Kategori
Seruan

Seruan Lapak Literatur dan Diskusi di STKIP Bima

“Jangan tertawa atau menangis, tapi pahamilah!” (Baruch Spinoza)

“Perjuangan kami bukanlah untuk menegakkan bentuk masyarakat kelas yang baru, tetapi membebaskan umat manusia dari belenggu masyarakat kelas secara keseluruhan. Kami berjuang demi fajar baru bagi umat manusia: di mana tabir ketidaktahuan mutlak diperlukan oleh masyarakat kelas manapun, dapat disingkirkan, dan umat manusia, secara keseluruhan, mendasarkan dirinya pada pencerahan yang universal, sains dan teknologi, dapat membangun surga di muka bumi untuk dirinya.” (International Marxist Tendency)

Lubang eksploitasi kapitalisme bertambah dalam. Kecamuk penindasannya kompleks dan mengerikan. Badai opresif manjalar ke segala lini penghidupan. Tekanan-tekanan hidup mengepung dan kemanusiaan dirontokkan. Di zaman krisis, serangannya begitu tajam dan mengasingkan. Fisik dihancurkan; intelektual dan moral diluncurkan pada kubangan kegelapan. Kelas borjuis tidak ingin massa terbebaskan, berjalan dan menemukan mata air kehidupan. Setiap upaya perlawanan dihadapi dengan kebrutalan. Badan dijeruji, suara dibungkam, tangan diborgol, kaki dipasung, sepatu dirusak, buku dibakar, pena bahkan pisau Katalan, pedang dan senapan berburu diremukkan. Brutalitas borjuis tak cukup melalui badan orang-orang bersenjata, tetapi juga otak sarjana-sarjana kacung dan filsuf-filsuf kacangan.

Sejak kekalahan revolusioner 1960-an dan 1970-an, ditambah bangkitnya gelombang reaksi 1980-an, yang berpuncak pada keruntuhan Uni Soviet dan partai-partai Stalinis–ide-ide reaksioner menyebar secepat kilat di bilik-bilik univesitas dan gerakan sosial. Sosialisme Ilmiah (Marxisme)–yang diasosiasikan secara arbitrer dengan Stalinisme–pertama-tama mendapatkan kritikan cabul dari Mazhab Frankfurt. Adorno, Horkheimer, dan Marcuse tampil sebagai intelektual borjuis-kecil yang berkeras merevisi Marxisme dan mencampakkan materialisme historis.

Pada periode pasca-perang, kapitalisme menemukan kondisi untuk mengeluarkannya dari krisis: kehancuran masif akibat perang dan surutnya gerakan buruh atas pengkhianatan pemimpin-pemimpin reformis dan sentris. Di tengah situasi inilah Keynesianisme diadopsi sebagai resep pemulihan. Program reformisme Negara Kesejahteraan ditegakkan dengan memberikan konsensi-konsensi signifikan. Kaum buruh menerima tetesan-tetesan subsidi, gaji dan tunjangan yang dimungkinkan selama booming perekonomian. Akhirnya ekuiliberium sosial dipertontonkan: kapitalisme tampak sudah tidak mengandung kontradiksi inheren dan perjuangan kelas terhentikan.

Ekuiliberium sosial itu bersifar temporer–bergantung pada pasang-surut perjuangan kelas. Hanya pemikir-pemikir Mazhab Frankfurt mengabaikannya secara tengik. Di tengah pemulihan ekonomi pasca-perang, dengan dorongan konsumsi yang tinggi, dan penggunaan produk yang serupa antara borjuasi dan proletariat–Adorno dan Hokheimer memandang kalau kaum buruh telah terdominasi sepenuhnya dan bersikap konformis, sedangkan Marcuse meracik teori rasionalitas teknologi yang mengumumkan bahwa proletar sudah berdamai dengan borjuis. Demikianlah ketiganya akhirnya menyimpulkan: bilamana terdapat penindasan yang terjadi sekarang–ini bukanlah bawaan kapitalisme; bukan karena kepemilikan pribadi, pembagian kerja, dan kerja-upahan–melainkan penyakit dari ‘abad pencerahan’: kejahatan-kejahatan pemikiran rasional yang telah mendorong perkembangan pesat dalam seni, filsafat dan sains.

Di universitas, Mazhab Frankfurt mengklaim dirinya sebagai Teori Kritis: menolak apapun yang tampil di permukaan dan bergerak lebih dalam menuju suprastruktur ideologi dan kultur. Dalam gerakan sosial, pemikiran itu diterima oleh partai-partai Kiri di Eropa sebagai doktrin populisme kiri dan dikembangkan menjadi Narasi Kiri oleh Laclau dan Mouffe. Realitas bagi mereka bukanlah tersusun dari keberadaan sosial tapi atas narasi-narasi yang akan mempengaruhi tindakan massa. Demikianlah kapitalisme dipandang sebagai narasi kehidupan manusia, bukan sistem produksi dan reproduksi yang mengondisikan antagonisme modal dan buruh

Akhirnya untuk menghadapi eksploitasi dan penindasan kapitalisme, maka Narasi Kiri mengusungkan perjuangan utamanya melalui wacana, teks, dan kata-kata. Dalam melawan kapitalisme, Narasi Kiri tampil sebagai macan kertas. Mereka meluncurkan bahasa-bahasa radikal, tetapi tidak bertaring menghancurkan kapitalis. Perspektif mereka tidaklah revolusioner tapi reformis. Mouffe pernah berkelakar, “Setiap tatanan yang ada oleh karenanya rentan untuk ditantang dengan praktik-praktik kontra-hegemoni, praktik-praktik yang berusaha untuk mendisartikulasinya guna mendirikan bentuk hegemoni yang lain.” Demikianlah perjuangan kelas disubordinasi di bawah pertarungan wacana. Artinya, pusat gravitasi–yang berada di pabrik-pabrik, jalan raya, pemukiman rakyat pekerja, dan barak-barak tentara–dialihkan ke dalam bilik-bilik parlemen dan birokrasi-birokrasi pemerintah.

Dalam mensubordinasi perjuangan kelas, Laclau dan Mouffe mengajurkan apologi ‘prinsip-prinsip konstitutif’ yang berhubungan dengan ‘kebebasan dan kesetaraan untuk semua’. Prinsip ini menyangkal pertentangan dan mengajak berkolaborasi dengan kelas penguasa. Demikianlah keduanya mempertegas: ‘demokrasi radikal dan plural yang kami anjurkan oleh karena itu dapat dipahami sebagai radikalisasi institusi yang ada’. Mereka tidak menyerukan penghapusan negara borjuis dengan menempuh aksi-aksi revolusioner dalam mendirikan negara buruh–negara yang melayu. Mereka justru melihat negara sebagai entitas yang dapat diperbaiki melalui konter-hegemoninya: mempengaruhi, menggeser, dan mengotak-atik birokrasi dan badan-badan bersenjatanya.

Sekarang muncullah pertanyaan: apakah konter-hegemoni dapat menghapuskan eksploitasi dan penindasan kapitalisme? Di mana letak kekeliruan dari Narasi Kiri? Bukankah perjuangan legal, parlemen dan demokrasi juga merupakan bagian dari perjuangan kelas? Adakah capaian-capaiannya hingga hari-hari ini? Seberapa kuat pengaruhnya dalam gerakan buruh dan muda di sana-sini? Ke mana arah perjuangannya selanjutnya? Bagaimana sikap kaum revolusioner terhadapnya?

Dalam memecahkan pertanyaan itulah, Front Muda Revolusioner (FMR) mengadakan Lapak Literatur dan Diskusi yang bertema: “Narasi Kiri atau Perjuangan Kelas?” Agenda ini terbuka untuk publik. Besok–Kamis, 30 Maret 2023–FMR akan melapak di STKIP Kota Bima. Kegiatannya dimulai sekitar pukul 10.00 Wita. Apabila kawan-kawan tertarik mengikutinya, maka–untuk mendapatkan referensi diskusi dan informasi lokasi yang lengkap–diperkenankan mengontak kamerad kami: 082339665796.

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai