Kategori
Perjuangan

Revolusi Oktober: Lenin, Perempuan dan Bolshevik (Bagian 3)

Krisis, Narodnik, dan Radikalisasi Perempuan

“Jika Rusia terisolasi dari dunia ini, maka Rusia harus mengembangkan sendiri pencapaian ekonomi yang diperoleh Eropa Barat melalui serangkaian evolusi panjang dari komunitas primitifnya hingga situasi saat ini. Tidak ada keraguan apapun, setidaknya dalam pikiran saya, bahwa komunitas-komunitas Rusia ditakdirkan untuk musnah seiring dengan perkembangan masyarakat Rusia. Namun, situasi komune Rusia sangat berbeda dengan komunitas primitif di Barat. Rusia adalah satu-satunya negara Eropa di mana kepemilikan komunal dapat dipertahankan dalam skala nasional yang luas. Namun pada saat yang sama, Rusia berada dalam konteks sejarah modern: Rusia hidup sezaman dengan budaya yang lebih tinggi, dan terhubung dengan pasar dunia yang didominasi oleh produksi kapitalis…. Apa yang mengancam kehidupan komune Rusia bukanlah keniscayaan sejarah maupun teori; ini adalah penindasan dan eksploitasi negara yang dilakukan oleh para pengacau kapitalis yang telah dibuat berkuasa oleh negara dengan mengorbankan kaum tani.” (Karl Marx, Draft Kedua dalam Korespondensi Marx-Zasulich)

Selama Perang Krimea, semua peristiwa dipercepat dan kebangkrutan rezim nampak kasat mata. Kaum tani diseret ke dalam peperangan dan dikorbankan sia-sia. Keluarga-keluarganya dibiarkan menderita dalam kemiskinan dan kelaparan luar biasa. Perempuan dan anak-anaknya menjadi elemen yang paling menderita. Ibu-ibu dan gadis-gadis tani memikul beban bukan saja untuk mengurus keperluan rumah-tangga, tetapi lebih jauh bekerja menggantikan posisi yang telah ditinggalkan suami, ayah, atau saudara laki-lakinya. Di pucuk kekuasaan–korupsi, pemborosan, dan kejahatan-kejahatan tsarisme dipertontonkan begitu rupa. Dunia lama membusuk dengan cepat dan rezim autokratik-liberal rusak sampai ke sum-sum. Rakyat pekerja diperhadapkan dengan aristokrat-aristokrat pandir dan tukang maling. Gubuk-gubuk penganggur, orang miskin dan kelaparan berseliweran di sekitar kemewahan istana yang dibangun dari eksploitasi dan penindasan.

Krisis tatanan feodal meradang. Pembusukan yang dimulai dari atas mengalir ke bawah dengan beragam kekotoran, kemelaratan, dan kekacauan yang tiada terselesaikan. Program reformasi tidak menyelesaikan persoalan tapi mempertajam kontradiksi. Jalannya reformasi tak sesuai kehendak birokrasi. Reformasi bukan malah menenangkan massa yang semakin teradikalisasi oleh perang, melainkan menyiramkan bensin ke jerami yang sedang terbakar. Petani-petani miskin, bertanah kecil maupun tak-bertanah sama sekali, yang dibebani dengan pajak dan hutang melanjutkan pemberontakan-pemberontakan lokal. Dengan bobot sosial yang lemah, petani hanya mampu memercikan insureksi dan tak-sanggup mengobarkannya menjadi revolusi. Kaum tani bukanlah sebuah kelas yang independen; cepat atau lambat, tanpa kepemimpinan revolusioner maka petani-petani termiskin sekalipun akan menyeberang ke sisi reaksi.

Meskipun kaum tani dapat membentuk sebuah organisasi politik, tetapi posisi sosial-ekonomi yang terpencar-pencar, kurangnya kohesi dan kesadaran kelas revolusioner membawanya menuju jurang kekalahan dan demoralisasi. Tanpa dipandu oleh partai dengan teori yang paling maju, maka massa tani takkan mampu memenangkan revolusi. Sampai 1861, ratusan pemberontakan tani tak sanggup menggulingkan absolutisme. Bentrokan-bentrokan lokal yang tidak cukup sadar dan terorganisir mengencangkan represi. Setelah berbulan-bulan reforma agraria menyulut kekacauan yang bahkan menerobos dinding-dinding kampus; pada 1862, sektor pendidikan ikut direformasi–reformasi pendidikan meningkatkan kemampuan baca-tulis dengan memberi porsi yang besar untuk pelajaran tata-bahasa, tetapi sekaligus mengurangi pengajaran ilmu alam atas dugaan subversif. Di sekolah-sekolah, proses pembelajaran berada di bawah pengawasan polisi. Sekarang para peserta dididik dikontrol dan diawasi bukan saja oleh birokrasi akademik, melainkan pula badan orang-orang bersenjata.

Kelas penguasa begitu takut kalau gelombang radikalisasi bertambah luas dan menarik lapisan-lapisan baru ke medan perjuangan politik. Tsar Alexander II meluncurkan kebrutalan berskala kolosal. Pada 1863, pemberontakan rakyat Polandia diberangus: 1.468 pemberontak dieksekusi dan 9.432 laki-laki dan perempuan dideportasi secara keji. Hanya meningkatnya reaksi menarik sejumlah lapisan segar ke dalam pertempuran baru. Gugurnya ribuan pemberontak tua dan disasarnya sekolah-sekolah oleh kebijakan reaksioner, mendorong teradikalisasinya angkatan muda terpelajar. Menghadapi kebangkrutan tsarisme yang cepat dan perkembangan kapitalisme yang lambat, maka borjuasi-kecil–sebagai kelas antara–bukan saja tercerabut dari institusi dan kepercayaan lamanya tapi juga tak memiliki akses dan gambaran dalam menjadi borjuis-besar. Terbangunnya borjuis-kecil untuk melawan absolutisme menyingkapkan kelemahan dari borjuasi yang terikat seribu benang terhadap modal asing dan sisa-sisa feodal. Dengan taraf kebudayaan yang lebih tinggi dan menajamnya kontradiksi di jantung sosialnya, pemuda mahasiswa dan intelektual radikal tampil sebagai barometer sosial yang paling sensitif di tengah masyarakatnya yang sedang sekarat.

Pada 1860-an, basis gerakan populis terbentuk. Di bilik-bilik pendidikan liberal, periode sejarah yang menajam menciptakan mahasiswa dan intelektual dengan karakter radikal. Tsar melihat radikalisme yang berkembang dengan penuh ketakutan. Tahun 1861, penangkapan dan pengasingan merupakan metode pembungkaman yang digencarkan. Para propagandis menjadi target. Chernyshevsky, Dimitri Pisarev, dan Alexander Herzen merupakan penulis-penulis terkemuka yang ditahan dan dibuang atas alasan subversif. Meskipun terbungkam namun pemikiran mereka tersebar dan melintasi batas-batas generasi. Tulisan Chernyshevsky dalam “Apa yang Harus Dilakukan?” menjadi ide yang paling bersinar dan mengilhami. Novel ini mengajarkan kesetaraan laki-laki dan perempuan, menyerang keluarga-keluarga patriarki dan manganjurkan cara hidup komunalisme di antara petani. Meskipun utopis tapi inilah awal dari pengembangan ide-ide sosialisme di Rusia. Di sisinya, semboyan Herzen bergema di antara generasi baru: ‘V Narod! (Menuju Rakyat)’. Di hadapan kaum muda, kata-kata ini ditunjukkan untuk menemui rakyat–mengorganisir massa-tani: ‘datanglah ke rakyat! Ini adalah tempat kita. Tunjukkan bahwa di antara Anda tidak akan muncul birokrat baru, tetapi tentara rakyat Rusia’.

Di tengah warisan tradisi-tradisi pemberontakan tani dan hantaman-hantaman reaksi, sebuah angkatan baru tumbuh di atas kontur yang terbentuk dari peristiwa masa lalu dan kondisi masyarakat sebelumnya. Mahasiswa dan jebolan-jebolan universitas membangun lingkaran-lingkaran radikal yang menginginkan perubahan secara mendasar: ‘revolusi rakyat’ atau ‘revolusi tani’. Mereka memproklamirkan ajarannya sebagai Narodnisme dengan menetapkan kehadiran kapitalisme sebagai langkah mundur, meyakini kaum tani sebagai kekuatan revolusioner, mengakui kepahlawan minoritas intelektual untuk memimpin gerakan tani, dan memandang komune-komune desa (obshchina)–kepemilikan bersama petani kuno–sebagai fondasi pembangunan sosialisme. Narodnisme merupakan reaksi politik radikal borjuis-kecil terhadap kebangkrutan tsarisme dan kelambatan perkembangan kapitalisme di Rusia. Dalam memandang masyarakatnya, Kepemimpinan Narodnik merumuskan ‘Teori Jalan Terpisah’: massa tani adalah kelas revolusioner yang secara independen dapat memperjuangkan transformasi mendasar dengan melompat dari feodalisme ke sosialisme tanpa menginjak kapitalisme.

Dalam menentang tsarisme, Kropotkin dan Bakunin menjadi titik acuan mereka. Keduanya menganjurkan kerja-kerja perlawanan di desa untuk menghancurkan tsarisme dan menegaskan tanggung jawab pembangunan masyarakat sosialis di pundak borjuis-kecil. ‘Propaganda dengan Perbuatan’ atau ‘Aksi Langsung’–yang menekankan pada spontanitas–dengan meledakkan tembakan pistol dan melemparkan dinamit–merupakan metode mereka. Lewat cara ini kemungkinan melawan pemerintah didemonstrasikan begitu rupa. Melalui tindakan ekstrem yang bermotif membangkitkan kemarahan dan keberanian massa, Narodnik berusaha mengorganisir petani-petani untuk bertempur. Meskipun individu-individu revolusioner-populis memuja spontanisme, tetapi pada perkembangannya, perjuangan kelas yang bertambah intens mengharuskan peran yang menentukan dimainkan melalui organisasi. Di titik inilah, sadar atau tidak-sadar, pemberontakan-pemberontakan spontan pada akhirnya mengarah pada pembentukan sebuah kecenderungan politik yang terorganisir. Dalam “Kelas, Kepemimpinan, dan Partai’, Trotsky menulis:

“Sejarah adalah proses perjuangan kelas. Namun kelas tidak membawa beban penuh untuk ditanggung secara otomatis dan bersamaan. Dalam proses perjuangan, kelas-kelas menciptakan berbagai organ yang memainkan peranan penting dan mandiri dan dapat mengalami deformasi … Kepemimpinan politik pada saat-saat krusial dalam perubahan sejarah dapat menjadi sebuah faktor yang sama menentukannya seperti halnya peran komando utama pada masa-masa kritis dalam momen peperangan. Sejarah bukanlah proses otomatis. Jika tidak, mengapa harus menjadi pemimpin? Mengapa partai? Mengapa program? Mengapa perjuangan teoritis?”

Dalam periode sejarah yang berubah, dengan kecenderungan perkembangan kapitalisme di negeri-negeri maju yang menembus batas-batas sempit negara-bangsa dan membentuk pasar dunia, Rusia terbelakang berdiri sebagai negeri yang rapuh, dengan krisis mendalam yang memaksa rezim untuk menggencarkan kebijakan perang asing dan mempertajam spiral ke bawah yang mengonggokan penderitaan massa dan memicu pemberontakan melawan kelas penguasa. Pada 1860-an dan 1870-an, slogan kaum Narodnik adalah ‘Turun ke Bawah’ untuk mengorganisir tani. Tujuan pengorganisirannya ialah untuk penggulingan tsar dan kulak. Inilah yang mereka tasbihkan sebagai gerakan untuk ‘Revolusi Tani’ atau ‘Revolusi Rakyat’. Dalam sebuah artikel tentang “Anarkisme”, Bakunin menulis: ‘kita semua sekarang harus melancarkan badai revolusi, dan mulai saat ini kita harus menyebarkan prinsip-prinsip kita, bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan, karena ini adalah bentuk propaganda yang paling populer, paling ampuh, dan paling tidak terpatahkan’. Di sisinya, Kropotkin memberikan persetujuan terhadap ide-ide Anarkis dari Bakunin. Bahwa militan Narodnik dikatakannya dapat membuat ‘lebih banyak propaganda dengan metode aksi ini (serangan dinamit atau senjata api) daripada yang dapat dilakukan oleh semua suara kita’.

Sedangkan di tengah gerakan sosial sendiri, Sergei Nechayev selanjutnya membela pemikiran itu secara pongah. Dijelaskannya kalau ‘perkumpulan revolusioner tidak takut pada bayonet dan tentara pemerintah karena mereka tidak harus berbenturan, dalam perjuangannya, dengan kekuatan buta dan tidak peka ini, yang diperintahkan untuk menyerang mereka. Kekuatan ini hanya mengerikan bagi musuh yang terlihat. Melawan organisasi rahasia–itu sama sekali tidak berguna’. Kesimpulan tersebut begitu abstrak karena menyangkal realitas. Pandangannya berlandaskan idealisme yang sempit. Ini sejalan dengan pemaparan eks-Anarkis: Victor Serge. Setelah pecah dari sekte Anarkisme “Bonnot” dan bergabung dengan Bolshevik, Serge memberikan tinjauan kritis terhadap pengalaman masa lalunya bersama para militan Anarkis. Dalam “Memoar Seorang Revolusioner”, Victor Serge menulis:

“Apa yang saya temui adalah ‘idealisme yang berlebihan, di dalam diri orang-orang sederhana yang energinya tidak dapat menemukan jalan keluar untuk mencapai martabat atau kepekaan yang lebih tinggi, karena jalan keluar seperti itu secara fisik tidak dapat mereka peroleh. Sadar akan rasa frustrasinya, mereka bertempur seperti orang gila dan dikalahkan. Pada masa itu, dunia merupakan sebuah struktur yang terintegrasi, begitu stabil sehingga tidak ada kemungkinan terjadinya perubahan besar di dalamnya. Saat ia bergerak maju dan maju, dan terus maju, banyak orang yang berada di jalurnya terus-menerus dihancurkan. Kondisi buruk para pekerja hanya membaik dengan sangat lambat, dan bagi sebagian besar kaum proletar tidak ada jalan keluar. Elemen-elemen yang tidak diklasifikasikan di kalangan proletar mendapati semua jalan dilarang bagi mereka kecuali jalan-jalan yang mengarah pada kemelaratan dan degradasi. Di atas kepala massa ini, kekayaan menumpuk, kurang-ajar dan sombong. Akibat-akibat dari situasi ini tidak dapat dihindarkan lagi: kejahatan, perjuangan kelas dan jejak-jejak pemogokan berdarah, dan hiruk pikuk pertempuran ‘Satu lawan Semua’. Perjuangan ini juga membuktikan kegagalan dari ideologi [Anarkisme].”

Dalam kumpulan tulisannya, Lenin menerangkan kalau pendirian borjuis-kecil itu ‘mengabaikan hubungan antara “intelijen” dan institusi hukum dan politik negara, di satu sisi, dan kepentingan material kelas sosial tertentu, di sisi lain’. Penyangkalan terhadap hubungan inilah yang menampilkan Narodnik (maupun Anarkis) sebagai gerakan dengan keyakinan naif dan angkuh. Mereka mendambakan perubahan mendasar, namun menyangkal hukum perkembangan sejarah; mereka menghadapi badan orang-orang bersenjata, namun meremehkannya ancaman-ancaman negara; mereka tahu sedang melawan kekuatan yang sadar dan terorganisir dalam melindungi kepentingan kelas penguasa, namun tingkat kesadaran dan pengorganisiran mereka tidak ditingkatkan untuk bertempur dan melayani massa. Demikianlah Narodnisme tidak menunjukkan kohesi antara kata dan perbuatannya, teori dan prakteknya. Dalam “Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi: Jilid I”, Alan Woods menulis kritikan menggugah:

“Upaya para teoretikus Narodnik untuk menetapkan ‘jalur sejarah khusus’ bagi Rusia, yang berbeda dengan Eropa Barat, mau-tidak-mau membawa mereka ke jalan idealisme filosofis dan pandangan mistis mengenai kaum tani. Kebingungan teoritis Bakunin–sebuah cerminan dari hubungan kelas yang sangat terbelakang dan belum berkembang di Rusia–mendapat perhatian di kalangan Narodnik, yang mencari pembenaran ideologis atas aspirasi revolusioner mereka yang samar-samar. Dengan menghadapi kenyataan yang ada, Bakunin menggambarkan mir–unit dasar rezim Tsar di desa–sebagai musuh negara. Yang diperlukan hanyalah kaum revolusioner untuk pergi ke pedesaan dan membangkitkan kaum tani Rusia yang ‘secara naluriah revolusioner’ untuk melawan negara dan masalah ini akan terpecahkan, tanpa menggunakan [perjuangan] ‘politik’ atau bentuk organisasi partai [untuk merebut kekuasaan] tertentu. Tugasnya bukan untuk memperjuangkan tuntutan-tuntutan demokrasi (karena demokrasi juga mewakili suatu bentuk negara dan karena itu merupakan bentuk lain dari tirani) namun untuk menggulingkan negara ‘secara umum’ dan menggantinya dengan sebuah federasi sukarela yang terdiri dari komunitas-komunitas lokal, berdasarkan pada mir…. Unsur-unsur yang kontradiktif dalam teori ini dengan cepat menjadi nyata ketika pemuda Narodnik berusaha mempraktekkannya. Seruan revolusioner dari para mahasiswa ini ditanggapi dengan kecurigaan atau permusuhan langsung dari para petani, yang sering kali menyerahkan para pendatang baru tersebut kepada pihak yang berwenang.”

Gerakan Narodnik tidak konkret dan realistik. Meskipun angkatan radikal begitu berani, bersemangat dan penuh pengorbanan, tetapi mereka tak sanggup memberikan penjelasan materialis terhadap realitas. Peran individu dan organisasi politik dibatasi oleh tingkat perkembangan historis di Rusia yang terbelakang. Pada analisa terakhir, peranan kepemimpinan ditentukan oleh perkembangan dari kekuatan-kekuatan produktif. Perspektif, program, taktik dan strategi Narodnik terbukti tidaklah tepat untuk menggulingkan tatanan yang sedang sekarat dan membangun masyarakat mutakhir. Kebingungan teoritik dan keangkuhan personalitas merupakan persoalan yang menggerogoti Narodnik. Orientasi politiknya kacau dan kepemimpinannya tak-memadai. Saat ribuan laki-laki dan perempuan muda turun ke desa secara heroik–mengenakan pakaian lusu, membuat paspor palsu, mencampakkan privelese lamanya, memutuskan hubungan dengan keluarganya, membakar tangga ke atas dan jalan mundur–petani-petani sama sekali tiada bersimpati; petani justru memandang mereka secara sinis, penuh curiga, dan melaporkan ratusan pemuda radikal ke polisi-polisi tsarisme.

Pada 1869, Nechayev berusaha membangun kembali gerakan radikal Rusia dengan menggencarkan pengorganisasian kelompok rahasia. Di sekitar Nachayev, kaum radikal diarahkan untuk melancarkan praktek-praktek ilegalisme yang menekankan keharusan berpropaganda lewat perbuatan-perbuatan ekstrem. Dia adalah murid Bakunin. Ia tidak saja menyerukan kalau borjuis-kecil dan lumpen-proletariat sebagai kekuatan utama revolusi, tetapi juga meyakini bahwa pengalaman pribadi atas kekejaman negara dapat memperbesar kebencian seseorang terhadap kekuasaan. Para radikal yang paling bersemangat dan berdedikasi dituntut memberikan pengorbanan diri sepenuhnya. Dengan apologi pembelajaran, laki-laki dan perempuan radikal dilaporkan ke otoritas. Nechayev membocorkan identitas sejumlah kameradnya dan membiarkan mereka tersekap di penjara. Salah satu revolusioner-populis yang dijebloskan ke sel tahanan adalah Vera Zasulich.

Meskipun banyak militan Narodnik tertangkap tapi lautan sosial yang memanas mendorong elemen-elemen baru menggantikan posisi-posisi yang ditinggalkan. Perang-asing dan reformasi dari atas membuka kran revolusioner di akar rumput, hingga meremukkan konservatifisme berabad-abad. Perang bukan saja menghancurkan institusi-institusi monarkis, tetapi lebih-lebih menghancurkan perekonomian rakyat dan membawa seonggok persoalan bagi keluarga-keluarga tani yang merupakan populasi mayoritas. Tahun 1870, meresotnya harga jagung dan gandum dunia memukul petani-petani Rusia secara ganas. Birokrasi tsar meresponnya dengan menerapkan kebijakan proteksionis yang menajamkan konflik antar-negeri, meningkatkan harga-harga kebutuhan hidup, hingga memaksa para petani–yang tanah-tanah suburnya telah dirampas melalui program Emansipasi Budak 1961–untuk menjadi semi-proletar dan bekerja lebih keras.

Awal 1870-an, perjuangan baru dibuka oleh laki-laki dan perempuan muda terpelajar yang berasal dari lapisan kelas menengah yang sedang dihancurkan. Mereka mendirikan kelompok yang dipimpin Nikolai Tchaikovsky. Lingkaran Tchaikovsky menerima ajaran Narodnisme yang memandang kaum tani sebagai kelas revolusioner, tetapi menolak pendekatan propaganda lewat perbuatan-perbuatan vulgar. Dalam situasi reaksi, sangat tidak memungkinkan untuk mengambil tindakan berlebihan. Guna melancarkan pengorganisasian, Lingkaran Tchaikovsky menekankan pada pendidikan untuk memecahkan persoalan buta-huruf dan meningkatkan taraf kebudayaaan rakyat.

Kaum perempuan–yang selama ini dibatasi perkembangan intelektualnya oleh despotisme tsar–didekati dengan program emansipatif. Lingkaran Tchaikovsky melatih laki-laki dan perempuan dalam kerja-kerja organisasi dan politik revolusioner. Mereka mendambakan kebebasan dan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, namun dengan keterbelakangan Rusia maka prasangka mengenai dominasi laki-laki dalam keluarga dan keseluruhan masyarakatnya sukar dihapuskan. Bergabungnya lapisan-lapisan luas segera mengekspos kontradiksi antara massa dan kepemimpinan. Apabila tidak dikonsolidasikan secepatnya, masuknya kamerad-kamerad baru akan menurunkan level teoritik organisasi. Sementara di tengah represi dan pembuangan Tchaikovsky ke luar negeri, aktivitas lingkaran menunjukkan kebingungan begitu rupa. Setelah ditinggal pemimpin utamanya, mayoritas perempuan yang masih segar dan minim pengalaman mencondongkan Kepemimpinan Lingkaran Tchaikovsky pada kecenderungan separatisme.

Kejang-kejang sejarah, belokan tiba-tiba, hingga dipeluknya separatisme mengubah perjuangan Lingkaran Tchaikovsky yang sebelumnya bertendensi revolusioner-populis dan berorientasi ke massa menjadi gerakan perempuan berdasarkan politik identitas. Perempuan-perempuan separatis mencurigai laki-laki dan mengorganisir kelompok yang hanya terdiri dari satu jenis kelamin. Mereka melihat kalau sumber penindasan perempuan adalah dominasi laki-laki dan budaya patriarki, bukan masyarakat berkelas yang berbasiskan kepemilikan minoritas atas kekayaan material mayoritas. Demikianlah dipandangnya semua pria merupakan musuhnya, termasuk lelaki pekerja dan plebeian yang seharusnya menjadi sekutunya. Massa terhisap dan tertindas tidak menemukan jalan keluar dari organisasi perempuan separatis. 

Lingkaran Tchaikovsky lumpuh tapi massa terus bergerak. Mereka membutuhkan gagasan yang bisa menuntunnya dalam bergerak. Pada paruh pertama 1870-an, ide-ide Bakuninisme mendapatkan pengaruh yang besar di kalangan mahasiswa dan intelektual. Esensi dari keyakinan Bakuninis sangat sederhana dan provokatif–seperti yang dijelaskan David Riazanov: ‘pertama hancurkan, dan kemudian semuanya akan beres dengan sendirinya. Hancurkan–semakin cepat, semakin baik. Itu akan cukup untuk membangkitkan kaum intelektual revolusioner dan para pekerja yang sakit hati karena kemiskinan. Satu-satunya yang dibutuhkan adalah sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang gigih dengan setan revolusi di dalam jiwa mereka’. Dipimpin oleh Nechayev, gerakan muda radikal mengembangkan konsep teror dan komite rahasia untuk pemberontakan.

Pergerakan macam itu segera menarik perhatian kekuasaan. Tahun 1871, lebih dari 80 mahasiswa yang dituding menjadi bagian dari kelompok Nachayev ditahan. Sementara Nachayev sendiri melarikan diri ke luar negeri. Namun di Rusia, para militan Narodnik-Anarkis masih bertahan dan perempuan radikal menaruh simpati kepada gerakan mereka. Pada 1872, Lingkaran Rosalie Jakesburg mengisi kekosongan yang ditinggalkan Tchaikovsky dan Nachayev. Jakesburg merupakan pemimpin perempuan yang berada di bawah pengaruh Bakuninisme. Di universitas, perempuan-perempuan radikal bekerja sama dengan laki-laki radikal bekerjasama dalam melanjutkan perjuangan Narodnik. Di tubuh kekuasaan, Alexander II melihatnya sebagai masalah besar. Sejak reformasi pendidikan dilaksanakannya, bukan saja buta-huruf yang berkurang tapi juga pemikiran-pemikiran revolusioner-populis bermekaran di akar rumput.

Di tengah perang-perang asing dan kebangkrutan rezimnya, setiap kebijakan dan tindakan-tindakan tsar tidak pernah memperbaiki keadaan tapi mempertajam kontradiksi yang ada. Tahun 1874, tsarisme meluncurkan perburuan, penyiksaan, pemenjaraan, dan pengasingan terhadap kaum radikal. Tsar menginginkan pemberontakan padam. Namun gelombang reaksi mengundang perlawanan. Situasi dunia mempengaruhi perimbangan kekuatan lokal. Pada 1875–Krisis Balkan meledak, Rusia tergoncang, dan serangkaian protes dan demonstrasi berlangsung di Moskow. Perempuan merupakan barisan yang paling militan dalam aksi-aksi tersebut. Di tahun ini, Vera dibebaskan dan segera memulai pekerjaan revolusioner-populisnya di Kiev. Sementara dalam menghancurkan gerakan perempuan radikal, Alexander II lantas menggelar Pengadilan Perempuan Moskow. Para perempuan revolusioner-populis ditahan, diiterogasi, dan dijatuhi hukuman berat. Meskipun dilangsungkan untuk melancarkan pembungkaman, namun jalannya persidangan menjadi peristiwa yang meradikalisasi massa secara luas.

Krisis Balkan memperdalam ketidakstabilan dan mempercepat peristiwa bagi kebangkitan baru. Di Rusia, akar rumput semakin teradikalisasi. Upaya kekuasaan untuk menciptakan kestabilan gagal berkali-kali. Di tengah ancaman-ancaman pemberontakan, Alexander II lantas mengumandangkan keberlanjutan perang-asingnya. Melalui peranglah tsar berusaha mengontrol kekuatan revolusioner dari dalam negeri dengan menyalurkannya ke luar negeri. Pada 1877-88, Perang Rusia-Turki menyalak. Tsar mengumumkan keadaan bahaya, penduduk dimobilisasi untuk berperang dan meningkatkan pembayaran pajak untuk mendanai perangnya. Berjuta-juta laki-laki dan perempuan tambah menderita. Perang yang bertujuan mengurung kekuatan revolusioner di bawah sentimen nasionalisme justru mengundang kebangkitan baru. Massa yang ditenggelamkan di lautan darah dan Narodnik yang dihancurkan berkeping-keping mendapati situasi obyektif baru untuk pulih.

Di Saint Petersburg, perjuangan kelas semakin intens. Suhu sosial memanas. Akar rumput bergejolak. Di tengah perang dan reaksi, benih-benih kebangkitan revolusioner tersemai. Selama masa-masa penuh badai, lapisan-lapisan segar berkecambah. Tradisi-tradisi perjuangan terdahulu meninggalkan jejak yang sekarang diikuti elemen-elemen muda yang tergoncang oleh peristiwa. Eksploitasi dan penindasan menghancurkan pendahulu mereka, tetapi generasi baru tumbuh dan meneruskan perjuangan terdahulu. Awal Januari 1878, Zemlya i Volya (Tanah dan Kebebasan) didirikan. Puluhan laki-laki dan perempuan radikal bergabung ke dalamnya. Pengorganisiran kaum tani hendak dilanjutkan. Namun dihadapkan dengan kepungan reaksi, maka organisasi yang tidak memiliki perspektif dan program memadai segera terseret menuju jurang kehancuran.

Dari gerakan Narodnik yang bangkit kembali, Vera Zasulich menjadi perempuan radikal pertama yang meluncurkan aksi terorisme individual. Menyaksikan kebrutalan rezim terhadap para tahanan politik, Vera mengambil tindakan spontan yang membahayakan pejabat tsar. Tanggal 24 Januari 1878, Vera menyelinap memasuki Kantor Gubernur Saint Petersburg dan menembakkan revolvernya ke pinggul Jenderal Trepov. Dengan penuh amarah dan rasa percaya diri, perempuan radikal ini meneror kelas penguasa. Peperangan dan brutalitas Rezim Alexander II telah menghancurkan kelembaman yang ada. Pada periode perjuangan kelas yang meningkat, kaum perempuan—selaku lapisan paling lembam–tertarik melancarkan aksi-aksi politik. Perempuan-perempuan–yang sebelumnya terisolasi dan teratomisasi sebagai budak-budak rumah tangga kini terdorong memberontak; mereka sangat berani dan berdedikasi–tidak takut berdiri di garis depan pertempuran, menunjukkan kebulatan tekad dan ketulusannya dalam berjuang sampai mati.

Aksi teror individual Vera Zasulisch mencekam kekuasaan tsar. Dinasti panik dan gemetar. Perasaan horor yang menghantui rezim bukanlah terciptakan oleh kualitas individu Vera, melainkan terkandung dalam corak produksi lama yang melemah. Vera merupakan produk kompleks dan dinamis dari keseluruhan sejarah dan peristiwa dalam masyarakatnya. Vera berasal dari keluarga bangsawan rendahan yang hidup berkalang kemiskinan dan penderitaan begitu rupa. Perang dan reaksi telah mengancurkan ketahanan sosial-ekonominya. Dalam perjuangan mempertahankan hidupnya, Vera terseret memasuki hubungan produksi tertentu. Selama peperangan, pemberontakan tani, dan meningkatnya agitasi Narodnik; Vera tersapu oleh gelombang radikalisme menuju medan pertempuran terbuka melawan tsarisme.

Vera merupakan bagian dari generasi baru pemimpin Narodnik. Dalam Zemlya i Volya, Vera berjuang bersama seabrek perempuan radikal yang memendam kemarahan serupa terhadap tsar. Dengan bertambah intensnya kontradiksi dalam masyarakat, maka akan semakin banyak tanggapan-tanggapan individual yang menyatu dan mengatasi pelbagai kekhasan pribadi demi menghancurkan semua hambatan-hambatan historis. Tsarisme adalah belenggu bagi perkembangan tenaga produktif. Penembakan terhadap Jenderal Tripov merupakan ekspresi kemarahan individual yang berusaha mencari jalan keluar di tengah gerakan radikal yang terisolisir dari massa. Namun di bawah kepemimpinan yang tak-memadai, aksi teror itu dikukuhkan sebagai metode perjuangan politik Zemlya i Volya. Lewat “Mengapa Kaum Marxis Menentang Terorisme Individu”, Trotsky menjelaskan:

“Sebelum diangkat ke level metode perjuangan politik, terorisme muncul dalam bentuk aksi balas dendam individual. Begitu pula di Rusia, tanah klasik terorisme. Pencambukan tahanan politik mendorong Vera Zasulich untuk mengungkapkan perasaan marah secara umum atas percobaan pembunuhan terhadap Jenderal Trepov. Teladannya ditiru di kalangan kaum intelektual revolusioner, yang tidak memiliki dukungan massa. Apa yang dimulai sebagai tindakan balas dendam yang tidak terpikirkan dikembangkan menjadi keseluruhan sistem pada tahun 1879-1881 … Sumber psikologis terpenting dari terorisme selalu merupakan perasaan balas dendam untuk mencari jalan keluar.”

Metode teror merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan secara historis. Keterlambatan perkembangan kapitalisme Rusia dan pembentukan kelas buruh sebagai kekuatan revolusionernya, menempatkan kaum muda radikal untuk mengambil tindakan-tindakan ekstrem melalui metode-metode borjuis-kecil. Perbuatan ini mengundang serangan-balik yang brutal. Seusai pembalasan dendam gagal membunuh Trepov, Vera Zasulich ditangkap, diinterogasi dan disidang secara arbitrer. Di muka hakim, Vera menolak tuduhan sebagai pembunuh dan tidak punya pilihan selain mengaku teroris. Hanya kekuasaan autokratik-liberal mengeksploitasi pengakuan tersebut untuk melancarkan stigma dan penghancuran terhadap Narodnik. Setelah mendapat tekanan yang begitu rupa, Vera dibebaskan tapi tsarisme meningkatkan reaksinya kepada gerakan revolusioner-populis. Pengadilan monster digelar. Dari 770 yang ditangkap, hanya 94 orang yang dibebaskan–sisanya dijatuhi hukuman bengis: dideportasi, diperkerjapaksakan, hingga disiksa sampai tewas.

Serangan-balik rezim dan keterisolasian dari massa menenggelamkan Kepemimpinan Narodnik dalam krisis internal: elemen-elemen terbaik yang melancarkan pengorganisasian kaum tani di desa-desa sudah banyak yang tertangkap, berputus-asa dan kecewa. Kelemahan politik ini membuncah dan terekspresikan melalui persoalan metode. Akhir 1878, taktik ‘Turun ke Bawah’ dibuang dan aksi-aksi ‘Terorisme Individual’ diangkat menjadi strategi. Tahun 1879, kelompok pro-terorisme mendirikan Narodnaya Volya (Kehendak Rakyat) dan kelompok kontra-terorisme membentuk Chernyi Peredel (Repartisi Hitam). Yang pertama, menggunakan teror dan konspirasi oleh grup-grup rahasia untuk mengobarkan perlawanan terhadap kekuasaan tsar; yang kedua, melancarkan agitasi dan propaganda di tengah kaum tani dan muda untuk membebaskan massa-tani tertindas dengan program redistribusi tanah.

Dalam partai-partai inilah para perempuan mengambil peran penting. Di Komite Eksekutif Narodnaya Volya, dari 29 orang terdapat 10 perempuan yang beberapa di antaranya seperti Maria Spiridonova, Vera Figner, dan Catherine Breshkovsky. Di Komite Eksekutif Chernyi Peredel, Vera Zasulich secara aktif bekerjasama dengan seabrek laki-laki: Georgi Plekhanov, Pavel Axelrod, Lev Deutsch, Nikolayevich Ignatov, dan sebagainya. Vera Zasulich, walaupun menjadi perempuan pertama yang melangsungkan teror individu tapi tidaklah mempertahankan keyakinannya akan terorisme individual. Ledakan peristiwa membuat keyakinan lamanya terpental. Perburuan membabi-buta, penangkapan brutal, pengadilian kanguru dan hukuman-hukuman bengis terhadap laki-laki dan perempuan Narodnik telah menunjukkan bahwa aksi-aksi propaganda perbuatan dan teroristik tidaklah mempan mengalahkan rezim autokratik-liberal.

Di tengah situasi yang bergejolak, perempuan-perempuan muda teradikalisasi begitu rupa dan belajar lebih cepat. Mereka berperan aktif membangun kembali Kepemimpinan Narodnik. Pada 1870-an dan 1880-an, perempuan-perempuan revolusioner-populis secara heroik, energetik, dan penuh dedikasi memberikan pengorbanan-pengorbanan terbaiknya untuk menggulingkan monarki dan melayani kepentingan tani. Pada gerakan-gerakan inilah kaum perempuan berperan aktif. Lebih-lebih bersama Zemlya i Volya hingga Narodnaya Volya, individu-individu perempuan melancarkan aksi-aksi radikal dan militan. Laki-laki dan perempuan Narodnik dengan gagah-berani dan penuh kepercayaan diri menerapkan metode propaganda lewat perbuatan hingga taktik terorisme individual.

Dalam sebuah “Kritik terhadap Gerakan Narodnik”, Leon Trotksy memandang bahwa teror sistematis tersebut berasal dari ‘cara negara Tsar, yang dibangun dengan menggunakan modal dan teknologi Eropa dibandingkan sumber daya asli, tampak lebih unggul dari masyarakat. Ia tampak seperti “sebuah organ pemaksa yang murni bersifat eksternal, tidak mempunyai akar dalam organisasi sosial itu sendiri, meninggikan dirinya di atas semua kelas masyarakat’. Isolasi sosial dan kurangnya akar nasional inilah yang dijelaskan Trotsky ‘memunculkan ilusi (yang dengan cepat hancur) bahwa tidak diperlukan kekuatan sosial yang nyata untuk menghancurkan tsarisme: bahan peledak di tangan segelintir orang yang berdedikasi saja sudah cukup untuk melenyapkan organ pemaksa eksternal tersebut’. Sementara Lenin menyebut perjuangan ini menciptakan efek langsung yang berbentuk ‘sensasi yang berumur pendek’ dan secara tidak-langsung ‘mengarah pada sikap apatis dan pasif untuk menunggu pertarungan berikutnya’. Dalam “Tahun Pertama Revolusi Rusia”, Victor Serge merekam pertempuran itu:

“Antara tahun 1872 dan 1882 terdapat enam percobaan pembunuhan (tiga di antaranya berhasil) terhadap pejabat tinggi, empat terhadap kepala polisi, empat terhadap Alexander II, sembilan eksekusi terhadap informan, dan dua puluh empat kasus perlawanan bersenjata terhadap polisi. Tiga puluh satu orang revolusioner digantung atau ditembak. Sasaran utama dari Narodnaya Volya adalah pemimpin dari keseluruhan sistem, ‘raja rusa jantan’ dari kawanan ternak. Pada tanggal 14 April 1879, mahasiswa Soloviev melepaskan lima tembakan pistol ke arah Alexander II. Pada tanggal 1 Desember tahun yang sama, sebuah ledakan menggelincirkan kereta Kekaisaran tidak jauh dari Moskow. Pada tanggal 17 Februari 1880, ruang makan di Istana Musim Dingin meledak beberapa detik sebelum keluarga Kekaisaran memasukinya. Pada tanggal 1 Maret 1881, Alexander II akhirnya menemui ajalnya di St. Petersburg, hancur akibat bom. Lima algojonya, Sophia Perovskaya, Zhelyabov, Kibalchich, Mikhailov dan Russakov, digantung. Dengan jatuhnya korban-korban ini, partai kehilangan para pemimpin terbaiknya, beberapa di antaranya adalah tokoh-tokoh revolusioner terbaik sepanjang sejarah.”

Kegagalan gerakan turun ke bawah–yang berorientasi kepada massa tani, dengan metode propaganda lewat perbuatan, hingga taktik dan strategi terorisme individual–telah menyeret kepemimpinan borjuis-kecil radikal dalam gelombang tekanan, keterisolasian dan keretakkan yang begitu rupa. Rezim autokratik-liberal yang diancam teror dan konspirasi meluncurkan serangan-balik yang membabi-buta. Maret 1881, Narodnaya Volya berhasil membunuh Tsar Alexander II dan segera setelah kematian raja rusa jantan’ inilah kaum revolusioner-populis langsung diburu, ditangkap, dan dihukum secara brutal. Bersama seabrek lelaki Narodnik, dua perempuan–Sophia Perovskaya dan Vera Figner–masing-masing dipenjara selama 20 tahun dan dieksekusi mati atas tuduhan teroris. Dalam kondisi inilah penghancuran Kepemimpinan Narodnik bertambah intens. Pedang dan tongkat, pistol dan borgol, stigma dan fitnah tak sekadar diarahkan kepada Narodnaya Volya, melainkan pula Chernyi Peredel dan kelompok mana saja yang mengganggu ketentraman kelas penguasa.

Setelah pembunuhan Tsar Alexander II; sistem keamanan ditingkatkan, Kepemimpinan Narodnik ditenggelamkan, dan pemberontakan-pemberontakan tani mulai dikendalikan secara mengerikan. Guna menegakkan ketertiban dan melancarkan proses industrialisasi dan perdagangan–Tsar Alexander III membentuk Okhrana (polisi politik yang dipersenjatai dengan aturan-aturan legal dan pendanaan yang luas). Undang-undang pers baru diterbitkan untuk menyesor jurnal-jurnal radikal dan membatasi pergerakan revolusioner-populis. Di pedesaan, perbudakan terhadap petani dan perempuan berusaha ditegakkan kembali dengan membentuk Zemskye Nachalniki (Otoritas Komune Desa) yang dipilih dari kalangan bangsawan-liberal oleh tuan-tanah kapitalis. Di perkotaan, para pelajar dipaksa menggunakan seragam wajib dan ditempatkan di bawah pengawasan-ketat Okhrana.

Sekarang para militan Narodnaya Volya mengalami kesulitan luar biasa untuk mereorganisasi kekuatannya. Di sisinya, Chernyi Peredel–yang teramat kecil dan lemah–tersudutkan oleh gelombang reaksi hingga para pemimpinnya terpaksa bersembunyi di luar negeri. Dalam kondisi inilah kontadiksi bertambah tajam, bukan sekadar kontradiksi antara kaum penindas dan kaum tertindas melainkan pula kontradiksi antara lapisan massa dan lapisan pelopor. Antara 1880-an dan 1990-an, kemunduran gerakan borjuis-kecil segera digantikan oleh kebangkitan gerakan proletariat. Perang-asing dan refomasi dari atas–yang membuka kran masuknya modal-asing–mempercepat proses industrialisasi Rusia. Berdirinya industri skala besar telah menciptakan dan mengangkat buruh sebagai kekuatan sosial baru. Proletar tumbuh di bawah permukaan reaksi, berangsur-angsur matang dan meregangkan ototnya sebagai kelas revolusioner. Dalam “Tahun Pertama Revolusi Rusia”, Serge memberikan laporan berdasarkan data-data yang pernah Lenin ungkap:

“Pada saat inilah industri Rusia mulai berkembang. Melalui pemiskinan di pedesaan, sepuluh juta kaum proletar yang kelaparan berada dalam kemiskinan. Pasar internal yang luas terjamin berkat kerja yang lebih intensif dari para petani yang semakin banyak mengabdikan seluruh waktunya untuk bertani tanaman biji-bijian dan meninggalkan produksi lokal berupa kain, peralatan, dan lain-lain yang mereka konsumsi. Modal asing mengalir masuk. Total produksi industri Rusia, yang pada tahun 1877 bernilai 541 juta rubel, meningkat menjadi 1,816 juta rubel pada tahun 1897; dan kepemilikan modal asing di dalamnya meningkat menjadi 1.500 juta rubel. Dalam sepuluh tahun, dari tahun 1887 hingga 1897, jumlah kaum proletar di industri teknik meningkat dari 103.000 menjadi 153.000 dan di industri tekstil dari 309.000 menjadi 642.000.”

Lewat “Perkembangan Kapitalisme di Rusia”, Lenin menjelaskan bagaimana industri skala besar tidak hanya melahirkan proletariat di kedalaman sosial rakyat–massa-tani (populasi mayoritas)–tapi juga membebaskan perempuan dari belenggu-belenggu patriarkal. Pertanian skala kecil dan menengah mengikat perempuan-perempuan tani pada kebudayaan patriarki, mempersempit pandangannya, dan memperlakukan sebagai budak dari suaminya. Dalam sistem inilah agama, pendeta dan gereja mendapat keleluasaan berkuasa. Lenin mengingat kalau para petani biasa berkata: ‘setiap orang untuk dirinya sendiri dan Tuhan untuk semua’. Perkataan ini melukiskan keadaan batin dari pemilik kecil. Namun perpindahan petani-petani miskin dan tak-bertanah ke pabrik-pabrik mempengaruhi kebudayaan dan merontokkan cara hidup lamanya. Dalam rumah tangga patriarkal, perempuan dibebani pekerjaan yang membosankan dan arbitrer: ‘setiap petani perempuan dari sebuah keluarga-inti hanya membersihkan sebagian kecil dari meja tempat dia makan, memasak makanan terpisah untuk anaknya sendiri, dan memerah susu sapi untuk keluarganya’. Dan, kehadiran industri-industri besar membebaskan perempuan dari corak produksi tradisional. Dengan menjadi pekerja-pekerja modern maka perempuan dapat memperluas pandangannya, lebih berbudaya dan mandiri.

Perkembangan industri berskala besar merupakan dasar bagi pembebasan perempuan secara menyeluruh. Namun proses emansipasi ini takkan mencapai ketinggian yang sejati tanpa menghancurkan kapitalisme dan kelas-kelas sosial dalam masyarakat, dengan menempuh perjuangan kelas revolusioner untuk menegakkan sosialisme dan mewujudkan komunisme. Dalam periode yang sedang berubah, dengan letusan peristiwa-peristiwa besar dari sebuah perkembangan historis, massa belajar dengan cepat dan para pelopornya berusaha menarik kesimpulan berharga untuk memajukan perjuangan kelas. Tetapi massa tidaklah sanggup bertahan di tengah pemberontakan permanen, pasang revolusioner selalulah diselingi dengan kemunduran yang di luar kendali kepeloporan, dan dibutuhkan situasi obyektif baru untuk merangsang kebangkitan baru.

Pada 1880-an, pertumbuhan pesat industri dan proletariat Rusia bukan saja mendorong emansipasi perempuan tapi juga menyediakan basis material bagi pembentukan gerakan revolusioner baru. Tahun 1883 di tempat persembunyian di Swiss, para mantan pemimpin Narodnik dari Partai Chernyi Peredel–Georgi Plekhanov, Vera Zasulich, Pavel Axelrod, Lev Deutsch, dan Nikolayevich Ignatov–mendirikan Kelompok Emansipasi Buruh. Organisasi politik ini merupakan yang pertama meletakkan dasar pembangunan Marxisme di Rusia. Mereka menerjemahkan tulisan-tulisan Marx dan Engels, memberikan analisa mengenai perkembangan ekonomi-politik dan perjuangan kelas pekerja Rusia, dan menyebarkan literatur-literatur Marxis.

Dalam Kelompok Emansipasi Buruh, Vera Zasulich mengambil peran penting untuk menghubungkan perjuangan kelas di Rusia dengan gerakan buruh internasional. Di tangan Zasulich korespondensi-korespondensi dengan Marx-Engels secara rutin dilakukan dan melalui Zasulich-lah kelompok yang dipimpin oleh Plekhanov ini menyatakan dirinya sebagai Seksi Nasional dari Partai Sosialis Internasional. Di samping Plekhanov yang terkenal sebagai ‘Bapak Marxis Rusia’; Zasulich dikenal pula dengan julukan ‘Bibi Marxis Rusia’. Pada kiriman surat kepada Zasulich–tertanggal 23 April 1885, Engels mengakui: ‘di kalangan pemuda Rusia terdapat sebuah partai yang secara jujur ​​dan tegas menerima teori-teori besar sejarah dan ekonomi Marx dan yang secara lantang telah menentang semua tradisi anarkis dan perbudakan yang sembrono dari para pendahulunya’. Lewat “Bolshevisme; Jalan menuju Revolusi: Jilid I”, Alan Woods menerangkan peran para pendiri organisasi Marxis pemula itu: 

“Di antara para pendiri [Kelompok Emansipasi Buruh], VN Ignatov meninggal terlalu dini untuk meninggalkan banyak jejak. Lev Deutsch adalah jantung dan jiwa dari sisi organisasi pekerjaan, seperti pengaturan pencetakan dan distribusi literatur. Pavel Axelrod adalah seorang propagandis berbakat yang memberikan kesan besar pada Lenin dan Trotsky muda. Namanya sejak lama tidak dapat dipisahkan dari nama Plekhanov. Vera Zasulich, seorang yang tulus, ramah tamah, dan impulsif, paling menderita akibat trauma pengasingan. Karena tidak sabar untuk menjembatani kesenjangan antara Kelompok Emansipasi Buruh dan generasi baru revolusioner di Rusia, ia selalu mengambil tindakan atas nama kaum muda…. Runtuhnya Narodnisme revolusioner yang lama mempunyai dampak yang besar di kalangan pemuda di Rusia, menghasilkan polarisasi antara elemen reformis pro-liberal dan elemen terbaik pemuda, yang berupaya menemukan jalan menuju revolusi…. Tanpa sepengetahuan kaum Marxis di pengasingan, kelompok-kelompok baru mulai terbentuk di dalam negeri, membahas kegagalan masa lalu, menyusun neraca dan mencari cara baru. Di sini ide-ide Emansipasi Buruh jatuh di lahan subur. Pada tahun 1890-an, Kelompok ini mulai menikmati otoritas yang sangat besar di mata semakin banyak pemuda Marxis, dan nama Plekhanov [dan Zasulich] dikenal di setiap lingkaran propaganda bawah tanah dan setiap kantor polisi di Rusia.”

(Berlanjut)

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai