Kategori
Perjuangan

Apakah Anda Sosialis?

“Setiap lembaran kehidupan manusia merekam pertautan dengan sesamanya. Sejarah dibentuk oleh orang-orang yang mengejar keinginannya. Tidak ada orang yang benar-benar sendiri dalam mengarungi hidupnya. Perjuangan hidup, kontradiksi dan gerak–yang merupakan keniscayaan–mempertemukan kita di titik-titik kebetulan. Sebagai individu, kita sangatlah rapuh dan tidak berdaya. Tanpa orang-orang lainnya, seseorang takkan pernah memperoleh apa-apa. Kekuatan sejati manusia bersumber dari hubungan-hubungan sosial-ekonomi mereka. Seseorang tidak dapat hidup untuk diri-sendiri; seseorang harus hidup untuk sesamanya, untuk semua orang yang menjadi bagian dari kehidupan historisnya, yang telah membentuk pengalaman hidupnya dan membuat dirinya berarti. Sadar atau tidak-sadar, ada energi yang dapat diperoleh dari orang-orang di sekitar kita. Mimpi, janji, dan ambisi adalah hal-hal yang lahir dari hubungan-hubungan sosial yang ada. Ini merupakan kekuatan alamiah yang dinamis dan diwariskan dari satu periode ke periode lainnya.”

“Tidak ada momen revolusioner yang paling penting selain berkembangnya bahan organik dari bahan anorganik, di mana materi menjadi sadar akan dirinya sendiri; seluruh sejarah umat manusia adalah perjuangan memenuhi kebutuhan hidup dan mengangkat kehidupannya di atas tingkatan hewan. Perjuangan ini berlangsung sampai sekarang, semakin kompleks dan menggerogoti sendi-sendi kemanusiaan. Kondisi historis hari-hari ini amat gelap dan getir. Daging, tulang, dan seluruh kemanusiaan kita dihancurkan di setiap jengkalnya. Inilah masa-masa terburuk bagi seluruh tenaga produktif yang ada. Tetapi capaian-capaian luar biasa dari masa lalu terus bertahan dalam lumpur sejarah, tampil sebagai ‘mimpi-mimpi’ tentang harta karun yang harus ditemukan dan diangkat untuk membangun dunia baru. ‘Mimpi-mimpi’ ini akan menuntun kita melewati badai, menaklukkan samudera tak bertepi, dan sampai ke masa depan–periode sejarah di mana kekayaan material dapat dinikmati sepenuh-sepenuhnya, termasuk untuk mengembangkan hubungan-hubungan paling intim umat manusia: keluarga, persahabatan dan cinta.”

Kaum Bolshevik

Kapitalisme sedang sekarat. Krisisnya berlarut-larut. Krisis kapitalisme merasuk ke segala aspek kehidupan dan tercermin lewat gunungan kemerosotan sosial. Masyarakat kapitalis membusuk dengan cepat dan norma-norma borjuis tidak lagi cocok diterapkan di mana-mana. Segala kepercayaan terhadap kelas penguasa telah musnah. Kaum buruh dan muda ingin segera menghapuskan kepemilikan pribadi dan perbatasan-perbatasan sempit negara-bangsa. Sementara kelas penguasa menunjukkan kegamangan luar biasa. September 2022, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melukiskan kepanikan yang dihadapi kelasnya: “kepercayaan runtuh, ketidaksetaraan meledak, planet kita terbakar’.

Kebangkrutan dan pesimisme dari rezim borjuis bukan saja memperlihatkan kepanikan-kelas dan kemunafikkan demokrasi borjuis, tetapi juga menunjukkan bagaimana tenaga-tenaga produktif diperangi dan mempertontonkan antagonisme antara borjuasi dan proletariat yang semakin tajam dan meluas. Semua yang hidup teralienasi, manusia dan alam dieksploitasi, dan penindasan-demi-penindasan menjalari. Jika borjuasi tidak digulingkan dan kapitalisme tak dihapuskan, maka kita semua akan terbunuh dan lingkungan kita hancur-berantakan oleh kekuatan gelap dan ambisi mengeruk laba yang tiada terperi.

Berlarut-larutnya krisis kapitalisme telah menjalarkan ketidakpercayaan massal terhadap kelas penguasa dan membangkitkan harapan akan sosialisme. Tepat 6 November 2008, sekitar 500 kaum muda Kuba berkumpul untuk memperingati Revolusi Oktober. Fernando Rojas, salah seorang organisator kegiatan mengucap: ‘dengan pertemuan seperti ini untuk belajar dan mendiskusikan revolusi itu, Anda sedang mengeraskan identitas Anda sendiri, mengenal diri Anda lebih baik, memperluas cakupan gagasan Anda dan memperkuat fondasi hasrat, pandangan, pemberontakan, dan militansi Anda’. 

Pelajar dan buruh muda adalah yang paling tergoncang oleh ledakan peristiwa. Di Amerika Serikat, mereka melihat kalau 8,6 juta orang sudah kehilangan pekerjaannya selama 2008; 6,9 juta orang kembali di-PHK pada Maret 2020; dan melebihi 20 juta orang sedang bersiap-siap melepas pekerjaannya juga. Socialist Revolution (IMT Seksi AS) melaporkan bahwa Demokrat Sosialis Amerika tumbuh mencapai 92.000 anggota—sejak 2016-2021, jutaan angkatan muda Amerika teradikalisasi dalam krisis kapitalisme yang telah menyingkapkan bagaimana berlangsungnya ‘kesulitan yang lebih besar bagi pekerja dan kaum muda: pemotongan dan penghematan bagi mayoritas dan kekayaan yang tak terbayangkan bagi minoritas, ketidaksetaraan yang mengejutkan, standar hidup yang semakin memburuk, upah rendah, misogini, homophobia, rasisme dan kebrutalan polisi’.

Sepanjang 2019, pembangkangan-demi-pembangkangan juga meledak di mana-mana dan merefleksikan krisis kapitalisme yang mendunia: Chile, Ekuador, Bolivia, Kolombia, Haiti, Prancis, Brazil, Alzajair, Catalonia, Kashmir, Sudan, Lebanon, Irak, Hongkong, Indonesia, dan Papua. Bahkan ketika 2020, di tengah pandemi, krisis kapitalisme dan brutalitas negara yang merumahkan paksa rakyat-pekerja; kaum muda menghabiskan waktu luangnya untuk menonton film-film kiri dan mendiskusikan tontonannya itu. Forum Internet dan Media Sosial Cina mencatat beberapa film kiri yang ditonton meliputi: “Siapa Tokoh Terbesar dalam Sejarah Revolusi Tiongkok?” (47 juta tayangan), “Mengapa Mereka Mempelajari Marxisme di Usia yang Muda?” (1, 95 juta tayangan), dan sebagainya.

Pada 2021, Financial Times—selaku buletin bagi investor dan konglomerat internasional—membeberkan ketakutan yang mengepung benak borjuis: ‘sulit untuk dibayangkan’, ‘revolusi komunis’ menjadi ancaman di depan mata. Dan, surat kabar ini mengakui bahwa kaum muda—pelajar dan terutama buruh muda—menjadi elemen sosial yang sedang teradikalisasi dalam krisis kapitalisme. Jajak pendapat yang mereka adakan memberitahu bahwa sekitar 60-80 persen orang-orang muda berusia 18-34 di Amerika Serikat, Afrika Selatan, Inggris, India, Spanyol, Italia, Rusia, Meksiko, dan Kanada memandang kekacauan sedang melanda negara-negara itu. Sementara di bulan Juli, Institute of Economic Affairs (IEA) mengungkap temuan mencengangkan di antara kaum muda Inggris: 70 persen menyalahkan kapitalisme atas krisis iklim dan rasisme, 67 persen ingin hidup di bawah sosialisme, dan 75 persen sepakat kalau sosialisme sebagai ‘ide yang bagus’ tetapi ‘gagal di masa lalu karena diterapkan dengan buruk’ [oleh Partai-Partai Komunis (Stalinis) di Uni Soviet dan Eropa Timur].

November 2022, ratusan pelajar, pekerja dan aktivis sosial berpartisipasi mengikuti Konferensi Kaum Muda yang diorganisir oleh Aliansi Pemuda Progresif (IMT Seksi Pakistan) di Sindh Scouts Club. Melalui pertemuan inilah dideklarasikanlah perang kelas ‘melawan pengangguran, inflasi, pelecehan seksual, pendidikan mahal, penindasan nasional dan kapitalisme’ dengan perspektif Marxisme Revolusioner. Di 34 negara OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Eropa), 18 persen angkatan muda berusia 25-34 tahun menganggur dan mendera kemiskinan di tengah krisis yang berlarut-larut. Peristiwa-peristiwa yang mereka lihat dan rasakan selama krisis kapitalisme membuka pikirannya untuk menerima ide-ide sosialis dan revolusi proletariat.

Perang, revolusi dan kontra-revolusi merupakan monumen umum di skala dunia saat ini. Pendulum politik berayun ke kiri. Sapuan kontradiksi dan gelombang pra-revolusioner atau revolusioner yang berlangsung di Chili, Sudan, Myanmar, Lebanon, Hongkong, Kazakhstan, Sri Langka, Timur Leste, Peru, Iran, Inggris, dan Prancis telah menjalar ke negeri-negeri lainnya dan menginspirasi perjuangan kelas proletariat dunia. Perubahan mendadak dan tajam adalah implisit dalam situasi hari-hari ini. Cepat atau lambat, perjuangan revolusioner akan meledak di Indonesia. Seperti tersatukannya dunia melalui perdagangan, pembagian kerja, dan menjalarnya krisis kapitalisme maka ledakan di satu negeri pasti mempengaruhi negeri-negeri lainnya.

Kondisi sejarah dan hubungan-hubungan sosial sekarang memasuki momen perjuangan kelas yang intens, dengan fluktuasi periodik yang menajam dan perubahan situasi yang luar biasa mendadak, yang bisa dimanfaatkan untuk mengorganisir massa dan menarik lapisan-lapisan terlembam ke arena politik. Dalam situasi inilah akan muncul lebih banyak calon pemimpin revolusioner dari elemen-elemen yang baru bergerak. Di tengah aksi-aksi sporadis dan spontanis yang meledak-ledak, angkatan-angkatan muda radikal bermunculan. Individu-individu yang terisolasi dalam keadaan terlentang, penuh ketidakpedulian, rutinitas dan kebiasaan sehari-harinya diseret ke medan perjuangan.

Sampai sekarang, banyak sekali elemen-elemen segar yang mulai bergerak dan berontak terhadap tatanan yang ada. Mereka yang akan terus berjuang adalah mereka yang maju, mampu belajar dan menarik kesimpulan-kesimpulan tertentu dari perjuangannya: kemunduran, kekalahan, maupun kemenangannya. Periode sejarah hari-hari ini sangat dramatis: kapitalisme memasuki krisis terminal dan kaum kapitalis meluncur ke lembah kegelapan dengan mata terbuka lebar, sementara kaum buruh dan muda melihat terbitnya fajar baru yang semakin membuatnya optimis akan perubahan mendasar. Antara 2019 dan 2020, total pengangguran global meningkat dari 185,95 juta menjadi 223,67 juta jiwa. Pada 2021, jumlahnya bertambah: 81-90 juta orang–yang didominasi oleh angkatan muda–menjadi pengangguran baru. Tahun 2022, ILO membongkar data moderatnya: 73 juta pemuda berusia 15-24 tahun menganggur di seluruh dunia. 

Akhir 2022 dan awal 2023, epidemi pengangguran meledak sebagai patogen yang merongrong masyarakat kapitalis. Karakternya organik, kemunculannya liar, dan jumlahnya semakin ganas menunjukkan kotradiksi kepemilikan pribadi dan kebangkrutan negara-negara borjuis. Di luar data-data resmi borjuis, International Marxist Tendency memperkirakan bahwa pengangguran global telah mencapai 1 miliar jiwa dan 700 juta di antaranya merupakan orang-orang muda. Pemuda-pemuda pekerja dan pelajar adalah lapisan yang paling mudah terbakar oleh krisis kapitalisme. Mereka menaggung penderitaan hidup yang mengerikan. Hari-hari mereka diliputi keterbatasan, kelaparan, kemiskinan, dan ancaman-ancaman kematian mengenaskan. Mereka sukar meraih roti dan daging, akses pendidikan dan kesehatan, waktu-luang untuk rehat dan bersantai, menikmati wisky, mengembangkan kebudayaan, menjalin kemesraan dan berkasih-kasih dengan keluarga, kawan dan pasangan.

Dalam zaman krisis kapitalisme, kaum buruh dan muda dibatasi dan dihancurkan tenaga-tenaga produktifnya dengan eksploitasi dan opresi yang semakin kejam. Sekarang goncangan peristiwa telah mengusik kesadaran dan meruntuhkan kepercayaan-kepercayaan udik yang diwarisinya dari masa lalu masyarakatnya. Di pelbagai negeri, lapisan-lapisan sosial yanh tumbuh pada masa-masa penuh badai ini merasakan dalam hati dan jiwanya ada sesuatu yang tidak beres dan harus dirubah. Mereka melihat sistem kapitalis sebagai mimpi buruk umat manusia. Mereka tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi merusak kehidupan di muka bumi. Mereka ingin menghancurkannya. Dengan tekad inilah sudah banyak generasi-generasi baru yang terjun ke medan gerakan, memasuki organisasi dan persatuan, membaca dan berdiskusi mengenai pemberontakan, dan meluncurkan aksi-aksi perlawanan.

Pada awalnya, pemahaman mereka tentang politik dipandu oleh perasaan ketidakadilan yang mendasar. Ini merupakan kesadaran kelas elementer yang berisi pengetahuan dasar tantang cara-cara bertahan hidup, belum berkembang dan kasar. Tanpa pemahaman politik yang memadai, dorongan moral dan kemarahan mudah menguap dalam kelelahan, apatisme dan keputusasaan yang memalukan. Mereka yang tidak mengerti apa yang diperjuangkannya, meyakini perjuangannya dan mencintai keyakinannya–pasti gampang goyah dan menyerah. Meskipun mengalami kemunduran tapi karena tiada alternatif selain bertarung, maka sebuah kekuatan sosial dapat memperbaharui pertarungannya. Ketika satu bagian terkapar, bagian lainnya bangkit. Di saat individu-individu yang bertekad-lemah menyingkir dan meratapi kekalahannya; individu-individu yang bertekad-kuat belajar dari kekalahannya dan terlahir kembali sebagai orang-orang baru yang menggantikan orang-orang lama. Lewat sebuah surat untuk Borgius, Friedrich Engels menjelaskan mengenai peran individu dalam sejarah:

“Manusia membuat sejarah mereka sendiri, tetapi tidak dengan kehendak kolektif atau menurut rencana kolektif atau bahkan dalam masyarakat tertentu yang dibebani secara pasti [oleh peristiwa-peristiwa terdahulu dan tradisi-tradisi masa lalu masyarakatnya]. Upaya mereka berbenturan, dan karena alasan itulah semua masyarakat seperti itu diatur oleh kebutuhan, yang dilengkapi dan muncul dalam bentuk-bentuk kebetulan. Keharusan yang di sini menegaskan dirinya sendiri di tengah-tengah semua kebetulan sekali lagi pada akhirnya adalah keniscayaan ekonomi [keharusan untuk berpartisipasi dalam aktivitas produksi dan reproduksi sosial-ekonomi]. Di sinilah yang disebut orang-orang hebat datang untuk berobat. Bahwa orang ini dan itu dan tepatnya orang itu muncul pada waktu tertentu di negara tertentu itu tentu saja murni kebetulan. Tapi hentikan dia dan akan ada permintaan akan penggantinya, dan pengganti ini akan ditemukan, baik atau buruk, tetapi dalam jangka panjang dia akan ditemukan.”

Individu-individu dalam sejarah secara tidak-terelakkan memasuki hubungan-hubungan produksi tertentu yang mengatur kehidupannya. Saat ini, kaum buruh dan muda berada pada kondisi historis yang luar biasa memukau. Hujan, banjir, dan gempa sosial-ekonomi yang berlarut-larut, dengan pasang dan surut periodik, mendorong ke arah perjuangan politik yang lebih tinggi dan intens, dengan kebutuhan dan tuntutan kaum buruh dan muda yang mulai terbuka, mencari dan menggengam keyakinan-keyakinan sosialis. Sekarang, ide-ide Sosialisme Ilmiah–dari Marx, Engels, Lenin, Trotsky, dan Ted Grant–telah menjadi perlu untuk dipelajari dan diperjuangkan secara serius. Inilah masa-masa terhoror bagi kaum kapitalis: senjata intelektual dan moral yang selama ini ditenggelamkan di lumpur kegelapan telah bangkit dan menarik perhatian elemen-elemen sosial dengan memancarkan sinar harapan yang kuat.

Kelas borjuis dan para ahli strateginya tidak mampu merintangi jalannya ide yang telah tiba waktunya. Seluruh kondisi material, hubungan sosial, dan hukum sejarah mendukung kebangkitan ide-ide Sosialisme Ilmiah. Dalam mengobarkan perlawanan terhadap kapitalisme, elemen-elemen termaju dari kaum buruh dan muda bukan saja menunjukkan antusiasme dalam mempelajari sosialisme tapi juga terdapat yang sudah sampai memproklamirkan dirinya sebagai Sosialis. Sekarang, kepada kamerad-kamerad inilah kami mengangkat topi, mengulurkan tangan, dan berkata: maukah kalian bergabung bersama kami dalam membangun Bolshevisme–mempersiapkan pemimpin-pemimpin revolusioner untuk memajukan perjuangan kelas proletar, memenangkan revolusi dan melancarkan transformasi sosialis di masa depan?

Jika Anda seorang Sosialis, mengapa menunda-nunda untuk bergabung dengan kami–organisasi revolusioner yang sedang membangun kepemimpinan revolusioner Bolshevisme? Waktu, dalam pembangunan Bolshevisme, adalah persoalan penting. Tanpa cukup waktu, takkan mungkin sebuah organisasi politik yang tersentral dan kuat dapat dipersiapkan. Waktu bagi kaum Bolshevik merupakan masalah pembelajaran, pengalaman dan pemahaman revolusioner. Sebelum Revolusi Oktober, dibutuhkan tiga dekade kerja dalam menyerap pelajaran dan menyempurnakan partai dan kepemimpinan Bolshevik; untuk mendapatkan otoritas di tengah kelas proletar dan menanam akar yang kuat di antara massa–di pabrik, di barak, di distrik, di sekolah dan universitas.

Sebuah organisasi politik yang tersentral dan kuat, kepemimpinan revolusioner dan individu-individu yang menjadi kadernya, takkan bisa diciptakan melalui improvisasi. Mereka harus dididik, dilatih dan ditempa melalui praksis-praksis pembangunan Bolshevisme yang nyata. Kelas proletar membutuhkan partai revolusioner untuk mengubah masyarakat. Partai, sebagai organ politik satu kelas dan melawan kelas lainnya, serupa dengan organ tempur: memiliki jenderal, letnan, kopral, dan prajurit. Dalam momen revolusi, waktu merupakan persoalan hidup dan mati. Perang dan revolusi tidak dapat menunggu sampai tentara atau partai memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk bertempur; perang dan revolusi tak bisa berbaik hati kepada partai atau tentara manapun, selain mereka yang mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari secara serius.

Walaupun perang dan revolusi mempunyai logikanya sendiri, tetapi urusan waktu, dalam perjuangan kelas revolusioner, adalah momen yang tidak boleh disia-siakan. Engels pernah menjelaskan bahwa terdapat periode sejarah di mana periode dua puluh tahun dapat berlalu seolah-olah hanya satu hari. Selama periode ini, tampaknya tidak terjadi apa-apa; betapapun banyaknya aktivitas yang ada, situasinya tidak berubah. Dan, ada pula periode di mana sejarah dua puluh tahun dikonsentrasikan dalam waktu beberapa minggu atau beberapa hari saja, dengan perubahan yang besar dan luar biasa. Yang terakhir inilah periode revolusi.

Momen menakjubkan itu tak mampu diprediksi oleh aktivis-aktivis Sosialis manapun. Tugas kaum revolusioner bukan untuk meramalkan kapan datangnya revolusi, tapi mempersiapkan diri dan kamerad-kameradnya dalam menghadapinya dengan sepenuh-hati. Kaum Bolshevik tidak pernah menciptakan revolusi tapi berkeras kepala dalam mempersiapkan kemenangannya. Revolusi Oktober tidak dimenangkan dalam satu malam–itu membutuhkan waktu, energi dan pengorbanan yang luar biasa. Lewat “Komunisme Sayap Kiri; Penyakit Kekanak-Kanakan”, Lenin menjelaskannya begitu rupa:

“…Bolshevisme lahir … atas dasar yang paling teguh dari teori Marxisme. Dan kebenaran teori revolusioner ini–dan hanya inilah satu-satunya–telah dibuktikan tidak hanya oleh pengalaman sedunia selama seluruh abad ke-19, tetapi terutama sekali oleh pengalaman kesesatan-kesesatan dan kebimbangan-kebimbangan, kesalahan-kesalahan dan kekecewaan-kekecewaan dari pikiran revolusioner di Rusia.… Rusia memperoleh Marxisme, sebagai satu-satunya teori revolusioner yang benar, dengan melalui penderitaan yang sesungguhnya, dengan mengalami siksaan dan pengorbanan yang tak ada taranya, heroisme revolusioner yang tak ada bandingnya, energi yang luar biasa,  penyelidikan dengan sepenuh tenaga, studi, percobaan praktek, kekecewaan, ujian dan perbandingan dengan pengalaman di Eropa selama setengah abad.”

Pada masa-masa damai, kita harus mulai bersiap-siap dengan menanamkan urgensi akan pembangunan Bolshevime. Revolusi lagi-lagi takkan membuang-buang waktu untuk menunggu adanya partai revolusioner dengan kepemimpinan revolusionernya. Jika tidak ada partai yang memberikan kepemimpinan yang sadar kepada daya-tempur proletariat, maka energi kelas revolusioner itu akan menguap dengan cepat. Tiba momen-momen genting historis, peran faktor subyektif sangat vital. Dalam kondisi inilah seluruh proses sejarah diletakkan di pundak partai, aktivitas sekelompok individu, atau bahkan satu dua orang. Revolusi Oktober telah menunjukkan hal tersebut, bagaimana individu-individu Lenin dan Trotsky tampil mempersonifikasikan kecerdasan lapisan garda depan dan tradisi perjuangan revolusioner dari kelas proletar. Lewat “Kelas, Partai dan Kepemimpinan: Bagaimana Mengorganisir Revolusi?”, Julien Arseneau menulis:

“Kepemimpinan revolusioner yang diberikan oleh Lenin dan kaum Bolshevik tidak muncul begitu saja. Itu adalah hasil kerja keras selama seperempat abad dalam membangun sebuah organisasi. Dalam membangun partai, Lenin menjadi Lenin. Ribuan Bolshevik lainnya, dengan membangun partai, juga menjadi pemimpin gerakan buruh. Fakta ini dirangkum dalam anekdot bahwa pada tahun 1917, seorang Bolshevik di sebuah pabrik dapat memenangkan semua rekannya ke program partai. Otoritas ini berasal dari semua pekerjaan pembangunan partai sebelumnya. Secara dialektis, pembangunan partai membangun individu-individu yang memainkan peran besar ini. Revolusi Rusia adalah contoh mencolok dari peran individu dalam sejarah. Pembangunan organisasi revolusioner, usaha kolektif, memungkinkan terbentuknya individu-individu yang dapat memainkan peran menentukan dalam gerakan. Keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya; dan membangun keseluruhan akan memperkuat bagian-bagiannya! Kita harus belajar dari ini untuk hari ini, dan mengulangi apa yang dilakukan kaum Bolshevik.”

Hari-hari ini tugas strategis kita adalah menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman pembangunan Bolshevik. Kaum revolusioner harus berpartisipasi aktif dalam perjuangan kelas revolusioner: bekerja keras untuk mengumpulkan kekuatan yang dibutuhkan sebagai syarat membawa ide-ide Sosialisme Ilmiah ke setiap tempat di mana terdapat kaum terhisap dan tertindas. Ini merupakan pekerjaan yang panjang dan berat–dalam mengembannya dibutuhkan disiplin dan kesabaran revolusioner. Tidak ada jalan pintas untuk mempersiapkan partai dan kepemimpinan revolusioner. Pengabaian atas persoalan tersebut sangat berbahaya: menenggelamkan elemen-elemen sosial pada rawa-rawa oportunisme dan ultrakiri-isme. Dalam sebuah surat untuk kameradnya di Amerika, Leon Trotsky berkata:

“Tidak ada yang lebih memuakkan dan berbahaya dalam aktivitas revolusioner daripada dilettantisme (keamatiran) borjuis-kecil, yang konservatif, egois, dan cinta-diri-sendiri, dan tidak mampu berkorban demi gagasan yang besar. Kaum buruh yang maju [dan kader-kader Marxis] harus mengadopsi dengan tegas satu hukum yang sederhana tetapi tidak akan pernah berubah: pemimpin-pemimpin atau calon-calon pemimpin yang di masa-masa damai tidak mampu mengorbankan waktu mereka, tenaga mereka, sumber daya mereka, demi perjuangan Komunisme, sering kali dalam masa-masa revolusioner akan menjadi pengkhianat, atau menyeberang ke kamp orang-orang yang menunggu sisi mana yang akan menang.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai