“Dunia lama berada dalam proses pembusukan yang cepat dan tidak dapat diperbaiki. Laki-laki dan perempuan tercabik-cabik oleh kecenderungan yang kontradiktif. Keyakinan mereka hancur dan mereka terpaut di dunia yang dingin, tidak manusiawi, bermusuhan, dan tidak dapat dipahami…. Di tengah semua kegelapan ini kekuatan baru bergerak, mengumumkan lahirnya kekuatan baru dan peradaban baru yang secara bertahap tumbuh dalam rahim masyarakat lama.” (International Marxist Tendency)
Pada masyarakat pra-kapitalis, kaum perempuan mendapati dirinya terkurung dalam ranah-ranah privat. Tugas-tugas rumah tangga dan kewajiban-kewajiban keluarga mendikte perempuan secara keras. Sejak awal intensitas pembagian kerja bukan sekadar menghasilkan kerja-surplus, konsentrasi produk-surplus di kuil-kuil, dan meningkatkan otoritas pendeta; tetapi juga mendorong kebangkitan masyarakat berkelas yang mengintrodusir penindasan perempuan dan pembentukan negara sebagai alat pemaksa kepentingan kelas penguasa. Setelah perkembangan irigasi dan mata bajak meningkatkan pembagian kerja; perempuan disingkirkan dari posisi produsen bahan makanan dan kekayaan material masyarakat; perempuan dibelenggu aktivitas-aktivitas domestik untuk melayani dan memuaskan suami, mengurus rumah, dan merawat anak. Berlangsungnya domestifikasi inilah yang telah lama mengisolir, mensubordinasi, dan menghancurkan perkembangan intelektual dan moral perempuan secara vulgar. Sepanjang zaman perbudakan dan feodalisme, perempuan selalu diasosiasikan dengan pekerjaan-pekerjaan non-produktif. Perempuan distempeli norma-norma yang memagarnya dalam perbudakan rumah tangga dan keluarga patriarkal. Di zaman perbudakan, budak laki-laki dan perempuan dikawinpaksakan dan keturunan mereka harus menjadi budak. Di zaman perhambaan, gadis-gadis muda dan ibu-ibu diperlakukan sebagai budak-budak rumahan dan seksual yang dapat diwariskan, atau bahkan dipersembahkan sebagai gundik untuk para bangsawan. Di Eropa Abad Pertengahan, perdagangan budak menjadi mode produksi yang dominan. Kekayaan material masyarakat dibangun di atas beban berat yang dipikul pekerja-pekerja semi-budak. Mereka diberikan sepetak kecil tanah, tetapi sebagai gantinya mesti bekerja cuma-cuma di perkebunan gereja dan pertambangan bangsawan feodal. Dalam seminggu, waktunya dibagi: sebagian besar digunakan untuk bekerja di tanah majikannya; sementara sisanya—sebagian kecil waktu-luangnya: tidak saja digunakan untuk memenuhi kebutuhan susbsisten, tetapi juga mencari uang untuk membayar pungutan hasil panen, sewa tanah, pajak perang, pajak kaisar, dan aneka bentuk pembayaran lainnya.
Pada abad ke-14 dan ke-15, feodalisme terhuyung-huyung dalam krisis dan kapitalisme mulai memapan. Dalam situasi inilah Gereja Katolik mengalami kebangkrutan: penarikan pembayaran yang terus-menerus bukan hanya menyingkapkan kekorupannya, tetapi juga mempertajam penindasannya menjadi sangat telanjang. Terhadap perempuan-perempuan pekerja yang sudah menikah, pemajakannya diperbesar dan dipisahkan dari pajak yang ditanggung suami mereka. Di sisinya, inkuisisi juga mengatur hukum mengenai kontrasepsi secara diskriminatif: perempuan dari keluarga kaya diijinkan aborsi secara diam-diam di rumah sakit swasta, sedangkan perempuan-perempuan miskin—yang berasal dari keluarga kelas pekerja—dilarang bukan sekadar dengan ancaman hukuman dunia tetapi juga akhirat. Di Eropa dan Asia, lebih dari 70 persen perempuan—ibu tunggal dan gadis-gadis miskin—menjadi korban inkuisisi: dituduh penyihir, diburu, dilecehkan, dipancang, dicincang, dikubur dan dibakar hidup-hidup. Inkuisisi menuding perempuan-perempuan tani dan miskin berkonspirasi dengan iblis dalam menggagalkan panen tuan-tuan tanah, meningkatkan kualitas bir secara tradisional, membuat ramuan pemikat lawan jenis, bersenggama tanpa menikah, hingga mengirimkan badai ke kapal-kapal kaisar dan raja-raja. Antara 1347 dan 1351, Black Death melanda Jalur Sutra yang menjadi zona perdagangan antara Tiongkok, Timur Tengah, dan Eropa. Wabah hitam hadir memberitahukan kalau ekspansi pertanahan untuk mendorong produksi kini berada di jalan buntu. Kematian mengerikan yang berlangsung massal menandai penurunan drastic kekebalan tubuh pekerja yang disebabkan oleh kerja berlebihan di tengah produktivitas terbatas feodal dan konsumsi rakus para bangsawan. Musim panas 1348, wabah tiba di Inggris dan menghancurkan setengah populasi pedesaan. Sebagian yang tersisa mendapati dirinya memiliki tanah yang lebih luas. Sementara di seluruh Eropa, wabah telah menyebabkan kelaparan akut dan kekurangan tenaga kerja kronis. Dalam kondisi inilah rakyat pekerja bangkit menuntut upah yang lebih tinggi, sewa tanah yang lebih rendah, hingga melepaskan kewajiban-kewajiban feodal dengan berpindah ke kota dan menyediakan prakondisi kebangkitan kelas borjuis.
Selama krisis feodalisme—kebangkitan borjuasi dipenuhi pergolakan sosial, pembusukan dan kemerosotan dari gerombolan bangsawan dan gereja yang tidak saja ditandai dengan korupsi, melainkan pula perang dan perang saudara yang begitu rupa (yang memicu revolusi dan kontra-revolusi). Wabah hitam yang telah meluluhlantakan pedesaan mempercepat bangkitnya perjuangan massa. Sementara untuk mempertahankan tatanan lama yang sedang sekarat; monarki-monarki Eropa mengangkat senjata untuk bertempur. Inggris dan Prancis mengibarkan Perang Seratus Tahun. Kaum tani dibanduli dinas militer, tentara-tentara bayaran diperbanyak, dan pajak perang dinaikan hingga tanggungan keluarga-keluarga rakyat pekerja beronggokan. Melalui peperangan inilah dua sistem ekonomi-politik diadu secara militer: Prancis dengan prajurit yang berasal dari kaum bangsawan dan petani-petani yang dibesarkan dengan gagasan tentang ksatria dan pengabdian; sedangkan Prancis dengan tentara-tentara bayaran yang bersemangatkan kerja-upahan. Proses peperangannya begitu memilukan—Prancis dikalahkan secara memalukan di banyak front pertempuran; saat permulaan kontak senjata Raja John II sudah ditangkap pasukan Inggris dalam Pertempuran Poitiers, lalu tiba peperangan terakhir—Pertempuran Angincourt: selama 90 menit pertama, 8.000 pasukan Prancis disembelih dan 1.200 ditawan. Sementara di tengah kecamuk peperangan, massa-rakyat bukan saja semakin miskin tapi juga kelaparan dan marah besar setelah dirampok tentara-tentara bayaran Inggris. Kelas penguasa retak parah dan tidak bisa memulihkan keadaan. Tanggal 21 Mei 1358, rakyat pekerja lantas meluncurkan Pemberontakan Jacquerie di Prancis. Gerakan tani yang dipimpin oleh Jacque Bonhomme dan Guillaume Cale ini meledak di Compiegne, menyebar ke desa-desa secepat kilat, mendapat dukungan para pedagang di perkotaan, hingga meluapi jalanan Paris dan menggoncang kekuasaan John II.
Dengan membawa garpu, sekop, tongkat, batu, pisau-pisau dapur dan pemotong rumput—ibu dan ayah dari rumah-rumah kumuh dan dapur-dapurnya yang kosong mengamuk bersama anak-anak perempuan dan laki-lakinya. Massa memprotes perang, menuntut roti dan penurunan pajak. Mereka bukan hanya menghancurkan lusinan kastil, menebarkan teror terhadap keluarga-keluarga bangsawan dan petinggi-petinggi keagamaan; tetapi juga bertarung menghadapi pasukan istana yang berskala raksasa. Perempuan miskin, di tengah bentrokan mematikan dengan kilatan pedang yang menyambar-nyambar, walaupun distigma sebagai penyihir, sekutu dari setan dan iblis, liar dan jalang—mereka tidak gentar dan mundur. Krisis feodalisme telah meradikalisasi, membangkitkan dan mendorong laki-laki dan perempuan miskin ini untuk bergerak secara militan. Meskipun kekuasaan mahkota dan gereja merendahkan mereka sebagai pelacur dan menebar fitnah kalau suami serta saudara laki-laki mereka adalah pemerkosa putri-putri bangsawan di jalanan, tetapi mereka mengerti mana kebenaran dan kebohongan. Upaya pecah-belah mulai digencarkan kekuasaan tapi massa tetap menyerang bersama: memporak-porandakan Clermont-en-Beauvaisis, hingga membanjiri alun-alun kota Hotel de Ville. Kelas penguasa bertambah panik. Gelombang reaksi ditingkatkan dengan memanggil prajurit-prajurit yang baru saja melakukan gencatan senjata dari Perang Seratus Tahun. Tepat 12 Juni, Pemberontakan Jacquerie dipadamkan melalui pengepungan, pembantaian, pemenjaraan, dan perburuan penyihir secara membabi-buta yang didukung oleh Gereja Katolik Romawi. Meskipun pemberontakan tani gagal tapi ledakannya menandai semakin dekatnya revolusi borjuis. Di Eropa, kelas borjuis sedang bangkit. Penyebaran kapitalisme diintensifikasinya dengan akumulasi primitif. Dalam Capital I, Marx menjelaskan bahwa proses ini menceraikan para pekerja dari syarat-syarat produksi tradisionalnya. Transformasinya mengambil dua bentuk: (1) sarana penghidupan sosial dan sarana produksi ditransformasikan menjadi modal dan (2) produsen langsung makanan ditransformasikan menjadi pekerja modern—buruh upahan. Tetapi penyesuaiannya tidaklah cepat, karena perlu melalui proses-proses yang merendahkan, kotor dan berdarah-darah. Marx menuliskannya:
“Dalam sejarah akumulasi primitif, semua revolusi adalah pembuatan zaman yang bertindak sebagai pengungkit bagi kelas kapital dalam proses pembentukannya; tetapi, di atas semua itu, saat-saat ketika massa besar manusia secara tiba-tiba dan secara paksa direnggut dari sarana penghidupan mereka, dan dilempar sebagai kaum proletar yang bebas dan ‘tidak terikat’ di pasar kerja … proletariat yang diciptakan dengan menghancurkan belenggu feodal dan dengan pengambilalihan paksa produsen pertanian, kaum tani, dari tanah, adalah dasar dari keseluruhan proses…. Proletariat ‘bebas’ ini tidak mungkin diserap oleh manufaktur yang baru lahir secepat ia dilemparkan ke dunia. Di sisi lain, orang-orang ini tiba-tiba terseret dari cara hidup lama mereka, tidak dapat segera menyesuaikan diri dengan disiplin kondisi baru mereka. Mereka diubah secara massal menjadi pengemis, perampok, gelandangan, sebagian karena kecenderungan, dalam banyak kasus karena tekanan keadaan.”
Pada abad ke-14, di Inggris proses akumulasi primitif mengambil bentuk perampasan dan pemagaran tanah—yang menghancurkan hubungan-hubungan kolektif dan memperdalam kesenjangan sosial—dengan menegakkan UU Berdarah yang tidak sekadar menjerat orang-orang miskin, tapi terutama menempatkan perempuan-perempuan pekerja sebagai penanggung siksaan terberat. Di Southwark, dibangun bar, lubang-lubang beruang, dan rumah-rumah bordil yang mempekerjakan ratusan perempuan malang secara kasar—salah satu pemilik tempat pelacuran adalah Uskup Winchester dan para pelacurnya dijuluki ‘Angsa Winchester’. Di Skotlandia, perempuan dari keluarga kelas pekerja—istri atau anak dari pekerja-pekerja berupah harian, yang membantu suami atau ayahnya dengan mengumpulkan kayu bakar di hutan atau pergi dari rumah-ke-rumah untuk mengail sepanci anggur atau sebotol susu—dituduh oleh orang-orang kaya dan bangsawan sebagai penyihir. Pada 1381, kaum tani dan plebeian bangkit memberontak. Pemberontakan dipimpin oleh tukang genteng: Way Tyler. Tanggal 13 Juni, dari Canterbury massa tani bergerak memasuki London, mendapat dukungan kaum miskin dan lapisan-lapisan pekerja perkotaan, menyerang penjara dan gereja, membunuh pemerintah setempat, menghancurkan Istana Savoy, dan memaksa Richard II menurunkan pajak dan menghapuskan perbudakan. Semangat dan kebencian revolusioner terhadap kekuasaan mahkota dan inkuisisi dikobarkan dalam gerakan. John Ball tampil sebagai pengkhotbah radikal yang lantang berbicara di hadapan massa: ‘ketika Adam membajak dan Hawa memilin, jadi siapa majikannya?’ Ribuan laki-laki dan perempuan serentak menjawab: ‘tidak ada!’ Di tengah gelombang radikalisasi, perempuan menemukan dirinya menjadi manusia terhormat, bebas dan setara dalam perjuangannya bersama laki-laki. Di sisinya terdapat pula sekte reformator Lollardy yang dipimpin John Wycliffe. Ledakan perjuangan massa telah menarik mereka ke sisi kaum tani dan menjadi lebih berani membacakan dan menyebarkan Alkitab yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.
Melihat massa semakin teradikalisasi kelas penguasa segera meluncurkan reaksi mematikan. Memasuki 15 Juni, barulah kekuatan monarki berhasil mengepung dan melumpuhkan para pemberontak di Smithfield. Tyler kontan dibunuh dan massanya dibanduli siksaan; 4.000 tentara menangkap dan membantai beribu-ribu orang yang mempertahankan barisannya dengan mengangkat garpu rumput dan sekop. Ball juga ikut ditangkap dan disiksa di Penjara Coventry. Tiba 15 Juli, John Ball dihukum mati secara mengerikan di Saint Albans: digantung lehernya, dipenggal kepalanya, dipotong-potong tubuhnya, hingga masing-masing anggota badannya dipajang di London dan kota-kota lainnya. Sementara untuk menghadapi Lollardy dan perempuan-perempuan yang terlibat dalam pemberontakan—Gereja Katolik menyatakan mereka semuanya sesat dan diancami sanksi berat. Demikianlah setelah Pemberontakan Way Tyler dipadamkan, maka Lollard distempel bid’ah dan para perempuan pemberontak dicap penyihir. Inkuisisi tampil buas. Wycliffe dipecat dari sekolah tempatnya mengajar dan seluruh pengikutnya diisolir dari penduduk setempat. Sementara perempuan-perempuan pekerja dibatasi keluar rumah sendirian apalagi sampai larut malam, walaupun mereka hendak membantu kelahiran anak tetangganya atau memberikan pengobatan gratis terhadap sesamanya—perbuatan-perbuatan demikian secara picik dinyatakan oleh inkuisisi sebagai praktik penyihiran. Bahkan ketika sekelompok perempuan penyeduh anggur Skotlandia mengatasi persoalan kualitas air yang buruk dengan cara-cara tradisional—menggunakan sapu, kuali, kucing hitam, dan topi runcing hitam—pihak gereja lagi-lagi menuding tindakan itu merupakan upaya sihir dan mengansosiasikan penampilan mereka sebagai penyihir.
Setelah satu setengah abad penyihir dibrantas, tepat 1542, Pemerintahan James I dan parlemennya melegalkan perburuan penyihir dengan mengesahkan Undang-Undang Anti-Sihir. Dipayungi peraturan inilah kekuasaan mahkota dan gereja bukan sebatas memisahkan-paksa perempuan dari lelaki, tetapi juga melegitimasi ketakutan pria atas penyihir dan meretakkan kepercayaan dan hubungan-hubungan paling intim antara laki-laki pekerja dengan perempuan sesama kelasnya. Demikianlah pejabat-pejabat pemerintah dari satu desa ke desa lainnnya bukan sebatas untuk mengajari setiap penduduk bagaimana mengenali, menghadapi dan menghukum penyihir, tetapi juga mengamcam setiap rakyat pekerja yang berusaha menyembunyikan, melindungi dan menyelamatkan penyihir. Meskipun banyak yang disiksa dan dibunuh, tetapi lebih banyak lagi perempuan yang ditangkap—dengan tuduhan melakukan sihir—diperdagangkan dan dipekerjakan secara brutal sebagai budak. Di akhir Abad Pertengahan, kepentingan untuk mempertahankan tatanan feodal bahkan dipenuhi dengan cara berperang secara terus-menerus. Perang tidak sekadar berguna untuk memperluas wilayah dan melumpuhkan petani-petani bebas dalam dinas militer, tetapi terutama mendapatkan budak-budak murah dan memberlakukan kerja-paksa. Di Spanyol, pertambangan perak digerakkan dengan mempekerjakan semi-budak begitu rupa: bekerja keras di bawah tanah, di tengah-tengah lubang, siang dan malam, tidak memiliki istrahat atau jeda, dicambuk oleh pengawas, hingga mati mengenaskan karena terlalu lama bekerja. Perdagangan budak tidak sekadar menghidupi orang-orang yang berperang (militer) dan orang-orang yang berdoa (gereja), tapi terutama memberikan keuntungan besar bagi orang-orang yang berdagang dan memupuk kepemilikan pribadi (borjuasi). Tetapi kebangkitan perdagangan menantang segala pembatasan kuno. Pada abad ke-15, sistem kepercayaan lama dihancurkan begitu rupa. Di Jerman, penggunaan kapal curah menempatkan Sungai Rhein sebagai pusat perdagangan berpengaruh di Eropa dan pergeseran ekonomi yang dipicunya telah memunculkan kelas-kelas sosial baru yang berbenturan dengan hierarki feodalisme. Dari kehidupan agraris yang kaku dan sempit, masyarakat Jermanik diseret di tengah-tengah kebuasan pasar yang memerlukan tingkat mobilitas, modernitas, dan persaingan yang tinggi. Dalam kondisi inilah uang menjadi sangat penting dan dihormati ketimbang ayat-ayat suci. Bahkan menurut Gereja Katolik, lapisan-lapisan perempuan pekerja dapat diperjual-belikan asalkan ada peminatnya. Tahun 1516, Johan Tetzel datang jauh-jauh dari Gereja Katolik Roma ke Gereja Katolik Jerman hanya untuk menjual indulgensi (sakramen pertobatan). Motifnya bukan sekadar membiayai pembangunan Basilika Santo Petrus di Spanyol, tetapi lebih-lebih mematok harga untuk setiap kasus pelecehan, pemerkosaan, perbudakan, perusakan lingkungan, pencurian dan pembunuhan—semuanya mendorong ke jurang kemelaratan dan pelacuran umum, menghancurkan perempuan dan anak, merendahkan orang-orang miskin dan memuliakan orang-orang kaya. Paus Leo X menerangkan daftar tarifnya dalam 35 Taxa Camarae yang diterbitkan Gereja Katolik Roma. Kebengisan, ketamakan, dan kecabulannya dapat disimak dalam 16 pasal saja:
“Pertama: Pendeta yang melakukan dosa kedagingan, baik dengan biarawati, sepupu, keponakan, atau putrid baptis, singkatnya dengan semua wanita, akan diampuni, setelah membayar 67 pound dan 1 shilling. Kedua: Jika gerejawi, selain dosa percabulan, meminta untuk dibebaskan dari dosa terhadap alam atau kebinatangan, ia harus membayar 219 pound dan 15 shilling. Tetapi jika dia hanya melakukan dosa terhadap alam dan anak-anak atau dengan binatang buas dan bukan dengan seorang wanita, dia hanya akan membayar 131 pound dan 15 shilling. Ketiga: Imam yang menodai seorang perawan harus membayar 8 pound dan 1 shilling. Keempat: Seorang biarawati yang ingin mencapai martabat kepala biara setelah memberikan dirinya kepada satu atau lebih pria, secara bersamaan atau berturut-turut, di dalam atau di luar biaranya, akan membayar 131 pound dan 15 shilling. Kelima: Para pendeta yang ingin hidup dalam pergundikan dengan kerabatnya akan membayar 36 pound dan 1 shilling. Keenam: Untuk setiap dosa nafsu yang dilakukan oleh orang awam, absolusi akan dikenakan biaya 27 pound dan satu shilling; untuk inses 4 pound akan ditambahkan dengan hati-hati. Ketujuh: Wanita pezina yang meminta absolusi untuk dibebaskan dari semua tuntutan dan memiliki banyak dispensasi untuk melanjutkan hubungan terlarangnya, harus membayar paus 87 pound dan 3 shilling. Dalam kasus yang sama, suami akan membayar jumlah yang sama; jika mereka telah melakukan inses dengan anak-anak mereka, mereka dengan hati-hati akan menambah 6 pound. Kedelapan: Pembebasan dan keamanan dari tuntutan atas kejahatan penjarahan, perampokan atau pembayaran akan dikenakan biaya 131 pound dan 7 shilling yang bersalah. Kesembilan: Pembebasan untuk pembunuhan sederhana yang dilakukan atas nama orang awam ditetapkan sebesar 15 pound, 4 shilling dan 3 pence. Kesepuluh: Jika pembunuh membunuh dua orang atau lebih pada hari yang sama, dia akan membayar seolah-olah dia hanya membunuh satu orang. Kesebelas: Seorang suami yang menganiaya istrinya harus membayar 3 pound dan 4 shilling kepada kasir kanselir; jika dia membunuhnya, dia akan membayar 17 pound dan 15 shilling; dan jika dia membunuhnya untuk menikahi orang lain, dia juga akan membayar 32 pound dan 9 shilling. Mereka yang membantu suami melakukan pembunuhan akan dibebaskan dengan pembayaran masing-masing 2 pound. Kedua Belas: Dia yang menenggelamkan putranya harus membayar 17 pound dan 15 shilling (yaitu, dua pound lebih banyak daripada membunuh orang asing) dan jika mereka membunuhnya, ayah dan ibunya dengan persetujuan bersama harus membayar 27 pound dan 1 shilling, untuk pengampunan dosa. Ketiga Belas: Wanita yang membunuh anaknya sendiri dengan memasukkannya ke dalam isi perutnya, dan ayah yang ikut melakukan kejahatan itu, masing-masing harus membayar 17 pound dan 15 shilling. Dia yang memfasilitasi aborsi makhluk selain anaknya akan membayar 1 pound lebih sedikit. Keempat Belas: Pembunuhan saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu atau ayah, akan membayar 17 pound dan 15 shilling. Kelima Belas: Siapapun yang membunuh seorang uskup atau wali yang berpangkat lebih tinggi, harus membayar 131 pound, 14 shilling dan enam pence. Keenam Belas: Jika pembunuh telah membunuh banyak pendeta dalam beberapa kesempatan, dia harus membayar 137 pound dan 6 shilling untuk pembunuhan pertama, dan setengahnya untuk pembunuhan berikutnya.”
Sejak kehadirannya kapitalisme tidak hanya berlumurkan darah dan nanah, tetapi juga memperkenalkan uang sebagai Tuhan sejati bagi masyarakat modern. Maka apa yang disebut sebagai dosa, bahkan dosa-dosa besar sekalipun gampang dihapuskan melalui sejumlah uang. Imam besarnya bukan lagi paus dan pastur, melainkan para bankir, pialang saham, pemegang obligasi, dan spesies sejenisnya. Hanya di bawah kapitalisme, orang-orang yang berpenampilan suci dan rajin berdoa menjadi suara yang paling kasar dari modal yang menuntut untuk diakumulasi. Modal harus dibiarkan berkembang tanpa batasan dan halangan apapun, termasuk kejahatan dan dosa-dosa. Segala hubungan antara manusia direduksi sebagai perbendeharaan yang paling telanjang dan berlimpah. Sakramen pertobatan beraneka tarif hadir sebagai monumen kemunafikannya. Pertimbangan sentimentalitas, moralitas dan agama ditampilkan untuk menyelubungi dan melayani kepentingan kapital semata. Modal tidak mengenal agama, ras, bangsa, jenis kelamin dan orientasi seksual; modal tak memiliki jiwa dan hati, akal dan budi. Namun modal bisa melumpuhkan pikiran, perasaan, dan kehendak umat manusia untuk melaksanakan perintahnya secara bengis dan keji. Paus Leo X dan pengikutnya berhasil ditundukan, berkiblat kepada perbankan dan menyembah Mamon. Semuanya memperuncing ketidakstabilan. Dalam tubuh gereja berlangsung perpecahan tajam. Oktober 1517, Martin Luther menerbitkan “95 Tesis” dan menjadi oposan. Dia menentang perilaku koruptif yang berkedok keimanan, mendorong kebebasan beragama, dan mengusulkan reformasi kegerejaan. Namun serangan macam ini telah lebih dahulu diantisipasi. Kepausan menyimpulkan setiap gagasan, pernyataan, dan keyakinan yang berlawanan merupakan bid’ah; Pasal 19 Taxa Camarae menyatakan tarif pengampunannya bisa mencapai 269 pound, apabila tidak ingin digantung, dibakar, atau dikubur hidup-hidup.
Namun Martin Luther tidak terlalu takut karena tesisnya meraih dukungan banyak orang. Penggunaan mesin cetak printing press—yang baru saja ditemukan oleh Johannes Guttenburg—bukan saja berhasil mencetak sebanyak mungkin surat-surat indulgensi, tetapi juga digunakan untuk menggandakan lembaran-lembaran tesis Luther untuk dibaca banyak orang. Maka bukan saja kemunafikan dan kebejadan inkuisisi yang tersebar luas, melainkan pula ajaran-ajaran pembangkangan Lutheran. Dalam “Perang Tani di Jerman”, Engels menceritakan. Bahwa di bawah panji Lutheran sebuah partai didirikan. Mula-mula terdiri dari kelas menengah yang rata-rata adalah intelektual dan tani, tetapi lama-lama Luther membuka pintu selebar-lebarnya untuk seabrek pemilik tanah yang beroposisi, bangsawan rendahan dan pangeran yang ingin menyita properti gereja, memperkaya diri, dan mendapat lebih banyak kemerdekaan dari kaisar. Perpecahan akhirnya tak terhindar. Thomas Muntzer mengkritik Luther secara keras: ‘dia memuji Kristus dengan menjual dirinya kepada kaum bangsawan dan tuan-tuan tanah sebagai ganti keamanan pribadi dan dukungan bagi gerakannya’. Muntzer mengembangkan pandanganya sendiri berdasarkan semangat mistisisme Kristen dan bervisi apokaliptik: rakyat jelata karena kurangnya harta benda dan pengetahuannya maka menjadi makhluk pilihan Tuhan yang akan merubah dunia; mereka merupakan alat Tuhan yang akan menaklukan kekuasaan duniawi dengan tangannya sendiri. Meskipun tertutupi unsur-unsur mistik tapi Engels melihat bahwa Muntzer memiliki keyakinan mengenai ‘sebuah masyarakat tanpa kelas, tanpa kepemilikan pribadi, dan tanpa otoritas negara yang independen, dan asing bagi, anggota masyarakat’.
Selama 1520-21, dia menyampaikan khotbah-khotbahnya di Zwickau, Praha, Zena, Erfurt, Weimar, dan Halle. Dirinya mampu menanam pengaruh. Sekelompok laki-laki dan perempuan radikal membentuk sekte. Mereka menamakannya Anabaptis—gerakan ini tidak hanya menolak baptisan bayi dan membaptis-ulang saat dewasa, tetapi juga menyangkal keilahian Kristus dan kelahirannya oleh perawan Maria. Dalam pandangan politik mereka menganjurkan kesetaran semua orang, kepemilikan bersama atas barang-barang, memisahkan dirinya dari gereja-gereja paroki, menentang dinas militer, kepausan, hukum dan hakim. Setelah terperangah mendengar pandangan inilah Luther marah; Anabaptis diaggapnya sebagai gerombolan penghasut, agen setan, musuh Injil, hingga pemerintah didorong untuk menjeratnya dengan hukuman gantung. Sementara Muntzer ditudingnya sebagai pengkhotbah haus darah dan pecinta kekerasan. Bulan Desember, ia menunjukkan keberpihakannya terhadap kelas penguasa dengan memberikan peringatan: ‘sekarang tampaknya ada kemungkinan akan bahaya pemberontakan, dan bahwa para imam, biarawan, uskup, dan seluruh harta spiritual dapat dilenyapkan atau diasingkan, kecuali jika mereka serius, dan benar-benar mereformasi diri mereka’. Daripada mempersiapkan massa untuk sebuah pemberontakan, Luther lebih memilih mengingatkan mahkota dan gereja guna berwaspada dan menyiapkan perlengkapan perang. Kaum tani akhirnya kecewa terhadap Partai Lutheran. Kaum tani berpaling dan mendukung Muntzeran. Pada 1523, Muntzer diundang berkhotbah di Allstedt. Sekitar 2.000 laki-laki dan perempuan tidak sekadar datang mendengarkan ceramah, tapi juga membentuk federasi petani, penambang, dan pengrajin bersenjata dalam memperjuangkan masyarakat baru: Liga Allstedt. Ketika kritik-kritik Lutheran jatuh ke telinga kaum tani dan plebeian, ide-ide itu diresapi dalam-dalam, membakar semangat perjuangan, hingga diterima secara sukarela karena keberadaan mereka bertentangan dengan feodalisme dan membutuhkan perubahan yang segera. Sepanjang 1524-25, Perang Tani akhirnya meledak di Jerman dan menyebar ke seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Juli 1524, ledakan pemberontakan ditandai dengan pembakaran Kapel Mallerbach. Tanggal 15 Agustus di Mulhlhausen, rapat umum diselenggarakan di tengah kepungan agen-agen mahkota dan gereja. Kelas penguasa bersama Lutheran berusaha membubarkan Liga Allstedt dan menekan pemimpin-pemimpinnya. Namun Muntzer angkat bicara di hadapan massa:
“Yang terburuk dari semua penyakit di bumi adalah tidak ada yang mau menyibukkan diri dengan orang miskin. Orang kaya melakukan apa yang mereka inginkan … Tuan dan pangeran kita mendorong pencurian dan perampokan. Ikan di air, burung di langit, dan tumbuh-tumbuhan di darat semuanya harus menjadi milik mereka…. Mereka berkhotbah kepada orang miskin: ‘Tuhan telah memerintahkan agar jangan mencuri’. [Tetapi merekalah yang justru melakukannya secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.] Demikianlah, ketika orang miskin mengambil bahkan hal sekecil apapun; orang miskinlah yang harus mereka penggal atau gantung.”
Setelah ceramah itu disampaikan maka Muntzer segera diusir dan diasingkan. Dirinya tidak menyerah, apalagi kalah oleh kritikan Lutheran. Dukungan massa terhadapnya memberinya kekuatan. Memasuki Maret 1525 dirinya memimpin kaum tani dan plebeian untuk mengajukan tuntutan-tuntutan mengenai pajak dan peraturan yang adil, hingga jaminan terhadap kebebasan berserikat. Petani, penambang, dan pengrajin berjalan keluar dari pedesaan dan menduduki alun-alun kota Muhlhausen. Tetapi tuntutan ditolak secara kasar. Massa dibubarkan dan ditangkap. Segala pertemuan dibatasi. Liga Allstedt dipaksa segera membubarkan diri. Ajaran Muntzer dinyatakan bid’ah dan dirinya akan segera diberi sanksi. Di tengah kontradiksi yang menajam maka meletuslah pemberontakan bersenjata. Tanggal 15 Mei di Frankenhausen, 8.000 pemberontak bergerak dengan sabit, cambuk, tombak dan pedang. Di hadapan mereka berjejer artileri, kavaleri, dan infanteri yang buas dan mematikan. Pasukan-pasukan ini merupakan gabungan antara bala tentara Prusia dan Romawi. Perimbangan kekuatan jauh berbeda, tetapi tidak mungkin untuk mundur, apalagi menyerah dan pasrah. Muntzer meluncurkan agitasinya: ‘maju, maju, selagi besi panas. Biarkan pedangmu selalu hangat dengan darah!’ Kaum tani dan plebeian sama sekali tak takut mati. Mereka mengerahkan seluruh kemampuan mental dan fisiknya. Tenaganya terkuras habis. Lebih dari seminggu mereka bertahan dengan persenjataan dan makanan terbatas. Puluhan prajurit kekaisaran mungkin berhasil mereka bunuh, tapi lebib banyak lagi korbannya dari mereka: 3.000 pemberontak telah terbunuh—sisanya luka-luka dan sangat lelah
Tepat 25 Mei, pemberontakan dipadamkan: barisannya dikepung, senjatanya dilucuti, dan pemimpinnya ditangkap. Dua hari kemudian, Thomas Muntzer dieksekusi secara tragis: diumumkan sebagai pengkhotbah sesat, lalu dipenggal kepalanya di muka publik dan potongan tubuhnya diarak keliling kota untuk menebar teror. Walaupun pemberontakan dikalahkan, tetapi ketidakstabilan masih berlangsung. Kaum tani dan plebeian di seluruh Eropa lebih sering bergumam. Mereka membicarakan sewa yang lebih rendah dan upah yang lebih tinggi. Semangat pemberontakan tumbuh dari hari-ke-hari. Kebangkrutan-kebangkrutan feodal tersingkap di tengah keberadaan sosial massa tani dan plebeian yang makin memburuk: miskin, lapar, melacur, mengemis, bergelandangan—singkatnya menjadi lumpen-proletariat. Disintegrasi feodalisme semakin panas. Ikatan-ikatan kuno melonggar dan hancur. Peperangan-demi-peperangan yang berlangsung merupakan bagian dari perjuangan kelas dan mempercepat keruntuhan tatanan feodalis: bunga-bunga terbaik feodal berguguran secara massal dan kekuasaan mereka memupus selama Perang Seratus Tahun. Hanya ini bukanlah perang agama melainkan perang kelas, tetapi satu-satunya unsur yang masih dijadikan sandaran dari dunia lama adalah agama: dogma-dogma gereja yang begitu rupa dan merasuki aneka sektor kehidupan masyarakat. Agama bertahan lantaran kapitalisme yang baru bangkit menggunakan sisa-sisa feodal sebagai penyangga politik, borjuasi belum terangkat menjadi kelas yang berkuasa, proletariat masih sedikit, dan antagonisme belum terlalu jelas. Inilah mengapa perjuangan kelas terekspresikan melalui pertentangan keagamaan dan istilah-istilah religius. Dalam “Perang Tani di Jerman”, Engels menulis:
“Di tangan para pejabat gereja, politik dan ilmu hukum, termasuk ilmu-ilmu lainnya, tetap menjadi cabang teologi, dan diperlakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang menonjol pada yang belakangan ini (prinsip-prinsip teologi). Dogma-dogma gereja, pada saat yang sama, merupakan aksioma politik, dan kutipan dari kitab Injil memiliki keabsahan hukum di setiap pengadilan. Bahkan setelah pembentukan kelas khusus, yaitu para ahli hukum, maka ilmu hukum juga untuk waktu yang lama masih tetap ada di bawah pelajaran teologi. Supremasi teologi dalam bidang kegiatan intelektual ini sekaligus merupakan konsekuensi logis dari situasi gereja sebagai kekuatan paling umum yang mengkoordinasi dan mengijinkan adanya dominasi feodal yang ada. Jelaslah bahwa di bawah kondisi-kondisi seperti itu, semua serangan yang bersifat umum dan terbuka terhadap feodalisme, pertama-tama juga berarti merupakan serangan terhadap gereja, sehingga semua ajaran politik, dan sosial yang revolusioner, harus dianggap sebagai bid’ah dalam teologi. Agar dapat diserang, maka kondisi-kondisi yang ada harus dilepaskan dari lingkaran cahaya kekeramatannya.”
Demikianlah Eropa di penghujung Abad Pertengahan: penuh dengan pergolakan, terutama serangan-serangan tajam terhadap otoritas Kekristenan. Memang sejak Pemberontakan Way Tyler keilahian Gereja Katolik mulai dipertanyakan; Perang Tani di Jerman menambah kuat hantaman dan ketidakpercayaan terhadap ajaran-ajaran ortodoks keagamaan. Rakyat pekerja sudah tidak memandang gereja sebagai pemberi keselamatan, ketentraman, dan penghiburan. Orang-orang suci tersingkap menjijikan. Paus, pastur, biarawan dan biarawati terjerat skandal menggemparkan—mulai dari penimbunan kekayaan, tuduhan bid’ah sembarangan, pelecehan seksual, hingga jual-beli ampunan. Dari institusi keagamaan akhirnya muncul pertentangan tajam. Gerakan-gerakan yang terbentuk beragam: Lollardy, Lutheran, Muntzeran, Anabaptis, Calvinis, dan lain-lain. Hanya tuntutan reforma yang dibawakan Lutheran bukan saja menjadi momen kebangkitan Reformasi Protestan, tapi juga menandai kejatuhan Eropa dalam perjuangan kelas berdarah-darah dan mengatasnamakan agama. Muntzeran menjadi yang pertama kali dihancurkan, tetapi ajarannya menginspirasi berdirinya Anabaptisme. Selanjutnya dengan memeluk ajaran-ajaran reformis dan radikal, maka para petani dan plebeian menjadi berani menuntut kebebasan bergerak dan bermigrasi ke kota-kota tanpa meminta izin mahkota dan gereja. Sementara pedagang dan orang-orang kaya memberikan dukungannya kepada Reformasi Protestan bukan hanya karena gerakannya tidak mengakui kesucian paus yang disepadankan dengan Kristus dan menolak mekanisme pengampunan dosa, tapi lebih-lebih atas perlindungannya terhadap kepemilikan pribadi, pemberlakuan bunga pinjaman, dan kebebasan individu yang sangat diperlukan untuk mengembangkan kapitalisme. Bangkitnya perdagangan dan manufaktur menghantarkan uang ke singgasana tertinggi kehidupan umat manusia. Tak ada kaisar dan raja yang bisa lolos dari relasi barang-dagangan. Tiada juga kesucian paus dan pastur yang tidak tercemari kemahakuasaan uang. Istana dan tempat-tempat ibadah kini tak lagi tampil sebagai monumen keagungan dan ketuhanan, melainkan gudang kemewahan, keangkuhan, dan kepemilikan kebendaan. Inilah momen kebangkrutan feodalis. Dalam “Manifesto Komunis”, Marx dan Engels mempertegas:
“Dari para budak di Abad Pertengahan muncullah para burgher sewaan di kota-kota paling awal. Dari kaum borjuis inilah unsur-unsur borjuasi yang pertama dikembangkan…. Ditemukannya Benua Amerika, dikelilinginya Tanjung Harapan di Afrika Selatan, memberikan lapangan baru bagi borjuasi yang sedang tumbuh, pasar-pasar di Hindia Timur dan Tiongkok, kolonisasi atas Amerika, perdagangan dengan tanah-tanah jajahan, peningkatan alat tukar dan komoditas pada umumnya, memberikan perdagangan navigasi, industri, suatu dorongan yang tak pernah dikenal sebelumnya, dan dengan demikian, mendorong anasir-anasir revolusioner dalam masyarakat feodal yang sedang runtuh itu suatu perkembangan yang cepat.”
Bangun Bolshevisme sekarang juga!
(Berlanjut)
