“Properti membagi seluruh dunia menjadi partai-partai, dan merupakan penyebab dari semua perang dan pertumpahan darah dan pertikaian di mana-mana.” (Winstanley)
“Sebuah revolusi tidak selalu menjadi sumber pertumpahan darah dan air mata, seperti halnya api tidak selalu menghasilkan kehancuran. Sebuah revolusi berarti penggunaan kekuatan untuk menghancurkan sistem yang tidak memuaskan.” (Anonim)
“Kini, untuk pertama kalinya, muncul cahaya terang, yakni kerajaan nalar; dan sejak itu takhayul, ketidakadilan, privilese, penindasan, akan diganti dengan kebenaran abadi. Hak abadi, persamaan yang berdasarkan Alam dan hak-hak manusia yang paling hakiki. Hari ini kita tahu bahwa kerajaan nalar ini tidak lain adalah kerajaan borjuasi yang diidealisasi; bahwa Hak abadi ini menemukan realisasinya dalam keadilan borjuis; bahwa persamaan ini mereduksi dirinya menjadi persamaan borjuis di depan hukum; bahwa hak milik borjuis diproklamirkan sebagai salah satu hak asasi manusia….” (Engels)
Dalam Revolusi Belanda (1566-1588), menajamnya perjuangan kelas tidak saja berhasil menggulingkan feodalisme dan menghantarkan kekuasaan ke tangan borjuasi tapi terutama menyeret-keluar berjuta-juta perempuan dari lumpur kepasifan. Dimasukinya medan perjuangan politik oleh gerakan massa menjadi unsur pertama dan paling fundamental dari setiap revolusi. Perempuan-perempuan yang sebelumnya dipandang hina, dianggap bodoh, lemah dan tak berdaya turun ke medan pertempuran bersama laki-laki untuk menghancurkan rezim lama: otoritas estate pertama (rohaniwan) dan estate kedua (bangsawan). Tali kekang feodal sebagai penghambat kemajuan tenaga produktif dihancurkan. Kelas borjuis bangkit sebagai estate ketiga yang menggeser kekuasaan golongan pertama dan kedua. Tetapi keberhasilannya merebut kekuasasaan bertumpu pada estate keempat: semi-proletar dan plebeian yang menjadi kekuatan utama revolusinya. Di Negara Rendah, gerakan massa revolusioner mengangkat borjuasi sebagai pemimpin bangsa dan menghancurkan semua yang merintangi jalannya kapitalisme. Revolusi Belanda telah menghancurkan batas-batas sempit feodalisme. Dalam Perang Delapan Puluh Tahun bukan sekadar Republik Belanda yang berhasil didirikan, tetapi juga negeri-negeri yang memiliki tahap perkembangan berbeda ditarik ke dalamnya. Inggris merupakan salah satu negara yang tertarik dan mengambil peran aktif melawan Kekaisaran Habsburg dan Gereja Katolik Romawi. Partisipasi Inggris dalam perang dan revolusi borjuis mempengaruhi perkembangan sosialnya. Hubungan-hubungan dagang dengan Negara Borjuis Belanda tak sekadar mempertukarkan komoditas melainkan pula memajukan teknik dan kebudayaannya. Demikianlah selama abad ke-16 dan ke-17, perdagangan dan industri Inggris tumbuh begitu rupa. Wol merupakan komoditas utama yang memenuhi tiga seperempat ekspor ke Belanda. Dalam memproduksi wol-wol inilah Inggris mendorong pertumbuhan peternakan domba dengan merampas tanah-tanah petani untuk diubah menjadi lahan-lahan penggembalaan domba dan menyeret petani-petani miskin dan tak-bertanah menjadi buruh-upahannya. Pada “Utopia” Thomas More melukiskannya dengan istilah ‘domba memakan manusia”, tetapi lewat “Kapital Jilid I” Marx menerangkannya secara ilmiah:
“Dalam sejarah akumulasi primitif, semua revolusi adalah pembuatan zaman yang bertindak sebagai pengungkit bagi kelas kapital dalam proses pembentukan; tetapi, di atas semua itu, saat-saat ketika massa besar manusia secara tiba-tiba dan secara paksa direnggut dari sarana penghidupan mereka, dan diempar sebagai kaum proletar yang bebas dan ‘tidak terikat’ di pasar kerja. Pengambilalihan produsen pertanian, petani, dari tanah, adalah dasar dari keseluruhan prosesnya.”
Selama masa-masa kemunduran feodalisme di Inggris, setiap tahunnya sekitar 10.000 orang desa bermigrasi ke kota-kota—terutama di London sebagai kota mercusuar kapitalisme. Di pusat-pusat perdagangan dan industri, mereka tidak gampang menyesuaikan diri dengan pekerjaan-pekerjaan barunya. Daripada tumbuh sebagai proletariat, lebih banyak di antara mereka yang menjadi lumpen-proletar. Orang-orang yang terampas ini hidup menganggur dan berkalang kemiskinan, hingga terpaksa melakukan pencurian, terlibat dalam pelacuran, bergelandangan dan mengemis-ngemis. Sementara di tubuh kekuasaan, gerombolan bangsawan menikmati kemewahan, melakukan korupsi dan pemborosan, dan menempatkan uang sebagai segala-galanya. Di akar rumput, massa yang lapar dan miskin menggerutu dan menekan-nekan. Di zaman perang dan revolusi, semua ide dan keyakinan-keyakinan lama diremukkan. Kehidupan laki-laki dan perempuan dijungkirbalikkan. Cara-cara lama sudah tidak berguna dan cara-cara baru ditemukan. Inilah masa transisi dari Abad Pertengahan menuju Abad Pencerahan. Revolusi Belanda mengintrodusi kehancuran monarki-monarki Eropa. Keterlibatan Inggris dalam Perang Delapan Puluh Tahun tidak saja memicu Perang Inggris-Spanyol, tapi terutama memperluas kebencian terhadap tradisi-tradisi keagamaan Katolik dan memperbesar dukungan terhadap kapitalisme. Di Inggris (dan Wales), Irlandia, dan Skotlandia, Wangsa Tudor bertindak sebagai agen kapitalis terkemuka. Dalam Perang Mawar (1455-87), keluarga bangsawan York dan Lancaster—yang menjadi perwakilan dunia lama dan melangsungkan pertempuran-pertempuran mematikan—kehilangan banyak sumber daya dan tenaga; sedangkan Tudor diam-diam membangun kekuasaannya dengan beraliansi bersama pedagang-pedagang kaya, memberikan jaminan keamanan untuk berbisnis, dan menjaga stabilitas pertumbuhan kapitalisme. Di penghujung perang saudara, menggunakan modal yang dikumpulkannya maka Tudor tidak sekadar menjadi keluarga bangsawan yang kuat tapi juga bertambah besar kepentingannya untuk mengembangkan pasar dengan memberikan pukulan terakhir dan mengalahkan kedua wangsa yang berperang lama.
Selama tiga puluh dua tahun para bangsawan saling membantai. Intrik, pengkhianatan, dan pembunuhan berkecambah. Akhirnya York maupun Lancaster lelah dan Tudor merebut takhta dengan bantuan kaum burgher. Demikianlah kepatutan menjadi raja tidak lagi menjadi anugerah ilahi, melainkan berdasarkan pertolongan dari para pedagang dan orang-orang kaya yang berkepentingan mengembangkan pasar. Di bawah Pemerintahan Henry VIII atau Raja Tudor (1509-47), biara-biara Katolik dibubarkan, harta-bendanya diambil-alih, tanah-tanahnya dijual di pasar, dan segala ikatan dengan Gereja Katolik Romawi diputus. Gereja Inggris berada dalam kendali Raja Tudor yang memimpin perdebatan mengenai properti, harga, sewa, upah, dan menghidupkan budaya pasar. Reformasi-reformasi parsial menjulur. Kapitalisme ditegakkan secara brutal. Lapisan-lapisan sosial yang tidak terserap pasar kerja diburu dan dibunuh. Laki-laki dan perempuan miskin merupakan korban utamanya. Mereka dikriminalisasi sebagai gelandangan, pengemis, dan penyihir-penyihir jahat. Selama Henry berkuasa, 72.000 orang dihukum mati dengan cara digantung, dipenggal, dan dibakar. Selanjutnya, jaminan bagi perkembangan kapitalisme berlanjut di tangan putrinya: Ratu Elizabeth I. Awal pemerintahannya, Katolik dan Protestan berusaha diseimbangkan: orang miskin dilarang menghadiri Misa, sedangkan orang-orang kaya dibiarkan mengadakannya sembunyi-sembunyi. Selama tidak mengganggu ketentraman penguasa, umat baragama dapat hidup bersama. Tetapi saat Perang Kemerdekaan Belanda menajam maka semuanya berubah. Inggris mula terseret dalam masalah. Ekspor wol ke Negara Rendah tersumbat. Di Belanda Selatan, peningkatan kekuatan militer Spanyol menebarkan ancaman invansi kepada Inggris. Dalam Perang Delapan Puluh Tahun, pasukan-pasukan Inggris lantas dikerahkan untuk membantu Belanda melawan Spanyol. Di perairan, pelaut-pelaut Inggris pula diterjunkan dalam merampok pelabuhan dan kapal-kapal harta Habsburg. Setelah kekalahan armada-armada Spanyol pada 1588, bukan hanya kepentingan komersial dan kolonial Belanda yang berjaya tapi juga Inggris. Dalam pertempuran-pertempuran laut yang tajam, hancurnya kapal-kapal dan pasukan-pasukan Spanyol segera menjadikan Belanda dan Inggris sebagai kekuatan militer dan dagang terkemuka: emas dan perak dari Dunia Baru, eksploitasi budak Afrika, dan penjarahan Hindia Timur didominasi oleh mereka dan dijadikan sumber kekayaan untuk membangun negerinya masing-masing.
Akhir abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-17, Belanda menjadi pusat industri dan manufaktur kapitalisme yang paling maju dengan aktivitas komersialnya yang multikultural. Pedagang-pedagang Inggris berbisnis dan menikah di Belanda, dan begitupun sebaliknya. Di tengah semangat Revolusi Borjuis Belanda, perjuangan melawan Katolik dan absolutisme merupakan titik fokus yang diperbincangkan dan diberitakan di mana-mana. Di Inggris, Protestanisme menjadi ajaran yang hangat di tengah-tengah kehidupan kelas menengah. Di pelabuhan, pasar-pasar dan pusat-pusat kota—mereka melancarkan aktivitas jual-beli dan industrial sambil mengkhotbahkan ajaran-ajaran Reformasi Protestan, gagasan-gagasan kebebasan individu dan kedaulatan rakyat yang sedang bersinar di Republik Belanda. Pertengahan 1580-an, Protestanisme tumbuh subur di Inggris. Sentimen anti-Katolik mekar. Ratu Elizabeth yang tertekan oleh ancaman pembunuhan dari Kekaisaran Habsburg dan Gereja Katolik Romawi mencari perlindungan dengan mendukung Reformasi Protestan. Jaringan mata-matanya disebar ke mana-mana. Ratu Skotlandia Mary (permaisuri Philip II) ditangkap, dikurung, dan dipenggal. Sekte-sekte Protestan menjamur dan Katolik tergusur. Akar rumput bergejolak. Lautan sosial memanas dan pembatasan-pembatasan feodal meleleh. Semi-proletar dan plebeian menentang segala perampasan dan pemagaran tanah. Sepanjang 1590-1610, Protes Anti-Kandang bergemuruh. Gerakan-gerakan perlawanan bangkit dengan memancang “Kebebasan Hati Nurani” dalam berpikir, berbicara, berekspresi, termasuk bekerja dan beragama. Mereka membentuk aneka kecenderungan: radikal, moderat, dan konservatif. Di bawah, terdapat Quaker: perkumpulan rahasia kelas menengah, petani miskin, dan pekerja-pekerja harian pertanian yang berprogram menghapuskan perbudakan laki-laki dan perempuan, menentang persepuluhan dan peperangan, mempraktikan pola hidup asketis dan cenderung pasifis. Di sisinya, ada Puritan: pedagang, pengrajin, dan pekerja-pekerja magang industrial yang secara terbuka mengkhotbahkan pentingnya bekerja keras, berburu harta, dan memurnikan ajaran Protestan yang telah banyak disesuaikan dengan tradisi-tradisi keagamaan ortodoks. Di atas mereka, bercokol Presbiterian: industrialis, bankir, pedagang-pedagang kaya, dan bangsawan-bangsawan pro-kapitalis yang mengembangkan doktrin Calvinisme dalam merampok properti-properti gereja, memupuk kekayaan pribadi, dan menjamin perkembangan masyarakat kapitalis.
Quakerisme maupun Puritanisme mewakili tendensi borjuis-kecil dan Presbiterianisme mewakili tendensi borjuis-besar. Mereka mewarisi tradisi-taradisi gerakan dari masa-masa sebelumnya: Lutheran, Anabaptis, dan Calvinis. Seperti yang dijelaskan Trotsky: ‘sebuah kelas baru tidak mulai menciptakan semua budaya dari awal, tetapi masuk ke dalam peninggalan masa lalu, memilah-milahnya, mengatur-ulang, dan membangunnya’. Demikianlah ajaran-ajaran religius masih kental dalam gerakan yang mereka bangun. Saat kapitalisme baru berkembang dan antagonisme kelas belum matang, perjuangan kelas di antara mereka terdistorsi dalam bentuk konflik keagamaan. Agama merasuki segala sendi kehidupan, mencampuri urusan-urusan sosial, ekonomi, politik, dan perang. Di tengah keruntuhan feodalisme, polisi-polisi agama dikerahkan untuk mengawasi dan mengontrol tindak-tanduk setiap orang. Orang-orang diwajibkan menghadiri kebaktian gereja dan tidak boleh meninggalkannya kecuali sakit apabila tak ingin didenda. Orang kaya punya banyak waktu untuk beribadah dan memiliki cukup uang untuk dilemparkan ke kantong juru do’a. Sementara rakyat pekerja hidup dalam kubangan kemiskinan, kelaparan, lilitan hutang dan pajak yang mendorongnya mencari ketenangan di bilik-bilik keagamaaan, tetapi ketika diperhadapkan dengan tarif-tarif pemujaan maka mereka tak punya harta-benda yang dengan mudah diberikan kecuali kemampuan-kemampuan kerjanya yang secara murah hati diperuntukan untuk menghidupkan paroki-paroki gereja. Dari kerja-kerja semi-proletar dan plebeian inilah raja dan pendeta memupuk kekayaan. Agama bukanlah sebatas lahan bisnis yang menggiurkan, tapi sekaligus penggung dan kubangan yang memabukkan. Agama adalah media untuk meraih mata dan telinga massa dan menyalurkan kepentingan kelas penguasa. Demikianlah perjuangan kelas terdistorsi dalam konflik agama. Dalam “Revolusi Inggris 1640”, Cristopher Hill menguraikannya:
“Pertengkaran agama pasti mengisi banyak halaman literatur pamlet abad ketujuh belas: kedua belah pihak membenarkan sikap mereka pada akhirnya dalam istilah agama, percaya bahwa mereka berperang atas nama Tuhan. Tetapi ‘agama’ mencakup sesuatu yang jauh lebih luas daripada yang dilakukannya saat ini. Gereja sepanjang abad pertengahan, dan hingga abad ketujuh belas, ada sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang kita sebut gereja saat ini. Itu memandu semua aktivitas manusia dari pembatisan hingga upacara penguburan, dan merupakan pintu gerbang menuju kehidupan yang akan datang yang diyakini semua orang dengan sungguh-sungguh. Gereja mendidik anak-anak; di paroki-paroki desa—di mana banyak orang buta huruf—khotbah pendeta adalah sumber utama informas tentang peristiwa dan masalah terkini, panduan tentang perilaku ekonomi. Paroki itu sendiri adalah unit penting dari pemerintahan lokal, yang mengumpulkan dan membagi-bagikan uang kecil yang dterima oleh orang miskin. Gereja mengendalikan perasaan laki-laki dan perempuan, dan memberitahu mereka apa yang harus dipercaya, memberi mereka hiburan dan pertunjukan. Itu menggantikan layanan berita dan propaganda yang sekarang diliput oleh banyak lembaga berbeda dan efisien … Itulah sebabnya massa mencatat pada khotbah; itu juga mengapa pemerintah sering memberitahu para pengkhotbah apa yang harus diberitakan…. Uskup dan imam jauh lebih seperti pegawai negeri, bagian dari administrasi pemerintah…. Gereja, dengan demikian, mempertahankan tatanan yang ada, dan penting bagi pemerintah untuk mempertahankan kendalinya atas agen publisitas dan propaganda ini. Untuk alasan yang sama, mereka yang ingin menggulingkan negara feodal harus menyerang dan menguasai gereja. Itulah sebabnya teori-teori politik cenderung terbungkus dalam bahasa agama … Selama kekuatan negara lemah dan tidak terpusat, gereja dengan pendetanya di setiap paroki, pendeta dengan akses terhormat ke setiap rumah tangga, dapat memberi tahu orang apa yang harus dipercaya dan bagaimana berperilaku; dan dibalik ancaman dan kecaman dari geraja adalah semua teror api neraka. Dalam keadaan seperti itu konflik sosial mau tidak mau menjadi konflik agama.”
Di jantung masyarakat yang sedang sekarat, perjuangan kelas diekpresikan melalui konflik-konflik agama. Di tubuh kekuasaan, agama menyediakan pembenaran untuk berperang, menaklukan, berdamai, dan berkuasa. Tahun 1603, Raja James Stuart dari Skotandia menggantikan posisi Ratu Elizabeth I yang telah meninggal dunia. James VI dari Skotlandia memastikan kedudukannya menjadi James I di Inggris melalui kompromi dengan para pendukung Reformasi Protestan. Parlemen dibagi dua: House of Commons (Parlemen Rendah untuk estate ketiga dan keempat) dan House of Lords (Parlemen Tinggi untuk estate pertama dan kedua). Di parlemen, ksatria dan burgher meningkatkan kekayaannya melalui penyitaan tanah, penarikan pajak dan cukai, serta terus-menerus memperbesar kepemilikan propertinya dengan menentang bangsawan dan pendeta. Persaingan di antara mereka membuka tabir korupsi dan pemborosan yang berlangsung di istana. Setiap kritik terhadap mahkota dan gereja selalu berdiri di atas “Kebebasan Hati Nurani”. Kritik-kritik itu menggema ke bawah. Dari bawah, serangan-serangan dikembalikan ke atas dengan lebih tajam. Atmosfer sosial memanas dan akar rumput bergejolak. Raja takut melihat khotbah lapangan dari sekte keagamaan radikal. Dia sangat terteror saat mengetahui gerakan-gerakan itu melibatkan banyak perempuan pekerja. Pada 1590, James pernah secara pribadi mengawasi Pengadilan Penyihir Berwick Utara dan memaksakan hukuman mati terhadap 70 lebih perempuan yang dituduh mengirimkan badai ke kapalnya. Tujuh tahun kemudian, ia menerbitkan buku Demonologi untuk memerangi penyihir: ribuan perempuan miskin, ibu tunggal dan gadis-gadis penyeduh anggur di Skotlandia disiksa dan dibunuh. Setelah setahun berkuasa di Inggris dan Wales, James menegaskan sikap kerasnya terhadap penyihir dengan mengesahkan Undang-Undang Anti-Sihir terbaru. Tindakan ini diambil demi mengatasi kebangkitan massa. Program kesederhaaan, penghapusan perbudakan, anti-persepuluhan, anti-pajak, dan anti-perang Quaker dinilai mencoreng dan melecehkan kehidupan bermewah-mewahan dan kegemaran berperang yang dipertontonkan keluarga istana. Di sisi lain, Puritan dan Presbiterian tidak henti-hentinya menelanjangi pemborosan-pemborosan pemerintahannya. Ketegangan di badan legislatif kian harinya semakin parah. Dalam “400 Tahun Sejak Kematian Shakespeare: Seorang Revolusioner dalam Sastra”, Alan Woods menjelaskannya:
“James suka mengadakan perayaan dan topeng mewah untuk bangsawan istana…. Gaya hidup mewah istana James I menyebabkan hutang yang sama mewahnya. Subjek raja secara alami diberikan tagihan . Sengketa parlementer atas hutang raja tidak diragukan lagi menghilangkan sebagian dari kebahagiaan kehidupan istana. Tapi itu terus berlanjut dengan cara yang menyenangkan. Pada akhirnya, hutang yang dia tinggalkan kepada putranya dan penggantinya Charles I menyebabkan konflik antara raja dan parlemen yang langsung mengarah ke Perang Saudara dan Revolusi.”
Menjelang Revolusi Inggris (1640-60), intesitas perjuangan kelas meningkat. Korupsi, gaya hidup mewah dan boros telah menguras kas aristokrat. Charles I mewarisi defisit yang ditinggalkan James I. Di bawah raja yang baru peperangan sekelebat dikobarkan sebagai solusi dalam mangalihkan perhatian massa atas ledakan inflasi, meningkatkan beban pajak, dan mengumpulkan keuangan dari hasil-hasil rampasan di negeri lain. Sepanjang 1625-30, Perang Inggris-Spanyol dilancarkan. Ekspedisi Cadiz (1625) merupakan pembukanya. Adipati Buckingham George Villiers diberi mandat memimpin panjarahan emas dan perak di Teluk Cadiz. Raja sangat berambisi untuk mengulangi keberhasilan Ekpedisi Perampokan Drake di zaman Elizabethan. Hanya ekspedisinya berakhir dengan kegagalan. Meskipun beraliansi bersama Belanda tapi badai ganas secara telak meluluhlantahkkan mereka. Kapal-kapal Inggris-Belanda hancur sehingga tidak dalam keadaan yang baik untuk bertempur. Mereka terserang penyakit, kelelahan, dan kekurangan makanan dan persenjataan. Dalam kondisi inilah Spanyol memenangkan pertempuran dan memperparah kerugian di pihak lawan. Keuangan Inggris semakin terpuruk namun perang asing terus berlanjut. Selama 1627-29, Charles juga mendorong Perang Inggris-Prancis. Tetapi ongkos peperangan yang mahal menuai kritikan House of Commons. Tak ada uang yang dicairkan untuk memperkuat pasukan. Raja lantas memungut pajak dengan memberlakukan kebijakan penarikan paksa dan memenjarakan siapa saja yang membangkang tanpa proses pengadilan. Tetapi pemaksaan pajak lebih banyak masuk ke kantong hakim-hakim parasit, ketimbang digunakan untuk memenuhi keperluan di medan perang. Dalam Ekpedisi Ile de Re (1627) dan Ekspedisi La Rochelle (1628), pasukan-pasukan Inggris kelaparan, putus asa, hingga terpukul-mundur oleh Prancis. Di tengah kemunduran inilah darurat militer diberlakukan untuk membungkan semua upaya perlawanan, merampas makanan, pakaian, dan menguatkan kembali armadanya dalam rangka melanjutkan pertempuran.
Sementara di parlemen, perseteruan faksional menajam. Royalis, mahkota, dan gereja tersudutkan. Kaum borjuis dan borjuis-kecil tidak sudi kalau uang pajak dan cukai—yang menjadi pundi-pundi kekayaannya—dipakai untuk melayani kebijakan perang asing dari House of Lords. Di akar rumput, diskusi-diskusi mengenai perang semakin masif. Protes-protes menyalak. Orang-orang terhisap dan miskin tidak mampu membayar pajak. Laki-laki dan perempuan lapar. Anak-anak menangis. Laki-laki—yang menjadi suami dan ayah—dipaksa meninggalkan keluarganya untuk bertempur. Beban perempuan bertambah berat. Dalam kondisi inilah Quaker tampil sebagai gerakan yang paling menonjol dalam menolak pembayaran pajak dan perang. Sedangkan di parlemen, Puritan dan Presbiterian semakin berani dalam menentang kekuasaan raga dan Gereja Episkopal atau Anglikan. Maret 1629, Charles I lantas menggunakan hak prerogatifnya untuk membekukan parlemen secara sepihak. Kritik-demi-kritik semakin keras. Suhu bertambah tinggi dan lautan sosial memanas. Kota-kota perdagangan dan industri menjadi kalut. Ajaran-ajaran Quaker menemukan pengikut dan simpatisan terbanyaknya di antara perempuan-perempuan miskin dan ibu-ibu yang ditinggal oleh suaminya untuk berperang. Di sisinya, Puritan juga mulai turun ke bawah. Pembubaran parlemen tidak bisa diterima. Khotbah-khotbah Quaker dihadiri dan kesempatan berkhotbah diminta. Puritan berceramah dan berusaha meyakinkan massa. Puritan mencari dukungan dari serikat-serikat perkebunan yang ada. Sedangkan orang-orang kaya Presbiterian menjadi penyokong dana dan logistik. Selebaran-selebaran dicetak dan disebar. Ceramah-ceramah berlangsung secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Kaum terhisap dan tertindas berdatangan. Laki-laki dan perempuan pekerja paling banyak termobilisasi. Di tengah krisis yang berlangsung mereka menjadi kelas sosial yang paling menderita. Bahan-bahan kebutuhan dasar meroket dan dikantongnya tidak ada cukup uang untuk membelinya. Rumah tangga dan keluarga-keluargnya susah. Ibu, ayah, dan anak-anaknya dirundung kelaparan dan kemelaratan yang tiada terkira.
Dalam kondisi inilah gerakan keagamaan mendapat dukungan massa. Atas program penghapusan perbudakan dan kesetaraanya, Quaker tampil sebagai partai yang mampu menarik perhatian perempuan. Margaret Fell, Mary Fisher, Elizabeth Hooton merupakan pemimpin-pemimpin perempuan Quaker sekaligus bagian dari 60 Orang Pemberani (Valiant Sixty) yang mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan Quakerisme di Inggris dan berkhotbah keliling dunia. Akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, Quakerisme mengalami pertumbuhan signifikan. Khotbah-khotbah lapangan yang mereka langsungkan menarik perhatian banyak orang. Tetapi Gereja Anglikan Inggris dan Gereja Katolik Spanyol segera melihatnya sebagai ancaman yang harus disingkirkan. Antara 1560 dan 1630 di seluruh Eropa, sekitar 80.000 laki-laki dan perempuan dituduh melakukan bid’ah dan sihir—setengah dari mereka dieksekusi secara mengerikan. Galileo Galilei di Italia dan Giordano Bruno di Spanyol adalah beberapa pemikir rasional yang dipenggal kepalanya oleh otoritas gereja. Di Inggris dan Skotlandia, perempuan-perempuan dari keluarga-keluarga pekerja merupakan korban utamanya. Mereka adalah gadis-gadis tani, penyeduh bir, tukang ikan, penggiling tepung, pembantu-pembantu rumahan, dan ibu-ibu tunggal yang suaminya diseret berperang atau mati dalam perang. Mereka berjuang membesarkan anak-anaknya atau menjadi tulang punggung keluarganya. Mereka bertahan hidup dengan bekerja dan bahkan mengerjakan apapun. Ada yang mengutang, menjual tubuhnya, tapi lebih banyak yang mengemis-ngemis. Mereka menderita, lapar dan dahaga, dipandang hina dan menjijikan. Di Pengadilan Komisi Tinggi, mahkota, gereja, dan kapitalis memperlakukan mereka secara mengerikan. Mereka distigma, diasingkan, dianiaya, dan dibunuh atas tuduhan penyihir. Dalam “Penyihir dan Perjuangan Kelas”, Silvia Federici menulis:
“Perburuan penyihir mencapai puncaknya antara tahun 1580 dan 1630, pada periode ketika hubungan feodal telah digantikan oleh institusi ekonomi dan politik yang khas dari kapitalisme dagang…. Sebelum tetangga menuduh tetangga, atau seluruh komunitas dilanda ‘kepanikan’, indoktrinasi terus-menerus terjadi, dengan pihak berwenang secara terbuka menangkap kecemasan tentang penyebaran penyihir, dan melakukan perjalanan dari desa ke desa untuk mengajari orang-orang cara mengenali mereka, dalam beberapa kasus membawa serta daftar nama tersangka penyihir dan mengancam akan menghukum mereka yang menyembunyikannya atau datang membantu mereka…. Para ahli hukum, hakim, dan ahli demonologi, yang sering kali diwujudkan oleh orang yang sama, yang paling berkontribusi dalam penganiayaan…. Fenomena ini memperparah kemiskinan, kelaparan, dan dislokasi sosial, mereka juga mentransfer kekuasaan ke tangan kelas baru ‘modernisator’ yang memandang dengan rasa takut dan jijik pada bentuk-bentuk kehidupan komunal yang khas dari kehidupan pra-Eropa kapitalis. Atas inisiatif kelas proto-kapitalis inilah perburuan penyihir dimulai, sebagai senjata yang dengannya perlawanan terhadap restrukturisasi sosial dan ekonomi hendak dikalahkan…. Di Inggris, para penyihir biasanya adalah perempuan tua yang membantu publik atau perempuan yang bertahan hidup dengan pergi dari rumah ke rumah meminta sedikit makanan atau sepanci anggur dan susu; jika mereka menikah, suami mereka adalah pekerja harian, tetapi lebih sering mereka adalah ibu tunggal dan hidup sendiri. Kemiskinan mereka menonjol dalam pengakuan. Pada saat dibutuhkan iblis menampakkan diri kepada mereka, untuk meyakinkan mereka bahwa mulai sekarang mereka ‘tidak boleh menginginkan’, meskipun uang yang akan dia berikan kepada mereka pada kesempatan seperti itu akan menjadi abu, detail yang mungkin terkait dengan pengalaman, superinflasi umum pada saat itu.”
Di tengah kepungan inflasi dan perang-perang asing, perempuan-perempuan Quaker mengorganisir bantuan amal untuk sesama anggota dan simpatisannya. Mereka mengumpulkan uang, makanan dan obat-obatan untuk menolong orang-orang yang kelaparan dan berpenyakitan, tapi menolak membayar pajak-pajak yang dipaksakan raja. Demikianlah kekuasaan secara lancung menuding kegiatanya sebagai perbuatan sihir. Perempuan yang diidentifikasi sebagai penyihir bukan saja diburu dan dihukum mati, tapi juga direnggut semua harta-bendanya. Dengan cara inilah Quaker dilemahkan. Gerakannya berantakan dan tidak leluasa dijalankan. Bunga-bunga terbaiknya disingkirkan secara prematur dan partainya berakhir seiras Anabaptis-Mennonite: retak, melemah, dan terdemoralisasi di kubangan pasivitas. Program anti-perbudakan dan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki secara naïf ingin diwujudkan dengan perdamaian dan cinta-kasih ketimbang perlawanan terhadap agresor. Bahkan dalam mendekati massa, mereka mengkhotbahkan pola hidup sederhana dan membalikkan punggung dari dunia. Sedangkan di sisinya, Puritanisme mengajari pentingnya mengejar kekayaan duniawi melalui kebajikan pribadi, kerja keras, penghematan, termasuk menentang pemborosan dan korupsi mahkota dan gereja. Perlahan Puritanisme menjadi ajaran yang luas diterima. Orang-orang tertindas, terhisap dan miskin melihat persoalan sosial-ekonominya tidak dapat diselesaikan melalui kesederhanaan dan kelembutan Quaker, melainkan program-program Puritan yang berhasrat dan menggebu-gebu dalam mengejar kekayaan dan menentang kekuasaan. Pada 1630-an, Inggris dan Wales memiliki 5 juta populasi yang mayoritasnya bekerja di sektor pertanian: mereka terdiri dari petani kecil (produsen langsung makanan yang membudidayakan kebunnya sendiri atau menyewa kebun petani-petani besar) dan buruh tani (pekerja harian di atas lahan-lahan besar yang dimiliki tuan tanah kapitalis). Dalam kegiatan produksinya, mereka tidak saja terlatih untuk berhemat tapi juga relatif mandiri saat bekerja di atas lahan-lahan kecilnya dan bebas menjual tenaga kerjanya.
Selama Dinasti Tudor (Raja Henry VIII dan Ratu Elizabeth I), digencarkannya penutupan-penutupan tanah bersama dan dilemparkannya tanah-tanah gereja untuk dijual secara murah ke pasar telah merombak praktik agraria di sepanjang garis kapitalisme. Populasi yang bekerja di pertanian disulap menjadi petani-petani tak-bertanah yang mempertahankan hidupnya dengan menjual hasil-hasil produksinya ke pasar atau mengandalkan upah semata. Hidup sebagai petani penyewa maupun buruh tani tidaklah melatih mereka untuk pasif dan menjadi asketis, melainkan aktif dalam bekerja, mengumpulkan uang dan berhemat demi memenuhi kebutuhan dasar. Dengan keberadaan sosial inilah Puritanisme secara terbuka dianut. Semi-proletar dan plebeian sudah sangat muak dengan segala keterbatasan dan kelemahan ekonomi yang mereka alami. Mereka belajar dari derita dan telah mengerti bahwa penindasan feodal tak dapat dibiarkan lagi. Kebencian dan kemarahan terhadap Dinasti Stuart sudah tiada tertanggungkan. Di istana, perang yang berlarut-larut bukan saja menguras anggaran tapi lebih jauh mendikte kebijakan politik monarki secara lancung. Perdagangan dan industri diatur dengan tujuan yang bertentangan: bukan untuk memperluas pasar dan memekarkan hubungan properti baru, tapi merintangi peredaran barang-jasa dan menambal-sulam feodalisme yang sedang runtuh. Pada 1633, Charles I berusaha membangun keuangannya dan menguatkan kekuasaannya dengan memaksakan persatuan tiga kerajaaan: Skotlandia, Irlandia, dan Inggris. Gagal mencapai kesepakatan bersatu, maka Perang Tiga Kerajaan (1639-51) meletus. Kontak senjata dibuka dengan Perang Uskup (1639-40). Perang ini menyingkapkan kebangkrutan mandalam dari masyarakat feodal dan akhirnya membawa Inggris pada gejolak revolusi borjuis. Dalam “Perang Saudara Inggris dan Kaum Leveller”, David Brandon menulis:
“Apa yang dipertaruhkan tidak lain adalah revolusi. Kelas menengah, kaum borjuis, sangat membutuhkan kekuatan politik agar dapat terus mengembangkan kapitalisme sepenuhnya, tanpa terkekang oleh praktik politik dan pemerintahan yang sudah usang. Berdiri di jalan adalah Charles I, seorang pria yang sangat tidak kompeten dan keras kepala dengan delusi keagungan dan gagasan serta sikap yang merupakan kemunduran ke abad-abad yang lalu…. Metode mahkota untuk meningkatkan pendapatan sebagian besar masif bersifat feodal. Sang raja, seorang parasit sendiri, dikelilingi oleh favorit yang sebgaian besar juga menikmati keberadaan parasit. Banyak dari mereka memiliki penyakit sinus. Ini adalah judul-judul mewah untuk melakukan sedikit atau tidak sama sekali. Mereka harus dibayar dari pajak. James dan Charles secara permanen berselisih dengan parlemen mengenai masalah perpajakan dan ini melambangkan kepentingan material mereka yang berbeda. Raja mengumpulkan uang untuk dirinya sendiri dengan memberi monopoli—hak ekslusif bagi individu atau perusahaan yang disukai untuk berdagang atau memproduksi komoditas tertentu. Ini berdampak pada kenaikan harga. Raja sendiri yang memiliki kekuatan untuk menyatakan perang. Perang sangat mahal. Kaum borjuis tidak keberatan untuk berperang jika mereka mengalahkan saingan komersial asing atau mengamankan basis perdagangan di luar negeri. Mereka. Misalnya, mendukung kaum Tudor dalam perang melawan Spanyol dan Belanda, tetapi mereka tidak mengerti mengapa raja sendiri yang diizinkan untuk memutuskan hal-hal seperti itu.”
Pada akhir Perang Uskup di Skotlandia, revolusi borjuis dibuka di Inggris. Tahun 1640 di London, Presbitarian dan Puritan menarik dukungan aktif di luar parlemen. Sebagian besar pengrajin, buruh harian, dan pekerja magang—yang bergabung dalam serikat-serikat perkebunan—mendukung partai yang paling maju. Mereka mendukung House of Commons untuk mengambil-alih kontrol geraja dan menghancurkan mesin birokrasi lama. Demikianlah seruan persatuan dari kalangan bangsawan dan pendeta diabaikan. Raja yang mengharapkan rakyatnya bersatu guna menghadapi invansi Skotlandia tidak didengarkan. Kerajaaan benar-benar bangkrut dan massa akar rumput semakin teradikalisasi. Setelah membubarkan parlemen, Charles I memaksakan penarikan pajak dengan menerapkan kebijakan monopoli. Pajak sekarang ditarik langsung oleh hakim-hakim feodalis. Gerombolan parasit ini juga menghidupkan kembali iuran feodal dan menggencarkan uang kapal hingga menenggelamkan petani-petani penyewa dan pedagang-pedagang kecil dalam lilitan hutang. Oliver Cromwell merupakan salah satu anggota kelas menengah yang jatuh miskin. Pada 1628-9, Cromwell mewakili Pekebunan Hutingdon dalam menduduki kursi House of Commons. Tetapi pembubaran parlemen dan monopoli Charles I berdampak besar baginya. Seluruh tanah dan sebuah Rumah Hinchingbrooke yang merupakan peninggalan ayahnya dijual untuk membayar hutang keluarganya. Sisa-sisa uang terakhirnya lalu digunakan untuk menyewa sebidang tanah dan hidup sebagai petani penyewa. Dislokasi ekonomi semakin meradang. Kapasitas produksi menurun. Rakyat pekerja kehilangan pekerjaan. Monopoli feodal begitu mengerikan: monopoli sabun menghambat industri wol, monopoli garam mengacaukan pengasapan ikan, dan akhirnya intensitas monopoli meningkatkan harga-harga kebutuhan hidup—mentega, ikan, bir, roti, dan sebagainya. Di tengah kecamuk peperangan, inflasi bertambah gila dan krisis menghantui hari-hari rakyat pekerja: tenaga-tenaga produktif diseret ke medan pertempuran, industri-industri vital dilemahkan, jalur-jalur barang-jasa ditutup dan ekspor-impor disumbat.
Dari bawah, gerakan ditujukan bukan lagi untuk bersepakat atau menolak perang tapi menyangkal kekuasaan mahkota dan gereja. Perang Saudara yang meledak-ledak telah menghancurkan keyakinan-keyakinan naïf akan kedamaian dan pola hidup sederhana. Sekarang Quakerisme melemah. Belokan mendadak sejarah menguju setiap kecenderungan yang ada. Perang kali ini tidak sama dengan yang sebelumnya. Kini bukanlah ekpedisi laut ke Spanyol dan Prancis yang berlangsung, melainkan invansi Skotlandia dan pertempuran di daratan Inggris. Quaker yang tidak mau bertempur harus menyingkir. Pendulum secara pasti berayun ke kiri. Massa menjadi lebih radikal dan kepemimpinan pasifis Quaker digantikan oleh kepempinan yang sesuai dengan karakter massa. Semi-proletar dan plebeian siap bertempur, tapi bukan melawan Skotlandia melainkan kekuasaan Charles I. Menghadapi tekanan-tekanan akar rumput, raja lantas memanggil kembali parlemen yang telah dibubarkannya. Di Perkebunan Cambridge, para petani, pengrajin dan pekerja harian memilih Oliver Cromwell untuk mewakilinya di House of Commons. Di parlemen, House of Lords meminta bantuan Puritan dan Presbiterian dalam membantunya dalam Perang Uskup. Di Skotlandia, kebijakan Charles dalam memaksakan ajaran dan praktik Katolik memicu pembangkangan yang meluas. Para pedagang, pengrajin, buruh harian, dan pekerja magang melancarkan protes sengit. Massa mengerti kalau reformasi dipaksakan untuk membangun keuangan Inggris yang sedang kering. Mereka paham bahwa setelah Kirk direformasi maka akan berlangsung penarikan pajak dan iuran feodal yang mengerikan. Sedangkan Skotlandia merupakan negeri terbelakang dan mayoritas penduduknya hidup lapar dan miskin. Penderitaan mereka tiada terperikan. Pada 1638, gelombang radikalisasi mendorong pimpinan-pimpinan serikat perkebunan untuk menekan Majelis Umum Kirk dalam menandatangani Konvenan Nasional tentang penolakan Reformasi Gereja Skotlandia. Di bawah tekanan massa, para pendeta dan panutua gereja melakukan penandatangan. Charles geram dan secara cekatan mengambil tindakan militer.
Tahun 1639-40, serangan-serangan Inggris-Belanda digencarkan dan Perang Uskup meledak-ledak. Dalam ledakan peritiwa inilah kesadaran massa berubah drastis. Februari 1640, lautan sosial di London mendidih. Agenda revolusi sosial dimulai. Semi-proletar dan plebeian meluncurkan pemogokan dalam menolak pembayaran pajak dan kesewenang-wenangan raja. Di tengah perang dan revolusi, raja terpaksa mengumpulkan kembali semua faksi yang berkonflik di Parlemen Inggris dan membentuk Parlemen Pendek yang beroperasi mulai 13 April-5 Mei. Parlemen ini singkat beroperasi karena pertarungan faksional tidak terkendali. Kaum borjuis dan borjuis-kecil yang baru saja dipanggil tidaklah memberikan dukungan kepada Charles I, tapi bersekutu dengan pemberontak-pemberontak Skotlandia. Khawatir akan serangan terhadap hak-hak istimewanya, maka raja secara cekatan membubarkan mereka. Tetapi Perang Uskup terus berlanjut. Parlemen Skotlandia mendorong tentara-tentaranya untuk melaju ke selatan hingga menduduki Newcastle. Sementara pasukan Inggris-Belanda. Gaji-gaji tentara bayaran dari Belanda tidak bisa dipenuhi. Bulan November, raja sekali lagi memanggil parlemennya untuk bersidang guna mengesahkan tagihan keuangan dalam membiayai peperangannya. Namun perwakilan-perwakilan dari perkebunan, bankir dan pedagang-pedagang kaya tetap menolaknya. Konflik antara House of Commons dan House of Lords membuncah. Kurang dari setahun, perlemen pecah. Tekanan-tekanan akar rumput yang semakin dahsyat membuat perpecahannya lebih tajam daripada yang sebelumnya. Terangkat oleh gelombang revolusioner, kini seabrek perwakilan serikat perkebunan menjadi lebih berani dalam menantang mahkota dan gereja. Kali ini raja tidak dapat sembarangan membekukan badan legislatif, karena Commons mengeluarkan Undang-Undang yang menegaskan kalau mereka tidak dapat dibubarkan tanpa persetujuan anggotanya.
Sekarang mereka beroperasi sebagai Parlemen Panjang (1640-48). House of Commons secara tegas mempertahankan posisinya dalam pemerintahan dan menekan segala pengeluaran militer dan perpajakan. Charles I lantas meminta bantuan pasukan-pasukan Katolik Irlandia dengan menawarkan penghapusan pelbagai aturan yang mendiskreditkan mereka. Parlemen Inggris dan Skotlandia tidak tinggal diam. Majelis Umum Kirk mengumumkan rencananya untuk menyerang Irlandia dengan mengirim milisi Konvenan Nasional (Covenanter). Katolik Irlandia merasa terancam dan segera melancarkan perlawanan. Meskipun Charles bersekutu dengan para pemimpin Katolik Irlandia, tetapi gerakan yang berlangsung tidak dapat mereka kendalikan. Petani penyewa dan pekerja harian—yang terlilit hutang dan terpukul gagal panen dan inflasi—merupakan elemen yang paling aktif memperluas radikalisasi. Sepanjang Oktober 1641-Mei 1642, Pemberontakan Irlandia berlangsung. Ledakan peristiwa tidaklah ditentukan oleh keinginan raja dan royalis, tapi berdasarkan kondisi sejarah dan hubungan-hubungan sosial dalam periode perang dan revolusi. Namun dalam ketegangan inilah Phelim O’Neill dan Rory O’Moore berusaha mengarahkan gerakan massa untuk mendukung Pemerintahan Charles. Hanya jalannya peristiwa tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, karena bukanlah manuver dan intrik yang menentukan melainkan perimbangan kekuatan kelas. Plot mereka berantakan. Pendulum berayun ke kiri dan massa bergerak secara radikal. Amukan semi-proletar dan plebeian membahayakan tuan-tuan tanah dan kapitalis. Properti-properti gereja dan rumah-rumah orang kaya dijarah. Tetapi oleh Kepemimpinan Katolik perjuangan kelas dikalungi sentimen agama. Demikianlah pendeta-pendeta Katolik berkhotbah hingga pemukim-pemukim Skotlandia dan Inggris yang beragama Protestan diserang dan diusir begitu rupa. Di Dublin dan Ulster, pertempuran sengit berlangsung dan Presbiterian Inggris bereaksi vulgar. Di bawah Komandan Moore (Earl of Drogheda), beribu-ribu semi-proletar dan plebeian dibantai secara brutal. Mereka disiksa, diperkosa, dipenggal, dibakar, dan dikubur hidup-hidup.
Setelah kekuatan utama Pemberontakan Irlandia berguguran maka pendulum berayun ke kanan. Charles I mengecam penyerangan dan penjarahan, namun royalis Skotlandia (O’Neil dan O’Moore) mengklaim pemberontakan itu atas nama raja. Bulan Mei, Konfederasi Katolik Irlandia didirikan dan Perang Konfederasi (1642-53) digencarkan. Dalam Perang Irlandia-Inggris inilah Perang Saudara Inggris I (1642-45) berdentuman. Di Parlemen Inggris, Presbiterian dan Puritan mempersiapkan tentara Rounhead (pengusung monarki konstitusional). Pasukan ini dibangun dengan sistem keuangan dan administrasi lama dan melibatkan seluruh milisi kabupaten yang setia terhadap House of Commons. Mereka dibentuk untuk melawan prajurit royalis Cavalier (pembela monarki absolut) dan sekutu Irlandia-nya. Tetapi dengan melaksanakan perekrutan berdasarkan kasta, sistem perwira dan loyalitas lokal—maka Rounhead tidak banyak membantu: mereka tidak berdisiplin, susah diatur dan sering datang terlambat ke medan tempur. Agustus 1642, dalam Pertempuran Hutingdon pasukan-pasukan parlemen dikalahkan dan kota-kota terancam. Charles memerintahkan Cavalier untuk menangkap anggota-anggota House of Commons. Hanya rakyat pekerja di London dan di pelabuhan-pelabuhan besar Plymouth, Gloucester, dan Hull—yang menjadi pusat perdagangan dan industri—tidak terkalahkan. Menggunakan meriam dan amunisi yang dibeli dari kapal-kapal pedagang Belanda, mereka mengungguli persenjataan kerajaan. Massa bangkit, berpawai, dan membentuk barikade-barikade bersenjata secara mengagumkan. Komite-komite aksi tumbuh, mengatur protes, melancarkan pemogokan, dan melindungi kota-kotanya dari ancaman tentara-tentara Charles I. Di tengah ledakan peristiwa dan meluasnya proses radikalisasi inilah pelbagai kecenderungan radikal tumbuh dalam gerakan massa. Lapisan-lapisan perempuan pekerja teradikalisasi begitu rupa. Ditinggal bertempur oleh suami, ayah, dan laki-laki terdekatnya; perempuan terdorong oleh peristiwa untuk mengisi kekosongan yang ada. Mereka tidak saja mengambil tanggung jawab untuk mengurus keluarga dan mencari nafkah, tapi juga terjun ke gelanggang peperangan: menyediakan logistik, merawat yang terluka, membangun tembok-tembok kota, hingga menyamar sebagai laki-laki dan mendaftar sebagai tentara. Di Herefordshire dan Fenlands, barisan perempuan mengangkat senjata untuk mempertahankan pemukiman dan sumber mata pencahariannya. Di London, Quaker berusaha membangun kembali kekuatannya dalam situasi revolusioner yang baru. Mereka mengajukan petisi kepada parlemen mengenai dampak ekonomi dari peperangan.
Sementara dari kekalahan Roundhead, Cromwell mampu menarik kesimpulan revolusioner. Bahwa tidak mungkin mengorganisir pasukan menggunakan cara-cara lama, karena mustahil mengalahkan Cavalier dengan memakai senjatanya sendiri: milisi-milisi feodal non-profesional dan cenderung berkompromi terhadap aristokrat. Setelah kalah di Hutingdon, Roundhead pecah. Perang Saudara menguji setiap kecenderungan yang ada. Di akar rumput, gerakan massa semakin militan. Di tubuh militer, sebuah faksi borjuis-kecil yang lebih radikal terbentuk dan mengidentifikasi dirinya sebagai Pelayan Independen. Dalam ketentaraan, kelompok ini terdiri dari yeoman bebas (petani kecil dan buruh tani) yang dipimpin oleh Oliver Cromwell. Saat evaluasi militer berlangsung, Cromwell tampil sebagai pemimpin kelas menengah Independen yang bertentangan dengan sikap atasannya: Komandan Rounhead, Edward Montagu (Earl of Manchaster). Dalam sebuah pembahasan mengenai strategi-taktik militer, Cromwell menyampaikan pandangannya: ‘saya lebih suka memiliki kapten polos berlapis warna coklat muda, yang tahu apa yang dia perjuangkan dan mencintai apa yang dia ketahui, daripada apa yang Anda sebut seorang pria terhormat’. Di hadapan perwira-perwira atasan, Cromwell menerangkan kalau perlawanan terhadap mahkota dan gereja harus diorganisir secara revolusioner. Pengorganisiran macam ini tidak saja mengenakan metode militer, tapi juga kemampuan politik—yang dapat mengaktualkan seluruh potensi dari elemen-elemen yang teradikalisasi—untuk merebut kekuasaan. Dia menjelaskan kepada semua hadirin bahwa perjuangan massa dan bersenjata harus diarahkan untuk menggulingkan Charles I. Namun Earl of Manchaster membantah: ‘jika kita mengalahkan raja Sembilan puluh sembilan kali, namun dia tetap menjadi raja, dan begitu pula keturunannya akan mengikutinya; tetapi jika raja pukul kita sekali, kita semua akan digantung, dan keturunan kita dijadikan budak!’ Cromwell kontan menyela secara terhormat: ‘tuanku, jika memang demikian, mengapa kita pada awalnya mengangkat senjata?’ Komandan Rounhead terdiam seribu bahasa. Para bangsawan rendahan dan burgher begitu setengah-setengah dalam menentang raja. Tujuan tertinggi mereka bukan untuk menggulingkan feodalisme tapi mencapai kompromi-kompromi yang mengutungkan semata. Pemimpin-pemimpin Presbiterian dan Puritan hendak mengganti monarki absolut dengan monarki konstitusional yang berada di bawah kendali mereka. Sementara kondisi sejarah dan hubungan-hubungan kelas tidak mengijinkannya. Perjuangan kelas yang semakin tajam dan akut membutuhkan pemimpin yang berani, tegas, dan memiliki visi tentang perubahan mendasar.
Di akar rumput, massa siap berjuang sampai akhir. Dalam periode kritis inilah kepemimpinan yang memadai dibutuhkan. Semua keyakinan dan program yang tidak mampu memajukan perjuangan tersisihkan. Cromwell memenangkan perdebatan. Januari 1643, Cromwell terpilih sebagai Letnan Jenderal Kuda Tentara Parlemen Asosiasi Timur. Dengan karakter dan perspektif yang telah ditempa oleh ledakan-ledakan peristiwa, dia membangun resimennya secara revolusioner. Saat merekrut anggota kavalerinya, Cromwell berkata: ‘saya tidak akan mempermalukan Anda dengan ekspresi bingung dalam tugas saya tentang berjuang untuk raja dan parlemen. Jika raja kebetulan berada di tubuh musuh, saya akan segera menembakkan pistol saya ke arahnya seperti pada seorang pribadi manapun; dan jika hati nurani Anda tidak membiarkan Anda melakukan hal seperti itu, saya menyarankan Anda tidak mendaftarkan diri di bawah [komando] saya’. Selama Perang Saudara, kavaleri Independen dikenal sebagai Ironside. Resimen ini dibangun secara militer dan politik. Perwira-perwiranya dipilih secara demokratis: diangkat bukan berdasarkan kasta dan loyalitas lokal, melainkan kesadaran terhadap apa yang diperjuangkan, kemampuan berdisiplin dan berkorban. Kepada pasukannya, Cromwell menanamkan prinsip kebebasan berkumpul dan berdiskusi yang dibungkus dalam istilah toleransi beragama. Demikianlah Ironside tidak saja menjadi prajurit yang dilatih menggunakan kuda, tombak dan senapan, tapi juga resimen yang memekarkan ide-ide terbaik dan melahirkan agitator dan propagandis yang kuat. Di barak-barak militer, mereka berusaha memenangkan yang lain ke arah politiknya. Setelah berdikusi maka peperangan mereka jalankan dengan tersentral. Di medan-medan tempur, gerakannya tidak sekenanya tapi mengkuti garis komando. Di tengah kecamuk pertempuran, pemimpin militer tampil sekaligus sebagai pemimpin politik. Saat semangat prajurit menurun maka ayat-ayat Alkitab dikutip untuk membakar semangat dan keberanian resimennya. Di bawah Kepemimpinan Cromwellian, disiplin tingkat tinggi diberlakukan: prajurit bukanlah sebatas diharuskan tepat waktu dalam setiap aktivitas militernya, tapi juga dilarang menjarah, berjudi, mengonsumsi alkohol, memperkosa, dan membunuh orang-orang sipil. Mereka dididik menjadi tentara revolusioner, diperlakukan dengan terhormat dan diupah secara teratur.
Juli 1643, resimen Ironside mengambil bagian dalam Pertempuran Gainsborough. Di Lincolnshire, Cavalier telah melakukan pengepungan. Tetapi Rounhead dan kavaleri Cromwellian dikerahkan untuk melakukan pembebasan. Di Desa Lea, Ironside berhasil menumpas 100 kavaleri royalis dan menghabisi Earl of Kingston. Di Foxby Hill, 300 prajurit bantuan yang dikirimkan juga dikalahkan dan Komandan Charles Cavendish dibunuh. Di bawah komando Cromwell, para penunggang kuda diasah menjadi pasukan kejutan yang mematikan. Di tubuh Roundhead, mereka adalah resimen yang paling demokratis dan disiplin. Selama berlangsungnya pertempuran; keteraturan, kecepatan, dan moral revolusioner para penunggang kuda memberikan keunggulan bagi milisi parlemen. Hanya kehadiran Ironside tidak saja meningkatkan kekuatan Commons tapi juga mempertajam pertarungan faksional. Setelah memenangkan pertempuran di Gainsbrough, konflik antara Presbiterian dan Puritan-Independen menegang. Di akar rumput, perjuangan kelas semakin menegang. Di London, pemimpin-pemimpin Quaker yang berusaha menolak Perang Saudara terdorong oleh gelombang massa untuk berhadapan dengan kekerasan. Pada 8 Agustus 1643, barisan perempuan yang berpawai menuju parlemen menyulut kericuhan. Petisi damai ditanggalkan dan pertempuran jalanan digencarkan. Saat perang dan revolusi, kecenderungan pasifis dari kepemimpinannya tidak bisa dipertahankan. Kondisi sejarah yang kritis menarik perempuan-perempuan berpita putih (simbol perdamaian) untuk mengadu-kekuatan. Mereka mengepung parlemen dan menghadapi brutalitas milisi-milisi feodal. Dalam “Ruh yang Tak Terkendali”, Stevie Davis merekam bukan hanya tentang kesaksian congkak dari seorang Presbiterian, tapi juga ketakutan umum dari pemimpin-pemimpin House of Commons atas meluasnya radikalisasi massa yang telah membangkitkan perlawanan perempuan pekerja:
“…dua atau tiga ratus istri tiram, dan pelacur kotor dan compang-camping lainnya, memperlihatkan kelancangan mereka untuk datang ke House of Commons yang terhormat, dan menangis untuk Perdamaian dan Proposisi, dan mereka memenuhi tangga sehingga tidak ada orang yang bisa berjalan ke atas atau ke bawah, lalu seorang pria di puncak menghunus pedangnya dan dengan sisi datar memukul beberapa dari mereka di kepala…. Keesokan harinya, [mereka datang] dalam jumlah yang lebih besar, diperkirakan berkisar antara 500 sampai 6.000 orang … mereka kebanyakan adalah pelacur, istri tiram, wanita dapur, wanita pengemis, dan sampah pinggiran kota, selain banyaknya wanita [pekerja] Irlandia…. Tidak hanya wanita—tetapi wanita dari ‘jenis inferior’! Wanita pekerja! Menempelkan hidung mereka ke dalam urusan laki-laki, dan mengasari laki-laki yang ditunjuk dengan benar (oleh Tuhan ).”
Meskipun dilecehkan dan direpresi, tapi perempuan-perempuan semi-proletar dan plebeian tidak menyerah. Tanggal 9 Agustus, mereka kembali mengepung parlemen dengan mempersenjatai dirinya dengan peralatan dapur hingga batu-bata. Saat Roundhead menakuti mereka dengan tembakan kosong, para perempuan ini tertawa dan berseru: ‘tidak ada apa-apa selain bedak!’ Pada siang hari, pintu masuk parlemen telah diblokade dan ditutup rapat-rapat. Menghadapi tekanan massa maka parlemen semakin retak. Di House of Commons, pasukan-pasukan Cromwellian menolak mengambil peran dalam membungkam protes; sementara para bankir, industrialis, dan pedagang-pedagang kaya bersikukuh dalam melancarkan pembubaran paksa. Perseteruan berlangsung begitu rupa. Tetapi Manchaster dan Essex berhasil mengerahkan milisi feodalnya untuk meluncurkan ofensif. Di Westminster, resimen yang dipimpin oleh Sir William Waller bertindak bengis. Barisan-barisan perempuan digempur habis-habisan: dicambuk, ditusuk, ditembak, dan diinjak-injak menggunakan kudanya. Pada 10 Agustus, protes perempuan lenyap dan keamanan keamanan dipulihkan. Tetapi akar rumput terus bergejolak dengan pelbagai tuntutan. Setelah gerakan anti-perang dipadamkan, maka peperangan segera dilanjutkan. Pada 1644, Pertempuran Marstoon Moor meledak. Dalam melawan prajurit Cavalier dan Irlandia, Parlemen Inggris dan Skotlandia mengerahkan pasukan gabungan yang dipimpin oleh Lord Fairfaix (Puritan), Earl of Manchaster dan Earl of Essex (Presbiterian), dan Earl of Leven (Covananter Kirk). Di tengah pertarungan ini royalis Inggris-Irlandia—yang dipimpin oleh Pangeran Rupert—menyerang dengan kekuatan penuh. Dibombardil serangan inilah artileri dan infanteri Puritan, Presbiterian, dan Kirk terpecah, terisolasi, bahkan terdapat pula yang melarikan diri. Earl of Manchaster dan Essex berputus asa, kehilangan gairah berperang, dan membuka kompromi dengan raja. Tetapi di lapangan, Ironside yang berdisiplin masih berdiri kokoh. Mereka gesit dan penuh keberanian. Saat infanteri berantakan dan pasukan gabungan Inggris-Skotlandia hampir kalah, kavaleri Independen mengambil-alih penyerangan. Dengan kemampuan agitatif yang luar biasa, pasukan Cromwellian mampu menarik kavaleri dan artileri Fairfax dan Covanenter untuk mendukung serangannya. Di bawah komando Oliver Cromwell, resimen penunggang kuda melancarkan ofensif. Saat tentara-tentara royalis merasa di atas angin dan mulai melakukan penjarahan, berpencar, dan lengah; Cromwell—yang memimpin pasukan kecil tapi dengan barisannya yang berdisiplin—mampu menyapu barisan-barisan musuh yang tak-beraturan dan membenamkan Rupert dalam kekalahan yang memalukan.
Setelah memenangkan aneka pertempuran, Kepemimpinan Cromwellian semakin kuat dalam parlemen. Di barak-barak, Ironside juga terus-menerus menggencarkan agitasi dan propagandanya mengenai signifikansi profesionalitas prajurit dan cita-cita republik. Di hadapan pasukan-pasukan yeoman bebas dan pengrajin radikal, Cromwell berkata: ‘sekarang saatnya untuk berbicara atau menahan lidah selamanya’. Di House of Commons, serangan-serangan terhadap wakil-wakil Presbiterian meningkat dan otoritas monarki absolut merosot. Desember 1644, Sir Henry Vane (Puritan) terdorong untuk memperkenalkan wacana yang hendak menyingkirkan semua anggota parlemen yang merangkap sebagai perwira-perwira militer. Januari 1645, komitmen untuk membersihkan sisa-sisa feodal dibuka dengan pemenggalan kepala Uskup Agung Canterbury. Tanggal 3 April 1645, Ordonansi Penyangkalan Diri ditetapkan dan Roundhead dibubarkan. Akhirnya seluruh pimpinan perlemen yang ragu-ragu dalam berperang dicopot jabatan militernya dan pemimpin-pemimpin Puritan maupun Independen dipertahankan sebagai petugas parlemen yang dimandatkan membentuk tentara profesional: Angkatan Darat Model Baru. Pasukan ini dibangun bukan dengan mengandalkan hak-hak tradisional feodal dan loyalitas-loyalitas lokal, tetapi diorganisir secara nasional, dibayai menggunakan pajak nasional, dan ditanamkan cita-cita nasional akan sebuah republik. Thomas Fairfax ditunjuk menjadi Panglima Tentara Model Baru. Di sisinya terdapat para komandan yang membantunya: Oliver Cromwell, John Lambert, Henry Ireton, William Lockhart, dan Thomas Pride. Dalam tubuh militer inilah Independen mengarahkan perekrutan prajurit tidak secara tertutup, tapi terbuka dan menarik sebanyak mungkin elemen-elemen sosial yang teradikalisasi. Lapisan-lapisan terluas dari kelas pekerja diorganisir dalam Tentara Baru. Mereka adalah orang-orang yang berdedikasi dan berjuang secara gagah berani untuk mempertahankan kota.
Di daerah-daerah yang berada di bawah komando Oliver Cromwell, semi-proletar dan plebeian dari pelbagai tendensi keagamaan mendaftarkan diri dalam Tentara Model Baru. Meskipun orang-orang ini tidak hidup dengan senjata, tapi Cromwell melihat ketahanan dan semangat revolusionernya jauh lebih unggul dibanding moral tentara-tentara Charles I. Dalam situasi perang dan revolusi, mereka belajar dengan cepat, dapat diandalkan, dan siap memberikan pengorbanan terbaiknya. Di setiap resimen Cromwellian, mereka dipromosikan bukan karena darah dan gelar keluarga, namun berdasarkan prestasi-prestasinya. Meskipun tidak berada di pucuk kepemimpinan militer, tapi dengan kemampuan memimpin prajurit dan kekuatan resimen-resimen radikalnnya maka Cromwell meraih pengaruh yang melampaui pangkatnya. Di tengah kebangkitan revolusioner, kualitas-kualitas terbaik diberi kesempatan untuk memajukan perjuangan kelas. Keberanian, komitmen, keuletan, dan keahlian bertempur Cromwell dibutuhkan oleh kondisi sejarah dan hubungan-hubungan sosial di belakangnya. Sekarang suhu sosial sedang mendidih dan massa menemukan kepentingannya terwakili oleh organisasi militer profesional dan pribadi-pribadi seperti Cromwell. Dalam Tentara Baru, Kepemimpinan Independen menarik mata dan telinga massa dengan program-program radikal: membangun toleransi beragama (kebebasan berkumpul dan mendiskusikan pandangan-pandangan yang berbeda), mengakhiri penutupan tanah bersama, dan menghapuskan segala jenis perpajakan yang ditujukan untuk membiayai gereja. Juni 1645, Angkatan Darat Baru melangsungkan Pertempuran Naseby. Dalam momen inilah kekuatan militer utama royalis dihancurkan dan pasukan-pasukan Pangeran Rupert lagi-lagi mendera kekelahan. Mereka hancur saat menghadapi serangan-serangan artileri Fairfax dan kavaleri Cromwellian. Cristopher Hill menerangkan:
“Dalam pengertian militer, perang dimenangkan oleh artileri (yang dapat dibeli dengan uang saja) dan oleh kavaleri yeoman Cromwell. Di bawah Pangeran Rupert, para angkuh menyerang dengan semangat dan putus asa, tetapi mereka sama sekali tidak disiplin, berpisah untuk menjarah setelah serangan pertama. Dalam perang maupun dalam damai, bangsawan feodal tidak akan pernah bisa menolak prospek penjarahan. Tetapi para penunggang kuda Cromwell yang lebih rendah hati memiliki disiplin yang tidak dapat ditolak karena ditegaskan sendiri. Berkat kebebasan penuh diskusi yang ada di ketentaraan, mereka ‘tahu apa yang mereka perjuangkan dan mencintai apa yang mereka ketahui’.”
Setelah dikalahkan pada Pertempuran Naseby, kekuatan militer royalis runtuh. Raja mendapati kekuatannya sangat lemah. Bahkan Charles I berhasil ditangkap oleh pasukan Covanenter dan dijual ke Parlemen Inggris. Di House of Commons, pemimpin-pemimpin Presbiterian membelinya bukan untuk dihukum mati tapi membuka negosiasi damai. Setelah massa bersenjata dan kepemimpinan revolusioner borjuis-kecil memenangkan Perang Saudara I, kelas borjuis bukan sebatas meningkatkan otoritasnya dalam parlemen tapi juga berusaha menegakkan ketertiban demi menikmati hasil-hasil revolusi. Di tubuh kekuasaan, borjuasi lebih takut kepada gerakan revolusioner daripada sisa-sisa orde lama. Demikianlah mereka berkompromi dengan raja dan mendiskreditkan massa. Bagi para bankir, industrialis, pedagang kaya, dan bangsawan pro-kapitalis; penguasa feodal yang telah kalah bukanlah pecundang, melainkan rekan yang bisa diajak membangun monarki konstitusional. Di bawah otoritas Presbiterian, negosiasi dengan raja dibuka. Mula-mula Puritan diberi kesempatan mengusulkan Proposal Utama, namun segera dirubah oleh Presbiterian menjadi Proposal Newcastle. Kedua bentuk bentuk proposal ini sama-sama membatasi otoritas mahkota dan gereja, tetapi bedanya adalah: yang pertama menambah kemandirian militer dan kelas menengah; yang belakangan memperbesar kendali parlemen dan borjuasi. Selama negosiasi berlangsung, Cromwell dan Ireton mencoba mengintervensi tapi intervensi mereka bukan saja gagal melainkan pula menyulut tuduhan dan kemarahan dari resimen-resimen Ironside. Barak tentara memanas. Perwira-perwira semi-proletar dan plebeian menilai kedua komandannya telah berkhianat. Massa tidak mengerti kalau Kepemimpinan Independen berusaha menyulap momen negosiasi menjadi mimbar untuk memblejeti kebusukan raja. Pada akhirnya Charles yang tengik dan berkepala batu menolak kedua proposal itu secara mentah-mentah. Sementara para pemimpin Independen terus-menerus tersudutkan, integritasnya berantakan, dan akar rumput semakin terbakar oleh jalannya peritiwa.
Dari tahun-tahun sebelumnya, kecenderungan yang lebih radikal telah tumbuh di tengah-tengah kaum Independen. John Lilburne merupakan salah satu perwakilannya. Dalam perang dan revolusi, kesadarannya melompat begitu rupa. Sepanjang pertarungan di Marstoon Moor, dengan menyaksikan intervensi Kirk dan keragu-raguan perwira-perwira Presbiterian, Lilburne yang menjadi penunggang kuda Cromwellian secara tajam meluncurkan kritikannya terhadap Commons: ‘para jenderal itu sendiri merupakan anggota bangsawan bergelar, dengan bersemangat mencari kompromi dengan raja. Mereka bimbang dalam penuntutan perang karena mereka takut bahwa kemenangan telak atas raja akan menciptakan pelanggaran yang tidak dapat diperbaiki’. Tanggal 17 Mei 1645, Presbiterian menjatuhkan sanksi kepadanya: Lilburne diseret ke penjara bersama dengan istirinya—Elizabeth Dewell—yang sedang hamil. Selama upaya negosiasi antara Charles dan Parlemen Inggris; dari sel tahanannya Lilburne mengeluarkan seabrek pamflet yang menelanjangi kebusukan dan kejahatan Commons. Sementara Presbiterian melindungi dirinya dengan menjulurkan represi. Hanya bangunan reaksinya tidak kokoh bukan saja karena massa semi-proletar dan plebeian masih bergerak tapi juga lantaran kepemimpinan revolusioner borjuis-kecil terus menekannya di parlemen. Cromwellian tetap berusaha mempertahankan posisinya dalam memblejeti Presbiteran dan menyelamatkan revolusi, namun tendensi ultra-kiri dalam Tentara Model Baru meragukan komitmen Pelayan Independen. Di barak-barak tentara, sebagian prajurit bersepakat dengan pamflet-pamflet yang ditulis John Lilburne. Sekarang sebuah kecenderungan yang lebih radikal tumbuh di tubuh militer. Mereka membela ide-ide Lilburne dan menentang Commons. Kelompok ini merupakan embrio dari Leveller. Tahun 1646, Richard Everton menyebarkan sebuah pernyataan yang mewakili sikap prajurit-prajurit radikal:
“Kami sangat yakin, namun tidak dapat melupakan, bahwa tujuan kami memilih Anda menjadi anggota parlemen, adalah untuk membebaskan kami dari semua jenis Perbudakan, dan untuk mendirikan [Republik] Persemakmuran dalam kedamaian dan kebahagiaan: untuk mewujudkannya, kami menunjuk Anda dengan kekuatan yang sama yang ada pada diri kami sendiri, untuk melakukan hal yang sama; karena kami mungkin saja melakukannya sendiri tanpa Anda, jika kami pikir itu nyaman; memilih Anda (sebagai orang-orang yang kami pikir memenuhi syarat, dan setia) untuk menghindari beberapa ketidaknyamanan.”
Menghadapi serangan-serangan tajam maka ketentraman House of Commons terganggu. Agustus 1646, Richard Everton diseret ke penjara. Tetapi radikalisasi dalam tubuh Angkatan Darat tidak berhenti. Pelayan Independen sebagai basis massa bersenjata dari Puritan terpecah. Di tengah upaya kompromi parlemen dan raja; yeoman-yeoman bebas dan pengrajin radikal berkumpul untuk mendukung pamflet-pamflet yang ditulis oleh Lilburne dan Everton. Sementara setelah negosiasi gagal, ancaman balas dendam dan invansi kontan berdatangan dari kubu monarki. Di Irlandia, gerombolan royalis berusaha membangun kembali kekuatannya. Sedangkan di Inggris, upaya negosiasi dengan raja memicu konflik antara Commons dengan tentara. Presbiterian tidak mau mencairkan gaji prajurit profesional dan memaksakan pembubaran Angkatan Darat Model Baru. Menghadapi pengkhianatan dan penunggakan bayaran oleh parlemen, maka gejolak di barak semakin membesar. Negosiasi dan penunggukan upah diprotes. Dalam kejang-kejang sejarah dan belokan tiba-tiba inilah kepemimpinan benar-benar diuji. Persoalan mendesaknya adalah revolusi harus dipertahankan tapi konflik parlemen-militer menajam dan ancaman-ancaman asing bermunculan. Di barak, kecenderungan borjuis-kecil radikal menguat dan meretakkan disiplin militer. Di parlemen, partai perdamaian ingin mengakhiri revolusi dan memulihkan ketertiban. Menghadapi ketegangan inilah Cromwellian terpaksa menyandarkan dirinya di antara borjuis-besar dan borjusi-kecil hingga bergerak ke kanan dan ke kiri dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Tetapi sikap ini bukan untuk memangkas revolusi melainkan memulihkan otoritas Independen atas militer dan menyelamatkan Revolusi Inggris dari pengkhianatan partai perdamaian yang ingin membuat revolusi setengah jalan. Dalam “Debat Putney, Leveller, dan Revolusi Inggris”, David Brandon menerangkan:
“Inilah yang terjadi sejak tahun 1647. Sebagai akibat dari perang, parlemen kini menjadi badan legislatif yang didominasi dan [sepenuhnya] mewakili kaum Presbiterian, umumnya bagian terkaya dan tentunya paling konservatif dari kelas kapitalis yang baru muncul. Mereka dengan senang hati mempertahankan seorang raja di atas takhta selama dia pada dasarnya melakukan apa yang diperintahkan. Bagi mereka, revolus telah berakhir—mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan. Kekuasaan parlementer ada di tangan mereka, ada waralaba terbatas berdasarkan properti dan Gereja Inggris berada di bawah kendali mereka sebaga bagian dari negara. Menikmati peluang bisnis yang terbuka di depan mata mereka, mereka merasa terancam oleh orang-orang yang tampaknya berniat mendorong revolusi ke arah sistem politik yang akan memberikan kekuatan lebih besar terhadap masyarakat kelas menengah ke bawah. Situasi rumit bagi Presbiterian. Mereka tidak dapat mengandalkan kaum Independen di parlemen, kelompok kelas menengah di sekitar Cromwell. Yang terakhir bergeser ke sana-ke mari dengan tidak nyaman, mendukung Presbiteran dalam beberapa masalah tetapi sangat sadar bahwa mereka juga mempertimbangkan Leveller dan radikal lainnya. Ini mendapat dukungan massa yang dibutuhkan oleh kaum Independen untuk memungkinkan mereka mendorong revolusi lebih jauh ke kiri. Tujuan utama mereka dalam melakukan ini adalah untuk memajukan kepentingan seksional mereka melawan kepentingan Presbiterian, partai bisnis besar. Kaum Independen pada tahap ini mungkin dengan senang hati memilih monarki konstitusional tituler sebagai kepala negara, beberapa perluasan hak pilih untuk memberikan pendukung mereka suara yang lebih besar dan kebebasan beragama bagi semua Protestan.”
Perpecahan di tubuh militer tidak saja melemahkan posisi kaum Independen dan Puritan dalam parlemen, tapi juga semakin menguatkan cengkeraman borjuasi dalam menentukan kebijakan pemerintahan. Demikianlah House of Commons melancarkan pembubaran Tentara Model Baru dengan mendirikan resimen-resimen baru untuk mengumpulkan prajurit-prajurit radikal dan mempersiapkan mereka dalam berperang di Irlandia. Presbiterian mendorong perang asing supaya dapat mengalihkan dan meredam perjuangan revolusioner yang sedang berlangsung di negerinya. Bermotifkan inilah partai yang menyerukan perdamaian secara munafik mengampanyekan peperangan. Di tengah konfliknya dengan Angkatan Darat, Cromwell dan Independen terpaksa mendukung kebijakan Commons. Hanya dukungan yang diberikan bukan untuk memadamkan gerakan massa, melainkan membawa revolusi sampai garis akhir. Kepemimpinan Cromwellian menyadari kalau perang dengan Irlandia tidak sekedar akan meruntuhkan integritas partai perdamaian, namun pula dapat melanjutkan proses penghancuran sisa-sisa feodal. Tetapi massa semi-proletar dan plebeian yang sudah terorganisir di sekitar ide-ide Lilburne tidak mudah menurutinya. Dengan organisasi dan senjata di tangan, mereka siap melawan semua yang tak melayani kepentingannya. Januari 1647, Mary Johnson (istri Richard Everton) melanjutkan pekerjaan agitasi-propaganda suaminya. Namun saat menyebarkan pamflet-pamflet tulisan suaminya, Mary bersama bayinya yang berusia 6 bulan ditangkap, diinterogasi, hingga diseret ke penjara. Meskipun pemenjaraan kaum radikal meningkat tapi ide-ide mereka mampu bergema di barak-barak dan mencari pengikut di antara tentara. Di London, prajurit-prajurit yang teradikalisasi semakin bergerak ke kiri. Tanggal 30 April, mosi tidak percaya dikirimkan ke parlemen dan mereka melancarkan agitasi-propaganda untuk membangun sebuah partai baru yang akan memimpin perjuangannya.
Pada 29 Mei, Tentara Model Baru berkumpul dan membuat sumpah setia. Di hadapan Panglima Fairfax, mereka berjanji tidak akan menghentikan perjuangannya sampai Pembebasan Inggris tercapai. Dari pertemuan inilah Dewan Umum Angkatan Darat didirikan. Perwakilannya tidak saja berasal dari perwira-perwira tinggi yang telah meraih aneka prestasi (Grande), tapi juga mewakili pangkat dan jajaran yang berdedikasi dan dipilih secara demokratis dari setiap resimen (Agitator). Namun dengan posisinya di Dewan Tentara, Grande berusaha mengelabui Agitator dan menekan proses radikalisasi yang berlangsung di tubuh militer. Demikianlah mereka berusaha menggiring resimen-resimen Ironside dan Agitator untuk berperang di Irlandia. Tetapi prajurit-prajurit radikal tak-terima dan melancarkan perlawanan begitu rupa. Diorganisir oleh kavaleri-kavaleri yeoman, resimen-resimen tentara mengatur diri, memilih Agitator, mengumpulkan mesin cetak, dan membangun kontak dengan garnisun darat dan armada laut di seluruh Inggris dan Wales. Bulan September, alun-alun London yang menjadi markas parlemen dikepung. Di bawah pimpinan William Walwyn, barisan prajurit laki-laki dan istrinya bukan saja memprotes kebijakan pembubaran Tentara Model Baru dan mendesak pencairan gaj tapi juga menjulurkan petisi dengan seabrek tuntutan: hak pilih untuk semua pria dewasa, pemilihan tahunan, kebebasan beragama, pembatalan sensor buku dan koran, pembubaran monarki dan House of Lords, persamaan di hadapan hukum dan pengadilan independen yang diputuskan oleh juri, penurunan bungan pinjaman, dan penghapusan pajak orang miskin serta diakhirinya pemenjaraan atas ketidakmampuan membayar pajak. Parlemen menghadapi tuntutan-tuntutan itu dengan janj-janji muluk. Setelah petisi diterima, rakyat pekerja diminta bubar.
Barisan tentara dan perempuan akhirnya kembali ke tempatnya masing-masing tapi mereka tidak berpangku tangan dan menunggu tuntutannya dikabulkan. Di barak-barak, pemukiman-pemukiman pekerja, dan tempat-tempat kerja mereka terus-menerus mengampanyekan programnya. Juni 1647, para Agitator bertemu dan mendikusikan cara untuk mengacaukan parlemen yang terus-menerus mempertahankan posisi komprominya dengan mahkota. Dari resimen Ironside, George Joyce diberikan misi menculik Charles I. Joyce berhasil menangkap raja yang sedang tidur di Holden House dan menyeretnya menuju Markas Besar Angkatan Darat di Triplo Health. Panglima Fairfax mengaku tidak merencanakan perbuatan tersebut, tapi Cromwell memberikan dukungannya terhadap Agitator dan mempromosikan Joyce sebagai kapten. Keberhasilan penculikan ini segera melemahkan daya-tawar Presbitarian dalam parlemen dan meningkatkan pengaruh militer. Di London, yeoman-yeoman bebas dan pengrajin radikal berbaris bukan saja untuk menghina monarki tapi juga menekan borjuis untuk segera mengabulkan petisi mereka. Di House of Commons, pimpinan-pimpinan utama Presbterian mengundurkan diri dan kaum Independen merebut kendali. Bulan Oktober, proses radikalisasi bertambah luas dan traktat “Kesepakatan Rakyat” ditorehkan. Dokumen ini mengandung program kerakyatan dan prinsip-prinsip demokratik yang masih mentah. Tetapi dari peristiwa inilah nama Leveller disematkan kepada gerakan tersebut. Meluasnya pengaruh Leveller membuat partai perdamaian khawatir. Sementara Independen semakin berani. Walaupun Kepemimpinan Cromwellian dikritik sebagai pengkhianat, tetapi—di tengah gelombang radikalisasi dan bangkitnya gerakan Leveller—posisi Cromwell di kursi parlementer dan militer mengambil peran yang menentukan dalam mencondongkan perimbangan kekuatan kelas.
Massa yang sedang bangkit dan bergerak di akar rumput membutuhkan pemimpin yang mampu mewakili aspirasinya di parlemen. Para pemimpin Leveller hanyalah perwira rendah di Tentara Model Baru dan tidak menduduki jabatan apa-apa di House of Commons. Sedangkan Cromwell tak sekadar menjadi anggota parlemen sekaligus komandan militer, melainkan pula mempunyai kemampuan bertempur dan karakter yang lebih teguh dibanding Ireton dan Fairfax. Dengan kualitas-kualitas inilah Cromwell mempengaruhi bentuk spesifik yang diambil oleh peristiwa. Dalam momen kebangkitan revolusioner, kepribadian dan keberadaan sosialnya dibutuhkan untuk memajukan revolusi. Perjuangan massa menyeretnya ke depan untuk memimpin revolusi. Di parlemen, Cromwell semakin berani dalam melawan Presbiterian. Semua pemimpin utama Leveller yang sebelumnya dipenjara kini dibebaskan. Cromwell menyadari kalau kemenangan revolusi tidak dijamin dengan kepeloporan Independen semata tapi juga membutuhkan kekuatan aktif massa. Demikianlah Cromwell mengarahkan energinya untuk memenangkan lapisan-lapisan yang sedang terdadikalisasi. Walaupun pemimpin-pemimpin Leveller terus menentangnya, namun Pelayan Independen tidaklah menjauhi gerakan mereka. Saat Presbiterian menatap massa dengan muka masam dan merencanakan serangan brutal, Cromwellian justru mendorong kebebasan berkumpul dan berdiskusi. Kaum Independen mengerti bahwa Leveller merupakan pergerakan yang sadar, terorganisir, dan perlu dimajukan dengan ide-ide terbaik. Tanggal 28 Oktober dan 8 November di Putney, Dewan Umum Angkatan Darat memfasilitasi diskusi Grande dan Agitator. Tujuannya adalah untuk mendamaikan kedua kubu yang berkonflik dan menguatkan internal militer dalam menghadapi ancaman-ancaman perang. Topik diskusinya menyangkut persoalan Tentara Model Baru dan Kesepakatan Rakyat. Kaum Leveller mengemukakan pandangan tentang signifikansi republik yang demokratis, kontrol demokratik atas tentara dan pemilihan perwira oleh rakyat sipil, pembentukan parlemen yang bertanggung jawab kepada orang kaya maupun miskin, dan pelaksanaaan hak pilih laki-laki. Semua ini dilaksanakan demi mewujudkan kebebasan penuh bagi produsen kecil dan keamanan properti kecil, membersihkan sisa-sisa monopoli feodal terhadap perusahaan besar, menegakkan toleransi beragama dan menghapuskan persepuluhan, serta mereformasi hukum debitur. Kekuasaan harus diatur dari bawah ke atas; pemerintahan mesti berlandaskan kepentingan dan kesepakatan rakyat dan orang-orang miskin. Juru Bicara Leveller Thomas Rainsborough menegaskan:
“Saya benar-benar berpikir bahwa orang termiskin di Inggris memiliki kehidupan untuk hidup sebagai orang terhebat; dan karena itu sungguh, Tuan, saya pikir sudah jelas, bahwa setiap orang yang akan hidup di bawah Pemerintah pertama-tama harus dengan persetujuannya sendiri untuk menempatkan dirinya di bawah Pemerintah itu; dan saya benar-benar berpikir bahwa orang termiskin di Inggris sama sekali tidak terikat dalam arti yang ketat dengan Pemerintah itu sehingga dia tidak memiliki suara untuk menempatkan dirinya di bawahnya.”
Leveller mengemukakan tuntutan-tuntutan radikal borjuis-kecil. Ireton, selaku Juru Bicara Independen, menjawab: ‘kebebasan tidak dapat diberikan dalam arti umum, jika properti dipertahankan’. Di tengah perkembangan industri, teknik, dan tenaga-tenaga produksi yang belum memadai; jawaban Ireton terdengar lebih realistik ketimbang kebebasan penuh yang diperjuangkan Ranisborough. Tidak ada orang-orang yang benar-benar bebas dan setara sebelum kepemilikan pribadi dihapus. Hanya penegasan ini tidak dapat diterima oleh para Agitator. Diskusi menjadi alot. Tak ada konsensus. Semuanya berubah menjadi perdebatan sengit. Peristiwa ini akhirnya dikenal sebagai Debat Putney. Selama perdebatannya, Grande berusaha meminimalkan program sosial dan ekonomi lawannya. Tetapi Agitator tak menyerah. Forum akhirnya memanas dan segala pembahasan dihentikan dengan sebuah trik pembentukan komisi yang akan meninjau masalah dan mengakhiri debat secepatnya. Sementara di tengah jalannya perdebatan, raja yang dikurung di Markas Angkatan Darat mendapati pengawasan terhadapnya melemah. Selama Debat Putney, Charles I mencari-cari cara untuk melarikan diri. Tanggal 11 November, dia berhasil kabur dari sel tahanan dengan bantuan Presbiterian Inggris dan Skotlandia. Selama pelariannya, mahkota tidak saja mengontak royalis Inggris-Irlandia untuk bersiap-siap berperang tapi juga meminta bantuan dari Prancis. Sementara di Inggris, kaum Independen mulai memburu raja dan mempersiapkan pasukannya untuk pertempuran yang semakin mendekat. Demikianlah persatuan Angkatan Darat diupayakan secara keras. Pada 15 November, melaksanakan uji coba kekuatan dengan memerintahkan kompi-kompi yang paling tidak terpengaruh oleh Leveller untuk menggelar Parade Ware di Hertfordshire. Parade ini bertujuan menarik kompi lainnya untuk bergabung. Prajurit-prajurit yeoman dan perwira-perwira Agitator sejenak mengikuti parade, tetapi saat diminta bersumpah setia di bawah Thomas Fairfax—mereka menolak. Situasi menegang dan adu-kekuatan tiada terhindarkan. Namun setelah unjuk kekuatan sebentar, Independen berhasil membujuk dan meyakinkan Agitator untuk bersatu dengan Grande.
Februari-Agustus 1648, Perang Inggris-Skotlandia meletus. Ini merupakan Perang Saudara Inggris II. Charles sekarang tidak saja melibatkan royalis Inggris-Skotlandia, tapi lebih-lebih berhasil meraih dukungan pimpinan-pimpinan utama Presbiterian Inggris dan faksi Engager dari Kirk Skotlandia. Namun mereka semua berhasil dikalahkan secara telak. Pada Pertempuran Maidstone, mereka dipukul-mundur oleh pasukan-pasukan yang dipimpin Fairfax. Dalam Pengepungan Pembroke dan Pertempuran Preston, mereka dihancurkan oleh tentara-tentara pimpinan Cromwell. Lagi-lagi kekuatan militer royalis dipatahkan dan raja berhasil ditangkap. Di penjara, Charles ditemani oleh anggota-anggota Parlemen Inggris yang berkhianat. Sekarang tidak ada lagi yang bisa membuka kompromi dengan penguasa feodal. Konflik Angkatan Darat telah diredam dan pengambilan keputusan di House of Commons berada di bawah kendali Independen. Tanggal 5 Desember, yeoman-yeoman bebas, Agitator dan Grande mengambil-alih London hingga membersihkan parlemen dari keanggotaan Presbiterian. Kini tiada seorang atau sekelompok manapun yang sanggup bernegosiasi atau membebaskan Charles. Partai perdamaian sudah diusir keluar dari Commons dan Parlemen Panjang dinyatakan bubar. Sepanjang Januari 1649, Commons mempersiapkan matang-matang prosesi hukuman bagi raja dengan mendirikan Pengadilan Tinggi dan membuat Undang-Undang Darurat yang melarang siapapun menjadi raja atau kelompok manapun mencalonkan raja setelah Charles I dihukum mati. Tepat 30 Januari, Charles dipenggal kepalanya dan Republik Persemakmuran Britania Raya (1649-60) diproklamirkan di atas genangan darah feodalisme. Di sisinya, House of Lords dibubarkan dan Dewan Negara didirikan sebagai penggantinya. Royalis-royalis Inggris melarikan diri di Irlandia dan Skotlandia. Di tempat pelariannya, mereka mendapat dukungan dari partai-partai Katolik dan Presbiterian yang takut melihat kebangkitan republikanisme.
Di Irlandia, Konfederasi Katolik melanggar UU Darurat yang dikeluarkan oleh Persemakmuran dengan mengangkat Charles II sebagai rajanya dan mempersiapkan serangan ke republik. Ini membukan Perang Saudara Inggris III (1649-51). Menghadapi ancaman serangan dari Irlandia maka Tentara Model Baru dikirim untuk memeranginya. Di bawah komando Oliver Cromwell, prajurit-prajurit republiken berhasil menghancurkan pasukan royalis Inggris-Konfederasi. Dikalahkan di Irlandia, selanjutnya Charles melarikan diri ke Skotlandia dan meminta dukungan Presbiterian dengan menandatangani Kompromi Breda. Meskipun tidak sempat menahan laju pasukan-pasukan yang dipimpin langsung oleh Charles menuju Inggris, tetapi Cromwell dan pasukannya sanggup menyapu semua garnisun dan titik pertempuran di Irlandia dan pada gilirannya mengejar dan memukul-mundur Charles dan prajuritnya dari Inggris. Kemenangan lagi-lagi berada Independen dan Commons. Hanya perang yang berlarut-larut memperparah kelaparan, pengangguran dan kemiskinan rakyat pekerja. Di Inggris, radikalisme membuncah. Sekte-sekte keagamaan radikal bertumbuh: Baptis, Ranter, Monarki Kelima. Di antara mereka, pemimpin-pemimpin Leveller melancarkan kampanye untuk menyerang Independen dan Cromwell. Melalui organ propaganda partai (Moderate Intelligencer)—John Lilburne, Richard Everton, William Walwyn, dan Thomas Prince menerbitkan pelbagai artikel yang mengutuk perang dan pembantaian terhadap umat Katolik. Mereka mengkritik praktik sentralisme militer Cromwellian sebagai bentuk kekuasaan raja yang baru dan mengganggu jalannya peperangan dengan menyerukan perdamaian demokratik dan mempengaruhi prajurit supaya menolak bertempur, meninggalkan medan tempur, hingga berbalik menentang Angkatan Darat dan Commons. Maret-April 1649, Koran Moderat dibredel dan keempat editornya ditangkap. Keempatnya diinterogasi di Dewan Negara dan dikurung di Menara London. Penahanan mereka meresahkan seluruh kota. Di tengah ketatnya penjagaan sipir, istri-istri tahanan datang mengunjungi suaminya. Kehadiran mereka bukan untuk meratap atau menangis tapi menyelundupkan literatur dan mengambil lembaran-lembaran tulisan suaminya untuk diedarkan secara luas. Dalam perang dan revolusi, kesadaran perempuan berubah drastis. Atmosfer sosial yang mendidih membuat mereka terbakar. Atas kemampuan dan posisi sosial tertentu, mereka terdorong mengarungi gelombang revolusioner. Di Shrewsbury, perempuan-perempuan Leveller memimpin pengorganisiran dan protes. Tanggal 25 April, Elizabeth Dewell (istri Lilburne), Mary Johnson (istri Everton), Kathrine Childey (pengkhotbah dan penjahit muda) memobilisir barisan perempuan dalam mengajukan petisi—yang didukung oleh 10.000 tanda tangan—untuk membebaskan keempat tahanan politik. Di parlemen, elemen-elemen konservatif dalam Puritan melecehkan mereka dengan menyebut perempuan-perempuan radikal sebagai pelacur-pelacur jahat dan wanita-wanita hina yang tidak memiliki hak. Seabrek perempuan Leveller lantas membuka perdebatan. Pada sebuah artikel di Spartacus Educational terekam:
“Para pendukung gerakan Leveller menyerukan pembebasan keempat Leveller…. Mary Everton menggambarkan momen traumatik penangkapan (dia sakt di tempat tidur, baru saja melahirkan) ketika petugas hukum membongkar dan menggeledah rumahnya. Dilaporkan bahwa mereka menggeledah ‘koper, peti, dan lain-lain, untuk merampok, mencuri, menjarah, dan mengambil barang-barangnya, yang merupakan mata pencahariannya saat itu untuk suaminya yang dipenjara, dirinya sendiri, dan tiga anaknya yang masih kecil, saudara laki-laki dan perempuannya…. Mary Everton menggambarkan penahanan suaminya di Menara London sebagai ‘pelanggaran tinggi terhadap Hukum Dasar Negara subversi total dari Kebebasan Bersama rakyat dan khusunya Hak dan Warisan asli suami Pemohon Parlemen’. Anggota parlemen beraksi dengan tidak toleran dan memberi tahu para perempuan bahwa ‘bukan hak wanita untuk mengajukan petisi; mereka mungkin tinggal di rumah dan mencuci piring’ … Seorang wanita menjawab: ‘Tuan, kami memiliki piring yang tersisa untuk kami cuci, dan kami tidak yakin untuk melakukannya’. Ketika anggota parlemen lan menyatakan bahwa aneh bagi perempuan untuk mengajukan petisi, seseorang menjawab: ‘aneh bahwa Anda memenggal kepala raja, namun saya kira Anda akan membenarkannya’.”
Perempuan-perempuan radikal tidak bisa membiarkan gerakannya dilecehkan parlemen. Walaupun setelah penghinaan mereka bertolak ke pemukiman dan rumahnya masing-masing, tetapi bukan untuk menyuci piring dan mengurusi rumah tangga seperti yang diingin anggota-anggota Commons yang konservatif. Tanggal 26 April, demonstrasi kembali digencarkan dengan massa yang lebih banyak. Dalam aksi kali ini perempuan-perempuan yang bekerja di paroki-paroki ditarik keluar. Di jalanan tidak hanya berkumpul perempuan Leveller, tapi juga perempuan-perempuan Quaker, Baptis, dan Monarki Kelima. Di hadapan anggota-anggota parlemen, mereka memancang “Petisi Perempuan Kota London” dan berusaha menegaskan posisinya: ‘karena rupa kami menurut gambar Allah, dan kepentingan akan Kristus yang setara dengan manusia, serta bagian yang dalam kebebasan Persemakmuran ini, kami tidak bisa tidak heran dan berduka bahwa kami harus tampil begitu tercela di mata Anda, kerena dianggap tidak layak untuk menyampaikan petisi atau keluhan kami kepada dewan yang terhormat ini. Bukankah kami memiliki keinginan yang sama dengan orang-orang Bangsa ini, dalam kebebasan dan keamanan yang terkandung dalam Petition of Right, dan hukum keamanan lainnya di negeri ini?” Meskipun terekspresikan melalui istilah-istilah agama tapi pernyataan ini mengekspresikan tatanan sekuler borjuasi yang sedang bangkit, terutama mengenai kebebasan individu dan persamaan-persamaan formal manusia. Dalam kebangkitan revolusioner di Inggris, pertentangan kelas yang mengambil bentuk konflik keagamaan mempertentangkan ajaran-ajaran ilahi ke dua arah yang berbeda: di tangan kaum konservatif, agama digunakan untuk mendukung kekuasaannya; di tangan kaum radikal, agama digunakan untuk menentang kelas penguasa.
Agama begitu dingin dan tidak mempunyai roh pada dirinya sendiri, tapi sebatas menyalurkan kepentingan-kepentingan kelas sosial yang saling-berlawanan di medan perang dan revolusi. Adalah Mary Cary yang—dalam tulisannya tentang “Monarki Kelima”—menggunakan istilah-istilah religius untuk mempersenjatai kelas menengah yang teradikalisasi: ‘saatnya akan tiba ketika janji [Tuhan] digenapi, dan para Orang Suci akan dipenuhi dengan roh; dan tidak hanya laki-laki, tetapi perempuan akan bernubuat; tidak hanya perempuan lanjut usia, tetapi pria muda; bukan hanya atasan, tapi juga bawahan; tidak hanya mereka yang memiliki pembelajaran Universitas, tetapi mereka yang tidak memilikinya; bahkan pelayan dan orang miskin’. Di tangan pemimpin-pemimpin perempuan radikal, ajaran-ajaran agama dikhotbahkan sebagai senjata ideologis untuk membebaskan massa dari perbudakan dan kemiskinan. Demikianlah orang-orang miskin yang tergabung dalam sekte-sekte keagamaan radikal menganggap Perang Saudara sebagai Perang Suci yang didukung oleh Tuhan. Di tengah lautan sosial yang bergejolak, menajamnya pertentangan kelas dan penghancuran masyarakat feodal—agama akhirnya tak sekadar menjadi lambang dari keteralienasian, melainkan pula diasah menjadi senjata transendental yang digunakan sesuai kepentingan dari kelas-kelas yang bertentangan. Raoul Peck—melalui novel Marxis “Marx Muda; Cinta, Persahabatan, dan Perjuangan Kelas”—merekam bagaimana penjelasan Marx sewaktu berdiskusi dengan Engels dan Mary Burns:
“’Tuhan! Mereka meyakini Tuhan akan mendukung perjuangan mereka, dan menyambut mereka di “Taman Surga”, dan taman dimana sedang mereka perjuangkan: Keadilan, Kesetaraan, dan Persaudaraan antarsemua manusia. Tuhan yang mereka anggap mendukung perjuangan dan sedang menunggu mereka itu tidak lain adalah diri mereka sendiri. Mereka berjuang untuk diri mereka sendiri, dan Tuhan yang menunggu mereka itu sebenanrnya mereka menunggu diri mereka sendiri memenangkan perjuangan mereka melawan penindasan…. Kepedihan, kesengsaraan, dan kesusahan yang dialami manusia dicerminkan secara terbalik oleh manusia sendiri ke dalam cermin yang bernama agama. Agama mengajarkan Tuhan maha pengasih dan maha penyayang. Ajaran seperti ini sebenarnya hanya ingin menunjukkan manusia seharusnya tidak ditindas oleh sesamanya, manusia seharusnya saling mengasihi dan menyayangi. Ketika manusia saling menindas, manusia yang tertindas berjuang untuk membebaskan diri dari penindasan berdasarkan semangat perjuangan mereka karena mereka berjuang bukan karena ingin merengkuh kasih sayang dari Tuhan. Mereka, justru, harus menyadari bahwa agama adalah hati dari dunia yang tidak memiliki hati—tidak memiliki belas kasihan, agama adalah roh yang sama sekali tidak memiliki jiwa. Agama adalah candu bagi kaum tertindas, alat untuk membenarkan penindasan bagi kaum penindas, dan alat untuk menjinakkan perlawanan kaum tertindas terhadap kaum penindas.’
‘Jadi, menurutmu, agama tidak memainkan peranan progresif dalam perjuangan kaum tertindas membebaskan diri mereka dari penindasan di dunia ini?’ tanya Mary Burns.
‘Aku tidak berkata seperti itu! … Ajaran-ajaran agama adalah ajaran-ajaran yang relatif. Di satu sisi, ajaran ini dapat digunakan oleh kelas penguasa untuk menindas, dan di sisi lain ajaran-ajaran ini dapat digunakan oleh kelas yang tertindas untuk melawan penindasan. Penafsiran pada ajaran-ajaran ini tergantung pada kelas mana yang menafsirkannya, dan itu artinya ajaran-ajaran agama, sesungguhnya, hanya hasil ciptaan manusia, dan hasil penafsiran manusia. Dengan begitu, di satu sisi agama adalah hati dari dunia yang tidak memiliki hati karena hati dari agama adalah milik manusia bukan milik agama itu sendiri. Hati agama menjadi bengis ketika agama melayani orang-orang yang bengis, dan hati agama menjelma menjadi kasih sayang dan cinta yang bercahaya ketika melayani orang-orang yang penuh kasih dan cinta. Aku tidak menganjurkan manusia menghancurkan agama, aku menunjukkan bahwa agama dan Tuhan hanyalah hasil ciptaan dan penafsiran agung manusia. Ketika manusia yang tertindas menyadari bahwa agama adalah hasil ciptaan manusia sendiri, manusia akan semakin memanusiakan hasil ciptaannya itu dan membersihkan agama dari kebengisan melalui perjuangan kelas demi mewujudkan cita-cita kehidupan tanpa kelas, tanpa penindasan antarmanusia yang mereka sebut-sebut sebagai “Taman Surga”—taman tempat penindasan antar-manusia telah musnah, dan taman seperti ini dapat tercipta karena hasil dari perjuangan manusia sendiri.’”
Di London, agama yang merupakan ciptaan manusia semakin dimanusiakan. Parlemen—yang mengesampingkan tuntutan pembebasan tahanan politik dengan melecehkan perempuan—diserbu oleh para pendukung petisi perempuan. Di dekat tembok pertahanan Bishopsgate, dukungan juga berdatangan dari yeoman bebas dan pengrajin radikal. Pasukan Leveller mendukung pembebasan tahanan politik dan hak-hak perempuan. Hanya pasukan-pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Whalley dan Panglima Fairfax memerintahkan mereka untuk berhenti menuntut dan segera membubarkan diri. Tetapi tentara-tentara Leveller menolaknya. Daripada berhenti protes dan meninggalkan posisinya; massa semi-proletar dan plebeian ini justru membentuk barikade. Di bawah pimpinan Robert Lockyer, mereka berjuang menghadapi gempuran yang bertubi-tubi. Dalam waktu yang singkat pertahanan mereka dipatahkan, senjata-senjatanya dilucuti, dan Lockyer dieksekusi mati. Tetapi perlawanan belum selesai. Kematian perwira Leveller menjadi cambuk radikalisasi. Saat berlangsungnya pemakaman Lockyer, kehadiran ribuan laki-laki dan perempuan menyulapnya jadi prosesi Long March. Pada 25 April, 4.000 pelayat berjalan dari Smithfield menuju Moorfield. Laki-laki mengangkat dan mengiringi jenazah melewati jantung-jantung kota, sementara perempuan-perempuan membentuk rantai manusia dan secara aktif menyebarkan poster, pamflet, dan koran-koran untuk meraih dukungan sebanyak mungkin penduduk. Di Pemakanam New Churchyard, mayat dikebumikan bukan saja dengan pembacaan teks Alkitab tapi terutama janji setia untuk mempertahankan kebebasan Inggris. Namun gerakannya segera mengundang represi. Koran dan pamflet-pamflet Leveller disita, demonstrasi dibubarkan, dan para anggota serta simpatisannya ditekan begitu rupa.
Di tengah kecamuk Perang Inggris-Irlandia-Skotlandia dan ancaman Kontra-Revolusi Charles II, pemimpin-pemimpin Puritan dan Independen membutuhkan bantuan. Kepemimpinan Cromwellian berusaha menyalurkan energi revolusioner dalam negeri ke luar negeri untuk menyelamatkan revolusi dari ancaman tentara-tentara asing. Cromwell berusaha menyandarkan kekuatan militernya di atas basis massa semi-proletar dan plebeian yang teradikalisasi di kota-kota. Tetapi kehidupan rakyat pekerja telah sangat menderita. Ketidakstabilan yang berlarut-larut bukan saja menguras tenaga dan harta-benda, tapi terutama membuat mereka kecewa terhadap Cromwell dan kepemimpinannya. Mereka yang bekerja sebagai Angkatan Darat tidak saja mendapati dirinya terpaksa berperang ke Irlandia dan Skotlandia, tapi juga melihat keluarga-keluarganya menderita kelaparan dan kemiskinan karena Commons kesulitan membayar gaji tentara-tentaranya. Di sisinya, dampak peperangan teramat mengerikan: tidak saja kematian dan sentralisasi kekuasaan yang meningkat pesat, tapi terutama merusak suplai makanan dan panen kaum tani dan memperbesar kekayaan pedagang yang menjual amunisi dan aneka kebutuhan hidup dengan harga selangit. Dalam kondisi itulah kesenjangan melebar dan penderitaan massa membukit. Di tengah hantaman peristiwa, Leveller terpecah dan elemen-elemen yang lebih radikal berkumpul di sekitar Gerard Winstanley untuk membangun gerakan Digger. Akhir April 1649, mengeluarkan manifesto yang diberi judul “Standar Tingkat Lanjut Leveller Sejati”. Dalam deklarasi politik inilah Komunitas Penggali mengutarakan perspektif yang menentang semua upaya penutupan tanah bersama, membuka kembali tanah-tanah yang sebelumnya digunakan sebagai kandang, dan mendirikan Komune-Komune Tani di atasnya. Kaum Digger melepaskan diri dinas ketentaraan dan memulai kehidupan baru sebagai dengan menggali, memupuk, dan menanam jagung secara komunal. Meskipun mereka berkecenderungan pasifis namun tidak sama dengan pasifisme Quaker dan Mennonite, karena Digger tidaklah menghindari pertempuran demi menenggelamkan diri dalam bilik-bilik gereja melainkan secara berani mempraktekkan Komunisme Agraria. Walupun Digger menyebarkan pandangannya menggunakan istilah-istilah religius namun sepenuhnya itu bukanlah tentang ibadah dan Tuhan, melainkan mengenai kekuatan nalar, kerja dan komunitas. Pada Manifesto Digger, Winstanley menulis:
“…keadaan Dunia lama saat ini yang berlari seperti perkamen dalam api, dan menipis, kita melihat daging Imajiner yang sombong, yaitu Ular yang bijak, bangkit dalam daging dan menguasai beberapa untuk menguasai yang lain, dan memaksa satu bagian dari Penciptaan manusia, untuk menjadi budak yang lain; dan dengan demikian Roh terbunuh di keduanya. Yang satu memandang dirinya sendiri sebagai seorang guru dan penguasa, dan karenanya ditinggikan dengan bangga atas sesama Makhluknya. Yang lain memandang dirinya sebagai tidak sempurna, dan begitu sedih dalam jiwanya, dan memandang sesamanya Makhluk dari Gambarnya sendiri, sebagai Tuhan di atasnya. Dan dengan demikian Esau, manusia daging, yang adalah Ketamakan dan Kebanggaan, telah membunuh Yakub, Roh lemah lembut, dan pemerintahan yang benar dalam terang Nalar, dan memerintah atasnya. Dan Bumi yang dijadikan Perbenderharaan Bersama untuk hidup dengan nyaman, berdiri di atas tindakan yang tidak benar antara manusia yang satu dengan yang lainnya, menjadi tempat, di mana yang satu menyiksa yang lain. Sekarang Sang Pencipta yang agung, yang adalah Nalar Roh, membiarkan dirinya ditolak, dan diinjak-injak oleh daging sombong yang tamak…. Tetapi ketika Bumi menjadi Perbendeharaan Bersama lagi … semua Permusuhan di Tanah ini akan berhenti…. Dan Nalar, raja kebenaran yang hidup, hanya memandang, dan membiarkanmu sendiri…. Wahai [Borjuis] Inggris, meskipun Anda telah berjanji untuk menjadikan Rakyat ini sebagai Rakyat Bebas, namun Anda telah menghindari masalah ini, melalui humr Anda yang mementingkan diri sendiri. Bahwa Anda telah membungus kami dalam perbudakan, dan penindasan semakin berat menimpa kami; tidak hanya membawa sesama Makhluk Anda, Orang Biasa, ke sepotong Roti, tetapi dengan membingkungkan semua jenis orang oleh Pemerintah Anda…. Kami berdiri untuk menyampaikan Deklarasi ini kepada Anda yang adalah Dewan Agung, dan kepada Anda Tentara Besar Tanah Inggris, agar Anda tahu apa yang akan kami lakukan, dan apa yang harus Anda berikan kepada kami melalui Perjanjian dan Janji Anda…. Pekerjaan yang kami lakukan adalah ini, untuk menggali Georges-Hill dan tanah kumuh di sekitarnya, dan untuk Menabur Jagung, dan untuk memakan Roti kami bersama dengan keringat di alis kami…. Kebebasan Persemakmuran ini akan menyatukan hati orang Inggris dalam cinta, sehingga jika musuh asing berusaha masuk, kita semua dengan persetujuan bersama akan bangkit untuk mempertahankan kebebasan kita, dan akan setia satu sama lain. Sedangkan sekarang orang miskin melihat, jika mereka melawan dan harus menaklukkan musuh, namun mereka atau anak-anak mereka tetap seperti budak, karena bangsawan [dan burgher] akan memiliki segalanya.”
Demikianlah Revolusi Borjuis Inggris bukan saja telah menghancurkan feodalisme tapi juga menandai dimulai Abad Pencerahan. Selama perang dan revolusi, pengembangan nalar berkembang dalam seruan-seruan akan toleransi beragama: kebebasan berkumpul dan berdiskusi. Hanya setelah Charles I dipenggal dan institusi-institusi borjuis didirikan, kebebasan mulai dikontrol begitu rupa. Di tengah Perang Tiga Kerajaan—Commons dan Puritan, Angkatan Darat dan Independen, dan Kepemimpinan Cromwellian meningkatkan sentralisasinya untuk mengendalikan kerajaan nalar yang telah didirikannya. Ancaman invansi dari Skotlandia, Prancis dan Spanyol menekan Republik Persemakmuran untuk meningkatkan represi demi mempertahankan persatuan nasionalnya. Maka segala protes dan hak untuk menentukan nasib sendiri dibatasi. Mei 1649, sekitar 4.000 yeoman bebas dan pengrajin radikal yang dipimpin James Thompson dan William Thompson digempur habis-habisan di Burford dan Banbury. Dalam mengalahkan basis terkahir Leveller sekaligus resimen terkuat dalam Tentara Model Baru inilah Cromwell mengerahkan seluruhnya kemampuannya, terutama kelicikan dan penipuan-penipuan terbesarnya. Di antara resimennya, dia memilih penunggang kuda tercepat untuk mengejar dan menghambat pasukan 1.500 kavaleri Thomas yang sedang menempuh perjalanan menuju Banbury. Mayor White dipilih untuk memimpin dinas militer mendadak dan dikirim untuk berpura-pura membuka kompromi secara terhormat dengan pasukan-pasukan James dan mengerahkan segala keahliannya untuk mengulur waktu mereka. Di tengah-tengah kerumunan Leveller yang lapar dan miskin, White membuka pembicaraan berkait pembayaran gaji dan pemulihan hak-hak mereka dalam Angkatan Darat. Obrolan berlangsung lama tanpa kesepakatan apa-apa, tapi diakhir pembicaraannya White berusaha meyakinkan para pemberontak bahwa resimen-resimen Cromwell berjarak satu hari perjalanan, dan tidak akan ada hukuman dan penggunaan kekuatan asalkan Leveller tidak menyerang duluan. Pada 13 Mei larut malam, segala pembahasan dihentikan dan seluruh pemebrontak yang terlihat kelelahan dibujuk untuk beristrahat di Burford.
Misi White berhasil. Tengah malah, pasukan-pasukan Cromwell tiba dan segera mengepung kota. Di kota peristrahatan, tentara-tentara Leveller mendapati dirinya tidak siap untuk bertempur. Garnisun mereka hancur dan gagal bergabung dengan pasukan-pasukan pimpinan William Thompson di Banbury. Di Buford, beratus-ratus terbunuh, ratusan lainnya melarikan diri, dan 340 ditangkap dan dipenjarakan di gereja setempat. Empat orang yang menjadi pimpinan mereka dijatuhi sanksi hukuman mati: Kapten Thompson, Kapten Dene, Kopral Perkins, dan Prajurit Church. Tetapi dalam pelaksanaanya, Cromwell melancarkan propaganda dan mengatur drama yang begitu rupa. Leveller disudutkan. Di Banbury, yeoman bebas dan pengrajin radikal telah dikalahkan dan William terbunuh dalam pertempuran. Sekarang Leveller terancam dan moral revolusionernya sedang dipertaruhkan. Kampanye-kampanye Cromwellian meminta mereka menyangkal kepercayaannya dan mengkhianati sumpah setianya untuk kebebasan Inggris. Keempat perwira yang memimpin pemberontakan dalam tubuh Angkatan Darat dipengaruhi untuk memohon belas kasihan Commons. Di antara mereka: kedua kapten meminta maaf tapi hanyalah Dene yang diberi permaafan. Tanggal 17 Mei, hukuman mati lantas dilaksanakan kepada 1 kapten pengecut dan 2 perwira rendah yang mati sebagai Leveller sejati. Pelaksanaannya disaksikan oleh ratusan tahanan dan ribuan orang. Setelah eksekusi diselesaikan, Kapten Dene kontan ditampilkan di hadapan hadirin untuk membacakan “Petisi Rendah Hati dari Para Tahanan yang Sedih dan Berat Hati yang Tersisa di Gereja Buford”. Selanjutnya, Cromwell menempatkan seluruh pemberontak yang tersisa untuk mendengarkan siraman rohani di Gereja Buford. Khotbah tidak saja disampaikan Cromwell, melainkan pula Dene. Seabrek tahanan berusaha dibuat menyesal atas pemberontakan yang telah dilakukan. Selanjutnya, Cromwell terus-menerus menggunakan Dene untuk menggencarkan khotbah-khotbah lapangan dan memulihkan integritasnya setelah memadamkan pemberontakan.
Di bawah Kepemimpinan Cromwellian, Persemakmuran dipertahankan dengan pedang dan kecerdikan. Perang asing dimenangkan dan pemberontakan dalam negeri dipadamkan. Tetapi setelah Leveller dihancurkan maka borjuis-kecil radikal yang menjadi basis utama dari Tentara Model Baru disingkirkan dan Angkatan Darat kehilangan kekuatan revolusionernya. Sekarang petani penyewa, pekerja magang, dan buruh harian yang terorganisir dan berdisiplin revolusioner mendapati dirinya terisolir. Organisasi mereka dihancurkan, senjatanya dilucuti, dan keyakinan terkikis. Mereka dilempar kembali untuk melaksanakan aktivitas sehari-harinya secara mandiri. Kini mereka bukan saja dilucuti senjatanya, tapi juga ditanggalkan dari kegiatan-kegiatan politiknya sebagai agitator dan propagandis. Militer akhirnya dikendalikan sepenuhnya oleh parlemen secara birokratik. Seusai kehilangan tentara-tentara radikalnya maka pengaruh revolusioner Independen mulai menyusut dan elemen-elemen konservatif dari Puritan mengambil-alih Dewan Negara dan House of Commons. Demikianlah kehancuran organisasi massa Leveller segera mengubah perimbangan kekuatan kelas. Tanpa kekuatan utama revolusi, pendulum dengan pasti berayun ke kanan. Tahun 1651, Undang-Undang Navigasi disahkan untuk melancarkan kepentingan komersial dan kolonial Inggris di Dunia Baru. Desember 1653, kelas baru pemilik properti sudah berhasil membeli suluruh tanah yang disita dari gereja dengan harga murah. Petani-petani kapitalis, industrialis, bankir dan pedagang-pedagang kaya tumbuh dan berhasil mencengkeram parlemen, militer, dan partai pemenang. Mereka menawari Cromwell menjadi raja dengan bentuk Pemerintahan Monarki Konstitusional, tapi Cromwell menolaknya dan mengupayakan pembentukan Pemerintahan Protektorat. Di tubuh kekuasaan, Cromwell dimandatkan jadi Pelindung Persemakmuran dan kelas borjuis mengatur kebijakan-kebijakan strategis republik. Di bawah rezim borjuis, industri dan perdagangan Inggris dikembangkan dengan mengorbankan sebanyak mungkin umat manusia yang diperbudak sebagai pekerja upahan. Winstanley menulis kritikan:
“Ini adalah perbudakan yang dikeluhkan orang miskin, bahwa mereka dibuat miskin oleh saudara-saudara mereka di negeri di mana ada begitu banyak kelimpahan untuk semua orang…. Setiap orang berbicara mengenai kebebasan tapi hanya sedikit yang bertindak untuk kebebasan, dan para aktor kebebasan ditindas oleh para pembicara dan profesor kebebasan verbal…. Karena terlihat jelas bahwa jika kami dibiarkan berbicara, kami akan menghancurkan semua hukum mereka, dan membuktikan bahwa pelaksananya adalah orang munafik dan pengkhianat bagi Persemakmuran Inggris.”
Sepanjang 1654-60, borjuis Inggris menggencarkan Perang Inggris-Spanyol dan setiap penentang perang akan diadili di Pengadilan Tinggi. Sekarang Independen didikte menjadi partai perang yang konservatif dan Cromwell terjerumus dalam peperangan tanpa dukungan gerakan revolusioner. Di kota-kota, kecaman terhadap Pemerintahan Protektor menjamur. Tahun 1657, pamflet yang berisi ancaman pembunuhan Cromwell bertebaran. Hanya pada 1658, Cromwell meninggal bukan karena dibunuh tapi akibat serangan malaria. Segera setelah kematian Cromwell, gerombolan royalis dan Presbiterian segera menunjukkan batang hidungnya. Charles II keluar dari tempat persembunyiannya dan berusaha merebut kekuasaan. Pada 1660, Republik Persemakmuran digulingkan dan monarki konstitusional didirikan. Tanpa Protektorat yang tegas, berdisiplin, dan berpengalaman maka kekuatan militer Inggris melemah. Meskipun Cromwell sudah ditinggalkan oleh massa radikalnya, namun dia masih memiliki pengaruh yang spesifik atas posisi sosialnya, jabatan dan kemampuannya di tubuh republik. Demikianlah kematian Cromwell membuka jalan bagi kemenangan gerombolan monarkis. Pada momen-momen kritis dalam periode perjuangan kelas yang menajam, kehadiran atau ketiadaan Pimpinan Besar Revolusi Inggris begitu menentukan jalannya pertarungan. Inilah mengapa posisi Cromwell sangat penting. Tanpanya, berarti Angkatan Darat kehilangan pemimpin yang teguh dan tak tergoyahkan. Tentara Inggris akhirnya kalah secara memalukan, Tentara Model Baru dibubarkan, dan semua republiken disingkirkan dari House of Commons. Charles lantas mengumumkan dirinya sedang memulihkan tatanan lama: mengembalikan kejayaaan feodalisme. Hanya sejarah terus melangkah maju dan takkan pernah kembali ke masa lalu. Basis masyarakat feodal sudah dihancurkan dan Inggris memasuki fase kapitalisme. Apa yang ditulis dengan darah dan pedang revolusi takkan pernah terhapus oleh tinta dan pena restorasionisme. Inilah mengapa segala restorasi feodal merupakan omong kosong belaka. Dalam “Revolusi Inggris 1640”, Cristopher Hill menjelaskannya begitu rupa:
“Restorasi sama sekali bukan restorasi rezim lama. Itu adalah bukti, bukan kelemahan borjuasi dan bangsawan [pro-kapitalis], tetapi kekuatan mereka. Personil Layanan Sipil, bangku yudisial, birokrasi pemodal, meanjutkan dengan sedikit perubahan setelah 1660. Charles II kembali, dan berpura-pura menjadi raja dengan hak turun-temurun ilahi sejak kepala ayahnya jatuh di perancah di Whitehall. Tapi dia tidak dikembalikan ke posisi lama ayahnya. Pengadilan prerogatif tidak dipulihkan, sehingga Charles tidak memiliki otoritas eksekutif independen … Charles disebut raja karena anugerah Tuhan, tetapi sebenarnya raja karena anugerah pada pedagang…. Para uskup juga pulang bersama raja, tetapi gereja tidak mendapatkan kembali kekuatan independennya yang lama, atau monopolinya dalam pembuatan opini publik. Pengadilan Komisi Tinggi tidak dipulihkan; pengadilan gerejawi yang lebih rendah secara bertahap tidak lagi dapat menegakkan hukuman mereka … Negara dan gereja tidak lagi identik…. Dalam dunia bisnis, monopoli dan kendali kerajaan atas industri dan perdagangan menghilang selamanya. Undang-undang gilda dan magang telah dilanggar selama masa peralihan, dan tidak ada upaya efektif yang dilakukan untuk menghidupkannya kembali. Perdagangan dan industri yang dibebaskan berkembang pesat. Tidak ada jeda dalam kebijakan komersial, kolonial, atau luar negeri pada [pemerintahan hasil] Restorasi. Undang-Undang Navigasi diperbaharui oleh Charles II dan menjadi tulang punggung kebijakan Inggris, cara para pedagang Inggris memonopoli kekayaan koloni. Perusahaan perdagangan ekslusif menurun, kecuali keadaan khusus membuat retensi mereka diperlukan untuk borjuasi (Perusahaan Hinda Timur Belanda). Dominasi penuh dari bunga-bunga uang baru terbentuk setelah revolusi kedua [Revolusi Agung atau Kudeta oleh William III (Pangeran Orange) dari Belanda] pada tahun 1688, dengan berdirinya Bank of England dan National Debt (1694)…. Teknologi [dalam Revolusi Industri 1760-1840] juga sangat diuntungkan oleh pembebasan ilmu-pengetahuan dan oleh dorongan untuk membebaskan pemikiran dan eksperimen yang diberikan oleh revolusi politik abad ke-17. Kebebasan spekulasi intelektual di akhir abad ke-17 dan ke-18 di Inggris sangat memengaruhi gagasan Revolusi Prancis 1789.”
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
