“Kaum Marxis percaya bahwa laki-laki dan perempuan harus berjuang untuk mengubah hidup mereka dan menciptakan masyarakat yang benar-benar manusiawi yang akan memungkinkan umat manusia bangkit ke sifat aslinya. Kami percaya bahwa laki-laki dan perempuan hanya memiliki satu kehidupan dan harus mengabdikan diri untuk menjadikan hidup itu indah. Kami berjuang untuk surga dalam hidup ini karena kami tahu tidak ada [kehidupan] yang lain. Saat kita hidup dan berjuang untuk dunia yang lebih baik kita juga sedang mempersiapkan masa depan yang lebih baik untuk anak cucu kita. Dan bahkan jika setiap individu memiliki kehidupan yang terbatas spesies manusia akan terus berlanjut dan kontribusi individu kita untuk tujuan kemanusiaan juga dapat berlanjut setelah kita tidak ada lagi. Kita dapat mencapai keabadian bukan dengan menyangkal hukum alam tetapi dengan bertahan dalam ingatan generasi mendatang, satu-satunya keabadian yang dapat dicita-citakan oleh manusia.” (International Marxist Tendency)
Awal abad ke-16, perdagangan dengan Dunia Baru bangkit dan meletakkan Sungai Rhein dan Negara Rendah sebagai pusat ekonomi kapitalis di Eropa. Intesifikasi penggunaan kincir angin, pintu air, perkapalan, dan mesin-mesin pemintalan di tengah pembukaan pasar-pasar koloni begitu memajukan perekonomian Negara-Negara Rendah (Belanda, Belgia, dan Luxembourg) dan Inggris. Flandria dan Leiden menjadi pusat pembuatan tekstil, sementara London menyediakan wol. Di Inggris akumulasi primitif berjalan masif untuk menyediakan bahan mentah; di Negara Rendah produksi kain Flemish meningkat pesat dengan pemakaian alat tenun vertikal. Di sisinya bukan saja proletarisasi yang dipercepat, tetapi juga kekayaan pedagang membesar. Pedagang-pedagang kaya tumbuh sebagai kaum burgher yang mandiri dan berkecenderungan memerdekakan dirinya dari Kekaisaran Habsburg yang menguasai Negara Rendah. Bangkitnya kapitalisme merubah perkotaan menjadi pusat ekonomi dengan jumlah penduduk yang berlimpah. Antara 1500 dan 1550, populasi Eropa tumbuh dari 61,1 menjadi 70,2 juta dan terdapat 173 kota yang berpenduduk lebih dari 10.000. Pertumbuhan utamanya berlangsung di Negara Rendah, Inggris, Prancis, Italia, dan semenanjung Iberia. Sepanjang 1500-1560, berlangsung pertambahan penduduk yang luar biasa di kota-kota di Negara Rendah, Inggris, dan Prancis—di Antwerpen, dari 50.000 menjadi 100.000 jiwa; di London, dari 60.000 menjadi 200.000 jiwa; dan di Paris, dari 100.000 menjadi 200.000 jiwa. Kebangkitan kapitalisme mengubah desa-desa kumuh menjadi kota-kota industri dan manufaktur berpenduduk raksasa. Dalam membangun kota, pohon-pohon ditebang dan hutan-hutang digunduli. Kehidupan perkotaan dipenuhi onggokan sampah, penyakit dan wabah yang menghantui hari-hari penduduknya. Sistem feodal yang tidak mampu menghadapi lonjakan populasi semakin membusuk begitu rupa.
Setelah penemuan Amerika, pembukaan perkebunan dan perdagangan dengan wilayah-wilayah koloni—pertanian Spanyol jatuh: penjarahan besar-besaran yang dilakukan Kekaisaran Habsburg terhadap Dunia Baru—emas dan perak dari tambang budak—menggerogoti perkembangan pertanian, manufaktur, dan industri Spanyol. Pada 1528, Asiento de Negros hadir sebagai kontrak Kekaisaran Habsburg, Fugger dan Rothschild untuk mengirim budak dari Afrika ke koloni Spanyol di Amerika. Pengirimannya tidak dilakukan langsung oleh pasukan kekaisaran, tetapi menggunakan jasa para pedagang Belanda, Inggris dan Prancis. Dengan kesepakatan inilah Spanyol meraup keuntungan besar dari perdagangan budak. Hanya perampokan-perampokan yang berlangsung tidak pernah membawa kemakmuran, melainkan memicu inflasi dan perang yang berlarut-larut. Pemerintahan kaisar dan paus cuma bisa merampok dan berperang, namun tak mengerti bagaimana caranya berdagang dan mengakumulasi modal. Mereka mencampuradukan keinginan borjuis untuk mengumpulkan kekayaan dan cara-cara perbelanjaan tuan tanah feodal. Maka emas dan perak yang dieksproriasi dari budak-budak di Dunia Baru digunakan untuk berfoya-foya dan membangun gereja dan kuil, bukan diinvestasikan demi memperluas pasar dan meneguhkan corak produksi kapitalis. Demikianlah Kekaisaran Habsburg meluncur dalam kebangkrutan akut. Melalui “Don Quixote”, Miguel de Cervantes memberikan kesaksian di tengah pembusukan zamannya: ‘ketika hidup itu sendiri tampak gila, siapa yang tahu di mana letak kegilaannya? Mungkin terlalu praktis adalah kegilaan untuk menyatakan mimpi—ini mungkin gila. Terlalu banyak kewarasan bisa menjadi kegilaan—dan yang paling gila dari semuanya: melihat kehidupan sebagaimana adanya dan tidak sebagaimana mestinya!’ Cervantes menyaksikan bagaimana istana dan gereja disesaki gerombolan parasit yang menjaring kekayaan dari dompet-dompet publik. Korupsi dan pemberosan adalah kebiasaan umum bangsawan dan rahib-rahib tengik. Kumpulan pengkhotbah mengobral sakramen pengampunan secara culas. Para menteri siap-sedia menjual segala isi kantor demi mengisi kantong dan perut. Pejabat-pejabat kerajaan mengisi hari-harinya dengan berpesta dan mabuk. Perwira-perwira militer tampil bombastis mengenakan pakaian mewah berhiaskan permata, pita dan bebuluan. Kaisar menghiasi pelatarannya dengan tontonan bola, permainan topeng dan musikalisasi yang menghamburkan banyak uang. Pangeran tidak saja berkeluyuran dengan ditemani 100 pengawal berpakaian sutera, tetapi juga di sepanjang jalan menggoda dan melecehkan perempuan. Bagi setiap aristokrat, Gereja Katolik Roma bukan sekadar lumbung uang tapi juga tempat pelacuran yang paling membangkitkan birahi. Skandal paling memalukan adalah potret Kristus yang terkenal di Velazquez: diberikan sebagai tanda penyesalan seorang raja atas petualangan seksualnya yang tiada terhitung banyaknya.
Perampokan, korupsi, dan pemborosan mengepung perekonomian Spanyol secara mengerikan. Dunia lama sudah busuk dan rusak sampai ke sum-sum. Kaum tani yang bekerja banting tulang diperhadapkan dengan aristokrat-aristokrat tukang maling. Gubuk-gubuk orang miskin berseliweran di sekitar bangunan-bangunan mewah para penyamun. Pembusukan yang dimulai dari atas mengalir ke bawah dengan beragam kekotoran, kemelaratan, dan kekacauan yang takkan pernah terselesaikan. Dalam kemerosotan inilah kebijakan perang permanen diberlakukan. Pada 1540-an, Habsburg Spanyol berusaha menguatkan kekuasaannya dengan mencengkeram Negara-Negara Rendah. Melalui pernikahan dan penaklukan Charles V mengikat 17 provinsi Belanda menjadi sebuah unit politik yang bersatu. Brussel dijadikan pusat administrasi (stadtholder) yang membagi kekuasaan di antara bangsawan, gereja, dan burgher. Sisa-sisa feodalisme beradaptasi dengan situasi baru dengan membangun kekuasaannya di tengah kebangkitan kapitalisme. Hanya dibangunnya kota-kota—pulau-pulau perdagangan kapitalis di lautan politik feodal—secara pasti menggerogoti tatanan lama. Integrasi ke dalam Kekaisaran Habsburg memicu pergolakan ekonomi, politik, militer, dan agama yang begitu tajam di Belanda. Di s’Hertogenbosch (Den Bosch), rakyat pekerja dan plebeian dibebani pajak perang dan beragam pembayaran gila. Di Jerman dan Spanyol, seabrek bangsawan feodal telah menjadi baron yang merampok kaum tani. Di Belanda, bangsawan-bangsawan Orange, Egmont, dan Home bersekutu dengan burgher dalam meraup keuntungan dari perdagangan yang sedang tumbuh dan berusaha lebih banyak mendapatkan hak istimewa dari kaisarnya. Pengejaran kekayaan pribadi di antara stadtholder tidak saja memicu pertarungan di antara mereka, tetapi juga membawa kesengsaraan umum bagi kehidupan massa. Rakyat pekerja ditenggelamkan oleh kebijakan-kebijakan langcung para stadholder, mahkota dan gereja.
Hieronymus Bosch adalah seniman yang melukis degradasi zamannya secara telanjang. “The Haywain” merupakan karya triptik kolosalnya dan begitu menggetarkan. Dilukiskannya bahwa penyatuan desa-desa provinsi menjadi kota-kota besar tidak berlangsung damai tetapi dipenuhi teror, kekerasan, ketakutan, kebencian, dan penderitaan umum. Gerombolan manusia mengejar uang: mahkota, gereja, dan orang-orang kota rela menipu dan memakan sesamanya demi Haywain. Massa yang miskin dan kelaparan berlari-larian mengejar gerobak yang berisi makanan dan kekayaan. Sedangkan gerobak itu ditarik oleh spesies-spesies berpenampilan horor, penghuni-penghuni dunia bawah yang kejam dan mengerikan, yang menaikan pejabat dan inkuisisi, raja dan paus di belakang gerobaknya, dan menumpuk isinya di rumah-rumah peribadatan. Di jalanan dan pemukiman, petani-petani tak-bertanah dan rakyat pekerja kebanyakan tenggelam dalam lembah kegelapan dan kehinaan, perampokan dan pelacuran untuk mempertahankan kehidupan. Di sampingnya, pendeta-pendeta tambun, biarawan dan biarawati menjajakan sobekan kertas indulgensi untuk penyucian dosa dan mematok tarif yang beragam. Sementara di bilik-bilik pengampunan, dosa-dosa daging tiada terbendung: godaan, tekanan, dan paksaan persetubuhan bukanlah sesuatu yang terlarang bagi pemegang otoritas dan pelayan-pelayan di institusi keagamaan—semuanya gampang dihapuskan atas kemahakuasaan Haywain. Walaupun Gereja Katolik Romawi menganggap perzinahan merupakan dosa asal, namun selama menguntungkan akan diberi pengampunan. Demikianlah makhluk-makhluk berjubah tampil hipokrit dan kesetanan. Uang memperbudak kemanusiaan. Ditimbunnya kekayaan material meledakkan ketidakadilan dan kejahatan. Kriminalitas mekar dan berjaya di atas pengejaran uang. Hakim-hakim siap mengorbankan keadilan guna menumpuk uang. Aparat-aparat keamanan terlibat dalam setiap persoalan yang berbau uang. Sedangkan keluarga-keluarga pekerja, perempuan-perempuan miskin dan pengangguran terjerat untuk mempromosikan kemerosotan dan menjajakan tubuhnya demi tetesan-tetesan uang.
Berkuasanya uang di tengah kehidupan umat manusia menunjukkan kapitalisme telah menjadi mode produksi dominan dalam masyarakat. Kekaisaran dan Gereja Katolik Romawi tidak mampu menahan tekanan kapitalisme yang sedang bangkit. Gerombolan aristokrat dipaksa tunduk. Keterlibatnnya dalam perdagangan budak bersama para bankir dan koloni-koloninya di Amerika merupakan awal ketertundukannya. Marx penah berucap: ‘segera setelah produk menjadi komoditas dalam hubungan eksternal komunitas, mereka juga, dengan reaksi, menjadi komoditas dalam kehidupan internal komunitas’ dan ‘modal pedagang, ketika memegang posisi dominan, berdiri di mana-mana untuk sistem perampokan, sehingga perkembangannya di antara negara-negara perdagangan selalu berhubungan langsung dengan penjarahan, pembajakan, penculikan budak, dan penaklukan kolonial’. Secara dialektis, intensifikasi perdagangan budak dan hubungan-hubungan dengan koloni menggerogoti dan meremukkan ketahanan internal feodal. Leon Trotsky menyebut ini sebagai ‘perkembangan tak-berimbang dan tergabungkan’: perkembangan masyarakat berkelas berlangsung secara tidak rapi, penuh kontradiksi, dan membawa sisa-sisa relasi sosial masa lalu, tetapi interaksi masyarakat yang berada di tahapan-tahapan sosial yang berbeda menciptakan lompatan dan keberagaman dalam perkembangan sejarah. Di tubuh Kekaisaran Romawi, digalakkannya hubungan dengan Dunia Baru dan kebijakan perang permanen bukan saja meningkatkan sentralisasi kekuasaan tetapi juga menunjukkan penajaman kontradiksi antara sistem feodal dengan kapitalis: keterengah-engahan monarki yang sedang sekarat tidaklah sebatas menyangga dirinya dengan bertumpu pada bangsawan dan kaum tani, tapi terutama kemurahan-hati para bankir dalam memberikannya donor uang. Uang muncul sebagai sendi dari sistem produksi dan pertukaran komoditas: penyetara nilai universal dalam jual-beli barang-dagangan di pasar. Keberadaan barang-dagangan tidak sekadar menyiratkan kepemilikan perseorangan atas barang dan jasa yang berasal dari kerja sosial, melainkan pula menerangkan adanya kepemilikan pribadi terhadap alat-alat yang digunakan untuk memproduksi kekayaan material. Demikiankah produk-produk kerja yang diproduksi secara sosial dinikmati secara individual dan uang menjadi bentuk keterasingan produsen dari kerjanya. Dalam proses pertukaran komoditas, ekuevalensi yang diwakilikan pada uang memisahkan antara produksi dan konsumsi: barang-dagangan tidak diproduksi untuk dikonsumsi langsung, melainkan diperjual-belikan terlebih dahulu untuk mengubahnya menjadi uang. Marx menjelaskan:
“Uang dengan sendirinya mengkristal dari proses pertukaran, di mana berbagai produk kerja sebenarnya disamakan satu sama lain, dan dengan demikian diubah menjadi barang-dagangan. Perluasan dan pendalaman historis dari fenomena pertukaran mengembangkan pertentangan antara nilai-guna dengan nilai yang laten dalam sifat barang dagangan [nilai-tukar]…. Maka pada tingkat yang sama, ketika transformasi produk-produk kerja menjadi barang-dagangan tercapai, sebuah komoditi tertentu diubah menjadi uang.”
Tetapi rongrongan uang mempercepat pembusukan kekuasaan feodal. Engels pernah mencatat: ‘jauh sebelum benteng-benteng istana baron dibobol oleh artileri baru, mereka telah dirusak oleh uang’. Pengrusakan berlangsung dengan menciptakan spiral ke bawah yang membebani massa rakyatnya secara menggetirkan. Kehidupan laki-laki dan perempuan terancam oleh aneka kekerasan, kemiskinan, kelaparan dan kematian. Kebangkrutan sosial menjalarkan epidemi pencurian, perampokan, pembunuhan, dan aneka pelanggaran hukum kekaisaran. Otoritas gereja bukan saja dipertanyakan tapi juga digodam perlawanan. Laki-laki dan perempuan yang mencari keselamatan dan ketentraman spiritual di luar agama ortodoks dan tumbuh sebagai gerakan sosial yang berbahaya bagi kekuasaan. Sayap paling radikal dari gerakan yang ada adalah Anabaptis. Setelah pembantaian Muntzer dan pasukannya di Jerman, kelompok keagamaan radikal diburu, dihukum dengan api dan pedang, hingga dikucilkan dan mendapat siksaan ganas. Dalam menyelamatkan diri dan mempertahankan gerakannya mereka melarikan diri ke pelbagai negeri sekitar. Melalui jalur perdagangan, laki-laki dan perempuan Anabaptis menyebar ke Prancis, Spanyol, Inggris, Negara-Negara Rendah, bahkan Benua Amerika. Di Belanda, gerakannya tumbuh dengan ribuan anggota. Istri-istri pekerja dan gadis-gadis muda merupakan mayoritas keanggotannya. Bagi kaum perempuan, mimpi-mimpi kesetaraan dan apokaliptik Anabaptisme menjadi pelipur lara yang meringkan penderitaan dahsyat mereka. Saat mahkota dan gereja memperdalam garis perbudakan rumah-tangga, memperluas arena pelacuran, dan mengindentifikasi perempuan sebagai penyebab dosa asal; maka perempuan-perempuan tertindas menjadikan perkumpulan agama non-ortodoks sebagai tempat pelarian yang memberikan ketentraman, perlindungan, dan kekuatan.
Itulah mengapa Anabaptis mampu menjadi gerakan keagamaan radikal yang diminati perempuan. Di Strasbourg, Ursula Jost dan Barbara Rebstock tampil sebagai pemimpin Anabaptis paling berpengaruh dan ditakuti kekuasaan. Di bawah kepemimpinannya, perlawanan atas kemiskinan, kelaparan, dan pajak yang tinggi diekspresikan melalui penglihatan apokaliptik yang dahsyat. Keduanya melihat bahwa Tuhan akan segera membebaskan dan menjadi hakim yang adil dalam bencana kehancuran yang mendekat. Dengan menggunakan mesin-mesin cetak pandangan ini disebarluas, menanam pengaruh dan membangkitkan kengerian di mata kekaisaran dan gereja. Pada 1529 di Strasbourg, mereka berhasil membentuk Lingkaran Nabi (Meichiorite) dan beraliansi dengan pengkhotbah Lutheran—Melchior Hoffman—sebagai rasulnya. April 1530, Hoffman mewakili Lingkaran Nabi dalam menuntut pemerintahan kota untuk memberikan kebebasan bagi gerakan-gerakan keagamaan non-ortodoks dalam menjalankan keyakinannya dan mengkritik kaisar secara tajam. Menghadapi pendangan-pandangan radikal maka kelas penguasa melancarkan reaksinya. Meichiorite distigma sesat dan dinyatakan terlarang, Ursula dan Barbara ditangkap dan dihukum mati, ribuan Anabaptis diburu, dan Hoffman melarikan diri ke Jerman. Tahun 1531 di Munster, Hoffman tampil sebagai penginjil yang tidak saja menyebarkan ajaran Reformasi Protestan tapi juga bersekutu dengan reformator-reformator Lutherian serta laki-laki dan perempuan Anabaptis yang bisa ditemukan. Mereka meramalkan bahwa Munster merupakan kota yang terpilih—Yerusalem Kedua—untuk menyambut ‘Kedatangan Kedua’: turunnya Kristus dari surga ke bumi untuk membebaskan umat manusia. Berbulan-bulan lamanya keyakinan mistik dan apokaliptik dikhotbahkan begitu rupa. Saat feodalisme meluncur terhuyung-huyung dan rusak parah, mereka percaya: Tuhan sebentar lagi akan menyelamatkan hamba-hambanya dari kehancuran dunia. Sementara pertolongan yang sesungguhnya mereka harapkan bukanlah berasal dari Tuhan, melainkan diri mereka sendiri. Hanya di tengah kepungan masyarakat berkelas—semuanya tersublimasi dan tersubtitusi di bilik-bilik perasaan religius yang tiada berjiwa dan berhati. Inilah keterasingan yang berbentuk agama. Lewat “Marxisme dan Agama”, Alan Woods menjelaskannya:
“Dunia agama adalah dunia yang membingungkan, itu adalah kesan dari realitas yang terdistorsi. Tetapi seperti semua ide, ide religius juga berasal dari dunia nyata. Selain itu, mereka adalah ekspresi dari kontradiksi masyarakat kelas. Fakta ini sangat jelas dalam agama-agama paling kuno…. Kemanusiaan dibagi menjadi dua kelas: di atas, para dewa yang tak tersentuh (kelas penguasa), dan di bawah, ‘tukang batu dan penyalur air’ (kelas pekerja). Tujuannya adalah untuk memberikan pembenaran ideologis (agama) atas perbudakan mayoritas oleh minoritas. Dan ini adalah fakta yang sangat nyata dalam kehidupan semua masyarakat kuno (dan modern): kasta pendeta dibebaskan dari pekerjaan dan menikmati hak istimewa kerajaan dengan mengangkat dirinya sebagai perwakilan fisik dewa di bumi…. Di dalam Alkitab, kita menemukan taman Eden, yang mengungkapkan perasaan dan nostalgia kehilangan dunia yang penuh kebahagiaan. Agama berusaha untuk mengatasi kontradiksi ini, melunakkan sengatan ini, mendamaikan laki-laki dan perempuan dengan realitas penderitaan dan eksploitasi, menghadirkan malapetaka ini sebagai kehendak Tuhan atau sebagai akibat dari ketidaktaatan kepada Tuhan, atau keduanya. Penyerahan! Ketaatan! Pengorbanan! Maka semuanya akan berjalan dengan baik. Pada kenyataannya adalah pemisahan umat manusia secara kejam dari dirinya sendiri…. Hubungan psikologi antara manusia dan dewa yang mereka ciptakan untuk diri mereka sendiri memberi tahu kita banyak hal tentang situasi sebenarnya dari spesies manusia. Bukan rahasia lagi bahwa dewa-dewi dari masyarakat tertentu adalah cerminan dari masyaraka itu, cara produksinya, hubungan sosial, moralitas, dan prasangka. Seperti yang kami tunjukkan dalam Reason and Revolution: ‘bukan Tuhan yang menciptakan manusia menurut gambarnya sendiri, tetapi sebaliknya, manusialah yang menciptakan dewa menurut gambar dan rupa-Nya sendiri’. Ludwig Feuerbach berkata bahwa jika burung memiliki agama, dewa mereka akan memiliki sayap. Agama adalah ilusi di mana konsepsi dan emosi kita sendiri tampak bagi kita sebagai keberadaan yang terpisah, sebagai makhluk di luar diri kita. Perasaan religius tidak membedakan antara yang subyektif dan obyektif—ia tidak memiliki keraguan; ia tidak memiliki kapasitas untuk mengidentifikasi hal-hal yang berbeda dari dirinya sendiri, tetapi untuk melihat konsepsinya sendiri di luar dirinya sebagai wujud yang mandiri. Ini adalah sesuatu yang dipahami oleh orang-orang seperti Xenophon dari Colophon (565-570 SM) ketika dia menulis: ‘Homer dan Hosiod menganggap para dewa berasal dari setiap tindakan yang memalukan dan tidak jujur di antara manusia: pencurian, perzinahan, penipuan’ … Orang Etiopia membuat dewa mereka hitam dengan hidung pesek dan orang Thracia membuat dewa mereka dengan mata abu-abu dan rambut merah…. Tetapi dewa-dewa ini bukanlah salinan sederhana dari realitas, mereka adalah realitas yang dilihat melalui kacamata agama—dunia yang terasing, mistis, di mana semuanya terbalik. Mereka adalah segala sesuatu yang diinginkan manusia tetapi tidak bisa didapat. Mereka memiliki semua atribut yang ingin dimiliki dan dicita-citakan oleh manusia tetapi tidak bisa dimiliki. Dalam pengertian ini, agama mewakili aspirasi yang tidak tercapai. Namun perasaan religius ini juga mengandung unsur lain: aspirasi mendalam untuk dunia yang lebih baik setelah kehidupan. Ketika kaum tani [dan plebeian] yang kelaparan dan tertindas berteriak kepada Tuhannya, meminta keadilan, dia berteriak melawan ketidakadilan, kekejaman dan ketidakmanusiawian dunia ini.”
Demikianlah ketika Melchior Hoffman memandu massa dengan ritual dan semboyan-semboyan keagamaan, maka bukan lagi mereka berdoa kepada Tuhan tapi meneriakan aspirasi terdalamnya tentang kehidupan. Kaum tani dan plebeian melambungkan tuntutan berdasarkan keberadaan sosial mereka yang tertindas, terhisap dan miskin. Mereka melaksanakan peribadatan, namun untuk menentang kekuasaan dan menuntut perubahan. Kelas penguasa lantas tertantang. Ketentramannya digoncang. Akhir 1532, Pangeran-Uskup Franz von Waldeck meluncurkan pengusiran terhadap para reformator dan menangkap Hoffman. Namun lebih dari 600 Anabaptis bangkit mendirikan perlawanan hingga pasukan pangeran menyerah dan menandatangani kesepakatan mengenai kebebasan beragama dan pembentukan Dewan Kota yang baru. Tahun 1533, Pemilihan Dewan Kota dilaksanakan dan Anabaptis tampil sebagai partai yang menenangkan suara mayoritas. Tanggal 5 Januari 1534, kaum radikal Meichiorite—Jan Matthijs dan Jan Beuckelszoon dari Belanda—tiba di Munster dan membatis-ulang 1.400 penduduk. Kehadiran keduanya bukan saja menggantikan posisi Hoffman dan menjadi suara kenabian yang memimpin seluruh kota, tetapi juga mampu memanggil kaum-kaum Anabaptis dari negeri-negeri lainnya untuk memperkuat Kota Kenabian. Kekuatan mereka tumbuh sampai 7.500 anggota dengan 5.000 di antaranya merupakan istri-istri pekerja dan gadis-gadis muda. Memeluk ide-ide kesetaraan dan apokaplitik; perempuan menjadi barisan yang paling aktif dalam melaksanakan kerja-kerja gerakan. Akhir Februari 1534, Anabaptis kembali mengalahkan Lutherian dalam pemilihan kota. Sesaat setelah memenangkan pemilihan, Kepemimpinan Meichiorite langsung mendeklarasikan berdirinya Yerusalem Baru dan melancarkan ikonoklasme di katedral dan biara-biara Katolik. Bulan Maret, 5.000 Anapabtis Belanda bergegas datang ke Munster tapi sebagian besar digagalkan oleh otoritas-otoritas di perbatasan. Kekaisaran dan Gereja Katolik Romawi melihat gerakan ini semakin radikal dan mengancam tatanan feodal. Hanya menggunakan kekuasaan yang telah dipegang dan dukungan yang makin membesar, maka Meichiorite mulai menerapkan sejumlah kebijakan radikal: menghapuskan kepemilikan pribadi dengan meminta seluruh warga menyerahkan harta-bendanya secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga dan melepaskan diri dari ikatan-ikatan pernikahan gereja ortodoks. Penerapan kebijakan ini bukan saja menajamkan pertentangan dengan Lutherian, tetapi sekaligus menghapus perjanjian dengan Uskup Waldeck dan segera mengundang reaksi yang mengerikan. Pangeran-uskup mengerahkan 7.000 tentara bayaran yang dibantu belasan ribu prajurit dari banyak sekutu aristokratnya di negeri tetangga: Pangeran Antonie de Lalaing, Uskup Agung Hermann III, Landgraf Philip, dan Adipati Johann Wilhelm.
Tepat 5 April, saat Minggu Paskah, sebagian Anabaptis dibantai dalam Pertempuran Ludger dan Jan Matthijs dibunuh secara keji: badannya dipotong-potong, kepalanya digantung di balai perkotaan, dan alat kelaminnya dipaku di Gerbang Giles. Setelah kematian Matthijs, Jan Beuckelszoon menggantikan posisinya sebagai pemimpin tertinggi dan mempertahankan Munster. Tanggal 25 Mei, tentara bayaran dan bangsawan menyerang tapi pasukan-pasukan Anabaptis mampu bertahan. Istri-istri pekerja dan gadis-gadis muda mengumpulkan gerobak jerami dan membentengi prajurit laki-laki, mengayunkan pedang dan menebas pasukan-pasukan lawan. Lamanya pengepungan meretakan Pemerintahan Beuckelszoon: tentara laki-lakinya bukan saja banyak yang mati, tetapi terutama warganya banyak yang menjadi ibu tunggal dan menderita kelaparan akut bersama anak-anaknya. Demikianlah perempuan menjadi elemen sosial yang paling menderita sewaktu perang. Kebijakan penghapusan properti tiada berfungi selama keterkepungan. Bahkan apa yang diterapkan berdasarkan pemberian sukarela kini berlangsung melalui perampasan. Eksperimen sosial komunal hancur berantakan. Alat-alat produksi belumlah terlalu berkembang dan tenaga-tenaga produktif tidaklah siap untuk mendirikan masyarakat tanpa kelas. Batu, tongkat, sekop, pisau dapur, pedang dan panah tidak cukup untuk membangun kehidupan baru. Kekaisaran, Gereja Katolik, dan para bankir jauh lebih unggul ketimbang massa dan kepemimpinannya. Pengepungan kota telah menghancurkan Kekuasaan Yerusalem Baru dan Kepemimpinan Meichiorite secara intern. Massa tani dan plebeian lelah mengarungi ketidakstabilan yang berlarut-larut dan bergugurannya para pejuang radikal mengakibatkan keputusan Beuckelszoon tiada terkontrol. Menghadapi keterkepungan ekstrem, sekelebat diterapkanlah kebijakan poligami yang mengecewakan perempuan dan memperdalam keretakan rezim. Jan Beuckelszoon menggencarkan poligami untuk menambal keretakan dalam rezimnya dengan menikahi perempuan-perempuan yang berasal dari keluarga-keluarga penting, terutama keluarga pedagang-pedagang kaya. Tetapi dari belasan perempuan yang hendak dipersunting, Elisabeth Wandscherer angkat bicara, bersikeras menolak lamarannya, dan mengeluarkan kritikan lantang: ‘dalam istana yang dipenuhi kemewahan gila, dan dikeliling haremnya, maka kelaparan umum dan kematian para pengikutnya bukanlah merupakan kehendak Tuhan’.
Beuckelszoon marah. Tepat 12 Juni 1535, Elisabeth ditangkap dan dihukum gantung. Hukumannya di laksanakan di hadapan publik, tapi tidak membangkitkan ketakutan melainkan kekecewaan, kemarahan dan perpecahan. Ibu-ibu tunggal dan gadis-gadis muda semakin teradikalisasi oleh peristiwa. Mereka kini tidak lagi menaruh harapan kepada kepada Beuckelszoon. Pemerintahan Yerusalem Baru makin melemah dan berputus asa karena ditinggalkan massa pendukung. Ribuan perempuan sekarang menjadi lebih berani dan menunjukan kemampuan tempurnya yang berapi-api. Mereka berbaris tidak sakadar dalam mengarahkan anak-anak dan orang-orang lanjut usia untuk meninggalkan kota yang terkepung, tetapi juga beringsut memperkuat tembok-tembok pertahanan tanpa takut mati. Mereka bangkit dalam keterkepungan, tidak mudah menyerah dan menerima kekalahan. Perempuan pekerja bernama Hille Feicken menyelinap ke kamp musuh menggunakan pakaian laki-laki dan bersembunyi di gerobak makanan. Dia merayap secara licin di tengah-tengah pasukan bayaran dan bangsawan. Keluar-masuk dari tenda-ke-tenda dengan tujuan membunuh Uskup Waldeck. Walau ia tak menemukan sasarannya, sebelum akhirnya tertangkap, dirinya berhasil memenggal kepala Jenderal Asiria Holofernes. Kepemimpinan yang retak dan kejang-kejang, dipenuhi korupsi dan pengkhianatan, tidak mampu berbuat apa-apa kecuali menyaksikan perjuangan perempuan di garis depan pertempuran dan bersiap-siap dihancurkan di tengah-tengah keterpurakannya. Tanggal 25 Juni, setelah kontak senjata yang panjang sekitar 300 pasukan musuh menembus benteng kota dan melecehkan serta mengeksekusi banyak perempuan yang berusaha memukul-mundurnya. Tentara-tentara bayaran menjarah setiap rumah, tempat peribadatan, dan istana yang ditemuinya secara membabi-buta dan penuh kekejian. Mereka bahkan mengamuk dan semakin liar menghunus pedangnya karena sedikitnya rampasan perang. Pada 22 Januari 1536, pucuk-pucuk pimpinan Anabaptis ditangkap dan dihukum mati. Beuckelszoon, Knipperdolling, dan Benhard Krechting dibunuh dengan teramat sadis: badannya dirantai menggunakan kawat berduri yang diikatkan sampai ke leher, dicabut lidah dan dijepit tubuhnya dengan besi panas, perutnya diroberk dan ususnya ditarik keluar, jantungnya ditusuk dengan belati hingga mati, dan mayatnya dikurung dalam sangkar besi yang digantung di menara Gereja Saint Lambert, kemudian dibiarkan membusuk dan disaksikan semua orang untuk menebarkan teror.
Walaupun Pemberontakan Munster berhasil ditumpas, tetapi krisis feodalisme tidak meredam. Ketidakstabilan Kekaisaran Habsburg dan Gereja Katolik Romawi bukan saja meledak di dalam wilayah kekuasaannya tetapi juga di sekitar. Pada malam 17-18 Oktober 1534 di Prancis, pembangkangan dilangsungkan dengan menyebarkan plakat-plakat yang mengkritik dusta-dusta inkuisisi. Plakat bukan saja dipasang di jalanan Paris, tetapi bahkan di pintu kamar Francois I. Sekarang bukan sebatas Anabaptis yang tampil sebagai partai pemberontak, karena ketegangan yang berlarut-larut juga menyuburkan pertumbuhan Calvinis. Di tengah meledaknya bom plakat, Yohanes Calvin menjadi salah satu pemimpin yang berpengaruh. Kaum tani dan plebian yang telah begitu tersiksa di bawah bandulan keagamaan ortodoks menerima ajarannya. Massa sudah tidak percaya dengan transubtansiasi Kristen: konversi roti dan anggur jadi darah dan daging Kristus. Massa setuju dengan Calvin kalau komuni adalah upacara peringatan, bukan keajaiban. Tetapi massa bergerak bukanlah sebatas menentang ajaran spiritual, tapi terutama menuntut pengurangan pajak dan kesejahteraan. Maka dalam dua puluh empat jam, parlemen dan raja memerintahkan penangkapan. Seluruh kota dibungkam dan penjara kepenuhan. Ribuan orang yang dianggap menyimpang telah dilumpuhkan. Calvin dan ratusan pengikutnya melarikan diri ke luar negeri, terutama ke Negara-Negara Rendah. Mereka selamat dari hukuman gantung yang sedang digencarkan. Namun di Negara Rendah situasinya juga serupa: tegang, kacau, dan penuh keributan. April 1535, saat Munster terkepung dan menuju jurang kekalahan, Anabaptis memberontak untuk mengambil-alih kota-kota di dua provinsi: Oldeklooster dan Antwerpen. Tetapi gerakan ini gagal dan berakhir dengan lelucon: ketika pasukan bangsawan bertindak brutal, sekelompok kecil laki-laki dan perempuan Anabaptis membuang senjatanya dan berlari-larian telanjang di jalanan Amsterdam. Mereka semua akhirnya dirobohkan, ditangkap dan dihukum mati secara mengerikan.
Menghadapi kekalahan-demi-kekalahan itulah Anabaptis terpecah. Reaksi bukan saja menghancurkan Meichiorite, tetapi juga menebarkan ketakutan hingga lapisan yang goyah memisahkan dirinya dari arus utama Anabaptisme dan membentuk sekte pasifis: Mennonite. Di Negara-Negara Rendah, pergerakan mereka sepenuhnya menolak kekerasan revolusioner sebagai taktik perjuangan. Segala ingatan atas mobilisasi massa dan perlawanan radikal mereka di masa lalu ditanggalkan. Tetapi walaupun Mennonite berhenti melancarkan pertempuran terbuka, namun sikap mereka yang cenderung mengabaikan otoritas tetap mengancam kekuasaan. Setelah pemberontak-pemberontak Munster ditenggelamkan dalam kubangan siksaan dan darah, Kekaisaran Romawi dan Geraja Katolik mengobarkan perang terhadap gerakan yang distigmanya menyimpang. Kekerasan reaksioner mereka semburkan bukan saja kepada sekte-sekte keagamaan non-ortodoks, tetapi juga perempuan-perempuan yang dituduh penyihir. Antara 1524 dan 1566 di Belanda dan Flandria, sebanyak 659 laki-laki dan perempuan—yang rata-rata merupakan pengrajin miskin, buruh, nelayan, tunawisma, dan orang-orang yang terampas—dieksekusi atas tuduhan melakukan bid’ah dan sihir. Di Leiden dan Amsterdam, sekitar 182 Anabaptis juga digantung, dipenggal, dicincang, dikubur dan dibakar hidup-hidup. Dalam kondisi inilah sekte-sekte keagamaan tercerabut. Di sisi Anabaptis yang hancur dan merosot, terdapat pula gerombolan Flagela: sekumpulan orang yang begitu cemas dan meyakini bahwa dunia akan segera berakhir dan mencari tempat keramaian untuk menghukum dirinya dengan cambuk demi membersihkan dirinya dari dosa-dosa. Di akhir Abad Pertengahan, orang-orang mencari perlindungan di bawah panji-panji religiusitas karena krisis feodalisme dipandangnya sebagai penghujung dari kehidupan umat manusia. Demikianlah sekte-sekte keagamaan tumbuh silih-berganti, mempertontonkan pembangkangan secara prematur, hingga gagal dan berputus asa. Dalam “Apa itu Materialisme Historis?”, Alan Woods menjelaskan mengenainya:
“Pemberontakan [mereka] itu hanyalah antisipasi prematur dari revolusi borjuis pada saat kondisi untuk ini belum sepenuhnya matang. Mereka mengungkapkan kebuntuan feodalisme dan ketidakpuasan massa yang mendalam. Tapi mereka tidak bisa menunjukkan jalan keluar. Akibatnya, sistem feodal, meskipun dimodofikasi secara subtansial, bertahan selama satu periode, mewujudkan semua gejala tatanan sosial yang sakit dan merosot. Periode terakhir Abad Pertengahan adalah masa sulit, yang ditandai dengan pergolakan, perang, dan perang saudara yang terus-menerus—sama seperti zaman kita sekarang [di tengah krisis kapitalisme yang berlarut-larut]. Perasaan bahwa akhir dunia sudah dekat merupakan hal yang umum dalam setiap periode sejarah ketika suatu sistem ekonomi tertentu telah memasuki kemerosotan yang tidak dapat diubah. Ini adalah periode ketika sejumlah besar laki-laki dan perempuan turun ke jalan bertelanjang kaki dan berpakaian compang-camping mencambuk diri sendiri sampai berdarah. Sekte Flagellant menunggu akhir dunia, yang mereka harapkan dengan cemas dari satu jam ke jam berikutnya. Pada akhirnya yang terjadi bukan akhir dunia melainkan hanya akhir dari feodalisme, dan yang tiba bukanlah Milineum baru melainkan hanya sistem kapitalis. Tetapi mereka tidak dapat diharapkan untuk memahami hal ini. Satu hal yang jelas bagi semua. Dunia lama berada dalam pembusukan yang cepat dan tidak dapat diperbaiki. Laki-laki dan perempuan tercabik-cabik oleh kecenderungan yang kontradiktif. Keyakinan mereka hancur dan mereka terpaut di dunia yang dingin, tidak manusiawi, bermusuhan, dan tak bisa dipahami…. Di tengah semua kegelapan ini kekuatan baru bergerak mengumumkan lahirnya kekuatan baru dan peradaban baru yang secara bertahap tumbuh di dalam rahim masyarakat lama. Munculnya perdagangan di kota-kota membawa serta calon kelas baru borjuasi, yang mulai berdesak-desakan untuk mendapatkan posisi dan kekuasaan dari kelas penguasa feodal, kaum bangsawan dan gereja….”
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
