menghadapi tuntutan-tuntunan kenaikan upah. Di Indonesia, Omnibus Law Ciptaker, RKUHP Reaksioner, dan Permenaker Pemotongan Upah disahkan demi memperdalam penghisapan kerja-upahan, menambah beban rumah tangga pekerja, dan melemahkan perjuangan massa. Namun turunnya upah dan meningkatnya jumlah penganggur memperparah amukan inflasi. Injeksi besar-besaran modal fiktif yang berbentuk kredit sama sekali tak mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Ekspansi kredit gagal memulihkan permintaan. Daripada mengeluarkan rumah tangga pekerja, perusahaan swasta, dan pemerintah dari persoalan meroketnya harga-harga; dana-dana pinjaman—yang disertai bunga-bunga beraneka—justru menjerat dalam lilitan hutang berkepanjangan. Di Amerika Serikat saja, ukuran kredit swasta sudah melampaui 200 persen PDB tahunannya. Juni 2022, total hutang global menembus angka 300 triliun dolar AS atau sekitar 349 persen dari total GDP dunia. Memperhatikan data inilah Institute of International Finance merilis prediksi yang menyeramkan: setiap orang yang dikenai pajak akan menanggung pembayaran hutang sebesar 37,5 ribu dolar AS. Artinya seluruh beban utang diletakkan secara arbitrer di pundak lapisan terbesar pembayar pajak: kelas menengah dan proletar.

Tahun 2023, Bank Dunia mengungkapkan bahwa 3 miliar penduduk dunia didorong ke lembah kemiskinan dan lebih dari 30 juta kelas menengah Indonesia jatuh miskin. Meningkatnya harga-harga dan menurunnya permintaan bukan saja memangkas konsumsi rumah tangga-rumah tangga proletar, melainkan pula menampar pemenuhan kebutuhan di keluarga-keluarga pegawai negeri, pedagang kecil, petani kecil, dan petani penyewa. Mereka bukan saja mengalami kekurangan makanan, keterkurasan tabungan, dan kerugian panen tapi juga mendera kesukaran membayar cicilan kredit dan hutang-hutangnya di lembaga perbankan, koperasi dan lintah darat. Di semua negeri, prospek yang dihadapi umat manusia hari-hari ini sangat buruk. Tangga ke atas telah terpotong dan miliaran orang meluncur ke bawah dengan kencang. Bisnis-bisnis kecil hancur berantakan dan kian harinya kondisi rakyat pekerja semakin mengenaskan. Kenaikan suku bunga, sewa, pembayaran hipotek, terutama pemotongan upah dan penutupan pabrik berarti peningkatan tajam pengangguran, kemiskinan, dan penurunan permintaan secara ekstrem. Lapisan-lapisan kelas menengah terancam bangkrut dan lebih banyak yang menjadi proletar atau semi-proletar. Hidup mereka teramat suram, kalut, dan getir. Penderitan-penderitaan membukit. Tidak ada jaminan akan masa depan yang lebih baik. Semua akses dan kesempatan yang dulunya dapat digunakan merengkuh kehidupan yang aman, tentram, dan menyenangkan telah tertutup. Dunia tenggelam dalam mimpi-mimpi buruk dan horor paling bengis. Jumlah orang-orang melarat, lapar dan menganggur bertambah besar. Sekarang umat manusia memasuki periode terganas, sensitif dan dilematis dari masyarakat kapitalis yang tengah sekarat. Dalam “The Ideas of Karl Marx”, Alan Woods memaparkan situasi tersebut:

“Jumlah pengangguran di Eropa meningkat. Angka untuk Spanyol hampir 27 persen sementara pengangguran kaum muda mencapai 55 persen … sementara di Yunani tida kurang dari 62 persen aum muda—dua dari tiga pemuda—menganggur. Seluruh generasi muda dikorbankan di altar keuntungan. Banyak yang mencari keselamatan ke pendidikan tinggi menemukan bahwa jalan ini diblokir. Di Inggris, di mana pendidikan tinggi dulu gratis, sekarang kaum muda menemukan bahwa untuk memperoleh keterampilan yang mereka butuhkan, mereka harus berutang. Di ujung lain dari skala umur, pekerja yang mendekati masa pensiun menemukan bahwa mereka harus bekerja lebih lama dan membayar lebih banyak untuk usia pensiunan yang lebih rendah yang akan membuat banyak orang jatuh miskin di usia tua. Baik tua maupun muda, prospek yang dihadapi kebanyakan orang saat ini adalah ketidakamanan seumur hidup. Semua kemunafikan borjuis lama tentang moralitas dan nilai-nilai keluarga telah disingkapkan sebagai hampa. Epidemi pengangguran, tunawisma, utang yang menghancurkan, dan ketidaksetaraan sosial yang ekstrem yang telah mengubah seluruh generasi menjadi paria telah merusak keluarga. Ini telah menciptakan mimpi buruk kemiskinan sistemik, degradasi, dan keputusasaan…. Argumen lama bahwa setiap orang dapat maju dan kita semua adaah kelas menengah telah patahkan oleh pelbagai peristiwa. Di Inggris, AS, dan banyak negera maju lainnya selama 20 atau 30 tahun terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang kelas menengah biasa berpikir bahwa kehidupan berkembang dalam urutan tahapan yang teratur di mana masing-masing merupakan langkah maju dari yang terakhir. Itu tidak terjadi lagi. Keamanan pekerjaan tidak ada lagi, perdagangan dan profesi di masa lalu sebagian besar telah hilang dan karir seumur hidup tinggallah kenangan. Tangga telah ditendang dan bagi sebagian orang keberadaan kelas menengah bukan lagi sebuah cita-cita…. Jika mereka memiliki keyaaan, itu ada di rumah mereka, tetapi dengan kontraksi ekonomi, harga rumah telah turun di banyak negara dan mungkin stagnan selama bertahun-tahun. Gagasan tentang demokrasi kepemilikan properti telah terungkap sebagai fatamorgana. Jauh dari menjadi aset untuk mendanai masa pensiun yang nyaman, kepemilikan rumah justru menjadi beban yang berat. Hipotek harus dibayar, apakah Anda sedang bekerja atau tidak. Banyak yang terjebak daam ekuitas negatif, dengan hutang besar yang tidak pernah bisa dibayar. Ada generasi yang tumbuh dari apa yang hanya bisa digambarkan sebagai budak hutang.”

Goncangan-goncangan peristiwa telah membangunkan massa-rakyat dari ranjang keapatisan dan apolitis. Orang-orang membuang keyakinan lamanya tentang krisis kapitalisme yang dapat diobati. Sebuah kesadaran kolektif baru mekar. Kesadaran bahwa sistem kapitalisme harus hancur menyinari jantung masyarakat dan mengirimkan gelombang teror ke atas yang segera mendatangkan reaksi ke bawah dari kelas borjuis. Meskipun sekte-sekte ultrakiri berteriak-teriak mengenai ancaman kebangkitan fasis tapi perimbangan kekuatan-kelas sudah berubah: borjuasi kehilangan banyak basis-massa reaksi borjuis-kecilnya, sementara serikat-serikat buruh masih utuh dan proletariat tumbuh lebih kuat. Sekarang cadangan reaksi makin menipis karena jatuhnya kelas menengah (borjuis-kecil)—baik menjadi proletar maupun semi-proletar atau semi-pengangguran—di tengah organisasi-organisasi buruh yang semakin menguat takkan mudah membuka jalan untuk kebangkitan fasisme. Menghadapi ketidakstabilan yang bertambah tajam dan meluas, dengan ketidakmampuan borjuis mempertahankan reforma-reforma lama dan memberikan reforma-reforma baru, dan kecenderungan dari lapisan-lapisan kelas menengah untuk mendukung proletariat—maka organisasi-organisasi fasis tidak lagi dapat berjaya seperti di masa lalu. Di negeri-negeri kapitalis maju maupun terbelakang—saat ini kelompok-kelompok fasis merupakan sekte-sekte yang kecil, tercerabut dari basis sosialnya, dan dipandang tak-berguna oleh kelas penguasa yang diguguinya. Walaupun di Eropa dan Asia mereka terlihat melancarkan teror terhadap gerakan-gerakan buruh dan muda, tetapi aksi-aksi terorismenya tidaklah mengekspresikan kekuatan dan pengaruh melainkan kelemahan dan keterisolasian dari massa. Tanpa basis massa reaksi, grup-grup fasis kehilangan signifikansinya di mata kelas penguasa. Pembubaran Front Pembela Islam (FPI) oleh pemerintahan borjuis menjadi salah satu contohnya. Pada krisis-krisis yang berlangsung sekarang, bukanlah fasisme yang digunakan untuk mempertahankan kapitalisme tapi reformisme. Kaum kapitalis menjadikan pimimpin-pemimpin reformis serikat buruh sebagai penyangga tatanannya. Kepemimpinan reformis Podemos di Spanyol, PASOK dan SYRIZA di Yunani, dan reformis-kanan Blairate maupun reformis-kiri Corbyn di Partai Buruh Inggris, hingga pimpinan reformis Lula dalam Partai Buruh Brazil—semuanya telah menunjukkan pelayanan terhadap kepentingan-kepentingan borjuis. Dalam “The Ideas of Karl Marx”, Alan Woods menulis:

“Tanpa para pemimpin reformis, kapitalisme tidak dapat bertahan bahkan selama seminggu. Oleh karena itu, pembicaraan tentang bahaya fasisme dan Bonapartisme tidak masuk akal saat ini. Kelas penguasa di seluruh Eropa harus mendasarkan dirinya pada para pemimpin organisasi massa buruh pada tahap ini. Setiap upaya untuk bergerak ke arah fasisme atau Bonapartisme pada titik ini hanya akan memprovokasi gerakan buruh untuk bertindak. Tentu saja, ini bisa berubah. Krisis saat ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Pada titik tertentu, kelas penguasa akan berkata: terlalu banyak pemogokan, terlalu banyak demonstrasi, terlalu banyak kekacauan. Kita perlu memulihkan ketertiban! Lalu mungkin ada gerakan menuju reaksi. Tetapi bahkan dalam kasus seperti itu, kelas penguasa harus melakukan dengan hati-hati, pertama-tama menguji tanah dengan bergerak ke arah Bonapartisme parlementer…. Kelas penguasa tidak dalam posisi untuk melancarkan serangan habis-habisan terhadap gerakan buruh. Sebaliknya, pendulum akan berayun ke kiri. Kelas pekerja akan memiliki banyak kesempatan untuk merebut kekuasaan sebelum kelas penguasa dapat berbalik untuk bereaksi. Tentu saja, gerakan kelas buruh tidak pernah dalam garikan lurus. [Kepemimpinan] punya waktu, tetapi bukan waktu yang tidak-terbatas. Borjuasi tidak dapat menggunakan kekuatan terbuka pada tahapan ini. Tapi itu bisa berubah. Kekalahan tidak bisa dihindari.”

Di masa lalu: borjuasi dapat membeli perdamaian sosial dengan reformasi dan menegakkan ketertiban dengan mendirikan pemerintahan fasis. Hari-hari ini: setiap manuver politik mendapat sorotan tajam dan pelbagai tindakan reaksi memicu perlawanan proletariat. Dalam periode sekarang basis sosial-ekonomi untuk mendirikan pemerintahan fasis sangatlah lemah—bukan saja karena lapisan-lapisan kelas menengah cenderungan mendukung pembalikan revolusioner proletariat tetapi juga dengan tingkat hutang yang menjulang dan tanpa adanya boom ekonomi seperti di masa lalu, maka upaya borjuasi untuk mendirikan rezim fasistik dengan pembiayaan militer yang sangat mahal dan kecenderungan kronisme akan menguras sebanyak mungkin anggaran serta memperdalam serangan-serangan terhadap standar hidup rakyat pekerja. Kini kelas borjuis di seabrek negeri hanyalah mampu menunjukkan kecenderungan untuk bergerak ke arah Bonapartisme parlementer. Dengan meninggikan dirinya di atas bangsa, parlemen-parlemen borjuis menggencarkan reformasi konstitusi dan beragam peraturan untuk memperpanjang nafas kapitalisme melalui peningkatan eksploitasi dan penindasan terhadap massa-rakyat. Tetapi saat reformasi dari atas membuka kran revolusi dari bawah, para pemimpin reformis justru mengkhianati perjuangan massa dengan melaksanakan kompromi-kompromi busuk bersama kapitalis. Kepemimpinan reformis menjadi bandul penghambat kebangkitan dan kemenangan gerakan revolusioner. Di Indonesia, kehipokritan reformisme terpampang tengik. Sepanjang 2009-2011, hingga berpuncak pada Oktober 2012, konfederasi-konfederasi dan serikat-serikat buruh bergerak secara massal dan mampu memobilisasi ribuan sampai jutaan massa untuk melawan kelas penguasa. Bangkitnya massa buruh dan muda dalam skala raksasa menggetarkan pemerintahan borjuasi. Gerakan proletar memperlihatkan kekuatannya untuk merebut kekuasaan. Pecahnya gelombang aksi dan pemogokan umum menggoncang kesadaran massa. Lapisan terluas proletariat berbondong-bondong bergabung menjadi anggota serikat buruh yang ada atau mendirikan serikat-serikat baru. Namun pemimpin-pemimpin reformis serikat buruh membelenggu kekuatan massa. Pada 2013-2015, keinginan buruh-buruh akar rumput untuk mendirikan partai massa diabaikan begitu saja. Tuntutan pembentukan Partai Buruh mengalir dari situasi obyektif. Kelas pekerja membutuhkan sebuah partai massa untuk menjadi kendaraannya dalam perjuangan politik. Di seluruh dunia, kelas proletar telah membangun serikat-serikat buruh sebagai bentuk aksi kolektif untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan ekonominya di tempat kerja. Proletariat berserikat dan mendirikan pelbagai organisasi untuk menekan bos-bosnya dalam menaikan upah, mengurangi jam kerja, dan mengupayakan perbaikan-perbaikan kondisi kerjanya. Di luar pabrik, kelas proletar juga membangun partainya untuk melawan kapitalis di arena politik. Dalam momen kebangkitan gerakan, organisasi-organisasi buruh mengarungi ledakan-ledakan peristiwa kolosal dan menarik kesimpulan bahwa mereka membutuhkan partai politik.

Di tengah situasi itulah aktivis-aktivis buruh mematutkan kecenderungan untuk bersatu dalam mendirikan partai massa buruh dan mengekspresikan aksi politik-independen proletar. Ketika kaum buruh dan muda bergerak untuk mengubah masyarakat mereka tidak melakukannya melalui organisasi-organisasi kecil, tak peduli seberapa revolusioner dan tepat ide-ide organisasi tersebut. Saat lapisan terluas proletariat mulai menyeburkan diri dalam perjuangan kelas, mereka cenderung bergerak menggunakan organisasi massa tradisional. Massa tidak memahami organisasi kecil, karena mereka lebih mudah melihat organisasi-organisasi besar. Berdasarkan pengalaman-pengalaman perjuangan kelas buruh sedunia diperolehlah kesimpulan bahwa perkembangan partai buruh massa hanya dapat berlangsung di tengah situasi krisis yang meledak-ledak dengan perubahan situasi yang tajam dan mendadak. Lapisan terluas proletariat mengembangkan kesadaran kelasnya bukan melalui onggokan buku dan forum-forum diskusi, melainkan pengalaman-pengalaman langsung dalam perjuangan hidup sehari-hari. Bukannya mereka anti-pengetahuan tetapi ketidaktersediaan waktu luang membuatnya sangat terbatas untuk merealisasikan potensi intelektualnya. Dengan menyeburkan diri ke arena perjuangan kelas mereka belajar memahami dunia dan berusaha menarik kesimpulan-kesimpulan melalui abstraksi atas jalannya peristiwa. Keberhasilannya menarik kesimpulan yang tepat meningkatkan pemahamannya dan membuatnya mencapai kesadaran kelas. Memasuki fase perjuangan yang lebih tinggi mereka akan mengarah pada pembentukan partai politik. Pendirian partai massa buruh merupakan bentuk perkembangan kualitatif dari kesadaran kelas. Dalam kondisi inilah mereka tidaklah sekadar melihat bahwa kepentingannya berbeda dengan kepentingan kaum kapitalis, tapi juga berkeinginan menggulingkan pemerintahan borjuis. Setelah membentuk partainya gerakan buruh akan memadukan perjuangan di tempat kerja dengan pertempuran di front elektoral. Berdirinya partai buruh berarti mereka tidak sebatas memperjuangkan tuntutan-tuntutan ekonominya, melainkan pula mendorong kelasnya untuk berkuasa.

Demikianlah proletariat berjuang sebagai suatu kelas dengan membawa kepentingan politiknya. Tetapi pembentukan partai macam ini mencakup faktor-faktor obyektif dan keputusan-keputusan subyektif para pemimpinnya yang berhubungan dengan asas, program, kebijakan dan slogan-slogan politik tertentu. Pada Oktober 2012, Getok Monas bukan saja menjadi monumen kebangkitan gerakan buruh tapi juga babak baru dari gelombang revolusioner yang naik-turun secara tiba-tiba. Namun pengkhianatan reformisme yang berujung kegagalan penolakan PP No. 78 Tahun 2015 menandai titik balik ‘kemunduran gerakan buruh’. Kekalahan ini memberikan pukulan telak yang memerosotkan kepercayaan lapisan-lapisan buruh dan muda terhadap kepemimpinan serikat-serikat pekerja. Massa yang keluar meninggalkan rutinitas lamanya dan menjadi radikal dihalang-halangi dengan kompromi dan kapitulasi reformisme. Selama permulaan pergerakan massa, radikalisasi yang meluas memaksa pemimpin-pemimpin reformis untuk bergerak ke kiri. Namun ketika massa bergerak semakin ke kiri dan berusaha melampui batas-batas reformasi, kepemimpinan reformis seketika menjadi rem bagi perjuangan massa. Mereka lebih takut menyaksikan daya-tempur massa ketimbang kejahatan-kejahatan kelas penguasa. Segera setelah ledakan peristiwa menggoncang kesadaran rakyat pekerja untuk menyatakan keinginan merebut kekuasaan, maka kepemimpinan reformis melakukan pembalikan reaksinoner untuk melindungi borjuasi dan mencondongkan pendulum politik ke kanan. Seusai proses radikalisasi massa yang menyebar secepat kilat akhirnya keragu-raguan dan kemunafikan pimpinan-pimpinan reformis membalikan perimbangan kekuatan kelas yang ada. Massa yang tidak menemukan kepemimpinan yang memadai untuk menyalurkan energi revolusionernya mendera penurunan stamina dan demoralisasi. Saat radikalisasi terhenti maka massa meninggalkan serikat-serikatnya dan birokrasi-birokrasi reformis semakin mengokohkan kepemimpinannya. Sementara di lapisan kelas menengah, penghianatan dan kekalahan ini menghadirikan efek demoralisasi yang luar biasa. Suasana murung mengepung lapisan-lapisan intelektual dan akademisi secara ganas. Ketika gerakan buruh mengalami kebangkitan, barisan orang-orang terpelajar ini ikut merasakan antusiasme revolusioner dan membersamai aksi-aksi proletariat. Tetapi saat gerakan buruh menemui kemunduran, gerombolan pembelajar jatuh pada pesimisme reaksioner dan menyangkal ide-ide revolusioner. Mereka merupakan barometer yang cukup akurat mengenai ketidakstabilan mood borjuis-kecil, yang terombang-ambing di antara kedua kutub masyarakat kapitalis: borjuis dan proletar.

Di seabrek perguruan tinggi, para pemikir yang sebelumnya tertarik pada ide-ide revolusioner berubah menjadi pengkhotbah gagasan-gagasan reaksioner. Dalam masa-masa kemunduran kapitalisme dan gerakan buruh, mereka menetapkan solusi individual untuk menjawab kompleksitas pertanyaan perjuangan kelas dan menciptakan aneka ide mewah yang menghidangkan penjelasan abstrak mengenai kekalahan proletar: subyektivisme, relativisme, skeptisisme, agnonisme, dan beragam kecenderungan idealisme filosofis lainnya. Postmodernisme merupakan tampilan mutakhir dari kemerostan filsafat borjuis di zaman krisis kapitalisme. Ajaran ini memberi bahasa kekuatan magis dengan mereduksi filsafat menjadi persoalan semantik, menolak kemajuan historis dengan radikalisme terminologis, dan menyangkal realitas dengan penalaran idealisme yang paling kasar. Mereka anti terhadap sains, meta-narasi, dan kebenaran obyektif. Sebagai konsekuensinya, kaum postmodernis menyangkal keabsahan Sosialisme Ilmiah. Dari kalangan akademisi, serangan terhadap Marxisme dilancarkan dengan menggencarkan revisionisme. Mereka membuat sederet karya akademik dan populer yang berisi kutipan teori-teori Marxis, tetapi hanya untuk mengkritik masyarakat kapitalis secara setengah-hati dan tidak-pernah memaparkan bagaimana caranya menggulingkan kapitalisme secara revolusioner. Bahkan yang paling menjijikan, adalah ketika mereka menjelaskan Marxisme sebagai ajaran yang sudah tak-relevan dan upaya pembangunan masyarakat tanpa kelas sangatlah tak-memungkinkan. Sementara di sektor mahasiswa, tendensi-tendensi revisionis menampilkan dirinya dalam seabrek gerakan sosial yang menggunakan Marxisme sebatas menjadi pisau analisa untuk investigasi dan advokasi tanpa menekankan pembangunan kepemimpinan revolusioner dan kediktatoran proletariat. Mereka tampil memperjuangkan program-program minimumnya secara heroik, terjun ke daerah-daerah konflik, mengawal persoalan-persoalan kaum miskin kota dan desa, tidur dan beraktivitas bersama petani. Mereka berusaha membangun kekuatan dan kemandirian rakyat dengan pemberian pendidikan, pelatihan, dan pendirian unit-unit usaha yang begitu rupa. Tetapi tidak ada satupun di antara mereka yang berusaha meyakinkan orang-orang ke arah politik revolusioner.

Walaupun para pemikir dan aktivis gerakan sosial itu memiliki akses ke dalam serikat-serikat buruh, namun mereka berkeyakinan belum saatnya untuk memperkenalkan para pekerja dengan ide-ide sosialisme yang tinggi. Seperti memandang kaum tani dan rakyat miskin kota, mereka berpikir kalau buruh lebih tertarik pada persoalan pemenuhan kebutuhan sehari-hari ketimbang teori. Orang-orang ini tidak mengerti kalau perjuangan kelas bukan sekadar perjuangan politik dan ekonomi tapi juga teori. Kelas pekerja tidaklah berada di ruang hampa, melainkan dikelilingi oleh kelas-kelas sosial lain dengan ide-ide kelas-asingnya. Di tengah gempuran inilah perjuangan filosofis menjadi perlu untuk membentengi proletariat dari musuh-musuh kelasnya. Namun pada umumnya kaum intelektual dan populis tidak meyakini rakyat pekerja dapat memahami Marxisme. Mereka bukan saja tidak mengerti bahwa di dalam heterogenitas kesadaran massa terdapat lapisan terbelakang dan termaju, tetapi juga menyangkal kalau kesadaran yang konservatif dalam momen-momen tertentu dapat berubah menjadi radikal dan revolusioner. Demikianlah perjuangan untuk revolusi dan sosialisme akhirnya ditunda demi pendekatan-pendekatan sederhana dan murni ekonomi. Pendekatan ini dielu-elukan sebagai upaya membumikan teori-teori yang melangit dan merupakan tindakan mutakhir untuk merelevansikan Marxisme. Di antara pemimpin partai buruh dan organisasi-organisasi mahasiswa, pemikiran Ernest Laclau dan Chantal Mouffe menjadi salah satu teori postmodernis yang ditasbihkan dengan istilah ‘Narasi Kiri’. Gagasan itu menekankan bahwa negara sebagai medan yang ‘netral’ dan menganjurkan perjuangan kelas buruh untuk tidak-menghancurkan ‘negara borjuis’ tapi sebatas menanam ‘hegemoni’ di struktur kenegaraan melalui pintu-pintu yang disediakan oleh ‘demokrasi borjuis’. Semua yang dipuja sebagai pembaharuan tersebut dalam praksisnya menunjukkan penyangkalan besar terhadap filsafat materialisme dan metode dialektika Marxisme, terutama yang berkaitan dengan penjelasan umum tentang proses perkembangan sejarah dan kesadaran manusia yang memberi tempat untuk revolusi dan lompatan-lompatan kualitatif. Pada Jurnal Dialektika I (Melawan Postmodernisme), Front Muda Revolusioner (FMR) menulis:

“Perjuangan kelas revolusioner tidak dapat direduksi menjadi perjuangan untuk roti dan mentega semata. Di antara banyak sekte yang mengklaim sebagai Marxis yang tak terhitung jumlahnya dan kerap berselisih satu sama lain, sering kali kita temui kebencian terhadap teori yang terselubung dan penyembahan pada apa yang mereka sebut ‘isu-isu praktis’…. Buruh yang paling maju dan militan mencari asupan gizi yang lebih memuaskan. Mereka ingin memperoleh pemahaman yang mendalam tentang dunia mereka. Mereka haus akan pengetahuan dan ide, dan tidak takut mendalami teori. Adalah tugas kaum Marxis untuk membantu mereka mendapatkan ide-ide itu…. Perjuangan untuk teori adalah prasyarat mendasar untuk mempersiapkan buruh untuk perjuangan perebutan kekuasaan. Siapapun yang tidak memahami ini tidak memiliki pemahaman tentang apa itu Marxisme. Di samping perjuangan ekonomi dan politik, seperti yang dijelaskan Engels, kelas buruh juga harus berjuang melawan ide-ide dominan dalam masyarakat borjuis…. Materialisme dialektis tetap menjadi salah satu senjata terpenting dalam gudang persenjataan revolusioner kita. Dan karena materialisme dialektis adalah dasar dan fondasi Marxisme, maka cukup logis bahwa dari semua teori Marx, tidak ada teori lain yang diserang, diselewengkan, dan difitnah sedemikian rupa. Di masa sekarang, senjata paling dominan yang digunakan kaum borjuasi untuk melawan Marxisme adalah postmodernisme, yang merupakan bentuk paling kasar dari idealisme subyektif. Kehormatan untuk melawan arus, untuk memerangi ide-ide mistis dan irasional ini, jatuh ke pundak kaum pelopor revolusioner kelas buruh.”

Dunia lama mengalami kehancuran dan tidak dapat diperbaiki secara signifikan. Laki-laki dan perempuan terombang-ambing di tengah kondisi sejarah yang dipenuhi ketidakpastian dan pertentangan mengerikan. Sistem sosial yang mengalami kemunduran akut ini memanifestasikan dirinya dalam kanker pemikiran yang luar biasa ganas di kalangan intelektual borjuis-kecil. Suasana kegelisahan dan pesimisme ekstrem telah menyebar di antara mereka secara liar. Orang-orang yang pernah menaruh keyakinan terhadap gerakan buruh kini menjadi pemikir-pemikir reaksioner. Sekarang fakultas-fakultas pikiran, perasaan, dan kehendak mereka diselimuti mimpi-mimpi buruk tergelap di periode krisis kapitalisme yang berlarut-larut. Daya nalar mereka tak mampu lagi melihat percikan harapan-harapan terdalam umat manusia akan sebuah kemajuan historis di masa depan. Jalannya persitiwa gagal mereka pahami sebagai momen-momen transisi menuju dunia baru. Krisis kapitalisme menyeret dunia lama dalam situasi perang, revolusi dan kontra-revolusi, namun pengkhianatan reformisme dan kekalahan di masa lalu masih terpatri dan membelenggu gerakan buruh untuk memperjuangkan kelahiran dunia baru. Di Indonesia, tanpa pendekatan macam ini maka kita takkan pernah bisa meninjau tahap perkembangan historis yang sedang kita lalui sekarang. Dalam situasi inilah orientasi politik yang tepat sangat dibutuhkan. Tanpa perspektif yang jelas maka krisis kapitalisme tidaklah dilihat dengan optimisme akan transformasi sosialis, melainkan pesimisme yang cenderung memandang proletariat sebagai kelas yang terlalu lemah untuk menempuh perjuangan revolusioner dan membangun masyarakat sosialis-komunis. Rumusan dan skema abstrak mengenai tahap-tahap perkembangan historis tidak dapat digunakan untuk memahami realitas yang kongkret. Dalam “The ‘Third Period’ of the Comintern’s Errors”, Leon Trotsky menjelaskan mengenai tanggung jawab kepemimpinan pada periode kebangkitan dan kemunduran gerakan proletar:

“Suasana politik proletariat tidak otomatis berubah ke arah yang sama. Kemajuan dalam perjuangan kelas akan diikuti oleh kemerosotan, gelombang pasang-surut, bergantung pada kombinasi rumit dari kondisi material dan ideologi, nasional dan internasional. Kebangkitan massa, jika tidak dimanfaatkan pada saat yang tepat atau disalahgunakan, akan berbalik arah dan berakhir pada periode penurunan, dimana massa pulih, cepat atau lambat, di bawah pengaruh rangsangan obyektif yang baru. Zaman kita ditandai oleh fluktuasi periodik yang luar biasa tajam, perubahan situasi yang luar biasa mendadak, dan hal ini memberikan tanggung jawab yang tidak biasa pada kepemimpinan dalam hal orientasi yang benar. Aktivitas massa, jika dipahami dengan benar, mengekspresikan dirinya dalam cara yang berbeda-beda, bergantung pada kondisi yang berbeda. Pada periode-periode tertentu, massa mungkin terlalu asyik dengan perjuangan ekonomi dan tidak begitu tertarik pada persoalan-persoalan politik. Atau, karena mengalami kekalahan dalam perjuangan ekonomi, massa tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada perjuangan politik. Kemudian—tergantung pada keadaan konkrit dan pengalaman di masa lalu—aktivitas politik mereka mungkin mengarah pada perjuangan yang murni parlementer atau ekstra-parlementer. Kami hanya memberikan sedikit varian, namun varian-varian tersebut mencirikan kontradiksi-kontradiksi perkembangan revolusioner kelas pekerja. Mereka yang mampu membaca fakta dan memahami maknanya akan dengan mudah mengakui bahwa varian-varian ini bukanlah semacam konstruksi teoretis, melainkan sebuah ekspresi dari pengalaman internasional yang hidup pada dekade terakhir…. Seni kepemimpinan revolusioner pada dasarnya adalah seni orientasi politik yang benar. Dalam kondisi apapun, komunisme mempersiapkan garda depan politik dan melaluinya kelas pekerja secara keseluruhan dapat merebut kekuasaan secara revolusioner. Namun hal ini dilakukan secara berbeda di berbagai bidang gerakan buruh dan dalam periode yang berbeda.”

(Berlanjut)

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai