Kategori
Perjuangan

Revolusi Oktober: Lenin, Perempuan dan Bolshevik (Bagian 2)

Rusia: Perkembangan Tak-Berimbang dan Tergabungkan

“Hari ini kita harus menganggap perkembangan tenaga produksi sebagai penyebab fundamental dan paling umum dari perkembangan sejarah umat manusia, dan perkembangan kekuatan produksi inilah yang menentukan perubahan dalam hubungan sosial manusia. Bersamaan dengan sebab umum ini adalah sebab-sebab spesifik, yakni situasi sejarah yang melatari berlangsungnya perkembangan kekuatan produksi bangsa tertentu, dan pada analisa terakhir situasi sejarah itu sendiri diciptakan oleh perkembangan kekuatan-kekuatan yang sama di antara bangsa-bangsa lain, yakni sebab umum yang sama.” (Georgi Plekhanov)

“Makin tinggi pemaksaan menyeluruh terhadap produksi, makin tegang pula kompetisi di pasar dunia, makin tajam antagonisme-antagonisme, dan makin gila pula perlombaan peralatan perang dan jauh lebih sulit jadinya bagi partisipan-partisipan yang lebih lemah. Itu adalah tepatnya mengapa negeri-negeri terbelakang mengambil tempat pertama dalam rangkaian kolaps. Mata rantai kapitalisme dunia selalu cenderung putus pada sambungannya yang terlemah.” (Leon Trotsky)

Di tengah keterbelakangan sosio-ekonomi Rusia, hari-hari perempuan teramat mengerikan: dibelenggu keluarga patriarkal dan represi seksual yang disponsori rezim autokratik, dengan pembatasan-pembatasan terhadap perkembangan kemanusiaan secara brutal. Di bawah Dinasti Romanov, usia harapan hidup perempuan tidak lebih dari 30 tahun, homoseksual dilarang, dan bagi mereka yang menerabas norma-norma gender dan seksualitas akan diseret menuju kamp kerja paksa. Dalam peraturan tsar, perempuan merupakan budak rumah tangga: laki-laki berhak memukul istrinya dan harus diikuti ke mana-mana perginya. Di pedesaan, penindasan terhadap perempuan berkembang begitu rupa. Doktrin gereja dan segala tradisi masa lalu adalah mimpi buruk bagi perempuan. Mayoritas penduduk buta huruf berasal dari perempuan-perempuan pekerja dan plebeian. Penindasan berabad-abad telah menempatkan perempuan menjadi lapisan sosial yang paling lembam, tetapi peristiwa-peristiwa besar akan menggoncang kesadaran mereka dengan cekatan.

Pada 1853-1856, Perang Krimea berlangsung meledak-ledak. Peperangan ini bukan sekadar menunjukkan bentrokan antara kekuatan politik-borjuis dan politik-feodal, tapi juga mengantisipasi puncak dari kompetisi bebas kapitalis. Setelah kemenangan revolusi borjuis di Eropa, kapitalisme mengembangkan persaingan bebas sebagai fitur utamanya. Persaingan-demi-persaingan mengarah menuju terkonsentrasinya kapital di tangan kapitalis besar. Tahun 1830, Cyfartha menjadi perusahaan besi-baja terbesar dunia yang mempekerjakan lebih dari 5.000 buruh dan memiliki total aset 2 juta dolar AS. Di pertengahan abad ke-19, Inggris dan Prancis menunjukkan dirinya sebagai negara kapitalis maju yang berusaha memperluas pasarnya sampai ke Rusia. Ledakan Perang Krimea merupakan metode kapitalis untuk menyingkirkan hambatan-hambatan perdagangannya. 

Rusia sebagai salah satu kekuatan besar–yang memenjarakan bangsa-bangsa–terseret dalam pertempuran. Tetapi dengan keterbelakangan teknik negerinya, tsar keluar sebagai pihak yang kalah. Kekalahan Rusia bukan sekadar memproklamirkan kebangkrutan tsarisme, tapi terutama menunjukkan kecenderungan perkembangan tenaga produktif yang melampaui batas-batas sempit negara-bangsa dan antisipasi pembentukan perekenomian dunia dengan menghancurkan pusat-pusat ekonomi nasional. Perang telah meremukkan perekonomian Rusia. Demi pembiayaan perang, tsar menyeret negerinya menjadi bergantung pada modal-asing. Dan, setelah kalah perang, Rusia bukan hanya menyerahkan dirinya sebagai pasar bagi negara pemenang tapi secara tak-terelakkan mengadopsi teknik-teknik militer dan industri Eropa. Mencermati kontradiksi antara negara maju dan terbelakang, Leon Trotsky menemukan ‘hukum perkembangan tak-berimbang dan tergabungkan’. Berdasarkan hukum inilah Trotsky memecahkan pertanyaan-pertanyaan mengenai Revolusi Rusia. Pada Kongres Internasional Sosialis di Kopenhagen, Denmark (27 November 1932), Trotsky berpidato:

“Penjelasan pertama dan yang paling general adalah: Rusia merupakan negara terbelakang, hanya bagian dari ekonomi dunia, hanya sebuah elemen dari sistem kapitalis dunia. Dalam masalah ini Lenin menyelesaikan teka-teki Revolusi Rusia dengan formula yang mengenyahkan bongkahan batu penutup teka-teki itu: ‘mata rantai putus pada sambungannya yang terlemah’. Sebuah ilustrasi kasar: Perang Besar, hasil dari kontradiksi-kontradiksi imperialisme dunia, telah menarik berbagai negara yang memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda ke dalam kekuatannya yang sangat berbahaya dan tak dapat ditahan, tetapi membuat klaim yang sama terhadap seluruh partisipan. Jelas bahwa beban perang akan tidak dapat ditoleransi terutama sekali oleh negara-negara yang paling terbelakang. Rusia adalah negara pertama yang terpaksa meninggalkan gelanggang. Tetapi untuk memutuskan diri dari perang, rakyat Rusia harus menumbangkan kelas-kelas yang memegang kendali pemerintahan. Dengan cara inilah mata rantai perang putus pada sambungannya yang terlemah.”

“Jangan kita lupakan bahwa keterbelakangan historis adalah sebuah konsep relatif. Di mana terdapat negara-negara yang terbelakang dan juga negara-negara yang progresif, terdapat pula saling mempengaruhi yang resiprokal antara yang satu dengan yang lainnya; ada tekanan dari negara-negara progresif terhadap negara-negara terbelakang, ada kebutuhan bagi negara-negara terbelakang untuk menjajari negara-negara progresif, untuk meminjam pengetahuan dan teknologi mereka, dan lain-lainnya. Dalam cara ini muncullah tipe gabungan dari perkembangan: ciri-ciri keterbelakangan digabung dengan kata terakhir dalam teknik dan pemikiran dunia. Akhirnya negara-negara yang secara historis terbelakang, supaya lepas dari keterbelakangannya, seringkali terpaksa saling mendahului. Fleksibilitas dari kesadaran kolektif memungkinkan pencapaian hasil, yang dalam psikologi individual disebut ‘menanggulangi kesadaran akan inferioritas’ di bawah kondisi-kondisi tertentu, dalam arena sosial. Dalam hal ini dapat kita katakan bahwa Revolusi Oktober adalah sebuah cara historis di mana dengannya rakyat Rusia mampu menanggulangi inferioritas ekonomis dan budaya mereka sendiri.”

Karl Marx pernah berkata: ‘modal pedagang, ketika memegang posisi dominan, berdiri di mana-mana untuk sistem perampokan, sehingga perkembangannya di antara negara-negara perdagangan selalu berhubungan langsung dengan penjarahan, pembajakan, penculikan budak, dan penaklukan kolonial’. Perang Krimea berhubungan dengan perkembangan kapitalisme. Setelah Belanda, Inggris, Amerika, dan Prancis berhasil melaksanakan revolusi borjuisnya–Rusia seketika menjadi benteng terakhir dari monarki-monarki yang telah kehilangan basis sosialnya. Kemenangan kapitalisme di Eropa meletakkan dasar untuk kemajuan teknik dan budaya di seluruh dunia. Lewat jalur perdagangan, borjuis-borjuis Eropa berusaha mencengkeram Rusia. Di wilayah-wilayah perbatasan, para burgher menjadi perantara antara kota-kota Eropa dengan desa-desa Rusia. Biji-bijian merupakan ekspor utamanya ke pasar Eropa. Hubungan eksternal dengan negara maju mempengaruhi internal negerinya.

Marx mengingatkan: ‘segera setelah produk menjadi komoditas dalam hubungan eksternal komunitas, mereka juga, dengan reaksi, menjadi komoditas dalam kehidupan internal komunitas’. Hubungan dagang dengan Eropa membawa pengaruh yang besar terhadap arah politik Rusia. Dalam “Sejarah Revolusi Rusia”, Trotsky menjelaskan tentang ‘Eropanisasi negara’. Bahwa liberalisasi di antara kaum bangsawan telah dimulai sejak Zaman Peter I. Di bawah tekanan perdagangan, para bangsawan liberal berusa menggantikan posisi burgher yang lemah. Pada 1825, intelektual-intelektual aristokrat melancarkan Konspirasi Desembris untuk membatasi kekuatan autokrasi dengan menggabungkan kebijakan liberal dan dominasi kebangsawanannya. Rezim mengalami keretakan tapi tindakan konspiratif tidak dapat menembus segel autokratik. Hanya memasuki 1840-an, kelemahan rezim masa lalu tersingkap: hubungan sosial yang paling dominan–relasi barang-dagangan–tidak relevan dihadapi dengan cara-cara udik. Politik autokrasi dan perhambaan membelenggu perkembangan tenaga produktif; produksi pertanian memburuk, ekspor biji-bijian rendah, aktivitas manufaktur melambat, dan pengangguran membengkak.

Sementara pada periode 1847-57, krisis finansial melanda negara-negara maju. Pasar Eropa melemah. Komoditas tersedia dalam jumlah berlimpah namun tidak ada yang mampu membelinya. Tingkat laba jatuh dan perusahaan-perusahaan kapitalis kesulitan membayar pinjaman perbankannya. Suksesi kebangkrutan menghantui kaum kapitalis. Akhir 1857, para bankir di New York berhenti meminjamkan uangnya kepada seabrek industrialis. Bulan-bulan selanjutnya, bank-bank di Inggris dan Prancis juga memblokir pinjaman secepat kilat. Aktivitas perdagangan tersendat, pabrik-pabrik ditutup dan pengangguran meluas. Di tengah kemunduran inilah hubungan Rusia dan negeri-negeri lainnya menegang. Konservativisme tsar dan kecenderungan konsentrasi kapital berhadap-hadapan secara tajam. Kontradiksi antara negeri maju dan terbelakang tidak dapat diselesaikan secara damai. Inilah alasan meledaknya Perang Krimea.

Perang merupakan politik luar negeri yang menjadi perpanjangan politik dalam negeri dan politik adalah ekonomi yang terkonsentrasi. Negara-negara berperang demi mempertahankan kepentingan ekonominya masing-masing. Di tengah masyarakat berkelas yang mencapai klimaks, peperangan menjadi metode untuk menyingkirkan bobot-mati yang menghambat perkembangan sosial-ekonomi. Letusan perang Rusia melawan negara-negara kapitalis mempercepat jalannya peristiwa. Bagi negeri terbelakang secara ekonomi, perang merupakan mimpi buruk yang tiada terkira. Perimbangan kekuatan tempur tidak saja ditentukan oleh jumlah, melainkan pula peralatan dan perbekalan, senjata modern dan pelatihan pasukan, kualitas perwira dan bintara. Pada analisa terakhir, daya tempur bergantung pada perkembangan industri, teknologi dan budaya masing-masing negara. Dalam keterbelakangan Rusia, perang muncul sebagai belokan tiba-tiba dalam sejarah yang mempertajam segala kontradiksi yang ada.

Rezim autokratik tidak berdaya menyelesaikan masalah. Setiap keputusan yang diambil memperkeruh suasana. Dengan keterbelakangan negerinya, Perang Krimea bukan saja menempatkan monarkis menghadapi pengrusakan dari-luar melainkan pula penghancuran dari-dalam secara luar biasa. Engels pernah berkata: ‘jauh sebelum benteng-benteng istana baron dibobol oleh artileri baru, mereka telah dirusak oleh uang’. Kebangkrutan rezim lama ditandai dengan terciptanya spiral ke bawah: keuangan menipis, pajak meningkat, inflasi meroket, dan massa-rakyat menderita. Di bawah absolutisme, kaum pekerja mendapat kekangan begitu rupa. Laki-laki dan perempuan tani dibatasi perkembangan kemanusiaannya. Jiwa-raganya dihancurkan dengan beban kerja paksa dan kurungan penjara. Perang yang berlangsung adalah pemberontakan tenaga produktif atas hubungan-hubungan produksi yang membelenggu perkembangannya. Selama 1855-60, 400 pemberontakan tani meletus di desa-desa Rusia. Sepanjang 1850-61, 284 tuan tanah dan pengacara pro-monarki dibunuh. Dalam suasana peperangan, petani dan plebeian memancang protes dan perlawanan. Hanya untuk melancarkan peperangan, tsar meluncurkan reformasi dari atas untuk menghindari revolusi dari bawah.

Februari 1861, rezim mengeluarkan kebijakan mengenai penghapusan perhambaan. Namun saat diterapkan pembaharuan agraria segera terbongkar sebagai upaya mendanai peperangan. Program ini mendorong semangat liberalisme, mengalihkan tanah dari tuan-tanah konservatif ke tuan-tanah liberal, hingga membanduli petani-petani miskin dengan pemajakan yang menggila. Pemberontakan sporadis dan ledakan Perang Krimea memaksa autokrasi melakukan modernisasi dengan mengeluarkan kebijakan emansipasi prematur. Petani dibebaskan dari tuan-tanah feodal dan dijerat di bawah kungkungan tuan-tanah kapitalis. Di tangan tsar, reformasi agraria menjadi program yang menundukan kaum tani pada perbudakan upahan. Mereka bukan saja ditekan untuk membeli sebidang tanah kecil dan kebebasannya dengan konsekuensi terlilit hutang, tetapi juga disulap sebagai petani bebas. Mereka dipisahkan dari tanah seumur hidupnya, diikat dengan aturan-aturan komune desa (mir) untuk membayar pajak, dibatasi pergerakannya melalui pemberlakuan paspor internal, diseret menuju industri manufaktur, dan dipaksa bekerja lebih keras.

Perang dan reformasi membuka jalan perkembangan radikal kapitalisme di Rusia: peperangan melawan negara maju mendorong Rusia mengadopsi budaya dan teknik mutakhir; pembaharuan agraria menarik jutaan kaum tani dalam industri-industri mekanis besar. Dalam “Perkembangan Kapitalisme di Rusia”, Lenin menjelaskan bahwa ‘Era Pasca-Reformasi sangat berbeda dalam hal ini dari zaman sebelumnya dalam sejarah Rusia. Rusia bajak kayu dan cambuk, kincir air dan alat tenun tangan, dengan cepat mulai diubah menjadi Rusia bajak besi dan mesin pengirik, kincir uap dan alat tenun listrik, pabrik-pabrik, rel kereta api, kereta api cepat, dan pesawat terbang. Transformasi teknik yang sama menyeluruhnya terlihat di setiap cabang ekonomi nasional di mana produksi kapitalis mendominasi’.

Rusia mengejar ketertinggalannya tapi perkembangan kapitalismenya mengambil jalan yang berbeda dengan Eropa. Warisan masa lalu tidak sepenuhnya tersingkirkan melainkan digabungkan sedemikian rupa. Ini berlangsung berdasarkan keterbelakangannya. Lenin menjelaskannya meliputi beberapa ciri dalam perpaduan antara pertanian dan industri: (1) karakter patriarkal digabungkan dengan industri rumah tangga bahan mentah dan dengan jasa kerja rodi untuk pemilik tanah; (2) pertanian patriarki dipadukan dengan industri dalam bentuk produksi artisan; (3) pertanian patriarki digabungkan dengan produksi industri skala kecil untuk pasar; (4) pertanian patriarki digabungkan dengan pekerjaan untuk disewa di industri dan pertanian; (5) pertanian borjuis-kecil komersial digabungkan dengan industri borjuis-kecil; (6) kerja upahan di bidang pertanian digabungkan dengan kerja upahan di industri. Demikianlah perkembangan kapitalisme di Rusia hanya bisa didekati dengan ‘hukum perkembangan tak-berimbang dan tergabungkan’. Perkembangan ini berlangsung tidak-rapi, penuh kontradiksi dan membawa sisa-sisa relasi terdahulu, dengan interaksi masyarakat yang berada di tahapan-tahapan sosial yang berbeda menciptakan lompatan dan keberagaman historis. Dalam “Sejarah Revolusi Rusia”, Trotsky menulis:

“Negara terbelakang mengasimilasi penaklukan material dan intelektual negara maju. Tetapi ini tidak berarti bahwa itu mengikuti mereka seperti budak, mereproduksi semua tahapan masa lalu mereka … Pengulangan tahap-tahap budaya tertentu di pemukiman-pemukiman baru pada kenyataannya terikat dengan karakter provinsial dan episodik dari keseluruhan proses itu. Kapitalisme berarti, bagaimanapun, mengatasi kondisi tersebut. Ini mempersiapkan dan dalam arti tertentu mewujudkan universalitas dan keabadian perkembangan manusia. Dengan demikian pengulangan bentuk-bentuk pembangunan oleh bangsa-bangsa yang berbeda dapat ditiadakan. Meskipun terpaksa mengikuti negara-negara maju, negara terbelakang tidak mengambil hal-hal dalam urutan yang sama. Keistimewaan keterbelakangan sejarah–dan keistimewaan semacam itu memang ada–mengizinkan, atau lebih tepatnya memaksa, pengadopsian apapun yang sudah siap sebelum tanggal tertentu, melewatkan serangkaian tahap perantara…. Perkembangan bangsa-bangsa yang terbelakang secara historis pasti mengarah pada kombinasi yang aneh dari berbagai tahapan dalam proses sejarah. Perkembangan mereka secara keseluruhan memperoleh karakter gabungan yang tidak direncanakan dan kompleks.”

“Hukum sejarah tidak memiliki kesamaan dengan skema yang bertele-tele. Ketidakmerataan, hukum yang paling umum dari proses sejarah, terungkap dengan sendirinya secara paling tajam dan kompleks dalam nasib negara-negara terbelakang. Di bawah cambuk kebutuhan eksternal, budaya terbelakang mereka terpaksa membuat lompatan. Dari hukum ketidakrataan universal dengan demikian memperoleh hukum lain yang, karena tidak ada nama yang lebih baik, kita dapat menyebutnya hukum perkembangan gabungan–yang kami maksud adalah penarikan bersama dari berbagai tahap perjalanan, penggabungan dari langkah-langkah yang terpisah, campuran kuno dengan bentuk yang lebih kontemporer. Tanpa undang-undang ini, tentu saja, dalam seluruh konten materialnya, tidak mungkin untuk memahami sejarah Rusia, dan bahkan negara manapun dari kelas budaya kedua, ketiga atau kesepuluh…. Hubungan dengan perkembangan negara yang umum ini, reservoir dari mana kelas pekerja Rusia terbentuk bukanlah serikat pekerja, tetapi pertanian, bukan kota, tetapi negara. Terlebih lagi, proletariat di Rusia tidak muncul secara bertahap yang selama berabad-abad, memikul beban masa lalu seperti di Inggris, tetapi dalam lompatan yang melibatkan perubahan lingkungan yang tajam, ikatan, hubungan, dan pemutusan tajam dengan masa lalu. Fakta inilah–dikombinasikan dengan perlawanan tsarisme yang tercapai–yang membuat para pekerja Rusia ramah terhadap kesimpulan dan pemikiran revolusioner yang paling berani….”

Berdasarkan hukum perkembangan yang tak-berimbang dan tergabungkan, keterbelakangan historis tidaklah bersifat mekanis melainkan dialektis. Melalui keterhubungan dengan negeri-negeri maju–hubungan antara bagian dengan keseluruhan; negeri-negeri terbelakang dapat mengejar ketertinggalannya secepat kilat. Meskipun terdapat tahap-tahap perkembangan, tetapi pada titik tertentu tahap-tahapnya akan dilalui dengan lompatan. Perkembangan material dalam ruang sejarah yang hidup tidak saja mengandung gerak-evolusioner tetapi juga gerak-revolusioner. Proses evolusi, cepat atau lambat, pasti tiba di titik kritis. Pada momen inilah seluruh peristiwa dipercepat dan kesadaran yang konservatif berubah menjadi revolusioner.

Lompatan-lompatan yang terjadi di alam, masyarakat, dan dalam diri individu berlangsung melalui fleksibilitas kesadaran kolektif dan kekhususan perkembangan bagian-bagian dalam hubungannya dengan proses pembangunan secara keseluruhan. Ketika sistem kehidupan umat manusia berada di jalan buntu, dengan relasi produksi dan tenaga produktif yang sudah tidak-harmonis, maka dimulailah krisis yang akan membuka jalan menuju era revolusi sosial untuk menghancurkan belenggu-belenggu sosio-historis. Perang yang merupakan hasil dari kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat kelas, secara dialektis, muncul sebagai momen yang mempercepat peristiwa. Peperangan menyeret berbagai negeri yang tahap perkembangannya berbeda-beda ke medan adu-kekuatan yang luar biasa menguras sumber daya dan menggoncang tatanan yang ada.

Dalam Perang Krimea, keterbelakangan Rusia bukan saja membawanya pada kekalahan tetapi juga mengharuskannya untuk mengadopsi kebudayaan dan teknik dari negeri-negeri maju. Di tengah kecamuk peperangan, cara-cara hidup lama ditinggalkan dan yang baru berusaha ditemukan. Perang tidaklah sekadar menyeret lapisan-lapisan sosial ke medan pertempuran, melainkan pula meretakkan unit ekonomi paling dasarnya: keluarga. Sejak peperangan meletus, rumah-tangga pekerja dan plebeian menanggung dampak tak-terperikan. Kaum tani dan miskin bukan saja dibebani pajak perang secara arbitrer, namun lebih jauh dipaksakan mengikuti wajib militer dan diperlakukan sebagai umpan-umpan meriam. Perang menarik sejumlah besar laki-laki ke parit-parit dan mendorong perempuan untuk menggantikan posisi sosial-ekonomi yang ditinggalkan suami dan saudara lelakinya. Perang bertahun-tahun memporak-porandakan kekuasaan autokratik, hak-hak istimewa kelas, hingga bentuk-bentuk keluarga tradisional. 

Goncangan peperangan mempercepat pengikisan tradisi-tradisi masa lalu dan menyediakan pra-kondisi untuk revolusi sosial yang akan menggulingkan tatanan lama dan mendirikan tatanan baru. Perang menyatakan kejatuhan sistem sosial-ekonomi terdahulu, dengan melemahkan kekuasaan ekonomi-politik tsarisme dan menundukan Rusia sebagai negeri yang bergantung pada suntikan modal-asing dari negara-negara maju. Demikianlah perang menciptakan ruang yang menghubungkan antara isi utama dari krisis feodalisme Rusia dengan kecenderungan kapitalisme Eropa untuk memasuki tahapan tertingginya–imperialisme. Tahap-tahap perkembangan yang berbeda ini tidaklah dicampuradukan, melainkan digabungkan secara organik. Dalam penggabungan inilah Rusia mengalami loncatan historis: negeri terbelakang mendirikan pabrik-pabriknya tanpa melalui tahap-tahap perkembangan kapitalisme seperti negara-negara Barat; industri berskala besar tidaklah tumbuh secara organik dari kerajinan tangan dan manufaktur, melainkan didorong oleh ekspor-kapital.

Perang menarik Rusia ke dalam pusaran perekonomian dunia. Kontradiksi antara negeri terbelakang dan negeri maju berusaha dipecahkan dengan reforma-reforma yang mendorong Rusia untuk mengejar ketertinggalannya. Pada pertengahan 1860-an, rezim autokratik-liberal mulai mendirikan pabrik dan mendorong perkembangan kapitalisme di negerinya. Dengan sokongan modal-asing, Rusia mengembangkan produksi mesin berskala raksasa dan mengubah sebanyak mungkin pekerja-rumahan menjadi pekerja-upahan. Dalam “Perkembangan Kapitalisme di Rusia”, Lenin mencatat: Pasca-Reformasi–industri-industri tekstil, kayu, kimia, keramik, metalurgi, peternakan, dan makanan mengalami pertumbuhan pesat, dengan pepabrikan yang dimiliki oleh pedagang dan tuan-tanah atau bangsawan. Tahun 1866, Rusia telah mempunyai 77 pabrik dengan 4.000 pekerja laki-laki dan perempuan. Antara 1875 dan 1878, terdapat 167 perusahaan mekanis yang menggunakan 481 mesin uap di sektor pertekstilan. Memasuki 1890-an, proses industrialisasi menunjukkan kemajuan luar biasa: pabrik skala besar mencapai ratusan jumlahnya, dengan penggunaan ribuan mesin uap dan puluhan ribu pekerja.

Akhir abad ke-19, kapitalisme telah menjadi corak produksi yang dominan di Rusia. Meskipun secara politik tsar masih berkuasa, tetapi dalam aktivitas ekonominya relasi barang-dagangan adalah yang utama. Industri berskala besar membutuhkan sebanyak mungkin pekerja untuk menciptakan nilai-lebih dengan memproduksi komoditas dan merealisasikan nilai-lebih dalam arena pertukaran–pasar jual-beli. Demikianlah hubungan-hubungan feodal dan keberadaan rumah-tangga tradisional diremukkan. Lenin mengakui kalau pembangunan industri merupakan langkah progresif bagi perempuan di negeri terbelakang, tetapi dengan relasi kepemilikan pribadi dan sistem kerja upahan maka perempuan-perempuan pekerja justru mendapatkan beban-ganda. Ibu, gadis, dan anak-anak perempuan tidak sekadar dibebani kompleksnya pekerjaan rumah, melainkan pula dipekerjakan di pabrik-pabrik secara keji dan hina. Sejak usia 14, 12, bahkan lebih muda lagi; perempuan-perempuan dari keluarga pekerja dituntut bekerja hingga 18 jam sehari, diupah rendah, dan tanpa jaminan keselamatan kerja. Dalam “Perkembangan Kapitalisme di Rusia” diterangkanlah:

”Industri mesin skala besar, yang mengkonsentrasikan massa pekerja yang seringkali datang dari berbagai penjuru negeri, sama sekali tidak menoleransi masih adanya patriarkalisme dan ketergantungan pribadi, dan ditandai dengan ‘sikap yang benar-benar menghina masa lalu’. Pelanggaran terhadap tradisi yang sudah ketinggalan zaman inilah yang merupakan salah satu kondisi penting yang menciptakan kemungkinan dan membangkitkan perlunya pengaturan produksi dan kontrol publik atas produksi tersebut. Secara khusus, berbicara mengenai transformasi yang dilakukan oleh pabrik dalam kondisi kehidupan masyarakat, harus dinyatakan bahwa keterlibatan perempuan dan anak-anak dalam produksi, pada dasarnya, bersifat progresif.”

“Tidak dapat disangkal bahwa pabrik kapitalis menempatkan kategori-kategori populasi pekerja ini dalam kondisi-kondisi yang sangat sulit, dan bahwa bagi mereka khususnya perlu untuk mengatur dan mempersingkat hari kerja, untuk menjamin kondisi-kondisi kerja yang higienis, dan sebagainya; namun upaya untuk sepenuhnya melarang perempuan dan anak di bawah umur bekerja di industri, atau mempertahankan cara hidup patriarki yang melarang pekerjaan semacam itu, merupakan tindakan yang reaksioner dan utopis. Dengan menghancurkan isolasi patriarki dari kategori-kategori populasi yang sebelumnya tidak pernah keluar dari lingkaran sempit hubungan rumah tangga dan keluarga, dengan menarik mereka ke dalam partisipasi langsung dalam produksi sosial, industri mesin skala besar merangsang perkembangan mereka dan meningkatkan kemandirian mereka, dengan kata lain, menciptakan kondisi kehidupan yang jauh lebih unggul dibandingkan imobilitas patriarki dalam hubungan pra-kapitalis.”

Kapitalisme menghancurkan ikatan patriarkal untuk menyeret-keluar pekerja-rumahan menjadi pekerja-pabrik dan mengubah pekerja tradisional menjadi pekerja modern. Proses disintegrasi ini mengambil bentuk yang tidak-wajar dan menyakitkan. Kapitalisme menyingkirkan belenggu patriarkal guna memperlakukan perempuan dan anak seiras alat-alat kerja dan komoditas semata. Demikianlah borjuasi menegakkan institusi keluarganya di atas pendapatan perorangan dan membenamkan keluarga-keluarga proletariat dalam kubangan pelacuran umum yang nista. Berjalannya produksi berskala besar di tengah keterbelakangan Rusia menempatkan perempuan-perempuan pekerja sebagai lapisan yang paling menderita.

Hukum perkembangan yang tak-berimbang dan tergabungkan menampilkan dirinya dalam percepatan tempo industrialisasi di tengah keterbelakangan historis yang relatif. Proses ini berlangsung dramatis, karena penggabungan kondisi-kondisi eksploitasi kapitalis dengan tatanan feodalis-monarkis yang sekarat membawa kemajuan sekaligus memperdalam penindasan terhadap kaum tani dan perempuan. Pertumbuhan industri yang terlambat tapi berlangsung secara radikal, dengan meremukkan corak produksi tradisional dan keluarga-keluarga patriarkal, menempatkan massa tani dan perempuan dalam keberadaan setengah-perbudakan dan warga-negara tertindas. Dan, perempuan pekerja lebih khususnya, diseret dalam kontradiksi yang semakin brutal di rumah-rumah dan pabrik-pabrik.

Tanpa revolusi yang dipimpin oleh sebuah kelas revolusioner, maka kontradiksi-kontradiksi itu takkan pernah diselesaikan. Meskipun kekuasaan feodalis-monarkis mendera kebangkrutan dan hubungan-hubungan patriarkal dihancurkan, tetapi dengan kecenderungan kapitalisme untuk bergerak ke arah kemunduran maka negara-negara terbelakang tidak akan sanggup mencapai tingkatan negara-negara maju. Ketika kapitalisme tiba di jalan buntu perkembangannya, pusat-pusat kapitalis-lama secara tak-terelakkan menghancurkan periferi-periferi kapitalis-baru. Demikianlah negara terbelakang tak mungkin lagi melangkah-maju dengan berbasiskan kapitalisme. Di bawah sebab-sebab umum dan khusus inilah proletariat–yang berusia masih sangat muda dan terbebas dari konservatisme ekonomi kapitalis–terdorong oleh seluruh situasi historisnya, yang merupakan perpaduan antara kondisi material secara nasional dan internasional, untuk bergerak lebih jauh daripada yang dimungkinkan oleh fakta-fakta perekonomian negerinya. Inilah dasar obyektif mengapa kelas proletar di negeri terbelakang, siap atau tidak-siap, harus menempuh perjuangan untuk transformasi sosialis-dunia demi mengejar ketertinggalan ekonominya dan memajukan perkembangan historisnya.

“Manusia membuat sejarahnya sendiri, namun belum dengan kemauan kolektif atau rencana kolektif atau bahkan dalam masyarakat tertentu yang telah ditentukan secara pasti. Upaya-upaya mereka berbenturan, dan karena alasan itulah semua masyarakat diatur oleh kebutuhan, yang dilengkapi dan muncul dalam bentuk-bentuk kebetulan. Kebutuhan yang muncul di tengah-tengah semua kecelakaan pada akhirnya adalah kebutuhan ekonomi.” (Plekhanov)

“Berbeda dengan proses-proses alam, revolusi dibuat oleh manusia dan melalui manusia. Tapi di dalam revolusi manusia juga bertindak di bawah pengaruh kondisi-kondisi sosial yang tidak mereka pilih secara bebas, tetapi diturunkan dari masa lalu dan secara imperatif menunjukkan jalan yang harus mereka ikuti. Untuk alasan ini, dan hanya untuk alasan ini, sebuah revolusi mengikuti hukum-hukum yang pasti.” (Trotsky)

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

(Berlanjut)

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai