“Kami tidak akan membiarkan mereka menghentikan pemogokan ini, kami tidak akan membiarkan mereka memaksakan reformasi ini kepada kami dengan kekuatan dan kekerasan. Mereka akan mendapatkan tanggapan dari para pekerja negara ini yang bertekad untuk pergi sampai akhir untuk mengambil kembali apa yang menjadi milik kami.” (Sayap Kiri CGT)
Dunia bergejolak! Eksploitasi kapitalisme bertambah dalam, kontradiksinya menajam dan antagonisme kelas meningkat. Ini ditandai dengan inflasi yang meroket, perang imperialisme yang berlarut-larut, pemberontakan yang menyambar dan menyebar secepat kilat, hingga pesimisme kelas borjuis yang begitu akut. Pada 2023, lihat saja bagaimana gerombolan pencatut setaraf WTO mengeluarkan prediksi pesimistik: perdagangan dunia hanya tumbuh 1 persen. Dalam kondisi inilah pergerakan barang-jasa melambat dan perekonomian menjadi stagnan. Semuanya telah dipertontonkan melalui kecenderungan proteksionis, kenaikan tarif, devaluasi kompetitif, dan peningkatan ekspor dan pengurangan impor yang akan memperhebat krisis global.
Tanggal 23 Maret 2023, pemogokan umum meledak di Prancis. Negeri dengan tradisi revolusioner yang kaya ini berada dalam ketidakstabilan serius. Selama 1789-1871–pemogokan-pemogokan rakyat pekerja di sini mampu berkembang menjadi pemberontakan bersenjata, yang menggulingkan kelas penguasa, bahkan mendirikan negara buruh pertama dalam sejarah: Komune Paris. Dalam Revolusi Prancis 1789, Revolusi 1830, Revolusi 1848, dan Komune Paris 1871–kebangkitan revolusioner di Prancis selalu menginspirasi dan memberikan banyak pelajaran terhadap proletariat internasional.
Sekali lagi Prancis diterpa gelombang revolusioner. Sejak 19 Januari 2023, gerakan buruh bangkit dengan memancang mosi tidak tidak percaya terhadap Pemerintahan Macron. Sayap kiri dari Confédération Générale du Travail (CGT, Konfederasi Serikat Buruh) bukan saja melawan kontrareformasi Macron–kenaikan usia pensiun 64 tahun–dengan mempertahankan usia pensiun 60 tahun, tetapi juga menuntut upah minimum 2.000 euro dan diakhirinya pemberian bantuan kepada perusahaan dengan pengambilalihan jalan raya, industri, dan ekspropriasi semua yang dirampas dari kelas pekerja. Sampai sekarang, gelombang radikalisasi menarik 3,5 juta buruh dan muda. Lebih dari 800 orang telah ditangkap dan siksa. Tetapi massa masih bergerak dalam melumpuhkan jalanan secara militan dan perkiraan kapitalis bahwa kerugiannya mencapai 12,3 juta dolar AS. Secara numerik, ini merupakan mobilisasi terbesar setelah pemogokan umum Mei 1968. Saat itu, aksi-aksi pembangkangan, pendudukan dan pemogokan yang berlangsung selama 1 bulan 3 minggu mampu menggulingkan Pemerintahan De Gaulle yang korup. Kini gerakan yang serupa sedang berlangsung. Slogan ‘Gulingkan Macron’ bergemuruh di jalanan dan menandai perkembangan kualitatif dari gerakan.
Kaum buruh dan muda mengerti kalau penambahan usia pensiun merupakan serangan terhadap standar hidup yang mengerikan. Tidak mungkin saat pekerja mendekati masa pensiun dipaksa bekerja lebih lama atau membayarkan sejumlah besar uang apabila menginginkan usia pensiun yang rendah–ini akan membuat banyak orang jatuh miskin di umur tua. Tetapi baik tua maupun muda, prospek zaman saat ini adalah keterbatasan yang begitu rupa. Semua kemunafikan borjuis tentang moralitas dan nilai-nilai keluarga menjadi hampa. Epidemi pengangguran, tunawisma, utang yang menghancurkan, dan ketidaksetaraan sosial yang ekstrem telah memaksa seluruh generasi menjadi paria dan merusak rumah tangga kelas pekerja. Kerusakannya hadir dalam mimpi buruk kemiskinan dan kelaparan ekstrem, keputusasaan dan keterasingan, penggunaan obat-obatan, perjudian, perceraian, pelacuran, kekerasan seksual dan gender, hingga aneka bentuk degradasi.
Inilah mengapa massa sangat kecewa terhadap keputusan pemerintah Macron. Pasal 49.3 Konstitusi Prancis dijadikan landasan untuk merubah aturan pensiun tanpa menghiraukan bangkitnya penolakan. Survei mutakhir mengungkapkan kalau 82 persen penduduk dan lebih dari 90 kelas pekerja Prancis menilai rezim berlaku bejat dan berharap mogok berlanjut. Sampah-sampah di jalanan Paris menumpuk, 12 persen stasiun pengisian bahan bakar kendaraan kehabisan bensin atau solar, akses Bandara de Gaulle diblokir, bahkan kereta berkecepatan tinggi hanya 50 persen beroperasi, hingga monumen Menara Eiffel dan Istana Versailles ditutup. Para pekerja kebersihan, kilang minyak, penerbangan, kereta api, dan wisata, bersama petugas kesehatan dan beragam sektor industri–semuanya mogok! Petugas akademik dan pelajar juga ikut bersolidaritas: 400 sekolah menengah dan 80 kampus tutup. Sekitar 500.000 mahasiswa dan buruh akademik dari Universitas Sarbonne mengikuti pemogokan. Mereka tergetar mendengar pernyataan pemimpin sayap kiri CGT, “Kami akan menang, kami akan berhenti ketika para pekerja memutuskan, dan untuk saat ini mereka ingin menang. Jadi hanya ada satu solusi, aksi mogok.” Serentak, massa menjawab, “Kami akan melanjutkan [pemogokan] sampai menang!”
Kaum buruh dan muda siap bergerak sampai akhir. Mereka yakin menang. Meski intensitas pemogokan dihadapi pemerintah dengan mengerahkan polisi anti-huruhara, tetapi massa tidak mengalah. Mereka membentuk barisan pertahanan diri secara luar biasa. Bukan lagi menggunakan bebongkahan batu seperti di masa lalu; sekarang barikade dibentuk dengan menumpuk forklift begitu rupa. Dari barikadenya, meskipun tidak ada mesiu, kartrid dan senapan; mereka mampu menyulap aneka benda padat menjadi proyektil dalam membalas kebrutalan polisi. Buruh-buruh transportasi dan petrokimia bahkan menghadapi upaya negara dalam menghentikan mogok dengan memutus aliran listrik di dermaga dan mencegah kapal tanker dari Rave. Di sisinya para pelajar ikut membantu. Di Paris, mahasiswa melaksanakan rapat umum yang menghubungkan antara pekerja-pekerja kilang minyak dan pengangkut sampah.
Meluasnya gelombang radikalisasi bahkan telah menyeret lapisan terluas proletariat–guru dan dosen; dokter, perawat dan asisten perawat; pegawai bank, pengacara, seniman dan artis opera–untuk bergabung. Sekarang lapisan-lapisan penting dari populasi pekerja yang sebelumnya menganggap diri mereka sebagai kelas menengah telah memasuki jajaran dan gerakan proletar. Selama 30 tahun terakhir, bukan saja kesenjangan pendapatan antara si kaya dan miskin yang semakin menganga tetapi juga pekerja-pekerja kerah putih meluncur mendekati pekerja-pekerja tradisional. Argumen sosiolog borjuis yang menyatakan kelas menengah dapat menaiki tangga kemapanan dan menjadi kelas atas telah diruntuhkan oleh seabrek peristiwa. Terutama krisis kapitalisme yang meningkatkan serangan terhadap standar-standar hidup rakyat pekerja.
Demikianlah tidak ada keamanan dan ketenangan walaupun bekerja. Kerja-upahan dan pembagian kerja dalam masyarakat kapitalis begitu membelenggu. Karir seumur hidup adalah hampa. Profesi yang di masa lalu bergelimang prestise tiba-tiba menumpuk masalah. Tidak ada lagi gaji yang dinikmati, karena dipakai melunasi hutang di bank atau membayar kredit dan koperasi. Bilamana kekayaan dipunya–mungkin itu hanyalah sebuah rumah. Tetapi di semua negeri, borjuasi-borjuasi finansial memacu peningkatan beban hipotek hingga ekuitas negatif menjadi momok untuk debitur-debitur rumah. Maka jaminan ketentraman di hari tua sirna, karena hutang-hutang membuncah. Penambahan usia pensiun jelas semakin memberatkan tanggungan pekerja. Inilah mengapa reformasi pensiun menjadi cambuk bagi gerakan buruh.
Di Prancis, perjuangan kelas berlangsung sengit. Apa yang meledak di Paris menyebar ke Lyon, Bordeaux, Marseille, Nantes, Grenoble, Draguignan, Morlis, Arles, Castres, Montlucon, Perigueux, Brive, dan Gueret. Semua kota, kota-kota besar dan kota-kota kecil terlibat mogok. Menghadapi pemogokan umum berjuta-juta buruh dan muda, maka buka sekadar Macron yang ciut tapi juga Charles III. Raja Inggris seperti Presiden Prancis. Rencana kunjungannya akhirnya ditunda, karena kebangkitan revolusioner membuatnya gemetar dan panik. Bahkan reformasi pensiun yang juga direncanakan di megerinya ikut dibatalkan. Sementara proletariat Inggris memberi dukungan terhadap proletariat Prancis. Di Twitter, pertarungan seperti orang Prancis menjadi tranding: Inggris akan meledak apabila serangan-serangan terhadap standar hidup ditingkatkan.
Begitulah kebangkitan revolusioner Prancis menginspirasi proletariat internasional. Kaum buruh dan muda di sana tidak menyerah. Pekerja logam dari Dunkirk berkata, “Kami akan terus bergerak sampai pemerintah menyerah.” Di jalan-jalan, massa berteriak, “Fuck Macron!” Mereka juga berbaris dan memancang plakat tegas: ‘air mendidih pada 100 derajat, orang pada 49.3’. Sekarang penggulingan Macron menjadi agenda. Kelas proletar siap bertempur sampai pemerintahan borjuis runtuh. Massa akar rumput lebih kiri daripada kepemimpinan mereka. Saat pimpinan-pimpinan reformis serikat buruh mewacanakan ‘referendum inisiatif bersama’ atau penyelesaian sengketa ke tangan Mahkamah Konstitusi, maka buruh-buruh akar rumput kilang minyak, pelabuhan, dan kebersihan–sebagai sektor yang paling termobilisasi–angkat bicara, “Apa gunanya mogok jika ada cara lain untuk mencapai hasil yang sama?” Mereka menegaskan, “Sudah tidak mungkin lagi menggunakan cara-cara damai, pertempuran harus berlanjut!”
Bahkan saat Macron dengan Partai Renaissance-nya menawarkan penangguhan kenaikan usia pensiun, massa akar rumput meludah. Kaum buruh dan muda mengerti bahwa pendekatan ini merupakan jebakan dari kelas penguasa. Di bawah tekanan massa, mayoritas kepemimpinan CGT juga menolak konsensi dan menuntut pembatalan reforma sepenuhnya. Walaupun tuntutan mosi tidak percaya direncanakan pembahasannya oleh parlemen, tapi lagi-lagi massa tak mudah percaya. Partai Republik boleh saja pura-pura mendukung mosi, namun buruh dan muda tiada tertipu. Buruh dan muda takkan manaruh hormat terhadap partai borjuis, meskipun pers-pers konservatif dan borjuisnya mengritik tajam pemerintahan Macron. Proletariat paham kalau kritik tersebut bukanlah bukti keberpihakan, melainkan perpecahan mendalam di tubuh kekuasaan.
Dalam kondisi inilah–daripada menerima konsensi dan menyerah atas represi, massa buruh dan muda Prancis terus maju. Kaum revolusioner dari International Marxist Tendency bergerak membersamainya. Para kameradnya diarahkan menemui massa. Selebaran, poster, koran, jurnal, buku, hingga website organisasi diperkenalkan ke lapisan yang sedang teradikisasi. Di tengah kebangkitan revolusioner, diserukannya kepada massa untuk membangun kepemimpinan revolusioner. Lapisan termaju dan sadar-kelas diorganisir dalam pembangunan kekuatan Marxisme revolusioner: Bolshevisme. Pertama, proletar harus mempertahankan proses radikalisasi dengan secara aktif memimpin demonstrasi dan melindungi lapisan terluas, termasuk para pelajar yang berhasil dimobilisasi. Kedua, tuntutan dan slogan-slogan perjuangan mesti diperluas dan dipertajam demi menarik lapisan terluas ke dalam gerakan. Tujuannya bukan sekadar menggagalkan reformasi, tetapi meruntuhkan pemerintahan borjuasi dengan revolusi. Dan ketiga, untuk ketahanan radikalisasi dan mobilisasi massa, tidak ada cara lain selain mendirikan Majelis Umum, komite-komite aksi seluas mungkin–mulai dari pabrik, sekolah dan universitas, pemukiman-pemukiman perkerja, hingga barak-barak–yang dikoordinasikan melalui jaringan delegasi yang dipilih dan bisa di-recall kapan saja.
