“Tidaklah sulit menjadi seorang revolusioner ketika revolusi telah meletus dan sedang meletup-letup, ketika semua orang ikut revolusi hanya karena terbawa suasana, karena sedang ngetren, bahkan kadang karena motif karir. Jauh lebih sulit—dan jauh lebih berharga—menjadi seorang revolusioner ketika kondisi untuk perjuangan langsung, terbuka, benar-benar massa dan benar-benar revolusioner belum ada.” (V.I. Lenin)
“Dalam produksi sosial keberadaannya, manusia mau tidak mau masuk dalam hubungan-hubungan tertentu, yang terlepas dari kehendak mereka, yaitu hubungan-hubungan produksi yang sesuai dengan tahap tertentu dalam perkembangan tenaga produksi material mereka. Totalitas hubungan produksi ini membentuk struktur ekonomi masyarakat, fondasi nyata, yang di atasnya muncul superstruktur politik dan yang bersesuaian dengan bentuk-bentuk tertentu dari kesadaran sosial. Cara produksi kehidupan material mengkondisikan proses umum kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tetapi keberadaan sosialnya yang menentukan kesadarannya. Pada tahap perkembangan tertentu, kekuatan produktif material masyarakat berkonflik dengan hubungan produksi yang ada … Dari bentuk-bentuk perkembangan tenaga-tenaga produktif hubungan-hubungan ini berubah menjadi belenggu-belenggu mereka. Kemudian dimulailah era revolusi sosial. Perubahan dalam fondasi ekonomi cepat atau lambat mengarah pada transformasi seluruh superstruktur yang sangat besar.” (Karl Marx)
Pertengahan abad ke-16, Negara Rendah tumbuh dengan intensitas perdagangan yang luar biasa. Melalui Sungai Rhine, aneka komoditas ditujukan ke Belanda: Inggris mengirim wol, Jerman mendatangkan anggur, dan negeri-negeri lainnya mengekspor belut dan garam. Di tengah pertumbuhan ekonomi kapitalis bukan saja produksi kapal dan pembukaan pabrik-pabrik baru yang didorong, tapi juga pembangunan jalan, jembatan, pelabuhan, dan bendungan. Semua ini meningkatkan kebutuhan akan tenaga kerja upahan yang ditarik dari desa-desa untuk berpindah ke kota. Tetapi dalam proses pendanaannya para bankir mampu merebut posisi penting: mereka menjerat pejabat-pejabat kekaisaran menggunakan kredit hingga mempengaruhi kebijakan-kebijakan tol dan impor di kota-kota. Dalam kondisi inilah konflik antara pemegang hak istimewa kota dengan Habsburg dan Gereja Katolik membuncah. Perseteruan di tubuh pemerintahan menciptakan spiral ke bawah. Pemerintah berusaha melepaskan cengkeraman bankir dengan menghidupkan keuangannya dari dompet publik, lewat berbagai pembayaran, terutama pajak perang. Tahun 1521-59, Charles V (Dinasti Habsburg Spanyol) berperang melawan Francois I (Dinasti Valois Prancis) dalam memperebutkan Italia. Di bawah sokongan dana dari keluarga Fugger dan Rothschild, perang tidak dilakukan demi menegaskan kebesaran semata tapi terutama mengembangkan kapitalisme secara tidak terelakkan. Jenderal von Clausewitz mengatakan: ‘perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara lain’. Dan, Vladimir Lenin berakata: ‘politik adalah ekonomi yang terkonsentrasi’. Demikianlah perang, politik, dan ekonomi saling berkait. Penguasa-penguasa feodal bukan sekadar mengobarkan peperangan untuk melawan rakyatnya tetapi juga negeri saingannya. Kebijakan-kebijakan yang sudah tidak mampu ditampung dalam negerinya disalurkan ke negeri-negeri lainnya. Hanya dengan ketergantungan terhadap uang, kaisar dan raja justru bertindak sebagai komite untuk mengatur urusan borjuasi. Memang tidak mudah melihat motif ekonomi dalam setiap peperangannya, namun di jantung semua konflik itulah kepentingan kelas begitu kentara: para bankir membiayai peperangan feodal demi menaklukan pasar, tenaga kerja dan bahan mentah.
Di Flandria, selama berlangsungnya Perang Italia, Kekaisaran Habsburg bukan saja menyeret 30.000 petani untuk berdinas militer tapi juga menarik pungutan sebanyak 1,2 juta gulden dari para penjual daging, pemasar buah, pandai besi, tukang sepatu, buruh-buruh tekstil, minuman, percetakan, dan gelanggang perkapalan. Dalam situasi itulah inflasi meroket, Ghent–yang berpopulasi 4.000-5.000 jiwa–dinyatakan sebagai kota yang bankrut dan menolak membayar pajak. Rumah tangga-rumah tangga pekerja dipenuhi kebisingan. Dapur mereka kosong dan perut penghuninya keroncongan. Seluruh harga melambung dan seisi perkotaan panik. Keluarga-keluarga pekerja kelaparan, anak-anak mengangis kencang, ibu-ibu tunggal dan gadis-gadis muda terpaksa terjun di gelanggang pelacuran, dan gerombolan pedagang mengeluh tidak karuan. Dalam ketidakstabilan inilah serikat-serikat kerja yang keanggotannya terdiri dari pedagang, pengrajin, dan pekerja tumbuh dan bertarung. Tanggal 17 Agustus 1539, mereka memberontak melawan Kekaisaran Habsburg dan Gereja Katolik. Buruh pabrik, tukang sepatu pandai besi, dan pemilik-pemilik kapal menentang pembayaran pajak hingga mengklaim hak untuk mengangkat perwakilannya sendiri dan menuntut penangkapan seluruh anggota Dewan Kota yang lama. Di sisinya terdapat pula Calvinis yang terus melancarkan agitasinya, berusaha menyulut protes dan merekrut pengikut dari lingkaran-lingkaran kelas menengah. Di Negara Rendah, mereka diidentifikasi sebagai Huguenot: sebuah kelompok yang diambil dari nama pembuat plakat seruan Ikonoklastik Prancis dan melarikan diri setelah pemberontakannya terhadap Pemerintahan Francois I. Walaupun tidak seradikal Meichiorite dan memiliki visi yang konservatif soal kesetaraan perempuan dan laki-laki, tetapi Calvinis berusaha mengarungi ledakan insureksi untuk menemui massa, menawarkan tuntutan reformasi gereja dan negara, dan meletakkan setiap kehidupan publik dan pribadi di bawah pengaruh agama. Singkatnya, mereka mencoba menawarkan rangkaian penyelesaian atas problem-problem sosial, ekonomi, dan politik yang sedang dihadapi massa.
Sementara di ujung lainnya, arus utama Anabaptisme melemah dan Mennonite tenggelam pada kubangan pasivitas yang memabukkan—mengasingkan diri di bilik-bilik ritualitas dan menolak segala bentuk kekerasan. Pemberontakan-pemberontakan yang gagal sebelumnya dan kebrutalan-kebrutalan negara yang terpancang bersamanya sangat tidak menguntungkan bagi mereka. Aktivitas masa lalunya dan peristiwa-persitiwa sejarah yang membersamainya membebani generasi-generasi setelahnya. Marx menjelaskannya: ‘manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya sesuka hati; mereka tidak menciptakannya dalam keadaan yang dipilih sendiri, tetapi dalam keadaan yang sudah ada, diberikan dan ditransmisikan dari masa lalu. Tradisi semua generasi yang mati membebani otak orang yang hidup seperti mimpi buruk’. Pemimpin-pemimpin Anabaptis terdahulu berusaha melampaui zamannya. Mereka bersikeras melaksanakan program pembangunan masyarakat komunal di tengah kemiskinan material dan pembatasan-pembatasan feodalisme. Mengarungi kondisi-kondisi obyektif yang tidak memungkin, maka bukan saja ide-ide radikalnya yang terkucil tapi juga pemimpin-pemimpin terbaiknya tersingkir secara prematur. Kecerdasan, keberanian, pengorbanan, tekad dan semangat mereka tidak diragukan. Di tengah kondisi kritis, peran yang mereka mainkan begitu besar dalam kepemimpinan. Tetapi hubungan-hubungan sosial di masanya belumlah memberikan dukungan dan mereka tidaklah bisa memaksakan perubahan. Setelah pembantaian Anabaptis di Jerman dan Negara Rendah, gerakannya jatuh dan kehilangan gema revolusionernya. Kebangkitan revolusioner tidak dapat bertahan lama. Massa takkan mampu terus-menerus berada di tengah ketidakstabilan. Pada tahap tertentu, massa—yang bangkit ke gelanggang perjuangan kelas, bergerak secara radikal dan militan—akan kelelahan. Tewasnya talenta-talenta luar biasa Anabaptis mempercepat kemunduran, membawa pada perpecahan dan penyimpangan yang kini diekspresikan Mennonite. Sikap kaum pasifis terhadap realitas sangat abstrak: tidaklah berdasarkan kekuatan dan kepentingan kelas. Daripada mengakui bahwa masyarakatnya diatur oleh perjuangan dari kekuatan-kekuatan yang hidup dan terekspresikan melalui benturan kepentingan-kepentingan kelas-kelas sosial dalam masyarakat; mereka justru memagut moralitas yang berdiri di atas kengerian akan penderitaan, pembunuhan dan kematian, dan memandang kekacauan, ketidakstabilan, hingga peperangan sebagai kegilaan atau kesalahan individu dan bukan berasal dari kontradiksi-kontradiksi masyarakat berkelas.
Mereka memandang kekerasan sebagai akibat dari penyimpangan-penyimpangan personal, bukan sesuatu yang inheren dalam sebuah masyarakat yang di dalamnya minoritas memaksakan kepentingannya terhadap mayoritas dengan menggunakan kekuatan militer, hukum, pengadilan dan penjara. Akhirnya mereka tak mampu membedakan antara kekerasan (atau perang kelas) yang bersifat progresif dengan kekerasan (atau perang agama dan kolonial) yang bersifat reaksioner. Demikianlah mereka memandang kalau kekerasan yang digunakan budak untuk menghancurkan rantai perbudakan sama dengan kekerasan yang digencarkan agresor dalam mempertahan perbudakan tersebut. Maka ketika krisis feodalisme semakin mendalam—yang ditandai dengan meningkatnya kontradiksi, peperangan dan pemberontakan, yang mengarah pada revolusi—gerombolan pasifis justru lari dari perjuangan revolusioner. Sedangkan di Ghent, pemberontakan sedang bergemuruh. Lapisan-lapisan kaum tertindas, terhisap dan miskin terbangun. Seluruh warga kota didorong untuk berkumpul dan mendirikan Komite Sembilan guna memimpin perjuangan. Tanggal 21 Agustus, rakyat bersenjata menangkap anggota-anggota Serikat Jenderal dan membentuk Dewan Luas sebagai forum perwakilan yang terdiri dari para bangsawan, pedagang, pengrajin dan pekerja-pekerja harian. Jalanan dibanjiri oleh rakyat pekerja dan plebeian yang menolak pembayaran pajak dan mendesak Perang Italia dihentikan. Walaupun mereka menuntut perdamaian tetapi bukanlah berarti mood massa yang teradikalisasi adalah pasifis. Diluncurkannya protes, pemberontakan bersenjata, hingga diserangnya Dewan Kota, merupakan upaya yang meskipun tidak disadari tapi menampilkan kecenderungan revolusioner untuk melawan perang feodal dengan perang saudara—perang kelas. Maka keinginan untuk berdamai bukanlah merupakan pasifisme yang reaksioner, melainkan spontanitas yang progresif untuk menentang feodalisme dan kemunafikan kelas penguasa. Hanya di tengah ledakan pemberontakan, Mary—saudara perempuan Charles V—yang ditunjuk sebagai Pemerintah Ghent—meluncurkan penangkapan dan penyiksaan yang begitu rupa. Di Antwerpen dan Brussel, orang-orang asal Ghent dipenjarakan. Dewan Luas lantas berusaha membangun kekuatan. Mereka tidaklah sebatas menyerukan agar kota-kota lain ikut memberontak, tapi juga meminta dukungan Prancis dengan mengirimkan petisi kesetiaan kepada Francois I. Didominasinya perwakilan kota oleh lapisan kelas menengah mengarahkan massa untuk mendukung salah satu pihak dari kedua monarki yang sedang berperang. Kelas proletar yang merupakan minoritas dari populasi tak berdaya menentangnya, apalagi tampil sebagai kekuatan independen yang memimpin perjuangan. Dalam pemberontakan ini proletariat dibatasi oleh periode dan kondisi historis tertentu. Pada sebuah pidato yang disampaikan di Kopenhagen tertanggal 27 November 1932, Leon Trotsky menjelaskan itu:
“…Pemberontakan adalah momen yang paling tajam dan paling kritis dalam pertarungan demi kekuasaan antara dua kelas. Pemberontakan hanya dapat mencapai kemenangan revolusi yang sesungguhnya dan membentuk sebuah tatanan baru bila ia berbasis pada sebuah kelas yang progresif, yang mampu mendapatkan dukungan mayoritas rakyat…. Tapi di dalam revolusi manusia juga bertindak di bawah pengaruh kondisi-kondisi material yang tidak mereka pilih secara bebas, tetapi diturunkan dari masa lalu dan secara imperatif menunjukkan jalan yang harus mereka ikuti…. Tetapi kesadaran manusia tidak begitu saja secara aktif mencerminkan kondisi-kondisi obyektifnya. Kesadaran manusia terbiasa untuk bereaksi secara aktif terhadap kondisi-kondisi obyektif. Pada waktu-waktu tertentu reaksi ini mengambil sebuah karakter massa yang akut dan menggelora…. Tetapi bahkan aktivitas yang paling heboh sekalipun dapat tetap mandeg dalam tahap demonstrasi atau pemberontakan, tanpa muncul ke ketinggian sebuah revolusi. Pemberontakan massa harus menumbangkan dominasi satu kelas dan membentuk dominasi kelas-kelas lainnya. Hanya dengan begitu kita mencapai sebuah revolusi. Kebangkitan massa bukanlah aksi yang terisolasi, yang dapat diserukan sembarang waktu yang diinginkan. Kebangkitan massa merepresentasikan sebuah elemen yang terkondisi-secara-aktif dalam perkembangan masyarakat….”
Hanya proletariat lemah bukan saja soal jumlah, tetapi juga menyangkut antagonismenya dengan kaum burgher (embrio kelas borjuis) yang masih belum terang dan sangat membingungkan. Kelemahan politik inilah yang membuatnya tidak mampu mempertahankan kemandirian kelasnya. Walaupun perdagangan Dunia Baru sudah dibuka, uang mendominasi kehidupan masyarakat, hubungan-hubungan kapitalisme bangkit, dan pembatasan-pembatasan feodalisme dirusak—namun situasi obyektif dan subyektif tidaklah cukup matang untuk meletakkan kekuasaan di tangan proletariat dan memulai transformasi sosialis; kehadiran industri dan keterampilan teknisnya belumlah berlimpah, tiada kepemimpinan revolusioner, dan proletar sebagai sebuah kelas masihlah seumur jagung—sebagian besar terdiri dari petani-petani miskin yang terlempar ke kota-kota, hidup sebagai semi-proletar dan berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan pabrik atau terjerumus menjadi lumpen-proletar. Kemunduran feodalisme memang memberikan dorongan kuat pada produksi dan pertukaran komoditas: meningkatkan pembagian kerja antara industri kerajinan di kota-kota dan pertanian di desa-desa yang merupakan konsumen segala jenis barang. Hanya di tengah ketidakberdayaan produksi kekayaan material dan pembatasan-pembatasan feodal, produsen kecil perkotaan dan pedesaan menjadi tulang punggung produksi yang secara sosial mengikat buruh-buruh upahan dalam relasi-relasi pergildaan (komunitas urban imajiner), aneka bentuk pelayanan dan doktrin-doktrin keagamaan non-ortodoks. Karl Marx berucap: ‘tidak ada formasi sosial yang akan sepenuhnya hancur sebelum semua tenaga produksi yang mencukupi untuknya telah dikembangkan, dan relasi-relasi produksi baru yang superior tidak pernah menggantikan relasi-relasi yang lebih tua sebelum kondisi-kondisi material untuk keberadaan mereka telah matang di dalam kerangka masyarakat lama’. Dalam ketidakmatangan inilah peristiwa-peristiwa besar meledak untuk mempercepat pematangannya.
Di akhir Abad Pertengahan, pertarungan antara kapitalisme dan feodalisme membuncah di jantung sosial yang ada. Perjuangannya begitu kompleks sehingga tidak jelas batas antara masyarakat baru dan masyarakat lama. Marx menjelaskannya: ‘seperti halnya dengan epos-epos geologi, epos-epos dalam sejarah masyarakat tidaklah dipisahkan antara satu sama lainnya oleh garis-garis demarkasi yang kaku dan abstrak’. Semuanya berkait dan konkret. Perjuangan kelas merupakan penggeraknya. Marx berkata: ‘kekuatan adalah bidan dari setiap masyarakat lama yang mengandung yang baru’. Sementara saat menghadapi periode yang dramatis dan eksplosif—dengan ketidakstabilan yang semakin akut dan serangan-serangan feodal yang bertambah tajam—kepemimpinan massa diuji oleh peristiwa. Tetapi pimpinan-pimpinan kelas menengah tidak mampu melewatinya. Daripada melawan semua kubu monarki; mereka justru meminta perlindungan dari pihak yang berperang dengan musuhnya. Mereka menganggap kalau lawan dari musuhnya dapat dijadikan sekutu. Akhirnya para pemimpin kelas menengah dari Komite Sembilan dan Dewan Luas menyeberang ke arah reaksi: mood revolusioner massa disalurkannya untuk menyatakan keberpihakan terhadap Francois I. Namun Raja Prancis menolaknya. Meskipun Habsburg dan Valois bersaing di antara sesamanya, tetapi kepentingan keduanya serupa: mengobarkan perang permanen untuk membangun kekuasaan absulot yang kuat dan mempertahankan feodalisme yang sedang runtuh. Kepentingannya diperjuangkan dengan meningkatkan pajak perang kepada penduduk kota dan memastikan setiap gerakan massa melemah. Demikianlah ketika Ghent menentang pembayaran pajak dan meluncurkan pertempuran terbuka, maka Perang Italia segera dihentikan melalui gencatan senjata. Kedua penguasa yang berperang kini berdamai untuk sementara waktu. Tujuan perdamaiannya sejalan dengan motif peperangannya. Inilah mengapa perang dan perdamaian tidak bisa direduksi menjadi pertanyaan tentang pihak mana yang memulai dan mengakhirinya, tetapi lagi-lagi harus dilihat berdasarkan kepentingan kelas yang berdiri di belakangnya.
Trotsky berucap: ‘kebijakan luar negeri adalah perpanjangan dari kebijakan dalam negeri’. Di penghujung Abad Pertengahan, pemerintahan-pemerintahan yang ada telah tunduk sepenuhnya di bawah kemahakuasaan kapital. Selama masa-masa damai, kebijakan-kebijakan dalam negeri mereka tidak pernah beringsut dari kepentingan mendulang kakayaan, hak istimewa, dan aneka prestise. Kepentingan-kepentingan itu dipaksakan kepada massa melalui badan orang-orang bersenjata. Maka selama masa damai sekalipun, kekerasan minoritas penguasa tetaplah merajalela. Namun saat feodalisme berada di jalan buntu, kekerasannya diperluas ke negeri-negeri lainnya. Hanya ketika massa memberontak, para penguasa yang berperang sekelebat berdamai. Pada 12 Desember 1539, mereka membuat kesepakatan di Loches—Charles V menyatakan siap memberikan Milan kepada Francois I dan kedua dinasti akhirnya saling-membantu. Penguasa Valois membuka jalan bagi pasukan Spanyol untuk menuju Flandria. Tanggal 14 Februari 1540, Kaisar Habsburg tiba di Ghent dengan 5.000 prajurit bangsawan dan beribu-ribu tentara bayaran yang didatangkan dari seluruh Belanda dan Jerman. Kota tekstil akhirnya terkepung. Segala akses komunikasi, transportasi, dan makanan terhalang. Delapan gerbang pertahanan kota dihancurkan hingga Biara Saint Bravo—yang menjadi tempat persembunyian gerakan keagamaan non-ortodoks—dirobohkan dan diganti dengan pendirian benteng: Kastil Spanyol. Anggota-anggota serikat perkebunan, perusahaan, dan pengrajin diburu dan dituduh bid’ah. Barisan perempuan yang mencoba melawan distigma sebagai wanita jalang dan penyihir. Dalam waktu tiga hari para pemberontak dilucuti dengan aneka kekerasan. Ribuan orang disiksa dan ratusan ditangkap serta ditahan. Pada 29 April, Kaisar Habsburg mengeluarkan Ketetapan Caroline yang meletakkan segala kesalahan ke tangan penduduk Ghent. Hak istimewa kota untuk berserikat dicabut dan seluruh penduduknya didenda untuk membayar 8.000 gulden kepada kaisar. Tepat 3 Mei, hukuman dijatuhkan: sekitar 500 warga dihina dengan mendorongnya berjalan telanjang kaki, dipakaikan jubah hitam dan putih, diseret menggunakan tali penjerat di lehernya, dipaksa memohon belas kasihan kaisar, dan 25 pemimpinnya dieksekusi secara mengerikan.
Setelah pemberontakan dipadamkan, Habsburg Spanyol kembali melanjutkan peperangannya dengan Valois Prancis. Selama 1494-59, peperangan mereka mencapai masing-masing 11 kali pertempuran dan gencatan senjata. Di sisi lain, Kekaisaran Habsburg juga berperang melawan Kesultanan Utsmaniyah dalam memperebutkan Venesia dan menguasai Mediterania. Di tengah perang-perang inilah sentralisasi kekuasaan Charles V meningkat. Sepanjang 1540-an, segera setelah kebrutalannya di Ghent, Habsburg menguatkan kekaisarannya dengan penaklukan dan perkawinan di Belanda. Pada 1546-47, kaisar melancarkan Perang Schmalkaldic untuk membasmi semua pangeran Katolik yang telah memeluk Lutheranisme, membentuk Liga Schmalkaldic, dan berdalihkan keyakinan barunya berusaha merampas tanah-tanah yang dikuasai Gereja Katolik Romawi. Tahun 1548, Charles V berhasil menguasai 17 Provinsi Belanda dan memusatkan pemerintahannya di Brussel, Belgia. Di pusat administrasi ini para pendeta, bangsawan, dan warga-warga kota ditunjuk sebagai pembantunya. Mereka diangkat menjadi stadtholder-stadtholder berpengaruh. Memanfaatkan pertumbuhan perdagangan dan kota-kota tekstil di Antwerpen, seabrek bangsawan tinggi bersekutu dengan para pengrajin dan pedagang kaya dalam menumpuk harta dan hak-hak istimewanya. Sementara kaisar terus-menerus melancarkan perang asing dan meningkatkan kemandiriannya dari pemerintah-pemerintah lokal dengan menguatkan gereja-gerejanya dan memperbesar penggunaan tentara bayaran yang dibiayai dari pajak-pajak perkotaan. Dalam kondisi inilah kontradiksi berlangsung begitu rupa: dibangunnya kekuasaan terpusat di kota-kota industri berhadap-hadapan dengan hubungan-hubungan feodal yang masih dipertahankan di atasnya. Demikianlah konflik dinasti bukan saja tidak dapat terhindarkan tapi juga bertambah tegang. Di jantung kekuasaan, gerombolan stadtholder dan burgher tumbuh menjadi kelas yang relatif mandiri dan kepentingannya berlawanan dengan kekaisaran. Mereka ingin mendapatkan kebebasan yang lebih besar dan bersedia berkompromi dengan reformator-reformator Protestan (Lutheran dan Calvinis) demi memupuk kekayaan pribadi, tetapi kaisar bersikeras membatasinya melalui manuver-manuver politik yang mencekik dan kejam.
Tanggal 29 April 1550, Charles V mengeluarkan Dekrit Darah untuk menghukum mati setiap orang yang melakukan, melindungi, atau berhubungan dengan pelaku bid’ah. Ortodoksi Gereja Katolik menempatkan dekrit ini sebagai landasan Undang-Undang Anti-Bid’ah. Sekte-sekte keagamaan non-ortodoks diperangi dan diburu dengan mengerahkan badan orang-orang bersenjata. Mennonite yang pasifis juga termasuk dalam daftar gerakan yang harus ditumpas. Lutheran melindungi keberadaannya melalui Liga Schmalkaldic yang membentuk pasukan pangeran-pangeran Lutheran dengan kekuatan 10.000 infanteri dan 2.000 kavaleri. Di Jerman dan Negara-Negara Rendah, Liga mengakomodasi dan memberikan pengaman terhadap setiap individu dan kota-kota yang menjadi penganut atau ingin memeluk Lutheranisme. Sementara Calvinis bergerak di bawah tanah dan terus membangun kekuatannya di sekitar para pengrajin, pedagang, pekerja, dan bangsawan-bangsawan oposisi. Walaupun gerakan-gerakan perlawanan terus-menerus dilemahkan begitu rupa, tetapi di tengah situasi dunia yang bergejolak maka keseimbangan kekuatan lokal di Belanda berubah. September 1555 di Mediterania, penguasa Ottoman merebut Bougie dari tangan Habsburg. Pasukan-pasukan Spanyol dikalahkan, 600 budak jatuh ke tangan Kesultanan Utsmaniyah, dan perkotaan Bougie sepenuhnya diduduki tentara-tentara Turki yang bersiap-siap menggempur benteng-benteng Romawi lainnya. Mendera kekalahan dan ancaman inilah Charles V berusaha menguatkan posisinya dengan manuver politik luar biasa—melaksanakan Perdamaian Augsburg: mengakhiri permusuhan dengan Liga Schmalkaldic, menetapkan Protestan sebagai salah satu agama resmi tapi tetap menolak mengakui Anabaptis dan Calvinis, dan terutama meminta bantuan dari pangeran-pengeran Lutheran untuk mendukung Habsburg dalam perang melawan Utsmaniyah.
Setelah Perdamaian Augsburg ditorehkan maka Reformasi Protestan mulai berkembang secara eksplosif di wilayah Kekaisaran Habsburg, namun dengan pembatasan ekstrem terhadap sekte-sekte yang lebih radikal. Di Negara Rendah, pengakuan terhadap Protestan-Lutheran segera membagi Belanda menjadi dua negara bagian yang terpisah: Belanda Selatan (Artois, Hainaut, Walloon, dan Flandria) dan Belanda Utara (Belanda, Utrecht, Zeeland, Gueldre, Frise, Overijssel, dan Groningen). Di Utara, Protestanisme tumbuh sebagai ajaran legal di gereja-gereja reformator. Di Selatan, Katolikisme terus-menerus ditegakkan dengan pedang dan gerakan-gerakan Reformasi diperangi secara brutal. Di tengah masyarakat berkelas, perang adalah damai dan damai adalah perang. Sebab, baik perang maupun damai, tetaplah kepentingan kelas penguasa yang diutamakan. Hanya peperangan yang berlarut-larut memproklamasikan kejatuhan sistem ekonomi feodal secara mengenaskan. Perang mungkin dapat mengalihkan perhatian publik dari onggokan persoalan di dalam negeri, tapi tidak akan pernah lama bertahan. Di tengah gemuruh pertempuran, pengepungan dan penghancuran, pendudukan negeri-negeri asing, pemakaian dan pengeluaran militer—bisnis, pencatutan dan spekulasi menjulang: para pedagang tidak saja menjadikannya ladang subur dalam memasok senjata dengan harga yang mahal, sepatu bot bocor dan makanan jelek; tetapi juga menjerat negeri yang berperang dalam kubangan hutang-piutang. Lewat perang-perang itulah kapitalisme menguatkan cengkeramannya dan melumpuhkan pemerintahan aristokrat: sepanjang 1516-1556 saja, hutang Habsburg kepada para bankir meningkat tajam—dari 20.000 menjadi 7.000.000 livre (koin perak). Produksi dan pertukaran komoditas yang semakin besar dan meledak-ledak selama peperangan inilah yang meningkatkan kebutuhan akan uang perak sebagai alat sirkulasi dan pembayaran. Hanya dalam membayar hutangnya, kaisar terus mengandalkan perang-perang asingnya guna menyediakan sebanyak mungkin pasokan budak dan memastikan mengalirnya emas dan perak-perak dari Dunia Baru ke negerinya. Tetapi perang yang dijadikan sebagai satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan feodalisme justru mempercepat penyingkirannya. Kekayaan yang ditumpuk di bilik-bilik Inkuisisi dan digunakan untuk pembangunan kuil dan pemborosan pejabat-pejabat istana mengakibatkan inflasi yang merajalela.
Semua kekuatan historis yang semula bertugas membimbing feodalisme kini menyatakan dirinya dalam kebangrutan. Upaya mahkota dan geraja untuk melindungi tatanan feodal berujung malapetaka. Di tengah masyarakat feodal yang sedang sekarat inilah bentrokan kekuatan-kekuatan sosial memainkan peran revolusioner di panggung sejarah: perang dan pemberontakan menggerogoti feodalisme: hak-hak istimewa feodal dilemahkan, kota-kota yang terpencar-pencar disatukan, hingga sebuah perekonomian nasional dengan aturan dan bahasa bersama tumbuh di atasnya. Berdasarkan Perjanjian Augsburg, pengkhotbah-pengkhotbah Reformasi Protestan Lutheran mendapatkan jaminan tampil di hadapan publik; sedangkan Anapabtis dan Calvinis semakin ditekan. Arus utama Anapabtis yang kecil dan lemah—terutama Mennonite yang menghindari perjuangan massa—terlempar ke belakang. Sementara Calvinis yang baru bangkit—dan mendapat dukungan kelas menengah dan lapisan-lapisan pekerja—membangun gerakan di bawah tanah dan berusaha menebar pengaruh. Di kalangan ibu-ibu dan gadis-gadis muda mereka meraih dukungan besar. Walaupun Calvinisme tidak mempunyai program emansipasi perempuan tapi perempuan-perempuan miskin dan tertindas melihat ajarannya mengenai kebebasan beragama dapat membantu mereka menghadapi serangan-serangan Kekaisaran Habsburg dan Gereja Katolik Romawi yang sekarang beraliansi dengan Protestan dalam melancarkan peperangan. Apalagi perempuan menjadi tumbal utama dari setiap peperangan yang kelas penguasa kobarkan: ibu-ibu dan gadis-gadis muda dari keluarga pekerja tidak saja dituduh melakukan bid’ah, tetapi juga dimangsa melalui perburuan-perburuan penyihir. Dalam “Penyihir dan Perjuangan Kelas”, Silvia Federici menulis:
“[Sihir] menjadi penghalang rasionalisasi proses kerja … Di atas segalanya, sihir tampak sebagai bentuk penolakan kerja, pembangkangan, dan alat perlawanan akar rumput terhadap kekuasaan…. Pada periode ketika hubungan feodal digantikan oleh institusi ekonomi dan politik yang khas dari kapitalisme dagang. Di ‘Abad Besi’ yang panjang inilah, hampir semua kesepakatan diam-diam, di negara-negara yang sering berperang satu sama lain, taruhannya berlipat ganda, dan negara mulai mencela keberadaan penyihir dan mengambil inisiatif penganiayaan … sebagai senjata yang dengannya perlawanan terhadap restrukurisasi sosial dan ekonomi dapat dikalahkan…. Sifat politik dari perburuan penyihir lebih lanjut ditunjukkan oleh fakta bahwa baik negara Katolik maupun Protestan … bergandengan tangan menggunakan berbagai argumen untuk menganiaya para penyihir … dengan segala konsekuensinya (perampasan tanah, pendalaman kesenjangan sosial, putusnya hubungan kolektif) merupakan faktor penentu di balik perburuan penyihir, juga dibuktikan oleh fakta bahwa mayoritas dari mereka yang dituduh adalah perempuan tani miskin—cottar, buruh upahan—sementara orang-orang yang menuduh mereka adalah anggota masyarakat yang kaya dan bergengsi, sering kali majikan atau tuan tanah mereka, yaitu individu yang merupakan bagian dari struktur kekuasaan lokal dan sering memiliki hubungan dekat dengan pemerintah pusat.”
Di tengah kecamuk perang-perang asing, perburuan penyihir menjalar dan menerkam perempuan-perempuan pekerja secara membabi-buta. Tetapi kecenderungan revolusioner massa bertambah kuat dan berusaha menemukan saluran kepemimpinan yang dianggap mewakili kepentingannya. Perempuan dan laki-laki yang teradikalisasi oleh peristiwa tidak bisa menunggu sampai adanya pemimpin atau partai yang tepat untuk memandu perjuangannya. Pada pertengahan abad ke-16, gerakan Anabaptisme mengalami penurunan drastis dan Lutheranisme sudah terang-terangan melayani kepentingan kelas penguasa—dalam kondisi inilah Calvinis terdorong mengisi kekosongan kepemimpinan massa. Pada pertemuan dan ceramah-ceramah reformator Protestan, mereka tidak gentar melakukan penyusupan dan berusaha merebut pengaruh. Sepanjang 1555-1560, Calvinis bergerak sembunyi-sembunyi mengumpulkan pengikutnya di seluruh Negara Rendah. Pelbagai tulisan perlawanan dicetak dan disebarkan. Kampanye-kampanye keagaman dilancarkan. Setiap minggunya tempat-tempat peribadatan di Antwerpen didatangi untuk menyampaikan khotbah-khotbahnya. Satu-per-satu jemaat Katolik dan Protestan dimenangkan ke sisinya. Di bawah pengaruh Calvinisme, mereka mengejek uskup dan perjamuan kudus. Para pelaksana ritual hosti dianggap sebagai tukang roti dan bilik-bilik ibadah ortodoks diasosiasikan serupa toko penjual rahmat. Integritas Kekaisaran Habsburg dan Gereja Katolik Romawi merosot tajam. Kekuasaan yang dirajut dengan dalih-dalih keagamaan diprotes kencang. Sementara usia Charles V telah uzur dan kurang sigap bereaksi. Oktober 1555, Philip II dinobatkan sebagai penggantinya. Penguasa yang baru segera memasang bangsawan-bangsawan pilihannya untuk membantunya memerintah: Margaret van Parma ditunjuk menjadi Landvoogdes (Gubernur 17 Provinsi); Antonie Perrent de Granvelle dinobatkan jadi Uskup Agung Negara Rendah; William the Shilent (Pangeran Orange) diangkat sebagai stadtholder di Belanda, Zeeland, dan Utrecht; Lamoraal (Pangeran Egmont) dijadikan stadtholder di Flandria dan Artois; Philip de Montmorency (Pangeran Horn) dijadikan stadtholder di Gelderland dan Zutphen; dan Philip de Noircarmes (Pangeran Lalaing) diberikan posisi stadtholder di Hainaut.
Susunan itu merupakan bagian dari reformasi untuk meningkatkan sentralisasi dengan mendorong pertumbuhan orang-orang terpelajar yang akan diangkat menjadi bangsawan dan membentuk birokrasi profesional dan melindungi Gereja Katolik dari tekanan-tekanan lokal dengan memblokir pengangkatan putra-putra bangsawan yang lebih muda ke posisi klerikal yang lebih tinggi serta menutup jenjang karir keagamaan. Reformasi birokrasi segera mempolarisasi Dewan Negara. Lalaing—selaku keluarga bangsawan yang royal—berada di pihak Granvelle, Margaret, dan Philip II; sedangkan Orange, Egmont, dan Horn—yang melihat reformasi membatasi pengorbitan keturunan mereka dan mengurangi keleluasaannya dalam merampok properti-properti gereja—membentuk oposisi terpusat. Kelompok opositor lebih-lebih tidak terima menyaksikan orang-orang terpelajar menikmati gelar tinggi, seragam yang mencolok, fasilitas resmi dan jarahan yang banyak. Mereka lantas mengkritik Granvelle atas posisinya sebagai Kepala Inkuisisi yang menguasai seluruh gereja di Negara Rendah. Di tengah konflik inilah para oposan memanfaatkan segala cara untuk menyerang dan menjatuhkan Granvelle, termasuk dengan mendorong dan membela kebangkitan Calvinisme. Oposisi mengerti kalau serangan-serangan Calvinis terhadap Inkuisisi dapat membantu mereka dalam melancarkan kepentingannya. Tetapi Philip II berusaha menegakkan ketertiban dengan mempertajam penerapan Dekrit Darah. Pada 1556, para pekerja, pengrajin, pedagang, bahkan bangsawan sekalipun, baik yang menjadi bagian dari sekte-sekte keagamaan ortodoks maupun tidak, dikenai larangan mengembangkan, membuat, atau menyebarkan tulisan-tulisan yang mencela kaisar, gereja dan orang-orang suci. Mereka juga dilarang melaksanakan pertemuan-pertemuan ibadah, apalagi menjadikan rumahnya sebagai biara, atau memperdebatkan dan menafsirkan Alkitab.
Setiap yang melanggarnya dianggap sebagai pengganggu ketertiban umum dan dijatuhi sanksi: seluruh properti dan bentuk-bentuk kepemilikannya dirampas, sementara dirinya dihukum mati—laki-laki ditusuki pedang dan perempuan dikubur hidup-hidup; dan jika mereka tidak langsung tewas, selanjutnya harus dibakar. Guna memperkuat pembasmian bid’ah dan penyihir, Phillip II memaksa setiap penduduk bekerjasama: melaporkan atau menyerahkan orang-orang yang dicari kaisar kepada uskup, hakim, dan pejabat-pejabat lainnya. Bila warga menolak membantunya maka hukumanlah yang dijatuhkan; tetapi jika warga memberikan bantuannya maka sebagian harta dari para korban kekuasaan menjadi miliknya. Demikianlah aturan ditegakkan bukan sekadar menebarkan ketakutan, melainkan pula mendorong perpecahan. Menghadapi ancaman hukuman dan janji imbalan; orang-orang nekad mengkhianati tetangganya tidaklah sebatas dengan motif keamanan diri dan keluarganya, tapi terutama mengejar harta yang telah dijanjikan kekaisaran. Sepanjang 1556-1559, merupakan tahun-tahun yang sulit bagi lapisan-lapisan pekerja di Negara Rendah. Urbanisasi yang meningkat bukanlah sebatas meledakkan populasi perkotaan, namun lebih jauh: menimbulkan onggokan sampah, persoalan sanitasi, dan ledakan wabah. Di sisi lain, peperangan yang terus berkecamuk bukan saja memperdalam pajak perang, melainkan pula menurunkan hasil panen, meningkatkan harga pangan, dan membatasi akses gandum bagi seluruh rumah-tangga pekerja. Di tengah situasi inilah kemiskinan menjadi umum, dan oleh karena itu, seperti yang dikatakan Marx: ‘maka perjuangan untuk kebutuhan hidup akan dimulai’. Persaingan untuk mempertahankan hidup semakin tajam dan berbahaya. Bosch melukiskannya dalam “The Haywain” dan Aland Woods menerangkannya melalui “Hieronymus Bosch dan Seni Penderitaan Matinya Feodalisme”:
“Bosch menjelaskan dunia yang diatur oleh keserahan dan kekerasan: di sini seluruh umat manusia mengejar Haywain. Gerobak jerami yang dimuat seperti yang digambarkan dalam lukisan Bosch, menjadi pemandangan yang akrab bagi orang-orang di abad ke-15 [dan ke-16], sebagai simbol makanan yang disimpan untuk musim dingin dan kemakmuran. Tapi di sini jerami melambangkan kekuatan kekayaan dan uang…. Latar depan lukisan itu kacau. Setiap orang berjuang untuk mendapatkan sedikit ‘jerami’. Di latar depan, seorang pria memotong leher pria lain untuk medapatkan emasnya. Orang-orang siap membunuh atau ditabrak gerobak demi uang. Perempuan menawarkan tubuh mereka untuk itu. Hakim menjual kehormatan mereka untuk itu. Di sebelah kanan, gerobak ditarik oleh bermacam-macam rupa iblis aneh dari dunia bawah. Salah satu makhluk ini adalah kombinasi antara manusia dengan ikan; yang lain setengah burung, dan yang ketiga adalah pria berkerudung dengan dahan tumbuh di punggungnya. Di dekatnya, orang terlihat mengalir keluar dari pintu kayu di gundukan tanah. Haywain sendiri ditemani oleh laki-laki dan perempuan yang mencoba mengambil segenggam jerami untuk kepentingan seorang biarawan gemuk, yang digambarkan dengan tenang meminum anggur sacramental saat dia mengawasi penjarahan kawanannya. Implikasinya bukan hanya gereja menipu orang-orang, tetapi juga mengisyaratkan hubungan seksual terlarang antara biarawati dan biarawan. Ini adalah pandangan yang dipegang secara universal pada saat itu—dan bukan tanpa alasan yang kuat. Ada banyak skandal yang dikaitkan dengan gereja; yang setia merasa diri mereka ditinggalkan. Gereja adalah pemilik tanah terbesar pada masa itu. Biarawan dan pendeta, meskipun bersumpah untuk amal dan kemiskinan, lebih memperhatikan kenyamanan materi mereka sendiri daripada menjalani kehidupan yang saleh…. Satu-satunya sosok dalam gambar yang tampak keren dan ekslusif adalah orang-orang kaya di bumi: di sebelah kiri, seorang kaisar, raja, dan paus naik di belakang gerobak pada jarak yang terhormat, secara tidak wajar memberikan pengawalan untuk gerobak yang memuat jerami. Namun sikap acuh-tak-acuh mereka menipu. Satu-satunya alasan mereka tidak mengejar gerobak adalah karena mereka sudah memiliki lebih dari cukup ‘jerami’—tetapi sebenarnya mereka juga adalah budaknya [Haywain] yang setia dan patuh, dan juga bergerak tidak terelakkan menuju Hari Penghakiman.”
Meskipun kebijakan-kebijakan darah terus menghambat dan pengkhianatan-pengkhianatan beronggok sebagai tantangan, tetapi gejolak situasi mendorong Calvinis untuk bergerak dan memercikkan api perlawanan. Dalam skala dunia ancaman-ancaman Utsmaniyah dan perang-perang asing telah memaksa Habsburg meningkatkan terornya di Negara-Negara Rendah untuk menjaga kestabilan dan membangun kekuatan. Demikianlah perimbangan kekuatan kelas berubah hingga pendulum terus-menerus berayun ke kiri: intesifikasi penggunaan teror menjadi cambuk yang secara pasti mengantarkan ke gerbang revolusi, di mana kecenderungan yang lebih radikal secara konstan menggantikan sayap-sayap gerakan moderat, dan setiap tahap perkembangnnya didorong oleh massa. Dibandingkan dengan arus utama Anabaptis yang terdegradasi, Mennonite yang pasifis, dan Lutheran yang berkompromi; lapisan-lapisan pekerja tereksploitasi—yang mayoritasnya adalah laki-laki dan perempuan miskin perkotaaan—melihat Calvinis sebagai pergerakan yang mampu memberikannya kepemimpinan dalam melawan kekuasaan mahkota dan gereja. Pada 1560, Calvinis mulai menggencarkan khotbah-khotbah di wilayah-wilayah di luar yuridiksi kehakiman kota. Di ladang-ladang pedesaan di Westkwartier dan Walloon Selatan, Calvinis bahkan menggelar demonstrasi-demonstrasi yang menuntut diakhirinya Inkuisisi serta dibebaskannya semua anggotanya yang telah ditangkap dan dipenjara. Hakim-hakim kota tidak mampu memadamkan protes mereka. Memasuki 1562, ceramah-ceramah di ladang berkembangan menjadi khotbah jalanan yang mendapatkan dukungan luas di pusat-pusat kota, industri, pertanian, dan pasar-pasar sekitarnya.
Perang Tujuh Tahun Nordik (1563-1570)—antara penguasa Swedia melawan Koalisi Denmark-Norwegia, Lubeck, dan Polandia—yang merusak Jalur Suara dan menghambat impor biji-bijian dari Baltik ke Negara-Negara Rendah—juga mempengaruhi keseimbangan kekuatan sosial di lokal-lokal Kekaisaran Habsburg dan Gereja Katolik Romawi. Tahun 1565-66, peperangan-demi-peperangan, gangguan perdagangan dan gagal panen yang meluas menciptakan ‘Musim Kelaparan’ yang melanda seluruh Eropa hingga perbatasan Rusia. Perang mempercepat proses revolusioner: memanaskan atmosfer sosial, membakar penderitaan kaum terhisap dan tertindas, dan menyingkapkan secara telanjang semua kontradiksi yang telah bertumpuk-tumpukan dalam masyarakat berkelas. Sekarang lautan sosial mendidih dan korelasi kekuatan berubah secepat kilat. Di titik inilah orang-orang semakin terbuka dan menerima agitasi-propaganda Calvinisme. Semua penderitaan kaum buruh dan plebeian dijelaskan sebagai ulah mahkota dan gereja. Massa sepakat dengan itu, terutama kelas menengah yang berkeinginan meningkat kekayaan dan status sosialnya. Demikianlah elit-elit pedagang menutup semua tokonya dan mendukung para penceramah. Di lapangan-lapangan terbuka, mereka tidak saja datang mendengarkan khotbah melainkan pula menawarkan sejumlah bantuannya. Di antara kerumunan, Herman Moded—selaku sarjana keagamaan sekaligus pengkhotbah Calvinis—tampil sebagai pemimpin yang tidak berkeberatan untuk melayani kepentingan pedagang kaya. Sementara di istana, seabrek stadtholder menunjukkan simpatinya. Walaupun Orange, Egmont, dan Horn tidak berniat membebaskan Negara Rendah dari Kekaisaran Habsburg, tetapi mereka mengerti kalau kebangkitan massa berguna untuk menekan Pemerintahan Philip II dan menyingkirkan Kardinal Granvelle.
Demikianlah mereka membiarkan begitu saja segala bentuk khotbah lapangan. Meskipun Dekrit Darah menjadi landasan ampuh untuk merintangi dan menghancurkan massa, tetapi kelompok oposisi mengabaikan penegakannya. Pengabaian ini bukanlah merupakan simpati yang tulus terhadap massa, melainkan mencerminkan oportunisme untuk mengejar kepentingan kelompoknya. Maret 1564, seluruh Den Haag dilanda kekalutan. Tekanan akar rumput mempertajam perpecahan di tubuh kekuasaan. Di tengah kebangkitan massa, gerombolan bangsawan tinggi semakin berani menyerang saingannya. Mereka berusaha menunggangi gelombang kemarahan massa. Di antara pemimpin-pemimpin oposisi terpusat di Dewan Negara, William the Sillent tampil sebagai juru bicaranya. Julukan “The Silent” bukanlah karena dirinya tidak pandai bicara, tetapi berdasarkan sikapnya yang konformis, birokratik, licik, suka berburu harta dan mementingkan diri sendiri. Semua karakter dan kepribadian ini dapat dilihat dari rekam jejaknya. William lahir dari pasangan Bangsawan Tinggi Jerman yang memeluk Lutheranisme: William I van Nassau-Siegen dan Juliana van Stolber. Sejak kecil dirinya dibesarkan di lingkungan istana dan hidup bergelimang kekayaan. Sepupu pertamanya Rene van Chalon, pemilik gelar Pangeran Orange, mewariskan gelarnya dan seluruh tanah-tanah luasnya di Jerman dan di Negara Rendah untuk William si Pendiam dengan syarat menempuh pendidikan Katolik. Orangtua William setuju dan segera mempersiapkan anaknya menjadi Pangeran Katolik yang taat. Saat dewasa dia dikirim ke Belanda dan dinikahkan oleh Charles V dengan putri dari keluarga bangsawan yang penting: Anna van Egmont (pewaris sah Maximiliam van Egmont). Setelah diangkat sebagai kapten kavaleri, menjadi pangeran favoritas kaisar, dan ditunjuk sebagai stadtholder; William melangsungkan petualangan seksual dan pernikahan guna memperluas pengaruhnya: dimulai dari menjalin hubungan gelap dengan Eva Elinx (Putri Walikota Emmerik), hingga secara terang-terangan dan berurutan menikahi Arondeux (Sekretaris Hulst van Zeeland), Anna van Sachsen (Putri Philip I van Hesse), Charlotte de Bourbon-Monpensier (Putri Louis III de Bourbon dan mantan biarawati pembangkang yang menganut Calvinisme), dan Louise de Coligny (putri dari keluarga bangsawan yang memimpin Huguenot Prancis).
Begitulah William si Pendiam: berpenampilan seperti bunglon, tidak berprinsip, munafik dan licin. Di hadapan massa, dia tak sekadar tampil sebagai penganut Katolik tapi juga Calvinis, Lutheran, dan menjadi pengajur perdamaian dengan manangguhkan penganiayaan terhadap orang-orang Protestan. Di muka mahkota, ditekankannya kalau semua protes dan keributan tidaklah ditujukan kepada Philip II melainkan pimpinan keuskupan. Pangeran Orange lebih lanjut meyakinkan Egmont dan Horn untuk bersama-sama menolak pemungutan pajak dan mengancam mengundurkan diri jika Kardinal Granvelle tidak segera diganti. Tanggal 13 Maret 1564, manuver opositor berhasil menekan Philip II untuk mencopot jabatan Granvelle. Dia ditarik kembali ke Spanyol, Inkuisisi ditinggalkan tanpa pimpinan, dan tekanan-tekanan terhadap massa melemah. Reformasi dari atas selanjutnya membuka jalan menuju revolusi dari bawah. Khotbah-khotbah lapangan meningkat dan kepercayaan diri massa bertambah. Kepergian Granvelle membuat pengkhotbah-pengkhotbah Calvinis bergerak lebih leluasa, karena hakim-hakim lokal yang bertugas menghunuskan pedang kehilangan kepemimpinannya. Meskipun Kepala Inkuisisi sudah disingkirkan, tetapi massa yang teradikalisasi menuntut lebih: peningkatan kebebasan individu—baik untuk berdagang, berserikat, bekerja, dan memilih perwakilan—yang dipoles dalam tuntutan akan kebebasan beragama. Slogan dan tuntutan mengenai kebebasan individu atau kebebasan beragama menyatukan semua yang sehat dan maju dalam masyarakat untuk melawan mahkota dan gereja. Tujuannya adalah mengganti hak-hak istimewa absolutisme dengan aturan yang menjamin toleransi beragama secara nasional. Gerakannya menyapu partikularisme masa lalu dan membuka jalan bagi perkembangan parekonomian nasional. Tekanan-tekanan ini semakin kuat hingga Willian makin bernyali. Pada 31 Desember di Dewan Negara, Pangeran Orange menyampaikan pidato yang menentang Philip II dan mendukung toleransi beragama. Selama 1565, pasukan-pasukan hakim lokal mencoba merintangi khotbah-khotbah lapangan tapi tiada berhasil memadamkan jerami yang sedang terbakar. Meskipun banyak yang tertangkap tapi khotbah-khotbah meningkat; setiap reaksi bukan malah ditakuti melainkan membangkitkan amarah dan mengundang kerumunan yang lebih besar.
Margaret van Parma berusaha menciptakan kestabilan. Dia meminta para stadtholder menegakkan ketertiban. Tetapi para bangsawan tinggi tidak punya kendali atas massa. Mereka bukan pemimpin gerakan, melainkan hanya sebatas oposan yang terseret ke kiri oleh kuatnya arus dari bawah. Keadaan semakin panas dan mencekam. Akar rumput tidak mampu dikendalikan. Tekanan-tekanannya ke atas bahkan memecahkan kelompok oposisi. Pangeran Lamoraal, sekarang membangun kekuatan bersama bangsawan-bangsawan rendahan dan bertolak ke Spanyol dalam menemui Philip II dan memohon ditangguhkannya peraturan bid’ah. Permohonan bukan saja gagal tapi justru dibalas oleh kaisar dengan mengonsolidasikan kekuasaannya secara kasar. Oktober 1565, semua pangeran yang menjadi stadtholder didepak keluar dari Dewan Negara dan Margaret dituntut segera menciptakan kestabilan. Sementara massa tidaklah mampu dikendalikan dan terus bergerak secara radikal. Laki-laki dan perempuan pekerja bangkit dan mengamuk. Pasukan hakim-hakim lokal kehilangan taring, karena penarikan pajak macet dan keuangan hancur. Pemerintahan berada dalam krisis akut. Peperangan di sekeliling Negara Rendah telah membuat inflasi meroket. Kekaisaran Habsburg dan Gereja Romawi berada di jalan buntu. Tetapi lagi-lagi gerombolan bangsawan mencoba menunggangi dan menyurutkan perjuangan massa. Bulan Desember di rumah Pangeran Culemborg, sekelompok bangsawan rendahan—yang dipimpin oleh bangsawan tinggi Egmont—membentuk Liga Bangsawan untuk menyatukan pangeran-pangeran Protestan dan Katolik dan memulai tindakan-tindakan kompromi. Di tempat lain, Pangeran Orange juga ikut mengirim surat kepada Margaret untuk segera memoderasi hukum bid’ah demi menenangkan massa.
Tanggal 5 April 1566, bangsawan-bangsawan tinggi—Egmont, Orange, dan Horn—yang sesaat berpecah kembali bersatu dalam Liga Bangsawan dan mengusulkan petisi bersama bangsawan-bangsawan rendah untuk berdamai dengan pemerintah. Di Istana Koudenberg, mereka mendatangi Margaret dengan 200-400 bangsawan rendah bersenjata. Louis van Nassau (adik William the Silent) tampil sebagai pemimpin pasukan dan melancarkan tekanan. Namun gubernur dan para pengawalnya bukan malah tertekan melainkan menganggapnya lelucon. Seorang penasehat kegubernuran lantas mencondongkan badannya dan mengatasi milisi bangsawan sebagai ‘pengemis’. Meskipun ikut tergelitik menyaksikan gerombolan spesies yang mengemis-ngemis, namun Margaret van Parma akhirnya setuju berkompromi: menangguhkan peraturan bid’ah hingga memulihkan kembali posisi para stadtholder. Kini seluruh lapisan bangsawan diberi tugas deradikalisasi. Liga diarahkan ke setiap khotbah untuk memberi kabar penangguhan bid’ah dan mengijinkan pemimpin-pemimpin Calvinis berkhotbah di tempat-tempat tertentu. Sementara Margaret segera memberitahukan kepada Philip II mengenai kompromi tersebut. Tetapi kaisar tidak terima dan bersikeras memerangi bid’ah dan melancarkan penarikan pajak. Gelombang radikalisasi berlanjut. Juli 1566, segenap keluarga pekerja meraung, dapurnya kosong, dan rumah tangganya ribut. Ibu, ayah, dan anak-anak yang miskin dan lapar keluar membanjiri jalanan dan mengikuti Calvinis. Setiap khotbah yang berlangsung selalu mendatangkan ribuan laki-laki dan perempuan yang bersenjatakan apa saja dan siap berdarah. Sekarang kemiskinan dan kemelaratan bukan lagi menjadi aib, tapi belenggu yang mendesak dihancurkan dengan api dan baja. Juni 1566 di Antwerpen, Calvinis menyelenggarakan Sinode (Pengakuan Iman)—yang tuntutannya mengenai kebebasan beragama disampaikan kepada Margaret dan Philip II—dan mengarah pada pertemuan-pertemuan berskala raksasa di Belanda, Valenciennes, Zeeland, Brabant, dan Flandria. Bulan Juli, seorang pejabat Negara Rendah melaporkan perkembangan situasi—kepada Margaret van Parma—dengan nada getir, putus asa dan panik. Dalam “Reformasi di Belanda dan Perang Delapan Puluh Tahun”, sejarawan borjuis Joshua Mark merekam laporan tersebut:
“Saya terpaksa memberi tahu Yang Mulia bahwa tadi malam ada dua khotbah lagi. Yang terbesar menghadirkan 4.000 orang … dalam perjalanan ke Tournal dan dipimpin oleh seorang pengkhotbah bernama (atau begitulah menurut saya) Cornille de La Zenne, putra pandai besi dari Roubaix. Keyakinannya telah membuatnya menjadi buronan keadilan untuk beberapa waktu ini…. Saya telah diberitahu oleh beberapa agen mata-mata bahwa beberapa pria Prancis siap membantu pemeberontakan pengkhianatan ketika itu berlangsung. Saya berharap kita dapat mengandalkan para bangsawan dari Negara Rendah [untuk menanggulanginya]…. Minggu tanggal 7 Juli 1566—terlepas dari peraturan [darah]—ada lebih banyak khotbah, kali ini pada siang hari di Stanllendriesche. Ribuan orang dari kota dan pedesaan datang bersama termasuk banyak orang biasa yang memiliki sedikit pengetahuan tentang Alkitab dan para Bapa Gereja [yang telah dicopot dari jabatan gerejanya]. Para pengkhotah berkata bahwa kebenaran telah disampaikan dan Injil diberitakan dengan benar untuk pertama kalinya. Untuk membuktikan hal ini, para pengkhotbah mengutip Alkitab dengan lantang dan tegas….”
Sekarang Calvinisme telah menjadi gerakan yang berpengaruh dan memimpin perlawanan terhadap mahkota dan gereja. Tanggal 10 Agustus 1566, di tengah Hari Raya Saint Lawrence yang mengangung-agungkan pemujaan orang suci, Calvinis memobilisasi massa untuk mengutuk sakramen hosti, mengkritik indulgensi, memprotes kekorupan kaisar dan uskup, menuntut kebebasan beragama, hingga meluncurkan serangan Beeldenstorm (Ikonoklastik Besar). Pemberontakan diawali dengan memobilisasi massa dari pusat tekstil Westhoek dan Hondschoote menuju rapat akbar di Desa Steenvoorde di Flandria Selatan. Ribuan laki-laki dan perempuan berkerumun. Mereka menenteng batu, kayu, sekop, garpu, palu, cungkil, dan beliung di lengan. Kapel Laurensklooster adalah yang pertama dirusak: gambar-gambar dan semua dekorasi keagamaaan Katolik dihancurkan, serta properti-properti yang ada dijarah untuk dijual demi membeli bahan-bahan makanan yang harganya menjulang. Pada 20-22 Agustus, serangan-serangan massal tiba di pusat-pusat perdagangan dan kota-kota tekstil seperti di Low Countries dan Ghent. Bulan Oktober, gelombang kemarahan massa menyebar ke Maastricht dan Venlo. Ratusan gereja, biara, dan kapel-kapel dihancurkan dan dikenai penjarahan hingga berujung penggeledahan rumah-rumah pendeta yang menyimpan barang-barang rampasan gereja. Letusan ikonoklastik berskala raksasa ini menandai pembukaan Revolusi Borjuis Belanda (1566-1588)—yang kemudian mengambil bentuk Perang Kemerdekaan (1568-1588) atau Perang Delapan Puluh Tahun (1568-1648)—dan dikenal luas sebagai Pemberontakan Belanda (1566-1648).
Sewaktu berlangsungnya Beeldenstorm, perempuan dari keluarga-keluarga pekerja tampil militan. Ledakan peristiwa telah memecahkan kebisuan dan menyingkirkan kelembaman. Perempuan-perempuan—yang sebelumnya terisolasi dan teratomisasi sebagai budak-budak rumah tangga dan diperangi dengan perburuan penyihir—kini ditarik keluar untuk memberontak: mereka sangat berani dan berdedikasi—tidak takut berdiri di garis depan pertempuran, menunjukkan kemarahan, tekad dan ketulusannya dalam berjuang sampai mati. Sikap itu bersumber dari penderitaan hidupnya yang sedang dibakar oleh ledakan peristiwa dan menambah kuat kobaran revolusi. Saat pemberontakan berlangsung, barisan-barisan perempuan pekerja adalah yang paling ditakuti penguasa. Mereka bukan sekadar sigap tapi terutama mampu menebar agitasi dan melecut semangat massa. Daya juangnya tinggi dan setiap tindakannya berapi-api. Selama berlangsungnya Beeldenstorm, ibu-ibu dan gadis-gadis muda berdiri di hadapan dan di tengah-tengah laki-laki dan tampil dengan suara lantang dalam mencela sakramen hosti, indulgensi, dan kultus Perawan Maria. Di tengah gelombang radikalisasi, laki-laki dan perempuan pekerja yang terbangun ke arena politik menyebar dan memasuki serikat-serikat yang ada, mengarahkan gerakannya ke kiri, membetuk barikade bersenjata, merebut jalan-jalan raya, mengepung seluruh gereja, dan mengancam anggota-anggota Serikat Jenderal. Di Amsterdam, perempuan-perempuan pelayan rumah tangga bahkan mengajak nyonyanya untuk menghancurkan gambar dan patung-patung Gereja Oude Kerk. Trijn Hendricks merupakan nama seorang pembantu rumahan yang terlibat ikonoklastik. Dia bukan hanya menghujani sakremen-sakramen paroki dengan balok kayu dan batu, melainkan pula mengajari nyonya di sampingnya untuk melempari patung menggunakan sepasang sandal di bawah kakinya.
Di Utrecht, ketika Gereja Fransiskan digempur, adalah barisan perempuan yang begitu cekatan melancarkan serangannya hingga otoritas yang ketakutan menyetigma mereka sebagai wanita-wanita liar, jalang, dan abdi iblis yang harus diburu dan dibasmi. Dalam perusakan inilah Anna van Brouchuysen menjadi salah satu perempuan yang distigma. Dirinya lantas membantah dan mengutuk komplotan orang-orang suci sebagai pihak yang ‘kerasukan setan’: perutnya disesaki Haywain, kepalanya dipenuhi prasangka gila, dan muncongnya tiada henti memfitnah. Demikianlah revolusi mendorong kaum terhisap dan tertindas bukan saja bertempur secara fisik, tetapi juga mengadu argumen dan pemikiran. Lapisan-lapisan yang selama ini dibungkam, dikucilkan, dan dilemahkan mendapati kepercayaan diri untuk bertempur dan cenderung mengembangkan gagasan baru. Walaupun proses sejarah sangat kompleks, tetapi kemajuan ini menunjukkan kebenaran materialisme historis: dalam ketidakpastian peristiwa yang tampak kacau, penuh dengan kejang-kejang histris dan belokan tiba-tiba, terdapat keteraturan yang menjadi hukum paling umum dalam perkembangan masyarakat: umat manusia bergerak untuk meningkatkan penguasaannya terhadap alam demi memenuhi standar-standar hidupnya, yang terekspresikan tidak sekadar melalui industri, teknologi, dan teknik, melainkan pula ilmu-pengetahuan. Saat revolusi, perkembangannya ditampilkan oleh perubahan-perubahan cepat pada kesadaran massa. Di tengah ketidakstabilan akut dan bentrokan tajam, lapisan termaju dari Calvinis bahkan menarik kesimpulan yang lebih radikal. Tetapi perkembangan pemikirannya masih dicampur-adukan bersama keyakinan-keyakinan religius yang mengaburkan kepentingan kelas-kelas sosial yang berkonflik. Dalam “Pemberontakan Belanda: Sebuah Analisis Sosial”, Pepijn Brandon mengomentari fenomena Beeldenstorm dengan mengutip sejarawan dan penggalan khotbah tersebut:
“Radikalisme agama abad ke-16, tentu saja, sama sekali bukan ekspresi kesadaran kelas yang ‘murni’. Untuk hal ini, mereka mengkhotbahkan kolaborasi kelas (antara ‘orang berkeyakinan yang baik’) … Tetapi ini tidak berarti bahwa Reformasi [Protestan] yang radikal dan populer adalah fenomena yang murni religius, tanpa makna sosial. Ivo Schoffer adalah salah seorang sejarawan yang memperhatikan aspek-aspek sosial dari penyerangan gereja di Belanda ini: ‘Gereja Katolik Roma yang resmi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat yang ada, dan sebagai salah satu perantara antara otoritas dan orang biasa, pendetanya disalahkan atas apapun yang salah dalam masyarakat itu. Kemiskinan, pengangguran, inflasi, pajak, korupsi, semuanya tampaknya ada hubungannya dengan pendeta dan gereja’…. Kadang-kadang radikalisme lebih dari sekadar menyerang orang-orang suci dan meluas menjadi serangan terhadap orang-orang kaya—meski tetap dalam bingkai kritik agama. Demikian pengamat Katolik Marcus van Vaernewyck mengutip para pengkhotbah di sekitar Antwerpen yang mengatakan: ‘tidak ada gunanya … menyerang kaum kepausan jika pada saat yang sama tidak dapat mengalahkan borjuasi, yang, karena kepentingan pribadi, akan selalu berusaha mempertahankan rezim klerikal. Dalam praktiknya, biara adalah dapur tempat orang kaya dan borjuis mengirim beberapa anak mereka untuk tujuan membebaskan dan memperkaya satu, dua atau tiga anak mereka yang lain’. Walaupun gagasan-gagasan itu tidak berasal dari program revolusi sosial, gagasan-gagasan itu memberanikan orang-orang biasa untuk campur tangan dalam urusan politik dan agama dengan cara yang berkelanjutan dan radikal. Sepanjang Pemberontakan Belanda, konflik antara bangsawan dan hakim yang berusaha mengarahkan peristiwa dan strata sosial di bawahnya dibingkai dalam bahasa yang berasal dari Reformasi populer ini….”
Meskipun gelombang radikalisasi meluas tapi sangat mustahil bagi massa untuk melangkah lebih jauh. Bukan saja situasi obyektif tiada memungkinkan untuk menembus batas-batas revolusi borjuis, tetapi juga mereka tidak mempunyai kepemimpinan revolusioner, yang memiliki ide, perspektif, program, dan metode yang tepat, hingga bertegas menolak kolaborasi kelas, dan membawa perjuangan sampai ke garis akhir. Walaupun perkembangan material dan faktor subyektif belum terpenuhi, massa—yang teradikalisasi oleh peperangan, kemiskinan, kelaparan, korupsi, bid’ah, perburuhan penyihir, dan berbagai bentuk penindasan—tak bisa menunggu lebih lama untuk menempuh perjuangan revolusioner. Agustus 1566, barikade bersenjata—yang terdiri dari orang-orang miskin dan buruh-buruh tekstil—berhasil merebut Valenciennes. Dewan Kota dilumpuhkan, hakim-hakim bangsawan dan pendeta-pendeta Katolik diusir, dan Calvinis membentuk Konsistori (Komite Keagamaan) untuk mengatur kota. Pada titik inilah orang-orang biasa, yang terhisap, tertindas dan miskin, menuntut perubahan mendasar. Massa telah menyapu kota-kota tekstil di Belanda Selatan dan berkembang menjadi gerakan yang cenderung mengganggu ketentraman borjuasi. Ini tidak saja menunjukkan kemajuan pada kesadaran massa, tetapi juga berarti perjuangannya telah mencapai batasnya. Di Valenciennes, gerakan mulai melemah dan terisolasi. Saat massa mencoba menyerang kepemilikan borjuasi, gerakan-gerakan mereka kontan terpecah. Para burgher, stadtholder dan sekutu-sekutu kelas menengahnya mundur dan menyebrang ke arah reaksi. Pengkhianatan seabrek bangsawan tinggi mengawali pergeseran perimbangan kekuatan kelas yang ada. Intervensi Liga Bangsawan memperkeruh perpecahan lokal di antara kepentingan-kepentingan seksional yang berbeda-beda. Pendulum akhirnya mengayun ke kanan.
Pekerja-pekerja upahan yang terhisap, pengrajin-pengrajin kecil yang miskin, perempuan-perempuan yang tertindas, singkatnya: semi-proletar dan plebeian yang menjadi sumber dari segala kekuatan revolusioner—kini lelah, lapar dan kecewa: serangan-serangannya terhadap kepemilikan pribadi bukan saja tidak memenuhi syarat untuk melampaui revolusi borjuis, melainkan pula menguras banyak tenaga dan sumber dayanya. Pada titik inilah korelasi kekuatan berubah dan borjuasi yang ketakutan bersekutu dengan kaum royalis untuk menyelamatkan dirinya. Egmont, Horn, dan Orange sekarang bekerjasama dengan Lalaing dalam melayani Phillip II. Saat pendulum ke kiri mereka menyerang ke kanan, tapi ketika pendulum ke kanan mereka menyerang ke kiri. Di tengah gelombang pemberontakan, Liga Bangsawan memainkan peran kontra-revolusi: bernegosiasi dengan milisi-milisi sipil untuk gencatan senjata dan membantu pengerahan prajurit-prajurit kekaisaran dan tentara-tentara bayaran untuk menumpas para pemberontak. Desember 1566, prajurit-prajurit yang dipimpin Lalaing bertemput secara beringas. Dengan segala keunggulan persenjataan (helm dan corselet tempur, senapan arquebus, tombak, panah, perisai), mereka mengalahkan para pemberontak dalam pertempuran-pertempuran Lanoy dan Wattrelos. Awal Januari 1567, Valenciennes juga mulai digempur menggunakan taktik bumi hangus. Garnisun kekaisaran menghancurkan tanah-tanah dan menjarah apa saja yang ada hingga para pemberontak semakin miskin dan lapar. Menghadapi serangan-serangan ganas dan kemelaratan akut, laki-laki dan perempuan pekerja tidak menyerah. Dari sekian banyak orang—yang dimobilisasi dalam barikade-barikade yang berdiri untuk memperkuat tembok-tembok kota—perempuan adalah yang terbanyak. Walaupun Calvinisme menolak penempatan perempuan dan kesetaraan antara jenis kelamin dalam tugas-tugas politik dan militer, tetapi perempuan-perempuan yang teradikalisasi begitu cerdik: mereka menyamar menggunakan pakaian laki-laki, bergabung menjadi milisi, membantu pertahanan kota, dan menyerang musuh-musuhnya dengan batu, tombak, beliung, dan pistol-pistol rakitan.
Di tengah keterkepungan, selapisan milisi dikerahkan secara sembunyi-sembunyi untuk mencari amunisi dan bahan-bahan makanan di kota-kota lainnya. Permulaan Maret 1567, pemimpin-pemimpin Calvinis yang terkepung menyelinap dan meminta bantuan bangsawan rendahan. Meskipun pengemis-pengemis bersenjata tergabung dalam Liga Bangsawan, tetapi De La Grange dan De Bres mengerti kalau sebagian kecil di antara mereka ada yang siap menolong asalkan dihadiahi tanah, jabatan, ketenaran, dan terutama uang. Pasukan pengemis yang bersedia melawan pemerintah dipimpin oleh Jean Marnix. Hanya upaya pemberian bantuan segera terendus di Dewan Negara. Lamoraal dan Wiliam lantas menyiasati penghancuran mereka dalam Pertempuran Oosterweel. Mula-mula pasukan pemberontak diusir dari Vlissingen atas arahan Orange. Marnix dan pasukannya lalu bertolak menuju Antwerpen, tetapi beberapa kilometer sebelum tiba di tempat tujuan, mereka dihadang pasukan-pasukan Phillip de Lanoy yang baru saja menerima perintah Egmont untuk menghancurkan para pengemis yang berkhianat. Dari tembok-tembok Antwerp, simpatisan-simpatisan Marnix berusaha keluar untuk memberikan bantuannya. Namun dihalangi dengan todongan-todongan senjata oleh pengawal-pengawal Orange. Tanggal 13 Maret, Marnix dan pasukannya ditumpas begitu rupa: tembakan-tembakan voli merobohkan mereka di hadapan kerumunan penduduk yang tertahan dan meratap di tembok kota. Berita kekalahan ini sampai ke Valenciennes. Grange dan Bres berputus asa. Kini bukan saja tiada lagi harapan beroleh bantuan, tapi terutama massanya sangat berdahaga dan kelaparan, tenaganya habis, dan banyak yang gugur. Benteng terakhir dari Calvinis sudah tidak bisa dipertahankan. Tepat 24 Maret, mereka akhirnya dikalahkan: seluruh kota terkepung, milisi-milisi berjatuhan, sebagian besar pemimpinnya meninggalkan barisan, ribuan orang ditangkap dan bersiap-siap menerima hukuman.
Akhir Maret 1567, Beeldenstorm sudah dipadamkan dan ketertiban mulai dipulihkan. Meskipun Margaret dan gerombolan stadtholdernya mampu mengendalikan keadaan, tetapi dari Spanyol berita-berita mengenai kedatangan Fernando Alvares de Toledo—pemimpin bertangan besi yang akan mengisi kekosongan Kepala Inkusisi dan menegakkan ketertiban secara keji dan hina—terus-menerus dihembuskan. Situasi dunia sekali lagi sangat mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil kekaisaran. Perang Prancis-Inggris di sekitar perbatasan Belanda semakin menegangkan dan membuat Habsburg terancam oleh penggunaan-penggunaan kekuatan berlebihan. Sementara Perang Habsburg-Ottoman menguras banyak sumber daya: mulai dari tentara, senjata, makanan hingga keuangan. Tanggal 6 Agustus-8 September 1566, Pertempuran Szigeth meledak dan berujung kekalahan pasukan-pasukan Habsburg dalam pengepungan Benteng Szigetvar. Kemenangan Turki Utsmani lagi-lagi mengancam Habsburg dan mengharuskan Philip II mengumpulkan kekuatan dalam menghadapi pertempuran-pertempuran lanjutan untuk melindungi Hongaria dari invansi Sultan Selim II. Di tengah situasi inilah Adipati Alva dikirim ke Negara Rendah. Pada 22 Agustus, kaisar melepas adipatinya—dengan membawa 10.000 tentara Spanyol dan Italia—yang bukan sebatas memastikan kestabilan tapi lebih-lebih meningkatkan perpajakan. Awal September, Alva sampai di Brussel dan langsung melaksanakan apa yang diperintahkan: pajak penjualan ditingkatkan 10 persen dan Dewan Darah didirikan. Lapisan-lapisan pekerja dan plebeian terus-menerus berkubang dalam keterhisapan, ketertindasan, kemelaratan, dan kematian-kematian yang mengerikan. Kehadiran Alva secara congkak memproklamirkan: sekarang bukan hanya bid’ah dan penyihir yang diberantas dalam pengadilan darah, tapi juga kewajiban membayar pajak harus ditegakkan menggunakan pedang yang lebih tajam. Sebuah surat yang ditulis Alva pada Januari 1568 menerangkan:
“Setiap orang harus dibuat untuk terus hidup dalam ketakutan akan atap yang runtuh di atas kepalanya. Dengan demikian kota-kota akan mematuhi apa yang akan ditetapkan untuk mereka, orang-orang secara pribadi akan menawar tebusan yang tinggi, dan negara bagian tidak berani menolak apa yang ditawarkan kepada mereka atas nama kaisar.”
Di tengah krisis yang mendalam maka kehadiran Alva persis yang dijelaskan Trotsky: ‘ketika terdapat cukup barang di satu toko, para pembeli dapat datang kapanpun yang mereka inginkan. Ketika barang sedikit, para pembeli terpaksa mengantri. Ketika antrian terlalu panjang, perlulah ditunjuk seorang polisi untuk menjaga ketertiban’. Peran kontra-revolusioner dari gerombolan stadtholder dan burgher telah membuka jalan penunjukkan Adipati Besi. Alva sudah selesai ditugaskan memimpin perang melawan Ottoman dan Bourbon di Wina, menumpas Liga Schmalkaldic di Jerman dan Prancis, dan mempertahankan Napoli dan Milan dari rongrongan Francois I. Peperangan telah membentuk karakter dan kepribadiannya menjadi beringas. Dia memiliki banyak pengalaman dan prestasi di medan tempur. Alva bahkan berhasil meraih penghargaan mawar emas, pedang dan topi yang terberkati. Sekarang situasi perang dan revolusi memanggilnya kembali. Tatanan sosial yang sedang sekarat dan bangkitnya kontra-revolusi mengidentifikasi dirinya sebagai talenta royalis yang paling cocok untuk memimpin tugas-tugas reaksi. Alva sekarang bertugas di Negara Rendah untuk melakukan segalanya demi mempertahankan monarki. Mula-mula kebrutalan Inkuisisi dihidupkan kembali, Philip de Noircarmes diberi kepercayaan memimpin Dewan Darah, Lamoraal dan Philip de Montmorency ditangkap, William si Pendiam diburu, otoritas kegubernuran diambil-alih dan Margaret van Parma terpaksa mengundurkan diri. Kini posisi kompromi dari para bangsawan tinggi dan gubernur diremukkan dan keamanan diperkuat dengan membentuk Angkatan Darat Flanders. Tanggal 9 Agustus 1567, hukuman terhadap para pengkhianat, bid’ah, penyihir, dan orang-orang yang menolak membayar pajak digalakkan. Bersama beribu-ribu pemberontak Beeldenstorm, mereka dimintai pertanggungjawaban. Sekitar 10.000 penduduk disidang, termasuk ratusan pengemis dan stadtholder yang berkhianat. Selama beberapa hari saja, antara 1.000-6.000 orang dinyatakan bersalah, terutama pemimpin-pemimpin Calvinis, Orange, Horn, dan Egmont. Hukuman bagi mereka tidak sebatas pemenggalan kepala, penguburan dan pembakaran hidup-hidup, serta perobekan perut dan penarikan organ tubuh, tetapi juga perampasan harta-benda yang ditinggalkan. Dalam kondisi inilah pemeluk-pemeluk Calvinisme berhamburan dan mengungsi ke Belanda Utara, milisi-milisi pengemis meninggalkan darat dan beralih menjadi bajak laut, William menyelamatkan dirinya di Dillenburg, dan Lamoraal dan Montmorency berusaha memohon pengampunan tapi tidak dikabulkan.
Di Belanda Selatan, pemimpin-pemimpin Calvinis, Egmont dan Horn berakhir dengan hukuman mati. Meskipun sosok seperti Herman Moded, Lamoraal dan Montmorency bersujud di bawah kaki Alva, tetapi sama sekali tidak ada kompromi dan belas-kasih. Sementara dari tempat pelariannya, William dan pengemis-pengemis laut yang tersisa membangun kekuatan oposisi dengan meminta bantuan pasukan-pasukan Huguenot Prancis. April-Juli 1568, Perang Delapan Puluh Tahun dibuka dengan Pertempuran Heiligerle-Jemmingen yang hasilnya adalah kekalahan bagi prajurit-prajurit pengemis dan Huguenot. Ribuan pasukannya terbunuh, ditangkap, dan dihukum mati. Kontra-revolusi bernyanyi dan menari-nari di altar tirani. Dewan Darah lancar beroperasi. Sampai pertengahan 1568, sekitar 60.000 orang disidang dan diberi sanksi. Rakyat pekerja dan plebeian diteror dan dibatasi. Serikat-serikat perusahaan, perkebunan, atau pengrajin dibubarkan dan terpaksa bersembunyi. Calvinisme diperangi dan pajak-pajak tinggi menjulur kesana-kemari. Tetapi revolusi belum berhenti. Reaksi, sekali lagi, menjadi cambuk bagi revolusi. Kontradiksi bertambah tajam dan perjuangan kelas semakin intens. Di tengah gejolak peperangan di Mediteranian dan di sekitar Negara Rendah, jalur-jalur perdagangan yang dirusak, pasokan-pasokan makanan dan biji-bijian yang dihambat, pengangguran yang menjamur, dan kemiskinan dan kelaparan yang bertambah akut—maka pengoperasian Dewan Darah melecut kebangkitan baru. Hukum bid’ah dan perburuan penyihir, serta pemajakan yang meluas dan meroket, tidak bisa lagi diterima. Tahun 1570-an di Belanda Utara, para pekerja, pengrajin, dan pedagang yang mengungsi mulai mengeluh. Belanda, Zeeland, Leiden, Alkmaar, Utrecht, Overijssel, dan Flandria bergemuruh. Di sisi proletariat, kelas menengah—yang sebelumnya setengah-setengah melawan feodalisme—telah sepenuhnya beroposisi. Pengalaman dan peristiwa pada periode-periode tertentu membentuk mereka sebagai produk yang kompleks dan dinamis. Dalam perjuangan kelas yang menajam, kepentingan-kepentingan seksional dari setiap lapisan sosial yang teradikalisasi bersatu: individu-individu yang mengejar kepentingan dan tujuan-tujuan hidup mereka sendiri, bergerak seperti yang dijelaskan Marx: ‘secara tak terelakkan masuk dalam hubungan-hubungan tertentu, yang terlepas dari kehendak mereka, yaitu hubungan-hubungan produksi’. Menghadapi serangan-serangan dan penghancuran luar biasa, individu-individu yang posisi sosial-ekonominya dihisap, ditindas, dan dimiskinkan terdorong untuk melawan bersama dan menciptakan sejarah. Melalui “Keluarga Suci”, Marx dan Engels menjelaskannya:
“Sejarah tidak melakukan apa-apa, ia tidak memiliki kekayaan yang sangat besar, ia tidak melakukan pertempuran. Adalah manusia, manusia sejati yang hidup dan melakukan semua itu, yang memiliki dan berjuang; ‘sejarah’ bukanlah, seolah-olah, seseorang yang terpisah, menggunakan manusia sebagai alat untuk mencapai tujuannya sendiri; sejarah tidak lain adalah aktivitas manusia yang mengejar tujuannya.”
Trotsky dalam “Sejarah Revolusi Rusia”, menjelaskan bahwa ketika kontradiksi dalam masyarakat semakin intens dan kekuatan sejarah secara keseluruhan bertambah besar, maka karakteristik-karakteristik pribadi akan menyesuaikan dirinya sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh zamannya: ‘iritasi yang serupa (tentu saja tidak begitu identik) dalam kondisi serupa memunculkan reflex yang serupa; semakin kuatnya iritasinya; semakin cepat ia mengatasi kekhasan pribadi. Menghadapi rasa geli, orang bereaksi berbeda, tetapi terhadap besi panas, sama saja. Seperti palu uap mengubah bola dan kubus menjadi lembaran logam, demikian pula di bawah hantaman peristiwa yang terlalu hebat dan tiada terelakkan, resistensi dilebur dan batas “individualitas” hilang’. Kebebasan-kebebasan relatif untuk bertindak secara terpisah-pisah bukan saja tak berguna, tapi terutama tidak mungkin dilakukan pada periode perang, revolusi dan kontra-revolusi. Di Belanda Utara, atmosfer sosial memanas: massa bergumam mulai dari rumah-rumah, pabrik-pabrik, hingga pasar-pasar yang ada. Serikat-serikat kerja dan Calvinis yang bersembunyi di bawah tanah terdorong keluar: Dewan Darah dikutuk, pajak-pajak tinggi ditolak, dan kebebasan beragama dituntut. Awal 1572 di Utrecht, laki-laki dan perempuan memberontak. Barikade-barikade bersenjata terbentuk. Dewan Kota direbut. Tidak ada pembayaran pajak. Hakim-hakim royalis gemetar. Tentara-tentara bayaran yang belum dibayar menolak bertempur. Mereka justru menyusahkan penduduk: tinggal di rumah-rumah warga, menghabiskan makanan dan minuman, dan menjadi tanggungan kota. Bulan Maret, garnisun kekaisaran yang menduduki kota pelabuhan Den Briel dikerahkan ke Utrecht dan dermaga ditinggalkan tanpa penjagaan. Tanggal 1 April, pengemis laut—yang baru saja selesai menggalang kekuatannya di perairan Inggris—tiba dengan 50 kapalnya yang secara leluasa memasuki Den Briel, merebut benteng musuh, hingga meraih senjata dan makanan tambahan.
Segera setelah kota itu direbut, para pemberontak kontan mengklaim perebutannya atas nama William si si Pendiam dan berusaha memulihkan posisi Pangeran Orange sebagai stadtholder di Belanda dan Zeeland. Sepeninggal Egmont (Lamoraal) dan Horn (Montmorency), tidak ada lagi veteran oposisi yang dapat menggantikannya kecuali Orange (William). Di Den Briel, pengemis-pengemis laut menyerukan kepada kota-kota lainnya untuk memperhebat perlawanan dan mendukung Pemerintahan William. Di tengah gelombang perjuangan yang memuncak dengan kelas menengah yang teradikalisasi, Pangeran Orange sekali lagi terangkat sebagai pemimpin. Meskipun di masa lalu dia pernah meloncat ke kiri dan kanan, tetapi periode dan kondisi sejarah yang baru sedang membutuhkan kepemimpinan. Kualitas-kualitas pribadi dan karakteristik yang terbentuk selama periode perang dan revolusi diperhitungkan. Keberaniannya mengawal tuntutan kebebasan beragama dibutuhkan. Kemampuannya membangun aliansi dengan Huguenot, Inggris, dan memimpin pertempuran juga sangat diperlukan. Sekarang kekuatan dari bawah membawanya ke atas. Kondisi-kondisi material, hubungan sosial, dan ekonomi kapitalisme yang sedang bangkit mengangkatnya menjadi pimpinan pemberontak. Militer Spanyol kini tersudutkan. Pengemis-pengemis laut telah membentuk pemerintahan yang dikuatkan oleh dukungan keuangan dan militer Inggris dan tentara-tentara bayaran dari Prancis dan Jerman. Dari benteng yang baru saja direbut, mereka segera menggempur Goes. Di sini kekacauan meledak. Penduduk kota menolak membayar pajak. Di jalanan, laki-laki dan perempuan pekerja membanjir. Mereka membentuk barikade dan melawan otoritas. Di perairan, kapal-kapal Belanda-Inggris melancarkan pengepungan. Kota ini terkepung tapi Alva segera memerintahkan garnisun Brabant untuk hadir memberikan bantuan. Meskipun para pengepung dapat dipukul-mundur, tetapi di medan-medan pertempuran kekuatan Spanyol menunjukkan penurunan.
Di kancah dunia, Habsburg bukan saja berperang melawan Ottoman di Mediterania, tetapi juga berkonflik dengan Inggris mengenai pengiriman budak ke Dunia Baru. Tahun 1568, Inggris melancarkan ekspedisi budak tetapi segera dihadang dan ditenggelamkan oleh pasukan-pasukan Habsburg dalam Pertempuran San Juan de Ulea. Pada permulaan Perang Delapan Puluh Tahun, Ratu Elizabeth I meluncurkan pembalasan dengan mengirimkan kapal-kapal perangnya untuk menahan, merampok, dan menghancurkan kapal-kapal harta karun dan logistik Spanyol yang berlayar ke Belanda. Di tengah situasi internasional inilah perimbangan kekuatan kelas di Negara Rendah berubah. Gaji-gaji tentara bayaran tertunggak, amunisi dan makanan-makanan di benteng-benteng Habsburg menipis, kekuatan tempur Alva melemah, dan pemberontakan-pemberontakan kota menjadi sukar ditanggulangi. Tetapi saat Pertempuran Lepanto berlangsung, pasukan-pasukan Liga Suci Spanyol yang dipimpin oleh Don Juan berhasil mengalahkan prajurit-prajurit Ottoman secara telak. Tepat 7 Oktober 1571, Venesia berhasil diamankan, 14.000 budak direbut dari garnisun yang kalah, dan seluruh kapal Utsmaniyah diusir keluar dari perairan Mediterania. Setelah kemenangan itulah perhatian Spanyol difokuskan ke Negara Rendah. April 1572 di Zeeland, penduduk-penduduk Middelburg memberontak. Hakim-hakim kota gemetar. Tidak ada pembayaran pajak. Penerimaan terhambat dan kas menipis. Tiada pula kapal-kapal logistik yang dikirimkan Habsburg. Di Laut Karibia, pelaut-pelaut Inggris telah merusak kapal-kapal pengangkut budak, emas dan perak Spanyol. Di Middelburg, barikade-barikade menggempur garnisun Spanyol dan menjarah properti-properti Gereja Katolik. Armada Belanda-Inggris yang baru saja mundur dari Goes sekarang tiba untuk memberikan dukungannya. Tanggal 4 November, pengemis laut dan sekutunya melancarkan pengepungan kota. Suplai makanan dicegat, sungai-sungai diblokir, dan gereja-gereja dijarah dan dibakar.
Di tengah pemberontakan penduduk yang terus menjalar ke pelbagai kota, jatuhnya Den Briel ke tangan pemberontak, dan pengepungan-pengepungan oleh pengemis laut dan sekutunya—maka Alba memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk menjarah rumah-rumah warga. Perintah penjarahan ini digencarkan selama 1572-73, dikenal sebagai Kemarahan Spanyol, dan dipusatkan di Naarden, Haarlem, dan Alkmaar. Di Naarden, sekitar 3.000 penduduknya dibantai, rumah-rumahnya digeledah dan harta-bendanya dirampas. Dalam kekejian ini rakyat-rakyat bersenjata dilucuti secara beringas. Laki-laki dan perempuan yang memberontak ditumpas. Gadis-gadis muda, ibu-ibu, bahkan anak-anak perempuan diperkosa di hadapan keluarga, suami, dan orangtuanya. Setelahnya barulah semua warga dikumpulkan untuk digorok lehernya, ditebas tangan dan kakinya, atau dibakar hidup-hidup di gereja. Di Harleem, meskipun berakhir dengan kekalahan tetapi laki-laki dan perempuan menorehkan perlawanan yang berani dan militan. Di alun-alun kota, massa bersenjata mengusir para pendeta Katolik dan hakim-hakim royalis. Anggota-anggota badan legislatif yang lama tersingkir. Kini pemimpin-pemimpin serikat pengrajin, Calvinis dan Orangis diangkat ke Dewan Kota. Sementara di jalanan, barikade-barikade diperbesar untuk mempertahankan tembok-tembok kota dari pengepungan armada-armada Habsburg. Sekitar 2.775 rakyat bersenjata—yang didukung oleh 5.000 pasukan pengemis laut—bertempur melawan 17.000-18.000 prajurit Spanyol. Di tengah Pengepungan Haarlem, dari luar tembok kapal-kapal pengemis mengangkut makanan dan senjata yang diselundupkan dengan menggunakan kereta dan papan-papan seluncur yang dioperasikan melewati Danau Haarlemmermer yang membeku.
Di wilayah perairan, prajurit-prajurit pengemis juga melaksanakan pertempuran dalam menghadapi kapal-kapal Spanyol. Namun mereka berhasil dipukul-mundur hingga tiada lagi yang menyelundupkan kebutuhan-kebutuhan untuk pemberontak Haarlem. Kota terus dikepung supaya penduduk menyerah atas keterisolasian dan kelaparan. Di sisi lain, para pengepung secara simultan menggali terowongan untuk menerobos ke dalam kota. Tetapi pemberontak mampu menghadangnya dengan membuat terowongan tandingan untuk memotong dan meledakan terowongan musuh. Dari luar kota yang terkepung tembakan-tembakan pistol dan meriam menyalak. Di atas tembok, barikade-barikade meluncurkan tembakan keluar dan tetap bertahan sebisa mungkin. Saat satu tembok dihancurkan, tembok baru didirikan. Selama berbulan-bulan Harleem dikepung, namun penduduknya bersikeras mengelak dari kekalahan. Dalam pertempuran inilah perempuan mengambil peran penting dan tampil militan. Kenau Hasselaer—putri dari keluarga penyeduh bir sekaligus istri almarhum tukang kayu, pembuat kapal—maju ke gelanggang pertempuran dengan memimpin batalyon perempuan. Di bawah kepemimpinan ibu tunggal itu terdapat 300 perempuan yang dibagi menjadi 2 kompi. Di tengah tembok-tembok kota, satu kompi perempuan bukan saja diorganisir untuk memelihara perbekalan dan mengobati yang terluka, melainkan pula mengumpulkan batu, genteng, jerami, bubuk mesiu, tar mendidih, dan balok-balok kayu untuk membantu penyerangan dan pertahanan. Ditinggal mati oleh suaminya dengan kayu yang berlimpah, Kenau menggunakannya untuk membangun kembali dan menguatkan gerbang dan pintu-pintu masuk yang telah hancur. Saat memberikan komando untuk mengangkut kayu-kayu dan bebatuan ke dinding-dinding yang berlubang; Kenua bertengkar dengan pemilik-pemilik kapal dan orang-orang kaya yang mencoba menghambatnya. Sementara di atas tembok, sekompi perempuan lainnya menuangkan tar panas, melempar tong mesiu dan jerami, hingga menembakkan panah berapi untuk menciptakan ledakan besar dan kebakaran di antara barisan-barisan musuh.
Hanya saat amunisinya habis, perempuan-perempuan itu secara cekatan mengalihkan perhatian lawannya dengan merobek pakaiannya sendiri dan berdiri tanpa busana. Pengalian perhatian ini memberi mereka waktu untuk memperbaiki dinding-dinding kota, namun habisnya perbekalan dan amunisi pada akhirnya mengharuskan Haarlem menyerah. Ketika pengepung memasuki kota, semua ribuan pemberontak dipenggal, digantung, diikat dan ditenggeamkan ke sungai. Sementara batalyon perempuan diperkosa, dibanduli stigma liar, jalang, dan dihukum mati sebagai penyihir. Walaupun Pemberontakan Haarlem dipadamkan begitu rupa, tetapi berita-berita perjuangan mereka tersebar dan menginspirasi perlawanan di kota lainnya. Di Alkmaar, saat pengepungan berlangsung, perempuan-perempuan pekerja tertarik bergabung dalam pertempuran. Dari 800 pengemis laut dan 1.300 pejuang barikade—yang bertempur menghadapi 16.000 royalis dan tentara bayaran—terdapat terdapat sepasukan perempuan yang berjuang secara radikal dan militan. Trijn Rembrants merupakan sosok gadis muda berusia 18 tahun yang bergabung dengan batalyon perempuan yang bersenjatakan tombak dan pedang. Sebagai salah satu anggota keluarga tukang kayu yang bertempur mempertahankan kota, maka dirinya tergugah untuk mengambil bagian dalam peperangan. Ayah dan ibunya telah gugur di tengah kobaran revolusi. Pamannya juga sedang berjuang bersama barikade-barikade di tembok-tembok kota. Revolusi bukan saja mempercepat kehilangan orang-orang terdekat, tetapi juga membentuk karakter seseorang menjadi lebih tegar dan kuat. Di tengah panasnya pertempuran, Trijn tidak mungkin diam dan menjadi penonton. Dengan segala sumber daya, pelajaran dan kemampuan yang diperolehnya selama ledakan peristiwa; Trijn maju ke depan untuk pemimpin kompi perempuan. Bersama pasukannya, ia mengumpulkan balok-balok kayu, tanah liat, sampah-sampah, menyuling garam, hingga menghancurkan Biara Egmont dan mengambil puing-puingnya guna membangun dan menguatkan dinding-dinding kota. Saat tentara royalis dan bayaran memanjat tembok, Trijn berhasil menikam dan menjatuh seorang musuh dan perempuan-perempuan lainnya melempari musuh-musuhnya dengan tar hitam mendidih dan ranting-ranting yang terbakar. Ketika belasan ribu pasukan musuh menerobos masuk dan berusaha menjarah rumah-rumah penduduk, laki-laki dan perempuan menjebol tanggul raksasa dan menenggelamkan garnisun Habsburg pada kubangan lumpur. Demikianlah Spanyol dikalahkan saat Pengepungan Alkmaar: barisan perempuan begitu aktif bertempur—seperti di Haarlem. Tetapi keterlibatan perempuan selanjutnya disangkal dan dikucilkan. Banyak penulis sejarah borjuis mendiskreditkan Kenau, Trijn, dan pasukan-pasukan perempuannya sebagai lelucon.
Namun di dalam kota-kota yang terkepung kebangkitan gerakan perempuan bukanlah fenomena dangkal dan cerita-cerita rakyat semata. Kenau dan Trijn merupakan representasi dari perempuan-perempuan yang teradikalisasi oleh peristiwa. Kota di masa-masa perang, revolusi dan kontra-revolusi merupakan ladang pembunuhan yang luas dan teramat mengerikan bagi perempuan-perempuan pekerja. Mereka tidak saja menyaksikan pembunuhan orangtua, keluarga, suami, dan orang-orang yang mereka kasihi dan cintai di depan matanya sendiri, tetapi sekaligus mereka merasakan bagaimana siksaan, kepedihan, perampokan, dan pemerkosaan oleh tentara-tentara royalis dan bayaran Habsburg. Di tengah kecamuk peperangan, rumah-rumahnya dijarah, kamar-kamarnya diambil-alih, makanan-makanannya di sita. Derita kelaparan dan kehancuran, penyakit dan epidemi menyelimuti seuruh kota. Hari-hari penduduk—terutama pekerja dan plebeian—dicekam todongan senjata, letusan senapan, tembakan anggur, tebasan pedang, bau amis darah dan mesiu yang bertebaran di udara. Pejuang laki-laki mereka ditangkap, dilucuti senjatanya, dan banyak yang terbunuh. Dalam keterkepungan yang memporak-porandakan kehidupan sosial-ekonomi; peran perempuan yang dipandang mustahil, tidak benar-benar terjadi, atau sebatas kebetulan belaka hadir sebagai keniscayaan sejarah. Kenau, Trijn, dan barisan-barisan perempuannya adalah elemen yang dibutuhkan dalam mempertahankan tembok-tembok kota: menggantikan atau mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pejuang-pejuang yang terbunuh. Berada pada posisi ekonomi sebagai tukang kayu, tar, dan jerami; mereka terdorong maju secara histroris sebagai individu-individu yang mempunyai sumber daya dan berkemampuan memperbaiki dan memperkuat dinding-dinding kota. Dengan kepatutan posisinya itulah mereka dapat mempertunjukkan talenta-talentanya. Pada tulisan mengenai “Individu dan Pandangan Marxis tentang Sejarah”, Adam Booth menguraikan hubungan antara individu dan masyarakatnya di zaman yang penuh dengan ledakan peristiwa:
“Dalam periode dan kondisi sejarah tertentu, dengan kata lain tuntutan dan kebutuhan masyarakat akan cenderung menciptakan dan melahirkan individu-individu dengan kualitas dan karakter tertentu. Di saat perjuangan kelas sedang memuncak, misalnya, dibutuhkan seorang pemimpin yang teguh dan tak tergoyahkan dalam tekadnya…. [Engels menjelaskan] ‘manusia membuat sejarah mereka sendiri tetapi belum tentu dengan kehendak kolektif atau menurut rencana kolektif atau bahkan dalam masyarakat tertentu yang ditentukan secara pasti. Upaya mereka berbenturan dank arena alasan itulah semua masyarakat seperti itu diatur oleh “kebutuhan”, yang dilengkapi dan muncul dalam bentuk-bentuk “kebetulan”. Keharusan yang di sini menegaskan dirinya sendiri di tengah-tengah semua kebetulan sekali lagi pada akhirnya adalah keniscayaan ekonomi…. Bahwa orang ini dan itu, dan tepatnya orang itu muncul pada waktu tertentu di negera tertentu itu tentu saja murni kebetulan. Tapi hentikan dia dan akan ada permintaan akan penggantinya, dan pengganti ini akan ditemukan, baik atau buruk, tetapi dalam jangka panjang dia akan ditemukan’…. Di alam, setiap genangan air terdiri dari kumpulan molekul, semuanya dengan energi kinetik ‘acak’ mereka sendiri. Beberapa molekul ini akan mengandung energi yang cukup untuk ‘secara tidak sengaja’ menguap, meskipun suhu kolektif air tidak pada titik didih. Namun, jika Anda memanaskan lingkungan sekitar, laju penguapan akan meningkat dengan cepat, hingga tidak ada air sama sekali—hanya uap. Demikian pula, dalam periode perjuangan kelas yang intens, massa akan diradikalisasi dan biasanya lapisan lembam akan didorong ke dalam aksi politik. Dan dari tahap agitasi yang meningkat ini akan muncul lebih banyak calon pemimpin revolusioner…. Sejarah penuh dengan peristiwa yang tampaknya ‘tidak disengaja’ di bidang ekonomi, politik, dan lain-lain … Tetapi dalam situasi krisis umum, lebih banyak kecelakaan semacam itu terjadi. Sistem menjadi semakin sensitif terhadap setiap kecelakaan tambahan, dan timbangan dibebani dengan berat ke satu arah oleh akumulasi peristiwa kebetulan sebelumnya…. Keharusan sejarah masyarakat atau kelas sosial tertentu dengan kata lain, menciptakan ‘kecelakaan’ individu ‘Hebat’. Bukan laki-laki dan perempuan ‘Hebat’ tetapi sejarah yang membuat laki-laki dan perempuan tertentu menjadi ‘Hebat’.“
Dalam “Sejarah Revolusi Rusia”, Trotsky menjelaskan bahwa palu yang berat meremukkan kaca tapi menempa baja: ‘palu revolusi adalah besi baja yang ditempa oleh karakter massa. Segera setelah kebangkitan massa, seorang jenderal Tsarist, Zalweski menulis dengan penuh kemarahan, “Siapa yang akan percaya bahwa tukang antar barang atau seorang tukang ronda tiba-tiba menjadi penjaga keadilan, seorang pelayan rumah sakit menjadi direktur rumah sakit, seorang tukang cukur menjadi kepala kantor, seorang kopral menjadi panglima tertinggi, seorang buruh harian menjadi mayor, seorang juru kunci kuburan menjadi direktur sebuah pabrik?”’ Pada periode perang dan revolusi kebutuhan dan tujuan banyak individu bergabung untuk menciptakan kondisi bagi perubahan revolusioner: massa yang merupakan produk sejarah tertentu secara dialektik berbalik membentuk dunia mereka dengan mendorong ke depan individu-individu pemimpin yang dapat memajukan masyarakat. Di pucuk kepemimpinan, William si Pendiam memainkan peran tersebut. Di tengah peperangan, pemberontakan, dan ketidakstabilan yang berlarut-larut, massa membutuhkan kemampuannya untuk memimpin perjuangan politik dan militer. Lewat “Peran Individu dalam Sejarah”, Plekhanov mempertegas: ‘orang hebat itu bukan karena kualitas pribadinya memberikan fitur individual pada peristiwa sejarah yang hebat, tetapi karena dia memiliki kualitas yang membuatnya paling mampu melayani kebutuhan sosial yang besar pada masanya, kebutuhan yang muncul sebagai akibat dari penyebab umum dan khusus’. Di Middleburg, Pangeran Orange mengirimkan pasukannya untuk mengepung kota dan melemahkan prajurit-prajurit Habsburg. Menghadapi pengepungan Belanda-Inggris, tentara-tentara royalis dan bayaran Spanyol berusaha menjarah rumah-rumah penduduk secara brutal. Ketegangan menajam dan meletus-letus. Pertarungan untuk kebutuhan hidup meradang. Di dalam tembok-tembok kota, bukan saja pasukan Alva yang terkepung dan kelaparan tapi juga barikade-barikade setempat. Tetapi milisi-milisi rakyat mampu bertahan dan secara moral lebih kuat.
Moral revolusioner barikade mengungguli moral-moral gerombolan prajurit royalis dan bayaran. Januari 1573, saat tentara-tentara Spanyol disibukkan oleh pemberontakan dari dalam, pasukan-pasukan Orangis secara leluasa merebut Benteng Popkensburg yang berada di bagian luar Middelburg. Sementara Kemarahan Spanyol yang sedang berlangsung di kota-kota lainnya mempertajam perlawanan rakyat dan meretakkan kekuasaan. Di Istana El Escorial, Philip II terus-menerus menerima laporan mengenai kekejian Alva yang semakin menyulut amarah massa. Tekanan dari membelah istananya. Hari-hari kaisar diselimuti pertarungan di antara kedua kubu di Dewan Istana: faksi konservatif Albitas dan faksi liberal Ebolista. Terhadap persoalan Belanda, Albitas mendukung penggencaran represi dengan melanjutkan perang dan Ebolista mengusungkan pendekatan yang lebih humanis dengan memberikan konsensi. Perseteruan keduanya dipenuhi manuver dan intrik-intrik keji. Di pengadilan kerajaan, kasus pengingkaran perkawinan oleh Fedrique (putra Alva) yang telah lama terkubur diungkit-ungkit lagi. Januari 1574, Adipati Alva ditarik kembali ke Spanyol dan digantikan oleh Do Luis de Requesens. Do Louis merupakan pemimpin yang moderat, pejabat royalis dan diplomat ulung. Dalam Pertempuran Lepanto, ia juga ditempatkan sebagai Letnan Jenderal dan banyak membantu Don Juan. Pertengahan 1573, Juan diberi mandat menaklukan Tunisia dan Louis ditunjuk ditunjuk menggantikan Alva. Mengenai pergantian Alva dengan Luis—ini tidaklah ditentukan melalui intrik, tetapi berdasarkan situasi politik luar negeri Spanyol: Ottoman sudah dikalahkan, Venesia telah diamankan, dan armada Spanyol lebih kuat ketimbang Tunisia. Dalam kondisi inilah pendekatan yang teramat otoriter tidak lagi diperlukan untuk mengekang Negara Rendah. Maka kehadiran Luis di Belanda Selatan kontan memberikan pengampunan umum, membubarkan Dewan Darah, dan membatalkan penarikan pajak penjualan sebesar 10 persen.
Reformasi itu bertujuan menenangkan massa dan membangun kembali legitimasi kekuasaan. Hanya kini pemberontak-pemberontak Belanda bukan saja telah mendapat bantuan Inggris dan Prancis, tetapi juga mereka sudah jauh lebih siap setelah merebut pelbagai kota dan mendapat dukungan massa yang teradikalisasi. Luois akhirnya gagal memadamkan pemberontakan yang terjadi. Tanggal 23 Februari, garnisun-garnisun Spanyol dan pendeta-pendeta Katolik Middleburg menyerah dan kota sepenuhnya berada di bawah kendali pemberontak. Seusai kemenangan ini pengemis laut dan sekutunya meningkatkan Pengepungan Leiden. Tanggal 14 April, Pertempuran Mookerheide meledak. Walaupun di laut Hendrik dan Louis van Nassau tewas dan kapal-kapal pengemis dihancurkan, namun di tembok-tembok kota rakyat bersenjata berhasil mengalahkan Spanyol. Sepanjang September, Dewan Kota yang dipimpin oleh perwakilan-perwakilan pemberontak meningkatkan pengorganisiran perempuan dan laki-laki ke dalam barikade. Awal Oktober, mereka menjebol tanggul, menenggelamkan dan memukul mundur seluruh royalis dan tentara bayaran, hingga merebut benteng-benteng musuh. Tepat 3 Oktober, Leiden dikuasai sepenuhnya dan pengepungan berakhir dengan kemenangan. Demikianlah transformasi besar dalam sejarah—baik revolusi maupun kontra-revolusi—tidak dintentukan oleh perhitungan diplomatik, intrik dan manuver, melainkan perimbangan kekuatan kelas. Campur tangan massa merupakan kekuatan vital bagi Calvinis dan Orangis. Bersandar pada perjuangan revolusioner massa, mereka sekarang menguasai Belanda dan Zeeland serta berusaha menyatukan perwakilan dari negara-negara bagian ke dalam Serikat Jenderal Belanda. Lewat “Sejarah Revolusi Rusia”, Trotsky menjelaskan mengenai kekuatan massa dan hubungannya dengan kepemimpinannya:
“Ciri paling pasti dari sebuah revolusi adalah campur tangan langsung massa dalam peristiwa sejarah. Di masa-masa biasa negara, baik monarki atau demokratis, meninggikan dirinya di atas bangsa, dan sejarah dibuat oleh spesialis dalam bidang bisnis itu—raja, menteri, birokrat, anggota parlemen, jurnalis. Tetapi pada saat-saat genting ketika tatanan lama tidak dapat lagi ditolerir oleh massa, mereka mendobrak penghalang yang mengucilkan mereka dari arena politik, yang menyingkirkan wakil-wakil tradisional mereka, dan dengan campur tangan mereka sendiri menciptakan landasan awal bagi sebuah rezim baru…. Intinya adalah masyarakat tidak mengubah institusinya saat dibutuhkan, seperti cara seorang mekanik mengubah instrumennya. Sebaliknya, masyarakat justru menganggap lembaga-lembaga yang bergantung padanya sebagai sesuatu yang diberikan sekali untuk selamanya. Selama puluhan tahun, kritik oposisi tak lebih dari katup pengaman bagi ketidakpuasan massa, syarat kestabilan struktur sosial … kondisi yang benar-benar luar biasa, terlepas dari kehendak pribadi dan partai, diperlukan untuk melepaskan belenggu konservatisme dari ketidakpuasan, dan membawa massa ke pemberontakan. Perubahan pandangan dan suasana hati massa yang cepat dalam zaman revolusi dengan demikian berasal, bukan dari fleksibilitas dan mobilitas pikiran manusia, tetapi justru sebaiknya, dari konservatismenya yang dalam. Keterlambatan ide dan relasi yang kronis di balik kondisi obyektif yang baru, hingga saat kondisi obyektif yang baru menimpa orang-orang dalam bentuk malapetaka, adalah yang menciptakan dalam periode revolusi gerakan ide dan hasrat yang melompat-lompat…. Massa pergi ke revolusi bukan dengan rencana rekonstruksi sosial yang telah disiapkan, tetapi dengan perasaan tajam bahwa mereka tidak dapat bertahan dengan rezim lama. Hanya lapisan pemimpin dari sebuah kelas yang memiliki program politik, dan bahkan ini masih memerlukan ujian peristiwa, dan persetujuan massa.”
Di Belanda dan Zeeland, Serikat Jenderal mengatur pemerintahan dan pemberontakan massa yang terus berlanjut hingga menguras keuangan Spanyol secara mengerikan. Meskipun setelah kemenangan di Mediterania semua anggaran Perang Habsburg-Ottoman dialihkan untuk perawatan dan pembayaran tentara-tentara Spanyol di Negara Rendah, namun pemberontakan-demi-pemberontakan yang tidak bisa dipadamkan segera mengeringkan perbendeharaan kekaisaran. Di barak-barak, prajurit bergumam, menciptakan kebisingan, dan mengganggu ketentraman pemimpin-pemimpinnya. Di Istana Koudenberg, kesehatan Do Louis semakin menurun. Tanggal 5 Maret 1576, Louis menghembuskan nafas terakhirnya. Posisinya kemudian digantikan oleh Don Juan. Tetapi sembari menunggu kedatangan Juan dari Spanyol, Negara Rendah dipercayakan kepada Pemerintahan Sementara Adipati Aerschot. Di bawah kepemimpinannya, moderasi diteruskan tapi tetap saja tak mampu menciptakan kestabilan. Tepat 4 November, Angkatan Darat Flanders yang tidak dibayar melakukan pembangkangan di Antwerpen. Selama 3 hari, sekitar 1.000 rumah dijarah hingga 8.000 penduduk dibunuh dan puluhan ribu orang dikepung kengerian. Kali ini penjarahan bukan lagi berdasarkan instruksi gubernur, melainkan karena tuntutan situasi khusus dan umum. Intervensi Inggris di wilayah perairan benar-benar mengacaukan pelayaran kapal-kapal harta dan logistik Spanyol ke Negara Rendah. Antara Desember 1577 dan September 1580, Inggris menggencarkan perseteruan dagang dan militernya dengan melepas 5 kapal yang dipimpin oleh Francis Drake. Ekspedisi itu semakin melemahkan Habsburg karena pelaut-pelaut Inggris tak sekadar melakukan penangkapan dan perampokan di tengah-tengah Atlantik, Pasifik, dan Hindia, tapi lebih jauh menjarah sampai ke pinggir-pinggir pelabuhan yang dikuasai Spanyol dan Portugal. Inggris—dalam melancarkan kepentingan perdagangannya—membangun seabrek pelabuhan, galangan kapal besar, dan membuat kapal-kapal yang begitu cekat dan kuat. Kapalnya dibuat dengan ramping, dipasangi layar-layar besar, dan dilengkapi banyak artileri dan meriam. Inilah yang memungkinkannya menjadi pasukan laut terkuat di Eropa. Prajurit-prajurit Spanyol-Portugal memang tangguh dan unggul di darat, namun di lautan kerap kali bertekuk lutut di hadapan armada-armada Inggris. Sebab, teknologi yang digunakan serta taktik tabrak lari dan mencengkeram kapal musuh kurang ampuh dalam menghadapi lawan yang canggih dan gesit.
Dalam Perang Delapan Puluh Tahun, Habsburg bukan saja kehilangan banyak sumber daya melainkan pula institusi militernya dibuat retak. Ekspedisi Perampokan Drake, serangan pengemis-pengemis laut, dan terutama tekanan-tekanan dahsyat dari akar rumput menentukan kebijakan rezim. Penjarahan Antwerpen memperdalam ketidakstabilan. Kaum burgher mengancam memindahkan modalnya ke Belanda Utara dan orang-orang Katolik yang terjarah mulai membangkang dan bersimpati kepada pemberontak. Aerschot lantas menemui Serikat Jenderal Belanda yang bermarkas di Brussel dan secara diplomatik mengajak para pemimpinnya berkompromi. Pangeran-pangeran Protestan dan Katolik duduk bersama. William the Silent dan pengemis laut sepakat untuk memulai gencatan senjata. Tanggal 8 November 1576, Pasifikasi Ghent disepakati tanpa mempertimbangkan penolakan-penolakan dari Calvinis, kelas pekerja dan plebeian di Belanda dan Zeeland. Isi kesepakatannya meliputi: pasukan-pasukan Spanyol ditarik mundur dari Antwerpen, hukum bid’ah dicabut, semua properti yang disita pengadilan dikembalikan, pergerakan barang-jasa dibebaskan, tawanan perang dilepaskan, mata uang Negara Rendah diseragamkan, para pengeran diberikan ganti-rugi atas ongkos perang yang telah dikeluarkan, perdamaian agama ditorehkan, Utara dan Selatan dipersatukan, Gereja Katolik dan Protestan diagungkan, dan kekuasaan kaisar dipulihkan. Pada 12 Februari 1577, Don Juan menandatangani Dekrit Abadi untuk menegakkan poin-poin Pasifikasi Ghent. Kini seabrek bangsawan tinggi diakui sebagai stadtholder dan dibebani tugas menjaga keamanan. Di Belanda dan Zeeland, William meyakinkan pemimpin-pemimpin Calvinis untuk menerima Pasifikasi Ghent demi menegakkan kebebasan dan toleransi antara pemeluk keyakinan. Namun meskipun perdamaian ditasbihkan tapi tiada kedamaian. Di tengah gencatan senjata, Juan menggunakannya untuk memperbaiki disiplin militer dan membangun kembali kekuatan. Dari Italia, bala bantuan Spanyol didatangkan: ribuan prajurit yang dipimpin Adipati Parma Alexander Farnese sedang dalam perjalanan. Kekaisaran Habsburg dan Gereja Katolik tidak ingin berdamai, tetapi melanjutkan perang dan penaklukan. Di Negara Rendah, Juan berusaha keras mempersiapkan prajuritnya untuk menghadapi persaingan kolonial dan komersial Inggris, bertempur melawan Calvinis, Orangis, dan Huguenot Prancis. Hanya ancaman utamanya adalah massa-rakyat: pekerja dan plebeian yang memberontak.
Pasifikasi Ghent merupakan kompromi para burgher dan aristokrasi yang tidak pernah disepakati akar rumput. Kelas menengah, orang-orang kaya dan berhak istimewa sudah lelah dengan perang dan kegandrungan melakukan rekonsiliasi dengan Habsburg. Mereka ingin keluar dari tahun-tahun badai, menikmati keistimewaan dan jaminan atas hak-hak properti barunya. Atas dasar kompromi mereka sekarang tidak sebatas beroleh gelar-gelar yang tinggi, tetapi juga dilengkapi gaji dan fasilitas-fasilitas resmi yang murah hati. Demikianlah mereka menjadi pasifis yang keji: perjanjian-perjanjian damai diratifikasi dan revolusi ingin diakhiri. Dengan gelora pasifikasi mereka menipu massa kalau situasi telah pulih dan pertentangan kelas sudah selesai. Semua yang mendorong maju revolusi dituntut berhenti atas nama Pasifikasi Ghent dan Dekrit Abadi. Namun di bawah, massa terus bergerak dan melanjutkan pemberontakannya. Di Utrecht, laki-laki dan perempuan tetap bersiaga dan bertempur melawan serdadu-serdadu Habsburg. Sejak kemenangan pemberontakan di Alkmaar dan Leiden, sepuluh kompi prajurit berdatangan dan berusaha menundukan Utrecht. Tetapi barikade-barikade bersenjata setempat tidak mampu dikalahkan. Desember 1574, garnisum Spanyol dipukul-mundur, kebanyakan prajuritnya melarikan diri, dan sisanya tersudutkan di Kastil Vredenburg. Dewan Kota dikepung. Semua anggotanya yang berpihak pada Spanyol ditangkap dan diganti dengan pemimpin-pemimpin pemberontak. Setelah berita penjarahan dan perdamaian di Antwerpen terdengar, pertempuran di Utrecht meledak. Tanggal 21 Desember 1576, tentara-tentara bayaran yang belum digaji, kelaparan dan terdemoralisasi memulai penyerangan secara putus asa. Dari kastilnya, artileri menyalak. Penduduk-penduduk kota ditembaki, rumah-rumah dibakar, dan setumpuk warga meninggal dunia.
Dalam kondisi itulah laki-laki dan perempuan memperkuat barikadenya, mengumpulkan senjata dan mesiu, dan menggali parit-parit pertahanan di rumah-rumah di sekitar kastil. Di atas menara-menara gereja, tembakan-tembakan pemberontak menghujani dinding-dinding pertahanan Spanyol. Selama sebulan kontak senjata, ibu-ibu dan gadis-gadis muda menjadi lapisan yang paling menonjol. Mereka tak sekadar marah melihat rumah-rumahnya dihancurkan dan orang-orang kesayangannya terbunuh, tetapi juga berusaha melindungi sesamanya dari upaya pelecehan seksual. Perempuan penyeduh bir bernama Catrijn van Leemput—yang rumahnya terletak di seberang kastil—mengambil peran aktif di parit-parit pertempuran. Bersenjatakan beliung, dia bersama seabrek perempuan lainnya turut merawat yang terluka dan memasok logistik. Saat anak perempuannya—Catherine—menghadapi percobaan pemerkosaan, Catrijn mengamuk; bersama suaminya—Jan van Leemput—yang menjadi pimpinan di salah satu kompi milisi sipil—ia bertempur. Di sisinya terdapat pula Maria yang tunangannya gugur di medan tempur. Penghujung Januari, tentara Flanders dan prajurit-prajurit bayaran Spanyol lainnya akhirnya kehabisan amunisi dan makanan. Beberapa di antaranya mati kelaparan. Tepat 11 Februari 1577, tentara-tentara yang terkupung menyerah, benteng dan penjara terakhir Spanyol direbut pemberontak, dan mereka semua diusir sebagai orang-orang kalah. Setelah kemenangan inilah, Catrijn dan Maria mengikuti forum kota dan mengusulkan kepada para hadirin untuk menghancurkan Kastil Vredenburg. Di Dewan Kota, seabrek pemimpin kelas menengah tidak menyetujui usulan tersebut. Keduanya tidak menyerah tapi berusaha memenangkan dukungan akar rumput. Tanggal 2 Mei, Catrijn dan Maria memimpin massa dalam proses penghancuran kastil. Laki-laki dan perempuan menyerang kastil dengan bersenjatakan beliung, palu dan kapak. Bangunan itu remuk-berantakan, tetapi benda-benda berharga dikumpulkan untuk dijual dan memenuhi kebutuhan penduduk yang miskin dan lapar.
Pasifikasi Ghent tidak bisa dipertahankan. Massa menolak mundur dari medan perjuangan. Perdamaian hanya berlangsung di atas kertas, bukan dalam keberadaan sosial-ekonomi kelas pekerja dan plebeian yang tidak terperikan: ketentraman tiada bersemi di gubuk-gubuk massa, karena sepenuhnya mekar di istana, gereja, kastil, dan rumah-rumah mewah semata. Maka perjanjian damai yang bermotif toleransi beragama sesungguhnya menyingkap kemunafikkan agama. Massa bangkit untuk memperjuangkan revolusi dalam kehidupan nyata, bukan demi pahala dan surga yang abstrak rupanya. Kebebasan dan jaminan individu dalam beragama merupakan penipuan besar terhadap massa. Semuanya tak pernah beringsut dari kepentingan para burgher untuk berdagang, mengejar jabatan, dan menumpuk kekayaan pribadi. Beralatkan agama, mereka membangun surga-surga bisnis dan politiknya sekarang juga; sementara massa diyakinkan untuk tunduk dan sabar menunggu sampai keajaiban dan bilik-bilik kehidupan akhirat terbuka. Napoleon Bonaparte saja sangat memahami itu: ‘saya tidak melihat dalam agama misteri transubstansiasi tetapi misteri tatanan sosial’ dan ‘masyarakat tidak dapat eksis tanpa ketimpangan kepemilikan, suatu ketimpangan yang tidak dapat dipertahankan tanpa agama’. Tugas agama di tangan kelas penguasa adalah mempertahankan kesenjangan sosial dengan mengaburkan dan menundukan kepentingan kelas yang menjadi lawannya. Hanya di tengah zaman yang bergejolak dengan perang, revolusi dan kontra-revolusi; ledakan-ledakan peristiwa dan ketidakstabilan yang berlarut-larut akan membokar kebusukannya. Di Flandria, Aerschot ditempatkan untuk menggantikan Jan van Croy sebagai stadtholder. Tetapi disingkirkannya pemimpin pemberontak segera memicu protes. Calvinis, serikat pengrajin, dan milisi-milisi kota meluncurkan pemberontakan: laki-laki dan perempuan membentuk barikade dan menggempur Dewan Kota. Kepercayaan kepada William dan Serikat Jenderal merosot begitu rupa. Aerschot bersama uskup dan hakim-hakim kotanya ditangkap. Ghent sekarang dikuasai pemberontak.
Pada 28 Oktober 1577, Republik Calvinis Ghent dideklarasikan dan Dewan baru beranggotakan 18 perwakilan dibentuk. Dalam waktu sebulan, benteng-benteng musuh berhasil direbut dan pemberontakan meluas. Di Belanda Selatan, Dewan 18 merencanakan perebutan kota-kota tekstil lainnya. Mereka tidak saja bertempur dengan kekuatan milisi sipil, tapi juga menyewa tentara-tentara bayaran dari Skotlandia. Tanggal 31 Januari 1578, perjanjian damai dirobek. Suasana semakin panas. Semua yang berdamai lanjut berperang. Adipati Parma telah tiba dan Don Juan memerintahkannya untuk membuka Pertempuran Gembloux di dekat Namur. Pemimpin-pemimpin Orangis, pengemis laut dan sekutunya—yang sebelumnya menaruh pengharapan pada perjanjian damai—diseret kembali dalam peperangan. Tetapi kekuatan mereka sekarang menurun. Selama Pasifikasi Ghent, Serikat Jenderal Belanda menyingkirkan milisi-milisi yang membantunya. Keterlibatan rakyat bersenjata dan kekerasan revolusioner dipandang sebagai kekejian. Mereka pikir dapat mengakhiri perang dengan membujuk dan meyakinkan penguasa-penguasa feodal untuk berhenti menggunakan kekerasan. Sementara pertentangan kelas-kelas sosial menuntut penggunaan kekuatan. Perdamaian abstrak yang seiras rumah kertas lantas diumumkan untuk menyangkal kepentingan-kepentingan kelas yang saling berlawanan. Mereka tidak berani memperjuangkan perdamaian dengan merebut kekuasaan dan memperjuangkan penghancuran masyarakat kelas. Demikianlah pemberontakan berusaha dipadamkan. Mereka lebih takut kepada pekerja dan plebeian yang dipersenjatai, ketimbang prajurit-prajurit kaisar yang bersimbah darah dan tentara-tentara bayaran yang menyerang secara membabi-buta. Mereka sangat ngeri melihat feodalisme yang sedang sekarat digulingkan secara revolusioner, ketimbang kekerasan reaksioner—penjarahan, perbudakan, pemerkosaan, pembunuhan, dan pembantaian—yang dilakukan pasukan-pasukan kekaisaran secara terang-terangan. Padahal penggunaan kekuatan sangat dibutuhkan. Dalam “Perang, Perdamaian, dan Perjuangan Kelas: Marxisme versus Pasifisme”, Ben Gliniecki menegaskan:
“Kekuatan dapat memainkan peran revolusioner dalam sejarah. Melalui bentrokan dan kontradiksi masyarakat berkembang, yaitu melalui perang dan revolusi. Tidak ada kelas penguasa dalam sejarah yang pernah menyerahkan posisinya tanpa perlawanan. Masyarakat [kelas] pada dasarnya didasarkan pada kekerasan dan paksaan. Diperlukan kekuatan untuk menghapuskannya. Tetapi apakah paksaan berarti kekerasan? Ahli strategi militer Tiongkok kuno Sun Tzu menulis dalam bukunya The Art of War, bahwa ‘mereka yang membuat pasukan lain tanpa berperang adalah yang terbaik bagi semuanya’. Dengan kata lain, adalah mungkin, dan lebih baik, untuk memenangkan pertarungan dengan unjuk kekuatan yang luar biasa sejak awal, untuk membuat kaum [agresor] tidak mampu lagi berperang. Itu membutuhkan penggunaan kekuatan kita dalam keseimbangan kekuatan kelas. Itu membutuhkan pemisahan barisan tentara dari para perwira dan mempersenjatai kelas pekerja. Tapi kebijakan ini membutuhkan pembersihan mutlak pasifisme dari gerakan revolusioner. Kita harus berjuang sampai akhir untuk mempertahankan revolusi kita….”
Dalam peperangan dan pemberontakan, keragu-raguan adalah sikap yang dapat menjadi bumerang. Saint-Just mengatakan: ‘mereka yang membuat revolusi setengah jalan hanya menggali kuburnya sendiri’. Trotsky juga menegaskan: ‘tak ada istilah bermain-main dengan pemberontakan. Kesengsaraanlah bagi dokter bedah yang sembrono dalam menggunakan pisau bedah!’ Saat menghadapi serangan tiba-tiba Pangeran Orange mendapati barisannya lemah. Pengemis laut dan prajurit-prajurit sekutunya terkejut atas gempuran mendadak. Di Pertempuran Gembloux, mereka kocar-kacir dan kalah telak. Tidak ada barikade-barikade terdekat yang bisa dikontak. Mereka panik, berantakan dan terpukul-mundur. Walaupun memenangkan pertarungan, tetapi kesehatan Don Juan memburuk. Oktober 1578, Juan meninggal dunia dan kepemimpinannya diambil-alih Alexander Fernese. Dalam melemahkan kekuatan musuh, Adipati Parma menggunakan taktik adu-domba. Manuver dan intrik dipertajam. Sentimen religius sekali lagi dikobarkan untuk memecah-belah persatuan lawan. Di sisi Fernese, pangeran-pangeran Katolik ditumpuk dalam partai royalis Malcontent dan tentara Flanders dipanggil kembali. Di Dewan Negara, para stadtholder terpolarisasi. Di tengah berlanjutnya pemberontakan, kontak senjata dan pengepungan—maka kompromi bangsawan tinggi tak bisa lagi dipertahankan. Philibert de Lalaing, Philip de Lalaing, dan George de Lalaing (Pangeran Rennenberg)—yang selama Pasifikasi Ghent bergabung dalam Serikat Jenderal Belanda—kini melakukan pembelotan. Mereka berusaha keras membantu Fernese untuk menggempur pasukan-pasukan pemberontak di Overijssel dan Menen. Sementara William—dengan posisinya sebagai stadtholder di Belanda, Zeeland, dan Utrecht—berusaha memperkuat pasukannya dan mencari perlindungan dengan menawarkan kekuasaan 17 Provinsi Belanda Habsburg kepada Ratu Elizabeth I (Inggris) dan Adipati Anjou (Prancis).
Di tengah keadaan kritis, peran yang dimainkan William sangat penting. Dengan posisi sosial-ekonominya sebagai bangsawan tinggi, prestisenya selaku stadtholder, dan kemampuannya dalam memimpin pengemis laut dan sekutunya—dia melakukan intervensi-intervensi yang menentukan, tetapi dalam konteks umum dan pada akhirnya ditentukan oleh kekuatan historis yang lebih luas. Plekhanov pernah mengingatkan kalau pengaruh individu ‘kadang-kadang sangat besar, tetapi kemungkinan pelaksanaannya dan jangkauannya ditentukan oleh organisasi masyarakat dan penyelarasan kekuatannya’. Dia menegaskan: ‘karakter individu adalah “faktor” dalam perkembangan sosial hanya di mana, kapan, dan sejauh mana hubungan sosial mengizinkannya’. Saat Pasifikasi Ghent, William berperan aktif dalam menekankan perdamaian karena kelas menengah dan borjuasi yang berada di belakangnya menginginkan kestabilan. Mereka tidak sebatas merasa ngeri akan perjuangan revolusioner yang cenderung menyerang kepemilikan properti, tetapi lebih-lebih mengalami kerugian kolosal selama penjarahan di Antwerpen. Menghadapi kekacauan inilah para burgher dan orang-orang kaya beragama Katolik memberikan dukungannya terhadap Orangis dan sekutunya. Namun setelah perdamaian ditorehkan, kelas sosial yang paling menderita adalah pekerja dan plebeian. Poin-poin perjanjian damai tidaklah melayani kepentingan orang-orang yang terhisap dan miskin—yang menjadi kekuatan utama revolusi—melainkan gerombolan bangsawan tinggi, pedagang-pedagang, dan seabrek pemilik properti lainnya. Akhirnya kedamaian gagal diwujudkan, pemberontakan dan peperangan dilanjutkan, posisi kompromi tak bisa dipertahankan, dan Pangeran Orange menemukan dukungan massa terhadapnya melemah. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, gerakan massa menyapu konsensi-konsensi yang berusaha merintangi jalannya revolusi. Di Ghent, semua upaya negosiasi dan rekonsiliasi ditolak. Republik Calvinis memprotes Kepemimpinan William dan Serikat Jenderal Belanda yang lembek dan ragu-ragu dalam bertempur. Di tubuh republik, para pemimpin Orangis ditentang. Perjuangan faksional membuncah: pertarungan antara faksi radikal (pimpinan Jan van Hambyze) melawan faksi moderat (pimpinan Francois van Ryhove) menegang.
Di tengah pertarungan faksional, William membantu Ryhove mengusir keluar Hambyze dari Dewan 18 dan mengarahkan republik ke arah yang lebih moderat. Dalam keadaan inilah Adipati Parma secara leuasa merebut kembali kota-kota yang dikuasai Calvinis. Di sisinya, Malcontent juga terus-menerus melancarkan manuver dan intrik. Pada 6 Januari 1579 di Belanda Selatan, mereka mendeklarasikan Persatuan Arras (Aliansi Hainaut-Artois-Douai) untuk menentang keberadaan Republik Calvinis Ghent, melawan kampanye toleransi beragama Pangeran Orange dan Serikat Jenderal di Belanda dan Zeeland, dan mempertahankan otoritas Kekaisaran Habsburg dan Gereja Katolik Romawi di Negara Rendah. Menghadapi ancaman Arras maka serikat-serikat pengrajin, Calvinis dan Orangis di Belanda Utara segera bersatu. Kerenggangan antara Calvinis dan Orangis tidak dapat dilanjutkan. Hubungan keduanya dipulihkan. Tanggal 21 Januari, Belanda Utara mengimbangi Persatuan Arras dengan membangun Persatuan Utrecht. Para pemberontak di Belanda, Zeeland, Utrecht, dan Groningen bersatu dalam mendukung Republik Calvinis, melindungi kebebasan beragama, dan meneruskan perlawanan terhadap mahkota dan gereja ortodoks. Persatuan itu disambut hangat oleh pemberontak-pemberontak di Ghent, Friesland, dan Guelders—mereka menyatakan diri bergabung. Seonggok pendukung Arras lantas mengamuk. Di bawah komando George de Lalaing, garnisun Spanyol melakukan Pengepungan Steenwijk (18 Oktober 1580-23 Februari 1851). Namun gerombolan pengepung mampu dikalahkan oleh rakyat bersenjata yang dibantu prajurit-prajurit Belanda-Inggris. Saat pertarungan itu berlangusng Philip II tidak dapat berbuat banyak. Di istananya, perhatian utamanya tertuju pada Pertempuran Alcantara (Perang Suksesi Portugis-Spanyol). Di bawah pimpinan Alva, 14.800 tentara bayaran Jerman dan Italia dikerahkan dalam melancarkan invansinya. Saat Spanyol menggempur Lisbon sekuat tenaga, maka efeknya adalah pengerahan kekuatan yang menurun di Belanda Utara. Tepat 26 Juli 1581, pemberontak-pemberontak Belanda meneguhkan perlawanannya dengan menandatangani Act of Abjuration. Kesepakatan ini menjadi landasan hukum nasional dan kemerdekaan Belanda yang mempromosikan gagasan kedaulatan rakyat untuk memerangi hak suci raja dan gereja. Plakat Abjurasi menegaskan: ‘semua hakim di provinsi dan kota-kota yang bergabung dalam Persatuan Utrecht dibebaskan dari sumpah setianya kepada tuan mereka’.
Kekuasaan Spanyol sekarang tidak lagi diakui oleh provinsi-provinsi yang bersatu. Otoritas kaisar telah dipindahkan ke tangan Serikat Jenderal Belanda. Philip II marah besar dan memerintahkan pengerahan kekuatan penuh. Di tengah keadaan yang semakin panas, Orangis dan Serikat Jenderal mengatur plot yang menempatkan Adipati Anjou sebagai kepala negara bagi provinsi-provinsi bersatu. Namun massa tidak menerimanya. Tanggal 17 Januari 1583, saat Anjou memasuki Antwerpen dan mengumumkan pemerintahannya, kelas pekerja dan plebeian bangkit memeranginya. Di bawah Kepemimpinan Calvinis, laki-laki dan perempuan menjebak Anjou: mempersilahkan rombongannya memasuki perkotaan, mengunci gerbang keluar-masuk, mengepungnya dari segala arah, dan berdiri di tembok-tembok kota untuk melempar batu, balok kayu, tar mendidih, rantai kapal, dan merobohkan musuh-musuhnya dengan tembakan-tembakan anggur. Lebih dari 1.500 prajuritnya tewas tapi Anjou berhasil meloloskan diri. Bulan Juni, dia berpulang ke Prancis dan membuang semua keinginannya untuk berkuasa di 7 Provinsi Merdeka. Sementara integritas William dan pengemis laut menurun. Di Republik Calvinis, faksi moderat yang berpihak pada William diguncang. Ghent sebentar lagi akan diserang oleh Adipati Parma dan tentara-tentara Flanders. Kabar sudah beredar dan seluruh kota harus bersiap-siap. Dalam kondisi inilah faksi moderat tersingkir. Massa menuntut kepemimpinan radikal yang bersedia bertempur. Ryhove akhirnya diusir dan Hembyze diangkat kembali sebagai pemimpin republik. Oktober 1583, pasukan-pasukan Spanyol telah tiba dan Pengepungan Ghent dimulai. Barikade-barikade mempertahankan tembok-tembok kota. Ibu-ibu dan gadis-gadis muda, bergerak dari rumah-ke-rumah dan menghipun logistik begitu rupa. Mereka memberi melindungi orang tua dan anak-anak, sembari memasok segala yang dibutuhkan untuk memperkuat dinding-dinding kota. Di atas tembok kota, laki-laki dan perempuan berperang tanpa takut mati. Darah membanjir tapi semangat masih membara.
Hanya kekalahan segera menghinggapi mereka. Pertarungan faksional menggerogoti pertempurannya. Di Dendermonde, gerombolan Ryhove dan pengemis-pengemis laut memblokir pasokan makanan dan persenjataan yang dikirimkan Antwerpen ke Ghent. Kelaparan menjadi akut dan persaingan hidup meningkat. Di Aalst, garnisun-garnisun Inggris—yang seharusnya membantu Belanda—menyerahkan kota sepenuhnya demi mengisi perutnya dengan suapan ransum dari Spanyol. Di Ghent, Hembyze terpaksa membuka negosiasi rahasia dengan Parma. Tetapi dia ditangkap, dipenjara, dan dibunuh. Sekarang pemimpin-pemimpin Calvinis dan Orangis diburu. Ryhove sendiri melarikan diri ke Inggris dan William bersembunyi di Delft. Tanggal 10 Juli 1584, Pangeran Orange ditembak mati oleh pembunuh bayaran Parma. Sementara pemberontak-pemberontak di Ghent semakin lapar dan kehabisan amunisi. Tepat 17 September 1584—Ghent menyerah, Republik Calvinis dinyatakan runtuh, dan 15.000 penduduknya diusir ke Belanda Utara. Juli 1585, giliran Antwerpen yang dikepung. Adipati dan tentaranya membangun benteng dan jembatan di atas Sungai Scheldt. Rute pelayaran kontan terputus, semua logistik dihambat, dan jalur perdagangan—antara Ghent dan Dendermonde—hancur. Belanda dan Zeeland tidak berhasil mengirimkan bala bantuannya: perahu-perahu dayung tak mampu menerobos masuk dan pengemis-pengemis laut dipukul mundur. Sementara di dalam kota, Parma mengambil pelajaran dari kegagalan-kegagalan sebelumnya. Dia sekarang meningkatkan disiplin militer begitu rupa. Memanfaatkan penemuan Rute Savoyard, rombongan-rombongan Habsburg menemukan jalan aman untuk mengirimkan bala bantuan dan harta dari Spanyol ke Negara Rendah. Di sini armada laut Inggris tidak bisa menganggu. Kini Parma dapat membayar gaji tentara-tentara Flanders supaya mereka tak lagi mengulangi perbuatannya di masa lalu: melakukan penjarahan yang mendorong para burher dan orang-orang kaya Katolik ke arah pemberontakan.
Pada 17 Agustus 1585, kelaparan dan keterisolasian memaksa penduduk untuk menyerah dan membuat kesepakatan angkat kaki dari Antwerpen. Dalam waktu 4 bulan saja, sekitar 60.000 pedagang, pengrajin dan pekerja-pekerja harian di kota-kota tekstil telah menghilang. Mereka berpindah ke kota-kota di Belanda Utara dengan membawa seluruh modal dan keterampilan tekniknya di tempat yang baru. Migrasi berskala raksasa ini membangkitkan perekonomian Utara. Sementara di Belanda Selatan, aktivitas industri dan perdagangannya melemah. Tetapi misi Spanyol belum selesai. Setelah mengamankan Belanda Habsburg, Adipati Parma segera meluncurkan invansi ke Inggris untuk mengkudeta Elizabeth I, mengakhiri keterlibatan Inggris dalam Perang Delapan Puluh Tahun, membalas serangan-serangan pelaut Inggris di pelabuhan-pelabuhan koloni Spanyol, dan mempertahankan dominasi atas perdagangan budak di Dunia Baru. Namun invansinya gagal. Armada Inggris lebih unggul. Mereka adalah prajurit laut terkuat di Eropa, karena perkembangan teknik dan industrinya serta kesanggupannya dalam menyewa sebanyak mungkin tentara bayaran. Sementara Spanyol adalah sebaliknya: teknologinya lemah dalam pertempuran laut namun pasukannya bisa diandalkan di darat, karena terlatih dalam perang-perang untuk memperebutkan tanah-tanah feodal. Demikianlah Spanyol kalah telak atas Inggris: dari 137 kapal yang dikerahkannya hanya sepertiga yang kembali dengan selamat. Meski dikalahkan tapi Spanyol masih ngotot bertempur. Revolusi Belanda telah menghancurkan keseimbangan dan menghantarkan pada perang yang mengular. Serangan Adipati Parma merupakan pembukaan resmi bagi Perang Inggris-Spanyol (1585-1604). Di tengah peperangan inilah fokus Habsburg untuk menyerang Belanda Utara menjadi buyar. Sepanjang 1580-an, perang bergeser ke laut: pengepungan dan penjarahan kota-kota tekstil di Negara Rendah berangsur-angsur digantikan oleh tabrak lari, pendudukan, dan penenggelaman kapal-kapal di wilayah perairan.
Sementara dengan sumber daya yang berlimpah di Utara, Serikat Jenderal Belanda mulai melaksanakan diplomasi untuk meminta bantuan yang lebih besar dari Inggris. Tanggal 20 Agustus, mereka melaksanakan penandatangan Perjanjian Nonsuch yang mengerahkan sebanyak mungkin pasukan yang dipimpin Earl of Leicester Robert Dudley ke Belanda. Tetapi kehadiran Robert Dudley tidaklah memberikan perlindungan, tetapi meneruskan kepentingan kolonial dan komersial Inggris. Awal 1586, Leicester merebut kursi di Serikat Jenderal dan meluncurkan embargo terhadap Spanyol. Pelabuhan-pelabuhan utama dikendalikan Inggris. Kebijakan ini tidak saja melemahkan Habsburg, tapi juga membangkitkan kemarahan pedagang-pedagang Belanda karena perdagangan biji-bijian Belanda-Baltik telah dialihkan menjadi Inggris-Baltik. Bulan Agustus, Calvinis di Utrecth dan Friesland meluncurkan pemberontakan. Januari 1587, Leicester membalasnya dengan pembelotan garnisun-garnisun Inggris di Deventer dan Zutphen. Selama September, dia berusaha merebut Amsterdam dan menyingkirkan pemimpin-pemimpin Calvinis. Tetapi upaya kudetanya gagal. Sekali lagi, laki-laki dan perempuan pekerja mengamuk. Barikade-barikade dibentuk untuk mempertahankan revolusi. Parit-parit pertempuran digali. Senjata diangkat. Dentuman rantai, gedebum peluru dan mesiu menyalak. Benteng-benteng Inggris hancur. Pertengahan Desember, Leicester dan pasukannya berhasil dipukul-mundur ke Inggris. Tahun 1588, 7 Provinsi Belanda Bersatu (Belanda, Zeeland, Utrecht, Groningen, Oversijssel, Guelders, dan Frisia) secara resmi diproklamirkan sebagai Republik Belanda. Di tengah Perang Delapan Puluh Tahun yang telah berpindah ke laut, borjuasi Belanda mengembangkan industri perkapalan. Pada 1590-an, galangan-galangan kapal modern mulai dibuka. Awal abad ke-17, kapal-kapal buatan Belanda mendominasi pasar-pasar Eropa. Selama menghadapi armada-armada Spanyol, armada Belanda tampil mendominasi di berbagai medan pertempuran. Kemakmuran industrial yang meningkat memungkinkannya dalam menyewa tentara-tentara bayaran, mengembangkan persenjataan, dan memenangkan banyak pertarungan.
Di tengah perkembangan industri dan kapal-kapalnya, Belanda membangun perekonomian dan menggalakan perdagangan melintasi Asia, Afrika, dan Amerika. Pada 20 Maret 1602, Serikat Jenderal Belanda memperlihatkan kesungguhannya dalam mengembangkan kapitalisme dengan mendirikan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC—Perusahaan Hindia Timur). Awal Juni 1621, didirikan pula Westindische Compagnie (WIC—Perusahaan Hindia Barat). Dengan kekuatan modal yang dikumpulkan melalui dua perusahaan saham gabungan itulah Belanda bangkit sebagai negara borjuis pertama yang menjulurkan kepentingan kolonial dan komersialnya ke berbagai berbagai benua. Di Amerika, sejumlah koloni Spanyol direbut dengan mudah. Di Asia dan Afrika, koloni-koloni Spanyol-Portugis juga diambil-alih begitu rupa. Inilah saatnya kapitalisme memperlihatkan cakar dan taringnya, yang berlumuran darah dan nanah, mekar dan terangkat oleh Revolusi Borjuis Belanda, dan akhirnya membuat feodalisme tercabik-cabik dan runtuh. Habsburg sekarang meratap dalam kehancuran permanen. Pasukan-pasukan Spanyol dikalahkan di pelbagai front peperangan. Perang-perang asing memporak-porandakan seluruh pertahanan ekonomi dan politik kekaisaran-kerajaaan-kesultanan. Hubungan-hubungan feodal dihempaskan. Tahun 1648, semua negeri yang bertempur dengan mengatasnamakan agama merundingkan Perdamaian Westfalen. Spanyol mengakui Kemerdekaan Belanda, semua sekte Katolik-Protestan mengakhiri pertengkaran, wilayah pengaruh negara-negara ditetapkan, segala hambatan berdagang dihapuskan, dan hubungan-hubungan properti kapitalis ditegakkan. Berdiri di atas perdamaian inilah mereka tidak sekadar menasbihkan gencatan senjata untuk merintangi jalannya revolusi, tapi terutama menikmati hasil-hasil revolusi dan berlomba-lomba dalam memperkaya diri mereka sendiri. Meskipun kaisar-raja-sultan, paus dan kehormatan gereja, serta semua ornamen rezim lama tetap ada, tetapi semua ini sepenuhnya berkarakter borjuis.
Di tubuh kekuasaan, aristokrasi-aristokrasi baru meraih gelar, seragam, gaji, dan fasilitas-fasilitas yang bertumpuk-tumpuk bukan berdasarkan relasi feodal, melainkan relasi-relasi barang-dagangan yang mendominasi masyarakat kapitalis. Di bawah hubungan properti yang baru, semi-proletar dan plebeian dienyahkan begitu rupa. Segera setelah borjuasi berkuasa maka elemen sosial yang menjadi kekuatan utama revolusi didiskreditkan. Laki-laki dan perempuan pekerja disingkirkan dari persoalan-persoalan menyangkut kekuasaan. Semua urusan politik hanya pantas dikelola oleh kelas borjuis. Sementara orang-orang yang tidak bernama dan paling berdedikasi dalam revolusi ditumpuk sebagai bahan bakar perekonomian kapitalis. Tenaga kerja mereka diperas. Kemampuan mental dan fisiknya diekspropriasi secara bengis. Perkembangan kepribadian, intelektual dan moralnya dihancurkan. Mereka dibelenggu perbudakan-upahan. Ibu-ibu tunggal dan gadis-gadis muda yang telah mengorbankan segalanya untuk revolusi diseret memasuki altar perindustrian. Setelah orang-orang terdekat dan terkasihnya gugur kini mereka tidak dapat menikmati hasil-hasil perjuangannya. Sekarang mereka menghadapi jenis penindasan yang paling kejam dan menghinakan. Perempuan-perempuan pekerja adalah target pelecehan dan kekerasan seksual. Mereka merupakan lapisan yang dirantai oleh perlakuan-perlakuan diskriminatif dan brutal. Saat borjuasi terangkat dan berhasil tersangkut di ranting-ranting kekuasaan, massa-rakyat yang bergerak dan membentuk gelombang besar sejarah diperlakukan sebagai sampah-sampah yang menjijikan. Demikianlah Serikat Jenderal Belanda memangkas keterlibatan massa. Ketakutannya terhadap gerakan revolusioner bukan saja terekspresikan melalui Perjanjian Nonsuch, tetapi lebih-lebih Perdamaian Westfalen. Perdamaian yang bermotif menyembunyikan antagonisme kelas dan merampok kaum buruh dan plebeian dengan dalih-dalih religius yang memabukkan. Alan Woods menguraikan kebusukan demikian:
“Pernakah sikap kelas penguasa terhadap agama diekspresikan dengan lebih jelas, atau dengan sinisme yang lebih menghancurkan? Massa bersatu untuk revolusi karena mereka percaya itu akan mengantar ke dunia baru Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan. Selama borjuasi membutuhkan mereka sebagai pasukan kejut dalam perjuangan melawan musuh-musuhnya, itu memungkinkan mereka untuk terus percaya bahwa kerajaan borjuasi akan mengantarkan zaman keemasan ini. Tetapi begitu kekuasaan itu terpasan dengan nyaman, kaum borjuasi menulis ulang peraturan-peraturan, menjelaskan kepada massa bahwa tujuan persamaan dan ‘distribusi yang setara’ sedikit ditunda—sampai setelah mereka mati—ketika mereka akan bebas untuk menikmati hal-hal ini selama-lamanya … Orang kaya, tentu saja, bisa menikmatinya sekarang juga. Tetapi orang miskin harus diyakinkan akan perlunya kesabaran dan ketundukan, dan untuk mencapai keajaiban ini, kaum borjuasi meminta pelayanan Gereja Induk…. Mereka ingin mempertahankan hubungan properti baru yang menjadi sumber kekayaan mereka, tetapi mereka juga ingin menghentikan revolusi. Mereka menjaga Ketertiban dan [menciptakan Perdamaian] supaya melindungi mereka dari ancaman baik dari restorasi royalis maupun tuntutan massa yang ‘berlebihan’.”
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
