Kategori
Seruan

Seruan Pembebasan Perempuan

“Kekuatan kita tumbuh dari kesulitan kita. Kekuatan fakta akan mendorong kita untuk mencari langkah-langkah baru untuk membebaskan massa perempuan…. Kekuatan terbesar dari massa harus dibangunkan dan diterapkan untuk mencapainya. Dan kekuatan jutaan perempuan harus ikut membantu.” (Clara Zetkin)

Pada dekade pertama 1990-an gerakan pembebasan perempuan menancapkan pendahuluan. Tuntutan akan kesetaraan digemakan oleh buruh-buruh perempuan. 28 Februari 1909, perempuan-perempuan Sosialis di Amerika mengorganisir demonstrasi dan rapat-rapat akbar untuk memperjuangkan hak-hak politik bagi perempuan pekerja. Lalu memasuki 1910—dalam Konferensi Pekerja Perempuan Internasional Kedua—Clara Zetkin mengusung pertanyaan tentang perlunya menetapkan Hari Perempuan Pekerja Internasional. Sejak saat itulah bukan hanya keputusan memperingati hari perempuan sedunia setiap tahunnya muncul, tapi lebih-lebih peringatan dimaknai sebagai bentuk persatuan dan solidaritas perempuan untuk berjuang di bawah panji Sosialis. Meski mulai tahun 1913 International Women Day (IWD) dikukuhkan setiap tanggal 8 Maret, tapi pertama kalinya perempuan pekerja memperingatinya pada 19 Maret 1911. Sejak pertengahan Januari gerakan-gerakan perempuan pekerja di Jerman dan Austria memang telah melakukan persiapan. Menyebarkan rencana peringatan dari mulut-ke-mulut, mengadakan pertemuan, membagikan selebaran dan menerbitkan koran-koran yang memberi analisis mendalam mengenai potensi pembebasan perempuan. Saat IWD 1911, akhirnya 300.000 orang bergerak dan meletuskan demonstrasi berskala raksasa sebagai bentuk peringatan hari perempuan.

Dalam tahun-tahun selanjutnya, IWD tak semata dijadikan hari peringatan tapi terutama perlawanan. Adalah Revolusi Rusia yang menjadi bukti kekuatan pekerja perempuan. Kekerasan, eksploitasi dan kesenjagan tak membuat mereka berputus asa dan menyerah, namun bersungguh-sungguh melancarkan pemberontakan. Gemuruh insureksi dilancarkan mulai dari 23 Februari-8 Maret 1917. Gerakan perempuan-perempuan pekerja tampil di panggung sejarah sangat bertenaga dan heroik. Mereka memainkan peran kunci dalam memprakarsai aksi turun ke jalan hingga mampu menarik simpati dan dukungan rakyat untuk menggulingkan kekuasaan Tsar. Telah lama perempuan dikerangkeng kekuasaan. Berdiri di atas tatanah masyarakat berkelas, maka mereka sangat rentan menghadapi penindasan. Kondisi mereka persis yang disebut Don Helder Camara dalam istilah sub-human: diseret menuju kubangan ‘ketidakadilan, penghinaan, dan ketidakberdayaan’. Bukan hanya pelecehan dan kekerasan yang terus mengintai mereka, tapi juga eksploitasi dan kesenjangan. Di Indonesia, cerita penghisapan, penganiayaan dan pembunuhan terhadap buruh perempuan bernama Marsinah menjadi monumen umum dari perbudakan terhadap kaum perempuan. Di sisi lain komodifikasi, stigmatisasi, dan diskriminasi terus-menerus menyubordinasi spesies perempuan.

Corak produksi kapitalisme menempatkan kita semua sebagai spesies yang ditindas di beragam lini. Hanya kepada perempuan penindasan itu berlangsung mulai dari rumah, tempat kerja, ruang-ruang publik, bahkan sekolah dan perkampusan. Kekuatan modal memang memosisikan perempuan sebagai kaum yang menanggung beban terberat dan terus-menerus dilemahkan. Sebab pembagian kerja hingga persaingan bebas tidak pernah memperhatikan karakteristik gender dan seksualitas perempuan. Kondisi inilah yang menstratifikasi perempuan menjadi makhluk yang dinomorduakan: mereka diklasifikasi sebagai golongan yang tidak seproduktif  laki-laki, karena hidup dengan fakta-fakta alamiah—mengalami menstruasi, mengadung, melahirkan dan melakukan penyusuan.

Tersudutkannya perempuan dalam lumpur domestifikasi dan kepungan seksisme begitu menguntungkan kelas borjuasi: di rumah-rumah perempuan diberi beban berat dalam merawat hingga membesarkan calon-calon pekerja masa depan tanpa sepeser pun diupah; di tempat-tempat kerja pula perempuan bukan hanya sering dinista, tapi terutama diberi upah yang lebih rendah dari laki-laki karena fakta-fakta alamiahnya. Kondisi ini tidak saja menomorduakan perempuan tapi juga melemahkan perempuan melalui aneka penghisapan, kekerasan, pelecehan dan stigma. Maka lewat aksi-aksi radikal dan militan kita berusaha melepaskan belenggu penindasan. Itulah mengapa tulisan ini sengaja diberi judul ‘Seruan Pembebasan Perempuan’. Kami pikir: fakta-fakta ketertindasan perempuan tak cukup membuat kita berwaspada supaya tidak menjadi penindas, namun lebih-lebih mulai berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan. Mustahil beragam bentuk penindasan terhadap peremluan-perempuan pekerja dan muda terus dibiarkan. Tidak mungkin lagi mereka dibiarkan untuk mengalami ketidakadilan, penistaan dan perbudakan. Sekarang sudah waktunya gerakan pembebasan perempuan dilancarkan. Kami berharap semua kalian menjadi bagian dari perubahan. Makanya kami menyerukan kepada lapisan terluas proletariat, perempuan pekerja dan muda untuk mengorganisir diri dalam melancarkan perlawanan. Atas nama perjuangan dan solidaritas kelas; dukunglah, bersamailah dan bergabunglah bersama kami di medan juang.

“Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kami memiliki kemauan untuk revolusi dunia, oleh karena itu kami harus menemukan cara untuk menjangkau massa perempuan yang dieksploitasi dan diperbudak, apakah kondisi historis membuatnya mudah atau sulit.” (Clara Zetkin)

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai