“Kamerad-kamerad! Berapa lama kami buruh harus menelan pengkhianatan ini. Kalau semua di sini berdebat dan membuat kesepakatan dengan kaum borjuasi dan tuan-tanah … Kalian sibuk mengkhianati kelas buruh. Nah, pahami saja bahwa kelas buruh tidak akan menerima ini begitu saja. Ada 30.000 kami di sini yang datang dari Putilov. Kami akan merenggut apa yang kami inginkan. Semua Kekuasaan untuk Soviet! Kami memegang senapan kami erat-erat! Karensky-Karensky dan Treseteli-Treseteli kalian tidak akan [mampu] menipu kami.” (Pernyataan Proletar Rusia dalam Bolshevisme Jalan menuju Revolusi Jilid III)
Revolusi memberikan pelajaran luar biasa dan memupuk harapan besar di jantung kehidupan massa. Tidak pernah barikade orang-orang terhisap dan tertindas bangkit mempertaruhkan nyawanya kecuali dalam momen revolusi. Revolusi Proletar 1917 telah menunjukkan itu semua. Bulan April, pertanyaan tentang perlunya proletariat merebut kekuasaan telah diselesaikan. Tetapi perjuangan kelas revolusioner perlu melewati tahapan-tahapan sebelum mencapai puncaknya. Tahapan ini bukanlah mengenai karakter borjuis atau proletariat dari sebuah revolusi, melainkan proses di mana massa melalui pembelajaran-demi-pembelajaran yang dinamis: melihat sejumlah pilihan, bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari partai dan pemimpin yang memadai, hingga membuang satu-demi-satu sampai mereka berhasil meletakkan kekuasaan di tangan massa sendiri.
Pada Juni, selama berlangsungnya Kongres Soviet I, kaum Bolshevik berusaha memproyeksikan signifikansi pemberontakan bersenjata dalam merebut kekuasaan sepenuhnya untuk Soviet. Slogannya tegas: “Tolak Borjuasi!”, “Akhiri Ide Koalisi!”, dan Ambil Kendali Kekuasaan ke Tanganmu Sendiri!”. Bolshevik mengerti kalau Sosial-Revolusioner dan Menshevik memutuskan hubungan dengan Kadet, maka keduannya akan mencari dukungan dari lapisan-lapisan proletariat ‘yang paling bersemangat dan maju’. Hanya kedua badan kepemimpinan itu sangatlah ragu-ragu dan membalas seruan revolusioner dengan ofensif. Daripada mempersiapkan proletariat untuk berkuasa, mereka justru menyeberang ke arah reaksi.
Tanggal 29 Juni, Sosial-Revolusioner dan Menshevik mulai melaksanakan kampanye Anti-Bolshevik dan melawan proyeksi demonstrasi bersenjata dengan menggandeng partai borjuasi liberal dan elemen-elemen kontra-revolusioner. Di bawah pimpinan Karensky dan Tsareteli, mereka menyebarkan prasangka dan tuduhan-tuduhan keji: Bolshevik dan pekerja Petrograd yang dipersenjatai merupakan ‘satu-satunya bahaya yang mengancam revolusi’ dan ‘orang-orang yang tidak-tahu cara menggunakan senjata’ harus dilucuti. Lapisan-lapisan proletar yang paling menderita dan berani menolak semua fitnah ini. Mereka muak dan marah. Mereka percaya kepada Bolshevik, sepakat melancarkan pemberontakan bersenjata dan menentang upaya pelucutan senjata oleh Pemerintahan Sementara.
Tepat 1 Juli, tekanan kuat dari akar rumput mendorong Kongres Soviet untuk memberikan kompensasi dengan mengorganisir demonstrasi tak-bersenjata. Massa bukan sekadar menuntut diakhirinya kebijakan koalisi dengan borjuasi, tetapi juga menuntut diselesaikannya persoalan agraria, kebangsaan dan industri. Gelombang keras dari bawah menghantam ke atas dan meretakkan tubuh Pemerintahan Sementara. Di Istana Tauride, seluruh keputusan dan aktivitas pemerintah ditunda. Kolaborasi dengan Kadet dikecam tapi Sosial-Revolusioner dan Menshevik berusaha mempertahankannya. Karensky dan menteri-menteri sosialisnya secara cekatan tampil membujuk massa untuk mendur, sekaligus memulai pemaksaan tentara revolusioner dalam melancarkan ofensif. Tentara-tentara dari garis depan pertempuran ditarik ke Petrograd.
Situasi Perang Dunia Imperialis menempatkan tentara lama (kaum tani) untuk mengambil peran yang menentukan pada Revolusi 1917. Sebelum massa tani bersatu dalam platform dan ide-ide revolusioner; mereka lebih dahulu dipersatukan dalam organisasi-organisasi militer. Namun dalam proses revolusi yang menggocang kesadaran massa, para prajurit-bawahan tergugah untuk menolak memerangi proletar. Pemerintahan Sementara akhirnya melakukan pemaksaan-pemaksaan brutal yang menghancurkan koherensi militer revolusioner dengan memberlakukan disiplin-reaksioner dan sentralisasi-birokratik (yang menjadi stimulasi bagi kemunculan Kornilovis). Trotsky dalam “Sejarah Revolusi Rusia” menulis:
“Revolusi tumbuh langsung dari perang, dan yang terakhir menjadi batu ujian bagi semua partai dan kekuatan Revolusi…. Bagi kami, yang menentang, jelas bahwa ofensif itu adalah langkah yang sangat berbahaya, bahkan mungkin membahayakan seluruh Revolusi. Kami memperingatkan semua orang bahwa tentara, yang baru terbangun dan terguncang oleh gemuruh peristiwa yang masih setengah dipahami, tidak dapat dikirim ke medan perang tanpa terlebih dahulu memberikan ide-ide baru yang dapat diasimilasi. Kami memperingatkan, memprotes, mengancam. Tetapi partai-partai yang berkuasa, yang terikat pada borjuasi, tidak memiliki jalan lain yang terbuka bagi mereka, dan secara alami memperlakukan kami dengan permusuhan dan kebencian yang tak tergoyahkan.”
Pada 2 Juli, jalanan Nevsky Prospekt dipenuhi oleh perwira reaksioner, jurnalis liberal, dan perempuan aristokrat yang melakukan aksi-aksi patriotik dan menggemakan aspirasi-aspirasi chauvinistik dalam menentang Bolshevik. Tetapi ledakan demonstrasi menunjukkan hilangnya basis dukungan Sosial-Revolusioner dan Manshevik di Petrograd. Tanggal 3 Juli, ribuan pekerja, tentara dan kelasi membanjiri jalanan. Di Vborg, Partai Bolshevik mengirimkan delegasinya untuk memperingatkan massa kalau syarat subyektifnya belumlah memadai untuk melangsungkan demonstrasi bersenjata. Para pemimpin Bolshevik mendukung kebangkitan massa, inisiatif dan partisipasi aktif mereka; namun tidak dapat membiarkan perebutan kekuasaan berlangsung sia-sia dengan korban yang meraksasa. Singkatnya, Bolshevik berusaha mengantisipasi pemberontakan-prematur. Kaum revolusioner telah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, khususnya dalam Revolusi Februari. Dalam Jurnal Dialektika III, Alan Woods menjelaskannya:
“Mengapa kaum buruh tidak mengambil-alih kekuasaan pada bulan Februari? Tentu saja, orang bisa menjawab pertanyaan ini dengan segala macam argumen ‘pintar’. Bahkan beberapa Bolshevik menegaskan bahwa alasannya terletak pada fakta bahwa proletariat harus mematuhi ‘hukum besi tahapan sejarah’, bahwa mereka tidak dapat ‘melompati Februari’ dan bahwa mereka harus ‘melewati tahapan revolusi borjuis’. Pada kenyataannya, orang-orang ini berusaha menutupi kepengecutan, kebingungan, dan impotensi mereka sendiri dengan menggunakan dalih ‘faktor-faktor objektif’. Kepada orang-orang itu, Lenin menjawab dengan sinis:
“Mengapa mereka tidak mengambil alih kekuasaan? Steklov mengatakan: untuk alasan ini dan itu. Ini omong kosong. Faktanya adalah bahwa proletariat tidak terorganisir dan cukup sadar-kelas. Ini harus diakui: kekuatan material ada di tangan proletariat tetapi borjuasi ternyata siap dan sadar kelas. Ini adalah fakta yang menyedihkan, dan harus diakui secara jujur dan terbuka dan rakyat harus diberitahu bahwa mereka tidak mengambil-alih kekuasaan karena mereka tidak-terorganisir dan tidak-cukup-sadar.”
Tetapi protes dan kemarahan sudah tidak terbendung. Massa menunjukkan ketidaksabaran. Meninjau perkembangan situasi maka Komite Sentral, Komite Petrograd, dan Komite Militer Revolusioner mengambil bagian dalam aksi-aksi proletar dengan mengerahkan para pelopornya untuk memberikan ekspresi terorganisir. Di Petrograd, mayoritas tentara dan kelasi bergerak ke arah Bolshevisme. Mereka menyuarakan tuntutan dan slogan revolusioner: “Hentikan Perjanjian Rahasia”, “Turunkan Kebijakan Serangan Strategis”, “Hidup Perdamaian yang Terhormat”, “Ganyang Sepuluh Menteri Kapitalis”, dan “Semua Kekuasaan untuk Soviet”. Di Istana Tauride, menteri-menteri Kadet ditekan hingga mengundurkan diri. Dalam posisi ini kepemimpin reformis dan sentris tetap bersikukuh mempertahankan koalisinya dengan borjuis-liberal. Tanggal 5 Juli, seluruh kota dicekam melalui tebaran pamflet-pamflet anti-Bolshevik. Pers-pers liberal bekerjasama dalam mengabarkan kalau Lenin merupakan agen Jerman. Sementara pemimpin-pemimpin Menshevikbdan Sosial-Revolusioner memaksa Lenin untuk dihukum. Tertanggal 6 Juli, Pemerintahan Sementara mengeluarkan surat perintah untuk menangkap Lenin dan kameradnya.
Situasi makin mencekam. Pada hari-hari Juli, Komite Sentral Bolshevik membahas-ulang agenda perebutan kekuasaan. Mereka semakin berwaspada. Tanggal 16, 17, dan 18 Juli menjadi titik-balik dari revolusi. Bolshevik masih menempati posisi minoritas dalam Soviet dan Menshevik maupun Sosial-Revolusioner tidak pernah mempercayai kemampuan buruh untuk berkuasa. Kementerian dan ketentaraan menunjukkan kekacauan yang serius. Karensky lantas semakin menunjukkan permusuhannya terhadap Bolshevik dan berpihak kepada jenderal-jenderal Kadet. Di jalan-jalan Petrograd, surat-surat kabar anti-Bolshevik dan perjuangan revolusioner dibombardil. Kaum Anarkis dan Seratus-Hitam mengambil kesempatan di tengah perjuangan kelas yang semakin menajam. Mereka hadir sebagai provokator-provokator yang menyerukan kekerasan-reaksioner. Diam-diam mereka menyangga pemerintahan borjuis.
Dalam situasi itulah proganda dan agitasi-agitasi revolusioner dilarang dan para pelakunya dituduh kriminal. Individu-individu pekerja, kelasi dan prajurit yang melancarkan kerja-kerja politik dipukul dan dilecehkan secara brutal. Organisasi-organisasi buruh direpresi. Penganiayaan, penggerebekan, penangkapan, dan pembunuhan perorangan menjadi tayangan sehari-hari. Karnaval reaksi menggila. Seluruh anggota dan simpatisan Bolshevik diburu dan dipersekusi. Lenin dipaksa bersembunyi. Tetapi kaum buruh dan muda yang teradikalisasi oleh peristiwa bertambah aktif, energik dan berani. Di lapisan bawah, mereka menjadi agitator-agitator yang bergandeng-tangan dengan massa dan tidak mengenal kompromi. Sementara di pucuk-pucuk kepemimpinan, Menshevik dan Sosial-Revolusioner terus-menerus menebarkan kebohongan dan tudingan-tudingan yang sepenuhnya meletakkan kesalahan di pundak Bolshevik.
Meskipun pada Hari-Hari Juli perjuangan massa beroleh kekalahan besar tapi para pejuang-kelas mampu belajar dari kekalahannya. Setelah Juli berlalu, perimbangan kekuatan kelas berubah secara dramatis: Kadet semakin terpojok, dukungan terhadap Menshevik dan Sosial-Revolusioner menurun drastis, dan Bolshevik bangkit. Kaum Bolshevik pulih dengan cepat bukan sekadar berdasarkan rangsangan-rangsangan obyektif, tetapi juga karena faktor subyektif. Bolshevik mempersenjatai kader-kadernya dengan teori yang tepat. Marx pernah berkata: ‘teori menjadi kekuatan material ketika ia mencengkeram pikiran massa’. Dalam Bolshevisme Jilid III, Alan Woods lebih jauh menerangkannya:
“Sebuah teori yang tepat adalah teori yang mengantisipasi kurang-lebih secara akurat alur utama peristiwa. Berbekal teori seperti itu, kita dapat menyusun perspektif yang memperjelas terlebih dahulu garis umum perkembangan bahkan sebelum fakta-fakta yang mendukungnya tersedia bagi kita. Dengan perspektif ini, sebuah organisasi revolusioner dapat mengarahkan kekuatannya dengan tepat, dan mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan sebelum mereka muncul. Siapapun yang mempelajari dalam Sosial-Demokrasi Rusia selama kurang-lebih satu dekade sebelum 1917 pasti akan dikejutkan oleh superioritas satu teori yang, dengan akurasi yang mencengangkan, meramalkan apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1917–yakni teori revolusi permanen Trotsky. [Dalam “Revolusi Permanen”, Trotsky menulis:]
“Proletariat tumbuh dan menjadi lebih kuat dengan pertumbuhan kapitalisme. Dalam pengertian ini, perkembangan kapitalisme juga merupakan perkembangan proletariat menuju kediktatoran. Tetapi hari dan jam ketika kekuasaan akan berpindah ke tangan kelas pekerja secara langsung tidak tergantung pada tingkat yang dicapai oleh kekuatan produksi tetapi pada hubungan dalam perjuangan kelas, pada situasi internasional dan akhirnya pada sejumlah faktor subyektif: tradisi, prakarsa, kesiapan perjuangan kaum buruh. Adalah mungkin bagi kaum buruh untuk merebut kekuasaan di negeri yang terbelakang secara ekonomi lebih cepat daripada di negeri yang maju … Membayangkan bahwa kediktatoran proletariat dalam beberapa hal bergantung pada perkembangan teknis dan sumber daya suatu negeri adalah prasangka dari ‘ekonomi’ materialisme yang disederhanakan menjadi absurditas. Sudut pandang ini tidak ada hubungannya dengan Marxisme. Dalam pandangan kami, Revolusi Rusia akan menciptakan kondisi di mana kekuasaan dapat berpindah ke tangan kaum buruh–dan dalam hal kemenangan revolusi ia harus melakukannya–sebelum para politisi liberalisme borjuis mendapatkan kesempatan untuk sepenuhnya menunjukkannya kepada rakyat kemampuan mereka untuk memerintah.”
Bacaan komprehensif: Hari-Hari Juli (Alan Woods) dan Revolusi Permanen (Trotsky)
