“Kematian Nahel dan Kebangkitan Baru”Pembunuhan Nahel bukanlah satu-satunya penyebab kemarahan rakyat. Tapi itu berfungsi sebagai katalisator, percikan yang telah memicu cadangan bahan peledak yang sangat besar yang telah dibangun selama bertahun-tahun melalui penghinaan, diskriminasi, stigmatisasi, rasisme negara, kekerasan polisi, pengangguran dan kesengsaraan dalam segala jenis.” (Koran Revolution, Tendence Marxiste Internationale)
Kontradiksi kapitalisme bertambah tajam. Ketidakstabilan dunia semakin dalam. Di skala internasional, ketenangan relatif selama periode-periode terdahulu takkan pernah berlanjut. Sekarang, gelombang perjuangan kelas sedang meningkat. Pendulum politik berayun ke kiri, dengan pasang dan surut secara mendadak, dan kesadaran massa yang melompat-lompat. Pelbagai negeri di Asia, Afrika, Amerika Latin, bahkan Eropa bergejolak. Di Prancis, luapan kemarahan, protes dan pemberontakan terus berlanjut. Sejak 19 Januari 2023, jutaan orang telah berpartisipasi menentang Pemerintahan Macron. Mereka sangat marah terhadap rezim borjuis yang terus-menerus meningkatkan beban pajak, usia pensiun, aneka serangan standar hidup dan diskriminasi yang mengerikan.
Dalam gerakan itu lapisan sosial yang paling lembam terbangun. Kebijakan reaksioner Macron telah menarik sebanyak mungkin perempuan, imigran, dan kelas-menengah untuk melancarkan aksi-aksi politik bersama organisasi-organisasi proletariat. Tanggal 7 Maret, gerakan berada di persimpangan jalan. Selain sayap kiri CGT, tidak ada organ-organ kepemimpinan massa yang menghimbau pemogokan umum. Di arena perjuangan yang semakin memanas, para pemimpin kiri dan organisasi-organisasi buruh dituntut menghubungkan perjuangan melawan reformasi Macron dengan perjuangan umum yang lebih luas.
Namun berlandaskan orientasi politik yang keliru maka keinginan massa tidak mampu terwadahi. Daripada meningkatkan mobilisasi dengan memperluas tuntutan; Kepemimpinan France Insoumise dan NUPES justru menampilkan kecenderungan kretinisme parlementer. Di bilik-bilik parlemen, mereka berkompromi dengan kapitalis ketimbang merebut kekuasaan. Demikianlah kepentingan proletariat ditanggalkan dan proses radikalisasi dihentikan. Pengkhianatan ini memicu gelombang demoralisasi: optimisme pada awal ledakan spontanitas meluntur dan digantikan oleh mood pesimisme. Pendulum akhirnya berayun ke kanan dan kelas borjuis secara leluasa melepaskan anjing-anjing bersenjatanya untuk melancarkan serangan-balik.
Telah lama serangan-serangan negara berlangsung buas dan keji. Selama 2022 saja, 13 orang menjadi korban pembunuhan polisi. Mayoritas korbannya merupakan orang-orang kulit berwarna. Baru-baru ini, kepolisian lagi-lagi menambah daftar pembunuhannya. Pada Selasa (27/6/23), Nahel Merzouk (pemuda keturunan Aljazair dan Maroko) ditembak mati di penghentian lalu lintas di Nanterre. Dalam proses perjuangan kelas, kematian itu membawa kebangkitan baru. Gerakan massa yang sebelumnya tercabik-cabik oleh pengkhianatan reformisme, kini kembali membara atas rangsangan obyektif baru.
Pada Rabu (28/6), gelombang kemarahan massa yang pecah di pinggiran Paris telah memasuki kota-kota besar Prancis: Lyon, Dijon, Marseille, Lille, dan Rennes. Tanpa partai, serikat buruh, atau organisasi apapun, aneka slogan perlawanan spontan dikumandangkan: ‘Polisi Pembunuh’, ‘Semua Orang Benci Polisi’, dan ‘Keadilan untuk Nahel’. Bentrokan massa dan badan orang-orang bersenjata berlangsung tajam. Negara menyerukan perang terhadap massa. Di jalanan, sekolah-sekolah dan pemukiman pekerja; kembang api dan proyektil meledak, granat setrum dan gas ait mata meluapi udara, dan ribuan jiwa dibrondongi tembakan dan bekukkan borgol secara membabi-buta. Dalam laporan otoritas setempat, 40.000 polisi telah dikerahkan dan 667 penangkapan berhasil ditorehkan.
Kini seluruh dunia sedang menyaksikan apa yang meledak di Prancis. Di antara kaum Anarkis, gerakan itu diberi tepuk-tangan sebagai sentimen anti-otoritarian paling liar. Mereka menginginkan pemberontakan terus berlangsung sampai berhasil menggulingkan rezim borjuis, tapi secara keras kepala menolak kehadiran struktur perjuangan revolusioner yang kuat untuk mengonsolidasikan dan memberi bentuk pada spontanitas. Mereka menyangkal signifikansi kepemimpinan revolusioner dalam memajukan perjuangan kelas. Mereka tidak mengerti kalau berlarut-larut gerakan–dengan banyak periode kekalahan, kekecewaan dan reaksi–merupakan fakta lemahnya kepemimpinan.
Kaum Marxis bersepakat kalau spontanitas adalah penting. Pada tahap awal gerakan, spontanitas–yang memiliki sifat menyebar–memainkan peranan luar biasa dalam menarik lapisan-lapisan terluas dan memudahkan mereka mengidentifikasikan kepentingannya dengan ledakan tersebut. Tetapi dengan karakternya yang cair, spontanitas takkan pernah bertahan lama tanpa diberi bentuk yang terorganisir dan sadar. Dalam sebuah aksi-aksi spontan pula, suka atau tidak-suka, massa yang terguncang kesadarannya akan mengekspresikan dirinya lewat organisasi-organisasi tertentu, atau bahkan melalui individu-indvidu yang berperan sebagai pemimpin setelah mendapatkan kepercayaan dari mereka. Demikianlah pada setiap gerakan spontan, sebuah partai, organisasi, atau kepemimpinan akan memainkan peran utama. Dalam “Kelas, Partai, dan Kepemimpinan”, Trotsky pernah berkata:
“Sejarah adalah proses perjuangan kelas. Tetapi kelas-kelas tidak menangungg beban sepenuhnya secara otomatis dan serentak. Dalam proses perjuangan, kelas-kelas menciptakan berbagai organ yang memainkan peran penting dan independen dan tunduk pada deformasi…. Kepemimpinan politik pada saat-saat penting dari perubahan sejarah dapat menjadi faktor yang sama menentukannya dengan peran komando utama selama periode kritis saat perang. Sejarah bukanlah proses otomatis. Kalau tidak, mengapa pemimpin? Mengapa partai? Mengapa program? Mengapa perjuangan teoretis?”
Sekarang, pendulum perjuangan kelas di Prancis kembali berayun ke kiri; kebangkitan revolusioner berlanjut dan kelas pekerja dipanggil untuk memasuki arena pertempuran terbuka: “France: teenager murdered by police–the workers’ movement must intervene!“
Bangun Kepemimpinan Revolusioner (Bolshevisme) sekarang juga!
