Kategori
Seruan

Komite Persiapan IWD 2023: Undangan Konsolidasi Terbuka

“Keselamatan bergantung pada sebuah perjalanan energik terus-menerus menuju masa depan yang lebih cerah dan jelas. Kita butuh pertumbuhan yang tidak terganggu oleh tradisi dan kebiasaan lama. Gerakan emansipasi perempuan sejauh ini telah membuat langkah pertama ke tujuan itu. Gerakan ini diharapkan akan mengumpulkan kekuatan untuk menghasilkan gerakan yang lain.” (Perempuan Revolusioner Rusia)

Di bawah sistem kapitalisme, beban terberat ditanggung oleh massa perempuan yang menjadi lapisan terluas dari kelas proletar. Relasi barang-dagangan dan pembagian kerja sama sekali tidak memperhitungkan kerakteristik gender dan seksual. Pada titik inilah kaum perempuan distratifikasi ke posisi masyarakat nomor dua: mereka dianggap tidak seproduktif laki-laki, karena mempunyai fakta-fakta alamiah–menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Di tengah masyarakat kapitalistik, pandangan kelompok dominan–kelas borjuis–terhadap perempuan begitu seksis. Perempuan tidak dilihat sebagai manusia yang setara dengan laki-laki, melainkan vagina dan payudara yang menghasilkan nilai-lebih sekaligus pemuas birahi semata. Akhirnya perempuan hidup di kelilingi bahaya; bukan hanya di lokasi kerja, sekolah dan organisasinya, tapi di rumah-rumahnya pula.

Penindasan itu berlangsung begitu gila. Kaum perempuan tak saja didiskriminasi, tapi juga dimborbardil pelecehan dan kekerasan seksual beraneka. Semuanya berlangsung setiap hari, di sekitar kita, bahkan di depan mata dan telinga kita secara keji dan hina. Pelakunya tidak terkira, tapi bisa datang tenaga pengajar hingga mahasiswa pula. Mereka mungkin membaca banyak buku, terlibat dalam organisasi tertentu, hingga mengaku-ngaku sebagai aktivis segala. Tetapi sayangnya praksis mereka tidaklah lebih luas dari lingkaran kondom. Bajingan-bajingan ini merupakan sampah zaman. Mereka tidak tepat mendaku sebagai pendidik atau pejuang. Mereka adalah rongsokan karatan historis, yang tidak pernah cocok untuk perjuangan revolusioner. Lenin pernah menulis:

“[Mereka] terhuyung-huyung dari satu hubungan cinta ke yang berikutnya. Itu tidak akan berhasil untuk perjuangan politik, untuk revolusi. Dan saya tidak akan bertaruh pada keandalan, ketahanan dalam perjuangan para perempuan yang mencampuradukan romansa pribadi mereka dengan politik. Juga tidak pada pria yang melepaskan rok dan terjebak oleh setiap wanita muda. Itu tidak sesuai dengan revolusi. Revolusi menuntut konsentrasi, peningkatan kekuatan. Dari massa, dari individu. Itu tidak dapat mentolerir kondisi orgiastik, seperti yang normal untuk para pahlawan dekaden … Ketidakbermoralan dalam kehidupan seksual adalah borjuis, adalah fenomena pembusukan. Proletariat adalah kelas yang sedang bangkit. Tidak perlu mabuk menggunakan narkotika atau rangsangan. Keracunan sedikit karena hubungan seksual yang berlebihan seperti alkohol. Ia tidak boleh dan tidak akan melupakan, melupakan rasa malu, kekotoran, kebiadaban kapitalisme. Ia menerima dorongan terkuat untuk berperang dari situasi kelas, dari cita-cita Bolshevik. Itu membutuhkan kejelasan, kejelasan dan lagi kejelasan. Jadi saya ulangi, tidak ada pelemahan, tidak ada pemborosan, tidak ada penghancuran kekuatan. Pengendalian diri, disiplin diri bukanlah perbudakan, bahkan tidak dalam cinta.”

Seperti Lenin, semua kamerad harus khawatir! Perempuan di banyak kampus sekarang menempati posisi yang paling rawan menjadi korban pelecehan dan kekerasan berbasis gender dan seksual. Dari survei yang dilakukan Kemendikbudristek (2020): 77 persen dosen menyatakan pelecehan dan kekerasan seksual pernah berlangsung dalam lingkungan institusi pendidikannya, tapi sama sekali tidak dilaporkannya. Sementara dalam penyebaran testimoni yang dilakukan Tirto, Jakarta Post, dan VICE Indonesia sepanjang 13 Februari-28 Maret 2019, terkumpul 207 testimoni yang datang dari 27 penyintas dari 79 perguruan tinggi se-Indonesia—129 pernah dilecehkan, 30 diintimidasi secara seksual, dan 13 di antaranya diperkosa.

Sepanjang 2011-2019, Komnas Perempuan juga mencatatkan. Bahwa terdapat 46.698 kasus pelecehan dan kekerasan berbasis gender dan seksual terhadap perempuan. Dari data itu: setiap 2 jam, 3 orang perempuan dapat menjadi korban pemerkosaan. Pada 2020 sampai permulaan 2023, kasus-kasus seperti itu bertambah banyak dan mengerikan rupanya–semua kalian bisa mencari sendiri data-datanya. Data bagaimana persoalan ini menjulur seperti spiral: dilakukan mulai dari atas–begundal-begundal istana, gerombolan aparat polisi, tentara, parlemen dan beragam pejabat maupun politisi borjuasi–hingga melilit ke lingkaran masyarakat terbawah.

Di tubuh kekuasaan, penindasan terhadap perempuan bersemayam dan mendapat perlindungan. Bahkan pandangan kelas penguasa telah lama membuat perempuan dan laki-laki tidak dimuliakan berdasarkan karakter spesifik keduanya. Kelebihan dan kekurangan alami mereka tak mendapatkan sorotan sistem produksi kapitalisme. Sistem ini soalnya hanya mempertimbangkan kualitas yang berkenaan dengan keahlian, kompetensi, daya tahan, dan sebagainya. Makanya manusia kemudian dipandang bukan lagi kamanusiaannnya, tapi dari angka dan data-data. Dalam masyarakat kapitalis, eksplotasi dan kekerasan atas tubuh perempuan berguna bukan saja untuk memupuk lapa tapi juga mempertahankan status-quo. Di spanduk, poster, majalah, dan iklan-iklan apa saja kecantikan paras perempuan diluncurkan jadi pemikat untuk menarik pembeli pelbagai produk hingga alat mendulang suara politisi. Keadaan ini telah berlangsung lama hingga tubuh mereka direifikasi jadi komoditi.

Itulah mengapa pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan menjadi kasus yang meledak-ledak di sana-sini. Kini pertanyaannya: bukankah beragam eksploitasi, pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan itu menyembul dengan bengisnya? Apa yang menyebabkan penindasan itu muncul dan menggema sampai sekarang juga? Siapakah yang paling diuntungkan dari jalannya kejahatan kemanusiaan itu? Mampukah kita melenyapkan situasi penindasan itu? Bagaimanakah cara melawan dan membebaskan perempuan? Perjuangan macam apa yang harus dilakukan untuk kesetaraan, keadilan dan kebebasan bagi perempuan?

Dalam upaya menjawab pertanyaan itulah, kami, Komite Persiapan International Women’s Day (IWD) 2023 telah melaksanakan diskusi terbuka dengan tema mulai dari Asal-Usul Penindasan Perempuan, Seksisme dan Kolonialisme, Feminisme dan Marxisme, hingga Organisasi Revolusioner dan Pembebasan Perempuan. Melaluinya kami mencoba memaparkan bagaimana kepemilikan pribadi atas alat produksi membuat kelas bermilik mendominasi wilayah-wilayah ekonomi-politik, membagi kelas-kelas sosial, serta mengembangkan pemikiran dan nilai-nilai di tengah masyarakat. Bangkitnya eksploitasi dan kekerasan terhadap perempuan berlangsung dari persoalan tersebut. Tetapi perempuan dalam jalannya sejarah alam dan manusia tidak melulu tertindas. Itulah yang coba kami jelaskan melalui materi pendiskusian.

Segera setelah diskusi diselesaikan; kini telah tiba waktunya menyerukan kepada kamerad-kamerad perempuan, laki-laki, dan LGBT sekalian, untuk mengikuti konsolidasi. Jika kalian tertarik untuk bergabung, maka berjalanlah menuju lingkaran konsolidasi yang akan kami adakan hari-hari ini. Kepada semua kalian! Kami tidak menyerukan tipuan, kebohongan, apalagi kebrutalan. Tidak kawanku. Sebab kami bukanlah kelas penguasa dan negara dengan beragam alat represinya. Kami seperti kalian: angkatan proletariat dan muda yang muak dengan keadaan dan berusaha menjadi bagian dari perubahan. Kami yakin: penindasan terhadap perempuan bukan sebuah takdir, karena ada fase sosio-hostris di mana semua spesies manusia berkehidupan bebas dan setara. Kini memagut keyakinan itulah gerakan dibangun dan solidaritas serta persatuan dipinta.

Sekarang kita tahu apa yang sedang diperjuangkan: kondisi sosial di mana semua spesies yang terhisap dan tertindas menjadi manusia yang bebas dan setara. Tetapi kita tidak ingin kembali ke masa lalu melainkan bergerak maju. Hanya sejarah memberitahu kalau kita harus meletakan hubungan mutual dan kerjasama dalam perjuangan bersama. Di zaman primitif nenek moyang kita menghadapi hewan buas, kelaparan, kedinginan, kegelapan, badai, hingga apa-apa selain dirinya dihadapi sebagai musuh. Tetapi seiring kebutuhan bertahan hidup meningkat maka mereka belajar bekerja dan berjuang bersama-sama. Sampai suatu ketika mereka memasuki zaman tergelap dalam sejarah umat manusia: fase masyarakat berkelas. Kini kekuatan gelap tersebut mengambil bentuk relasi-relasi produksi yang memperbudak, menghisap dan memperpandir makhluk sosial.

Hanya dalam melawan kekuatan gelap itu kami tidaklah terburu-buru menyerukan angkat senjata tapi lebih dahulu membentangkan peta menuju cahaya. Inilah mengapa undangan dan poster-poster seruan diskusi serta konsolidasi dan mimbar bebas ditebar mengudara. Kami tahu kalau apa yang sedang dikerjakan tidak langsung merubah keadaaan. Tetapi kami juga percaya bahwa pekerjaan ini merupakan persiapan untuk perubahan: tugas historis. Sebab bukan sekadar pergantian rezim, kebijakan dan pemerintah yang kami harapkan; melainkan mengubah seluruh karakter masyarakat dan gerak sejarah secara mendasar. Sebab kami sadar musuh-musuh massa-rakyat tak sebatas seksisme dan femisida terhadap perempuan dan minoritas seksual; melainkan pula ketidaktahuan dan prasangka setiap elemen sosial yang bermekaran melalui hegemoni dan dominasi kelas borjuis berdasarkan kepemilikan pribadi dan pembagian kerja yang sadis.

Maka melalui diskusi-diskusi yang telah kami laksanakan, kami berusaha mengungkit kesadaran kolektif sebagai bentuk perjuangan ideologis. Serta dengan konsolidasi, kami hendak mengajak bekerjasama melakukan perjuangan politik. Lebih-lebih untuk memperjuangkan dan memancang harapan pembebasan perempuan dari beragam penindasan dan eksploitasi dalam masyarakat berkelas. Kini pertanyaannya: tidakkah kawan-kawan tersentuh untuk bersolidaritas, terorganisir dan bergerak bersama kami sekarang juga? Tidak bisakah kalian memahami bahwa penindasan terhadap perempuan menjadi masalah kita semua? Bukankah kalian tahu kalau perjuangan demi kebebasan, kesetaraan, dan kesejahteraan umat manusia harus seiring-sejalan dengan pembebasan perempuan pekerja dan muda?

“[Kalian] harus berjuang melawan itu juga. Tidak sedikit titik kontak antara gerakan perempuan dan pemuda. Yang merupakan suatu tahapan lanjutan, perpanjangan dan peninggian keibuan dari individu ke lingkungan sosial. Dan semua kehidupan sosial dan aktivitas perempuan yang bangkit harus didorong, sehingga mereka dapat membuang keterbatasan psikologi individualis rumah tangga dan keluarga filistin mereka.” (V.I. Lenin)

avatar Elang Muda

Oleh Elang Muda

"Api yang melelehkan sutera dan membengkokkan besi akan mengeraskan baja!"

Tidak ada kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang bersemayam di altar borjuis. Solidaritas hanya pantas didedikasikan untuk kelas terhisap dan tertindas: kebebasan dan kesetaraan bagi semua yang terhisap dan tertindas; perjuangkan revolusi proletariat-sosialis!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai