Kategori
Perjuangan

Gejolak Inflasi dan Radikalisasi Mahasiswa Ummat

“Tidak ada yang lebih salah daripada mengkhotbahkan asketisme biarawan dan kesucian moralitas borjuis yang kotor kepada kaum muda…. Kebusukan, korupsi, dan kekotoran pernikahan borjuis, dengan perceraiannya yang sulit, kebebasannya bagi laki-laki, dan perbudakannya bagi perempuan, kemunafikkan yang menjijikan dari moralitas dan hubungan seksual memenuhi pikiran yang paling aktif dan orang-orang terbaik dengan rasa muak yang mendalam…. Orang-orang mulai memprotes kebusukan dan kepalsuan yang ada, dan perasaan seseorang berubah dengan cepat. Hasrat dan dorongan untuk bersenang-senang dengan mudah mencapai kekuatan yang tak terkendali pada saat negeri-negeri yang kuat terhuyung-huyung, bentuk-bentuk aturan lama runtuh, dan seluruh tatanan sosial [yang membelenggu kemanusiaan] mulai menghilang.” (Catatan Perempuan Revolusioner)

Kita hidup pada periode sejarah yang dramatis, penuh kemelut, dan ganas. Dunia diselimuti kegelapan pekat dan gerombolan penghisap mempertontonkan akrobat biadab. Umat manusia berada di tengah kesengsaraan akut dan penghinaan barbar. Tidak ada jaminan kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Semuanya tersisih oleh persaingan dan monopoli yang berdiri di atas kepentingan mengeruk keuntungan demi mempertahankan dan meningkatkan kepemilikan perseorangan. New Unite melaporkan bahwa selama berlangsungnya krisis biaya hidup segelintir perusahaan justru mendongkrak profitnya melalui pencatutan yang mengerikan. Tahun 2021, tiga supermarket teratas—Tesco, Sainsbury’s, dan Asda—meraup laba gabungan sebesar 3,2 miliar poundsterling. Pada 2022, raksasa minyak dan gas multinasional ExxonMobil membukukan labanya mencapai 219 miliar dolar AS. Oxfam International lantas menunjukkan statistik ketimpangan mendalam: 66 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan bernilai lebih dari 3,5 miliar orang termiskin. Satu persen konglomerat global menumpuk kekayaan yang melampaui setengah populasi umat manusia. Kekayaan luar biasa itu diperoleh dengan menggencarkan serangan terhadap standar hidup rakyat pekerja. Di Inggris, 6,7 juta rumah tangga mendera kekeringan bahan bakar atas meroketnya harga gas domestik 129 persen dan listrik 67 persen. Dalam kondisi inilah keluarga-keluarga pekerja tenggelam dalam kubangan kelaparan: inflasinya telah menembus angka 19,1 persen. Sedangkan di Jerman dan Prancis, tingkat inflasi juga menjulang: masing-masing 21,1 persen dan 15,8 persen. Secara global, War on Want mencatat kalau 2,3 miliar jiwa menderita kerawanan pangan, 3,1 miliar orang tidak mampu membeli makanan bergizi, dan setiap menit terdapat 5-13 laki-laki dan perempuan yang meninggal lantaran kelaparan. Namun Organisasi Pangan dan Pertanian PBB ini mengungkapkan bahwa selama 2005-2020, produksi pangan global mengalami pertumbuhan substansial: hasil tanaman tebu, jagung, beras, gandum, dan pasokan buah dunia mencapai 50 persen; produksi semua jenis sayuran naik 65 persen, susu 53 persen, dan daging 40 persen. Tetapi bahan-bahan makanan tersebut bukan saja sukar diakses oleh orang-orang miskin, melainkan pula sengaja dilenyapkan untuk mengakali over-produksi. Di Polandia, jutaan ton biji-bijian dibakar daripada disalurkan. Di Rusia dan Ukraina, lahan-lahan pertanian dihancurkan selama berlangsungnya peperangan.

Over-produksi muncul dari kontradiksi perekonomian yang anarkistik dan pembagian masyarakat menjadi kelas-kelas yang bertentangan. Kekayaan cabul kapitalis dan kemiskinan ganas dari lapisan-lapisan terluas proletariat menghancurkan perdagangan dunia dan membawa ekonomi pada krisis-krisis lebih lanjut. Meskipun para pemilik modal menyiasati kontradiksi kapitalisme dengan menginvestasikan kembali nilai-lebih yang diekspropriasinya dari kaum produsen untuk menciptakan pasar-pasar baru, namun langkah tersebut pada gilirannya akan menciptakan kapasitas produksi yang secara keseluruhan lebih besar dan memperburuk krisis di masa-masa mendatang. Walaupun terdapat segudang argumen untuk menjelaskan krisis demikian, tetapi alasan mendasarnya adalah bahwa produksi benar-benar telah melampaui kemampuan masyarakat untuk mengonsumsi komoditas yang mengalir ke pasar dunia. Selama beberapa dekade terdahulu perdagangan global memang berkembang pesat, tapi setelah Krisis Finansial 2008 semuanya melamban dan mundur: investasi sebagai kunci pertumbuhan berkelanjutan berada di titik nadir dan pemerintah-pemerintah borjuis kekurangan anggaran untuk meningkatkan pengeluaran publik. Produksi kapitalis yang bergantung pada percepatan akumulasi mengalami kerusakan parah. Hukum akumulasi-demi-akumulasi yang di masa lalu mendorong maju kapitalisme telah berhenti berfungsi. Jalur perdagangan internasional rusak. Berlangsungnya Covid-19 hingga Perang Ukraina/AS-Rusia meningkatkan gangguan terhadap rantai pasok. Guncangan-guncangan pandemi dan perang menyebabkan dislokasi perdagangan yang tragis: kelebihan pasokan di satu tempat dan kekurangan pasokan di tempat lain serta lonjakan dan penurunan harga komoditas yang mendadak. Pada 2023, Organisasi Perdagangan Dunia memperkirakan kalau perdagangan global takkan mampu tumbuh di atas 1 persen. Prediksi macam ini mencerminkan pesimisme dan keputusasaan umum yang mencekam lembaga-lembaga imperialis.

Sejak kemerosotan keuangan 2008, manuver-manuver ahli strategi kapital tidak pernah berhasil mengeluarkan kapitalisme dari jalan buntu. Kebijakan cetak uang dan kredit murah bukan malah mendorong investasi produktif, tapi justru memekarkan investasi spekulatif di sektor-sektor non-produktif. Tanpa adanya perencanaan produksi dan jaminan terhadap produktivitas pekerja, maka penyuplaian uang berskala raksasa takkan pernah membawa pemulihan substansial melainkan memacu laju inflasi dan memperluas cengkeraman kapital-finans terhadap sektor-sektor kehidupan rakyat. Uang publik yang dipompakan ke bilik-bilik perekonomian—untuk menyelamatkan bank-bank dan perusahaan-perusahaan dari kepailitan—dalam jangka panjang mengundang bencana besar. Tahun 2022, badai inflasi menghantam dunia dan langkah Bank Sentral dalam menaikan suku bunga gagal mengatasinya. Sistem keuangan—yang terbiasa dengan suku bunga rendah—sekarang mengalami kejang-kejang karena meroketnya biaya pinjaman. Kenaikan suku bunga tidaklah menjinakkan inflasi, tetapi memperparah ketidakstabilan ekonomi. Di Amerika, Silicon Valley Bank dan Signature Bank ditutup dan segera mengirimkan gelombang kejut bagi industri-industri teknologi Washington dan Wall Street. Sekitar 30 persen perusahaan-perusahaan tech gulung tikar dan melancarkan pemecatan sepihak terhadap pekerja-pekerjanya secara brutal. Sepanjang Januari 2022-Februari 2023, perusahaan teknologi multinasional Amazon telah memecat 260.000 buruhnya di seluruh dunia. Di Indonesia, 1 juta laki-laki dan perempuan di-PHK dan ribuan di antaranya merupakan buruh-buruh OLX dan Shoope. Kenaikan suku bunga telah memperdalam serangan terhadap standar-standar hidup mereka. Tidak ada pekerjaan, gaji, ongkos pendidikan dan kesehatan untuk menyelamatkan memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarganya. Kebijakan pendongkrakan suku bungan Federal Reserve sudah meremukkan perekonomian AS dan faktor destabilisasi utama yang membawa dunia ke jurang resesi. Dalam Dokumen Perspektif Tahun 2023, International Marxist Tendency (IMT) menjelaskan begini:

“Di seluruh dunia, kenaikan dolar mendorong biaya impor serta pembayaran utang pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga yang telah mengambil pinjaman dalam mata uang dolar. Semua negara lain merasa terdorong untuk berbaris sejalan dengan Federal Reserve AS, menaikkan suku bungan ke tingkat yang ditentukan olehnya. Di seluruh Asia, pemerintah dipaksa untuk menaikkan bunga dan membelanjakan cadangan mereka untuk menahan depresiasi mata uang mereka. India, Thailand, dan Singapura telah melakukan intervensi di pasar keuangan untuk mendukung mata uang mereka…. Di Eropa, situasi menjadi lebih buruk ketika Inggris menuangkan bensin ke api dengan kebijakan fiskal yang sembrono, yang segera memicu kepanikan di pasar keuangan.”

Selama 2021-23, tren kenaikan suku bunga memperkeruh kekacauan pasar dunia dengan penerapan proteksionisme yang melesukan industri-industri padat karya di negeri-negeri eksportir. Dengan menggencarkan proteksionis maka pemerintahan-pemerintahan borjuis mengobarkan ilusi nasionalisme ekonomi yang mengarah pada pertarungan dagang dan pengurangan efisiensi global: produk-produk luar negeri yang berharga murah diperangi dan produk-produk lokal yang kurang efisien dijajakan dengan membangkitkan sentimen nasional. Tindakan ini tidak saja mengarah pada inefisiensi, tetapi juga memperparah kenaikan harga, menurunkan PDB, menyuburkan pengangguran dan kemiskinan. Kontradiksi akhirnya menajam. Hanya dalam rangka menekan krisis dan mengamankan tingkat keuntungan kapitalis; pemerintah lantas menggencarkan penghematan secara koersif. Di Prancis, usia pensiun diperpanjang dari 62 menjadi 64 tahun—guna memangkas tunjangan hari tua—dan militer dikerahkan dalam melumpuhkan setiap pemerotes. Di Inggris, larangan-larangan protes ditegakkan untuk menghadapi tuntutan-tuntunan kenaikan upah. Di Indonesia, Omnibus Law Ciptaker, RKUHP Reaksioner, dan Permenaker Pemotongan Upah disahkan demi memperdalam penghisapan kerja-upahan, menambah beban rumah tangga pekerja, dan melemahkan perjuangan massa. Namun turunnya upah dan meningkatnya jumlah penganggur memperparah amukan inflasi. Injeksi besar-besaran modal fiktif yang berbentuk kredit sama sekali tak mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Ekspansi kredit gagal memulihkan permintaan. Daripada mengeluarkan rumah tangga pekerja, perusahaan swasta, dan pemerintah dari persoalan meroketnya harga-harga; dana-dana pinjaman—yang disertai bunga-bunga beraneka—justru menjerat dalam lilitan hutang berkepanjangan. Di Amerika Serikat saja, ukuran kredit swasta sudah melampaui 200 persen PDB tahunannya. Juni 2022, total hutang global menembus angka 300 triliun dolar AS atau sekitar 349 persen dari total GDP dunia. Memperhatikan data inilah Institute of International Finance merilis prediksi yang menyeramkan: setiap orang yang dikenai pajak akan menanggung pembayaran hutang sebesar 37,5 ribu dolar AS. Artinya seluruh beban utang diletakkan secara arbitrer di pundak lapisan terbesar pembayar pajak: kelas menengah dan proletar.

Tahun 2023, Bank Dunia mengungkapkan bahwa 3 miliar penduduk dunia sedang didorong ke lembah kemiskinan dan lebih dari 30 juta kelas menengah Indonesia sudah jatuh miskin. Meningkatnya harga-harga dan menurunnya permintaan bukan saja memangkas konsumsi rumah tangga-rumah tangga proletar, melainkan pula menampar pemenuhan kebutuhan di keluarga-keluarga pegawai negeri, pedagang kecil, petani kecil, dan petani penyewa. Mereka bukan saja mengalami kekurangan makanan, keterkurasan tabungan, dan kerugian panen tapi juga mendera kesukaran membayar cicilan kredit dan hutang-hutangnya di lembaga perbankan, koperasi dan lintah darat. Di semua negeri, prospek yang dihadapi umat manusia hari-hari ini sangat buruk. Tangga ke atas telah terpotong dan miliaran orang meluncur ke bawah dengan kencang. Bisnis-bisnis kecil kelas menengah hancur berantakan dan kian harinya kondisi rakyat pekerja semakin mengenaskan. Kenaikan suku bunga, sewa, pembayaran hipotek, terutama pemotongan upah dan penutupan pabrik berarti peningkatan tajam pengangguran, kemiskinan, dan penurunan permintaan secara ekstrem. Lapisan-lapisan kelas menengah terancam bangkrut dan lebih banyak yang menjadi proletar atau semi-proletar. Hidup mereka teramat suram, kalut, dan getir. Penderitan-penderitaan membukit. Tidak ada jaminan akan masa depan yang lebih baik. Semua akses dan kesempatan yang dulunya dapat digunakan merengkuh kehidupan yang aman, tentram, dan menyenangkan telah tertutup. Dunia tenggelam dalam mimpi-mimpi buruk dan horor tanpa akhir. Jumlah orang-orang melarat, lapar dan menganggur bertambah besar. Sekarang umat manusia memasuki periode terganas, sensitif dan dilematis dari masyarakat kapitalis yang tengah sekarat. Dalam “Gagasan Karl Marx”, Alan Woods memaparkan situasi tersebut:

“Jumlah pengangguran di Eropa meningkat. Angka untuk Spanyol hampir 27 persen sementara pengangguran kaum muda mencapai 55 persen … sementara di Yunani tida kurang dari 62 persen aum muda—dua dari tiga pemuda—menganggur. Seluruh generasi muda dikorbankan di altar keuntungan. Banyak yang mencari keselamatan ke pendidikan tinggi menemukan bahwa jalan ini diblokir. Di Inggris, di mana pendidikan tinggi dulu gratis, sekarang kaum muda menemukan bahwa untuk memperoleh keterampilan yang mereka butuhkan, mereka harus berutang. Di ujung lain dari skala umur, pekerja yang mendekati masa pensiun menemukan bahwa mereka harus bekerja lebih lama dan membayar lebih banyak untuk usia pensiunan yang lebih rendah yang akan membuat banyak orang jatuh miskin di usia tua. Baik tua maupun muda, prospek yang dihadapi kebanyakan orang saat ini adalah ketidakamanan seumur hidup. Semua kemunafikan borjuis lama tentang moralitas dan nilai-nilai keluarga telah disingkapkan sebagai hampa. Epidemi pengangguran, tunawisma, utang yang menghancurkan, dan ketidaksetaraan sosial yang ekstrem yang telah mengubah seluruh generasi menjadi paria telah merusak keluarga. Ini telah menciptakan mimpi buruk kemiskinan sistemik, degradasi, dan keputusasaan…. Argumen lama bahwa setiap orang dapat maju dan kita semua adaah kelas menengah telah patahkan oleh pelbagai peristiwa. Di Inggris, AS, dan banyak negera maju lainnya selama 20 atau 30 tahun terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang kelas menengah biasa berpikir bahwa kehidupan berkembang dalam urutan tahapan yang teratur di mana masing-masing merupakan langkah maju dari yang terakhir. Itu tidak terjadi lagi. Keamanan pekerjaan tidak ada lagi, perdagangan dan profesi di masa lalu sebagian besar telah hilang dan karir seumur hidup tinggallah kenangan. Tangga telah ditendang dan bagi sebagian orang keberadaan kelas menengah bukan lagi sebuah cita-cita…. Jika mereka memiliki keyaaan, itu ada di rumah mereka, tetapi dengan kontraksi ekonomi, harga rumah telah turun di banyak negara dan mungkin stagnan selama bertahun-tahun. Gagasan tentang demokrasi kepemilikan properti telah terungkap sebagai fatamorgana. Jauh dari menjadi aset untuk mendanai masa pensiun yang nyaman, kepemilikan rumah justru menjadi beban yang berat. Hipotek harus dibayar, apakah Anda sedang bekerja atau tidak. Banyak yang terjebak daam ekuitas negatif, dengan hutang besar yang tidak pernah bisa dibayar. Ada generasi yang tumbuh dari apa yang hanya bisa digambarkan sebagai budak hutang.”

November 2022, Koran Detik memberitakan bahwa 311 mahasiswa Indonesia telah terjerat pinjaman online dengan bunga yang menyentuh triliunan rupiah. Injeksi besar-besaran modal fiktif yang digencarkan di tahun-tahun sebelumnya dan kenaikan suku bunga yang mendadak saat ini menyingkapkan kengerian inflasi yang menyasar keluarga pekerja dan kaum muda. Sekarang tekanan inflasi begitu tajam dan menyebar ke mana-mana. Terkamannya tidak sebatas menyapu pabrik-pabrik dan rumah-rumah pekerja, tetapi juga menerobos tembok-tembok kampus dan kos-kos mahasiswa. Di Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat)—anak-anak pekerja lepas, pegawai rendahan, pedagang kecil, dan petani-petani miskin tergoncang oleh peristiwa. Tanggal 10 Februari 2023, tekanan inflasi terungkap melalui ledakan jumlah laki-laki dan perempuan yang dinonaktifkan kuliahnya karena tidak mampu membayar SPP sebagai persyaratan pengisian KRS. Dari 7.373 mahasiswa Ummat terdapat 1.577 yang dinyatakan tidak mengisi KRS dan dipaksa cuti. Keluarga mereka tidak mampu membayar ongkos kuliahnya. Uang atau gaji orangtuanya sudah terkuras untuk membeli bibit, pupuk, pestisida, minyak, gas, listrik, serta membayar ruko atau kontrakan, menyicil kredit perumahan, perabotan dan kendaraan bermotor. Di tengah kepungan inflasi, semua harga yang harus dibayar meroket dan pendapatan kelas menengah hancur. Sejak bergemuruhnya lockdown pemerintah dalam menangani Covid-19 hingga Perang Ukraina/AS-Rusia, dislokasi ekonomi semakin kompleks. Produksi jagung, bawang, kacang, dan beragam jenis sayuran di NTB meningkat berton-ton, tetapi permintaan-permintaan akan komoditas menampilkan tren menurun. Program pemberian sembako atau dana talangan tidak berguna dalam mengatasi harga-harga kebutuhan rumah tangga, alat dan bahan-bahan pertanian, transportasi serta ongkos-ongkos pendidikan yang melangit. Intervensi macam ini justru mempertajam kontradiksi dan kesenjangan dengan memupuk keuntungan para bankir dan pedagang-pedagang kaya di atas ketergantungan kelas menengah akan program-program bantuan pemerintah.

Bahkan melalui mekanisme birokrasi, bantuan-bantuan itu gampang sekali dikorupsi. Di Ummat, dana Bidikmisi Rp 4,5 juta per mahasiswa miskin justru dipotong setengahnya. Sementara selama berkuliah, laki-laki dan perempuan tidak saja diwajibkan membayar SPP yang menyentuh Rp 5.050.000 tapi juga dipunguti aneka pembayaran lainnya: mulai dari uang Ospek, magang, KKN, pengajuan judul skripsi, ujian proposal, hingga ongkos wisuda. Selama masa-masa normal kebusukan-kebusukan ini cenderung diabaikan dan diterima sebagai sesuatu yang wajar, tetapi seiring dengan menajamnya kontradiksi kapitalisme maka semuanya disorot secara tajam dan menjadi alasan untuk memancang perlawanan sengit. Sekarang umat manusia berada di tengah hubungan-hubungan sosial yang semakin memanas dan periode sejarah yang paling bergejolak dengan intensitas perjuangan kelas yang meningkat. Dalam skala dunia, ketidakstabilan ekstrem sedang berlangsung dan ditandai oleh krisis kesehatan, krisis pangan, krisis biaya hidup, hingga ledakan ketidaksetaraan, peperangan, revolusi dan konta-revolusi. Selama 2022, kemarahan massa meledak di pelbagai negeri. Di Vietnam, buruh-buruh pabrik sepatu Pho Chen melaksanakan mogok kerja seminggu penuh untuk menentang pemangkasan bonus liburan Tahun Baru Imlek. Di Myanmar, ribuan perempuan pekerja garmen memprotes pemotongan upah dan secara berani menyulut pemogokan yang menuntut jaminan atas cuti sakit, cuti haid, cuti bebas, kesejahteraan sosial, dan kenaikan upah. Di Negeria, upaya pemerintah untuk memulihkan stabilitas politik dengan mengucurkan pinjaman kolosal memperkeruh kekacauan ekonomi dan mengobarkan pemogokan yang meluas. Di Iran, pemberontakan massa menjalar dalam memperjuangkan penggulingan Rezim Mullah. Di Cina, gerakan Anti-Lockdown berkonfrontasi melawan polisi dan menggoncang keangkuhan Rezim Stalinis PKC. Di Sri Langka, kaum buruh dan muda memaksakan pengunduran diri Presiden Gotabaya Rajapaksa dan membentuk barikade-barikade bersenjata dalam menghadapi serangan-balik penguasa.

Selanjutnya, sepanjang Januari-Mei 2023, gelombang kemarahan massa bersusulan dari Peru, Portugal, Jerman, Belgia, Swedia, Inggris, Prancis, Palestina, Yunani, Spanyol, Haiti, hingga Korea Selatan dengan melibatkan berjuta-juta rakyat pekerja dalam menuntut kenaikan upah, menolak penambahan usia pensiun, melindungi kebebasan berserikat, menentang kolonialisme dan imperialisme, dan melawan elemen-elemen kontra-revolusioner. Gelombang revolusioner yang sedang melanda dunia memberikan rangsangan berarti terhadap situasi politik nasional. Di tengah kemunduran perekonomian global dan gejolak perpolitikan internasional, kelas pekerja dan menengah Indonesia terserap dalam perjuangan ekonomi, politik, dan ideologis yang kompleks. Gejolak inflasi yang menyeret perekonomian nasional dalam lembah resesi global dan memperbesar dana talangan bagi kaum kapitalis yang diikuti dengan penghematan luar biasa yang menyerang standar hidup rakyat pekerja demi mengamankan kesejahteraan korporasi memicu polarisasi di tubuh pemerintahan borjuis dan radikalisasi di akar rumput. Di Istana Presiden, hubungan antara Joko Widodo (PDIP) dan Surya Paloh (Nasdem) merenggang. Di antara menteri-menteri Jokowi, proses reshuffle kabinet menegang. Anggota-anggota partai yang dinilai gagal menjalankan program pemulihan ekonomi akan segera disingkirkan. Tekanan-tekanan dari bawah mempertajam keretakan di atas. Selama aksi-aksi buruh dan mahasiswa berlangsung, ancaman pergantian Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri Pendidikan meningkat. Meskipun sporadis tapi aksi-aksi protes, kampanye, diskusi dan demonstrasi masih berlangsung dan menciptakan sejumlah tekanan yang mengusik ketentraman kelas penguasa.

Dalam Kerusuhan Rasial dan Reformasi Dikorupsi (2019), Mosi Tidak Percaya (2020-21), Berikan HMNS bagi Bangsa West Papua, Tolak Otsus Jilid II dan Bebaskan Victor Yeimo (2021-22)—situasi politik Indonesia dicirikan oleh ketidakpuasan terpendam yang meledak secara sporadis, muncul mendadak, dan menguap begitu saja. Meskipun mudah dipadamkan tapi kemarahan massa benar-benar menimbulkan ketakutan di benak kelas penguasa. Sepanjang Januari-Mei 2023, kekuasaan semakin berhati-hati dalam melancarkan reaksi. Sekarang permukaan sosial mungkin tenang tapi di dasarnya kesengsaraan dan amarah menggumpal dan mencari titik lemah untuk meletus keluar. Demikianlah walaupun gerakan massa mengalami penurunan kuantitatif, tetapi sedikit saja salah langkah maka pemerintahan borjuis berada dalam bahaya besar. Di tengah pengangguran, kemiskinan, dan penderitaan yang meningkat; reaksi-reaksi dari atas dapat mengayunkan pendulum ke kiri, mengubah perimbangan kekuatan kelas, dan mengobarkan perjuangan revolusioner dari bawah. Di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Ternate, Makassar, Kupang, Bima, dan Mataram—gerakan-gerakan buruh dan mahasiswa susul-menyusul dalam memprotes kenaikan harga, mengampanyekan penolakan Perpu Ciptaker dan KUHP Reaksioner, mendesakkan penambahan upah, memblejeti pembungkaman dan kriminalisasi, dan berdiskusi sekaligus bersolidaritas untuk korban-korban pelanggaran HAM, pelecehan dan kekerasan seksual, serta bangsa tertindas West Papua. Di akar rumput, mood revolusioner sedang tumbuh. Walaupun kepemimpinan gerakan berada di tangan kaum reformis dan sentris, tetapi goncangan-goncangan peristiwa mempercepat pembelajaran massa. Dalam gerakan buruh dan mahasiswa, pemimpin-pemimpin oportunis serikat buruh, Partai Buruh, Prima-PRD, LMND-PRD, dan organisasi-organisasi Cipayung dan sejenisnya mendapatkan kritik dan kutukan yang berapi-api. Pendulum lebih condong ke kiri dan tendensi-tendensi borjuis-kecil semakin memperlihatkan penyimpangan dan kebusukan-kebusukannya.

Di gerakan buruh, integritas Ketua PB Said Iqbal jatuh oleh kelembekan, kompromi, dan kecenderungan berkolaborasi kelasnya dengan borjuasi. Di pabrik-pabrik, buruh-buruh muda merasa jijik dengan kepemimpinannya. Di gerakan mahasiswa, mantan pimpinan FMN Surabaya Anindya Joediono—yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai calon legislatif PB—mulai mendapat kritik dan cemooh dari kawan-kawannya. Di kampus-kampus dan Asrama Papua di Surabaya, mahasiswa-mahasiswa yang dulunya membersamai dan mendukung perjuangannya sekarang kecewa dan memandangnya sebagai pengkhianat. Pemimpin, program, perspektif, metode, dan prinsip politik yang mengkhianati tradisi perjuangan kelas revolusioner dicibir dan menjadi lelucon bagi lapisan-lapisan buruh dan muda yang teradikalisasi. Kelemahan kepemimpinan borjuis-kecil dalam gerakan massa terungkap melalui kemarahan di antara kaum buruh dan muda yang sedang bergerak mencari saluran yang tepat. Pada Gerakan Pembebasan Nasional Papua Barat di Lombok dan Jawa, aksi-aksi mahasiswa Papua dan Solidaritas boleh saja nampak mundur tapi di baliknya elemen-elemen termaju meraih pelajaran berharga dari kemunduran gerakannya dan berusaha menarik kesimpulan revolusioner. Di Mataram dan Surabaya, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)—yang terguncang dan terisolasi oleh represi, rasisme, dan stigma-stigma terorisme—tidak saja terdemoralisasi tapi juga terdapat lapisan-lapisan segar yang mulai terbuka dan bersungguh-sungguh mencari dan mempelajari ide-ide revolusioner. Di asrama dan tempat-tempat tinggalnya, mereka mengisi kegiatannya bukan saja dengan membaca literatur-literatur Marxis Revolusioner melainkan pula berdiskusi dengan mengundang pemantik-pemantik yang berkompeten. Meskipun ekonomisme dan gerakanisme mendominasi lautan perjuangan kelas dengan bentuk-bentuk aktivitas praktis yang paling sempit dan cenderung mengabaikan prinsip-prinsip teoritik, tetapi ledakan-ledakan peristiwa pada periode ketidakstabilan, tikungan tajam, dan perubahan mendadak akan menguji pelbagai tendensi dan menarik elemen-elemen termaju untuk memeluk gagasan-gagasan yang tepat dalam membawa perjuangannya sampai ke garis akhir. Di Partai Buruh, perpecahan telah dimulai dengan pertarungan antara reformis-kanan dan reformis-kiri. Terbangunnya massa memasuki medan perjuangan kelas mengirimkan gelombang kejutan yang tak sekadar memicu keretakan di tubuh PB, melainkan pula menantang tendensi-tendensi yang ada untuk memberikan ekspresi yang sadar dan terorganisir dari perjuangan massa. Lewat Jurnal Dialektika III, Alan Woods menjelaskannya:

“Pergolakan revolusioner tersirat dalam seluruh situasi saat ini. Mereka akan terjadi, seperti malam mengikuti siang, terlepas apakah ada partai revolusioner atau tidak. Tetapi dalam perang antar kelas, seperti halnya dalam perang antar negara, memiliki jenderal yang baik adalah faktor yang menentukan. Dan di situlah letak masalahnya. Massa berusaha mencari jalan keluar dari mimpi buruk ini. Mereka mencoba satu demi satu partai dan pemimpin, membuang satu demi satu ke dalam tong sampah sejarah. Ini menjelaskan ketidakstabilan ekstrem kehidupan politik di semua negara saat ini. Pendulum politik berayun keras ke kanan, lalu ke kiri…. Pada periode pasca-perang, ketika kapitalisme menikmati pertumbuhan ekonomi tanpa-preseden, partai-partai buruh dan demokrat dapat memenangkan sejumlah reforma penting, seperti layanan kesehatan nasional gratis di Inggris. Periode itu telah lama berlalu dalam sejarah. Saat ini, kelas penguasa bahkan tidak dapat mengizinkan reforma-reforma sebelumnya, apalagi memberika reforma-reforma baru. Masa kepastian lama telah hilang dan dengan itu hilang pula masa kestabilan. Di mana-mana ada gejolak dan krisis. Krisis kapitalisme adalah krisis reformisme….  Krisis reformisme dan runtuhnya Stalinisme berarti ada kekosongan di gerakan kiri. Dan karena alam membenci kekosongan, itu harus diisi. Karena kecenderungan Marxis tidak memiliki kekuatan untuk mengisinya, kekosongan itu akan diisi oleh kaum reformis-kiri…. Mengingat lemahnya faktor subyektif, tidak dapat dihindari bahwa ketika massa terbangun ke dalam kehidupan politik, mereka akan berpaling ke organisasi massa yang ada dan para pemimpin yang dikenal baik, terutama yang memiliki kredensial ‘kiri’. Oleh karena itu, dalam periode hari ini kita akan saksikan kebangkitan tendensi reformis-kiri dan bahkan tendensi sentris [sentrisme di sini berarti tendensi yang berayun-ayun antara revolusi dan reformisme]. Tapi ini juga akan diuji oleh massa, dan dalam banyak kasus hanya akan memiliki karakter yang fana.”

Secara global, kaum muda menjadi massa yang mengambil peran penting di tengah-tengah krisis kapitalisme. Saat kelas menengah dan tembok-tembok akademiknya dihancurkan, mahasiswa terdorong menjadi barometer yang lebih sensitif akan situasi masyarakatnya. Posisi sosial sebagai kaum terpelajar dengan taraf perkembangan intelektual dan kebudayaan yang unik memberinya kemampuan untuk lebih cepat menyerap keresahan dan menerjemahkan aspirasi-aspirasi yang berkembang di jantung sosialnya. Sepanjang garis historis, pemuda mahasiswa tak seperti generasi tua yang memiliki kenangan tentang kemajuan-kemajuan kapitalisme dan perjuangan-perjuangan buruh yang besar di masa lalu. Artinya, mahasiswa bukan saja tidak terikat dengan kebiasaan dan rutinitas lama tapi juga tiada dibebani banyak kewajiban yang mengharuskan buruh sangat berhati-hati dalam bergerak. Hanya sepanjang sejarah peran mahasiswa bukanlah penentu di garis akhir, melainkan sebatas percikan di awal kebangkitan revolusioner. Meskipun mempunyai pengetahuan tajam dan keberanian luar biasa, namun bobot sosialnya tidaklah sekuat buruh yang merupakan tulang punggung produksi kekayaan material masyarakat. Namun saat kepemimpinan organisasi-organisasi proletar mengalami kebangkrutan, gerakan-gerakan mahasiswa tampil mengisi kekosongan. Krisis kapitalisme, perang dan revolusi yang mencirikan situasi dunia saat ini meradikalisasi angkatan muda secara luas. Ledakan-ledakan peristiwa menggoncang kesadaran mahasiswa secepat kilat. Tahun 2022 di Iran, segera setelah pembunuhan terhadap perempuan muda bernama Mahsa Amini, mahasiswa secara spontan meluapi jalanan dan membentuk Gerakan Pemuda Revolusioner yang menyerukan persatuan antara mahasiswa dan pekerja dalam melancarkan pemogokan umum dan melindungi diri dengan barikade-barikade bersenjata. Tahun-tahun sebelumnya di Yunani, Spanyol, dan sewaktu Revolusi Arab—pemogokan-pemogokan umum dan pemberontakan bersenjata juga diintrodusir oleh gerakan-gerakan muda revolusioner, yang meluapkan kemarahannya di jalanan, bertempur dengan gagah berani menghadapi kebrutalan polisi dan tentara, dan mengilhami sebanyak mungkin rakyat pekerja untuk bergerak bersama dan mengobarkan perjuangan massa yang meraksasa.

Di Indonesia, dalam gerakan Reformasi Dikorupsi, Mosi Tidak Percaya, dan aksi-aksi solidaritas untuk Papua—kaum muda juga tampil di barisan terdepan dengan spontanitas yang begitu rupa. Tanpa menghiraukan seruan dan peringatan dari kepemimpinan-kepemimpinan reformis, pemuda-pemuda radikal maju secara mandiri di luar serikat buruh dan organisasi-organisasi massa yang ada. Selama permulaan letusan, spontanitas memainkan peran penting: sifat ledakannya yang menyebar memudahkan setiap orang yang tersapu oleh gelombang radikalisasi mengindentifikasi dirinya sebagai bagian dari gerakan massa. Tetapi ketika letusannya sudah menjalar dan menarik sejumlah lapisan ke dalam aksi-aksi bersama, maka elemen-elemen spontan melemah dan gerakan mulai mengambil bentuk yang terorganisasi di bawah kepemimpinan tertentu. Kekuatan dari bawah mendorong orang-orang pada posisi sosial berpengaruh untuk memimpin gerakan. Dalam kondisi inilah kehadiran kepemimpinan revolusioner sangat diperlukan. Namun kepemimpinan macam ini tak dapat sekelebat dibangun di tengah-tengah ledakan. Kekosongan kepemimpinan revolusioner berarti menjadi cela bagi kepemimpinan reformis untuk menunggangi momen kebangkitan. Seabrek pemimpin reformis secara tidak terelakkan terdorong ke depan. Hanya di bawah kepemimpinan yang tidak memadai, perjuangan massa revolusioner direm dan dibelokan. Pada setumpuk demonstrasi dan pemogokan antara 2019 dan 2023, pemimpin-pemimpin reformis organisasi buruh, BEM-BEM Universitas, dan Kelompok Cipayung menghadang gelombang radikalisasi dengan kompromi-kompromi busuk yang melemahkan dan mengorbankan massa di altar represi dan konsesi. Namun di tengah ketidakstabilan dunia yang semakin parah dengan kontradiksi yang terus meruncing, kebangkitan dari bawah mungkin dapat diinterupsi sejenak tapi takkan pernah mampu dihentikan. Setiap upaya untuk menghadang perlawanan akar rumput bukan saja akan menantang dan menguji kepemimpinan massa yang ada, tapi juga dapat meretakkan internal kepemimpinan dan menendang pemimpin-pemimpin yang menghambat kemajuan perjuangan massa.

Saat ini pasang revolusioner yang baru menjadi nyata dalam gerakan buruh dan muda dunia. Pendulum perjuangan kelas nampak jelas berayun ke kiri. Walau mustahil untuk meramalkan apakah kebangkitannya dapat menjadi gelombang raksasa yang menelan segalanya, tetapi dalam beberapa tahun terakhir serangan-serangan massa revolusioner meningkat dan menyebar ke pelbagai negeri. Setelah dirintangi oleh represi dan konsensi antara borjuasi dan kepemimpinan reformis, massa mungkin saja kecewa, meninggalkan perjuangan revolusioner, atau membentuk sekte-sekte yang mengekspresikan terdemoralisasinya mereka. Tetapi lapisan-lapisan yang paling dinamis dan tidak terikat dengan tradisi-tradisi masa lalu mampu belajar dari pengalaman itu dan mengambil kesimpulan revolusioner mengenai perlunya kejelasan ideologis dan perpaduan organisasional yang tersatukan secara dialektis dalam pembangunan kepemimpinan revolusioner. Di seluruh dunia, walaupun dengan intensitas yang berbeda, kaum muda—laki-laki dan perempuan yang merupakan bagian dari kelas pekerja dan mahasiswa—menjadi elemen segar yang sedang bergerak ke arah Marxisme Revolusioner. Dalam masa-masa krisis, pengorganisasian kelompok belajar dan diskusi, protes dan demonstrasi, pemogokan umum dan pemberontakan bersenjata berusaha mereka luncurkan. Di Indonesia, di tengah kontradiksi-kontradiksi yang menajam dan pengkhianatan-pengkhianatan reformisme yang menjijikan, berbagai organisasi massa pecah dan elemen-elemen segarnya keluar dan membentuk organisasi-organisasi baru atau gerakan-gerakan lokal di kampus-kampus dan daerah-daerah konflik. Meskipun secara nasional gerakan massa menurun karena kepemimpinan reformis gagal mengartikulasikan kesengsaraan dan kemarahan di jantung masyarakat, tapi tekanan inflasi yang kompleks dan tiada terperikan mendorong mahasiswa untuk bergerak secara spontan tanpa menunggu adanya kepemimpinan revolusioner.

Di Mataram, Ummat merupakan kampus di mana kaum muda terlihat bangkit. Setelah ribuan mahasiswa terancam cuti, gelombang radikalisasi meledak. Meningkatnya arus dari bawah menyeret Kepemimpinan BEM Universitas—yang selama ini bungkam dan ciut di bawah ketiak birokrasi kampus—untuk tampil ke depan. Sekarang posisi kompromi dengan para birokrat tidak lagi dapat dipertahankan. Tanggal 21 Februari 2023, demonstrasi bergemuruh, birokrasi tergoncang dan friksi-friksi mulai meretakkan internal rektorat. Di bilik kekuasaan, konflik antara alumni-alumni HMI dan IMM membuncah. Melihat bangkitnya gerakan mahasiswa, gerombolan alumnus Cipayung berusaha menungganginya untuk menyerang dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya dari jabatan-jabatan strategis di Ummat. Di meja rektor, pintu kompromi sekelebat dibuka dan pemimpin-pemimpin mahasiswa dipanggil supaya menghentikan gerakannya. Tetapi amukkan massa tidaklah mampu dijinakannya. Tekanan-tekanan akar rumput mendorong gerakan melangkah lebih jauh. Pada 6 Maret, aksi dilanjutkan di bawah Kepemimpinan Gerbong FKIP Menggugat. Dalam protes ini sejumlah lapisan muda yang lebih radikal—yang berasal dari SMI, FMN, PEMBEBASAN, PMP, dan PGSM—meluncurkan intervensi baik melalui orasi maupun tuntutan-tuntutan yang lebih mengancam para birokrat. Gemetar dan panik menghadapi aksi-aksi yang semakin militan, maka otoritas kampus memberlakukan perpanjangan waktu pembayaran SPP dan mulai meluncurkan serangan-balik. Tanggal 8 Maret, Wadek II Candra menyewa kuasa hukum LBH Mataram untuk membuatkannya Somasi guna mengkriminalisasi salah seorang anggota PMP. Candra menuding kalau Radit alias Jenlap Lagara telah menyebarkan fitnah, menghina dirinya, dan memaksakan kepada korbannya untuk menyatakan permintaan maaf di Lapangan Ummat serta disaksikan oleh seluruh civitas akademika.

Daripada termakan siasat birokrasi kampus, gerakan mahasiswa justru malanjutkan perlawanan. Pada 14 Maret di Kedai Mom, PMP dan PGSM melaksanakan Dialog Publik dengan mengundang pemantik dari SMI dan FMR untuk mengupas tema yang menantang: ‘Kebebasan Akademik Terancam; Kritik Dianggap Penghinaan’. Dalam diskusi ini lapisan-lapisan yang lebih luas berdatangan: mulai dari unsur-unsur segar dari organisasi-organisasi Cipayung hingga anggota-anggota paguyuban mahasiswa. Sementara di tubuh kekuasaan para pejabat kampus semakin tertekan. Selanjutnya upaya Somasi dihentikan, namun manuver dan intrik-intrik mulai ditebarkan. Demikianlah birokrasi tidak saja menggencarkan stigma terhadap gerakan kiri dan upaya kriminalisasi yang lebih tajam, tetapi juga menjulurkan politik identitas antara alumni organisasi-organisasi Cipayung dan sentimen rasial pejabat-pejabat dari Bima-Dompu-Sumbawa-Lombok yang berkepentingan menghadang proses radikalisasi di akar rumput. Selama 14-16 Maret, puluhan mahasiswa radikal diseret ke bilik rektorat dan dituding melakukan pemalsuan slip pembayaran SPP dengan mengumpulkan ratusan mahasiswa umum untuk menggunakan jasanya. Di antara para tertuduh, sejumlah anggota dari SMI dan SEMMI diidentifikasi memiliki peranan besar dalam kasus tersebut. Hanya di mata birokrasi; SMI yang radikal dipandang lebih berbahaya ketimbang SEMMI yang moderat. Demikianlah Muadzin Fatwa Djiwan (Sekjen SMI Ummat) disorot sebagai aktor utama yang bertindak memalsukan slip itu. Tahu kalau Djiwan ditekan begitu rupa maka SMI Mataram tidak bisa mendiamkannya begitu saja. Para pemimpin dan massa anggota SMI memulai kerja-kerja advokasi dan mengirimkan sejumlah tekanan ke atas. Di sisinya, terdapat pula PMP yang membangun diskusi-diskusi dan menggencarkan agitasi-propaganda dengan menggunakan sejumlah Koran Revolusioner maupun referensi yang diperoleh dari FMR.

Di Ummat, Wawan alias Wan Lix (PKL sekaligus pimpinan PMP) mengambil peran yang cukup mengganggu ketentraman gerombolan birokrat dengan berjualan kopi, rokok, dan koran di lorong, lapangan, dan ruang-ruang kampus. Di akar rumput, diskusi-diskusi mahasiswa meningkat dan setiap aktivitas gerakan disorot secara tajam. Di kursi-kursi kerektoratan dan kedekanatan, para birokrat semakin tertekan. Tanggal 10 April, Rektor Ummat Abdul Wahab mengeluarkan Surat Keputusan tentang Penetapan Klasifikasi Pelangaran Pemalsuan Slip Pembayaran SPP di Universitas Muhammadiyah Mataram. SK ini menebar ancaman brutal terhadap mahasiswa-mahasiswa miskin dan radikal: 133 diberi Surat Peringatan (Sanksi Ringan), 80 dikenai Skorsing 2 Semester (Sanksi Sedang), dan 35 diancam Drop-Out (Sanksi Berat). Mengira akan berhasil menebarkan ketakutan dan menjinakan massa, sekarang birokrasi yang panik semakin bertindak vulgar. Tepat 12 April, satpam dikerahkan untuk merusak dagangan dan mengusir-keluar Wan Lix. Kendati mendera represi dan kerugian, lapak minuman dan bacaan tetap dilakukan. Dengan ketidakstabilan yang bertambah tajam maka gelombang radikalisasi yang hendak dihentikan justru bertambah luas. Reaksi-reaksi birokrasi tidaklah membuat nyali menciut, melainkan menjadi cambuk bagi gerakan mahasiswa radikal. Di area kampus, mahasiswa-mahasiswa yang selama ini bungkam mulai terbangun dan terseret ke dalam arena perjuangan. Di papan-papan informasi dan tembok-tembok kampus, pamflet-pamflet agitasi mulai bermunculan. Di tengah kebangkitan inilah Wan Lix tampil makin berani. Pertengahan April, sebuah rombong dibangun secara bergotong-royong dan ditempel tepat di pagar Ummat. Di tempat ini mahasiswa-mahasiswa radikal berkumpul untuk mendiskusikan aneka persoalan akademik dan mengintervensi Pemira Ummat. Dari kelompok inilah PGSM (Partai Gerakan Solidaritas Mahasiswa) mendapat dukungan untuk melawan PIM (Partai Islami Mahasiswa) dan PPM (Partai Pemerhati Mahasiswa).

Pada 22 April, meskipun tidak memenangkan pemilihan BEM tapi partai mahasiswa radikal itu mampu menganggu basis-basis suara dari partai mahasiswa konservatif dan liberal (PIM dan PPM) dan menebarkan ancaman terhadap status-quo IMM dan Muhammadiyah. Di lapak Wan Lix, berkali-kali satpam dikirim untuk melakukan penggusuran tapi mahasiswa-mahasiswa yang teradikalisasi memasang badan. Selama 24 jam lapakan dibuka dan menjadi pusat diskusi-diskusi radikal. Di rombong PMP, sebuah papan bertuliskan kata-kata Lenin menyalak: ‘Tidak Ada Gerakan Revolusioner Tanpa Teori Revolusioner’. Sementara bilik kekuasaan, para pejabat pandir semakin pontang-panting. Pendulum semakin ke kiri dan mereka gagal membungkam mahasiswa dengan cara-cara represi. Akhirnya diupayakanlah kompromi yang serius. Demikianlah birokrasi meminta bantuan Polda NTB, Gubernur NTB, hingga Ketum SEMMI Nurhasanah (Badai NTB) untuk menjembatani pertemuan dengan perwakilan mahasiswa radikal. Awal Mei di sebuah kedai kopi yang dikelola oleh Badai, pertemuan diplot dengan mengundang Kaharuddin Abbas alias Kobel yang merupakan aktivis paling berpengaruh di SMI Mataram. Kobel dipandang penting karena bukan saja merupakan salah satu pendiri SMI di Mataram, tetapi lebih-lebih menjadi mentor bagi kawan-kawan SMI yang bergerak di Ummat. Saat konflik makin membuncah yang ditandai dengan keterlibatan borjuis lokal dan badan-badan bersenjata, serta tidak mampu ditanggulangi pimpinan-pimpinan SMI Mataram dan mengancam keselamatan Djiwan dan anggotanya—Kobel akhirnya turun tangan. Periode sejarah yang tajam memanggil orang-orang dengan kualitas dan kepribadian seperti dirinya untuk memimpin. Di Ummat, kelas menengah radikal yang menjadi kekuatan utama gerakan memilih Kobel sebagai pemimpin yang dimandatkan untuk memajukan perjuangannya. Dengan pengalamannya dalam melancarkan sejumlah advokasi, pengaruhnya sebagai pemimpin KPR dan alumnus SMI, dan posisi sosial-ekonominya yang mandiri sebagai peternak ayam dan tukang las; maka Kobel tidak memiliki sejumlah kewajiban yang membatasinya untuk terjun ke gelanggang pertarungan.

Tanggal 7 Mei malam, Kobel menghadiri undangan Badai NTB tapi menolak membuat kompromi apapun dalam menghentikan serangan. Kobel mengerti kalau kehadirannya untuk mewakili kepentingan massa, bukan melayani kekuasaan. Kobel juga tahu bahwa sumber kekuatannya tidak berada di meja kopi tapi di lapangan aksi. Setelah pertemuan berakhir, Kobel segera bertemu dengan pemimpin dan anggota SMI Mataram untuk merencanakan aksi demi membuktikan sikapnya yang anti-kompromi. Pada 8 Mei, birokrasi Ummat kembali dikepung. Kobel memimpin mahasiswa radikal dalam berdemonstrasi di luar gerbang barat Ummat dengan mengatasnamakan Dewan Unifikasi Mahasiswa. Sementara dalam area kampus, pengurus dan anggota Koorkom IMM Ummat—yang baru saja mendapat intruksi Miftahul Khair Al Kindi (Ketum DPD IMM NTB)—meluncurkan kontra-tendensi. Saat gerakan mahasiswa radikal menuntut pencabutan SK Rektor dan kebijakan cuti paksa, mendesak penurunan biaya SPP dan peningkatan upah pekerja kampus, penegakkan kebebasan akademik dan jaminan pendidikan gratis, hingga pembangunan Dewan Mahasiswa; gerakan mahasiswa moderat meminta Rektor Ummat untuk segera mengganti BPH Ummat dan memenjarakan 35 mahasiswa yang diancam DO atas pemalsuan slip SPP. Meskipun memparodikan aksi-tandingan tapi demo IMM menunjukkan bahwa intensifitas perjuangan kelas menengah radikal telah mendorong perpecahan tajam di tubuh kekuasaan. Pertarungan faksional para alumnus Cipayung semakin panas, hingga IMM dan sebagian alumninya—yang merupakan kelompok pendukung status-quo—terdorong menjulurkan protes. Demikianlah kontradiksi tidak saja berlangsung di antara alumnus-alumnus HMI dan IMM melainkan pula di internal Muhammadiyah sendiri. Untuk menanggulangi konflik, birokrasi lantas melakukan restrukturisasi jabatan WR II dan WR III. Tetapi reformasi dari atas meningkatkan arus radikalisasi di bawah. Setelah pergantian wakil-wakil rektor, ketegangan pecah di paguyuban mahasiswa Wera. Lapisan-lapisan terluas kelas menengah makin tertarik ke medan perjuangan. Dalam situasi inilah perseteruan antar-anggota HPMW meledak. Di jalanan sebelah selatan Ummat, aksi kejar-kejaran dan saling-serang berkecamuk antara anggota-anggota yang mendukung alumni-alumninya di birokrasi dengan para anggota pembela korban-korban SK Rektor. Dengan memprovokasi kerusuhan, birokrasi kampus selanjutnya mendatangkan aparat-aparat kepolisian untuk memberikan pengamanan. Mendera perpecahan faksional yang melemahkan kekuasaan, sekarang badan orang-orang bersenjata dilibatkan secara terang-terangan dalam menebarkan ketakutan dengan memaksakan kontrol dan pengawasan brutal. Ini menunjukkan kekacauan Rezim Pendidikan Abdul Wahab di tengah ketidaksabilan global yang merambah sampai ke lokal. Dalam miniatur pemerintahan borjuis di Ummat, krisis politiknya dapat dilukis dengan mengutip Dokumen Perspektif Perhimpunan Sosialis Revolusioner (PSR) tentang “Masalah Kongres Soviet” di bagian ‘Perebutan Kekuasaan’:

“Orang Yunani Kuno pernah mengatakan: ‘siapa yang ingin dihancurkan oleh para dewa, akan dibuat gila terlebih dahulu’. Tapi jika diamati lebih dekat, kegialaan ini berakar dari situasi obyektif . Sistem sosial yang sudah di tepi jurang akan menghasilkan sebuah rezim yang dilanda dengan krisis. Rezim semacam ini tidak memiliki banyak pilihan dan ruang lingkup, kesalahannya berlipat ganda. Di masa sejarah yang penuh kemakmuran dan kondusif, bahkan seorang yang bodoh dan medioker dapat memerintah dengan sukses (dan sering kali demikian). Tetapi ketika sebuah rezim dan sistem sosial sedang sekarat dan hampir mati, bahkan talenta dari menteri yang paling cakap sekalipun tidak akan cukup untuk menyelamatkannya. Rezim seperti itu mau tidak mau dilanda krisis internal dan perpecahan di puncak. Selapisan kelas penguasa mencoba mencegah bencana dengan memberi konsesi, sementara yang lain mencoba menghentikan gelombang pemberontakan dengan represi. Hasilnya, rezim ini tampak bimbang dan tidak kompeten, dan sesungguhnya memang demikian.”

Penggunaan konsesi dan represi menunjukkan kelemahan kekuasaan. Birokrasi kampus melemah dan akar rumpuh terus-menerus mengibarkan keberanian. Di lapakan PMP, elemen-elemen radikal tetap berkumpul, berdiskusi, dan membagi-bagikan selebaran. Di tempat lain, terdapat pula barisan-barisan yang sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk menghadapi keributan: mereka bukan preman atau lumpen, tapi mahasiswa-mahasiswa yang teradikalisasi oleh peristiwa dan siap mempersenjatai dirinya untuk mempertahankan perjuangan dan membela kepentingan-kepentingan mahasiswa miskin. Di tengah dunia yang bergejolak, kebangkitan gerakan mahasiswa Ummat hari-hari ini memiliki kekhasan tersendiri. Meskipun aksi-aksi sudah berkali-kali dilakukan di masa lalu, tetapi demonstrasi kali ini memperlihatkan perubahan kualitatif: mulai dari diskusi-diskusi yang meningkat, keterbukaan kaum muda terhadap literatur Marxis, keterlibatan langsung aktivis radikal yang lebih berpengaman, hingga kehadiran unsur-unsur baru dan segar. Hanya pada kepemimpinannya, kecenderungan gerakanisme masihlah mendominasi. Demikianlah pengorganisasian diarahkan bukan untuk membangun kepemimpinan revolusioner: mendidik kaum muda dengan teori, program, metode, dan tradisi Marxisme Revolusioner. Tetapi semata untuk menghidupkan advokasi dan mengorganisir mahasiswa ke dalam organisasi massa. Pada malam 17 Mei, pernyataan macam itu tersirat dalam obrolan dengan Kawan Kobel. Saat itu beberapa anggota FMR, PEMBEBASAN, SMI, berkumpul di lapak PMP dan melangsungkan perbincangan mengalir bersama Kobel. Walau kami mengerti bahwa ledakan peritiwa, posisi sosial-ekonomi, dan perimbangan kekuatan kelaslah yang menarik individu seperti Kobel dalam pusaran masalah, tetapi sedikit dia menceritakan kalau dirinya memantapkan langkah untuk membantu gerakan mahasiswa karena hatinya tersentuh hatinya oleh mahasiswa perempuan yang hadir di hadapannya untuk menawarkan jasa seks demi membayar SPP.

Kobel bercerita mengenai kehadiran perempuan muda itu secara liris. Di tengah sorotan lampu kendaraan yang berlalu-lalang, matanya tidak berkedip dan berkaca-kaca saat mengingat pertemuan tersebut. Kobel yang sedang mengelas pagar menghentikan aktivitasnya. Tetapi bukan untuk memakai jasa seks, melainkan mendengarkan keluhan, menggali informasi lebih lanjut, dan memberikan sisa-sisa uang yang ada dikantongnya secara cuma-cuma. Dari catatan Kobel, Ummat tidak sekadar menjadi kampus yang ongkos kuliahnya meroket tapi juga melindungi para pelaku pelecehan dan kekerasan seksual. Sejauh ini Kobel dan kawan-kawannya menemukan sekitar 50 mahasiswa perempuan terjerat perbudakan seksual. Secara keseluruhan para korban merupakan perempuan-perempuan yang berasal dari keluarga kelas pekerja dan menengah ke bawah. Para birokrat kampus dan dosen-dosen cabul membuat sebuah grup WhatsApp untuk menampung mereka. Gadis-gadis muda ini dipaksa untuk memberikan pelayanan bukan dengan tekanan-tekanan yang begitu rupa: mulai dari persoalan nilai, pengajuan judul dan konsultasi skripsi, urusan magang dan wisuda, dan yang terbanyak adalah menyangkut biaya kuliah. Sekarang eksploitasi pekerja akademik, kemiskinan mahasiswa, dan degradasi pendidikan borjuis bukanlah sebuah aib tapi tragedi sistemik yang memekarkan penindasan perempuan. Di Ummat, tenaga-tenaga pengajar, administrasi, kebersihan, dan keamanan diupah kurang dari UMK Mataram: Rp 2.579.000. Sementara mahasiswanya tidak sekadar dihantui kenaikan ongkos kuliah per semester, tetapi juga dipotong Beasiswa Bidikmisi dan dibebani aneka tambahan biaya secara arbitrer. Di tengah gejolak inflasi, serangan-serangan terhadap standar hidup keluarga-keluarga pekerja dan menengah meningkat. Kemesraan ayah, ibu, dan anak-anaknya rusak. Dengan gaji-gaji yang sedikit, harga-harga yang meroket, hasil-hasil panen yang anjlok, kerawanan pangan yang melilit perut, dan perluasan kredit yang menjerat laki-laki dan perempuan dalam kepungan hutang—maka rumah-tangga proletar dan miskin menjadi rentan stres, berkonflik dan hancur berantakan. Dalam artikel berjudul “Tentang Eksploitasi dan Penindasan Perempuan”, kami menerangkan bagaimana krisis kapitalisme perempuan-perempuan proletar dan pelajar dalam penindasan yang mengerikan:

“Menghadapi kondisi inilah kemanusiaan siapapun rentan mengalami kemerosotan. Tekanan-tekanannya menyeret ke lembah kegelapan, keirasionalan, dan kebrutalan yang tak terperikan. Segala keindahan moral keagamaan dan ajaran-ajaran luhur warisan nenek moyang kontan ditanggalkan. Semua paham dan kebiasaan lama tidak dapat lagi diterapkan untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan yang terus bertambah, membuncah dan menekan. Akhirnya alienasi dalam proses produksi kapitalisme menjalar sampai ke keluarga-keluarga kelas pekerja. Pertumbuhan ekonomi yang melemah dengan tingkat inflasi yang tinggi dan resesi yang mengancam telah merecoki beratus-ratus juta rumah tangga. Kebijakan-kebijakan pengetatan dan serangan-serangan terhadap standar hidup membuat kehidupan berpasangan dan berkeluarga jauh lebih berat. Rumah tangga-rumah tangga rakyat pekerja adalah yang paling menderita dan remuk. Dari data PBB, sejak 2015-2018 terdapat 83 negara dimana kaum muda memilih tidak menikah sampai usia 30-an: perempuan (31,5-34 tahun) dan laki-laki (34-36 tahun). Sementara secara global, rasio perceraian meningkat drastis: antara 2,7-10,97 kasus perceraian dari 1000 orang. Sepanjang 2014-2018, GALLUP menemukan kalau 1 dari 8 perempuan berusia 18-60 di seluruh dunia menjadi ibu tunggal dan rasio terparah berada di Afrika Sub-Sahara (1:3) dan Amerika Latin (1:5). Pada 2018, di Inggris berlangsunglah pertemuan makan malam Klub Presiden dimana ratusan perempuan-perempuan pekerja dan muda—yang merupakan ibu-ibu tunggal—dibayar untuk melayani tamu-tamu borjuasi dengan memakai pakain hitam minim, bersedia berpegangan tangan, memberikan pelukan, dan siap dipangku begitu rupa. Selama berlarut-larutnya krisis kapitalisme, tanpa mendapatkan perlindungan dan jaminan keamanan, ratusan juta perempuan memasuki arena prostitusi. Pekerjaan seks komersial mendulang miliaran dolar untuk pemilik rumah-rumah bordil dan penyedia jasa-jasa pelacuran di pelbagai negeri: Cina (US$ 73 miliar), Spanyol (US$ 26,5 miliar), Jepang (US$ 24 miliar), Amerika Serikat (US$ 18 miliar), Korea Selatan (US$ 14,6 miliar), India (US$ 8,4 miliar), Thailand (US$ 6,4 miliar), Filipina (US$ 6 miliar), Turki (US$ 4 miliar), Swiss (US$ 3,5 miliar), Indonesia (US$ 2,5 miliar), dan sebagainya.

Di tengah meledaknya bisnis prostitusi, dari 25 juta situs porno terdapat 10 juta situs yang mendapatkan kunjungan terbanyak. Pada 2019, industri porno ikut meraup pendapatan berlimpah secara global: 100 miliar dolar AS. Di tahun yang sama, Universitas Warwick dan Durham ditemukan berbagai obrolan grup yang menyasar mahasiswa perempuan dengan ancaman pemerkosaan dan membicarakan perlombaan mengenai siapa yang terbanyak meniduri gadis-gadis kelas pekerja di kampus-kampusnya. Lalu di Indonesia, Komnas Perempuan (2020) mengungkapkan bahwa 4.700 (93,8%) pelajar-pelajar perempuan di Depok telah melaksanakan hubungan seks di luar nikah. KPAI (2021) lantas mengungkapkan temuan: dari 132 juta pengguna internet Indonesia, 768 ribu di antaranya merupakan anak-anak berusia 10-14 tahun dan untuk usia 15-19 tahun pengguna internetnya mencapai 12,5 juta orang dengan 4.500 pelajar (SMP dan SMA) secara rutin mengakses konten-konten pornografi. Di sisinya, Kornas OPSI menemukan jumlah ibu tunggal sudah mencapai 1,7 juta dan total PSK berjumlah 230.000 orang yang didominasi oleh ibu-ibu tunggal dan perempuan-perempuan muda yang diikuti oleh LGBT serta laki-laki. Krisis kapitalisme bukan saja memperparah kehancuran keluarga dan rumah tangga rakyat pekerja, tetapi juga mengondisikan pelacuran umum di seluruh negeri. Dalam kondisi inilah penindasan gender dan seksual membumbung tinggi. Data WHO (2021) menyebutkan kalau 852 juta perempuan di seluruh dunia telah menjadi korban seksisme maupun femisida. Setiap tiga menit terdapat 4 kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dan per 6 jam seorang perempuan menjadi sasaran pemukulan, pembakaran, dan pembunuhan. Sepanjang 2020-2021, Prancis dan Spanyol masing-masing mengalami peningkatan kekerasan dalam rumat tangga sebesar 30 persen dan 18 persen. Pada 2020, di Meksiko 10 perempuan setiap harinya menjadi korban pembunuhan dan di Inggris selama Maret-Oktober saja ditemukan 81 kasus feminisida. Sementara di Indonesia, Catahu Komnas Perempuan (2022) menunjukkan peningkatan signifikan terkait praktik kekerasan berbasis gender dan seksual: dari 226.062 kasus (2020) menjadi 338.496 kasus (2021), dengan 3.014 laporan yang 860 di antaranya merupakan kasus kekerasan seksual.”

Ummat merupakan salah satu kampus yang menambah deretan angka pelecehan dan kekerasan seksual di Indonesia. Di sini ada dosen laki-laki yang berselingkuh dengan dosen perempuan sampai tega menceraikan istrinya segala. Di sisinya berceceran dosen-dosen cabul: suka mengoleksi film porno, mengunjungi tempat prostitusi, dan secara bar-bar meniduri mahasiswa-mahasiswa perempuannya dengan jebakan dan ancaman apa saja. Di tengah krisis kapitalisme, pedang mereka semakin melambai-lambai dan tegang mengintai gadis-gadis muda di kampusnya. Serangan terhadap standar hidup yang terus-menerus menggoncang psikologi dan orientasi seksual mereka. Rendahnya gaji bukan saja menciptakan kebimbangan seabrek tenaga pengajar untuk menikah dan membangun keluarga, tetapi yang telah berkeluarga saja sukar memenuhi kebutuhan rumah-tangganya hingga hubungan-hubungan intim dengan istrinya terputus sementara atau untuk selamanya. Ditambah tingkat stres pekerjaan yang tinggi, pengajar-pengajar macam itu begitu rentan menjadi predator seksual yang mengasah pedangnya kepada peserta-peserta didiknya. Sementara amukan inflasi juga menekan kehidupan mahasiswa begitu rupa. Saat keluarga-keluarga pekerja dan menengah kehabisan uang untuk membayar kuliah dan fasilitas hidup anak-anak perempuannya, maka rayuan-rayuan lancung dan paksaan-paksaan dari sarjana-sarjana kacung, doktor dan profesor klerikal gampang menggoyahkan pendiriannya. Pada titik inilah lembaga pendidikan tampil sebagai rumah bordil dan para tenaga pengajar mengaborsi perkembangan kebudayaan yang sehat di bawah kecenderungan-kecenderungan seksisme. Di institusi Muhammadiyah, para perempuan miskin direduksi menjadi komoditas untuk simpanan para monster seksual yang berjubah ilmu-pengetahuan dan agama. Di atas ranjang ketimpangan dan ketidaksetaraan, perempuan-perempuan malang itu tidaklah menikmati persetubuhan dengan desahan-desahan kepuasan tapi merintih kesakitan dan traumatis atas perlakuan-perlakuan sadis dan bejat dari spesies-spesies berkantong tebal dan berkopiah yang terlaknat di muka bumi.

Semua pasti marah dan mengutuk kelakuan sarjana-sarjana kacung, klerikal, dan cabul-cabul. Kesaksian Kobel menyingkap sebagaimana eksploitatif, opresif dan seksisnya pejabat-pejabat Ummat. Tidak berhenti pada persoalan penindasan perempuan; Kobel lanjut bercerita tentang perjuangannya selama menjadi mahasiswa hingga keterlibatannya dalam membangun Partai Massa bersama kawan-kawannya di KPR. Sampai detik perbincangan kami, prinsip politik Kobel tetaplah sama dengan yang dulu: garis massa. Dalam mengorganisir massa, dia selalu mengutamakan aksi massa. Baginya, propaganda yang paling efektif adalah melalui aksi. Sekilas pernyataan ini serupa dengan taktik kuno Anarkisme dari kaum Narodnik: propaganda dengan perbuatan yang sudah terbukti gagal ketika digunakan untuk menggulingkan absolutisme dan kapitalisme di Rusia. Namun Kobel bukanlah seorang Anarkis. Dirinya menyatakan: ‘ada metode dari masa lalu yang perlu dikembangkan hari ini dengan beberapa penyempurnaan untuk mengorganisir massa’. Kami menangkap bahwa metode tersebut adalah mobilisasi massa untuk persatuan. Hanya baginya orientasi mobilisasi ialah demi membangun organisasi lintas-sektoral, bukan organisasi kemahasiswaan. Kami pikir organisasi macam itu sudah pernah dibangun dan hancur pada momen-momen kebenaran dari Revolusi 1998. Itulah Partai Rakyat Demokratik yang setelah menggulingkan Soehato menjadi ragu-ragu untuk meletakkan kekuasaan ke tangan kelas pekerja. Tetapi jelas Kobel tidak setuju bila gagasan politik dan organisasionalnya disamakan dengan PRD. Dia punya konsep sendiri yang enggan dijelaskannya. Namun meskipun disembunyikan, kami dapat memperkirakan kalau istilah organisasi lintas-sektoral maksud Kobel menyangkut pembangunan Partai Massa dengan merekrut sebanyak mungkin kelas menengah dengan melaksanakan aksi-aksi kampanye, advokasi, dan pendidikan-pendidikan bergaris politik massa. Tujuan pengorganisasian Kobel diakuinya untuk menyadarkan massa. Betul, massa dapat digugah dengan memobilisasinya ke dalam aksi-aksi. Betul pula, massa bisa dididik dengan menggabungkan mereka ke dalam organisasi-organisasi kiri. Tetapi takkan pernah kesadaran massa dijamin kemajuannya hanya dengan beraksi, berorganisasi, dan menjadi kiri semata. Massa tak cukup disadarkan tapi lebih-lebih didorong maju kesadarannya. Massa tak cukup diajak dan ikut berjuang tapi lebih-lebih mengerti, meyakini, dan mencintai apa yang diperjuangkannya. Massa tidak bisa terlibat dalam ketidakstabilan dan pembangkangan yang terus-menerus. Massa yang terkuras tenaganya akan kehilangan kesabaran, kecewa dan terdemoralisasi apabila mereka tiada melihat jalan menuju kemenangan yang sesungguhnya. Inilah mengapa massa membutuhkan teori, program, metode, dan tradisi yang tepat untuk mempersenjatai perjuangannya. Kami tidak menyangkal kekuatan massa, apalagi jika itu merupakan kelas buruh yang memiliki bobot sosial luar biasa. Hanya kami mengingatkan: massa mahasiswa cumalah berperan sebagai percikan—untuk membantu mendorong proletariat ke dalam medan perjuang kelas—dan bagian vital dari perjuangannya adalah membangun kepemimpin revolusioner—dengan menempatkan kesadaran massa sebagai garis politik dalam menempuh perjuangan revolusioner—untuk mengakhiri krisis kapitalisme. Dalam “Draft Presentasi Revolusi Oktober” dari PSR (IMT Seksi Indonesia) dan “Perspektif: Kebutuhan akan Gerakan Buruh yang Militan” dari Fightback (IMT Seksi Kanada) menjelaskannya begitu rupa:

“Membela kepentingan massa rakyat, dengan hukum revolusi sebagai proses yang dikondisikan secara obyektif. Penemuan ilmiah dari hukum-hukum ini, dan pertama-tama yang mengatur pergerakan massa rakyat, merupakan dasar dari strategi Bolshevik. Para pekerja dibimbing dalam perjuangan mereka tidak hanya oleh tuntutan mereka, tidak hanya oleh kebutuhan mereka, tetapi oleh pengalaman hidup mereka. Bolshevisme sama sekali tidak mencemooh pengalaman independen massa. Sebaliknya, kaum Bolshevik mengambil ini sebagai titik tolak mereka dan membangun di atasnya. Itu adalah salah satu keunggulan utama mereka. Dan pertama-tama mereka yang mengatur gerakan massa rakyat, merupakan dasar strategi Bolshevik…. [Lenin berkata:] ‘kami bukan penipu. Kita harus mendasarkan diri kita hanya pada kesadaran massa. Sekalipun perlu tetap menjadi minoritas, biarlah begitu … Kita tidak boleh takut menjadi minoritas … Kita akan terus melakukan kerja kritik untuk membebaskan massa dari tipu daya. Garis kami akan terbukti benar. Semua yang tertindas akan datang kepada kita. Mereka tidak punya jalan keluar lain’.”

“Sering dikatakan bahwa kaum muda adalah barometer yang lebih sensitif di masyarakat … Tetapi dalam analisis terakhir, kelas pekerjalah yang memiliki kekuatan untuk mengakhiri kapitalisme dan menyatukan semua yang tertindas melawan sistem…. Apa yang hilang dalam situasi ini adalah kepemimpinan. Kepemimpinan organisasi buruh tidak pernah sebangkrut ini. Kita harus berjuang untuk membangun kepemimpinan baru dari elemen-elemen muda yang terbaik memasuki perjuangan sekarang. Bagian vital dari perjuangan ini adalah perlunya membangun organisasi Marxis Revolusioner yang memiliki kemampuan untuk dilihat sebagai pilihan di mata buruh, pemuda, dan kaum tertindas. Kami tidak akan puas dengan beberapa reformasi kecil semudah yang telah diberikan. Semua sejarah menunjukkan bahwa tidak ada reformasi yang berkelanjutan secara konsisten tanpa mengancam kapitalisme secara keseluruhan. Untuk menggulingkan kapitalisme, kaum buruh membutuhkan sebuah organisasi revolusioner, dan organisasi revolusioner tidak dapat dibangun secara spontan…. Sebuah organisasi revolusioner dapat memberikan ide-ide yang membantu gerakan-gerakan ini menang, dan mengeluarkan pelajaran yang diperlukan sehingga massa dapat memahami krisis. International Marxist Tendency telah membuat langkah maju yang mengesankan dalam beberapa tahun terakhir, dan siap untuk menyatukan elemen-elemen  revolusioner terbaik di bawah panjinya. Sudah banyak kelompok yang datang ke arah kami dan bergabung dengan gerakan kami. Kita harus memiliki rasa urgensi untuk membangun dan melatih organisator-organisator Marxis baru yang terintegrasi dalam perjuangan hidup yang nyata. Kami tidak puas hidup di bawah status-quo perang imperialis, penindasan, bencana lingkungan, dan eksploitasi kapitalis lagi. Bergabunglah dengan kami dalam perjuangan untuk sosialisme.”

Bangun Bolshevisme sekarang juga!

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai