“Dunia ini gelap dan dingin tapi otak dan hati kita mengandung percikan yang akan membakar segalanya. Di tengah kejang-kejang sejarah dan hantaman peristiwa; kita tumbuh dengan luka dan derita, yang mengeringkan lautan air mata, menyemburkan api dan mengeraskan baja, menjadi pedang dan peluru. Kita selalu berharap dan takkan pernah berhenti berharap. Suatu saat apa yang kita perjuangkan pasti kita menangkan. Kita akan menang, bukan karena itulah yang tertulis di perpustakaan revolusioner kita, tetapi kita hidup, berjuang, dan berkorban untuk itu.”
“Kita mewarisi mimpi buruk dari masa lalu. Tumbuh pada masa-masa penuh badai. Bergerak di tengah gemuruh. Mengejar impian-impian kita. Bertahan demi fajar baru. Aku yakin: kalian masih hidup dan takkan menyerah dalam hidup! Setiap malam aku memikirkan kalian; pemuda-pemuda pemberang yang berjuang menerjang badai darah dan air mata, desingan peluru dan gedebum mortar, injakan lars dan bekukkan borgol, hantaman stigma dan jeruji-jeruji penjara—dapatkah impian kita diwujudkan tanpa sebuah rencana: membangun kesadaran, menyatukan kekuatan api dan baja? Kawan-kawan, apakah kalian akan tenggelam dalam kubangan spontanitas dan terkaman demoralisasi. Tidak, kawanku! Kita berjuang atas nama kehidupan; kita hidup maka kita harus berjuang—perjuangan ini adalah perjuangan sepanjang kehidupan. Kita telah berikrar di titik-titik api yang berkobar. Bahwa dunia lama mesti dibakar dan hancur! Kita harus belajar lebih cepat untuk memetik kesimpulan revolusioner, semakin sadar dan terorganisir, tumbuh kuat dan bertambah kuat.”
– Anonim
Baru saja kuterima kabar gembira dari kawanku di Mataram. Nyamuk Karunggu memberitahukan bahwa dirinya telah mengumpulkan pelbagai artikel propaganda untuk dibukukan. Kumpulan tulisan ini disusun menjadi sebuah naskah yang berjudul “Melawan Pembungkaman Ruang Kebebasan Akademik dan Kriminalisasi Mahasiswa Papua Universitas Mataram”. Semuanya ditulis olehnya—beserta kawan-kawan solidaritasnya—yang sepanjang 2020-2023 berjuang untuk Pembebasan Nasional West Papua. Meskipun pendekatan-pendekatan teoritik mereka cenderung eklektik, tetapi fakta-fakta dan pengalaman-pengalaman perjuangan yang terekam dalam naskah ini memberikan pelajaran berharga. Tahun 2019, krisis kapitalisme telah mencapai tingkat terbaru. Kelas borjuis sudah tidak dapat membeli perdamaian sosial dengan konsensi dan reforma-reforma seperti di masa lalu. Keuntungan besar yang mereka hasilkan selama boom sudah terkikis, kas-kas anggaran habis, dan ruang untuk bermanuver sangat terbatas. Setelah Krisis Finansial 2008, satu dekade sudah berlalu tapi sama sekali tiada pemulihan berarti. Bertahun-tahun penerapan penghematan dan pemotongan anggaran membawa perekonomian dalam kerusakan parah. Politik merupakan ekonomi yang terkonsentrasi dan kekacauan ekonomi terekspresikan melalui seabrek perpecahan di tubuh kelas penguasa. Di Eropa, Krisis Brexit membara yang ditandai perseteruan Prancis-Jerman dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Visi federalis remuk, kelas kapitalis terpecah dan kehilangan kepercayaan dirinya. Krisis yang berulang-ulang bukanlah sebatas kelemahan kapitalisme, tetapi merupakan solusi berkala untuk kontradiksi yang menumpuki sistemnya. Melalui krisis-krisisnya, kapitalisme berusaha melancarkan penghancuran kreatif guna membersihkan menyelamatkan perekonomiannya: menutup perusahaan-perusahaan yang tidak membuatnya rugi, menyingkirkan hutang-hutang yang tidak dapat dilunasi, dan menghilangkan over-produksi yang terus menghantui. Namun sekarang jurus ini tak mempan lagi.
Krisis kapitalisme makin parah dan Bank Dunia berusaha merangsang ekonomi dengan pelonggaran kuantitatif: menurunkan suku bunga dan mencetak sebanyak mungkin uang murah. Rangsangan ini membawa malapetaka. Pada kuartal pertama 2018, total hutang global membengkak menjadi 318 persen dari total PDB dunia dan tercatat 38 persen lebih tinggi ketimbang awal krisis 2008. Ketidakstabilan umum menghinggapi setiap rezim di seluruh dunia. AS dan Cina sebagai kekuatan ekonomi terbesar dunia melemah dan konflik dagang di antara mereka menyeret pelbagai negeri ke medan perseteruan. Pemerintah-pemerintah borjuis, partai-partai dan pemimpin-pemimpin reformis naik-turun tanpa menemukan jalan keluar dari kebuntuan. Ahli-ahli strategi kapitalis angkat tangan: kebijakan-kebijakan neoliberal maupun stimulus Keynesian tidak mampu memecahkan persoalan. Ketidakmampuan mengkahiri krisis kapitalisme akhirnya memaksa mereka memperkencang proteksionisme yang tidak sebatas membatasi peredaran barang dan jasa, tetapi juga membangkitkan sentimen-sentimen nasional yang begitu rupa. Di Yunani, Italia, dan Spanyol, massa memberontak untuk menentang perlakuan-perlakuan itu. Globalisasi menyeret semua negeri ke dalam pusaran konflik yang tiada terkendali. Di skala dunia, peristiwa-peristiwa besar meledak, menyebar secepat kilat, dan menunjukkan kebangkrutan negara-bangsa dan kepemilikan pribadi. Sepanjang 2019-2023, gejolak rasisme terhadap mahasiswa Papua, aksi-aksi Reformasi Dikorupsi, Mosi Tidak Percaya, Cabut Omnibus Law, Tolak Otsus Jilid II dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Bangsa West Papua meledak di Indonesia. Ratusan ribu buruh dan muda terbangun ke arena perjuangan politik. Peristiwa ini menggoncang kesadaran lapisan-lapisan luas. Meskipun bersifat spontan, sporadis, dan mengalami sejumlah pasang dan surut yang begitu mencengangkan, tetapi terseretnya sejumlah lapisan paling lembam ke medan perjuangan politik menandakan pergeseran kesadaran secara mendalam dan dramatis. Fenomena ini bukanlah evolusi bertahap, melainkan memiliki karakter revolusioner: menunjukkan lompatan kualitatif di tengah belokan mendandak dan kejang-kejang historis.
Dalam periode perjuangan kelas yang intens dengan kontradiksi yang bertambah tajam dan suhu sosial yang semakin memanas, maka lapisan-lapisan paling segar terseret menuju aksi-aksi politik seperti ranting-ranting kering yang terbakar. Di Mataram, sektor mahasiswa teradikalisasi begitu rupa. Angkatan-angkatan muda bangkit bukan sebatas menentang setumpuk RKUHP bermasalah tapi terutama menyalurkan keresahan atas meningkatnya inflasi, pencabutan subsidi, pengangguran, kemiskinan dan kelaparan yang menghantui hari-harinya. Di seluruh dunia, serangan-serangan terhadap standar hidup telah menggoncang kesadaran massa: kelas pekerja tertarik ke medan pertempuran dan bersiap memberikan pengorbanan terbesar untuk maju dan kelas menengah yang goyah cenderung mendukung gerakan revolusioner dalam mengakhiri krisis kapitalisme. Di tengah hantaman krisis dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya, kepentingan-kepentingan seksional dari setiap elemen yang teradikalisasi bersatu: individu-individu yang mengejar kepentingan dan tujuan-tujuan hidup mereka sendiri, bergerak seperti yang dijelaskan Marx: ‘secara tak terelakkan masuk dalam hubungan-hubungan tertentu, yang terlepas dari kehendak mereka, yaitu hubungan-hubungan produksi’. Menghadapi serangan-serangan dan penghancuran luar biasa, individu-individu yang posisi sosial-ekonominya dihisap, ditindas, dan dimiskinkan terdorong untuk melawan bersama dan mengukir sejarah. Melalui “Keluarga Suci”, Marx dan Engels menjelaskan bahwa ‘sejarah tidak melakukan apa-apa, ia tidak memiliki kekayaan yang sangat besar, ia tidak melakukan pertempuran. Adalah manusia, manusia sejati yang hidup dan melakukan semua itu, yang memiliki dan berjuang; sejarah bukanlah, seolah-olah, seseorang yang terpisah, menggunakan manusia sebagai alat untuk mencapai tujuannya sendiri; sejarah tidak lain adalah aktivitas manusia yang mengejar tujuannya’.
Di tengah krisis kapitalisme yang semakin mendalam, individu-individu yang teradikalisasi bergabung dalam pemberontakan bukan sebatas keinginan subyektif tapi terutama stimulus obyektif: mereka memberontak lantaran tatanan masyarakat kapitalis terlalu busuk dan sudah tidak bisa lagi memajukan kehidupan sosial-ekonominya. Trotsky dalam “Sejarah Revolusi Rusia”, menjelaskan bahwa ketika kontradiksi masyarakat semakin intens dan kekuatan sejarah secara keseluruhan bertambah besar, maka karakteristik-karakteristik pribadi akan menyesuaikan dirinya sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh zamannya: ‘iritasi yang serupa (tentu saja tidak begitu identik) dalam kondisi serupa memunculkan refleks yang serupa; semakin kuat iritasinya; semakin cepat ia mengatasi kekhasan pribadi. Menghadapi rasa geli, orang bereaksi berbeda, tetapi terhadap besi panas, sama saja. Seperti palu uap mengubah bola dan kubus menjadi lembaran logam, demikian pula di bawah hantaman peristiwa yang terlalu hebat dan tiada terelakkan, resistensi dilebur dan batas individualitas hilang’. Kebebasan-kebebasan relatif untuk bertindak secara terpisah-pisah bukan saja tak berguna, tapi bahkan tidak mungkin dilakukan pada periode sejarah yang menajam. Di seluruh dunia, mahasiswa merupakan elemen yang pertama kali bergerak. Dengan taraf kebudayaan yang tinggi dan tanpa beban kebiasaan, rutinitas pekerjaan, dan ingatan akan perkembangan progresif kapitalisme di masa lalu—angkatan muda ini tampil sebagai barometer yang jauh lebih tanggap dan cekat dalam merespon persoalan yang menggerogoti jantung masyarakatnya. Meskipun kepemimpinan revolusioner belum hadir memandu perjuangannya, namun posisi sosial itulah yang memungkinkan mahasiswa melancarkan perlawanan-perlawanan terbuka. Walaupun pemimpin-pemimpin reformis partai dan serikat-serikat buruh memblokir struktur yang dapat digunakan untuk mengekspresikan kemarahan pekerja dan muda, tetapi krisis yang terus berlanjut dan keunikan sosial mahasiswa mampu menemukan cela untuk mendirikan gerakan spontan dan sporadis.
Tahun 2019, spontanitas memainkan peran penting dalam memercikan perlawanan di Indonesia. Di Mataram, pada permulaan ledakan aksi politik organisasi-organisasi mahasiswa dan BEM-BEM Universitas terdorong oleh gelombang massa untuk maju ke depan. Ketika atmosfer sosial semakin memanas dan karakter massa bertambah radikal, seabrek organisasi dan pemimpin-pemimpin moderat disingkirkan dan anasir-anasir kiri dimandatkan memimpin. Demikianlah Kepemimpinan Aliansi Cipayung ramai ditinggalkan dan Kepemimpinan Aliansi Rakyat NTB Menggugat mendapatkan pertambahan massa. Di tengah pasang gerakan, tuntutan dan kebutuhan massa meniscayakan lahir atau ditemukannya individu-individu tertentu untuk memimpin gerakannya. Selama tahapan peningkatan agitasi, orang-orang hebat bermunculan untuk memberikan orasi, pidato, mengusung tuntutan, dan tampil sebagai pemimpin-pemimpin Gerakan Reformasi Dikorupsi. Nama-nama seperti Amri (Ketua BEM Unram/Pimpinan KAMMI), Kobel (Pimpinan KPR) dan Idham (Pimpinan SMI) mengalun di udara. Bangkitnya gerakan mahasiswa memupuk popularitas mereka. Pribadi-pribadi ini menjadi pemimpin massa atas kualitas dan prestisenya pada organisasi-organisasi tertentu dan berusaha melayani kebutuhan sosial yang besar di momen meledaknya peristiwa. Mereka tampil sebagai orang-orang hebat yang dipilih oleh sejarah untuk memimpin perjuangan massa. Dalam Aliansi Rakyat, BEM Unram merupakan koordinator umumnya dan KPR-SMI menjadi koordinator lapangannya. Dengan struktur inilah individu-individu seperti Amri, Kobel, dan Idham mengambil peranan penting di tengah jalannya sejarah. Tingkat pengaruh mereka bergantung pada kondisi sejarah, korelasi kekuatan sosial, dan peran-peran spesifiknya di tengah jalannya peristiwa. Saat masa-masa normal, segelintir individu mungkin tidaklah bisa mempengaruhi roda sejarah. Tetapi dalam momen-momen kritis maka pribadi tertentu dapat menjadi penentu sejauh mereka mampu memahami hukum perkembangan historis dan bertindak mewakili kepentingan kelas yang ada di belakangnya. Apabila kebangkitan massa tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka akan berujung pada periode penurunan. Inilah yang menuntut kepemimpinan untuk memiliki orientasi yang tepat. Perkembangan historis bukanlah sebuah proses otomatis, tetapi membutuhkan pemimpin, program, dan perjuangan teoretis yang mempersonifikasikan pengalaman dan kecerdasan dari bagian massa yang paling aktif. Lewat “Peran Individu dalam Sejarah”, Plekhanov menjelaskan hubungan pemimpin dan massa: ‘individu dapat mempengaruhi masyarakat berdasarkan sifat-sifat tertentu dari sifat mereka. Pengaruh mereka kadang-kadang sangat besar tetapi kemungkinan pelaksanaannya dan jangkauannya ditentukan oleh organisasi masyarakat dan penyelarasan kekuatannya. Karakter individu adalah “faktor” dalam perkembangan sosial hanya di mana, kapan, dan sejauh hubungan sosial mengizinkannya’.
Pada aksi-aksi Reformasi Dikorupsi, saat kelas penguasa mulai melancarkan serangan-balik maka konsesi dan represi mengepung gerakan mereka. Di tahap awal kebangkitan, terbangunnya massa ke arena perjuangan politik kontan meretakkan DPRD NTB. Mendapati tekanan dari bawah, faksi-faksi di Parlemen Udayana berusaha menungganginya untuk menyerang dan menjatuhkan lawan-lawan politiknya. Tetapi derasnya gelombang massa meremukkan seluruh manuver dan intrik-intrik birokrasi. Kepemimpinan aliansi didorong untuk melangkah lebih jauh dan tidak berkompromi. Di mobil-mobil komando, pimpinan-pimpinan mahasiswa tampil berani. Tawaran-tawaran negosiasi dan pertemuan-pertemuan tertutup ditolak begitu saja. Hanya setelah berlama-lama menghadapi ketidakstabilan maka massa mulai lelah. Keresahan dan kemarahan akar rumput yang besar tak mampu ditampung dan disalurkan dengan baik oleh kepemimpinannya. Perspektif kepemimpinan yang tidak memadai mendikte seluruh slogan dan kebijakan-kebijakan yang diterapkan aliansi. Agitasi-agitasi menurun, semangat melemah, dan barisan-barisan perlawanan goyah. Dalam kondisi inilah perimbangan kekuatan berubah. Pendulum yang semula ke kiri perlahan berayun ke kanan. Demikianlah borjuasi mendapatkan kesempatan untuk meluncurkan represi. Menghadapi kepungan polisi, tembakan gas air mata dan water cannon, serta penangkapan-penangkapan brutal—aliansi lantas terpecah begitu rupa: di atas mobil komando, para pemimpin berbeda pendapat mengenai langkah yang mesti dipilih; di ruas-ruas jalanan, massa menunggu seruan dan arahan-arahan yang berguna. Namun pimpinan-pimpinan mahasiswa tak berdaya menghadapi serangan-balik penguasa. Daripada menyerukan pembentukan barikade-barikade pertahanan diri dan mundur secara terartur, kepemimpinan justru abstain dan kebingungan: massa dibiarkan menunggu dan bertindak tanpa petunjuk yang dibutuhkan.
Ketika cambuk reaksi bertambah kencang maka massa tidaklah mungkin terus-menerus mengharapkan kepemimpinnya. Di mobil komando para pemimpinnya nampak berputus asa dan mempersonifikasikan kelemahan sosial dari selapisan borjuis-kecil yang sudah menyerah. Saat ketegangan bertambah parah dan tekanan massa melemah, kepemimpinan dari orang-orang hebat yang terpilih oleh sejarah benar-benar diuji. Elemen-elemen radikal dipukuli tongkat, sedangkan elemen-elemen konservatif diberi wortel. Demikianlah saat kondisi historis bertambah tajam, maka terdapat puluhan orang radikal yang ditangkap dan sosok pemimpin seperti Amri justru menghilang untuk mencari tempat perlindungan dan bersiap melakukan kompromi. Sementara di jalanan, lapisan-lapisan yang teradikalisasi secara spontan membentuk barikade-barikade yang bersenjatakan tongkat dan batu-bata. Di tengah gelombang represi, mahasiswa dan pelajar SMK sekarang bersatu melawan negara. Mereka membrondongi water cannon dengan batu dan kayu, melempar-balik peluru-peluru gas air mata ke arah gerombolan badan orang-orang bersenjata, dan menarik dukungan dari rakyat miskin kota di perkampungan-perkampungan sekitarnya. Meskipun reaksi berpotensi membuka kran radikalisasi yang semakin besar, namun tanpa kehadiran pemimpin—yang seharusnya berperan sebagai jenderal perang kelas—akhirnya nyali dan militansi massa yang luar biasa menguap begitu saja. Aparat-aparat yang terorganisir lebih kuat ketimbang massa yang terpecah-pecah. Tanpa struktur yang stabil maka spontanitas massa tak mampu dikonsolidasikan dengan terorganisir dan sadar. Apa yang meledak secara spontan akhirnya menghilang cepat. Saat keterlibatan massa menurun dan kekuatan gerakan melemah, kepemimpinan yang tak memadai itu cenderung meletakkan kesalahan kepada massa dengan aneka apologi liar: massa tidak siap, terlalu banyak bermain-main dan amat cair. Kita mengerti kalau bobot sosial mahasiswa tak sebesar proletariat, tetapi kekuatan kelas menengah yang teradikalisasi berperan sebagai percikan dalam mengorbarkan perjuangan kelas revolusioner. Massa mahasiswa seperti yang diungkapkan Karl Liebknecht: ‘adalah api bagi revolusi proletariat’. Dalam “Perspektif Fightback 2018—Kebutuhan akan Gerakan Buruh yang Militan” tertulis:
“Kaum muda berada di garis depan gerakan global melawan status-quo. Jajak pendapat demi jajak pendapat menunjukkan kaum muda menolak kapitalisme dan memandang positif sosialisme, komunisme, dan bahkan revolusi. Ada perasaan umum bahwa sistem tidak berjalan dan kapitalisme tidak memberikan masa depan bagi kaum muda. Ketika ditanya tentang bagaimana menurut mereka kualitas hidup generasi berikutnya, 13 persen mengatakan lebih baik sementara 65 persen mengatakan lebih buruk…. Kaum muda tidak memiliki konsep orang dewasa tentang kapitalisme yang memberikan perbaikan, tetapi mereka juga tidak memiliki ingatan orang dewasa tentang gerakan buruh yang melakukan perjuangan nyata. Hal ini dapat membuat konsep bahwa kelas pekerja yang sentral dalam perjuangan mengubah masyarakat menjadi abstrak. Sangatlah penting bahwa kaum muda tidak meninggalkan analisis kelas revolusioner dan tersedot ke dalam ide-ide kelas menengah yang trendi seperti politik identitas. Ini akan mengisolasi kaum muda dan mencegah mereka bersatu dengan kekuatan yang sebenarnya mengancam kapitalisme dan semua penindasan yang ditimbulkannya…. Dalam analisis terakhir, kelas pekerjalah yang memiliki kekuatan untuk mengakhiri kapitalisme dan menyatukan semua yang tertindas untuk melawan sistem. Kekuatan pemuda adalah sebagai percikan untuk membantu membawa para pekerja ke dalam perjuangan.”
Namun kepemimpinannya begitu lemah. BEM, SMI, bahkan KPR memandang kesadaran dan keterorganisasian merupakan buah matang dari kedewasaan massa, bukan sebagai tugas strategis dari kepemimpinan mereka. Saat lapisan-lapisan lembam dan segar terbangun ke arena politik, para pemimpin seharusnya tidaklah sebatas mengajari mereka cara berorasi dan berbaris semata tapi terutama mengambil titik awal ini untuk mendorongnya maju: mendidik massa dengan agitasi dan propaganda-propaganda revolusioner guna menyingkapkan kelemahan-kelemahan borjuis dan meyakinkan massa akan kekuatannya sendiri hingga membantunya menarik kesimpulan revolusioner mengenai signifikansi pembangunan kepemimpinan revolusioner untuk revolusi proletariat. Kaum muda yang teradikalisasi adalah bahan bakar bagi perjuangan kelas revolusioner. Mereka tidak bisa dibiarkan bergerak secara spontan dan terombang-ambing dalam praktik-praktik gerakan yang paling sempit. Luapan penderitaan, kemarahan, dan keberanian mereka mesti diberi ekspresi yang sadar dan terorganisir dalam membangun organisasi revolusioner untuk mengakhiri krisis masyarakat kapitalis. Itulah mengapa lapisan-lapisan muda yang teradikalisasi harus segera didekati, dididik dan dipersiapkan menjadi pemimpin-pemimpin revolusioner di masa depan. Tanpa orientasi politik macam ini maka kepemimpinan hanya akan mendapati kebangkitan massa yang hampa dan diikuti oleh periode kemunduran yang tidak sekadar memadamkan proses radikalisasi tapi juga melemparkan lapisan-lapisan terbelakang ke dalam lubang demoralisasi. Tetapi bagian-bagian termajunya untuk sementara dapat bertahan dan bergerak, membentuk gerakan-gerakan lokal, atau memasuki organisasi-organisasi nasional radikal, hingga ledakan-ledakan baru kembali menggoncang mereka dan menguji setiap tendensi-tendensi gerakan dan organisasi yang ada. Di Indonesia, situasi politik dicirikan oleh suasana ketidakpuasan dari bawah tanah yang menembus permukaan dengan ledakan sporadis. Sejak 2019-sekarang, gerakan-gerakan massa susul-menyusul dengan karakter yang serupa: meletus mendadak dan menghilang secepat kilat. Dari Reformasi Dikorupsi, Mosi Tidak Percaya, hingga pelbagai aksi-aksi kampanye dan solidaritas yang berlangsung di pelbagai daerah—semua gerakan ini memiliki benang merah yang sama: (1) secara signifikan melibatkan angkatan muda; (2) secara implisit menentang seluruh tatanan masyarakat kapitalis; dan (3) secara dramatis memperlihatkan spontanitas yang luar biasa. Ini bukanlah sebuah kecelakaan zaman melainkan keniscayaan historis. Seperti yang dikatakan Hegel: ‘kebetulan pada akhirnya adalah cerminan dari kebutuhan’. Di tengah krisis kapitalisme yang mendalam, dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran muda yang mengerikan, dan tanpa adanya struktur kepemimpinan yang stabil untuk membantu mengekspresikan kepentingannya—maka ketidakstabilan akan berlangsung berlarut-larut dan radikalisasi pemuda tidak dapat dihindarkan.
Kondisi sejarah dan hubungan-hubungan sosial saat ini memasuki momen perjuangan kelas yang intens, dengan fluktuasi periodik yang sangat tajam dan perubahan situasi yang luar biasa mendadak, yang bisa dimanfaatkan untuk memobilisasi massa dan menarik lapisan-lapisan terlembam ke arena politik. Dalam situasi inilah akan muncul lebih banyak calon pemimpin revolusioner dari elemen-elemen yang baru bergerak. Di tengah aksi-aksi sporadis dan spontanitas yang meledak-ledak, angkatan-angkatan muda radikal bermunculan. Individu-individu yang terisolasi dalam keadaan terlentang, penuh ketidakpedulian, rutinitas dan kebiasaan sehari-harinya diseret ke medan perjuangan. Goncangan peristiwa mengusik kesehariannya dan meruntuhkan kepercayaan-kepercayaan lamanya. Demikianlah protes menyalak, bilik-bilik kampus memanas, dan jalanan diluapi gelombang amarah. Hanya kelemahan kepemimpinan pada akhirnya membalikkan pendulum ke kanan: aktivitas massa menurun, tekanan ke atas melemah, reaksi ke bawah membuncah, dan kran demoralisasi terbuka. Meskipun mereka menderita kekalahan tapi elemen-elemen maju berusaha bertahan dan mencoba memeluk aneka tendensi. Di Mataram, sebagian besar massa kembali melaksanakan kehidupan normalnya sementara segelintir pemuda yang berasal dari HMI, IMM, PMII, LMND, dan FMN—yang tidak puas dengan organisasi-organisasi yang memimpin Gerakan Reformasi Dikorupsi—mulai membentuk lingkaran-lingkaran kecil radikal yang terisolir dan pecah dari organisasi asalnya. Demikianlah suasana politik massa tak berubah secara otomatis ke satu arah. Seperti yang disampaikan Leon Trotsky: ‘kebangkitan dalam perjuangan kelas diikuti oleh kemerosotan, pasang surut, tergantung pada kombinasi yang rumit dari kondisi material dan ideologis, nasional dan internasional’. Agustus 2019, The Economic sudah mnegeluarkan rilis mengenai kelesuan ekonomi dunia dan ancaman resesi global. Bulan Desember, Covid-19 meledak di Cina dan segera menjulur ke pelbagai negeri secara liar. Maret 2020, sebagai langkah menanggulangi krisis maka Federal Reserve AS kontan memangkas suku bunga sampai 0 persen.
Hanya penurunan bunga bukanlah memulihkan pertumbuhan tapi memperkeruh ketidakstabilan. Selama 2018-19, laju perekonomian Indonesia menurun dari 5,2 menjadi 5,0 persen. Melemahnya permintaan global mencekik Indonesia yang merupakan negeri penyuplai bahan baku ke Cina dan pengekspor alas kaki serta tekstil ke Amerika. Secara internasional harga-haga komoditas energi dan non-energi hancur. Di kuartal ketiga 2020, perdagangan dunia mengalami kontraksi sebesar 21,2 persen dan pendapatan ekspor Indonesia menyusut 8,5 persen. Sejak 2019, sumbangan investasi untuk pertimbuhan ekonomi merosot hingga 1,47 persen. Di sisinya, kepungan pandemi memperdalam inflasi. Di negara-negara kapitalis maju, pemerintah-pemerintah sudah tidak berdaya menghadapi krisis. Di seluruh dunia, 225 juta pekerja jadi penganggur dan 125 juta orang terhempas ke jurang kemiskinan. Di Indonesia, 57 juta buruh mengalami PHK dan 74 juta pekerja informal mengalai pemerosotan pendapatan yang mengerikan. Di antara driver ojol saja, 67 persen pemasukannya menurun dari rata-rata 250 ribu rupiah per hari menjadi 90 ribu. Sementara selama korona, segelintir orang-orang kaya dan pemilik alat produksi meningkatkan kekayaan pribadinya. Secara global, 10 miliarder terkaya meningkatkan kekayaannya sebesar 540 miliar dolar AS. Di Indonesia, 15 konglomerat terkaya juga mendongkrak kekayaannya sebanyak 71,8 miliar dolar AS. Dalam situasi inilah Omnibus Law dihadirkan bukan sekadar untuk membuka kran investasi tapi terutama menjaga pertumbuhan kekayaan kapitalis. Pertengahan 2020, pemaksaan Omnibus Law akhirnya menjadi rangsangan obyektif yang membangkitkan Gerakan Mosi Tidak Percaya. Sekali lagi kaum muda turun ke jalan dengan jumlah meraksasa. Di Mataram, perjuangan massa kembali membara. Namun tanpa orientasi yang tepat dari kepemimpinan maka momen kebangkitan tak mampu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
BEM Unram, SMI Mataram, bahkan KPR NTB terlihat lemah dan tiada berdaya dalam memberikan ekspresi yang sadar dan terorganisir pada gerakan massa. Mereka mungkin mendapatkan mata dan telinga, tetapi mereka melupakan agitasi dan propaganda-propaganda revolusioner. Ketika konsolidasi-knsolidasi di Lapangan Unram, sama sekali tidak ada pidato dan sajian referensi berperspektif Marxisme Revolusioner. Saat aksi-aksi politik di Jalan Udayana, juga tiada orasi apalagi koran dan selebaran yang berusaha meyakinkan massa dengan orientasi perjuangan kelas yang tepat. Demikianlah momen kebangkitan segera diikuti periode kemunduran yang cepat. Tanpa kepemimpinan yang memadai, dengan orientasi politik yang tepat, maka spontanitas massa akan menguap secepat kilat. Demonstrasi atau pemogokan yang merupakan miniatur dari revolusi tidak mampu mereka manfaatkan dengan baik untuk meningkatkan kesadaran dan keterorganisasian elemen-elemen sosial yang teradikalisasi. Daripada berdiri di atas aksi politik revolusioner, kepemimpinan mereka justru mengandalkan garis komando semata. Memang bertambah tajamnya kontradiksi ikut meningkatkan kebutuhan sentralisasi, tetapi pemusatan kekuatan yang tidak menggunakan agitasi dan propaganda revolusioner berarti menyangkal metode sentralisme-demokratis dengan kecenderungan sentralisme-birokratis. Kepemimpinan macam ini tiada menginsafi kalau massa bergerak bukan saja karena dorongan obyektif melainkan pula faktor subyektif. Massa tidak cukup berjuang dan berkoban hanya lantaran terhimpit kesusahan dan penderitaan hidup. Massa akan memberikan pengorbanan terbaiknya hanya ketika mereka tahu, yakin, dan mencintai apa yang diperjuangkannya. Menghadapi persoalan inilah peran kepemimpinan amat signifikan untuk mempercepat pembelajaran dan peningkatan kesadaran massa. Melalui Jurnal Dialektika III, Alan Woods menjelaskan dengan baik bagaimana hubungan antara pelopor dan massa di tengah ledakan peristiwa:
“Gaya inersia adalah hukum yang berlaku untuk semua benda, dan yang menyatakan bahwa mereka akan selalu tetap dalam keadaan mereka, baik dalam keadaan diam atau bergerak, kecuali jika ada gaya eksternal yang dikenakan pada mereka untuk mengubah keadaan mereka, dan titik tersebut disebut resistensi atau aksi. Hukum yang sama berlaku untuk masyarakat…. Tradisi dan rutinitas sehari-hari membebani benak manusia dan memaksa mereka untuk mematuhi penilaiannya. Ini berarti bahwa massa, setidaknya pada awalnya, akan selalu menempuh jalan yang paling mudah. Namun pada akhirnya, hantaman peristiwa-peristiwa besar akan selalu memaksa mereka untuk mulai mempertanyakan norma, moralitas, agama dan kepercayaan yang telah membentuk cara berpikir mereka sepanjang hidup mereka. Dibutuhkan peristiwa-peristiwa besar untuk mengguncang massa keluar dari rutinitas yang membuat mereka bebal, untuk memaksa mereka menyadari posisi mereka yang sebenarnya, untuk mempertanyakan paham-paham lama yang mereka pikir tidak perlu dipertanyakan lagi, dan menarik kesimpulan revolusioner. Ini jelas membutuhkan waktu. Tetapi selama revolusi, kesadaran massa mengalami dorongan yang sangat besar. Kesadaran dapat sepenuhnya berubah dalam 24 jam. Kita saksikan proses serupa di setiap pemogokan. Sering kali buruh yang paling maju terkejut ketika justru buruh-buruh yang paling terbelakang dan konservatif tiba-tiba berubah menjadi menjadi militan yang paling aktif dan energetik. Pemogokan adalah miniatur revolusi. Dan dalam setiap pemogokan, kepemimpinan memainkan peran penting dala proses perkembangan kesadaran. Acap kali, satu pidato berani oleh hanya seorang militan dalam pertemuan massa dapat berarti keberhasilan atau kegagalan sebuah pemogokan.”
Dalam revolusi, demonstrasi, atau pemogokan—peran kepemimpinan adalah sentral. Saat barisan massanya dihantam reaksi, pecah dan terdemoralisasi oleh setumpuk serangan-balik borjuis; kepemimpinan yang lemah akan menatap diferensiasi dan penurunan homogenitas gerakannya sebagai akibat dari keberadaan lapisan-lapisan yang bersifat cair. Ketika massa mulai mundur dan meninggalkan jalanan, kepemimpinan macam itu pasti kebingungan dan menggantikan signifikansi agitasi-propaganda dengan instruksi-instruksi korlap. Pada momen-momen kritis sejarah, tugas kepemimpinan sangat strategis. Para pelopor yang tidak mampu memajukan perjuangan massa diabaikan dan ditinggalkan. Persoalan utamanya bukan menyangkut karakter massa yang cair tapi peranan menentukan dari kepeloporan. Kepemimpinan tidaklah sebatas mendapatkan mata dan telinga massa melainkan pula membuat kebijakan, slogan, dan seruan-seruan penting. Pada tahap permulaan, spontanitas merupakan arus yang luar biasa kuat dalam menarik lapisan luas untuk mengidentifikasi dirinya dengan ledakan. Luapan spontan bahkan meretakkan kepemimpinan-kepemimpinan organisasi yang lemban dan bungkam dalam melayani kebutuhan massa yang sedang bangkit. Saat pelbagai lapisan sosial terbangun untuk melancarkan aksi-aksi politik maka setiap kepemimpinan yang ada menghadapi tantangan serius. Pemimpin-pemimpin yang berkompromi ditinggalkan dan pemimpin-pemimpin yang berjuang didukung. Namun massa takkan tahan berlarut-larut menghadapi ketidakstabilan. Jika kepemimpinan lemah, tanpa perspektif dan program yang tepat, energi revolusioner massa terbuang sia-sia, hingga mereka menjadi lelah dan kecewa terhadap kepemimpinannya. Di titik inilah nampak jelas bagaimana hubungan pelopor dan massa bersifat sangat dinamis. Pelopor yang tidak mampu menjalankan perannya akan ditinggalkan dan massa yang teradikalisasi oleh peristiwa serta berhasil menarik kesimpulan revolusioner akan meningkatkan aktivitas politiknya menjadi pelopor. Itulah proses dialektis antara pelopor dan massa. Selama masa-masa tenang prosesnya lambat—membentangkan ujian kebosanan dan memerlukan kesabaran yang luar biasa. Memasuki masa-masa gejolak prosesnya dipercepat—melalui bermacam-macam ujian yang penuh ranjau tipu-daya dan menantang bahaya. Di atas segalanya, pada setiap masa, keyakinan dan pengorbanan sangat dibutuhkan dalam menghadapi tahap-tahap tertentu dari perjuangan kelas. Sekarang kita berada di zaman bergejolak! Namun dengan pendulum yang tidak secara terus-menerus berayun ke satu arah melainkan mengarah ke kanan dan ke kiri berdasarkan kejang-kejang historis yang dicirikan oleh fluktuasi periodik dan perubahan situasi mendadak. Pada kondisi inilah kita akan melihat mobilitas yang amat cepat dari individu-individu yang mencari dan menguji pelbagai organisasi dan kepemimpinan. Mereka bukanlah kutu-kutu loncat yang tiada berprinsip, melainkan massa yang sedang berusaha menemukan jalan keluar untuk mengakhiri krisis kapitalisme secara revolusioner. Ini merupakan gejala yang sehat di tengah kekosongan kepemimpinan revolusioner. Lewat Dialektika III, Alan Woods memperjelas:
“Pergolakan revolusioner tersirat dalam seluruh situasi saat ini. Mereka akan terjadi, seperti malam mengikuti siang, terlepas apakah ada partai revolusioner ataukah tidak. Tetapi dalam perang antar kelas, seperti halnya dalam perang antar negara, memiliki jenderal yang baik adalah faktor yang menentukan. Dan di situlah letak masalahnya. Massa berusaha mencari jalan keluar dari mimpi buruk ini. Mereka mencoba satu demi satu partai dan pemimpin, membuang satu demi satu ke dalam tong sampah sejarah. Ini menjelaskan ketidakstabilan ekstrem kehidupan politik di semua negara saat ini. Pendulum politik berayun keras ke kanan, lalu ke kiri…. Untuk alasan historis yang tidak akan kita bahas di sini, kekuatan Marxisme telah terlempar jauh ke belakang. Mengingat lemahnya faktor subyektif, tidak dapat dihindari bahwa ketika massa terbangun ke dalam kehidupan politik, mereka akan berpaling ke organisasi massa yang ada dan para pemimpin yang dikenal baik, terutama yang memiliki ‘kredensial’ kiri. Oleh karena itu, dalam periode hari ini kita akan saksikan kebangkitan tendensi reformis kiri dan bahkan tendensi sentries [yang berayun-ayun antara revolusi dan reformisme]. Tapi ini juga akan diuji oleh massa, dan dalam banyak kasus, hanya akan memiliki karakter yang fana.”
Di Mataram, setelah ledakan Reformasi Dikorupsi dan Mosi Tidak Percaya berlalu dan meninggalkan beragam pelajaran; organisasi-organisasi massa mahasiswa bukan saja mengalami peningkatan anggota, tetapi juga kaum muda dari organisasi-organisasi berkepemimpinan konservatif dan liberal mulai terbuka dengan ide-ide radikal dan revolusioner. Di HMI Mataram, ditemukan buku berjudul “Dikader Diorganisasi yang Sakit (Catatan Eks-Anggota HMI)” yang ditulis oleh Anonim–orang muda yang memutuskan meninggalkan organisasi lamanya dan membentuk organisasi baru bersama kawan-kawan radikalnya. Dari HMI pula terdapat seabrek pemuda radikal yang mengundurkan diri dan mencari kepemimpinan terbaru. Comunne, Ghasen, dan Wayan merupakan beberapa di antaranya. Tergoncang oleh aksi-aksi politik sepanjang 2019-2020, Comunne dan Ghasen untuk sementara bergabung dengan LMND Mataram dan segera mengundurkan diri seusai tertempar oleh tendensi reformisme dari kepemimpinan oportunis yang mendukung borjuasi lokal dalam Pilkada Mataram 2020. Di FMN Mataram, Nyamuk merupakan salah satu pribadi yang ikut tergoncang oleh ledakan peristiwa, terdorong memisahkan diri dari organisasinya, dan bergerak untuk membangun organisasi yang lebih radikal. Di Amikom Mataram, Jihad—yang sebelumnya menghindari persoalan-persoalan politik—terseret membersamai gerakan-gerakan politik, mengidentifikasi dirinya sebagai individu merdeka, dan tertarik untuk menyelami teori-teori Anarkis. Di tengah fluktuasi periodik, dengan perubahan situasi mendadak dan belokan tajam historis, beragam diskusi-diskusi dan mimbar-mimbar bebas berlangsung naik-turun di Mataram. Namun dalam momen-momen kegiatan politik itulah kaum muda radikal dipertemukan. Awal Oktober 2020—Comunne, Ghasen, Wayan, Jihad, dan Anonim bertemu, bertukar kontak, dan saling merekomendasikan bacaan Anarkis maupun Marxis. Setiap agenda diskusi dan aksi terbuka mereka ikuti dengan perspektif eklektik. Pertengahan bulan, pertemuan-pertemuan mereka meningkat dan melahirkan program lapak baca dan diskusi serta kampanye-kampanye mengenai polemik HAM dan demokrasi.
Pertengahan Oktober, Comunne dan Anonim membangun kontak dengan Pimpinan Kolektif Nasional Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN). Keduanya menghubungi Rahman (Pimpinan Politik PEMBEBASAN) dan mengatakan kalau mereka hendak bergabung menjadi anggota PEMBEBASAN. Dari pembicaran inilah sebuah sel dari organisasi radikal berskala nasional mulai didirikan di Mataram. Tanggal 25 Oktober—Comunne, Jihad, Ghasen, Wayan, dan Anonim memproklamirkan berdirinya Kelompok Studi Independen (KSI). Dua hari kemudian, sebuah artikel yang memaparkan program dan tujuan KSI diterbitkan dengan judul “Pernyataan Sikap sekaligus Ajakan Berdiskusi” di independentmovement.id (sebuah media yang sudah tidak bisa diakses karena diblokir negara borjuis). Pernyataan itu dibuka dan ditutup dengan seruan provokatif: ‘diisi oleh orang-orang muda yang jenuh akan keadaan, maka Kelompok Studi Independen berupaya menghadirkan perubahan. Senjata untuk mewujudkannya bukan dengan surat tilang, borgol, tongkat, water cannon, granat, bayonet, dan sepatu lars; melainkan teori-teori sosial kritis’—‘waktunya gagasan dan ide-ide yang selama ini dibatasi kelas penguasa dipelajari bersama. Sudah tidak mungkin lagi kebenaran mereka daku seenak jidadnya. Itulah sebabnya KSI mengajak kawan-kawan mengikuti diskusi-diskusi yang (akan) kami adakan. Dari forum ilmiah, bersama-sama kita tak sebatas membebaskan pikiran; karena selanjutnya bakan mencetuskan aksi. Terutama untuk mengusik ketentraman kelas borjuasi’. Meskipun menentang kapitalisme tapi KSI tidaklah memiliki perspektif, program, metode, dan tradisi perjuangan kelas yang memadai. Hanya semangat, keberanian, dan heroisme kaum muda di dalamnya yang membuat organisasi ini segera dilirik dan diperhitungkan sebagai gerakan kiri. Dalam periode dan kondisi sejarah yang menajam, aspirasi-aspirasi yang berkembang di jantung sosial cenderung melahirkan atau menemukan individu-individu dengan kualitas dan karakter tertentu. Di KSI, pribadi-pribadi itu memperlihatkan tekad yang serupa: bersikeras menjadi bagian dari perubahan zamannya dan bersedia mengambil tindakan-tindakan nekad demi mewujudkan impian-impiannya. Di kampus-kampus program-program radikalnya dijalankan dengan menyebarkan selebaran dan berorasi tanpa toa secara berapi-api. Taman, kantin, lorong, berugak, perpustakaan, dan ruang-ruang belajar disisir untuk mencari kawan berdiskusi.
Walaupun dipandang aneh, dicemooh, dan kegiatan-kegatannya disabotase birokrasi dan intel-intel polisi dan tentara, namun KSI tidak gentar, mundur, dan menyerah. Di Unram, KSI berhasil menarik perhatian Nyamuk untuk membersamai diskusi-diskusinya. Dia merupakan bagian dari angkatan muda yang tidak saja teradikalisasi oleh peristiwa Reformasi Dikorupsi dan Mosi Tidak Percaya, tetapi juga Rasisme terhadap Mahasiswa Papua dan setumpuk persoalan kebangsaan yang berlarut-larut sejak Operasi Trikora mengintrodusir penumpasan dan penjajahan bangsanya. KSI memfasilitasi pelbagai aktivitas diskusi dan kampanye dengan mengusung isu-isu HAM dan demokrasi di Indonesia dan Papua. Awal November, mereka mulai mengadakan kampanye kemanusiaan dengan mendirikan Aksi Kamisan Mataram. Dari aksi inilah KSI berhasil menjaring kontak dari dua anggota IMM Mataram: Civil dan Awan. Sedangkan dari lapak baca dan diskusi regulernya KSI mendapat kontak dari anggota LMND Mataram dan HMI Mataram: Jenggo dan Mahfud. Sepanjang November, kawan-kawan KSI dan AMP melakukan pertemuan intens untuk merencanakan Diskusi Peringatan Hari Kemerdekaan Papua dan Aksi Peringatan Trikora: 59 Tahun Penjajahan Indonesia di Tanah Papua. Menjelang 1 Desember—UIN-Ma, Ummat, dan Unram dipilih sebagai tempat diskusinya. Hanya agenda ini bukan saja dibatasi tapi juga digagalkan begitu rupa. Gerombolan birokrasi kampus bekerja sama dengan intel-intel polisi dan tentara dalam mengisolasi dan melancarkan pengusiran dengan mengerahkan satpam. Tepat 19 Desember 2020, meskipun berujung pembubaran dan penangkapan tapi Aksi Trikora berhasil dilaksanakan dengan melibatkan IMAPA Mataram dan FMN Mataram. Sejak demonstrasi ini, kampus-kampus meningkatkan keamanan dengan menggandeng gerombolan intelijen dalam melakukan kontrol dan pengawasan terhadap mahasiswa Papua dan elemen-elemen solidaritas di Mataram. Guna melumpuhkan gerakan pembebasan nasional; operasi para intel mula-mula berusaha mencaritahu identitas kawan-kawan KSI dengan menggunakan bantuan Kelompok Cipayung dan Paguyuban Bima-Dompu. Mereka mendatangi seabrek orang dari organisasi-organisasi tersebut guna menggali informasi mengenai nama asli, kampus berkuliah, alamat asal, tempat tinggal sekarang, hingga asal-usul keluarga dan watak dari pemuda-pemuda KSI. Dalam sebuah artikel berjudul “Surat untuk Kamerad Semua”, Comunne menyampaikan pandangannya secara pedih:
“Dari awal perjuangan kita adalah perjuangan yang sangat beresiko. Kita tahu bahwa negara tidak pernah menjadi wasit yang adil dalam pertentangan kelas. Negara hanyalah alat bagi kelas penindas, pada akhirnya sangatlah tepat apa yang disampaikan oleh Lenin: ‘negara adalah badan orang-orang bersenjata’. Kapitalisme telah munyulam dunia menjadi dunia yang sangat busuk. Kapitalisme menjajah di segala lini, untuk mendorong eksploitasi, akumulasi dan ekspansi kekuatan modal. Jalan yang kita tempuh ialah jalan yang cukup terjang, terutama di dunia barang dagangan yang menawarkan barang tetapi tidak tergapai kaum jelata. Isu Free West Papua membawa respon yang masif dari militerisme, kita sangat menyadari Militer Indonesia ialah militer yang cukup menghegemoni kesadaran rakyat…. Akan tiba saatnya kita melihat kekuatan militer ini hancur. Aku menyadari sebagai orang Indonesia yang bersolidaritas terhadap Perjuangan Demokratik bagi Bangsa West Papua; kita sedang diburu, kita dianggap oleh negara dan masyarakat awam bahwa perjuangan kita ialah kejahatan…. Saat ini kita hendak dibungkam, gerakan dengan isu Internasional Free West Papua ini, tidak berani diliput oleh Media Komersial. Gerakan kita yang sedang mengancam posisi Militer dan Negara [Borjuis secara keseluruhan]–akan dibabat dengan berbagai cara. Kita sedang [berada pada] tahap Teror dan Intimidasi. Tahap pertama memperoleh jnformasi umum tentang gerakan sudah rampung. Kajian-kajian yang kita muat di independentmovement.id sedang dibongkar untuk meninjau kesadaran kita.”
Berhasil mengetahui identitas asli kawan-kawan KSI maka intelijen selanjutnya menggunakan mekanisme birokrasi kampus dalam memanggil dan mengancam mangsanya. Di Ummat dan Unizar, Ghasen dan Anonim mendapatkan panggilan, dipaksa mengikuti jadwal rehabilitasi tiap minggunya, dan diancam DO apabila masih melakukan aktivitas politiknya. Sementara bagi Comunne, Jihad, dan Wayan—ketiganya ditekan melalui senior-senior di organisasi-organisasi paguyubannya, diteror di tempat tinggalnya, hingga diusir oleh pemilik kosnya. Sementara Nyamuk—di Unram, rektor dan intel juga melayangkan panggilan-panggilan intimidatif dan mengerahkan satpam maupun penjaga kantin untuk terus mengintai kegiatannya di kampus. Meskipun tekanan bertumpuk-tumpuk tapi para pemuda radikal tidak menyerah. Sepanjang 28 Desember 2020-1 Januari 2021, mereka melancarkan lapak baca dan diskusi di Unram, Ummat, dan UIN-Ma. Dengan mengangkat tema-tema perlawanan terhadap kapitalisme, imperialisme, kolonialisme, militerisme, rasisme dan seksisme di Indonesia dan Papua. Tepat 1 Februari 2021, secara resmi AMP KK Lombok dideklarasikan pendiriannya. Di sisinya, KSI memberikan dukungan penuh. Hanya setelah benar-benar terisolir dan digerogoti stigma-stigma yang mengerikan, pemuda-pemuda radikal lantas membubarkan KSI dan secara terbuka bergerak di bawah panji PEMBEBASAN. Tanggal 12-13 Juni, Konferensi I PEMBEBASAN Kolektif Kota (Kolkot) Mataram dilaksanakan. Walaupun KSI telah menghilang tetapi pengalaman-pengalaman perjuangannya diselamatkan. Dari PEMBEBASAN Kolkot Mataram, sebuah catatan pergerakan KSI sepanjang 2020-21 diabadikan melalui Ebook berjudul “Kapitalisme dan Militerisme Mengancam Gerakan Mahasiswa”.
Dalam melanjutkan perjuangan pembebasan nasional Indonesia dan Papua, PEMBEBASAN Mataram dan AMP Lombok melancarkan beragam programnya. Terutama dengan melaksanakan kerja-kerja di Komite Aksi Kamisan Mataram, mengonsolidasikan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) Lombok, membangun Lingkar Studi Progresif dan Lingkar Studi Revolusioner, hingga mengintervensi gerakan mahasiswa di UBG Mataram. Melalui aktivitas-aktivitas politik inilah sederet pengalaman kembali dituliskan dan dikumpulkan menjadi seabrek pustaka digital (https://apipembebasan.wordpress.com/ebook-terbitan-kami): “Seruan dan Perjuangan Anti-Otoritarian”, “Sosialisme dan Perjuangan Kami”, dan “Perjuangan dan Solidaritas untuk Mahasiswa UBG”. Sejak 2021-2022, lapak baca, diskusi, aksi, beserta penyebaran-penyebaran tulisan mampu mendatangkan dukungan-dukungan baru bagi PEMBEBASAN Mataram dan AMP Lombok. Dari HMI, Gebug, Undikma—Marxcel, Benjos, Letto, Jovan, Eden, Kam, Petaka dan beberapa individu lainnya bukan sekadar bergabung menjadi elemen solidaritas bagi gerakan mahasiswa Papua, tetapi lebih jauh ada pula yang meninggalkan organisasinya dan mengikuti Pendidikan Politik untuk menjadi partisipan maupun anggota PEMBEBASAN Mataram. Hanya sekarang organisasi-organisasi mahasiswa radikal ini menunjukkan kemunduran. Di pelbagai kota, termasuk di Mataram; pendidikan-pendidikan politik, kerja-kerja persiapan dan propaganda, atau organisasi dan agitasi mengalami kelesuan. Pertempuran-pertempuran terbuka melawan negara dengan orientasi politik yang tidak memadai telah membawa pada keretakan. Partai atau organisasi tertekan oleh kekuatan-kekuatan politik-asing. Tanpa membangun kepemimpinan revolusioner, dengan mempersiapkan kader-kader untuk revolusi, yang bisa melihat jalan secara keseluruhan—tak sebatas tahu caranya menyerang tapi juga mundur teratur; maka pelaksanaan mobilisasi dengan slogan dan tuntutan-tuntutan demokratik bagi Bangsa West Papua memperhadapkannya dengan serangan-serangan balik yang tidak mampu ditangkal dan memerosotkan kepemimpinan di lembah krisis internal. Di tengah periode sejarah yang menajam dengan belokan-belokan mendadak inilah orientasi politik yang benar sangat dibutuhkan, terutama untuk menentukan temperamen, aktivitas dan kesiapan massa yang secara periodik mengalami pasang dan surut. Perkembangan sejarah sangat dinamis dan perimbangan kekuatan kelas berubah dengan cepat. Kepemimpinan-kepemimpinan yang terbentuk selama proses bentrokan antara kelas yang berbeda atau gesekan antara lapisan dalam kelas tertentu satu-per-satu diuji oleh peristiwa-peristiwa historis.
Di hadapan kita berlangsung sebuah proses historis yang luar biasa kolosal dan kompleks. Kondisi obyektif untuk revolusi proletariat telah matang dan sekarang sedang membusuk. Kontradiksi antara kepemilikan pribadi dan negara-bangsa sangat akut. Negara-negara borjuis dengan beragam bentuk pemerintahannya terhuyung-huyung menunjukkan kebangkrutannya. Perkembangan kekuatan produksi umat manusia sudah melampaui batas-batas sempit negara-bangsa. Seluruh negeri di muka bumi telah menjadi satu bengkel ekonomi dunia yang bagian-bagiannya saling terhubung, mempengaruhi, mendominasi, dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Perang dagang AS-China, perang imperialis Ukraina-Rusia, bahkan perang kemerdekaan di tanah Papua merupakan pemberontakan kekuatan produksi dalam melawan bentuk-bentuk politik negara-bangsa. Perang merupakan metode yang digunakan kelas borjuis untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang tiada terpecahkan dan memperpanjang nafas kapitalisme yang sedang sekarat. Perang menarik pelbagai negeri yang memiliki tahap perkembangan berbeda-beda ke dalam medan yang berbahaya dan menghancurkan pembatasan negara-bangsa masing-masing. Di negeri-negeri terbelakang beban perang sangat mengerikan. Bangsa-bangsa eksis sebagai sebuah fakta-fakta budaya, psikologis, dan ideologis, namun fondasi ekonominya dihancurkan tepat di bawah kakinya. Dengan operasi-operasi militer pusat-pusat perekonomian nasional diremukkan dan digantikan oleh ekonomi dunia. Persaingan ekonomi dengan mengobarkan militerisme mengakibatkan kerusakan yang luar biasa. Di tengah peperangan inilah pertanyaan-pertanyaan mengenai demokrasi dan persatuan nasional menjadi ilusi yang dipompa oleh borjuasi ke dalam tempurung kepala massa. Strategi mobilisasi persatuan dalam perjuangan untuk Demokrasi Nasional atau Pembebasan Nasional tidak lagi memadai untuk mengakhiri krisis terminal kapitalisme. Meskipun tatanan masyarakat kapitalis berada di jalan buntu, tetapi mobilisasi-mobilisasi massa tanpa pembangunan kepemimpinan revolusioner tiada berdaya dalam meruntuhkannya. Tugas kaum revolusioner dan proletariat sedunia adalah memperjuangkan persatuan sukarela antara kaum terhisap dan tertindas dari seluruh bangsa dan melenyapkan negara, bukan membela kepentingan nasional salah satu bangsa di atas bangsa-bangsa lainnya dan mempertahankan demokrasi sebagai salah satu perwujudan negara. Kelas pekerja tidak memiliki tanah air dan tak ada demokrasi sejati di bawah kapitalisme. Meskipun secara teoritik orientasi politik demokratik bertujuan membebaskan mayoritas dan berkarakter kerakyatan, namun dalam praksisnya mengandung ketidakselarasan dan kelemahan mendasar. Dalam mewujudkan kesetaraan dan kebebasan yang sepenuh-penuhnya, orientasi politik revolusioner untuk menggulingkan borjuis dengan membantu proletariat merebut kekuasaan sangatlah vital. Marxisme memandang bahwa perjuangan kelas antara proletariat dan borjuasi dimulai dengan mempertentangkan kepentingan-kepentingan yang berlawanan dan diakhiri dengan adu kekuatan yang menghancurkan. Pada “Kautsky si Pengkhinat dan Revolusi Proletariat”, Lenin menguraikan:
“Jika kita berargumen dengan cara Marxis, kita harus mengatakan: para pengeksploitasi pasti mengubah negara (dan kita berbicara tentang demokrasi, yaitu salah satu bentuk negara) menjadi alat kekuasaan kelas mereka, para pengeksploitasi, atas yang dieksploitasi. Oleh karena itu, selama ada pengeksploitasi yang menguasai mayoritas, yang dieksploitasi, negara demokrasi mau tidak mau harus menjadi demokrasi bagi para pengeksploitasi. Keadaan tereksploitasi harus secara fundamental berbeda dari keadaan seperti itu; itu harus menjadi demokrasi bagi yang dieksploitasi, dan alat untuk menekan para pengeksploitasi; dan penindasan suatu kelas berarti ketidaksetaraan bagi kelas itu, pengucilannya dari ‘demokrasi’…. Demokrasi murni dan ‘demokrasi’ sederhana yang dibicarakan Kautsky hanyalah parafrase dari ‘negara rakyat bebas’, yaitu omong kosong belaka. Kautsky dengan pendirian intelektual dari orang bodoh terpelajar … bertanya: mengapa kita membutuhkan kediktatoran [demokrasi proletariat] ketika kita memiliki mayoritas? Dan Marx dan Engels menjelaskan: untuk meruntuhkan perlawanan kaum borjuis; untuk mengilhami kaum reaksioner dengan rasa takut; untuk menegakkan otoritas rakyat bersenjata melawan borjuasi; bahwa proletariat dapat secara paksa menahan musuh-musuhnya. Kautsky tidak memahami penjelasan ini. Tergila-gila dengan ‘kemurnian’ demokrasi, buta terhadap karakter borjuisnya, dia ‘secara konsisten mendesak agar mayoritas, tidak perlu ‘menghancurkan perlawanan’ minoritas, atau ‘menahannya secara paksa’—cukup untuk menekan kasus-kasus pelanggaran demokrasi. Tergila-gila dengan ‘kemurnian’ demokrasi, Kautsky secara tidak sengaja melakukan kesalahan kecil yang sama yang selalu dilakukan oleh semua demokrat borjuis, yaitu, dia menganggap kesetaraan formal (yang tidak lain adalah penipuan dan kemunafikkan di bawah kapitalisme) sebagai kesetaraan yang sejati!… Yang mengeksploitasi dan dieksploitasi tidak mungkin setara…. Kebenaran lain: tidak akan ada kesetaraan yang nyata dan aktual sampai semua kemungkinan eksploitasi satu kelas oleh kelas lain telah dihancurkan sama sekali.”
Walaupun kapitalisme mengalami over-produksi dan kejatuhan tingkat laba, namun borjuasi masih memiliki hukum, pengadilan, penjara, polisi, tentara, media, sekolah, dan beragam mesin negara dalam melancarkan penindasannya terhadap massa. Artinya, selama negara dan demokrasi borjuis belum diruntuhkan secara revolusioner maka tatanan masyarakat kelas akan terus dipertahankan dengan beragam cara. Sederet catatan yang ditulis dan dikumpulkan Kawan Nyamuk—menjadi buku “Melawan Pembungkaman Ruang Kebebasan Akademik dan Kriminalisasi Mahasiswa Papua Universitas Mataram”—tidak saja menunjukkan karakter yang sesungguhnya dari negara dan demokrasi borjuis, melainkan pula merekam pengalaman-pengalaman yang penting dipelajari untuk memajukan perjuangan ke depannya. Dalam perjuangan selama beberapa tahun terakhir saja, sebagian kecil dari elemen radikal yang pernah bergerak bersama Aliansi Rakyat NTB Menggugat, KSI, Kamisan Mataram, PEMBEBASAN Mataram, dan AMP Lombok telah menarik kesimpulan-kesimpulan dari perjuangannya. Sementara sebagian besar di antara mereka sedang belajar berdasarkan pengalaman-pengalaman barunya, lagi dan lagi. Yang pasti, ketika semua peristiwa dipercepat oleh perang dan revolusi maka kontradiksi antara kelas dan kepemimpinan makin menajam—di titik inilah mereka akan belajar lebih cepat dan menarik kesimpulan revolusioner. Bahwa tuntutan-tuntutan demokratis tidaklah cukup diusung oleh kekuatan massa berskala raksasa semata, melainkan pula membutuhkan kehadiran kepemimpinan yang memadai dengan orientasi politik yang mampu memajukan perjuangan massa. Krisis masyarakat kapitalis harus diakhiri dengan perjuangan kelas revolusioner, bukan perjuangan untuk demokrasi—demokrasi murni atau demokrasi sejati. Perjuangan macam ini tidak saja perlu bersandar pada kepentingan dan kekuatan kelas yang berhari depan, tetapi juga memiliki kepemimpinan yang dapat memberikan ekspresi terorganisir dan sadar untuk merebut kekuasaan dan melaksanakan transformasi masyarakat secara mendasar. Kepemimpinan inilah yang harus dibangun: sebuah partai revolusioner yang sejak kelahirannya mendasarkan dirinya pada teori-teori yang paling maju untuk merekrut elemen-elemen termaju dari lapisan-lapisan proletariat dan mendidik mereka menjadi kader-kader inti yang siap memainkan peran penting dalam revolusi di hari depan.
“Dunia kapitalis tidak memiliki jalan keluar, kecuali penderitaan kematian yang berkepanjangan dipertimbangkan. Penting untuk bersiap selama bertahun-tahun, jika bukan dekade, perang, pemberontakan, gencatan senjata singkat, perang baru, pemberontakan baru. Sebuah partai revolusioner muda harus mendasarkan diri pada perspektif ini. Sejarah akan memberinya peluang dan kemungkinan-kemungkinan yang cukup untuk menguji dirinya sendiri, untuk mengumpulkan pengalaman, dan untuk menjadi dewasa. Semakin cepat barisan garda depan digabungkan, semakin singkat zaman kejang berdarah, semakin sedikit kehancuran yang akan diderita planet kita. Tetapi masalah sejarah yang besar tidak akan terpecahkan sampai sebuah partai revolusioner berdiri sebagai pemimpin proletariat. Pertanyaan tempo dan interval waktu sangatlah penting; tetapi itu tidaklah mengubah perspektif sejarah umum maupun arah kebijakan kita.”
“Sebagai seorang aktivis sosialis yang terisolasi, Anda tidak dapat mencapai apapun. Tetapi bersatu di bawah panji yang sama, dengan program dan ide yang sama, kita dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang dapat dimiliki oleh aktivis individu manapun. Dengan bergabung bersama organisasi revolusioner, Anda membangun diri sendiri dan membantu membangun orang lain. Dengan bergabung bersama organisasi revolusioner, Anda membangun sebuah alternatif dari organisasi yang ada yang memimpin kelas pekerja dari kekalahan ke kekalahan, bukannya menerima dan menyerah kepada mereka. Dengan bergabung bersama organisasi revolusioner, Anda membantu membawa ide-ide Marxis ke kelas pekerja dengan cara yang tidak dapat dilakukan individu manapun. Inilah yang ditawarkan International Marxist Tendency [Seksi Indonesia—Perhimpunan Sosialis Revolusioner] kepada para pekerja dan kaum muda.”
– International Marxist Tendency
Bangun Kepemimpinan Revolusioner (Bolshevisme) sekarang juga!
Medan Juang, Yogyakarta, Juni 2023
