“Pada momen yang menentukan, dengan penuh keyakinan Lenin dan kamerad-kameradnya menawarkan satu-satunya solusi untuk melangkah maju (‘Semua Kekuasaan untuk Soviet’)…. Terlebih lagi, kaum Bolshevik segera menetapkan tujuan perebutan kekuasaan ini, yakni menjalankan program revolusioner yang lengkap dan berjangkauan luas: bukan untuk mempertahankan demokrasi borjuis, tetapi untuk menegakkan kediktatoran proletariat guna mewujudkan sosialisme. Dengan demikian mereka memenangkan bagi diri mereka sendiri kehormatan historis yang tak akan pernah luntur sebagai yang pertama memproklamirkan tujuan akhir sosialisme sebagai program langsung politik praktis.” (Rosa Luxemburg)
Vladimir Ilyich Ulyanov (Lenin) telah tiada, tetapi ide dan metodenya abadi sebagai senjata perjuangan kelas pekerja sedunia. Lenin merupakan sosok revolusioner sekaliber yang mendedikasikan seluruh kehidupan sadarnya untuk membangun partai revolusioner dan revolusi proletariat. Ini bukanlah sebuah pekerjaan sederhana dan gampang, karena menantang maut, menguras waktu dan energi yang besar. Diperlukan pemahaman dan keyakinan teoretik, tekad dan semangat yang kuat untuk mengambil langkah tersebut. Lenin telah mempersiapkan kemenangan Revolusi Rusia. Dia berhasil menunjukkan kalau kapitalisme dapat digulingkan dan faktor subyektif bisa memainkan peran yang menentukan dalam sejarah.
Lenin merupakan pemimpin yang diciptakan oleh gerakan buruh Rusia, produk dari seluruh periode sejarah tertentu, dan mempersonifikasikan kecerdasan lapisan proletariat paling maju. Agar kepribadian luar biasa seperti Lenin terbentuk, maka ribuan pendahulu dan orang-orang sezamannya haruslah memiliki dan menanamkan karakter tersebut dalam periode sejarah yang panjang. Kualitas pribadinya bukan merupakan keagungan individu melainkan kegemilangan kolektif. Dia adalah hasil dari membangun partai revolusioner selama seperempat abad lamanya. Pembangunan Bolshevisme merupakan upaya sadar dan terorganisir untuk mempersiapkan individu-individu yang akan memainkan peran menentukan ketika momen revolusi tiba. Partai revolusioner ialah organisasi politik tertinggi yang memperjuangkan kepentingan kelas proletar secara menyeluruh. Keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya dan menguatkan keseluruhan berarti memperkuat bagian-bagian yang ada. Secara dialektis, dengan membangun Bolshevik maka Lenin bukan saja mengajar kamerad-kameradnya tapi juga mendidik dirinya menjadi revolusioner profesional. Dalam “Kelas, Partai, dan Kepemimpinan”, Leon Trotsky menulis:
“Faktor kolosal dalam kematangan proletariat Rusia pada bulan Februari atau Maret 1917 adalah Lenin. Dia tidak jatuh dari langit. Dia mempersonifikasikan tradisi revolusioner kelas pekerja. Agar slogan-slogan Lenin menemukan jalannya ke massa, harus ada kader, meskipun jumlahnya kecil pada awalnya; harus ada kepercayaan dari para kader terhadap kepemimpinan, kepercayaan yang didasarkan pada seluruh pengalaman masa lalu … Peran dan tanggung jawab kepemimpinan dalam era revolusioner sangatlah besar.”
Lewat “Brumaire ke-18 dari Loius Bonaparte”, Karl Marx menjelaskan: ‘manusia membuat sejarah mereka sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya sesuka mereka; mereka tidak membuatnya dalam keadaan yang dipilih sendiri, tetapi dalam keadaan yang sudah ada, diberikan dan ditransmisikan dari masa lalu’. Demikianlah peran individu tidaklah sepenuhnya bebas, karena dikondisikan oleh peristiwa dan kondisi masyarakat terdahulu. Lenin, saat Revolusi Oktober, merupakan pemimpin revolusioner yang kualitas pribadinya–kemampuan teoritis, keyakinan, keberanian, kedisiplinan, komitmen, keteguhan, dan tekadnya–merupakan hasil dari pembangunan partai revolusioner dan selama momen-momen kritis historis menjadi faktor menentukan yang mencondongkan perimbangan kekuatan kelas ke satu arah tertentu.
Antara Maret dan April 1917, para pemimpin interior utama Bolshevik dirundung keragu-raguan yang serius. Di Petrograd, Stalin dan Kamenev tidaklah memiliki keyakinan yang kuat terhadap kemampuan proletariat dalam merebut kekuasaan. Pada periode kritis, kelemahan kepemimpinan menyeret Pravda untuk membela kebijakan Menshevik: menunda revolusi proletariat karena terlalu dini untuk buruh berkuasa. Dari pengasingannya di Swiss, Lenin menerbitkan pernyataan tegas: ‘kelas pekerja, dengan memimpin kaum tani miskin, dapat merebut kekuasaan melalui Soviet’. Kekuasaan Soviet, bagi Lenin: tidak hanya akan ‘membebaskan kaum tani, membawa perdamaian dan roti untuk rakyat’, tetapi sekaligus ‘melaksanakan tugas-tugas sosialis’. Pada sebuah surat perpisahannya untuk pekerja Swiss, Lenin menulis: ‘jadikan revolusi kita sebagai pendahuluan dari revolusi sosialis dunia’.
Awal April, Lenin tiba di Rusia dan segera mengusung tesis-tesisnya. Sekembalinya di interior, Lenin melihat bahwa badan-badan kepemimpinan partai telah digelayuti oleh elemen-elemen inersia dan konservatisme. Mereka melupakan tugas-tugas kelasnya dan membuat partai revolusioner beresiko menjadi alat tidak-langsung bagi kepentingan kelas-kelas asing. Di Petrograd, sikap itu terekspresi melalui kepemimpinan Stalin, Kamenev, Zinoviev, dan Bukharin. Mereka berkeras kepala mempertahankan slogan lama yang tidak dapat lagi dipakai untuk memajukan perjuangan kelas–‘Kediktatoran Demokratik-Revolusioner Buruh dan Tani’.
Perimbangan kekuatan kelas berubah; dengan pendulum yang berayun tajam ke kiri dan kaum buruh yang sedang bangkit. Lenin menyadari bahwa dengan menggunakan kebiasaan dan metode kerja terdahulu, maka partai akan tercabik-cabik oleh krisis dan massa akan melewati kepemimpinan serta bergerak menuju kekalahan. Pada sebuah tulisan mengenai “Slogan”, Lenin menulis: ‘sering kali, ketika sejarah mengambil belokan tajam, bahkan partai-partai yang progresif tidak mampu beradaptasi pada situasi yang baru ini dan mengulang slogan-slogan yang sebelumnya tepat tetapi sekarang telah kehilangan semua maknanya–kehilangan semua makna ini dengan “tiba-tiba” seperti halnya belokan tajam di dalam sejarah adalah “tiba-tiba”.’ Dalam perjuangan mempersenjatai-ulang Bolshevik, Lenin bertarung melawan Kepemimpinan ‘Bolshevik tua’:
“Orang yang sekarang hanya berbicara tentang ‘kediktatoran demokratik-revolusioner dari proletariat dan kaum tani’ sudah ketinggalan zaman, oleh karena itu, dia sebenarnya telah beralih ke borjuasi kecil melawan perjuangan kelas proletar; orang itu harus diserahkan ke museum barang antik pra-revolusioner ‘Bolshevik’ (mungkin disebut arsip ‘Bolshevik tua’).”
Akhir April, sebuah Konferensi Bolshevik dilaksanakan dan Tesis April memenangkan persetujuan mayoritas. Dipimpin oleh Lenin, partai menetapkan tugas untuk secara sabar menjelaskan pentingnya proletariat merebut kekuasaan–‘Semua Kekuasaan untuk Soviet’. Menjelang Oktober, pengaruh Bolshevisme meningkat drastis dalam Soviet. Dengan taktik yang terampil dan fleksibel, persoalan revolusi ditekankan secara politik sebelum mengambil langkah-langkah militer. Pada 25 Oktober, barulah pemberontakan bersenjata diluncurkan dan kekuasaan borjuis terjungkal secepat kilat. Menyeroti peristiwa ini, Perhimpunan Sosialis Revolusioner (PSR)–dalam dokumennya tentang “Masalah Kongres Soviet”–menjelaskannya dengan baik:
“Perebutan kekuasaan yang sebenarnya berlangsung begitu mulus sehingga banyak orang yang tidak menyadarinya. Untuk alasan ini, musuh-musuh Revolusi Oktober mencecarnya sebagai sebuah kudeta. Sebenarnya, ada dua alasan mengapa perebutan kekuasaan ini berjalan begitu mulus–yang pertama alasan teknis, yang kedua alasan politik. Persiapan teknis untuk serangan terakhir ini dilakukan dengan cermat oleh Komite Militer Revolusioner di bawah kepemimpinan Trotsky. Seperti halnya dalam peperangan, aturan dasarnya adalah memusatkan seluruh kekuatan, pada waktu yang menentukan dan pada titik yang menentukan, dan kemudian memukul dengan keras. Tetapi ini saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah taktik dalam pemberontakan. Unsur kejutan dan manuver guna menipu musuh mengenai maksud sebenarnya kaum revolusioner memiliki peran di sini, seperti halnya dalam operasi militer manapun. Setiap langkah disajikan sebagai langkah defensif, tetapi dalam praktiknya, karakter pemberontakan ini tentu saja ofensif, yang menyergap dengan lincah untuk menguasai satu-demi-satu posisi, dna membuat musuh tidak sadar dan lengah…. Alasan sebenarnya mengapa pemberontakan ini dapat dituntaskan dengan begitu cepat dan hampir-hampir tanpa pertumpahan darah adalah politik, dan bukanlah militer ataupun teknis. Sembilan persepuluh dari tugas pemberontakan telah dituntaskan sebelumnya dengan memenangkan mayoritas besar di dalam Soviet-Soviet Buruh dan Tentara. Pada momen kebenaran, Pemerintan Sementara, seperti Rezim Tsar pada bulan Februari, tidak memiliki satupun pendukung yang siap membelanya.”
Tanggal 26 Oktober, keberhasilan Komite Militer Revolusioner diumumkan dalam Kongres Soviet. Semua kekuasaan dipindahkan ke tangan Soviet. Lenin menegaskan: ‘kami akan terus membangun tatanan sosialis’. Demikianlah Pemerintahan Soviet dibentuk dan Negara Buruh mengeluarkan beragam dekrit: mulai dari yang menyangkut perdamaian dan penghapusan diplomasi rahasia, tanah untuk tani dan hak bangsa menentukan nasib sendiri, kontrol pekerja dan hak penarikan kembali atas semua perwakilan, kesetaraan penuh antara laki-laki dan perempuan, perlindungan terhadap hak-hak LGBT, hingga pemisahan total gereja dari negara. Revolusi Oktober adalah peristiwa kolosal yang luar biasa megah dan menggugah. Trotsky melukiskannya sebagai momen ‘kemenangan kesadaran manusia atas kekuatan buta yang ada di alam, masyarakat, dan bahkan dalam dirinya sendiri’. Seluruh dunia tertuju padanya dan elemen-elemen kontra-revolusi bersekutu untuk menghancurkannya.
Segera setelah berdirinya Negara Buruh yang pertama dalam sejarah, kelas penguasa dari pelbagai negeri merasakan kecemasan mendalam dan tiada tara. Mereka mengerti kalau Revolusi Oktober mempunyai resonansi yang mendunia. Penggulingan kapitalisme di Rusia menjadi tauladan, mengobarkan semangat, dan memberi inspirasi terhadap kaum tereksploitasi dan tertindas di seluruh dunia. Demikianlah serangan-serangan brutal diarahkan ke jantung revolusi. Borjuasi dan sekutu-sekutu kontra-revolusinya tidak sekadar mengamuk menggunakan senjata militer, tetapi juga beronggok media tipu-daya ideologis. Soviet, Bolshevik, dan pemimpin-pemimpin Revolusi Oktober dibombardir, diisolir, dicercah dan difitnah begitu rupa. Kaum revolusioner dituduh sebagai golongan yang haus kekerasan dan darah. Kaum revolusioner dituding menipu dan menunggangi massa. Kaum revolusioner dicap kriminal bengis, culas dan buas. Kaum revolusioner dikutuk dan dimusuhi secara beringas. Dalam “Negara dan Revolusi”, Lenin mengingat:
“Selama masa hidup kaum revolusioner besar, kelas penindas selalu melakukan penganiayaan tanpa henti kepada mereka, dan menerima ajaran mereka dengan permusuhan yang paling biadab, kebencian yang paling hebat, dan kampanye kebohongan dan fitnah yang kejam.”
Lenin–dengan posisinya selaku Kepala Pemerintahan Soviet, peran dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin Bolshevik dan Revolusi Oktober–merupakan sasaran kebohongan yang paling utama. Dirinya tidak hanya dituding sebagai agen Jerman, melainkan pula penganjur kudeta dan terorisme. Bahkan setelah kematiannya, sejarawan borjuis, kaum liberal, dan musuh-musuh Bolshevik-Leninis terus-menerus melancarkan serangannya. Mereka mendekati Lenin, pemikiran dan tradisi-tradisi perjuangannya tidak secara jujur dan rasional, melainkan penuh dengan stigma, prasangka, dan pemalsuan-pemalsuan sejarah. Setiap goresan pena mereka bukan saja menyudutkan kaum revolusioner tapi terutama mengikis ide-ide dan metode revolusionernya. Demikianlah sepeninggal Lenin, kaum epigon dan Stalinis mencemari teori dan merubah orientasi perjuangan Bolshevisme-Leninisme. Nadezhda Krupskaya–kamerad sekaligus pasangan hidup Lenin–memahami itu dengan baik. Dalam beberapa pembicaraannya dengan Trotsky, Krupskaya kerap berucap:
“Ada saat-saat dalam sejarah ketika ajaran para revolusioner besar telah terdistorsi setelah kematian mereka. Manusia telah menjadikan mereka ikon yang tidak berbahaya, dan, sambil menghormati nama mereka, mereka menumpulkan sisi revolusioner dari ajaran mereka.”
Sampai sekarang, harta karun teori dan tradisi revolusioner Bolshevisme-Leninisme menjadi sasaran kebohongan, pemalsuan, dan penyangkalan. Dalam mencemarkan peran dan tanggung jawab Lenin selama memimpin Bolshevik, Pemerintahan Soviet, dan Revolusi Oktober–sejarawan Hellen Rappaport bahkan menulis buku berjudul: “Konspirator: Lenin dalam Pengasingan”. Dengan perspektif borjuis-kecil radikalnya, Rappaport meredusir sosok Lenin dan partainya bukan sekadar totaliter tapi lebih jauh mendistorsi perjuangan revolusioner sebagai konspirasi: kudeta minoritas atau rencana rahasia. Lenin ditangannya disulap menjadi Blanqui dan Bakunin yang memperjuangkan revolusi berdasarkan persekongkolan individu, propaganda lewat perbuatan, dan metode-metode sabotase yang dilakukan oleh borjuis-kecil dan lumpen-proletar.
Dalam memfitnah Lenin dan Bolshevik, para pemikir liberal, feminis, reformis dan oportunis menyemprotkan pernyataan yang serupa dengan kaum sektarian, ultra-kiri, anti-otoriter dan anarkis. Mereka menuding kepemimpinan revolusioner Bolshevisme sebagai penghancur kebebasan individu, penghambat kreativitas, dan mempersiapkan jalan menuju totaliterianisme. Mereka tidak mengerti tentang demokrasi internal dan disiplin partai revolusioner. Mereka memandang sentralisme demokratik sebagai persoalan organisasional, bukan politik. Mereka tak meninjau persoalan secara menyeluruh. Mereka pikir kebangkitan massa dapat ditentukan seenaknya dan sosialisme bisa dibangun di satu negara saja. Tanpa melihat kondisi material secara internasional dan nasional, hingga pasang dan surut perjuangan kelas; mereka semua bersepakat bahwa partai yang tersentral akan berakhir dengan kediktatoran dan Stalinisme merupakan hasil dari sentralisasi tingkat tinggi. Mereka membayangkan revolusi sebagai sesuatu yang sederhana dan abstrak. Mereka menolak otoritas revolusioner. Dalam “Tentang Otoritas”, Engels menulis:
“Semua sosialis sepakat bahwa negara politik, dan dengannya otoritas politik, akan hilang sebagai akibat dari revolusi sosial yang akan datang, yaitu, fungsi publik akan kehilangan karakter politiknya dan akan diubah menjadi fungsi administratif sederhana untuk mengawasi masyarakat. kepentingan masyarakat yang sebenarnya. Tetapi kaum anti-otoriter menuntut agar negara politik dihapuskan sekaligus, bahkan sebelum kondisi sosial yang melahirkannya dihancurkan. Mereka menuntut agar tindakan pertama revolusi sosial adalah penghapusan otoritas. Apakah tuan-tuan ini pernah melihat revolusi? Sebuah revolusi tentu saja merupakan hal yang paling otoriter; itu adalah tindakan di mana satu bagian dari populasi memaksakan kehendaknya pada bagian lain melalui senapan, bayonet, dan meriam–cara otoriter, jika memang ada; dan jika pihak yang menang tidak ingin bertempur dengan sia-sia, ia harus mempertahankan kekuasaan ini melalui teror yang diilhami oleh senjatanya di kalangan reaksionis.”
Pada setumpuk kritikannya, borjuis-kecil menampilkan mentalitas dan pemujaan terhadap metode individualistis. Mereka menginginkan setiap anggota, cabang atau komite-komite lokal mempertahankan otonominya masing-masing. Mereka menyukai organisasi yang bersifat horizontal dan menekankan kebebasan individual. Mereka menyangkal prinsip sentralisme demokratik yang ditegakkan dalam membangun kepemimpinan revolusioner. Kepemimpinan ini dipilih oleh badan-badan demokratik bukanlah untuk mewakili jumlah bagian-bagian yang ada melainkan menjadi perwakilan dari organisasi secara keseluruhan. Pembangunan Bolshevisme dilakukan dari atas ke bawah, bukan sebaliknya. Inilah mengapa kepemimpinan tidak mencerminkan kesadaran individual dari lapisan-terbelakang, tetapi kesadaran kolektif dari lapisan-termaju.
Kepemimpinan revolusioner bertumpu pada otoritas politik dan moral untuk memperjuangkan kepentingan kelas buruh dengan mempersiapkan kemenangan revolusi proletariat-sosialis. Kepemimpinan revolusioner terdiri dari elemen-elemen yang paling berdedikasi dan sudah mencapai level teori yang memadai. Kepemimpinan bertugas mengambil sikap, menentukan kebijakan, dan tindakan-tindakan untuk memajukan perjuangan organisasi. Dengan menguatkan kepemimpinan maka setiap individu berarti memperkuat dirinya, karena kepemimpinan yang memadai dapat memajukan organisasi secara menyeluruh. Inilah hubungan antara massa dan pelopor dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner. Setiap individu yang bergabung dengan organisasi revolusioner atau embrio partai revolusioner bukanlah elemen pasif. Perkembangan mereka berlangsung dialektis, bukan mekanis. Organisasi atau partai takkan dapat menjamin perkembangan mereka tanpa individu-individu itu aktif membangun kepemimpinan revolusioner.
Partai revolusioner dibangun dengan menekankan persoalan politik, bukan organisasional. Partai Bolshevik bukanlah prototipe masyarakat masa depan, melainkan alat untuk mencapainya. Individu-individu yang menjadi anggota organisasi atau partai revolusioner tidak akan mencapai kemajuan apa-apa kecuali dengan membangun kepemimpinan revolusioner secara serius dan bersungguh-sungguh. Demikianlah pembangunan Bolshevisme adalah sesuatu yang berlangsung dinamis dan konkret. Pembangunannya dilakukan oleh manusia-manusia yang nyata dan hidup: elemen-elemen sosial yang berjuang menggulingkan kapitalisme di tengah tekanan bertubi-tubi dari masyarakat kapitalis. Inilah yang disangsikan gerombolan pemfitnah Lenin dan Bolshevik. Mereka ingin menggantikan sentralisme-demokratik dengan mentalitas dan metode individualistik. Di tengah heterogenitas dan kelembaman kesadaran, mereka menuntut kebebasan individu secara mutlak. Dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner tuntutan macam ini merupakan kekeliruan besar: individualisme dapat meretakkan kohesi dan melemahkan perjuangan kelas proletar. Individualisme bahkan sangat berbahaya jika dijadikan prinsip dan metode organisasional dalam menghadapi rezim autokratik-liberal. Dalam “Sebuah Surat untuk Seorang Kamerad mengenai Tugas-Tugas Organisasional Kita”, Lenin menjawab kritikan-kritikan pretensius borjuis-kecil:
“Seluruh seni dalam menjalankan sebuah organisasi rahasia terletak dalam kemampuan untuk menggunakan segala hal yang tersedia, untuk ‘memberikan semua orang sesuatu untuk dilakukan’, dan pada saat yang sama mempertahankan kepemimpinan dari seluruh gerakan, bukan karena kita punya kekuasaan atau wewenang di tangan, tetapi karena kita memiliki otoritas, energi, pengalaman yang lebih besar, kepandaian yang lebih beraneka ragam, dan kecakapan yang lebih baik. Pernyataan ini saya buat untuk menjawab keberatan yang biasanya kita dengar kalau sentralisasi yang ketat akan dengan mudah merusak gerakan bila pusat diisi dengan orang yang tidak cakap dan memiliki wewenang yang besar. Hal seperti ini mungkin saja terjadi, tetapi ini tidak dapat diatasi dengan prinsip pemilihan dan desentralisasi, yang penerapannya sama sekali mustahil dan bahkan berbahaya untuk kerja revolusioner yang dilakukan di bawah rezim autokrasi. Aturan-aturan partai juga tidak akan bisa mencegah ini. Cara mengatasi ini hanya dapat dilakukan dengan ‘tekanan yang bersahabat’, dimulai dengan resolusi dari tiap-tiap sub-grup, disusul dengan resolusi ke Organ Sentral dan Komite Pusat, dan berakhir (dalam kasus terburuk) dengan pemecatan orang yang bersangkutan. Komite harus berusaha sebisa mungkin untuk membagi-bagikan tugas, dengan mempertimbangkan bahwa tiap-tiap aspek kerja revolusioner membutuhkan kemampuan yang berbeda, dan kadang-kadang seorang yang sama sekali tidak berguna sebagai organisator mungkin sangat cakap sebagai seorang agitator, atau seorang yang tidak cakap dalam melakukan kerja yang benar-benar rahasia dapat berperan menjadi seorang propagandis yang ulung, dan sebagainya.”
Di bawah kapitalisme-tsarisme, bukan kebebasan yang harus diutamakan melainkan kesadaran. Selama borjuasi masih berkuasa dan masyarakat-kelas belum runtuh, maka kebebasan bukanlah kebebasan-semua-orang melainkan kebebasan-kelas. Dalam masyarakat kapitalis, kekayaan material dinikmati sepenuhnya oleh pemilik alat produksi dengan membatasi akses kaum buruh dan keluarganya. Ketika kebutuhan-kebutuhan hidup tidak secara leluasa diakes oleh umat manusia, maka takkan ada yang namanya kebebasan sejati. Di alam keperluan, kesadaran lebih penting ketimbang kebebasan. Orang-orang bebas apabila mereka sudah mengakhiri persoalan keperluannya. Takkan ada seorangpun yang benar-benar bebas selama kebutuhan-kebutuhan material umat manusia belum terpenuhi dengan sepenuh-penuhnya. Dalam masyarakat kapitalis, kebebasan mutlak tidak-terpikirkan sama sekali. Yang ada hanyalah kebebasan di mana seseorang menginsafi ketiadaan kehendakbebasnya. Lewat “Peran Individu dalam Sejarah”, Plekhanov secara dialektis mengistilahkannya sebagai kebebasan yang berasal dari ‘keinsafan atas keniscayaan’:
“Ketika keinsafan akan ketiadaan kehendak bebas saya menunjukkan dirinya pada saya hanya dalam bentuk kemustahilan subyektif dan obyektif untuk bertindak berbeda dari apa yang telah saya lakukan, dan ketika, pada saat yang sama, tindakan-tindakan saya bagi saya adalah tindakan yang paling diperlukan dari semua tindakan lainnya yang mungkin, maka dari itu di dalam pikiran saya keniscayaan menjadi teridentifikasi dengan keniscayaan; dan maka dari itu, saya tidak-bebas hanya dalam artian bahwa saya tidak dapat mengganggu keselarasan antara kebebasan dan keniscayaan ini, saya tidak dapat mempertentangkan mereka satu sama lain, saya tidak dapat merasakan belenggu keniscayaan. Tetapi ketiadaan kebebasan seperti ini pada saat yang sama merupakan manifestasinya yang paling penuh.”
Kebebasan berarti keinsafan akan keniscayaan. Seseorang bebas apabila dia bertindak sesuai hukum-hukum umum perkembangan sejarah yang ditentukan oleh perkembangan tenaga produktif dan hubungan timbal-balik antar-manusia dalam proses produksi. Kebebasan macam ini menyaratkan kesadaran. Tanpa menyadari posisi sosial-ekonominya, mengukur kekuatan dirinya, mengetahui kepentingan kelasnya dan mengambil peran-peran historis yang paling memungkinkan, maka individu mendapati hidupnya tidak-bebas dan sia-sia. Kesadaran takkan pernah menentukan keberadaan sosial siapapun, tetapi dapat membebaskan manusia dari belenggu kekuatan buta yang ada di alam, masyarakat, dan dalam dirinya sendiri. Tidak ada momen revolusioner yang paling penting selain berkembangnya bahan organik dari bahan non-organik, di mana materi menjadi sadar-diri; seluruh sejarah umat manusia adalah perjuangan memenuhi kebutuhan hidup dan mengangkat kehidupannya di atas tingkatan hewan.
Dalam masyarakat kapitalis, tuntutan-tuntutan pemenuhan kebutuhan menekan semua lapisan sosial yang memproduksi kekayaan material masyarakat. Kelas perkeja dan keluarganya ditekan bukan saja dalam fakultas kehendak, tetapi juga pikiran dan perasaan-perasaan terdalam kemanusiaannya. Waktu kerja yang begitu panjang, dengan gaji yang sedikit, dan beban yang berlipat ganda, tanpa perhatian atas kesehatan dan keselamatan membelenggu perkembangan tenaga produktif umat manusia. Di alam kebutuhan, tidak ada pilihan selain bekerja pada kapitalisme. Mereka yang tak-memiliki alat produksi tidaklah bebas memenuhi keperluannya; mereka harus bekerja dengan menjadi pekerja-upahan untuk mempertahankan hidupnya. Dengan menjual kemampuan kerjanya, individu-individu pekerja terlibat dalam kegiatan produksi borjuasi dan terhubung dengan pekerja-pekerja lainnya menjadi sebuah kesatuan yang utuh. Dalam aktivitas produksinya, kaum buruh harus bertindak secara kolektif bukan sekadar untuk berproduksi tapi juga membela kepentingannya.
Individualitas bukanlah karakter kaum buruh, melainkan kecenderungan borjuis-kecil yang terombang-ambing sebagai kelas antara. Berkepemilikan skala kecil, mereka merasa mempunyai sedikit kebebasan dan menuntut kebebasan yang lebih besar untuk memperbesar kepemilikannya. Keberadaan sosial proletariat tidaklah seperti mereka. Proletar tidak berkepentingan pada kepemilikan pribadi atas alat produksi, baik yang berskala besar maupun kecil. Proletariat memiliki kepentingan akan kepemilikan komunal yang hanya dapat diwujudkan dengan menghapuskan syarat keberadaan borjuis melalui perebutan kekuasaan dan transformasi sosialis. Dalam memperjuangkan kepentingan kelasnya, proletar harus membangun kekuatan dengan berorganisasi dan bergerak ke arah Marxisme. Proletariat membutukan sebuah partai yang dipandu dengan teori yang paling maju. Tanpa organisasi dan kepemimpinan revolusioner, individu-individu pekerja takkan pernah bisa menggulingkan kapitalisme dan menegakkan sosialisme. Organisasi dan kepemimpinan macam ini tidak dapat dibangun dengan mengandalkan kebebasan tapi kesadaran. Kesadaran memang tertinggal di belakang peristiwa, tetapi bukan berarti tidak bisa mengejarnya. Walaupun kesadaran sangat konservatif tapi selalu berpotensi menjadi radikal dan revolusioner. Kesadaran yang diperlukan dalam membangun partai revolusioner–untuk memimpin organisasi massa proletar–adalah kesadaran revolusioner.
Kesadaran revolusioner tidaklah secara otomatis diperoleh dari mobilisasi massa, aktivitas kampanye, atau advokasi-advokasi kasus. Kesadaran revolusioner hanya bisa dicapai melalui pengalaman dan fakta-fakta material yang telah diangkat ke tingkat teoretik. Bolshevisme merupakan dasar paling teguh dari Marxisme, yang lahir dari kesatuan teori-praktek dalam rangkaian pengalaman perjuangan kelas buruh dan diekspresikan ke bidang teori. Setelah menjadi teori, maka Bolshevisme terangkat di atas perjuangan massa dan menjadi wawasan teoritis yang harus disuntikkan kembali ke dalam perjuangan massa. Bolshevisme adalah senjata moral dan politik bagi perjuangan kelas revolusioner yang akan menjadi kekuatan material apabila telah mencengkeram massa. Bolshevisme memberikan kepastian terhadap perjuangan untuk revolusi proletariat-sosialis. Bolshevik, proletar Rusia, Lenin dan kamerad-kameradnya telah membuktikan kebenaran Marxisme.
Berlandaskan teori yang benar, dengan program dan orientasi yang jelas, serta taktik yang fleksibel–mereka menunjukkan keyakinan, kesabaran, kedisiplinan, militansi, keterbukaan pikiran dan perasaan cinta yang mendalam pada perjuangan untuk membangun masa depan umat manusia. Berkait perjuangan ini, Trotsky berucap: ‘pengabdian pada perjuangan revolusioner massa tidak mungkin tanpa pemahaman teoritis tentang hukum perjuangan revolusioner ini. Pengabdian revolusioner hanya mungkin jika seseorang mendapatkan kepastian bahwa perjuangannya masuk akal, memadai; bahwa itu sesuai dengan tujuannya. Kepastian seperti ini hanya bisa diciptakan oleh wawasan teoritis ke dalam perjuangan kelas’. Dalam sebuah tulisan mengenai hidupnya–yang merekam perkembangan politik dan moralnya–terutama mengenai kesatuan teori-praktik dalam perjuangannya bersama kamerad-kamerad Bolshevik, Trotsky lebih jauh menjelaskan bagaimana kesadaran revolusioner diperoleh, dengan mensubordinasi kebebasan pada perjuangan kelas revolusioner; dengan memperkuat keseluruhan yang akan menguatkan bagian-bagian:
“Tidak ada tugas yang lebih besar di bumi, partai kami menuntut dari kami supaya kami memberikan diri kami sepenuhnya dan secara keseluruhan. Tapi sebagai gantinya, itu memberikan kita pemenuhan tertinggi. Kesadaran bahwa seseorang berpartisipasi dalam membangun masa depan yang lebih baik. Dan di pundaknya terdapat partikel harapan umat manusia. Dan agar hidup kita tidak sia-sia.”
Kesadaran revolusioner tidak diperoleh secara spontan, tetapi melalui pengorganisasian sebuah partai revolusioner. Dalam proses inilah teori dan praktik dipadukan secara dialektis. Partai revolusioner merupakan memori kolektif dan gudang senjata teoritis dari perjuangan kelas proletar. Marx pernah berucap: ‘teori dan filsafat revolusioner hanya berguna apabila diubah menjadi kepemimpinan revolusioner’. Dengan mendedikasikan hidupnya dalam pembangunan Bolshevisme, Lenin maupun Trotsky mencapai keteguhan keyakinan dan beroleh harapan yang terang akan masa depan perjuangannya. Kualitas Kepemimpinan Bolshevik dalam membawa perjuangan kelas proletar sampai ke titik kemenangan revolusi menjadi sumber inspirasi bagi kaum buruh sedunia. Pada sebuah penilaiannya mengenai Revolusi Oktober, Rosa Luxemburg berkata:
“Lenin dan Trotsky, dan kamerad-kamerad lainnya telah menunjukkan keberanian, wawasan revolusioner, dan konsistensi selama momen historis ini. Semua kehormatan dan kapasitas revolusioner yang tidak dimiliki oleh Sosial-Demokrat Barat telah diwakili oleh kaum Bolshevik. Pemberontakan Oktober mereka bukan hanya keselamatan untuk Revolusi Rusia saja, tetapi juga keselamatan bagi sosialisme internasional…. Lenin dan Trotsky dan kamerad-kamerad mereka adalah yang pertama melangkah maju menjadi teladan bagi proletariat seluruh dunia; mereka masihlah satu-satunya yang sampai sekarang mampu menyerukan pekikkan Perang Hutten: ‘saya telah berani!’ Inilah yang esensial dan abadi dalam kebijakan Bolshevik. Dengan cara ini, mereka telah memberikan pelayanan yang historis dan abadi dengan memimpin proletariat dunia dalam menaklukkan kekuasaan politik dan menempatkan secara praktis problem realisasi sosialisme, dan mengambil langkah besar dalam menuntaskan antagonisme antara kapital dan buruh di seluruh dunia. Di Rusia, problem ini hanya dapat diajukan. Ini tidak dapat diselesaikan di Rusia. Dan dalam pengertian ini, masa depan di mana-mana adalah milik Bolshevisme.”
Dalam “Revolusi Permanen”, Trotsky menjelaskan bahwa revolusi proletariat-sosialis memiliki karakter internasionalis: dimulai dari skala nasional, berkembang secara internasional, dan berakhir di arena global: ‘sejauh kapitalisme telah menciptakan pasar dunia, pembagian kerja dunia dan kekuatan produktif dunia, ia juga telah mempersiapkan perekonomian dunia secara keseluruhan untuk transformasi sosialis. Negara yang berbeda akan melalui proses ini dengan tempo yang berbeda. Negara-negara terbelakang mungkin, dalam kondisi-kondisi tertentu, mencapai kediktatoran proletariat lebih cepat daripada negara-negara maju, tetapi mereka akan mencapai sosialisme lebih belakangan daripada negara maju’. Penyelesaian revolusi proletariat-sosialis secara nasional adalah mustahil dan mengada-ada. Krisis masyarakat kapitalis merupakan fakta bahwa kekuatan produktif yang telah dikembangkan oleh kapitalisme sudah tidak dapat lagi diselaraskan dengan relasi kepemilikan pribadi dan batas-batas sempit negara-bangsa.
Revolusi Oktober telah mengangkat proletariat sebagai pemimpin bangsa (mayoritas populasi tertindas), mendorong perebutan kekuasaan dari tangan borjuis, dan memulai transformasi sosialis. Meskipun Partai Bolshevik dan revolusi yang diperjuangkannya telah dikhianati oleh gerombolan Stalinis dan epigon, tapi teladan kepemimpinan Lenin dan kamerad-kameradnya masih bersinar dan menebar ancaman terhadap kaum kapitalis secara global. Di zaman krisis kapitalisme, peran kepemimpinan sangat vital dan pembangunan Bolshevisme adalah strategis. Kontradiksi dialektis antara ketidakmampuan borjuasi dalam menyelesaikan krisisnya dan kekosongan kepemimpinan revolusioner dalam gerakan proletariat internasional menciptakan ketidakstabilan yang berlarut-larut. Dalam kondisi inilah membangun Bolshevisme menjadi tugas historis yang tidak bisa ditawar.
Kondisi sejarah sekarang sangat gelap dan getir. Umat manusia dibatasi dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Semua yang hidup dan bekerja banting-tulang menghadapi serangan-serangan brutal. Daging, tulang, dan seluruh kemanusiaannya dihancurkan di setiap jengkal. Inilah masa-masa terhoror yang berlangsung secara global. Di skala dunia, peristiwa tengah dipercepat dan gerakan proletariat sedang bangkit. Di setiap negeri, gangguan dan konfrontasi meledak-ledak secara fluktuatif. Meskipun perkembangan-perkembangan yang ada tidak berjalan lurus–disertai belokan mendadak, pasang dan surut periodik–dengan periode kemajuan yang meskipun dipotong oleh periode kekalahan dan demoralisasi tapi takkan merubah garis perkembangan secara umum.
Dalam kebuntuan ini terdapat cukup waktu untuk membangun kepemimpinan revolusioner. Dengan garis perkembangan umum yang secara dialektis menanjak, ajaran-ajaran revolusioner akan semakin bersinar dan menemukan banyak pemeluk. Meskipun musuh-musuh proletariat terus berusaha mengubur harta-karun Revolusi Oktober dan Bolshevisme dalam lumpur prasangka, fitnahan dan pemalsuan yang begitu rupa; tetapi periode sejarah yang tajam akan memanaskan atmosfer sosial dan mengangkat serta membersihkan warisan-warisan terbaik perjuangan kelas proletar dari sampah-sampah yang menyelimutinya. Rangkaian pengalaman dan kesimpulan luar biasa dari masa lalu, yang nampak semu karena berjarak dengan hari ini, sedang digali, dipelajari, dan digunakan untuk membangun dunia baru.
Dunia kapitalis tidak memiliki jalan keluar, kecuali krisis berlarut-larut dengan kontradiksi yang semakin tajam dan penderitaan yang bertambah besar. Setiap penghisapan, penindasan dan kemerosotan sosial yang terhampar bukanlah sebuah kecelakaan historis, tetapi kecenderungan barbarisme dari sebuah sistem yang sedang sekarat. Namun tanpa kepemimpinan revolusioner maka ketidakstabilan dan siksaan ini akan berlangsung seperti horor tanpa akhir. Kesadaran manusia memang tak secara langsung mencerminkan kondisi-kondisi tersebut. Tetapi pada titik kritis kesadaran yang pasif akan menjadi aktif untuk bereaksi terhadap kondisi-kondisi objektif dan mengambil bentuk perjuangan massa untuk revolusi. Cepat atau lambat, perubahan mendasar pasti terjadi. Semua yang menua dan menjadi bobot-mati pada periode tertentu akan dihancurkan dan dibangun kembali dalam kehidupan yang lebih tinggi.
Periode historis dan hubungan-hubungan sosial saat ini memasuki momen perjuangan kelas yang intens, dengan fluktuasi periodik yang sangat tajam dan perubahan situasi yang luar biasa mendadak, yang bisa dimanfaatkan untuk memobilisasi massa dan menarik lapisan-lapisan terlembam ke arena politik. Dalam situasi inilah akan muncul lebih banyak calon pemimpin revolusioner dari elemen-elemen yang sedang bergerak. Laki-laki dan perempuan yang terisolasi dalam keadaan terlentang, penuh ketidakpedulian, rutinitas dan kebiasaan sehari-harinya diseret ke medan perjuangan. Goncangan peristiwa mengusik keberadaan sosialnya dan meruntuhkan kepercayaan-kepercayaan lamanya. Cepat atau lambat, fajar baru akan menyapu kehidupan umat manusia dan bendera merah pasti berkibar di segala penjuru. Matahari masa depan akan bersinar dan menyingkirkan kejahatan-kejahatan kapitalisme.
Selama momen itu belum tiba, akan banyak orang yang menyebutnya sebagai mimpi. Tetapi sebuah generasi yang tumbuh dalam masa-masa penuh badai, bergerak di tengah gemuruh, kejang-kejang sejarah dan belokan tiba-tiba–takkan pernah meragukan mimpinya. Mimpi ini merupakan capaian-capaian luar biasa dari masa lalu, yang telah melintasi dimensi-dimensi kematian, diwariskan dari generasi-ke-generasi. Di bawah permukaan sosial sebuah angkatan politik proletariat sedang ditempa dengan luka dan derita, yang mengeringkan lautan air mata, menyembulkan api dan mengeraskan baja, menjadi pedang dan peluru, yang akan membuka jalan menuju dunia baru. Angkatan ini pasti sanggup belajar lebih cepat, menyerap seluruh pelajaran perjuangan terdahulu, dan mengangkatnya sebagai senjata untuk memenangkan pertempuran penghabisan yang pasti tiba. Angkatan ini membawa tekad dan semangat dari para pendahulunya. Angkatan ini bermimpi, berjanji, dan berambisi untuk membangun masa depan umat manusia. Inilah kata-katanya:
“Ketahuilah! Tidak ada satupun alasan untuk menyerah. Angkatan kita dibesarkan dalam keterhisapan, kemiskinan, dan ketertindasan. Tumbuh di tengah penderitaan dan kehancuran banyak orang. Melihat dan merasakan siksaan gerakan. Berhadapan dengan pengkhianatan dan kemunafikan. Terkucilkan. Terhempaskan. Terhinakan. Berpisah dari orang-orang yang takkan pernah dapat dilupakan. Memendam amarah, luka, dan tangisan kehilangan. Tetapi kita mesti bertahan. Kita harus terus berjalan, membangun kekuatan, dan menaklukan masa-masa tergelap ini. Ingatlah selalu: kita selalu mendambakan hal-hal manusiawi, seperti keluarga, persahabatan, dan cinta dalam bentuknya yang paling tinggi–yang berkilauan seperti bintang fajar, membakar seperti api, dan menyinari kehidupan umat manusia seperti matahari. Kita sedang memperjuangkannya agar hidup kita tak sia-sia. Kita akan berjuang untuk itu bukan dengan mengejar bagian-bagiannya, tetapi meraih keseluruhannya. Bangun Bolshevisme sekarang juga: ‘bergabunglah bersama kami untuk mempersiapkan kemenangan Revolusi Sosialis Dunia’.”
“Mimpi umat manusia takkan pernah terhenti! Tidak ada yang bisa menghancurkan impian-impian yang telah melintasi batas-batas generasi. Mereka yang selalu bersemangat dan bertekad keras dalam hidup adalah orang-orang yang berani bermimpi. Mereka mengemban tugas sejarah. Kita ingin menjadi bagian dari mereka yang memperjuangkan masa depan umat manusia. Meskipun sumber daya, aktivitas dan jangkauan kita terbatas; kita harus hidup dan bekerja untuk tujuan tersebut. Kita harus membenci ketidaksabaran, kepengecutan dan sikap putus asa. Kita takkan menyerah. Kita kuat karena kita tidak-sendiri; kita bersama mereka, belajar dari mereka, dan dikuatkan oleh mereka. Kita harus maju dan lebih maju lagi demi mereka. Harapan-harapan mereka pantas diperjuangkan untuk membangun dunia yang baru. Inilah janji dan ambisi kita, janji dan ambisi dari lapisan sosial yang tumbuh pada periode penuh badai, banjir hujan, dan gempa bumi politik ini.”
Ketika momen revolusi tiba, orang-orang yang paling menderita–kaum yang terhisap dan tertindas berabad-abad lamanya–akan bangkit dan menuntut perubahan. Api kehidupan terpercik dari keseluruhan sistem yang telah mengering dan usang. Bunga-bunga api menjulur dan melahap-lahap kegelapan. Hati dan pikiran jutaan laki-laki dan perempuan terbakar, gelap tersingkir dan terang tersingsing. Badan-badan yang tertidur lelap, lapar, dan miskin digoncang dan ditarik ke medan pertempuran. Jantung-jantungnya berdetak kencang dan membunyikan genderang perang. Kelas proletar bertarung dengan penuh keberanian dan pengorbanan. Kaki-kakinya menghujam tanah, lengan dan otot-ototnya menghantam langit; cakar dan taringnya merobek-robek kekuasaan borjuis. Ini telah terjadi, dan suatu saat pasti bergemuruh lagi.
Revolusi Oktober merupakan fakta sejarah. Proletariat adalah kelas yang tangguh. Lenin dan kamerad-kameradnya telah membuktikan itu. Dalam meruntuhkan tatanan yang membelenggu perkembangan umat manusia, kepemimpinan revolusioner meyakinkan proletariat supaya menetapkan tugas untuk merebut kekuasaan ke tangannya. Di sinilah medan aksi bagi Partai Bolshevik dibuka. Namun borjuasi dan sekutunya menutup-nutupinya. Seluruh musuh proletar bersekutu dalam menenggelamkan Kepemimpinan Bolshevisme. Mereka tidak ingin momen Revolusi Oktober dan kejayaan Bolshevisme berlangsung lagi, apalagi terulang dalam bentuknya yang lebih tinggi. Mereka berkepentingan untuk merontokkan dan mengaburkan peristiwa dan perjuangan revolusioner yang paling megah dalam sejarah umat manusia ini.
Lenin didekati bukan sebagai pemimpin revolusi, ahli strategi dan taktik revolusioner, yang menekankan agitasi dan propaganda revolusioner, untuk memenangkan massa ke arah Marxisme revolusioner. Dalam buku Hellen Rappaport saja, Lenin dibalsem sebagai pimpinan organisasi bawah tanah yang bergerak secara ekstrem, berwatak sadis, dan berselimut teror. Mengaku sebagai seorang feminis, Rappaport bahkan menulis artikel khusus tentang “Para Wanita dalam Kehidupan Lenin”. Dia mendongkrak heroisme perempuan dengan memerosotkan Lenin dan partainya ke kubangan stigma dan prasangka menjijikan. Demikianlah ia menyulap revolusi yang membebaskan perempuan menjadi peristiwa rendahan dan hina. Perempuan-perempuan Bolshevik dalam tinjauannya bukanlah merupakan revolusioner profesional yang mendedikasikan hidupnya untuk revolusi. Para perempuan revolusioner diremehkan sebagai pemeran pengganti dan boneka penghibur yang mengabdikan dirinya pada Lenin atas nama seks dan emosi.
Hellen Rappaport berusaha mengarahkan pembaca untuk melihat bahwa perempuan Bolshevik merupakan budak seksualnya Lenin. Rappaport menjelaskan kalau perempuan Bolshevik tidaklah bebas: kebebasan individunya remuk di bawah otoritas Lenin dan partainya. Aktivitas-aktivitas perempuan Bolshevik didekatinya secara emosional, bukan politik. Rappaport tidaklah menekankan pada kesadaran melainkan kebebasan. Dia tidak mengerti kalau para perempuan di sekitar Lenin merupakan orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk membangun Bolshevisme, untuk Revolusi Oktober, untuk masa depan umat manusia yang lebih baik. Di sisi Lenin, para perempuan revolusioner dididik bukan untuk memberikan pengorbanan-irasional tapi pengorbanan-rasional yang didasarkan kesadaran tingkat tinggi; kesadaran yang hanya bisa diperoleh dengan membangun kepemimpinan revolusioner.
Kesadaran seperti bunga-bunga api yang menjulur keluar di tengah ledakan peristiwa. Kesadaran tidaklah menentukan kehidupan, tetapi dapat mempersenjatai manusia dalam menaklukkan irasionalitas borjuis dan mengangkat kemanusiaan menuju pemenuhan tugas tertinggi. Di alam keperluan, tidak-ada orang yang benar-benar bebas; orang-orang bebas hanya ketika kebutuhan-kebutuhan material dapat dipenuhi sepenuh-penuhnya. Kebebasan bukanlah momen di mana keinginan dan tindakan disalurkan sesuka-hati; kebebasan merupakan kebajikan tertinggi dalam memahami hukum-hukum umum perkembangan sejarah dan mengambil peran yang paling memungkinkan dalam membebaskan perkembangan tenaga produktif dari belenggu kapitalisme.
Dengan membangun Bolshevisme dan Revolusi Oktober, Nadezhda Krupskaya dan Inessa Armand memperjuangkan kebutuhan-kebutuhannya secara menyeluruh. Krupskaya dan Armand berburu keinginan-keinginannya tidak secara terisolir, melainkan bekerjasama dan menyatukan banyak orang di bawah program Bolshevik. Sejarah dibentuk oleh orang-orang yang mengejar keinginannya masing-masing. Tetapi pada periode sejarah yang kritis batas-batas individual hancur dan kebebasan-kebebasan individu meluncur. Tidak ada orang yang benar-benar sendiri dalam mempertahankan hidupnya. Setiap lembaran kehidupan manusia selalu merekam pertautan dengan sesamanya. Perjuangan hidup, dengan gerak dan kontradiksinya–yang merupakan keniscayaan histori–mempersatukan individu-individu di titik-titik tertentu. Sebagai individu, kita sangatlah rapuh dan tak-berdaya. Tanpa orang-orang lainnya, seseorang takkan mungkin memperoleh apa-apa. Kekuatan sejati manusia bersumber dari perkembangan tenaga produktif dan hubungan sosial-ekonomi mereka. Seseorang tidak dapat hidup untuk dirinya sendiri; seseorang harus hidup untuk sesamanya, untuk semua orang yang telah memberinya energi dan membuat kemanusiaannya lebih maju.
Dalam momen Revolusi Oktober, seluruh lapisan terhisap dan tertindas menyatukan keinginannya untuk merubah masyarakatnya di bawah program Bolshevisme. Partai Bolshevik memberikan ekspresi yang sadar dan terorganisir pada gerakan massa. Dengan menegakkan sentralisme demokratik, Lenin dan kamerad-kameradnya menunjukkan seni pengorganisasian yang luar biasa. Kerja-kerja politik dilaksanakan secara legal dan ilegal. Dalam aktivitas partai, perempuan-perempuan revolusioner mengambil peran penting di badan-badan kepemimpinan yang ada. Pada periode dan kondisi sejarah ini, tuntutan dan kebutuhan masyarakat menciptakan individu-individu perempuan dengan kualitas tertentu. Perempuan, tidak saja menjadi sekretaris, menghadiri konferensi inteenasional, mengorganisir lingkaran-lingkaran belajar dan pertemuan sel di pabrik dan pemukiman buruh tapi juga berperan sebagai editorial, mengelola percetakan dan distribusi surat kabar, mengumpulkan koleksi dana, dan sebagainya.
Hanya perempuan-perempuan revolusioner itu diamati secara naif dan stigmatik oleh Hellen Rappaport. Dari pengamatan Rappaport, Nadezhda Krupskaya dan Inessa Armand bukanlah sebagai organisator perempuan Bolshevik sejati; keduanya digambarkan sebagai rival yang bersaing dengan menyeret keluarganya untuk memuaskan hasrat seksual dan politik Lenin semata. Krupskaya dan Armand meskipun diterangkan mengambil peran kunci dalam partai dan revolusi, tetapi kerja-kerja politik mereka selalu disubordinasi di bawah bayang-bayang dan kepentingan terselubung Lenin. Di kelilingi oleh perempuan-perempuan pembantu dan penghibur, Rappaport secara arbitrer mengklaim kematian Lenin bukan karena stroke melainkan sifilis. Guna meyakinkan pembacanya, Rappaport mengawali tulisannya–tentang “Para Wanita dalam Kehidupan Lenin”–dengan prasangka-prasangka sugestif:
“Para wanita dalam kehidupan Lenin dieksploitasi dengan kejam olehnya. Istrinya Nadezhda Krupskaya, ibunya Maria, ibu mertua Elizaveta, saudara perempuannya Anna dan Mariya dan terkadang kekasihnya Inessa Armand semuanya berkemah karena tujuan politiknya sendiri. Selama penelitian saya untuk [‘Konspirator: Lenin dalam Pengasingan’], saya melihat bahwa wanita dalam kehidupan Lenin dieksploitasi dengan kejam olehnya. Dia tidak memiliki keraguan apapun dalam menggunakan kesetiaan para wanita yang membentuk tim pendukung penting untuk tujuan politiknya sendiri. Dia mengenakan semuanya saat di pengasingan: istrinya Nadezhda Krupskaya, ibunya Maria, ibu mertuanya Elizaveta, saudara perempuannya Anna dan Mariya dan kekasihnya Inessa Armand.”
Diungkapkan bahwa tujuan penulisan Rappaport adalah mengangkat peran perempuan yang tidak pernah terungkapkan. Tetapi pendekatannya teramat reduktif dan memperlakukan perempuan-perempuan revolusioner sebagai obyek di tangan Lenin. Meskipun Krupskaya dan Armand diceritakan begitu militan dan penuh pengorbanan, tetapi peran keduanya tudaklah digambarkan secara sadar untuk memajukan perjuangan kelas proletar melainkan berlangsung di bawah kekangan, penyangkalan-diri, dan pelayanan seksual kepada Lenin. Dalam coretan Rappaport–Krupskaya dan Armand dijelaskan sangat heroik namun dengan mendiskreditkan dan mencabik-cabik jantung revolusioner buruh dan rakyat: Bolshevisme-Leninisme. Serangan, pendiskreditan, dan penghinaan terhadap otoritas revolusioner Lenin akhirnya memberitahu kita bahwa motif utama tulisannya bukanlah untuk menerangkan peran perempuan semata, tapi lebih jauh menyangkal Kepemimpinan Bolshevik, Revolusi Oktober, dan Negara Soviet.
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
